Ada Jejak UFO di Bali, Sempat Bikin Penerbangan Dilarang Lewat Gegara Takut Turbulensi

Obyek terbang tidak dikenal alias UFO (unidentified flying object) kerap terlihat di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Pada pertengahan 2011 lalu, sebuah keluarga di Perumahan Citra Pratama, Kerobokan Kelod, Kuta, Bali, mengaku melihat UFO alias benda terbang misterius. Benda tersebut terlihat sebanyak dua kali.

Baca juga: Heboh Pentagon Rilis Video UFO, Penumpang Pesawat Ini Bahkan Pernah Lihat UFO di Siang Bolong

Sayangnya, karena peristiwa itu terjadi pada malam hari, gambar yang berhasil ditangkap tak mengidentifikasi dengan jelas. Hanya berupa sebuah benda di langit dengan cahaya di bagian bawahnya. Tentu saja ada kemungkinan lain di luar UFO.

Pada 2011 dan 2013, UFO kembali muncul di Bali. Bahkan, kemunculan UFO di Bali pada 2015 terekam jelas di video. Dalam video unggahan YouTube channel thirdphaseofmoon, tampak sebuah objek memancar kilauan cahaya sambil bergerak tak beraturan dalam jarak dekat. Dari gerak-geriknya, hampir dapat dipastikan itu bukan pesawat. Hingga kini, hal itu pun masih misterius.

Di tahun 2018, netizen kembali heboh terkait adanya UFO di Bali. Padahal, kala itu masih siang bolong. Meskipun demikian, fenomena kemunculan UFO di beberapa negara memang tak kenal waktu, termasuk pada siang bolong seperti yang dialami oleh seorang penumpang pesawat Jeju Air bernama Lucas Kim, yang mengklaim dirinya melihat UFO dari jendela pesawat saat sedang dalam perjalanan dari Seoul ke Thailand.

Hanya saja, bila fenomena yang dilihat Kim menyerupai UFO dan memang tak mampu dibuktikan dengan jelas oleh berbagai pihak benda apa kalau bukan UFO, lain halnya dengan ‘UFO’ yang muncul pada 2018 di Bali itu. Alih-alih benar UFO, ternyata itu merupakan fenomena awan topi di atas Gunung Agung. Di beberapa tempat, awan serupa juga kerap muncul, seperti di atas kawah Gunung Rinjani, Gunung Sumbing, dan Gunung Semeru.

Di kalangan pendaki gunung, awan berbentuk topi atau mirip jamur ini dikenal dengan nama awan lenticular. Orang Jawa menyebutnya caping gunung, karena awan lenticularis puncak gunung biasanya berbentuk topi khas petani Jawa yang disebut caping.

Atas fenomena itu, BMKG sendiri menghimbau agar pesawat tak melintas di sekitaran tempat kemunculan awan menyerupai UFO atau awan topi itu. Sebab, dikhawatirkan dapat menyebabkan turbulensi. Apa yang BMKG anjurkan memang benar adanya, karena salah satu dari dua penyebab terjadinya turbulensi pada pesawat diakibatkan oleh awan, yang terbesar (dampak turbulensinya) adalah awan cumulonimbus.

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman telegraph.co.uk, Kapten British Airways, Steve Allright mengatakan bahwa ada banyak faktor yang dapat menimbulkan turbulensi, namun semua itu sudah dikuasai oleh para pilot, dan mereka mengetahui masing-masing cara untuk mengatasinya.

“Turbulensi memang tidak nyaman, namun tidak berbahaya. Ini adalah bagian dari terbang, dan tidak perlu ditakuti,” ungkap Steve. “Berbagai aspek cuaca menyebabkan berbagai jenis turbulensi, dan yang paling umum dirasakan adalah Clear Air Turbulence (CAT),” imbuhnya.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, perkembangan teknologi lambat laun mulai menjawab tantangan pesawat saat dihadapkan dengan awan cumulonimbus, yang notabene kerap menjadi momok bagi pilot dan tentu saja pesawat beserta isinya.

Seperti dikutip dari laman innovationorigins.com, mencari jalan keluar atas ketakutan berlebih akan turbulensi hebat, Andras Galffy, seorang mahasiswa doktoral dari Technische Universität Wien asal Austria pun menemukan titik terang. Dalam penelitian yang masih menjadi bagian dari disertasinya, ia berhasil menemukan sebuah teknologi sensor yang mampu mengurangi resiko turbulensi hingga 80 persen.

Baca juga: Jangan Lagi Takut Turbulensi, Teknologi ini Bisa Buat Pesawat Nyaris Terbang Mulus

Selain dapat mengurangi kenyamanan dan keamanan akibat turbulensi, teknologi yang sudah mendapat hak paten tersebut dinilai juga dapat menghemat bahan bakar. Pasalnya, ketika turbulensi terjadi, sistem perputaran angin pada sayap pesawat menjadi tak beraturan hingga mengurangi daya angkat pesawat. Akibatnya, pesawat harus mengeluarkan ‘tenaga’ ekstra untuk tetap mempertahankan jalur, ketinggian, serta gaya angkat.

Meskipun teknologi sensor tersebut baru diuji ke pesawat tak berawak, sebagaimana Andras Galffy yang memang ahli di bidang sistem autopilot dan pesawat tak berawak, namun, ia percaya bahwa temuannya ini dapat diaplikasikan ke pesawat berawak atau pesawat komersial. Tak hanya itu, ia juga mengklaim bahwa teknologi tersebut juga dapat diaplikasikan bukan hanya pada pesawat baru, namun juga pada pesawat-pesawat yang sudah ada.

Nostalgia dengan 5 Peta Jadul Jangkauan Maskapai, Mana Lebih Kreatif?

Penerbangan komersial senantiasa bergerak dari waktu ke waktu. Seiring perkembangan zaman, mayoritas orang mulai mengingat kembali berbagai layanan yang disuguhkan pada era awal penerbangan komersial dengan penerbangan saat ini.

Baca juga: Inilah 11 Perbedaan Maskapai Penerbangan Era 70-an dengan Sekarang

Namun, di balik semua itu (perbincangan terkait perbedaan layanan dulu dan kini), terselip satu hal yang sebetulnya juga menarik untuk diperbincangkan, sekalipun sekedar bernostalgia. Satu hal itu adalah peta jangkauan jadul atau vintage airline maps.

Dilihat KabarPenumpang.com dari creativereview.co.uk, tak seperti sekarang, peta jangkauan maskapai-maskapai terdahulu bisa dibilang sangat kreatif, dengan permainan kartografi yang memadukan warna dan karikatur serta berbagai unsur seni lainnya. Agar lebih jelas, berikut daftar lima peta jangkauan jadul maskapai di masa lalu.

1. BOAC (British Overseas Airways Corporation)

Peta jangkauan BOAC. Foto: creativereview.co.uk

British Overseas Airways Corporation adalah maskapai penerbangan nasional Britania Raya yang dibentuk tahun 1940 melalui penggabungan atau merger antara Imperial Airways dan British Airways. Maskapai ini bisa dibilang cukup populer di zamannya, mengingat mereka bisa mengoperasikan sampai 200 pesawat saat peak season. Poster di atas adalah keluaran 1947 karya salah satu kartografi atau desain grafis ternama asal Jerman, Frederick Henri Kay Henrion.

2. Airliners Deluxe

Airliners Deluxe poster keluaran tahun 1935. Foto: creativereview.co.uk

Poster peta jangkauan maskapai ini keluar pertama kali pada tahun 1935 tanpa diketahui siapa pembuatanya. Mesk demikian, mungkin, pecinta aviasi cukup terhibur dengan kolaborasi warna, pemilihan font, dan karikatur beberapa jaringan maskapai ke negara-negara di Eropa.

3. Imperial Airways

Poster Imperial Airways karya Henry Beck tahun tahun 1935. Foto: creativereview.co.uk

Imperial Airways sendiri merupakan perusahaan transportasi udara jarak jauh komersial pertama Britania Raya yang beroperasi mulai 1924 sampai 1939. Maskapai ini melayani sejumlah wilayah di Eropa, terutama rute Britania ke Afrika Selatan, India dan Timur Jauh atau Asia Pasifik, termasuk Malaya dan Hong Kong.

Maskapai legendaris ini akhirnya merger dengan BOAC. Sama seperti Airliners Deluxe, peta jangkauan Imperial Airways juga dibuat pada tahun 1935 oleh seorang kartografi kenamaan Inggris, Henry Beck, yang juga merancang peta jaringan bawah tanah London atau biasa juga disebut Peta London Underground (tube map); berisi peta transportasi skematik yang menggambarkan jalur, stasiun, dan fasilitas London Underground.

4. Air France

Peta jaringan atau jangkauan jadul Air France, yang dirancang pada tahun 1939 oleh Gerard Alexandre. Foto: creativereview.co.uk

Siapa yang tak kenal Air France, maskapai nasional terbesar di Perancis. Sejak awal pendiriannya pada tahun 1933, maskapai ini telah berkembang sebagai maskapai terbesar dunia yang didukung oleh pengembangan ekonomi Perancis yang menghubungkan daerah jajahan di Afrika, Karibia & Kepulauan Polinesia di Pasifik. Peta jaringan atau jangkauan jadul Air France, yang dirancang pada tahun 1939 oleh Gerard Alexandre ini mungkin bisa sedikit menggambarkan eksistensi mereka bahkan sejak awal berdiri.

5. Air Ceylon

Peta jangkauan Air Ceylon keluaran tahun 1950. Foto: creativereview.co.uk

Di antara nama besar maskapai Eropa, rupanya terdapat satu maskapai jadul asal Asia yang juga memiliki desain unik peta jangkauan jadul, yakni Air Ceylon. Flag carrier Sri Lanka yang didirikan pada tahun 1947, sebelum stop operasi pada1978 dan kini digantikan dengan Air Lanka, ternyata pernah membuat poster peta jangkauan unik keluaran tahun 1950. Dibanding empat poster peta jadul jangkauan maskapai, mungkin karya Air Ceylon inilah yang paling unik, dengan menyertakan unsur nasionalisme mereka; gajah.

“Java,” Meluncur di Tahun 1811, Inilah Kapal Layar yang Bertahan Hingga era Perang Dunia II

Dikenal sebagai wilayah yang subur akan hasil pertanian dan rempah-rempahnya, nama Pulau Jawa sudah kondang sedari zaman pra kolonial. Saking populernya nama Jawa (Java), menjadikan nama tanah harapan bangsa kulit putih ini diabadikan sebagai nama kapal. Dan untuk pertama kalinya pada tahun 1811, British East India Company (EIC) meluncurkan kapal dagang yang diberi label Java. Kapal ini melakukan pelayaran dan perdagangan migran antara Inggris dan Australia hingga wilayah Timur Jauh.

Baca juga: Filipina Bangun Kapal Penumpang dengan Teknologi Trimaran untuk Kurangi Emisi Karbon

Yang unik, Java menjadi kapal raksasa batubara di Gibraltar sekitar tahun 1859 dan masih terus bertahan hingga era Perang Dunia II berlangsung. KabarPenumpang.com merangkum dari wikipedia.com, Java sendiri awalnya merupakan hadiah untuk petugas EIC dan digunakan sekelompok penumpang yang bepergian dari Cina ke Jawa untuk berlibur.

Suatu ketika, kapal Java ini tiba di Pulau Jawa dan diserang oleh penduduk setempat ketika orang-orang dari kapal tengah piknik dan membawa gadis muda. Kemudian salah satu petugas kapal tersebut memimpin sebuah kelompok bersenjata untuk menyelamatkan gadis tersebut.

Kapal Java sendiri sosoknya pertama kali diketahui publik di Lloyd’s Register, yaitu dua tahun setelah diluncurkan, tepatnya di tahun 1813. Kapal ini kemudian digunakan untuk berdagang di London dan India. Perawatan Java sendiri didaftarkan di Britania Raya pada 7 Oktober 1813.

Di antara tahun 1824 dan 1825, Java melakukan pelayaran berdasarkan hak istimewa ke EIC. Pemilik Java yang sudah membelinya tahun 1825, Joseph Hare menawarkan ke EIC untuk dicarter membawa teh dari Cina kembali ke Bengal. Kapten Thomas Driver berlayar dari Downs pada 26 Juli 1825.

Java sendiri kemudian berada di Sugor pada 3 januari 1826 dan kembali ke Inggris pada 13 Maret 1827. Lalu tahun 1828, Hare menjual Java ke Fairlie & Co. yang memiliki rute Calcutta dan London. Kemudian tahun 1836, Scott & Co. yang berbasis di London membeli Java.

Java kemudian di carter oleh pemerintah Australia Selatan untuk mengangkut migran dengan kapten Alexander Duthie. Java berlayar dari London dan Plymouth, Inggris pada Oktober 1839 dan tiba di Teluk St Vincent di luar Adelaide, Australia Selatan pada 6 Februari 1840.

Dari berbagai laporan Java saat itu mengangkut antara 30 hingga 50 penumpang termasuk 28 anak-anak yang meninggal karena penyakit, kekurangan gizi serta kelaparan selama perjalanan. Hal ini kemudian membuat perjalanan terseut menjadi subjek tinjauan Dewan Medis atas nama Komisaris Australia Selatan yang menemukan bahwa Duffie dan petugas medis telah memperlakukan penumpang dengan buruk dan memerintahkan agar Scott & Co. tidak dibayar.

Tahun 1841, java kembali pindah tangan ke Joseph Somes di London. Dia mencarter ke pemerintah Inggris sebagai transportasi untuk mengangkut pasukan yang mengunjungi Amerika Utara, Hindia Barat, Afrika Selatan dan Selandia Baru.

Baca juga: Sebulan Pasca Musibah KM Sinar Bangun, KNKT Rilis Rekomendasi Keselamatan Pelayaran

Pada tahun 1939 pemiliknya menjual Java seharga £500 kepada ‘pemecah’ kapal Genoa, Giuseppe Riccardi dari Sampierdarena. Dia menariknya ke Genoa pada 26 Juli 1939 karena putus. Pada 20 September 1940, AL Italia menghancurkan kapal ini dengan ranjau limpet dalam latihan. Bisa dikatakan Java adalah satu-satunya kapal yang pernah dipekerjakan oleh EIC sampai era Perang Dunia II.

Inilah 13 Video Iklan Maskapai Terbaik Sepanjang Masa, Nomor 11 Paling Hot!

Seiring perkembangan zaman dari masa ke masa, kecenderungan maskapai untuk menggaet penumpang lewat iklan cukup beragam. Beberapa masih menggunakan cara lama dan lainnya menggunakan cara atau paradigma baru, mengikuti perkembangan terkini.

Baca juga: Iklan Pakaian Dalam dengan Model Pramugari Mendapat Kecaman

Namun, tak bisa dipungkiri, baik cara lama maupun baru, pada akhirnya, momentum-lah yang menentukan kesuksesan iklan dan dampaknya terhadap traffic penumpang. Dilansir KabarPenumpang.com dari thepointsguy.co.uk, berikut 13 iklan maskapai terbaik sepanjang masa.

1. Virgin Atlantic: 25 years, Still Red Hot (2009)

Iklan ini dibuat untuk merayakan 25 tahun kiprah Virgin Atlantic di dunia. Iklan ini mengambil latar tahun 1984, saat-saat dimana mereka memulai dan berjuang di tengah kondisi politik dalam negeri yang tak stabil.

2. British Caledonian: Caledonian Girls (1982)

British Caledonian adalah maskapai penerbangan independen swasta Inggris yang beroperasi di Bandara Gatwick di Inggris tenggara selama tahun 1970-an dan 1980-an.

3. Qantas: I Still Call Australia Home (1998)

https://www.youtube.com/watch?v=hbGuqmaDgLA&feature=emb_title

Iklan berlatar kompilasi atau varian lagu-lagu kebangsaan Australia ini disebut sebagai salah satu iklan termahal Qantas, dengan menggelontorkan dana sebesar $3 juta. Angka yang cukup besar kala itu.

4. Braniff Airways: The Air Strip (1965)

https://www.youtube.com/watch?v=7TZXryuhSMg

Iklan ini menampilkan seragam baru pramugari karya desainer kenamaan dunia, Emilio Pucci. Seragam baru tersebut dinilai sebagai revolusi besar maskapai di tahun 60an.

5. British Airways: Bringing People Together (1989)

British Aiways memang sejak lama menjadi salah satu maskapai terbesar di dunia. Setidaknya hal itu bisa dilihat dari cara mereka membuat iklan ini, dengan menampilkan klaim di bagian akhir, “World’s favourite airline”.

6. Emirates: It’s so nice up here with Jennifer Aniston (2016)

Salah satu raksasa maskapai di Timur Tengah ini mungkin benar-benar serius menggarap iklan. Betapa tidak, tak tanggung-tanggung, mereka langsung melibatkan pemenang Emmy dan Golden Globe film Amerika Serikat, Jennifer Aniston, berlatar pesawat andalan mereka, A380.

7. United: Nancy (1982)

Selain membuat decak kagum dan menarik perhatian masyarakat, iklan juga kerap dijadikan alat propaganda, setidaknya propaganda yang baik untuk bisnis mereka, seperti yang dilakukan United Airlines, dengan menyematkan “The free world’s largest airline” pada iklan ini.

8. Lufthansa: Everyone’s Fanhansa (2016)

Menyambut turnamen sepak bola terbesar di Eropa, Euro 2016, Lufthansa mengelurkan iklan unik bertema supporter Inggris yang terus-menerus diledek supporter Jerman.

9. Turkish Airlines: Morgan Freeman “Widen Your World” (2017)

Tak mau kalah dengan Emirates, setahun berselang, salah satu raksasa penerbangan dunia asal Turki ini pun menggaet Morgan Freeman, seorang pemeran dan sutradara film Amerika Serikat pemenang Academy Award untuk mensukseskan iklan promosi mereka.

10. Southern Airways: Nobody’s second class (1970)

Dari berbagai konsep unik iklan, komedi adalah salah-satunya. Dengan kemasan yang baik dan momentum yang pas, iklan ini berhasil menarik perhatian masyarakat kala itu lewat konsep komedi.

11. Virgin Atlantic: Your airline’s either got it or it hasn’t (2010)

Iklan dengan budget sebesar £6 juta ini menampilkan adegan pembuka mirip film mata-mata atau spy terpopuler di dunia, James Bond. Komposisi musik oleh salah satu band ternama dunia, Muse, juga membuat iklan ini jelas bernilai mahal. Belum lagi konsep yang hot yang melibatkan pramugari.

Baca juga: Tampilkan Sepasang Gay, Iklan Cathay Pacific Tuai Kontroversi

12. British Airways: Concorde (1989)

Pecinta aviasi pasti sangat lekat dengan nama salah satu legend ini, Aérospatiale-BAC Concorde, pesawat supersonik ikonik asal Inggris. Mengenang kejayaan Concorde, British Airways pun membuat video kompilasi khusus untuknya.

13. TWA: Leading the way (1985)

Iklan ini sebetulnya biasa saja. Namun untuk ukuran kala itu, kolaborasi soundtrack dan video rasanya cukup bernilai tinggi.

Terlalu Sesumbar, Peluncuran Taksi Udara eVTOL Skai Bertenaga Hidrogen Akhirnya Molor

Taksi udara all-electric vertical takeoff and landing (eVTOL) besutan Skai awalnya sempat menggemparkan jagat persaingan eVTOL di dunia. Betapa tidak, saat berbagai start-up taksi udara mayoritas fokus mengembangkan produk bertenaga listrik, Skai justru melawan arus dengan melaunching desain taksi udara eVTOL bertenaga hidrogen.

Baca juga: Skai – Moda eVTOL Multifungsi yang Punya Cost per Ride Setara Uber

Penggunaan hidrogen pada moda transportasi memang dinilai brilian. Selain membuat taksi udara menjadi bebas emisi atau ramah lingkungan, energi yang dihasilkan juga besar dengan tingkat kepadatan jauh lebih baik dibanding baterai lithium. Dengan begitu, taksi udara Skai disebut akan sanggup melayani penerbangan jarak jauh serta pengisian bahan bakar singkat.

Namun, mewujudkan taksi udara eVTOL bertenaga hidrogen dalam prosesnya tak semudah yang dibayangkan. Bahkan, bila perusahaan kala itu sesumbar produk mereka dapat segera terbang, sepekan setelah launching dan mendapat sertifikasi setahun setelahnya (tahun 2020), kini, mereka tengah kelimpungan.

Dikutip dari newatlas.com, CEO Skai, Steve Hanvey, ketika ditanya soal teknologi tangki bahan bakar, ia pun tak mampu menjawabnya dengan tegas dan berdalih bahwa timnya sangat ahli di bidang tersebut. Itu baru teknologi tangki bahan bakar, belum komponen pendukung lainnya.

Atas berbagai ketidakjelasan itu, tak heran bila taksi udara eVTOL bertenaga hidrogen besutan Skai, saat ini progresnya baru sampai tahap uji terbang awal. Jangankan membawa penumpang dan terbang sejauh empat jam, untuk penerbangan tanpa awak saja masih belum bisa bertahan lama.

Melihat realita yang ada, Harvey pun dengan rendah hati mengaku bahwa target pengoperasian untuk penerbangan tak berawak, dengan kapasitas empat penumpang dan satu pilot, serta menggunakan enam rotor atas, diundur jadi awal tahun 2021; tak menutup kemungkinan bakal lebih daripada itu. Namun, taksi udara Skai eVTOL bertenaga hidrogen tetap masih memiliki keunggulan dengan program hidorgennya plus teknologi rotor yang diklaim lebih tenang dibanding helikopter.

Atas permasalahan yang dihadapi bersama anak perusahaan Alaka’i Technologies (Skai), ia pun teringat dengan nasihat dari mentornya, Igor Sikorsky, seorang perintis pembuatan helikopter dan pesawat bersayap keturunan Rusia-Amerika.

“Igor Sikorsky pernah berkata kepada saya, ketika Anda melakukan proyek teknologi semacam ini, jangan mencoba untuk memprediksi masa depan , karena cenderung berubah,” ujar Harvey.

Oleh karenanya, saat ini, ia dan tim hanya fokus untuk terus-menerus mengembangkan target demi target mereka, menerbangkan taksi udara eVTOL bertenaga hidrogen secepat mungkin. Tentu, untuk sampai pada level itu, mereka harus melewati serangkaian proses panjang, termasuk sertifikasi oleh regulator penerbangan sipil AS, FAA.

Baca juga: Archer Kembangkan Taksi Udara eVTOL dengan Baling-baling ‘Tersembunyi’

Terkait sertifikasi oleh FAA, ia mengaku tak khawatir. Sebab, baik dirinya maupun tim Skai yang saat ini jumlahnya mencapai 70an orang, naik dari semula 40 orang, seluruhnya memiliki pengalaman dalam proses sertifikasi, baik sebagai administrator maupun kubu pemohon sertifikasi.

“Saya sudah mensertifikasi pesawat sejak 1980. Program militer, helikopter, sayap tetap, kecil dan besar, seluruh tim kami membawa pengalaman dari bisnis kedirgantaraan di sekitar apa yang diperlukan untuk mendapatkan sertifikasi pesawat yang berhasil, dan apa yang diperlukan untuk mendukungnya,” tutupnya.

Kejar Target Produksi Pesawat Tanpa Emisi di 2035, Airbus Pertimbangkan Penggunaan Hidrogen

Raksasa dirgantara asal Eropa, Airbus, dikabarkan tengah menimbang-nimbang penggunaan hidrogen di masa mendatang. Maklum, perusahaan gabungan beberapa negara Eropa itu sudah sejak beberapa tahun lalu menyatakan komitmennya untuk membuat pesawat lebih hijau atau tanpa emisi pada 2035 mendatang.

Baca juga: Lima Alternatif Pengganti Bahan Bakar Fosil Pesawat di Masa Depan, Nomor Dua Aneh!

Inisiatif Airbus untuk menggunakan hidrogen sebagai sumber energi terbarukan pada 2035 nanti muncul setelah Komisi Eropa (UE) menerbitkan Hydrogen Strategy and Roadmap pada Rabu lalu. CEO Airbus, Guillaume Faury, menyebut pihaknya sangat antusias atas hal itu. Ia juga percaya, di masa mendatang hidrogen bisa menjadi salah satu solusi terbaik untuk mengembangkan penerbangan yang berkelanjutan.

“Hidrogen adalah salah satu teknologi paling menjanjikan yang tersedia untuk membantu kami mencapai penerbangan tanpa emisi pada tahun 2035. Kami menyambut Hydrogen Strategy and Roadmap UE, yang memungkinkan kami memenuhi ambisi itu,” jelasnya.

Dikutip dari euractiv.com, tenaga hidrogen pada pesawat memiliki beberapa keunggulan dibandingkan energi listrik, terutama rasio daya terhadap bobot total pesawat. Sebuah studi yang didukung oleh UE menyimpulkan, hidrogen, yang selama ini diragukan, justru dianggap memiliki potensi cukup besar untuk mewujudkan penerbangan bebas polusi atau dekarbonisasi.

Meskipun demikian, belum lama ini, studi yang sama memperingatkan bahwa bila pilihan jatuh pada hidrogen (sebagai andalan pesawat tanpa emisi), biayanya akan sangat mahal, mengingat pesawat harus didesain ulang untuk membuat tangki bahan bakar yang lebih besar atau tetap dengan desain yang ada namun terbatas untuk operasional jarak pendek. Belum lagi teknologi lain yang harus menyesuaikan, pasti akan membuat biaya produksi membengkak.

Sebelum wacana untuk mengandalkan hidrogen dalam mewujudkan proyek penerbangan tanpa emisi pada 2035 mencuat, ilmuan selama ini fokus pada lima energi dan hidrogen tak masuk di dalamnya. Lima itu adalah, listrik, tembakau, sampah, dan gula, nuklir, black bag waste, serta limbah kayu.

Dengan diterbitkannya roadmap hidrogen oleh Komisi Eropa ini, sebetulnya bisa dibilang melengkapi sekaligus meluruskan beberapa langkah yang sudah diambil Airbus dan pemerintah Perancis. Pada pertengahan Juni lalu, Airbus bersama perusahaan dirgantara seperti Dassault Aviation, Thales, dan Safran telah mengucurkan dana masing-masing sebesar 200 juta euro. Begitu juga dengan pemerintah Perancis yang mengucurkan dana sebesar 1,5 miliar euro.

Hasil pendanaan itu disebut akan digunakan untuk mengejar target realisasi pesawat netral karbon, A320, pada 2035 mendatang. Pilihan untuk itu ada dua pilihan, biofuel dan hidrogen. Tak hanya itu, pemerintah Perancis juga ingin melihat pesawat-pesawat Airbus sudah ditenagai oleh bahan bakar ramah lingkungan, baik itu listrik maupun hidrogen pada 2030. Pun demikian dengan helikopter yang ditargetkan lebih awal pada 2029.

Baca juga: Perangi Polusi, Australia Selatan Manfaatkan Energi Terbarukan dari Hidrogen

Sebelum wabah Covid-19 melanda dunia, Airbus sebetulnya telah memulai proyek energi terbarukan pada April lalu, dengan membuat prototipe jet bermesin listrik hybrid. Sayangnya, proyek yang digarap bersama Rolls-Royce itu akhirnya harus kandas sejenak tanpa ada kejelasan kapan akan dimulai kembali.

Sebagai informasi, saat ini, perjalanan udara disinyalir menyumbang antara 2-3% dari emisi karbon dunia, tetapi persentase untuk itu setara dengan 4,5 miliar perjalanan penumpang, pergerakan 64 juta metrik ton kargo dan sepertiga dari perdagangan global dunia. Di samping itu, penerbangan juga menopang 65 juta pekerjaan.

Akhir 2022, Operasional Bandara Internasional Edmonton Pakai Tenaga Surya

Komitmen tinggi terhadap energi terbarukan, Bandara Internasional Edmonton (EIA) Selasa lalu mengumumkan akan memasang sekitar 340.000 panel surya atau memakan sekitar 627 hektar area bandara. Bila tak ada halangan berarti, akhir 2020 mendatang, bandara tersibuk kelima di Kanada ini akan mulai beroperasi dengan tenaga surya.

Baca juga: Bandara Kempegowda Aplikasikan Panel Surya Guna Operasional Harian

Dikutip dari edmontonjournal.com, proyek energi terbarukan raksasa Bandara Internasional Edmonton itu nantinya bakal menyuntik listrik sebesar 120 megawatt atau setara 28 ribu rumah. Selain itu, proyek yang melibatkan perusahaan energi terbarukan asal Eropa, Alpin Sun, ini juga akan membuka ratusan lapangan pekerjaan, baik pra ataupun pasca proyek selesai.

“Salah satu prinsip inti kami mendedikasikan diri untuk program keberlanjutan. Dengan (kemitraan bersama) Airport City Solar dan Alpin Sun, kami menciptakan sesuatu yang seluruh dunia akan perhatikan,” kata Tom Ruth, Presiden dan CEO EIA.

“Kami adalah bandara terbesar di Kanada berdasarkan luas lahan sehingga kami memiliki ruang untuk melakukan sesuatu yang sangat istimewa. Ini akan menciptakan lapangan kerja, menyediakan tenaga surya berkelanjutan untuk wilayah kami dan menunjukkan dedikasi kami untuk program energi terbarukan,” tambahnya.

Saat ini, pihak EIA tengah menunggu izin pengerjaan dari otoritas setempat. Jika disetujui, pengerjaan konstruksi akan dimulai pada awal 2022 dan ladang panel surya akan selesai di akhir tahun.

Proyek hijau atau energi terbarukan ini disebut mampu membuat langit lebih aman, dengan mereduksi pelepasan karbon dioksida ke langit hingga 106.000 ton. Sebaliknya, panel surya tetap menghasilkan energi besar mencapai 200.000 MWh per tahun.

Mengingat panel surya ini akan menyokong konsumsi energi listrik untuk bandara dan Fortis Alberta, salah satu provider listrik ternama di Kanada, tata letak panel surya harus ditempatkan dengan matang agar distribusi energi efektif.

Oleh karenanya, pihak penanggungjawab proyek merancang ladang panel surya dibagi menjadi dua bagian, satu ladang seluas 367 hektar dan ladang lainnya sebesar 259 hektar. Proyek ambisius Bandara Internasional Edmonton diperkirakan mampu mendatangkan $169 juta atau Rp2,4 triliun (kurs 14.440).

Meski membangun ladang panel surya sebesar 300 ratusan lapangan football, Bandara Internasional Edmonton Kanada bukanlah yang pertama dalam hal ini. Sebelumnya, Bandara Internasional Dubai bekerja sama dengan Etihad Energy Services Company (Etihad ESCO), lebih dahulu melakukan inovasi serupa dengan membangun lebih dari 15.000 panel surya pada Juli tahun lalu.

Proyek pemasangan sistem energi surya ini memiliki kapasitas 5MWp dan dapat menghasilkan lebih dari 7,48 juta kilowatt-jam energi setiap tahun untuk Dubai International Airport.

Baca juga: Gaet Etihad ESCO, Bandara Internasional Dubai Pasang Panel Surya di Terminal 2

Diharapkan, pemasangan sistem energi surya ini dapat menghasilkan penghematan senilai AED3.3 juta atau yang berkisar Rp12,6 miliar. Dengan sistem energi surya yang baru, muatan Terminal 2 yang ada di Dubai International Airport akan berkurang sekitar 29 persen. Sistem ini juga akan mengurangi emisi CO2 sebesar 3.243mt per tahun.

Bergeser ke Selatan, Bandara Internasional Kempegowda di Bengaluru, India juga telah memulai proyek energi terbarukan (energi surya) sejak November tahun lalu. Pengerjaan proyek pembangkit listrik tenaga surya berdaya 3,35MW ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan energi bandara yang kian meningkat setiap harinya. Adapun operator bandara bekerja sama dengan Sunshot Technologies dalam urusan instalasi pembangkit listrik ini.

Kabar Baik, Boeing Sudah Rampungkan 90 Persen Klaim Korban Kecelakaan Lion Air JT-610

Rakasasa dirgantara asal Amerika Serikat (AS), Boeing, menyebut pihaknya telah merampungkan klaim tuntutan kompensasi atas kecelakaan Boeing 737 Max yang dioperasikan Lion Air. Seperti yang sudah diketahui, pesawat dengan nomor penerbangan JT-610 jatuh di Tanjung Karawang, Jawa Barat pada 29 Oktober 2018 silam.

Baca juga: Setelah Jalani Total Terbang 10 Jam, Proses Sertifikasi Ulang Boeing 737 MAX Dihentikan

Bloomberg melaporkan, dari total 189 orang yang terlibat dalam penerbangan nahas itu, 171 di antaranya sudah selesai. Dari jumlah itu, lima di antaranya disebut hanya dibayar sebagian karena melibatkan banyak pihak atau bisa dibilang klaim diwakili oleh beberapa firma hukum.

Namun demikian, baik terhadap lima perwakilan atau ahli waris tersebut ataupun sisanya, Boeing tak mengungkap dengan jelas berapa mahar yang dibayarkan. Namun, bila dirunut ke belakang, tak lama setelah kejadian, Boeing pernah berujar akan menggelontorkan dana sebesar $100 juta atau sekitar Rp1,4 triliun (kurs 14.337) untuk memberi santunan kepada keluarga korban. Bila benar demikian, maka, masing-masing keluarga korban bisa menerima setidaknya Rp1 miliar.

Juru bicara Boeing, Peter Pedraza, menyebut capaian tersebut merupakan hasil dari kerja keras mereka dalam beberapa bulan terakhir. Meskipun dana yang digelontorkan tak diungkap, ia mengklaim bahwa pihaknya telah memberikan santunan atau kompensasi dengan adil.

“Boeing telah bekerja keras untuk menyelesaikan kasus-kasus ini melalui proses mediasi. Kami senang telah membuat kemajuan yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir guna menyelesaikan kasus-kasus yang dibawa oleh keluarga para korban dengan syarat bahwa kami yakin memberikan kompensasi yang adil bagi mereka,” jelasnya dalam sebuah email.

Akan tetapi, klaim Boeing dalam menyelesaikan proses kompensasi kepada keluarga korban kecelakaan Boeing 737 Max yang dioperasikan Lion Air, ditentang oleh seorang pengacara, Sanjiv Singh. Menurut pengacara yang mewakili beberapa keluarga korban itu, Boeing masih belum benar-benar menyelesaikan kasus tersebut dengan baik. Bila tidak kunjung kelar, ia mengaku siap membawa sisa penyelesaian kasus ini ke meja hijau.

“Masih ada beberapa kasus dengan kerugian luar biasa, termasuk anak-anak yatim yang kehilangan kedua orang tuanya. Masih harus dilihat apakah kita bisa membawa Boeing ke meja hukum untuk kasus-kasus ini,” tegasnya.

Baca juga: Bingung dengan ‘Bahasa Teknis’ di Laporan Akhir KNKT Seputar JT-610? Ini Penjelasannya!

Lion Air JT-610 yang jatuh di di Tanjung Karawang, Jawa Barat dikabarkan bermasalah pada sejumlah fitur. Pada Oktober tahun lalu, atau setahun lebih pasca kecelakaan terjadi, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah melaporkan terkait sejumlah penyebab jatuhnya pesawat Lion Air JT-610.

Dimulai dari kerusakan pada indikator kecepatan dan ketinggian, masalah pada Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS), hingga kondisi di dalam kokpit yang dikabarkan super hectic pada detik-detik terakhir pesawat terhubung dengan menara pemantau atau ATC.

Airbus A320 Qingdao Airlines Dilengkapi Sistem Internet Satelit Berkecepatan Tinggi 100 Mbps

Maskapai dunia mulai meningkatkan pelayanan dalam penerbangan mereka dengan salah satunya adalah akses internet. Sepeeti Cina yang baru-baru ini berhasil menyelesaikan penerbangan perdana dengan pesawat yang dilengkapi dengan sistem internet satelit berkecepatan tinggi buatan dalam negeri pada Selasa (7/7/2020) kemarin.

Baca juga: Sering Bepergian Naik Pesawat, Pasti Tahu Aplikasi Pembobol WiFi Bandara Ini, Kan?

Pesawat pertama yang dilengkapi sistem ini adalah Airbus A320 milik maskapai Qingdao Airlines QW9771. Pesawat tersebut lepas landas dari bandara internasional Qingdao Liuting pukul 16.46 waktu setempat dan tiba di Bandara Internasional Chengdu Shuangliu pukul 19.21 waktu setempat. KabarPenumpang.com melansir dari laman businesstoday.in (8/7/2020), penerbangan yang mengangkut pejabat pemerintahan, kontraktor dan perwakilan dari perusahaan yang terlibat dalam program ini bisa mengakses layanan internet lebih tinggi dari 100 Mbps pada ketinggian 10 ribu meter.

Tak hanya itu, maskapai ini melakukan siaran langsung selama penerbangan dan menandai siaran langsung pertama dalam sejarah penerbangan sipil Cina. Sistem satelit didasarkan pada XstreamSAT, yang dibangun menggunakan satelit throughput (HTS) pertama dan satu-satunya milik Cina di frekuensi band, Zhongxing 16. Sedangkan pada pesawat lainnya internet didukung oleh satelit Ku band dengan kecepatan koneksi jauh lebih lambat.

Analis industri mengatakan suatu ekosistem dapat dikembangkan berdasarkan pada internet dalam penerbangan berkecepatan tinggi, dan dapat mencakup e-commerce, ritel baru dan layanan hiburan. Itu dapat membantu membentuk kembali industri penerbangan sipil Cina pada periode pasca-virus. Sumber daya HTS disediakan oleh China Satellite Communication Company. Selain sektor penerbangan, perusahaan juga dapat menyediakan layanan internet berbasis satelit di bidang lain seperti energi, navigasi, dan tanggap darurat.

Menurut sebuah pernyataan oleh Qingdao Airlines, modifikasi pada pesawat dimulai pada bulan November, dan penerbangan uji pertama dilakukan pada bulan Januari, sedangkan sertifikasi dan pengujian pesawat dilakukan dari bulan Desember hingga Juni. ChinaSat 16, satelit komunikasi pertama di Cina yang menggunakan teknologi broadband Ka-band, dikembangkan oleh China Academy of Space Technology berdasarkan platform satelit komunikasi DFH-3B.

Satelit ini telah mengorbit Bumi hampir 40 ribu km di atas tanah sejak diluncurkan ke luar angkasa di atas roket pembawa Long March 3B dari Pusat Peluncuran Satelit Xichang di provinsi Sichuan pada April 2017. Pesawat ruang angkasa itu telah dijuluki oleh otoritas ruang angkasa sebagai satelit komunikasi paling canggih di Cina sebelum Shijian 20, yang diluncurkan ke luar angkasa Desember lalu.

Baca juga: Citra Satelit NASA Temukan Polusi di Cina Berkurang Drastis, Akibat Sepinya Penerbangan?

Dengan berat 4,6 metrik ton, satelit ini diharapkan beroperasi dalam orbit geostasioner selama 15 tahun. Ini fitur sistem komunikasi broadband Ka-band yang mampu mentransmisikan 20 gigabit data per detik, melebihi kapasitas total semua satelit komunikasi sebelumnya di negara itu. Ini telah melakukan percobaan pertama di dunia pada komunikasi laser orbit tinggi, teknologi penting untuk memungkinkan pesawat ruang angkasa untuk mengirim, menerima dan mengirimkan sejumlah besar data dengan stasiun darat

Ulang Tahun Ke-50, Korean Air Hadirkan Seragam Vintage Awak Kabin dari Masa ke Masa

Kembali ke masa lalu atau mengubah suasana menjadi retro bukanlah hal baru yang dilakukan sebuah maskapai. Biasanya maskapai melakukan hal ini untuk mengenang kejayaan di kala itu dan yang diubah tak hanya logo livery tetapi seragam awak kabin mereka. Seperti Korean Air yang merayakan ulang tahun ke 50 dengan tampilan vintage pada 2019 lalu.

Baca juga: Garuda Indonesia Canangkan “Vintage Flight Experience” di Rute Amsterdam dan Tokyo

Diperayaan ini, maskapai Korea tersebut mengadirkan sebelas koleksi seragam vintage yang berbeda selama bertahun-tahun. Awak kabin yang menggunakannya adalah kader khusus yang dikenal sebagai “Tim Seragam Sejarah”. KabarPenumpang.com merangkum dari laman paddleyourownkanoo.com, ternyata tim khusus ini mengenakan seragam bersejarah sebagai pakaian kerja mereka yang biasa. Bahkan mereka biasanya hanya dipanggil untuk acara-acara khsusus saja.

Meski begitu dalam ulang tahun ke 50 Korean Air pada Oktober 2019 kemarin, mereka tetap bekerja dalam penerbangan dengan tampilan retro. Bahkan maskapai memiliki rencana untuk meningkatkan jumlah penerbangan khusus untuk waktu yang singkat. Pada waktu perayaan ulang tahun ke-50 tersebut, Korean Air menyiapkan jadwal penerbangan awak kabin dengan seragam vintage ini ke beberapa rute seperti Los Angeles, Tokyo, Beijing, Singapura, Paris dan Sydney.

Saat itu mereka juga mengadakan peragaan busana di penerbangan terbaru mereka. Ini mengingatkan kepada Catwalk on the sky yang dilakukan maskapai Belanda yakni KLM pada penerbangan mereka dari Amsterdam dan New York. Meski begitu, ada perbedaan dalam peragaan busana tersebut di mana, KLM memiliki seragam yang sudah dikenakan 100 tahun lalu untuk di pamerkan.

Sayangnya bagi KLM ini hanya dilakukan sekali saja dan bukan sesuatu yang akan dialami banyak penumpang. Korean Air sendiri berdiri sejak 1969 dan berkembang dari delapan pesawat menjadi 200 armada yang sudah terbang ke seluruh dunia. Selain Korean Air, Garuda Indonesia juga menghadirkan logo livery dan seragam vintage pada awak kabin mereka.

Kehadiran ini membuat sebuah tajuk “Garuda Indonesia Vintage Flight Experience” yang dihadirkan pada 7-17 Desember 2018 lalu dalam penerbangan domestik ke Balikpapan dan Surabaya serta penerbangan Internasional tujuan Singapura. Adanya Garuda Indonesia Vintage Flight Experience membuat penumpang merasa nuasan dalam penerbangan di era 1970 dan 1980an.

Baca juga: “Garuda Indonesia Vintage Flight Experience” Resmi Diluncurkan, Inilah Paras Ayu Pramugari dengan Seragam Klasik

Seragam vintage awak kabin Garuda Indonesia sendiri dirancang oleh desainer Jepang terkenal Hanae Mori. Selain itu atribut klasik diterjemahkan melalui pengoperasian armada Boeing 737-800 NG yang menggunakan classic livery.