Kebut Olimpiade Musim Dingin, Cina Produksi Massal Kereta Cepat Akhir Tahun ini

Bukan Cina namanya apabila tidak mengekor segala sesuatu yang tengah digandrungi oleh banyak pihak – sebut saja yang belakangan ini tengah ramai diperbincangkan adalah tentang produksi massal dari kereta yang mempu menembus kecepatan 400 km per jam di akhir tahun 2019 ini.

Baca Juga: 10 Fakta Seputar Kereta Cepat di Cina

Sebuah komite di Cina telah menyetujui desain untuk kereta berkecepatan tinggi yang bakal beroperasi pada kecepatan 400 km per jam, yang akan beroperasi sebelum 2022 untuk melayani Olimpiade Musim Dingin Beijing.

“Rute Beijing dengan Zhangjiakou, Provinsi Hebei Cina Utara, akan dioperasikan dengan menggunakan kereta pintar tersebut,” ujar salah seorang pejabat Cina, dikutip KabarPenumpang.com dari laman globaltimes.cn (6/8).

“Hadirnya kereta berkecepatan tinggi ini kelak akan menandakan tonggak sejarah baru, dimana kereta ini akan menjadi yang pertama yang bisa beroperasi di atas kecepatan 350km/jam,” ungkap Bayin Zhaolu, seorang pejabat senior di Provinsi Jilin, Cina Timur Laut.

Sebagaimana yang sudah menjadi rahasia umum, Cina selalu menggunakan produksian dalam negeri mereka untuk memberikan layanan kepada masyarakatnya. Tidak jauh berbeda dengan kasus kereta cepat ini, mereka juga menggunakan karya dalam negeri dari produsen kereta yang berbasis di Jilin. Dan untuk pertama kalinya, produsen kereta ini akan mengaplikasikan BeiDou Satellite Navigation System yang dipercaya akan memberikan impresi yang mengesankan – embel-embel ‘pintar’ yang tersemat dibalik nama kereta tersebut.

Tidak hanya produsen kereta cepat yang masih belum memiliki nama ini saja, pun dengan perusahaan-perusahaan di Jilin lainnya. Mereka juga tengah berusaha untuk mengembangkan kereta bawah tanah generasi baru yang menggunakan sistem operasi otonom.

“Kereta bawah tanah, yang terbuat dari serat karbon, dapat memeriksa, mengirim, mengemudi, menghentikan, membalikkan dan mencuci sendiri,” tutur Bayin.

“Nantinya, jendela di kereta cepat ini akan menggunakan teknologi touch screen, dimana penumpang bisa menonton televisi atau mengirim pesan melalui jendela ini,” tandasnya.

Baca Juga: Cina Canangkan Kereta Cepat Maglev dengan Kecepatan 800 Kilometer Per Jam!

Sebelumnya, pihak Cina juga telah terlebih dahulu menerbitkan ide untuk pembangunan kereta maglev yang akan menghubungkan Chengdu dan Chongqing. Ini akan menjadi kereta maglev kedua yang beroperasi di Negeri Tirai Bambu setelah yang pertama beroperasi antara Bandara Internasional Pudong Shanghai dan Stasiun Longyang Road.

 

 

Demi Yakinkan Publik, CEO Boeing Ikut dalam Uji Coba 737 MAX

Setelah pada pemberitaan sebelumnya disebutkan bahwa ada kemungkinan Boeing menghentikan produksi 737 MAX karena proses sertifikasi yang tak kunjung rampung, kini diberitakan bahwa raksasa aviasi asal Amerika Serikat ini telah menjalani lebih dari 500 kali uji penerbangan terhadap varian yang bermasalah ini. Guna membuktikan bahwa proses uji penerbangan ini berjalan lancar, CEO dari Boeing Dennis Muilenburg sampai-sampai ikut terbang di dalamnya. Wah, sampai segitunya ya Boeing ingin kembali menerbangkan 737 MAX.

Baca Juga: [Galeri] Sertifikasi Belum Rampung, Sejumlah 737 MAX ‘Numpuk’ di Boeing Field, Seattle

Ya, alih-alih melontarkan pernyataan negatif kepada pihak Boeing, agaknya ikut sertanya Dennis di dalam uji penerbangan 737 MAX pasca pembaruan piranti lunak ini ditujukan untuk mengambil kembali hati masyarakat yang kapok dan enggan mengudara dengan menggunakan varian 737 MAX di masa yang akan datang.

“Diharapkan (ikutnya saya di dalam uji penerbangan kembali 737 MAX) dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap varian ini,” tutur Dennis, dikutip KabarPenumpang.com dari laman cnbc.com (5/8).

“Kami paham bahwa selama beberapa bulan ke belakang, kepercayaan masyarakat terhadap kami mulai memudar. Kini kami tengah bekerja keras untuk bisa mengembalikan kepercayaan tersebut,” imbuhnya.

Ia juga menambahkan bahwa pembaruan perangkat lunak di tubuh 737 MAX sudah dilakukan sehingga pengoperasiannya kelak bisa aman.

Boeing mengumumkan pada bulan Juli kemarin bahwa perusahaan telah menelan biaya hingga $4,9 miliar di kuartal kedua karena grounded massal dari varian 737 MAX tersebut. Perusahaan melaporkan kerugian kuartalan terburuk yang pernah ada, yaitu $ 2,9 miliar akhir bulan itu.

Baca Juga: Sertifikasi Tak Kunjung Keluar, Boeing Akan Hentikan Jalur Produksi 737 MAX

Terkait pembaruan perangkat lunak ini, Boeing telah menyerahkan proses sertifikasi kepada Federal Aviation Administration (FAA) dan mengharapkan agar varian ini bisa kembali mengudara pada kuartal keempat tahun 2019 ini. Namun jika melihat perkembangannya hingga saat ini, agaknya sedikit mustahil bagi Boeing untuk kembali menerbangkan 737 di akhir tahun 2019 – mengingat proses sertifikasi yang belum rampung.

Proses sertifikasi yang dinilai terlalu bertele-tele ini sampai-sampai membuat pihak Boeing geram dan mengeluarkan ultimatum yang mengancam untuk menghentikan semua proses produksi dari varian 737 MAX.

 

Dengan OTP 91,20 Persen, Garuda Indonesia Tuntaskan Fase Pemberangkatan Calon Jamaah Haji 2019

Garuda Indonesia mengabarkan telah berhasil menyelesaikan fase keberangkatan penerbangan Haji dengan menerbangkan sebanyak 110.247 jemaah calon Haji dengan ketepatan waktu (on time performance/OTP) sebesar 91,20 persen. Total jemaah 110.247 calon haji tersebut diterbangkan dari sembilan embarkasi yang terbagi dalam 284 kelompok terbang (kloter).

Baca juga: Convair 340, Pesawat Garuda Indonesia yang Terbangkan Jemaah Haji di Tahun 1956

Adapun jumlah jemaah dari sembilan embarkasi yang telah diterbangkan tersebut terdiri dari embarkasi Banjarmasin (6.112 jemaah), embarkasi Balikpapan (6.777 jemaah), embarkasi Banda Aceh (4.666 jemaah), embarkasi Jakarta (19.415 jemaah), embarkasi Lombok (4.947 jemaah), embarkasi Medan (8.525 jemaah), embarkasi Padang (6.999 jemaah), embarkasi Solo (34.697 jemaah) dan embarkasi Makassar (18.109 jemaah). Direktur Operasi Garuda Indonesia, Bambang Adisurya Angkasa dalam pesan tertulis mengatakan bahwa selesainya fase I penerbangan Haji 2019 tersebut ditandai dengan telah diberangkatkannya kloter 97 embarkasi Solo pada hari Senin (5/8) lalu.

“Dengan terlaksananya penerbangan terakhir dari Solo tersebut, maka tahap pertama musim haji tahun 2019/1440 ini, Garuda Indonesia telah menerbangkan total 110.247 calon jemaah haji dari rencana 111.017 jemaah, melalui sembilan embarkasi ke tanah suci dalam 284 kelompok terbang (kloter). Sebanyak 824 jemaah tidak dapat diberangkatkan umumnya akibat jamaah yang jatuh sakit serta hal lainnya”, tambah Bambang.

Pada tahun 2019 ini Garuda Indonesia menyiapkaan sebanyak 14 pesawat haji yang terdiri dari tiga pesawat B747-400, lima pesawat B777-300ER, dan enam pesawat A330-300/200. Adapun jumlah pesawat yang dioperasikan pada musim haji tahun 2019 tersebut menyesuaikan dengan trafik Jemaah haji pada tahun ini.

Penerbangan fase keberangkatan dimulai pada tanggal 7 Juli 2019 sampai dengan 5 Agustus 2019. Gelombang 1 fase keberangkatan tersebut diberangkatkan menuju Madinah dari tanggal 7 Juli 2019 sampai dengan 19 Juli 2019. Sedangkan gelombang 2 fase keberangkatan diberangkatkan menuju Jeddah pada tanggal 20 Juli 2019 sampai dengan 5 Agustus 2019.

Baca juga: Hady Syahrean – Sukses Hantarkan Layanan Haji Garuda Indonesia

Sementara itu, fase kepulangan akan dimulai dari tanggal 17 Agustus 2019 sampai dengan 15 September 2019. Gelombang 1 fase kepulangan tersebut akan diberangkatkan dari Jeddah dari tanggal 17 Agustus 2019 sampai dengan 29 September 2019. Sedangkan gelombang 2 fase kepulangan akan diberangkatkan dari Madinah pada tanggal 30 Agustus 2019 sampai dengan 15 September 2019.

Tingkatkan Pengalaman Penumpang, Singapore Airlines Tambahkan Tiga Fitur Baru di Aplikasi Mobile

Gemar melancong ke Singapura? Atau Anda merupakan salah satu fans berat dari maskapai Singapore Airlines? Agaknya Anda akan bahagia ketika mendengar kabar ini, dimana pihak maskapai telah mengumumkan peluncuran aplikasi mobile untuk sistem Android dan iOS versi terbaru pada Jumat (2/8) kemarin. Ketika Anda menggunakan aplikasi Singapore Airlines ini, Anda dapat memesan tiket penerbangan hingga check-in dengan sangat mudah dan cepat, sehingga bisa menghemat waktu hingga 60 persen.

Baca Juga: Singapore Airlines Luncurkan KrisLab, Laboratorium Ide Kreatif untuk Karyawan

Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Senior Vice President Sales and Marketing Singapore Airlines, Campbell Wilson menyebutkan bahwa hadirnya aplikasi ini sebagai bentuk tanggapan dari munculnya beragam inovasi digital yang mampu meningkatkan pengalaman penumpang.

“Peluncuran aplikasi baru kami merupakan tindak lanjut dari berbagai inisiatif inovasi digital lainnya, seperti KrisPay, dompet digital loyalitas maskapai berbasis blockchain pertama di dunia, serta perancangan kembali situs web secara bertahap dan struktur yang mendasarinya,”

Tujuan dari Singapore Airlines dalam menghadirkan aplikasi ini disokong oleh tiga fitur baru yang siap memanjakan para penggunanya:

Capture and Discover
Fungsi pencarian baru ini menggunakan pengenalan gambar serta pemrosesan pembicaraan dan bahasa alamiah untuk mengetahui maksud dari pengguna. Kemudian mencocokkannya dengan destinasi Singapore Airlines dan menyajikan konten tujuan dan penawaran tarif yang tersedia.

Translation Assistant
Sebuah fitur yang menggunakan terjemahaan bahasa secara real-time melalui suara untuk membantu para wisatawan berkomunikasi dengan lebih baik saat mereka sedang berada di luar negeri. Sebagaimana aplikasi di luar sana yang menyajikan fungsi serupa, kini dapat Anda temukan di aplikasi milik Singapore Airlines ini.

Measure Your Baggage
Dari namanya saja, seharusnya Anda sudah bisa menebak fungsi dari fitur ini. Ya! Untuk membantu para penumpang mengetahui apakah ukuran tas mereka sudah sesuai dengan batasan bagasi kabin yang ditentukan.

Di antara banyak peningkatan pada fungsi yang ada, informasi real-time seperti detail gerbang keberangkatan, cuaca dan mata uang di negara tujuan, dan informasi sabuk bagasi telah ditambahkan ke dalam menu “My Trips”.

Baca Juga: Pramugari Singapore Airlines Tak Layani dengan Baik, Blogger Utarakan Kekecewaan

Bagaimana, cukup lengkap bukan aplikasi versi terbaru dari Singapore Airlines ini? Tapi Anda harus bersabar terlebih dahulu karena aplkasi ini masih dalam pengembangan dan rencananya baru akan dipasarkan untuk sistem Android pada Juli hingga September 2019 mendatang. Sedangkan untuk para pengguna sistem iOS, Anda dapat mengunduh fitur terbaru dari aplikasi ini pada September 2019 mendatang.

Beroperasi di 2023, NEC Kembangkan Drone Berpenumpang

Tidak cukup puas dengan titelnya sebagai penguasa industri mobil di banyak pasar, Jepang baru-baru ini mengutarakan bahwa mereka sangat ingin merajai industri drone penumpang. Salah satu penyedia layanan dan produk teknologi informasi multinasional yang berpusat di Minato, Tokyo, NEC Corp diketahui baru saja melakukan demo terhadap quadcopter yang berisikan ‘penumpang’ pada Senin (5/8) kemarin.

Baca Juga: DJI Kembangkan Teknologi Geofencing Lanjutan untuk Keamanan Navigasi Drone

Dalam uji coba tersebut, drone bertenaga baterai ini tidak berisikan penumpang sama sekali dan mampu mengudara setinggi 10 kaki dari tanah selama beberapa saat saja. Menurut perusahaan, mereka merupakan pioneer yang menguji coba kendaraan semacam drone ini di tanah Jepang. Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman engadget.com (6/8), mitra dari NEC Corp., Cartivator baru akan memulai produksi massal drone ini pada tahun 2026 mendatang.

“Jepang merupakan negara dengan penduduk yang cukup padat, dan hadirnya moda semacam ini akan meringankan beban lalu lintas darat yang kian padat,” tutur Kouji Okada, project leads di NEC.

“Kami memposisikan diri sebagai enabler untuk mobilitas udara, menyediakan data lokasi dan membangun infrastruktur komunikasi untuk mobil terbang,” tandasnya.

Jika tidak meleset, drone semacam ini akan mulai dioperasikan pada tahun 2023 mendatang – atau mungkin saja lebih. Pemerintah setempat berharap, kendaraan futuristik semacam ini mampu menjadi tulang punggung transportasi di masa yang akan datang. Agaknya terlalu muluk-muluk untuk membicarakan moda semacam ini di waktu sekarang, mengingat ada serangkaian prosedur yang harus ditempuh oleh perusahaan sebelum bisa menerbangkannya.

Adapun dimensi dari drone milik NEC Corp. ini 3,9 meter panjang, 3,7 meter lebar, dan 1,3 meter tinggi. Dengan berat mencapai 150kg, salah satu fokus perusahaan dalam mengembangkan moda ini adalah penggunaan baterai yang efisien. Dimana baterai yang digunakan harus bisa tahan lama dan melakukan mobilisasi secara rapid.

Baca Juga: Inggris Berdayakan Drone Untuk Pantau Para Pelanggar dan Inspeksi Jalur Kereta

Sebagaimana yang sudah diketahui sebelumnya, di luar sana ada banyak perusahaan yang tengah mengembangkan moda serupa – mulai dari Volvo, Uber, hingga Boeing dan Airbus sekalipun. Mereka semua tengah berjibaku untuk mengembangkan moda andalannya masing-masing. Hal ini lantaran kondisi jalanan yang sudah semakin tidak kondusif untuk dilalui oleh masyarakat.

Volume kendaraan yang semakin meningkat dari waktu ke waktu tidak sebanding dengan kualitas infrastruktur yang tidak seimbang.

 

[Bagian 2] Jalur Kereta Jawa Pra Kemerdekaan – Perjalanan Jadi Lebih Cepat Setelah Perang Dunia I Berakhir

Pada periode 1914-1918 atau saat meletusnya Perang Dunia I, layanan kereta di Pulau Jawa yang dibangun Belanda memiliki kekhasan, diantaranya tidak beroperasi setelah petang. Bisa dikatakan kereta-kereta ini akan berhenti antara pukul 6 dan 7 malam. Kemudian kereta tersebut akan kembali beroperasi pada pagi harinya, sehingga perjalanan dari Batavia (Jakarta) ke Surabaya membutuhkan waktu lebih dari seharian atau 29 jam.

Baca juga: [Bagian 1] Jalur Kereta Jawa Pra Kemerdekaan – Hanya Beroperasi Sampai Pukul 6 Sore

Namun setelah Perang Dunia I berlalu, jalur baru dibangun yang menghubungkan Chirebon (Cirebon) di pantai utara, dimana Pulau Jawa berada di titik tersempitnya dan Kroja (Kroya) di sisi selatan.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari mikes.railhistory.railfan.net, pembukaan jalur baru ini juga untuk mengurangi waktu kereta tercepat yang tadinya ditempuh selama 29 jam menjadi 13 jam untuk panjang jalur 512 mil atau 823,9 km. Ini untuk pertama kalinya keseluruhan perjalanan diselesaikan antara matahari terbit dan terbenam. Sejak adanya jalur baru ini pun waktu tempuhnya berkurang hingga 12 jam 20 menit dengan kecepatan rata-rata 41,5 mph atau 66,78 km per jam.

Perjalanan dengan waktu tempuh 13 jam pun sudah termasuk selusin perhentian menengah dan pendakian ke puncak atau jalur tertinggi. Adanya jalur baru ini pun membuat kereta yang berangkat dari Stasiun Weltevreden di Batavia yang menuju Surabaya melakukan perjalanan tanpa henti lebih dari seratus mil atau tepatnya 133,5 mil (214,8 km) ke Cirebon. Bila di total hitungan jam dari Batavia ke Cirebon waktu tempuhnya kurang dari tiga jam.

Pada masa itu pun waktu yang diizinkan untuk bergerak ke arah timur adalah 173 menit dan ke barat 171 menit dimana kereta berjalan dengan kecepatan 75,3 km per jam dari awal bergerak hingga akan berhenti. Sedangkan pengaturan waktu dari Cirebon menuju Prupuk atau Surakata menuju Madiun yakni 77 menit dan ini merupakan waktu perjalanan tercepat di Pulau Jawa.

Tak hanya itu perjalanan dari Kroya menuju Yogyakarta yang ditempuh dengan jarak 140 km ini juga menjadi yang terpanjang tanpa henti. Kereta Ekspres Limited ini terdiri dari enam gerbong penumpang dan satu gerbong makan yang dijalankan oleh lokomotif Pasifik.

Beberapa diantara gerbong-gerbong ini dibuat di Belanda dan lainnya di Swiss. Kereta di rancang untuk bergerak dengan kecepatan 96,5 km per jam dengan bobot per kereta 300 ton. Lokomotif yang digunakan untuk menarik gerbong-gerbong kereta pada masa ini pun beragam yakni lokomotif sederhana dua silinder dan lainnya adalah empat silinder.

Lokomotif uap “Si Gombar” Mallet DD52.

Untuk tender roda delapan besar juga dilakukan agar air yang digunakan cukup serta bahan bakar dapat ditampung pada jalur tanpa henti tersebut. Sayangnya lebih dari beberapa bagian pegunungan di pedalaman pulau perjalanan kereta adalah masalah yang jauh lebih sulit, seperti antara Pegunungan Preanger, di ujung barat, ada beberapa fitur luar biasa tentang rekayasa berbagai jalur yang menghubungkan kota-kota utama.

Baca juga: Lokomotif Mallet “Si Gombar” yang Tak Lagi Menghembuskan Uapnya

Jalur utama lama, yang digunakan oleh Batavia-Soerabaja melalui kereta sebelum pembukaan cut-off Cirebon-Kroya, meninggalkan jalur Cirebon di Tjikampek (Cikampek), dan berbelok ke selatan. Di Poerwakarta (Purwakarta) pendakian ke pegunungan dimulai, dan lokomotif tipe Mallet yang lebih kuat mengambil alih perjalanan kereta saat itu. Lokomotif Mallet adalah lokomotif uap dengan dua bogie yang berdekatan satu sama lain. Lokomotif Mallet yang terkuat adalah DD52 atau dikenal juga dengan sebutan “Si Gombar.”

Kisah jalur kereta api pra kemerdekaan di Pulau Jawa masih berlanjut, nantikan di artikel selanjutnya. (Bersambung)

 

Di Zaman Koboy, Kursi Depan Penumpang Disebut “Shotgun”

Shotgun atau senapan ternyata bukan hanya alat untuk menembak tetapi juga digunakan sebagai sebutan kursi bagian depan mobil tepat disebelah pengemudi. Bahkan sebutan ini tidak terbantahkan dan diterima secara universal dengan tradisi yang kini dihormati.

Baca juga: Nissan Hadirkan Jaringan 5G, Teknologi AR dan VR Untuk Penumpang Mini Bus

Tak hanya itu, ada situs web terkait aturan shotgun yang ditujukan untuk hal-hal kecil tentang cara ‘memanggil’ senapan dengan benar. Dirangkum KabarPenumpang.com dari mentalfloss.com, apakah ada alasan menyebut shotgun untuk kursi depan tersebut? lalu kenapa harus senapan?

(Quora)

Jika ada yang menebak asal usulnya dari Barat Lama, mungkin ini benar jika merunut kembali ke tahun 1880-an dan 1890-an ketika bank seperti Wells Fargo perlu mengangkut uang tunai atau barang-barang berharga melintasi dataran dengan kereta kuda, mereka membutuhkan seseorang untuk melindungi semua barang jarahan dari pencuri.

Hal ini membuat mereka menyewa pria yang tampak menakutkan yang disebut “pembawa senapan,” yang tugasnya hanya tampak mengancam dan, jika perlu, membunuh siapa saja yang mencoba menjarah pengiriman mereka.

“Dia umumnya duduk di sebelah kanan pengemudi karena, dengan anggapan dia tangan kanan, akan lebih mudah untuk menangani senjata,” kata W.C. Jameson, penulis beberapa buku terlaris tentang Barat Lama, seperti Billy the Kid: Beyond the Grave.

Tapi inilah bagian yang menarik dimana utusan senapan, dan mereka yang menulis tentang mereka, tidak pernah menggunakan istilah “mengendarai senapan.” Ungkapan khusus itu tidak muncul sampai kemudian, ironisnya jauh melewati titik ketika “mengendarai senapan” adalah pekerjaan aktual yang dibayar oleh koboi untuk melakukan.

Referensi paling awal yang diketahui adalah di sebuah surat kabar di Utah, the Ogden Examiner, yang menerbitkan sebuah cerita pada tahun 1919 dengan tajuk “Ross Will Again Ride Shotgun on Old Stage Coach” —Ross menjadi A.Y. Ross, seorang pembawa pesan tua yang terkenal dengan reputasi sebagai seorang badass, yang pernah membawa lima perampok kereta api sendirian, menembak mereka dalam hujan peluru untuk berhasil mempertahankan $80.000 dalam bunion emas. Seperti yang kami katakan, seorang badass.

“Naik senapan” sebagai ungkapan yang digunakan koboi, meskipun sebenarnya tidak, menjadi kiasan populer dalam film fiksi Barat dan koboi dari abad ke-20, yang paling berkesan adalah Stagecoach klasik John Wayne 1939, di mana Marshal Curly Wilcox (diperankan oleh George Bancroft) menyatakan, “Saya akan pergi ke Lordsburg bersama Buck. Saya akan naik senapan. ”

Jadi bagaimana ketika Anda beralih dari pembawa senapan dengan senjata asli yang tidak pernah mengatakan “mengendarai senapan,” menjadi aktor film dalam topi koboi yang mengacungkan senjata palsu yang mengatakan “mengendarai senapan,” menjadi penumpang mobil modern tanpa senjata (kami berharap) bersaing dengan ” naik senapan”?

Bahkan hingga kini tidak ada yang tahu pasti di mana dan kapan “senapan” pertama kali berteriak untuk mengklaim kursi penumpang, atau bagaimana itu berkembang menjadi hobi nasional yang tak terucapkan. Tetapi kita tahu bahwa pada tahun 1980, itu adalah frasa yang cukup umum bahwa The (London) Times menggunakannya dalam sebuah cerita tanpa penjelasan, menulis, “Secara kebetulan The Times menemukan dirinya mengendarai senapan untuk Tentara Merah.”

Baca juga: Di Telkomsel IIMS 2019, Toyota Hiace Luxury Commuter Type Q Siap Manjakan Penumpangnya

Bisa dikatakan kini jika mengatakan senapan berarti Anda meniru aktor yang menggunakan idiom yang tidak akurat secara historis dari Barat Lama. Meskipun aturan berbeda-beda dari satu daerah ke daerah lain, sudah umum diterima bahwa memanggil senapan hanya diperhitungkan ketika dipanggil di luar, dan dalam pandangan, dari sebuah mobil.

Mogok Pasokan Listrik 4 Agustus, MRT Jakarta Rugi Rp507 Juta dan Penumpang Turun 16,43 Persen!

Bagi moda transportasi berpenggerak listrik seperti KRL dan MRT Jakarta, padamnya listrik PLN di Jabodetabek pada Minggu, 4 Agustus lalu membawa dampak besar. Selain merugikan para pengguna jasa karena harus dilakukan evakuasi saat kereta mogok, pun bagi penyedia jasa insiden putusnya pasokan listrik membawa dampak pada citra kepercayaan masyarakat dan kerugian finansial karena layanan tak bisa beroperasi.

Baca juga: Untuk Pertama Kalinya MRT Jakarta Mogok, Inilah Kronologi dan Sumber Pasokan Listrik yang Digunakan!

Khusus terkait kerugian pendapatan finansial yang ditimbulkan akibat terputusnya pasokan listrik dari PLN ke MRT Jakarta, pihak manajemen PT MRT Jakarta memperkirakan kerugian mencapai Rp507 juta per tanggal 4 Agustus 2019. Kerugian yang dimaksud mencakup potensi kehilangan penumpang yang mencapai 52.898 orang pada hari tersebut. Kerugian ini belum termasuk berbagai kerugian moril dan materil yang diderita oleh penumpang dan publik yang menggantungkan perjalanannya kepada MRT Jakarta.

Sebagai dampak tidak langsung, pada Senin kemarin (5/8), MRT Jakarta mengalami penurunan penumpang hingga 16,43 persen dalam satu hari tersebut yang kemungkinan disebabkan oleh kekhawatiran pengguna bahwa pemutusan pasokan listrik dapat terjadi lagi.

Dalam pesan tertulis, pihak MRT Jakarta berharap penurunan ini bersifat sementara, dan diharapkan gangguan listrik seperti ini tidak terjadi lagi kedepannya. PT MRT Jakarta juga saat ini menyempurnakan kembali SOP Evakuasi Keadaan Darurat untuk mengantisipasi situasi pemadaman listrik oleh PLN dan memastikan evakuasi berjalan dengan lancar dan aman.

Skema evakuasi yang dilakukan (sebagaimana penjelasan infografis di bawah ini) menggambarkan pada saat kejadian terputusnya pasokan listrik (4 Agustus) terdapat 7 rangkaian kereta MRT Jakarta yang sedang beroperasi. 3 (tiga) rangkaian kereta berada di jalur bawah tanah yaitu Ratangga 0511 yg sedang berhenti di Stasiun Bundaran HI, dan Ratangga 0411 serta Ratangga 0610 yg terhenti diantara Stasiun Istora Mandiri dan Stasiun Bendungan Hilir. Penumpang di Ratangga 0411 (berjarak + 20 meter dari stasiun) dan Ratangga 0610 (berjarak + 100 meter dari stasiun) dievakuasi ke stasiun terdekat yaitu Stasiun Bendungan Hilir.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by KabarPenumpang.com (@kabar.penumpang) on

 

View this post on Instagram

 

A post shared by KabarPenumpang.com (@kabar.penumpang) on

Sedangkan 4 (empat) rangkaian lainnya berada di jalur layang yaitu Ratangga 0709 dan Ratangga 0906 sedang berada di Stasiun Blok A; dan Ratangga 0807 serta Ratangga 1004 yang terhenti diantara stasiun Fatmawati dan Stasiun Lebak Bulus Grab. Penumpang di Ratangga 0807 (berjarak + 850 meter dari stasiun) dan Ratangga 1004 (berjarak + 10 meter dari stasiun) dievakuasi ke stasiun terdekat yaitu Stasiun Lebak Bulus Grab.

Jumlah penumpang yang dievakuasi dari seluruh 13 stasiun MRT berjumlah 3.410 orang dalam keadaan baik dan selamat.

Untuk Pertama Kalinya MRT Jakarta Mogok, Inilah Kronologi dan Sumber Pasokan Listrik yang Digunakan!

Untuk pertama kalinya sejak pengoperasian MRT Jakarta, kereta komuter ini mengalami ‘mogok’ di tengah jalan lantaran putusnya pasokan listrik pada Minggu, 4 Agustus lalu. Selain  telah menyampaikan permohonan maaf kepada pengguna jasa, pihak manajemen PT MRT Jakarta menyampaikan kronologi padam listrik dan proses evakuasi yang dilaksanakan oleh tim Operasi MRT Jakarta di lapangan.

Baca juga: Konstruksi MRT Jakarta Tahan Gempa 8 Skala Ricter, Inilah Panduan Keselamatan Penumpang

Sistem pasokan listrik untuk MRT Jakarta (sebagaimana penjelasan infografis di bawah ini) mengandalkan sistem listrik nasional yang dikelola oleh PLN. Gangguan yang dialami oleh PLN berdampak pada terputusnya pasokan listrik untuk 2 jalur pasokan listrik MRT yang bersumber dari 2 subsistem 150kV PLN yang berbeda, yaitu:
1. Subsistem Gandul – Muara Karang melalui Gardu Induk PLN Pondok Indah dan;
2. Subsistem Cawang-Bekasi melalui Gardu Induk PLN CSW.

(MRT Jakarta)

Dikarenakan belum tersedianya subsistem ketiga, maka ketika kedua subsistem diatas mengalami failure hal tersebut menyebabkan gangguan pasokan listrik untuk menggerakkan kereta Ratangga MRT Jakarta.

PT MRT Jakarta saat ini menggunakan pasokan listrik dari PLN dengan kontrak Layanan Premium, MRT Jakarta sangat menyesalkan terputusnya pasokan listrik dari PLN dan membutuhkan tindak lanjut PLN untuk meningkatkan kehandalan pasokan listrik dan secara serius mencegah kejadian serupa terjadi kembali. Sebelumnya, PLN telah berkomitmen untuk mendukung kehandalan pasokan listrik ke sistem MRT Jakarta dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas tambahan di Jakarta sebagai subsistem ketiga tersebut.

Sesuai desain awal, MRT Jakarta juga memiliki sistem pembangkit cadangan (Generator Set/Genset) yang hanya memberikan pasokan listrik untuk kebutuhan keselamatan dan
evakuasi di fasilitas stasiun dan di terowongan. Kapasitas back up power MRT Jakarta tersebut sudah cukup dan berfungsi dengan baik pada saat pasokan listrik terputus, oleh karenanya evakuasi dapat dilakukan dengan aman.

Juga Terjadi di Luar Negeri
Desain pasokan listrik MRT Jakarta mengacu pada sistem kelistrikan MRT di berbagai negara lain. Sebagai contoh, hal serupa terjadi di New York Subway pada bulan Juli lalu, dimana pemadaman listrik terjadi selama 5 (lima) jam dikarenakan kendala pasokan listrik dari kota New York dan melumpuhkan sepertiga dari rute New York Subway. Penumpang tertahan di bawah tanah selama 75 menit sebelum akhirnya berhasil dievakuasi.

Sistem operasi kereta MRT Jakarta menggunakan persinyalan CBTC (Communication Based Train Control) yang menganut tingkat standar safety yang tinggi, seperti halnya sistem persinyalan yang digunakan di Delhi Metro dan Beijing Subway Line 15.

Baca juga: Skybridge MRT Jakarta Hubungkan Poins Square dan Halte TransJakarta

Dimana sistem ATO (Automatic Train Operation) mengharuskan kereta melakukan emergency break (pengereman darurat) ketika terjadi power off (terputusnya pasokan listrik). Hal ini bertujuan untuk memitigasi potensi bencana yang kemungkinan terjadi di jalur depan kereta. Oleh karena itu, pengereman darurat dan evakuasi merupakan cara terbaik yang dilakukan untuk menghadapi kejadian ini.

 

Evolusi Sayap Pesawat dari Waktu ke Waktu – Mulai dari Kayu Hingga Material Komposit

Bagi Anda yang gemar duduk di samping jendela ketika mengudara, mungkin sebagian dari Anda akan memperhatikan bagian sayap, dimana di setiap ujungnya memiliki bentuk yang berbeda dari satu jenis pesawat dengan jenis lainnya. Nah, bagian yang disebut wingtip ini memang memiliki bentuk yang bervariasi dan memiliki fungsinya tersendiri. Seolah mengikuti badan pesawat serta segala teknologi yang tersemat di dalamnya, wingtip ini juga tidak lekang oleh perubahan dan evolusi yang membawanya menuju perjalanan udara yang lebih nyaman.

Baca Juga: BEHA_M1H, Pesawat Paling Ramah Lingkungan yang Gunakan Model Sayap Unik!

Mungkin Anda masih ingat dengan gambar-gambar tentang pesawat pertama yang dikembangkan oleh Orville dan Wilbur Wright, dimana sayap pesawat masih bertumpuk dua dan masih menggunakan lembaran kayu. Sayap dua lapis yang digunakan oleh Wright bersaudara ini ditopang oleh lebih dari 10 tiang penyangga. Ya, inilah cikal bakal perkembangan pesawat hingga yang dapat Anda nikmati saat ini. Faktanya adalah, penerbangan perdana Wright bersaudara ini berlangsung selama 12 detik dan menempuh jarak hingga 120 kaki atau yang setara dengan 36,5 meter.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman theengineer.co.uk, perkembangan demi perkembangan terus terjadi dan fokus efisiensi perjalanan menjadi hal terdepan untuk dipertimbangkan. Selain itu, varian yang terdapat pada wingtip ini juga dapat memberikan kenyamanan dalam mengudara yang berbeda-beda.

Penggunaan Material Komposit

Sebelum melangkah lebih jauh ke jenis-jenis wingtip, pengenalan material komposit canggih telah terbukti mengurangi bobot sayap pesawat secara keseluruhan. Dengan bobot sayap yang bisa di-reduce secara signifikan, maka secara otomatis bahan bakar yang diperlukan untuk melakukan operasi juga bisa dikurangi. Dengan begitu, pihak maskapai dapat melakukan penghematan biaya operasi ketika menggunakan pesawat bermaterikan material komposit.

Penggunaan material komposit ini juga lambat laun merambah ke bagian lain di pesawat, seperti body dan tail wing. Semakin ringan beban angkutnya, maka hal tersebut akan mengurangi gaya angkat yang diperlukan. Ternyata, permintaan dari para eksekutif maskapailah yang pada awalnya melatarbelakangi hadirnya material komposit ini pada badan pesawat, karena mereka menginginkan pengoperasian yang efisien bahan bakar dan ramah kocek.

Jenis-Jenis Wingtip

Wingtip Fence

Wingtip Fence dari maskapai EasyJet. Sumber: Aviation Stack Exchange

Sebagaimana yang bisa Anda lihat pada gambar di atas, winglet ini tampak seperti sirip tambahan yang tegak lurus dengan bentuk sayap dan dilengkapi dengan sejumlah ‘ekor tikus’. Contoh pesawat yang menggunakan winglet jenis ini adalah Airbus A319.

Blended Winglets

Blended Winglet dari Airbus A350XWB. Sumber: Wikipedia

Merupakan jenis winglet yang berupa perpanjangan dari sayap dan ditekuk ke arah atas sayap. Contoh pesawat yang menggunakan winglet jenis ini adalah keluarga Boeing 737 NG.

Raked Wingtip

Raked Wingtip. Sumber: Aviation Stack Exchange

Winglet yang berupa perpanjangan sayap ini memiliki sudut agak lebih tinggi di bagian ujung sayap. Winglet jenis ini adalah salah satu dari teknologi Boeing yang digunakan pada pesawat terbarunya yaitu 787 dan 747-8.

Baca Juga: Stratolaunch, Pesawat dengan Sayap Terlebar di Dunia Sukses Terbang Perdana

Menyoal penggunaan wingtip yang berbeda dari setiap pesawat ini, tidak lain dan tidak bukan ditujukan untuk memberikan kenyamanan lebih terhadap penumpang karena dipercaya bisa memecah turbulensi dengan bentuknya masing-masing.