Pesawat Pakai Masker Kini Jadi Kenyataan!

Update kasus virus corona di dunia semakin mengkhawatirkan. Per hari ini, sudah ada total 25,8 juta orang terjangkit Covid-19 di seluruh dunia, dengan 17,1 juta di antaranya sembuh dan sisanya, 859 ribu jiwa meninggal dunia.

Baca juga: Dorong Warga Pakai Masker, Jerman Larang Penggunaan Deodoran di Transportasi Umum

Setelah enam bulan, perkembangan pandemi virus yang diduga berasal dari Wuhan, Cina ini belum ada tanda-tanda melambat atau bahkan musnah dari muka bumi. Betapa tidak, belakangan, laporan mutasi virus corona yang disebut 10 kali lebih kuat terdengar dimana-mana. Belum lagi vaksin virus corona yang masih belum tersedia hingga temuan reinfeksi (terinfeksi dua kali) di beberapa negara, mau tak mau makin membuat dunia menjadi waspada.

Selagi belum tersedia vaksin, tak ada yang bisa dilakukan masyarakat dalam mencegah penyebaran virus corona kecuali menerapkan protokol kesehatan, seperti memakai masker dengan benar, menjaga jarak, dan rajin mencuci tangan sebelum menyentuh area wajah. Dari ketiga itu, para peneliti menyebut masker menjadi kunci dunia dalam menahan laju penyebaran corona.

Atas dasar tersebut, dunia pun berpacu dengan waktu untuk terus mengkampanyekan penggunaan masker dengan beragam cara, salah satunya lewat media pesawat.

Belum lama ini, sebuah pesawat Boeing 747-8 Cargolux Airlines terlihat mengenakan ‘masker’ dalam upaya melawan virus corona. Pesawat dengan nomor penerbangan CLX 7952 tersebut kedapatan mengenakan ‘masker’ yang menutupi hidung pesawat, saat mendarat di Bandara Changi, Singapura, pada Kamis, 27 Agustus lalu; atau empat bulan pasca penggunaan masker diwajibkan di seluruh dunia sejak 14 April.

Dilansir straitstimes.com, pesawat mengenakan ‘masker’ tersebut merupakan yang pertama mendarat di Bandara Changi. Sebelumnya, Boeing 747-8 Cargolux Airlines terlebih dahulu melaksanakan perawatan rutin di Taipei dan transit di Changi sebelum kembali ke basis mereka di Luksemburg via Baku, Azerbaijan.

Momen pesawat Boeing 747-8 Cargolux Airlines mengenakan masker ini benar-benar spesial sampai Perdana Menteri Luksemburg, Xavier Bettel dan Wakilnya, François Bausch, menyempatkan diri untuk melakukan prosesi penyambutan pesawat secara sederhana.

Dalam sebuah pernyataan, juru bicara Cargolux mengatakan, pesawat bermasker tersebut untuk menujukkan partisipasi perusahaan dalam “mengkampanyekan penggunaan masker bersama pemerintah Luksemburg di tengah-tengah pandemi corona seperti sekarang ini,” jelasnya.

Baca juga: Duuh.. Penumpang Pesawat ini Gunakan Pakaian Dalam Sebagai Masker Wajah

Sebelum pesawat dengan livery dominan putih bertuliskan “Not Without My Mask” dan dilengkapi cat biru menyerupai masker di bagian hidung ini tampil, sudah lebih dahulu marak di media sosial pesawat menggunakan masker di bagian hidung, persis menyerupai ‘masker’ Boeing 747-8 Cargolux Airlines saat ini. Hanya saja, gambar (pesawat bermasker) yang beredar di media sosial merupakan hasil editan, bukan fakta di lapangan.

Penggunaan masker pada pesawat Boeing 747-8 Cargolux Airlines tentu bukan yang pertama di dunia. Sebelumnya, Pobeda Airlines (anak perusahaan Aeroflot, Rusia) dan United Airlines sudah lebih dahulu mengenakan masker di bagian hidung pesawat.

Kisah Keluarga Vickers, Pesawat Komuter Andalan Penerbangan Domestik Dekade 70-an, Punya Cerita Kelam di Indonesia!

Pasca Perang Dunia II berakhir, dunia berlomba membuat pesawat sipil komuter, baik untuk kebutuhan dalam maupun luar negeri. Inggris bahkan sampai harus membentuk Komite Brabazon pada tahun 1942 untuk menganalisis kebutuhan masa depan pasar pesawat sipil Inggris setelah Perang Dunia II. Selama masa baktinya, komite tersebut turut mensukseskan kehadiran pesawat turboprop pertama di dunia, Vickers Viscount.

Baca juga: Vickers Viscount, Pesawat Turboprop Pertama di Dunia

Dilansir travelupdate.com, kehadiran pesawat besutan Vickers-Armstrongs ini dinilai mampu mengubah tren penerbangan global saat itu. Menurut sebuah buku terbitan Australia, Vickers Viscount mampu menghadirkan apa yang disebut “Viscount Jump”, yakni sebuah perubahan besar dimana penumpang merasakan kenyamanan lebih selama di pesawat. Turunan dari itu, rute-rute regional di seluruh dunia -ada lebih 40 negara di dunia yang mengoperasikan keluarga Vickers- menjadi semakin ramai penumpang.

Vickers Viscount sukses menggebrak pasar regional setelah pada 18 April 1953, Vickers Viscount BEA dengan nomor registrasi G-AMNY mulai masuk ke dalam layanan dengan menempuh rute London-Siprus. Momen itu pun mengukuhkanya sebagai layanan berjadwal turboprop pertama di dunia.

Dalam rentang 1948 -1963, sebanyak 445 Vickers Viscount diproduksi. Dengan jumlah tersebut, Vickers Viscount menjadi pesawat pertama yang sukses dan menguntungkan setelah Perang Dunia II. Pelanggan terbesar tentu datang dari maskapai domestik sebanyak 77 unit. Sisanya, tersebar di 40 negara melalui lebih dari 60 operator. Umumnya, Eropa dan Amerika Utara masih menjadi pasar terbesar Vickers Viscount. Di negara-negara pengguna, Vickers Viscount didapuk menjadi pesawat komuter domestik andalan, pengganti Douglas Dakota DC-3 yang dinilai telah usang.

Tak mau larut dalam hegemoni, Vickers-Armstrongs mengembangkan Vickers Viscount. Dikutip dari baesystems.com, Vickers Vanguard dan berhasil terbang perdana pada 20 Januari 1959. Berbeda dengan pendahulunya, Vickers Vanguard mampu mengangkut hingga 139 penumpang; jauh lebih banyak. Tak hanya itu, pesawat juga mampu melaju sampai 684 km per jam lewat mesin baru turboprop Rolls-Royce Tyne.

Hanya saja, dari segi ketinggian dan jangkauan terbang, Vickers Vanguard tak lebih mapan dari saudara kandungnya, dengan hanya mencapai ketinggian 4,600 m dan range 2,950 km. Hal itulah jawaban mengapa jenis kedua dari keluarga Vickers ini hanya diproduksi sebanyak 44 unit (selain memang era turboprop sudah usai dan digantikan oleh mesin jet), jauh dibanding Vickers Viscount yang mencapai 445 unit di 40 negara.

Namun demikian, kapasitas menjadi andalan Vickers Vanguard yang bisa dimanfaatkan oleh puluhan operator di sembilan negara dan menjadikan pesawat sebagai komuter andalan, salah satunya Indonesia.

Di Indonesia, ada tiga operator pengguna Vickers Vanguard, mulai dari Airfast Service, Angkasa Civil Air Transport, dan Merpati Nusantara Airlines (MNA). Ketiga maskapai tersebut seluruhnya menikmati masa-masa kejayaan bersama Vickers Vanguard, khususnya MNA.

Dilansir majalah Angkasa No. 1 Tahun 1972, sebagaimana dikutip dari aviahistoria.com, MNA bahkan mengoperasikan Vickers Vanguard sampai tiga kali dalam sepekan untuk penerbangan Jakarta-Medan. Cukup banyak untuk ukuran saat itu. Kemudian, MNA juga menjadikan Vickers Vanguard sebagai pesawat komuter domestik andalan.

Di samping cerita baik, sepak terjang Vickers Vanguard selama berkarir di Indonesia juga punya cerita buruk. Salah satu yang lekat dalam ingatan ialah insiden kecelakaan Vickers Vanguard di Samudera Hindia.

Baca juga: Minta Tebusan Rp20Juta dan Parasut, Inilah Kronologi Pembajakan Pesawat Pertama di Indonesia

Kala itu, 10 November 1971, Vickers Vanguard MNA, dengan nomor registrasi PK-MVS, jatuh di Samudera Hindia, tepatnya di lepas pantai Padang, Sumatera Barat. Pesawat diketahui jatuh akibat cuaca buruk, tak lama setelah melaporkan masalah ke ATC. Sebanyak 69 orang, terdiri dari penumpang dan kru, tewas.

Tak cukup sampai di situ, setahun berselang, pembajakan pesawat pertama di Indonesia terjadi dan melibatkan Vickers Vanguard. Pada 15 April 1972, MNA dengan nomor penerbangan MZ-171 rute Manado–Makassar–Surabaya–Jakarta ini dibajak dan dipaksa mendarat di Bandara Adisucipto, Yogyakarta. Pembajakan dilakukan oleh seorang desertir KKO (Korps Marinir) TNI AL yang bernama Hermawan Hardjanto.

Mengenal Bell 206 JetRanger, Pesawat ‘Penjaga’ Museum Polri yang Pernah Keliling Dunia

Sebelum kemunculan Airbus Helicopters pada medio 90an, jagat helikopter dunia rata-rata dihiasi oleh pabrikan Bell Helicopter (Bell Textron). Penggunaannya cukup beragam, mulai dari bisnis hingga kepentingan penegakan hukum oleh pihak kepolisian.

Baca juga: Hari Ini, 38 Tahun Lalu, Helikopter Pertama yang Berhasil Keliling Dunia Berangkat! Butuh Waktu Hampir Sebulan

Di Indonesia, helikopter Bell sudah begitu melekat. Selain kerap digunakan TNI, helikopter Bell juga sudah lama digunakan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Bell 206 JetRanger yang bertengger di Museum Polri mungkin bisa jadi salah satu buktinya.

Akan tetapi, di luar penggunaan sebagai penegakan hukum dan bisnis, helikopter Bell juga pernah menjadi helikopter pertama yang berhasil keliling dunia. Kala itu, dari 20 lebih varian, helikopter Bell 206L-1 LongRanger II yang menjadi aktornya.

Dilansir airliners.net, pengembangan jenis LongRanger dimulai pada September 1973 dan memulai penerbangan pada 11 September 1974 serta diproduksi setahun berikutnya. Helikopter hasil pengembangan dari JetRanger ini menawarkan utilitas yang lebih besar atau mengangkut dua penumpang lebih banyak dengan bobot yang lebih ringan.

Mulai dari versi awal 206L LongRanger I dan versi selanjutnya Bell 206L1 LongRanger II, 206L3 LongRanger III, dan 206L4 LongRanger IV, kesemua itu disebutkan menjadi primadona untuk transportasi perusahaan, pribadi, kepolisian, hingga pelayanan medis berkat keunggulan tersebut (utilitas lebih besar dan bobot lebih ringan).

Bell 206L1 LongRanger II sendiri mulai dipamerkan ke publik pada 1978 atau empat tahun sebelum helikopter tersebut dibawa berkeliling dunia oleh H. Ross Perot, Jr. dan Jay W. Coburn pada Rabu, 1 September 1982. Perlu dicatat, untuk kebutuhan keliling dunia, helikopter itu banyak melalui proses modifikasi, termasuk tangki bahan bakar yang jauh lebih besar.

Helikopter yang dibekali mesin 250-C28B dan 250-C30P ini memiliki panjang tujuh meter lebih, tinggi tiga meter, 2,3 meter, serta dimensi rotor mencapai 11.28m . Bell 206L1 LongRanger II mampu memuat lima penumpang dan dua kru dengan berat lepas landas maksimum mencapai 1.882 kg. Dalam konfigurasi medis, helikopter mampu memuat dua petugas medis dan dua tandu.

Baca juga: Indonesia Terima Helikopter Airbus Lewat Skema e-Delivery Pertama di Asia Pasifik

Umumnya, Bell 206L1 LongRanger II mampu menempuh jarak sejauh 563 km dengan dibekali oleh sekitar 98 galon bahan bakar. Bell 206L1 LongRanger II biasanya terbang dengan kecepatan 241km per jam pada ketinggian 1.615 m dan mencapai batasnya pada ketinggian 5.791. Namun, jarang sekali pilot penerbangkan sampai di ketinggian itu karena terlalu berisiko. Itupun tergantung kondisi. Bisa saja, sebelum mencapai ketinggian tersebut, bisa saja mesin kelelahan (engine fatigue) dan berakibat fatal.

Di seluruh dunia, Bell 206L LongRanger terjual lebih dari 1.600 unit, baik versi awal maupun versi terakhir, dengan sebagian kecil digunakan untuk keperluan militer.

Pertengahan September ini, Scoot Buka Rute Baru ke Yogyakarta dan Layani Kembali Penerbangan ke Pekanbaru dan Palembang

Scoot, maskapai penerbangan bertarif rendah atau low-cost carrier (LCC) milik Singapore Airlines Group, berencana memulai penerbangan langsung ke Singapura dari dua destinasi baru di Indonesia – Yogyakarta (YIA) dan Semarang (SRG). Penerbangan ke dua destinasi tersebut dapat dipesan melalui situs web Scoot, aplikasi seluler, dan agen perjalanan terdaftar.

Baca juga: Scoot Ubah Airbus A320ceo dari Pesawat Penumpang Jadi Pengangkut Kargo

Yogyakarta akan menjadi destinasi baru dengan penerbangan perdana dijadwalkan pada 29 September 2020. Sedangkan penerbangan dari Semarang dijadwalkan tentatif untuk diluncurkan pada Oktober 2020. Jadwal dapat berubah tergantung kebijakan regulator dan perkembangan Covid-19. Rute baru, yang akan dioperasikan oleh kelompok pesawat berbadan sempit (narrow-body) Airbus A320 milik Scoot, diambil alih dari maskapai segrup, SilkAir yang diumumkan pada November 2018.

Penerbangan dari Pekanbaru dan Palembang ke Singapura yang dihentikan sementara sejak Maret 2020 karena Covid-19 juga akan kembali beroperasi mulai 17 dan 22 September 2020, menyusul kembali beroperasinya penerbangan dari Singapura ke Surabaya mulai Juli 2020.

Dalam siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (2/9/2020), Chief Commercial Officer Scoot, Calvin Chan, mengatakan, “Pembukaan rute-rute ini bertujuan untuk melayani penumpang yang harus melakukan perjalanan penting, seperti repatriasi, perjalanan dinas, dan perjalanan kerja. Penumpang dapat yakin bahwa keselamatan mereka selama perjalanan adalah yang terpenting bagi kami, dan kami akan terus memastikan bahwa penumpang dapat memesan tiket Scoot dengan pikiran yang tenang.”

Agar penumpang dapat mengantisipasi perubahan rencana perjalanan mereka karena Covid-19, Scoot telah memperpanjang kebijakan perubahan-tanggal-gratis satu kali untuk setiap pemesanan baru sampai akhir November 2020.

Baca juga: Mulai 17 Juli, Scoot Kembali Buka Rute Surabaya-Singapura

Bagi penumpang yang terkena pembatalan penerbangan, Scoot menawarkan pengembalian dana dalam bentuk uang tunai maupun voucer kepada penumpang: Pengembalian dana 100 persen melalui metode pembayaran yang digunakan oleh penumpang, atau pengembalian dana 120 persen dalam bentuk voucer Scoot dan berlaku selama 24 bulan

Wow.. Pramugari Lakukan Akrobatik Tutup Pintu Bagasi Kabin Gunakan Sepatu Hak Tinggi

Tak hanya penumpang yang kerap kali melakukan hal aneh di dalam kabin. Awak kabin pun terkadang melakukannya meski saat itu tidak ada penumpang di dalam pesawat. Seperti yang dilakukan oleh seorang pramugari salah satu maskapai ini yang videonya viral di jagad maya.

Baca juga: Sempat Viral, Awak Kabin AirAsia X Ini Tirukan Gaya Britney Spears

Pramugari yang satu ini menjadi viral karena menampilkan akrobatik di lorong kabin sebuah pesawat. Tapi tak hanya itu, dia juga menutup bagasi kabin dengan menggunakan sepasang kakinya. KabarPenumpang.com melansir dari laman indianexpress.com (1/9/2020), pramugari tersebut diidentifikasi sebagai Lindsey O’Brien.

Dalam video tersebut, dia terlihat mencengkram lengan kursi sebelum terbalik dan menggunakan kakinya yang menggunakan sepatu hak tinggi untuk menutup empat pintu bagasi kabin. Kemudian setelahnya dia kembali ke posisi awal dan mengangkat tangan untuk merayakan keberhasilannya tersebut.

Wanita berusia 35 tahun tersebut, saat melakukan hal itu masih menggunakan seragamnya. Meski begitu dirinya tidak ingin memberitahu maskapai penerbangan tempatnya bekerja sebagai pramugari.

Lindsey melakukan hal itu dalam pesawat yang tengah parkir di Philadelphia, Pennsylvania pada Juni lalu. Dia mengaku, meski harus terlihat mudah dalam melakukannya ketika di rekam video, tetapi nyatanya tidak begitu ketika dirinya mencoba.

“Setiap kali saya melakukannya, satu bagasi tidak akan menutup, jadi saya ingin menutup empat sekaligus,” katanya.

Lindsey sendiri mengaku untuk bisa menutup empat bagasi kabin sekaligus dirinya memerlukan percobaan sebanyak 20 kali sebelum berhasil menutup semuanya secara bersamaan.

“Saya dulu melakukan yoga dan saya adalah seorang pemandu sorak yang tumbuh. Jadi intinya saya cukup kuat dan saya harus melihat apakah saya bisa melakukannya,” ungkapnya.

Baca juga: Pramugari Hibur Penumpang dengan Cara Unik Di Tengah Penerbangan yang Nyaris Kosong

Terlihat tak menggunakan masker wajah ketika melakukan akrobatik itu, Lindsey menjelaskan bahwa dia dan rekan kerjanya selalu memakai masker saat berada di sekitar penumpang atau di bandara.

“Ini hanya kesempatan langka ketika kami bisa bersantai dan bersenang-senang selama masa sulit bekerja selama pandemi,” kata dia.

AirAsia Mulai Kenakan Biaya Bagi Penumpang yang Check-in di Konter Bandara

Sebagian besar maskapai penerbangan dunia saat ini tengah mengalami kerugian meski beberapa diantaranya sudah mulai bangkit kembali. Bahkan mereka melakukan berbagai cara untuk menutupi kerugian yang terjadi akibat pandemi Covid-19.

Baca juga: Kembali Beroperasi, AirAsia Indonesia Baru Buka Dua Rute

Salah satu maskapai yang mengalami kerugian adalah AirAsia dan mereka mengatakan, Selasa (1/9/2020) kemarin akan mulai mengenakan biaya kepada pelanggan yang melakukan check-in di konter bandara. Selain untuk menutup kerugian, AirAsia juga ingin mengajak pelanggannya untuk meminimalkan kontak fisik dan tetap menjaga jarak selama pandemi ini.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thejakartapost.com (1/9/2020), pihak AirAsia menyebutkan, bagi calon penumpang yang tidak melakukan check-in melalui situs web maskapai, aplikasi seluler atau kios bandara akan dikenakan biaya 20 ringgit Malaysia atau sekitar Rp71 ribu untuk penerbangan domestik. Sedangkan untuk pelancong yang melakukan penerbangan internasional akan dikenakan 30 ringgit malaysia atau sekitar Rp106 ribu meskipun beberapa pengecualian akan berlaku.

Chief Operations Officer atau COO AirAsia Grup Javed Malik mengatakan, biaya tersebut akan membantu memotivasi para calon penumpang untuk memanfaatkan investasi maskapai dalam teknologi digital.

“Mengingat pandemi Covid-19, fasilitas check-in mandiri ini menjadi sangat penting dalam meminimalkan kontak fisik antara tamu dan staf kami,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Untuk diketahui, pada bulan Agustus lalu, maskapai berbiaya hemat ini melaporkan kerugian kuartal terbesar dalam sejarahnya yakni pendapatan turun hingga 96 persen. Hal ini karena dampak pandemi yang menghancurkan permintaan perjalanan.

Meski begitu, maskapai yang berbasis di Malaysia ini mengatakan, telah mengajukan pinjaman bank di pasar operasinya. Mereka juga telah disajikan dengan proposal dari bankir investasi, pemberi pinjaman dan calon investor untuk meningkatkan modal.

Baca juga: Antisipasi Covid-19, Awak Kabin AirAsia Punya Seragam Baru Mirip Kostum Hazmat

Ternyata biaya check-in AirAsia di konter ini sendiri jauh dibawah biaya PLC dari maskapai penerbangan Eropa yakni Ryanair Holdings sebesar $66 atau sekitar Rp976 ribu untuk check in di bandara yang diberlakukan sebelum pandemi. Maskapai berbiaya hemat lainnya asal Amerika Serikat yakni Spirit Airlines mengenakan biaya $10 atau sekitar Rp147 ribu untuk boarding pass yang akan dicetak di bandara

Mobil Terbang SkyDrive SD-03, Uji First Flight dengan Pilot

Model baru SD-03 besutan SkyDrive Inc pada 25 Agustus 2020 melakukan uji publik berawak pertama di Jepang. Dengan uji coba ini menandai langkah signifikan menuju kehadiran mobil terbang di masa depan. Di mana sebelumnya pada bulan April lalu, sudah mengudara dan disebut sebagai uji terbang multirotor.

Baca juga: Keren, Taksi Drone Otonom EHang 216 Sukses Ajak Penumpang Terbang Keliling Langit Cina

Uji coba ini sendiri dilakukan di lapangan uji Toyota seluas sepuluh ribu meter persegi dan menjadi salah satu yang terbesar di Jepang. KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (28/8/2020), mobil terbang SD-03 mulai lepas landas dan mengitari lapangan selama empat menit sebelum mendarat di tempat yang sama.

Pilot yang melakukan uji coba penerbangan berawak pertama SD-03 adalh Toshiro Ando dan berhasil. Mobil terbang SD-03 sendiri baru dirancang untk menjadi model Vertical Take-Off and Landing (eVTOL) listrik terkecil di dunia.

Sebab mobil terbang berawak ini memiliki tinggi dua meter, panjang empat meter dan lebar empat meter. Karena dapat lepas landas dan mendarat secara vertikal, mobil terbang ini tidak membutuhkan landasan pacu. Mobil terbang ini memiliki fitur eksterior sporty dengan warna putih mutiara, dengan lampu putih berbentuk huruf H yang funky di bagian depan dan lampu merah berbentuk huruf T di bagian belakang.

SkyDrive SD-03, ini didukung oleh delapan motor dan memiliki dua baling-baling di setiap sudut. Motor ini berfungsi untuk memastikan keselamatan dalam situasi darurat dan memenuhi potensi masalah regulasi karena mobil memiliki tujuh motor lain agar berfungsi terus jika salah satu motornya rusak.

Pada saat uji coba diketahui, Toshiro sebagai pilot berada di ruang kontrol. Meski begitu sistem komputer tetap menjaga stabilitas dan keselamatan dalam penerbangan. Tidak ada detail lain yang tersedia pada tahap uji coba ini.

Baca juga: Terlalu Sesumbar, Peluncuran Taksi Udara eVTOL Skai Bertenaga Hidrogen Akhirnya Molor

Untuk diketahui, SkyDrive saat ini bermaksud untuk memperluas cakupan pengujian dalam membuktikan teknologi di berbagai kondisi. Ini dilakukan juga dengan maksud untuk mendapatkan pesetujuan penerbangan di luar uji lapangan tepatnya di luar lapangan uji Toyota pada akhir tahun ini.

Bukan Pramugari, “Hooters Girls” adalah Pelayan Restoran yang Diperbantukan di Kabin

Tak hanya VietJet yang memiliki pramugari dengan pakaian seksi, sebab salah satu maskapai di Amerika Serikat juga pernah memiliki hal yang sama. Maskapai ini bernama Hooters Air yang merupakan maskapai penerbangan yang berbasis di Pantai Myrtle, Carolina Selatan.

Baca juga: Gara-Gara Bikini Pemilik VietJet Jadi Orang Kaya Nomor 2 di Vietnam

Penerbangan dari Hooters ini dioperaskian oleh Pace Arilines yang berbasis di Carolina Utara. Penerbangan Hooters Air sendiri terjadwal dan juga charter pribadi. KabarPenumpang.com melansir avgeekery.com, maskapai ini mulai didirikan pada 2003 lalu dan beroperasi pada 6 Maret.

Didirikan oleh seorang pemilik restoran Hooters of America Robert Brook yang mengakuisisi Pace Airlines pada Desember 2002 lalu. Awal didirikannya, Brooks membayangkan Hooters Air sebagai cara yang tidak biasa untuk menghasilkan kesadaran akan merek restoran Hooters.

Bahkan operator ini terkadang disebut sebagai papan iklan terbang untuk jaringan restoran. Maskapai ini memiliki hal yang berbeda dalam penerbangan mereka yakni memasarkan penerbangan pada para pegolf dalam upaya untuk membawa pemain kasual dan turnamen ke lapangan golf kejuaraan 100+ Pantai Myrtle.

Uniknya lagi, akan ada dua orang Hotters Girls yang mengenakan seragam restoran mereka di setiap penerbangan. “Hooters Girls” bukanlah pramugari melainkan pelayan restoran yang membantu awak kabin dengan tugas keramahan. Untuk diketahui, awak kabin Hooters Air sendiri menggunakan pakaian tradisional.

Perusahaan ini mengiklankan penerbangan nonstop untuk sebagain besar rute mereka dan memiliki slogaln lucu seperti “Terbang satu mil bersama kami”. Hooters Air sendiri menyebut diri mereka sebagai maskapai berbiaya rendah. Padahal deretan kursi telah dihapus dari kabin untuk memberikan jarak duduk 34 inci (86 cm) untuk semua.

Jarak ini sebanding dengan ruang kaki yang ditawarkan oleh kelas bisnis maskapai penerbangan lainnya. Ukuran jarak antar kursi yang cukup lebar ini karena Hooters Air ingin menjaga keramahan pada penumpang yang merupakan pegolf dan menyebutnya dengan tempat duduk “Kelas Klub”.

Selain itu, semua kursi dilapisi dengan kulit biru tua atau hitam, dan semua pesawat dicat dengan warna oranye dan putih perusahaan Hooters yang menampilkan logo perusahaan, dan maskot (“Hootie the Owl”), pada penstabil vertikal. Tak hanya itu, pada saat banyak maskapai berbiaya rendah menghilangkan embel-embel penerbangan dalam upaya untuk mengurangi biaya, Hooters Air menyajikan makanan gratis kepada semua pelanggan dalam perjalanan yang berlangsung lebih dari satu jam.

Pada 8 Desember 2005, Hooters mengumumkan bahwa mereka akan mengakhiri layanan ke Rockford dan ke Illinois pada tanggal 5 Januari 2006, sebagai akibat dari otoritas bandara yang membawa maskapai pesaing (United Airlines) pada rute Rockford-Denver, dan memberikan jaminan pendapatan untuk kompetitor. Semua layanan komersial dihentikan pada tanggal 9 Januari 2006.

Baca juga: Beragam Kasus Seksis yang Sempat Warnai Dunia Pramugari

Perusahaan induk Pace Airlines melanjutkan layanan sewa selama tiga tahun, berhenti beroperasi pada bulan September 2009. Pada 17 April 2006, Hooters Air menghentikan operasinya. Perusahaan mengaitkan penghentian layanan ini terutama karena peningkatan yang nyata dalam biaya bahan bakar setelah Badai Katrina dan Rita pada musim gugur tahun 2005. Maskapai ini diperkirakan menelan biaya Hooters of America $ 40 juta

Tangkal Penyebaran Covid-19, Seoul Hadirkan Halte Bus dengan Teknologi Sinar Ultraviolet

Ada beragam cara untuk menangkal penyebaran Covid-19, salah satunya dengan mematuhi protokol kesehatan secara ketat. Dalam lingkup protokol kesehatan, otoritas kota Seoul telah membuat halte bus dengan fitur sinar ultraviolet (UV). Hadirnya sinar UV merupakan langkah taktis untuk mendesinfeksi sebuah ruangan.

Baca juga: Mobil Otonom May Mobility Mengular dengan Proteksi Anti Covid-19

Bilik halte ini terbuat dari dinding kaca yang dilengkapi dengan sensor suhu dan lampu ultraviolet untuk memerangi virus corona atau Covid-19. Sehingga bagi para penumpang yang hendak naik bus harus lulus sensor sebelum masuk ke dalam halte.

penumpang
menunggu bus di halte yang dilengkapi dengan sinar ultraviolet (theguardian.com)

KabarPenumpang.com melansir dari laman theguardian.com (13/8/2020), sebelum masuk ke dalam bilik halte bus, penumpang harus berdiri di depan kamera termal otomatis. Ketika suhu tubuh penumpang dibawah 37,5 derajat Celcius, pintu akan terbuka. Untuk menguji suhu tubuh anak-anak, kamera terpasang di bagian bawah.

Setiap halte dengan bilik kaca ini menghabiskan dana sekitar 100 juta won. Harga ini cukup fantastis, namun dengan fasilitas yang cukup nyaman dan aman dari Covid-19 seperti sistem pendingin udara atau AC yang memiliki tambahan lampu ultraviolet serta WiFi gratis dirasa sebanding dengan dana yang dihabiskan untuk membangun halte bus ini.

Tak hanya itu, di dalam bilik halte pun disediakan dispenser pembersih tangan dan penumpang disarankan untuk memakai masker wajah setiap saat. Selain itu, menjaga jarak sakitar satu meter dari penumpang lainnya juga tetap disarankan.

Saat ini sepuluh fasilitas canggih telah dipasang di distrik timur laut Seoul, menawarkan perlindungan dari hujan monsun dan panas musim panas serta Covid-19.

“Kami telah memasang semua tindakan anti-virus korona yang tersedia yang dapat kami pikirkan di stan ini,” kata Kim Hwang-yun, pejabat distrik yang bertanggung jawab atas proyek Smart Shelter.

Sejak dipasang minggu lalu, Kim mengatakan, setiap bilik halte bus telah digunakan oleh sekitar 300 hingga 400 orang setiap hari. Untuk memastikan penumpang tidak ketinggalan bus, panel menampilkan perkiraan waktu kedatangan sementara layar menyiarkan langsung lalu lintas di luar.

“Saya merasa sangat aman di sini karena saya tahu orang lain di sekitar saya telah diperiksa suhu tubuhnya sebaik saya,” ujar seorang penumpang bernama Kim Ju-li.

Baca juga: Gegara Pandemi, Teknologi dan Layanan Penerbangan ini Harus Diadopsi Lebih Cepat

Untuk diketahui, Korea Selatan menjadi salah satu negara yang terdampak buruk pandemi virus corona ini. Tetapi mereka mengendalikannya secara luas dengan program “lacak, uji, dan obati” yang ekstensif sementara tidak pernah memberlakukan penguncian wajib.

Hari Ini, 38 Tahun Lalu, Helikopter Pertama yang Berhasil Keliling Dunia Berangkat! Butuh Waktu Hampir Sebulan

Tepat pada hari ini, Rabu, 1 September 1982, pemuda berusia 23 tahun, H. Ross Perot, Jr. memulai penerbangan keliling dunia. Ditemani teknisi handal, Jay W. Coburn, keduanya mengarungi dunia sejauh 41.843 kilometer dalam 246,5 jam penerbangan selama 29 hari, 3 jam, dan 8 menit menggunakan helikopter Spirit of Texas, Bell 206L-1 LongRanger II bermesin tunggal.

Baca juga: Usai Raih 63.900 Jam, Airbus A330-300 Pertama di Dunia Pensiun

Rekor sebagai helikopter pertama yang berhasil keliling dunia pun resmi direngkuh usai Spirit of Texas dengan kode registrasi N3911Z ini mendarat dengan selamat di Bandara Dallas Love Field, Texas, pada 30 September 1982 yang juga jadi tempat mereka memulai perjalanan.

Dikutip dari thisdayinaviation.com, perjalanan helikopter pertama yang berhasil keliling dunia bersama H. Ross Perot, Jr. dan Jay W. Coburn tentu tidak mudah. Selama perjalanan, nyaris tak ada kata mudah sekalipun helikopter Spirit of Texas dilaporkan hampir tak mengalami kendala teknis apapun. Di antara kendala terbesar ialah tatkala badai menerjang di Kanada.

Saat itu, Spirit of Texas hampir kehabisan bahan bakar dan terpaksa mendarat di sebuah kapal kontainer atau kapal peti kemas untuk mengisi bahan bakar. Dalam proses landing itulah jadi salah satu insiden yang menegangkan mengingat pilot kesulitan dalam mendaratkan pesawat akibat terjangan angin kencang selain kapal tanker jadi tak begitu stabil dibuatnya.

Selain itu, helikopter Spirit of Texas juga sempat ditolak mendarat di Kulusuk, Greenland saat hampir kehabisan bensin, diterjang hujan petir di Myanmar, dihantam Topan Ken di Filipina dan Jepang, sebelum akhirnya menempuh rute berbahaya dengan jarak 2.253 dari Kushiro, Jepang ke Dutch Harbour, Alaska.

Secara normal, penerbangan sejauh 2.253 tidak mungkin dilakukan. Namun, berkat beberapa modifikasi, salah satunya kemampuan memuat bahan bakar 151 galon lebih banyak, Bell 206L-1 LongRanger II Spirit of Texas bisa terbang lebih lama hingga delapan jam.

Helikopter yang dipersiapkan secara khusus untuk kepeluan keliling dunia seharga US$750.000 ini juga dimodifikasi pada bagian rotor belakang dan utama, desain, mesin, daya angkut, bilah rotor, hingga pemasangan Pop-out floats sehingga memungkinkan Bell 206L-1 LongRanger II mendarat di perairan.

Dilansir History Net, selama 29 hari berkelana, penerbangan pertama helikopter keliling dunia total melewati sekitar 26 negara, mulai dari Amerika, Kanada, Greenland (Denmark), Inggris, Perancis, Italia, Yunani, Mesir, Arab Saudi, Bahrain, Oman, Pakistan, India, Myanmar, Filipina, Taiwan, dan Jepang, menghabiskan 25.400 kilogram bahan bakar, dengan 56 pemberhentian.

Selain merengkuh gelar sebagai helikopter pertama yang berhasil keliling dunia, Bell 206L-1 LongRanger II Spirit of Texas juga mencatat sejumlah rekor. Seperti rekor helikopter tercepat dengan rata-rata mencapai 56,97 kilometer per jam dalam perjalanan ke Timur oleh Fédération Aéronautique Internationale (FAI).

Baca juga: Lima Kecelakaan Penerbangan Akibat ‘Bird Strike’ Terburuk di Dunia

Tak hanya itu, dengan didukung mesin turboshaft Allison 250-C28B berkemampuan 435 tenaga kuda, Spirit of Texas juga berhasil mencatatkan rekor di FAI sebagai perjalanan helikopter point-to-point tercepat dengan rata-rata 179,39 kilometer per jam saat dalam perjalanan London-Marseilles.

Setelah berhasil mencetak sejarah sebagai helikopter pertama yang berhasil keliling dunia, Bell 206L-1 LongRanger II Spirit of Texas pun disumbangkan ke Smithsonian Institution dan dipamerkan di Steven V. Udvar-Hazy Center of the National Air and Space Museum, Virginia, Amerika Serikat.