Boeing 777X Didapuk Terbang Tahun Depan, Delapan Maskapai Dunia Sudah Tak Sabar

Setelah pesawat pertama terbang perdana pada akhir Januari lalu, disusul pesawat kedua juga sukses terbang perdana pada awal Mei lalu, prospek Boeing 777X semakin menemui titik cerah. Meskipun sempat diterpa isu miring terkait keselamatan dan keamanan pesawat akibat hadirnya fitur baru folding wingtip, di samping isu wabah Covid-19 yang mengganggu proses pengembangan pesawat, Boeing 777X kini disebut akan mulai terbang tahun depan.

Baca juga: Ditengah Keraguan Soal “Folding Wingtip,” Boeing 777X Sukses Terbang Perdana

Insideflyer.com melaporkan, Lufthansa menjadi pelanggan pertama, tak lama setelah peluncuran pesawat pesaing Airbus A350 XWB pada 2013 lalu. Selang tujuh tahun kemudian, setidaknya tujuh maskapai lainnya menyusul. Mereka adalah, All Nippon Airline (ANA), British Airways, Cathay Pacific, Emirates, Etihad Airways, Qatar Airways, dan Singapore Airlines.

Dilihat dari daftar maskapai yang sudah hampir dipastikan bakal mengoperasikan Boeing 777X, dimana mayoritas dari mereka adalah maskapai-maskapai terbaik di dunia dengan reputasi tinggi, baik dari pelayanan maupun keselamatan, hal itu tentu sejalan dengan pandangan positif pengamat tentang kehadiran pesawat ini.

Dikutip dari laman simpleflying.com, Jum’at, (31/1), dengan menawarkan kabin yang lebih luas (sekitar 5,97 meter), jendela yang 16 persen lebih besar dari kompetitor, dan desain jendela yang naik delapan persen dari pada umumnya, 777X disebut-sebut layak diperhitungkan dalam merebut hati pengunjung.

Tak hanya itu, dengan dukungan mesin baru GE9X GE Aviation, bentang sayap yang lebih luas (71.1 meter), dan dimensi yang lebih panjang (70-76 meter), juga semakin melengkapi tingkat kenyamanan dan pengalaman baru yang ditawarkan oleh interior pesawat.

Dengan desain jendela 16 persen lebih lebar, penumpang dimungkinkan untuk dapat lebih leluasa menikmati pemandangan di luar pesawat. Selain itu, desain posisinya yang sedikit lebih ke atas dari biasanya juga membuat penumpang lebih mudah melihat ke luar dan mendapatkan cahaya. Lebar kabin yang mencapai hampir enam meter juga membuat penumpang, bahkan di kelas ekonomi sekalipun, mendapatkan kenyamanan yang cukup dari segi leg room.

Hal itu kemudian dilengkapi dengan lebar tempat duduk yang hampir mencapai batas maksimal. Bila pada umumnya lebar tempat duduk 43-47 cm, 777X menawarkan tempat duduk diangka 46 persen, pada kelas ekonomi. Sangat nyaman, bukan? Kalau kelas ekonominya saja sudah nyaman, bagaiaman dengan kelas bisnisnya? Pasti lebih nyaman, bukan?

Dari kacamata bisnis atau berkaitan dengan maskapai, dimensi pesawat yang jauh lebih besar dari kompetitornya, baik dari ukuran jendela, panjang pesawat, luas kabin, dan ketinggian pesawat, membuat maskapai mempunyai banyak pilihan untuk berkreasi. Utamanya bagi para maskapai jempolan, seperti Cathay Pacific, Singapore Airlines, British Airways, ANA, Lufthansa, Emirates, dan Qatar Airways.

Sebagaimana yang sudah diberitakan sebelumnya, 777X membuat dua tipe atau model, model pertama yakni 777X-8 akan memuat sekitar 384 penumpang dan memiliki jangkauan 16.093 kilometer, dan 777X-9 akan memuat sekitar 426 penumpang, dengan daya jelajah sekitar 13.491 km. Boeing sendiri telah menawarkan desain pesawat dalam konfigurasi 2-3-2, dengan konfigurasi kelas bisnis pada kisaran 10-14 kursi. Adapun 777X-10 masih dirahasiakan dimensi dan kapasitasnya, mengikuti waktu peluncuran di kemudian hari.

Baca juga: Boeing 777X Kedua Sukses Terbang Perdana

Bagi sebagian pengamat, konfigurasi 2-3-2 kemungkinan kecil akan diterapkan oleh maskapai. Sebaliknya, mereka diprediksi akan menggunakan konfigurasi 2-4-2. Dua bangku di pinggir dan empat bangku di tengah.

Sisanya, justru mereka akan lebih meminimalkan konfigurasi pada kelas bisnis sehingga servis ke para penumpang spesialnya tersebut jadi lebih variatif dan lebih menjual serta mampu membawa cita rasa yang berbeda di masing-masing maskapai. Namun demikian, sekalipun pada konfigurasi 2-4-2 pada kelas ekonomi, dimensi pesawat yang lebih luas akan memudahkan maskapai untuk tetap memberikan kenyaman pada pelanggan kelas ekonominya tersebut.

Polemik PHK Pilot Usai! Inilah Delapan Cara British Airways Capai Win-Win Solution

British Airways (BA) dikabarkan berhasil meredam gejolak di tubuh internal mereka pasca puncak industri penerbangan hancur akibat Covid-19 pada Maret-April lalu. Diketahui, gejolak tesebut terjadi usai maskapai nasional Inggris itu mengumumkan rencana PHK 12 ribu karyawan, termasuk pilot dan pramugari.

Baca juga: Puluhan Ribu Karyawan British Airways Kena PHK Massal, Benarkah?

Atas rencana tersebut, BA bukan hanya mendapat kecaman dari karyawan, melainkan juga publik dan pejabat dari partai oposisi. Merespon hal itu, British Airways kemudian merevisi jumlah karyawan yang di PHK menjadi lebih sedikit pada Mei, namun menggantinya dengan rencana kebijakan tak kalah kejam; memotong gaji pramugari senior hingga 50 persen secara permanen, selain PHK dalam jumlah besar.

Memasuki bulan Juni, salah satu maskapai terbaik di dunia ini justru mengeluarkan ultimatum kejam, mengancam akan mem-PHK seluruh pilot dan merekrut kembali beberapa di antaranya dengan kontrak jauh di bawah rata-rata.

Tentu saja serikat pilot maskapai penerbangan Inggris (BALPA) mengecam upaya tersebut. Pasca rencana ‘jahat’ itu, BALPA dan manajemen BA terus bernegosiasi. Meskipun sempat alot, perlahan titik terang mulai muncul.

Dilansir onemileatatime.com, belum lama ini, keduanya (BALPA dan British Airways) sudah bersepakat dengan sejumlah keputusan. Keputusan tersebut pada intinya bisa dibilang dimenangkan oleh BALPA. Sebab, perusahaan akhirnya mengambil langkah 180 derajat berlawanan dari ultimatum sebelumnya (memecat seluruh pilot).

Manajemen BA diketahui kalah negosiasi dan berjanji akan mem-PHK lebih sedikit karyawan (itu pun jika terpaksa), termasuk di dalamnya pilot dan pramugari. Agar lebih jelas, berikut berbagai kesepakatan kreatif dan akomodatif atau win-win solution antara BALPA dan manajemen BA.

1. Semua pilot yang masih tersisa hanya akan dikurangi gajinya sebanyak 8 persen mulai September 2020 mendatang. Angka tersebut jauh di atas ultimatum manajemen di angka 50 persen atau lebih.

2. Setelah mendapat potongan gaji selama 8 persen mulai September 2020, semua pilot yang masih tersisa, secara bertahap, juga akan dikurangi gajinya sebanyak 8 persen hingga September 2022.

3. Realisasi kenaikan gaji pilot akan ditunda, dari sebelumnya April 2021 menjadi Januari 2024.

4. Pilot wajib mengambil cuti tanpa dibayar atau sukarela selama dua pekan, antara Agustus 2020 dan April 2021.

5. Pemotongan gaji tidak akan dilakukan secara permanen.

6. Pilot hanya diminta untuk mengundurkan diri secara sukarela. Manajemen menargetkan sebanyak 450 pilot melakukan hal itu, meskipun tak ada unsur paksaan dan perusahaan akan tetap legowo bila seluruh pilot memilih bertahan.

Baca juga: Negosiasi ‘Kejam’ ala British Airways, Mulai dari PHK Hingga Turunkan Gaji Pilot

7. Pilot yang secara terpaksa sekali harus terkena PHK, akan dijanjikan menjadi prioritas bila manajemen British Airways membuka keran lowongan karyawan (pilot) tiga tahun mendatang.

8. Manajemen BA tetap akan membayar pilot yang tak terbang, sekalipun hanya setengah gaji. Hal itu dimungkinkan karena mereka hanya menganjurkan pilot untuk mengundurkan diri. Bila tidak, pastinya mereka kelebihan pilot. Untuk mengatasi hal itu, manajemen BA akan memutar uang hasil potongan gaji karyawan untuk membayar gaji pilot tersebut.

Penumpang Tidur di Kereta dan Terkunci? Tak Hanya Indonesia, di Luar Negeri Juga Ada Lho!

Seorang penumpang kereta api listrik (KRL) tujuan Stasiun Bekasi ketiduran di dalam kereta. Penumpang ini juga tak bisa keluar dari gerbong karena pintu tertutup dan kereta saat itu bersiap menuju ke lokasi stabling atau area parkir. VP Corporate Communication PT KCI Anne Purba mengatakan, penumpang tersebut menggunakan KRL KA 1444 dari Jakarta Kota ke Bekasi dan masih berada di dalam rangkaian beberapa menit setelah tiba ditujuan.

Baca juga: Bikin Geli, Inilah Kumpulan Gaya Tidur Penumpang di Kereta Komuter Lokal

Dia menjelaskan saat itu rangkaian kereta dalam posisi aman berhenti dengan listrik tetap menyala dan pintu tertutup. Kemudian petugas yang sedang menyelesaikan administrasi perjalanan kembali mengecek kereta sebelum dijalankan ke lokasi stabling.

“Petugas kemudian membantu pengguna tersebut keluar. Pengguna juga sebelumnya menghubungi Twitter @commuterline yang segera mengkomunikasikan dengan petugas di stasiun. Pengguna kemudian menyelesaikan perjalanan di Stasiun Bekasi dengan keluar/tap out dari gate elektronik stasiun seperti pengguna lainnya,” kata Anne yang dikutip KabarPenumpang.com dari detik.com.

Namun nyatanya penumpang ketiduran di kereta tak hanya terjadi di Indonesia, tetapi di berbagai negara pun juga ada. Seperti di Israel, seorang penumpang tertidur dalam kereta Israel Railways. Penumpang ini terkunci semalaman dan tidak ditemukan petugas keamanan hingga esok paginya.

Penumpang yang tak disebutkan namanya tersebut tertidur di kereta dari Beersheva menuju ke Ashdod. Pihak Israel Railways mengatakan, petugas keamanan memeriksa secara rutin untuk memeriksa penumpang dan barang-barang tertinggal di akhir setiap perjalanan.

Namun nyatanya, saat itu mereka gagal memerhatikan sekeliling sehingga penumpang itu terkunci di dalam kereta. Penumpang tersebut menjelaskan ketika dirinya terbangun ditengah malam, kereta terkunci di Stasiun Ra’anana dan tidak dapat meminta bantuan karena ponselnya kehabisan baterai dan menunggu hingga pagi ketika seorang staf terkejut melihatnya kemudian membantunya keluar dari kereta.

Israel Railways mengatakan bahwa insiden itu sedang diselidiki. Sementara itu, staf keamanan diperintahkan untuk meninjau protokol untuk memeriksa kereta setelah mereka mencapai perhentian terakhir. Selain itu Victoria Munroe juga pernah tertidur di dalam kereta Lakeshore East ketika dirinya akan pergi ke Pickering dari Union Station.

Saat itu, dirinya tertidur dan terbangun sekitar pukul 01.30 pagi waktu setempat dan ada 16 panggilan tak terjawab dari sang kekasih. Ketika terbangun dirinya kemudian mencoba untuk keluar namun langsung menyadari bahwa pintu kereta terkunci.

“Aku duduk di kereta, sebagian ketakutan. Saya tidak punya makanan. Saya tidak tahu di mana saya berada. Saya bisa berada di mana saja di GTA. Saya tidak tahu di mana mereka memarkir kereta, “katanya.

Baca juga: Pyka, Aplikasi Unik Untuk Penumpang Yang Sering Ketiduran di Kereta

Dengan baterai ponsel terakhirnya, dia dapat menghubungi pacarnya, yang kemudian menghubungi GO Transit. Empat puluh lima menit kemudian seorang karyawan membuka kunci pintu. Monroe mengatakan cobaan itu telah menyebabkan kecemasannya yang abadi.

Lewat Mata, ‘Pintu’ Masuk Penyebaran Covid-19 Lebih Cepat

Selain menggunakan masker ternyata face shield juga sangat dibutuhkan ketika seseorang bepergian menggunakan angkutan umum atau bertemu dengan orang lain. Hal ini karena mata menjadi rute penting dalam penyebaran virus corona atau Covid-19 atau SARS-Cov-2 dan bahkan 100 kali lebih cepat dibandingkan virus SARS lainnya.

Baca juga: Singapura Bedakan Ketentuan Penggunaan Face Shiled dan Masker

KabarPenumpang.com melansir scmp.com (8/5/2020), mata menjadi tempat penularan Covid-19 ini lebih cepat setelah Universitas Hong Kong melakukan studi. Para peneliti menemukan strain tersebut hingga 100 kali lebih cepat menular dibandingkan sindrom pernapasan akut yang parah dan flu burung dalam dua lubang wajah yang diuji oleh para ahli kesehatan masyarakat.

Tes laboratorium mengungkapkan tingkat virus SARS-Cov-2 yang menyebabkan penyakit Covid-19 jauh lebih besar dari virus SARS biasa di saluran pernapasan atas dan konjungtiva dalam sel-sel yang melapisi permukaan mata. Dr Michael Chan Chi-wai yang memimpin penelitian ini memberikan bukti bahwa virus ini dapat menginfeksi manusia melalui kedua titik masuk.

“Kami membiakkan jaringan dari saluran pernapasan manusia dan mata di laboratorium dan menerapkannya untuk mempelajari SARS-Cov-2, membandingkannya dengan SARS dan H5N1. Kami menemukan bahwa SARS-Cov-2 jauh lebih efisien dalam menginfeksi konjungtiva manusia dan saluran pernapasan bagian atas daripada SARS, dengan tingkat virus sekitar 80 hingga 100 kali lebih tinggi,” kata Dr. Chan.

Dia mengatakan, ini menjelaskan transmisibilitas Covid-19 yang lebih tinggi dari SARS dan studi ini juga menyoroti fakta bahwa kemungkinan mata menjadi rute penting infeksi SARS-Cov-2 ke manusia. Adanya studi ini memperkuat saran kepada masyarakat untuk tidak menyentuh mata mereka dan mencuci tangan secara teratur untuk menghindari infeksi setelah para peneliti sebelumnya menemucan Covid-19 bisa bertahan tujuh hari pada permukaan stainless steel dan plastik.

“Meskipun ada tanda-tanda bahwa epidemi Covid-19 semakin stabil di Hong Kong, situasi di tempat lain di dunia masih serius. Masih banyak kasus baru dilaporkan setiap hari di, katakanlah, Rusia dan Eropa. Kita seharusnya tidak lengah,” ujar Dr Chan.

Temuan-temuan dari tim Dr Chan dan lainnya menantang asumsi yang dipegang secara luas pada tahap paling awal krisis kesehatan bahwa staf medis akan dilindungi secara memadai dengan masker N95 dan pakaian pelindung, tanpa memerlukan kacamata khusus. Pada tahap awal krisis Covid-19 diasumsikan bahwa tenaga medis akan cukup dilindungi dengan mengenakan masker wajah N95 dan pakaian pelindung, dan tidak memerlukan kacamata khusus.

Kemudian temuan dari Dr Chan akhirnya menantang asumsi ini. Untuk diketahui, wabah Covid-19 pertama kali terungkap pada akhir Desember setelah kasus terdeteksi di kota Cina, Wuhan. Para ilmuwan yang telah mempelajari sumber virus mengatakan bahwa itu berasal dari hewan, dan mungkin memasuki populasi manusia pada bulan November.

Baca juga: Bandara Tianhe Wuhan, Semakin Dikenal Karena Wabah Virus Corona

Dilaporkan seorang spesialis pernapasan terkenal di Universitas Peking, Dr Wang Guangfa, diduga telah terinfeksi oleh coronavirus melalui matanya. Dikatakan bahwa pada akhir Januari, Dr Wang menunjukkan gejala demam dan radang selaput jantung sekitar tiga jam setelah ia menderita konjungtivitis di satu mata sekembalinya dari Wuhan. Dia kemudian dikonfirmasi memiliki Covid-19.

Enam Pramugari Curhat Delapan Hal Soal Lika-Liku Kerja Saat Covid-19, Nomor Lima Bikin Naik Darah!

Industri penerbangan luluh lantak diterjang wabah Covid-19. Jutaan pekerja di sektor tersebut merana akibat gelombang PHK. Hal itu (PHK) mungkin bukan yang terbaik bagi mereka, namun, bila tidak dilakukan, akan ada lebih banyak gelombang PHK bersamaan dengan bangkrutnya perusahaan.

Baca juga: Awak Kabin American Airlines Meninggal di Pesawat, Gegara Corona?

Bagi yang tidak terkena PHK, khususnya pramugari, bukan berarti mereka bekerja dengan nyaman dan sejahtera. Sebagai contoh, belum lama ini, enam pramugari dari tiga maskapai besar di Amerika Serikat (AS) curhat kepada wartawan. Tentu saja dengan menyembunyikan identitas keenamnya atau mereka akan menghadapi konsekuensi terburuk. Dilansir Insider, berikut curhatan enam pramugari.

1. Diperlakukan seolah seperti pembuluh penyakit (sumber penyakit)

Banyak orang melihat profesi pramugari dari sisi glomouritasnya saja. Padahal dibalik itu, terutama saat pandemi corona seperti sekarang, mereka diperlakukan dengan tidak proporsional. Bahkan, salah satu dari enam pramugari menyebut mereka diperlakukan seperti pembuluh penyakit, dengan tindakan diskriminasi dari orang sekitar, teman kantor, teman main, bahkan keluarga. Kejadian tersebut mirip-mirip dengan perlakuan warga terhadap petugas medis.

2. Takut terdampar di kota-kota aneh

Dengan banyaknya pembatalan atau cancel flight di sana sini, pramugari (juga para petugas on board lainnya) sangat berisiko tertahan -bila tak ingin disebut telantar- di kota-kota aneh. Aneh dalam artian memiliki angka kasus corona yang tinggi. Tak ayal, sebelum berangkat, mereka selalu menyiapkan pakaian dalam jumlah banyak, serta tentu saja uang, berjaga-jaga bila tidak mendapatkan tunjangan.

3. Gaji tak dibayar

Dalam kondisi serba sulit, perusahaan melakukan langkah strategis, salah satunya PHK. Bila tak cukup, salah satu opsi lain yang diambil adalah menunda gaji karyawan. Pramugari salah satunya. Padahal, sebagai lini serang perusahaan, mereka bekerja bertahur nyawa.

4. Khawatir terpapar corona

Melakukan kontak langsung dengan banyak orang tentu menjadikan mereka (pramugari) rentan terpapar corona. Fakta membuktikan, sudah banyak kasus pramugari positif terpapar corona dan berujung kematian. Meskipun tetap memakai APD, tetap saja ta menghilangkan bahaya. Buktinya, petugas medis yang memakai APD lengkap, tetap banyak yang terpapar corona dan meninggal. Apalagi mereka, yang tidak memakai APD lengkap?

5. APD tak disediakan perusahaan

Sederet peraturan dikeluarkan perusahaan untuk memulihkan kepercayaan publik dalam menggunakan transportasi udara. Salah satunya pramugari dibekali dengan APD, seperti masker, face shield, sarung tangan, dan hand sanitizer; bahkan beberapa perusahaan melengkapinya dengan hazmat dan sepatu boots. Namun, dibalik itu, ternyata, mereka terkadang harus menyiapkannya sendiri tanpa bisa direimburs.

Association of Flight Attendants, salah satu serikat pramugari terbesar di dunia dengan membawahi sebanyak 50 ribu anggota (pramugari) dari 20 maskapai sudah menempuh beberapa langkah untuk mengurai masalah ini.

6. Tak dikarantina

Normalnya, sepulang bepergian dari zona merah, dalam dan luar negeri, mereka diharuskan untuk mengkarantina diri atau dikarantina oleh otoritas. Namun, karena satu dan lain hal, mereka justru dilarang untuk terlibat dalam proses tersebut oleh maskapai masing-masing. Kelonggaran dari pihak otoritas juga berperan dalam hal ini.

Baca juga: Dengan Dalih Risiko Tertular Covid-19! Qatar Airways Hapuskan Hak Layover Pramugari di Penerbangan Jarak Jauh

7. Masih banyak penumpang tak patuhi protokol kesehatan

Di tengah tingginya kasus corona di dunia, terutama di AS, pramugari masih saja dihadapi dengan banyaknya penumpang yang tak patuh dengan protokol Covid-19; bukan tak memakai masker -sebab mereka tentu saja tak bisa masuk bandara bila melakukannya- namun melepaskannya selama dalam penerbangan. Padahal itu terlarang. Banyak contoh lainnya dimana mereka melanggar protokol Covid-19.

8. Mengkomparasikan dengan peristiwa 9/11

Peristiwa 9/11 membuat seluruh tindak-tanduk masyarakat diliputi kecemasan. Semua orang tegang dalam menjalani aktivitas. Tak ada senyum dan interaksi. Mereka takut. Tentu semua warga AS tak ingin mengalaminya lagi. Faktanya, mereka mau tak mau harus menjalaninya lagi, termasuk pramugari.

200 Awak Kabin Air India Kena PHK dan 50 Pilot Ditolak Pengunduran Dirinya

Sebanyak 200 orang awak kabin yang baru-baru ini dilantik berdasarkan kontrak telah diberhentikan oleh Air India. Para awak kabin ini diberhentikan karena Covid-19 yang menyebabkan penangguhan penerbangan domestik dan internasional sejak akhir Maret yang berdampak buruk pada penerbangan sipil.

Baca juga: Berhentikan 400 Pilot dan Ribuan Awak Kabin, Emirates Lakukan PHK Gelombang Kedua

Tak hanya itu, 50 pilot Air India melakukan pengunduran diri tetapi ditolak oleh manajemen maskapai nasional tersebut. KabarPenumpang.com melansir laman hindustantimes.com (11/7/2020), keputusan ditolaknya surat pengunduran diri dari 50 pilot tersebut diambil setelah manajemen Air India bertemu dengan perwakilan serikat pilot pada 8 Juli 2020 kemarin.

Hal ini kemudian membuat seorang pilot senior mengatakan, manajemen perlu melihat karyawan dengan belas kasihan di tengah masa sulit ini. Bahkan Asosiasi Pilot Komersial India (ICPA) juga mempertanyakan otoritas Air India terkait langkah-langkah yang telah mereka ambil itu.

Atas hal ini, pada 6 Juli 2020, serikat pekerja menulis surat kepada Rajiv Bansal yang merupakan direktur sementara dan sekaligus menjabat direktur pelaksana, di mana mereka mendesak manajemen untuk memastikan bahwa presentase tetap dipotong dari gaji karyawan berdasarkan pendapatan serta menerapkan cuti bulanan tanpa gaji untuk semua staf karena operasional terputus akibat Covid-19. Mereka juga menuntut agar 25 persen dari gaji mereka yang tertunda segera dihapus dan mereka diizinkan untuk keluar dari pekerjaan dengan segera jika cuti bulanan tanpa gaji tidak diterapkan untuk semua karyawan.

Menurut salah seorang pejabat senior Air India, pemutusan hak kerja atau PHK merupakan normal baru karena pandemi telah meningkatkan kesengsaraan pada maskapai tersebut. Pejabat tersebut menambahkan, surat dari serikat pekerja itu bahkan menggerakkan berbagai hal di mana para kepala departemen telah gagal mengatasi situasi dan membela para karyawan yang telah dipecat.

“Krisis semakin dalam, karena sejumlah penerbangan beroperasi di tengah pandemi. Manajemen perlu mempelajari departemen-departemen yang tidak beroperasi dan beroperasi serta mengurangi tenaga kerja di tengah-tengah krisis keuangan yang akut,” kata seorang pensiunan pejabat Air India.

Baca juga: Puluhan Ribu Karyawan British Airways Kena PHK Massal, Benarkah?

Karena hal ini, juru bicara Air India menolak untuk mengomentari perselisihan yang terjadi antara karyawan dan manajemen.

“Ini adalah masalah internal yang tidak ingin kami berikan komentar,” katanya

Dear Penumpang Kereta Komuter, Ilmuan Jepang Beberkan Cara Cegah Corona di Gerbong Loh

Ilmuan Jepang membeberkan cara mencegah penularan virus corona di kereta. Kita tahu, dalam penelitian ilmuan Jepang lainnya, virus Corona terbukti bisa menyebar di kereta. Tak hanya itu, posisi penumpang kereta yang paling besar kemungkinan tepapar Covid-19 juga diungkap, yakni di bagian pintu kereta komuter dan kereta api.

Baca juga: Area Dekat Pintu Kereta Komuter, Jadi Lokasi Potensi Terbesar Penularan Virus Corona

Kantor berita Japan Times melaporkan, studi baru-baru ini tentang pencegahan penularan virus corona di dalam kereta itu dilakukan oleh raksasa riset Jepang, Riken, dengan bantuan superkomputer tercepat di dunia, Fugaku. Fugaku berperan dalam mensimulasikan penyebaran virus corona di udara di berbagai tempat, termasuk kereta.

Tak hanya itu, Fugaku juga membantu ilmuan dalam memberikan beberapa rekomendasi upaya pencegahan terbaik dalam memutus mata rantai penularan virus corona di dalam kereta.

Makoto Tsubokura, peneliti utama dalam studi tersebut, mengatakan bahwa membuka jendela kereta komuter dinilai menjadi cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan corona. Selain dapat meningkatkan aliran udara dua hingga tiga kali lipat, membuka jendela kereta komuter dinilai jadi solusi terbaik karena bisa menurunkan kerumunan mikroba di sekitar kabin.

Guna mendukung hal itu, Makoto meningatkan pentingnya ruang di antara penumpang atau physical distancing atau bisa juga pembatasan penumpang dalam setiap gerbong. Sebab, simulasi superkomputer tercepat di dunia, Fugaku, membuktikan, kondisi aman dengan ventilasi terbuka dan pembatasan penumpang di setiap gerbong berubah drastis Ketika kereta komuter dipadati penumpang.

Tak lama setelah penemuan tersebut, otoritas Jepang langsung menerapkan pembatasan penumpang dengan ketat dan membuka ventilasi atau jendela terbuka, selain protokol Kesehatan lainnya yang sudah lumrah, memakai masker, mencuci tangan, tak berbicara selam di kereta, dan tak menyentuh area wajah dengan tangan sebelum mencucinya.

Atas upaya tersebut, serta upaya-upaya lainnya mencegah penularan virus corona di moda transportasi umum dan ruang publik, saat ini, Jepang bisa dibilang berhasil menjinakkan wabah yang diduga berasal dari Wuhan itu, dengan 19 ribu kasus positif corona dan 977 kematian.

Baca juga: BlueFilter, Teknologi Penyaring Virus dan Bakteri di Gerbong Kereta Api

“Di Jepang, gugus tugas penanggulangan Covid-19 bersikeras untuk konsisten dengan 3C,” kata Tanabe, seorang profesor di Universitas Waseda di Tokyo, merujuk pada kampanye publik Jepang untuk melakukan 3C, closed spaces atau menghindari ruang tetutup, crowded places atau menghindari keramaian, dan close-contact settings atau menghindari kontak langsung dalam jarak dekat.

Selain menemukan cara pencegahan terbaik di kereta komuter, superkomputer Fugaku juga menemukan upaya pencegahan terbaik di tempat-tempat lainnya, seperti memasang sekat partisi di perkantoran dan ruang kelas, serta memasang tirai hingga menyentuh langit-langit di rumah sakit.

Awak Kabin American Airlines Meninggal di Pesawat, Gegara Corona?

Seorang pramugara American Airlines, Joseph ‘Joe’ Tormes, dikabarkan tewas mendadak saat tengah bertugas. Tak dijelaskan dengan persis bagaimana kronologi dan apa penyebabnya. Namun, sempat beredar kabar bahwa Joe meninggal akibat wabah Corona yang masih menggila di Amerika Serikat (AS).

Baca juga: Ahli Sebut Kabin Pesawat Tak Aman Cegah Corona! Video Ini Jadi Salah Satu Buktinya

Fox News melaporkan, pramugara yang telah mengabdi selama 20 tahun di American Airlines tersebut sebelumnya dalam kondisi sehat. Dalam penerbangan sebelum ajal menjemputnya itu, istrinya diketahui juga ikut menemaninya.

Tak ayal, kematian mendadak Joe di pesawat pun menimbulkan pertanyaan besar mengingat angka kasus kematian akibat Covid-19 di dunia masih terus meningkat, tak terkecuali dengan AS. Sudah begitu, peristiwa meninggalnya Joe di pesawat secara tiba-tiba juga tak lama selang Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan penularan virus corona lewat airborne atau melalui udara.

Pasalnya, dalam sebuah penelitian, sistem filter udara di pesawat disebut tak membebaskan kabin penumpang dari ancaman wabah corona. Bahkan, filter HEPA atau High Efficiency Particulate Arresting yang selalu dibanggakan maskapai dalam mencegah penyebaran virus di pesawat terbukti tak sepenuhnya bisa diandalkan.

Boeing dan Airbus sendiri, selaku produsen pesawat terbesar di dunia, sejak akhir Mei lalu tengah bekerjasama mencari tahu tingkat keamanan pesawat dalam mencegah penyebaran virus corona. Sampai saat ini, keduanya belum merilis lebih lanjut perkembangan terakhir. Itu artinya, ancaman virus corona di pesawat belum sepenuhnya hilang.

Seolah membuktikan ancaman langsung wabah corona di pesawat, pada akhir Maret dan akhir Mei lalu kasus penumpang positif terpapar virus corona di pesawat dan sehabis terlibat dalam penerbangan juga terjadi.

Kembali ke kasus kematian pramugari American Airlines, sekalipun pihak perusahaan tak mengabarkan dengan rinci kronologi kematian pramugara berusia 61 tahun tersebut dan apa penyebab kematiannya, namun, sebuah sumber mengatakan bahwa Joe Tormes meninggal akibat serangan jantung.

“Kami tahu, banyak di antara kalian yang pernah bekerja dengan Joe dan pasti akan merindukan Joe. Rasa duka kami begitu mendalam untuk sang istri, Jett dan juga putra mereka Brandon. Rasa cinta kami sampaikan kepada siapapun yang mengenal dan pernah bekerja dengan Joe,” kata juru bicara American Airlines dalam keterangan tertulis.

Pesawat yang mengangkut Joe beserta istrinya itu akhirnya kembali lagi ke Bandara Internasional Lambert di St.Louis pada Minggu (5/7) pagi waktu setempat, untuk menurunkan jenazah Joe.

Pesawat kemudian terbang lagi melanjutkan perjalanan ke Bandara Internasional Dallas Fort Worth pada siang harinya, dengan kru kabin yang baru.

Baca juga: Ahli Virologi Ini Yakin Tertular Corona Lewat Mata dalam Penerbangan yang Penuh Sesak

“Kami akan bekerja dan berhubungan langsung dengan keluarga Joe untuk mendukung apa yang mereka butuhkan,” pungkas pihak American Airlines.

Joe tentu bukan satu-satunya, sebelumnya, pada awal Januari tahun lalu, seorang pramugari juga pernah meninggal saat dalam penerbangan. Sama seperti Joe, pramugari tewas saat pesawat di udara itu dikabarkan meninggal karena serangan jantung.

Jangan Lupa Cuci Tangan Selesai Bersihkan Ruang Pribadi di Kabin Pesawat

Semua penumpang tahu bahwa beberapa tempat di kabin pesawat menjadi sarang virus dan bakteri. Hal tersebut karena kabin pesawat tidak selalu dibersihkan sebab padatnya penerbangan dan waktu yang singkat ketika tiba di tujuan bila awak kabin harus membersihkan secara penuh.

Baca juga: Pakai Kostum Hazmat di Bandara, Naomi Campbell Lagi-lagi Viral di Instagram

Kemudian hal ini membuat banyak penumpang yang melakukan pembersihan kursi mereka sendiri saat tiba di dalam pesawat. Mereka menggunakan tisu antibakteri untuk menyeka meja baki, layar monitor, sandaran kepala dan tangan, sabuk pengaman dan beberapa lainnya. Ini seperti Naomi Campbell yang memvideokan dirinya tengah membersihkan ruang pribadi di dalam kabin pesawat yang ditumpanginya.

Apalagi saat ini pandemi Covid-19 tengah merebak di berbagai belahan dunia dan banyak orang yang berpikir keamanan kesehatan mereka ketika terbang dengan pesawat. Semenjak adanya pandemi ini, maskapai penerbangan mulai melakukan pembersihan disemua bagian pesawat dengan dan beberapa diantaranya melakukan penyemprotan desinfektan.

Meski maskapai melakukan pembersihan, penumpang juga tidak ada salahnya untuk membersihkan ruang pribadi mereka dan mencuci tangan setelahnya. Aaron Milstone, ahli epidemologi di rumah sakit Johns Hopkins mengatakan, pesawat dan kursi didalamnya adalah ruang publik dan kuman dapat hidup dipermukaan dalam waktu lama sehingga tidak ada salahnya untuk dibersihan secara pribadi.

Andrew Mehle, profesor microbiology medis dan imunologi di University of Wisconsin Madison mengatakan, menyeka permukaan kursi di pesawat tidak sakit dan menekankan bahwa ketika penumpang mensanitasi ruang pribadinya di pesawat harus bersamaan dengan mencuci tangan atau pencegahan lainnya. Dirangkum KabarPenumpang.com dari nytimes.com, Milestone mengatakan, ketika tiba di kursi tidak buruk membersihkan area sekitar dan harus hati-hati ketika menyentuh wajah.

Sehingga baiknya tak perlu terlalu sering menyentuh wajah ketika berada di pesawat. Dia mengatakan, tisu dengan desinfektan pun bekerja tidak secara langsung, sehingga penumpang harus melihat pada kemasan waktu yang tepat. Biasanya berkisar 30 detik hingga beberapa menit agar desinfektan pada tisu bisa bekerja.

Vicki Stover Hertzberg, seorang profesor di Sekolah Perawat Universitas Emory mengatakan, jika layar monitor di kursi penumpang merupakan layar sentuh, baiknya gunakan tisu untuk menyentuhnya. Ini agar ada penghalang Anda dengan permukaan yang mungkin terdapat tetesan dari orang terinfeksi Covid-19.

Baca juga: Khawatir Covid-19, Pria Ini dengan ‘PD-nya’ Gunakan Kostum Dinosaurus di Bandara Miami

“Seseorang yang sakit dan batuk mungkin menyentuh pintu dan keran, jadi gunakan tisu di kamar mandi lalu gunakan tisu untuk membuka pintu dan untuk menutup keran kemudian membuang yang ada di tempat sampah saat keluar,” kata Bernard Camins, direktur medis untuk pencegahan infeksi di Sistem Kesehatan Mount Sinai.

Mau Naik Bus Tingkat, Sebaiknya Pilih Duduk di Atas atau di Bawah?

Bus double decker atau bus tingkat di era kehidupan baru atau new normal sepertinya bisa menjadi salah satu pilihan untuk bepergian. Meski isi penumpangnya lebih banyak tetapi penumpang bisa memiliki pengalaman baru.

Baca juga: Mau Naik Bus Tingkat AKAP? Inilah Posisi Tempat Duduk yang Nyaman

Tapi saat ini kapasitas bus pun tidak akan seperti biasanya yakni sekitar 70 persen dari ketersediaan. Nah beberapa waktu lalu KabarPenumpang.com menulis tentang spot nyaman di bus double deck, kali ini akan bahas lebih nyaman duduk dikursi bagian atas atau di bawah.

Sebenarnya duduk di kursi bagian atas atau bawah bus pun ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Untuk penumpang yang senang dengan pemandangan duduk di kursi atas adalah pilihan yang tepat.

Sebab penumpang yang duduk di atas memiliki posisi yang lebih tinggi sehingga bisa lebih puas melihat pemandangan secara luas. Tapi meski begitu sinar matahari yang masuk melalui jendela membuat silau dan ini menjadi kekurangannya.

Kalau memang mau memilih duduk di atas dan mengurangi silau pilih perjalanan malam. Biasanya perjalanan ini akan sampai di pagi hari dan penumpang bisa melihat pemandangan ketika membuka mata.

Sedangkan pilihan duduk di bawah yang notabene kelasnya lebih tinggi dari kursi atas, dipilih penumpang untuk beristirahat dan tidur. Selain posisi rendah dan sejajar kendaraan lain, pemandangan terhalang dan penumpang benar-benar bisa istirahat.

Namun semua itu pilihan para penumpang baik duduk di atas maupun duduk di bawah. Kalau sebelumnya yang pernah ditulis pun tak jauh berbeda. Di mana kursi atas paling depan menjadi pilihan untuk penumpang yang suka dengan pemandangan.

Sedangkan kursi lorong bisa menjadi pilihan penumpang yang sering kali ke toilet dan kursi belakang agar penumpang bisa mendapatkan tempat yang nyaman berisitirahat. Kursi sejajar televisi menjadi pilihan untuk penumpang yang suka dengan hiburan yang ditampilkan baik lagu atau film.

Baca juga: Odong-Odong Keren (Oren), Double Decker Khas Depok

Sedangkan kursi bagian bawah yang dikatakan kursi premium, sebab penumpang akan disuguhkan fasilitas yang berbeda dari penumpang atas. Selain itu pilihan kursi di deck bawah dipandang lebih pas bagi Anda yang sering mabuk darat.