Tragis! Mau Bantu Suami, Tangan Wanita ini Justru Terpotong Baling-Baling Pesawat

Sebuah peristiwa mengerikan belum lama ini terjadi di Key West, Fort Myers, Negara Bagian Florida di Amerika Serikat. Rebecca Lynn Gray yang berusia 45 tahun telah kehilangan tangan dan jari kaki. Insiden tersebut terjadi saat ia tengah membantu menyiapkan pesawat yang akan lepas landas.

Baca juga: Baling-Baling Mati Sebelah, Penerbangan QantasLink Dash 8 Terpaksa “Return to Base”

Insiden ini bermula ketika Rebecca tengah membantu menyiapkan pesawat pribadi untuk lepas landas di Bandara Internasional Key West. Saat itu sang suami Walter Gray mencoba lepas landas, tetapi pesawat tidak mau bergerak meski mesin menyala dan baling-baling berputar.

Dia kemudian keluar pesawat untuk memeriksa apakah penahan ban pesawat masih ada di landasan sementara mesin masih menyala dan baling-baling berputar. Ketika keluar dia mengatakan kepada istrinya untuk tetap di dalam pesawat dan tidak pergi kebagian depan pesawat.

Namun Rebecca ikut keluar dan pergi untuk melepaskan ganjalan dari ban pesawat serta melakukan kontak dengan baling-baling. Dia tertabrak dan baling-baling yang memutar itu memotong salah satu lengan bagian kanan.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman news-press.com (14/10/2019), menurut Florida Highway Patrol yang menangani kasus ini, Rebecca langsung dibawa ke pusat medis Lower Keys dan kemudian diterbangkan ke rumah sakit daerah Miami Ryder Trauma dalam kondisi stabil. Insiden itu sendiri terjadi sekitar jam 20.45 waktu setempat.

Juru bicara kantor daerah Sheriff Monroe mengatakan, kaki korban juga terputus pada dua jari kakinya. Ayah mertuanya, W.V. Gray Sr mengatakan, menantunya Rebecca akan pulih.

“Jelas itu bisa jadi jauh lebih buruk. Saat ini kecelakaan tersebut dalam penyelidikan oleh Administrasi Penerbangan Federal,” ujar Gray.

Baca juga: Cessna 172 Skyhawk, Pesawat Latih Terpopuler Sejagad, Pencetak Berjuta Pilot

Diketahui, Rebecca merupakan penumpang dalam pesawat model 172S Cessna 1966 yang dipiloti oleh suaminya Walter. Menurut FPH, pesawat itu disewa oleh pasangan tersebut yang merupakan penduduk Fort Myers.

Duh! Pesan Berbau Pelecehan Seksual Diterima Penumpang Lewat In-Flight Entertainment

Kasus pelecehan seksual kembali terjadi di dunia penerbangan, dimana seorang penumpang Virgin Atlantic menerima pesan yang menyinggung soal seksual. Adalah Jessica Van Meir, wanita berusia 24 tahun ini dikabarkan menerima pesan berbau seksual pada sistem di dalam penerbangan ketika dirinya melakoni perjalanan dari London menuju Wahington DC pada Sabtu (5/10) kemarin. Sontak, hal ini membuat ia kaget dam sempat ketakutan.

Baca Juga: Usai Demo Keselamatan Penerbangan, Pramugari EasyJet Mendapat Pelecehan Seksual dari Penumpang

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnn.com (9/10), Jessica menerima pesan ini tak lama berselang setelah pesawat tinggal landas. Ia mengatakan bahwa sebelum pesan-pesan berbau seksual ini muncul, Jessica sempat menggunakan toilet terlebih dahulu – entah apa korelasi antara dua kejadian ini.

Kuat dugaan, pesan-pesan ini datang dari sekelompok penumpang yang duduk di bangku belakang dan mengetahui keberadaan dari Jessica di penerbangan tersebut. Ya, bagi Anda yang belum mengetahui, sistem In-Flight Entertainment (IFE) yang ada di dalam penerbangan Virgin Atlantic memungkikan penumpang untuk menonton film, bermain game, hingga mengirin pesan kepada penumpang lain yang ada di penerbangan yang sama.

Pesan teks yang diterima Jessica. Sumber: cnn.com

“55C, kamu sangat menarik, sayang,” ujar salah seorang penumpang di dalam penerbangan tersebut yang menggunakan nama akun ‘smacks baccy’. 55C diduga sebagai nomor bangku yang diduduki oleh Jessica.

“Selamat datang di neraka,” ujar penumpang lain dengan nama akun ‘dirty mike’.

Pesan teks lanjutan. Sumber: cnn.com

Jessica yang mulai gerah dengan pesan-pesan ini lalu membalasnya, “Saya bekerja untuk sebuah firma hukum yang berspesialisasi dalam pelecehan seksual online. Selamat menikmati laporan yang akan saya adukan ke pihak maskapai,”

Alih-alih menghentikan aksi nakalnya tersebut, ‘dirty mike’ lalu kembali membalas Jessica.

“Sekarang kamu berada di zona berbahaya,”

Adapun pesan-pesan ini dinilai berbau pelecehan seksual karena nama-nama yang digunakan oleh para penumpang ini secara eksplisit mengarah ke arah sana – seperti ‘dirty mike’ dan ‘big d*ck swinger’.

Baca Juga: Mengaku Tak Sadar, Pria ini Lakukan Pelecehan Seksual dalam Penerbangan

Setelah merasa posisinya semakin terancam, Jessica pun lalu melaporkan kejadian ini kepada awak kabin Virgin Atlantic dan pesan-pesan flirting itu pun berangsur berhenti.

Beberapa saat berselang, Jessica kembali menggunakan toilet dan di situ ia mengetahui siapa-siapa saja yang tadi mengiriminya pesan. Salah satunya adalah seorang pelatih tim rugby yang berjalan menghampirinya dan meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan sebelumnya.

Wah, ada-ada saja ya tingkah laku penumpang!

Operasikan 400.000 Unit, Populasi Bus Listrik Terbesar Masih di Cina

Kondisi polusi udara yang sudah semakin tidak bisa ditolerir belakangan ini membuat sejumlah eksekutif yang berkecimpung di sektor transportasi di luar sana memutar otak guna mencari jalan keluar dari polemik turunan ini. Beragam opsi yang ditawarkan oleh produsen transportasi, mulai dari moda darat, laut, hingga udara guna memerangi polusi ini ditawarkan agar mereka bisa tetap membiarkan ‘dapurnya ngebul’. Salah satu opsi yang paling relevan untuk kondisi sekarang ini adalah moda listrik.

Baca Juga: Cina Rajai Populasi Bus Listrik di Seluruh Dunia

Tidak bisa ditampik, beraga varian moda listrik kini mulai bermunculan ke permukaan – mulai dari electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL) yang mewakili moda udara, kapal ferry bertenaga listrik yang mewakili moda laut, kereta listrik dan bus listrik yang mewakili moda darat. Semuanya menyajikan keuntungannya masing-masing, kendati beberapa dari mereka akan mengubah regulasi yang selama ini diberlakukan.

Nah, ngomong-ngomong soal bus listrik, ternyata Negeri Tirai Bambu Cina hingga saat ini masih didapuk sebagai negara penghasil bus listrik terbesar di dunia. Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman pri.org (8/10), Anda dapat dengan mudah menemukan eksistensi dari bus listrik di jalanan-jalanan di Cina sana – lengkap dengan stasiun pengisian dayanya yang dapat dilakukan sembari bus beroperasi.

Tidak percaya bahwa Cina merupakan pengguna bus listrik paling banyak di dunia? Sebuah fakta menyebutkan bahwa kota Shenzhen di Cina mengoperasikan sekitar 16.000 bus listrik dan ada lebih dari 400.000 bus listrik yang beroperasi di keseluruhan wilayah Cina. Sementara itu rival Cina dalam Perang Dagang, Amerika Serikat hanya mengoperasikan segerintil bus listrik saja.

Sebutlah Foothill Transit, sebuah agen angkutan umum yang didanai oleh 22 pemerintah kota yang ada di lembah San Gabriel dan Pomona hanya mengoperasikan 33 unit bus listrik saja, atau sepersepuluh dari total armada yang dimiliki Negeri Paman Sam.

Baca Juga: Bus Listrik asal Cina Bawa Perubahan Radikal pada Transportasi di Santiago

Dari angka yang tersaji di atas saja, Anda sudah bisa melihat perbedaan yang amat sangat jauh antara Negeri Adikuasa dengan Cina, bukan? Pertanyaan lain yang muncul adalah, “Mengapa Cina bisa sebanyak itu mengoperasikan bus listrik?”

Jawabannya amatlah sederhana, karena negara dengan populasi terbesar di dunia tersebut sudah paham betul akan kondisi polusi yang sudah semakin meradang, dan mulai memprioritaskan elektrifikasi angkutan umum dengan subsidi dan peraturan nasional. Jadi, wajar saja apabila Cina seolah sudah biasa saja dengan kehadiran bus listrik – tidak seperti negara lain yang masih memiliki euforia yang tinggi terhadap moda ini.

Boeing 737 NG Garuda dan Sriwijaya Air ‘Terjangkit’ Crack, Kemenhub Siap Gelar Inspeksi

Setelah pada beberapa waktu ke belakang nama Boeing kembali diguncang isu lagi terkait crack yang ditemukan di pickle fork, kini kabar mengejutkan datang dari dalam negeri, dimana salah satu pesawat milik BUMN yang tengah terseok-seok, Garuda Indonesia dikabarkan juga mengalami retakan. Adapun unit yang terdampak masalah keretakan ini adalah 737-800 NG.

Baca Juga: Merespon Masalah ‘Crack’ di 737 NG, Boeing Dirikan Fasilitas Khusus di California

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman bisnis.com, VP Corporate Secretary Garuda Indonesia M. Ikhsan Rosan menyatakan telah melakukan pemeriksaan terhadap beberapa pesawat yang memiliki 30.000 siklus terbang (flight cycle). Adapun, mayoritas pesawat Boeing Seri NG yang dioperasikan Garuda masih tergolong baru, sehingga banyak yang belum mencapai angka flight cycle tersebut.

“Ada tiga unit Boeing NG kami yang sudah mencapai flight cycle 30.000. Dari tiga itu, satu yang sudah kami temukan (adanya dugaan retakan pada pickle fork), posisinya saat ini sudah di-grounded,” ujar Ikhsan.

Ia menambahkan, pihak Garuda Indonesia sudah melakukan koordinasi dengan pihak Boeing selaku penyedia pesawat terkait ditemukannya retakan ini.

“Koordinasinya berkaitan dengan penanganan dan perbaikan retakan itu. Kami belum bisa bilang (meminta kompensasi) itu, tetapi ada pembicaraan mengenai itu juga,” sambungnya.

Berdasarkan data yang ada di Garuda Indonesia pada Kuartal I/2019, jumlah pesawat Boeing 737-800 NG yang dioperasikan mencapai 73 unit, dimana tiga di antaranya sudah mencapai 30.000 flight cycle.

Menanggapi hal ini, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) berencana akan melakukan inspeksi terhadap seluruh varian Boeing 737 NG yang beroperasi di Indonesia. Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Polana B. Pramesti, juga memerintahkan kepada Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) untuk menindaklanjuti pada surat pemberitahuan yang dikeluarkan oleh FAA terkait crack ini.

Baca Juga: Ada Keretakan di Boeing 737 NG, Kembali Ingatkan “Teori Habibie”

“Kemenhub sangat mengutamakan keselamatan, oleh karena itu, Ditjen Hubud akan dan terus berupaya penuh untuk memastikan keselamatan dari setiap pesawat yang beroperasi di Indonesia. Kami akan melakukan inspeksi lebih lanjut untuk memastikan tingkat kerusakan dari pesawat produksi Boeing, khususnya B737 NG,” jelas Polana, dikutip dari laman sumber lain.

Ternyata tidak hanya pesawat milik Garuda Indonesia saja yang dikabarkan mengalami crack, melainkan juga lima unit lain milik Sriwijaya juga divonis mengidap penyakit yang sama.

21 Penerbangan dalam 5 Hari, Dilakoni Penumpang ini Demi Status “VIP”

Pernah merasa perlu memiliki status VIP dalam sebuah penerbangan? Mungkin beberapa diantar Anda perlu apalagi bisa menikmati lounge maskapai di bandara secara cuma-cuma. Belum lama ini, seorang penumpang asal Denmark mempertahankan posisi VIP nya untuk maskapai airBaltic.

Baca juga: Dongkrak Pengalaman Penumpang, Singapore Airlines Siap “Rombak” Lounge di Changi

Penumpang bernama Morten Nielsen ini melakukan 21 penerbangan dalam lima hari demi mempertahankan status VIP-nya. Nielsen mengatakan, untuk mendapatkan stastus VIP dia harus melakukan 60 penerbangan dalam setahun.

“Saya sudah 39 kali penerbangan dan hampir VIP saya hanya perlu 21 penerbangan lainnya,” kata dia sebelum melakukan penerbangan sisanya.

Untuk menghabiskan sisa 21 perjalanan lain, Nielsen yang menggunakan airBaltic tersebut menyusun rencana perjalanannya untuk terbang bolak-balik dengan rute Riga dan Tallin. Kemudian sesekali mengambil perjalanan ke Liepaja atau Vilnius dan mengakhiri perjalanannya di Berlin, Jerman.

Setelah dia menyelesaikan perjalanannya, airBaltic merayakan pencapaian tersebut dan mengundang Nielsen untuk mencoba simulator Boeing 737 di Riga. Walaupun masuk akal bagi mereka yang hanya beberapa penerbangan untuk mendapatkan status tier untuk terbang demi poin, 22 penerbangan tampaknya sedikit ekstrem. Mr Nielsen mengklaim bahwa ia hampir berstatus VIP meskipun hanya 2/3 dari total, dan 1/3 dari tingkat sebelumnya.

CEO airBaltic, Martin Gauss mengatakan, ini tampak ekstrem dan maskapai harus mempertanyakan tanggung jawab penerbangan apakah benar-benar layak sebelum stastus VIP diberikan, apalagi dia membayar sendiri.

“Kami memiliki manajemen cahaya, kami memiliki manajemen pendingin udara, kami ingin pergi untuk operasi tanah listrik. Jadi kami akan melakukan banyak hal pada keberlanjutan untuk mengurangi jejak kami lebih jauh dan saya pikir maskapai lain melakukan hal yang sama,” kata dia.

Namun, dengan mempromosikan perjalanan udara Nielsen, airBaltic mengambil langkah kecil ke belakang.

“Meskipun ini tentu saja merupakan prestasi bagi Mr Nielsen, saya tidak percaya bahwa itu adalah ide terbaik bagi maskapai untuk secara terbuka menghargai upaya tersebut. Saya tidak setuju dengan Mr Nielsen yang dihargai oleh maskapai, namun, dengan menghasilkan publisitas, Baltic berpotensi memberikan insentif kepada orang lain untuk pencapaian yang lebih baik,” tambah Gauss.

Adanya perjalanan ini membuat maskapai berkomentar, karena sering terbang dan menyukai penerbangan, penumpang yang difilmkan di video VIP Run ingin mencapai status VIP untuk menikmati manfaatnya, yang membuat perjalanan lebih nyaman. Upaya yang ditingkatkan untuk mencapai status VIP ini adalah inisiatifnya, dan ia menanggung semua biaya untuk tiket penerbangan sendiri.

Baca juga: Cathay Pacific Hadirkan Lounge Untuk Yoga dan Meditasi di Bandara Hong Kong

Sebagai salah satu maskapai penerbangan paling inovatif secara global, airBaltic berkomitmen kuat untuk mengurangi dampaknya terhadap lingkungan. Maskapai telah melakukan berbagai proyek dengan tujuan meningkatkan efisiensi bahan bakar dan mengurangi CO2 dan emisi lainnya.

Cedera dan Tak Bekerja Tujuh Bulan, Pramugari ini Gugat Mendiang Dolores O’Riordan

Seorang pramugari Aer Lingus menggugat penyanyi Dolores O’Riordan dengan tuduhan menyebabkan cedera dan tak bisa bekerja selama tujuh bulan. Carmel Coyne pramugari yang melaporkan mendiang Dolores tersebut saat itu terperangkap dalam insiden yang menyebabkan vokalis The Cranberries itu dikeluarkan dari pesawar Aer Lingus lima tahun yang lalu.

Baca juga: Dipukuli Awak Kabin, Penumpang Pria Gugat American Airlines dan Tuntut US$160 Ribu

Coyne juga menuntut maskapai Aer Lingus tempatnya bekerja itu atas insiden pada 11 November 2014 lalu. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thesun.co.uk (14/10/2019), proses pengadilannya sendiri dimulai awal 2017.

Pada Senin (14/10/2019), Pengadilan Tinggi diberi tahu hari ini bahwa dia telah mengajukan permohonan untuk mengubah judul kasus tersebut untuk membawanya ke ahli waris milik penyanyi itu. Kemudian pengacara keluarga Dolores, Tadhg Dorgan, memberi tahu Hakim Charles Meenan bahwa perwakilan keluarga telah mengetahui akan gugatan tersebut.

Hakim kemudian mengganti nama Dolores O’Riordan dengan nama perwakilan pribadinya yakni saudara laki-laiknya dan mantan akuntan The Cranberries Peter J O’Riordan dan mantan anggotan bandmate Nollaig Hogan, Riverwie Heights, Cahara, dan Glin Co Limerick.

Insiden ini diceritakan pengacara Coyne, Emma Colleran bahwa, kasus ini terjadi pada 10 November 2014 lalu ketika kliennya adalah awak kabin senior Aer Lingus. Dolores yang menjadi penumpang dalam penerbangan itu diduga sengaja menyebabkan cedera pada Coyne dengan menginjak kakinya dan secara fisik menyerang dia serta membatasi Coyne untuk bergerak.

Coyne mengklaim atas hal tersebut dirinya harus terkena pelanggaran hak privasi dan mencari nafkah. Di mana dalam insiden tersebut Coyne tidak bisa bekerja selama tujuh bulan.

Dalam pembelaannya pada Juli 2017, Dolores membatah klaim tersebut padahal tahun 2016 lalu dia mengaku bersalah dan melarikan diri setelah hakim menuduhkan perkaranya. Di pengadilan distrik Ennis, hakim mengatakan Dolores telah melakukan headbutt dan meludahi seorang petugas yang datang untuk mengeluarkannya dari pesawat ketika mendarat di Shannon.

“Aku ikon, aku Ratu Limerick,” teriak Dolores kala itu.

Hakim mengatakan, memiliki kekurangan pada kesehatan mentalnya dan pernah dirawat dengan sukses karena gangguan afektif bipolar. Dia tidak akan diperlakukan berbeda dari yang lainnya.

Baca juga: Jatuh dari Tangga Pesawat, Eks Pramugari Qantas Tuntut Rp4,5 Miliar untuk Cidera Permanen

Sayangnya, pada 15 Januari 2018, Dolores ditemukan tewas di kamar mandi di kamar hotel di London. Mrs O’Riordan dirawat dengan sukses karena gangguan afektif bipolar dan tidak ada bukti dia merasa ingin bunuh diri, kata petugas koroner.

Bersihkan Rel dari Dedaunan, Inggris Mulai Gunakan ‘Dry Ice’ di Musim Gugur

Jalur kereta api Inggris sepanjang 32 ribu kilometer setiap musim gugur dipenuhi sekitar 50 juta daun yang jatuh dari pepohonan. Faktanya, daun-daun ini setiap terlindas roda kereta akan tergerus dan membentuk lapisan licin yang menyebakan kereta kehilangan tekanan saat melintas di rel.

Baca juga: Musim Gugur Tiba, Southeastern Railway Kurangi Jadwal Perjalanan Kereta

Petistiwa alam ini nyatanya membuat kereta berjalan lebih lambat di atas rel untuk meminimalkan kemungkinan tergelincir. Selain itu juga layanan kereta dikurangi untuk mencegah kecelakaan yang terjadi saat sistem persinyalan terganggun oleh daun gugur.

Karena langkah keamanan tersebut menyebabkan keterlambatan, pembatalan dan pengurangan layanan setiap musim gugur dengan biaya penumpang £345 juta per tahun. Dilansir dri bbc.com (8/10/2019) oleh KabarPenumpang.com, para peneliti dari Universitas Sheffield telah mengembangkan dry ice (es kering) untuk menghilangkan daun di jalur kereta.

Para peneliti di Universitas Sheffield telah mempelajari gangguan kereta musiman tersebut dan berinisiatif bekerja sama dengan Icetech Technologies. Solusi yang ditawarkan mencakup teknologi yang efisien dan berkelanjutan. Ini melibatkan sistem on-board untuk membantu kereta dalam pengereman, dan sistem pembersihan rel mandiri.

Solusi baru ini menggunakan es kering (bentuk padat karbon dioksida), yang banyak digunakan dalam industri sebagai zat pendingin karena tidak meninggalkan residu yang berarti. Sistem tersebut menerapkan pelet es kering ke lintasan melalui pancaran udara yang kuat.

Pelet ini dengan cepat membekukan dedaunan, dan kemudian meniupnya keluar dari rel saat sublimasi dan meluas menjadi gas, tanpa menyebabkan kerusakan pada trek atau meninggalkan residu. Mengalihkan jet air untuk es kering juga dapat meningkatkan efisiensi dengan meniadakan kebutuhan untuk membawa tangki air yang kikuk melintasi jalur yang panjang.

“Solusi yang kami kembangkan adalah teknologi yang sepenuhnya berkelanjutan, menggunakan produk samping CO2 dari proses industri lainnya. Ini akan memberikan pengereman dan traksi yang lebih dapat diprediksi daripada teknologi saat ini, dan akan membantu meningkatkan kinerja kereta, mengurangi penundaan, meningkatkan kepuasan penumpang, dan mendukung penggunaan teknologi baru untuk memungkinkan pemanfaatan jaringan kereta api Inggris yang lebih besar,” kata Profesor Roger Lewis dari Departemen Teknik Mesin Universitas Sheffield.

Baca juga: Hitachi Siap Digitalkan Perkeretaapian di Inggris, Seperti ini Caranya!

Sistem ini akan diuji di lima rute pada musim gugur ini. Lima rute tersebut yakni Stocksbridge, Yorkshire Selatan, dan Sutton Park, West Midlands, untuk pengiriman; dan layanan penumpang Blackpool, West Highlands, dan Swansea. Penelitian ini didanai melalui panggilan Small Business Research Initiative (SBRI), Rail Safety and Standards Board (RSSB), Arriva Rail North, Network Rail dan University of Sheffield.

Topan Hagibis Landa Jepang, Kereta Cepat Shinkansen Sempat Tak Beroperasi Seharian

Baru-baru ini Topan Hagibis melanda Jepang dan lebih dari 50 orang meninggal dunia serta beberapa moda transportasi terpaksa tak beroperasi. Salah satunya adalah kereta cepat Shinkansen yang tidak bisa beroperasi dikarenakan jalurnya dipenuhi air banjir akibat hujan lebat saat badai melanda.

Baca juga: Kenapa Kereta Tidak Bisa Menembus Rel Yang Tergenang Banjir? Ini Dia Jawabannya!

East Japan Railway Company (JR East) mengatakan, sepertiga dari kereta peluru yang digunakan pada satu jalur telah rusak oleh banjir. Hal ini karena air dari sungai yang meluap dan memasuki fasilitas di Prefektur Nagano.

Tak hanya itu listrik pun mati selama beberapa hari terakhir karena Topan Hagibis ini. Dilansir KabarPenumpang.com dari mashable.com (15/10/2019), rute kereta cepat dari Nagano ke Stasiun Joetsumyoko bahkan masih ditutup hingga Senin malam kemarin.

Hal ini dikarenakan Depo Kereta Shinkansen di Nagano terendam banjir karena jebolnya tanggul sepanjang 70 meter dari Sungai Chikuma akibat derasnya arus air yang disebabkan Topan Hagibis. Akibatnya tujuh rangkaian kereta Shinkansen seri E7 dan W7 yang tersimpan di depo terendam banjir.

Karena hal ini JR East dalam situs webnya mencantumkan operasional kereta Shinkansen yang ditangguhkan akibat Topan Hagibis. Seorang pelancong asal Indonesia, Indra Budiari mengaku dua hari yang lalu atau Minggu (13/10/2019) kereta Shinkansen seharian tidak beroperasi.

“Dua hari lalu, seharian kereta Shinkansen tidak beroperasi, jadi pelancong yang mau pindah dari satu kota ke kota lain nggak bisa. Tapi kemarin (14/10/2019) sudah mulai banyak yang beroperasi cuma jalur-jalurnya tertentu saja yang masih terganggu,” ujar Indra ketika dihubungi KabarPenumpang.com (15/10/2019).

Dia mengaku, akibat tak beroperasinya kereta Shinkansen, banyak pelancong yang menginap satu hari lagi di satu kota demi keamanan. Untuk diketahui, Topan Hagibis dikategorikan oleh Badan Perkiraan Cuaca milik Militer Amerika Serikat sebagai badai topan kategori 5.

Baca juga: KA Porong, Mencoba Bertahan di Tengah ‘Kepungan’ Lumpur Lapindo

Badai dengan kategori 5 pada Skala Saffir-Simpson merupakan badai topan dengan kekuatan tertinggi dengan kecepatan angin yang bisa mencapai 252 km per jam. Nama Hagibis sendiri berasal dari bahasa Tagalog, Filipina yang berarti kecepatan dan kekuatan.

Lufthansa Kehilangan Kucing Milik Penumpang di Bagasi Kargo

Seorang penumpang yang terbang dari Munich ke Washington DC harus kehilangan salah satu kucingnya pada 3 Oktober 2019 dalam pesawat Lufthansa. Molly McFadden pemilik kucing itu mengatakan, Milo (nama kucingnya) hilang setelah hewan itu masuk dalam kargo pesawat.

Baca juga: Dianggap Lumrah, Burung Elang Masuk di Kabin Pesawat Maskapai Timur Tengah

“Milo hilang saat diangkut dari landasan ke klaim bagasi kedatangan internasional di Bandara Internasional Dulles. Terlepas dari upaya terbaik, termasuk pencarian ekstensif di daerah itu, selebaran, anjing pelacak dan perangkap manusiawi, Milo belum ditemukan,” tulisnya di akun Facebooknya.

Molly mengatakan, sebelum kehilangan salah satu dari dua kucingnya, dia memasukkan kedua kandang mereka ke kargo. Ini karena kandang dua kucing itu terlalu besar jika masuk dalam kabin.

KabarPenumpang.com melansir travelandleisure.com (11/10/2019), saat tiba di klaim bagasi setelah melewati bea cukai pukul 20.30 dia melihat adanya seorang petugas dengan dua kandang. Dia melihat kucingnya yang bernama Beau masih berada di dalam tetapi Milo tidak ada.

“Ada kait di keempat sudut kandang dan tidak satupun dari mereka masih melekat disitu. Awalnya pihak maskapai mengatakan bahwa mereka mencari di pesawat karena mereka percaya Milo melarikan diri pada penerbangan,” kata dia.

Namun mereka juga mengatakan pintu itu sudah terbuka ketika melihat kandang itu ternyata sudah kosong. Ini membuat Molly tidak percaya kucingnya kabur dengan menarik pintu ke dalam.

“Pada hari Senin, diketahui bahwa di suatu tempat danatara ketika dimuat atau masuk ke kargo pesawat kandang itu sudah rusak dan Milo melarikan diri,” tulis Molly lagi.

Juru bicara Lufthansa Christina Semmel mengatakan, bahwa staf darat maskapai di Bandara Dulles memberikan situasi ini dengan perhatian yang tinggi.

“Mereka telah mencari Milo dan telah mengirim email ke komunitas maskapai penerbangan di Bandara Dulles, anggota dari berbagai otoritas di sana, termasuk ground handler serta maskapai lain, meminta bantuan dalam pencarian. Tim kami juga memposting selebaran yang dibuat oleh pelanggan di lokasi berbeda di area ramp. Pencarian untuk Milo berlanjut dan staf darat kami berhubungan erat dengan penumpang, yang sedang diperbarui secara teratur,” kata Semmel.

Molly menulis lagi, “Saya sangat ingin terbang kembali dengan (Milo dan Beau), dan Lufthansa kehilangan Milo adalah mimpi buruk yang bahkan tidak pernah saya pertimbangkan.”

Baca juga: Gara-Gara Ikan, Mahasiswi Ini Dikawal Bak Kriminal Saat Masuk Pesawat

Milo kucing kecil, dan itu dunia besar di luar sana. Molly mengambil kesempatan untuk berbicara tentang masalah kesejahteraan hewan dan perjalanan.

“Pada tahap ini, kami bekerja berdampingan dengan pemilik dalam hal mencari Milo. Keselamatan hewan yang kami bawa selalu menjadi perhatian utama kami dan kami pasti mematuhi setiap langkah keamanan,” kata Semmel.

Giliran Robot YAPE yang Uji Kemampuan di Bandara Frankfurt

Era robotika yang berkecimpung di bandara agaknya sudah merambah ke Benua Biru, setelah pada tahun 2017 kemarin, sejumlah bandara seperti Incheon di Korea Selatan hingga Changi di Singapura, kini giliran Bandara Frankfurt yang menggunakan jasa robotika untuk melayani penumpang. Kendati statusnya masih uji coba, namun itu menandakan bahwa sebentar lagi Bandara Frankfurt juga akan mengikut-sertakan robot dalam pengoperasian sehari-hari.

Baca Juga: Ini Dia Troika! Robot Canggih di Bandara Incheon, Korea Selatan

Sebagaiamana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman internationalairportreview.com (4/10), adalah robot pemandu mandiri bernama YAPE, dikabarkan telah memulai uji coba dengan menemani penumpang ke gerbang keberangkatan dan membantu mereka untuk mengangkut barang-barang berukuran kecil.

“Sebagai pemimpin dalam inovasi, kami terus berupaya untuk mendorong maju teknologi digital baru yang bertujuan untuk meningkatkan pengalaman perjalanan bagi penumpang kami,” kata Alexander Laukenmann, yang mengepalai unit Manajemen Terminal dan Airside di Fraport AG, Perusahaan transportasi Jerman yang mengoperasikan Bandara Frankfurt.

“Tujuan kami mengoperasikan YAPE adalah untuk menguji aspek kecerdasan buatan (ariticifial intelligent) dan sistem robotik yang dapat membantu meningkatkan kualitas layanan di Bandara Frankfurt,” sambungnya.

Dalam fase uji coba ini, penumpang dapat berbicara dengan YAPE melalui aplikasi yang ada di smartphone. Seperti yang sudah disebutkan di atas, YAPE juga dapat membantu membawa barang bawaan penumpang dengan cara dimasukkan ke dalam kompartemen kecil yang ada di tubuh mereka. Setelah selesai dengan urusan barang, maka YAPE siap untuk mendampingi Anda menuju gerbang keberangkatan. Adapun robot ini dapat bergerak bebas di seluruh terminal berkat disematkannya sistem navigasi yang terintegrasi.

Di masa yang akan datang, pihak pengembang akan mengembangkan interaksi mandiri antara robot dengan penumpang – jadi tidak perlu lagi menggunakan smartphone. YAPE, yang merupakan singkatan dari ‘Your Autonomous Pony Express’ ini merupakan sistem robotika kembangan Yape Srl, dimana pihak pengembang mengungkapkan bahwa robot ini bisa mengangkut beban hingga 30kg dengan kecepatan sekitar 6km/jam.

Baca Juga: Geser Yang “Manual,” Selamat Datang Era Robotika di Bandara

Dilalah YAPE sudah terlatih untuk menghindari rintangan yang ada di depannya, namun kepadatan Bandara Frankfurt yang tercatat hingga menyentuh angka 69 juta pengunjung setiap tahunnya ini menghadirkan tantangan tersendiri bagi robot tersebut.

Kalau sudah seperti ini, mampukah YAPE bersanding dengan tenaga manusia dalam melayani penumpang kelak?