Transformasi Bisnis, Etihad Airways Pertimbangkan Pensiunkan A380 dan A350 Secara Permanen

Etihad Airways, maskapai kampiun asal Uni Emirat Arab dikabarkan tengah mempertimbangkan untu mempensiunkan secara permanen seluruh armada A380 mereka. Saat ini, Etihad diketahui mengoperasikan 10 pesawat komersial terbesar di dunia dan sudah memiliki lima A350. Namun, khusus untuk A350, setelah pertama kali dikirim tahun lalu, pesawat tidak langsung masuk ke layanan, melainkan diparkir untuk sementara di fasilitas penyimpanan pesawat di Bordeaux, Perancis.

Baca juga: Etihad Uji Coba Teknologi Canggih di Bandara untuk Cegah Corona

Simple Flying melaporkan, salah satu dari tiga maskapai raksasa di Timur Tengah itu pertama kali menerima armada A350 (MSN 290) pada tanggal 31 Mei 2019. Tetapi, pesawat tersebut kemudian dipindahkan ke Bordeaux pada 3 Juni. Demikian juga MSN 315 dikirim berdasarkan kontrak pada 15 Juli 2019, MSN 330 dikirim berdasarkan kontrak pada 29 Juli 2019, dan MSN 342 dikirim berdasarkan kontrak pada 30 September 2019 yang juga sudah disimpain baik-baik di Bordeaux tak lama setelah dikirim oleh Airbus.

Kabar mengenai rencana mempensiunkan A380 dan A350 sebetulnya bukan barang baru untuk Etihad. Sejak tahun lalu, maskapai yang masuk ke dalam The Three Mega Carrier bersama Emirates dan Qatar ini sudah memberi sinyal tak baik terkait pengoperasian dua jenis pesawat tersebut.

“Etihad Airways akan membatalkan masuknya layanan lima pesawat Airbus A350-1000 baru sebagai bagian dari rencana transformasi bisnis yang sedang berlangsung,” kata juru bicara Etihad pada September lalu. Sebelumnya, tepatnya pada Maret lalu, Etihad telah lebih dahulu membatalkan pesanan kepada Airbus sebanyak 42 A350 XWB.

Menurut beberapa sumber, transformasi bisnis tersebut juga termasuk di dalamnya A380, mengingat, selain operational cost tinggi, maskapai juga harus menjual lebih dari 500an kursi yang mana akan terdengar sulit di masa mendatang. Masalahnya, tren penerbangan di masa mendatang dinilai sudah tak lagi cocok dengan pesawat dengan daya tampung besar. Adapun momen mempensiunkan dini seluruh armada A380 Etihad, yang menurut Planespotters memiliki usia rata-rata di bawah lima tahun, dinilai tepat mengingat kondisi iklim penerbangan yang tengah melorot akibat corona.

Di dunia, Etihad tentu bukan satu-satunya maskapai yang mempunyai rencana serupa. Sebelumnya, ada British Airways, Qantas, Lufthansa, ANA, serta beberapa maskapai lainnya yang mempunyai rencana serupa, selain menggrounded hampir seluruh armada untuk sementara.

Baca juga: Lufthansa Kirim Airbus A380 Terakhir ke ‘Kuburan’ Pesawat di Spanyol

Jika Etihad Airways pada akhirnya benar-benar mempensiunkan A380 dan tidak jadi mengoperasikan A350 karena alasan transformasi bisnis, sebagaimana yang telah diungkap di atas, praktis mereka hanya akan melayani seluruh tamu spesial mereka dengan empat jenis pesawat. Mulai dari Boeing 777, Boeing 787, keluarga Airbus A320, dan satu Airbus A330, yang baru-baru ini mengoperasikan penerbangan bersejarah ke Tel Aviv untuk memberikan bantuan medis ke Palestina, sekalipun pada akhirnya ditolak mentah-mentah.

Bila hal itu terjadi, mungkin Etihad akan kehilangan seluruh pangsa pasar premium mereka. Sebagai informasi, Etihad Airways selama ini banyak diburu penumpang untuk merasakan sensasi terbang di First Class Apartment atau The Residence Etihad yang khusus tersedia di pesawat A380. Bila kelas tertinggi tersebut dihilangkan, kemungkinan kecil mereka akan beralih ke first class di pesawat lain. Sebaliknya, menurut sebagian pengamat, besar kemungkinan mereka akan beralih ke layanan dan pesawat serupa milik maskapai lain.

Dubai Pasang ‘Mata-mata’ Canggih untuk Monitor Suhu dan Physical Distancing

Berbagai wilayah di seluruh dunia berlomba-lomba melibatkan teknologi canggih untuk menangkal penyebaran virus corona, tak terkecuali dengan Dubai. Belum lama ini, salah satu dari tujuh emirat dan kota terpadat di Uni Emirat Arab itu disebut akan memasang kamera CCTV canggih di seluruh sudut kota untuk mendeteksi suhu warga sekaligus membantu otoritas keamanan setempat menemukan titik-titik pelanggaran physical distancing.

Baca juga: Ahli Sebut Kabin Pesawat Tak Aman Cegah Corona! Video Ini Jadi Salah Satu Buktinya

Penggunaan kamera CCTV canggih berteknologi Artificial Intelligence (AI) tersebut saat ini prosesnya sudah memasuki tahap uji coba di beberapa titik. Bila berhasil dan tak ada kendala teknologi apapun, maka penggunaan kamera canggih dalam proyek ‘Oyoon’ ini akan bisa segera terlaksana setelah proses evaluasi (pasca masa ujicoba berhasil) selesai.

“Polisi Dubai menggunakan AI melalui proyek ‘Oyoon’ (yang berarti ‘mata’ dalam bahasa Arab) untuk memantau suhu orang selama wabah,” kata Brigaider Al Razooqi dalam sebuah konferensi virtual yang diadakan oleh Polisi Dubai beberapa waktu lalu, sebagaimana dikutip dari laman gulfnews.com.

“Proyek ini awalnya digunakan untuk mendeteksi seseorang yang tengah kami cari melalui pengenalan wajah dan analisis perilaku, tetapi karena penyebaran virus, kami memperbarui sistem kamera untuk memantau suhu juga,” tambahnya.

Selain itu, Al Razooqi, yang menjabat sebagai Direktur Jenderal Departemen Kecerdasan Buatan Kepolisian Dubai ini, juga menjelaskan bahwa kamera-kamera itu juga akan dapat mendeteksi jarak antar satu dengan orang lain di berbagai tempat di sudut-sudut keramian, mulai dari di dalam pusat-pusat perbelanjaan dan tempat-tempat umum lainnya. Nantinya, kamera CCTV canggih Dubai itu akan mengeluarkan peringatan jika mereka berdiri terlalu antara dekat satu sama lain.

“Kami sedang berupaya menggunakan kamera untuk menganalisis jarak antara orang-orang karena AI dapat mendeteksi jika orang-orang lebih dekat dari yang seharusnya satu sama lain (kurang dari dua meter), dan sistem dapat menghasilkan alarm ke ruang perintah,” jelasnya.

Tak cukup sampai di situ, menurut Dr Peter Clevsting, pakar teknis di Sekretariat Regional Dewan Kerjasama Teluk untuk EU CBRN (chemical, biological, radiological and nuclear) Risk Mitigation Centre of Excellence Initiative di Abu Dhabi ini, bahwa AI juga dapat digunakan untuk melacak dimana dan kapan seseorang terpapar Covid-19 dengan melakukan kontak tracing beberapa pekan sebelum divonis terpapar corona.

Baca juga: Bisa Deteksi Covid-19 dalam 20 Detik, Dunia Kembangkan Teknologi Kecerdasan Buatan untuk Perangi Corona

“Sektor kesehatan sangat terbuka untuk inovasi, teknologi baru, dan pengembangan. AI bukan solusi untuk semuanya; itu alat yang bisa kita gunakan. AI juga akan dapat memprediksi pasien mana yang lebih parah terkena penyakit daripada yang lain,” katanya.

Sementara itu, Adel Shakeri, Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis di Jalan dan Otoritas Transportasi, menyarankan, agar otoritas dapat bekerja sama (dengan pihaknya) untuk melacak penyebaran virus dengan memantau GPS angkutan umum atau penggunaan nol card.

Bioskop Drive-In Solusi Hiburan di Era Covid-19, Mungkinkah Bakal Hadir Lagi di Indonesia?

Di awal dekade 70-an, Indonesia pernah menjadi operator bioskop drive-in pertama dan terbesar di Asia Tenggara, persisnya fasilitas hiburan di era Gubernur Ali Sadikin itu berada di Taman Impian Jaya Ancol. Namun karena tergilas zaman, bioskop drive-in kemudian ditutup pada awal dekade 90-an. Tapi melihat dampak yang terjadi akibat covid-19, mendadak gairan bioskop drive-in kembali bangkit di sejumlah negara Asia.

Baca juga: Pembatasan Dilonggarkan, Pekerja Inggris Tanpa ‘Social Distancing’ Padati Kereta dan Bus

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, foto menonton bioskop dari dalam mobil ini belum lama tersebar kembali di media sosial dan menjadi perhatian publik. Bioskop drive-in ini memanfaatkan lahan parkir mall dengan sebuah layar putih disematkan di salah satu gedung.

Kemudian puluhan mobil yang terparkir rapi dan diatur sedemikian rupa agar tak menghalangi pandangan yang lainnya. Bak bioskop sungguhan, saat mobil masuk ke tempat menonton, para pelanggan akan disapa petugas dan memberi arahan terkait tempat parkir dan ada bingkisan yang di berikan.

Nah, bagaimana kalau hal serupa ada di Indonesia tepatnya Jakarta? Ternyata bioskop drive-in sudah dalam rencana. Bioskop ini digagas oleh event organaizer Ergo and Co. Penyelenggara tersebut berencana untuk membawa pengalaman sinematik sambil tetap berpegang pada aturan pembatasan sosial skala besar (PSBB) di Jakarta. Hadirnya bioskop drive-in ternyata terinspirasi dari hal yang sama dan sudah ada di Korea serta Jerman.

petugas semprot desinfektan di mobil penonton bioskop dirve0in (Reuters)

“Sebenarnya sih idenya mencari peluang usaha di kondisi pandemi corona ini di mana semuanya serba susah. Di luar tuh di kondisi begini sudah ada yang jalan nih program Drive-In Cinema ini walau dengan nama berbeda,” kata Adam Hadziq, perwakilan Ergo and Co. dikutip dari kompas.com (14/5/2020).

Dengan adanya acara bioskop drive-in, Ergo and Co. berharap bisa memotivasi event organizer lain untuk terus beradaptasi dalam menciptakan acara-acara kreatif di tengah pandemi Covid-19.

“Kita pengin meng-encourage teman-teman lain untuk bikin sesuatu yang baru sih sebenarnya,” kata Adam.

Rencananya, bioskop drive-in akan dilangsungkan pada bulan Juni, namun belum menentukan tempat penyelenggaraannya. Diketahui, pda bulan Maret, sebuah bioskop drive-in di Seoul, Korea Selatan, melihat peningkatan penjualan 10-20 persen untuk hari kerja.

Sementara tiket akhir pekan selalu terjual habis, karena warga mencari ruang yang lebih aman untuk menikmati film tanpa risiko tertular Covid-19. Tak hanya itu, Festival Film Tribeca turut menyelenggarakan seri film musim panas di seluruh Amerika Serikat di bioskop drive-in.

Baca juga: Mau Naik Pesawat Saat PSBB? Kudu Siap Mati-matian Lakukan Hal Ini

Dengan demikian, hadirnya bioskop drive-in, maka masyakarat Indonesia dapat kembali nonton film layaknya di bioskop dengan layar lebar. Meski begitu, penonton tetap harus disiplin dengan aturan yang ada sepertinjaga jarak dan menggunakan masker.

Artis TikTok Jilati Kursi Toilet Demi “Coronavirus Challenge”

Semua orang tahu untuk mencegah penularan virus corona atau Covid-19 adalah dengan menjaga kebersihan diri masing-masing. Cuci tangan menggunakan sabun dan dibasuh dengan air mengalir ataupun menggunakan handsanitizer ketika tidak ada sabun. Selain itu, setiap orang juga tidak boleh memegang bagian muka sebelum merasa tangan mereka benar-benar bersih.

Baca juga: United Airlines Larang Awak Kabinnya ikut #OverheadBinChallenge

Bahkan saat ini juga setiap orang baik yang terinfeksi maupun yang tidak wajib menggunakan masker kemana pun mereka pergi keluar rumah. Namun bagaimana jika seorang bintang TikTok yang juga model Instagram melakukan hal aneh dan tidak terpikirkan ketika pandemi saat ini?

KabarPenumpang.com melansir laman dailytimes.com.pk (13/5/2020), dalam sebuah rekaman yang dibuat Ava Louise yang kala itu terbang ke Miami memperlihatkan dirinya menjilati kursi toilet. Rekaman itu dibagi Louise ke akun TikTok-nya pertama kali pada 14 Maret 2020 kemarin.

Dalam video tersebut, dia juga memberikan tanda perdamaian sebelum rekaman berakhir. Dalam tweet yang dibagikan di akun Twitternya pun diberi caption, “Tolong [repost] ini agar orang bisa tahu bagaimana cara sanitasi yang benar di pesawat.”

Tweet itu bahkan sudah mengumpulkan lebih dari 1600 komentar, 1300 lebih suka dan sudah di retweet lebih dari 450 akun. Karena tindakannya ini wanita 21 tahun tersebut tidak terganggu oleh reaksi dari orang-orang seperti co-host Meghan McCain yang mentweet, “Masukkan pantatnya di penjara.”

“Aku mengendalikan Amerika dan itu adalah kursi toilet yang bersih di pesawat sugar daddy. Saya merasa panas kaya dan ikon. Jika itu adalah gejala corona maka aku sakit,” ujar Louise.

Louise menamakan menjilat kursi toilet dengan “tantangan virus corona atau Coronavirus Challenge” dan mungkin tidak akan diikuti oleh pengguna TikTok lainnya. Namun setelahnya, ketika Louise diwawancarai oleh acara radio Australia The Kyle dan Jackie O Show pada 24 April lalu, dirinya mengatakan yakin terinfeksi Covid-19.

Baca juga: Demam “Kiki Challenge” Landa Pengguna MRT Singapura

“Kurasa aku punya korona. Kurasa aku tahu. Orang-orang akan mengatakan itu adalah karma karena menjilati kursi toilet tetapi jujur, itu baik-baik saja, saya hanya akan sangat kurus karenanya,” ujar Louise.

Dia mengatakan bahwa dia merasa sedikit tidak enak dan bahwa dia “pasti memiliki corona.” Louise tidak terlalu khawatir, karena dia berharap kehilangan 15 pound.

Inilah Gambaran ‘Hidup-Mati’ Karyawan Airbus Kebut Produksi 15 Ribu Ventilator

Awal April lalu, Airbus mulai terlibat dalam proyek produksi ventilator untuk Inggris. Airbus berkontribusi dengan membuat desain tiga dimensi dan penyediaan fasilitas. Sadar produksi akan lebih cepat bila dilakukan bersama-sama, Airbus, melalui Ventilator Challenge UK kemudian menggandeng berbagai perusahaan lainnya, seperti Smiths Medical, berbasis di Luton untuk membuat desain ventilator, serta Penlon, manufaktur medis yang berbasis di Abingdon, Oxfordshire.

Baca juga: Keren, Penjualan Pesawat Sepi, Airbus Produksi Ventilator Lawan Corona

Nah, belum lama ini, seorang Kepala fotografer North Wales Live, Ian Cooper, diberikan akses khusus untuk mengabadikan momen sekitar 550 karyawan Airbus berpacu dengan waktu untuk memproduksi sekitar 15 ribu ventilator dalam upaya percepatan penanganan virus corona oleh National Health Service (NHS), Inggris. Seperti dikutip dari cheshire-live.co.uk, berikut lima gambar aktivitas produksinya.

1. AMRC Cymru

Foto: IAN COOPER/NORTH WALES LIVE

Setelah persetujuan dari Badan Pengawas Obat-Obatan dan Produk Kesehatan (MHRA) Inggris, AMRC Cymru, salah satu pabrik Airbus di Broughton, Wales, yang sebelumnya memproduksi sayap pesawat, telah mulai memproduksi hingga 1.500 ventilator Penlon Prima ESO2 setiap pekan.

2. Bekerja Sepanjang Hari

Foto: IAN COOPER/NORTH WALES LIVE

Lebih dari 550 karyawan Airbus bekerja sepanjang waktu sebagai bagian dari konsorsium Ventilator Challenge UK, untuk menghasilkan setidaknya 15.000 penggemar untuk NHS. Hal itu dilakukan untuk menutup kekurangan ventilator yang ada. Dalam laporan Kementerian Kesehatan Inggris atau National Health Service (NHS), saat ini Inggris hanya memiliki kurang dari 15 ribu ventilator di seantero negeri.

3. Banyak Vendor

Foto: IAN COOPER/NORTH WALES LIVE

Selain dua perusahaan tersebut, Dyson dan Airbus, serta beberapa perusahaan lainnya yang digandeng Airbus, kegentingan yang terjadi juga membuat pemerintahan mendorong raksasa manufaktur lainnya untuk ikut terlibat. Mulai dari manufaktur otomotif hingga manufaktur alat kesehatan, seperti Mclaren, Nissan, Rolls Royce, Penlon, Ford, dan Inspiration Healthcare. Meski tak disebut semua kontribusi mereka, namun, dilaporkan McLaren membuat troli atau bagian bawah ventilator, Ford dan Penlon membuat unit ventilator.

Baca juga: Tim Formula 1 Mercedes-AMG Ciptakan Ventilator Canggih dan Lebih Mudah Digunakan

4. Supai Chian Panjang

Foto: IAN COOPER/NORTH WALES LIVE

Airbus membuat sekitar 50 persen bagian dari setiap ventilator jadi di AMRC Cymru, merakit unit penyerap dan flowmeters. Bagian jadi kemudian bergabung dengan unit ventilator buatan Ford di Dagenham dan troli buatan McLaren di Woking untuk membuat unit jadi. Setelah pengujian akhir oleh Penlon di Abingdon, ventilator siap untuk dipasok ke NHS.

5. Peran Vital

Foto: IAN COOPER/NORTH WALES LIVE

Menteri Pemerintah Welsh untuk Ekonomi dan Wales Utara, Ken Skates, mengatakan, “Cara para pekerja telah beradaptasi dengan jalur produksi baru benar-benar luar biasa. Saya juga ingin mengenali fleksibilitas tim di AMRC untuk mendukung pekerjaan kritis ini, yang akan memainkan peran vital di NHS di sini di Wales dan lebih jauh lagi. Tidak ada keraguan bahwa pekerjaan itu berlangsung di Broughton akan menyelamatkan nyawa.”

Awak Kabin Qatar Airways Gunakan Kostum Hazmat untuk Layani Penumpang

Qatar Airways kini mengikuti jejak maskapai berbiaya hemat (LCC) AirAsia di mana semua awak kabinnya menggunakan kostum hazmat untuk meningkatkan protokol keamanan bagi mereka dan penumpang. Selain kostum hazmat, awak kabin juga dilengkapi dengan alat pelindung diri (APD) lainnya seperti kacamata, sarung tangan dan masker.

Baca juga: Antisipasi Covid-19, Awak Kabin AirAsia Punya Seragam Baru Mirip Kostum Hazmat

Para awak kabin Qatar Airwas sendiri sudah menggunakan APD ini selama dua pekan penerbangan mereka. Selain itu pada tanggal 25 Mei 2020, semua penumpang wajib menggunakan alat keamanan diri seperti masker pribadi. Tak hanya itu, maskapai juga menerapkan beberapa tambahan langkah kesehatan dan keselamatan di pesawat.

Yang mana nantinya makanan di kelas bisnis akan disajikan di nampan menggantikan penyajian di meja dan peralatan ,akan dalam kemasan akan ditawarkan kepada penumpang sebagai alternatif dari peralatan individu. Sedangkan untuk penumpang kelas ekonomi, semua makanan dan peralatannya akan disajikan secara terbungkus rapat seperti biasanya.

Sebagai tambahan, sebuah botol besar berisi hand sanitizer akan tersedia di lorong pesawat agar memudahkan penumpang dan awak kabin yang membutuhkan. Semua area umum di pesawat telah ditutup untuk memenuhi ukuran jarak Bagi penumpang yang terbang di kelas bisnis dapat menikmati privasi lebih yang diberikan oleh Qsuite termasuk partisi geser pribadi serta pintu yang tertutup rapat menghasilkan tempat perlindungan pribadi. Para penumpang juga dapat memilih indikator “Do Not Disturb (DND)” atau “Jangan diganggu” pada suite pribadi mereka, sekiranya mereka memilih untuk membatasi interaksi dengan awak kabin.

“Di Qatar Airways, kami telah memperkenalkan langkah-langkah keselamatan tambahan di pesawat kami untuk memastikan kesejahteraan serta kesehatan penumpang dan awak kabin, serta untuk membatasi penyebaran dari virus Corona. Sebagai maskapai, kami mempertahankan standar higienis yang tinggi untuk memastikan bahwa kami dapat menerbangkan banyak orang pulang ke rumah dengan selamat dalam situasi saat ini dan memastikan bahwa keselamatan adalah prioritas utama kami,” ujar Qatar Airways Group Chief Executive Akbar Al Baker yang dkuti KabarPenumpang.com dari siaran pers.

“Melihat kami masih terbang di jaringan internasional terbesar dunia dengan beroperasi ke lebih dari 30 destinasi di dunia, serta menargetkan untuk mengembangkan jaringan kami kembali beberapa bulan mendatang, ukuran keselamatan di pesawat ini akan membantu kami mencapai tujuan kami,” tambahnya.

Qatar Airways terus mengimplementasikan standar kesehatan serta keselamatan tertinggi seperti pesawat mereka yang secara rutin disemprot disinfektan menggunakan produk kebersihan yang direkomendasikan oleh Asosiasi Transportasi Udara Internasional / International Air Transport Association (IATA) dan Organisasi Kesehatan Dunia / World Health Organization (WHO).

Bandara Pusat Qatar Airways, Hamad International Airport, juga berinvestasi dalam menyediakan robot–robot disinfektan, otonom yang memancarkan cahaya konsentrasi UV-C yang dikenal efektif mengurangi sebagian besar mikro organisme menular. Pesawat Qatar Airways memiliki fitur yang sangat canggih dalam hal sistem filtrasi udara, dilengkapi dengan filter industrial HEPA yang dapat menghilangkan 99,97% virus dan bakteri dari sirkulasi ulang udara yang mungkin terkontaminasi, memberikan proteksi paling efektif terhadap infeksi.

Kain serta selimut yang terdapat di pesawat dicuci dan dikeringkan serta ditekan dengan temperatur panas yang membunuh microbial, sementara itu busa headset dikeluarkan dan disanitasi secara ketat setiap setelah penerbangan. Peralatan–peralatan tersebut kemudian di bungkus kedalam kemasan individual oleh karyawan kami dengan menggunakan sarung tangan higienis sekali pakai.

Bahkan semua peralatan makan dicuci dengan deterjen serta dibilas dengan air bersih demineralisasi pada temperatur suhu yang dapat membunuh bakteri patogen. Awak kabin telah menerima pelatihan bagaimana cara meminimalisir kemungkinan mereka untuk terjangkit atau menyebarkan infeksi. Mereka di screening secara termal sebelum keberangkatan serta saat tiba dari penerbangan, dan mereka di karantina serta di tes apabila kolega atau penumpang di pesawat menunjukkan gejala infeksi atau positif dari tes virus.

Baca juga: Antisipasi Covid-19, Semua Awak Kabin di Taiwan Dilengkapi APD

Untuk para penumpang, Qatar Airways menyarankan untuk jaga jarak sedapat mungkin, terutama dalam penerbangan dengan jumlah penumpang yang sedikit. Penjagaan jarak juga diimplementasikan pada saat proses boarding, memastikan para penumpang menuju tempat duduk mereka dalam keadaan berjarak satu sama lain. Maskapai juga menyarankan para penumpang untuk mengikuti praktek higienis yang direkomendasikan oleh WHO, seperti mencuci tangan secara rutin dan mencegah untuk menyentuh wajah.

Sejak pertengahan Februari, Qatar Airways telah membantu menyatukan lebih dari satu juta penumpang dengan orang–orang yang mereka kasihi, mengoperasikan jadwal gabungan serta pelayanan carter dan sektor tambahan.

Garuda Indonesia Minta Relaksasi Utang, Akankah Bernasib Sama dengan Thai Airways?

Garuda Indonesia dilaporkan telah menyiapkan usulan perpanjangan waktu pelunasan Trust Certificates “Garuda Indonesia Global Sukuk Limited” senilai US$500 juta atau setara Rp7,5 triliun (kurs Rp15.000/US$) yang akan jatuh tempo pada tanggal 3 Juni 2020 mendatang.

Baca juga: Dapat Suntikan Rp8,5 Triliun, Garuda Tak Jadi Terancam Bangkrut?

Dari keterangan tertulis yang diterima KabarPenumpang.com, usulan perpanjangan waktu pelunasan global sukuk yang akan jatuh tempo tersebut diajukan untuk jangka waktu minimal tiga tahun ke depan. Selain itu skema tersebut akan disampaikan melalui proposal permohonan persetujuan (consent solicitation) kepada pemegang sukuk (sukukholder), melalui Singapore Exchange (SGX) dengan informasi keterbukaan di Indonesia Stock Exchange (IDX) dan kepada ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kemudian, pertanyaan pun muncul, bagaimana ketika usulan Garuda Indonesia ditolak?

Beberapa pihak menyebut, bila negosiasi gagal, praktis, Garuda Indonesia mau tak mau harus membayar kewajiban utang. Jika benar demikian, perusahaan dengan kode GIAA di bursa saham itu memang disebut sudah mendapat pinjaman dari pemerintah sebesar Rp8,5 triliun. Itupun, menurut salah satu sumber, dananya belum diterima oleh GIAA. Padahal terlepas dari pembayaran utang, dana sebesar itu tentu saja akan sangat bermanfaat untuk operasional sehari-hari yang sedang dalam terseok-seok.

Disebut berseok-seok mengingat perusahaan penerbangan nasional kebanggaan masyarakat Indonesia ini sudah mulai merumahkan karyawan, sekalipun karyawan kontrak. Padahal, beberapa bulan yang lalu, Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Saputra, sempat berikrar tidak akan melakukan PHK karena satu dan lain hal. Pada akhirnya, beberapa bulan kemudian, ketika iklim industri penerbangan semakin memburuk, Irfan mulai mengungkap adanya opsi PHK sekalipun itu menjadi opsi terakhir, setelah melakukan sejumlah langkah penyelamtan. Ketika, opsi terakhir dijalankan, tentu ini menjadi sebuah pertanda negatif.

Bahkan, menurut sebuah sumber yang tak ingin disebutkan namanya, bila kondisi tak kunjung membaik plus dana talangan dari pemerintah juga tak kunjung cair, skema lanjutan disebut sudah dipersiapkan dan salah satunya adalah pengurangan karyawan, khususnya karyawan di atas 50an tahun. Bila kondisi semakin memburuk dan berlarut-larut dalam waktu tak sebentar, bukan tak mungkin Garuda Indonesia akan bernasib sama dengan Thai Airways, meskipun menurut pengamat penerbangan, Ridha Aditya Nugraha kemungkinan flag carrier di Asia collapse sangat kecil karena sentimen nasionalisme yang tinggi.

Sebelumnya, maskapai penerbangan Thai Airways dilaporkan akan melakukan restrukturisasi dengan bantuan pemerintah. Restrukturisasi diperlukan untuk menyelamatkan BUMN Thailand itu dari ancaman bangkrut akibat pandemi virus corona. Dilansir CNN.com, Thai Airways mengumumkan pemerintah telah menyetujui proposal terkait restrukturisasi besar-besaran yang akan diawasi Pengadilan Kepailitan Pusat Thailand. Langkah ini diambil untuk mencegah pembubaran perusahaan, dipaksa likuidasi, atau dinyatakan bangkrut.

Kementerian Keuangan Thailand dan bank milik negara tercatat memiliki saham mayoritas di perusahaan penerbangan ini. Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-cha mengatakan kabinetnya menimbang beberapa opsi untuk maskapai Thai Airways yang terdampak covid-19, termasuk melakukan likuidasi.

Baca juga: Avianca, Maskapai Terbesar Ketiga di Amerika Latin Bangkrut Gegara Corona, 21 Ribu Karyawan di 14 Negara Gigit Jari!

Senada dengan Thai Airways, mayoritas saham Garuda Indonesia, yakni sebesar 60,536 persen juga dikuasai oleh negara. Beberapa pihak menyebut, dengan kepemilikan saham mayoritas oleh negara, otomatis perusahaan tidak akan bangkrut. Sebab, bila perusahaan bangkrut, negara juga dalam keadaan bangkrut dan itu mustahil terjadi.

Pada faktanya, khusus kasus BUMN di Indonesia, Jiwasraya misalnya, meskipun bukan bagian dari perusahaan penerbangan, hingga kini memiliki sejumlah kewajiban utang dalam jumlah besar kepada beberapa pihak dan perusahaan tersebut juga pelat merah. Jadi, menarik ditunggu, akankah Garuda Indonesia mendapatkan relaksasi utang atau mau tak mau wajib membayar utang pada 3 Juni mendatang hingga semakin memperberat langkah perusahaan untuk bertahan hidup?

Ahli Virologi Ini Yakin Tertular Corona Lewat Mata dalam Penerbangan yang Penuh Sesak

Pesawat diklaim sebagai salah satu moda trasnportasi teraman untuk digunakan selama pandemi corona. Sebab, di dalam kabin pesawat, terdapat teknologi High Efficiency Particulate Arresting (HEPA) dinilai mampu menyerap dan mengubah udara kotor (bahkan ukuran lebih kecil dari dari 2,5 mikrometer sekalipun) menjadi udara yang bisa diterima dengan baik oleh tubuh serta diklaim mampu membunuh 99 persen bakteriologis, tak terkecuali dengan virus Cina.

Baca juga: Awas, Hindari Keramaian! Studi Terbaru Mendukung Gagasan Virus Corona Menular Lewat Airborne

Di samping itu, pada umumnya, protokol medis yang dijalankan kebanyakan orang di seluruh dunia adalah dengan menggunakan masker, sarung tangan, dan senantiasa mandi atau mencuci tangan sehabis bepergian sebelum menyentuh area wajah.

Akan tetapi, salah satu kasus baru di Amerika Serikat (AS) mungkin bisa jadi peringatan untuk kita bersama. Dikutip dari wthr.com, Dr. Joseph Fair, seorang ahli virologi dan epidemiologi belum lama ini divonis positif virus Cina dan tengah menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Bila merunut dari riwayat perjalanannya, ia meyakini dirinya tertular Covid-19 setelah menumpangi sebuah penerbangan penuh sesak ke New Orleans tanpa adanya physical distancing di pesawat lewat percikan dari seseorang yang mendarat di matanya.

“Aku memakai masker, aku juga memakai sarung tangan, aku rutin membersihkan seluruh permukaan di dekatku dengan tisu. Tapi jelas, Anda masih bisa mendapatkannya melalui matamu dan tentu saja aku tidak memakai kacamata dalam penerbangan tersebut,” katanya melalui sebuah video kepada NBC News.

Joseph Fair, yang juga kontributor NBC News, menilai salah satu dari tiga cara yang mungkin bisa membuat seseorang tertular virus corona adalah percikan dari orang lain yang mendarat di mata. Meskipun belum ada penelitian lebih lanjut dari tim medis rumah sakit tempatnya dirawat, namun ia mengungkapkan bahwa itu adalah tebakan terbaiknya.

Sebagaimana yang sudah umum diketahui, virus Cina (menukil perkataan Presiden AS Donald Trump) disebut dapat bertahan 4 jam di bahan tembaga, 24 jam di bahan kardus, 2-4 hari di permukaan plastik dan stainless, 9 hari di permukaan logam dan kaca, serta 3 jam di udara. Adapun tipe penularannya sejauh ini diyakini melalui dua cara, droplet atau melalui percikan saat seorang pengidap corona berbicara, batuk, serta bersin dan melalui kontak melalui sentuhan tangan yang telah terpapar corona ke area wajah. Adapun cara yang ketiga, melalui airborne, masih dalam perdebatan.

Sebelumnya, terkait kemungkinan adanya virus corona di udara, belum lama ini sebuah penelitian menemukan bahwa virus corona dapat bertahan di ruangan penuh sesak atau ruangan yang kurang ventilasi. Para peneliti pun belakangan mulai mendukung gagasan penyebaran Covid-19 dapat menular lewat partikel-partikel udara kecil di udara atau yang biasa dikenal sebagai aerosol.

Baca juga: Area Dekat Pintu Kereta Komuter, Jadi Lokasi Potensi Terbesar Penularan Virus Corona

Dikutip dari Bloomberg, studi yang dilakukan di dua rumah sakit di Wuhan, Cina, berhasil menemukan potongan-potongan materi genetik virus bertebaran di udara toilet rumah sakit, ruangan yang memungkinkan adanya kerumunan besar, dan kamar-kamar dimana petugas medis melepas Alat Pelindung Diri (APD). Meski demikian, studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Research, Senin lalu tersebut tidak dimaksudkan untuk menunjukkan apakah virus corona dapat tersebar lewat airborne.

Para peneliti, yang dipimpin oleh Ke Lan dari Universitas Wuhan, membuat sejenis perangkap aerosol di dan sekitar dua rumah sakit di kota yang diduga menjadi asal mula munculnya virus corona jenis baru. Dari perangkap atau jebakan aerosol itu, hasilnya mereka menemukan beberapa aerosol di ruang perawatan, supermarket, dan bangunan tempat tinggal. Tak hanya itu, virus corona juga terdeteksi di toilet dan dua tempat (di dalam dan sekitar rumah sakit) yang banyak orang lewati, termasuk ruang tertutup di dekat salah satu rumah sakit.

Ahli Sebut Kabin Pesawat Tak Aman Cegah Corona! Video Ini Jadi Salah Satu Buktinya

Sebuah video simulasi terbaru menunjukkan bagaimana percikan dari seseorang yang batuk di dalam pesawat terbukti dapat menyebar ke seluruh kabin. Simulasi yang dibuat oleh Purdue University’s School of Mechanical Engineering, Amerika Serikat (AS) tersebut dilakukan di dalam pesawat 767 dengan konfigurasi 2-3-2.

Baca juga: Seorang Penumpang Pesawat Dinyatakan Positif Virus Corona Saat di Udara

Seperti dikutip KabarPenumpang.com dari businessinsider.sg, video berdasarkan sebuah penelitian tahun 2014 antara para peneliti universitas dan insinyur Boeing ini, kala itu dilakukan untuk menentukan apakah mengubah sistem ventilasi pesawat akan mempengaruhi risiko tertular SARS atau tidak.

Meskipun saat itu penelitian terfokus pada tipe penyebaran SARS dan tidak dilakukan secara khusus untuk menetukan penyebaran Covid-19 di dalam kabin, namun, para ahli meyakini masih ada resiko besar penumpang bakal terpapar corona di dalam kabin pesawat; bahkan dengan sistem filter di dalam kabin canggih dan (sistem tersebut) berjalan dengan maksimal sekalipun.

Qingyan Chen, seorang profesor teknik Universitas Purdue yang berkontribusi besar dalam penelitian itu menyebut, sejatinya kabin pesawat memang tak dirancang untuk mencegah penyakit menular. “Sejujurnya, pesawat terbang tidak dirancang untuk mencegah penularan penyakit menular. Mereka tidak dirancang untuk melakukan pekerjaan itu,” ujarnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, di dalam kabin pesawat, terdapat teknologi High Efficiency Particulate Arresting (HEPA) dinilai mampu menyerap dan mengubah udara kotor (bahkan ukuran lebih kecil dari dari 2,5 mikrometer sekalipun) menjadi udara yang bisa diterima dengan baik oleh tubuh serta diklaim mampu membunuh 99 persen bakteriologis, tak terkecuali dengan virus Cina.

Dari hasil penelitian yang dilakukan, jika seseorang yang duduk di tengah dalam (konfigurasi 2-3-3) batuk, setidaknya ada sekitar 10 orang yang terpapar corona, yakni enam orang di baris yang sama dan masing-masing dua orang di sisi jendela di baris pertama di belakangnya. Kemudian, bila dilihat dari sebaran aerosol di keseluruhan kabin, tampak hanya baris terdepan dan dua kursi paling belakang sebelah kanan di dekat jendela saja yang kemungkinan besar selamat dari paparan corona.

Saat ini, model penyebaran virus corona mungkin belum ada kepastian dari para ahli apakah mirip dengan SARS atau tidak. Selain itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga sudah menegaskan bahwa virus Cina tidak menyebar di udara dalam bentuk aerosol dan tidak pula ditemukan (sebarannya) pada orang-orang dengan jarak dua meter.

Baca juga: Mau Naik Pesawat Saat PSBB? Kudu Siap Mati-matian Lakukan Hal Ini

Namun, beberapa penelitian justru menemukan hal sebaliknya, bahwa percikan dari orang bersin atau batuk mungkin bisa lebih dari sekedar dua meter dan dapat bertahan atau mengambang di udara dalam bentuk aerosol.

Sebuah studi yang diterbitkan awal bulan ini di Emerging Infectious Diseases Journal menemukan bahwa unit pendingin udara (AC) justru telah membantu menginfeksi virus corona ke sembilan orang di sebuah restoran tanpa jendela di Guangzhou, Cina, Januari lalu.

Sambil Gowes, Iwind Bikin Pesepeda Mampu Menghirup Udara Murni

Para pesepeda di lingkungan kota besar banyak yang menggunakan masker untuk menyaring debu dan polusi udara. Pesepeda melakukan hal tersebut agar sebisa mungkin bisa menikmati olahraga sembari menghirup udara dengan kualitas yang lebih baik.

Baca juga: Scania Kenalkan Sistem BSW dan VRUCW untuk Kurangi Kecelakaan Pada Pejalan Kaki dan Pesepeda

Namun, bagaimana bila ada alat yang bisa mengubah udara kotor menjadi udara bersih dan membuat pesepeda tak lagi perlu mengenakan masker ketika menggoes sepeda mereka? Baru-baru ini Iwind telah meluncurkan alat yang bisa digunakan pesepeda di mana ini bisa memberikan udara murni ke wajah pengguna.

KabarPenumpang.com melansir laman newatlas.com (13/5/2020), Iwind ini memiliki dua bagian utama yang dihubungkan dengan selang artikulasi fleksibel. Di mana selang terpasang secara magnetis di bagian belakang helm pengendara sepeda yang merupakan modul filtrasi.

Modul ini menampung tidak hanya filter yang dapat diganti sendiri melainkan juga kipas dan baterai lithium yang bisa diisi ulang. Komponen-komponen ini bergabung untuk menarik udara disekitar pengguna dan dilaporkan bisa memblokir partikel sekecil 0,4 mikron.

Selain itu juga bisa membunuh bakteri melalui lapisan antimikroba perak pada filter. Kemudian, udara setelah tertarik dan diolah, maka udara murni akan di pompa dari unit tersebut melalui selang ke penutup seperti cangkir yang langsung menghadap ke depan hidung dan mulut pengguna.

Sayang sampai saat ini pun masih sulit untuk mengatakan seberapa efektif pengaturan ini, sebab udara bersih jelas akan bercampur dengan sedikit udara kotor di sekitarnya sebelum dihirup. Sebagai bonus tambahan, modul filtrasi juga dilengkapi pemanas keramik yang dapat digunakan untuk menghangatkan udara di hari yang dingin.

Iwind juga memiliki lampu belakang 150-lumen, untuk keamanan tambahan saat bersepeda di malam hari. Umur baterai berada pada klaim sembilan jam per tiga jam USB pengisian dalam penggunaan normal, atau 6,5 jam ketika pemanas dinyalakan. Seiring dengan fitur pemanasan itu, beberapa keunggulan Iwind dibandingkan masker tradisional termasuk fakta bahwa itu tidak menyebabkan kacamata berkabut, tidak menyentuh wajah, tidak meredam suara pemakainya, dan tidak perlu dikeringkan setelah digunakan. Tapi jelas, itu akan lebih berat.

Baca juga: Pandemi Menyerang, Warga AS Pilih Naik Sepeda Ketimbang Angkutan Umum

Iwind saat ini menjadi subjek kampanye Kickstarter. Dengan asumsi itu mencapai produksi, Anda bisa mendapatkan satu dengan harga US$66, yang merupakan 33 persen dari harga eceran yang direncanakan