Tak Kunjung Balik Modal, Tepatkah Airbus Hentikan Program A380?
Pada bulan Februari kemarin, tersiar kabar bahwa manufaktur kedirgantaraan asal Eropa, Airbus akan menghentikan produksian jet penumpang terbesar di dunia saat ini, A380 pada tahun 2021 mendatang. Hingga periode Februari kemarin, tercatat Airbus hanya merakit 17 unit A380 yang tiga diantaranya akan dikirim kepada All Nippon Airlines (ANA), dan 14 sisanya akan dikirim kepada maskapai kenamaan asal Timur Tengah, Emirates.
Baca Juga: Dinilai Kurang Efisien, Akankah Airbus A380 Berjaya 20 Tahun Mendatang?
Sebenarnya, industri dirgantara global sangatlah rumit untuk disederhanakan. Pada beberapa periode yang lalu, mungkin nama Airbus A380 muncul sebagai solusi untuk maskapai yang hendak melayani penerbangan jarak jauh dengan kapasitas angkut penumpang yang fantastis. Namun kehadirannya tidak sekonyong-konyong menjadikan A380 sebagai primadona di sektor aviasi karena setelah ditinjau lebih mendalam, sebenarnya A380 memiliki ongkos operasional yang cukup fantastis.
Di sini tampak, semakin maju jaman dan penambahan beragam teknologi di dalam sebuah pesawat, maka semakin rendah pula biaya operasinya, dan itu juga meliputi keandalan pesawat ketika beroperasi. Ambil contoh Airbus A380 yang ternyata memiliki biaya operasional per penumpang lebih rendah ketimbang Boeing 747 yang notabene telah menapaki langit terlebih dahulu ketimbang jet penumpang terbesar ini.
Atas alasan yang sama pula, sejumlah maskapai pada akhirnya menghentikan layanan A380 di masing-masing tubuh mereka. Ya, sekarang ini sudah banyak pesawat yang memiliki kapasitas angkut tidak sebesar Airbus A380 namun bisa merengkuh jarak yang sama – atau bahkan melebihi A380, contoh yang paling baru adalah Boeing 777X.
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman onemileatatime.com, sudah sangat jelas bahwa di sini Airbus membutuhkan dana yang sangat besar untuk mengembangkan A380, dan mungkin berada di kisaran US$17 hingga 25 miliar. Hal ini semakin diperparah dengan kabar yang tersiar bahwa Airbus bahkan tidak balik modal dengan mengembangkan A380, dan wajar adanya jika pihak Airbus lebih memilih untuk menghentikan program ini – daripada mereka harus terus-terusan merugi akibat keuntungan yang belum kunjung datang.
Baca Juga: Kendati Produksi Dihentikan, Airbus A380 Tetaplah Fenomenal
Tapi pada akhirnya, kendati Airbus menghentikan program pengembangan dari A380, namun nama pesawat ini sudah kadung membekas di benak masyarakat dan akan tetap fenomenal.
Tingkat Pelecehan Seksual Tinggi, Kepolisian Jepang Rilis Aplikasi yang Bisa Teriak!
Anda masih ingat dengan istilah “Chikan” yang berarti pelaku pelecehan seksual di ruang publik secara terus menerus. Nah kali ini pihak berwenang di Jepang tidak hanya sebatas menggolongkan pria hidung belang ini ke dalam suatu kelompok Chikan saja, melainkan telah mengembangkan aplikasi smartphone untuk menghindari tindak pelecehan seperti yang sudah disebutkan di atas kembali terulang. Wah, kira-kira bagaimana keunggulan dari aplikasi tersebut, ya?
Baca Juga: Istilah ‘Chikan’ Masuk Kamus Internasional Berkat Tingginya Angka Pelecehan Seksual di Kereta Jepang
Patut diketahui terlebih dahulu, tindak pelecehan seksual di kereta Jepang ini marak terjadi ketika jam-jam sibuk (peak hour) dengan sasaran utamanya adalah kaum hawa. Nah ketika menggunakan aplikasi yang dikembangkan oleh pihak kepolisian Tokyo ini, maka diharapkan dapat menekan angka pelecehan seksual yang terjadi di Jepang.
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (21/5/2019), aplikasi yang sudah diunduh terlebih dahulu di gadget ini nantinya akan mengeluarkan suara nyaring yang berbunyi, “hentikan!” dengan volume yang sangat keras ketika seseorang telah dilecehkan. Ini bertujuan untuk menarik perhatian dari penumpang yang ada di sekeliling korban dan dapat diharapkan dapat dengan mudah menangkap pelaku.
Tidak hanya itu, aplikasi yang sudah diunduh lebih dari 237.000 kali ini juga akan mengeluarkan sebuah pesan yang bertuliskan, “Ada seorang pelaku tindak pelecehan seksual di sini, bisakah Anda membantu saya,”. Anda dapat menunjukkan pesan pengingat tersebut kepada penumpang lain sehingga Anda dapat perlindungan.
Lebih kerennya lagi, penggunaan aplikasi ini juga dapat mengirimkan tindak pelecehan terhadap operator layanan, karena ternyata hampir sama seperti di Indonesia, dimana korban enggan melaporkan tindakan yang sudah dialaminya kepada petugas kepolisian dengan dalih takut.
Baca Juga: Antisipasi Pelecehan Seksual di KRL, Ikuti Tips Berikut Ini
“Hal ini selayaknya sinyal SOS yang diberitahukan kepada penumpang lain namun dengan gerakan tubuh yang minim – selayaknya memainkan ponsel seperti biasa,” ujar pejabat kepolisian, Keiko Toyamine.
Menurut data yang dicatat oleh Departemen Kepolisian Tokyo, ada sekitar 900 kasus pelecehan seksual yang terjadi di jaringan kereta bawah tanah Jepang. Diharapkan dengan dikomersialkannya aplikasi bernama Digi Police ini, maka secara perlahan angka pelecehan seksual di kereta Jepang dapat menurun.
Miniatur “Grand Central Station” Dirusak, Rod Stewart Berikan Donasi 10 Ribu Poundsterling
Bagi pecinta transportasi yang juga penggemar miniatur, pasti senang melihat miniatur stasiun, terminal atau bandara. Tapi apa jadinya bila kesenangan tersebut dirusak oleh sekelompok orang dan ternyata pembuatan miniatur tersebut membutuhkan waktu puluhan tahun?
Finansial Loyo, Apa yang Sebabkan Garuda Indonesia Hentikan Sejumlah Rute ke Luar Negeri?
Sektor aviasi Indonesia belakangan tengah disoroti media, pasalnya sejumlah kejadian penting berkecamuk di dalamnya – mulai dari jatuhnya pesawat Boeing 737 MAX 8 milik Lion Air di perairan Tanjung Karawang pada akhir tahun 2018 silam, lalu ada lagi penetapan tarif bagasi berbayar, hingga yang paling anyar adalah penetapan tarif batas atas. Selain itu melonjaknyaharga tiket juga sedikit banyaknya mempengaruhi minat penumpang untuk melakukan perjalanan udara – apalagi dengan menggunakan layanan full service seperti Garuda Indonesia.
Baca Juga: Laba Kian Mengering, Garuda Indonesia Terpaksa Hentikan Sejumlah Rute
Gencarnya isu yang menyebutkan bahwa sang flag carrier Indonesia ini mulai tertatih untuk melanjutkan persaingan bisnis airlines di Tanah Air. Pada pemberitaan sebelumnya, disebutkan bahwa Garuda Indonesia akan menghentikan sejumlah penerbangan jarak jauhnya terkait dengan prinsip ekonomi yang tidak tecapai sempurna – cenderung nombok.
Terkenal sebagai layanan penerbangan paling bergengsi asli Tanah Air, sudah sewajarnya jika pasar dari Garuda Indonesia terbatas dari kalangan kocek menengah ke atas – berbanding terbalik dengan prinsip sebagian masyarakat Indonesia yang tidak terlalu mementingkan modanya, selama itu murah.
Tidak hanya karena stigma itu saja, menjamurnya maskapai low-cost carrier di Indonesia juga semakin membelenggu nafas dari sang maskapai plat merah. Otomatis, pasar low-cost carrier akan dengan mudah memenangkan persaingan dengan embel-embel tiket murah.
“Ya, ketimbang harus mengedepankan gengsi dengan naik maskapai full service, toh tidak ada bedanya dengan naik low-cost carrier? Toh sampainya juga sama, dan sama-sama cepat pula,”
Begitulah kurang lebih stigma yang terus berputar di masyarakat yang pada akhirnya semakin memutus udara ke tubuh Garuda Indonesia.
Selain itu, faktor pergantian manajemen yang bisa dibilang cukup sering dalam rentang waktu beberapa tahun terakhir juga sedikit banyaknya mempengaruhi kinerja maskapai, karena beda kepala yang memimpin, maka beda pula visi, misi, hingga strategi dalam mengembangkan bisnis yang terkenal ribet ini.
Baca Juga: Boeing 737 Garuda Indonesia Dipasangi Livery Mitsubishi Xpander! Ada Apa?
Amat di sayangkan sebenarnya ketika mendengar Garuda Indonesia harus menghentikan rute penerbangannya menuju Benua Biru – karena alih-alih menghentikan rute tersebut, bukankah lebih baik untuk terus memperbanyak rute sehingga konektivitasnya semakin bertambah pula?
Namun kembali lagi kepada prinsip ekonomi di atas, daripada menjalankan rute yang memiliki margin keuntungan tipis, alangkah lebih baiknya lagi untuk mengoperasikan rute yang potensial untuk mendatangkan laba terhadap perusahaan.
Sabotase Sistem Sinyal, Ribuan Penumpang Chennai Metro Rail Limited Terbengkalai
Gangguan persinyalan pada hari Senin dan Selasa di Chennai, India terjadi karena aksi pemokogan oleh staf, ribuan penumpang Chennai Metro Rail Limited (CMRL) harus merasakan penderitaan. Pasalnya selain mogok, dua karyawan membuat sistem persinyalan otomatis tidak berfungsi dan mengakibatkan gangguan perjalanan kereta.
Baca juga: Mesin Tiket Otomatis Tak Berfungsi, Penumpang Kereta di Chennai Harus Antre
Akibat sabotase sistem persinyalan ini, membawa unsur ketakutan yang berbeda ke pikiran penumpang pada hari Selasa. Memang sabotase tak sampai sore saat masalah terlihat karena CMRL kemudian mengatakan gangguan dalam sistem sebagai alasan persinyalan otomatis rusak.
“Dua dari staf non-eksekutif kami merusak sistem pensinyalan otomatis, yang menyebabkan kegagalan fungsi pada sore hari tanggal 29 April. CMRL menyampaikan permintaan maaf yang tulus kepada penumpang atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan,” ujar pernyataan CMRL yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman thehindu.com (1/5/2019).
CMRL pada Selasa sore mengatakan layanan langsung dari Chennai Central ke bandara, yang dihentikan, telah dipulihkan.
“Operasi kereta antar-koridor antara Pusat ke Bandara telah berhasil dipulihkan pada pukul 1.30 malam. hari ini (30 April). Semua layanan kereta Metro berjalan sesuai jadwal,” twit CMRL.
Kemudian di hari itu, pihak kereta Metro Chennai mengajukan pengaduan ke kantor polisi Koyambedu dimana General manager bersama Satheesh Prabhu, mengatakan 18 anggota staf menyerang dan melecehkannya ketika dia mencegah mereka memasuki area terbatas Pusat Pengendalian Operasi dari mana seluruh operasi Kereta Api Chennai dapat dipantau.
Mereka juga menyabotase peralatan pensinyalan, yang menyebabkan kegagalan operasi, menciptakan kepanikan dan ketidaknyamanan yang luar biasa bagi para penumpang.
Banyak penumpang mengeluh bahwa mereka tidak dapat menggunakan layanan pada hari Selasa sampai mereka dipulihkan pada pukul 01.30 malam waktu setempat.
Ramani Krishnan, seorang penduduk Vadpalani, mengatakan bahwa dia ketinggalan pesawat karena kereta ditunda dan harus membatalkan pertemuan karena kekacauan. Di akun Twitter, Suresh (@ji_Sriram) mengatakan CMRL seharusnya telah mengatur pengaturan perjalanan darurat dengan bus atau kendaraan lain, terutama pada rute bandara ke Central Chennai, untuk membantu para penumpang yang terdampar.
Banyak warganet lain di Twitter menyuarakan keluhan mereka, termasuk mengungkapkan kemarahan atas tindakan sabotase, tetapi juga mengeluhkan kereta berjalan lambat dan frekuensi yang berkurang di Bandara Chennai ke bentangan Washermanpet, terutama bahkan setelah CMRL mengklaim telah memulihkan layanan.
Baca juga: Chennai Mofussil, Terminal Bus Terbesar dengan Kapasitas 2.000 Bus
Tak hanya itu banyak yang mengeluh bahwa kartu mereka tidak diterima, dan di beberapa stasiun, penumpang mengeluh bahwa tidak ada yang tersedia untuk mengeluarkan token perjalanan. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh kekurangan staf di stasiun, karena CMRL mengklaim bahwa mereka menjalankan layanan pada hari Selasa dengan hanya staf outsourcing dan lima karyawan CMRL. Diketahui sebanyak 250 staf CMRL memboikot pekerjaan pada hari Selasa.
Belum Nambah Armada Lagi, Ini Kecepatan WiFi Dalam Pesawat Citilink
Citilink, maskapai berbiaya hemat (LCC) milik Indonesia ini telah meluncurkan fasilitas free WiFi onboard atau dalam penerbangan. Kuota yang diberikan pun terbatas hanya 50 MB, tetapi bila penumpang membutuhkan tambahan bisa langsung mengatakannya kepada awak kabin.
Baca juga: Airbus A320-214 PK-GQR: Sensasi Free WiFi Perdana di Armada Citilink
Meski begitu, bagaimana kecepatan WiFi dalam pesawat milik maskapai hijau tersebut? Koneksi WiFi gratis ini bisa digunakan setelah pesawat lepas landas dan tanda penggunaan sabuk pengaman dipadamkan. Dilansir KabarPenumpang.com dari detik.com yang mencoba menggunakan WiFi dalam penerbangan QG 686 dari Jakarta ke Denapasar.
Dari aplikasi speedtest, kecepatan internet dalam pesawat cukup baik dan kapasitas kecepatan untuk mengunduh mencapai 14,2 Mbps dan mengunggah 0,41 Mbps. Membuka berbagai laman website pun koneksinya cukup lancar dan konten tulisan serta gambar cukup mudah dibuka.
Sedangkan untuk berkirim pesan singkat melalui aplikasi WhatsApp berjalan dengan lancar. Tak hanya itu melakukan panggilan video pun lancar tanpa hambatan. Meskipun koneksi lancar, suara terdengar jelas, tetapi gambar di video sedikit tersendat pada waktu tertentu.
Dalam mengakses video melalui Youtube pun kualitas yang didapat lancar dengan akses 480p. Melakukan streaming pun dengan kualitas segitu hasil yang didapat lancar dan tanpa hambatan. Begitupun dengan layanan video Netflix yang berjalan mulus.
Beberapa platform media sosial lainnya pun juga berjalan setara dengan menggunakan jaringan 4G di darat. Penggunaan Instagram dengan mengunggah Instagram storie atau scrolling timeline pun terbilang cepat. Bahkan, main game online cukup lancar.
Perlu diperhatikan, bahwa kondisi koneksi internet ini berlangsung saat siang hari dengan cuaca cerah. Kapasitas penumpang juga hanya 50 persen dari total kursi pesawat. Tetapi, di saat-saat tertentu, seperti turbulensi koneksi akan hilang dengan sendirinya.
Terpenting adalah penggunaan WiFi hanya dapat dipakai saat pesawat sudah lepas landas dan tidak dalam kondisi take off atau landing. HIngga saat ini diketahui, esawat yang sudah dilengkapi WiFi onboar hanya ada satu yakni tujuan ke Denpasar, Bali.
Baca juga: Naik Citilink, Kini Bisa Nikmati WiFi Gratis di Ketinggian 35 Ribu Kaki
Padahal anak perusahaan Garuda Indonesia ini hingga akhir tahun 2019 akan menambahkan fasilitas free WiFi onboard di 20 armadanya. namun saat dihubungi KabarPenumpang.com terkait rencana penambahan WiFi onboard, pihak Citilink belum bisa menjawab untuk kelanjutannya.
Juni Mendatang, Grab Akan Hadirkan GrabCar Premium
Naik moda transportasi umum dan merasakan kelas eksekutif bisa menjadi salah satu pilihan menarik bagi penumpang. Kemudian karena ini, Grab mulai mempersiapkan layanan baru dari GrabCar-nya. Pasalnya taksi plat hitam berbasis online itu akan menghadirkan versi eksekutif.
Baca juga: Lagi di Uji Coba, Skuter Listrik Grab Bakal Meluncur di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta
Versi eksekutif GrabCar ini sendiri akan dinamakan GrabCar Premium. KabarPenumpang.com yang mengutip dari laman detik.com (23/5/2019), penyebutan eksekutif ini sendiri karena ada perbedaan keistimewaan baik dari kendaraan maupun pengemudinya.
Grab berencana akan meluncurkan GrabCar versi eksekutif tersebut pada awal Juni mendatang. Layanan ini sendiri memiliki sasaran yang mampu memberikan layanan transportasi terbaik kepada klien dan pelanggannya.
“Saya umumkan juga hari ini bahwa kita akan memperkenalkan layanan yang namanya GrabCar Premium yaitu dimulai pada tahun ini. Dan kita akan mulai dulu di beberapa perusahaan yang open, mencoba layanan tersebut,” ungkap Executive Director Grab Indonesia Ongki Kurniawan saat pengumuman layanan terbaru Grab for Business.
Dia menambahkan, kelas premium ini akan menggunakan mobil bejenis Innova atau Fortuner dan berangkat dari kebutuhan perusahaan tersebut di beberaoa situasi mereka apakah membutuhkan mobil yang kelas premium.
Selain jenis kendaraan yang menyasar kelas atas, GrabCar Premium juga menyediakan pengemudi yang punya keahlian khusus di bidang hospitality. Sementara soal tarif, akan ada penyesuaian dengan layanan yang diberikan.
“Kita ada itung-itungannya pastinya kalau dinamakan premium juga trarifnya juga sesuai. Jadi kita sesuaikan dengan layanannya,” lanjutnya.
Soal ketersediaan kendaraan, Grab akan menggandeng mitra usaha yang akan menyediakan kendaraan di segmen yang lebih premium seperti Innova atau Fortuner.
“Itu nanti punya strategi sendiri. Di awal kita bukan ke individual tapi kita akan ber-partner dengan sejumlah mitra,” jelas Ongki.
Baca juga: Grab Gandeng UI untuk Kembangkan Startup, Ternyata Keduluan GoJek
Untuk diketahui layanan GrabCar Premium ini merupakan bagian dari Grab for Business bersamaan dengan beberapa layanan lainnya yang juga diperkenalkan Grab seperti GrabGifts, Concierge, GrabExpress, serta katering.
Panik Saat Pesawat Mengudara, Pria Ini Coba Buka Pintu Darurat
Panik saat berada di dalam pesawat yang tengah mengudara? Hal ini bisa terjadi pada siapa saja bukan hanya anak-anak, orang dewasa maupun lansia pun bisa saja mengalami hal tersebut. Namun karena panik tersebut penumpang bisa melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya dan penumpang lain di dalam pesawat.
Baca juga: Bikin Panik! Pemuda Ini Berusaha Buka Pintu Darurat Yang Ia Kira Sebagai Pintu Toilet
KabarPenumpang.com melansir dari laman mirror.co.uk (23/5/2019), baru-baru ini seorang penumpang paruh baya meminta awak kabin untuk memanggilkan keluarganya. Dirinya saat itu tengah gelisah dan dalam penerbangan Fuzhou Airlines 6509 tujuan ke Kunming di barat daya Cina pada 20 Mei 2019 kemarin.
https://youtu.be/hp03PRJc1TQ
Petugas keamanan penerbangan bernama Zhao Wenhui mengatakan, pria berusia 50 tahun tersebut meminta bantuan awak kabin 40 menit sebelum mendarat. Dia meminta dipanggilkan keluarganya tetapi kemudian terlihat gelisah karena permintaannya tersebut ditolak oleh awak kabin.
Dalam sebuah rekaman video, pria itu berteriak dan membenturkan dirinya ke kursi serta sisi pesawat. Karena tindakannya ini, awak kabin yang dibantu penumpang pesawat lainnya mencoba menahan pria itu untuk tidak berulah.
Cao Xinyue, seorang awak kabin mengatakan, pria itu kemudian modar-mandir dan berkata, “Saya ingin parasut!”
“Dia terus mengatakan dia ingin memanggil keluarganya. Dia mencoba menelepon di teleponnya tetapi meminta kita melakukannya ketika teleponnya tidak berfungsi,” ujar Xinyue.
Penumpang yang ketakutan terdengar berteriak, “Apa yang terjadi?” ketika mereka mencoba menenangkan pria itu.
“Sepuluh menit sebelum mendarat ia diduga melompat dari kursinya dan mencoba membuka pintu darurat,” kata maskapai itu dalam sebuah pernyataan. Kelompok itu menahannya hingga pesawat mendarat dengan selamat, setelah itu ia diserahkan ke polisi bandara Kunming.
“Dia mencoba mencungkil mataku. Aku lebih tinggi darinya sehingga dia tidak bisa menjangkau, tetapi telinga dan hidungku terluka dan berdarah,” ujar pramugari Lu.
Petugas keamanan penerbangan Zhao, yang menghabiskan dua tahun dengan gugus tugas pasukan khusus Cina yang dikenal sebagai Snow Leopard Commando Unit, mengatakan ia memperhatikan penumpang bertindak tidak menentu saat ia naik ke pesawat. Untungnya dalam insiden ini maskapai mengkonfirmasi tidak ada penumpang lain yang terluka.
Baca juga: Akibat Kegerahan di Kabin, Pria Ini Tak Sengaja Membuka Pintu Darurat
Pria itu, yang menurut polisi tidak sehat, telah dibebaskan tanpa biaya kembali ke perawatan keluarganya, yang telah meminta maaf atas cobaan itu. Namun, tidak jelas apakah ia akan menerima larangan terbang seumur hidup oleh otoritas penerbangan Cina.
