Lokomotif BB200 merupakan salah satu lokomotif diesel elektrik milik PT Kereta Api Indonesia (KAI). Lokomotif ini besutan pabrik General Motors Electro-Motive Division yang berbasis di Amerika Serikat dengan transmisi daya DC-DC yang pernah beroperasi di Indonesia sejak 1957 atau 63 tahun silam.
Baca juga: Lokomotif Uap D1410, Kembali Beroperasi Jadi Kereta Wisata di Solo
BB200 sendiri adalah lokomotif diesel elektrik model kedua setelah GC200 dan merupakan kakak dari lokomotif BB201 yang diproduksi oleh pabrikan sama. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, lokomotif tersebut memiliki daya mesin sebesar 950 HP dengan susunan gandar (A1A)(A1A) yakni dengan dua bogie dan memiliki tiga gandar.
Tetapi masing-masing hanya ada dua gandar yang digerakkan oleh motor traksi. Sebab agar tekanan setiap gandarnya rendah dan tidak melampaui daya dukung jaringan rel kereta ketika lokomotif melintas jaringan rel.
Nomor seri BB200 merupakan lokomotif bermodel EMD G8U6yang dibeli oleh Djawatan Kereta Api Republik Indonesia pada tahun 1957. Dari kontrak pembelian yang tertanggal 6 April 1956 ada sebanyak 35 unit lokomotif BB200 yang beroperasi di lintas Jawa.
Di mana ke 35 lokomotif ini dibagi diantaranya 27 unit di antaranya dialokasikan di dipo Semarang Poncol, empat unit di dipo Kertapati, satu unit di dipo Tanjung Karang, serta tiga sisanya (BB200-10, BB200-11 dan BB200-18) adalah produk afkir. Dari semua lokomotif ini satu persatu kemudian dilengkapi dengan abar angin atau rem udara tekan secara bertahap untuk melengkapi rem vakum.
Secara teknis long hood (hidung panjang) merupakan bagian depan dari lokomotif tersebut, bukan hidung pendeknya yang dengan kata lain, kabin masinisnya ada di belakang seperti halnya lokomotif uap. BB200 pun hanya memiliki satu meja layanan masinis dan ini menjadikannya berbeda dengan lokomotif sebelumnya yakni CC200.
Di mana CC200 memiliki dua meja layanan masinis (dan dua kabin masinis) di tiap ujungnya. Sehingga bisa dikatakan masinis akan lebih ergonomis jika mengoperasikan BB200 ke arah long hood. Uniknya lokomotif yang satu ini memiliki plat nomor yang terletak di sisi kiri dan kanan lampu utama di tiap ujungnya.
Memiliki fisik yang sama dengan lokomotif EMD G8 lain di seluruh dunia, anehnya negara pembuatnya yakni Amerika Serikat tidak memiliki lokomotif ini. Hal tersebut karena dayanya kurang besar yang mana di Negeri Paman Sam tersebut daya rata-rata minimum lokomotif yang diproduksi GM-EMD adalah 2000 hp sedangkan EMD G8 hanya 875 hp.
Meski daya relatif kecil, lokomotif ini bisa melaju dengan kecepatan hingga 110 km per jam. Di Indonesia, lokomotif BB200 pernah menarik kereta Bima, Mutiara Utara, Pandanaran, Senja Utama dan Purbaya, serta untuk pengangkutan barang.
Bahkan tahun 1968, lokomotif ini pernah mengalami kecelakaan dengan KA Bumel di Ratu Jaya, Depok yang memakan korban sebanyak 116 jiwa. Pada tahun 1984, diadakan rehabilitasi untuk memperpanjang masa pakai lokomotif BB 200. Ini menyebabkan sampai dengan awal dekade 2000-an, sejumlah BB200 masih bisa beroperasi, walaupun dinasannya tidak sebanyak dulu.
Sayangnya GM-EMD serta penerusnya, Electro-Motive Diesel tidak memproduksi suku cadang untuk lokomotif ini, maka lokomotif ini mulai terlupakan dan kebanyakan rusak termakan usia dengan pasokan suku cadang yang tidak mencukupi, ditambah lagi dengan kebijakan standarisasi armada yang diterapkan oleh PT KAI menjadi Lokomotif Diesel Elektrik dengan model yang lebih seragam seperti CC201, CC203 dan CC204.
Pada bulan Juni 2006, komunitas rail fans Indonesia, Indonesian Railways Preservation Society (IRPS), mengajukan proposal kepada KAI untuk mempreservasi lokomotif BB200 dipo induk Semarang Poncol. Sehingga di September 2006, lokomotif dengan nomor BB200-29 sudah bisa beroperasi lagi.
Kemudian menyusul pada bulan Agustus 2007, lokomotif dengan nomor BB200-21 berhasil diperbaiki. Kedua lokomotif tersebut akhirnya beroperasi berkat komponen dari lokomotif BB200 lainnya yang afkir. Lokomotif BB200 yang terakhir beroperasi adalah BB200-07, BB200-14, BB200-21 dan BB200-29. BB200-07 dan BB200-14 berada di Sumatra Selatan.
Sementara itu, BB200-06 tanpa mesin dan sebuah kereta penumpang dipajang di Akpol untuk sarana pendidikan dan latihan antiterorisme. Salah satu seri lokomotif ini, BB200-08, telah direstorasi di Balai Yasa Yogyakarta untuk dipindah ke Museum Kereta Api Ambarawa.
Baca juga: Lokomotif Diesel Hidraulik D301 22 Kini Jadi Koleksi Stasiun Tugu Yogyakarta
Satu-satunya BB200 yang masih hidup di Indonesia adalah BB200-07 yang saat ini ditugaskan sebagai loko pelangsir di Balai Yasa Lahat. Untuk diketahui, lokomotif ini sepanjang masa kedinasannya pernah berdinas di Pulau Jawa dan Sumatera Selatan.
Hari Kasih Sayang atau Valentine, Hari Ibu, atau hari-hari lainnya sering kali diperingati dengan jelas. Bahkan peringatan ini sendiri sering dilambangkan dengan berbagai macam benda yang diberikan seperti cokelat, bunga dan lainnya.
Baca juga: 10 Kapal Misterius Ini Ditemukan Tanpa Awak
Namun, tahukah Anda bahwa ada Hari Bahasa Bajak Laut Internasional? Mungkin di Indonesia tidak akan tahu dan ternyata ini ada, serta dirayakan setiap tanggal 19 September setiap tahunnya.
Hari Bahasa Bajak Laut Internasional atau International Talk Like a Pirate Day merupakan hari libur parodi yang dibuat tahun 1995 silam oleh John Baur (Ol’ Chumbucket) dan Mark Summers (Cap’n Slappy), dari Albany, Oregon. Mereka memproklamirkan setiap tanggal 19 September dan semua orang di dunia harus berbicara layaknya seorang bajak laut.
Di mana setiap orang yang merayakan hari ini akan memberi sapaan kepada temannya bukan dengan “Halo, semuanya!” tapi dengan “Ahoy, maties!”
Penasaran kenapa bisa ada Hari Bahasa Bajak Laut Internasional? Setelah KabarPenumpang.com melakukan penyelidikan di berbagai laman sumber, ternyata menurut Summer, ini adalah satu-satunya hari libur yang diketahui terjadi akibat cedera olahraga. Selama pertandingan bola raket antara Summers dan Baur, salah satunya terkena pukulan dan bereaksi akibat kesakitan dan berteriak “Aaarrr!”, sehingga ide tersebut lahir.
Mereka melakukan permainan tersebut pada 6 Juni 1995, tetapi untuk menghormati pendaratan Normandia keduanya memilih ulang tanggal yakni ulang tahun dari istri Summer sehingga mudah untuk mengingatnya. Awalnya bisa dikatakan ini hanya candaan antar dua orang sahabat dan mereka mengirimi surat tentang liburan yang mereka ciptakan kepada kolumnis atau jurnalis humor Amerika Dave Barry tahun 2002.
Ternyata ide ini disukai Barry dan mempromosikan hari itu serta memunculkan cameo dalam video “Drunken Sailor” Sing Along A-Go-Go mereka. Karena antusiasme, maka acara ini dirayakan secara internasional bahkan sebagian dari keberhasilan penyebaran liburan internasional telah dikaitkan dengan non pembatasan ide atau non merek dagang yang pada dasarnya membuka liburan untuk kreativitas dan pertumbuhan viral.
Asosiasi bajak laut dengan pasak, burung beo dan peta harta karun, yang dipopulerkan dalam novel Treasure Island karya Robert Louis Stevenson (1883), memiliki pengaruh yang signifikan terhadap budaya parodi bajak laut. Talk Likea Pirate Day dirayakan dengan fitur telur paskah tersembunyi di banyak game dan situs web, dengan Facebook memperkenalkan versi terjemahan bajak laut dari situsnya di Talk Likea Pirate Day 2008.
Baca juga: Yuk Kenali “Ganasnya” Laut Dengan Level Sea State
Bahkan seorang aktor Inggris yakni Robert Newton dikatakan sebagai “santo pelindung” Talk Likea Pirate Day. Hal tersebut karena dirinya memerankan bajak laut dalam beberapa film terutama Long John Silver dalam film Disney tahun 1950 Treasure Island dan film Australia tahun 1954 Long John Silver dan karakter judul dalam film di tahun 1952 Blackbeard the Pirate .
Helikopter pada umumnya maksimal bisa mengangkut belasan atau mungkin puluhan penumpang. Helikopter Boeing CH-47 Chinook dengan dua baling-baling, misalnya, hanya bisa mengakut sekitar 20 penumpang (beserta perlengkapannya).
Baca juga: Hari Ini, 38 Tahun Lalu, Helikopter Pertama yang Berhasil Keliling Dunia Berangkat! Butuh Waktu Hampir Sebulan
Bahkan, helikopter yang digadang-gadang jadi yang terbesar di dunia sekalipun, Mi-26, daya angkutnya juga terbatas. Helikopter terbesar di dunia buatan Uni Soviet ini hanya mampu hampir 90 penerjun payung atau 60 tentara terluka yang terbaring. Intinya, masih di bawah 100 orang. Di luar penumpang, helikopter dengan panjang 40 meter ini mampu mengangkut truk, tank, helikopter lain, pesawat besar sekalipun, dengan kapasitas hingga 20 ton kargo.
Akan tetapi, sebetulnya, adakah helikopter yang mampu mengangkut hingga 200 orang sekaligus layaknya jet narrowbody? Meskipun sulit dipercaya, helikopter dengan daya angkut sebanyak itu rupanya pernah ada di dunia.
Dikutip dari Simple Flying, dunia pernah dikejutkan dengan rencana pembuatan helikopter terbesar di dunia oleh Uni Soviet (Rusia), Mil V-12, pada dekade 60-an. Kala itu, belum pernah ada rancangan yang menyerupai helikopter dengan kapasitas kargo mencapai 40 ton itu.
Meskipun sempat dilaporkan gagal terbang pada 1967, proses pembuatan Mil V-12 tetap dilanjutkan sekalipun menuai banyak keraguan dari beberapa elite Uni Soviet. Usai menempuh proses panjang, dua prototipe helikopter dengan panjang 37 meter, tinggi hampir 13 meter, dan bentang sayap (baling-baling) mencapai 67 meter ini -melebihi bentang sayap pesawat jet jumbo Boeing 747-400- akhirnya berhasil tercipta.
Helikopter dengan empat mesin turboshaft Soloviev D-25VF berkekuatan 6.500 tenaga kuda tersebut mampu melesat dengan kecepatan mencapai 260 km per jam. Selain itu, Biro Desain Mil juga membekali V-12 dengan kecepatan jelajah 241 km per jam, jangkauan terbang sejauh 998 km, dan ketinggian terbang 3.505 m.
Berbekal kemampuan maha dahsyat, Mil V-12 didapuk untuk menjalankan tugas berat, seperti mengangkut tentara, peralatan, dan persediaan, termasuk misi khusus mengangkut rudal balistik antarbenua Soviet (ICBM) ke wilayah-wilayah terpencil agar bila waktunya tiba ICBM bisa ditembakkan ke Amerika Serikat (AS) yang kala itu sedang berseteru hebat degan Soviet dalam balutan perang dingin.
Sayangnya, Mil V-12, yang diberi kode sandi oleh NATO dengan nama Homer ini, tak sampai diproduksi secara massal. Harapan produksi massal juga terkubur bersamaan dengan harapan digunakannya helikopter itu sebagai angkutan komersial.
Baca juga: Seorang Penumpang Truk Tewas Terkena Sebilah Rotor Helikopter yang Lepas
Helikopter yang ruang kargonya dirancang agar sesuai dengan yang dimiliki oleh pesawat kargo strategis Antonov An-22 ini akhirnya digantikan dengan Mil Mi-26 (Halo).
Meski demikian, helikopter yang mulai diperkenalkan pada tahun 1983 tersebut tetap berhasil melanjutkan status sebagai helikopter terbesar di dunia yang disandang Mil V-12 Homer sampai detik ini, jauh lebih besar dari Sikorsky CH-53E Super Stallion yang mampu memuat hingga 55 orang ataupun Helikopter MH-53E Sea Dragon yang disebut menjadi helikopter terbesar buatan Amerika.
Sebuah video yang menampilkan seorang pengemudi UberEast mendapatkan US$100 ribu (sekitar Rp1,4 miliar) setahun menjadi viral dan video tersebut dipersembahkan oleh Grow yang merupakan mitra konten bersponsor. Namun apakah kenyataannya setiap pengemudi bisa mendapatkan US$100rb setahun?
Baca juga: Gunakan Aplikasi Cheetah, Pemilik Restoran Independen di AS Kembali Bergeliat
Sam Lyon kemudian membuat Uber Eats Challenge di TikTok untuk menampilkan berapa banyak yang bisa dihasilkannya pada bulan Juni lalu. Dilansir KabarPenumpang.com dari vice.com (15/9/2020), tantangan yang dibuatnya cukup sederhana di mana Uber Eats memungkinkan pengemudi online bekerja selama maksimal 12 jam dan Lyon melakukan hal itu selama seminggu hingga satu bulan penuh atau 30 hari.
Ternyata yang dihasilkan hanya US$8.357 di bulan itu dan ketika bekerja lima hari dalam seminggu ditotal dalam setahun hanya US$72.540. Penghasilan ini belum termasuk dengan beberapa pengeluaran seperti bensin, ganti oli, pulsa dan pajak tahunan, bahkan diperkirakan pengemudi hanya mendapat US$5.396 dengan biaya tambahan $653.
Di sebagian besar negara bagian di AS, pengemudi komersial jenis lain dilarang mengemudi lebih dari 10-11 jam sehari atau 60 jam seminggu karena itu akan membuat pengemudi kelelahan. Berbagai penelitian dan pakar telah menyatakan bahwa mengemudi secara penuh waktu untuk perusahaan ride hailing memiliki dampak serius pada kesehatan dan mental pengemudi.
Di New York City, kondisi kerja yang buruk menyebabkan serangkaian kasus bunuh diri pengemudi berbasis aplikasi dan terkait dengan serangkaian kasus bunuh diri lainnya di industri taksi yang dihancurkan oleh perusahaan angkutan udara. Faktanya bahwa pengemudi ride hailing dan kurir pengiriman makanan seperti Lyon salah diklasifikasikan sebagai pengemudi independen, terlepas dari adanya hubungan pemilik-karyawan, dan dibiarkan membayar tagihan untuk tunjangan yang dinikmati karyawan seperti asuransi kesehatan dan cuti berbayar.
Tapi apa yang membuat video ini semakin tidak masuk akal adalah setelah benar-benar menghitung pengeluaran dan pajak, Lyon nyaris tidak menghasilkan US$40 ribu setahun meskipun bekerja 12 jam sehari, setiap hari. Sehingga bisa diktakan video tersebut gagal menggambarkan penghasilan atau pengeluarannya secara akurat.
Dalam video buatan Lyon sendiri, dia mengatakan bahwa US$2.988 dari uangnya berasal dari tip yang adalah sekitar sepertiga dari pendapatannya, jadi Uber sebenarnya hanya membayarnya US$5.369. Lyon melaju sejauh 4.844 mil, tetapi tidak jelas berapa biaya yang sebenarnya akan dia keluarkan jika terus seperti ini selama setahun.
Baca juga: Yakin, Uber Mau Rajai Operasional Bus Inggris?
Lyon juga menetapkan 30 persen lagi dari pendapatannya untuk pajak yang membayar pendapatan bersih mereka, bukan pendapatan kotor seperti yang disarankan video tersebut. Setelah pajak, Lyon akan mendapatkan US$3.360 sebulan itu kira-kira US$9,33 per jam atau US$40.320 setahun untuk mengemudi 84 jam seminggu, setiap minggu, selama satu tahun penuh pun, ini jauh dari US$100 ribu seperti yang diiklankan dalam setahun.
Aplikasi ride hailing di seluruh dunia kini tengah melakukan berbagai penataan bisnis dan manajemen, pangkal musababnya apalagi jika bukan karena pandemi Covid-19 yang merontokkan sendi-sendi bisnis. Seperti di Arab Saudi, Jeeny yang dikenal sebagai aplikasi ride hailing nomer satu di Negeri kaya Minyak tersebut perlu melakukan penataan ulang pada bisnisnya.
Baca juga: Masa Pandemi, Bisnis Ride Hailing di Rusia Pertumbuhannya Terus NaikKabarPenumpang.com melansir arabianbusiness.com (13/9/2020), CO-CEO Jeeny dipaksa sepenuhnya menemukan kembali model untuk membantu mempertahankan tenaga kerjanya dan melakukan operasi pengiriman jarak jauh sambil menjaga kesehatan terbaik serta langkah-langkah keamanan. Eugen Brikcius selaku CO-CEO Jeeny mengatakan, bisnis ride hailing mereka turun seratus persen saat dalam lockdown yang diterapkan di Arab Saudi dan Yordania.
Brikcius mengatakan, perusahaan tengah berusaha menata ulang aplikasinya dan menjalin kemitraan pengiriman skala besar dengan perusahaan yang mewajibkan pengiriman darurat hingga jam malam dicabut.
“Kami bekerja sama dengan pemerintah Saudi dalam menyediakan armada pengemudi yang dilengkapi dengan pelatihan kesehatan dan keselamatan terbaik serta perlengkapan kebersihan. Bagi kami, sebagai bisnis yang utamanya berputar di sekitar transportasi, kebiasaan baru kami adalah menerapkan langkah-langkah keamanan dan sanitasi yang ekstrem pada pengemudi dan mobil mereka,” kata Brikcius.
Sebagai permulaan, Jeeny bermitra dengan Helpling, sebuah usaha layanan pembersihan berdasarkan permintaan yang berbasis di Dubai untuk menyediakan sanitasi profesional berkelanjutan bagi pengemudi yang mengunjungi kantor layanan Jeeny di kota-kota utama. Brikcius menambahkan, mereka juga mengimpor kaca plastik sebagai isolator dalam kabin dan memasangkanya di mobil pengemudi.
Terlepas dari masalah pandemi, Brikcius tetap mempertahankan salah satu tujuan utama perusahaan yakni untuk menghadirkan transportasi dengan tarif terjangkau di Arab Saudi dan Yordania terjangkau.
“Kami sekarang berencana untuk tumbuh secara vertikal lebih kuat dari sebelumnya, dengan menjadi pilihan teraman untuk bergerak di dalam pasar, sambil tetap memegang posisi kami sebagai aplikasi ekonomis,” kata dia.
Jeeny memiliki kantor di Riyadh, Jeddah, Madinah, Dammam, Khobar, Amman, Lahore, dan Karachi, sementara Brikcius menambahkan bahwa mereka saat ini sedang mengevaluasi peluang ekspansi dan mengamati perkembangan di pasar lain.
Baca juga: Layanan Ride Hailing di Amerika Serikat Sumbang 69 Persen Emisi Karbon
Selama pandemi, publik menghadapi banyak tekanan karena masalah ekonomi dan pengangguran. Jeeny menangani pandemi ini dengan menciptakan lingkungan yang aman bagi tenaga kerjanya. Keberhasilan organisasi dalam berjuang untuk mengatasi pandemi ini dan mengambil langkah-langkah kesehatan dan keselamatan yang diperlukan dapat menginspirasi perusahaan startup dan teknologi lainnya dalam menerapkan “disrupt and pivot” dan menjaga aset inti mereka, karyawan, sebagai metode untuk mengatasi force majeure, tidak hanya sebagai alat pertumbuhan.
Airbus jadi salah satu perusahaan pendaftar paten atas berbagai temuan unik dan inovatif terbesar di dunia. Setidaknya, setiap tahun, Airbus menghabiskan tak kurang dari €3,5 miliar atau sekitar Rp61 triliun (kurs 17.565) untuk penelitian dan pengembangan. Dari 37 ribu paten yang telah diajukan produsen pesawat asal Eropa ini, salah satu yang paling unik adalah paten atas desain konsep pesawat inovatif dan futuristik Donat Terbang (Flying Donut).
Baca juga: Folding Airline Seats, Paten Airbus Paling Berguna di Masa Pandemi Corona!
Dilansir Simple Flying, disebut Donat Terbang, sebab, paten konsep pesawat Airbus meletakkan kursi penumpang (kurang lebih sebanyak 118 kursi) membentuk lingkaran di bagian tengah pesawat, dengan lubang di tengah sebagai akses keluar masuk penumpang. Lubang di bagian tengah ini nantinya akan menggunakan eskalator untuk memudahkan proses naik turun penumpang. Tetapi, di gambar lain, Airbus bahkan mengajukan penggunaan lift (elevator), bukan eskalator.
Dalam konsep Donat Terbang, pantry awak kabin berada di antara kokpit pilot dan kabin utama penumpang, berbeda dengan desain pantry pesawat pada umumnya yang berada di bagian belakang setelah kokpit dan kabin utama.
Konsep Donat Terbang Airbus. Foto: Airbus via Simple Flying
Paten Donat Terbang Airbus yang sudah diajukan ke Kantor Paten Eropa dan AS pada tahun 2014 ini dinilai sangat out of the box oleh banyak kalangan. Hal itu mengingat secara desain, pesawat sangat berbeda jauh dengan pesawat jet yang ada. Namun, Donat Terbang Airbus diragukan mampu terbang dengan jarak jauh dengan desain tersebut.
Akan tetapi, keraguan tersebut segera terjawab dengan penjelasan Airbus dalam paten yang diajukan. Produsen pesawat asal Eropa ini mengklaim bahwa konsep Flying Donut jauh lebih efektif, efisen, dan aman dari desain pesawat saat ini. Sebab, konsep tersebut lebih tahan terhadap tekanan besar dari luar pesawat dengan menghilangkan konsep kabin penumpang longitudinal. Selain itu, desain sayap sederhana juga membuat pesawat lebih efisien.
Selama bertahun-tahun, konsep Donat Terbang Airbus terus dipelajari para perangcang papan atas dunia untuk mewujudkannya menjadi sebuah pesawat terbang. Sejauh ini, pesawat konsep model skala Flying-V besutan KLM-TU Delft dan Airbus MAVERIC (Model Aircraft for Validation and Experimentation of Robust Innovative Controls) sebagai prototipe teknologi model “Blended Wing Body” menjadi jawaban atas desain konsep Donat Terbang; khususnya terkait desain sayap sederhana.
Baca juga: Airbus Dorong Penerbangan “Fello’Fly” Guna Capai Efisiensi Bahan Bakar Hingga 15 Persen
Hanya saja, perubahan besar desain pesawat perlu diikuti oleh perubahan desain bandara dalam menangani pesawat. Langkah tersebut tentu tidak mudah. Itulah sebabnya, saat ini, Airbus belum terlalu menaruh perhatian besar ke konsep pesawat Donat Terbang dalam beberapa tahun mendatang. “Ini (konsep Donat Terbang) bukanlah sesuatu yang sedang dalam pengembangan aktif,” jelas juru bicara Airbus kepada Financial Times.
Kendati demikian, konsep Donat Terbang cukup menarik ditunggu, apakah akan digabungkan dengan konsep bahan bakar masa depan seperti hidrogen, hybrid, dan listrik, atau akan tetap menggunakan bahan bakar fosil namun tetap mempertahankan desain seperti yang sudah diajukan paten pada 2014 ini?
Sejak pertama kali merebak pada 11 Maret lalu, wabah virus corona di Kanada belum ada tanda-tanda akan berakhir. Berbagai himbauan serta upaya medis dilakukan di seluruh sudut negara tersebut, termasuk di bandara. Belum lama ini, Bandara Internasional Vancouver, bekerjasama dengan WestJet Airlines dilaporkan bakal menggelar rapid test Covid-19 sebelum penumpang memulai penerbangan.
Baca juga: Air Canada Sebut Proses Recovery Akibat Corona Butuh Tiga Tahun
Dalam sebuah pernyataan bersama, CEO Otoritas Bandara Vancouver, Tamara Vrooman dan CEO Maskapai WestJet Airlines, Ed Sims, menyebut langkah tersebut ditempuh untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat dalam menggunakan transportasi udara. Upaya tersebut perlu diperkuat mengingat saat ini tren penerbangan di Negeri Pecahan Es itu masih belum bisa sepenuhnya pulih.
Menurut Badan Layanan Perbatasan Kanada (CBSA), perjalanan udara ke negara itu, pekan lalu, turun 91 persen, dibandingkan dengan waktu yang sama di 2019.
“Kami bekerja dengan pemerintah dan otoritas kesehatan untuk memastikan data yang kami kumpulkan berguna untuk tujuan mereka dan kami akan bermitra dengan akademisi untuk menggabungkan keahlian kami dalam pergerakan penumpang dengan sains,” salah satu bunyi pernyataan itu, seperti dilaporkan cowichanvalleycitizen.com.
“Tim kami akan meneliti dengan cermat hasil tes untuk mempelajari bagaimana kami dapat lebih meningkatkan proses perjalanan dan mengembangkan langkah-langkah keamanan kami sesuai kebutuhan,” bunyi pernyataan lainnya.
Selain untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat dalam menggunakan transportasi udara, rapid test untuk penumpang WestJet Airlines di Bandara Internasional Vancouver juga merupakan bagian dari proyek percontohan yang diluncurkan pemerintah beberapa waktu lalu.
Saat ini, menurut Kementerian Kesehatan Kanda, Health Canada, belum ada rumah sakit, klinik, atau sejenisnya yang diizinkan melayani rapid test. Hal itu terjadi usai alat rapid test dari Spartan Biosciences, tiba-tiba ditarik dari pasaran, sebulan pasca digunakan. Setelah itu, Kanada sangat selektif mengizinkan alat rapid test yang beredar, termasuk alat rapid test dari 14 perusahaan yang saat ini tengah dikaji.
Baca juga: Bandara Vancouver Adopsi Teknologi LED Sebagai Sistem Pencahayaan di Apron
Kasus virus corona di Kanada cukup unik. Menurut otoritas kesehatan Kanada, berbeda dengan di negara lain, mayoritas kasus baru Covid-19 di negara ini berasal dari warga yang berusia di bawah 39 tahun. Oleh karenanya, mereka memperingatkan bahwa kelompok dewasa muda tidak “tahan banting” terhadap penyakit ini.
“Data pengawasan nasional baru-baru ini menunjukkan bahwa orang dewasa muda berusia 20 hingga 39 tahun menjadi sumber kasus baru tertinggi di semua usia di Kanada,” kata kepala petugas kesehatan masyarakat Kanada, Theresa Tam dalam sebuah pernyataan.
Sebagai ibu kota negara, keberadaan bandara di DKI Jakarta rupanya masih kalah banyak dibanding Provinsi Sumatera Utara yang memiliki 10 bandara. Saat ini, Jakarta hanya mempunyai satu bandara internasional, yakni Bandara Internasional Halim Perdanakusuma. Adapun satu bandara internasional lainnya bukan terletak di Jakarta, melainkan di Tangerang, Banten; sekalipun jarak tempuh dari keduanya tergolong singkat.
Baca juga: Mengenal Bandar Udara Kemayoran, Bandara Internasional Pertama di Indonesia
Seiring meningkatnya frekuensi penerbangan dan pertambahan jumlah penumpang di setiap tahun, wacana mendirikan bandara baru, yang diusulkan bernama Bandara Ali Sadikin, pun menyeruak. Kala itu, proyek usulan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, terutama Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ini rencananya akan dibangun di Marunda, Jakarta Utara atau di bibir muara Banjir Kanal Timur (BKT).
Dilansir dari berbagai laman sumber, Bandara Internasional Ali Sadikin ini nantinya akan terkoneksi dengan wilayah Tanggul ‘Garuda Raksasa’, dan 17 pulau baru hasil reklamasi. Selain bandara, proyek besar ini juga akan dilengkapi pelabuhan.
Padahal, bila dirunut ke belakang, Jakarta rupanya pernah mempunyai satu bandara selain Halim Perdanakusuma. Bandara tersebut ialah Bandara Internasional Kemayoran. Runway bandara ini dibangun pada tahun 1934 dan secara resmi dibuka pada tanggal 8 Juli 1940.
Bandara ini pertama kali didarati pesawat jenis DC-3 Dakota milik perusahaan penerbangan Hindia-Belanda, KNILM (Koningkelije Nederlands Indische Luchtvaart Maatschapij) dua hari sebelum diresmikan. Tercatat pesawat KNILM beroperasi di Kemayoran sampai akhir beroperasi.
Bandara yang dahulu terkenal dengan nama Kemajoran ini perlahan mulai berhenti beroperasi pada tanggal 1 Januari 1983. Bandara ini resmi ditutup pada tanggal 31 Maret 1985. Selanjutnya seluruh penerbangan lokal dan internasional dipindahkan ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Dilihat dari letak geografis, sebetulnya Bandara Kemayoran dengan calon lokasi Bandara Ali Sadikin tidak terpaut cukup jauh, hanya berjarak sekitar lima menit ke arah Utara. Mengingat bandara tersebut sudah tidak lagi dioperasikan, opsi untuk mengaktifkan kembali bandara tersebut ketimbang membuat bandara baru dinilai lebih masuk akal.
Akan tetapi, bila pun Bandara Ali Sadikin tetap ingin dibangun, paling tidak ada dua dampak yang akan ditimbulkan, satu dampak buruk dan satu lainnya baik. Dampak positif bila Bandara Ali Sadikin dibangun tentu bakal meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitar bandara. Selain itu, keberadaan Bandara Ali Sadikin juga akan mengurai kepadatan yang terjadi di Bandara Soekarno-Hatta.
Akan tetapi, keberadaan Ali Sadikin tentu bakal membuat wilayah sekitar radius beberapa klimoter tak diperbolehkan adanya bangunan tinggi. Hal itu tentu tidak mudah mengingat harus melalui proses panjang dan berkaitan dengan banyak instansi terkait.
Baca juga: Ada Lima Bandara Pionir di Indonesia, Semuanya Buatan Belanda Lho!
Sayangnya, di akhir tahun 2014 lalu, Pemprov DKI sudah memastikan bahwa Bandara Ali Sadikin batal di bangun karena kepadatan yang terjadi di Bandara Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma. Sebagai gantinya, Karawang pun dibidik untuk bisa dibangun bandara baru.
Ali Sadikin sendiri ialah Gubernur Jakarta periode 1966 -1977. Terlepas dari berbagai kontroversi yang mewarnai kepemimpiannya, seperti melokalisasi pekerja seks, program keluarga berencana, penerapan pajak judi, pelarangan becak, sampai menutup Jakarta dari pendatang baru, Gubernur yang punya gagasan masterplan pembangunan 1965-1985 untuk membuka pintu bagi investasi swasta ini dinilai sebagai sosok yang tulus memikirkan warga miskin. Setidaknya, itulah pandangan sejarawan JJ Rizal.
Bagi Anda yang kerap bepergian dengan pesawat, terlebih jika duduk di dekat jendela, pasti pernah melihat beberapa bagian sayap bergerak turun saat hendak lepas landas. Beberapa dari Anda, mungkin akan mengira bahwa bagian dari pesawat yang disebut flap ini tak begitu penting dalam membantu operasi pesawat.
Baca juga: Ternyata, Flap Boeing 747 Garuda Indonesia Pernah Lepas di Udara
Padahal, sekalipun flap hanya melakukan gerakan kecil, dampak yang ditimbulkan cukup vital dalam membantu memaksimalkan gaya angkat (lift) dan gaya ke belakang (drag) pesawat. Sebagaimana yang umum diketahui, pesawat bisa terbang disebabkan oleh adanya empat gaya. Gaya thrust (gaya dorong), lift (gaya angkat), weight (gaya berat), dan drag (gaya ke belakang atau menarik mundur).
Dilihat dari jenisnya, flap terbagi menjadi empat. Fungsi dari keempat flap pesawat pun berbeda-beda, bergantung pada perubahan sayap hasil dari gerakan flap. Untuk lebih jelasnya, dikutip dari boldmethod.com, berikut KabarPenumpang.com rangkum empat jenis flap berserta fungsinya.
1. Plain flapsPlain flap. Foto: boldmethod.com
Di antara empat jenis flap pesawat, plain flap bisa dibilang jadi yang paling sederhana. Plain flap berfungsi untuk membantu pesawat dalam proses take off dengan bergerak ke arah bawah.
Ilustrasi cara kerja plain flaps. Foto: boldmethod.com
Oleh karenanya, udara yang mengalir di sayap akan terpisah atau terpendar dan hambatan dari plain flap akan membuat udara di bagian bawah sayap mendorong pesawat ke atas dan mendapatkan gaya angkat. Umumnya flap ini digunakan pada pesawat besar, baik narrowbody maupun widebody.
2. Split flapsSplit flap. Foto: boldmethod.com
Sama seperti plain flap, split flap juga berfungsi menghasilkan gaya angkat pesawat. Hanya saja, gaya angkat yang dihasilkan split flap lebih besar sejalan dengan hambatan yang dihasilkan. Dari empat jenis flap, split flap sama sekali tidak mengubah desain sayap, berbeda dengan tiga lainnya yang mengubah bentuk sayap. Umumnya flap jenis ini ada di pesawat kecil.
Ilustrasi cara kerja split flaps. Foto: boldmethod.comBaca juga: Laksana Cahaya Bintang, Inilah Arti Kelap-Kelip Lampu di Ujung Sayap Pesawat3. Slotted flapsSlotted flap. Foto: boldmethod.com
Slotted flaps atau flap berlubang, digunakan oleh pesawat kecil maupun besar. Hal itu karena flap jenis ini mempunyai dua fungsi, meningkatkan camber sayap dan membuka celah antar sayap. Dengan adanya aliran sayap dari arah bawah dan menerobos ke bagian atas sayap lewat celah tersebut, gaya lift pesawat yang dihasilkan cukup besar tanpa mengurangi drag pesawat secara berlebihan, seperti dua flap di atas.
Ilustrasi cara kerja slotted flaps. Foto: boldmethod.com
4. Fowler flaps
Fowler flap. Foto: boldmethod.com
Fowler flaps berbeda dengan tiga jenis flap sebelumnya. Flap jenis ini dalam prosesnya menambah luas sayap pesawat sehingga menciptakan gaya angkat yang cukup besar, dibantu dengan aliran udara dari bawah ke sela-sela flap layaknya slotted flap. Maka dari itu, tak jarang, flap ini juga kerap disebut fowler flap. Bedanya, fowler flap memiliki dua sela-sela antar sayap, sebagaimana gambar di bawah, sedangkan slotted flap hanya satu. Umumnya flap jenis ini ada pada pesawat jet berbadan lebar.
Ilustrasi cara kerja fowler flaps. Foto: boldmethod.com
Lika-liku pramugari saat melayani penumpang cukup beragam. Ada yang dilecehkan, dituduh tidak profesional, sampai dituduh bermalas-malasan akibat satu dan lain hal; tak terkecuali apa yang menimpa pramugari American Airlines belum lama ini.
Baca juga: Gara-Gara Diet Keto, Awak Kabin American Airlines Dipecat Setelah Tes Breathalyzer Alkohol
Seperti dilansir onemileatatime.com, seorang pramugari salah satu maskapai terbesar di Amerika Serikat (AS) itu dituduh asik bermalas-malasan gegara pandemi Covid-19 oleh seorang penumpang first class.
Insiden tuduhan tak mengenakkan penumpang ke pramugari itu bermula saat penumpang yang tak diungkap identitasnya ini meminta sampanye saat penerbangan singkat, dari Tampa ke Dallas, AS, dimulai.
Saat sudah habis satu dua botol, penumpang tersebut kembali meminta diberikan sampanye. Melihat penumpang itu masih terjaga, pramugari pun dengan rendah hati memberikannya. Namun, saat botol ketiga dan keempat ludes, pramugari mulai menahan penumpang agar tak melanjutkan minum. Terlebih, pesawat sudah lima menit sampai di bandara, di samping penumpang itu juga keliatan sudah mulai mabuk.
Akan tetapi, penumpang tersebut terus merongrong pramugari agar diberikan sampanye. Entah apa yang terjadi, pramugari ini akhirnya memberikan sampanye Jack Daniels dan Diet Coke ke penumpang itu.
Namun, bukan apresiasi yang didapat terhadap layanan yang diberikan, pramugari tersebut justru mendapat kata-kata yang tak menyenangkan dalam sebuah tisu. Tisu tersebut diberikan ke pramugari sesaat sebelum penumpang meninggalkan pesawat, dengan bertuliskan “You use Covid to justify being lazy. At a time when you should do the opposite,” atau bisa diartikan “Anda menggunakan Covid untuk membenarkan kemalasan. Di saat bersamaan seharusnya Anda melakukan sebaliknya.”
Baca juga: Awak Kabin American Airlines Meninggal di Pesawat, Gegara Corona?
Kejadian tersebut tentu berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh pramugara American Airlines. Belum lama ini, seorang pramugara mendapat pujian setinggi langit usai memberikan catatan Black Lives Matter kepada penumpang di salah satu penerbangannya.
Kejadian bermula saat, Kellee Edwards, jurnalis travel di sebuah media mainstream di AS, sedang menikmati penerbangan first class bersama maskapai yang bermarkas di Texas itu. Tiba-tiba, ia didatangi oleh seorang pramugara, John McCullough, dan memberikan secarik kertas bertuliskan “I see you. You matter. Black lives matter.” Kellee Edwards pun membagikan cerita perjalannya itu ke media sosial dan mendapat banyak tanggapan berupa pujian untuk pramugara tersebut.