Gegara Covid-19, Kereta Jadi Pilihan Favorit Berlibur Ketimbang Pesawat! Ini Alasannya

Wabah Covid-19 memang merubah banyak hal, tak terkecuali kecenderungan masyarakat dalam memilih moda transportasi. Belum lama ini, hasil jajak pendapat di Inggris menemukan, masyarakat menilai kereta lebih membuat mereka merasa aman dibanding pesawat.

Baca juga: Kejar Target Produksi Pesawat Tanpa Emisi di 2035, Airbus Pertimbangkan Penggunaan Hidrogen

Tak hanya itu, dalam proyek yang digagas Sky News melalui YouGov, sebuah perusahaan riset pasar dan analitik data internasional berbasis internet, sekitar kurang dari tujuh persen warga mengaku nyaman dan percaya diri bepergian dengan pesawat serta 40 persen lainnya mengaku merasa tak aman.

Kondisi tersebut tentu menjadi berkah buat Uni Eropa. Pasalnya, sejak beberapa waktu lalu, Komisi Eropa memang sudah berniat menjadikan tahun 2021 sebagai “Tahun Kereta Eropa”, yakni wujud dari dukungan untuk Kesepatan Hijau Eropa (European Green Deal).

“Tahun Kereta Eropa” nantinya menjadi landasan utama negara-negara Uni Eropa untuk mengembangkan akses jaringan kereta api di seluruh sudut kawasan serta mempromosikan perjalanan dengan menggunakan moda transportasi itu.

Tujuan besar dari langkah-langkah di atas tentu mengarah pada turunnya emisi gas rumah kaca (netralitas iklim) pada 2050 mendatang. Bila berhasil, Uni Eropa akan menjadi benua “blok netral-iklim” pertama di dunia, mengalahkan paket stimulus Green New Deal yang diusulkan Amerika Serikat. Target terdekat dalam Kesepatan Hijau Eropa terjadi pada 2030 mendatang, dimana emisi gas rumah kaca diproyeksikan turun hingga 55 persen.

Uni Eropa saat ini tercatat menyumbang seperempat dari emisi gas rumah kaca dunia dari seluruh jaringan moda transportasi mereka. Tak ayal, dengan catatan tersebut, mereka bertekad untuk mengejar laju dekarbonisasi -salah satunya memasifkan penggunaan kereta api- sambil terus meningkatkan laju pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.

“Tidak ada keraguan bahwa transportasi kereta api memiliki manfaat besar di sebagian besar wilayah: keberlanjutan, keselamatan, bahkan kecepatan, setelah diorganisasikan dan direkayasa sesuai dengan prinsip-prinsip abad ke-21,” ujar Komisioner untuk Transportasi, Adina Vălean, saat launching proposal “Tahun Kereta Eropa” Maret lalu, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari Euronews.

Menariknya, sejumlah pembatasan perjalanan yang masih berlaku di beberapa negara membuat masyarakat dinilai terdorong untuk lebih menggunakan moda transportasi berkelanjutan seperti kereta. Terlebih, perjalanan kereta domestik atau kawasan (kecuali di negara-negara kepulauan) juga lebih meningkat dibanding periode pra lockdown.

Kondisi tersebut diprediksi akan terus berjalan sampai tahun 2021. Survei menemukan, sekalipun perjalanan internasional sudah kembali aman, mereka (masyarakat) tetap ingin travelling tak terlalu jauh.

Ffestoniog Travel, sebuah perusahaan yang menyelenggarakan tur kereta api di seluruh dunia, menemukan bahwa hampir 85 persen pelanggannya merencanakan berlibur di Eropa pada tahun 2021. Perancis, Jerman, Portugal, dan Swiss masih menjadi pilihan berlibur populer di Eropa (dengan kereta api) pasca lockdown.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) sendiri belum merespon proposal tersebut. Pada tahun 2018, IATA memprediksi bahwa jumlah penumpang yang bepergian melalui udara akan mencapai 8,2 miliar pada tahun 2037. Sebelum Covid-19 mewabah, 40,3 juta penerbangan dijadwalkan lepas landas di seluruh dunia pada tahun 2020, meskipun pada akhirnya harus turun menjadi sekitar 23,1 juta dan diperkirakan akan tetap rendah di 2021.

Saat ini, perjalanan udara disinyalir menyumbang antara 2-3 persen dari emisi karbon dunia, tetapi persentase untuk itu setara dengan 4,5 miliar perjalanan penumpang, pergerakan 64 juta metrik ton kargo dan sepertiga dari perdagangan global dunia. Di samping itu, penerbangan juga menopang 65 juta pekerjaan.

Baca juga: Lima Alternatif Pengganti Bahan Bakar Fosil Pesawat di Masa Depan, Nomor Dua Aneh!

Upaya untuk memberlakukan transportasi udara ramah lingkungan sebetulnya sudah menggaung di seluruh dunia. Bahkan, Norwegia, negara yang terletak di Semenanjung Skandinavia bagian ujung barat yang berbatasan dengan Swedia, Finlandia, dan Rusia tersebut sudah berikrar akan membuat seluruh penerbangan jarak pendek dalam negeri wajib menggunakan pesawat listrik pada 2040.

Hanya saja, langkah dunia untuk mewujudkan transportasi udara menggunakan bahan bakar berkelanjutan masih terkendala di teknologi dan investasi. Sebab, ekosistem serta mobilitas transportasi udara yang cepat harus didukung dengan infrastruktur yang masif.

Contoh Pemerintah yang Baik, Italia Berikan Subsidi untuk Pembelian Sepeda Kayuh

Di masa pandemi Covid-19, pengguna sepeda di berbagai dunia bertambah. Bahkan di Indonesia pengguna kendaraan kayuh roda dua ini mengalami lonjakan dari sebelumnya. Pengguna di Indonesia memilih sepeda untuk menjadi transportasi pengganti dalam menghindari berhimpitan di moda transportasi umum.

Baca juga: Masyarakat Wuhan Pilih Gunakan Sepeda Elektrik untuk Moda Transportasi

Namun ternyata lonjakan pembelian sepeda tak hanya terjadi di Indonesia tetapi Italia pun juga mengalaminya. Apalagi setelah pemerintahnya mengakhiri masa lockdown atau penguncian. Adanya hal ini, membuat pemerintah Italia memberikan keringanan pada penduduknya yang ingin membeli sepeda.

KabarPenumpang.com melansir dari reuters.com, tercatat sebanyak 540 ribu sepeda terjual secara nasional setelah toko sepeda kembali dibuka pada awal Mei 2020. Jumlah ini meningkat sebanyak 60 persen dibanding periode sama pada tahun lalu.

Adanya keringanan yang diberikan pemerintah kepada warganya saat membeli sepeda dilakukan tak lain untuk mencegah penumpukan penumpang dalam transportasi umum seperti bus dan kereta komuter, lantaran kedua wahana tersebut disinyalir merupakan potensi terbesar terjadinya penularan Covid-19.

Selain itu, pemerintah juga tak ingin warganya beralih ke kendaraan pribadi yang akan menimbulkan kemacetan lalu lintas.  Penasaran berapa subsidi yang diberikan pemerintah Italia untuk warganya yang membeli sepeda? Ternyata subsidi yang diberikan cukup banyak yakni hingga 500 euro atau sekitar Rp8 juta.

Subsidi ini diberikan pada warga yang membeli sepeda konvensional atau yang menggunakan tenaga listrik. Subsidi ini sudah berlaku sejak 4 Mei 2020 dan akan berlangsung hingga akhir tahun.

Untuk diketahui, pemerintah Italia sendiri telah menyiapkan 120 juta euro untuk rencana insentifnya dan akan menyediakan dana lebih banyak lagi jika diperlukan. Ini bisa dikatakan berbanding terbalik dengan Indonesia yang beberapa waktu lalu tersebar bahwa pengguna sepeda akan dikenakan pajak.

Namun isu tersebut telah dibantah oleh Kementerian Perhubungan dan mengaku akan membuat regulasi yang akan mengatur sisi keselamatan pesepeda. Juru bicara Kemnhub Adita Irawati yang mengatakan, Kemenhub membuat aturan tersebut karena banyak masyarakat yang menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi di era new normal.

Baca juga: Gangchon Rail Park – Sensasi Berkeliling dengan Sepeda Rel dan Virtual Reality

Beberapa aturan yang dibuat Kemenhub adalah alat pemantul cahaya bagi pesepeda, jalur sepeda dan penggunaan alat keselamatan lainnya.

Ilmuwan: Bukti Penularan Covid-19 di Udara Semakin Banyak

Beberapa ilmuwan saat ini percaya bahwa semakin banyak bukti penularan Covid-19 di udara. Bahkan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penularan melalui udara melibatkan tetesan kecil yang mengandung virus dan melayang di udara (aerosol) serta bertahan selama beberapa waktu yang dibawa menempuh jarak lebih dari satu meter pada arus udara.

Baca juga: Peneliti: Virus Corona Bisa Bertahan Selama 7 Hari di Masker Bedah

Diameter tetesan tersebut kurang dari lima mikron dan mengandung lebih sedikit virus daripada tetesan pada saat pernapasan besar. Namun tetesan tak langsung jatuh ke tanah dengan cepat. KabarPenumpang.com melansir dari theguardian.com (14/7/2020), sayangnya peran transmisi udara dalam penyebaran Covid-19 ini tidak jelas, di mana beberapa percobaan di laboratorium menunjukkan virus corona dapat bertahan di aerosol selama berjam-jam.

Hal ini kemudian membuat WHO mengatakan tidak mungkin untuk mengesampingkan kasus-kasus di antara banyak orang dalam lingkungan ruangan yang padat dan berventilasi buruk seperti restoran, ruang latihan udara serta kelas kebugaran. David Heymann, seorang profesor epidemiologi di London School of Hygiene dan Tropical Medicine mengatakan, tentang bahaya infeksi penularan Covid-19 diketahui kemungkinan oleh paparan tetesan besar.

“Ada bukti terbatas bahwa aerosol yang dihasilkan oleh berbicara, batuk atau bersin dapat menyebar lebih dari 1 meter, sehingga menjadi udara, dan ada bukti terbatas bahwa transmisi udara memainkan peran dalam penyebaran komunitas Covid-19,” katanya.

Tapi ini tidak membuat semua orang setuju, seperti dalam surat terbuka pada WHO pekan lalu di mana 239 ilmuwan mengangkat kekhawatiran tentang transmisi aerosol, termasuk jarak yang lebih jauh.

“Saya tidak berpikir Anda bisa menjelaskan beberapa peristiwa penyebaran super besar seperti wabah paduan suara selain dengan aerosol yang berjalan lebih dari satu meter,” kata Donald Milton, seorang profesor kesehatan lingkungan di University of Maryland.

Namun kemudian muncul pertanyan tentang masker, apakah bisa melindungi seseorang dari tertular Covid-19? Heymann mengatakan, masker penting untuk melindungi diri dari orang lain yang terinfeksi terutama ketika jarak sosial sulit dilakukan. Dia menjelaskan jika masker digunakan maka akan menangkap tetesan dan itu tidak bisa masuk ke aerosol orang lain.

“Untuk mencegah infeksi dari pemakainya, respirator N95 adalah jenis masker terbaik,” kata dia. Selain itu pelindung wajah juga bisa digunakan untuk menghindari tetesan besar serta mencuci tangan dan mengambil jarak sosial penting. Tak hanya itu, ahli juga mengatakan perbaikan ventilasi dalam ruangan serta penggunaan kontrol infeksi di udara seperti filter udara dan lampu UV bisa digunakan.

Catherine Noakes, seorang profesor teknik lingkungan di Universitas Leeds, yang menandatangani surat terbuka, mengatakan ada sedikit bukti penularan Covid-19 oleh aerosol jarak jauh tetapi aerosol masih bisa menimbulkan risiko di seluruh ruangan. Paul Hunter, seorang profesor kedokteran di Universitas East Anglia, mengatakan bukti menunjukkan penyebaran tetesan adalah faktor paling penting untuk dikendalikan. Tetapi jika transmisi udara signifikan, itu bisa memiliki implikasi penting untuk lingkungan dalam ruangan.

“Jika itu masalahnya kita seharusnya tidak memiliki pub terbuka, kita tidak boleh memiliki gym terbuka, bahkan jika orang mengenakan masker wajah,” katanya.

Hunter menambahkan itu juga bisa berarti jarak sosial lebih dari dua meter, dan meluasnya penggunaan masker N95 di rumah sakit. Kepedulian dengan ventilasi ruangan, disebutkan juga bisa lebih rendah untuk penyebaran Covid-19. Hal ini karena virus tersebut tidak akan menyebar dengan cepat ketika berada di luar ruangan bila di bandingankan dengan ruang tertutup.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS merekomendasikan agar jendela tetap terbuka atau menyesuaikan AC. Linda Bauld, seorang profesor kesehatan masyarakat di Universitas Edinburgh, mengatakan ventilasi yang baik akan menjadi lebih penting karena lebih banyak tempat dibuka kembali, dan bisa berarti membiasakan diri membuka jendela bahkan di musim dingin.

Baca juga: Dear Penumpang Kereta Komuter, Ilmuan Jepang Beberkan Cara Cegah Corona di Gerbong Loh

“Saat ini tidak ada bukti infeksi manusia dengan Sars-CoV-2 yang disebabkan oleh aerosol menular yang didistribusikan melalui saluran sistem ventilasi HVAC,” tambah Bauld.

Media Asing ‘Tertawakan’ Rencana Garuda Indonesia Buka Penerbangan (Rugi) Langsung ke Amerika, Paris, dan India

Direktur Utama (Dirut) Garuda Indonesia Irfan Setiaputra nampaknya serius menggarap rute internasional mereka di pasar Eropa dan Amerika Serikat (AS), dalam hal ini Perancis (Paris), Amerika (Los Angeles dan atau San Francisco), dan India (Mumbai).

Baca juga: Garuda Indonesia Terbangi Hampir Seluruh Kota di Dunia via Amsterdam dan Tokyo

Menurutnya, penerbangan langsung dari Denpasar, Bali ke tiga rute tersebut berpeluang sangat menguntungkan perekonomian negara, sekalipun maskapai mengalami kerugian dengan nominal tak sedikit.

“Garuda diminta terbang ke kota-kota besar di dunia. Kita berencana terbang ke Amerika, berencana ke Paris, ke India, base on data siapa yang spending-nya banyak dan value position kita ke mereka adalah you fly to Denpasar directly,” kata Irfan saat diskusi virtual MarkPlus Industry Roundtable, Jumat (19/6).

“Karena kalau orang Paris, Perancis menghabiskan uang US$10 ribu dalam liburannya di Bali kan ga ada masalah kalau Garuda rugi US$500 per penumpang, karena kan nett di negara ini kita dapat US$10.500,” lanjutnya.

Ditemui secara eksklusif redaksi KabarPenumpang.com di kantornya, Irfan memang pernah membeberkan rencananya membuka penerbangan codeshare ke beberapa negara, seperti Perancis, Jerman, Mauritius, Amerika, Spanyol, dan Moskow. Namun, kala itu, untuk penerbangan langsung ia masih malu-malu mengakuinya.

Bila pun jadi merealisasikan rencana yang sudah menggaung sejak era Dirut sebelumnya itu, irfan memang mengaku siap rugi, dengan asumsi wisatawan yang berkunjung ke Bali menghabiskan uang sekitar US$10 ribu atau sekitar Rp146 juta (kurs 14.538).

Padahal, dari berbagai kasus yang ada, wisatawan mancanegara tak melulu terbukti membawa banyak uang ke Indonesia. Lagi pula, bicara data, wisatawan yang paling banyak menghabiskan uang bukan dari ketiga negara tersebut.

Dari data Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI, yang paling banyak mengeluarkan uang saat mengunjungi Indonesia justru dari Timur Tengah (Timteng). Pengeluaran turis asing Timteng perorangnya mencapai US$1.918 per kunjungan. Jumlah ini mengalahkan wisatawan dari Eropa sebesar US$1.538 per turis asing per kunjungan. Juga wisatawan dari Cina yang mengeluarkan US$1.019 tiap turis asingnya per kunjungan.

Dari situ saja, pengakuan Irfan bahwa Garuda Indonesia siap rugi demi mendatangkan wisatawan mancanegara, dengan asumsi mereka menghabiskan uang sebesar US$ 10 ribu saja sudah tak masuk akal. Jika demikian, penerbangan langsung Garuda Indonesia rute Amerika Serikat, Paris, dan India hanya akan membunuh perusahaan itu sendiri, dengan benefit tak sebesar yang diasumsikan sebelumnya.

Bayangkan jika maskapai menanggung US$ 500 per orang per penerbangan atau Rp7,3 juta (kurs 14.538), apa tidak akan membunuh maskapai secara perlahan?

Tak ayal, dengan wacana tersebut, sekalipun bertujuan mulia, mendatangkan wisatawan mancanegara (bukan mengantarkan wisatawan dalam negeri ke mancanegara) demi perekonomian nasional, tetap saja banyak pihak yang merasa pesimistis. Bila pun tetap dipaksa berjalan, paling tidak akan bertahan lama.

Nada pesmistis juga datang dari media asing kenamaan dunia, Forbes. Dalam sebuah artikel Forbes yang ditulis Will Horton, pewarta penerbangan senior, jejak penerbangan internasional Garuda Indonesia kerap menimbulkan keragu-raguan.

Di samping itu, kebijakan dalam negeri terhadap maskapai asing dan wisatawan itu sendiri (dalam kaitannya dengan Covid-19) serta kapasitas dan kapabilitas perusahaan, juga dinilai tak relevan dengan rencana rute internasional Garuda. Akhirnya, mereka (Forbes) menilai bahwa rute internasional Garuda, dalam hal ini ke AS, dinilai tak akan menguntungkan.

Baca juga: Garuda Indonesia Canangkan Penerbangan Langsung Denpasar – Moskow

Jangankan pangsa pasar Eropa dan AS yang banyak pemain besar juga dengan reputasi besar, seperti Singapore Airlines (SQ), Cathay Pacific (CX), KLM, pangsa pasar Asia dan Australia saja Garuda Indonesia masih belum sepenuhnya sanggup mengalahkan Turkish Airlines, Qantas, SQ, ANA, Korean Air, dan lain sebagainya, khususnya dari segi harga dan pelayanan.

Lagi pula, untuk pasar Amerika Serikat, kepercayaan masyarakat terhadap maskapai nasional RI itu sempat memudar pasca larangan terbang ke negara tersebut. Sejak tahun 2007 lalu, badan keselamatan penerbangan AS (FAA) melarang Garuda Indonesia masuk AS karena hanya mendapat rating keselamatan dan keamanan penerbangan kategori 2 yang berarti buruk. Setelah pengkajian ulang, Garuda Indonesia dan beberapa maskapai lain akhirnya diizinkan kembali pada tahun 2016.

Miris, Boeing dan Airbus Hanya Jual Satu Pesawat di Bulan Juni

Industri penerbangan global tampaknya masih bisa dibilang kirisis. Betapa tidak, dari sebelumnya (dalam keadaan normal), dua pabrikan asal Eropa dan Amerika Serikat (AS) itu bisa mendapat pesanan hingga puluhan pesawat setiap bulan, di bulan Juni lalu, mereka hanya bisa mendapat satu pesanan pesawat. Itupun bukan pesawat penumpang, melainkan pesawat kargo.

Baca juga: 4 Poin Head to Head Boeing vs Airbus, Mana Lebih Unggul?

Raksasa jasa pengiriman asal AS, FedEx, dikabarkan membeli pesawat kargo dari Boeing. Adapun Airbus dikabarkan bukan mendapat satu pesanan baru, melainkan mengeksekusi pesanan lama.

Dilansir euractiv.com, selain mencatat hasil negatif dari segi pesanan pesawat baru, Airbus juga diketahui mengirim pesawat jauh di bawah rata-rata dibanding periode yang sama di tahun lalu. Pada paruh pertama 2020, perusahaan hanya mampu mencetak 196 pengiriman, dengan rincian 14 pada April, 24 pada Mei, dan 36 pesawat komersial pada Juni. Bandingkan dengan paruh pertama 2019, dimana Airbus mampu mengirim hingga 389 pesawat.

Dari catatan di atas, khususnya pesanan baru di bulan Juni, secara substansial, Boeing bisa dibilang unggul dari Airbus. Namun, bila melihat total pesanan pesawat di tahun ini, Airbus masih lebih unggul. Boeing awalnya sempat selangkah di depan dari banyaknya pesanan salah satu pesawat anyar mereka, Boeing 737 MAX.

Akan tetapi, pasca sederet kecelakaan, 60 pesanan 737 MAX terpaksa dibatalkan serta 123 lainnya terpaksa dihapus dari backlog akibat keraguan maskapai terhadap pabrikan. Dengan begitu, Boeing total mendapat 323 pembatalan pesanan dan bertahan di angka 59. Sedangkan Airbus, sejauh ini masih memiliki 298 pesanan.

Boeing sebetulnya memiliki kans untuk balik menyalip Airbus dari segi pesanan bila Boeing 737 MAX mendapat restu kembali terbang secara komersial. Seperti diketahui, belum lama ini, regulator penerbangan sipil Amerika Serikat (FAA) resmi menyudahi proses sertifikasi ulang Boeing 737 MAX, kemarin. Dengan begitu, total Boeing 737 MAX 7, pendahulu MAX 8, sudah menjalani proses sertifikasi ulang -untuk memungkinkannya terbang lagi- selama 3 hari dan total terbang sebanyak 10 jam.

Baca juga: Meski Boeing Keok, Airbus Belum Bisa Salip Boeing dalam Urusan Produksi Pesawat

Saat ini administrator FAA masih mempelajari hasil pengujian. Tetapi, bila pun 737 MAX mampu melewati sertifikasi FAA dengan baik, hal itu tak lantas membawa mereka kembali ke langit dunia. Pasalnya, EASA atau Badan Keselamatan Penerbangan Eropa dikabarkan ngotot untuk melakukan sertifikasi sendiri terhadap Boeing 737 MAX.

Bila tidak, EASA mengancam tak akan mengizinkan MAX memasuki ruang udara mereka, hal yang sangat merugikan tentunya bagi seluruh maskapai jika mengoperasikan pesawat itu. Dengan demikian, mau tak mau Boeing harus mengikuti kemauan EASA, selain lobi-lobi politik tentunya, mengingat kedua perusahaan (Boeing dan Airbus) merupakan representatif dari dua kekuatan dunia, AS dan Eropa.

Xpressair Gebrak Rute Semarang-Sampit Lewat Program “Murah Meriah Untung Melimpah”

Setelah kembali mengudara pada akhir Maret lalu, Xpressair mulai mengisi pos penting di jagat penerbangan dalam negeri. Hal itu bisa dilihat tingginya animo masyarakat terhadap rute-rute yang dijajaki maskapai, seperti Jakarta (CGK) – Pangkalan Bun (PKN) PP, Sampit (SMQ) PP, Muara Bungo (BUU), Pontianak (PNK) PP, dan Padang (PDG).

Baca juga: Tuntas Mengabdi di Timur Indonesia, Xpressair Fokus Hubungkan Jawa-Sumatera dan Kalimantan

Merespon hal itu, maskapai yang mulai beroperasi secara komersial pada 23 Juni 2003 ini pun membuka rute baru keberangkatan dari Semarang ke beberapa kota, sperti Palembang, Banjarmasin, dan Sampit. Khusus untuk rute Semarang-Sampit, belum lama ini maskapai yang memiliki motto “Terbanglah Indonesia” itu meluncurkan program “Murah Meriah Untung Melimpah”.

“Dengan adanya program ‘Murah Meriah Untung Melimpah’ Xpressair memberikan potongan harga sampai dengan 600 Ribu Rupiah dengan syarat pembelian tiket pulang pergi,” bunyi rilis Xpressair yang diterima KabarPenumpang.com.

“Promo diskon berlaku mulai tanggal 15 Juli 2020 sampai 25 Juli 2020. Dengan periode terbang mulai tanggal 15 Juli 2020 sampai dengan 30 Juli 2020. Tiket diskon dapat langsung diperoleh saat booking melalui website kami www.xpressair.co.id dan travel agent atau online travel agent,” bunyi keterangan lainnya.

Selain mendapat harga spesial jauh di bawah rata-rata, mengingat harga normal bisa mencapai Rp1,45 juta per orang di setiap keberangkatan, dalam penerbangan yang menggunakan pesawat ATR 42-300 ini, penumpang Xpressair juga diberikan fasilitas gratis bagasi hingga 10Kg. Termasuk juga snack gratis yang akan dibagikan awak kabin sesaat setelah lepas landas. Menarik, bukan?

Untuk penerbangan Semarang-Sampit, Xpressair beroperasi pada setiap Senin, Rabu, dan Jum’at. Pukul 12.00. Sebaliknya, rute Sampit-Semarang beroperasi pada Selasa, Kamis, dan Sabtu pukul 07.00.

Baca juga: Berbasis di Makassar, Xpressair Jadi Raja di Rute Indonesia Timur

Mengantisipasi tingginya animo masyarakat, Xpressair menghimbau agar seluruh calon penumpang membawa kelengkapan dokumen dan datang lima jam sebelum keberangkatan agar tak terjadi antrean panjang saat pemeriksaan kelengkapan dokumen.

Sebagai informasi, saat masih di puncak kejayaan, Xpressair sempat digadang-gadang menjadi salah satu maskapai terbesar untuk wilayah-wilayah Indonesia Timur dengan melayani 33 rute ke berbagai wilayah di Indonesia Timur. Salah satu rute favorit bagi kalangan wisawatan domestik maupun mancanegara yakni penerbangan langsung dari Jakarta ke Sorong, setiap harinya, untuk kemudian wisatawan melanjutkan perjalanan ke destinasi favorit di Raja Ampat.

Airbus Helicopters Siapkan Suksesor Helikopter Terlaris H125, Bertenaga Listrik?

Belum lama ini, pemerintah Perancis meluncurkan “Plan Aero” sebagai roadmap kedirgantaraan negara di masa mendatang. Salah satu target ambisius Plan Aero adalah memulai penerbangan ramah lingkungan sesegera mungkin.

Baca juga: Kejar Target Produksi Pesawat Tanpa Emisi di 2035, Airbus Pertimbangkan Penggunaan Hidrogen

Guna memuluskan langkah tersebut, pemerintah Perancis yang mengucurkan dana sebesar 1,5 miliar euro pada pertengahan Juni lalu. Begitu juga dengan Airbus dan beberapa perusahaan dirgantara seperti Dassault Aviation, Thales, serta Safran yang mengucurkan dana masing-masing sebesar 200 juta euro.

Hasil pendanaan itu disebut akan digunakan untuk mengejar target realisasi pesawat netral karbon, A320, pada 2035 mendatang. Ada dua pilihan bahan bakar ramah lingkungan, biofuel dan hidrogen.

Tak hanya itu, Pemerintah Perancis juga ingin melihat pesawat-pesawat Airbus sudah ditenagai oleh bahan bakar ramah lingkungan, baik itu listrik maupun hidrogen pada 2030 yang didapuk lebih hemat hingga 40 persen. Pun demikian dengan Airbus Helicopters yang ditargetkan lebih awal (memproduksi helikoper ramah lingkungan) pada 2029.

Merespon target tersebut, Airbus Helicopters akan mulai melakukan pengembangan lewat salah satu helikopter terlaris mereka, H125 light-single.

Namun, alih-alih mengikuti arahan pemerintah, membuat produk bertenaga listrik ataupun hidrogen, pabrikan itu malah tetap mempertahankan teknologi konvensional. Tetapi, tujuan mencapai tingkat penghematan hingga 40 persen tetap dikejar dengan konsep “techno-bricks” yang sama sekali tak ada hubungannya dengan listrik.

Tomasz Krysinski, kepala inovasi dan riset Airbus Helicopters, mengatakan konsep “techno-bricks” cocok untuk mengantarkan target efisiensi helikopter hingga 40 persen, ketimbang membekalinya (helikopter) dengan tenaga listrik yang dinilainya masih belum mumpuni.

Konsep “techno-bricks” di sini berfokus pada tiga hal, peningkatan aerodinamis -baik rotor dan badan pesawat; pengurangan massa atau bobot helikopter -melalui teknik dan komponen baru helikopter; serta perbaikan pada siklus termodinamika mesin turbin gas.

Baca juga: Airbus Helicopters UK dan Universitas Cranfield Inggris Uji Sistem Pemantau Rotor Real Time

“Kami benar-benar membutuhkan kebutuhan energi (pesawat) serendah mungkin; mengurangi gaya drag hingga 30 persen, misalnya,” kata Tomasz Krysinski, seperti dikutip dari Flight Global.

Krysinski melanjutkan, saat ini proses pengujian “techno-bricks” masih berlangsung. Oleh sebab itu, peluncuran resmi program pengganti atau suksesor helikopter H125 masih menggantung di langit. Sampai proses tersebut mengalami titik terang, suksesor H125 akan terus menjadi rahasia, entah dengan tetap mempertahankan konsep “techno-bricks” atau mau tak mau harus beralih ke listrik ataupun hidrogen, meskipun dengan konsekuensi perubahan total.

25 Juli 2020, Malaysia Airlines dan Japan Airlines Luncurkan Kemitraan Bersama

Dua maskapai dari aliansi Oneworld yakni Malaysia Airlines dan Japan Airlines pada 25 Juli 2020 mendatang akan meluncurkan kemitraan bersama mereka. Nantinya kemitraan ini akan bekerja sama secara komersial dalam penerbangan antara Malaysia dan Jepang. KabarPenumpang.com melansir businesstraveller.com (12/7/2020), dalam kerja sama ini, kedua maskapai tersebut akan mengoperasikan empat penerbangan mingguan antara Tokyo dan Kuala Lumpur.

Baca juga: Tiga Kelas Ekonomi Baru Jadi Pilihan Penumpang Malaysia Airlines

Keduanya berharap operasi ini akan berfungsi sebagai model bisnis yang berkelanjutan antar Malaysia Airlines dan Japan Airlines. Bahkan kedua operator ini bertekad untuk menerapkan standar tertinggi dalam memastikan pengalaman perjalanan penumpang dan staf baik awak darat maupun kabin, di mana mereka terlindung dari paparan virus corona. Group Chief Officer Malaysia Airlines Kapten Izham Ismail mengatakan, dirinya berharap bahwa hubungan antar dua maskapai ini akan memberikan perjalan mulus dan menjadi kontributor positif bagi kedua ekonomi di dua negara selama masa sulit ini.

“Saya senang bahwa Bisnis Bersama akhirnya lepas landas setelah beberapa bulan penundaan karena pembatasan perjalanan antara kedua negara. Kami menantikan diskusi bilateral antara pemerintah Malaysia dan Jepang untuk membangun gelembung perjalanan antara kedua negara, yang akan memudahkan pembatasan untuk perjalanan lintas batas,” kata Ismail.

Dia menambahkan, Malaysia Airlines menjadi maskapai nasional negara itu dan Japan Airlines memainkan peran penting dalam menghidupkan kembali perekonomian dan mereka yakin adanya sinergi ini akan memfasilitasi perdagangan serta meningkatkan pariwisata bagi keduanya. Presiden Japan Airlines, Yuji Akasaka mengatakan, dirinya optimis bahwa adanya kemitraan ini dapat menarik penumpang kembali ketika mereka bersiap untuk melakukan perjalan kembali dan memberikan kualitas layanan yang ditingkatkan.

Baca juga: Japan Airlines Izinkan Pramugari Gunakan Celana Panjang dan Sepatu Tanpa Hak

Komisi Penerbangan Malaysia dan Kementerian Pertanahan, Transportasi, dan Pariwisata Jepang menyepakati serta memprakarsai kemitraan bisnis bersama awal tahun lalu, dengan memberikan pengecualian individu dan kekebalan antimonopoli, masing-masing. Kemitraan bisnis bersama juga akan memungkinkan kedua operator untuk berkoordinasi dan berkolaborasi di luar pasar penumpang, di area operasional lainnya, seperti kargo dan mengembangkan industri pariwisata di pasar Jepang serta Malaysia.

Kalau ke Jogja, Jangan Lupa Nikmati Perjalanan dan Ngopi di Coffee On The Bus

Pandemi virus corona tak hanya membuat dunia penerbangan sempat terhenti, para pemilik perusahaan otobus atau PO pariwisata harus menghentikan operasinya. Bahkan bisa dikatakan sudah berbulan-bulan mati suri semenjak virus ini masuk ke Indonesia. Namun meski begitu apakah para pemilik PO bus berhenti untuk beroperasi semuanya? Ternyata tidak semuanya seperti itu, salah satunya adalah pemilik PO Rejeki Transport yang menjadikan busnya begitu bermanfaat meski tidak membawa rombongan pelancong untuk berlibur.

Baca juga: Mau Makan di Restoran dengan Sensasi Bandara dan Pesawat? Yuk ke Jogja Airport Resto

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, pemilik PO Rejeki Transport Wiwit Kurniawan memiliki cara tersendiri agar busnya beroperasi yakni dengan menghadirkan Coffee on The Bus. Coffee on The Bus ini sendiri mulai dioperasikan sejak 27 Juni 2020 kemarin dan memiliki beberapa pilihan jam keberangkatan yakni 09.00, 13.00, 16.00 dan 19.00 WIB.

Perjalanannya dilakukan selama satu jam dengan Jetbus Scania yang akan mengelilingi kota Yogyakarta dengan rute Kotabaru-Tugu-Kiai Mojo- Bugisan-Kotagede-JEC-Janti-Jalan Solo-Kotabaru. Di dalam bus, seluruh penumpang yang naik akan disajikan makanan ringan yang ditempatkan di tempat duduk masing-masing.

Tak hanya itu, barista yang ikut dalam perjalanan tersebut akan menyajikan secangkir kopi Merapi dengan metode manual brewing. Nah, karena tak semua penumpang bisa minum kopi, barista ini akan menyajikan sari kacang hijau ataupun teh tarik yang dibuat langsung di depan meja pelanggan.

“Kami bekerjasama dengan tenant ternama untuk pemilihan Snack. Soalnya kami juga mengutamakan kualitas. Kopi 100 persen asli didatangkan dari Gayo, Solok, Lampung Merapi dan lain-lain. Sebenarnya saya juga ingin memperkenalkan Kopi Merapi agar pariwisata di Yogyakarta bisa bangkit lagi,” kata Wiwit yang dikutip dari jogja.tribunnews.com (1/7/2020).

Wiwit mengatakan kehadiran Coffee on The Bus sendiri bertujuan agar sektor pariwisata Yogyakarta perlahan bisahidup kembali setelah empat bulan terhenti karena virus corona ini.

“Dengan adanya pandemi ini orang ketakutan ke luar tapi kita coba dengan refreshing, orang kan sekarang banyak yang hobi minum kopi sehingga kita ngopi di rumah bisa, ngopi di coffee shop bisa, ngopi di tenant-tenant ternama bisa, tapi kita coba ngopi di dalam bis dulu,” tambah Wiwit.

Dia menjelaskan, selain membangkitkan pariwisata, acara ini juga bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang kopi. Ini karena di dalam Coffee on The Bus ada brand Kopiku sebagai sister company acara tersebut yang memiliki beragam kopi dari seluruh nusantara yang dikenalkan kepada penumpang. Acara ini sebenarnya juga bertujuan untuk masyarakat yang berasal dari luar kota Yogyakarta agar lebih mengenal budaya Kota Gudeg ini.

Bahkan berhasil menarik pelancong dari Solo dan Magelang. Pertama beroperasi, Coffee on The Bus ini pada semua jam keberangkatan kursi terisi penuh dan begitu juga sebaliknya. Wiwit mengatakan, akan terus mengadakan acara ini tidak hanya di akhir pekan tetapi hari biasa.

“Terus bisa setiap hari, weekday kita coba sudah beberapa weekday coba kita jalankan tapi kita minimal 10 hingga 15 orang ada ya kita jalan,” ungkap Wiwit.

Penasaran bagaimana cara untuk menikmati Coffee on The Bus ini? Caranya cukup mudah, pelancong bisa melakukan reservasi tiketnya melalui Arta Barber and Chill dan mengocek kantong Rp50 ribu. Untuk seat dalam bus sendiri benar-benar dibatasi yakni hanya 28 dan nantinya akan memperpanjang rutenya hingga ke Yogyakarta Internasional Airport.

Baca juga: Restoran dengan Model Replika Airbus A320 Dibangun di Bengaluru

Tak hanya tarif yang murah, di masa pandemi untuk menikmati perjalanan ini, semua protokol kesehatan tetap dilakukan dimana sebelum naik suhu tubuh akan di cek, penumpang wajib menggunakan masker dan membersihkan tangan dengan handsanitizer. Untuk penumpang yang bepergian bukan dengan keluarga akan ada sekat sosial distancing, tetapi jika dengan keluarga sekat tidak digunakan.

Sambut New Normal, Ada Ikon dan Kata “Senyum” Berukuran Besar di Aula Utama Stasiun Taipei

Di masa pandemi Covid-19 membuat banyak hal harus berubah salah satunya perilaku dalam menggunakan transportasi umum. Di mana semua penumpang yang menunggu di halte, stasiun atau bandara harus menjaga jarak mereka untuk mencegah penularan virus corona ini. Tak hanya itu, mereka juga diharapkan untuk tidak berkumpul saat menunggu kendaraan mereka tiba.

Baca juga: Taipei Hadirkan Sistem Inframerah untuk Cek Suhu Tubuh Penumpang MRT

Hal ini pun berlaku di stasiun kereta api Taipei yang melarang penumpang duduk di aula utama sebagai pencegahan penyebaran Covid-19. Namun baru-baru ini, larangan tersebut dibatalkan oleh Administrasi Kereta Api Taiwan (TRA). Bahkan mereka membuat hal baru di lantai aula utama stasiun Taipei.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman taipeitimes.com (13/7/2020), TRA memperbaharui lantai aula stasiun dengan memasang sepuluh macam decals atau stiker senyum yang berbeda. Ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa aula utama tersebut dapat digunakan untuk berbagai keperluan semua orang dan mereka bisa mengakses fasilitas tersebut.

Tak hanya stiker bergambar senyum, tetapi stiker kata-kata “senyum” pun dibuat dalam terjemahan sepuluh bahasa yakni Mandarin, Inggris, Jepang, Korea, Prancis, Vietnam, Indonesia, Filipina, Thailand, dan Malaysia. Stiker gambar dan kata senyum ini dibuat dengan pola kotak-kotak.

“Semua decals atau stiker sudah dipasang kemarin pagi. Pola kotak-kota di aula utama sebenarnya sudah ada selama bertahun-tahun. Tetapi penggunaan ruang publik harus beragam dan harapan kami adalah orang-orang, baik mereka yang berdiri atau duduk dapat datang ke aula utama dan menemukan tempat mereka,” kata TRA.

TRA juga mengatakan, mereka akan mengeluarkan proposal tentang bagaimana aula utama harus digunakan untuk memenuhi beragam permintaan dari masyarakat. Salah satunya adalah memasang tempat duduk dan memungkinkan kelompok-kelompok non pemerintah untuk mengakses area tersebut.

“Langkah-langkah ini menunjukkan komitmen kami untuk memenuhi tanggung jawab sosial dan menjadikan aula utama Stasiun Kereta Api Taipei sebagai tengara bagi keanekaragaman budaya yang ramah bagi semua orang,” katanya.

Pihak TRA menambahkan, para penyelenggara acara dipersilahkan untuk menyewa fasilitas stasiun TRA, asalkan para peserta yang hadir mengikuti pedoman jarak sosial, menggunakan masker dan mencuci tangan sesering mungkin karena Covid-19 masih ada di Taipei. Untuk diketahui, sebelum TRA membuka kembali aula utama di stasiun mereka dan menempelkan stiker gambar dan kata senyum, mereka sudah mengadakan dua kali seminar pada 26 Mei dan 3 Juni kemarin untuk mendengar kelompok-kelompok sipil, organisasi non pemerintah dan para ahli tentang bagaimana aula utama harus digunakan.

Baca juga: 15,5 Kilometer Jalur Metro Taipei Kini Sepenuhnya Otomatis

Kemudian kelompok-kelompok sipil mengadakan pertemuan mereka sendiri pada 11 Juni dan 17 Juli kemarin serta mendapatkan konsensus bahwa aula utama harus tetap terbuka untuk umum dan digunakan untuk memfasilitasi partisipasi warga negara.