Giliran Robot YAPE yang Uji Kemampuan di Bandara Frankfurt

Era robotika yang berkecimpung di bandara agaknya sudah merambah ke Benua Biru, setelah pada tahun 2017 kemarin, sejumlah bandara seperti Incheon di Korea Selatan hingga Changi di Singapura, kini giliran Bandara Frankfurt yang menggunakan jasa robotika untuk melayani penumpang. Kendati statusnya masih uji coba, namun itu menandakan bahwa sebentar lagi Bandara Frankfurt juga akan mengikut-sertakan robot dalam pengoperasian sehari-hari.

Baca Juga: Ini Dia Troika! Robot Canggih di Bandara Incheon, Korea Selatan

Sebagaiamana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman internationalairportreview.com (4/10), adalah robot pemandu mandiri bernama YAPE, dikabarkan telah memulai uji coba dengan menemani penumpang ke gerbang keberangkatan dan membantu mereka untuk mengangkut barang-barang berukuran kecil.

“Sebagai pemimpin dalam inovasi, kami terus berupaya untuk mendorong maju teknologi digital baru yang bertujuan untuk meningkatkan pengalaman perjalanan bagi penumpang kami,” kata Alexander Laukenmann, yang mengepalai unit Manajemen Terminal dan Airside di Fraport AG, Perusahaan transportasi Jerman yang mengoperasikan Bandara Frankfurt.

“Tujuan kami mengoperasikan YAPE adalah untuk menguji aspek kecerdasan buatan (ariticifial intelligent) dan sistem robotik yang dapat membantu meningkatkan kualitas layanan di Bandara Frankfurt,” sambungnya.

Dalam fase uji coba ini, penumpang dapat berbicara dengan YAPE melalui aplikasi yang ada di smartphone. Seperti yang sudah disebutkan di atas, YAPE juga dapat membantu membawa barang bawaan penumpang dengan cara dimasukkan ke dalam kompartemen kecil yang ada di tubuh mereka. Setelah selesai dengan urusan barang, maka YAPE siap untuk mendampingi Anda menuju gerbang keberangkatan. Adapun robot ini dapat bergerak bebas di seluruh terminal berkat disematkannya sistem navigasi yang terintegrasi.

Di masa yang akan datang, pihak pengembang akan mengembangkan interaksi mandiri antara robot dengan penumpang – jadi tidak perlu lagi menggunakan smartphone. YAPE, yang merupakan singkatan dari ‘Your Autonomous Pony Express’ ini merupakan sistem robotika kembangan Yape Srl, dimana pihak pengembang mengungkapkan bahwa robot ini bisa mengangkut beban hingga 30kg dengan kecepatan sekitar 6km/jam.

Baca Juga: Geser Yang “Manual,” Selamat Datang Era Robotika di Bandara

Dilalah YAPE sudah terlatih untuk menghindari rintangan yang ada di depannya, namun kepadatan Bandara Frankfurt yang tercatat hingga menyentuh angka 69 juta pengunjung setiap tahunnya ini menghadirkan tantangan tersendiri bagi robot tersebut.

Kalau sudah seperti ini, mampukah YAPE bersanding dengan tenaga manusia dalam melayani penumpang kelak?

150 Tahun Trem “Cog” Masih Beroperasi ke Puncak Gunung Washington

Jika di Hong Kong terkenal dengan Peak Tram, di Washington, Amerika Serikat ternyata juga ada kereta semacam ini. Dikenal dengan nama Cog, kereta rack-and-pinion ini ternyata sudah mengangkut pelancong ke lereng barat puncak tertinggi di Timur Laut itu sejak 1869 silam. Cog sendiri bahkan menjadi kereta api pemanjat gunung pertama dan tertua di dunia.

Baca juga: Eksistensi Peak Tram Hong Kong, Dulu dan Sekarang!

Sebelum tiba di puncak Gunung Washington, dengan menaiki Cog ini, pelancong bisa menikmati pemandangan yang mengagumkan dan mengabadikannya baik foto maupun video. Puncak Gunung Washington tempat perhentian terakhir Cog termasuk observatorium cuaca dan museumnya. Selain itu tempat istirahat pengunjung yang lelah ketika berjalan kaki.

Tak hanya menikmati ketinggian, pelancong yang suka menulis surat atau kartu pos, bisa mengirimnya dari kantor pos dengan cap pos Mount Washington. Di puncak Gunung Washington ketika tiba dengan Cog hanya ada satu bangunan bersejarah yang tersisa yakni Tip Top House yang dibangun tahun 1853 dari bongkahan batu gunung ketika meletus.

“Tip Top adalah asrama pejalan kaki. Ada dua hotel di sana. Yang pertama dibakar, itu disebut Gedung KTT. Itu adalah 90 kamar hotel dan cukup elegan untuk saat itu, terutama (untuk hotel) di puncak gunung. Kemudian mereka membangun yang kedua dan dirobohkan, akhirnya, untuk membangun gedung pertemuan puncak negara saat ini,” kata Rebecca Metcalf, direktur pemasaran Cog yang dikutip KabarPenumpang.com dari metrowestdailynews.com (2/10/2019).

Di musim panas, sebelumnya di kaki Gunung Washington, pelancong menunggu di Stasiun Marshfield yang menjadi markas Cog, di sana ada kafe, toko suvenir dan museum Cog. Sedangkan lokomotif menunggu di lintasan menunggu perjalanan berikutnya. Meski ketika musim panas suhu di bawah cukup terik, tetapi ketika tiba diatas gunung ini, pelancong akan mengalami penurunan suhu 20 derajat.

Bisa dikatakan di puncak Gunung Washington suhu tidak menentu. Pada saat itu bahkan ada pertanyaan siapa yang akan membangun hotel dan kereta api di situ? Ternyata gagasan liar seperti itu berjalan beriringan, karena sistem perkeretaapian nasional berkembang pesawat membawa elite kota ke New Hampsire saat musim panas.

Tahun 1857 silam, Marsh mendaki Gunung Washington dengan seorang teman. Karena tidak siap menghadapi cuaca, mereka hampir mati karena hipotermia. Marsh berpikir akan lebih baik membawa orang naik gunung dengan aman menggunakan kereta api.

“Dia melihat berapa banyak uang yang dihasilkan oleh Auto Road, atau Carriage Road. Carriage Road adalah rute pertama ke Mount Washington dan masih populer. Dia melihat bisnis hotel yang booming dan tidak diragukan lagi melihat bagaimana hal itu menyalurkan pengunjung ke objek wisata,” kata Craig Clemmer, direktur penjualan dan pemasaran di Omni Mount Washington Hotel.

Set kereta masih ada dan dikelola oleh para insinyur di toko mesin di dekat Stasiun Marshfield. Cog adalah industri yang serba lengkap dan hyperlocal yang dimulai dengan desain Marsh untuk rack-and-pinion, jalur kereta roda gigi yang disesuaikan, yang memungkinkan kereta api, juga desainnya, untuk menangani tanjakan yang curam. Mesin model skala kecil aslinya dapat dilihat di New Hampshire Historical Society di Concord.

“Dia bukan insinyur terlatih, tetapi dia jelas memiliki kecerdasan untuk berhasil mengembangkan apa yang dikenal sebagai Sistem Marsh, dan merancang kereta api yang masih digunakan 150 tahun kemudian,” kata Clemmer.

Dengan desain yang disempurnakan, Marsh mengajukan piagam negara bagian untuk membangun rel gunungnya tetapi diejek oleh Badan Legislatif New Hampshire.

Baca juga: Alishan Forest Railway, Kereta Gunung Tertinggi di Asia

“Mereka menertawakannya dan mengira dia orang gila. Marsh Gila, mereka memanggilnya,” kata Clemmer.

Pada 3 Juli 1869, akhirnya kesempatan tersebut datang, musim panas itu, ketika Presiden Ulysses S. Grant sedang berlibur di Whites, dia mengendarai Cog mendaki gunung setinggi 6288 kaki.

Geser Dominasi 737 Series, Airbus Catatkan Pengiriman Unit ke-1000 Keluarga A320neo

Maskapai terkemuka asa India, IndiGo beberapa waktu belakang menjadi sorotan media massa, pasalnya maskapai ini menerima pesawat jet narrowbody A321neo special. Mengapa spesial? Karena ini merupakan pesawat ke-1000 dari keluarga A320neo yang dikirimkan Airbus kepada para pelanggannya yang tersebar di seluruh dunia. Tentu saja, pengiriman ini menjadi sangat berarti bagi pihak Airbus karena secara tidak tertulis, pihak produsen pesawat asal Eropa ini sudah berhasil menumbangkan kedigdayaan Boeing yang kini posisinya tengah tersandung sejumlah kasus.

Baca Juga: Di Balik Prahara Boeing 737 MAX 8, Mampukah Airbus ‘Curi’ Ceruk Pasar?

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman airway1.com (13/10), IndiGo sendiri diketahui sebagai pelanggan keluarga A320neo terbesar di dunia, dengan total 224 pesawat Airbus yang dioperasikan dan 345 lainnya masih dalam tahap pemesanan. Adapun model keluarga A320neo pertama diterima oleh pihak maskapai pada Maret 2016 silam, dan berselang kurang lebih tiga setengah tahun kemudian (Oktober 2019), pihak maskapai telah mengoperasikan 129 unit Airbus A320-200, 89 unit A320neo, dan enam unit A321neo.

Bergeser ke pihak produsen, seri A320 neo merupakan salah satu produk yang luar biasa dan kompleks dama industri kedirgantaraan global – dimana ada empat jalur perakitan pesawat ini yang tersebar di seluruh dunia, mulai dari Hamburg, Amerika Serikat, Perancis, dan Cina.

A320neo sendiri memulai debutnya di udara pada Januari 2016 bersama Lufthansa sebagai operator perdananya.

Seiring berjalannya waktu, pihak Airbus mulai melakukan perubahan pada pesawat ini, terbukti dengan ditawarkannya opsi baru bagi pihak maskapai yang ingin lebih menghemat bahan bakar hingga 15 persen. Adapun opsi mesin untuk pesawat ini adalah CFM International LEAP-1A dan Pratt & Whitney PW1000G – keduanya didaulat dapat melakukan penghematan bahan bakar sekitar 16 persen ketimbang turbofan generasi sebelumnya. Penghematan dari segi bahan bakar ini juga berdampak pada penurunan biaya perawatan hingga 20 persen besarnya.

Baca Juga: Hadir dengan Beragam Fitur Terbaru, Kenapa Penjualan A330neo Masih Lesu?

Varian narrowbody milik Airbus ini tentu menjadi sorotan utama setelah moda serupa milik saingannya, Boeing dengan keluarga 737 MAX-nya kini tengah dilanda musibah besar-besaran. Setelah varian 737 MAX terpaksa di-grounded-kan secara massal pasca dua kecelakaan maut yang melibatkan Lion Air dan Ethiopian Airlines dalam rentang waktu kurang lebih lima bulan ini, kini isu terbaru yang menyerang tubuh perusahaan asal Amerika Serikat ini adalah ditemukannya retakan pada varian 737 NG.

Bisakah ini disebut sebagai momen lengsernya Boeing dari tahta tertinggi penyedia pesawat jet komersial di dunia?

Di Paspor ‘Tertulis’ 123 Tahun, Kakek ini Terlihat Seperti 90 Tahun Karena Rajin Yoga

Seorang manusia dengan usia lebih dari 100 tahun sangat jarang ditemukan dan baru-baru ini petugas Bandara Abu Dhabi dikejutkan oleh hal itu. Pasalnya dalam paspor Swami Sivananda tertulis dirinya dilahirkan di Behala, India pada 8 Agustus 1896 atau 123 tahun yang lalu.

Baca juga: Dianggap Lumrah, Burung Elang Masuk di Kabin Pesawat Maskapai Timur Tengah

Karena hal ini, foto paspor dan Swami viral di media sosial dan menjadi perbincangan warganet. Banyak yang kagum dengan usia kakek itu dan berkomentar bahwa wajahnya terlihat berusia antara 85-90 tahun.

Seorang warganet, Abu Jihad berkomentar usia Swami hampir dua kali lipat usia Liga Arab yang didirikan tahun 1945 silam. Adanya ini pun banyak warganet yang skeptis dengan klaim paspor tersebut dan mengutip kurangnya dokumentasi yang tepat sebagai alasan usia lanjut pria asal India itu.

“Usia ini sering tidak benar karena kurangnya dokumen identitas dan data yang tersedia di masa lalu. Sementara tanggal kelahiran mungkin akurat untuk beberapa orang dan ada orang tua yang tidak dapat mengingat semua tanggal ketika anak-anak mereka dilahirkan,” ujar warganet Bint Bilaad Al Harmain.

Dilansir KabarPenumpang.com dari gulfnews.com (7/10/2019), penemuan ini meski viral tetapi Direktorat Jenderal Urusan Reidensi dan Asing (GDRFA/ General Directorate of Residency and Foreigners Affairs) di Bandara Internasional Abu Dhabi tidak menanggapinya. Sedangkan Etihad, maskapai yang ditumpangi Swami dari Kolkata menuju London tersebut dan singgah di Dubai itu mengatakan, tidak ada batasan usia untuk perjalanan udara karena mereka selalu menerbangkan orang-orang dari segala usia.

“Selama Anda cocok untuk terbang, sebenarnya tidak ada batasan usia untuk perjalanan udara. Etihad menerbangkan orang-orang dari segala usia setiap hari, dari bayi bungsu ke centenarian, dan kami berkomitmen untuk memastikan bahwa semua tamu kami dijaga dengan baik,” kata Etihad melalui sebuah pernyataan.

Viralnya foto paspor milik Swami yang terlihat tampak lebih muda dari usia aslinya, dia mengaku rajin melakukan gerakan yoga, disiplin dan hidup selibat.

“Saya menjalani kehidupan yang sederhana dan disiplin. Saya makan sangat sederhana hanya makanan rebus tanpa minyak atau rempah-rempah, nasi dan daal rebus (rebusan lentil) dengan beberapa cabai hijau,” kata Swami.

Baca juga: Etihad dan Emirates, Jadi Maskapai Paling Ramah Bagi Keluarga

Sejauh ini orang tertua yang pernah ada adalah Jeanne Louise Calment dari Perancis, yang mencapai usia 122 tahun dan 164 hari. Orang tertua yang saat ini masih hidup dan diakui oleh Guinness Book of World Records adalah Kane Tanaka dari Jepang, berusia 116 tahun dan 278 hari.

Sepanjang Januari-Agustus 2019, Lion Air Group Telah Melayani 245.547 Flight

Sebagai kelompok maskapai terbesar di Indonesia, Lion Air Group melayani 245.547 penerbangan dalam dua kuartal (semester satu) tahun 2019. Periode ini sejak Januari hingga Agustus kemarin di mana layanan penerbangan tersebut tidak ada perbedaan berarti dengan periode yang sama di tahun 2018.

Baca juga: Mulai Rp1 Jutaan, Lion Air Group Tawarkan Harga Promo Jelajah Sumatera Utara

Corporate Communications Strategic Lion Air Group Danang Mandala Prihantoro mengatakan adapun jumlah layanan ini terbagi dengan tiga kode penerbangan berbeda yaitu Lion Air (JT), Wings Air (IW) dan Batik Air (ID). Adapun pembagian layanan frekuensi terbang yakni Lion Air 106.688, Wings Air 79.534 dan Batik Air 59.325.

“Jumlah ini tidak ada perbedaan yang signifikan dari tahun lalu. Soalnya kalau ada pembukaan rute baru rute yang lain menyesuaikan,” kata Danang kepada KabarPenumpang.com, Senin (14/10/2019).

Dia mengibaratkan bila ada satu rute seperti dari Jakarta ke Surabaya biasanya sepuluh frekuensi penerbangan tetapi ternyata hanya delapan atau sembilan. Lalu dia menambahkan, frekuensi bisa ada penambahan dan pengurangan bila ada market baru dengan rute baru.

Danang mengatakan, sebagai bentuk kesungguhan Lion Air Group untuk mendukung pemerintah, pihaknya akan memperkuat jaringan 245.547 tersebut. Selain itu seluruh operasional termasuk pengembangan bisnis yang dilakukan Lion Air Group diharapkan mampu menjawab tren atau dinamika pasar serta melengkapi pengalaman melancong dengan minat perjalanan dengan moda udara baik antarkota maupun antarnegara.

Tak hanya jumlah layanan penerbangan, On Time Performance (OTP) atau tingkat ketepatan waktu Lion Air mencapai 83,23 persen, Wings Air 75,93 persen dan Batik Air 91,34 persen. Perhitungan ini sesuai dengan laporan Integrated Operation Control Center (IOCC) Lion Air Group secara tepat waktu dan bersamaan (real time).

Diketahui, Lion Air melayani 43 kota tujuan domestik dan 44 tujuan internasional yang meliputi Singapura, Malaysia, Cina dan Saudi Arabia. Wings Air 124 tujuan dalam negeri dan satu regional serta Batik Air 43 rute domestik dan 15 internasional.

Baca juga: Didera Kabut Asap, Level OTP Lion Air di September 2019 Mencapai 74,07 Persen

Untuk meningkatkan minat bepergian dan menambah pengalaman pelanggan, Lion Air terbang dengan pesawat terbaru, saat ini mengoperasikan 64 Boeing 737-900ER (215 kursi kelas ekonomi), 38 Boeing 737-800NG (189 kursi kelas ekonomi), tiga Airbus 330-300 (440 kursi kelas ekonomi). Di kuartal kedua, Lion Air sudah menerima dua Airbus 330-900NEO sebagai pengguna pertama di Asia Pasifik.

Metode Penyimpanan Beda-Beda di Kereta, Yakin Sepeda Bisa Keangkut?

Mengendarai sepeda menjadi salah satu hal yang menyenangkan apalagi bisa membantu mengurangi polusi udara. Tapi bagaimana jika moda transportasi lain tak mendukung untuk membawa sepeda kemanapun Anda pergi?

Baca juga: Berkiblat ke Eropa dan Jepang, Ridwan Kamil Usulkan Pembuatan Gerbong Khusus Sepeda

Seperti seorang pekerja yang tinggal di pinggiran Oxford tetapi bekerja di tengah kota dan menggunakan sepeda untuk berangkat kerja. Pekerja tersebut juga ternyata membawa sepedanya ketika berliburan dan acara perkumpulan sepeda tetapi harus menggunakan transportasi lain untuk membantunya pergi.

Salah satunya ketika menggunakan kereta api, sepeda bisa saja disimpan di gerbong barang untuk memudahkan pelancong yang hendak bepergian. Tetapi ternyata kini setiap perusahaan kereta memiliki aturan berbeda ketika bepergian dengan kereta api.

Tak hanya itu metode penyimpanan sepeda dalam gerbong kereta pun juga berbeda-beda. Dilansir dari oxfordtimes.co.uk (8/10/2019) oleh KabarPenumpang.com, ada beberapa kereta api yang memiliki satu sisi gerbong untuk penyimpanan sepeda atau bagasi atas kursi penumpang.

Ini memang lebih mudah diakses tetapi membutuhkan banyak ruang di kereta. Pada kereta berkecepatan tinggi, sepeda yang dibawa penumpang atau pelancong disimpan secara vertikal di bilik sempit.

Anda bisa mendapatkan ruang untuk sepeda jika gerbong itu belum penuh koper dan tas. Ada beberapa kereta yang meletakkan tanda gerbong sepeda untuk memudahkan penumpang, tetapi bila tidak ada, mau tak mau Anda harus bertanya kepada petugas agar membantu menemukan gerbong khusus itu.

Bahkan ada sebuah kejadian di mana penumpang yang naik kereta untuk kembali ke Oxford dari Gloucester harus terjebak selama sepuluh menit agar satu sepeda bisa dikait untuk mengganjal sepeda kedua disebelah dalamnya. Ini membuat jalur tidak ramah aksesibilitas.

Selain itu kehadiran sepeda elektronik membawa berita baik tentang peningkatan mobilitas dan kemandirian terutama bagi orang tua. Tetapi kereta ini bisa masuk ke kereta berkecepatan tinggi jika Anda bisa mengangkatnya di atas kepada.

Selain itu jika sepeda gunung dengan setang lebar hal ini tidak ada kesempatan. Tak hanya itu, adapun skenario mimpi buruk yang bisa dirasakan pengguna kereta dengan sepedanya adalah ketika sudah memesan ruang sepeda tetapi sudah penuh.

Yang paling menyakitkan lagi jika ada pembatalan perjalanan kereta dan penumpang digantikan perjalanannya dengan sebuah bus. Di mana bus tidak mengizinkan sepeda untuk dibawa masuk.

Mereka harus menjadi mitra perjalanan aktif rendah karbon dalam masyarakat yang menghadapi krisis lingkungan dan kesehatan dalam waktu dekat. Ada pasar yang besar dan terus berkembang di kalangan pengendara sepeda santai, penglaju dan pelancong yang suka berpetualang tetapi diabaikan oleh perusahaan kereta api di Inggris.

Baca juga: “Right Bike,” Bantu Temukan Sepeda yang Tepat Bagi Pengendara

Tanda membaik, dengan papan platform yang menunjukkan di mana ruang sepeda akan berada di kereta berikutnya. Pekerjaan kelompok kampanye seperti Cyclox, suara bersepeda di Oxford, melobi jaringan siklus yang aman dan terhubung akan membuka inklusivitas dan aksesibilitas perjalanan jarak jauh yang ramah lingkungan.

Pakaian Apa yang Selazimnya Dikenakan Penumpang Pesawat?

Khususnya di Indonesia, perjalanan via jalur udara hingga saat ini masih dipandang menjadi yang paling eksklusif diantara moda transportasi lainnya. Jadi, bukan tidak mungkin apabila Anda akan menemukan penumpang pesawat yang mengenakan pakaian yang tidak biasa atau berdandan all out layaknya hendak pergi ke sebuah acara. Namun, apakah penumpang layak dan diperbolehkan untuk mengenakan pakaian yang bisa dibilang terlalu berlebihan di dalam pesawat?

Baca Juga: Tak Pandang Bulu, Langgar Tata Cara Berpakaian Bisa Depak Penumpang dari Penerbangan

Agar tidak rancu, pakaian berlebihan di sini maksudnya adalah pakaian yang tidak pantas dipandang karena terlalu minim atau tipis sehingga dapat mengganggu ‘kenyamanan’ penumpang lainnya.

Guna menjawab pertanyaan di atas, KabarPenumpang.com mengutip dari laman traveller.com.au, dimana sejatinya tidak ada regulasi yang mengatur secara rinci tentang tata busana penumpang di dalam pesawat. Namun peraturan berbeda kadang diterapkan oleh beberapa maskapai – dimana ini akan merujuk pada kenyamanan penumpang lain yang ada di dalam penerbangan terkait. Sebut saja maskapai Qantas yang masih mengijinkan para penumpangnya untuk mengenakan pakaian yang nyeleneh hingga bertelanjang kaki di lounge – tapi tidak ketika di dalam pesawat.

Peraturan hampir serupa juga diterapkan oleh Virgin Australia, dimana pihak maskapai mengijinkan para penumpangnya untuk mengenakan pakaian yang menutupi tubuh bagian bawah kendati di atasnya hanya mengenakan singlet – dan tidak diijinkan untuk bertelanjang kaki.

Pada intinya, selama Anda tidak mengenakan pakaian yang akan mengganggu pengoperasian penerbangan dan kenyamanan penumpang lain, maka itu masih diperbolehkan.

Namun, nilai subjektifitas seseorang terhadap pakaian vulgar yang serba terbuka kadang masih menjadi perdebatan hingga saat ini. Mungkin seorang wanita akan menganggap baju yang dikenakannya masih cukup sopan, padahal belahan dada dan perutnya terumbar kepada penumpang lain – atau mungkin celana yang dikenakan terlalu pendek. Ya, tidak jarang perdebatan soal pandangan yang subjektif ini terjadi di dalam penerbangan.

Baca Juga: Kenakan Pakaian Berlapis-Lapis, Pria Ini Dicekal di Bandara Keflavik!

Jadi, sebaiknya apa yang harus Anda kenakan ketika hendak mengudara?

Sederhana saja, cukup kenakan pakaian yang menurut Anda nyaman dan diperkirakan tidak menimbulkan polemik selama penerbangan. Hindar baju-baju yang dapat mengundang syahwat kaum pria, dan kenakanlah alas kaki yang sewajarnya. Dengan begitu, penerbangan Anda akan aman dari kasus pakaian yang tidak senonoh!

Tarik Bus Sekolah 9 Ton, Pria Asal New York Ikut Kompetisi Ultimate Strongman

Seorang pria menarik bus sekolah seberat sembilan ton yang berisi 31 murid di tempat parkir sekolah tepat di depan kerumunan besar siswa, guru, staf sekolah dan media. Pria bernama Larry Wheels Williams menarik bus tersebut sepanjang 20 meter di sekolah Permata Internasional di Al Khail.

Baca juga: Dubai Gunakan Virtual Reality Sebagai Media Pelatihan Pengemudi Bus

Larry yang berasa dari New York ini merupakan satu dari peserta kompetisi Ultimate Strongman Dubai di Meydan pada 25 Oktober mendatang. Dia bersama dengan peserta lainnya mendatangi sekolah-sekolah di dubai untuk mempromosikan gaya hidup sehat dan aktif.

Dilansir KabarPenumpang.com dari gulfnews.com (9/10/2019), Larry menjelaskan bagaimana anak-anak bisa menjadi kuat. Seperti banyak informasi gratis di internet dan dia mengikutinya ketika berusia 13 tahun.

“Saya punya internet dan sebagain besar belajar sendiri. Jadi saya sangat percaya bahwa anak-anak tertarik untuk menjadi lebih kuat dan lebih besar,” kata Larry.

Dia mengatakan bila ada kemauan pasti ada jalan, apalagi Dubai memiliki pusat kebugaran yang luar biasa. Larry mengaku, beberapa yang terbaik yang pernah dilihatnya ada di Dubai.

Saat itu juga dia mengatakan, pernah menarik bus seberat 19 ton di tengah hari yang panas di Dubai. Salah seorang siswa bernama Lovro Zorc setelah melihat hal itu mengatakan, dia tidak akan dapat menarik truk tersebut bahkan ketika seusia Larry.

“Karena ketika Larry tumbuh dewasa tidak ada banyak teknologi dan mungkin dia bermain di luar lebih banyak,” ujar bocah sepuluh tahun itu.

Tak hanya Zorc, Isabella Vitali dan Rhea Sethi mengaku tidak bisa melakukan hal itu dan tidak memiliki kekuatan dibandingkan dengan Larry.

“Dia salah satu dari 18 pria terkuat di dunia dan itu mengesankan untuk dilihat. Ini telah mengilhami saya untuk melakukan lebih banyak olahraga dan menjadi lebih kuat, sehingga semoga, ketika saya tumbuh dewasa, saya bisa melakukan sesuatu seperti dia,” jelasnya.

Baca juga: “Safe Bus,” Perangkat Keamanan di Bus Sekolah dengan Teknologi Kecerdasan Buatan

Rhea menambahkan, dirinya suka berolahraga dan pasti bisa menjadi aktif setelah menonton pertunjukan tersebut.

“Kami tidak akan pernah bisa naik bus bahkan jika itu semua kami siswa bersama. Pikiranku terpesona melihat otot-ototnya memompa,” ujar bocah SD itu.

OSG ScreeneX Hadirkan ‘Informasi’ pada Kaca Moda Transportasi Umum

Pembuat layar pintar asal Israel, OSG ScreeneX pertengahan tahun ini memamerkan serangkaian aplikasi bus dan kereta api yang ditargerkan memiliki layar tanam. Layar ini akan ada di kaca buatan OSG dan membuat penumpang merasakan hal di mana bisa menerima informasi perjalanan mereka dan hiburan multi media.

Baca juga: Merusak Screen Door di Stasiun Orchard, Pria Muda Didakwa Pengadilan Singapura

Kaca ini dikenal dengan ScreeneX yang dikembangkan oleh tim R&D in house OSG. Dilansir KabarPenumpang.com dari busnews.co.au (6/6/2019), tampilan digital ini memiliki ukuran ultra ramping tertanam dalam unit kaca standar yang mentransformasikan area menjadi solusi informasi dan tanda untuk berinteraksi dengan penumpang. OSG mengatakan, permukaan setiap sisi layar sehalus dan sejernih kaca konvensional pada kendaraan umum, sehingga tidak memengaruhi estetika atau keselamatan penumpang.

“Di antara inovasi yang ditampilkan yakni TRN 21-21T partisi dua sisi yang menggabungkan tampilan digital di satu sisi dan antarmuka layar sentuh di sisi lain. Integrasi yang sempurna dengan sistem informasi penumpang yang ada memastikan operator dan produsen dapat melakukan plug-and-play dengan mudah,” kata OSG.

(www.busnews.com.au)

Partisi dua sisi telah diuji dengan baik dalam penerbangan yang sukses dengan Bombardier dan Deutche Bahn di Jerman, Kinkisharyo di Amerika Serikat dan diatur untuk mengubah standar dalam dunia informasi penumpang on-board.

Produk lain yang ditampilkan termasuk TRN 38-LED yakni produk dua sisi ini dibuat khusus untuk jendela samping kendaraan. Sisi eksternal menampilkan tanda LED ramping baru, sedangkan bagian internal memiliki LCD layar lebar untuk menampilkan informasi penumpang.

OSG menegaskan, teknologi ScreeneX dapat digunakan untuk bingkai jendela terbagi di bus dan kereta api. Unit non-bukaan dipasang ke bagian atas jendela, yang memberikan semua manfaat dari signage digital tanpa perlu mengganti seluruh jendela jika ada masalah.

“Selain kendaraan angkutan umum sendiri, tampilan berperforma tinggi milik ScreeneX juga sangat cocok untuk terminal, stasiun dan platform kereta api dan bus,” tambahnya.

Baca juga: Akibat Iseng di Platform Screen Doors, Kereta Bawah Tanah Jepang Terlambat 1 Menit

Setiap tampilan dibangun dengan standar kualitas tertinggi, serta sangat tahan terhadap getaran, perubahan suhu dan kelembaban, dan vandalisme, untuk menjadikannya pilihan yang andal untuk lingkungan yang menantang ini.

Jadi Korban “Bucin,” Dua Awak Kabin Republic Airways Saling Baku Hantam

Kekerasan di dalam dunia penerbangan kembali terjadi, namun kali ini tidak terjadi antara awak kabin dan penumpang, atau penumpang dengan penumpang – melainkan antara awak kabin dengan awak kabin lainnya. Lebih mengerikannya lagi, tindak kekerasan ini menimpa seorang awak kabin wanita dimana pelakunya adalah seorang pria. Duh, kok bisa ya?

Baca Juga: Lirik Wanita Lain, Penumpang American Airlines Pukul Suami Pakai Laptop!

Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman news.com.au (9/10), tindak kekerasan ini terekam oleh kamera CCTV yang ada di garbarata satu pesawat milik Republic Airways dan terjadi pada tanggal 14 September. Ya, adalah awak kabin dari Republic Airways yang menjadi pelaku sekaligus korban kekerasan kali ini.

Usut punya usut, kejadian ini terjadi ketika pesawat tengah ‘bersandar’ di Bandara Denver, dimana seorang awak kabin pria tertangkap kamera tengah berjalan di selasar. Tak lama berselang, ia berbalik arah dan diduga meludahi rekan perempuannya yang berjalan tepat di belakangnya. Tak terima dengan perlakuan tidak sopan tersebut, wanita ini langsung menampar sang pelaku.

Alih-alih meminta maaf, pria berseragam ini malah memukul tulang rusuk dan kepala wanita sebelum akhirnya melenggang pergi begitu saja. Beberapa saat sebelum video terputus, tampak awak kabin wanita ini mengambil telepon. Menurut keterangan pihak berwenang, keduanya ditangkap karena terlibat kekerasan dalam asmara, dan penerbangan terkait sempat tertunda selama satu hari lamanya – ya, kedua awak kabin ini diketahui memang menjalin hubungan romantis.

Menanggapi kejadian yang menimpa kedua awak kabinnya, maskapai yang berbasis di Indiana ini tidak menampik pemberitaan yang sudah kadung viral ini. Mereka menyatakan bahwa menyerahkan sepenuhnya kepada pihak berwenang yang tengah mendalami kasus kekerasan ini.

Baca Juga: Awak Kabin Tidur di Lantai Bandara, Ryanair Dapat Pukulan Telak dari Serikat Penerbang

“Kami semua tengah mendalami kasus ini dan kami berjanji akan mengambil keputusan terbaik atas tindakan yang tidak bisa ditolerir ini,” ujar pihak Republic Airways dalam sebuah keterangan resmi.

“Sanksi terberatnya adalah mereka berdua akan diberhentikan secara tidak hormat dari Republic Airways,” sambungnya.