Dear Boeing Lovers, Qantas Lakukan Penerbangan Penumpang Terakhir Boeing 747-400 Sebelum Pensiun! Catat Tanggalnya

Qantas belum lama ini berencana melakukan penerbangan terakhir atau penerbangan perpisahan bersama jet ikonik mereka, Boeing 747-400. Penerbangan perpisahan pesawat yang telah hampir 50 tahun menemani Qantas itu akan dilakukan pada pertengahan Juli ini sebelum akhirnya pensiun di akhir bulan.

Baca juga: Sejarah Panjang, 50 Tahun Boeing 747 Bersama Qantas

Dilansir news.com.au, farewell flight Boeing 747-400 Qantas dibanderol dengan harga unik, menyerupai jenis dan seri pesawat. Tiket penerbangan perpisahan Boeing 747-400 Qantas, untuk kelas bisnis, dijual dengan harga $747 atau sekitar Rp10,8 juta (kurs 14.720). Adapun kelas ekonomi dijual $400 atau Rp5,8 juta (kurs 14.720). Dengan begitu, menyerupai jenis dan seri pesawat, 747-400. Unik, bukan?

Akan tetapi, dari banyak kota di Australia, farewell flight Qantas Bersama Boeing 747-400 hanya tersedia di tiga kota, Sydney pada 13 Juli, Brisbane pada 15 Juli, dan Canberra pada 17 Juli. Selain (keberangkatan) terbatas di tiga kota itu saja, Qantas juga membatasi jumlah penumpang di setiap penerbangan. Tujuannya, agar penumpang memiliki ruang dan pemandangan ekstra.

Menariknya, keuntungan dari tiga penerbangan perpisahan itu bukan untuk membiaya operasional Qantas -mengingat perusahaan tengah dalam kesulitan akibat wabah corona- melainkan akan disumbangkan ke museum HARS Aviation dekat Wollongong, New South Wales, dan Qantas Founders Museum di Longreach, Queensland, yang keduanya menyimpan pesawat berjuluk Queen of the Skies tersebut.

Kapten armada Boeing 747 Qantas, Owen Weaver, menyebut farewell flight di tiga kota itu terwujud berkat dorongan serta minat besar masyarakat terhadap pesawat setelah ribuan jam terbang.

“Ketiga penerbangan ini akan menawarkan kesempatan terakhir untuk terbang menggunakan Qantas 747 sebelum pensiun, dengan beberapa dari para penerbang dan penggemar penerbangan kita yang menyukai pesawat, setelah menghabiskan ribuan jam di atas pesawat selama bertahun-tahun,” ujarnya.

Bagi Boeing 747 lovers yang tak kebagian seat, menikmati farewell flight Qantas pertengahan Juli ini, mereka masih bisa menikmati momen terakhir Boeing 747-400 Qantas mengarungi langit Australia pada pukul 14.00, 22 Juli mendatang.

Baca juga: 3 Desember 2019, Boeing 747-400 Qantas Lakukan Penerbangan Trans Pasifik Terakhir

Pesawat 747-400 terakhir Qantas itu akan lepas landas dari Sydney sebagai penerbangan QF7474. Meskipun tak disebutkan rute akhir penerbangan itu, kuat dugaan, pesawat akan menuju Gurun Mojave, Southern California, Amerika Serikat (AS), tempat pesawat kedua terakhir Qantas 747-400 digrounded.

“Ada banyak nostalgia dan kasih sayang yang terkait dengan 747 kami dan bagi mereka yang tak bisa menikmati farewell flight, mereka setidaknya akan dapat melihat sekilas pesawat saat terbang di langit Australia untuk terakhir kalinya,” Owen menambahkan.

Dugaan Suap Jadi Alasan Garuda Indonesia Tunda Kedatangan Empat Pesawat Airbus A330Neo

Dugaan suap menjadi alasan maskapai pelat merah, Garuda Indonesia, menunda kedatangan empat pesawat Airbus. Meski tak menyebutkan dengan jelas empat pesawat yang ditunda, dari catatan backlog Airbus, Garuda Indonesia masih memiliki sembilan A330Neo yang belum dikirim.

Baca juga: Walau Miliki Utang Segunung, Dua Kombinasi Finansial Bikin Garuda Indonesia ‘Bernapas’ Lega Sementara Waktu

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan dugaan suap yang terjadi bukan hanya menyangkut Indonesia, melainkan ada beberapa negara lainnya. Dirunut ke belakang, pernyataan Irfan memang sangat berdasar.

Pada Jumat, 31 Januari 2020 lalu, Jaksa Penuntut di Perancis, Jean-Francois Bohnert, mengatakan Airbus telah menyerahkan uang gelap melalui dua anak perusahaannya yang dikendalikan secara diam-diam. Uang suap itu digunakan untuk mendorong bisnisnya di 16 negara.

Dari 16 negara itu, tak disebutkan dengan jelas negara mana saja. Namun santer disebut, Airbus memberi suap ke Sri Lanka, Malaysia, Taiwan, Ghana, dan Indonesia; termasuk berbagai persoalan di tiga negara, Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat (AS). Dalam catatan Irfan, persoalan di ketiga negara tersebut sudah diselesaikan dimana Airbus membayar total 3,6 miliar Euro.

“Airbus sudah bayar 3,6 miliar Euro ke tiga negara. Amerika Serikat, Perancis, dan Inggris,” ungkapnya dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, Selasa (14/7).

Terinspirasi dari upaya tuntutan yang dilakukan ketiga negara tersebut, Irfan menyebut pihaknya juga akan menuntut Airbus atas dugaan kasus pengadaan pesawat.

Kasus pengadaan pesawat tersebut diketahui sudah terjadi sejak 2011-2015 lalu, sebagai bagian dari perbuatan melawan hukum Airbus dalam mempertahankan bisnis di 16 negara (seperti yang telah disebutkan di atas), dimana Airbus terlibat memberi suap untuk memuluskan pembelian pesawat.

Suap kepada pejabat di Indonesia diduga diterima oleh mantan Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar. Pada 8 Mei 2020, Emirsyah dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi dan pidana pencucian uang. Untuk itu, GIAA telah menyiapkan beberapa strategi dalam upaya menuntut Airbus secara hukum.

“Kami lagi proses litigasi minta ganti kerugian lewat pemerintah Inggris dengan bantuan Kemenkumham menyampaikan surat. Memang harus diakui Airbus ada proses bribery tidak fair waktu belinya,” jelasnya.

Akan tetapi, terlepas dari dugaan suap dibalik penundaan pesawat Airbus kepada Garuda Indonesia, dari sisi bisnis, perusahaan memang sudah tak lagi menampung datangnya pesawat baru, mengingat Garuda mengalami penurunan volume penumpang hingga 90 persen.

Baca juga: Dirut Garuda Indonesia: “Tidak Ada PHK Massal di Tengah ‘Badai’ Virus Corona”

Di samping itu, lemahnya kinerja keuangan juga membuat Garuda Indonesia terpaksa harus merestrukturisasi leasing pesawat -selain menunda pembayaran hutang jatuh tempo- dengan mencari leasing yang menawarkan harga lebih murah, memperpanjang periode peminjaman, hingga mengakhiri kontra yang tidak cocok.

Saat ini, 12 lessor dikabarkan sudah setuju perihal restrukturisasi, enam menolak, dan 13 lessor lainnya masih dalam proses negosiasi. Selain menunda kedatangan empat pesawat Airbus, Garuda Indonesia juga menunda kedatangan 49 Boeing 737 Max series.

Di 2030, MRT Singapura Perpanjang Jaringan Hingga 360 Km, Bagaimana dengan MRT Jakarta?

Apakah akan ada perluasan jaringan Mass Rapid Transit (MRT)? Sepertinya iya dan virus corona atau Covid-19 yang tengah menjadi pandemi saat ini tak menghalangi rencana tersebut. MRT di Singapura misalnya, mereka akan memperluas jaringannya hingga 360 km pada awal tahun 2030-an.

Baca juga: Di 2030, MRT Jakarta Bakal Mengular Sepanjang 230 KM di Jabodetabek

Hal tersebut bahkan dikatakan langsung oleh Menteri Transportasi Singapura Khaw Boon Wan pada 22 Juni 2020. Dia mengatakan, Singapura tetap berpegang teguh dengan rencana perluasan MRT mereka ke 360 km tersebut. Khaw mengaku, perluasan ini akan ada beberapa penundaan karena pandemi Covid-19 yang mempengaruhi ketersediaan pekerja konstruksi.

“Rencana kami adalah memperluas jaringan MRT menjadi 360 km pada awal 2030-an. Kami berpegang teguh pada rencana ini. Akan ada beberapa penundaan karena dampak yang diinduksi Covid-19 pada ketersediaan pekerja konstruksi. Tetapi niat untuk memperluas jaringan MRT kami secara signifikan tetap tidak berubah,” kata Khaw yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman channelnewsasia.com (22/6/2020).

Khaw mengakui ,meski Covid-19 mengganggu permintaan transportasi umum, namun dampaknya hanya sementara. Dia mengatakan, bila pandemi berlalu maka permintaan untuk angkutan umum akan kembali pulih dan saat ini layanan kereta api di Singapura sendiri sudah pulih sekitar 40 persen.

Nah, jika Singapura akan memperluas jaringan hingga 360 km di tahun 2030, bagaimana dengan Indonesia? Ternyata Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta di tahun 2030 akan melakukan pembangungan jalur sepanjang 230 km.

Perluasan jaringan yang dikembangkan ini akan melingkupi wilayah Jabodetabek. Pada Juli 2019 lalu, Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar menjelaskan, untuk pembangunan jalur MRT sepanjang 230 km akan dilakukan dengan pendekatan paralel atau secara bertahap dan berkelanjutan.

Di mana nantinya jalur sepanjang 230 km ini ada MRT line 1 hingga 10 dan tengah dibantu konsultasinya dengan pihak Jepang. William mengatakan, tujuan dari proyek ini adalah untuk mengembangkan fungsi institusi administratif dari sistem transportasi perkotaan dengan mempromosikan pengembangan kapasitas dan kerjasama antara organisasi terkait transportasi perkotaan di Jabodetabek dalam rangka pengembangan sistem transportasi umum perkotaan.

Baca juga: Manajer Stasiun SMRT Baik Hati, Penumpang Diberi $100

Meski begitu, rute ini masih dalam bentuk kajian dan belum ada dasar hukum yang menetapkan hasil kajian menjadi landasan pembangunan MRT tahap selanjutnya. Untuk diketahui berikut daftar 10 line MRT Jakarta yang mencakup target pembangunan 230 km jalur baru hingga 2030 mendatang, Lebak Bulus-Ancol Barat, Cikarang-Balaraja, Bandara Soetta-Kampung Bandan, Cilincing-Lebak Bulus, Karawaci-Senayan-Cawang-Cikarang, Lebak Bulus-Rawa Buntu-Karawaci, Bekasi Utara-Bekasi Selatan, Pluit-Grogol-Kuningan-Depok, Outer loopline dan Inner loopline.

Optimus Ride, Kendaraan Self-Driving untuk Pengiriman Makanan dan Barang

Optimus Ride yang merupakan kendaraan self-driving yang kini digunakan untuk menyediakan pengirimanan makanan dan paket ke rumah lebih dari 500 penduduk Paradise Valles Estates (PVE). Awalnya kendaraan yang berbasis di Boston ini digunakan untuk komunitas rencana kehidupan nirlaba di PVE yang memiliki luas 76 acre atau seluas 307.506 meter persegi.

Baca juga: Kembangkan Self-Driving Pod Sejak 2016, Yamaha Motor dan Sony Siap Rilis Dalam Waktu Dekat

PVE sendiri merupakan lokasi penyebaran kendaraan self-driving ketika kemitraan tersebut dibentuk tahun lalu. Sayangnya rencana itu baru saja mendekati penyelesaian tahan pertama penyebaran untuk layanan mobilitas point-to-point dalam komunitas. Kemudian ditunda saat PVE memperkenalkan kebijakan untuk tinggal dirumah pada 18 Maret yang secara efektif menutup area umum seperti ruang makan, kafe dan kantor pos pusat sebagai pencegahan virus corona.

Dilansir KabarPenumpang.com dari food-management.com (9/7/2020), akhirnya tim makan PVE meluncurkan program pengiriman makanan untuk 500 lebih penduduk komunitas yang mana semuanya berusia 60 tahun keatas. Pengiriman makanan tersebut menggunakan armada kereta golf PVE yang kemudian dilengkapi dengan kendaraan Optimus Ride.

“Keuntungan utama adalah menyediakan pengiriman makanan yang aman kepada populasi yang rentan dengan tidak memaparkan mereka pada risiko berkumpul di ruang tertutup, tertutup dengan penduduk lain dan anggota staf,” kata CEO Optimus Ryan Chin.

Chin mengatakan, kendaraan tersebut melakukan pengiriman makan malam pertama sejak penutupan untuk mencegah virus corona. Sekali pengantaran ada 50 hingga 80 makanan yang juga menyediakan pengiriman paket dari layanan Amazon, UPS dan DHL. Optimus Ride telah mengujicoba layanan pengiriman yang melibatkan resep obat di daerah Boston selama lebih dari setahun sebelum memperkenalkan kendaraannya ke PVE pada November 2019 menyusul saran dari seorang penduduk yang telah melihat artikel tentang penyebarannya di Komunitas Pensiun Fairing Way di Boston.

Untuk diketahui, konversi ke pengiriman makanan hanya memerlukan sedikit modifikasi pada kursi kendaraan untuk mengakomodasi tempat sampah yang akan memudahkan penumpukan dan pengamanan paket. Perusahaan mengatakan sedang menjajaki platform kendaraan baru yang memungkinkan tiga mode yang berbeda yakni hanya pengiriman, hanya penumpang dan versi yang dapat disesuaikan yang dapat mengakomodasi kedua fungsi.

Optimus Ride saat ini mengoperasikan dua kendaraan di PVE yang mengantarkan makan malam Senin hingga Sabtu antara pukul 16.00 hingga 18.00 waktu setempat di mana staf dapur yang biasanya mengoperasikan layanan makan menyiapkan dan mengemas makanan, yang kemudian ditransfer ke kendaraan Optimus Ride yang diparkir di sebelah area dapur. Seorang anggota staf naik dengan makanan dan mengantarkan mereka dari kendaraan ke pintu depan setiap penduduk, membunyikan bel pintu dan kemudian berjalan pergi untuk memastikan jarak sosial yang aman sambil menunggu pickup.

Setelah selesai, kendaraan dan anggota staf pindah ke titik pengiriman berikutnya. Saat ini, PVE adalah satu-satunya komunitas rencana kehidupan di mana kendaraan Optimus Ride digunakan untuk pengiriman makanan, tetapi perusahaan tersebut meluncurkan layanan serupa di Washington, DC pada 28 Mei dengan perusahaan pengembangan real estat Brookfield Properties, The Yards, untuk melayani keluarga area yang berjuang dengan makanan ketidakamanan.

Mereka juga telah menjajaki opsi pengiriman makanan di taman industri Brooklyn Navy Yard seluas 300 hektar di New York City. Faktanya, pengiriman, bukan hanya makanan tetapi barang-barang lainnya, dipandang sebagai area pertumbuhan bagi perusahaan, yang berakar pada penelitian robotika di Institut Teknologi Massachusetts dan ekosistem robotika Boston yang dinamis.

“Kami melihat permintaan untuk logistik dari semua jenis makanan siap saji, bahan makanan, peralatan medis, obat-obatan, dan lainnya tumbuh secara signifikan. Optimus telah mempersiapkan dan siap untuk menghadapi vertikal pasar baru ini,” kata Chin.

Baca juga: Antara Fakta dan Mitos Pada Penerapan Mobil Otonom

Perusahaan mengatakan berencana untuk melanjutkan layanan pengiriman ke penduduk PVE selama diperlukan. Ketika ruang makan kampus dan area umum dapat dibuka kembali dengan aman, akses penumpang diharapkan untuk dilanjutkan, dengan tujuan akhirnya memperluas layanan ke seluruh kampus.

Keren, Denmark Luncurkan Paspor Digital Covid-19, Seperti Apa?

Pemerintah Denmark belum lama ini meluncurkan apa yang disebut ‘paspor virus corona’. Menariknya, untuk mengurangi adanya kontak langsung, otoritas tersebut menawarkan paspor tersebut dalam bentuk digital. Meski demikian, paspor tersebut tetap berkekuatan hukum sama dengan paspor dalam bentuk fisik dan dapat dipakai bepergian ke luar negeri.

Baca juga: Kepulauan Canary Wajibkan Penumpang Bawa Paspor Kesehatan Digital Bebas Corona

Dilansir thelocal.dk, seluruh warga negara Denmark yang sudah memenuhi syarat, pertama-tama harus mendaftar tes pengajuan paspor di laman coronaprover.dk. Tak disebutkan dengan jelas bagaimana poin-poin tes saat proses pengajuan tersebut. Bila hasil tes negatif, pemohon dapat mengunduh paspor Covid-19 resmi dengan masuk ke web Kementerian Kesehatan Denmark, sundhed.dk, dan login menggunakan nomor induk kependudukan (NIK).

“Di banyak tempat Anda mungkin diharuskan untuk mendokumentasikan (dicetak atau dalam bentuk fisik) hasil negatif tes Covid-19, dan dengan paspor Covid-19 yang baru, kami sekarang memiliki penawaran digital untuk (warga) Denmark yang sangat dibutuhkan dalam setiap perjalanan mereka,” kata Menteri Kesehatan Denmark, Magnus Heunicke, dalam sebuah pernyataan.

Meskipun tes tak dilakukan secara tatap muka, sistem yang dibuat tetap hanya memungkinkan pemohon untuk mengunduh (paspor Covid-19) jika tesnya negatif dan akan keluar kurang dari tujuh hari.

Selain untuk orang-orang dewasa, anak-anak di atas umur 15 tahun juga diperbolehkan memiliki paspor digital Covid-19 Denmark. Tentu dengan mengikuti mekanisme yang ada. Hanya saja, mereka bisa diwakili oleh orang tua atau wali mereka, namun tetap login dengan NIK yang bersangkutan.

Atas terobosan dari Kementerian Kesehatan Denmark, CEO Konfederasi Transportasi Denmark sangat mengapresiasi langkah tersebut. Pasalnya, di tengah berbagai kebijakan protokol Covid-19, jaga jarak, menghindari kerumunan, kontak langsung dan sebagainya, mengurus sejenis paspor Covid-19 sangat sulit dilakukan.

“Hal itu (kebijakan paspor Covid-19) tentu akan membantu warga Denmark yang harus bepergian, baik sebagai bekerja (dinas) atau secara pribadi (wisata),” ujar Michael Svane.

“Kami berada di masa ketika, sebagai seorang musafir, Anda menghadapi banyak kendala. Tetapi paspor covid-19 mudah diakses dan sangat mudah digunakan,” tambahnya.

Denmark saat ini memang telah menerapkan aturan ketat terkait hal ini (paspor Covid-19), sekalipun kasus (Covid-19) di sana tak se-menyeramkan di Amerika Serikat (AS), Italia, Rusia, Brasil, dan negara-negara lainnya. Jangankan negara-negara yang disebutkan di atas, Swedia saja, yang notabene berposisi sebagai negara tetangga serta sesama negara utama Skandinavia dan tergolong aman dari corona, harus mempunyai paspor Covid-19 bila ingin melintasi wilayah Denmark.

Baca juga: e-Paspor Indonesia Sah Bersertifikat “Public Key Directory” dari ICAO

Langkah Pemerintah Denmark ini bisa dibilang adalah implementasi dari rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Bulan April lalu, WHO memperingatkan agar setiap negara memantau seluruh warganya lewat kepemilikan ‘paspor imunitas’ atau bisa dibilang sertifikat kesehatan bebas Covid-19. Dengan begitu, meskipun virus masih mewabah di dunia, mereka tetap bisa bepergian dengan lebih bebas.

Untuk diketahui, walaupun ‘paspor Covid-19’ ini seolah adalah paspor sebagai legalitas bepergian keluar masuk negara, namun, apa yang dikeluarkan pemerintah Denmark bukan paspor seperti itu, melainkan sejenis legalitas yang menunjukkan seseorang dalam kondisi sehat.

Eurostar Hadirkan Sistem Pemindaian Wajah, Penumpang Lintas Negara Tak Perlu Perlihatkan Tiket dan Paspor

Berbagai teknologi hadir untuk menghindari interaksi penumpang dan para petugas baik di bandara maupun stasiun kereta api di masa pandemi Covid-19. Salah satunya adalah menghadirkan teknologi pemindaian wajah yang mana penumpang ketika tiba di stasiun maupun bandara tak lagi perlu mengeluarkan tiket maupun paspor untuk di cek petugas. Seperti Eurostar, operator kereta cepat yang menghubungkan Londong dan Paris, membuat penumpang mereka nantinya tak lagi menunjukkan paspor dan tiket karena sudah ada pemindai pengenalan wajah dari iProov.

Baca juga: Tidak Melulu di Bandara, Osaka Metro Hadirkan Teknologi Face Recognition di Stasiun Bawah Tanah

Ini akan memudahkan pelancong yang melakukan perjalan antara Inggris dan negara Eropa lainnya. Dilansir KabarPenumpang.com dari globetrender.com (13/7/2020), inovasi baru dalam keamanan biometrik ini adalah memungkinkan penumpang untuk naik kereta Eurostar menggunakan koridor biometrik wajah agar melakukan perjalanan tanpa kontak. Hal tersebut berarti penumpang tak lagi akan diperiksa tiketnya ketika keluar perbatasan di Stasiun Internasional St Pancras, London.

Untuk bisa menggunakan iProov ini, penumpang harus mengunduh aplikasi Eurostar dan memilih opsi sebelum naik yang dipercepat. Nantinya fitur ini akan meminta penumpang mengunggah dokumentasi identifikasi mereka dan kemudian menggunakan pemeriksaan biometrik wajah iProov.

Solusi ini bahkan dapat memastikan semua data penumpang asli dan melindungi deepfakes atau media sintetis di mana seseorang dalam gambar atau video diganti dengan wajah orang lain. Dalam pemindaian biometrik tersebut, perusahaan menggunakan proses iluminasi yang memastikan pengguna adalah orang sungguhan dan bukan video, foto atau topeng yang memflash berbagai warna di wajah mereka.

“Ini adalah yang pertama di dunia. iProov memungkinkan penumpang kereta untuk memilih untuk bepergian tanpa tiket atau dokumentasi dengan cara yang aman dan terjamin. Apa yang dimulai sebagai proyek untuk mengurangi kemacetan perjalanan dan membuat penumpang terus bergerak sekarang akan membantu menjaga orang-orang aman di dunia pandemi melalui interaksi sosial dan interaksi tanpa kontak,” kata Andrew Bud, pendiri dan CEO, iProov.

Dia menambahkan, hal tersebut adalah contoh lain tentang bagaimana verifikasi wajah ikut serta membuat hidup lebih mudah dan aman bagi orang-orang di seluruh dunia. Andrew mengatakan, bahwa tidak ada gerbang dan tidak ada pengecekan tubuh serta potongan kertas dan kode batang. Sehingga penumpang dapat mengurangi interaksi dengan petugas perbatasan serta membantu mengurangi antrian dan menegakkan jarak sosial.

Baca juga: Senyum Anda Tak Dibutuhkan Saat Pemindaian Wajah di Bandara

Untuk diketahui, inisiatif ini rencana akan dirilis pada Maret 2021 mendatang dan dilakukan dalam kemitraan bersama spesialis solusi perjalanan serta imigrasi Kanada WorldReach Software.

Marcopolo Biosafe, Cegah Covid-19 di Dalam Bus dengan Teknologi “Kabut Kering”

Beragam cara dilakoni untuk membendung penyebaran Covid-19, salah satu solusi yang tengah diuji cobakan pada moda transportasi adalah penggunaan teknologi kabut kering. Seperti belum lama ini, Volgren, operator bus di Australia dan Marcopolo, perusahaan karoeseri asal Brasil dalam mengedepankan solusi keselamatan biologi pada penumpang dan pengemudi bus di Australia.

Baca juga: Robot Hidrogen Peroksida Vapourised Bantu Bersihkan Kereta dan Stasiun MTR Hong Kong

Langkah ini dikenal dengan Marcopolo Biosafe dan rangkaiannya meliputi Fog In Place (FIP) OnBoard yang merupakan kabut kering untuk mendesinfeksi bagian dalam bus, kereta api atau trem. Bahan yang digunakan pun bukan bahan kimia beracun, selain itu ada kit perlindungan untuk pengemudi dan teknologi cahaya UVC yang digunakan untuk mendesinfeksi toilet.

Fog In Place (FIP) OnBoard (busnews.com.au)

KabarPenumpang.com melansir laman busnews.com.au (7/7/2020), saat ini pabrikan bus Australia yakni Volgren tengah berupaya agar produk ini bisa digunakan di Negeri Kangguru tersebut. CEO Marcopolo James Bellini mengatakan, konsep ini mempromosikan biosafety penumpang sembari tetap mengikuti pedoman kesehatan dari lembaga pemerintah.

“Kami hidup dalam masa yang unik di mana inovasi dan teknologi digabungkan untuk melanjutkan kembali mobilitas dengan aman. Dengan Marcopolo BioSafe, tujuan kami adalah menempatkan diri sebagai mitra pelanggan kami baik di Brasil maupun di luar negeri, memberi mereka syarat untuk terus beroperasi dan mendapatkan kembali kepercayaan mereka. dalam menggunakan transportasi umum,” jelasnya.

Bellini mengatakan, dirinya ingin menunjukkan teknologi dalam aksi kepada sebanyak mungkin operator dan secepatnya. Dia mengatakan, bahwa perlu bertindak dengan urgensi dan proaktif untuk menyebarkan serta mendorong penerapan solusi penting ini.

“Transportasi umum sangat penting untuk memastikan mobilitas orang dan tidak dapat dilihat sebagai hambatan atau batasan,” tambah Bellini.

CEO Volgren Thiago Deiro mengatakan bahwa menanamkan langkah-langkah biosafety ke dalam angkutan umum adalah langkah penting menuju pemulihan kepercayaan penumpang dan akan menjaga keselamatan masyarakat yang bepergian.

“Covid-19 telah menciptakan tantangan bagi banyak sektor. Transportasi umum dan transportasi pelajar telah sangat terpengaruh. Kami percaya bahwa langkah-langkah yang dikembangkan di bawah Marcopolo BioSafe dapat memainkan peran penting dalam membantu industri bus Australia pulih secara ekonomi dengan membuat komuter dan anak-anak sekolah nyaman kembali ke perjalanan bus,” katanya.

Deiro mengatakan kabut kering FIP OnBoard adalah sistem cepat dan andal yang membersihkan melalui nanopartikel, ini menciptakan ‘nanofilm’ pada 100 persen permukaan. Hanya butuh 15 menit rata-rata untuk menutupi dan membersihkan seluruh area penumpang hingga 72 jam.

“Solusi ini tidak membasahi atau meredam kursi, atau merusak sistem kelistrikan bus. Sistem ‘kabut di tempat’ Marcopolo juga menarik karena dapat digunakan tidak hanya di bus, tetapi di banyak aplikasi luas mulai dari ruang kelas sekolah, kafe dan restoran hingga perpustakaan umum,” jelas Deiro.

Dia mengatakan, sebagai ayah dua orang anak, dirinya sangat suka melihat bus sekolah dan ruang kelas yang didesinfeksi secara rutin. Deiro menambahkan, ini adalah penghargaan bagi Marcopolo yang mana mereka telah menghasilkan solusi inovatif dalam waktu yang relatif singkat.

Baca juga: PO Bus di Myanmar Modifikasi Interior untuk Cegah Penularan Covid-19

Deiro mengatakan Volgren telah bekerja sama dengan Marcopolo untuk meluncurkan langkah-langkah BioSafe dengan bus dan kendaraan. Sedangkan rutenya mereka masih dalam diskusi dengan pelanggan dan operator pemerintah untuk mengukur minat.

Mulai 17 Juli, Scoot Kembali Buka Rute Surabaya-Singapura

Scoot, maskapai penerbangan bertarif rendah atau low-cost carrier (LCC) milik Singapore Airlines Group, diwartakan akan kembali melayani penerbangan antara Surabaya dan Singapura satu kali seminggu mulai 17 Juli 2020. Rute penerbangan Surabaya-Singapura merupakan yang pertama dari lima rute Scoot di Indonesia yang akan kembali beroperasi sejak mayoritas rute tidak beroperasi Maret lalu akibat pendemi Covid-19.

Baca juga: Ambil Foto dan Video di Toilet Umum, Awak Kabin Scoot Dipenjara dan Kena Denda

Penerbangan Surabaya dan Singapura akan beroperasi satu kali seminggu dengan pesawat narrow body Airbus A320. Dengan semakin banyaknya penerbangan yang beroperasi kembali, Scoot menerapkan sejumlah langkah kesehatan dan keselamatan di seluruh tahap perjalanan penumpang demi menjamin keselamatan penumpang dan kru, mulai dari pra-penerbangan, selama penerbangan, dan pasca-penerbangan.

Scoot merupakan salah satu dari sedikit maskapai di dunia dengan kebijakan pembatalan penerbangan yang menawarkan pilihan kepada penumpang untuk mendapatkan pengembalian dalam bentuk uang tunai. Untuk pelanggan yang memilih pengembalian dalam bentuk voucer, Scoot menawarkan tambahan nilai voucer sebesar 20 persen sebagai bentuk apresiasi. Dari lebih dari 6.600 permintaan pengembalian dari Indonesia, sejauh ini Scoot telah memproses sekitar 96 persen.

Supaya penumpang dapat memesan tiket mereka dengan percaya diri dan merencanakan perjalanan mereka, Scoot memperpanjang kebijakan perubahan tanggal gratis sebanyak satu kali, untuk semua pemesanan yang dibuat melalui situs web atau aplikasi seluler Scoot mulai saat ini hingga 31 Juli 2020.

Baca juga: Scoot Perpanjang Perubahan Tanggal Gratis dengan Perbedaan Tarif Berlaku

“Kami senang dapat kembali menerbangi rute antara Surabaya dan Singapura meskipun frekuensinya berkurang, untuk melayani penumpang yang perlu melakukan perjalanan saat ini, terutama mereka yang ingin kembali ke rumah,” ujar Calvin Chan, Scoot Chief Commercial Officer.

Ngeri! Ini Efek Alkohol dan Narkoba Terhadap Performa Pilot

Kasus pilot terlibat barang haram kembali terjadi. Dua pilot dengan inisial DC dan DSK yang masing-masing berasal dari maskapai Garuda Indonesia dan Citilink Indonesia—anak usaha Garuda Indonesia Group, dibekuk Satuan Narkoba Polres Jakarta Selatan beberapa waktu lalu. Keduanya dikabarkan diringkus polisi karena mengkonsumsi narkotika jenis sabu-sabu.

Baca juga: Pilot Kedapatan Konsumsi Alkohol, Penerbangan Singapore Airlines dari Melbourne Terpaksa Batal

Selain sudah menjadi barang haram, pengguna narkoba dari kalangan pilot tentu sangat membahayakan. Bisa dibilang, pilot yang mengkonsumsi narkoba mendapat ‘dosa’ berlipat-lipat. Sebab, profesi pilot lekat dengan berbagai tindakan krusial yang menyangkut nyawa orang banyak, mulai dari pra penerbangan sampai pasca penerbangan; seperti interpretasi cuaca, peningkatan bahan bakar, pemilihan rute, hingga aspek navigasi penerbangan.

Dengan berada diposisi krusial tersebut, jelas bagi pilot untuk tak boleh terganggu ataupun diganggu oleh berbagai hal yang mampu menurunkan performanya. Jangankan narkoba yang jelas-jelas memiliki efek langsung dalam memengaruhi penggunanya, makanan, minuman, laptop, smartphone, serta barang apapun yang tak berhubungan langsung dengan operasional saja dilarang; di bawah aturan sterile cockpit rule.

Dilansir skybrary.aero, alkohol dan narkoba atau obat-obatan terlarang memiliki berbagai efek buruk bagi pilot. Khusus untuk narkoba, dari beragam jenis, setidaknya barang haram tersebut ada enam yang pemakaiannya jelas dilarang karena berdampak terhadap performa pilot. Untuk lebih jelas, berikut dampak alkohol dan narkoba pada performa pilot.

1. Alkohol
Pilot memiliki dampak langsung terhadap alkohol dibanding pengguna lainnya. Sebab, pilot bekerja di atas udara, dengan tekanan di dalam kabin yang berbeda dengan profesi lain pada umumnya. Studi menunjukkan, alkohol sangat cepat terserap ke dalam darah.

Selain itu, alkohol juga dapat diserap oleh telinga bagian dalam. Karena telinga bagian dalam mempengaruhi keseimbangan, pada akhirnya efek alkohol dapat menyebabkan disorientasi dan vertigo.

Alkohol juga disebut dapat mempengaruhi kinerja tubuh dalam menyerap oksigen. Belum lagi tekanan kabin yang rendah di atas ketinggian menyebabkan pilot pengguna alkohol dapat mengalami hypoxic hypoxia atau disfungsi hemoglobin dalam menyerap oksigen.

Dengan kondisi tersebut, efek negatif kumulatif alkohol dan ketinggian bisa membuat pilot pengguna alkohol terdampak 2-3 kali lipat dibanding pengguna lainnya. Celakanya lagi, efek negatif alokohol juga lambat hilang. Studi menyebut butuh tiga jam untuk menghilangkan efek 1 ons alkohol.

2. Narkoba Jenis Antihistamines
Antihistamin sering digunakan untuk mengurangi pengaruh alergi. Bila disalahgunakan, narkoba jenis ini dapat menyebabkan rasa kantuk berlebih, reaksi lambat, dan gangguan fokus. Bisa dibayangkan bukan, bila pilot mengalami reaksi semacam itu ketika di udara.

3. Narkoba Jenis Sulfa Drugs
Sulfa Drugs sebetulnya adalah obat antimikroba yang biasa digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri. Efek samping dari penyalahgunaan obat jenis ini adalah gangguan pengelihatan, pusing, reaksi lambat, dan depresi.

4. Narkoba Jenis Tranquillisers
Jenis ini sebetulnya cukup bermanfaat di dunia medis. Bila digunakan di luar itu, tranquillisers atau obat penenang memiliki efek samping buruk bagi penggunanya, mulai dari reaksi lambat, kantuk, konsentrasi berkurang, dan berbagi fokus ke hal-hal tak penting.

5. Narkoba Jenis Motion Sickness Medications
Narkoba jenis ini dapat menyebabkan kantuk dan menekan fungsi otak. Obat tersebut juga dapat mengganggu pengguna dalam proses pengambilan keputusan.

Baca juga: Inilah Alasan Awak Kabin Hingga Terjerumus dalam Kecanduan Obat dan Alkohol

6. Weight Loss Drugs
Obat ini sebetulnya cukup baik bila digunakan dalam waktu dan tempat yang tepat. Namun bagi pilot, cukup berisiko. Sebab, obat penurun berat badan itu dapat menyebabkan hilangnya nafsu makan serta menyebabkan perasaan sehat berlebih sehingga juga dapat mempengaruhi keputusan berlebih.

7. Barbiturates
Barbiturat, termasuk fenobarbital terbukti nyata dapat mengurangi kewaspadaan atau fokus pengguna.

Enak Banget, Penumpang Etihad Bisa Rapid Test dan PCR Test Covid-19 di Rumah! Begini Teknisnya

Maskapai dunia berlomba-lomba melakukan inovasi guna memberi kemudahan bagi calon penumpang pada layanan rapid test. Maskapai Emirates jadi yang pertama soal ini. Sejak pertengahan April lalu, maskapai asal Dubai ini sudah menerapkan wajib rapid test sebelum terbang di terminal keberangkatan. Hasilnya keluar dalam tempo 10 menit.

Baca juga: Emirates Jadi Maskapai Pertama Lakukan Rapid Test Corona ke Seluruh Penumpang

Tak mau kalah, Lufthansa mengeluarkan terobosan baru. Rapid test ala Lufthansa sangat memudahkan penumpang. Bila sebelumnya exclude tiket, maskapai nasional Jerman itu memberi akses layanan rapid test Covid-19 include tiket. Tak lama berselang, langkah tersebut juga diikuti oleh maskapai dunia, termasuk maskapai penerbangan Indonesia, seperti Lion Group, Citilink, dan Garuda Indonesia.

Namun, rapid test yang dijalankan maskapai-maskapai di atas masih sedikit merepotkan. Empat atau delapan jam sebelum terbang, penumpang harus mendatangi klinik atau lokasi rapid test Covid-19 yang sudah ditunjuk. Garis bawahi, mendatangi, bukan didatangi. Cukup merepotkan, bukan?

Seolah menjawab kebutuhan penumpang, Etihad Airways, pesaing ketat maskapai kelas wahid di Dubai bersama Emirates, belum lama ini melakukan inovasi menarik. Betapa tidak, salah satu dari tiga maskapai terbaik di Timur Tengah itu (The Three Mega Carrier Middle East) menawarkan layanan rapid test dan PCR test (sesuai tujuan masing-masing penumpang) Covid-19 tanpa ribet, yakni di rumah. Tentu, untuk PCR test, sampel tetap dibawa ke laboratorium.

Dilansir dari The National, untuk mendapatkan layanan rapid test dan PCR test Covid-19 di rumah, calon penumpang hanya perlu menghubungi mitra kesehatan Etihad, Mediclinic Middle East, via telepon, chat whatsaap, ataupun email di etihad@mediclinic.ae, guna menemukan tanggal dan waktu yang pas.

Dikarenakan prosesnya panjang dan butuh waktu, mengingat harus mendatangi satu per satu penumpang di rumah masing-masing, rapid test dan PCR test Covid-19 di rumah ala Etihad harus dilakukan setidaknya 48 jam sebelum keberangkatan. Setelah berjanjian dalam rentang waktu tersebut (48 jam sebelum keberangkatan), petugas medis akan mendatangi calon penumpang dan hasilnya akan keluar 24 jam setelahnya.

Akan tetapi, bila calon penumpang tetap ingin mendapat layanan rapid test dan PCR test Covid-19 Etihad di fasilitas kesehatan, mereka bisa mendatangi lokasi-lokasi Mediclinic di tiga kota, Dubai, Abu Dhabi, dan Al Ain. Tidak dijelaskan secara rinci berapa lama hasil rapid test dan PCR test Covid-19 Etihad berlaku.

“Menerapkan layanan rapid test (termasuk PCR test) di rumah akan menghilangkan banyak stres yang tidak perlu dari pengalaman perjalanan selama periode yang penuh tantangan ini,” kata Dr Nadia Bastaki, wakil presiden layanan medis Etihad.

“Seluruh proses pengujian dilakukan oleh profesional yang terlatih, dan laboratorium pengujian Covid-19 kami yang berada di Abu Dhabi dan Dubai akan menjamin hasil rapid test dan PCR test keluar lebih cepat,” jelas David Hadley, CEO Mediclinic Middle East.

Baca juga: Jepang Buka Pusat Uji Covid-19 di Tiga Bandara untuk Pelancong dari Luar Negeri

Setelah hasil rapid test Covid-19 dan atau PCR test keluar, bila hasilnya negatif, penumpang bisa melanjutkan perjalanan. Bila positif, penumpang perlu mengatur ulang jadwal dan akan mengikuti program karantina yang dihandle langsung oleh Otoritas Kesehatan Dubai (DHA).

Sebagai informasi, sebetulnya, Uni Emirat Arab (UAE) tak mengharuskan wisatawan ikut rapid test dan PCR test Covid-19 sebelum meninggalkan UAE. Namun, beberapa negara mewajibkan seluruh penumpang masuk dibekali dengan hasil rapid test Covid-19. Bahkan, di beberapa negara lainnya mengharuskan penumpang memiliki hasil PCR test.