Warsawa Hadirkan Halte Bus Ramah Lingkungan dengan Atap Berumput
Halte di setiap negara memiliki banyak keunikan dan keuntungan masing-masing bagi penumpangnya. Bahkan di desain semenarik dan senyaman mungkin agar penumpang betah menunggu bus atau angkutan lainnya serta bisa berteduh dari terik matahari ataupun hujan.
Baca juga: Percantik Kota dan Menyenangkan Anak-anak, Halte Bus di Ontario Tampil dengan Corak Pastel
Di Warsawa, Polandia sebuah halte bus dibuat ramah lingkungan yang dilengkapi dengan atap berumput. Selain itu kaca yang dibuat juga khusus anti burung. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thefirstnews.com (9/8/2020), halte Popiełuszki 05 di Żoliborz dipilih menjadi yang pertama untuk desain halte hijau ini di ibukota.
Kemudian setelah ini akan ada 20 halte bus lagi yang akan diresmikan pada akhir tahun sebagai bagian dari rencana yang dapat merevolusi dunia terkait desain halte bus yang keras dan praktis. Halte bus ramah burung dan penumpang ini memiliki halaman rumput di bagian atapnya dan mencegah burung menabrak kaca sehingga melukai tubuhnya tersebut.
Rumput yang ditanam di atap halte adalah tanaman sedum. Tanaman ini sendiri mampu hidup di tempat kering dan tidak memerlukan perawatan yang berlebihan. Untuk pengairannya, air hujan lebih dari cukup untuk menghidupi tanaman sedum itu.
Namun jika hujan tak ada, tanaman sedum di atap halte ini tetap dipantau dan AMS yang adalah perusahaan pembuatnya akan bertanggung jawab atas itu dan bisa melakukan intervensi jika diperlukan.
“Tanaman sedum bisa tahan terhadap kekeringan, tanah tandus dan penurunan suhu. Mereka adalah tanaman yang sempurna untuk taman batu dan atap hijau. Tempat penampungan ramah lingkungan dapat menyimpan hingga 90 liter air hujan,” kata Łukasz Porębski, seorang anggota dewan distrik Żoliborz.
Łukasz menambahkan, tanaman ini bisa mengurangi debu di udara sekitar tempat penampungan antara 15 hingga 20 persen serta mampu menyerap 7,3 kilogram CO2 per tahun dan pada hari-hari yang panas tempat penampungan dapat menurunkan suhu di bawah atap tempat penampungan antara tiga sampai lima derajat Celcius.
Selain itu, halte memiliki tanda khusus untuk melindungi burung dari benturan dengan kaca. Mereka yang memiliki kekhawatiran tentang alergi tidak perlu khawatir karena hal ini tidak akan meningkatkan risiko penderita demam.
Baca juga: Tangkal Penyebaran Covid-19, Seoul Hadirkan Halte Bus dengan Teknologi Sinar Ultraviolet
Anggota Dewan Porębski memimpin perjuangan untuk memperkenalkan halte bus hijau di Warsawa dan dia mengatakan bahwa pada akhir bulan akan ada pertemuan untuk memutuskan di mana perhentian hijau berikutnya akan berlokasi, dan pada akhir tahun tujuannya adalah untuk menambahkan 20 perhentian hijau lagi.
Folding Airline Seats, Paten Airbus Paling Berguna di Masa Pandemi Corona!
Airbus jadi salah satu perusahaan pendaftar paten atas berbagai temuan unik dan inovatif terbesar di dunia. Dari ratusan paten yang diajukan produsen pesawat asal Eropa ini setiap tahun, salah satu yang paling berpengaruh dan relevan dengan kondisi saat ini ialah folding airline seats atau bisa dibilang kursi lipat di pesawat.
Baca juga: “Re-Configurable Passenger Bench Seat,” Inovasi Airbus untuk Penumpang Obesitas
Seperti yang sudah umum diketahui, sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan Covid-19 sebagai pandemi global Maret lalu, industri penerbangan jatuh ke titik terdalam sepanjang sejarah. Dimana-mana maskapai penerbangan mengeluh sepi dan beberapa di antaranya terpaksa bangkrut.
Kendatipun penerbangan penumpang sepi, tingginya kebutuhan peralatan dan perlengkapan medis di seluruh dunia membuat maskapai merombak total beberapa pesawat untuk melayani penerbangan hanya kargo. Namun, di beberapa kasus, kursi-kursi penumpang di kabin utama tak sampai ditanggalkan karena perubahan konfigurasi dari penumpang menjadi kargo ataupun sebaliknya. Hal itu dilakukan sebagai langkah antisipatif bila sewaktu-waktu penerbangan penumpang dibutuhkan.
Padahal, bila maskapai mengadopsi desain inovatif (Airbus folding airline seats) mereka tak perlu khawatir tentang hal itu. Sebab, desain kursi lipat yang ditemukan Airbus pada 2015 lalu dapat memudahkan konfigurasi dari penumpang ke kargo hanya dalam hitungan menit.
Kursi pesawat cukup dilipat dan didorong ke bagian belakang ataupun depan dengan mudah berkat bantuan guide tracks. Dengan begitu, efektivitas dan efisiensi kabin utama untuk memuat kargo jauh lebih tinggi di samping tetap bisa melindungi kemungkinan kursi rusak akibat gesekan (dengan kargo).
Maskapai juga tak perlu pusing mencari tempat untuk menyimpan kursi karena cukup diletakkan di bagian belakang atau depan kabin utama, sekalipun konsekuensinya membuat kapasitas sedikit berkurang.
Antara tempat penyimpanan kursi dengan kabin utama yang ingin dimuati kargo juga terdapat sekat partisi. Dengan begitu, maskapai tetap bisa dengan mudah menyisakan beberapa kursi -jika mereka menginginkannya- atau dalam penerbangan istilah tersebut dikenal sebagai Passenger-to-FlexCombi, seperti gambar di atas.
Baca juga: Tak Ingin Meratapi Nasib, Hi Fly Ubah Airbus A380 Jadi ‘Varian’ Kargo Pertama di Dunia
Salah satu maskapai yang mengadopsi folding airline seats atau kursi lipat pesawat temuan Airbus, Ethiopian Airlines, seperti dikutip dari Simple Flying, mengaku sangat terbantu dengan konsep tersebut. Maskapai tak perlu khawatir bila sewaktu-waktu salah satu dari penerbangan kargo ataupun penumpang sepi dan lainnya tinggi. Mereka dapat mengubah konfigurasi dengan mudah untuk mengantar kargo dan penumpang ke seluruh dunia dengan lebih ekonomis.
Sebagai informasi, sejak diajukan paten oleh Airbus pada 2015 lalu, desain folding airline seats belum banyak dilirik. Sebab, keadaan belum menuntut maskapai mengadopsi desain tersebut. Namun, dengan rendahnya frekuensi penerbangan penumpang -yang diperkirakan bakal terus berlangsung hingga satu-dua tahun mendatang- folding airline seats akan sangat dibutuhkan maskapai.
Babak Baru Kecelakaan Boeing 737 MAX: Insinyur Senior Tak Tahu Desain Akhir yang Digunakan
Dua insinyur senior Boeing yang mengawasi desain 737 MAX mengaku tak tahu desain akhir yang dipilih untuk pesawat tersebut. Hal ini terungkap tatkala insinyur senior yang juga menjabat sebagai wakil presiden teknik pengembangan 737 MAX ini diberondong pertanyaan oleh penyelidik Komite DPR Amerika Serikat (AS) untuk Transportasi dan Infrastruktur, belum lama ini.
Baca juga: Setelah Jalani Total Terbang 10 Jam, Proses Sertifikasi Ulang Boeing 737 MAX Dihentikan
Dilaporkan Bloomberg, Keith Leverkuhn dan Michael Teal juga mengaku bahwa desain final yang saat ini beredar, termasuk Boeing 737 MAX Lion Air dan Ethiopian Airlines, merupakan keputusan dari karyawan dengan skill serta pengalaman minim. Pengakuan keduanya tentu mengingatkan pada mantan insinyur Boeing, Mark Rabin, yang menyebut Boeing merekrut insinyur outsourcing untuk mengembangkan software spesifik yang diminta perusahaan.
“Para pemimpin teknik yang berada jauh di bawah level saya yang membahas detail desain Boeing 737 MAX,” jelas Teal, terkait fitur Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) yang jadi penyebab kecelakaan.
Pernyataan Teal kemudian juga didukung Boeing, “Mengingat luasnya tanggung jawab mereka, Tn. Leverkuhn dan Tn. Teal tidak, dan tidak mungkin, terlibat dalam setiap keputusan desain dan perlu mengandalkan spesialis teknik untuk melakukan pekerjaan desain dan sertifikasi terperinci yang terkait dengan sistem individu.”
Pengakuan Keith Leverkuhn dan Michael Teal tentu berlawanan dengan pernyataan perusahaan pada pertengahan Mei tahun lalu. Kala itu, dua Insinyur Boeing disebutkan telah mengidentifikasi kesalahan dalam sistem peringatan pilot pesawat 737 MAX pada 2017, setahun sebelum kecelakaan Lion Air JT 610 terjadi.
“Pada 2017, dalam beberapa bulan setelah memulai pengiriman 737 MAX, para insinyur di Boeing mengidentifikasi bahwa tampilan (display) perangkat lunak sistem 737 MAX tidak memenuhi persyaratan untuk indikator AOA Disagree,” bunyi keterangan pers Boeing.
Menurut Boeing, peralatan yang seharusnya menjadi standar keselamatan, yang berfungsi memberitahu pilot tentang kondisi indikator angle of attack (AOA), sebenarnya tidak aktif di pesawat, kecuali indikator opsional tambahan ini dibeli oleh maskapai.
Baca juga: NTSB Rekomendasikan Latihan Khusus Pilot Sebelum Menerbangkan Boeing 737 MAX
Indikator AOA adalah alat yang berfungsi untuk mengukur sudut pesawat terhadap arah udara, untuk mencegah keadaan macet (stall). Celakanya, Lion Air dan Ethiopian Airlines tidak membeli fitur itu sehingga pesawat mereka tidak dilengkapi indikator keamanan. Kekeliruan informasi itulah yang pada akhirnya mendorong terjadinya kecelakaan akibat pesawat stall.
Selain insiden stall, penyidik DPR AS juga memfokuskan diri pada ditiadakannya pelatihan pilot Boeing 737 MAX. Keith Leverkuhn dan Michael Teal mengaku sama sekali tak terlibat dengan keputusan bahwa pilot Boeing 737 Next Generation (NG) tidak perlu sertifikasi ulang untuk menerbangkan 737 MAX. Pilot NG kala itu cukup dengan dibekali pengantar singkat tentang fitur baru MAX. Diharapkan, hasil wawancara dengan keduanya bisa segera dirilis.
Meski dalam Tekanan Ekonomi, Iran Sukses Luncurkan Lokomotif Berbahan Bakar Ganda Pertama
Meski mendapat tekanan berat akibat sanksi ekonomi yang dilancarkan Amerika Serikat dan sekutunya, namun Iran terbukti tangguh dalam melakukan reverse engineering, terbukti Negeri Para Mullah secara teknologi tidak tertinggal dari negara-negara seterunya di Timur Tengah. Dan belum lama ini, Iran Heavy Diesel Manufacturing Company (DESA) telah meluncurkan lokomotif diesel dengan bahan bakar ganda pertama yang mempunyai kekuatan 4 ribu tenaga kuda.
Baca juga: Setelah Ditangguhkan, Kereta dari Turki ke Iran Kembali Beroperasi
Peluncuran pada hari Minggu lalu dihadiri oleh Kepala Kereta Api Republik Islam Iran yang dikenal sebagai RAI, Saeed Rasouli. Dia mengatakan, beberapa tahun terakhir pembangunan perkeretaapian negara secara kuantitatif dan kualitatif semakin intensif dan beberapa provinsi termasuk Kermanshah, Hamedan, Urmia dan Gilan telah terhubung dengan jaringan kereta api negara.
“Kami telah mampu memberikan peluang untuk melakukan investasi di industri kereta api dengan menawarkan paket dukungan. Langkah tersebut telah mendorong banyak permintaan dari sektor swasta untuk melakukan investasi di industri ini, beberapa di antaranya sedang dalam proses dan beberapa sedang dalam tahap penandatanganan perjanjian dan kontrak,” kata Saeed.
Dia mengatakan, jika dana yang dibutuhkan akan disediakan dan RAI akan mampu mengoperasikan seribu kilometer perkeretaapian baru pada akhir masa jabatan pemerintah saat ini. Pejabat ini menekankan bahwa pembuatan mesin tersebut merupakan kesuksesan yang signifikan bagi industri kereta api negara dan akan memainkan peran penting dalam mengurangi ketergantungan industri pada sumber asing.
KabarPenumpang.com melansir dari laman tehrantimes.com (14/9/2020), pembangunan infrastruktur kereta api sangat penting untuk pembangunan berkelanjutan dan pertumbuhan ekonomi di negara manapun. Iran saat ini pun tengah fokus pada perluasan infrastruktur kereta api.
Baca juga: Perang Siber Iran Vs Israel! Kereta Bawah Tanah Israel Jadi Korban, Iran: Ini Baru Permulaan
Sebagai informasi, saat ini Iran memiliki lebih dari 13 ribu kilometer jalur kereta api dan berdasarkan Rencana Pembangunan Lima Tahun Nasional Keenam (2016-2021), jaringan kereta api akan diperluas hingga lebih dari 16.400 kilometer.
Siap Lepas Landas, Delta Airlines Kembali ke Gerbang Lantaran Ada Penumpang Tak Mau Pakai Masker
Seorang awak kabin Delta Airlines membuat pesawat tersebut kembali ke gerbang setelah bersiap meluncur ke landasan. Hal ini terjadi karena seorang penumpang yang menolak untuk menggunakan masker selama penerbangan.
Baca juga: Menolak Pakai Masker, Penumpang Kerera Cepat di Perancis Diusir dari Kereta
Penumpang wanita yang tidak diketahui namanya tersebut naik pesawat milik Delta dengan rute Detroit menuju ke Los Angeles pada Sabtu (11/9/2020) dengan menggunakan masker. Kemudian dia melepasnya ketika duduk di kursinya dan saat itu ketika diminta menggunakan maskernya kembali wanita tersebut menolak.
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman metro.co.uk (14/9/2020), insiden ini di-videokan secara singkat oleh seorang ibu mantan jurnalis Alexis Wiley, Pamela. Ibu tersebut mengirimkan video drama yang kemudian diunggah Pamela ke akun Twitter miliknya. Dia menulis caption, ‘Penerbangan @Delta ibuku dari Detroit ke LA baru saja berbalik dan kembali ke gerbang karena seorang penumpang menolak untuk memakai masker. Pramugari mengumumkan bahwa masker tidak bisa ditawar! Terima kasih @Delta karena mengutamakan keselamatan penumpang!’ Menurut Pamela, tanda-tanda masalah pertama adalah suara keributan yang datang dari bagian belakang pesawat saat wanita itu berhadapan dengan awak kabin karena tidak memakai masker. Dia mengatakan, awak kabin meminta dengan sopan dan bersikeras agar wanita tersebut menggunakan masker. Karena tidak mau, wanita itu dikeluarkan dari penerbangan dan setelah dipindahkan dari penerbangan tersebut, pesawat kembali lepas landas. Namun karena masalah ini, penerbangan tersebut tiba di Los Angeles terlambat 28 menit dari yang seharusnya. Delta Airlines mewajibkan semua penumpang yang berusia di atas dua tahun untuk menggunakan masker saat check in, di lounge, boarding dan selama penerbangan serta mengecualikan penggunaan ketika makan ataupun minum. Delta Airlines seperti semua maskapai lain di seluruh Amerika Serikat yang memperkenalkan kebijakan masker wajib dalam upaya melindungi penumpang dari penyebaran Covid-19. Baca juga: Pakai Masker Bisa Jadi Masalah Bagi Penderita Asma Kronis, Namun Awak Maskapai ini Tak Paham Delta dan para maskapai lainnya mengirim peringatan berulang kali kepada penumpang tentang kebijakannya setelah mereka memesan penerbangan. Covid-19 sejauh ini telah menginfeksi lebih dari 6,5 juta orang Amerika, dan lebih dari 194 ribu orang meninggal.My mom’s @Delta flight from Detroit to LA just turned around and went back to the gate because a passenger refused to wear a mask. Flight attendants announced masks are non negotiable! Thank you @Delta for putting passenger safety first! @LASpeech pic.twitter.com/vuMUl3fQVH
— Alexis Wiley (@AlexisWileyNews) September 13, 2020
Manchester Liverpool Road, Stasiun Tertua di Dunia yang Masih Berdiri dan Kini Menjadi Museum
Tahukah Anda stasiun kereta api tertua di dunia ternyata ada di kota Manchester, Inggris, di mana semua layanan diangkut oleh lokomotif uap terjadwal. Stasiun ini bernama Manchester Liverpool Road yang masih ada sampai saat ini.
Baca juga: Stasiun Da Lat dengan Desain Antik Perancis, Andalan Wisata Kereta Vietnam
Stasiun ini merupakan stasiun kereta api di Liverpool dan Manchester Railways di Manchester, Inggris yang dibuka pada 15 September 1830. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, stasiun ini ditutup untuk layanan penumpang pada 4 Mei 1844 ketika jalur kereta diperpanjang untuk brgabung dengan Kereta Api Manchester dan Leeds di Hunt’s Bank.
Setelah penutupan sementara tersebut, pra sarana ini kemudian menjadi stasiun barang dan menghentikan operasi pengangkutan penumpang untuk seterusnya. Meski begitu, untuk mengangkut penumpang digantikan sementara oleh stasiun kereta api ManchesterVictoria untuk mengangkut pnumpang.
Meski tak lagi beroperasi, kini Stasiun Mancherster Liverpool Road menjadi bagian dari Museum Sains dan Industri di Manchester. Hal ini membuat para pelancong yang ingin melihat stasiun tertua tersebut bisa langsung masuk ke museum.
Pada masa pengangkutan penumpang, kereta memiliki kelas satu dan dua di mana setiap kelas memiliki ruang pemesanan dan ruang tunggu sendiri. Dikarenakan stasiun cukup jauh dari pusat kota Manchester, penumpang banyak yang membeli tiket tulisan tangan dari agen di penginapan atau hotel.
Nanti, seorang petugas di aula pemesanan menukar tiket dengan counterfoil yang mirip dengan boarding pas maskapai modern. Tak hanya itu bisa membuat waybill dari informasi tiket untuk penjaga kereta. Sebelum penutupan pada 4 Mei 1844, bangunan stasiun diperpanjang pada tahun 1831 dengan pembangunan gerbong kereta dua jalan sederhana di atas berbagai rangan di sepanjang jalan Liverpool.
Untuk diketahui ketika pelancong datang di tanggal tertentu bisa naik kereta yang ada di dasar museum. Kereta yang digunakan adalah kereta lokomotif uap yang masih bisa beroperasi. Ketika masuk lebih dalam ke museum, pengunjung bisa melihat ‘Planet’ yang merupakan replika kereta lokomotif yang dibuat pada 1992, sedangkan lokomotif yang asli dibuat pada tahun 1830, dan menjadi kereta yang mengantarkan penumpang dari Liverpool dan Manchester.
Selain itu, pengunjung juga bisa melihat Agecroft No 1. Ini adalah tanki 0-4-0 (saddle tank) yang dibuat pada tahun 1948. Agecroft No 1 digunakan di Power Station Agecroft dan kemudian kembali digunakan pada tahun 2011. Museum Sains dan Industri ini buka setiap hari mulai pukul 10.00-17.00 waktu setempat.
Baca juga:
Namun, museum ini tutup pada tanggal 24-26 Desember dan 1 Januari. Untuk masuk ke museum ini, tidak dipungut biaya bagi setiap pelancong yang datang. Namun, Anda diharapkan mau menyumbang sebesar tiga Poundsterling atau sekitar Rp57 ribu per orang.
Qatar Airways Luncurkan Pesawat Ke-100 dengan Super WiFi, Tawarkan Satu Jam Gratis Akses
Qatar Airways, salah satu maskapai paling tajir di dunia, merayakan peluncuran pesawat ke-100 miliknya yang memiliki konektivitas ‘Super WiFi’ berkecepatan tinggi (in-flight broadband) yang membuat para penumpang dapat tetap terhubung dengan keluarga, kerabat, dan rekan kerja mereka ketika sedang berada di pesawat.
Baca juga: Gara-gara Hotspot WiFi ‘Nyala’ di Kabin, Dua Penumpang Diturunkan dari Pesawat!
Pesawat ke-100 dengan koneksi Super WiFi tersebut adalah Airbus A350-900 dengan nomer registrasi A7-ALC. Bertindak sebagai provider akses internet adalah perusahaan komunikasi satelit seluler global, Inmarsat. Mengutip dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (14/9/2020), disebutkan layanan ini hadir di seluruh armada maskapai sejak peluncurannya pada 2018
Para penumpang Qatar Airways yang berada pada penerbangan dengan GX Aviation dapat menerima hingga satu jam akses gratis ke layanan Super WiFi, dengan pilihan untuk membeli akses penuh selama penerbangan, jika membutuhkan lebih banyak waktu untuk online.
“Karena pada masa yang sulit ini, terhubung dengan orang-orang terkasih dan teman-teman menjadi lebih penting dari sebelumnya, kami sangat bangga untuk bekerja sama dengan Inmarsat dan teknologi GX Aviation untuk menghadirkan broadband Super WiFi berkecepatan tinggi,” ujar Kepala Eksekutif Grup Qatar Airways, Akbar Al Baker.
Baca juga: Sering Bepergian Naik Pesawat, Pasti Tahu Aplikasi Pembobol WiFi Bandara Ini, Kan?
Sebagai bentuk penghargaan terhadap loyalitas penumpang dari Indonesia, Qatar Airways menawarkan hingga dua voucher Super WiFi gratis untuk anggota Privelege Club yang melakukan pemesanan tiket hingga 1 Oktober 2020. Voucher Super WiFi tersebut dapat digunakan untuk perjalanan hingga 10 September 2021.
Traveller Serbu Penerbangan Tiga Jam ‘Tanpa Tujuan’ Royal Brunei Airlines
Demam “flights to nowhere” atau penerbangan tanpa tujuan masih terus terjadi. Usai Singapore Airlines dikabarkan bakal melaunching penerbangan tanpa tujuan pada Oktober mendatang, kini giliran Royal Brunei Airlines. Dengan harga tiket mulai dari US$106 atau sekitar Rp1,5 juta (kurs Rp15.000), traveller akan diajak jalan-jalan keliling negeri bahkan sampai ke negara tetangga. Tak ayal, tawaran terbang tanpa tujuan Royal Brunei Airlines pun diserbu traveller.
Baca juga: Singapore Airlines Tawarkan Traveller Terbang Tiga Jam ‘Tanpa Tujuan’
Lewat program “Dine & Fly”, maskapai penerbangan nasional Brunei Darussalam ini akan mengerahkan salah satu dari tujuh Airbus A320neo dalam penerbangan tanpa tujuan, mengelilingi Brunei Darussalam dan beberapa destinasi negara tetangga Malaysia, seperti Kota Kinabalu dan Labuan selama hampir tiga jam.
Selain itu, sebelum mendarat di Bandara Internasional Brunei (BWN), traveller juga akan diajak mengelilingi Jembatan Sultan Haji Omar Ali Saifuddien sepanjang 30 kilometer (19 mil) yang notabene merupakan ikon Brunei. Jembatan ini dibuka pada 17 Maret 2020 lalu, menelan biaya B$1,2 miliar atau sekitar Rp13 triliun (kurs Rp11.000) dan sekarang menjadi jembatan terpanjang di Asia Tenggara.
Layaknya penerbangan pada umumnya, penumpang juga akan disuguhkan hidangan khas Brunei Darussalam saat on board, seperti nasi lemak (sejenis nasi uduk atau nasi kuning) dengan ayam goreng atau ayam masak kunyit kedayan, gula sago melaka, dan aneka buah-buahan.
Atas ide bisnis tersebut, Menteri Keuangan dan Ekonomi Brunei, Dato Seri Setia, sangat mengapresiasi langkah maskapai. Menurutnya, di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, maskapai harus pandai mencari cara agar tetap berpenghasilan.
“Selama pandemi Covid-19, semua bisnis harus kreatif untuk menarik pendapatan. Untuk Royal Brunei, pesawat tidak terbang ke tujuan seperti biasanya. Konsep baru ini akan memberikan kesempatan bagi pilot untuk terus terbang dan juga bagi masyarakat yang kangen terbang agar bisa berpartisipasi,” jelasnya kepada media lokal Star, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari Simple Flying.
Sementara itu, Direktur Keuangan Royal Brunei Airlines, Nurbahriah Eliza Binti Abdullah, menyebut penerbangan tersebut tetap menjalankan protokol kesehatan ketat baik pra maupun saat dalam penerbangan. Untuk di dalam penerbangan, maskapai memberlakukan pengosongan kursi tengah.
Baca juga: Kabin Airbus A320 Royal Brunei Dipenuhi Asap Tipis, Pihak Maskapai Sebut “Insiden Power Bank”
“Kami memiliki langkah physical distancing dimana kursi tengah dibiarkan kosong. Pesawat kami juga dilengkapi dengan filter High-Efficiency Particulate Air (HEPA) yang bekerja dengan baik untuk membasmi patogen berbahaya. Brunei saat ini masih mengalami adanya kasus positif Covid-19 sehingga kami tidak bisa mendarat di negara lain,” ujarnya.
Menurut Star, sekira 300 orang saat ini sudah mendaftar untuk ambil bagian dalam penerbangan “Dine & Fly” pada 20 September 2020 mendatang. Penerbangan tanpa tujuan Royal Brunei Airlines, untuk kelas ekonomi, dibanderol dengan harga $106 atau sekitar Rp1,5 juta (kurs Rp15.000) dan kelas bisnis seharga $145 atau sekitar Rp2,1 juta (kurs Rp15.000).
Bandara Pondok Cabe, Ternyata Pernah Jadi Basis Pertahanan Penting Sekutu di Era Perang Dunia II
Bandara Pondok Cabe di Tangerang Selatan sempat diperbincangkan banyak kalangan saat digadang-gadang bakal menjadi bandara komersial. Bandara yang berada di Kecamatan Pamulang, Tangerang Selatan ini disebut akan mendukung operasional Bandara Halim Perdanakusuma dan Bandara Soekarno-Hatta yang kala itu sudah kewalahan menghadapi lonjakan penumpang. Di situ, Bandara Pondok Cabe seolah memainkan peran penting dalam mengurai kepadatan lalu lintas udara Jakarta.
Baca juga: Mengenal Bandar Udara Kemayoran, Bandara Internasional Pertama di Indonesia
Setelah beberapa lama, akhirnya, wacana tersebut dimentahkan Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi. Kala itu, dihadapan wartawan, ia menyebut bandara itu berada satu garis lurus dengan Bandara Halim Perdanakusuma. Singkatnya, bila dioperasikan secara komersial, Bandara Pondok Cabe akan mengurangi slot Bandara Halim. Walhasil, impian untuk menempatkan Bandara Pondok Cabe di posisi penting pun kandas.
Akan tetapi, terlepas dari gonjang-ganjing wacana bandara tersebut menjadi penting dengan dijadikan bandara komersial, sebetulnya, sejak era Perang Dunia II, bandara yang memiliki runway berukuran 45 meter x 2.500 meter ini sudah menempati posisi penting bagi pasukan sekutu dalam menahan laju invasi Jepang di Indonesia.
Bukti pentingnya posisi Bandara Pondok Cabe kala itu setidaknya tercermin dari penempatan pesawat tempur sekutu. Tak tanggung-tanggung, jet tempur taktis sekutu, seperti Hawker Hurricane milik Angkatan Udara Kerajaan Inggris (Royal Air Force/RAF), Vickers Vildebeest, dan bomber torpedo Fairey Albacore, ditempatkan di sini dalam jumlah besar di bawah Skuadron 36 dan Skuadron 100 RAF.
PC Boer dalam bukunya, The Loss of Java (National University of Singapore, 2011), sebagaimana ditukip dari Harian Kompas, menuliskan, Lapangan Terbang atau Bandara Pondok Cabe dulunya pangkalan militer di era Perang Pasifik.
Menurut Boer, untuk menghadapi invasi pasukan Jepang ke Jawa pada 1942, pasukan Sekutu yang tergabung dalam ABDA (America, British, Dutch, Australia) menyiapkan rencana pertahanan udara. Dalam rencana itu disiapkan sejumlah lapangan terbang di bagian barat Jawa, yakni Pondok Tjabe (Pondok Cabe), Tjisaoek (Cisauk), Andir (kini Lanud Husein Sastranegara) di Bandung, dan Tasikmalaya. Masing-masing akan diberi 32 pesawat tempur.
Pondok Tjabe dan Tjisaoek dinilai cocok sebagai tempat perlindungan karena keberadaannya tersamar kerimbunan lingkungan sekitar yang masih rimbun. Pondok Tjabe secara khusus direncanakan menerima dua skuadron pesawat tempur Hawker Hurricane milik Angkatan Udara Kerajaan Inggris (Royal Air Force/RAF).
Baca juga: Ada Lima Bandara Pionir di Indonesia, Semuanya Buatan Belanda Lho!
Namun, karena Jepang sudah menyerang Sumatera, rencana berubah cepat. Pondok Tjabe menerima 25 unit Hawker Hurricane RAF yang sebagian besar belum siap beroperasi. RAF dan AU Australia (RAAF) juga mereorganisasi skuadron pesawat pengebom mereka setelah mundur dari Malaya dan Singapura. Di masa ini, RAAF menerjunkan CAC Wirraway sebagai pelengkap Hawker Hurricane, Vickers Vildebeest, dan bomber torpedo Fairey Albacore.
Pada akhirnya, Jepang menyerah dan Bandara Pondok Cabe jatuh kembali ke tangan Belanda sampai Agresi Militer Sekutu berakhir pada 1950. Setelah itu, bandara-bandara di Indonesia di nasionalisasi TNI AU, termasuk Bandara Pondok Cabe; yang pada akhirnya membentuk segitiga emas bersama Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Budiarto Curug.
Saat ini, Bandara Pondok Cabe dikenal sebagai home base dari maskapai Pelita Air Service, anak perusahaan PT Pertamina tersebut juga bertindak selaku pemilik dan pengelola bandara. Lain dari itu, Bandara Pondok Cabe juga menjadi pangkalan udara untuk Puspenerbal (Pusat Penerbangan Angkatan Laut), Puspenerbad (Pusat Penerbangan Angkatan Darat) dan Ditpolairud (Direktorat Polisi Air dan Udara)
Bus Party Bikin Happy, Tapi Bisa Gagalkan Upaya Singapura Cegah Penularan Covid-19
Bus party atau bus pesta di Singapura telah disita oleh pihak berwenang selama dua bulan terakhir. Ini karena bus didapati melakukan pelanggaran termasuk modifikasi ilegal dan meminta orang tanpa lisensi sah untuk mengemudikan bus tersebut.
Baca juga: The Party Bus KL hadirkan Layanan Pesta di Dalam Bus dengan Tamu Hanya 12 Orang
Enam bus yang disita ini dihiasi lampu strobo dan melayani orang yang sering mengunjungi tempat hiburan malam populer di Negeri Singa tersebut seperti di area Boat Quay and Clarke Quay. KabarPenumpang.com melansir dari laman straitstimes.com (10/9/2020), Otoritas Transportasi Darat (LTA) Singapura mengatakan dilaman Facebooknya bahwa ketika fase dua pembukaan kembali Singapura, disitanya bus tersebut karena memodifikasi kursi dan menghilangkan batasan keamanan yang tepat.
Salah satunya adalah sabuk pengaman untuk keselamatan penumpang dihilangkan dan ini termasuk pelanggaran hukum. Tak hanya itu, kehadiran bus menjadi salah satu potensi menggagalkan upaya Singapura untuk mencegah penularan Covid-19.
Sebab penumpang di dalam bus ada kemungkinan mengabaikan langkah-langkah jarak aman yang tidak terlihat dari luar. LTA mengatakan, bagi siapa saja yang menemukan bus dan sudah dimodifikasi secara ilegal dapat memberitahu situs web One Monitoring (www.OneMotoring.com.sg).
“Kami melakukan beberapa operasi selama dua bulan terakhir terhadap penyedia layanan yang tidak bertanggung jawab ini dan menyita bus enam pihak. Selain modifikasi ilegal, kami juga mendeteksi pelanggaran lain seperti mengemudi tanpa izin kejuruan pengemudi bus yang valid, perlindungan asuransi, dan pajak jalan. Investigasi atas pelanggaran ini sedang berlangsung,” kata LTA di akun Facebook mereka.
Peringatan LTA sendiri datang satu hari setelah Kementerian Kesehatan Singapura pada Rabu (8/9/2020) yang mengatakan sangat prihatin terkait kurangnya jarak yang aman di gerai makanan dan minuman. Saat ini, Singapura memberikan perhatian khusus mereka pada tempat hiburan malam yang populer di mana sering terlihat kelompok-kelompok yang kerap kali minum alkohol di depan umum setelah pukul 22.30 waktu setempat.
Baca juga: Royale VIP Bus, Pindahkan Nuansa Klub Malam ke Dalam Bus
Ini terlepas dari larangan minum di depan umum mulai pukul 22.30 hingga 07.00 sejak 2015, dengan toko-toko ritel tidak diizinkan menjual alkohol yang dibawa pulang selama periode tersebut.
