Singapore Airlines Tawarkan Traveller Terbang Tiga Jam ‘Tanpa Tujuan’

Singapura menerapkan kebijakan ketat terkait upaya menekan wabah virus corona. Dari sisi kesehatan, kebaijakan tersebut tentu akan sangat mempengaruhi kurva penyebaran Covid-19 di negara kecil itu. Namun, dari sisi ekonomi, kebijakan ketat hanya akan mempersulit perusahaan; tak terkecuali Singapore Airlines.

Baca juga: Tak Punya Penerbangan Domestik, Cathay Pacific dan Singapore Airlines Ditaksir Bakal Lebih Lama Pulih

Maskapai nasional Singapura itu lama dikenal sebagai salah satu maskapai terbaik dan terbesar dengan jaringan rute ke seluruh dunia. Namun, menurunnya traffic penerbangan internasional tentu menjadi pukulan telak Singapore Airlines. Sebab, maskapai itu umumnya memang sangat bergantung pada rute internasional dikarenakan tidak mempunyai rute domestik. Alhasil, kebijakan ketat terhadap turis hampir pasti mematikan bisnis maskapai.

Akan tetapi, Singapore Airlines tak mau tinggal diam. Belakangan, santer dikabarkan maskapai yang mendapat suntikan dana sebesar sebesar 19 miliar dolar Singapura atau Rp218 triliun (kurs Rp 11.292) pada akhir Maret lalu, ditambah kredit pariwisata sebesar US$320 juta atau sekitar Rp5 triliun (kurs Rp 14.900) beberapa waktu lalu ini bakal meluncurkan program “flights to nowhere” atau terbang tanpa tujuan.

Program tersebut umumnya ditujukan ke masyarakat Singapura, mengingat turis dinilai hampir mustahil masuk negara itu. Namun, kalaupun bisa (masuk ke Singapura) tak menutup kemungkinan turis atau traveller juga bisa menikmati penerbangan tanpa tujuan Singapore Airlines.

Laporan The Straits Times, sebagaimana dikutip dari onemileatatime.com, Singapore Airlines saat ini masih terus mencari formula terbaik terbang tiga jam ‘tanpa tujuan’. Diperkirakan, “flights to nowhere” Singapore Airlines baru akan dilaunching pada Oktober mendatang. Penerbangan tanpa tujuan maskapai tersebut nantinya dimulai atau lepas landas dari Bandara Changi, keliling di langit sekitar bandara, dan kemudian mendarat kembali di bandara yang sama.

Sampai saat ini, belum diketahui akan seperti apa layanan on board yang ditawarkan; termasuk pesawat yang akan digunakan serta harga tiket penerbangan tanpa tujuan itu.

Sebelum Singapore Airlines, maskapai EVA Air, China Airlines, dan All Nippon Airways (ANA) sudah lebih dahulu meluncurkan “flights to nowhere” atau terbang tanpa tujuan. Hanya saja, konsep yang ditawarkan berbeda. EVA Air menawarkan “flights to nowhere” dengan tetap memiliki negara tujuan, yakni ke Jepang. Hanya saja, maskapai tersebut tidak mendarat di Negeri Sakura dan kembali ke Taiwan untuk mendarat di bandara yang semula.

Berbeda dengan EVA Air, maskapai Taiwan lainnya, China Airlines lebih ke ranah wisata edukasi. Konsep “flights to nowhere” salah satu maskapai terbesar di Taiwan itu mengajak penumpang masuk ke kabin pesawat tanpa terbang ke suatu destinasi.

Di sini penumpang dapat mengenang pelayanan pramugari dan rasanya duduk di kursi pesawat. Selain itu, maskapai ini juga menawarkan pelajaran menjadi pramugari untuk anak-anak.

Baca juga: Maskapai Jepang Tawarkan Terbang Keliling Dunia Hanya Rp800 Ribuan, Masih Belum Minat?

Selain dapat belajar menjadi pramugari, melalui kegiatan ini para penumpang juga berakting seolah mereka akan liburan ke negara lain. Setiap penumpang tetap harus melakukan check-in, melakukan pemeriksaan paspor, dan bahkan ada petugas keamanan yang siap mengarahkan penumpang menuju pesawat.

Adapun All Nippon Airways (ANA), konsep terbang ‘tanpa tujuan’ maskapai tersebut sedikit banyaknya hampir mirip dengan konsep yang akan ditawarkan Singapore Airlines, yakni terbang keliling langit sekitar bandara dan kemudian mendarat di bandara yang sama.

Percantik Kota dan Menyenangkan Anak-anak, Halte Bus di Ontario Tampil dengan Corak Pastel

Setiap kota memiliki ciri khas untuk menampilkan dirinya agar terlihat ramah dan ceria. Berbagai macam di rubah dan menampilkan hal baru yang menyegarkan mata penduduk atau pelancong yang tengah berkunjung. Seperti kelompok Triton di Newfoundland, Ontario di Kanada yang menunjukkan kebanggaan dan semangat komunitas mereka dalam memperbaharui halte bus.

Baca juga: Wow, Halte Bus di Inggris Tawarkan Sensasi Bak ‘Rumah Nenek’, Aneh atau Keren?

Di mana halte bus di desain dan diwarnai dengan cat yang digerakkan oleh Gloria Scott. Awal Scott bisa mengubah halte di Newfoundland dengan mendekati dewan kota dan memberikan ide serta meminta bantuan siapapun yang tertarik dengan pemikirannya.

Halte bus yang sudah didesain dan diwarnai (thetelegram.com)

Apalagi sekarang banyak halte yang sudah selesai dibangun dan sudah ada orang yang ingin terlibat. Scott mengaku tanggapan tersebut mengejutkan, sebab ketika tersiar kabarnya, dia memiliki lusinan ekspresi minat untuk membantu proyek termasuk dari kota yang menyumbangkan persediaan.

“Ini benar-benar upaya komunitas,” katanya yang dikutip KabarPenumpang.com dari thetelegram.com (9/9/2020).

Para relawan mulai melukis pada awal Juli dan proyek mulai mendefinisikan kembali lanskap di Triton. Scott mengatakan, dirinya ingin melakukan sesuatu untuk mempercantik kota dan melakukan sesuatu untuk anak-anak. Dan inilah yang membawanya ke halte bus. Ada sebelas halte di kawasan Triton dan belum semua di cat tetapi sudah memiliki desain yang berbeda.

Relawan mengirimkan idenya kepada Scott dan dia secara bergiliran menandatanganinya. Dia bahkan belum meminta desain dari seorang seniman. Desain yang didapatnya menyentuh berbagai aspek kehidupan di Triton dan provinsi tersebut. Ada penghormatan untuk perikanan dan rumah deretan jelly bean yang terkenal di provinsi itu.

Tak hanya itu, ada pula desain Seasame Street dan gambar anak membaca buku. Bahkan ada satu desain yang menyentuh hati Scott yakni halte bus di dekat Cenopath tempat kota tersebut mengadakan upacara Memorial Day dan Remembrance Day tengah dilukis sebagai peringatan bagi anggota militer. Nantinya setelah selesai akan menampilkan seribu bunga poppy dan nama orang-orang dari daerah yang bertugas di masa perang.

“Saya benar-benar ingin melakukan peringatan itu. Ini menyentuh rumah bagi saya,” kata Scott, yang ayahnya bertugas di militer.

Setelah beberapa halte bus di cat, ini menjadi populer dan buah bibir di kalangan warga kota serta pelancong. Pengunjung staycation sering mampir ketika para artis bekerja untuk berfoto dan mengomentari pekerjaan yang tengah dikerjakan. Ini juga dilakukan oleh para warga setempat. Selain itu di media sosial juga sudah banyak foto-foto halte bus dengan desain ini dan banyak komentar positif didapat.

“Tidak ada yang seperti ini di kota kami. Ini pertama kalinya kami melakukan sesuatu untuk menarik perhatian orang,” kata Amber White, salah satu sukarelawan.

Relawan dengan cepat membantu pekerjaan orang lain jika mereka dibutuhkan. Ini telah memungkinkan orang untuk bertemu orang lain di komunitas mereka yang memiliki minat yang sama seperti mereka.

“Senang bertemu orang baru,” kata White.

Baca juga: Tangkal Penyebaran Covid-19, Seoul Hadirkan Halte Bus dengan Teknologi Sinar Ultraviolet

Terry Lee Roberts adalah salah satu relawan yang telah menyumbangkan bakat seninya untuk mendekorasi halte bus. Dia berkata dia akan senang jika ada lebih banyak tempat berlindung untuk dicat dan didekorasi. Dia dan putrinya telah bekerja bersama di beberapa halte bus. Roberts merancang tempat penampungan Sesame Street, sementara putrinya membuat desain yang penuh dengan kutipan inspiratif, bersama dengan nomor Telepon Bantuan Anak-anak dan kelompok advokasi kesehatan mental setempat.

“Itu merupakan pengalaman yang luar biasa,” kata Roberts. Kami bersenang-senang.

Tahukan Anda, Aspal Runway 10 Kali Lipat Lebih Kuat Dibanding Aspal Jalan Raya!

Seberapa tebal aspal landasan pacu (runway) bandara? Pertanyaan tersebut mungkin pernah terlintas dalam benak kita ketika terlibat dalam penerbangan. Atau, mungkin pertanyaan tersebut juga terbesit tatkala menunggu penerbangan dan melihat langsung bagaimana proses take off serta landing pesawat.

Baca juga: Lampu Runway di Bandara Mati, Pesawat Berhasil Mendarat Berkat Panduan Lampu Mobil

Sekilas, bentuk, warna, dan ketebalannya hampir terlihat sama dengan aspal yang biasa kita lihat di jalan raya. Karenanya, mungkin sebagian dari kita akan menduga bahwa kekuatan aspal runway sama atau bahkan tak lebih kuat dibanding aspal jalan raya; terlebih dengan pertimbangan jalan raya dilalui oleh ribuan bahkan ratusan ribu kendaraan setiap harinya. Namun, tahukah Anda, bahwa aspal runway bandara rupanya hampir 10 kali lipat lebih kuat?

Disarikan KabarPenumpang.com dari Analisa Tebal dan Perpanjangan Landasan Pacu oleh Hastha Yuda Pratama, sebagaimana dimuat media.neliti.com, sebelum terbuat dari beton dan aspal, awalnya, permukaan landasan pacu adalah rumput ataupun tanah yang dipadatkan. Akan tetapi, ketika badan pesawat bertambah besar maka yang lazim digunakan saat ini adalah aspal dan beton. Panjang dan lebarnya pun bervariasi mulai dari 1.000 m hingga 5.000 m lebih.

Sementara ukuran landasan pacu di Indonesia sendiri kurang lebih 3.200 m x 45 m. Dengan ukuran seperti itu, tidaklah cukup untuk didarati pesawat berbadan lebar (widebody) seperti Boeing B747 ataupun Airbus A380. Selain karena faktor panjang, tebal dan kekuatan runway juga menjadi faktor penentu jenis pesawat seperti apa saja yang bisa mendarat.

Saat membangun runway, setidaknya ada tiga model perencanaan yang digunakan untuk menetukan tebal tipis perkerasan, mulai dari metode US Army Corps Enginer, Asphalt Institute, dan Federal Aviation Administration (FAA). Dari ketiga model tersebut, nanti akan diketahui, seberapa tebal perkerasan runway yang dibutuhkan.

Sebagai contoh, sebagaimana dikutip dari sith.itb.ac.id, dari proses pendesainan diketahui Bandara Internasional Kertajati, Majalengka memiliki total tebal perkerasan untuk runway mencapai 127 cm (US Army Corps Enginner). Total tebal runway sendiri berbeda dengan ketebalan taxiway dan apron. Tebal taxiway dan apron bandara tersebut, yakni cross taxiway adalah 70 cm, parallel taxiway adalah 127 cm, dan apron adalah 81,68 cm.

Runway setidaknya dibangun dengan empat pondasi, mulai dari tanah dasar (sub grade), lapisan pondasi bawah (sub base course), lapisan pondasi atas (base course), lapisan permukaan (surface course). Di bagian atas atau permukaan, aspal runway harus berkualitas tinggi, seperti tak bisa ditembus air serta mampu memperbesar daya dukung lapisan terhadap beban roda pendaratan.

Konsep dasar perencanaan perkerasan runway sebetulnya sama dengan perencanaan perkerasan pada jalan raya, dimana perencanaan berdasarkan beban yang bekerja dan kekuatan bahan yang digunakan untuk mendukung beban yang bekerja. Namun, pada aplikasi sesungguhnya, tentu terdapat perbedaan pada perencanaan perkerasan runway dan jalan raya. Ada empat hal yang membedakan perkerasan runway dan jalan raya.

Pertama, Jalan raya dirancang untuk kendaraan yang berbobot sekitar 9000 lbs, sedangkan runway dirancang untuk memikul beban pesawat yang rata-rata berbobot jauh lebih besar yaitu sekitar 100.000 lbs.

Kedua, jalan raya direncanakan mampu melayani perulangan beban (repetisi) 1.000-2.000 truk per harinya. Sedangkan ruway direncanakan untuk melayani repetisi beban 20.000 sampai 40.000 kali selama umur rencana.

Baca juga: Unik! Qamdo Bangda Airport Punya Runway Terpanjang di Dunia dengan Cuaca Ekstrem Hampir Sepanjang Tahun

Ketiga, tekanan ban pada kendaran yang bekerja kira-kira 80-90 psi. Sedangkan pada runway tekanan ban yang bekerja diatasnya adalah mencapai 400 psi. Dari perbedaan pertama, kedua, dan ketiga, bisa dibilang, runway lebih kuat 10 kali lipat dibanding jalan raya.

Terakhir, perkerasan jalan raya mengalami distress yang lebih besar karena beban bekerja lebih dekat ke tepi lapisan, berbeda pada runway dimana beban bekerja pada bagian tengah perkerasan.

Pakai Masker Bisa Jadi Masalah Bagi Penderita Asma Kronis, Namun Awak Maskapai ini Tak Paham

Penggunaan masker di masa pandemi ini menjadi satu keharusan pada semua orang. Selain untuk menjaga diri sendiri, juga untuk mencegah penularan virus corona atau Covid-19. Namun, penggunaan masker ini pun dikecualikan untuk beberapa orang seperti lansia, anak-anak maupun dengan alasan kesehatan seperti asma.

Baca juga: Menolak Pakai Masker Selama Penerbangan, Siap-siap Pramugari Akan ‘Catat’ Nama Penumpang!

Baru-baru ini, seorang penumpang dengan asma kronis dan membawa kartu pengecualian resmi yang dicetak dari situs web pemerintah sebelum melakukan penerbangan ditolak menaiki pesawat EasyJet karena tidak menggunakan masker. Dia ditolak oleh pilot dan awak kabin maskapai ketika dalam perjalanan dari Jersey ke Gatwick.

Dilansir KabarPenumpang.com dari bbc.com (9/9/2020), penumpang yang disebutkan bernama Nick tersebut mengatakan, dia tidak bisa mengenakan apapun di sekitar wajah atau leher karena menderita asna kronis. Dia mengaku bahkan tidak bisa menggunakan scraf yang melingkari wajahnya karena sensasinya menyesakkan dan merasa sulit bernapas.

“Ini seperti sabuk baja yang melingkari dadaku,” ungkap Nick.

Diketahui insiden ini ketika Nick akan kembali dari Pulau Jersey setelah mengunjungi keluarganya pada Agustus kemarin. Kemudian dalam perjalanan kembali menuju ke Gatwick, awak kabin mengatakan kartu tersebut tidak valid dan dia tetap harus menggunakan masker.

“Staf datang untuk berbicara dengan saya sekitar enam kali. Penundaan selama 30 menit dianggap sebagai kesalahan saya dan setiap kunjungan menimbulkan lebih banyak permusuhan di antara para penumpang. Saya dihina, diteriaki, ditertawakan. Rasanya seperti semua orang menentang saya,” ujar Nick.

Dia saat itu sangat putus asa sehingga mulai merekam dengan teleponnya. Rekaman menunjukkan bahwa pilot menolak untuk menerima kartu pengecualian tersebut dan mengatakan jika Nick tidak memakai masker dia pergi. Karena hal ini, Nick mau tak mau harus setuju dan mengaku mengalami hiperventilasi selama penerbangan satu jam.

“Saya akan melakukan apa saja untuk menghindari mengenakan apa pun yang membatasi pernapasan saya. Itu lebih menakutkan daripada dihina oleh 100 penumpang, tapi akhirnya saya merasa seperti saya tidak punya pilihan,” aku Nick.

EasyJet mengatakan semua pelanggan diharuskan memakai penutup wajah tetapi beberapa penumpang mungkin tidak dapat melakukannya.

“Kami baru-baru ini memperbarui kebijakan kami sejalan dengan panduan pemerintah Inggris baru-baru ini sehingga selain sertifikat medis, pelanggan dapat memberikan dokumen yang relevan dari situs web atau tali pengikat pemerintah. Kami mohon maaf karena kebijakan baru ini tidak dikenali oleh kru pada kesempatan ini,” ujar pernyataan dari EasyJet.

Maskapai tersebut menggambarkan perilaku Nick sebagai “mengganggu”, tetapi seorang penumpang, yang tidak ingin disebutkan namanya, mengatakan ia berperilaku “dengan tenang” dalam “situasi yang penuh tekanan”.

“Tidak ada yang peduli dengan kondisinya. Staf seharusnya membawanya menjauh dari penumpang lain untuk melakukan percakapan secara pribadi,” kata penumpang tersebut.

Asma Inggris dan British Lung Foundation menyebut cerita Nick sebagai kasus yang menyedihkan, tetapi mengatakan ada orang lain yang seperti dia.

Baca juga: Tegur Penumpang yang Tak Pakai Masker dengan Benar, Pria Tua ini Justru Kena Gigitan di Dada

“Pemerintah benar-benar jelas ada pengecualian dari memakai topeng. Sebagian besar orang dengan kondisi paru-paru baik-baik saja jika memakai masker, tetapi untuk sebagian kecil tidak mungkin bagi mereka untuk bernapas. Itulah mengapa pengecualian ini diberlakukan, sehingga mereka masih bisa keluar dan menjalani hidup mereka,” jelas Head of Policy, Sarah MacFadyen.

Demi Ambil Barang Jatuh, Wanita Ini Nekat Turun ke Rel Lewat Celah Antara Kereta dan Peron

Turun ke rel melalui celah antara peron dengan kereta api yang terparkir cukuplah mengambil risiko. Hal ini karena, ada kemungkinan kereta tidak lama berhenti dan kembali jalan atau terjepit di celah tersebut ketika akan naik kembali ke peron.

Baca juga: Nekat Naik ke Kereta yang Melintas, Pria Ini ‘Berputar-Putar’ Pasrah di Peron

Namun, seorang wanita pemberani mengejutkan penumpang lainnya. Sebab dia turun ke bawah kereta ScotRail yang tengah berhenti di stasiun untk mengambil barang belanjaan yang jatuh dari tas ke rel tepat di bawah gerbong kereta tersebut.

KabarPenumpang.com melansir dari laman dailymail.co.uk (9/9/2020), keberanian wanita ini direkam oleh penumpang lainnya yang melihat kejadian tersebut. Kejadian itu diketahui terjadi di Stasiun Troon di Ayrshire, Inggris, pada Selasa (8/9/2020) ketika dia hendak naik ke kereta ScotRail.

Saat akan masuk ke dalam kereta, barang yang dibawa, beberapa diantaranya terjatuh dari tas ke rel di bawah gerbong kereta. Dia kemudian kembali ke pintu kereta ketika penumpang lainnya mengatakan bahwa ‘kita tidak bisa turun’.

Tetapi, wanita itu kemudian membuat keputusan berbahaya dan turun ke bawah kereta melalui celah antar kereta dan peron. Dalam rekaman tersebut, wanita lainnya terlihat berdiri dengan tangan menghalangi pintu kereta sebagai upaya untuk menghentikan kereta tersebut meninggalkan stasiun.

Tak lama setelah mengambil barang yang terjatuh di rel, wanita pemberani tersebut muncul dengan tas yang terjatuh itu beberapa detik kemudian. Dia meletakkan barang ke dalam kereta. Orang yang merekam kejadian tersebut berkata, “Saya belum pernah melihat yang seperti itu dalam hidup saya.”

Penumpang wanita tersebut kemudian kembali ke dalam kereta. Kejadian ini diketahui pihak ScotRail yang mengungkapkan bahwa mereka mengingatkan masyarakat untuk tidak masuk tanpa izin ke mana pun di jalur kereta api.

Sebab hal tersebut sangat berisiko dan bisa membuat orang itu cedera serius. Juru bicara ScotRail mengatakan, pihaknya mengetahui insiden di mana penumpang turun di Stasiun Troon pada hari Selasa itu dan telah melaporkannya ke otoritas terkait.

Baca juga: Terlambat Naik Kereta, Wanita Ini Letakkan Kaki Diantara Peron dan Gerbong

“Kami menggunakan kesempatan ini untuk mengingatkan orang-orang agar tidak masuk tanpa izin ke mana pun di rel karena mereka menempatkan diri mereka sendiri dan orang lain dalam risiko cedera serius.”

Transgender Mau Jadi Pramugari Ditolak, Layangkan Gugatan ke Mahkamah Agung

Di India setiap orang memiliki hak untuk memilih jenis kelamin mereka sendiri. Ini diputuskan setelah kasus pengadilan pada tahun 2014 lalu. Di mana pengadilan telah memberi orang India hak atas identitas gender.

Baca juga: West Coast Avanti, Kereta Spesial di Inggris dengan Awak LGBT

Selain itu mereka tidak dapat didiskriminasi atas gender. Namun baru-baru ini seorang wanita transgender menggugat Air India karena ditolak dalam pekerjaan untuk pramugari wanita di maskapai tersebut.

Dilansir KabarPenumpang.om dari laman paddleyourownkanoo.com (9/9/2020), saat ini kasus wanita transgender tersebut sudah masuk dalam tahap persidangan di Mahkamah Agung India. Di mana Air India menolaknya untuk bekerja sebagai awak kabin wanita karena terlahir dengan jenis kelamin laki-laki.

Kasus ini awalnya diajukan sejak 2017 dan disidangkan dalam waktu tiga minggu menurut pemberitaan media lokal karena masalah tersebut sudah lama menunggu untuk ditangani. Penggugat yang tidak disebutkan namanya tersebut pertama kali melamar sebagai awak kabin Air India pada Juli 2017 dan berhasil lolos ke tahap penilaian diskusi grup.

Dia juga menyelesaikan tes kepribadian tetapi tidak terpilih untuk maju lebih jauh dalam proses aplikasi meski bernasib baik dalam tes awal yang dilakukan. Untuk diketahui, beberapa maskapai India hanya merekrut awak kabin wanita, sedangkan maskapai lain seperti Air India mengadakan acara perekrutan khusus wanita.

Penggugat mengajukan form perekrutan khusus wanita karena dia sudah berhasil operasi penggantian kelamin. Karena hal ini, penggugat melakukan empat upaya aplikasi tetapi tidak pernah dipekerjakan oleh Air India sebagai awak kabin meskipun telah bekerja untuk maskapai tersebut sebagai agen pelanggan di Chennai.

Air India dan Kementerian Penerbangan Sipil telah menolak klaim tersebut, dengan mengatakan dia tidak dipilih karena dia tidak mendapat skor yang cukup tinggi dalam tes yang diperlukan untuk maju ke tahap selanjutnya dalam proses perekrutan. Penggugat berusia 31 tahun itu menjalani operasi penggantian kelamin di Bangkok pada tahun 2014 dan status gendernya secara resmi dipublikasikan di surat kabar pemerintah negara bagian.

Baca juga: Komunitas LGBTI: Pelatihan Petugas Bandara Akan Mengembalikan Hak Transgender

Dia telah mengajukan klaim di bawah RUU Orang Transgender (Perlindungan Hak) 2016 yang melarang diskriminasi terhadap seorang transgender dalam kaitannya dengan pekerjaan atau pekerjaan. Dia mengaku tidak terpilih karena secara hukum diakui sebagai transgender, sementara Air India hanya bersedia mempekerjakan kandidat perempuan.

Yang Pertama, Bandara Leonardo da Vinci-Fiumicino Raih Peringkat “Bintang Lima Covid-19” dari Skytrax

Lembaga pemeringkat transportasi udara internasional Skytrax, menjadikan Bandara Leonardo da Vinci-Fiumicino di Roma sebagai yang pertama di dunia menerima peringkat Bandara Bintang 5 Covid-19. Sebelum mendapatkan peringkat tersebut, Skytrax ternyata melakukan audit selama 3 hari pada bulan September.

Baca juga: Mengenal Bandara Terbesar dan Tersibuk di Italia, Leonardo da Vinci–Fiumicino

Audit ini didasarkan pada kombinasi pemeriksaan efisiensi prosedural, analisis observasi visual dan tes pengambilan sampel ATP. Di mana konsistensi standar menjadi penentu utama dalam peringkat akhir yang diterapkan. KabarPenumpang.com merangkum dari skytraxratings.com, Skytrax memverifikasi keberhasilan garis depan penerapan untuk menjaga keamanan staf bandara dan pelanggan dengan sistem dan prosedur Covid-19 di seluruh Bandara Rome Fuimicino.

Otoritas bandara ini memberikan kejelasan terkait protokol Covid-19 melalui papan pengumuman dan sistem informasi yang efektif dengan kejelasan sangat baik. Di area dengan pergerakan tinggi di terminal, bandara memiliki Tim Bio-Safety internal yang terdiri dari 40 staf yang memfasilitasi jarak sosial dan memastikan kepatuhan terhadap penggunaan masker wajah.

“Bandara Rome Fiumicino telah melakukan pekerjaan yang sangat baik dalam memberikan protokol Covid-19 yang memungkinkan lingkungan yang aman bagi pelanggan dan staf. Di area inti kebersihan tangan dan jarak sosial, bandara memiliki prosedur yang kuat, dan yang terpenting, ini diperkuat dengan perhatian tingkat tinggi terhadap sanitasi terminal pada titik-titik kontak tinggi. Konsistensi dari langkah-langkah ini juga penting, dan ini merupakan faktor penting di balik Bandara Fiumicino Roma menjadi bandara pertama di dunia yang menerima Peringkat Bandara Bintang 5 Covid-19,” kata Edward Plaisted dari Skytrax.

Marco Troncone, CEO Bandara Roma Fiumicino mengatakan, mereka sangat puas dengan penghargaan baru ini karena hal tersebut merupakan pengakuan internasional yang signifikan atas upaya perusahaan yang, selama keadaan darurat, selain protokol yang ditentukan oleh Pemerintah. Yang mana Bandara Roma Fuimicino telah mengadopsi langkah-langkah lebih lanjut untuk memastikan cakupan dan kedalaman maksimum intervensi pencegahan yang memungkinkan bandara di ibukota Italia untuk terus beroperasi dalam kondisi keamanan maksimum.

Untuk mengelola penumpang dan langkah-langkah kebersihan secara efektif, Bandara Roma telah mengkonsolidasikan operasi untuk menggunakan Terminal 3 untuk check in dan kedatangan, dan Concourse Gates E untuk penerbangan keberangkatan dan transfer. Jumlah penumpang harian sekitar 30 persen dari level biasanya, tetapi perbatasan Italia yang terbuka dan tingkat Covid-19 yang cukup rendah berarti bandara tetap cukup sibuk dan ramai.

Di area yang berhadapan dengan pelanggan, bandara memiliki staf pembersih yang terlihat, dan sedang menguji beberapa metode sanitasi UV yang selanjutnya meningkatkan kebersihan di titik-titik kontak tinggi seperti elevator dan eskalator. Pengujian ATP pada permukaan yang sering disentuh menunjukkan bahwa di mana staf menerapkan pemeliharaan, ini memenuhi standar yang baik, dan bandara terus menilai bagaimana hal ini dapat meningkat.

Baca juga: Bandara Kopenhagen Tempati Peringkat Teratas Untuk Pemeriksaan Keamanan

Peringkat Bandara Covid-19 didasarkan pada studi ilmiah dan analisis oleh Skytrax dan tidak melibatkan elemen pengujian mandiri atau evaluasi oleh bandara, sebab ini bukan sekadar analisis virtual dari prosedur yang diharapkan dapat diterapkan oleh bandara. Analisis protokol kebersihan mencakup referensi ke pedoman Keselamatan Kesehatan Penerbangan ICAO, EASA dan ECDC Covid-19.

Pesawat Ilyushin Il-14 Avia, Sejarah TNI AU yang Nyaris Terlupakan! Pernah Jadi Pesawat Kepresidenan

Selain mengoperasikan pesawat dalam negeri, saat ini TNI AU bisa dibilang cukup akrab dengan pesawat-pesawat angkut Belanda dan Amerika Serikat (AS). Hal itu setidaknya terlihat dari kepemilikan sejumlah pesawat C-130 Hercules, Boeing 737-200 dan Boeing 737-400, serta Fokker F-28 VIP yang notabene merupakan buatan kedua negara tersebut.

Baca juga: Intip Ilyushin Il-96 Air Force One Rusia, Punya Sistem Pertahanan Anti Rudal dan Kursi Lontar

Namun, sejarah mencatat, TNI AU pernah sangat terbantu dengan kehadiran pesawat angkut sedang dari Uni Soviet, yakni Ilyushin Il-14 Avia. Sayangnya, pesawat tersebut bak angin lalu -jika tidak ingin disebut nyaris terlupakan- yang tidak mendapat perhatian serius sebagai salah satu pilar pendukung eksistensi TNI AU selama belasan tahun.

Dilansir Indomiliter.com, disebut angin lalu, sebab, dari 22 unit yang pernah beroperasi, pesawat berkapasitas 24-32 penumpang ditambah empat kru tersebut awalnya tak satupun masuk dalam barisan koleksi Museum Pusat TNI Dirgantara Mandala (Muspusdirla), Yogyakarta.

Tak berhenti sampai di situ, seluruh pesawat dengan kecepatan maksimum 417 km per jam serta jarak tempuh sejauh 1.305 km ini tidak diketahui keberadaanya, kecuali satu yang tersisa sebagai monumen di Lanud Abdurachman Saleh Malang, Jawa Timur. Padahal, bila melihat eksistensi Ilyushin Il-14 Avia bersama TNI AU, tidak semestinya pemilik panjang 31,7 meter serta tinggi 7,9 meter ini diperlakukan seperti itu.

Diketahui, pesawat yang pertama kali terbang pada tahun 1950 dan mulai beroperasi empat tahun kemudian ini, pernah mengambil peran vital sebagai pengangkut personel dan logistik dikala Indonesia dirongrong pemberontakan di sejumlah daerah pada 1957 – 1965. Kala itu, bersama C-47/DC-3 Dakota yang legendaris, Il-14 bukan hanya digerakan sebagai pesawat angkut taktis militer, tetapi juga diperankan sebagai angkutan sipil, di bawah naungan Skadron Udara 2 dan Skadron Udara 17 Angkut VIP/VVIP yang berbasis di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Di luar operasi militer, satu dari 22 pesawat Ilyushin IL-14 Avia juga digunakan sebagai pesawat kepresidenan yang diberi nama Dolok Martimbang, sebuah bukit gagah berdiri tinggi menjulang seakan menggapai langit di daerah tarutung, ibu kota Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Sebagai informasi, Dolok Martimbang juga menjadi nama kereta melayani Rute tersebut Medan-Tebing Tinggi-Pematang Siantar PP, loh.

Kembali ke Ilyushin IL-14 Avia, Indonesian Air Force One ini termasuk yang pertama datang -dari 22 unit yang dipesan- pada 10 Mei 1957. Presiden Soekarno tercatat pernah meninjau langsung pesawat itu di Jakarta.

Setelah 18 tahun berkiprah bersama TNI AU, Il-14 Avia akhirnya resmi masuk masa pensiun pada 12 Juli 1975. Hal tersebut berdasarkan Pengarahan KSAU nomer 182/Pes-15/1975.

Baca juga: Pengamat: Pilot TNI AU Butuh Waktu Transisi Untuk Menerbangkan Pesawat Garuda Indonesia

Meskipun sejak pertama kali pensiun armada Il-14 Avia sempat terlupakan, barulah pada akhir 2017 lalu, pesawat yang juga pernah digunakan oleh Vietnam, Suriah, Rusia, Mesir, Cina, Cekoslowakia, dan Kuba ini dilirik TNI AU dan diputuskan untuk masuk ke dalam jajaran koleksi Muspusdirla, Yogyakarta.

Kala itu, menurut Kamuspusdirla, Kolonel Sus Drs. Dede Nasrudin, dengan adanya pesawat Ilyushin IL-14 di Muspusdirla diharapkan dapat menjadi sarana rekresasi dan edukasi.

Berkah Vaksin, IATA Sebut Butuh 8 Ribu Pesawat Jumbo untuk Antarkan Vaksin ke Seluruh Dunia

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) mengaku, pengiriman vaksin Covid-19 ke seluruh dunia akan menjadi salah satu tantangan terbesar transportasi global. Diperkirakan, butuh setidaknya 8 ribu pesawat widebody sejenis Boeing 747 untuk bisa menjalankan misi itu dengan asumsi satu dosis untuk satu orang.

Baca juga: IATA Usul Dunia Jangan Karantina Wisatawan! Ini Alasannya

Saat ini, menurut data Cirium, ada sekitar 26 ribu pesawat yang beredar di seluruh dunia, terdiri dari widebody, narrowbody, dan jet regional. Dari angka tersebut, total pesawat widebody tak sampai setengahnya.

Sudah begitu, IATA tahu persis bahwa tak semua pesawat mampu menjalankan misi ini. Sebab, vaksin harus diangkut dalam suhu antara 2-8 derajat celcius. Bahkan, beberapa vaksin mungkin membutuhkan suhu jauh di bawah itu. Bila demikian, otomatis, akan lebih sedikit pesawat yang mampu menjalankan misi mengantar vaksin Covid-19.

Dengan ketimpangan jumlah rill pesawat terhadap perkiraan pesawat yang dibutuhkan, di samping tak banyak pesawat yang mampu bergabung dalam misi tersebut, IATA mengaku sudah membuka komunikasi dengan berbagai pihak, mulai dari maskapai penerbangan, bandara, badan kesehatan di berbagai negara di dunia, hingga perusahaan farmasi penyedia vaksin. Semua dilakukan agar ketika waktunya tiba, transportasi udara sudah siap menjalankan.

“Pengiriman vaksin Covid-19 dengan aman akan menjadi misi abad ini bagi industri kargo udara global. Tetapi itu tidak akan terjadi tanpa perencanaan yang cermat sebelumnya. Dan sekaranglah waktunya,” jelas CEO IATA, Alexandre de Juniac, sebagaimana laporan BBC International.

Dari lima benua, mulai dari Eropa, Amerika, Australia, Asia, dan Afrika, pengiriman vaksin ke Afrika mungkin jadi yang paling krusial. Oleh karenanya, IATA memperkirakan setidaknya akan butuh bantuan militer untuk mengamankan proses pembagian, mulai dari keberangkatan pesawat, proses penurunan di bandara, pengiriman via darat ke negara-negara di Afika (karena tak semua bandara di Afrika bisa didarati pesawat jumbo), bongkar muat di negara tujuan, hingga proses pembagian langsung ke masing-masing orang.

Saat ini, ada sekitar 140 perusahaan di dunia yang tengah berlomba membuat vaksin Covid-19. Dari jumlah tersebut, setidaknya ada beberapa yang terdepan, mulai dari perusahaan BioNTech SE dan Pfizer kolaborasi Jerman dan Amerika Serikat (AS), Universitas Oxford, Johnson & Johnson, Moderna, Sinovac hingga vaksin Sputnik V buatan Rusia.

Baca juga: Berkah Covid-19, Singapore Airlines Tawarkan Companion App Pertama di Dunia, Ini Kegunaannya

“Vaksin akan menjadi komoditas yang sangat berharga. Pengaturan harus dilakukan untuk memastikan bahwa pengiriman tetap aman dari gangguan dan perampokan,” tambah IATA.

Terlepas dari berbagai kesulitan yang dihadapi dalam proses pengiriman vaksin ke seluruh dunia, kebutuhan pesawat untuk menjalankan misi tersebut (mengantarkan vaksin) tentu menjadi angin segar bagi maskapai penerbangan dunia, di tengahnya sepinya penerbangan penumpang; sekalipun proses pengiriman vaksin masih membutuhkan waktu cukup lama.

Pasca Insiden 9/11, Temperatur Udara di Amerika Serikat Sempat Naik Dua Derajat

Memori buruk tentang apa yang menimpa Amerika Serikat pada 11 September 2001 silam sejatinya tidak akan mudah dilupakan begitu saja. Aksi teror yang dilakukan oleh jaringan teroris Al Qaeda ini tak pelak menjadi satu guratan sejarah paling kelam di Negeri Paman Sam. Semua orang dibuat panik dan bingung dalam menanggapi serangan terhadap sejumlah titik vital di Amerika Serikat, seperti menara kembar World Trade Center, Pentagon, dan dua titik lainnya.

Baca Juga: Sisi Lain Tragedi 11 September, Ribuan Penumpang dari Eropa Terdampar di Newfoundland

Guna mencegah kekacauan semakin merambak, pejabat yang ada di Federal Aviation Administration (FAA) langsung mengambil keputusan untuk memblokade jalur udara Amerika Serikat. Semua penerbangan yang sedang mengarah ke negara adikuasa dititah untuk segera mendarat di bandara terdekat – dimanapun, dalam kondisi apapun.

Penumpang lantas kebingungan dengan apa yang tengah terjadi pada penerbangan mereka karena sejatinya, penumpang tidak mendapatkan informasi terbaru soal apa yang tengah terjadi di Amerika.

Setelah semua penerbangan menuju Amerika Serikat dihalau, otomatis wilayah udara di sana menjadi kosong melompong – kecuali penerbangan militer yang hilir mudik melakukan patroli udara. Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman globalnews.ca, wilayah udara AS yang biasanya selalu ramai dilintasi oleh penerbangan komersial, kala itu mendadak sepi tanpa ada penerbangan penumpang satu pun.

Terlepas pendapatan dari pihak maskapai yang merosot akibat insiden 9/11 ini, grounded massal selama kurang lebih tiga hari yang dilakukan oleh beragam pesawat di AS juga pada akhirnya berdampak pada perubahan iklim yang cukup signifikan di sana. Mesin pesawat jet yang panas akan bertemu dengan suhu di udara yang dingin – dan sejak ada insiden 9/11 ini, tidak ada mesin jet yang memanaskan suhu di atas, sehingga tidak ada yang memecah konsentrasi awan di langit. Gumpalan awan yang memenuhi angkasa membuat pancaran panas matahari tidak bisa ‘naik’ ke udara dan terjebak di bumi.

Baca Juga: Tragedi 11 September, Mengenang Momen Keberanian Penumpang Melawan Teroris di United Airlines Flight 93

Walhasil, peningkatan temperatur sempat terjadi di wilayah AS selama kurang lebih tiga hari lamanya, “naik kurang lebih dua derajat celcius,” tutur seorang ahli geografi dari University of Winconsin yang turut mengalami gejala ini.

Wah, ternyata ada banyak sudut pandang lain yang bisa dilihat di balik insiden 9/11 ya!