Butuh Kabin Mobil Tambahan untuk Piknik? Kabin Pop-Up CARSULE Mungkin Bisa Jadi Solusi

Selama pandemi Covid-19 berlangsung, nyaris seluruh negara di dunia memberlakukan pembatasan perjalanan, baik parsial maupun total. Masyarakat dipaksa untuk tetap di rumah saja agar upaya otoritas mengendalikan virus Cina tersebut bisa dipercepat. Namun, harga mahal dari semua itu tentu saja hak setiap individu untuk berlibur menjadi tertunda.

Baca juga: Tips Ini Bisa Bantu Hilangkan Udara Panas Dalam Kabin Mobil

Pembatasan perjalanan berminggu-minggu atau berbulan-bulan nyatanya memang terbukti membuat masyarakat rindu berlibur. Namun, ketika tiba masanya untuk pergi berlibur, destinasi wisata manakah yang akan Anda tuju? Lalu, liburan seperti apakah yang akan dijajaki? Bila belum mendapat jawaban atas pertanyaan tersebut, mungkin, tak ada salahnya mencoba Kabin Pop-Up CARSULE sebagai salah satu rencana daftar liburan Anda.

Dikutip dari mashable.com, CARSULE pada dasarnya mirip seperti tenda camping. Hanya saja, desain dan segala fiturnya dibuat dengan menyesuaikan desain mobil. Mengingat fungsinya, maka, tak salah bila CARSULE disebut sebagai kabin tambahan atau kabin portabel sebagai pelengkap pengguna saat berlibur di berbagai destinasi, mulai dari pegunungan, pantai, ataupun taman-taman kota.

Sebagai pelengkap berlibur, tentu dimensinya sudah disesuaikan dengan berbagai kebutuhan melalui penelitian panjang. Misalnya, bentuknya berupa kubik atau kubus memungkinkan seseorang setinggi dua meter berdiri di dalamnya. Tak hanya itu, dengan dimensi lebar seluas dua meter, pengguna juga dapat memasukan berbagai furniture sederhana, seperti kursi dan meja lipat dan bersantai di dalamnya tanpa takut kepanasan atau kehujanan.

Cara memasangnya pun juga mudah. Bila ingin digunakan terpisah dengan mobil atau tidak membuatnya berfungsi sebagai kabin tambahan, cara pemasangannya nyaris sama dengan tenda camping. Namun, bila ingin difungsikan sebagai kabin tambahan, mula-mula, pengguna, baik dengan mobil hatchback, station wagon, mid suv, compact SUV, MPV, mini van, cukup membuka kap belakang terlebih dahulu untuk kemudian dikaitkan untuk memperkuat pondasi.

Dari segi fitur, CARSULE juga tergolong lebih lengkap dari tenda pada umumnya. Misalnya, dari segi desain, selain lebih luas dan fungsional dengan bentuk kubus, tirai empat sisi yang bisa dibuka, dan saringan anti nyamuk di keempat sisi tersebut juga dijamin akan membuat pengguna lebih nyaman untuk mendapatkan semilir angin atau cahaya matahari masuk ke dalam CARSULE tanpa harus menyesuaikan letak atau posisinya ke arah datangnya angin dan cahaya itu sendiri.

Baca juga: Inilah Tips untuk Melarikan Diri Jika Mobil Anda Tenggelam!

Kemudian, dari segi bahan, sekalipun bentuk kubus diragukan dapat menangkal pengguna dari resiko kepanasan atau bahaya ketika hujan, Kabin Pop-Up CARSULE juga tergolong selangkah lebih maju dibanding tenda sejenis lainnya. Dengan fitur UV protective coating dan water resistance, pengguna dijamin tidak akan terganggu dengan derasnya hujan atau teriknya panas matahari.

Setelah selesai digunakan, teknik penyimpanannya pun cukup mudah cengan beberapa kali lipatan saja, tenda seluas 2×2 meter akan berubah dalam sekejap menjadi hanya berukuran 86cm x 86cm x 12cm dan tidak memakan space di dalam bagasi. Dengan berbagai fungsi dan keunggulan tersebut, bagaimana, tertarik mencoba?

Masyarakat Wuhan Pilih Gunakan Sepeda Elektrik untuk Moda Transportasi

Setelah pandemi Covid-19 mereda di Wuhan, bagaimana kehidupan kota itu sekarang? Sepertinya lebih sehat dan masyarakat lebih memilih untuk terus melakukan jarak sosial. Ini terlihat dari melonjaknya pengguna sepeda elektrik sebanyak sepuluh kali lipat dibandingkan sebelum Wuhan dikarantina pada 23 Januari 2020 lalu.

Baca juga: Berjibaku Dua Bulan Lebih, Para Medis Kembali Pulang Setelah Lockdown Wuhan Dicabut

KabarPenumpang.com melansir laman intelligenttransport.com (22/4/2020), melonjaknya jumlah tersebut didapat dari data Hellobike. Hellobike sendiri merupakan layanan share sepeda di Cina yang telah meluncurkan Yungi sebagai model sepeda elektrik baru dan dilengkapi dengan sistem navigasi suara cerdas yang dirancang untuk membantu warga mempertahankan langkah-langkah jarak sosial.

Fitur ini sendiri bisa diaktifkan melalui koneksi Bluetooth dan menawarkan arah rute pengendara sambil tetap fokus di jalan. Bahkan bisa dikatakan sepeda elektrik ini menjadi moda transportasi yang populer dikalangan warga kota sat ini. Model baru ini dilengkapi dengan sistem navigasi satelit Beidou dan chipset yang dirancang untuk memberikan navigasi dan penentuan posisi yang tepat.

Sistem ini bersama dengan GPS dan WiFi bertujuan untuk memungkinkan staf menentukan dengan tepat sepeda elektrik yang rusak melalui peta digital dan secara otomatis menonaktifkan fungsi buka kunci ketika volume baterai di bawah 30 persen. Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko kegagalan atau terjadinya vandalisme.

“Mode perjalanan bersama, bersama dengan kemajuan teknologi dan platform online, telah membentuk kembali kebiasaan bepergian di Cina. Berbagi kendaraan roda dua mengurangi kemacetan lalu lintas dan mengurangi tekanan transportasi umum, memberi pengguna cara yang nyaman untuk pergi dari stasiun kereta bawah tanah ke kantor mereka ”, kata Li Kaizhu, salah satu pendiri dan Presiden Hellobike.

Kaizhu mengatakan, bisnis share sepeda elektrik ini masih menghadapi masalah perawatan sepeda dan parkir terbatas. Menurutnya salah satu tantangan adalah pertukaran baterai sepeda elektrik yang efisien.

Baca juga: Wujudkan SmartCityBike, Slovakia Hadirkan Sepeda Elektrik di Kereta Bawah Tanah

“Dalam menghadapi tantangan industri, kami berusaha untuk meningkatkan teknologi untuk sepeda elektrik, menawarkan model-model baru, baterai yang lebih baik dan fitur yang lebih cerdas untuk masa depan mobilitas bersama. Di Hellobike, kami terus menyelaraskan misi kami untuk memberi manfaat bagi kota kami dan memberi masyarakat kami akses ke transportasi yang efisien dan ramah lingkungan,” jelas Kizhu.

Saat ini, sekitar satu miliar warga Cina melakukan perjalanan dengan kendaraan roda dua setiap hari, 700 juta di antaranya dilakukan dengan sepeda elektrik.

Volvo Batasi Kecepatan Mobil Maksimal 180 Km Per Jam

Volvo akhirnya menepati janjinya untuk membatasi semua kecepatan mobil barunya hingga 112 mph atau 180 km per jam di semua modelnya mulai tahun ini. Mereka mengatakan percaya bahwa pembuat mobil memiliki tanggung jawab untuk membantu meningkatkan keselamatan lalu lintas.

Baca juga: Volvo Demonstrasikan Bus Otonom Bertenaga Listrik yang Bisa Keliling Depo!

“Teknologi kami yang membatasi kecepatan sesuai dengan pemikiran itu,” kata Kepala Pusat Keamanan Mobil Volvo Malin Ekholm yang dikutip KabarPenumpang.com dari newatlas.com (20/5/2020).

Walaupun jalan yang lebih aman adalah tujuan yang mulia dan mengagumkan, ini terasa menyedihkan bagi yang mengenal Volvo sebagai pembuat pembalap Kejuaraan Mobil Tur Inggris terbaik yang pernah ada. Batas baru ini diterjemahkan menjadi 180 kilometer per jam, jika Anda bertanya-tanya mobil mana yang harus dihindari pada autobahn.

Namun di Amerika Serikat, batas kecepatan tertinggi adalah 85 mph dan ini hanya ada di Texas ‘Highway 130. Volvo mengakui bahwa limiter berkecepatan rendah relatif kontroversial, tetapi mereka tetap berpegang pada rencana itu.

“Namun Volvo Cars percaya bahwa ia memiliki kewajiban untuk melanjutkan tradisinya menjadi pelopor dalam diskusi seputar hak dan kewajiban pembuat mobil untuk mengambil tindakan yang pada akhirnya dapat menyelamatkan nyawa, bahkan jika ini berarti kehilangan calon pelanggan,” kata Ekholm.

Mereka mengatakan, masalah dengan ngebut adalah di atas kecepatan tertentu, dimana teknologi keselamatan dalam mobil dan desain infrastruktur pintar tidak lagi cukup untuk menghindari cedera parah dan kematian pada saat terjadi kecelakaan. Inilah sebabnya mengapa batas kecepatan diberlakukan di sebagian besar negara-negara barat, namun ngebut tetap ada di mana-mana dan salah satu alasan paling umum untuk kematian dalam lalu lintas. Jutaan orang masih mendapatkan tiket tilang setiap tahun.

“Penelitian menunjukkan bahwa rata-rata, orang memiliki pemahaman yang buruk tentang bahaya di sekitar ngebut. Akibatnya, banyak orang sering mengemudi terlalu cepat dan memiliki kecepatan adaptasi yang buruk dalam kaitannya dengan situasi lalu lintas,” jelasnya.

Baca juga: Volvo Siap Rilis Mobil Otonom Super Mewah Tanpa Bangku Baris Depan

Ekholm mengatakan ini, dikombinasikan dengan langkah-langkah Volvo terhadap mengemudi yang mabuk dan terganggu, semuanya adalah bagian dari visi perusahaan untuk membawa kematian dan cedera lalu lintas menjadi nol. Sekali lagi, tujuan yang mulia, meskipun ada banyak mengemudi sembrono di luar sana di bawah 112 mph yang masih perlu ditangani.

,

Pernah Baca “Remove Before Flight” Sebagai Standar Keamanan Penerbangan? Jika Belum, Simak di Sini

Bagi sebagian travelers atau penyuka penerbangan, mungkin naik pesawat dengan berbagai ukuran, jenis, dan pabrikan, keliling dunia, menghadiri pameran dirgantara, dan mempelajari sejarah transportasi adalah hal biasa. Tak jarang, setelah berkutat pada istilah di dunia penerbangan, banyak dari mereka memilih untuk acuh tak acuh. Sebaliknya, bagi mereka yang menggeluti betul, di beberapa kasus, justru tampak lebih ahli dibanding praktisi penerbangan sekalipun.

Baca juga: Pernah Dengar Cockpit Emergency Hatch? Ini Penjelasannya

Di dunia penerbangan, ada banyak sekali istilah, baik berkenaan dengan penanganan di darat maupun di udara, berkenaan dengan pilot, awak kabin, awak kokpit, maupun petugas di ATC. Terkait penanganan di darat, di antara banyak istilah, mungkin “Remove Before Flight” menjadi salah satu istilah yang menarik untuk diketahui.

Dikutip dari baaflightschool.com, “Remove Before Flight” sejatinya berkenaan dengan safety warning tag yang biasanya dipasang pada penutup bagian-bagian tertentu dari pesawat dan pin penahan di beberapa komponen pesawat terbang. Pin penahan ini gunanya sebagai pengganjal pergerakan dari beberapa bagian mekanisme pesawat saat pesawat tersebut sedang tidak terbang atau parkir. Adapun bendera “Remove Before Flight” dipasang untuk mengingatkan pilot dan crew bahwa penutup atau pengganjal ini harus dilepaskan sebelum terbang.

Terkait letak pemasangan “Remove Before Flight”, laman Indomiliter.com menyebut, setidaknya ada empat instrumen yang dipasangi penanda tersebut. Mulai dari air intake, penutup sensor pada bodi pesawat, pelindung sensor pada rudal, hingga locking pin. Nah, yang disebut terakhir cukup menarik dalam gelaran rudal di jet tempur. Untuk alasan keamanan, locking pin (pin pengunci) disisipkan antara rudal dan peluncur, tujuannya untuk mencegah arus listrik yang mungkin bisa tiba-tiba mengalir dan mengaktifkan rudal saat pesawat sedang diparkir yang tentunya dapat membayakan keselamatan awak.

Baca juga: Tanpa Sadar, Tingginya Frekuensi Penerbangan Giring Pesawat Sipil Lakukan “Elephant Walk”

Di beberapa sumber lain menyebut, Nose Landing Gear (NLG) bypass pin, Airspeed Pitot, dan Door Safety Pin juga menjadi tiga tempat strategis untuk dipasangkan “Remove Before Flight” sebagai salah satu standar keamanan internasional. Di samping itu, sebagai wujud kemanan internasional, “Remove Before Flight” juga hanya disediakan dalam Bahasa Inggris, mengingat terdapat beberapa insiden di dunia penerbangan terjadi akibat keberagaman bahasa, sebelum akhirnya dipilih bahasa Inggris sebagai bahasa standar, tak terkecuali dengan “Remove Before Flight”.

Seiring berjalannya waktu, identitas pita merah bertuliskan “Remove Before Flight” mulai diadaptasi ke dalam fesyen dirgantara. Salah satu wujudnya menjadikan pita merah “Remove Before Flight” sebagai gantungan kunci (key chain). Dilihat dari desainnya, punya gantungan kunci bertuliskan “Remove Before Flight” mampu menampilkan citra maksimal dalam aura Air Force. Tentu saja, adopsinya tak harus sebagai gantungan kunci motor, tapi keren juga sebagai aksesoris untuk tas ransel.

Software Network Planner Jadi Andalan Maskapai Sebelum Putuskan Buka Rute Baru

Diakui atau tidak, wabah Covid-19 telah banyak membuat perubahan di dunia penerbangan. Belakangan, berbagai perubahan tersebut pun lebih dikenal dengan istilah “The New Normal”. Berbagai perubahan di dunia penerbangan sedikit banyaknya telah memaksa maskapai mau tak mau menyesuaikan dengan kondisi yang ada; salah satunya dengan membuka rute baru.

Baca juga: Emirates Operasikan A380 dengan Rute Terpendek di Dunia, Jaraknya Setara Jakarta – Pangandaran!

Belum lama ini, Bamboo Airways, maskapai berbiaya rendah asal Vietnam mengumumkan Praha sebagai tujuan jarak jauh pertamanya dari Hanoi dan Kuwait Airways meluncurkan penerbangan ke Sarajevo, Bosnia, untuk pertama kalinya. Itu adalah sedikit contoh dari beberapa rute baru yang dijalankan banyak maskapai dunia. Sekali lagi, semua itu dilakukan guna menyesuaikan diri dengan kondisi baru atau “The New Normal”.

Sebagaimana yang sudah ditulis redaksi KabarPenumpang.com sebelumnya, bisnis penerbangan merupakan binsis penuh risiko. Bayangkan, dalam setiap penerbanga, maskapai hanya mengambil margin sekitar lima persen. Padahal, beban biaya harian, bulanan, kuartal, dan tahunan maskapai tak sedikit dan itu semua harus ditambal dengan strategi perjualan yang baik.

Strategi penjualan yang baik tak mungkin tercapai bila rute yang dibuka adalah rute “neraka” atau rute “khayalan” alias sepi atau terlalu banyak pesaing. Bahkan, pada umumnya tim marketing sudah mulai menjual tiket tiga bulan sebelum rute baru dibuka, sekalipun hal itu dilakukan bila pada dasarnya rute tidak menguntungkan, tentu tim marketing akan sulit membuat kursi pesawat penuh di setiap penerbangan.

Dikutip dari Simple Flying, sebelum membuka rute baru, beberapa pertanyaan harus bisa dijawab dengan baik sebagai indikator kesuksesan maskapai di rute baru tersebut. Beberapa pertanyaan itu, termasuk siapa target pasar untuk rute baru? Berapa hari per minggu rute harus dilayani? Pada jam berapa sebuah rute harus dilayani? Jenis pesawat apa yang harus digunakan untuk melayani rute? Siapa yang akan menjadi pesaing utama perusahaan? Berapa biaya dan pendapatan yang saya harapkan saat mengoperasikan rute? Biasanya, tim niaga dan opersional berdebat sengit di sini, semata untuk membuat perusahaan untung. Semua pertanyaan tersebut biasanya disebut Network Planning.

Untuk menjawab pertanyaan itu, setidaknya maskapai punya dua opsi, manual atau by sistem. Manual berarti maskapai mengandalkan cara lama, melalui insting orang-orang berpengalaman di atas kertas dan insting di dalam kepala serta hati. Sekalipun terdengar kuno, cara ini disebut masih dilakukan beberapa maskapai. Masalah uang tentu menjadi dasar utama. Pasalnya, software network planning dbanderol dengan harga selangit. Tentu senilai dengan fungsi dan keuntungan yang didapat pengguna.

Akan tetapi, bila maskapai punya uang yang cukup, tentu software network planner menjadi andalan maskapai sebelum benar-benar membuka rute baru atau mengevaluasi rute yang sudah ada. Ada beberapa software di dunia, termasuk di dalamnya buatan google (google Nested Logit models) dan buatan Jerman/Luftahnsa (Lufthansa Systems’ NetLine/Plan).

Melalui software tersebut, sebuah maskapai dapat mengungguli maskapai lain yang masih menggunakan cara kuno dalam hal kecepatan, transparansi, dan, yang paling penting, akurasi perkiraan. Alat Network Planner atau Perencana Jaringan yang canggih akan melengkapi perencanaan dengan sains terbaru untuk mendukung kasus bisnisnya dalam industri penerbangan yang sangat kompetitif dan dinamis seperti saat ini.

Baca juga: Terbang Lintas Benua! Inilah 10 Rute Terpanjang Penerbangan Non Stop Komersial

Selain itu, berkat algoritma pembelajaran mesin untuk mengkalibrasi model yang mendasarinya berdasarkan data historis, software juga bisa menyajikan data lengkap berupa berbagai rekomendasi.

Dari situ kemudian disusunlah analisis dalam bentuk dua komponen penting, Connection Builder dan the Market Share Model yang bisa menjawab semua pertanyaan sebelumnya (pertanyaan sebelum membuka rute baru). Pada akhirnya data-data dari software akan dibaca oleh ahli software untuk disajikan dalam bentuk statistik dan pada akhirnya digunakan oleh stakehloder untuk memutuskan apakah rute baru akan dijalankan atau tidak.

Pastikan Social Distancing, Robot Anjing Tanpa Kepala Berkeliaran di Singapura

Sebagai bagian dari upaya untuk mendorong gerakan social distancing di tengah wabah Covid-19, seekor anjing robot tanpa kepala telah berkeliaran di sekitar Taman Bishan-Ang Mo Kio di Singapura. Anjing ini mungkin tidak ingin Anda pelihara.

Baca juga: Sofitel Sydney Darling Harbour Gunakan Robot untuk Bantu Pekerjaan Hotel

Robot anjing ini dapat mendeteksi berapa banyak orang disekitarnya. Berwarna kuning cerah, robot anjing tanpa kepala ini dikembangkan oleh Boston Dynamics. Ketika robot berkeliaran di taman, dia sesekali membuat pengumuman untuk mengingatkan orang-orang agar menjaga harak satu sama lain.

KabarPenumpang.com melansir dari laman travelandleisure.com (14/5/2020), dalam sebuah video, robot anjing ini berjalan di jalan setapak Taman Bishan-Ang Mo Kio. Kehadiran robot anjing ini berdasarkan uji coba oleh Dewan Taman Nasional dan Bangsa Cerdas serta Kelompok Pemerintah Digital di Singapura.

Uji coba dilakukan untuk melihat apakah membuat perbedaan yang terukur dalam membantu mengendalikan penyebaran penyakit. Masa percobaannya dimulai pada 8 Mei 2020 kemarin dan akan berlanjut selama dua minggu di taman.

Robot anjing ini akan terlihat berkeliaran di area River Plains Park selama jam-jam sibuk. Tidak sendiri, robot anjing akan dipantai oleh seorang petugas. Meski robot anjing tidak bisa dimanja seperti anjing sebenarnya, robot yang dinamai Spot mampu berkeliaran di daerah dimana roda sebagian besar tidak efektif seperti di jalan atau rumput yang kasar.

Uniknya lagi, robot anjing juga dilengkapi dengan moda penglihatan 360 derajat dan dapat menghindari semua rintangan saat didorong dari jarak jauh atau otomatis untuk tetap berada di jalur tertentu.

Baca juga: Enam Jenis Robot Beroperasi di Stasiun Gateway Takanawa

Robot anjing tersebut bahkan dapat merasakan berapa banyak orang di sekitarnya, sehingga dapat membuat pengumuman dengan suara yang direkam terkait jarak aman antar orang satu dengan yang lainnya. Walaupun melihat robot anjing tanpa kepala itu aneh dan bahkan sedikit mengerikan, tentu saja dia melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam membuat orang menjaga jarak tertentu dari pada anjing lucu dan berbulu.

Mantan Pemilik Avianca Berencana Beli Alitalia, Sesumbar Bakal Kasih Untung Sejak Enam Bulan Pertama

German Efromovich, mantan pemilik Avianca, maskapai terbesar ketiga di Amerika Latin yang belum lama ini dilaporkan bangkrut akibat pandemi virus corona, disebut berencana membeli flag carrier Italia, Alitalia. Belum jelas berapa mahar yang akan dikeluarkan German, namun, diketahui German sudah lama mengagumi Alitalia, bahkan sejak ia masih menjadi bos besar di Avianca.

Baca juga: Avianca, Maskapai Terbesar Ketiga di Amerika Latin Bangkrut Gegara Corona, 21 Ribu Karyawan di 14 Negara Gigit Jari!

German Efromovich pada dasarnya bukanlah orang dirgantara. Ia lebih dikenal sebagai pengusaha berdarah Kolombia-Bolivia yang memiliki saham terbesar di Synergy Group yang fokus di bidang inudstri dan pertambangan.

Pada tahun 2004, pria kelahiran 1950 itu mencoba peruntungan di dunia dirgantara dengan membeli Avianca. Kala itu, Synergy Group, perusahaan milik German, mengakuisisi 75 persen dari grup maskapai Amerika Selatan itu. Momentum German mengakuisisi Avianca juga tergolong tepat, tak lama setelah perusahaan tersebut mengajukan kebangkrutan Bab 11 saat tengahmemasuki fase reorganisasi setelah krisis industri penerbangan pasca insiden 9/11.

Di bawah kendali German, Avianca perlahan bangkit dan berhasil menempati posisi sebagai maskapai kedua terpenting di Amerika Selatan, di bawah LATAM Airlines Group. Avianca mulai menandai keberhasilannya saat masih bersama German dengan memperluas operasinya di beberapa negara Amerika Latin dan membukan cabang di sana, mulai dari Kolombia, El Salvador, Peru, Argentina, dan Brasil.

Bahkan, di beberapa momen, ada diskusi peluncuran Avianca Mexico, bekerja sama dengan maskapai Meksiko Aeromar. Hal itu belum pernah terjadi sebelumnya, sepanjang hampir satu abad perusahaan berdiri. Mirisnya, kesuksesan itu disebut tak pernah terpikirkan kembali terjadi di bawah kepemimpinan CEO sekarang.

Namun demikian, pada tahun 2018, German Efromovich kehilangan kendali atas Avianca Holdings. Hal itu terjadi setelah United Airlines, salah satu raksasa penerbangan asal AS, meminjamkan US$456 juta kepada Synergy Group. Sejak saat itu, kekuasaan German mulai menipis hingga pada akhirnya tahun lalu, United Airlines memaksa pengambilalihan maskapai dan Efromovich dipecat dari perusahaan penerbangannya sendiri.

Akan tetapi, sebelum dipecat, ia pernah memuji Alitalia. Kala itu, ia mengagung-agungkan Alitalia sebagai perusahaan yang hebat. Namun, ia juga merasa miris mengapa perusahaan sehebat itu bisa tengah terseok-seok dan ia ingin merubahnya, berbekal pengalamannya bersama Avianca.

“Alitalia adalah perusahaan yang hebat. Saya tidak mengerti bagaimana mereka bisa kehilangan uang. Saya bisa mengembalikannya dalam enam bulan. Empat belas tahun yang lalu, saya membeli maskapai penerbangan Kolombia Avianca, ketika memiliki 34 pesawat terbang dan 4.300 karyawan. Saya menyembuhkannya, dan sekarang memiliki 189 pesawat terbang dan lebih dari 22.000 karyawan. Penghasilannya berubah dari US$350 juta menjadi US$4,5 miliar,” katanya, sebagaimana dikutip dari Simple Flying.

Baca juga: Alitalia Evaluasi Keanggotaan SkyTeam Pasca Dapat Bos Baru

Alitalia sendiri, belum lama ini memang dilaporkan tengah memasuki periode sulit, bahkan sebelum adanya wabah corona. Dengan adanya wabah virus Cina itu, praktis, langkah maskapai untuk bertahan lebih berat lagi. Sadar maskapai pelat merahnya akan bangkrut, pemerintah Italia bergerak cepat. Belakangan, pemerintah Italia dikabarkan telah mengucurkan dana segar sebesar $3 miliar atau setara Rp44 triliun lebih (kurs 14,845).

Disebutkan, untuk sementara waktu, pemeritah Italia akan mengambil alih langsung maskapai yang mempekerjakan sebanyak 6.622 pekerja hingga Oktober tahun lalu itu. Pemerintah akan terus menangani maskapai sampai proses kepemilikan bos baru terhadap maskapai itu selesai dan German Efromovich tengah bersaing di dalamnya. Bila berhasil, bukan tak mungkin era baru Alitalia akan kembali datang, bersamaan dengan ‘tangan’ emas German.

Robot Hidrogen Peroksida Vapourised Bantu Bersihkan Kereta dan Stasiun MTR Hong Kong

Tak cukup hanya dengan staf yang melakukan pembersihan kereta secara menyeluruh. MTR Corp Hong Kong menggunakan Robot Hidrogen Peroksida Vapourised (VHP) otomatis untuk membantu dalam pembersihan menyeluruh dan dekomentasi kereta serta area stasiun.

Baca juga: Enam Jenis Robot Beroperasi di Stasiun Gateway Takanawa

Robot ini secara otomatis akan menyemprotkan larutan Hidrogen Peroksida yang diatomisasi ke konsentrasi tertentu untuk memastikan desinfektan menembus celah kecil yang sulit dijangkau selama staf melakukan pembersihan normal. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman railwaygazette.com (11/3/2020), robot VHP merupakan hasil dari proyek bersama antara MRT Corp dengan perusahaan bioteknologi Avalon Biomedical.

Cara kerja robot ini pun tak terlalu sulit, dimana operator dapat mengatur robot untuk beroperasi secara otomatis di denah lantai dari area yang ditentukan. Selain itu juga dapat menggunakan perangkat seluler untuk mengontrol robot dari jarak 20 meter.

Dalam membersihkan kereta dengan delapan mobil menggunakan mode otomatis membutuhkan waktu sekitar empat jam. Jika ada situasi pembersihan khusus, seperti penumpang muntah di kereta, staf MTR dapat menggunakan Robot VHP untuk melakukan pembersihan mendalam dengan air pemutih yang diencerkan.

Robot itu juga dikirim untuk mensterilkan area belakang rumah di stasiun Mong Kok East, termasuk staf ruang ganti, toilet dan ruang mess serta lift penumpang, setelah anggota staf didiagnosis dengan Covid-19. Kolaborasi antara MTR dan Avalon juga mencakup pengenalan fasilitas manufaktur khusus yang dapat menghasilkan masker wajah bedah yang mampu memblokir partikel PM 2·5 menggunakan teknologi nanofibre yang dikembangkan oleh Hong Kong Polytechnic University.

Peralatan telah dikirim ke MTR dan pengaturan ruang produksi bersih sedang berlangsung. Produksi diharapkan akan dimulai pada paruh kedua tahun ini paling awal, dengan manufaktur memenuhi tingkat konsumsi harian staf MTR. MTR dan Avalon juga menguji penggunaan teknologi penyaringan nano-air untuk lebih meningkatkan kualitas udara stasiun.

“Kami sepenuhnya memahami kekhawatiran penumpang kami tentang kebersihan di lingkungan perjalanan mereka, terutama di tengah wabah Covid-19 saat ini,” kata Direktur Operasi MTR Corp, Dr Tony Lee pada 11 Maret.

Baca juga: Restoran di Stasiun Higashikoganei Punya Robot yang Bisa Buat Mie Soba

“Sementara MTR telah memperkuat pekerjaan pembersihan dan disinfeksi secara komprehensif di jaringan kereta api, kami juga terus secara aktif mengeksplorasi peningkatan yang layak. Kami berencana untuk mengerahkan total 20 robot VHP untuk pembersihan kereta di depo dan berharap ini membantu memastikan kenyamanan perjalanan para penumpang dengan memberikan perlindungan kesehatan yang semakin besar bagi kolega dan pelanggan kami,” tambahnya.

India Mulai Buka Penerbangan Domestik, Penumpang Disarankan Tidak Gunakan Toilet Selama di Pesawat

Setelah masa lockdown, berbagai negara mulai kembali menerbangkan pesawat mereka baik untuk bisnis atau repatriasi. Meski begitu terbang saat pandemi ini tak sama seperti dulu yang mana penumpang bebas duduk di kursi pilihan mereka atau bisa berbicara bebas dengan penumpang sebelah.

Baca juga: Pasca Covid-19, Proses Perjalanan Udara Butuh Empat Jam Sebelum Terbang!

India menjadi salah satu negara yang akan membuka penerbangan domestik mereka mulai minggu depan. Kementerian penerbangan sipil mengatakan bahwa hanya sepertiga dari operasi akan diizinkan dengan SOP baru untuk mereka yang bepergian.

KabarPenumpang.com melansir dari laman hindustantimes.com (21/5/2020), Kementerian Penerbangan menyarankan bagi wanita hamil dan penumpang dalam kondisi sakit baiknya tidak bepergian. Bahkan dalam penerbangan penumpang hanya akan diperbolehkan membawa satu tas kabin.

Selain itu ada aturan lainnya yang diberlakukan oleh India yakni, hanya penumpang yang dikonfirmasi dengan check in melalui website yang diizinkan memasuki bandara. Penumpang akan diminta serta diwajibkan menggunakan masker.

Penumpang membawa satu tas dan status aplikasi deklarasi diri atau Aarogya Setu juga akan diperoleh bahwa penumpang bebas dari gejala Covid-19. Penumpang dengan status merah di aplikasi Aarogya Setu tidak akan diizinkan bepergian dengan pesawat.

Awak kabin juga akan menggunakan setelan pelindung yang dilengkapi masker, kacamata dan sarung tangan. Masa pandemi ini juga maskapai tidak akan menyediakan layanan makanan di dalam pesawat. Selain itu maskapai juga menghilangkan koran atau majalah.

Jika penumpang menggunakan troli bagasi baiknya lebih diminimalisir. Disarankan para penumpang untuk meminimalkan penggunaan toilet dan mengindari gerakan tidak penting di lorong kabin.

Baca juga: Tiga Klasifikasi Nilai di India, Bisa Bikin Penumpang Masuk Daftar Larangan Terbang

Bahkan makanan yang dibawa penumpang juga tidak diizinkan untuk dikonsumsi dalam penerbangan. Semua orang yang akan bepergian akan diperiksa kesehatannya secara termal di pintu masuk bandara. Penumpang di zona merah tidak diizinkan untuk bepergian dan kursi yang ditandai tidak boleh digunakan penumpang.

Transformasi Bisnis, Etihad Airways Pertimbangkan Pensiunkan A380 dan A350 Secara Permanen

Etihad Airways, maskapai kampiun asal Uni Emirat Arab dikabarkan tengah mempertimbangkan untu mempensiunkan secara permanen seluruh armada A380 mereka. Saat ini, Etihad diketahui mengoperasikan 10 pesawat komersial terbesar di dunia dan sudah memiliki lima A350. Namun, khusus untuk A350, setelah pertama kali dikirim tahun lalu, pesawat tidak langsung masuk ke layanan, melainkan diparkir untuk sementara di fasilitas penyimpanan pesawat di Bordeaux, Perancis.

Baca juga: Etihad Uji Coba Teknologi Canggih di Bandara untuk Cegah Corona

Simple Flying melaporkan, salah satu dari tiga maskapai raksasa di Timur Tengah itu pertama kali menerima armada A350 (MSN 290) pada tanggal 31 Mei 2019. Tetapi, pesawat tersebut kemudian dipindahkan ke Bordeaux pada 3 Juni. Demikian juga MSN 315 dikirim berdasarkan kontrak pada 15 Juli 2019, MSN 330 dikirim berdasarkan kontrak pada 29 Juli 2019, dan MSN 342 dikirim berdasarkan kontrak pada 30 September 2019 yang juga sudah disimpain baik-baik di Bordeaux tak lama setelah dikirim oleh Airbus.

Kabar mengenai rencana mempensiunkan A380 dan A350 sebetulnya bukan barang baru untuk Etihad. Sejak tahun lalu, maskapai yang masuk ke dalam The Three Mega Carrier bersama Emirates dan Qatar ini sudah memberi sinyal tak baik terkait pengoperasian dua jenis pesawat tersebut.

“Etihad Airways akan membatalkan masuknya layanan lima pesawat Airbus A350-1000 baru sebagai bagian dari rencana transformasi bisnis yang sedang berlangsung,” kata juru bicara Etihad pada September lalu. Sebelumnya, tepatnya pada Maret lalu, Etihad telah lebih dahulu membatalkan pesanan kepada Airbus sebanyak 42 A350 XWB.

Menurut beberapa sumber, transformasi bisnis tersebut juga termasuk di dalamnya A380, mengingat, selain operational cost tinggi, maskapai juga harus menjual lebih dari 500an kursi yang mana akan terdengar sulit di masa mendatang. Masalahnya, tren penerbangan di masa mendatang dinilai sudah tak lagi cocok dengan pesawat dengan daya tampung besar. Adapun momen mempensiunkan dini seluruh armada A380 Etihad, yang menurut Planespotters memiliki usia rata-rata di bawah lima tahun, dinilai tepat mengingat kondisi iklim penerbangan yang tengah melorot akibat corona.

Di dunia, Etihad tentu bukan satu-satunya maskapai yang mempunyai rencana serupa. Sebelumnya, ada British Airways, Qantas, Lufthansa, ANA, serta beberapa maskapai lainnya yang mempunyai rencana serupa, selain menggrounded hampir seluruh armada untuk sementara.

Baca juga: Lufthansa Kirim Airbus A380 Terakhir ke ‘Kuburan’ Pesawat di Spanyol

Jika Etihad Airways pada akhirnya benar-benar mempensiunkan A380 dan tidak jadi mengoperasikan A350 karena alasan transformasi bisnis, sebagaimana yang telah diungkap di atas, praktis mereka hanya akan melayani seluruh tamu spesial mereka dengan empat jenis pesawat. Mulai dari Boeing 777, Boeing 787, keluarga Airbus A320, dan satu Airbus A330, yang baru-baru ini mengoperasikan penerbangan bersejarah ke Tel Aviv untuk memberikan bantuan medis ke Palestina, sekalipun pada akhirnya ditolak mentah-mentah.

Bila hal itu terjadi, mungkin Etihad akan kehilangan seluruh pangsa pasar premium mereka. Sebagai informasi, Etihad Airways selama ini banyak diburu penumpang untuk merasakan sensasi terbang di First Class Apartment atau The Residence Etihad yang khusus tersedia di pesawat A380. Bila kelas tertinggi tersebut dihilangkan, kemungkinan kecil mereka akan beralih ke first class di pesawat lain. Sebaliknya, menurut sebagian pengamat, besar kemungkinan mereka akan beralih ke layanan dan pesawat serupa milik maskapai lain.