Analis Penerbangan Sebut Kosongkan Kursi Tengah di Pesawat Tak Masuk Akal!

Perjalanan udara disinyalir menyumbang antara 2-3 persen dari emisi karbon dunia, tetapi persentase untuk itu setara dengan 4,5 miliar perjalanan penumpang, pergerakan 64 juta metrik ton kargo dan sepertiga dari perdagangan global dunia. Di samping itu, penerbangan juga menopang 65 juta pekerjaan.

Baca juga: Pengamat Penerbangan: Kalau Sudah Pakai Masker Semua, Kenapa Harus Jaga Jarak?

Namun, pandemi Covid-19 telah membuat industri penerbangan hancur berantakan. Hampir seluruh lini di industri penerbangan mengalami kesulitan keuangan dan berujung pada PHK karyawan. Menurut Cirium, setidaknya ada 18 ribu pesawat di-grounded di seluruh dunia.

Data tersebut pun diperkuat oleh FlightRadar24.com yang mencatat bahwa lalu lintas udara total pada bulan April turun 62 persen dan lalu lintas penerbangan komersial turun 73,7 persen dibanding periode yang sama di 2019 . Pada April 2020, hari tersibuk di langit terjadi pada tanggal 28, dengan 80.714 penerbangan. Namun tetap saja jauh tertinggal bila dibandingkan dengan 17 April 2019 dengan 203.239 penerbangan.

Akibat dari penurunan frekuensi penerbangan secara drastis, Asosiasi Transportasai Udara Internasional (IATA) memperkirakan maskapai dunia akan kehilangan profit loss sebesar $85 miliar atau Rp1.222 triliun (kurs 1 dollar = Rp14.300) pada tahun 2020. Angka tersebut bisa saja semakin membengkak mengingat industri penerbangan masih belum pulih seutuhnya karena wabah corona masih terus mengintai dan mendorong diterapkannya berbagai peraturan; salah satunya physical distancing.

Kebijakan physical distancing dalam setiap perjalanan udara di seluruh dunia dari perspektif kesehatan memang cukup bagus. Kita tahu, salah satu model penularan virus corona terjadi melalui droplet atau percikan. Organisasi Kesahatan Dunia (WHO) berujar, droplet tidak terjadi ketika satu dengan yang lainnya menjaga jarak sosial sekitar enam kaki atau dua meter.

Akan tetapi, dari segi bisnis, kebijakan physical distancing di pesawat (serta mungkin di moda transportasi lainnya) kurang begitu efektif. Analis penerbangan yang sudah 20 tahun lebih bersama Northwest dan Republic Airlines, Jay Ratliff, sebagaimana dilansir The Hill, menyebut kebijakan tersebut tak masuk akal. Ia memang tak mempermasalahkan temuan tidak adanya droplet antara dua orang yang berjarak dua meter.

Tetapi, yang ia permasalahkan justru ketidakefektifan physical distancing di pesawat. Dalam pengamatannya, mengosongkan kursi tengah sebagai pengaplikasian physical distancing di pesawat hanya membuat airlines terus-menerus berada dalam keadaan terseok-seok sambil tetap tak menjalankan physical distancing dengan baik, dengan jarak tak lebih dari 80cm.

Bila benar-benar ingin menjalankan dengan maksimal, dalam satu row, seharusnya maskapai hanya diperbolehkan untuk mengisi dua orang atau sama saja mengosongkan empat kursi tengah dan pinggir dengan hanya menyisakan masing-masing satu kursi di dekat jendela.

Formasi tersebut sangat mungkin untuk menciptakan physical distancing sejauh dua meter. Tetapi harga mahal di balik itu adalah pesawat kapasitas semakin menciut. Bila dengan kapasitas maksimum 50-70 persen saja maskapai masih terseok-seok, apalagi di bawah itu?

Di era New Normal seperti sekarang ini, perlahan tapi pasti, Jay Ratliff melihat banyak maskapai sudah mulai meninggalkan kebijakan mengosongkan kursi tengah. Pantuan redaksi KabarPenumpang.com, sejak Mei lalu, maskapai-maskapai di AS bahkan beberapa kali kedapatan membawa penumpang dalam kondisi penuh.

Dalam catatannya, sebetulnya hal itu tidak masalah. Jay tidak sendirian. Belum lama ini, IATA juga menyerukan hal serupa; bahkan lebih. Menurut mereka, pemerintah negara-negara di dunia tidak menerapkan kebijakan karantina ke wisatawan yang datang.

Baca juga: Covid-19 Ubah Enam Hal di Industri Penerbangan, Nomor 4 Bikin Geleng-geleng!

Sebab, sebelum naik pesawat, mereka telah melewati serangkaian proses panjang untuk memastikan hanya penumpang sehat yang diizinkan bepergian dengan pesawat. Mulai dari kebijakan rapid test serta test PCR atau uji laboratorium kepada seluruh penumpang, memakai masker, mencuci tangan dengan air mengalir atau hand sanitizer, sarung tangan, face shield dan berbagai kebijakan lainnya.

Bila sudah dipastikan hanya penumpang sehat yang naik, jadi, buat apa ada physical distancing? Pada akhirnya, keberlangsungan airlines tetap menjadi hal utama selain tetap memastikan hanya penumpang sehat yang ikut dalam penerbangan dengan sederet peraturan tersebut, tanpa harus menjaga jarak sosial di pesawat.

Waduh, Pilot Ryanair Operasikan Pesawat Sambil Mainin “Ayam-ayaman”

Profesi pilot umumnya identik dengan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi, mengingat sedikit saja kesalahan bisa berakibat fatal. Namun, label seperti itu sepertinya sama sekali tak terlihat sedikit pun ketika melihat pilot Ryanair.

Baca juga: Pertama di AS, Pilot Pengidap Diabetes Terbangkan Pesawat Komersial

Belum lama ini, dua oknum pilot maskapai berbiaya murah asal Irandia tersebut menjadi sorotan akibat aksi tak terpujinya. Betapa tidak, alih-alih melakukan tugas-tugas mengoperasikan pesawat Boeing 737-800 dengan fokus dan khidmat, oknum tersebut justru menyisipkan sisi humornya di saat yang tepat.

Laporan The Sun, sebagaimana dikutip nzherald.co.nz, dua oknum pilot tersebut kedapatan melakukan tindakan tak terpuji saat berusaha mendorong throttle dan menggantungkan manik-manik sebelum mulai lepas landas.

“Oknum tersebut menggunakan ayam karet mainan untuk memindahkan instrumen sebelum lepas landas,” kata seorang sumber.

“Ini sangat tidak profesional dan membuatku khawatir dengan apa lagi yang terjadi di kokpit. Ini adalah tindakan yang mengerikan untuk Ryanair,” tambahnya.

Manik-manik dan kertas turut menjadi ‘wadah’ hiburan pilot Ryanair. Foto: The Sun

Selain menggunakan ayam mainan untuk mendorong throttle, menggantungkan manik-manik, dan mengganjal throttle dengan kertas, oknum pilot Ryanair itu juga kedapatan berpose dengan mata juling dan lidah menjulur.

Atas berbagai tindakan tersebut, juru bicara Ryanair menyebut pihaknya sudah mulai menyelidiki kasus ini. Mereka juga berjanji bahwa kejadian serupa tidak akan pernah terulang kembali di masa mendatang, sekalipun oknum tersebut melakukan tindakan tak profesional itu sebelum penerbangan dimulai atau selagi menunggu seluruh penumpang masuk ke dalam kabin.

“Foto-foto ini dan video yang beredar terjadi saat mesin masih dalam keadaan mati dan pesawat masih berada di apron. Namun, foto-foto tersebut tetap tidak profesional. Meski demikian, tindakan seperti itu tetap tidak menimbulkan risiko besar serta gangguan keselamatan,” jelasnya.

“Kami mendorong kru kami untuk menikmati pekerjaan mereka. Namun, kami berharap mereka tetap profesional setiap saat dan kami sedang menyelidiki masalah ini lebih lanjut,” ujarnya.

Sebagai informasi, dalam menjalani tugas, pilot dibatasi dengan sejumlah peraturan, baik berupa kesehatan sebagai syarat sebelum terbang maupun berupa larangan mengoperasikan pesawat atau biasa dikenal sterile cockpit rule.

Sterile cockpit rule merupakan aturan yang wajib ditaati pilot –termasuk oleh awak kabin- selama dalam penerbangan, mulai lepas landas sampai mendarat. Di bawah aturan tersebut, pilot memang tak bisa berbuat banyak kecuali fokus pada hal-hal berkenaan dengan operasional penerbangan.

Baca juga: Sterile Cockpit Rule, Inilah Aturan yang Melarang Pilot dan Kopilot ‘Ngobrol’ Selama Penerbangan

Pilot dan kopilot baru diizinkan melakukan hal-hal atau membawa sesuatu di luar operasional penerbangan, seperti menggunakan telepon seluler, memfoto panorama sekitar, main laptop, melihat pemandangan di daratan, ngobrol , dan kegiatan lainnya ketika pesawat berada di atas ketinggian 10 ribu kaki. Di bawah itu, mereka sama sekali tak bisa berbuat banyak.

Namun perlu diingat, sekalipun pesawat sudah berada pada ketinggian di atas 10 ribu kaki, aturan makan dan minum di kokpit pada umumnya tetap tidak diperbolehkan seiring terjadinya masalah. Di akhir tahun lalu dan awal tahun ini, misalnya, insiden tumpahan kopi atau minuman lainnya telah menyebabkan kerusakan panel center pedestal dan pada akhirnya mempengaruhi kinerja pesawat.

Pertama Kalinya dalam Sejarah, Layanan Kereta di India Mampu ‘On Time’ 100 Persen

Tak hanya maskapai yang memiliki ketepatan waktu atau on time performance dalam penerbangan mereka. Ternyata kereta api juga memiliki hal yang sama dan biasanya ini untuk semua kereta baik jarak jauh, jarak dekat maupun kereta berkecepatan tinggi.

Baca juga: Rajdhani Express Kembali Beroperasi, Indian Railways: Tidak Ada Selimut dan Makanan

India, sebagai salah satu negara yang memiliki jaringan kereta api terbesar di dunia, kerap kali kereta yang diberangkatkan tidak tepat waktu alias mengalami keterlambatan sehingga membuatnya tiba tidak sesuai jadwal seharusnya. Namun untuk pertama kalinya dalam sejarah kereta api India, pada 1 Juli 2020 kemarin, sebanyak 201 layanan tiba di tempat tujuan dengan tepat waktu.

KabarPenumpang.com melansir dari laman financialexpress.com (2/7/2020), operator kereta India yakni Indian Railways yang dipimpin oleh Piyush Goyal selaku Menteri Perkeretaapian India mencatatkan rekor terbaru tersebut. Menurut Indian Railways ini masuk dalam sejarah transpoter nasional mereka dengan 100 persen ketepatan waktu yang dicapai.

Menurut perincian yang dibagikan oleh Indian Railways, dari 201 kereta tersebut tidak ada yang tertunda baik keberangkatan maupun jadwal tiba kereta di tujuan. Bahkan pada bulan Juni lalu, empat divisi Indian Railways termasuk divisi Delhi telah mendaftarkan 100 persen ketepatan waktu kereta khusus yang beroperasi selama pandemi Covid-19.

Bahkan sebelum penuh 100 persen ketepatan waktu kereta, Indian Railways pernah mencatat 99,54 persen di 23 Juni 2020. Hal ini karena ada satu kereta yang tertunda. Tak hanya itu, ada juga laporan di mana 88 layanan kereta api khusus yang di Delhi berjalan tepat waktu. Sedangkan tiga divisi lainnya yakni Agra, Prayagraj dan Jhansi melaporkan 100 persen ketepatan waktu layanan kereta khusus.

Pada 22 Juni 2020, pengangkut nasional ini mencatat tingkat ketepatan waktu 98 persen di seluruh jaringan. Selain itu, bulan lalu Indian Railways juga mencatat peningkatan besar dalam operasi kereta barang mereka.

Kementerian Kereta Api India menyatakan pada 21 Juni 2020, kecepatan rata-rata kereta barang selama pandemi Covid-19 di jaringan Indian Railways hampir dua kali lipat dibandingkan kecepatan rata-rata kereta barang pada tahun lalu. Sesuai perincian yang dibagikan oleh Kementerian Kereta Api, selama Juni 2019, kecepatan rata-rata layanan kereta barang Indian Railways adalah 23 km per jam.

Baca juga: Lima Fakta Unik Seputar Indian Railways – Namanya Tak Melulu Buruk

Sedangkan pada 21 Juni 2020, kecepatan rata-rata layanan kereta barang adalah 42 km per jam. Untuk diketahui, kereta khusus yang digunakan selama masa pandemi Covid-19, Indian Railways telah memasang 15 pendingin udara spesial di seratus kereta khusus yang beroperasi melayani penumpang.

Syarat Rapid Test Covid-19 Gratis Ala Citilink, Begini Ketentuannya

Maskapai berbiaya murah (LCC), Citilink, memberikan layanan rapid test include tiket. Periode layanan rapid test gratis atau include tiket dengan biaya tambahan sebesar Rp280 ribu ini mulai berlaku sejak awal Juli lalu sampai dengan tanggal 7 Juli 2020.

Baca juga: Meski Beda Prosedur, Lufthansa dan Lion Air Hadirkan Layanan Rapid Test Covid-19

“Pemberian layanan Rapid Test Covid-19 secara gratis dengan ketentuan penerbangan sebagai berikut: Pemesanan tiket pesawat Date of Issued (DOI) per tanggal 1 -7 Juli 2020. Jadwal penerbangan Date of Travel (DOT) per tanggal 2 – 31 Juli 2020,” bunyi keterangan syarat & ketentuan layanan gratis rapid test Covid-19, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari laman resmi perusahaan.

Untuk diketahui, layanan rapid test gratis diberikan bagi penumpang yang melakukan pembelian tiket pesawat (fresh booking) melalui website dan mobile apps Citilink. Di luar itu, layanan rapid test gratis Citilink tidak berlaku.

Di samping itu, layanan rapid test juga tidak berlaku apabila penumpang yang mendapatkan layanan rapid test Covid-19 secara gratis dan tidak menggunakannya (tidak melakukan klaim). Begitu juga dengan penumpang Citilink yang mendaftar pada layanan rapid test gratis di atas urutan ke 500, mereka tidak akan mendapatkan rapid test gratis dan tidak pula mendapatkan e-Ticket yang didalamnya terdapat unique number sebagai bukti klaim layanan.

Bila ingin melakukan klaim layanan rapid rest Covid-19, penumpang dapat langsung mendatangi klinik yang dipilih sesuai dengan daftar mitra klinik Citilink dan klinik pintar (walk-in) dengan membawa serta bukti e-Ticket serta kartu identitas. Penumpang harus mengunjungi mitra klinik maksimal 12 jam sebelum jadwal keberangkatan.

Nantinya, bila non-reaktif, sebagaimana Surat Edaran Gugus Tugas Covid-19, surat hasil rapid test hanya berlaku maksimal 14 x 24 jam. Sebaliknya, bila reaktif, petugas akan langsung membawa calon penumpang ke rumah sakit rujukan Covid-19.

Citilink mungkin bukan yang pertama, sebelumnya, di Indonesia, Lion Air lebih dahulu mengaplikasikan layanan serupa. Bahkan, pemegang market share terbesar di Indonesia ini menawarkan dengan harga yang lebih kompetitif, yakni hanya Rp95 ribu dan sudah termasuk surat keterangan sesuai hasil yang berlaku selama 14 hari.

Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro mengatakan, pelaksanaan rapid test ini terjalin atas kerja sama dengan Klinik Lion Air Medika. Layanan ini dimulai sejak 29 Juni 2020 dan pada tahap awal akan tersedia di empat lokasi yakni kantor pusat Lion Air Tower, kantor Lion Air Group, kantor pusat Lion Parcel dan kantor Lion Operator Center (LOC).

Baca juga: Emirates Jadi Maskapai Pertama Lakukan Rapid Test Corona ke Seluruh Penumpang

“Pada tahap selanjutanya akan dikembangkan dan dilaksanakan di kota-kota lain, baik di kantor penjualan atau bandara-bandara di wilayah Indonesia. Kehadiran layanan ini memberikan nilai lebih yakni praktis dan memudahkan penumpang dalam merencanakan perjalanan,” kata Danang yang dikutip dari siaran pers.

Di Dunia, Lufthansa merupakan maskapai pertama yang menerapkan tiket include rapid test Covid-19, dengan dikenakan biaya tambahan sebesar €59 atau Rp951 ribu. Jadi, esensinya, penumpang tak benar-benar mendapatkan layanan tersebut (rapid test Covid-19) secara gratis.

Singapore Airlines Kirim Lagi A380 Ke ‘Kuburan’ Pesawat di Gurun Australia

Setelah mengirim empat pesawat komersial terbesar dunia, Airbus 380, akhir April lalu, flag carrier nasional Singapura, Singapore Airlines (SIA) dikabarkan mengirimkan lagi dua widebody itu ke Alice Springs (ASP), sebuah Gurun Pasir, di antara Darwin dan Adelaide, Australia. Dengan begitu, SIA sudah mengirimkan total enam pesawat A380.

Baca juga: Singapore Airlines Kirim A380 Ke ‘Kuburan’ Pesawat di Gurun Australia

Bila dihitung secara kolektif, SIA Group total sudah mengirim 11 pesawat, dimana lima lainnya terdiri dari tiga Boeing 777-200ER milik Singapore Airlines serta dua Airbus A320 milik Scoot. Tahun lalu, maskapai SIA Group lainnya, SilkAir, juga pernah menitipkan enam unit pesawat Boeing 737 Max 8 di sana selama kurang lebih enam bulan. Jadi, ASP memang sudah menjadi rumah kedua SIA Group sebagai fasilitas penyimpanan jangka pendek atau menengah.

Pasca tambahan dua pesawat itu, SIA masih menyisakan 13 unit A380 dibarisan armada mereka, mengingat maskapai ini masih mengejar target terbang ke 27 kota pada Juni dan Juli, mencakup kota-kota besar di Asia, Eropa, dan Amerika, seperti Jakarta, Sydney,Tokyo, Seoul, Shanghai, Hong Kong, London, Amsterdan, Barcelona, dan Los Angeles.

Simple Flying melaporkan, proses pengiriman dua A380 ke ASP sebetulnya dilakukan sejak akhir Juni lalu, tepatnya pada 26 dan 26 Juni. Di tanggal 26 Juni, A380 dengan kode registrasi 9V-SKQ diketahui berangkat ke ‘kuburan’ pesawat di Australia itu sebagai penerbangan SQ8867. Adapun 9V-SKP diterbangkan selang sehari sebagai penerbangan SQ8865, dengan menempuh total waktu masing-masing selama lima jam.

ASP sendiri menjadi favorit karena dinilai cocok untuk menggrounded pesawat. Terdapat banyak faktor mengapa hal itu terjadi, mulai dari jarak, iklim, hingga ketahanan permukaan terhadap beban pesawat.

Terkait jarak, Alice Springs terletak persis di tengah benua Australia atau beberapa ratus kilometer jauhnya dari ibu kota Sydney atau wilayah terkenal lainnya di Australia, seperti Melbourne, Adelaide, Brisbane, atau bahkan Perth. Namun dari Changi, ASP tergolong tak terlalu jauh bila dibanding tempat ideal lainnya. Wilayah Alice Springs dikelilingi oleh pedalaman gurun yang luas.

Praktis wilayah ini selalu kering dan sedikit hujan, tidak ada badai, angin Timur dengan kecepatan 13 km per jam, tingkat kelembaban relatif rendah, sekitar 25 persen. Kelembaban udara dinilai menjadi poin krusial mengapa ASP menjadi tempat ideal untuk menggrounded pesawat dibanding wilayah lainnya mengingat pesawat bisa saja menjadi korosi atau berkarat dibuatnya.

Suhu di Alice Springs juga tergolong stabil di angka 30 °C. Di musim panas atau gugur, panas ekstrem memang kerap terjadi, namun dalam jangka pendek hal itu tak terlalu berdampak negatif terhadap sistem elektronik pesawat. Ketika memasuki musim dingin suhu tidak terlalu ekstrem dibandingkan daratan Eropa bagian utara sehingga lebih bersahabat untuk pesawat. Aspek ideal lain dari daerah seperti ini adalah permukaannya cukup kokoh untuk menopang bobot pesawat besar.

Pihak SIA sendiri sampai saat ini belum mengkonfirmasi secara pasti, akan berapa lama pesawat-pesawat tersebut bertahan di sana. Hanya saja, biasanya, ASP memang sering kali menjadi favorit untuk dijadikan fasilitas penyimpanan sementara. Sama halnya dengan fasilitas penyimpanan serupa di Teruel, Spanyol, yang umumnya menjadi favorit maskapai-maskapai Eropa.

Berbeda dengan ASP dan Teruel, Spanyol, di bumi bagian lain, Amerika Serikat (AS) mempunyai juga mempunyai fasilitas penyimpanan pesawat yang cukup populer, mulai dari The Mojave Air dan Space Port di Gurun Mojave, Southern California, AS, Victorville, California, AS, dan Pangkalan Udara Davis-Monthana Air Force Boneyard, Tucson, Arizona, AS.

Baca juga: Jangan Kaget, Inilah Jumlah Pesawat yang Di-grounded di Seluruh Dunia

Perbedaan antara antara keduanya (ASP-Teruel) dengan Mojave dan fasilitas penyimpanan lainnya di AS terletak pada lamanya penyimpanan. Meskipun pihak pengelola tidak memberikan syarat khusus berapa lama pesawat dapat bertahan di sana, bak aturan tak tertulis, ASP-Teruel pada umumnya hanya digunakan untuk fasilitas penyimpanan dalam jangka pendek akibat satu dan lain hal, tak terkecuali akibat pandemi Covid-19.

Sedangkan fasilitas penyimpanan pesawat di AS, sebagaimana yang telah disebutkan di atas, pada umumnya digunakan untuk menyimpan pesawat dalam jangka waktu lama. Bahkan, bisa dibilang fasilitas penyimpanan abadi alias sebagai ‘kuburan’ pesawat mengingat pesawat-pesawat dibiarkan begitu saja dimakan waktu.

Turkish Airlines Kembali Layani Penerbangan Jakarta-Istanbul 2 Kali Seminggu

Setelah Qatar Airways yang kembali melayani penerbangan ke Jakarta dan Denpasar, kini ada kabar baik, bahwa maskapai Turkish Airlines kembali akan membuka rute penerbangan ke Indonesia, dimana sudah tiga bulan belakangan sejak pandemi Covid-19 merebak, penerbangan flag carrier asal Negeri Ottoman ini dihentikan. Turkish Airlines pada 20 Maret 2020 menutup sementara penerbangannya ke Indonesia.

Baca juga: Qatar Airways Kembali Layani Penerbangan Setiap Hari ke Denpasar dan Jakarta

Dan setelah Tiga bulan berlalu, akhirnya maskapai asal Turki ini kembali menerbangkan armadanya ke Indonesia. Turkish Airlines akan memulai penerbangan kembali dengan dua kali penerbangan dalam seminggu. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman menafn.com (6/7/2020), Turkish Airlines akan melakukan penerbangan terjadwal pertamanya antara Jakarta dan Istanbul.

Penerbangan ini akan berangkat pukul 10.05 waktu setempat. Meski sudah mulai kembali menerbangkan pesawatnya ke Indonesia, maskapai ini tidak mengumumkan kapan penerbangan ke Bali akan dimulai lagi.

Penumpang Turkish Airlines yang akan bepergian ke Indonesia diharuskan menjalani rapid tes atau tes cepat tiga hari sebelum penerbangan atau melakukan tes PCR tujuh hari sebelum keberangkatan. Adanya tes ini, dikatakan Turkish Airlines adalah pernyataan dari pihak berwenang Indonesia.

Turkish Airlines sendiri sebelum kembali menerbangkan secara penuh armadanya, mereka telah melakukan penerbangan khusus pada 18 Juni kemarin ke Indonesia untuk mengevakuasi warga Turki di tengah pandemi Covid-19. Kembali dibukanya rute ke Jakarta, Turkish Airlines menambah daftar maskapai tujuan ke Indonesia.

Sebelum Turkish Airlines, ada Qatar Airways yang kembali menerbangkan pesawatnya ke Indonesia. Dimana pada 1 Juli 2020 ada penerbangan dari Doha ke Denpasar yang memiliki jadwal tujuh kali dalam seminggu.

Baca juga: Awal Juli 2020, Cathay Pacific Buka Kembali Penerbangan Ke Lima Tujuan Utama

Kemudian Qatar Airways juga menerbangkan dari Doha ke Jakarta mulai 7 Juli 2020 dengan sebelas frekuensi penerbangan dalam seminggu. Cathay Pacific juga kembali membuka layanan penerbangan mereka ke Jakarta pada 1-11 Juli 2020 dengan tiga penerbangan dalam seminggu dan 12-31 Juli 2020 sebanyak tujuh penerbangan dalam seminggu.

Osaka Metro Uji Gerbang Tiket Otomatis dengan Sistem Pengenalan Wajah

Osaka Metro Company pada awal Desember 2019 lalu mulai menguji gerbang tiket otomatis generasi berikutnya. Di mana gerbang otomatis tersebut akan menampilkan wajah penumpang sehingga memungkinkan mereka untuk melewati tanpa perlu membawa tiket kereta lagi.

Baca juga: Gunakan Teknologi Pengenal Wajah, Taksi Jepang Hadirkan Iklan Sesuai Jenis Kelamin dan Usia Penumpang

Untuk pertama kali gerbang pengenalan otomatis di Jepang ini dihadirkan pada Stasiun Dome-mae Chiyozaki di jalur Nagahori Tsurumi-ryokuchi di Nishi Ward Osaka. KabarPenumpang.com melansir dari laman mainichi.jp (9/12/2019), Osaka Metro mengatakan, sistem ini akan memfoto wajah penumpang melalui kamera dan gambarnya dikirimkan ke server di kantor pusat.

Nantinya server pusat akan memeriksa gambar tersebut dan jika muka penumpang sudah didaftarkan pada operator bawah tanah maka gerbang akan terbuka dan penumpang akan bisa melewatinya. Pada awal uji ini, sebanyak 1200 karyawan Osaka Metro ikut ambil bagian.

Sehingga ketika seorang pegawai Osaka Metro yang data wajahnya telah didaftarkan sebelumnya mencoba melewati gerbang, sebuah kamera yang dipasang di fasilitas memeriksa wajah pekerja terhadap data sebelum pintu gerbang dibuka untuk membiarkan orang tersebut lewat.

“Orang-orang tua dan orang-orang dengan kereta dorong, misalnya, akan dapat melewati gerbang tanpa harus meletakkan apa pun. Kami ingin meningkatkan lingkungan stasiun dengan memperkenalkan teknologi baru,” kata seorang pejabat perusahaan.

Tujuan uji ini juga untuk memperkenalkan sistem baru tersebut di 133 stasiun termasuk stasiun kereta bawah tanah di Prefektur Osaka pada tahun fiskal 2024 menjelang World Expo 2025 di Osaka. Bahkan uji coba tersebut dilanjutkan hingga 30 September 2020 dan dilakukan di empat stasiun yakni Dome-mae Chiyozaki, Morinomiya, Dobutsuen-mae dan Daikokucho.

Dengan menggunakan mesin yang diproduksi oleh produsen yang berbeda, perusahaan akan membandingkan dan memverifikasi kecepatan dan ketepatan mereka untuk meningkatkan sistem. Sementara penumpang yang memakai masker mungkin tidak dikenali oleh perangkat saat ini.

“Kami ingin melihat bagaimana menangani data pribadi seperti tembakan di kepala,” kata seorang perwakilan dari Osaka Metro.

Baca juga: Metro Beijing Hadirkan Kamera yang Mampu Identifikasi Penumpang Tanpa Masker

Bahkan setelah gerbang tiket berbasis wajah diperkenalkan di semua stasiun, penumpang masih akan diizinkan untuk menggunakan tiket. Untuk diketahui, gerbang dikembangkan oleh Omron Social Solutions Co., Takamisawa Cybernetics Co., Toshiba Infrastructure Systems & Solutions Corp. dan Nippon Signal Co.

MyTrip, Aplikasi yang Beritahu Penumpang Tentang Jadwal Pembersihan dan Kondisi Bus

Ingin mengetahui kepadatan bus dan kapan terakhir bus terakhir dibersihkan selama masa pandemi, kini bisa dilakukan oleh para penumpang. Sebab baru-baru ini perusahaan teknologi Bournemouth meluncurkan sebuah aplikasi bernama MyTrip.

Baca juga: National Rail (Inggris) Hadirkan Peringatan Penumpang via Aplikasi Jika Kereta dan Stasiun Penuh

Aplikasi tersebut digunakan untuk memungkinkan penumpang melihat informasi tentang bus yang akan mereka naiki termasuk bus sekolah ataupun shuttle. Dilansir Kabarpenumpang.com dari bournemouthecho.co.uk (2/7/2020), dengan aplikasi ini pengguna juga bisa membeli tiket tanpa harus mengeluarkan uang tunai dan bisa melihat langsung lokasi bus.

Bahkan para pengguna juga bisa menggunakan fitur informasi kendaraan yang disempurnakan dengan aplikasi akan memberitahukan kapan terakhir kali bus dibersihkan. Selain itu pengguna juga akan tahu apakah bus tersebut dalam keadaan sepi, sedang atau ramai penumpang untuk menjaga jarak sosial satu dengan lainnya.

Operator bus Passenger yang berbasis di Westbourne mengatakan ini menjadi salah satu cara yang terjangkau bagi operator bus kecil untuk berbagi pembaruan dan informasi perjalanan langsung. Sarah Bott, direktur pengembangan bisnis di Passenger mengatakan, kehadiran aplikasi ini membuat penumpang sangat bersemangat karena dapat membantu industri bus Inggris kembali melaju dan beroperasi karena membuat tetap aman.

Sarah mengatakan, ada ratusan operator kecil di seluruh negeri yang mungkin berjuang untuk mengkomunikasikan informasi penting tentang kapasitas bus dan kebersihan kepada pengguna mereka. Sehingga ini adalah langkah ke arah yang benar dan membawa operator ini ke platform digital sehingga membuat transportasi publik menjadi lebih merata adalah pilihan yang lebih baik untuk pelancong.

“Secara lokal kami akan sangat terbuka untuk berbicara dengan operator yang lebih kecil di daerah tersebut. Kami akan meluncurkan pada bulan Agustus dan bagi operator mana pun yang membawa siswa atau ID penumpang yang diverifikasi ini akan menjadi cara yang bagus bagi mereka untuk dapat memindahkan layanan verifikasi tersebut menjadi bebas kontak,” kata Sarah.

Pengguna akan dapat memberikan umpan balik untuk membantu menunjukkan kepada orang lain berapa banyak ruang yang tersisa di bus. Informasi ini dianalisis berdasarkan data dari mesin tiket, supir bus, dan sumber lain untuk menghasilkan bacaan yang menunjukkan kapasitas bus.

Baca juga: Cegah Penularan Covid-19, Kapal Ferry di Teluk Bothnia Dilengkapi Aplikasi Khusus untuk Penumpang

Aplikasi ini akan gratis untuk diunduh oleh pelanggan. Majalah Passenger Transport menemukan tahun lalu bahwa Passenger telah menciptakan sebelas aplikasi transportasi berperingkat teratas di Inggris.

Arab Saudi Pamer Desain Bandara Baru Mirip Fatamorgana di Tengah Padang Pasir

Arab Saudi baru-baru ini memamerkan desain bandara baru yang terinspirasi dari fatamorgana di tengah padang pasir. Bandara baru yang terletak di Provinsi Tabuk, berbatasan dengan Kota Neom (megaproyek ambisius yang dicanangkan putera mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman bin Abdulaziz sejak 2018 lalu) ini ditargetkan mulai dioperasikan pada 2023 dengan daya tampung sebanyak 1 juta pengunjung per tahun.

Baca juga: Bandara Pakyong di Timur Laut India, Tawarkan Eksotisme Himalaya

CNN International melaporkan, bandara mewah bagian dari proyek AMAALA, salah satu dari proyek mengubah 50 pulau dan situs lainnya di Laut Merah menjadi resor mewah yang diberi nama The Red Sea, ini digarap bersama oleh berbagai pihak.

Bagian terminal dan menara kontrol dirancang oleh Foster & Partners yang berbasis di Inggris, sementara untuk rencana utama dirancang oleh Egis, yakni kelompok konsultan dan teknik internasional asal Perancis yang menggabungkan praktik-praktik desain unik, menarik dan menginspirasi.

Nantinya, bila sudah resmi beroperasi, bandara tersebut digadang-gadang bisa menjadi salah satu bandara terindah di dunia dengan bangunan terminal dan menara, halaman yang luas, dan interior mewah yang mencerminkan AMAALA. Bangunan terminal akan terdiri dari berbagai fasilitas mewah seperti klub anggota pribadi, hanggar (bangunan dengan lantai luas) yang dikendalikan oleh iklim, dan masih banyak lainnya.

“Mengingat tamu-tamu AMAALA sangat high class bahkan ultra high class, kami memperkirakan lebih dari 80 persen pengunjung yang datang akan masuk melalui bandara,” kata Kepala Pengembangan AMAALA, Carlos Wakim

Selain itu, mengingat latar belakang para pengunjung, tak heran bila fasilitas berupa hanggar pribadi juga dibuat sangat besar dari biasanya. Di samping itu, profil para tamu dengan kepemilikan harta berlimpah juga membuat mereka bertekad menciptakan kesan mewah sejak pertama kali menginjak AMAALA. Singkatnya, Arab Saudi ingin menjadikan bandara tersebut sebagai awal dan akhir dari seluruh hal tentang kemewahan.

Menariknya lagi, latar belakangan para tamu juga mendorong pihak pengembang menjadikan bandara bukan hanya sebagai pintu masuk pariwisata saja, melainkan kolaborasi keduanya, bisnis dan pariwisata.

Dengan konsep seperti itu, tak heran bila bandara dilengkapi dengan fasilitas mewah sebagai sarana pendukung negosiasi bisnis dan lebih menjadi sebagai exclusive private club experience ketimbang menjadi pusat transportasi udara. Itu juga mengapa, bandara baru dengan desain mirip fatamorgana itu hanya diproyeksikan menampung sebanyak satu juta pengunjung per tahun.

AMAALA sendiri adalah proyek pariwisata ultra-mewah di pantai Barat Laut Arab Saudi yang terinspirasi oleh Laut Merah. Proyek tersebut akan berbatasan dengan Kota Neom dan digadang-gadang sebagai tujuan wisata super mewah.

Dijuluki ‘Riviera of the Middle East’, pengembangan ini akan terdiri dari 2.500 kamar hotel dan 700 villa pribadi dengan area ritel yang terdiri dari 200 outlet. AMAALA juga akan menampilkan akademi seni yang bertujuan untuk lebih mengembangkan seniman muda dari Arab Saudi dan wilayah yang lebih luas.

Bila diklasifikasikan, AMAALA terdiri dari tiga bagian, mulai dari Triple Bay yang terdiri dari akademi olahraga dan resor, area dengan fokus pada kesehatan dan pulau yang akan menampilkan vila-vila mewah dan studio seniman, serta The Coastal Development akan menjadi pusat seni dan budaya daerah tersebut.

Baca juga: Changi Airport, Bandara Terbaik di Dunia yang ‘Didirikan’ Para Tawanan Jepang

AMAALA merupakan bagian dari sebuah rencana ‘Visi 2030’ yakni sebuah rencana pembangunan jangka panjang Arab Saudi yang menekankan pada diversifikasi ekonomi agar tak hanya mengandalkan minyak bumi yang harganya terus turun.

Dana untuk proyek ini mencapai USD4 miliar (Rp53,33 triliun), yang diperkirakan bisa meningkatkan ekonomi Saudi dan menciptakan 35.000 lapangan pekerjaan baru. Harapan Arab Saudi adalah dapat menarik 1 juta pengunjung per tahun pada tahun 2035.

Sejarah Panjang, 50 Tahun Boeing 747 Bersama Qantas

Belum lama ini, flag carrier nasional Australia, Qantas, dikabarkan sukses mengirimkan armada Boeing 747-400 kedua terakhir ke kuburan pesawat di Gurun Mojave, Southern California, AS. Dengan begitu, praktis, Qantas hanya menyisakan satu pesawat Queen of the Skies (julukan Boeing 747) di barisan armadanya.

Baca juga: Sambut New Normal, Qantas Malah Grounded 100 Pesawat dan PHK 6 Ribu Karyawan! 11 Ribu Lainnya Nyusul

Meskipun perusahaan menyebut hal itu (dikirimnya 747 ke Mojave) dilakukan untuk sementara waktu, namun, tetap saja, melihat kondisi dan kebutuhan, banyak pihak menduga Mojave mungkin akan jadi tempat peristirahatan terakhir bagi armada Boeing 747 terakhir kedua Qantas itu.

Dirunut agak ke belakang, sebetulnya, indikasi Qantas ingin mengistirahtkan Queen of the Skies secara permanen sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu. Salah satu indikasi terkuat, maskapai yang memiliki nama panjang Queensland and Northern Territory Aerial Services (Qantas) tersebut sudah mulai menurunkan peredaran 747 ke radar Eropa. Sebagai gantinya, A380 dan 787-9 dikerahkan untuk mengisi pos tersebut (rute Eropa).

Dirunut lebih ke belakang lagi, indikasi Qantas untuk mengistirahkan Boeing 747 sepertinya memang tinggal menunggu momen. Sebab, sejak pertama kali berdiri pada 16 November 1920 silam, setidaknya maskapai dengan slogan “The world’s most experienced airline” ini telah memasukan 65 jet 747 ke dalam barisan armadanya.

Simple Flying mencatat, kolaborasi Qantas dan Boeing 747 mulai terjalin apik untuk pertama kali sejak Oktober 1971. Kala itu, maskapai yang berbasis di Mascot, Sydney, Australia ini memesan empat 747 dengan mahar sebesar US$85 juta, angka yang cukup besar di masa itu. Keempat pesawat dengan kode pabrik VH-EBC, VH-EBD, VH-EBE, dan VH-EBF -yang pengirimannya rampung dua tahun berselang- langsung menjadi andalan Qantas untuk rute-rute transpasifik, khususnya rute Singapura-Mumbai-Bahrain-London.

Sukses dengan empat pesawat, Qantas pun semakin bernafsu mengekspansi dunia dengan menambah puluhan armada 747. Ekspansi Qantas bersama Boeing 747 pun juga diikuti dengan inovasi kuliner on board, mulai dari lobster, daging sapi panggang langka, hingga Pavlova (makanan penutup berbasis meringue khas Rusia).

Selain dikerahkan dalam urusan komersial, 747 Qantas juga biasa dilibatkan dalam urusan kemanusiaan, seperti menjemput 674 penumpang setelah Topan Tracy menghancurkan kota pada Malam Natal, hingga yang terbaru, melakukan penerbangan repatriasi warga Australia akibat lockdown negara-negara di dunia.

18 tahun kemudian, Boeing 747-400 pertama bergabung dalam barisan armada Qantas. Setelah lebih dari 30 tahun mengabdi, jaringan 747 Qantas di Eropa lambat laun berkurang drastis, seperti Roma, Athena, Amsterdam, Paris, Frankfurt, bahkan rute gemuk Qantas London dan Manchester.

Boeing 747-400 Qantas dikabarkan menjalani penerbangan transpasifik (Sydney-San Fransisco, jaringan internasional Qantas yang sudah terjalin sampai 50 tahun) terakhir pada akhir Desember tahun lalu dan memulai kehidupan pada rute short haul point-to-point.

Qantas nampaknya lebih mengandalkan beberapa pesawat twin engine long haul terbaru serta Boeing 787-9 Dreamliner sebagai salah satu langkah strategis perusahaan di masa mendatang, salah satunya dalam “Project Sunrise”.

Sebagaimana yang sudah umum diketahui, pada pekan ketiga bulan Oktober tahun lalu, Qantas mulai menguji coba penerbangan Project Sunrise yang menghubungkan Sydney dengan New York. Dengan terpaut jarak sejauh 16.200 km ini, penerbangan transpasifik itu ditempuh dalam waktu 19 jam 16 menit dengan menggunakan Boeing 787-9 Dreamliner.

Baca juga: 3 Desember 2019, Boeing 747-400 Qantas Lakukan Penerbangan Trans Pasifik Terakhir

Penerbangan tersebut pun mematahkan rekor penerbangan langsung terjauh di dunia yang sebelumnya dipegang oleh Singapore Airlines, dengan total durasi perjalanan kurang lebih 18 jam, menghubungkan Newark Liberty International Airport (EWR) New York dan Singapore Changi Airport (SIN).

Selain menghubungkan Sydney dengan New York, Project Sunrise juga akan menghubungkan Melbourne dan Sydney, Australia dengan New York, Amerika Serikat dan London, Inggris.