Melukis di Dalam Bus? Cuma ada di “Rosie The Art Bus”

Banyak bus yang sudah diubah penggunaannya yang tadinya untuk antar jemput penumpang, saat ini menjadi restoran coffee shop, kamar hotel atau apapun. Di Seattle bahkan sebuah bus sekolah Bluebird tahun 2002 lalu diubah menjadi sebuah studio seni dan etalase keliling yang disebut dengan “Rosie the Art Bus.”

Baca juga: Kalau ke Jogja, Jangan Lupa Nikmati Perjalanan dan Ngopi di Coffee On The Bus

Pemiliknya yang bernama Carrie Schmitt mengatakan, dirinya melukis di dalam bus dan di dek bagian atas untuk tempat para musisi lokal bergabung untuk merayakan suatu acara atau berbagi seni. Carrie berharap Rosie the Art Bus bisa membawa visibilitas seni ke masyarakat untuk berbagi proses kreatif dan melihat seni sebagai sebuah profesi.

(carrieschmittdesign.com)

“Saya ingin orang melihat bahwa seniman masih ada dan tinggal di sini. Kita adalah bagian dari komunitas dan saya ingin berbagi profesi kreatif langsung dengan orang-orang karena itu menarik dan menginspirasi,” ujar Carrie.

Dia mengaku membuat Rosie the Art Bus karena tak bisa menemukan ruang studio terjangkau di sisi timur Seattle. Carrie mengaku dengan bus ini banyak berkah dalam hidupnya karena kehadiran Rosie menjadi sesuatu di mana yang lainnya tak berhasil.

“Saya bersyukur atas sakit hati yang menuntun saya ke Rosie, yang bahkan lebih baik daripada yang bisa saya bayangkan dalam mimpi terliar saya. Dia juga bagian dari akhir dari memoar saya yang akan datang, A Year of Roses, dan mewakili kebebasan dan kemerdekaan yang telah lama saya,” ujar Carrie.

Dia bahkan mengaku bahwa Rosie sangat menyenangkan untuk dikendarai di mana jendela dan cermin memudahkan navigasi. Carrie mengatakan, dirinya suka melihat reaksi orang lain terhadapnya. KabarPenumpang.com merangkum dari carrieschmittdesign.com, untuk menikmati tur Rosie, pelanggan bisa melihat jadwal dalam laman website tersebut dan mendaftar untuk “An Artful Adventure” dan habiskan hari melukis bersama Carrie serta berkeliling dengan Rosie.

Dalam tur ini, pelanggan bisa menikmati sesi melukis pribadi di bus dan Carrie akan membagikan bagaimana membuat lukisan dari awal hingga selesai. Selain itu juga membuat lukisan kolaboratif untuk disimpan juga bisa menjadi sebuah pilihan.

“Dapatkan manfaat dari teknik sederhana yang saya gunakan untuk memicu aliran kreatif saya dan memelihara pikiran, tubuh, dan jiwa saya. Makan siang bersama saya di taman atau kafe menawan di Seattle atau daerah sekitarnya,” tambah Carrie.

Dia juga mengajak pelanggan untuk menikmati kegembiraan dan kejaiban Proyek Single Rose dengan membagikan mawar kepada orang asing. Carrie mengatakan, bahwa menjelajahi destinasi Seattle dengan mata seorang seniman bisa menjadi inspirasi yang bisa masuk dalam lukisan. Dia juga selalu membuka diri untuk ditanyakan segala sesuatu tentang seni seperti proses kreatif, lisensi, penerbitan buku, mengirimkan artikel majalah, merancang produk, cara menjual di galeri atau online, dan banyak lagi.

Baca juga: Layaknya Pohon Natal, Ini Alasan Bus AKAP Dihiasi Lampu Warna Warni

Dalam perjalanan tersebut pelanggan anak mendapat dua kanvas ukuran 24 × 24 untuk Anda pakai dan semua persediaan cat. Untuk menikmati perjalanan dan melukis bersama Carrie, pelanggan akan mengocek kantong US$1500 untuk sesi pribadi delapan jam. Ini tidak termasuk makan siang dan makanan ringan. Paket makanan ringan dan jangan ragu untuk membawa perlengkapan seni favorit Anda jika Anda mau.

Powerbank Tenaga Surya, Andalan Ketika Berlibur di Alam Tanpa Soket Listrik

Meski rencana musim panas terbatas, tetapi banyak orang yang melakukan perjalanan ke berbagai tempat salah satunya menikmati keindahan alam. Tak hanya untuk menikmati musim panas, orang-orang juga menikmati alam demi menghilangkan kejenuhan di masa pandemi Covid-19.

Baca juga: e-paper Papercast, Sistem Informasi Digital di Halte Bus dengan Tenaga Surya

Walaupun begitu sepertinya ponsel pintar Anda tak bisa dilupakan karena untuk mengabadikan berbagai pemandangan baik dalam foto maupun video. Nah, sayangnya ketika di alam, tidak mungkin selalu ada soket listrik, satu-satunya yang bisa diandalkan adalah powerbank atau bank daya yang menjadi perangkat lainnya untuk di bawa.

Namun powerbank dengan pengisian daya menggunakan listrik pun tidak disarankan meski memiliki daya sebesar 10 ribu mAh. Tapi, bagi Anda pelancong yang akan menikmati alam sepertinya powerbank dengan tenaga surya cocok untuk dibawa dan digunakan.

KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (16/7/2020), sebuah charger telepon surya lipat dengan 4-panel dan memiliki daya 10 ribu mAh cocok untuk Anda yang akan melancong ke alam ketika musim panas. Sumber kekuatan besar ini akan memungkinkan pengisian perangkat elektronik selain ponsel ketika bepergian ke tempat tanpa soket listrik.

Charger telepon surya ini menggunakan panel surya monokristalin 4x dan baterai Li-Polymer 10 ribu mAh yang memungkinkan Anda mengisi ulang semua perangkat sekaligus. Untuk pengisian ulang dayanya pun hanya memerlukan sinar matahari. Charger telepon surya ini menggunakan port pengisian daya USB 2.0 ganda sehingga ponsel, speaker, tablet, kamera dan lainnya tanpa perlu outlet.

Tak hanya itu powerbank ini pun dilengkapo teknologi IC Cerdas, sehingga secara otomatis mencegah pengisian berlebih atau hubungan arus pendek dan memastikan perangkat diisi daya dengan aman. Dengan desain yang bisa dilipat dan ringkas, Anda bisa membawa powebank ini ke mana pun tanpa menambahkan tas untuk membawanya.

Baca juga: Polandia Punya Fasilitas Pencucian Kereta dengan Tenaga Surya

Perangkat ini memiliki tiga lampu LED yang disertakan dalam panel sehingga memungkinkan penerangan di area mana pun yang tidak ada cahaya atau bisa digunakan ketika dalam keadaan darurat. Selain itu, powerbank ini pun kedap air sehingga tak perlu khawatir rusak ketika kena hujan atau terjatuh ke dalam air. Harga dari powerbank ini sekitar $45 atau Rp665 ribu.

Bandara di Seluruh Dunia Menuju Bebas Emisi CO2! Berikut Empat Tahapannya

Kesepakatan Hijau Eropa (European Green Deal) serta kebijakan serupa di tempat lainnya, perlahan tapi pasti berhasil menggiring industri penerbangan menerapkan energi berkelanjutan guna menekan emisi gas rumah kaca.

Baca juga: Peduli Lingkungan dan Manfaatkan Energi Terbarukan, Bandara Oslo Jadi Yang “Terhijau” di Dunia

Pabrikan pesawat, Airbus dan Boeing, didukung oleh para ahli, sudah berupaya mencari bahan bakar alternatif. Akhir Februari 2020 lalu, lima alternatif pengganti bahan bakar fosil pesawat di masa depan telah dipublikasikan. Lima itu, mulai dari listrik, tembakau, sampah, dan gula, nuklir, black bag waste, serta limbah kayu; ditambah hidrogen, yang belum lama ini juga diproyeksikan sebagai alternatif energi hijau.

Tak hanya pesawat, upaya menekan emisi karbon atau emisi gas rumah kaca juga dilakukan oleh bandara-bandara di dunia. Pada 2009 lalu, Airports Council International (ACI) Eropa mengusulkan dibentuknya skema Akreditasi Karbon Bandara (ACA). Tahun 2011, ACA diadopsi oleh bandara-bandara di Asia-Pasifik. Tiga tahun berselang, Amerika Utara dan Afrika menyusul dan mengukuhkan ACA sebagai gerakan global. Saat ini, sekitar 312 bandara terlibat dalam Akreditasi Karbon Bandara.

Di tahun pertama ACA diimplementasikan, penurunan emisi CO2 bisa dibilang sukses. Data menunjukkan, antara Juli 2009 dan Juni 2010, ACA berhasil membebaskan atmosfer dari CO2 sebanyak 56.633 ton, setara dengan jumlah CO2 yang diserap dari sekitar 399 hektar hutan.

Di periode antara Juli 2018 dan Juni 2019 hasilnya lebih menakjubkan lagi. Gerakan ACA berhasil membebaskan sebanyak 322.297 ton CO2 atau setara dengan emisi yang dibutuhkan untuk memberi daya 767 juta jam streaming video HD.

Dikutip dari Simple Flying, capaian di atas tentu tidak mudah. Bandara di seluruh dunia setidaknya harus melewati empat tahapan, mulai dari pemetaan, mengurangi emisi CO2, mengoptimalkan pengurangan emisi CO2, hingga mencapai netralitas karbon atau bebas emisi CO2 di bandara.

Di tahapan pertama atau pemetaan, bandara yang terlibat memang belum berkontribusi menekan emisi CO2. Sebab, mereka hanya diminta untuk mengumpulkan data-data emisi CO2 yang dihasilkan dari bandara. Saat ini, sekitar 98 bandara di seluruh dunia sedang bergelut di tahapan ini. Di antaranya, Bandara Jorge Newbury Airfield di Buenos Aires, Argentina, Bandara Internasional Edmonton di Alberta, Kanada, dan Bandara Internasional Murtala Muhammed di Lagos, Nigeria.

Tahapan kedua atau mengurangi emisi CO2, sebanyak 95 bandara di seluruh dunia tercatat ikut berpatisipasi. Setelah mengumpulkan data-data emisi CO2 yang dihasilkan, peserta diharuskan mengambil langkah konkret untuk mengurangi emisi CO2, seperti membentuk komite perubahan iklim, menyusun strategi komunikasi, dan mengintegrasikan skema pengurangan CO2 ke semua lini bisnis di bandara.

Masuk ke tahapan ketiga atau mengoptimalkan pengurangan emisi CO2, hanya 57 bandara yang terlibat. Di antaranya, Bandara Internasional Abu Dhabi di UEA, Bandara Paris Charles de Gaulle, Bandara London Heathrow, dan Bandara Internasional Los Angeles. Di tahapan ini, seluruh peserta ACA diwajibkan untuk memperluas cakupan langkah konkret mengurangi emisi karbon, seperti mengajak pihak ketiga di bandara hingga petugas ground handling.

Baca juga: Empat Bandara di Belanda Bersiap Manfaatkan Energi Angin

Tahapan terakhir atau mencapai netralitas karbon, sebanyak 62 bandara berhasil mencapai posisi ini, dimana mereka konsisten untuk melaksanakan komitmen menurunkan dan mengoptimalkan penurunan emisi CO2 di bandara. Pada Mei 2017, Gatwick menjadi bandara netral karbon pertama di London dan bandara netral karbon tersibuk kedua di Eropa setelah Bandara Oslo, Norwegia.

Menurut sustainability report tahun 2019, bandara Gatwick terpantau menggunakan kembali atau mendaur ulang 71 persen limbah, dan 47 persen penumpang menggunakan transportasi umum ke dan dari bandara.

Perkenalkan Ocean, Anak Perusahaan Lufthansa Khusus Penerbangan Rekreasi

Salah satu raksasa maskapai penerbangan dunia, Lufthansa, nampaknya belum puas dengan capaian ekspansi bisnisnya. Belum lama ini, maskapai yang berdiri pada tahun 1926 itu dikabarkan tengah mengajukan sertifikat operator udara (AOC) untuk unit maskapai penerbangan rekreasi atau leisure airline baru, Ocean.

Baca juga: Kurangi Emisi Karbon, Lufthansa Jual Tiket Penerbangan ‘Ramah Lingkungan’

Dikutip dari onemileatatime.com, untuk asset awal, anak perusahaan Lufthansa itu akan dibekali dengan 11 unit pesawat, dengan rincian empat pesawat berbasis di Frankfurt, tiga berbasis di Munich, dan empat berbasis di Dusseldorf.

Adapun jenis pesawat yang digunakan sejauh ini masih menjadi teka-teki, mengingat, maskapai akan melayani rute-rute gemuk jarak jauh, seperti Frankfurt-Tampa (Florida), Frankfurt-Anchorage (Alaska), Munich-Las Vegas, Munich-Orlando, dan rute-rute lainnya.

Namun, satu hal yang pasti, Ocean diperkirakan tetap akan menggunakan Airbus, sebagaimana anak perusahaan Lufthansa ataupun maskapai-maskapai Eropa lainnya yang solid untuk terus mengoperasikan pesawat Airbus. Bila tak ada halangan berarti, Ocean diperkirakan dapat mulai mengudara pada 2022 mendatang.

Menariknya, Ocean bukan satu-satunya maskapai penerbangan rekreasi di bawah bendera Lufthansa Group. Sebelumnya, Lufthansa sudah lebih dahulu mempunyai anak perusahaan (maskapai) dengan konsep sejenis (leisure airline), yakni Edelweiss Air (anak perusahaan Swiss International Air Lines atau cucu usaha Lufthansa).

Namun demikian, Ocean digandang-gadang dilahirkan untuk memperkuat posisi Lufthansa (bersama Edelweiss Air) di sektor penerbangan rekreasi, mengingat kompetitor Eropa mereka, Air France, juga mempunyai unit bisnis serupa lewat Joon Airline. Joon dipandang menjadi pesaing berat di pangsa pasar maskapai penerbangan rekreasi mengingat konsepnya yang unik dan menarik, mulai dari desain hingga staf yang notabene dibanjiri kaum millenials.

Maskapai penerbangan rekreasi, Ocean, nantinya bukan hanya fokus melayani berbagai penerbangan rekreasi dengan destinasi favorit di seluruh dunia, tetapi juga diproyeksikan menggarap rute penerbangan Lufthansa CityLine dan Eurowings, yang notabene fokus pada penerbangan regoinal serta berbiaya hemat (LCC).

Baca juga: Bos Lufthansa: Dampak Krisis Ekonomi Global, Kelak Hanya 12 Maskapai yang Bertahan di Rute Gemuk

Sebagai informasi, selain mempunyai anak usaha yang sudah disebutkan di atas, Lufthansa juga mempunyai anak usaha (maskapai) yang tersebar di berbagai negara, seperti di Austria (Austrian Airlines), Turki (SunExpress), Swiss (Swiss International Air Lines), Italia (Air Dolomiti), Luksemburg (Luxair), Inggris (British Midland Airways Limited, JetBlue, dan Condor), serta Belgia (Brussels Airlines).

Bila unit bisnis lain di luar penyedia jasa penerbangan (maskapai) juga dihitung, Lufthansa tercatat memiliki lebih dari 400 anak usaha yang seluruhnya bergelut di industri penerbangan, mulai dari penyedia jasa katering, reparasi pesawat, asuransi, sekolah pilot, IT penerbangan, hingga logistik.

Terjadi Lagi, Pesawat Penumpang Dikonversi Jadi Pesawat Kargo Gegara Penerbangan Loyo

Lagi dan lagi, sepinya penumpang pesawat memaksa perusahaan mengubah pesawat menjadi angkutan kargo. Rabu lalu, Administrasi Penerbangan Federal (FAA) mengeluarkan sertifikasi untuk konfigurasi ulang pesawat penumpang Boeing 737-700 menjadi pesawat atau angkutan kargo.

Baca juga: Kabin Penumpang Penuh Kargo Bikin Pilot ‘Nambah Kerjaan’

Dikabarkan, pesawat yang dikonfigurasi ulang oleh Pemco Conversions itu sudah mendapatkan pelanggan pertama di Bahrain, yakni Chisholm Enterprises dan akan dioperasikan oleh anak perusahaan mereka, Texel Air.

Dari data Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), sebelum Covid-19 mewabah, 40,3 juta penerbangan dijadwalkan lepas landas di seluruh dunia pada tahun 2020, meskipun pada akhirnya harus turun menjadi sekitar 23,1 juta dan diperkirakan akan tetap rendah di 2021.

Berkaca dari agka-angka tersebut, tentu sangat wajar bila banyak perusahaan penerbangan ataupun lessor mengkonfigurasi ulang pesawat penumpang menjadi pesawat kargo. Menariknya, disaat yang bersamaan, kebutuhan dunia akan peralatan dan perlengkapan kesehatan seperti masker, face shield, dan lain sebagainya juga membuat kebutuhan pesawat kargo meningkat.

Dengan konsep Passenger-to-FlexCombi, pesawat tetap bisa membawa penumpang meskipun berstatus sebagai pesawat kargo. Foto: PEMCO via Simple Flying

Hal itu setidaknya bisa dilihat dari penjualan duopoli produsen pesawat di dunia, Boeing dan Airbus. Di bulan Juni lalu, keduanya sama sekali tak mencetak pesanan baru untuk pesawat penumpang. Sebaliknya, Boeing malah mendapat pesanan satu pesawat kargo dari raksasa jasa pengiriman asal AS, FedEx.

Namun demikian, sekalipun angkutan kargo menjadi lebih populer di wabah Covid-19 seperti sekarang ini, dalam kasus konfigurasi ulang Boeing 737-700 yang belum lama ini disetujui FAA, Air Transport Service Group (ATSG), selaku lessor sekaligus perusahaan angkuta kargo sebagai pemilik, tetap menyisakan empat bari kursi dalam konfigurasi 3-3 di bagian belakang. Dalam penerbangan, istilah tersebut dikenal sebagai Passenger-to-FlexCombi.

Pesawat ini nantinya akan ditawarkan dalam tiga skema konfigurasi. Konfigurasi pertama, menawarkan payload atau muatan sebanyak 13,7 ton dengan enam posisi palet. Konfigurasi kedua, menawarkan 15,8 ton muatan dengan tujuh palet. Adapun terakhir, versi full full-freighter pesawat ditawarkan menampung 18,2 ton muatan. Masing-masing konfigurasi tersebut tetap menawarkan kabin penumpang dengan kapasitas 12 dan 24.

Baca juga: Tak Ingin Meratapi Nasib, Hi Fly Ubah Airbus A380 Jadi ‘Varian’ Kargo Pertama di Dunia

“Untuk mencapai momen ini dalam pengembangan program konversi 737-700 penumpang-ke-barang kami memperkuat kehadiran kami sebagai pemimpin global di pasar,” Mike Andrews, direktur program konversi PEMCO, sebagaimana dilansir Simple Flying.

“Kami senang dengan kinerja tim konversi kargo kami dan terus mengembangkan produk-produk inovatif untuk memenuhi peningkatan permintaan pelanggan untuk konversi 737,” lanjutnya. Setelah sukses mendapat sertifikasi dari FAA, ATSG bergerak cepat untuk mendapatkan sertifikasi dari Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA) dan Administrasi Penerbangan Sipil Cina.

Presiden Awak Kabin Global: Pemerintah Wajib Keluarkan Kebijakan Penggunaan Makser di Semua Penerbangan

Terkait pemakaian masker di dalam penerbangan, saat ini tak semua maskapai mengamanatkan tetapi beberapa hanya merekomendasikannya pada penumpang. Hal tersebut kemudian membuat Sara Nelson, Presiden Internasional dari Association of Flight Attendants-CWA angkat bicara dan mengatakan tentang pentingnya pemerintah mengeluarkan kebijakan menggunakan masker secara seragam.

Baca juga: Pengamat Penerbangan: Kalau Sudah Pakai Masker Semua, Kenapa Harus Jaga Jarak?

“Tidak masuk akal Federal Aviation Administration (FAA) belum melakukan ini dan bahwa Departement of Transportation (DOT) belum mengambil peran kepemimpinan di sini. Pada 12 September 2001 (setelah serangan teroris), ada perubahan peraturan keamanan dan kita di sini sudah memasuki penyebaran virus dan masih belum ada mandat dari pemerintah federal. Kami benar-benar butuh dukungan dari pemerintah,” kata Sara.

Sebab menurut Sara, mengharuskan penumpang menggunakan masker dengan aturan yang jelas adalah untuk keselamatan dan kesehatan penumpang maupun awak pesawat.

“Kebijakan masker ini penting. Ini adalah item paling kritis yang akan membantu membatasi risiko penyebaran virus. Kami benar-benar mendorong maskapai untuk melakukan itu ketika pemerintah federal tidak meningkatkannya,” jelas Sara.

Dia menambahkan, dengan aturan jelas menggunakan masker, terlihat ada penurunan kasus terinfeksi pada awak kabin. Meski begitu maskapai harus lebih jelas terkait bagaimana orang seharusnya menggunakan masker dan etiket penggunaan masker seperti apa ketika harus makan atau minum sehingga semuanya membuat aman.

“Kami memang memiliki orang-orang yang menentang hal itu dan tidak ingin memakai masker, dan maskapai mengatakan mereka akan dilarang terbang, tetapi kami membutuhkan lebih banyak dukungan dari pemerintah federal. Kami memiliki pramugari yang baru saja diserang kemarin, dan yang bisa dia lakukan hanyalah mengajukan tuntutan sendiri,” jelasnya.

Selain itu seorang awak kabin Matthew Cook mengatakan bagaimana cara ia berinteraksi dengan penumpang yang menolak untuk memakai masker.

“Kamu sedang mengobrol. Kamu berusaha membuatnya semudah mungkin. Katakan saja, ‘Ini bukan hanya tentang kamu. Ini tentang semua penumpang kami dalam penerbangan kami,” ujar Matthew.

Tindakan lain yang disarankan oleh awak kabin yang harus dilakukan penumpang saat terbang adalah mencuci tangan, menyeka meja nampan, sandaran tangan dan kursi, dan mempersiapkan anak-anak yang bepergian dengan memberi tahu mereka bagaimana penerbangan ini akan berbeda dari biasanya. Beberapa maskapai juga telah mencoba kebijakan seperti memblokir kursi tengah untuk menegakkan jarak sosial, tetapi mengatakan itu tidak berkelanjutan secara finansial.

“Dari sudut pandang bisnis, mereka harus bertahan, dan saya ingin mereka bertahan karena saya ingin dipekerjakan datang pada musim gugur, tetapi dari sudut pandang individu, ya, saya akan senang jika kita membatasi jumlah penumpang saat ini,” pramugari Mitra Amirzadeh memberi tahu Costello.

Baca juga: Serikat Pekerja Awak Kabin di AS Minta Semua Orang Gunakan Masker di Bandara dan Kabin Pesawat

Association of Flight Attendants juga meminta perpanjangan ketentuan dari undang-undang CARES federal yang disahkan pada bulan Maret yang mengalokasikan hibah untuk maskapai komersial untuk tujuan menjaga karyawan dalam daftar gaji dengan upah dan tunjangan selama pandemi. Program ini telah mencegah PHK massal dan cuti, tetapi akan berakhir pada akhir September.

Covid-19 Bikin Pilot Banyak Nganggur! Masihkah Jadi Profesi Idaman?

Pandemi Covid-19 bikin industri penerbangan luntang-lantung. Catatan Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), sebelum Covid-19 mewabah, 40,3 juta penerbangan dijadwalkan lepas landas di seluruh dunia pada tahun 2020, meskipun pada akhirnya harus turun menjadi sekitar 23,1 juta dan diperkirakan akan tetap rendah di 2021.

Baca juga: (2) Hidup Bak ‘Sultan,’ Inilah Rincian Umum Sistem Gaji Pilot! Pantas Saja Bergelimang Harta

Dampaknya, sudah pasti, PHK massal dirasakan oleh maskapai serta industri penerbangan di seluruh dunia. IATA menyebut, sektor penerbangan, yang notabene menopang 65 juta pekerjaan (sebelum dihantam corona) kehilangan 25 juta pekerja, mulai dari karyawan pusat, staf darat, awak kabin, teknisi, hingga pilot.

Khusus untuk pilot, PHK massal yang terjadi mungkin menjadi anomali tersendiri. Betapa tidak, teringat di waktu kecil, dimana seringkali pilot menjadi cita-cita favorit (kalau tidak ingin disebut idaman) oleh mayoritas anak-anak ketika ditanyai orang dewasa, baik guru maupun orang tua. Bahkan, profesi pilot, dengan segudang glamouritas yang ditonjolkan, juga menjadi profesi idaman di kalangan remaja.

Seiring berjalannya waktu, kondisi tersebut mungkin bisa dikatakan berubah, terlebih pasca wabah Covid-19 seperti sekarang ini. Hampir dapat dipastikan profesi pilot sementara waktu atau mungkin sampai lima tahun mendatang sepi peminat. Smartfast, misalnya, salah satu sekolah pilot swasta yang memiliki cabang di Jakarta, Pekanbaru, Jambi, dan Yogyakarta serta memiliki jaringan hingga Negeri Jiran Malaysia, mau tak mau juga ikut terdampak pandemi corona.

Direktur Quality Control Smartfast, Capt. Eko, menyebut, sekalipun pendidikan pilot (pilot preparation) tetap berjalan, namun, ia mengakui bahwa pihaknya juga ikut terdampak.”Terdampak juga walaupun tak begitu signifikan,” jelasnya saat dihubungi KabarPenumpang.com, Jumat (17/7). Diyakni, sekolah pilot lainnya juga ikut terdampak. Adapun besar kecilnya dampak tersebut bergantung pada jejaring masing-masing sekolah dalam menjerat peserta didik baru.

Meskipun kebanyakan sekolah pilot meyakinkan calon peserta didik, dengan menyebut bahwa maskapai penerbangan membutuhkan tenaga mereka saat kondisi normal, sebetulnya hal itu bisa dibilang irasional. Sebab, pilot yang akan sekolah saat ini dan diperkirakan akan lulus 2 tahun 4 bulan mendatang atau sekitar tahun 2023 (CPL-ME-IR), otomatis mereka akan bersaing ketat dengan pilot yang sudah memiliki ribuan jam terbang.

Belum lagi mereka (pilot baru lulus di 2023 mendatang, dimana industri penerbangan diperkirakan akan mulai bangkit, tiga tahun pasca pandemi), juga akan bersaing dengan pilot lainnya yang di tahun 2020 atau sebelum itu belum pernah bekerja sama sekali. Tak hanya itu, pilot baru lulus nantinya juga harus menghadapi kenyataan bahwa maskapai tidak hanya melihat dari segi lisensi saja, melainkan jam dan pengalaman terbang pilot.

Lagi pula, sekalipun tak terlalu diekspose, PHK massal pilot pastinya dilakukan dengan beberapa syarat, seperti yang dilakukan British Airways. Belum lama ini, di antara kesepakatan maskapai tersebut terhadap pilot adalah suatu hari nanti, bila kondisi berangsur normal dan mereka membutuhkan pilot, maka eks pilot merekalah yang akan diutamakan terlebih dahulu, bahkan sekalipun dengan gaji yang lebih rendah.

Bayangkan, dengan gaji yang mungkin beda sedikit namun pengalaman beda jauh, mana yang akan maskapai pilih, pilot lama atau pilot baru lulus? Kebijakan serupa diyakini juga terjadi di seluruh negara, tak terkecuali Indonesia.

Perlu dicatat, kebutuhan pilot di dunia memang diproyeksikan meningkat seiring prediksi IATA dimana jumlah penumpang yang bepergian melalui udara akan mencapai 8,2 miliar pada tahun 2037, naik hampir dua kali lipat dari jumlah saat ini.

Baca juga: Ngeri! Ini Efek Alkohol dan Narkoba Terhadap Performa Pilot

Sedangkan tiga tahun mendatang, adalah prediksi dimana industri penerbangan mencapai titik normal seperti pra corona, bukan memasuki tahapan pengembangan menuju 8,2 miliar penumpang. Dengan begitu, diperkirakan, pilot baru lulus akan sulit bersaing di pasar komersial -yang persaingannya ketat- hingga 5-10 tahun mendatang.

Oleh karena itu, Capt. Fadjar Nugroho, Kapten Pilot Airbus A330-A350 Qatar Airways, dalam sebuah diskusi daring, menyarankan agar calon penerbangan muda (pilot baru) tidak berfokus pada airline saja, melainkan ke general aviation, seperti air taxi, parachute jumping, crop dusting (menyemprot tanaman), joy flight (jalan-jalan keliling), dan lain sebagainya.

Bersiap dari Awal Pandemi, Hong Kong Kembangkan Teknologi Buatan Sendiri untuk Hadapi Covid-19

Menjadi salah satu negara yang terdampak pandemi Covid-19, Hong Kong langsung mengambil tindakan cepat dan berhasil mengendalikan wabah sejak dini. Hal ini terlihat di mana Hong Kong mengambil langkah-langkah kesehatan dan keselamatan yang kuat dengan banyak teknologi buatan sendiri.

Baca juga: Bandara Hong Kong Terapkan Teknologi Disinfeksi Canggih yang Mampu Sterilkan 99 Persen Bakteri

Dilansir KabarPenumpang.com dari euronews.com (14/7/2020), tempat pertama yang menggunakan teknologi ini adalah Bandara Hong Kong, di mana manusia dan robot bekerja untuk menghentikan virus. Bandara dipilih karena menjadi jalur utama  akses ke dunia luar, oleh karenanya respon pada bandara adalah yang paling cepat

“Itu adalah tantangan dalam hal tenaga kerja dan sumber daya, tapi kami siap. Saya pikir orang masih ingat kembali ke kasus virus SARS di tahun 2003,” kata Steven Yiu, Deputi Direktur Pengiriman Layanan Otoritas Bandara Hong Kong.

Dia mengatakan, setelah pelajaran dari epidemi SARS, mereka mengambil berbagai langkah dimulai dari pemeriksaan suhu.

“Sebelum penumpang memasuki terminal, kami melakukan penyaringan suhu. Jadi, jika mereka di bawah 37,5 derajat Celcius, kami membiarkan mereka di dalam. Ketika kami kembali normal, kami dapat menjaga beberapa langkah misalnya pemeriksaan suhu keluar,” kata Yiu.

Dia menambahkan, hal tersebut mungkin akan menjadi fitur permanen di dalam bandara. Yiu menyebutkan untuk staf bandara ada pod desinfeksi yang dikembangkan di Hong Kong yang dimulai dengan pemeriksaan suhu dan menggunakan semprotan sanitasi selama 40 detik.

Tak hanya itu, bandara menggunakan robot pembersih yang juga dikembangkan di Hong Kong untuk membersihkan di lorong, lantai dan toilet. Bisa dikatakan, sebelum pemerintah negara lain bertindak, Hong Kong sudah mulai kontrol perbatasan, pengujian dan karantina.

Untuk diketahui, sebenarnya teknologi di bandara hanyalah beberapa contoh dan sebagai pusat regional untuk R&D. Di mana perusahaan teknologi dan bioteknologi Hong Kong bekerja sama dengan akademisi untuk memerangi pandemi.

Politeknik Universitas Hong Kong membuat pelindung wajah menggunakan printer 3D. Profesur Hau-chung, Dekan Teknik di universitas mengatakan, umpan balik pelanggan langsung membantu mereka untuk memodifikasi desain.

“Tidak mungkin pencetakan 3D dapat memberikan nomor yang Anda inginkan. Pencetakan 3D hanya dapat menghasilkan satu dari ini dalam 90 menit. Kami menggunakan mesin kami sendiri, mesin cetak 3D kami di universitas kami sendiri, untuk menghasilkan desain dan mendapatkan produk yang dibuat dalam waktu tujuh hari. Kami kemudian meneruskan ini ke industri dan mereka dapat memproduksinya dalam waktu dua minggu. Jadi keseluruhan masalah terpecahkan dalam waktu satu bulan,” kata Hau-chung.

Alex Wai, Wakil Presiden dan Provost di Universitas Politeknik Hong Kong, mengatakan mereka siap dan menunggu setelah virus terakhir yang menyerang.

“Kami memiliki Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS), dan kami memiliki rekan kerja baik di universitas kami dan Universitas Hong Kong, yang tahu bahwa hal seperti ini dapat terjadi lagi. Kami benar-benar memiliki dana perwalian, yang terdiri dari sumbangan dari berbagai perusahaan. Itu ada di tempat khusus untuk situasi seperti itu, wabah lain, atau pandemi,” ujar Alex.

Proyek anti Covid-19 jalur cepat lainnya ada di Science Park, rumah bagi ratusan perusahaan teknologi dan ribuan staf, termasuk ImmunoDiagnostics. Dr Kelsey Zhongling, Wakil Direktur Eksekutif, ImmunoDiagnostics mengatakan perusahaannya bekerja siang dan malam untuk menyiapkan proyek mereka.

“Kami secara resmi memulai pekerjaan pada awal Februari, dan dalam dua minggu kami telah menghasilkan tiga kit diagnostik yang berhasil untuk penyakit ini. Salah satunya disebut Elisa, yang memungkinkan lebih dari 90 tes per kit, dalam waktu 2 jam dan 30 menit, sehingga sangat berguna dalam skrining berbasis populasi. Dan yang kedua adalah tes darah Point-of-Care,” kata dia.

Baca juga: Hindari Kontak Langsung, Robot Bantu Layani Pasien Terinfeksi Virus Corona

Di mana ini hanya membutuhkan satu tetes darah dan akan menunjukkan hasilnya dalam sepuluh menit tanpa peralatan apa pun. Ini adalah teknologi yang membantu menyelamatkan hidup di Hong Kong, dan telah di ekspor ke seluruh dunia.

Hiburan di Musim Covid-19, Train To Busan “Peninsula” Raup $147 Ribu Pada Penayangan di Singapura

Siapa yang menanti sekuel dari Train To Busan yakni Peninsula? Sepertinya semua menanti film ini tayang di bioskop sejak 2019 lalu. Bahkan saat itu belum dipastikan dengan jelas kapan film ini akan tayang di bioskop seluruh dunia. Tetapi ada kabar dari sutradara Yeon Sang Ho, bahwa Peninsula akan dirilis pada Agustus 2020.

Baca juga: “Peninsula,” Jadi Sekuel Kedua Train to Busan, Tayang Musim Panas 2020

Namun ternyata Peninsula tayang lebih cepat yakni pada 15 Juli 2020 kemarin di Singapura. Sekuel dari Train To Busan ini bahkan membuat rekor di hari pertama pembukaannya yakni meraup $147 ribu. Ini membuat rekor baru dan menjadikan Peninsula sebagai film Korea teratas di Singapura dengan box office hari pembukaan tertinggi.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman tnp.sg (16/7/2020), menurut sebuah pernyataan oleh Golden Village, keberhasilan sekuel blockbuster zombie adalah fenomenal. Sebab bisa dikatakan penayangan perdana di Singapura ini bukanlah dalam keadaan normal seperti sedia kala karena tayang di tengah pandemi Covid-19 yang menyerang seluruh dunia.

Apalagi dalam penayanagnnya di Singapura ini, penonton berada di jarak sosial dengan satu studio dibatasi hanya 50 kursi yang bisa terisi. Peninsula menjadi yang terakhir dari trilogi zombie yang disutradarai oleh Yeon Sang Ho dan ditayangkan empat tahun setelah Train To Busan.

Film yang satu ini dibintangi oleh Gang Dong-won, Lee Jung-hyun dan aktris cilik Lee Re, film ini mengisahkan tentang orang yang selamat dari wabah zombie yang kembali ke semenanjung karantina untuk mengambil truk yang ditinggalkan tetapi menemukan dirinya disergap oleh zombie dan milisi misterius. Pada saat-saat yang paling menyedihkan, seorang wanita dan keluarganya menyelamatkannya dan dia merencanakan pelariannya dari semenanjung untuk selamanya.

Baca juga: Saat Kereta Ikut Kondang Sebagai Latar Film Box Office

Untuk diketahui, sebelum Peninsula, tempat teratas sebelumnya dipegang oleh Along With The Gods 2: The 49 Days Terakhir, yang dibuka pada hari libur umum pada tahun 2018 dan mengumpulkan $119 ribu pada hari pembukaannya. Pada tahun 2016, Train To Busan dibuka menjadi $75 ribu pada hari pertama dan berakhir dengan $5,35 juta, menjadikannya film Korea terlaris di Singapura sepanjang masa.

Mengapa Pesawat Komersial ‘Single Jet’ Tidak Banyak Beroperasi? Ini Jawabannya

Pada umumnya, pesawat komersial yang beredar di dunia dilengkapi dengan dua (twin jet), tiga (trijet), dan empat mesin (quad jet). Jarang sekali, sebuah pesawat komersial terbang dengan hanya satu mesin pesawat dedicated atau yang dari segi desain dilengkapi dengan satu mesin saja. Mengapa demikian?

Baca juga: Mengapa Pesawat Tri-Jet Tidak Se-Populer Twin-Jet dan Quad-Jet? Berikut Ulasannya

Faktor keselamatan tentu menjadi alasan utama. Namun, bila dilihat dari sektor lain, seperti militer, penggunaan satu mesin justru cukup populer. Lihat saja pesawat tempur buatan seluruh dunia, Amerika Serikat, Rusia, Perancis, hingga Cina, seluruhnya menggunakan satu mesin jet saja. Tetapi, sebagai bagian dari faktor safety, ketika pesawat mengalami kegagalan mesin, pilot dan kru akan tetap memiliki peluang selamat berkat fitur kursi lontar.

Dikutip dari Simple Flying, sebetulnya, pesawat jet sipil dengan mesin tunggal pertama di dunia, Cirrus Vision SF5, tidak memiliki fitur kursi lontar. Nyatanya, mereka tetap diizinkan beroperasi dengan jarak terbatas berkat fitur pengganti kursi lontar, berupa parasut yang menopang badan pesawat bila sewaktu-waktu pesawat mengalami kegagalan mesin.

Terlepas dari faktor safety, pesawat yang mulai kembali terbang pada 2016 lalu itu, diklaim mampu mengangkut sebanyak tujuh penumpang hingga 1.100 km dengan kecepatan maksimum mencapai 560 km per jam. Namun, tetap saja, kemampuan tersebut (batas kecepatan maksimum) masih setengah dari kecepatan maksimum pesawat komersial pada umumnya.

Dari segi desain, penggunaan mesin tunggal, dipastikan sangat tidak efisien. Sebab, mau tak mau, mesin harus berada tepat di atas pesawat dan berhimpitan dengan vertical stabilizer. Untuk menjaga jarak aman, pastinya antara posisi mesin dengan kabin dalam pesawat harus dikosongkan atau nyawa penumpang menjadi taruhannya.

Dari sini saja, penggunaan single jet sudah tak menarik maskapai yang menginginkan pemanfaatan ruang kabin secara maksimum. Belum lagi masalah tingkat kebisingan, safety, serta kenyamanan penumpang, tentu di era seperti sekarang ini, single jet atau satu mesin sangat tidak cocok untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan penumpang.

Terakhir, meskipun biaya pengembangan dan operasional pesawat single jet jauh lebih murah ketimbang twin, tri, ataupun quad jet, namun, tetap saja, pesawat tidak akan lolos sertifikasi xtended-range Twin-engine Operational Performance Standards atau yang biasa disingkat ETOPS oleh regulator dunia, utamanya Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA) dan Regulator Penerbangan Sipil AS (FAA).

Baca juga: ETOPS – Sertifikasi Darurat Pesawat Twin Engine Agar Layak Mengudara dengan Satu Mesin

ETOPS sendiri adalah kemampuan pesawat untuk beroperasi di luar keadaan normal. Singkatnya, bila pesawat memiliki dua mesin, ia harus diujicoba dalam penerbangan dengan menggunakan satu mesin saja. Hal itu dilakukan agar ketika pesawat mengalami kegagalan mesin di salah satunya, pesawat tetap bisa terbang untuk melakukan pendaratan darurat dengan mesin lainnya.

Dengan kemampuan dan ketangguhan mesin yang semakin berkembang, twin jet masih terbukti mampu melahap penerbangan berjam-jam dengan hanya mengoperasikan satu mesin. Sebagai salh satu bukti, pada Februari tahun lalu, A330-900 pernah menjalani sertifikasi ETOPS dengan mencatat waktu 4 jam 45 menit dengan hanya satu mesin.