



Proragm fello’ fly umumnya ditargetkan bakal terlaksana pada penerbangan jarak jauh. Tak harus lepas landas dalam waktu yang bersamaan, pesawat yang sudah berada di udara nantinya akan diatur sedemikian rupa oleh ATC untuk bertemu di sebuah waypoint untuk kemudian menerapkan formasi fello’ fly. Bergantung pada rute dan jam, dalam satu airways usai bertemu di waypoint, fello’ fly bisa saja melibatkan banyak pesawat. Selama menjalankan fello’ fly, pada skema dua pesawat (detail skema fello’ fly lebih dari dua pesawat masih butuh uji coba lanjutan), antar mereka akan dibatasi jarak masksimal 3km (1.5nm) dan pesawat yang berada di belakang akan memposisikan di bawah leader (pesawat yang ada di depan) di ketinggian 304 meter (1.000 kaki). Dalam perjalanan menuju bandara tujuan, leader yang akan memimpin komunikasi dengan ATC. Nantinya, pesawat yang berada di belakang akan menikmati updraft atau hentakan ke atas (biasa juga disebut vertical draft) efek dari wingtip vortex yang dihasilkan pesawat yang berada di depan. Sehingga, pesawat tak perlu mengeluarkan tenaga ekstra dan pada akhirnya membuat penerbangan jadi jauh lebih hemat bahan bakar.Talking about followers 🦅🦅: we are teaming up with @flyfrenchbee @SAS @DGAC #DSNA @NATS and @eurocontrol, to show how our #fellofly demonstrator can fly 2 aircraft safely together, reducing fuel burn to contribute to the industry’s #sustainability goals. https://t.co/YlucUOTGTH pic.twitter.com/YOdMqIzbEe
— Airbus (@Airbus) September 9, 2020

Adanya beda potensial yang rendah (adanya aliran elektron dari kutub negatif sumber tegangan menuju kutub positifnya) antara kedua lapisan oksida yang membungkus tiga lapisan dalam menyebabkan terjadinya transfer ion yang bermuatan positif atau anion (A+) menuju lapisan elektrokromik. Ion positif ini bisa merupakan anion hidrogen atau litium. Anion didorong melalui lapisan elektrolit sehingga bisa sampai ke lapisan elektrokromik. Adanya anion di lapisan elektrokromik ini menyebabkan terjadinya perubahan karakteristik optis dan sifat termal bahan sehingga dapat menyerap gelombang cahaya tampak. Panas matahari yang menyertai gelombang cahaya tampak juga diserap oleh bahan elektrokromik ini. Karena gelombang cahayanya diserap, kaca jendela menjadi terlihat gelap (opaque). Sewaktu aliran listrik dihentikan, anion yang ada di lapisan elektrokromik tadi terdorong lagi keluar melalui elektrolit dan kembali ke tempat penyimpan ion (tempatnya semula). Karena lapisan elektrokromik tidak lagi mengandung anion, karakteristik optisnya kembali ke semula sehingga kaca kembali menjadi transparan. Meskipun sudah terlihat sempurna, beberapa perusahaan pengembang kaca elektrokromik (dimmable windows) dikabarkan masih terus melakukan pengembangan, terutama pada tingkat kemampuan kaca dalam menyaring lebih banyak cahaya hingga 10 kali lipat dan kemampuan meredupkan kaca dua atau bahkan empat kali lebih cepat dari yang ada saat ini. Di dunia, bebeberapa pesawat sudah dilengkapi dengan kaca elektrokromik, seperti Boeing 787 Dreamliner, Boeing 777X, dan Airbus A350. Jadi, jika traveller sekalian suatu hari ikut dalam penerbangan internasional dan tak mendapati tirai di jendela, jangan dulu panik, cukup tekan tombol yang ada di sekitar jendela dan seketika kaca akan meredup. Baca juga: Pernah Dengar Seberapa Tebal Kaca Pesawat? Simak Di Sini Jika Belum Di beberapa pesawat, penumpang bisa memilih tingkat keredupan untuk mengakomodir penumpang yang tak ingin terlalu redup agar tetap bisa melihat pemandangan di luar namun juga intensitas cahaya yang masuk tak terlalu besar. Sebetulnya, teknologi kaca elektrokromik sudah diaplikasikan di banyak tempat, termasuk toilet di Jepang. Toilet yang berada di pinggir pedesterian tersebut bahkan menjadi perbincangan warganet di dunia karena transparan; tentu sebelum teknologi elektrokromik bekerja.
