Fase 2 MRT Jakarta kembali didanai oleh pemerintah Jepang melalui Japan International Coorporation Agency atau JICA. Di mana mekanisme yang digunakan adalah STEP Load atau Tied Loan sehingga membuat proyek ini hanya bisa digarap oleh Jepang sebagai kontraktor utamanya.
Baca juga: Alami Kegagalan di Beberapa Tender, MRT Jakarta Fase 2 Bisa Tertunda Pengerjaannya
Namun meski begitu, nyatanya pada fase 2 ini, justru kontraktor Jepang minim terlibat bahkan kurang tertarik dengan penawaran paket proyek baik itu konstruksi hingga pengerjaan pengadaan kereta untuk MRT Jakarta. Hal ini terlihat dari beberapa paket proyek yang ditawarkan gagal untuk dilelang beberapa kali.
Tak hanya itu, Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, para kontraktor ini banyak yang tidak ikut lelang dikarenakan waktu pengerjaan yang ketat dan risiko proyek yang cukup tinggi di masa pandemi ini. Direktur Konstruksi MRT Jakarta Silvia Halim menjelaskan, sebenarnya bila ada kesempatan, perusahaan dari negara lain bisa rebutan proyek ini.
Bahkan saat ini, Silvia mengaku suda ada rayuan dari sejumlah negara untuk proyek fase 2 ini.
“Kita yakin kontraktor nasional itu akan berminat, karena sampai saat ini udah banyak nih kontraktor-kontraktor dari Cina, dari Korea ataupun dari negara lainnya yang udah nanya nanya, what is the next MRT project yang bisa masuk dan terlibat,” kata Silvia.
Hanya saja, langkah ini belum diambil karena lagi-lagi masih terikat dengan mekanisme loan JICA. Opsi yang kini sedang dibahas adalah penunjukan langsung yang sedang digodok pemerintah Indonesia dan Jepang. William Sabandar menambahkan lagi bahwa tak hanya kontraktor Jepang yang mampu menggarap MRT. Kontraktor nasional juga punya kemampuan jika diberikan kesempatan.
Baca juga: Genjot Pendapatan di Masa Pandemi, MRT Jakarta Ingin Bangun Coworking Space dan Perbanyak Ruang Iklan
“Disebutkan misal Cina, Korea, negara-negara seperti Inggris yang minat. Tapi jangan lupa ada kontraktor nasional selama ini sudah mengerjakan baik paket 1 maupun paket 2. Kalau fisik itu kan kita sudah memiliki pengalaman di fase 1 ada Wijaya Karya, kemudian ada Hutama Karya, ada Jaya Konstruksi, Adhi Karya. Kalau sistem kereta kita punya INKA, jadi sebenarnya kita cukup teratasi ya,” bebernya.
Layanan ride hailing 99 di Brasil yang dikendalikan oleh Didi Chuxing Technology Co Ltd dari Cina telah bermitra dengan WhatsApp. Kemitraan ini untuk memudahkan menerima pesanan di platform obrolan yang dimiliki oleh Facebook dalam sebuah langkah yang memungkinkan pengguna memanggil mobil tanpa menggunakan aplikasi lain.
Baca juga: Hadirkan Kendaraan Listrik untuk Ride Hailing, Didi Bermitra dengan BYDKabarPenumpang.com melansir dari laman caixinglobal.com (7/10/2020), ini adalah kemitraan yang pertama di dunia untuk Didi sebagai perusahaan ride hailing terbesar di Cina. Didi mengatakan, dengan hal tersebut dapat memberikan 99, keuntungan dalam bersaing dengan Uber Technologies Inc yang berbasis di Amerika Serikat.
Di Brasil, pengguna aktif WhatsApp ada 120 juta orang dan menjadikannya pasar aplikasi terbesar kedua setelah India. 99 memiliki sekitar 20 juta pelanggan terdaftar dengan aplikasinya dan lebih dari 750 ribu pengemudi aktif di seluruh Brasil. Layanan tersebut mulai di uji coba pada 15 Oktober di empat kota di negara bagian Sao Paulo.
Direktur operasi 99 Livia Pozzi mengatakan, layanan ini akan diperluas ke seluruh Brasil pada akhir tahun 2020. Dia mengatakan, ini adalah langkah maju yang besar dalam memperluas kehadiran mereka terutama di pinggiran kota di mana penggunaan aplikasi 99 tumbuh sebesar 54 persen.
“Ini akan memungkinkan akses ke layanan untuk semesta yang lebih luas dari orang-orang yang tidak lagi perlu mengunduh aplikasi kami untuk memesan tumpangan mereka,” kata Pozzi.
Pozzi menjelaskan, pada awalnya perjalanan yang dipesan melalui WhatsApp harus dibayar tunai, begitulah 70 persen pesanan melalui 99 saat ini dibayar. Tarifnya akan sama dengan tarif untuk perjalanan yang dipesan melalui 99 aplikasi.
Gabriela Comazzetto, direktur bisnis Facebook di Brasil mengatakan, di kemudian hari, WhatsApp akan mengizinkan pengguna untuk menggunakan sistem pembayaran instan barunya untuk membayar tumpangan di 99. Bank Sentral negara mengizinkan pembayaran melalui sistem WhatsApp sebagai uji coba.
Baca juga: Platform Didi Turunkan Usia Penumpang Taksinya Menjadi 16 Tahun
Untuk diketahui, pada 2018 lalu Didi membeli saham 99 dalam kesepakatan yang menandai investasi pertama perusahaan asal Cina itu ke Brasil. Didi juga beroperasi di negara lain di Amerika Latin termasuk Meksiko, Chili, dan Kolombia.
Mulai hari ini, Garuda Indonesia resmi menurunkan harga tiket penerbangan di 10 bandara. Hal itu terjadi menyusul penyesuaian tarif atas kebijakan stimulus subsidi penerbangan tarif Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U) oleh pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
Baca juga: Tiket Pesawat Naik Sehari Setelah “Travel Bubble” Singapura-Hong Kong Diumumkan
10 bandara tersebut ialah Bandara Soekarno-Hatta (CGK), Bandara Hang Nadim (BTH), Bandara Kualanamu (KNO), Bandara I Gusti Ngurah Rai (DPS), Bandara Internasional Yogyakarta (YIA), Bandara Internasional Lombok Praya (LOP), Bandara Jenderal Ahmad Yani (SRG), Bandara Sam Ratulangi (MDC), Bandara Silangit (DTB), dan Bandara Banyuwangi (BWX).
Penumpang untuk keberangkatan dari dan ke bandara tersebut akan menikmati penurunan harga tiket Garuda Indonesia. Adapun persentase penurunannya mengikuti penghapusan biaya PJP2U di 10 bandara di atas. Untuk Soekarno Hatta, misalnya, terminal 2 penurunan harga tiketnya sebesar Rp85.000 per penumpang. Selanjutnya untuk terminal III sebesar Rp130.000 per penumpang. Bandara Internasional Kuala Namu Garuda akan menurunkan tiket sebesar Rp100.000 per penumpang.
Penurunan harga tiket Garuda Indonesia ini bisa terus dinikmati hingga 31 Desember 2020. Diharapkan, penyesuaian harga tiket ini nantinya dapat mendorong pertumbuhan atau pergerakan jumlah penumpang, terutama di momen libur panjang seperti 28 Oktober – 1 November mendatang dan momen libur panjang lainnya.
“Ditengah tantangan kinerja industri penerbangan pada masa pandemi virus Corona ini, hadirnya stimulus PJP2U ini tentunya menjadi langkah signifikan yang kami harapkan dapat mendukung upaya pemulihan kinerja maskapai penerbangan khususnya guna meningkatkan minat masyarakat untuk kembali menggunakan layanan transportasi udara,” jelas Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, dalam rilis resmi yang diterima KabarPenumpang.com.
“Kami tentunya berharap kebijakan stimulus ini dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan tren pergerakan penumpang pada penerbangan domestik. Kami percaya melalui sinergi ekosistem industri penerbangan yang solid ini bersama dengan regulator dan stakeholder penerbangan lainnya, menjadi pondasi fundamental dalam mendukung keberlangsungan usaha yang lebih optimal bagi industri penerbangan nasional ditengah Pandemi Covid-19 ini,” tambahnya.
“Kami juga telah memastikan kesiapan infrastruktur pendukung dalam mengimplementasikan penyesuaian tarif tiket pesawat yang akan kami berlakukan secara menyeluruh pada seluruh kanal penjualan tiket Garuda Indonesia sesuai dengan kebijakan yang diatur mengenai stimulus PJP2U oleh Kementerian Perhubungan RI tersebut,” tutupnya.
Dilihat peraturan perundang-undangan, sebetulnya, narasi “stimulus” PJP2U tidak tepat. Sebab, PSC sendiri, menurut Keppres No. 59 tahun 2015, ditinjau setiap dua tahun sekali. Terakhir kali PJP2U naik pada 1 Desember lalu. Sebelum kenaikan tersebut, PSC atau retribusi bandara terakhir kali naik pada 1 Maret 2018.
Sejak 1 Desember 2018 lalu, PT. Angkasa Pura II (Persero) resmi menaikan PJ2PU atau PSC di enam bandara, yakni, Bandara Kualanamu di Deli Serdang, Bandara Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru, Bandara Supadio di Pontianak, Bandara Silangit di Siborong-borong, Bandara Depati Amir di Bangka Belitung, dan Bandara Internasional Kertajati di Jawa Barat.
Khusus Bandara Supadio, kenaikan hanya terjadi pada rute internasional. Dari adanya kenaikan tersebut, diharapkan, berbagai fasilitas penunjang keselamatan dan kenyaman di bandara dapat segera diperbaiki dan ditambah, seperti fasilitas parkir, fasilitas ruang gerak penumpang, luas bandara, hingga ekspansi terminal bandara.
Dengan begitu, seharusnya penurunan tarif PJP2U memang sudah semestinya. Sudah menjadi keniscayaan, bukan merupakan stimulus sebagaimana narasi Kemenhub. Disebut keniscayaan, sebab, akhir 2020 memang sudah seharusnya PJP2U ditinjau ulang sebagaimana amanat Keppres No. 59 tahun 2015. Selain itu, dalam proses peninjauan tarif PJP2U, pemerintah harus mempertimbangkan daya beli masyarakat.
Baca juga: Siap-siap, Tarif Tiket Pesawat Turun 15 Persen
Dengan terpuruknya ekonomi saat ini, termasuk daya beli masyarakat, akibat pandemi Covid-19, maka tak salah jika penurunan tarif PJP2U adalah sebuah keniscayaan. Setidaknya, itulah pandangan dari pengamat penerbangan, Alvin Lie.
Sebagai informasi, karena PJP2U ini dikenakan oleh seluruh penumpang maskapai penerbangan, seharusnya bukan hanya Garuda Indonesia saja yang menurunkan tiket, melainkan juga Lion Air dan Batik Air atau Lion Group, Citilink, dan seluruh maskapai lainnya selama beroperasi di 10 bandara di atas, ditambah tiga bandara lainnya yang juga diberbaskan dari PJP2U, yakni Bandara Internasional Adi Sucipto, Yogyakarta (JOG), Bandara Internasional Halim Perdanakusuma, Jakarta (HLP), dan Bandara Internasional Labuan Bajo (LBJ).
Kereta peluru Maglev mulai diluncurkan JR Central pada 19 Oktober dan awak media mencobanya di sepanjang jalur eksperimental dengan kecepatan hingga 500 km per jam. Meski begitu, pengerjaan masih terus berlanjut di jalur Chuo Shinkansen yang akan menghubungkan Tokyo dengan Nagoya.
Baca juga: Beroperasi di 2027, JR Central Batasi Kecepatan SCMaglev ‘Hanya’ 500 Km Per Jam!
Perjalanan ini akan memakan waktu lebih singkat yakni 40 menit. Dilansir dari mainichi.jp (22/10/2020), disebutkan Maglev ini meluncur di jalur eksperimental sepanjang 42,8 km yang membentang antara Uenohara di Prefektur Yamanashi dan Fuefuki di Jepang tengah.
JR Central berharap untuk memulai operasi maglev komersial pada tahun 2027 dan untuk tujuan itu, ia telah menempuh total sekitar 3,19 juta km atau sekitar 80 kali keliling Bumi di jalur uji coba sejak selesai pada tahun 1997. Teknologi Maglev sendiri sudah siap sejak 2017, tetapi perusahaan melakukan perbaikan untuk meningkatkan kenyamanan kereta.
Mereka telah menguji gerbong kereta terbaru sejak Agustus tahun ini. Kereta yang meluncur ini merupakan model seri L dengan angka 0 yang menunjukkan bahwa ini adalah generasi pertama. Model terbaru maglev memiliki hidung yang lebih bulat, sehingga menurunkan hambatan angin sekitar 13 persen dari model sebelumnya.
Adanya perubahan tersebut menghemat daya dan mengurangi kebisingan. Untuk konfigurasi kursi masih tetap sama dua kiri dan dua di kanan. Kereta tujuh gerbong menjalankan demonstrasi tersebut yang mana mobil depan dan tengah merupakan tipe yang ditingkatkan, sedangkan sisanya adalah versi seri L0 sebelumnya.
Kereta tengah memimiliki jok yang diklaim mampu memecah tekanan bodi dan lebih lebar 22 mm dengan kedalaman 40 mm dari model sebelumnya, serta terasa nyaman. Selain rak overhead, terdapat juga ruang penyimpanan di kaki jok yang cukup besar untuk wadah kecil. Semua kursi memiliki port USB, menghapus kekhawatiran ponsel Anda kehabisan daya.
Ketika mulai bergerak, monitor menunjukkan kecepatan 300 km per jam kemudian meningkat menjadi 350, lalu 400. Dalam waktu kurang dari tiga menit, kecepatannya mencapai 500 km per jam dan ini merupakan kecepatan operasi komersial tertinggi.
Penumpang yang ikut mencoba menempatkan botol minuman plastik di tempat minuman untuk memeriksa getaran di dalam gerbong. Itu bergerak sedikit, tetapi pada dasarnya tetap stabil. Sekitar 80 persen dari lintasan eksperimental berjalan melalui terowongan, sehingga mata para awak media terpaku pada monitor yang menampilkan kecepatan dan pemandangan dari gerbong kereta saat meluncur melalui terowongan dan itu seperti adegan warp di film.
Saat kereta mendekati ujung lintasan dan melambat hingga sekitar 150 km per jam dan tiba-tiba merasakan getaran. Ini adalah momen saat kereta beralih dari lari terapung, digantung sekitar 10 cm di udara dengan magnet yang kuat, menjadi berjalan di atas roda. Akselerasi dan deselerasi terasa lebih mirip dengan pesawat daripada kereta peluru biasa.
Secara keseluruhan, hanya butuh delapan menit untuk menempuh 42,8 kilometer dari lintasan percobaan. Hiroshi Oshima dari pusat pengujian maglev Yamanashi dengan percaya diri mengatakan kepada wartawan setelah uji coba, “Kami pikir ini adalah mobil terbaik yang bisa kami hasilkan sekarang.”
Namun, masih belum jelas apakah operasi komersial akan dapat dimulai pada tahun 2027, sesuai rencana JR Central, karena pemerintah daerah di Prefektur Shizuoka, yang melaluinya rute yang direncanakan, belum memberikan izin agar konstruksi dapat dilanjutkan.
Pihak prefektur mengatakan bahwa pekerjaan tersebut dapat mengurangi tingkat air di Sungai Oi setempat, dan sejauh ini belum ada terobosan. Selain itu, JR Central mengalami kerugian finansial karena virus korona baru, dengan jatuhnya jumlah penumpang di Tokaido Shinkansen yang menjadi pilar utama pendapatannya.
Penumpang di jalur kereta peluru pada bulan September hanya mencapai 38 persen dari pada bulan yang sama tahun sebelumnya. JR Central mengatakan bahwa penjualan konsolidasi untuk kuartal keuangan April-Juni mencapai 128,7 miliar yen, turun 72,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca juga: Prototipe Maglev Hasilkan Daya dengan Teknologi yang Sama dengan Ponsel Pintar
Laporan laba-rugi mengungkapkan 83,6 miliar yen tinta merah untuk kuartal tersebut, turun dari laba 206,2 miliar yen untuk periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, JR Central telah menerima investasi dan pinjaman pemerintah terkait dengan proyek maglev senilai tiga triliun yen. Presiden Pusat JR Shin Kaneko berkomentar bahwa sumber keuangan untuk proyek maglev telah diperoleh secara terpisah, dan situasi saat ini tidak akan mempengaruhi operasi.
Departemen Transportasi Queensland, Australia belum lama ini melakukan uji coba pada kamera berteknologi tinggi. Dalam uji coba ini mereka menemukan hampir seribu pengemudi di Queensland atau penumpangnya tanpa sabuk pengaman dan hasil yang dimunculkan sangat mengkhawatirkan.
Baca juga: Scania Kenalkan Sistem BSW dan VRUCW untuk Kurangi Kecelakaan Pada Pejalan Kaki dan Pesepeda
Angka ini didapat setelah satu bulan uji coba deteksi sabuk pengaman pertama di Australia. Uji coba ini dijalankan bersamaan dengan uji coba deteksi ponsel di jalan raya Queensland. Uji coba bersama tersebut dimulai pada akhir Juli kemarin untuk mendeteksi pnsel dan bulan lalu untuk deteksi sabuk pengaman.
Departemen Transportasi menggunakan kamera tetap dan portabel di lokasi rahasia. Dalam totalan hingga saat ini kamera tersebut telah mengidentifikasi 3600 potensi pelanggaran ponsel dan 989 lainnya adalah potensi pelanggaran sabuk pengaman. Manajer senior Transportasi dan Jalan Utama Andrew Mahon mengatakan ini adalah jumlah pelanggaran potensial yang “signifikan”.
“Kami masih uji coba, ini hari-hari awal, tetapi yang mengkhawatirkan kami melihat 60 pelanggaran sehari untuk pelanggaran ponsel dan sekitar 40 pelanggaran sehari karena tidak memakai sabuk pengaman,” katanya yang dikutip KabarPenumpang.com dari abc.net.au (3/10/2020).
Mahon mengatakan, di zaman sekarang ini, sangat mengkhawatirkan bila orang mengemudi tanpa mengenakan sabuk pengaman. Dia mengaku terkejut melihat angka dari uj coba kamera pendeteksi itu dan mereka ingin mengubah perilaku pengemudi dengan aman agar fokus pada saat mengemudi.
Tahun lalu, Mahon mengatakan, sebanyak 219 orang meninggal di jalan Queensland dengan 27 diantaranya tidak menggunakan sabuk pengaman. Dia menjelaskan, kamera ini bekerja dengan mengambil beberapa foto bagian dalam depan kemudi termasuk plat nomor kendaraan dengan kecepatan tinggi.
Gambar tersebut dimasukkan ke dalam algoritma yang mencari indikator untuk mengidentifikasi apakah pengemudi sedang memegang ponsel atau pengemudi dan penumpang tidak menggunakan sabuk pengaman. Petugas yang berwenang kemudian memverifikasi bahwa pelanggaran telah dilakukan.
Selama uji coba ini, tidak ada denda yang berlaku hingga Natal mendatang. Selain itu, teknologi ini akan tersedia bagi polisi untuk mengeluarkan denda mulai awal tahun depan. Hukuman berat untuk pengemudi yang terganggu diberlakukan pada bulan Februari tahun ini denda $1000 dan empat poin kerugian. Lauren Ritchie dari RACQ mengatakan kamera akan menjadi alat yang berguna dalam menegakkan hukuman tersebut.
Baca juga: Auckland Transportation Mulai Pasang CCTV di Jalur Bus Pusat Kota
“Kami memiliki undang-undang terberat di negara ini dalam hal penggunaan telepon seluler. Tapi tanpa kemampuan penegakan hukum yang tepat maka itu hanya akan berhasil sejauh ini dalam hal mengubah perilaku. Kami ingin uji coba ini dianggap berhasil. Jelas angka-angka di sini mengejutkan dan itu bukti bahwa kita perlu meluncurkan teknologi ini. Seharusnya itu menjadi peringatan bagi kami sebagai pengemudi bahwa Anda diawasi dan Anda akan ditangkap kapan saja, di mana saja,” kata dia.
Maskapai pendatang baru di kelas Low Cost Carrier (LCC) long haul atau penerbangan jarak jauh berbiaya rendah, Zipair Tokyo, akhirnya memberanikan diri untuk menjajaki penerbangan penumpang perdananya, sekalipun hanya dua orang. Setibanya di bandara Seoul, pesawat pun langsung disambut dengan water salute, sebagai pertanda penerbangan perdana.
Baca juga: Zipair Tokyo Akhirnya Resmi Mengudara Saat Maskapai Lain Bangkrut, Tapi Hanya Penerbangan Kargo
Sebelumnya, maskapai yang memulai penerbangan perdana atau first flight pada 4 Juni lalu ini menyebut akan fokus melayani penerbangan hanya kargo selama empat kali dalam sepekan, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu, sampai waktu yang tak ditentukan, mengikuti perkembangan wabah Covid-19 di dunia.
Dilansir aerotime.aero, penerbangan penumpang perdana maskapai yang menggarap pasar mirip dengan Air Asia X ini terjadi pada 16 Oktober lalu. Kala itu, pesawat Boeing 787-8 Dreamliner Zipair, yang notabene berkapasitas 290 kursi, dengan konfigurasi 18 kelas bisnis dan 272 kelas ekonomi, hanya diisi oleh dua penumpang dalam perjalanan dari Bandara Narita Tokyo menuju Bandara Incheon Seoul di Korea Selatan.
Memang terdengar cukup nekat, namun, setidaknya reputasi sebagai maskapai baru dengan konsistensi pada jadwal penerbangan jauh lebih penting. Diketahui, sebelum menjalani penerbangan penumpang perdana, Zipair telah membatalkan dua kali penerbangan penumpang.
Maskapai awalnya berencana untuk meluncurkan penerbangan penumpang dari Tokyo ke Bangkok pada Mei dan Tokyo ke Seoul pada Juli 2020 lalu, tetapi tidak ada satupun penerbangan yang terealiasi sesuai jadwal. Adapun untuk menunjukkan keseriusan maskapai, penerbangan hanya kargo telah diluncurkan terlebih dahulu Juni lalu tujuan Tokyo ke Bangkok, disusul Tokyo-Seoul pada September kemarin.
Dalam penerbangan perdana penumpang Oktober lalu, CEO sekaligus presiden Zipair dilaporkan turut hadir dalam penerbangan dengan flight number ZG41 itu. Disebutkan, ia menyapa langsung satu penumpang laki-laki asal Jepang dan satu penumpang perempuan asal Korea; termasuk menyapa 10 orang kru pesawat, terdiri dari delapan pramugari dan dua pilot.
Meskipun okupansi rendah, namun maskapai berdalih tingginya muatan kargo dapat menutup operasional pesawat.
Setelah penerbangan penumpang perdana, Zipair bakal akan berusaha konsisten untuk menggarap penerbangan tersebut. Dari rilis resmi perusahaan, Zipair akan melayani dua penerbangan penumpang dalam seminggu dari Tokyo ke Seoul, lima penerbangan kargo dalam seminggu, serta enam penerbangan PP selama seminggu pada rute tersebut.
Selain itu, Zipair Tokyo juga akan mengoperasikan tiga penerbangan penumpang dari Tokyo ke Seoul untuk musim terbang baru mulai 25 Oktober mendatang.
Baca juga: Zipair Tokyo, Maskapai Berbiaya Murah Terbaru dari Jepang, Mengudara 14 Juli 2020!
Tak hanya itu, pada rute lain, maskapai yang lahir pada Februari 2019 silam itu juga akan memulai penerbangan penumpang kedua pada 28 Oktober mendatang, melahap rute Bandara Suvarnabhumi Bangkok di Thailand ke Bandara Narita Tokyo di Jepang.
Saat ini, Thailand diketahui tak mengizinkan pesawat asing masuk. Tetapi, mengizinkan pesawat asing ataupun lokal ke negara lain. Terkait dengan penerbangan 28 Oktober nanti, Zipair dikabarkan lebih fokus untuk membawa pulang warga Jepang, mengingat kondisi politik dalam negeri Thailand sedang tak kondusif.
Cathay Dragon dilaporkan bangkrut atau stop operasi usai mengalami kesulitan keuangan hebat. Selain itu, berakhirnya sepak terjang maskapai juga diakibatkan induk perusahaan, Cathay Pacific yang juga mengalami nasib serupa akibat pandemi virus corona dan konflik berkepanjangan di Hong Kong.
Baca juga: Serba-Serbi Cathay Dragon, Mantan Pesaing Cathay Pacific yang Kini Jadi Anak Perusahaan
Konsekuensi dari itu, 5.900 karyawan, termasuk pilot dan pramugari, harus gigit jari karena belum ada kejelasan bakal ditarik ke induk atau entitas bisnis lain group perusahaan atau tidak. Besar kemungkinan mereka akan dirumahkan alias di-PHK.
Dilansir executivetraveller.com, usai proses stop operasi selesai, nantinya seluruh penerbangan Cathay Dragon akan dialihkan ke Cathay Pacific dan Hong Kong Express Airways, yang tergabung dalam Cathay Pacific Group. Itu berarti kedua maskapai itu akan mendapat tambahan sekitar 50 rute ke seluruh Asia (termasuk beberapa armada limpahan dari maskapai), dimana setengah dari itu berada di daratan Cina.
Chairman Cathay Pacific Group, Patrick Healy, mengatakan bahwa meski dia sedih melihat berakhirnya maskapai yang sudah menginjak usia 35 tahun itu, namun perusahaan tak bisa berbuat banyak untuk mempertahankannya.
“Kenyataannya di masa-masa sulit ini kita harus fokus pada satu brand maskapai premium terkemuka dunia di Cathay Pacific, dilengkapi dengan satu brand perjalanan wisata berbiaya rendah lewat HK Express,” jelasnya.
“Ada operasi substansial dan efisiensi pemasaran yang bisa diperoleh dengan menggabungkan armada kami dan menyederhanakan skema bisnis brand kami dengan cara ini,” tambahnya.
Dirunut ke belakang, sebenarnya rencana mengakhiri operasi Cathay Dragon sudah ada sejak awal tahun 2020. Akan tetapi rencana itu terhambat regulator penerbangan Cina karena pelanggaran selama protes pro-demokrasi tahun lalu.
Cathay mengatakan maskapai akan segera menghentikan operasi dan meminta persetujuan peraturan untuk membatalkan sebagian besar rute Cathay Dragon di Cathay Pacific dan di maskapai HK Express.
Mereka juga akan merumahkan 5.900 karyawan sebagai konsekuensinya. Secara keseluruhan, grup maskapai itu akan memangkas 8.500 karyawan atau 24 persen dari total karyawan. Jumlah ini termasuk 2.600 karyawan yang sebelumnya sudah tidak bekerja secara normal selama pandemi.
“Sekarang Cathay telah memutuskan jumlah karyawan (yang bekerja) dan penghapusan brand Dragon. Mereka mengetahui kapasitas maskapai dan strukturnya ke depan dan dapat menyelesaikan armada dan rencana jaringan barunya,” kata seorang analis penerbangan independen, Brendan Sobie.
Baca juga: Tak Punya Penerbangan Domestik, Cathay Pacific dan Singapore Airlines Ditaksir Bakal Lebih Lama Pulih
Sebelum bergabung ke dalam group Cathay Pacific, Cathay Dragon yang dahulu bernama Dragonair merupakan pesaing ketat Cathay Pacific. Bahkan, nama Dragonair tercatat sebagai maskapai berbasis di Hong Kong pertama yang tergabung sebagai member aktif di International Air Transport Association (IATA). Maskapai ini juga tercatat sebagai kompetitor lokal utama dari Cathay Pacific yang berdiri pada 24 September 1946.
Namun, seiring waktu, Dragonair mulai mengalami kesulitan keuangan akibat manajemen yang buruk pada akhir dekade 80an. Akhirnya, pada Januari 1990 maskapai tersebut diakuisisi oleh tiga perusahaan sekaligus – Cathay Pacific, Swire Group dan CITIC Pacific. Hingga pada 28 September 2006, Dragonair sudah sepenuhnya menjadi anak perusahaan dari Cathay Pacific.
Stasiun berubah jadi rumah tinggal? Ini bukanlah hal yang asing, sebab di Indonesia pun ada stasiun yang beralih fungsi menjadi rumah tinggal, bahkan ada yang berubah menjadi restoran atau sebagainya. Di Inggris salah stasiunnya pun berubah fungsi menjadi rumah tinggal.
Baca juga: Bukti Cinta Pada Kereta, Halaman Belakang Rumah Disulap Jadi Replika Stasiun
Rumah ini bersejarah dengan memiliki teras platform (peron) dan ruang persinyalan. Rumah bekas Stasiun Droxford Tua dulunya melayani kereta ke Chruchill menuju ke Normandia yang hingga akhirnya beralih fungsi seperti saat ini. KabarPenumpang.com merangkum homesandproperty.co.uk (8/10/2020), stasiun ini dulunya dibuka tahun 1903 sebagai bagian dari kereta api Meon Valley sepanjang 22 mil atau sekitar 35 km.
Stasiun Droxford Tua tampak depan (homesandproperty.co.uk)
Kemudian Stasiun Droxford Tua ditutup untuk penumpang di tahun 1950-an dan sekarang menjadi rumah dengan lima kamar tidur yang letaknya berada di lahan seluas lebih dari dua hektar. Platform terbentang di sepanjang ekseterior rumah tesebut dan beralih fungsi bukan lagi sebagai tempat penumpang menunggu melainkan teras terbuka.
Pemilik rumah tersebut yakni Antony dan Jo Williams mengatakan, ini tidak biasa untuk peron kereta api berukuran penuh dengan penutup. Dia menambahkan, hanya itu yang tersisa di jalur tersebut. Di sisi bagian lain, Antony menyebutkan ada ruang sinyal yang diubah pasangan itu menjadi wisma mandiri.
“Kami benar-benar membangun kembali ruang sinyal. Sekarang menjadi paviliun satu kamar tidur dengan dapur di lantai pertama dan kamar tidur serta kamar mandi di lantai bawah,” kata Antony.
Di dalam rumah utama, banyak fitur asli stasiun kereta api yang masih bisa dilihat, mulai dari gerai dan lemari yang tersimpan di ruang kerja, kantor tiket lama hingga perapian dengan kompor di ruang tamu, yang merupakan tempat menunggu para wanita. Tangga utama mengarah ke kamar utama dan dua kamar tidur tambahan, sementara tangga kedua di ujung rumah akan membawa Anda ke kamar tamu dengan kamar mandi.
Namun kekayaan sejarah bangunan itulah yang benar-benar memikat. Perdana Menteri Winston Churchill menggunakan stasiun Droxford sebagai markasnya selama persiapan pendaratan Normandia pada Perang Dunia Kedua. Pada 4 Juni 1944, dua hari sebelum operasi militer yang sangat penting, Charles de Gaulle, pemimpin Prancis Merdeka yang diasingkan, mengunjungi Churchill di Droxford dan diberi tahu tentang rencana invasi Sekutu.
“Orang-orang terpesona olehnya. Dan berada di bagian dunia yang indah, berada di Taman Nasional South Downs. Saya bukan orang gila dan ini hanya properti yang indah dan unik. Seseorang akan melihatnya dan jatuh cinta padanya,” papar Antony.
George Clarendon, partner di Knight Frank Winchester, memasarkan Old Droxford Stationmengatakan, baru saja muncul di sana, nostalgia, suasana properti, ini adalah era yang sudah berlalu. Anda masuk ke dalam rumah dan itu seperti properti normal lainnya tetapi dengan beberapa fitur menyenangkan salah satunya adalahjendela kantor tiket.
“Di luar, di teras, Anda bisa duduk di sana dan menyadari bahwa itu adalah platform stasiun Anda bisa merasa seolah-olah sedang menunggu kereta,” kata Clarendon.
Baca juga: Anda Pecinta Harry Potter? Kudu Lamar Kerjaan yang Ditawarkan Oleh Operator Kereta Heritage Inggris Ini!
Garasi dua lantai dan ruang bengkel memiliki izin perencanaan untuk lantai pertama untuk digunakan sebagai kantor impian bagi seseorang yang ingin melanjutkan kebutuhan Covid untuk bekerja dari rumah. Bagi mereka yang mempertimbangkan untuk kembali ke perjalanan pada akhirnya, Antony mengatakan perjalanan mingguannya ke London memakan waktu sekitar satu jam dari stasiun Petersfield atau Winchester.
Pada hari ini, 227 tahun yang lalu, bertepatan dengan 22 Oktober 1797, Perancis jadi saksi pelopor balon udara, Andre-Jacques Garnerin melakukan pendaratan pertama di dunia menggunakan parasut dari ketinggian sekitar 915 meter. Pria kelahiran 31 Januari 1769 ini pun resmi menjadi penerjun payung pertama di dunia yang sukses melakukannya.
Baca juga: Hari Ini, 37 Tahun Lalu, Pertama Kali Dalam Sejarah Dua Maskapai Barter Pesawat
Dilansir India Today, sejarah aksi heroik Andre Garnerin sebagai manusia pertama yang berhasil menggunakan parasut dari ketinggian, dimulai saat ia tengah mengejar mimpinya menjadi fisikawan. Namun sayang, di tengah jalan, ia terpaksa menjadi tentara kerajaan lantaran revolusi Perancis meletus pada 1793.
Akan tetapi, keahliannya di bidang fisika rupanya dibutuhkan unit militer untuk melakukan inovasi. Ia pun akhirnya memilih untuk membuatkan balon udara meskipun akhirnya tak kesampaian karena ia ditangkap oleh Inggris dan dipenjara selama tiga tahun.
Gambaran Andre Garnerin mencapai langit sebelum memulai terjun payung pertama di dunia. Foto: fai.org
Semasa menjalani masa tawanan di penjara Hungaria, Andre Garnerin justru banyak membuat desain parasut dan mengembangkan desain balon udara yang pernah ia buat. Bahkan, di periode ini, ia sempat terpikir untuk melompat dari tembok penjara yang tinggi menjuntai sekaligus menjajal keampuhan parasut buatannya. Tetapi, ia kesulitan untuk sampai ke puncak tembok dan akhirnya ide itu tak pernah terwujud.
Setelah dibebaskan dari penjara, ia mulai bereksperimen dengan rancangan parasut awal dan memutuskan untuk mencoba terjun payung pertamanya pada 22 Oktober 1797, di Parc Monceau, Paris, Perancis.
Kala itu, ia menggabungkan parasut dengan balon hidrogen untuk membawanya terbang ke langit Paris. Usai mencapai ketinggian 1.000 meter, tali pengait antara parasut dan keranjang sebagai singgasananya dengan balon udara diputus. Seketika itu, parasut yang terbuat dari sutra tersebut berhasil memperlambat laju penurunan secara drastis dan mengantar Andre Garnerin mendarat dengan selamat -sekalipun sempat terombang-ambing- 800 meter dari titik awal ia terbang.
Seolah tak puas dengan keberhasilan tersebut, pada 21 September 1802, Andre Garnerin tercatat berhasil menyelesaikan rekor terjun payung dari ketinggian 2.500 meter di London, Inggris.
Andre Garnerin dan istrinya, Jeanne. Foto: fai.org
Secara keseluruhan, beberapa tahun setelahnya ia melahap sekitar 200 penerjunan di berbagai negara, sebelum akhirnya meninggal dengan tragis saat hendak menguji coba parasut barunya pada 18 Agustus 1823. Saat itu, parasut barunya dilaporkan tak berhasil mengembang sempurna dan membawanya menghujam tanah dengan keras.
Selain Andre, istrinya, Jeanne juga berhasil terjun dengan parasut buatan sang suami dan menjadi perempuan penerjun parasut pertama dalam sejarah pada 1799. Ia melakukan penerjunan dari ketinggan yang sama dengan sejarah terjun payung pertama di dunia oleh Andre, yakni sekitar 915 meter.
Baca juga: Hari Ini, 111 Tahun Lalu, DELAG Maskapai Pertama di Dunia Asal Jerman Resmi Berdiri
Sebetulnya sebelum Andre Garnerin, ada nama lain. Dikutip dari History, Leonardo Da Vinci dan Louis-Sébastien Lenormand pernah membuat desain untuk sebuah parasut dari dua buah payung dan mencoba melompat dari pohon pada 1783.
Namun, menurut catatan sejarah, Andre-lah yang pertama berhasil merancang dan menguji parasut dan berhasil melihat bahwa parasut yang diciptakan Andre mampu memperlambat percepatan manusia yang jatuh dari ketinggian.
Cerita berbau mistis dan horor terkait tempat-tempat tertentu alias urban legend di Jakarta cukup banyak. Legenda kontemporer tersebut kerap kali dipercaya kebenarnnya oleh penduduk meski hanya cerita bukan melihat langsung.
Baca juga: Tragedi Bintaro I – Jadi Kecelakaan Kereta Terburuk dan Paling Tragis di Indonesia
Namun ketika mendengar seperti itu, beberapa orang memberanikan diri untuk mengetahui kebenaran dari cerita yang belum jelas. Untuk menghilangkan rasa penasaran, mereka biasanya datang ke tempat tersebut untuk merasakan sendiri pengalaman horor itu.
Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, bila Anda tak berani sendirian bisa mengikuti tur yang diadakan oleh Biang Overlander. Mereka mengangkat tema Jakarta Mystical Tour yang mana mengajak para pesertanya ke sepuluh tempat Urban Legend menyeramkan di Jakarta dalam sekali perjalanan seperti Menara Saidah, Terowongan Kasablanka, Taman Langsat, TPU Jeruk Purut, Rumah Kentang Prapanca, Rumah Pondok Indah, Jalur Kereta Bintaro, Toko Merah, Museum Prasasti dan Jembatan Ancol.
Salah satu tempatnya yakni jalur kereta api Bintaro di mana tempat Tragedi Bintaro I terjadi. Sayangnya ketika mengadakan tur ke jalur kereta api Bintaro, peserta wisata horor banyak yang terluka. Ini karena mereka menghindari kereta yang lewat di perlintasan kereta Bintaro.
Adanya hal ini membuat PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 1 Jakarta, mengingatkan pentingnya pemberitahuan panitia terkait kegiatan yang berhubungan dengan perkeretaapian. PT KAI menyebutkan bahwa acara itu tak berizin dan melarang pihak penyelenggara melakukan agenda wisata horor dengan memasuki area jalur kereta api sebagai lokasi tur.
Senior Manager Humas Daop 1 Jakarta, Eva Chairunnisa menuturkan Biang Overlander menyelenggarakan tur ini di sejumlah titik lokasi mistis termasuk di rel kereta Tragedi Bintaro 1987 pada Jumat 1 Oktober 2019. Dia sangat menyayangkan acara tersebut yang tidak berkoordinasi dengan PT KAI serta hampir menyebabkan kecelakaan Kereta Api pada saat kegiatan tersebut berlangsung dan tempat itu merupakan jalur rel Kereta Api Bintaro.
Eva mengatakan rel yang pernah dilintasi saat Tragedi Bintaro 1987 saat ini masih aktif digunakan sebagai jalur. Ia menyebut pemanfaatan ruang di sekitar rel merupakan kewenangan PT KAI.
”Area jalur rel Tragedi Bintaro 1987 yang digunakan sebagai lokasi kegiatan merupakan jalur aktif dengan lalu lintas kereta api yang cukup padat. Sesuai Undang–Undang 23 tahun 2007 tentang Perkeretaapian, jalur kereta api adalah jalur yang terdiri atas rangkaian petak jalan rel yang meliputi ruang manfaat jalur kereta api, ruang milik jalur kerta api, dan ruang pengawasan jalur kereta api, termasuk bagian atas dan bawahnya yang diperuntukkan bagi lalu lintas kereta api,” ujarnya.
Eva menegaskan dan mengajak semua pihak untuk tidak mengadakan aktivitas di sekitar jalur rel. Ia meminta keselamatan perjalanan kereta api menjadi tanggung jawab bersama. Untuk meminimalisir agar tidak ada lagi tragedi kecelakaan kereta api di Indonesia.
“Kami menghimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di sekitar jalur rel. Mari sama–sama mewujudkan keselamatan perjalanan kereta api, karena ini menjadi tanggung jawab kita bersama.” ujarnya.
Baca juga: Legenda Kereta Hantu Manggarai, Antara Fakta dan Mitos
Karena adanya tindakan dari PT KAI, pihak Biang Overlander Untuk saat ini program akan direview dengan tidak ada lagi tempat-tempat seperti itu. Jadi belum sempat terjadi.
“Kami akan review tujuan lokasi acara karena bahaya juga tidak hanya dari lokasi semacam itu, tetapi di tiap lokasi pun jika terjadi jika terjadi tekanan mental yang berlebihan dari dimensi lain bisa jadi hal membahayakan,” jelas Ananda konseptor Jakarta Mystical Tour.