Sambut Mudik Lebaran, PT KAI Luncurkan Kereta Sleeper “Luxury 2” Generasi Baru

Wow, bisa saja menjadi kata yang pertama kali keluar dari mulut penumpang atau orang awam setelah melihat kereta baru dari PT Kereta Api Indonesia (KAI). Hal ini karena, kehadiran kereta sleeper jenis terbaru untuk mudik Lebaran 2019. Baca juga: Capai Okupasi 60 Persen, Luxury Sleeper Train PT KAI Terbukti Diminati Penumpang Kereta sleeper ini dinamakan Luxury 2 dengan menghadirkan kesan elegan dimana kabin kereta dilapisi vinyl dan seluruh lantai berbalut dengan karpet. Fasilitas penumpang terlihat mewah dan elegan serta berbeda dari pendahulunya kereta sleeper luxury pertama. Sebab kereta ini menghadirkan dua baris kursi elektrik yang bisa direbahkan hingga 140 derajat dan diputar 180 derajat serta ada penambahan kaki seperti kelas bisnis di pesawat. Satu gerbong kereta Luxury 2 berisikan 27 kursi (konfigurasi 2 – 1) yang juga dilengkapi dengan televisi, USB port untuk pengisian baterai pinsel dan train attendance button serta lampu baca. Tak hanya itu, PT KAI juga memberi tambahan bantal, selimut, handuk wajah, makanan serta minuman sepanjang perjalanan penumpang. Berbeda dari sebelumnya, selain jumlah kursi, di kelas ini pun ada tambahan mini bar di dalam gerbongnya. Sehingga penumpang bisa menikmati makanan ringan dan minuman sepuasnya yang dilayani oleh pramugari cantik. Adapun alasan Luxury 2 diluncurkan diungkapkan Direktur Utama PT KAI, Edi Sukmoro karena tingginya peminat kereta sleeper pada musim mudik Lebaran tahun 2018 lalu. Kereta Luxury 2 tersebut merupakan generasi terbaru kereta Luxury yang telah KAI rilis pada tahun 2018 lalu. Terkait rute keberangkatan, kereta Luxury 2 dirangkaikan pada KA Argo Lawu rute Gambir – Solo Balapan pulang pergi (PP), KA Argo Dwipangga rute Gambir-Solo Balapan PP, KA Taksaka rute Gambir-Yogyakarta PP dan KA Gajayana rute Gambir-Malang PP. “Minat masyarakat untuk menggunakan kereta Luxury generasi pertama sangat positif. Rata-rata okupansi kereta Argo Bromo Anggrek Luxury (rute Gambir-Surabaya Pasar Turi) mencapai 108 persen,” ungkap Edi Sukmoro yang dikutip KabarPenumpang.com dari kai.co.id (26/5/2019). Tingginya peminat kereta model sleeper, PT KAI membuka penawaran tarif tiket istimewa, yakni sebesar Rp750 per orang untuk keberangkatan 26 Mei 2019 hingga 26 Juni 2019. Pemesanan dapat dilakukan di aplikasi KAI Access, Website KAI, dan seluruh channel penjualan resmi KAI lainnya. Baca juga: Hadirkan Sleeper Train, Siapkah PT KAI Hapus Bayangan “Masalah” Sosial KA Bima? “Kereta Luxury 2 merupakan bentuk inovasi KAI untuk meningkatkan layanan dan kenyamanan bagi pengguna KA. Kereta ini hadir untuk menjawab antusiasme masyarakat untuk menggunakan kereta dengan pelayanan istimewa. Dengan adanya Kereta Luxury 2 ini, kami berharap masyarakat dapat merasakan sensasi naik kereta dengan tingkat pelayanan dan kenyamanan yang lebih eksklusif,” jelas Edi.

Kemenhub Pastikan Boeing 737 MAX 8 Tak Ikut Layani Penerbangan Lebaran

Tak lama lagi, peningkatan arus mudik akan dijelang seiring dimulainya libur cuti bersama Lebaran 2019. Dan seperti biasa dengan meningkatnya trafik perjalanan, maka utilitas wahana transportasi akan melonjak di semua sektor. Seperti di segmen penerbangan, saat musim mudik Lebaran kerap kita dengar istilah extra flight alias penerbangan tambahan. Dengan bertambahnya penggunaan pesawat, tak sedikit netizen yang menyoroti masalah keamanan dalam penerbangan itu sendiri. Baca juga: Pasca Insiden Boeing 737 MAX 8, Akankah Pilot ‘Kembali’ Menyandarkan Kepercayaan Pada Pesawat Tersebut? Pertanyaan yang mengemuka dari netizen adalah, apakah armada Boeing 737 MAX 8 yang telah di-grounded oleh Kementerian Perhubungan sejak pertengahan Maret lalu, akan digunakan kembali sebagai wahana angkutan Lebaran? Tentu pikiran netizen berkecamuk, lantaran status grounded adalah larangan terbang sementara (temporary grounded). Nah, guna member kepastian dan menenangkan calon pengguna jasa penerbangan, Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi menegaskan bahwa pesawat Boeing 737 MAX 8 masih dilarang terbang. Dengan demikian, pesawat tipe tersebut tetap tidak boleh digunakan untuk angkutan mudik dan balik Lebaran 2019. “Boeing Max 8 tetap tidak diizinkan untuk terbang sekalipun akan ada puncak penerbangan jelang dan usai Lebaran,” ujar Menhub Budi Karya dikutip dari situs Merdeka.com (26/5). Menurut Menhub, maskapai diinstruksikan tetap tidak gunakan Max 8 sampai ada investigasi akhir dan tidak digunakan saat angkut mudik dan balik. FAA (Federal Aviation Administration) telah menerbitkan Airworthiness Directive yang juga telah diadopsi oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dan telah diberlakukan kepada seluruh operator penerbangan Indonesia yang mengoperasikan Boeing 737 MAX 8. Baca juga: Akhirnya! Boeing Akui Adanya Kesalahan Sistem pada Boeing 737 MAX 8 Saat ini, maskapai yang mengoperasikan pesawat jenis tersebut adalah PT Garuda Indonesia sebanyak 1 unit dan PT Lion Air sebanyak 10 unit. FAA menyampaikan akan terus berkomunikasi dengan Ditjen Hubud guna memastikan kondisi airworthy (laik terbang) untuk Boeing 737 MAX 8. Total sebanyak 146 unit pesawat Boeing 737 Max 8 milik berbagai maskapai di dunia, sampai saat ini dalam status temporary grounded.

Tak Kunjung Balik Modal, Tepatkah Airbus Hentikan Program A380?

Pada bulan Februari kemarin, tersiar kabar bahwa manufaktur kedirgantaraan asal Eropa, Airbus akan menghentikan produksian jet penumpang terbesar di dunia saat ini, A380 pada tahun 2021 mendatang. Hingga periode Februari kemarin, tercatat Airbus hanya merakit 17 unit A380 yang tiga diantaranya akan dikirim kepada All Nippon Airlines (ANA), dan 14 sisanya akan dikirim kepada maskapai kenamaan asal Timur Tengah, Emirates. Baca Juga: Dinilai Kurang Efisien, Akankah Airbus A380 Berjaya 20 Tahun Mendatang? Sebenarnya, industri dirgantara global sangatlah rumit untuk disederhanakan. Pada beberapa periode yang lalu, mungkin nama Airbus A380 muncul sebagai solusi untuk maskapai yang hendak melayani penerbangan jarak jauh dengan kapasitas angkut penumpang yang fantastis. Namun kehadirannya tidak sekonyong-konyong menjadikan A380 sebagai primadona di sektor aviasi karena setelah ditinjau lebih mendalam, sebenarnya A380 memiliki ongkos operasional yang cukup fantastis. Di sini tampak, semakin maju jaman dan penambahan beragam teknologi di dalam sebuah pesawat, maka semakin rendah pula biaya operasinya, dan itu juga meliputi keandalan pesawat ketika beroperasi. Ambil contoh Airbus A380 yang ternyata memiliki biaya operasional per penumpang lebih rendah ketimbang Boeing 747 yang notabene telah menapaki langit terlebih dahulu ketimbang jet penumpang terbesar ini. Atas alasan yang sama pula, sejumlah maskapai pada akhirnya menghentikan layanan A380 di masing-masing tubuh mereka. Ya, sekarang ini sudah banyak pesawat yang memiliki kapasitas angkut tidak sebesar Airbus A380 namun bisa merengkuh jarak yang sama – atau bahkan melebihi A380, contoh yang paling baru adalah Boeing 777X. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman onemileatatime.com, sudah sangat jelas bahwa di sini Airbus membutuhkan dana yang sangat besar untuk mengembangkan A380, dan mungkin berada di kisaran US$17 hingga 25 miliar. Hal ini semakin diperparah dengan kabar yang tersiar bahwa Airbus bahkan tidak balik modal dengan mengembangkan A380, dan wajar adanya jika pihak Airbus lebih memilih untuk menghentikan program ini – daripada mereka harus terus-terusan merugi akibat keuntungan yang belum kunjung datang. Baca Juga: Kendati Produksi Dihentikan, Airbus A380 Tetaplah Fenomenal Tapi pada akhirnya, kendati Airbus menghentikan program pengembangan dari A380, namun nama pesawat ini sudah kadung membekas di benak masyarakat dan akan tetap fenomenal.  

Tingkat Pelecehan Seksual Tinggi, Kepolisian Jepang Rilis Aplikasi yang Bisa Teriak!

Anda masih ingat dengan istilah “Chikan” yang berarti pelaku pelecehan seksual di ruang publik secara terus menerus. Nah kali ini pihak berwenang di Jepang tidak hanya sebatas menggolongkan pria hidung belang ini ke dalam suatu kelompok Chikan saja, melainkan telah mengembangkan aplikasi smartphone untuk menghindari tindak pelecehan seperti yang sudah disebutkan di atas kembali terulang. Wah, kira-kira bagaimana keunggulan dari aplikasi tersebut, ya? Baca Juga: Istilah ‘Chikan’ Masuk Kamus Internasional Berkat Tingginya Angka Pelecehan Seksual di Kereta Jepang Patut diketahui terlebih dahulu, tindak pelecehan seksual di kereta Jepang ini marak terjadi ketika jam-jam sibuk (peak hour) dengan sasaran utamanya adalah kaum hawa. Nah ketika menggunakan aplikasi yang dikembangkan oleh pihak kepolisian Tokyo ini, maka diharapkan dapat menekan angka pelecehan seksual yang terjadi di Jepang. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (21/5/2019), aplikasi yang sudah diunduh terlebih dahulu di gadget ini nantinya akan mengeluarkan suara nyaring yang berbunyi, “hentikan!” dengan volume yang sangat keras ketika seseorang telah dilecehkan. Ini bertujuan untuk menarik perhatian dari penumpang yang ada di sekeliling korban dan dapat diharapkan dapat dengan mudah menangkap pelaku. Tidak hanya itu, aplikasi yang sudah diunduh lebih dari 237.000 kali ini juga akan mengeluarkan sebuah pesan yang bertuliskan, “Ada seorang pelaku tindak pelecehan seksual di sini, bisakah Anda membantu saya,”. Anda dapat menunjukkan pesan pengingat tersebut kepada penumpang lain sehingga Anda dapat perlindungan. Lebih kerennya lagi, penggunaan aplikasi ini juga dapat mengirimkan tindak pelecehan terhadap operator layanan, karena ternyata hampir sama seperti di Indonesia, dimana korban enggan melaporkan tindakan yang sudah dialaminya kepada petugas kepolisian dengan dalih takut. Baca Juga: Antisipasi Pelecehan Seksual di KRL, Ikuti Tips Berikut Ini “Hal ini selayaknya sinyal SOS yang diberitahukan kepada penumpang lain namun dengan gerakan tubuh yang minim – selayaknya memainkan ponsel seperti biasa,” ujar pejabat kepolisian, Keiko Toyamine. Menurut data yang dicatat oleh Departemen Kepolisian Tokyo, ada sekitar 900 kasus pelecehan seksual yang terjadi di jaringan kereta bawah tanah Jepang. Diharapkan dengan dikomersialkannya aplikasi bernama Digi Police ini, maka secara perlahan angka pelecehan seksual di kereta Jepang dapat menurun.    

Miniatur “Grand Central Station” Dirusak, Rod Stewart Berikan Donasi 10 Ribu Poundsterling

Bagi pecinta transportasi yang juga penggemar miniatur, pasti senang melihat miniatur stasiun, terminal atau bandara. Tapi apa jadinya bila kesenangan tersebut dirusak oleh sekelompok orang dan ternyata pembuatan miniatur tersebut membutuhkan waktu puluhan tahun?

Finansial Loyo, Apa yang Sebabkan Garuda Indonesia Hentikan Sejumlah Rute ke Luar Negeri?

Sektor aviasi Indonesia belakangan tengah disoroti media, pasalnya sejumlah kejadian penting berkecamuk di dalamnya – mulai dari jatuhnya pesawat Boeing 737 MAX 8 milik Lion Air di perairan Tanjung Karawang pada akhir tahun 2018 silam, lalu ada lagi penetapan tarif bagasi berbayar, hingga yang paling anyar adalah penetapan tarif batas atas. Selain itu melonjaknyaharga tiket juga sedikit banyaknya mempengaruhi minat penumpang untuk melakukan perjalanan udara – apalagi dengan menggunakan layanan full service seperti Garuda Indonesia. Baca Juga: Laba Kian Mengering, Garuda Indonesia Terpaksa Hentikan Sejumlah Rute Gencarnya isu yang menyebutkan bahwa sang flag carrier Indonesia ini mulai tertatih untuk melanjutkan persaingan bisnis airlines di Tanah Air. Pada pemberitaan sebelumnya, disebutkan bahwa Garuda Indonesia akan menghentikan sejumlah penerbangan jarak jauhnya terkait dengan prinsip ekonomi yang tidak tecapai sempurna – cenderung nombok. Terkenal sebagai layanan penerbangan paling bergengsi asli Tanah Air, sudah sewajarnya jika pasar dari Garuda Indonesia terbatas dari kalangan kocek menengah ke atas – berbanding terbalik dengan prinsip sebagian masyarakat Indonesia yang tidak terlalu mementingkan modanya, selama itu murah. Tidak hanya karena stigma itu saja, menjamurnya maskapai low-cost carrier di Indonesia juga semakin membelenggu nafas dari sang maskapai plat merah. Otomatis, pasar low-cost carrier akan dengan mudah memenangkan persaingan dengan embel-embel tiket murah. “Ya, ketimbang harus mengedepankan gengsi dengan naik maskapai full service, toh tidak ada bedanya dengan naik low-cost carrier? Toh sampainya juga sama, dan sama-sama cepat pula,” Begitulah kurang lebih stigma yang terus berputar di masyarakat yang pada akhirnya semakin memutus udara ke tubuh Garuda Indonesia. Selain itu, faktor pergantian manajemen yang bisa dibilang cukup sering dalam rentang waktu beberapa tahun terakhir juga sedikit banyaknya mempengaruhi kinerja maskapai, karena beda kepala yang memimpin, maka beda pula visi, misi, hingga strategi dalam mengembangkan bisnis yang terkenal ribet ini. Baca Juga: Boeing 737 Garuda Indonesia Dipasangi Livery Mitsubishi Xpander! Ada Apa? Amat di sayangkan sebenarnya ketika mendengar Garuda Indonesia harus menghentikan rute penerbangannya menuju Benua Biru – karena alih-alih menghentikan rute tersebut, bukankah lebih baik untuk terus memperbanyak rute sehingga konektivitasnya semakin bertambah pula? Namun kembali lagi kepada prinsip ekonomi di atas, daripada menjalankan rute yang memiliki margin keuntungan tipis, alangkah lebih baiknya lagi untuk mengoperasikan rute yang potensial untuk mendatangkan laba terhadap perusahaan.  

Sabotase Sistem Sinyal, Ribuan Penumpang Chennai Metro Rail Limited Terbengkalai

Gangguan persinyalan pada hari Senin dan Selasa di Chennai, India terjadi karena aksi pemokogan oleh staf, ribuan penumpang Chennai Metro Rail Limited (CMRL) harus merasakan penderitaan. Pasalnya selain mogok, dua karyawan membuat sistem persinyalan otomatis tidak berfungsi dan mengakibatkan gangguan perjalanan kereta. Baca juga: Mesin Tiket Otomatis Tak Berfungsi, Penumpang Kereta di Chennai Harus Antre Akibat sabotase sistem persinyalan ini, membawa unsur ketakutan yang berbeda ke pikiran penumpang pada hari Selasa. Memang sabotase tak sampai sore saat masalah terlihat karena CMRL kemudian mengatakan gangguan dalam sistem sebagai alasan persinyalan otomatis rusak. “Dua dari staf non-eksekutif kami merusak sistem pensinyalan otomatis, yang menyebabkan kegagalan fungsi pada sore hari tanggal 29 April. CMRL menyampaikan permintaan maaf yang tulus kepada penumpang atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan,” ujar pernyataan CMRL yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman thehindu.com (1/5/2019). CMRL pada Selasa sore mengatakan layanan langsung dari Chennai Central ke bandara, yang dihentikan, telah dipulihkan. “Operasi kereta antar-koridor antara Pusat ke Bandara telah berhasil dipulihkan pada pukul 1.30 malam. hari ini (30 April). Semua layanan kereta Metro berjalan sesuai jadwal,” twit CMRL. Kemudian di hari itu, pihak kereta Metro Chennai mengajukan pengaduan ke kantor polisi Koyambedu dimana General manager bersama Satheesh Prabhu, mengatakan 18 anggota staf menyerang dan melecehkannya ketika dia mencegah mereka memasuki area terbatas Pusat Pengendalian Operasi dari mana seluruh operasi Kereta Api Chennai dapat dipantau. Mereka juga menyabotase peralatan pensinyalan, yang menyebabkan kegagalan operasi, menciptakan kepanikan dan ketidaknyamanan yang luar biasa bagi para penumpang. Banyak penumpang mengeluh bahwa mereka tidak dapat menggunakan layanan pada hari Selasa sampai mereka dipulihkan pada pukul 01.30 malam waktu setempat. Ramani Krishnan, seorang penduduk Vadpalani, mengatakan bahwa dia ketinggalan pesawat karena kereta ditunda dan harus membatalkan pertemuan karena kekacauan. Di akun Twitter, Suresh (@ji_Sriram) mengatakan CMRL seharusnya telah mengatur pengaturan perjalanan darurat dengan bus atau kendaraan lain, terutama pada rute bandara ke Central Chennai, untuk membantu para penumpang yang terdampar. Banyak warganet lain di Twitter menyuarakan keluhan mereka, termasuk mengungkapkan kemarahan atas tindakan sabotase, tetapi juga mengeluhkan kereta berjalan lambat dan frekuensi yang berkurang di Bandara Chennai ke bentangan Washermanpet, terutama bahkan setelah CMRL mengklaim telah memulihkan layanan. Baca juga: Chennai Mofussil, Terminal Bus Terbesar dengan Kapasitas 2.000 Bus Tak hanya itu banyak yang mengeluh bahwa kartu mereka tidak diterima, dan di beberapa stasiun, penumpang mengeluh bahwa tidak ada yang tersedia untuk mengeluarkan token perjalanan. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh kekurangan staf di stasiun, karena CMRL mengklaim bahwa mereka menjalankan layanan pada hari Selasa dengan hanya staf outsourcing dan lima karyawan CMRL. Diketahui sebanyak 250 staf CMRL memboikot pekerjaan pada hari Selasa.

Belum Nambah Armada Lagi, Ini Kecepatan WiFi Dalam Pesawat Citilink

Citilink, maskapai berbiaya hemat (LCC) milik Indonesia ini telah meluncurkan fasilitas free WiFi onboard atau dalam penerbangan. Kuota yang diberikan pun terbatas hanya 50 MB, tetapi bila penumpang membutuhkan tambahan bisa langsung mengatakannya kepada awak kabin. Baca juga: Airbus A320-214 PK-GQR: Sensasi Free WiFi Perdana di Armada Citilink Meski begitu, bagaimana kecepatan WiFi dalam pesawat milik maskapai hijau tersebut? Koneksi WiFi gratis ini bisa digunakan setelah pesawat lepas landas dan tanda penggunaan sabuk pengaman dipadamkan. Dilansir KabarPenumpang.com dari detik.com yang mencoba menggunakan WiFi dalam penerbangan QG 686 dari Jakarta ke Denapasar. Dari aplikasi speedtest, kecepatan internet dalam pesawat cukup baik dan kapasitas kecepatan untuk mengunduh mencapai 14,2 Mbps dan mengunggah 0,41 Mbps. Membuka berbagai laman website pun koneksinya cukup lancar dan konten tulisan serta gambar cukup mudah dibuka. Sedangkan untuk berkirim pesan singkat melalui aplikasi WhatsApp berjalan dengan lancar. Tak hanya itu melakukan panggilan video pun lancar tanpa hambatan. Meskipun koneksi lancar, suara terdengar jelas, tetapi gambar di video sedikit tersendat pada waktu tertentu. Dalam mengakses video melalui Youtube pun kualitas yang didapat lancar dengan akses 480p. Melakukan streaming pun dengan kualitas segitu hasil yang didapat lancar dan tanpa hambatan. Begitupun dengan layanan video Netflix yang berjalan mulus. Beberapa platform media sosial lainnya pun juga berjalan setara dengan menggunakan jaringan 4G di darat. Penggunaan Instagram dengan mengunggah Instagram storie atau scrolling timeline pun terbilang cepat. Bahkan, main game online cukup lancar. Perlu diperhatikan, bahwa kondisi koneksi internet ini berlangsung saat siang hari dengan cuaca cerah. Kapasitas penumpang juga hanya 50 persen dari total kursi pesawat. Tetapi, di saat-saat tertentu, seperti turbulensi koneksi akan hilang dengan sendirinya. Terpenting adalah penggunaan WiFi hanya dapat dipakai saat pesawat sudah lepas landas dan tidak dalam kondisi take off atau landing. HIngga saat ini diketahui, esawat yang sudah dilengkapi WiFi onboar hanya ada satu yakni tujuan ke Denpasar, Bali. Baca juga: Naik Citilink, Kini Bisa Nikmati WiFi Gratis di Ketinggian 35 Ribu Kaki Padahal anak perusahaan Garuda Indonesia ini hingga akhir tahun 2019 akan menambahkan fasilitas free WiFi onboard di 20 armadanya. namun saat dihubungi KabarPenumpang.com terkait rencana penambahan WiFi onboard, pihak Citilink belum bisa menjawab untuk kelanjutannya.

Juni Mendatang, Grab Akan Hadirkan GrabCar Premium

Naik moda transportasi umum dan merasakan kelas eksekutif bisa menjadi salah satu pilihan menarik bagi penumpang. Kemudian karena ini, Grab mulai mempersiapkan layanan baru dari GrabCar-nya. Pasalnya taksi plat hitam berbasis online itu akan menghadirkan versi eksekutif. Baca juga: Lagi di Uji Coba, Skuter Listrik Grab Bakal Meluncur di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta Versi eksekutif GrabCar ini sendiri akan dinamakan GrabCar Premium. KabarPenumpang.com yang mengutip dari laman detik.com (23/5/2019), penyebutan eksekutif ini sendiri karena ada perbedaan keistimewaan baik dari kendaraan maupun pengemudinya. Grab berencana akan meluncurkan GrabCar versi eksekutif tersebut pada awal Juni mendatang. Layanan ini sendiri memiliki sasaran yang mampu memberikan layanan transportasi terbaik kepada klien dan pelanggannya. “Saya umumkan juga hari ini bahwa kita akan memperkenalkan layanan yang namanya GrabCar Premium yaitu dimulai pada tahun ini. Dan kita akan mulai dulu di beberapa perusahaan yang open, mencoba layanan tersebut,” ungkap Executive Director Grab Indonesia Ongki Kurniawan saat pengumuman layanan terbaru Grab for Business. Dia menambahkan, kelas premium ini akan menggunakan mobil bejenis Innova atau Fortuner dan berangkat dari kebutuhan perusahaan tersebut di beberaoa situasi mereka apakah membutuhkan mobil yang kelas premium. Selain jenis kendaraan yang menyasar kelas atas, GrabCar Premium juga menyediakan pengemudi yang punya keahlian khusus di bidang hospitality. Sementara soal tarif, akan ada penyesuaian dengan layanan yang diberikan. “Kita ada itung-itungannya pastinya kalau dinamakan premium juga trarifnya juga sesuai. Jadi kita sesuaikan dengan layanannya,” lanjutnya. Soal ketersediaan kendaraan, Grab akan menggandeng mitra usaha yang akan menyediakan kendaraan di segmen yang lebih premium seperti Innova atau Fortuner. “Itu nanti punya strategi sendiri. Di awal kita bukan ke individual tapi kita akan ber-partner dengan sejumlah mitra,” jelas Ongki. Baca juga: Grab Gandeng UI untuk Kembangkan Startup, Ternyata Keduluan GoJek Untuk diketahui layanan GrabCar Premium ini merupakan bagian dari Grab for Business bersamaan dengan beberapa layanan lainnya yang juga diperkenalkan Grab seperti GrabGifts, Concierge, GrabExpress, serta katering.

Panik Saat Pesawat Mengudara, Pria Ini Coba Buka Pintu Darurat

Panik saat berada di dalam pesawat yang tengah mengudara? Hal ini bisa terjadi pada siapa saja bukan hanya anak-anak, orang dewasa maupun lansia pun bisa saja mengalami hal tersebut. Namun karena panik tersebut penumpang bisa melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya dan penumpang lain di dalam pesawat. Baca juga: Bikin Panik! Pemuda Ini Berusaha Buka Pintu Darurat Yang Ia Kira Sebagai Pintu Toilet KabarPenumpang.com melansir dari laman mirror.co.uk (23/5/2019), baru-baru ini seorang penumpang paruh baya meminta awak kabin untuk memanggilkan keluarganya. Dirinya saat itu tengah gelisah dan dalam penerbangan Fuzhou Airlines 6509 tujuan ke Kunming di barat daya Cina pada 20 Mei 2019 kemarin. https://youtu.be/hp03PRJc1TQ Petugas keamanan penerbangan bernama Zhao Wenhui mengatakan, pria berusia 50 tahun tersebut meminta bantuan awak kabin 40 menit sebelum mendarat. Dia meminta dipanggilkan keluarganya tetapi kemudian terlihat gelisah karena permintaannya tersebut ditolak oleh awak kabin. Dalam sebuah rekaman video, pria itu berteriak dan membenturkan dirinya ke kursi serta sisi pesawat. Karena tindakannya ini, awak kabin yang dibantu penumpang pesawat lainnya mencoba menahan pria itu untuk tidak berulah. Cao Xinyue, seorang awak kabin mengatakan, pria itu kemudian modar-mandir dan berkata, “Saya ingin parasut!” “Dia terus mengatakan dia ingin memanggil keluarganya. Dia mencoba menelepon di teleponnya tetapi meminta kita melakukannya ketika teleponnya tidak berfungsi,” ujar Xinyue. Penumpang yang ketakutan terdengar berteriak, “Apa yang terjadi?” ketika mereka mencoba menenangkan pria itu. “Sepuluh menit sebelum mendarat ia diduga melompat dari kursinya dan mencoba membuka pintu darurat,” kata maskapai itu dalam sebuah pernyataan. Kelompok itu menahannya hingga pesawat mendarat dengan selamat, setelah itu ia diserahkan ke polisi bandara Kunming. “Dia mencoba mencungkil mataku. Aku lebih tinggi darinya sehingga dia tidak bisa menjangkau, tetapi telinga dan hidungku terluka dan berdarah,” ujar pramugari Lu. Petugas keamanan penerbangan Zhao, yang menghabiskan dua tahun dengan gugus tugas pasukan khusus Cina yang dikenal sebagai Snow Leopard Commando Unit, mengatakan ia memperhatikan penumpang bertindak tidak menentu saat ia naik ke pesawat. Untungnya dalam insiden ini maskapai mengkonfirmasi tidak ada penumpang lain yang terluka. Baca juga: Akibat Kegerahan di Kabin, Pria Ini Tak Sengaja Membuka Pintu Darurat Pria itu, yang menurut polisi tidak sehat, telah dibebaskan tanpa biaya kembali ke perawatan keluarganya, yang telah meminta maaf atas cobaan itu. Namun, tidak jelas apakah ia akan menerima larangan terbang seumur hidup oleh otoritas penerbangan Cina.