Diserang Hujan Es, Hidung Pesawat Airbus A319 Delta Airlines Berubah Jadi Pesek

Pesawat Airbus A319 yang dioperasikan Delta Airlines belum lama ini dikabarkan mendarat darurat. Hal itu dikarenakan pesawat dengan nomor penerbangan 1076 itu mendapat serangan badai yang membawa serta es (hujan es) secara tiba-tiba.

Baca juga: Dilanda Hujan Badai, Pesawat British Airways Alami Kebocoran di Ruang Kabin!

Padahal, beberapa waktu sebelum insiden itu terjadi, radar cuaca menunjukkan awan di sekitar pesawat dan airways Delta 1076 cukup bersahabat.

Washington Post melaporkan, kronologi insiden Delta Airlines itu bermula saat pesawat lepas landas dari Bandara Internasional Palm Beach, Florida, Amerika Serikat (AS) pada pukul 4.03 sore. Pesawat dijadwalkan tiba di Bandara LaGuardia New York pada pukul 6.31 malam.

Dalam perjalanan, sebetulnya, radar cuaca telah mendeteksi adanya badai di sekitaran New Jersey yang notabene bertetangga dengan Kota New York. Badai di sekitaran langit New Jersey itu berada di ketinggian 40 ribu kaki dan membentuk seperti sebuah garis panjang yang terputus di tengahnya. Di bagian tengah itulah pesawat Delta melintas.

Pada pukul 6 sore lebih sedikit, cuaca secara drastis berubah. Dari semula radar memprediksi A319 Delta Airlines hanya akan menghadapi hujan dan petir dengan internsitas ringan, mendadak mendapat terjangan angin kencang dengan kecepatan 59 mph disertai hujan es sebesar 1,-1,5 inci, lebih dari cukup untuk merusak pesawat. Terjangan angin dari badai Pulse itu awalnya memang berada di langit Kota New York, sebelum akhirnya minggat ke langit Atlantik bagian tengah.

Beberapa saat berselang pasca melewati badai, pesawat Delta Airlines sedang berada di ketinggian sekitar 20-21 ribu kaki dan tengah melaju di kecepatan 415 mph melaporkan adanya kerusakan pada nose radome (moncong pesawat), radome seal, flight navigation system, serta airborne weather radar.

Lebih lanjut, juru bicara Delta Airlines mengungkap, badai disertai hujan es tambahan dalam perjalanan menuju Bandara Internasional John F. Kennedy (JFK) -untuk melakukan pendaratan darurat- juga telah merusakan komponen lainnya di sepanjang sayap dan ekor.

Baca juga: Pernah Dengar “Rain Gutter” di Pesawat? Jika Belum Simak di Sini

Pasca insiden tersebut, ia pun memastikan bahwa pesawat akan digrounded dalam beberapa pekan ke depan untuk menjalani reparasi. Meski tak ada korban jiwa maupun luka –karena pesawat mendarat dengan mulus- Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) dikabarkan telah melakukan penyelidikan.

Sebetulnya, sebelum mendapat izin produksi, pesawat lebih dahulu melewati serangkaian tes, termasuk test crash, seperti menabrak burung, serta tersambar petir. Dalam model pengetesan di fasilitas test crash, pesawat bisa melalui itu dengan baik. Namun, tidak demikian ketika hujan es sebesar 1-1,5 inci menyerang. Lagi pula, terjangan hujan es disebut sulit ditiru saat pesawat diuji.

“Workcation,” Pilihan Para Pekerja di Jepang Selama Pandemi

Selama masa pandemi ini cara bekerja orang-orang di seluruh negara berubah yang tadinya ke kantor menjadi bekerja dari rumah. Ini demi mengurangi penyebaran Covid-19 di kantor atau tempat kerja lainnya. Namun ternyata selain bekerja di rumah salah satu kata kunci yang menonjol dan tengah berkembang adalah workcation.

Baca juga: Dorong Wisata Pasca Covid-19 , Museum Kereta di York Rilis Poster Bergaya Vintage

Workcation adalah gagasan perjalanan seperti ke suatu tujuan wisata yang menggabungkan unsur-unsur pekerjaan dan liburan. Konsep ini pertama kali digunakan oleh perusahaan-perusahaan informasi teknologi di Amerika Serikat pada awal 2000-an. Kemudian secara bertahap membuat Jepang melirik hal ini, apalagi permintaan bekerja jarak jauh menigkat dan memaksa pekerja untuk bekerja secara online.

Bahkan pemerintah daerah di seluruh Jepang mencari tempat kerja yang bisa dikunjungi untuk liburan. KabarPenumpang.com merangkum nippon.com (2/7/2020), Pada Mei 2020, Pemerintah Prefektur Mie telah menginstal internet berkecepatan tinggi untuk mendukung infrastruktur lain di kawasn wisata seperti Taman Nasional Ise Shima sebagai lokasi tujuan workcation.

Rencana workcation di Prefektur Mie tersedia untuk perusahaan di daerah perkotaan terdekat, mulai musim gugur ini dan prefektur akan memperluas ketersediaan tersebut bagi sekitaran Osaka dan Aichi dengan tujuan mencapai 100 pemesanan setiap tahun. Wayakama yang juga menjadi salah satu prefektur pertama yang mempromosikan dirinya sebagai tujuan workcation ternyata ikut memperluas infrastruktur kerja jarak jauh di daerah seperti Shirahama yang merupakan kota resor indah di pantai selatan Semenanjung Kii.

Nyatanya Shirahama sendiri sudah mendapatkan perhatian sebagai hub workcation sebelum Covid-19 di mana tahun 2019, sebanyak tiga perusahaan termasuk NTT Communication telah mengontrak untuk menggunakan fasilitas kerja jarak jauh yang dijalankan oleh pengembang properti Mitsubishi Estate sebagai kantor satelit. Dengan pandemi yang diperkirakan akan terus berlanjut di masa mendatang, permintaan akan ruang kantor teleworking di Shirahama akan tumbuh lebih jauh.

Sebelum pandemi Covid-19, perminataan untuk workcation sendiri hanya 18,4 persen pada Januari 2020 dan meningkat menjadi 39,1 persen. Adanya ini pada waktunya akan memberi para pekerja lokal lebih banyak pilihan sehingga mudah untuk mendapat tujuan yang sesuai dengan tuntutan profesi dan minat pribadi mereka.

Workcation sendiri memangkas struktur kantor Jepang yang kaku di mana sebagian perusahaan menekankan kolaborasi dan kerja tim sebagai prioritas utama dalam efisiensi bisnis mereka. Sebab perusahaan biasanya mengadopsi format kantor terbuka, memungkinkan untuk kemudahan interaksi antara karyawan dan manajer sebelum Covid-19.

Saat ini, pemerintah telah meminta negara untuk menghindari ruang tertutup, keramaian dan kontak dekat. Tak hanya itu, setelah perusahaan beralih ke pekerjaan jarak jauh, mereka menemukan karyawan mencapai tingkat komunikasi yang sama meski dari rumah dan memastikan akan tetap menjadi pilihan menarik bagi banyak perusahaan dunia pasca Covid-19.

Penelitian dari Amerika Serikat dan negara-negara lain menunjukkan bahwa pekerja berkinerja lebih baik dan lebih kreatif ketika mereka menemukan lingkungan kerja yang memuaskan. Di Jepang, Hitachi telah menemukan hasil yang serupa ketika melakukan survei telepon terhadap staf di call center perusahaan. Dengan membandingkan tingkat kepuasan staf dengan jumlah pesanan yang mereka ambil, para peneliti menemukan bahwa karyawan paling produktif yaitu, menerima lebih banyak pesanan ketika mereka merasa nyaman di lingkungan kerja mereka.

Temuan ini dapat memberikan kunci untuk menyelesaikan teka-teki produktivitas Jepang yang mana sejak 1994, negara ini memiliki produktivitas tenaga kerja kerah putih per jam terendah di antara negara-negara G7. Namun, perusahaan yang memberikan konsep seperti workcations mencoba menyadari bahwa karyawan, bahkan ketika mereka berada di resor wisata di beberapa bagian Jepang yang jauh, menempatkan lebih banyak ke dalam pekerjaan mereka jika mereka disajikan dengan lingkungan kerja yang memuaskan daripada menjadi dirantai ke meja.

Sayangnya, workcations bukan satu-satunya cara untuk mencapai hasil seperti itu, dan di dunia pasca Covid-19 mungkin melihat kantor dilengkapi dengan fasilitas olahraga dan rekreasi, bioskop, atau fasilitas budaya. Namun untuk saat ini, tren yang berlaku adalah ke arah pekerjaan jarak jauh.

Baca juga: Video Pramugari Bekerja dari Rumah Viral dan Banyak Dikomentari

Untuk diketahui, Covid-19 telah memaksa Jepang untuk mulai melepaskan diri dari ketergantungannya pada tenaga kerja di kantor dan menerima pekerjaan rumah. Pemerintah Jepang berharap bahwa dengan mengadopsi inisiatif yang berfokus pada pekerja yang bertujuan untuk meningkatkan kepuasan karyawan, perusahaan dapat mengubah diri mereka sendiri dan mencapai dorongan produktivitas yang sangat dibutuhkan.

Rapid Test Murah Lion Air Group Diisukan Pakai Cara ‘Nakal’, Sebetulnya Berapa Harga Alat Rapid Test?

Belum lama ini, Lion Air Group, banyak dibicarakan di jejaring media sosial terkait layanan akal-akalan rapid test corona atau Covid-19 murah. Akalan-akalan yang dimaksud, maskapai pemegang market share penumpang udara terbesar di Indonesia ini sama sekali tidak melakukan pengecekan dan pengambilan darah. Hal itu pun sudah dibantah oleh perusahaan.

Baca juga: Heboh Pesan Berantai Lion dan Batik Air Tak Lakukan Physical Distancing, Kena Proxy War?

Seperti diketahui, maskapai besutan Rusdi Kirana itu sejak Senin, 29 Juni 2020 lalu mulai melayani rapid test Covid-19 kepada penumpang sebagai salah satu persyaratan menikmati layanan transportasi udara. Selain memudahkan penumpang, layanan rapid test ala Lion Air Group juga tergolong murah, hanya sebesar Rp95.000 dengan masa berlaku selama 14 hari. Padahal, harga asli alat rapid test disebut berkisar ratusan ribu.

Menurut sumber KabarPenumpang.com, alat rapid test Covid-19 yang kebanyakan beredar di Indonesia berasal dari Cina. Lain dari itu, alat rapid test Covid-19 juga berasal dari banyak negara, mulai dari Eropa, Korea, hingga Amerika Serikat (AS). Meskipun berbeda-beda, namun, harganya berkisar Rp150 – 200 ribu. Di sejumlah marketplace, bahkan harganya jauh di atas itu.

Harga tersebut pun baru harga asli alat rapid test Covid-19nya saja, belum termasuk harga layanan, mengingat, petugas yang terlibat dalam layanan tersebut harus dibekali dengan Alat Pelindung Diri (APD), berupa hazmat, hand sanitizer, masker, face shield, dan sepatu boots.

Face shield dan sepatu boots mungkin bisa saja dipakai berulang-ulang, namun tidak demikian dengan hazmat dan masker yang hanya bisa sekali pakai. Tentu, bila itu dimasukan ke dalam paket layanan, seharusnya harga layanan rapid test Covid-19 yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta tarifnya bisa lebih di atas harga alat rapid test itu sendiri.

Meskipun demikian, perbedaan harga tarif layanan rapid test Covid-19 belakangan sudah bisa diseragamkan oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam Surat Edaran Kementerian Kesehatan RI nomor HK.02.02/I/2875/2020 mengatur tarif maksimal layanan rapid test mandiri Rp150.000. Hal ini disebut untuk mempermudah masyarakat yang membutuhkan.

“Harga yang bervariasi untuk pemeriksaan rapid test menimbulkan kebingungan di masyarakat. Untuk itu diperlukan peran serta pemerintah dalam masalah pemeriksaan rapid test antibodi agar masyarakat tidak merasa dimanfaatkan untuk mencari keuntungan,” bunyi surat edaran tersebut.

Hanya saja, karena berupa SE atau surat edaran, hal ini tentu menjadi masalah baru, mengingat, dalam perspektif hukum, peraturan dengan dasar SE tidak berkekuatan hukum tetap. Oleh karenanya, bila pun SE tersebut diberlakukan, besar kemungkinan pihak swasta yang menyediakan layanan rapid test Covid-19 masih mengikuti tarif semula, tidak mengikuti anjuran yang dikeluarkan Kemenkes.

Baca juga: Meski Beda Prosedur, Lufthansa dan Lion Air Hadirkan Layanan Rapid Test Covid-19

Terkait SE, polemik juga pernah terjadi di sektor layanan udara setelah terjadinya pelanggaran oleh Lion Air Group atas kebijakan masksimum 70 persen penumpang dari kapasitas kursi. Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio, menyebut, tidak diterapkannya physical distancing dalam penerbangan Lion Air Group terjadi akibat ketidakjelasan regulator, dalam hal ini Kementerian Perhubungan. Ketidakjelasan yang dimaksud adalah Surat Edaran (SE) Permenhub 41 tahun 2020.

“PM 41 itu PM Perhub rasa kesehatan. Jadi kalau dilanggar pantas karena PM-nya tidak jelas,” singkatnya kepada KabarPenumpang.com. Menurutnya, implementasi Permenhub 41 berupa SE hanya akan membuat keadaan makin keruh. Sebab, SE bukan merupakan produk hukum. Mengetahui SE bukan produk hukum, ia yang sempat merasakan langsung kondisi seperti itu, sampai tak bisa berbuat apa-apa dan memilih untuk mengganti pesawat ketimbang memprotes maskapai.

Tak Ingin Ratapi Nasib, Hi Fly Ubah Airbus A380 Jadi ‘Varian’ Kargo Pertama di Dunia

Ketika mayoritas maskapai di dunia meng-grounded pesawat Airbus A380 akibat frekuensi penerbangan anjlok ke titik nadir, Hi Fly justru melawan arus. Alih-alih meng-grounded sambil gigit jari, menunggu kembalinya iklim industri penerbangan sebagaimana mestinya, maskapai penerbangan carter asal Portugal itu malah menjadikan pesawat komersial terbesar di dunia itu sebagai angkutan kargo pertama di dunia.

Baca juga: Nasib Malang Airbus A380, Tak Dilirik Jadi Angkutan Kargo Gegara Empat Alasan Ini

Keputusan Hi Fly tersebut sempat mengagetkan banyak pihak. Setidaknya ada dua hal yang melatarbelakanginya. Pertama, terkait dengan kemampuan. Dari segi kemampuan, utamanya soal dimensi, A380 mungkin sangat menarik untuk mengangkut 800 penumpang sekaligus dalam sekali jalan. Sayangnya, itu tak berlaku bila A380 dikonfigurasi ulang jadi varian angkutan kargo.

Menurut banyak ahli, ada empat alasan utama mengapa Airbus A380 tak cocok menjadi angkutan kargo. Mulai dari maslaah efektivitas, fleksibilitas, dimensi, dan bobot pesawat. Dengan empat alasan tersebut, mengkonfigurasi ulang A380 menjadi angkutan kargo dinilai minim peluang, bila tidak ingin disebut ‘bunuh diri’ andai memaksakan diri melakukannya.

Alasan kedua, Lufthansa Technik, sebagaimana dilaporkan Simple Flying, dua bulan lalu, memang sempat menyatakan dukungan kepada seluruh maskapai yang ingin tetap terus memanfaatkan A380 dengan menjadikannya sebagai angkutan kargo. Dari beberapa pihak yang mendaftar, Hi Fly sama sekali tak masuk radar.

Meski demikian, faktanya, saat ini, Airbus A380 bekas purna tugas Singapore Airlines milik Hi Fly tersebut sudah benar-benar beralih fungsi, dari semula membawa penumpang menjadi mengangkut muatan kargo sampai ke dek teratas. Namun, tak semua kursi dilepas. Lagi pula, dek teratas kapasitasnya cukup terbatas. Jadi, space yang ada, besar kemungkinan tak mampu dimaksimalkan maskapai dengan baik.

Di dek teratas, Hi Fly masih menyisakan sekitar tiga kursi, di belakang, tengah, dan depan. Demikian juga dengan lantai berikutnya. Di lantai kedua atau dek utama, sekitar 2/3 bagian kursi dilepas dan difungsikan sebagai kargo dengan hanya menyisakan kursi business class dan first class.

Harga mahal dari itu, dek utama dinilai mampu mengakut sekitar 164,56 meter kubik kargo, dengan rincian 16,25 di overhead cabin dan 148,32 lainnya di lantai. Sedangkan untuk dek paling bawah, Airbus A380 mampu memuat total 133,3 meter kubik kargo, dengan rincian 77 di kompartemen depan, 42 di kompartemen belakang, dan 14,3 di bulk compartement.

Baca juga: Isi Rute Kosong, HiFly Tertarik Operasikan Lebih Banyak Airbus A380

Sebetulnya, sebelum benar-benar mulai menjalin kemitraan dengan Lufthansa Technik, mengkonfigurasi ulang A380 menjadi angkutan kargo, Hi Fly dikabarkan sempat mendapat beberapa tawaran kerjasama berupa penerbangan charter dengan skema sewa basah atau wet lease.

Namun, perusahaan pada akhirnya tetap memilih mengikuti tantangan zaman, menjadikan pesawat A380 sebagai angkutan kargo, yang saat ini tengah melejit akibat pengiriman APD dan masker dari dan ke berbagai diunia sebagai ‘senjata’ dalam perang melawan pandemi Covid-19.

Jepang Buka Pusat Uji Covid-19 di Tiga Bandara untuk Pelancong dari Luar Negeri

Jepang menjadi salah satu negara yang akan mulai melonggarkan pembatasan perjalanannya. Hal ini dikatakan oleh Menteri Kesehatan Katsunobu Kato yang menyebutkan Negeri Sakura tersebut berencana untuk mendirikan pusat pengujian Covid-19 baru di tiga bandara utama di Tokyo, Osaka dan bagian tengah kota.

Baca juga: Meski Beda Prosedur, Lufthansa dan Lion Air Hadirkan Layanan Rapid Test Covid-19

KabarPenumpang.com melansir dari laman japantimes.co.jp (2/7/2020), pusat uji Covid-19 ini akan dibangun di bandara Haneda Tokyo, Narita dekat ibukota dan Kansai di Osaka. Targetnya adalah para pelancong yang memasuki Jepang dari luar negeri. Adanya pusat uji Covid-19 di bandara ini untuk meningkatkan jumlah tes polimerase atau PCR yang dilakukan setiap hari menjadi lebih dari empat ribu.

Otoritas kesehatan juga berharap kehadiran pusat uji Covid-19 di bandara juga untuk mengurangi pengujian virus menjadi beberapa jam menggunakan metode baru. Apalagi sekarang, stasiun karantina bandara melakukan sekitar seribu tes reaksi rantai polimerase (PCR) per hari, dengan hasil dikonfirmasi dalam sekitar satu atau dua hari.

“(Pusat-pusat) mungkin akan dioperasikan oleh lembaga medis swasta dan perusahaan pengujian. Kami, sebagai kementerian kesehatan, akan sepenuhnya mendukung mereka,” kata Kato.

Pusat pengujian yang berada di tengah dari dua kota besar ini diharapkan dapat memberikan pengujian bagi pelancong yang akan berangkat keluar negeri. Bahkan pemerintah juga tengah mempertimbangkan untuk menerbitkan sertifikat bagi pelancong yang hasil tesnya negatif. Untuk diketahui, sejak Februari, Jepang telah memperkuat pembatasan perjalanan bagi pengunjung yang datang.

Hal ini sebagai bagian dari upaya pengendalian perbatasannya untuk mencegah penyebaran Covid-19. Pada Senin (29/5/2020), ada 18 negara lain termasuk Aljazair, Kuba dan Irak ditambahkan ke daftar larangan masuk Jepang, sehingga meningkatkan jumlah negara dan wilayah yang dilarang mengunjungi Jepang menjadi 129.

Menurut data dari pemerintah, kini hanya 1.700 pelancong asing diperkirakan telah tiba di Jepang pada bulan Mei, yang paling sedikit untuk setiap bulan dalam catatan dan penurunan 99,9 persen dari tahun sebelumnya. Namun, Jepang saat ini sedang dalam pembicaraan dengan beberapa negara untuk saling memudahkan pembatasan perjalanan bagi para pebisnis dengan syarat mereka menyerahkan hasil tes negatif dan rencana perjalanan ke mana mereka berencana untuk pergi selama mereka tinggal.

Baca juga: Emirates Jadi Maskapai Pertama Lakukan Rapid Test Corona ke Seluruh Penumpang

Negara-negara itu termasuk Australia dan Thailand. Jepang juga dapat memulai pembicaraan dengan Taiwan dan Brunei pada awal bulan ini. Perjalanan dari Jepang ke Vietnam sebagian dilanjutkan akhir bulan lalu dengan penerbangan charter yang mengangkut sebagian besar pebisnis.

Tiba di Canberra dari Melbourne, Penumpang Seperti Kena Prank Karena Harus Karantina

Kaget dan seperti merasa di prank atau di jahili, mungkin ini yang dirasakan oleh para penumpang pesawat yang baru mendarat di QF2148 di Canberra dari Melbourne. Apalagi ini menjadi penerbangan terakhir yang tiba sebelum penguncian atau lockdown di Victoria berlaku.

Baca juga: Melbourne Kembali Lockdown, Penumpang Kereta yang Tiba di Stasiun Central Sydney Kabur Saat Diperiksa

Seorang penumpang yang baru tiba di Canberra menggambarkan salah satu situasi saat itu di mana seorang anak kecil yang bepergian tanpa pendamping diamankan oleh pejabat kesehatan ATC dan menangis. Kemudian penumpang lain ada yang menunggu untuk langsung kembali ke Melbourne dan tidak meninggalkan kedatangan karena tidak memiliki tempat tinggal untuk karantina di Canberra.

“Aku hanya akan berada satu hari di sini,” kata penumpang tersebut.

Penumpang ini bingung ketika berada di area pemeriksaan, petugas melarangnya pergi dari terminal lebih jauh dan saat ke toilet pun dia kembali ke area pengamanan. KabarPenumpang.com merangkum canberratimes.com.au (7/7/2020), diketahui ketika semua penumpang tiba di ujung gang pesawat mereka disambut petugas kesehatan ACT yang mengenakan pakaian alat pelindung diri lengkap.

Kemudian penumpang dibawa ke kedatangan dan para petugas mulai memeriksa data-data mereka yang berangkat dari Victoria. Petugas juga bertanya rencana penumpang tinggal untuk karantina saat di Canberra. Beberapa penumpang mengaku ini adalah pertama kali mereka mendengar tentang karantina dan bertanya-tanya mengapa tidak diberitahukan sebelum mereka naik pesawat di Victoria.

Beberapa penumpang ada yang diperbolehkan masuk ke ACT tetapi pergi ke tempat isolasi dengan taksi. Penumpang pesawat pun mengaku mereka diberitahu oleh petugas kesehatan ACT untuk duduk di kursi belakang taksi.

Sedangkan penumpang lainnya kembali sesuai rencana tetapi banyak yang mengatakan mereka bergegas kembali lebih awal saat pembatasan perjalanan di luar Victoria diberlakukan pada hari Senin. Pengumuman karantina yang bisa dikatakan tiba-tiba ini membuat seorang nenek 63 tahun tidak senang dengan proses di kedatangan Canberra tersebut.

“Itu tadi lelucon. Mereka mengada-ada saat mereka pergi,” ujar nenek yang tidak mau disebutkan namanya itu.

Pihak Bandara Canberra mengatakan mereka memahami perubahan tersebut akan mengganggu bagi banyak orang di komunitas dan meminta maaf kepada siapa pun yang terganggu perjalanannya. Hal ini dilakukan mereka karena di Victoria perkembangan Covid-19 berkembang dengan cepat dan mengambil langkah-langkah untuk melindungi yang lainnya baik kesehatan maupun keselamatan ACT.

Beberapa penumpang yang mencoba mencari tiket kembali mengatakan harga di pagi hari $149 dan setelah pengumuman penutupan pembatasan melonjak hingga $367. Penumpang bahkan menuduh Qantas menaikkan harga karena pembatasan ini. Kemudian hal ini dikatakan Qantas telah menjual tiket seharga $149 tetapi tiket penerbangan di hari Senin (6/7/2020) tidak ada.

Qantas juga mengatakan bahwa itu tidak mengatur kontrol kesehatan di bandara. Untuk diketahui, saat penerbangan terakhir tersebut tiba di bandara Canberra, hanya ada satu penumpang yang dizinkan masuk dengan syarat ia langsung berkendara kembali ke Victoria.

“Saya sudah membeli mobil di sini sehingga mereka memberi kami pembebasan,” kata Paul Clark.

Baca juga: Kabar Sedih, Australia Tutup Akses Masuk Buat Wisatawan Hingga 2021

Dia langsung keluar dari terminal di Canberra untuk mengambil mobil dan kemudian membawanya pulang. Tapi dia kesal bahwa dia harus tinggal di karantina selama 14 hari.

“Kami memahami bahwa perubahan ini akan mengganggu bagi banyak orang di komunitas kami dan kami meminta maaf kepada siapa pun yang rencana perjalanannya terganggu. Namun, situasi di Victoria telah berkembang dengan cepat dan kami harus mengambil langkah-langkah untuk melindungi kesehatan dan keselamatan komunitas ACT,” ujar pihak ACT Health.

PT KAI Minta Gubernur DKI Jakarta Hapus SIKM untuk KA Relasi dari Bandung

PT Kereta Api Indonesia (KAI) akan mulai mengoperasikan seluruh relasi perjalanan kereta api jarak jauh pada 10 Juli 2020 besok. Kereta yang akan beroperasi termasuk KA Argo Parahyangan dengan relasi Gambir – Bandung, KA Bima relasi Gambir – Malang dan Sembrani dari Gambir menuju ke Surabaya Pasar Turi.

Baca juga: Suhu Tubuh Tinggi Saat Dicek Masuk Stasiun? PT KAI Siap Kembalikan Tiket Anda

Didiek Hartantyo, Direktur Utama PT KAI mengatakan, pihaknya telah menyurati Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk menghapus Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) yang menjadi salah satu syarat memasuki ibukota. Didiek mengatakan, surat tersebut dikirim ke Gubernur DKI Jakarta karena mereka diinstruksikan oleh Menteri Perhubungan untuk mengoperasikan kembali KA Parahyangan.

“Kalau itu (KA Parahyangan) kami operasikan dengan SIKM bagaimana keadaannya? Akan sulit bagi kami. Di Stasiun banyak turun, tapi bagaimana kalau SIKM tidak diindahkan?” kata Didiek yang dikutip dari berbagai laman sumber.

Apalagi lokasi stasiun berada di Jakarta dan mengharuskan penumpang yang menuju ke stasiun tersebut memiliki SIKM. Didiek mengatakan, mereka sebagai operator tetap berada di tengah-tengah peraturan.

“Namun demikian terkait SIKM ini yang mengeluarkan peraturan Gubernur. Jadi kita beroperasi di Jakarta terkena peraturan Gubernur dan kami sangat ketat menetapkan aturan itu karena terkait dengan protokol penanganan Covid juga,” ujar Didiek.

Dia menjelaskan, adanya SIKM ini mengharuskan pihak KAI menyeleksi penumpang dan bila tidak memilikinya maka terpaksa penumpang ditolak berangkat atau harus isolasi mandiri selama 14 hari. Didiek menjelaskan, bila pun di stasiun keberangkatan tidak diperiksa dan lolos, tetapi ketika tiba di Jakarta (Gambir) penumpang akan diperiksa dan kemungkinan isolasi mandiri 14 hari harus dilakukan penumpang.

Saat ini Didiek berharap diberi keleluasaan bagi calon penumpang khususnya KA Argo Parahyangan untuk dibebaskan dari Syarat SIKM. Dia mengatakan, surat yang dikirimkan, mereka tembuskan kepada Menhub, BUMN dan Kepala Satuan Gugus Tugas Covid-19 Doni Monardo untuk keleluasaan Jakarta – Bandung.

Baca juga: Beroperasi dengan Kapasitas Angkut 70 Persen, PT KAI Naikkan Tarif 30-40 Persen

Untuk diketahui, SIKM sebagai salah satu syarat bepergian keluar-masuk DKI Jakarta dengan moda transportasi umum dinilai mampu mengontrol mobilitas warga daerah penyangga ke ibukota. Meski dalam pembuatannya masih banyak kekurangan. tetapi proses atau birokrasi yang cukup panjang untuk mendapat SIKM ini cukup menghambat masyarakat dari luar daerah menuju ke dalam ibukota.

KabarPenumpang.com yang coba menghubungi pihak KAI terkait pencabutan SIKM karena beroperasinya sejumlah relasi kereta selain Bandung – Jakarta masih belum ada konfirmasi yang lebuh jelas.

Melbourne Kembali Lockdown, Penumpang Kereta yang Tiba di Stasiun Central Sydney Kabur Saat Diperiksa

Seorang penumpang pria yang tiba di Sydney (Negara Bagian New South Wales) dari Melbourne (Negara Bagian Victoria) dengan layanan kereta XPT mencoba melarikan diri dari pihak kepolisian dan keamanan stasiun. Pria ini kemudian diamankan polisi dan kemudian diperiksa suhunya sebelum memberikan data kesehatan miliknya kepada otoritas. Saat diamankan awalnya pria tersebut menolak pemeriksaan suhu tubuh.

Baca juga: Kabar Sedih, Australia Tutup Akses Masuk Buat Wisatawan Hingga 2021

Namun setelah dipastikan dia tidak datang dari hotspot yang teridentifikasi pandemi Covid-19, maka diizinkan untuk pergi. Diketahui, semua penumpang yang tiba di stasiun harus diperiksa otoritas transportasi dan kesehatan untuk pemeriksaan suhu tubuh dan dokumen yang dibawa untuk dicatat karena perlu untuk beberapa hari mendatang.

Dilansir KabarPenumpang.com dari 9news.com.au (7/7/2020), pria tersebut merupakan salah satu dari 75 penumpang lainnya yang tiba dengan kereta XPT di Stasiun Central. Mereka tiba sebelum pembatasan yang ketat diberlakukan untuk mengentikan penyebaran Covid-19.

Bisa dikatakan, kereta XPT tersebut menjadi layanan terakhir sebelum pembatasan baru diberlakukan mulai 9 Juni 2020 dan berlangsung selama enam minggu di Melbourne serta dan Micthell Shire. Seorang penumpang yang tiba dengan layanan XPT terakhir itu mengatakan dirinya beruntung bisa kembali ke Sydney sebelum pembatasan baru diberlakukan.

“Kami hanya beruntung karena kami tidak tahu bahwa mereka akan menutup perbatasan hari ini sehingga kami hanya beruntung bahwa kami membeli tiketnya kemarin,” katanya.

Penumpang wanita itu mengaku bahwa dirinya terus menggunakan masker diseluruh perjalanan untuk menghindari kemungkinan tertular virus corona tersebut.

“Aku sebenarnya sangat khawatir,” katanya.

Diperkirakan setidaknya sebulan sebelum layanan dapat berjalan lagi karena penutupan perbatasan yang mengharuskan siapa pun yang memasuki NSW dari Victoria untuk mengajukan izin online sebelum mencoba memasuki negara bagian tersebut. Bahkan warga Victoria hanya akan dapat memasuki NSW karena alasan yang sangat terbatas, seperti mendapatkan perawatan medis atau memenuhi kewajiban hukum.

Baca juga: Lockdown Serempak Bikin Travelers Hampir Mustahil Bepergian Lintas Benua

Pembatasan baru diumumkan kemarin setelah lonjakan yang mengkhawatirkan dalam kasus Covid-19 baru di Victoria. Dalam pembatasan baru yang kembali diberlakukan ini, militer akan membantu polisi mengamankan puluhan jalan perbatasan, bahkan drone juga akan dikerahkan untuk misi pengawasan.

Heboh Pesan Berantai Lion dan Batik Air Tak Lakukan Physical Distancing, Kena Proxy War?

Belum lama ini, beredar pesan berantai berisi video Lion Air dan Batik Air mengangkut penuh penumpang tanpa adanya physical distancing. Dari hasil penelusuran singkat, redaksi KabarPenumpang.com menemukan setidaknya pesan serupa juga didapat oleh rekan media lainnya dan di waktu yang nyaris bersamaan, yakni malam hari, dari orang tak dikenal (OTK) melalui pesan instan WhatsApp.

Baca juga: Analis Penerbangan Sebut Kosongkan Kursi Tengah di Pesawat Tak Masuk Akal!

Dalam empat video berdurasi masing-masing lebih dari satu menit itu, nampak pesawat penuh sesak meskipun seluruhnya menggunakan APD, seperti masker dan beberapa penumpang menggunakan face shield.

Dua video di antaranya bahkan sempat terjadi cekcok dengan petugas on board. Cekcok terjadi akibat penumpang mempertanyakan tidak adanya pengaturan physical distancing. Hal itu pun direspon oleh petugas dengan sedikit ‘represif’.

Petugas menghimbau agar penumpang yang merasa tak nyaman dengan kondisi tersebut agar meninggalkan pesawat dan membicarakan lebih lanjut kepada staf darat. Pada akhirnya, cara tersebut berhasil meredam kegelisahan penumpang dan memilih tetap untuk berangkat dengan kondisi yang ada.

Menanggapi video viral melalui pesan berantai oleh OTK tersebut, Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro, tak menampik video tersebut melibatkan pihaknya. Danang menyebut, beberapa kejadian dalam video itu sudah terjadi sejak Maret-April lalu.

“Ada beberapa video yang kejadiannya sudah lama (Maret-April),” jelasnya kepada KabarPenumpang.com melalui pesan singkat. Untuk diketahui, video viral Lion Group mengangkut penuh penumpang tanpa adanya physical distancing menjadi perbincangan hangat mengingat, sampai saat ini, pemerintah masih membatasi jumlah kapasitas maksimum di pesawat.

Pun demikian, bila benar beberapa video tersebut terjadi pada April lalu, sejak di pertengahan bulan (16 April), pemerintah juga sudah mulai menerapkan aturan pembatasan kapasitas pesawat maksimum 50 persen melalui Permenhub 18 tahun 2020 yang mengatur agar setiap pesawat maksimal hanya mengangkut 50 persen dari kapasitas.

Meski begitu, Danang menjelaskan, dalam penerbangan tertentu, Lion Group memang dimungkinkan untuk menerbangkan pesawat tanpa adanya physical distancing alias penuh sesak.

“Dalam penerbangan tertentu kemungkinan jumlah tingkat keterisian penumpang (seat load factor) sesuai kapasitas pesawat udara yang dioperasikan, sehingga penerapan physical distancing pada kabin belum maksimal,” ujarnya.

Tidak adanya physical distancing, meskipun pemerintah masih menerapkan batas maksimum 70 persen dari kapasitas pesawat, setidaknya terjadi karena enam hal. Mulai dari mengkomodir kebutuhan penumpang, pembelian tiket secara tiba-tiba, reschedule, transfer flight, group booking, hingga pembukuan pada periode pemesanan sebelumnya (terutama dari tamu atau penumpang yang telah membeli tiket jauh hari).

Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio, menyebut, tidak diterapkannya physical distancing dalam penerbangan Lion Air terjadi akibat ketidakjelasan regulator, dalam hal ini Kementerian Perhubungan. Ketidakjelasan yang dimaksud adalah Surat Edaran (SE) Permenhub 41 tahun 2020.

Baca juga: Lion Air Group: Pengaturan Jarak Aman di Kabin Disesuaikan dengan Tipe dan Kapasitas Pesawat

“PM 41 itu PM Perhub rasa kesehatan. Jadi kalau dilanggar pantas karena PM-nya tidak jelas,” singkatnya kepada KabarPenumpang.com. Menurutnya, implementasi Permenhub 41 berupa SE hanya akan membuat keadaan makin keruh. Sebab, SE bukan merupakan produk hukum. Mengetahui SE bukan produk hukum, ia yang sempat merasakan langsung kondisi seperti itu, sampai tak bisa berbuat apa-apa dan memilih untuk mengganti pesawat ketimbang memprotes maskapai.

Sebagai informasi, belakangan, Lion Group memang menjadi sorotan atas berbagai isu miring, seperti PHK massal hingga stop operasi. Kondisi tersebut nampaknya cukup wajar mengingat Lion Group adalah pemegang market share penumpang pesawat udara domestik terbesar di Indonesia.

80 Persen Toko F&B dan Outlet Ritel Kembali Dibuka di Bandara Changi

Singapura mulai masuk tahap atau fase kedua membuka kembali negaranya setelah melakukan pembatasan ketat bagi masyarakat. Hal ini pun diikuti Bandara Internasional Changi Singapura yang sudah membuka 80 persen toko makanan dan minuman atau F&B (Food and Beverage) dan outlet ritel.

Baca juga: Sepi Penumpang, Singapura Bekukan Terminal 2 Bandara Changi Selama 18 Bulan

Objek-objek wisata di Jewel Changi pun juga mulai kembali beroperasi sejak Jumat (3/7/2020) termasuk Canopy Park dan Changi Experience Studio. Meski dibuka kembali, Changi Airport Group (CAG) mengatakan, tetap menerapkan langkah-langkah kesehatan dan keamanan selama pandemi Covid-19.

“Kami melakukan pembersihan yang ketat dengan desinfektan, menerapkan pembayaran tanpa uang cash atau kontak langsung pembeli dan penjual, makanan atau minuman yang dibeli pun harus di takeaway serta self pickup semuanya beroperasi,” ujar CAG.

Dibukanya kembali toko-toko di Changi, ada beberapa yang memberikan promosi setelah penutupan terjadi. Salah satunya adalah Extravaganza Belanja Terserap GST dan uang kembali S$10 dengan pembelanjaan minimal S$80 dalam satu struk yang sama di hari yang sama.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman dfnionline.com (6/7/2020), di dalam toko pun ada diskon hoingga 50 persen dari merek-merek seperti OSIM dan Love Moschino. Selain itu pelancong juga bisa mendapat hadiah berlipat dengan poin Changi Rewards dan CapitaStar.

Tak hanya itu, toko dan ritel juga memberikan opsi pengiriman dan drive-thru yang tersedia dari tempat makan populer seperti Jumbo Seafood dan kam’s Roast. Dengan memesan lima jenis F&B favorit di bandara Changi biaya pengirimannya pun tetap sebesar S$5.

Baca juga: Sambut New Normal, Bandara Changi Kerahkan Robot Pembersih dan Toilet Tanpa Kontak

Untuk pelancong yang memiliki kartu anggota Bandara Changi, bisa mendapat reward poin dalam setiap pemesanan. Diketahui, dari 10 Juni hingga 9 Agustus, para tamu dapat melakukan penjemputan di Drop-off Jewel Level 2, Pillar 6 untuk mengambil pesanan, dengan jam operasional dari jam 11 pagi sampai jam 9 malam setiap hari. Pesanan harus dilakukan setidaknya 1 jam sebelumnya dari waktu penjemputan.