Dampak Kerusuhan RUU Ekstradisi, Bandara Hong Kong Batalkan Lebih dari 200 Penerbangan

Setelah aksi massa yang terjadi di Hong Kong beberapa waktu yang lalu, kabar terakhir menyebutkan bahwa kondisi di sana masih belum surut. Walhasil, aksi massa ini berimbas pada pembatalan sekira 200 penerbangan dari Bandara Internasional Hong Kong (HKIA) pada tanggal 5 Agustus kemarin. Salah satu maskapai yang paling banyak melayani penumpang di HKIA, Cathay Pacific terpaksa membatalkan lebih dari 150 penerbangan dan meminta kepada para penumpang untuk menunda keberangkatan mereka hingga kondisinya benar-benar kondusif.

Baca Juga: Dampak Krisis Politik, Sektor Pariwisata Hong Kong Kondusif Meski Ada Pelemahan

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (5/8), juru bicara dari Hong Kong Airlines mengatakan bahwa pihaknya telah membatalkan 32 penerbangan – namun tidak dengan United Airlines yang mengatakan bahwa penerbangan mereka tidak terpengaruh sama sekali.

Dari pusatnya di Bandara Internasional Hong Kong, Cathay Pacific melayani sekitar 34 juta penumpang per tahun ke hampir 200 kota di seluruh dunia. Mengutip dari Hong Kong Confederation of Trade Unions, ada lebih dari 1.200 awak kabin dan pilot Cathay Pacific serta lebih dari 2.300 pekerja di sektor aviasi Hong Kong yang ikut serta dalam aksi massa tersebut.

Sementara itu informasi yang diperoleh dari memo internal Cathay Pacific, menunjukkan bahwa ruang udara dan kapasitas landasan di HKIA telah berkurang sekira 50 persen untuk semua maskapai.

“Kami menghimbau kepada seluruh penumpang untuk terus berkomunikasi dengan pihak maskapai terkait update penerbangan terbaru,” tutur salah satu juru bicara dari HKIA.

Otoritas penerbangan sebelumnya telah memperingatkan penumpang tentang potensi gangguan via situs web HKIA dan telah berkoordinasi dengan masing-masing maskapai penerbangan untuk terus memberikan update terbaru dari penerbangan mereka.

Baca Juga: Alipay Siap Ganti Sistem Pembayaran MTR Hong Kong dengan Scan QR Code

Untuk sementara, pemerintah setempat juga telah ‘menangguhkan’ layanan kereta ekspress dari dan menuju Bandara Internasional Hong Kong.

Sebelumnya, Hong Kong berada di dalam kondisi yang cukup mencekam setelah warga Hong Kong tidak setuju dengan otoritas di sana yang memberlakukan RUU Ekstradisi.

 

Yang Ngangenin dari KA Argo Parahyangan, dari Nasi Goreng ‘Gopar’ Hingga Jembatan Cisomang

Bandung merupakan destinasi akhir minggu yang banyak digandrungi oleh warga Ibukota. Namun karena terhalang macet yang terus ‘memerahkan’ tol Cikampek, warga Ibukota banyak yang enggan menggunakan kendaraan pribadi untuk menyambangi Tanah Priangan. Tak ayal, kereta api menjadi opsi utama warga Ibukota yang hendak cari angin tersebut.

Baca Juga: Nasi Goreng Parahyangan: Racikan Sederhana yang Digandrungi Penumpang ‘Gopar’

Harga tiket yang cukup terjangkau (berkisar antara Rp90.000 untuk kelas economy hingga Rp290.000 untuk kelas executive priority), dan estimasi perjalanan yang bisa dibilang hampir selalu tepat waktu menjadi daya tarik tersendiri bagi para penumpangnya. Namun selain dua poin tersebut, satu hal lain yang kerap terlupakan dari perjalanan dengan menggunakan Kereta Api Argo Parahyangan ini – ya! Spot-spot yang akan memanjakan mata dan mengundang decak kagum.

Sejarah Singkat
Sebelum membahas lebih lanjut, sebenarnya KA Argo Parahyangan atau yang akrab dipanggil Gopar ini merupakan gabungan dari nama KA Argo Gede dan KA Parahyangan. Kendati menyandang nama “Argo”, kereta ini justru merupakan kereta api kelas campuran, tidak sepenuhnya eksekutif sebagaimana seharusnya kereta api lainnya yang juga bernama “Argo”.

Baik KA Argo Gede maupun KA Parahyangan dulunya sama-sama melayani rute Bandung – Jakarta PP. KA Argo Gede beroperasi di rentang tahun 1995 sampai 2010, sedangkan KA Parahyangan beroperasi sejak 1971 hingga 2010. KA Argo Parahyangan sendiri mulai beroperasi pada tanggal 27 April 2010 silam. KA Argo Parahyangan merupakan hasil respons PT KAI atas kekecewaan masyarakat karena dihentikannya pengoperasian KA Parahyangan.

Stasiun Purwakarta

Rumah Tua di Stasiun Purwakarta. Sumber: Liputan6.com

Sejauh mata memandang, ada banyak hal menarik yang dapat Anda saksikan ketika naik KA Argo Parahyangan. Selain hadirnya Nasi Goreng Parahyangan yang sudah kadung melegenda, sejumlah spot memanjakan mata juga tersaji ketika Anda menjadi penumpang KA Gopar ini.

Dimulai dari kuburan kereta yang ada di Stasiun Purwakarta. Setibanya Anda di Purwakarta, Anda akan melihat tumpukan gerbong kereta tepat di sebelah kanan kiri arah datangnya kereta (jika dari Jakarta). Selain itu, Eksistensi dari rumah tua yang tidak terurus dan pohon beringin yang besar nan menjuntai semakin menambah kesan mistis pada area tersebut.

Konon katanya, gerbong kereta bekas tragedi Bintaro juga ada di sini lho, hiiii!

Terowongan Aktif Terpanjang

Terowongan Sasaksaat. Sumber: istimewa

Jika dari dalam gerbong sudah mulai tercium bau asap, maka itu tandanya KA Gopar tengah melintasi Terowongan Sasaksaat! Terowongan yang terletak di antara Stasiun Sasaksaat dan Stasiun Maswati ini dibangun pada rentang tahun 1902 sampai 1903 dengan panjang 949m. Jadi, jangan kaget kalau tiba-tiba pandangan Anda gelap selama beberapa saat, ya!

Baca Juga: Cisomang, Serba-Serbi Jembatan Kereta Tertinggi di Indonesia

Jembatan Cisomang

jembatan cisomang lama, dan baru

Jembatan kereta api tertinggi yang masih aktif di Indonesia ini merupakan salah satu spot unik yang bisa Anda temui di perjalanan Jakarta – Bandung. Dengan pemandangan jalan tol Cipularang, Anda bisa melihat lukisan sang Maha Kuasa yang terlindung di balik kaca kereta.

 

 

Sudah Berbenah Menjadi Nyaman, Tapi Masih Rindu dengan Kereta Api Masa Lalu?

Berbenah dan berubah menjadi lebih baik pastinya diharapkan semua orang, bahkan moda transportasi pun bisa melakukan hal itu untuk memberikan kenyamanan bagi penumpangnya. Seperti PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang sudah banyak merubah dan membuat penumpang lebih nyaman dibandingkan naik kereta masa lalu.

Baca juga: Mulai 1 Juli 2019, Sistem Aplikasi KAI Access Diambil Alih PT KAI

Sebelum seperti sekarang kereta api ekonomi tidak menggunakan AC dan penumpang berhimpitan seperti naik kereta komuter. Namun kini, perubahan berarti yang dibuat KAI semakin membuat nyaman penumpang dimana kelas bisnis dan ekonomi juga sudah dilengkapi AC dan lebih tertib dari sebelumnya.

Tetapi, dengan adanya hal baru ini banyak yang tak bisa lagi dirasakan. Apa saja sih sebenarnya kenangan yang tak lagi dirasakan penumpang kereta masa kini? Ternyata ada beberapa yang bisa KabarPenumpang.com sampaikan kepada pembaca. Yuk simak hal-hal yang tidak lagi bisa dirasakan.

Berdesak-desakan
Masa lalu naik kereta api, penumpang hanya mendapatkan karcis tanpa nomor bangku sehingga banyak yang berdiri. Inilah yang membuat berdesak-desakan. Bahkan karena hal ini ada saja penumpang yang kehilangan barang sehingga patut berhati-hati. Meski begitu banyak yang berpikir bagaimana tidurnya? Nah, para penumpang yang berdiri ini terkadang menggelar koran mereka di bawah kursi penumpang lain, di lorong hingga di bordes pun di gelar. Bahkan mereka punya cara untuk tidur di tempat bagasi atas kursi penumpang dan toiletpun terkadang jadi sasaran. Tak hanya itu, ketika berdesakan dan tak bisa masuk lewat pintu, penumpang juga masuk dari jendela kereta.

Merokok di kereta
Ya, kala belum berbenah, penumpang kereta tidak dilarang merokok. Bahkan bordes sering menjadi tempat kumpul penumpang yang merokok dan saling bercerita tujuan dan kenapa mereka bepergian. Kalau masa kini, penumpang merokok akan diturunkan di stasiun selanjutnya dan ditindak oleh petugas.

Tertinggal kereta, bisa naik yang selanjutnya
Karena kereta masa lalu penumpang bisa berdiri saat di dalam gerbong. Maka penumpang yang tertinggal kereta sebelumnya bisa ikut naik di kereta selanjutnya, asalkan tujuannya sama. Kalau masa kini, tertinggal kereta, tiket hangus dan harus beli lagi bahkan kemungkinan ikut kereta selanjutnya pun sedikit.

Perjalanan terlambat
Masa kini, keterlambatan bisa dikatakan jarang. Tapi masa lalu, sepertinya ketika kereta terlambat penumpang sudah biasa saja dan tidak mengeluh karena hal itu.

Beli jajanan kereta
Kalau naik kereta masa lalu pasti ingat banyak pedagang yang ikut masuk dalam kereta ketika berhenti di stasiun. Mungkin Anda juga tidak akan lupa dengan teriakan pedangang seperti ‘cangcimen’, ‘kopmi’, ‘narasi’, ‘pecel’. Selain itu ketika kereta berhenti penumpang bisa jajan yang pedagang asongan jajakan. Beberapa diantara stasiun pun menjual makanan khas mereka sehingga bisa sekalian berwisata kuliner. Kalau masa kini jangankan untuk beli jajanan, sepertinya untuk turun menikmati pemandangan sebentar saja bisa tertingal kereta karena tak lama berhenti.

Baca juga: Lokomotif Uap D1410, Kembali Beroperasi Jadi Kereta Wisata di Solo

Pengamen dan penyapu sampah
Dulu petugas kebersihan kereta tidak ada, bahkan tempat sampah pun cukup minim dan ini membuat gerbong kotor dan tak layak untuk kesehatan penumpang. Biasanya bila mendekati stasiun akhir ada orang-orang yang sudah siap dengan sapu mereka untuk membersihkan gerbong, tapi itu tidak gratis dan mereka akan meminta dari penumpang. Namun kini hal itu tak terlihat karena petugas kebersihan kereta sudah ada dan gerbong pun bersih. Sedangkan pengamen biasanya naik seperti di bus kota menyanyi selama perjalanan dan ini tak berhenti di situ saja, karena setiap ganti stasiun pengamen pun silih berganti dan uang receh terkadang tak cukup lagi.

Sebagai penumpang, apakah Anda lebih memilih kereta masa kini atau masa lalu?

Imbas Kasus Boeing: Antara Peak Season Akhir Tahun, Percepatan Sertifikasi, dan Kenaikan Harga Tiket

Tidak ada yang menyangka tragedi jatuhnya dua pesawat Boeing 737 MAX 8 dalam kurun wakru lima bulan ini berbuntut panjang sampai hari ini. Sebagai manufaktur pesawat ‘kelas satu’, jatuhnya Boeing ini seakan memudahkan Airbus – rival apple-to-apple Boeing untuk mencuri ceruk pasar. Terlebih ketika musim libur panjang yang sebentar lagi akan menjelang, maka secara otomatis permintaan penerbangan juga akan meningkat. Nah, dengan di-banned-nya varian 737 MAX ini, mampukah pihak maskapai menyanggupi perkiraan melonjaknya angka perjalanan udara ini?

Baca Juga: Masih Bingung Bedakan Boeing 737 dan Airbus A320? Simak Ini

Jawabannya mungkin saja, namun jangan salahkan pihak maskapai apabila harga tiket yang ditawarkan di pasar pun akan serta merta meningkat. Mengapa bisa seperti ini? Mengingat dalam kasus ini Airbus kasarnya sudah bisa melakukan ‘monopoli’ di kelas pesawat narrow-body dengan A320 family.

Sementara Boeing masih belum boleh menerbangkan varian 737 MAX-nya hingga tahun 2020 mendatang, sedangkan pihak maskapai mungkin akan membutuhkan armada tambahan untuk bisa menampung penumpang, maka bukan tidak mungkin apabila pihak maskapai akan bergegas menyambangi pihak Airbus untuk meminta armada tambahan.

Sudah menjadi hukum ekonomi apabila hanya ada satu ‘penjual’, maka mereka akan menaikkan harga jualannya. Inilah yang menjadi salah satu akar dari meningkatnya harga tiket penerbangan.

Tapi di sini, pihak Airbus juga tidak bisa sekonyong-konyong meningkatkan harga penjualan, mengingat sektor aviasi merupakan bisnis yang sangat kompleks – setiap partisi yang ada di satu pesawat diproduksi oleh lebih dari satu pabrikan. Bisa saja Airbus menyanggupi permintaan pihak maskapai untuk penambahan armada, tapi apakah permintaan serupa juga disetujui oleh pihak manufaktur mesin pesawat seperti General Electrics (GE) atau Rolls Royce?

Southwest Alami Kerugian
Sebagai salah satu maskapai yang paling banyak mengoperasikan varian Boeing 737 MAX, maskapai asal Amerika, Southwest mengalami kerugian karena mereka terpaksa memangkas rute penerbangan menuju Bandara Newark Liberty yang ada di New Jersey, dimana sebeumnya pihak maskapai menggunakan varian 737 MAX untuk menjabani rute penerbangan tersebut.

“Ini semua semata-mata karena (Boeing 737) MAX,” ujar CEO Southwest, Gary Kelly, dikutip KabarPenumpang.com dari laman cbsnews.com (30/7).

Berkaca dari sini saja, sudah dapat ditebak bahwa pihak Southwest bakalan kekurangan armada untuk menyanggupi peningkatan permintaan penerbangan pada musim libur kuartal keempat tahun ini.

Baca Juga: Boeing 737 Sabet Predikat Sebagai Pesawat Terlaris Sepanjang Sejarah Aviasi Global

Didesak Berbagai Pihak
Kendati CEO Boeing Dennis Muilenburg sudah melontarkan ultimatum terkait sertifikasi varian 737 MAX yang tidak kunjung rampung, ternyata pihak Boeing juga mendapatkan tekanan dari berbagai pihak – salah satunya yang paling santer adalah Ryanair.

Maskapai berbiaya rendah kontroversial asal Irlandia ini mengatakan bahwa pihak Boeing untuk segera menyelesaikan perkara sertifikasi 737 MAX ini.

“Kami awalnya menargetkan untuk menerbangkan 58 unit (737 MAX) pada musim panas 2020. Jika berkaca pada kondisi hari ini, kami dapat mengoperasikan 30 unit saja itu sudah bagus. Mana tahu di waktu yang akan datang angkanya akan terus merosot. 20 unit, 10 unit, atau bahkan sama sekali tidak ada. Intinya di sini adalah pihak Boeing harus sesegera mungkin menyelesaikan permasalahan regulasi ini,” ujar CEO Ryanair, Michael O’Leary.

[Bagian 1] Jalur Kereta Jawa Pra Kemerdekaan – Hanya Beroperasi Sampai Pukul 6 Sore

Dengan menggunakan KA Bromo Anggrek, menempuh perjalanan antara Jakarta dan Surabaya membutuhkan waktu sekitar 9 jam. Namun lain halnya di era Pra Kemerdekaan, persisnya di periode 1914 – 1918, guna meladeni perjalanan Jakarta – Surabaya waktu paling cepat adalah antara 29 sampai 32 jam, itu pun dengan kereta mewah Java Nacht Express.

Baca juga: Java Nacht Express, Layani Jakarta – Surabaya, Inilah Kereta Mewah Pertama di Indonesia

Lamanya perjalanan lantaran kereta api kala itu tidak melaju di malam hari. Alhasil rute Jakarta – Surabaya mengharuskan bagi penumpang untuk menginap atau transit di salah beberapa kota, dalam hal ini Semarang, Bandung dan Yogyakarta.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari mikes.railhistory.railfan.net,  pada periode 1914-1918 tidak mungkin untuk menyelesaikan perjalanan dari satu ke yang lain dalam satu hari. Satu kekhasan operasi kereta api di Jawa adalah bahwa tidak ada kereta yang berjalan setelah gelap, karena risiko melintas jalur yang tidak dipagari, dan bahaya dari tanah longsor serta hujan tropis.

Semua kereta dari jenis apa pun, berhenti beroperasi antara pukul 6 dan 7 malam. Begitu banyak waktu di hari-hari sebelumnya yang harus dihabiskan untuk berlari di atas kemiringan curam di Preanger sehingga perlu untuk menginap di Bandung atau Yogyakarta, dan kemudian melanjutkan perjalanan pada hari berikutnya.

Ilustrasi

Dengan demikian, dibutuhkan sekitar 29 jam untuk melakukan perjalanan dari Jakarta ke Surabaya. Bahaya operasi kereta api di negara seperti Jawa diilustrasikan bahwa seekor kerbau pernah tersesat ke jalur utama dekat Batavia.

Di tengah Pulau Jawa ada Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), merupakan Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda dan berpusat di Semarang. Saat itu jalur kerera terbagi menjadi jalur barat yakni Batavia dan Bandoeng (Bandung) dan jalur timur Surabaya yang dipisahkan oleh bentangan NIS dari Djokjakarta (Yogyakarta) ke Soerakarta (Surakarta).

Baca juga: Adakah Kaitan Antara Pecahnya Perang Diponegoro dengan Pembangunan Jalur Kereta di Jawa?

Jalur Jakarta – Surabaya adalah lintasan yang dipersiapkan untum layanan kereta cepat kala itu, di jalur tersebut kereta dapat dipacu pada kecepatan maksimum 86,5 km per jam. NIS terbilang serius untuk menggarap kereta cepat pada masa itu, dibuktikan dengan sempat dirilisnya model lokomotif kereta uap NIS 171 yang berdesain futuristik.

Nah, Anda ingin tahu kelanjutan kisah jalur kereta pra kemeredekaan di Pulau Jawa? Simak pada artikel berikutnya. (Bersambung)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[Galeri] Sertifikasi Belum Rampung, Sejumlah 737 MAX ‘Numpuk’ di Boeing Field, Seattle

Kabar soal ultimatum yang diberikan pihak Boeing terhadap Federal Aviation Administration (FAA) yang mengisyaratkan bahwa mereka akan memberhentikan produksi dari varian 737 MAX ini bisa dibilang bukan tanpa alasan. Selain memang pihak Boeing yang ingin sesegera mungkin mengembalikan varian tersebut ke udara, ternyata faktor kapasitas pabrik yang sudah terlalu penuh oleh pesawat yang parkir juga menjadi perhatian penyumbang income import terbesar di Negeri Paman Sam ini.

Baca Juga: Belum Rampung Masalah 737 MAX, Boeing Diterpa Isu Cacat Komponen di Seri 737NG

Dapat Anda lihat pada foto yang diunggah pada laman businessinsider.sg (4/8), tampak puluhan hingga ratusan pesawat Boeing 737 yang terparkir di Boeing Field, Seattle, Washington. Foto tersebut merupakan pesawat-pesawat baru yang siap dikirmkan kepada masing-masing maskapai yang sudah memesannya.

Sumber: businessinsider.sg

Ya, karena larangan menerbangkan varian 737 MAX tersebut, maka secara otomatis varian tersebut menumpuk di pabrik Boeing – terlepas dari pesawat yang menumpuk ini sudah lolos sertifikasi ‘tahap dua’ atau belum.

Sumber: businessinsider.sg

Saking penuhnya, dapat Anda lihat bahwa ada dua pesawat yang sampai-sampai ikutan parkir di tempat parkir mobil.

Sumber: businessinsider.sg

Mulai dari FlyDubai, Air Canada, Copa Airlines, Royal Air Maroc, Samoa, United Airlines, American Airlines, Sun Express, SunWing, hingga sejumlah pesawat yang masih belum menggunakan livery semuanya ada di sini, terjemur di bawah terik matahari Amerika.

Baca Juga: Sertifikasi Tak Kunjung Keluar, Boeing Akan Hentikan Jalur Produksi 737 MAX

Sebagaimana yang sudah diketahui bersama, dua kecelakaan fatal yang melibatkan varian Boeing 737 MAX 8 yang masing-masing dioperasikan oleh Lion Air dan Ethiopian Airlines ini terjadi hanya dalam rentang waktu lima bulan saja dan menewaskan kurang lebih 346 jiwa.

Sumber: businessinsider.sg

Masalah pada Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) dipercaya sebagai biang kerok dari dua kecelakaan maut ini. Kendati pihak Boeing mengklaim bahwa perbaikan sudah dilakukan, namun sertifikasi terkait pengoperasian kembali varian 737 MAX ini masih belum saja dikeluarkan oleh FAA.

Sumber: businessinsider.sg

 

 

Ingin Airbus A380 Kembali Diproduksi? Kondisi Inilah yang Mutlak Diperlukan

Kendati raksasa manufaktur asal Eropa, Airbus sudah mengeluarkan pernyataan terkait peberhentian produksi dari varian paling terkenalnya, A380, namun agaknya terlalu sayang untuk melepaskan pesawat jet penumpang terbesar di dunia saat ini. Masih banyak pihak di luar sana yang mengharapkan A380 untuk terus diproduksi – namun tidak bagi pihak maskapai yang merasa terbebani ketika mengoperasikan superjumbo jet ini. Jika tidak mungkin dirakit dalam waktu dekat ini, apakah ada secerca harapan A380 akan dirakit di waktu yang akan datang?

Baca Juga: Ternyata, Emirates Hanya Menggunakan Dua Jenis Pesawat!

“Kendati kami sedih bahwa pesanan (A380) kami tidak bisa ditindaklanjuti dan progam ini tidak bisa bertahan lama, namun kami harus menerima kenyataan dan inilah yang terjadi saat ini,” ujar CEO Emirates, Sheikh Ahmed bin Saeed Al Maktoum.

“Bagi kami, A380 adalah pesawat luar biasa yang dicintai oleh pelanggan dan kru kami. Ini adalah pembeda untuk Emirates. Kami telah menunjukkan bagaimana orang dapat benar-benar terbang lebih baik di A380,” tandasnya.

Ya, Emirates merupakan salah satu pengguna Airbus A380 terbesar di dunia, mengingat maskapai asal Timur Tengah ini hanya mengoperasikan dua jenis pesawt saja – Airbus A380 dan Boeing 777 saja.

Bahkan sekelas Sheikh Ahmed bin Saeed Al Maktoum saja amat menyayangkan pemberhentian produksi dari Airbus A380 ini.

Kembali ke topik pembahasan, mungkin saja pesawat yang dibanderol US$375.3 juta per unit ini diproduksi kembali di masa yang akan datang, hanya jika:

Harga Bahan Bakar Turun
Ya, pertimbangan ini muncul mengingat tonase bahan bakar yang digunakan Airbus A380 sangatlah besar – dan ini berimbas pada biaya operasi harian yang sangat tinggi dan membebankan maskapai yang mengoperasikannya, terlebih jika load factornya ‘kurus’.

Dan hanya jika harga bahan bakar mengalami penurunan atau adanya alternatif bahan bakar seperti biofuel, bukan tidka mungkin apabila pihak maskapai akan mempertimbangkan kembali pengoperasian dari si raksasa angkasa ini.

Populasi Membludak
Ketika populasi di dunia mengalami peningkatan yang signifikan, maka di tahun-tahun berikutnya varian A380 akan sangat berguna. Apabila skema ini terbukti benar di masa yang akan datang, maka bukan tidak mungkin juga apabila populasi dari pesawat narrow-body dan midsize akan sedikt tergeser keberadaannya.

Ya, maskapai mana yang tidak mau mengoperasikan penerbangan efisien?

Baca Juga: Intip Mewahnya Airbus A380 Emirates yang Digunakan Klub Bola Real Madrid

Passenger and Cargo Handling
Membahas tentang ngebulnya dapur dari A380 tidak melulu mesti memperhatikan dari segi modanya saja – pun dengan infrastrukturnya. Tidak semua bandara di dunia bisa menampung Airbus A380, dan faktor ini menjadi penting untuk diperhatikan apabila ingin melihat A380 menguasai angkasa kembali.

Peningkatan passenger and cargo handling menjadi poin penting berikutnya, dimana peningkatan kapasitas bandara (terutama di bagian imigrasi) menjadi langkah konkret pertama yang bisa dilakukan oleh otoritas terkait untuk menghadirkan kembali A380.

Selain itu, penanganan kargo di setiap bandara juga harus lebih dioptimalkan lagi. Dapat Anda bayangkan, antrean yang terjadi di conveyor belt setiap turun dari pesawat mesti saja membludak. Itu baru dari pesawat narrow-body yang hanya berisikan kurang dari 200 penumpang. Lalu apa yang akan terjadi jika sistem penanganan kargo semacam ini tetap dipertahankan, sedangkan A380 sudah mulai memasuki masa operasinya kembali? Paham kan maksudnya di sini?

 

S-Bahn, Jaringan Kereta Komuter Tulang Punggung Transportasi di Negeri Bavaria

Setelah pada pemberitaan sebelumnya disebutkan bahwa nama O-Bahn muncul sebagai salah satu opsi moda transportasi berbasis massal baru yang tengah dikaji pemerintah untuk bisa mengentaskan masalah kemacetan yang ada di Jakarta, ternyata di negara asalnya, Jerman, O-Bahn tidak berjalan sendiri dalam beroperasi mengangkut penumpang. Terdapat Bahn Bahn lain, seperti U-Bahn, S-Bahn, hingga Autobahn. Nah, kira-kira apa perbedaan dari semua Bahn Bahn tersebut? Apakah mereka semua beroperasi di bawah operator yang sama?

Baca Juga: Tengah Dikaji Pemerintah, Apakah O-Bahn Bakal Mengular di Indonesia?

Sebelum melangkah lebih jauh, kata Bahn (bahasa Jerman) sendiri jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti kereta.

Sebagaimana yang sudah diberitakan sebelumnya, O-Bahn merupakan moda transportasi yang menggabungkan elemen-elemen dari sistem bus dan kereta api ini memiliki jalur yang dibangun secara khusus. Tak hanya melalui jalur khusus, O-Bahn juga bisa melaju di jalur biasa. Kendaraan percampuran antara Bus Rapid Transit (BRT) dan Light Rapid Transit (LRT) ini mampu mengangkut 20 persen lebih banyak dibandingkan TransJakarta.

Dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, S-Bahn merupakan jenis kereta hybrid urban – suburban yang melayani wilayah metropolitan. Beberapa kereta S-Bahn yang berukuran besar menyediakan layanan yang mirip dengan rapid transit systems, sedangkan kereta S-Bahn yang berukuran kecil lebih menyerupai kereta komuter atau kereta regional.

Jika bisa disederhanakan dan dibandingkan apple-to-apple, peran S-Bahn di Jerman hampir mirip dengan Commuter Line Jabodetabek yang ada di Ibukota – dimana kedua moda transportasi ini sama-sama menangkut penumpang dalam jumlah yang masif dan waktu keberangkatan dari setiap wahananya sangatlah singkat. Jaringan kereta S-Bahn semacam ini sangat populer dan menjadi tulang punggung transportasi bagi masyarakat di Negara Bavaria.

Baca Juga: Dilengkapi 17 Stasiun, LRT Jabodebek Siap Mengular di 2021

Ambil contoh Berlin S-Bahn, dimana jaringan kereta ini memiliki 15 jalur dan dilengkapi dengan 166 stasiun di seluruh jaringannya. Dioperasikan oleh S-Bahn Berlin GmbH, jaringan kereta ini mampu mengangkut hingga 1.060.000 penumpang setiap harinya.

Tidak seperti O-Bahn yang mampu beroperasi di ‘dua alam’, S-Bahn ini hanya mampu mengular di atas rel saja. Maka dari itu tadi disebutkan bahwa S-Bahn sebenarnya hampir mirip dengan commuter line Jabodetabek.

 

[Analisa] Ramai Soal Polusi di Jakarta, Salah Siapa?

Belakangan ini, pemberitaan nasional tengah tertuju pada polusi udara yang menyelimuti Ibukota. Di jejaring sosial Instagram, dapat Anda lihat banyak sekali foto langit Jakarta yang semakin menghitam bak tengah ‘melindungi’ Ibukota. Hal ini tentu saja mengundang pertanyaan di publik, “mengapa polusi udara di Jakarta semakin menjadi-jadi?”. Jawaban sederhananya adalah volume kendaraan yang terus mengalami peningkatan setiap waktunya. Selain itu, eksistensi dari ruang terbuka hijau tidaklah sepadan dengan volume kendaraan – jadi, menghitamlah awan Jakarta.

Baca Juga: Kerap Jadi Biang Kemacetan, Driver Ojol Harus Lebih “Peka” Marka Lalu Lintas

Ya, volume kendaraan di Jakarta memang sudah tidak bisa dibendung lagi. Kendati sudah ada moda transportasi umum seperti commuter line Jabodetabek, TransJakarta, hingga MRT, agaknya warga Jakarta masih enggan berdesakan di moda umum. Walhasil, penuhlah setiap jalanan di Ibukota. Mengutip dari laman kompas.com (25/7), Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) merilis analisa Source Apportionment yang menunjukkan bahwa particulate matter (PM) 10 di DKI Jakarta paling banyak dari kendaraan bermotor sebanyak 47 persen.

Particulate matter sendiri merupakan campuran partikel cair dan padat yang terdapat di udara. Sumber dari particulate matter ini sendiri beragam, bisa dari proses industri, aktivitas pembangkit listrik, hingga sisa pembakaran dari kendaraan diesel atau bahan bakar fosil lainnya.

Bagaimana tidak, tingginya angka PM-10 di Jakarta tidak bisa lepas dari peranan jutaan kendaraan bermotor pribadi yang melanglang buana setiap harinya. Belum lagi peran dari ribuan ojek online (ojol) yang juga turut meramaikan jalanan dan ‘menggelapkan’ langit Ibukota. Lalu, bagaimana dengan truk kontainer yang melintasi pinggiran kota Jakarta untuk mengirim barang? Agaknya sudah terlalu kompleks masalah polusi udara di Jakarta.

Sudah Kadung Kompleks
Menilik ke lingkup paling baru dulu di Jakarta, ojol. Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa ojol menawarkan kemudahan bagi setiap penumpangnya untuk melakukan mobilisasi dari satu titik menuju titik lainnya – belum lagi untuk urusan antar kirim barang, makanan, atau dokumen.

Dewasa ini, pertumbuhan jumlah ojol di Indonesia – khususnya Jakarta sudah mengalami peningkatan yang signifikan. Pada Maret 2018 saja, ada kurang lebih satu juta orang yang menjadikan ojol sebagai mata pencaharian utama mereka, dan angka tersebut terus mengalami peningkatan dari hari kr hari.

Pengendalian? Mungkin sudah terlambat untuk mengurangi jumlah ‘pasukan hijau’ dari jalanan Ibukota – kecuali Pemerintah atau regulator terkait memiliki lahan baru untuk memperkerjakan para pengemudi ini.

Belum lagi Undang-undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang menyebutkan bahwa motor bukanlah angkutan umum, namun kembali pada poin di atas, populasi pengemudi ojol benar-benar sudah tidak bisa dibendung.

Tawaran Solusi dari Otoritas Terkait
Seolah mentok dengan jalan keluar untuk masalah di atas, berbagai PO bus yang juga ikut mengambil bagian dari jalanan Ibukota ini mencoba untuk mengganti armada yang masih menggunakan bahan bakar fosil dengan moda yang lebih ramah lingkungan – berbahan bakar listrik.

Namun seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, pengadaan bus listrik ini tentu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Diperlukan perencanaan yang sangat matang mengingat biaya investasi untuk bus listrik ini dua hingga tiga kali lipat dari bus diesel pada umumnya. Bellum lagi soal regulasi yang juga tengah dimatangkan oleh para regulator terkait.

Jika upaya banting tulang yang tengah dilakukan oleh para otoritas terkait ini masih tidak dioptimalkan sepenuhnya di masa yang akan datang, maka bukan tidak mungkin apabila kondisi polusi di Jakarta akan semakin ‘menghitam’.

Baca Juga: Operasional Bus Listrik di Jakarta Masih Menanti Regulasi

Konklusi
Hadirnya moda transportasi umum yang sudah terintegrasi satu sama lain bukanlah dihadirkan Pemerintah sebagai ajang untuk menghambur-hamburkan dana, melainkan untuk dioptimalkan oleh setiap warganya.

Jadi, mulailah belajar untuk meninggalkan kebiasaan menggunakan kendaraan pribadi untuk bepergian kemana-mana. Gunakanlah fasilitas umum yang sudah disediakan oleh Pemerintah. Dengan begitu, Anda sudah iktu berperan besar untuk mengentaskan masalah polusi di Ibukota.

 

 

Konstruksi MRT Jakarta Tahan Gempa 8 Skala Ricter, Inilah Panduan Keselamatan Penumpang

Gempa bumi tektonik yang terjadi pada Jumat, 2 Agustus lalu telah dirasakan lumayan kuat di Jakarta. Dan terkait kejadian alam luar biasa tersebut, Moda Raya Terpadu alias MRT Jakarta merilis merilis beberapa langkah yang akan diterapkan bila gempa bumi terjadi. Langkah tersebut telah dituangkan dalam standar penanangan gempa pada jaringan MRT yang telah berlaku nternasional, diantaranya PT MRT Jakarta akan menghentikan kereta saat terjadi gempa bumi sampai guncangan berhenti dan membuat pengumuman yang tepat kepada penumpang.

Baca juga: Pasca Gempa dan Tsunami 2011, JR East Pulihkan Jalur Kereta Api yang Lumpuh di Prefektur Iwate

Beberapa panduan dan standar ditungkan untuk menjamin keselamatan penumpang. Muhamad Kamaluddin, Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta dalam pesan tertulis menyebutkan bila terjadi gempa, maka setelah guncangan berhenti penumpang yang berada di Stasiun MRT Jakarta harap mengikuti arahan petugas di stasiun untuk menuju titik berkumpul di luar stasiun. Bagi penumpang yang berada di kereta dihimbau untuk tenang, tidak melalukan tindakan gegabah dan tetap berada di dalam kereta. Petugas di dalam kereta akan membuat pengumuman lewat radio kereta.

Sementara bagi penumpang yang berada di Stasiun MRT Jakarta, dihimbau untuk berlindung di tempat aman sampai guncangan berhenti. Bagi penumpang yang berada di kereta, dihimbau untuk berpegangan pada handrail sampai guncangan berhenti. Setelah guncangan berhenti kereta akan melanjutkan perjalanan dengan kecepatan lebih rendah ke stasiun berikutnya.

Konstruksi jaringan MRT Jakarta sendiri sudah dirancang untuk menahana efek dari gempa bumi, persisnya tahan terhadap gempa hingga berkekuatan mencapai lebih dari 8 skala ricter. Tentang kekuatan konstruksi pada efek gempa, MRT Jakarta mengacu pada teknologi yang telah diterapkan di Jepang, dimana negara tersebut punya pengalaman dan kondisi yang mirip dengan Indonesia dalam hal potensi serta ancaman gempa bumi.