Seorang Penumpang Truk Tewas Terkena Sebilah Rotor Helikopter yang Lepas
Satu orang penumpang truk tewas setelah tersambar sebilah rotor (baling-baling) helikopter yang terlepas. Pria berusia 72 tahun tersebut bernama Deodat Gangapersaud yang tengah berada didalam truk di 50th Palm River Street bersama anaknya Ryan Persaud.
Baca juga: Tiba-Tiba Pilot Pingsan, Untungnya Penumpang Wanita Ini Berhasil Daratkan Helikopter
KabarPenumpang.com melansir dari laman ocala.com (4/4/2019), menurut kantor Sheriff Hillsborough County, sebuah helikopter mengalami kegagalan mesin katastropik dan melakukan pendaratan keras di jalan sebelum pukul 02.30 pagi waktu setempat. Bryan Messick yang mengemudikan helikopter dan Joshua Wells yang merupakan kopilot dari helikopter tersebut.
Setelah pendaratan yang sulit itu, ternyata salah satu bilah rotor terlepas dan menabrak sebuah truk pick-up Chevrolet Silverado. Di dalamnya ada sepasang bapak dan anak yang terkena tebasan rotor tersebut.
Sayangnya sang ayah, Deodat harus tewas ditempat karena menderita luka yang fatal dan Ryan hanya menderita luka ringan. Keduanya dibawa ke Rumah Sakit Umum Tampa.
“Anda bisa mulai mendengar mata pisau. Saya berbalik dan melihat helikopter sekitar 20 kaki di atas udara. Ia mencoba menabrak tanah di rerumputan itu. Tetapi, kemudian ia terus meluncur dan meluncur sampai menabrak tiang itu di sana dan memotongnya menjadi dua. Itu sangat menakutkan. Itu sangat dekat. Itu bisa saja kami,” kata saksi Alejandor Bou-Colon.
Menurut para deputi, kedua penerbang helikopter tersebut merupakan pilot terlatih dan baru-baru ini melakukan sebuah pelayanan. Helikopter tersebut tengah dalam perjalanan ke Sarasota sebelum kejadian nahas tersebut terjadi. Dan Boogs, dari National Transportation Safety Board (NTSB) atau Badan Keselamatan Transportasi Nasional mengatakan bila helikopter itu baru.
“Ini baru berumur beberapa bulan. Kami akan melakukan penyelidikan lengkap dan penuh,” kata Boggs.
Pilot mengatakan kepada penyelidik bahwa ia mengalami kerusakan mesin yang sangat besar.
“Pilot melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Dia datang dengan rotasi otomatis yang berarti dia menggunakan gravitasi untuk memastikan baling-baling rotor berputar cukup cepat. ku melihat video pengawasan ada sebuah truk di bawahnya. Dia memastikan dia tidak mendarat di truk, dia mengapungkannya sekuat mungkin hingga truk itu lewat jika ini di atas rumput, dia mungkin akan berhenti tepat di tempat dia mendarat. Dia benar-benar melakukan pekerjaan terbaik yang dapat Anda lakukan dalam situasi itu,” kata Boggs.
Baca juga: Pertengahan 2019 Penumpang Kelas Bisnis Garuda Indonesia Bisa Lanjutkan Perjalanan via Helikopter
Helikopter tersebut bertipe Robinson R-44 dengan nomor ekor N4046J. Pelacakan FlightAware menunjukkan jalur yang diambil helikopter dan ke mana jatuhnya. NTSB berharap untuk merilis laporan awal dari temuan mereka dalam beberapa minggu. Diperlukan waktu setidaknya 18 bulan untuk laporan akhir mereka.
Fisikawan dari Utah Berhasil Minimalisir ‘Gemuruh’ Toilet Pesawat Hingga 50 Persen!
Toilet pesawat bisa saja menjadi satu hal yang mengerikan. Ketika Anda telah selesai menggunakannya, Anda pasti akan mendengar suara seperti gemuruh yang kencang, seolah toilet tersebut akan menyedot Anda beserta kotoran yang sudah dibuang sebelumnya. Nah, bagi Anda yang sering merasa ketakutan akibat suara dari sistem flush ini, beruntung karena seorang fisikawan dari Universitas Birmingham Young di Utah telah berhasil mereduksi suara bising yang dihasilkan oleh sistem flush tersebut.
Baca Juga: Sebelum Seperti Sekarang, Dulu Toilet Pesawat Gunakan Ember untuk Tampung Limbah Penumpang
Tidak tanggung-tanggung, suara yang berhasil direduksi tersebut mencapai angka 50 persen atau yang berarti setengah dari yang dihasilkan sekarang ini. Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (5/4/2019), adalah Prof. Kent Gee yang memimpin kelompok pengembangan sistem flush di toilet pesawat ini. Alih-alih menggunakan air seminimal mungkin, toilet pesawat biasanya akan menggunakan sistem vakum untuk menghisap semua udara dan kotoran yang kecepatannya hampir menyentuh setengah dari kecepatan suara (483 km/jam).
Prof. Kent Gee mengatakan bahwa setiap hambatan yang menghalangi aliran kotoran tersebutlah yang menyebabkan suara bising, sehingga ia bersama kelompoknya berusaha untuk menghilangkan hambatan tersebut dengan cara menambahkan pipa yang menambahkan jarak antara mangkuk toilet dan katup flush.
Ketika dipasang di toilet yang ada di pesawat, temuan Prof. Kent Gee ini dikabarkan telah mengurangi kebisingan yang dihasilkan secara aeroacoustically hingga 16 desibel ketika katup fluch mulai terbuka dan lima hingga 10 desibel ketika katup sepenuhnya terbuka.
Untuk masalah pemasangan, Prof. Kent Gee juga mengatakan tidak terlalu rumit, karena ia hanya perlu melepas pipa siku sementara mangkuk toilet dan klep tetaplah terpasang.
Teknologi yang tengah dikomersilkan dengan bantuan para mitra industri ini sendiri diklaim Prof. Kent Gee juga dapat digunakan di kapalpesiar, kereta api, atau bahkan bangunan ramah lingkungan dimana penggunaan air sangatlah diminimalisasi.
Baca Juga: Setiap Pintu Toilet di Kabin Pesawat Ternyata Punya “Kunci Rahasia”
“Maskapai-maskapai dan perusahaan lain yang terkait dengan sektor aviasi global selalu memiliki standar untuk kebisingan toilet, tetapi mereka tidak pernah memenuhi standar tersebut dan tidak pernah mendapatkan banyak tekanan untuk segera memenuhi standar tersebut,” ujar mitra penelitian, Prof. Scott Sommerfeldt.
“Sekarang dengan berkurangnya tingkat kebisingan kabin, suara pembilasan toilet bisa lebih terdengar,” tandasnya.
Oliver, Bocah Laki-Laki yang Buat Penumpang Tersenyum Selama Penerbangan
Punya anak yang lucu dan menggemaskan pastinya membuat seorang ibu bangga dan bahagia. Apalagi ketika anak itu mampu mengekspresikan diri dan mau berinteraksi dengan orang lain tanpa malu memperkenalkan dirinya.
Baca juga: Alami Kelainan Genetika, Ibu dan Balitanya ‘Diusir’ dari Penerbangan American Airlines
Ini terjadi pada seorang bocah laki-laki yang tengah berada dalam sebuah pesawat bersama ibunya. Bocah bernama Oliver ini berusia tiga tahun dan mulai memperkenalkan dirinya kepada para penumpang.
Dia menyusuri lorong kabin bersama ibunya yang mengikuti dari belakang. Sembari Oliver memperkenalkan diri pada penumpang, ibunya yang mengikuti dari belakang merekam setiap hal yang dilakukan pria kecil ini.
Bisa dikatakan pada penerbangan 23 Maret 2019 kemarin mencerahkan hari penumpang dengan kelakuan menggemaskan Oliver dalam pesawat milik Maskapai Southwest Airlines dari Tampa di Florida menuju ke Raleigh di North Carolina.
Ibunya menuliskan sebuah caption di media sosial, “Dia berlari ke taman bermain dan dengan gembira berseru, ‘Halo teman-temanku’ kepada orang-orang secara acak. Dia memulai percakapan penuh dengan orang asing di mana pun kita pergi.”
Bahkan ibunya berkata bahwa dirinya sangat beruntung memiliki Oliver, sebab kebanyakan orang yang berinterakasi dengannya terlihat senang dan ceria.
“Orang sering memberi tahu saya dia adalah anak paling bahagia yang pernah mereka temui dan saya sepenuhnya setuju. Saya ibu yang sangat beruntung Dia suka membuat orang tertawa dan tersenyum setiap kesempatan yang dia dapatkan dan ini hanya hari biasa dengan Oliver,” ujar ibu Oliver.
Namun hal ini berbanding terbalik, saat seorang ibu bernama Jordan Flake yang tengah bersama buah hatinya berusia 12 bulan yang mengidap penyakit Ichthyosis, sebuah kelainan genetik yang mempengaruhi kemampuan kulit untuk melepaskan sel-sel kulit mati, menyebabkan kulit menjadi kering, tebal, dan bersisik. Keduanya diusir dari penerbangan American Airlines karena penyakitnya.
Penyakit ini sendiri bisa dibilang penyakit yang sangat langka, dan ketika sang pramugari tersebut menanyakan kepada Jordan Flake apakah ia membawa surat rujukan dari dokter yang mengijinkan ia untuk bepergian, namun Jordan Flake tidak dapat menunjukkan itu. Pihak maskapai mengatakan bahwa mereka tidak bisa mengembalikan barang bawaan mereka sebelum lepas landas.
Baca juga: Bayi Tertinggal di Ruang Boarding, Ibu Panik dan Pesawat Terpaksa “Return to Base”
Dari situ, Jordan Flake mendapatkan saran dari pramugari untuk membeli produk krim kulit dan pakaian baru karena ia beserta anaknya harus menginap di hotel selama satu malam sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan pada keesokan harinya. Dengan kata lain, pramugari yang identitasnya tidak dibongkar tersebut sudah mengusir Jordan Flake beserta anaknya dari penerbangan American Airlines.
Lion Air Resmi Buka Penerbangan Non Stop Yogyakarta – Samarinda
Maskapai Lion Air mulai hari ini, 5 April 2019 secara resmi membuka penerbangan perdana rute baru non-stop Samarinda ke Yogyakarta pergi pulang (PP) yang memiliki frekuensi satu kali setiap hari. Penerbangan perdana hari ini dibuka dengan Lion Air nomor penerbangan JT-869 yang lepas landas tepat waktu (on time) dari Bandar Udara Internasional Aji Pangeran Tumenggung Pranoto, Samarinda, Kalimantan Timur (AAP) pukul 11.50 WITA dan mendarat dengan sempurna di Bandar Udara Internasional Adisutjipto, Yogyakarta (JOG) pukul 12.35 WIB.
Baca juga: Hiiii! Ada Kalajengking di Penerbangan Lion Air Pekanbaru – Jakarta
Untuk rute sebaliknya, Lion Air nomor JT-868 berangkat tepat waktu dari Yogyakarta pukul 13.10 WIB dan memiliki jadwal kedatangan pada 16.00 WITA di Samarinda.
Penerbangan perdana hari ini, Lion Air mengoperasikan pesawat terbaru Boeing 737-900ER registrasi PK-LPY. Dalam menggugah minat jalan-jalan tujuan Yogyakarta dan Samarinda, Lion Air menawarkan pengalaman terbang dengan armada Boeing 737-800NG (189 kursi kelas ekonomi) dan Boeing 737-900ER (215 kursi kelas ekonomi).
Inaugural flight diresmikan dengan pengguntingan pita oleh Direktur Operasi Lion Air, Capt. I Putu Wijaya; Kepala Bandar Udara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto (APT Pranoto) Samarinda, Dodi Darma Cahyadi; District Manager Lion Air Group Kalimantan Timur, Achmad Affandi; Station Manager Lion Air Group Samarinda, Nasrul beserta tim Lion Air Group Samarinda. Pelepasan penerbangan perdana juga dilakukan pemberian manik-manik berbentuk kalung khas lokal kepada pilot dan satu awak kabin serta beberapa penumpang pertama.
Rute Samarinda ke Jogja mempunyai target tingkat keterisian penumpang (load factor) berkisar 70%-80%, diharapkan bisa menawarkan nilai lebih bagi travelers dalam bepergian. Dari berbagai kota dapat singgah terlebih dahulu (transit) atau dengan menghabiskan waktu di Jogja, kemudian bisa meneruskan perjalanan ke Samarinda.
Baca juga: Mulai 11 Januari, Lion Air Buka Penerbangan Balikpapan – Majalengka
Terkait dengan ketentuan barang bawaan ke kabin (hand carry), aturan yang berlaku yaitu setiap pelanggan (kecuali bayi), diperbolehkan membawa satu bagasi kabin (cabin baggage) dengan maksimum berat 7 kg dan satu barang pribadi (personal item) seperti tas laptop/ perlengkapan bayi/ bahan membaca/ kamera/ tas jinjing wanita (hand luggage).
Ilmuwan AS Temukan Teknologi Penangkal Teror Sinar Laser pada Kaca Kokpit
Mungkin Anda masih ingat dengan teror sinar laser yang terjadi di Makassar pada bulan Juli 2017 silam? Ya, penggunaan sinar laser di area sekitar bandara memang sangat membahayakan karena ini bisa saja membutakan pilot secara temporer untuk sepersekian detik – dikhawatirkan pilot menjadi tidak fokus ketika mendekati waktu touch down dan terjadilah kecelakaan. Namun kejadian seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, dan pelarangan penggunaan sinar laser disekitar bandara sudah dilarang di sejumlah negara di berbagai penjuru dunia.
Baca Juga: Green Laser Pointer 303, Teror Baru Untuk Dunia Aviasi
Selain memberikan hukuman pada oknum-oknum yang sengaja memainkan sinar laser di sekitaran bandara, sejumlah ilmuwan juga tengah berkutat guna mencari jalan keluar dari problematika ini. Ketika sebelumnya sejumlah ilmuwan sudah mengembangkan sebuah lapisan yang bisa menanggulangi sinar laser, namun pengembangannya tidak berjalan mulus karena ditemukannya beberapa sinar laser yang masih bisa menembus lapisan tersebut.
Pengembangan pun terus berlanjut, dimana sebuah tim dari University Lewis yang ada di Illinois berhasil menemukan jawaban untuk masalah ini. KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (2/4/2019), adalah MBBA yang merupakan singkatan dari N- (4-methoxybenzylidene) -4-butylaniline dimana larutan kristal cair ini dipercaya dapat menangkal berbagai jenis sinar laser.
Dalam uji laboratorium dan untuk pengaplikasiannya kelak, larutan kristal cair ini ditempatkan di antara dua panel kaca ruang kokpit. Dr. Jason Keleher yang memimpin pengembangan larutan kristal cair ini mengatakan bahwa apa yang telah ditemukan oleh timnya tersebut mampu menangkal 95 persen sinar laser berwarna merah, hijau, dan biru.
Baca Juga: Balon Udara, Teror Si Bulat Warna-Warni Untuk Dunia Aviasi
Sebagian fungsi dari MBBA akan menyebarkan sinar laser, sebagian lainnya akan menyerap, dan sisanya akan ‘dihadang’ dengan cara polarisasi silang.
Kendati sudah menemukan solusi dari masalah ini, namun Dr. Jason Keleher masih melakukan sejumlah penyempurnaan sebelum akhirnya bisa diaplikasikan pada pesawat-pesawat komersial – sebut saja mereka tengah meningkatkan ukuran dari inovasi ini sehingga bisa memiliki ukuran sebesar kaca depan pesawat. Selain itu, Dr. Jason Keleher berserta timnya juga tengah mencoba berbagai larutan kristal yang mungkin akan menawarkan kinerja yang lebih baik.
Bertandang ke Batam, Airbus Mau Investasi?
Garuda Indonesia Group dan Airbus sudah menjadi mitra sejak tahun 1979 lalu. Kini bahkan Airbus telah menunjuk PT Garuda Maintenance Facility (GMF) sebagai penyedia layanan perbaikan beberapa komponen pesawat yang diproduksinya.
Baca juga: Setelah Terbang 19 Jam dari Toulouse, Airbus A320CEO Ke-42 Batik Air Telah Tiba di Indonesia
Hal tersebut terbukti dengan adanya pesanan pesawat sebanyak 300 armada dan 120 diantaranya sudah beroperasi. Melalui kesepakatan ini, Air GMF dapat membantu maskapai operator A320 dan A330 di Indonesia dan Asia Tenggara langsung dari fasilitas perawatan milik GMF di Jakarta.
Adanya kerja sama ini pun membuat produsen pesawat asal Toulouse, Perancis tersebut memiliki niat untuk berinvestasi di Batam, Kepulauan Riau. Airbus kemudian membidik Hang Nadim, untuk menjadi kawasan investasi di sektor logistik.
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber medcom.id (4/4/2019), demi hal ini pihak Perancis sendiri mengutus tim teknis untuk melihat langsung potensi kawasan Bandara Hang Nadim Batam. Kepala Badan Pengusaha (BP) Batam, Edy Putra Irawady mengatakan ada sebelas diplomat yang berkunjung ke lembaganya di Gedung IT Center BP Batam. Kamis (4/4/2019) kemarin.
Edy mengatakan, kehadiran beberapa diplomat tersebut untuk melihat pengembangan kawasan Bandara Hang Nadim yang menjadi salah satu proyeksi investasi di Batam karena akan dikembangkan sebagai kawasan investasi aero logistik seperti transportasi, kargo dan logistik.
“Batam akan kita kembangkan sebagai pusat logistik. Dan Perancis salah satu investor yang berminat menanamkan investasinya di sektor jasa tersebut,” ungkap Edy.
Dia mengakui para diplomat yang mengunjungi Batam tersebut beberapa sudah mengajukan penawaran dalam pengembangan Hang Nadim sebagai logistic aerocity atau pusat logistik udara. Salah satunya adalah Prancis yakni Airbus dan Jerman serta Swiss. Edy menambahkan, tak hanya di sektor pengembangan bandara, tetapi beberapa diplomat tertarik dalam pengembangan sektor pariwisata Batam salah satunya adalah Rusia.
“Rusia tertarik menanamkan investasinya di sektor pariwisata. Sebagai wilayah kepulauan, kita memiliki sekitar tujuh pulau sekitar Batam yang juga memiliki potensi dikembangkan sebagai kawasan wisata,” ujarnya.
Baca juga: Airbus Berikan Dukungan ‘Penuh’ Pada Maskapai yang Masih Operasikan A380
Untuk hal ini sendiri, Edy mengatakan bahwa Rusia berminat untuk mendatangkan kapal pesiarnya ke Batam. Sebaliknya Edy mengatakan, pihaknya juga akan hadir di Rusia untuk mempromosikan Batam agar bisa mengajak pelancong Rusia datang mengunjungi Batam.
Akhirnya! Boeing Akui Adanya Kesalahan Sistem pada Boeing 737 MAX 8
Setelah menjadi headline di sejumlah media, akhirnya Boeing mengaku bahwa adanya kesalahan pada sistem pesawat 737 MAX 8. Perusahaan mengakui bahwa kesalahan sistem tersebut berkontribusi pada dua kecelakaan pesawat dalam rentang waktu lima bulan – Lion Air di Tanjung Karawang pada Oktober 2018 silam dan Ethiopian Airlines di Addis Ababa pada Maret kemarin. Melalui CEO Boeing, Dennis Muilenburg mewakili perusahaan yang ditungganginya meminta maaf atas dua kecelakaan yang menewaskan ratusan penumpang tersebut.
Baca Juga: Terkait Pembatalan Pesanan 737 MAX 8, Petinggi Boeing Sambangi Garuda Indonesia Hari Ini
“Kami di Boeing menyesal atas nyawa yang hilang dalam kecelakaan 737 baru-baru ini dan tanpa henti fokus pada keselamatan untuk memastikan tragedi seperti ini tidak pernah terjadi lagi,” ujar Dennis dalam sosial media Twitter pribadi miliknya, Kamis (4/4/2019).
Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, untuk pertama kalinya Dennis mengakui bahwa dalam situasi darurat tertentu, Maneuver Characteristics Augmentation System (MCAS) dapat menyebabkanpilot kehilangan kendali atas sebuah pesawat sebagai respons terhadap data yang salah dari sensor eksternal pesawat.
MCAS atau sistem anti-stall bekerja lewat sensor yang terpasang pada hidung pesawat. Saat posisi hidung pesawat terlalu mendongak jauh ke atas, maka sistem MCAS ini akan memanipulasi ekor pesawat untuk menjaga level ketinggian pesawat dan mencegah stall.
Namun, para penyelidik dan pengungkap fakta Boeing mengklaim bahwa sensor tersebut dapat memberikan pembacaan yang salah. Akhirnya, sistem itu justru membuat hidung pesawat menukik tajam ke bawah atau dalam artian lain pilot tak bisa mengendalikan pesawat seperti kasus yang terjadi pada Ethiopian Airlines.
Pernyataan dari Dennis ini datang pada hari yang sama dimana para penyelidik kecelakaan Ethiopian Airlines mengatakan bahwa awak penerbang Ethiopian Airlines dengan nomor penerbangan ET302 telah melakukan semua prosedur yang dianjurkan oleh Boeing, namun tetap tidak bisa mengendalikan pesawat nahas tersebut.
Sebenarnya, para penyelidik sudah lama mencurigai adanya kerusakan pada sistem Boeing 737 MAX 8 yang berperan dalam kedua kecelakaan tersebut. Penyelidik mengatakan bahwa ada kesamaan yang jelas antara kedua kecelakaan tersebut – dan dugaan para penyelidik tersebut diamini oleh pihak Boeing.
Baca Juga: Pasca Grounded Massal, Boeing 737 MAX 8 Masih Saja Bermasalah, Southwest Flight 8701 Mendarat Darurat
Sementara itu, beberapa waktu ke belakang Boeing sempat mengumpulkan ratusan pilot dan regulator penerbangan dari berbagai penjuru dunia guna bertukar informasi mengenai pembaruan sistem, dimana, “pembaruan ini, bersamaan dengan pemberian pelatihan dan materi pendidikan tambahan yang diinginkan pilot setelah terjadinya insiden kecelakaan. Harapannya, hal itu bisa menghilangkan kemungkinan aktivasi MCAS yang tak diinginkan dan mencegah kecelakaan akibat MCAS tak terulang lagi,” terangnya.
Tarif LRT Jakarta Flat Rp5 Ribu, Lalu Kapan Beroperasinya?
Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta sudah mulai mengular di ibukota dan bagaimana nasib saudaranya yakni Light Rail Transit (LRT) Jakarta sendiri? Ternyata sebagai salah satu moda transportasi massal yang akan menjadi unggulan ibukota, LRT belum memulai pengoperasiannya.
Baca juga: LRT Jakarta Siap Beroperasi, Inilah Kisaran Tarifnya!
Padahal tarif untuk perjalanan LRT Jakarta sendiri sudah ditetapkan yakni Rp5 ribu flat atau bisa dikatakan penumpang yang naik dari Stasiun Boulevard Utara hingga ke Velodrome akan sama dengan dari Boulevard Utara ke Boulevard Selatan. Tarif ini sama dengan tarif flat yang dikenakan TransJakarta kepada penumpangnya naik dan turun dimana saja hanya Rp3.500.
Lalu apalagi hambatan sehingga belum beroperasi? Direktur Proyek LRT Jakarta PT Jakarta Propertindo (Jakpro) Iwan Takwin mengatakan, belum bisa beroperasi dikarenakan moda baru ini belum terintegrasi dengan TransJakarta. Padahal dia mengakui proyek pembangunan infrastruktur maupun kelengkapan LRT sudah mencapai 100 persen.
“Operasional hanya tinggal menunggu integrasi di Stasiun Velodrome dengan Halte bus Transjakarta Rawamangun. Penghubungnya skybridge (jembatan),” kata Iwan yang dikutip KabarPenumpang.com dari wartakota.tribunnews.com (3/4/2019).
Dia mengatakan bila pembangunan jembatan penghubung yang membelah Jalan Pemuda Raya selesai dibangun, pihaknya akan mulai uji coba publik pekan depan. Uji coba yang dilakukan akan menggunakan sistem pembayaran eketronik dengan gate tapping agar nantinya jika broperasi penuh tidak terjadi kendala seperti yang terjadi pada MRT Jakarta pada hari pertama operasio komersialnya.
“Uji coba sistem tapping langsung dilakukan karena kita tidak ingin seperti MRT yang bermasalah pada tapping mesin dan vending machine yang mengalami overload,” ujarnya.
Baca juga: Penasaran dengan Biaya Pembangunan LRT dan MRT Per Kilometernya? Simak Berikut Ini
LRT Jakarta sendiri ternyata sudah mendapat rekomendasi kelayakan sarana dan prasarana dari Kementerian Perhubungan dan diteruskan kepada Dinas Perhubungan DKI Jakarta sebagai salah satu terbitnya sertifikat izin operasional. Memiliki jalur sepanjang hampir enam kilometer atau tepatnya 5,8 km untuk fase pertama.
Bila tidak ada kelanjutannya yakni fase II, maka bisa dikatakan LRT Jakarta hanya akan menjadi pajangan karena jalur pengoperasiannya yang cukup pendek. Apalagi LRT hanya memiliki enam stasiun yakni Stasiun Pegangsaan Dua, Boulevard Utara, Boulevard Selatan, Pulomas, Equestrian dan Velodrome. Selain itu LRT Jakarta juga dilengkapi dengan Fasilitas Depo perawatan sarana LRT di Jalan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading.
Temukan Masalah Pada Mesin, Singapore Airlines ‘Kandangkan’ Dua Boeing 787-10
Maskapai Singapore Airlines dikabarkan ‘mengandangkan’ dua armada Boeing 787-10 yang mereka miliki karena alasan teknis. Pernyataan tersebut dilontarkan langsung oleh pihakmaskapai melalui pernyataan tertulis, dimana mereka menyebutkan ada kerusakan pada bagian bagian baling-baling di sejumlah mesin pesawat jenis tersebut. Adapun dampak dari dikandangkannya dua armada ini adalah pihak maskapai harus mengisi kekosongan rute yang dijalani operasikan oleh Boeing 787-10 ini dengan menggunakan armada lain. Tentu saja, ini bukan berita baik bagi flag carrier Singapura.
Baca Juga: Sah! Singapore Airlines Terima Boeing 787-10 Perdananya
“Penggantian mesin yang tertunda, dua pesawat SIA (Singapore Airlines) 787-10 telah dihapus dari layanan,” tulis pihak Singapore Airlines dalam sebuah keterangan tertulis.
“Kerusakan prematur baling-baling ditemukan pada beberapa mesin,” tandasnya.
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman usatoday.com (2/4/2019), kendati sejumlah penerbangan Singapore Airlines dikabarkan mengalami gangguan akibat dikandangkannya dua armada Boeing 787-10 ini, namun pihak maskapai enggan merinci rute mana saja yang terdampak. Adapun mesin yang digunakan pada armada Boeing 787-10 ini adalah mesin Rolls-Royce Trent 1000 TEN.
Mengutip dari laman sumber lain, mesin jenis ini memang memiliki sejumlah masalah yang bahkan terlihat sejak pertama kali diperkenalkan – termasuk kerusakan prematur pada baling-baling mesin.
Menyikapi hal ini, pihak Singapore Airlines telah berkonsultasi dengan pabrikan pembuat mesin, Rolls-Royce dan sejumlah otoritas terkait guna menentukan langkah selanjutnya yang harus ditempuh oleh maskapai – pun dengan tindakan pencegahan yang juga sebaiknya dilakukan oleh Singapore Airlines.
“Sejak masuknya layanan Trent 1000 TEN, Rolls-Royce telah berkomunikasi dengan para operator (maskapai) bahwa bilah turbin bertekanan tinggi dalam engine ini akan memiliki siklus hidup yang terbatas,” ujar pihak Rolls-Royce.
Baca Juga: Jaga Kesehatan Penumpang di Penerbangan Jarak Jauh, Singapore Airlines Gandeng Canyon Ranch
Sebagaimana yang diketahui bersama, Singapore Airlines merupakan maskapai pertama yang terbang dengan menggunakan armada Boeing 787-10, tepatnya pada awal tahun 2018 silam. Mundur ke tanggal 30 Mei 2013 silam, induk perusahaan dari Scoot dan SilkAir ini terdaftar sebagai launch customer dari armada Boeing 787-10 dan langsung melakukan pemesanan sebanyak 30 unit, dimana direncanakan akan dikirim pada rentang tahun 2018 hingga 2019.
Armada 787-10 ini sendiri mampu menampung hingga 337 penumpang yang terbagi ke dalam dua kelas: 301 seats untuk kelas ekonomi dan 36 sisanya untuk penerbangan kelas bisnis.
Tak Jadi Beroperasi Tahun Ini, Pabrik PT INKA di Banyuwangi Dibuka Tahun 2020
Sudah setahun fasilitas pabrik baru milik PT Industri Kereta Api (INKA) mulai di bangun di Banyuwangi. Rencananya tahun 2019 ini sudah mulai beroperasi, namun bagaimana progresnya setelah setahun dan apakah sudah bisa mulai dioperasikan?
Baca juga: Tahun 2019, Pabrik PT INKA di Banyuwangi Mulai Beroperasi
Dilansir dari laman railway-technology.com (3/4/2019), ternyata pabrik ini sendiri akan benar-benar beroperasi pada tahun 2020 mendatang dengan mempekerjakan dua ribu orang. Selain itu juga PT INKA membuka program pelatihan terbuka di Politeknik Banyuwangi yang akan dioperasikan oleh produsen kereta api.
Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara Indonesia Imam Apriyanto Putro mengatakan pabrik baru di Banyuwangi ini sendiri akan memproduksi kereta api dengan teknologi terbaru. Dia mengatakan, pihaknya memutuskan mengembangkan pabrik baru INKA di Banyuwangi karena kabupaten tersebut memiliki pelabuhan dan hal ini bisa menurunkan biaya.
“Perusahaan sudah bekerja sama dengan perusahaan pembuat kereta api Swiss Stadler Rail Group untuk memproduksi kereta,” tambah Imam.
Nanti fasilitas baru ini sendiri digadang-gadang akan mampu memproduksi empat gerbong kereta setiap harinya. Ini akan menjadi empat kali lebih tinggi dari kapasitas pabrin INKA di Madiun, Jawa Timur. Pabrik baru ini akan dijadikan pabrik kereta api berbahan dasar stainless steel dan aluminium
Diketahui, pembangunan pabrikan kereta api baru ini memiliki nilai investasi yang fantastis yakni Rp1,6 triliun. Memiliki luas 83 hektar yang nantinya mampu menghasilkan kereta atau rolling stock yang akan diekspor ke beberapa negara.
Presiden Direktur PT INKA Budi Noviantoro mengatakan, saat ini pihaknya sudah mendapat beberapa pesanan baik dari dalam yakni PT KAI maupun dari pihak luar negeri seperti Sri Lanka sebanyak 250 gerbong dengan nilai US$100 juta. Tak hanya itu PT INKA juga tengah mengerjakan pesanan kereta dari Bangladesh yang sebagian sudah dikirim.
Baca juga: PT INKA: Di Lebaran 2019 Akan Ada Kereta Tampilan Baru untuk PT KAI
Pihak INKA juga masih ada tender dari Zambia, Nigeria serta pesanan kereta dari beberapa negara di ASEAN. PT INKA sendiri juga berencana untuk berekspansi ke pasar Australia, Taiwan dan Afrika.
Terkait pabrik baru milik PT INKA di Banyuwangi, saat KabarPenumpang.com mencoba menghubungi pihak Humas, Kamis (4/4/2019), hingga kini belum ada tanggapan atau respon yang pasti.
