Bus Kota di Chennai, Potret Buruk Transportasi di India

Tak satu pun dari 100 bus Volvo ber-AC yang diluncurkan dengan banyak keriuhan pada tahun 2008 silam berjalan di Chennai pada musim panas ini. Hanya sekitar sekitar 50 unit dari bus AC baru ini yang diharapkan dapat mulai beroperasi pada bulan Agustus 2019 mendatang dengan segelintir masalah tender yang baru saja diselesaikan. Rata-rata, setiap bus akan menelan biaya ₹25 lakh (berkisar Rp517 juta) dan biaya akuisisi keseluruhan akan sekitar ₹13 crore (berkisar Rp26,9 miliar). Baca Juga: Chennai Mofussil, Terminal Bus Terbesar dengan Kapasitas 2.000 Bus Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman timesofindia.com (23//5/2019), sebanyak 100 bus bermerk Volvo yang sebagian besar beroperasi di South Chennai sangatlah populer di kalangan penumpang karena ongkosnya yang relatif murah. Tarif dasar bus yang diberlakukan di Chennai berkisar antara ₹15 atau sekitar Rp3.100 ketika masa promosi pasca peluncuran dan harganya naik ke angka ₹25 atau yang berkisar Rp5.100 ketika sudah memasuki harga normal. Menurut data resmi yang diluncurkan oleh operator, dalam satu hari, bus-bus ini bisa mengumpulkan pendapatan ₹15.000 (Rp3,1 juta)hingga ₹18.000 (Rp3,7 juta). Dilatarbelakangi oleh harganya yang murah dan diminati oleh penumpang, maka Metropolitan Transport Corporation (MTC) bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan dan pengalaman penumpang dengan cara meng-upgrade bus-bus tersebut. Dilaporkan, MTC lebih memilih untuk mengganti bus-bus berbiaya murah ini dengan armada baru karena terkendala masalah finansial ketika harus memperpanjang kontrak perawatan tahunan. Layakya bus yang beroperasi setiap hari dan sudah mulai termakan usia, bus-bus yang menjelma menjadi salah satu tulang punggung transportasi di Chennai sana mulai mengalami kemunduran dari segi kelaikan moda – mulai dari panel belakang bus yang tidak tertutup dengan sempurnakarena ada masalah pada sistem pembuangan dan pendinginan hingga masalah operasional lainnya. Kurang dari delapan tahun sejak diluncurkan, lebih dari 80 persen bus-bus ini dinyatakan tidak layak dan hanya segerintil saja yang masih beroperasi hingga tahun 2018 lalu. Baca Juga: Sabotase Sistem Sinyal, Ribuan Penumpang Chennai Metro Rail Limited Terbengkalai Sementara untuk bus baru yang nantnya akan menggantikan primadona penumpang di Chennai ini, para pejabat terkait mengatakan bahwa mereka akan dilengkapi dengan bangku yang lebih luas dan sistem pendinginan yang lebih baik. Pun dari segi operasional, dimana mesin berkekuatan 177HP akan menggantikan pendahulunya yang hanya berkapasitas 160HP. Jadi, kita tunggu saja perkembangan selanjutnya pada bulan Agustus mendatang!  

Pelabuhan Lembar, Pintu Masuk Utama Pelancong di Lombok Barat

Lombok, salah satu pilihan destinasi para pelancong untuk melepaskan penat dari pekerjaan dan sesaknya ibukota. Berada di Nusa Tenggara Barat, untuk sampai ke Lombok tak hanya bisa menggunakan pesawat, tetapi dengan bus yang nantinya menyeberang lain dengan kapal ferry. Baca juga: Pelabuhan Bojonegara, Mungkinkah Jadi “Pesaing” Pelabuhan Ferry Merak? Bila menggunakan kapal ferry, Pelabuhan Lembar menjadi jalur masuk pelancong. Biasanya yang melewati pelabuhan ini pelancong baik domestik maupun mancanegara yang berangkat dari Bali, lantaran salah satu jalur penyeberangan lainnya adalah PePelabuhan Lembar, Pintu Masuk Utama Pelancong di Lombok Baratlabuhan Kayangan di Lombok Timur. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Pelabuhan Lembar berada di Lombok Barat dan jaraknya 20 km dari kota Mataram. Tak hanya melayani kapal ferry, Pelabuhan Lembar juga melayani kapal barang dari wilayah barat dan utara Lombok seperti Makassar dan Balii. Untuk penyeberangan penumpang dengan kapal ferry, Pelabuhan Lembar memiliki dua dermaga dan satu untuk kapal barang. Pelabuhan Lembar sendiri dilengkapi dengan loket 24 jam, musolah dan ruang tunggu yang luas untuk kendaraan yang akan menyeberang. Penyeberangan ke Lombok-Bali dilayani dengan frekuensi keberangkatan satu jam sekali dengan waktu tempuh normal selama 3-4 jam, kadang bisa lebih lama sampai lima jam, tergantung cuaca dan aktivitas bongkar-muat di dermaga. Pelabuhan Lembar sendiri bukanlah pelabuhan baru dan sudah dikenal sejak masa penjajahan Belanda untuk tempat bongkar muat perahu-perahu layar serta tempat berlindung kapal-kapal saat musim barat. Awalnya pelabuhan ini berada di Ampenan, Mataram, tetapi kemudian Pelabuhan Pantai Ampenan dipindah ke daerah Lembar sejak 1977. Tahun 1993, dimana kala itu industri pariwisata NTB tengah berkembang, maka ada kegiatan angkutan penyeberangan cepat dari Lambar menuju Benoa, Bali (PP) menggunakan kapal cepat Hydro Foil dengan rata-rata penumpang per hari seratus orang. Bahkan pada musim tertentu (November-Maret), Pelabuhan Lembar ramai dikunjungi kapal wisata asing dari mancanegara. Ini dikarenakan tunjangan dengan keluarnya kebijakan pemerintah melalui Surat Keputusan Menteri Kehakiman tanggal 30 November 1994 bahwa Pelabuhan Lembar telah ditetapkan sebagai daerah bebas visa kunjungan singkat. Pelabuhan ini dioperasikan oleh PT ASDP dengan 36 kapal yang bersandar dan berlayar di pelabuhan tersebut. Kapal ini pun terdiri dari berbagai jenis kapasitas penumpang mulai dari 200 hingga 400 orang. Berikut ini tarif penumpang hingga golongan kendaraan yang melalui Pelabuhan Lembar. a. Tarif kendaraan roda 4 terdiri dari beberapa 4 jenis golongan : • Golongan IVA : Rp917 ribu(Kendaraan mpv/suv atau sejenisnya). • Golongan IVB : Rp827 ribu (Kendaraan pickup dan sejenisnya). • Golongan VA : Rp1.780.000 (Kendaraan mini bus dan sejenisnya). • Golongan VI : Rp3.010.000 (kendaraan bus/mobil besar dan sejenisnya). b. Tarif kendaraan roda 2 terdiri dari 2 jenis golongan : • Golongan II : Rp129 ribu (kendaraan roda 2 < 250 cc). • Golongan II : Rp250 ribu (kendaraan roda 2 > 250 cc ). c. Tarif penumpang terdiri dari beberapa 2 jenis golongan : • Golongan Dewasa : Rp46 ribu • Golongan anak-anak : Rp29 ribu(diatas 5 tahun). Baca juga: Mengenal Jalur Ferry dan Pelabuhan Tanjung Kapal, Urat Nadi Transportasi di Pulau Rupat Sayang, nama besarnya perlahan akan digantikan pelabuhan internasional yang lebih besar yang tak jauh dari lokasinya saat ini, yaitu Pelabuhan Gili Mas. Setidaknya, Pelabuhan Lembar telah tercatat dalam sejarah sebagai salah satu pelabuhan tertua di Nusantara.

Serupa Kasus Singapore Airlines, Delapan Maskapai AS Akui Tidak Operasikan Kamera di Layar Hiburan

Setelah beberapa waktu yang lalu salah satu penumpang dari Singapore Airlines memaparkan bahwa drinya merasa diawasi oleh kamera yang terletak di layar hiburan seat back, kini para penumpang yang berada di Amerika Serikat (AS) juga harus mempersiapkan diri guna menghadapi kenyataan yang serupa dengan penumpang Singapore Airlines tersebut – dimana eksistensi dari kamera pada layar hiburan bisa saja mengganggu kenyamanan saat mengudara. Baca Juga: Penumpang Keluhkan Ada ‘Kamera Tersembunyi’ di Layar Hiburan Singapore Airlines Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman economist.com (10//5/2019), bagi para penumpang layanan penerbangan Negeri Paman Sam dihimbau untuk tidak kaget apabila melihat ada stiker atau lakban/selotip yang menutupi kamera di layar hiburan. Hadirnya stiker atau benda melekat lain untuk menutupi kamera ini merupakan tindak lanjut dari kemarahan penumpang Singapore Airlines yang telah disebutkan di atas. Ya, berita tentang kamera yang dikhawatirkan akan merekam data pribadi penumpang ini dengan sangat cepat menyebar dan menjadi viral dan penumpang yang merasa tidak nyaman akibat hadirnya kamera ini langsung menutupinya dengan menggunakan benda melekat. Sejurus sesaat pemberitaan ini menyebar, pihak Singapore Airlines tidak menampik bahwa benda yang disangkakan kamera ini memang benar adanya, hanya saja kamera tersebut berada dalam kondisi nonaktif. Kendati beda benua, namun tiga raksasa aviasi Negeri Paman Sam, American Airlines, Delta Airlines, dan United Airlines juga memiliki kamera yang terletak pada posisi yang sama dengan di Singapore Airlines. Sekira bulan Maret 2019 kemarin, dua Senator Amerika menuntut agar delapan maskapai yang beroperasi di bawah bendera Amerika mengungkapkan apakah mereka merupakan maskapai yang mengoperasikan kamera di layar hiburannya atau bukan. Kendati mendapatka tekanan dengan nada yang serupa dengan penumpang Singapore Airlines, namun ke-delapan maskapai ini bersikeras bahwa kendati kamera yang menebarkan teror tersendiri terhadap penumpang, namun mereka tidak pernah mengoperasikannya – apalagi untuk mengambil data penumpang secara ilegal. Baca Juga: Khawatir Identitas Anda ‘Terekam’ oleh Kamera di Layar Hiburan? Tutupi Pakai Plester Luka Saja! Entah apa yang melandasi ketakutan para penumpang yang mengecam hadirnya kamera pada layar hiburan di pesawat – apakah mereka khawatir pihak maskapai akan merekan kegiatannya selama mengudara, atau bahkan yang lebih rumit lagi, mengambil data pribadi dengan metode gabungan Face Recognizing.

Di Tengah Lesunya Pasar, Mulai Juni Citilink Buka Penerbangan Langsung ke Phnom Penh

Phnom Penh, ibu kota Kamboja, sebentar lagi dapat disambangi pelancong Indonesia dengan penerbangan langsung dari Jakarta. Yang melakoni layanan ini adalah maskapai berbiaya hemat (LCC) Citilink. Jika tak ada aral melintang, penerbangan langsung ini akan dimulai perdana pada Juni 2019 mendatang. Baca juga: Kamboja Punya Kereta Bandara yang Unik, Mirip Railbus Batara Kresna di Solo Nantinya anak perusahaan Garuda Indonesia tersebut membuka rute tiga kali seminggu dengan terbang dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju ke Bandara Internasional Phnom Penh. “Rute regional terbaru dari Citilink menuju ke Phnom Penh merupakan peringatan ke 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia dengan Kamboja.” ujar Presiden Direktur Citilink Indonesia, Juliandra Nurtjahjo yang dikutip KabarPenumpang.com dari keterangan tertulis, Selasa (28/5/2019). Peluncuran rute baru ini sendiri dilakukan di Kantor Pariwisata Kamboja di Phnom Penh yang dihadiri oleh Dua Besar Republik Indonesia untuk Kamboja, Sudirman Haseng dan asosiasi pariwisata serta perhotelan Kamboja. “Penerbangan langsung Indonesia-Kamboja kini bukanlah lagi mimpi, namun suatu kenyataan, saya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Indonesia, Kementerian Pariwisata Indonesia, KBRI Phnom Penh, Citilink dan berbagai pihak lainnya atas dukungan dan kerja sama yang baik mewujudkan impian kita bersama,” kata Menteri Pariwisata Kamboja Dr Thong Khon. Adanya penerbangan langsung dari Indonesia menuju Kamboja bukanlah hal mudah dan telah melalui berbagai diskusi sejak awal gagasan ini dicetuskan. Tak hanya itu, bahkan beberapa maskapai penerbangan Indonesia telah mempelajari pangsa pasar Kamboja dan mendapatkan beberapa faktor pasar menjadi kendala utama dalam pewujudan penerbangan langsung. Kedua Pemerintah bersepakat bahwa penerbangan langsung tersebut sangat penting untuk memperluas hubungan kerja sama bilateral di berbagai sektor seperti perdagangan, pariwisata, dan investasi serta meningkatkan people-to-people contacts. Pada penerbangan langsung pada Juni 2019, Citilink sendiri akan mengoperasikan pesawat Airbus A320 dan mampu mengangkut 180 penumpang. Rute Jakarta-Phnom Penh ini merupakan rute internasional baru yang ketiga di tahun ini setelah Surabaya-Kuala Lumpur dan Jakarta-Kuala Lumpur. Citilink juga memiliki penerbangan komersial ke Penang, Dili dan Timor Leste. Vice President of Corporate Strategy Heriyanto menyatakan Citilink adalah premium LCC yang menyajikan makan dan wifi gratis selama penerbangan. KBRI Phnom Penh terus bekerja untuk meyakinkan maskapai penerbangan dari Indonesia untuk membuka penerbangan langsung ke Kamboja. Pada 2018, lebih dari delapan ribu warga Kamboja mengunjungi Indonesia dan lebih dari 55 ribu warga Indonesia berkunjung ke Kamboja. Penerbangan ini juga merupakan sebuah terobosan untuk menyediakan rute yang cepat dan mudah bagi lebih dari 3.500 penduduk Indonesia yang tinggal di Kamboja. Baca juga: Setelah 45 Tahun, Jalur Kereta Api Kamboja-Thailand Dibuka dengan Sejumlah Syarat Dengan pertimbangan di atas, maka tanpa keraguan kedua negara perlu bekerja sama untuk meningkatkan destinasi pariwisata mereka dan memperluas kerja sama demi kepentingan kedua negara. Adanya penerbangan langsung dari Citilink ini, bisa dikatakan melampaui Garuda Indonesia yang memiliki penerbangan tidak langsung menuju ke Phnom Penh (transit melalui Bangkok) serta melakukan code share dengan Bangkok Airways. Bersama Bangkok Airways, Garuda Indonesia melayani penerbangan 4x seminggu ke Phnom Pehn.

“Kurang Puas” dengan Mercedes, Lufthansa Ganti Layanan Shuttle Premium dengan Volkswagen

Sebagai maskapai kelas wahid yang menawarkan layanan full service, sudah sepatutnya para flag carrier dari berbagai negara di seluruh penjuru dunia menaruh perhatian khusus terhadap kepuasan dan kenyamanan setiap penumpangnya. Jangan sampai karena pelayanan yang -sekenanya’, membawa dampak buruk terhadap perkembangan maskapai terkait. Ide dan inovasi harus terus digenjot untuk selalu bisa melahirkan ide-ide brilian yang berimplikasi pada kenyamanan penumpang. Salah satunya yang baru saja mengaplikasikan pemikiran tersebut adalah Deutsche Lufthansa AG atau yang biasa disingkat Lufthansa. Baca Juga: Margin Keuntungan Tipis, Lufthansa Hibahkan Rute Penerbangan Menuju Bangkok Dikutip KabarPenumpang.com dari laman onemileatatime.com (19/5/2019), maskapai terbesar asal Jerman ini sebelumnya menggunakan kendaraan bermerk Mercedes dan Porsche untuk melayani para penumpang First Class mereka – dimana para penumpang akan diantar dari lounge menuju pesawat dengan menggunakan dua mobil super mewah ini. Terlepas dari ada atau tidaknya hubungan kerja sama antara pihak maskapai dan produsen mobil ini, namun kabar terbaru memberitakan bahwa Lufthansa tidak lagi menggunakan mobil bermerk Mercedes dan menggantinya dengan merk Volkswagen. Tentu saja, spekulasi pergantian mobil ini membuat sebagian orang bertanya-tanya, “apa sih yang kira-kira menyebabkan Lufthansa sampai harus mengganti merk Mercedes dengan Volkswagen?”
Maskapai nasional Garuda Indonesia ternyata juga menggunakan Mercedes Sprinter untuk melayani penumpang premiumnya.
Ada dua spekulasi yang berkembang liar di masyarakat – pertama adalah karena Mercedes harusnya menjadi sponsor bagi Lufthansa, namun sudah tidak diperpanjang lagi, dan kedua adalah perkara kerap terjadinya kendala teknis ketika tengah beroperasi mengangkut penumpang. Ya, dikarenakan Mercedes S-Class yang digunakan Lufthansa merupakan kendaraan hybrid, dan dalam beberapa kasus, penumpang sampai-sampai harus keluar dari mobil karena kondisi baterai yang sudah habis. Terlepas isu yang belum bisa ditentukan kebenarannya, pihak Lufthansa mengatakan bahwa mereka akan menambah jumlah Porsche dan mengganti armada Mercedes dengan Volkswagen. Baca Juga: Mercedes Benz Sprinter 315CD: Mewahnya Layanan Shuttle Jakarta – Bandung Mengingat kendaraan khusus untuk mengangkut penumpang spesial, ternyata maskapai plat merah Garuda Indonesia juga pernah mengoperasikan kendaraan khusus, lho! Sebagaimana yang sudah pernah diberitakan sebelumnya, Garuda Indonesia pernah menggunakan Mercedes Sprinter untuk mengangkut penumpang premiumnya dari terminal menuju pesawat. Lebih tepatnya, Mercedes Sprinter yang digunakan Garuda Indonesia ini memiliki jenis yang sama dengan yang digunakan oleh layanan shuttle Jakarta – Bandung, Cititrans.  

Tampilkan Sepasang Gay, Iklan Cathay Pacific Tuai Kontroversi

Sesuatu yang nyeleneh memang dapat dengan cepat mendapatkan perhatian, mulai dari penampilan hingga iklan. Mungkin sebagaian dari Anda masih ingat dengan perkara iklan salah satu maskapai asal Asia Tenggara, AirAsia yang mempublikasian sebuah iklan yang diterjemahkan oleh warganet mengandung isu seksis – padahal ini merupakan cara yang ditempuh pihak AirAsia dalam menyebar-luaskan promo yang kala itu terjadi pada akhir tahun 2017. Baca Juga: Iklan Menjurus Seksis, AirAsia Menuai Kecaman dari Netizen Kali ini ada lagi maskapai yang tersandung kasus-nyaris-serupa adalah flag carrier Hong Kong, Cathay Pacific. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman onemileatatime.com (20/5/2019), beberapa minggu yang lalu Cathay Pacific baru saja merubah slogan mereka dari “Life Well Travelled” menjadi “Move Beyond”. Seperti yang sudah disebutkan di atas, cara nyeleneh merupakan upaya yang bisa dibilang ampuh untuk mendongkrak nilai pamor, dan cara inilah yang dilakukan oleh Cathay Pacific dalam mempromosikan slogan terbarunya ini. Dalam salah satu kampanye iklan, pihak Cathay Pacific menampilkan sepasang gay (homoseksual) yang tengah berjalan di pinggir pantai sembari berpegangan tangan. Tidak hanya itu, Cathay Pacific juga menambahkan tagline ”Move Beyond Labels”. Jika digambarkan lebih mendalam lagi, kedua orang penyuka sesama jenis ini berbalutkan pakaian necis, mengenakan jas, namun bertelanjang kaki. Satu orang di sebelah kiri mengenakan baju warna biru tua, sedangkan yang satunya lagi mengenakan setelan hitam-hitam. Sama seperti di Indonesia, tentu saja iklan yang dilayangkan oleh pihak maskapai ini mengundang kontroversi dan bahkan dilarang untuk tayang di Hong Kong. Pernyataan tersebut diungkapkan oleh surat kabar South China Morning Post, beberapa waktu yang lalu. Bahkan, bisa dibilang ini merupakan satu-satunya iklan dari Cathay Pacific yang tidak ditayangkan dimanapun. Kendati menuai kontroversi, namun pihak Cathay Pacific merasa tidak bersalah karena pihaknya mendukung kesetaraan gender. “Tidak peduli siapa Anda, ketika Anda datang untuk bekerja di Cathay Pacific … kami ingin Anda menjadi diri Anda sendiri dan merasa benar-benar nyaman dan menjadi bagian yang produktif dari tim dan itulah yang kami perjuangkan,” ujar CEO Cathay Pacific, Rupert Hogg. Baca Juga: Blunder Beruntun! Cathay Pacific ‘Diskon’ Hampir 90 Persen Tiket Penerbangan Portugal – Hong Kong Iklan dari Cathay ini memang sejatinya akan menimbulkan polemik yang menyeret berbagai pihak, salah satunya adalah para pelaku LGBT. Bagi negara yang masih memiliki pandangan ‘tertentu’ terhadap para pelaku LGBT, mungkin mereka akan berpikiran negatif tentang adanya iklan ini – berbanding terbalik dengan orang yang memiliki pemikiran terbuka, dimana mereka akan berpikir mengenai hak-hak dari pelaku LGBT ini.

Buntut Kemacetan Parah di Jakarta, PT KAI Terapkan (Lagi) “Berhenti Luar Biasa” untuk 12 KA

Buntut dari pengalihan arus lalu lintas di sekitaran Jalan MH. Thamrin berimbas pada kemacetan parah di Jakarta. Persisnya pada Senin, 27 Mei lalu, banyak warga Jakarta yang mengaku terdampak kemacetan parah hingga berjam-jam lamanya. Merespon hal tersebut, PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 1, kembali melakukan rekayasa operasi kereta api, terlebih dampak kemacetan merembet hingga Jalan Medan Merdeka Timur yang menjadi lokasi Stasiun Gambir. Baca juga: “Berhenti Luar Biasa,” Inilah Kebijakan dari PT KAI Saat Ada Kejadian Khusus Mengantisipasi pengalihan arus lalu lintas selanjutnya, untuk meminimalisir risiko keterlambatan para calon penumpang kereta api (KA) yang terjebak macet dan kesulitan menuju Stasiun Gambir, PT KAI Daop 1 Jakarta kembali memberlakukan kebijakan rekayasa pola operasi Berhenti Luar Biasa (BLB). Rekayasa pola operasi pemberangkatan KA ini akan dilakukan pada Selasa (28/5) mulai pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 12.35 WIB, berlaku mulai keberangkatan KA 10 (Argo Dwipangga) tujuan Solo sampai dengan KA 34 (Argo Parahyangan) tujuan Bandung. Total, ada 12 KA keberangkatan dari Stasiun Gambir, yang akan direkayasa pola operasi pemberangkatannya. “Ke-12 KA ini tetap akan berangkat dari Gambir sesuai jadwal, namun khusus hari ini ada penyesuaian pola operasi, yaitu bila biasanya KA yang berangkat dari Stasiun Gambir tidak berhenti di Stasiun Jatinegara, hari ini akan berhenti di Stasiun Jatinegara untuk proses naik-turun penumpang,” ucap Eva Chairunisa, Senior Manager Humas Daop 1 Jakarta yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers yang diterima, Selasa (28/5/2019). Berikut daftar nama-nama kereta api yang memberlakukan rekayasa pola operasi pemberangkatan Stasiun Gambir yang berhenti juga di Stasiun Jatinegara untuk proses naik penumpang. Rekayasa pola operasi ini dilakukan sebagai langkah antisipasi agar calon penumpang KA tidak tertinggal KA. Untuk itu, PT KAI Daop 1 Jakarta menghimbau agar calon penumpang dapat memperkirakan waktu perjalanannya menuju stasiun dengan jadwal keberangkatan KA. Namun perlu diketahui bahwa di Stasiun Jatinegara tidak disediakan loket pembelian tiket KA. Baca juga: Sambut Mudik Lebaran, PT KAI Luncurkan Kereta Sleeper “Luxury 2” Generasi Baru “Kami sudah menyiagakan petugas untuk membantu pelayanan penumpang di Stasiun Jatinegara dan mengingatkan kembali agar calon penumpang memastikan nama yang tertera pada tiket/kode booking sesuai dengan nama yang tertera pada kartu identitas,” tutup Eva.

Bandara Schiphol Sandang Predikat WeChat Pay Smart Airport

Bandara Schiphol yang berada di Amsterdam, Belanda dikabarkkan telah menjadi bandara pertama di Eropa yang menyandang status sebagai WeChat Pay Smart Airport. Ya, sebagaimana yang kita ketahui bersama, WeChat merupakan salah satu platform media sosial asal Negeri Tirai Bambu yang tengah naik naik daun. Dengan menyandang status tersebut, kelak penumpang akan merasakan dua fitur anyar, WeChat Mini Program dan WeChat Pay di bandara yang terletak 9 km sebelah barat daya dari Amsterdam ini. Baca Juga: Cina Adaptasi Sistem Pembayaran Tiket Kereta Bawah Via Smartphone Android Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman dfnionline.com (23/4/2019), pengenalan WeChat Mini Program ini akan memberikan pengguna aplikasi tersebut akses informasi terkait bandara secara praktis, mencakup layanan belanja berbagai macam produk, mulai dari kecantikan, mode, jam tangan, perhiasan, hingga buah tangan khas Negeri Kincir Angin. Tidak berhenti sampai di situ saja, para pengguna juga bisa memesannya terlebih dahulu hingga melakukan pembayaran dimuka dengan menggunakan fitur WeChat Pay. Zona pengalaman yang coba ditargetkan WeChat ternyata tidak hanya sebatas berada di dalam bandara saja, melainkan di luar bandara, aplikasi yang dikembangkan oleh Tencent ini juga memungkinkan para pelancong dan pedagang yang berdomisili di Tiongkok untuk siap menerima pembayaran via WeChat Pay. Di tahun 2018, Bandara Schiphol Amsterdam mencatat ada sekitar 500.000 penumpang yang berdomisili di Cina dan angka tersebut bisa dibilang cukup tinggi. Menanggapi hal ini, Direktur Produk & Layanan Konsumen Tanja Dik mengatakan, “untuk memenuhi kebutuhan penumpang kami, kami berinvestasi dalam pengembangan dan implementasi konsep-konsep baru dengan fokus pada kenyamanan dan pengalaman pelanggan,” Tanja Dik juga tidak menampik bahwa kemitraan yang terjalin di antara dua perusahaan beda benua ini patut untuk dibanggakan – terlebih predikat baru yang disandang oleh Bandara Internasional Schiphol. Baca Juga: Di Bandara Schiphol, Calon Penumpang Bisa Pesan Makanan Online Yang Diantar via Kurir “Sebagai hasil dari kemitraan ini, kami memberi penumpang yang berdomisili di Cina layanan perjalanan yang mulus dan pengalaman berbelanja yang disesuaikan melalui Program Mininya, seolah-olah mereka berada di Tiongkok,” terangnya. Di lain pihak, Direktur Senior WeChatPay, Dave Fan meyebutkan bahwa pihaknya akan memperdalam smart solution yang coba dikemas di dalam WeChat Pay. “Kami akan membawa inovasi Cina ke seluruh dunia, dan ini memungkinkan wisatawan Tiongkok untuk bepergian ke luar negeri dan menikmati gaya hidup cerdas,” ujar Dave.  

Pelabuhan Jangkar Situbondo, Kondang Berkat Keberadaan Ojek Gendong!

Jawa Timur tak hanya punya Pelabuhan Ketapang ataupun Tanjung Perak, tetapi di Situbondo juga ada pelabuhan yang cukup terkenal dan memiliki keunikan dari yang lainnya. Ya, namanya Pelabuhan Jangkar yang menjadi pelabuhan utama dan tradisional di masa sekarang ini. Baca juga: Ojek Gendong, Kerap Mendapat Cibiran Meski Kadang Dibutuhkan Letaknya sekitar 35 km arah timur kota Situbondo dan berada di kecamatan Asembagus. Seperti yang sudah KabarPenumpang.com katakan diawal, Pelabuhan Jangkar memiliki keunikan yakni ojek gendongnya. Biasanya ojek gendong ini selalu menjadi pusat perhatian pemudik dikala musim Lebaran tiba. Dirangkum dari berbagai laman sumber kapal yang bersandar dan berangkat dari Pelabuhan Jangkar tak hanya kapal ferry, tetapi kapal kayu jenis Kapal Layar Motor (KLM) tujuan Pulau Raas, Sapudi, Kangean dan Kalianget yang merupakan Kabupaten di Pulau Madura. Naiknya lonjakan penumpang yang mengguakan KLM, warga Pelabuhan Jangkar mendapat berkah sendiri apalagi penyedia jasa ojek gendong. Pasalnya para penyedia jasa ojek gendong ini siap menggendong para pemudik dan bawaannya dari tepi pantai menuju perahu kecil yang disebut tambangan sejauh 30 meter dari bibir pantai. Setelah dari kapal kecil, para pemudik akan diantar ke KLM yang berada di perairan dalam, dan selanjutkan KLM membawa penumpang ke beberapa tujuan tersebut. Mengapa harus naik ojek gendong? Sebab pemudik akan basah dan barang bawaan mereka pun terancam basah air laut. Ternyata bukan hanya orang dan barang bawaan mereka seperti tas, tetapi sepeda motor pun juga ikut digendong. Karena tak mau basah inilah yang membuat penumpang KLM menyewa jasa ojek gendong. Tarif sekali naik ojek gendong ini pun tak mahal yakni sekitar Rp5 ribu, tetapi banyak juga penumpang yang memberikan lebih pada penyedia jasa sebagai tip tambahan membawa barang mereka. Selain menjadi tempat bersandar dan berangkatnya kapal ferry, pelabuhan ini ternyata diminati masyarakat sekitar bukan hanya untuk mencari nafkah tetapi hiburan diri. Dimana masyarakat sekitar bisa menikmati hobi mereka seperti memancing, berjalan santai di pantai menunggu matahari terbenam hingga berenang. Sebagai tempat ngabuburit atau waktu menunggu berbuka pun, Pelabuhan Jangkar juga cukup diminati. Meski begitu pada tahun 2012 silam, Pelabuhan Jangkar sempat ditutup dan tidak beroperasi selama enam hari. Baca juga: Pelabuhan Srengsem, Aset PT KAI Tempat Sejenak Melepas Penat Hal ini dikarenakan cuaca di tengah Selat Madura sedang tidak kondusif. Namun kembali buka setelah cuaca dipastikan normal dan kapal ferry maupun KLM bisa kembali beroperasi secara lancar. Satu hal lagi, dulunya penumpang yang naik kapal kayu sebelum ke KLM tidak mengenakan pelampung, tetapi kini kapal kayu melengkapi dengan pelampung untuk keamanan penumpang.

Airbus Rayakan Ulang Tahun ‘Emas,’ Digdaya Hampir di Semua Lini

Pada tahun ini, produsen pesawat asal Eropa, Airbus akan merayakan hari jadinya yang ke-50, yakni bertepatan dengan 50 tahun peluncuran pesawat Airbus pada Mei 1969. Dari sejumlah tanda tangan pada MOU yang terjadi selama perusahaan ini berdiri, Airbus telah berkembang menjadi pusat produksi yang menjual berbagai pesawat komersial, helikopter, hingga peralatan pertahanan dan ruang angkasa, menjadikan Airbus menjadi salah satu roda bisnis terbesar di Eropa. Baca Juga: ‘Curi’ Pasar Boeing, Airbus Genjot Produksi A321XLR Pada tahun 1969 silam, pabrikan pesawat asal Eropa ini sukses ditaklukkan oleh pabrikan pesawat asal Negeri Paman Sam – Boeing, Lockheed dan McDonnell Douglas. Dalam momen kerja sama yang tampaknya mustahil untuk dilakukan hari ini, Jerman dan Prancis bersama-sama menandatangani kemitraan baru untuk bersama-sama mengembangkan pabrikan pesawat baru yang disebut Airbus – dan semua karir Airbus dimulai dari sana. Diantara sekian banyak varian pesawat yang sudah dirancang oleh Airbus, ternyata varian A320-lah yang keluar sebagai pesawat Airbus yang ‘laku keras’ di pasar. Ini tercatat dari buku kas perusahaan yang mengatakan bahwa 78 persen pesanan yang masuk ke perusahaan pada tahun 2018 lalu adalah A320. Ya, seperti yang sudak diketahui bersama, armada A320 identik dengan penerbangan regional jarak pendek – menengah. Namun setelah dilakukan upgrade terhadapnya, maka kini Airbus A320 sudah bisa melakoni perjalanan jarak jauh sekalipun. Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (23/5/2019), di tahun 2019 ini, Airbus mengirimkan pesawat ke-12.000nya ke maskapai asal Amerika, Delta Air. Tentu saja, merakit 12.000 unit pesawat dalam rentang waktu 50 tahun bukanlah perkara mudah dan sudah seyogyanya mendapatkan predikat sebagai sebuah lompatan besar bagi Airbus.
Jenis pesawat yang pernah dirakit Airbus. Sumber: Airbus
Namun sesungguhnya, yang paling fenomenal dari Airbus adalah gelar pesawat jet penumpang terbesar di dunia yang hingga saat ini masih disandang oleh A380 – kendati perusahaan sudah mengisyaratkan untuk menghentikan produksiannya. Pertama kali mengudara pada 27 April 2005 dan dua tahun berselang mulai melakukan operasi perdananya bersama Singapore Airlines – tepatnya pada 25 Oktober 2007. Baca Juga: Dinilai Kurang Efisien, Akankah Airbus A380 Berjaya 20 Tahun Mendatang? Apabila di tanya, “seperti apa masa depan dari Airbus?” maka sesungguhnya tidak ada yang bisa menentukan nasib dari produksian pesawat ini. Kondisi perusahaan yang terus mengalami fluktuasi menjadi penanda bahwa perusahaan ini benar-benar hidup dan seolah enggan menyerahkan ceruk pasarnya kepada rival abadinya, Boeing. Tersandungnya nama Boeing akibat dua kecelakaan maut yang melibatkan maskapai Lion Air dan Ethiopian Airlines beberapa waktu yang lalu seolah jadi momentum yang sangat berharga bagi Airbus untuk membanjiri ‘buku pesanannya’.