Hari Ini, 46 Tahun Lalu, Air Vietnam Flight 706 Dibajak Tentara yang Kesal Gegara Pangkat Diturunkan

Pada hari ini, 46 tahun lalu, bertepatan dengan 15 September 1974, seorang prajurit tentara Vietnam Selatan, Le Duc Tan, yang kesal karena pangkatnya diturunkan dari kapten menjadi letnan, nekat membajak pesawat Air Vietnam flight 706. Dari tiga versi, salah satunya menyebut, pembajakan akhirnya berakhir nahas setelah dua granat yang dibawa Tan meledak, diikuti jatuhnya pesawat dan menewaskan 75 orang (penumpang dan awak). Baca juga: Hari Ini, 46 Tahun Lalu, TWA Flight 841 Dibom Pemuda Palestina Gegara Intel Israel Laporan The New York Times, mengutip siaran dari radio lokal Governmentrun, peristiwa bermula saat Air Vietnam dengan nomor penerbangan 706 berangkat dari Bandara Da Nang pada pukul 10:05 pagi menuju Bandara Tân Sơn Nhất, Saigon, Vietnam Selatan. Selang 36 menit kemudian, Tan, yang mengenakan seragam penerjun payung, dilaporkan coba mendobrak paksa pintu kokpit. Ketika itu, berdasarkan sebuah versi, Tan dikabarkan berhasil masuk ke kokpit dan memaksa pilot menurutinya. Hanya saja, sang pilot, Kolonel Nguyen Thanh Lich, meminta agar pesawat terlebih dahulu mengisi bahan bakar di Phan Rang sebelum terbang ke Hanoi, Vietnam Utara. Menurut sumber lain, pilot membelot dan menerbangkan pesawat ke Phang Rang. Air Vietnam flight 706 kemudian mulai terbang rendah sebelum mencapai landasan, namun tiba-tiba berbelok ke kiri dan hilang kendali. Tak lama setelah itu, pesawat jatuh dari ketinggian 300 meter dan menewaskan semua orang yang ada di dalamnya. Berdasarkan informasi dari sebuah sumber, pesawat Boeing 727 Air Vietnam dengan nomor penerbangan 706 tiba-tiba oleng ke kiri sebelum akhirnya jatuh akibat dua granat yang dibawa Tan -si pembajak anti komunis- meledak. Granat itu diledakkan Tan di dalam pesawat lantaran pilot tak mengikuti perintah Tan. Kabar lain yang beredar Tan menolak pendaratan tersebut, dan meminta pilot untuk terbang kembali. Namun pesawat sulit dikendalikan dan malah meluncur turun menghempas ke daratan. Tan diduga berhasil lolos pemeriksaan di bandara dengan mengajak ngobrol petugas. Di samping itu, teknologi pemeriksaan di bandara juga belum secanggih saat ini, sehingga Tan dengan dua granatnya bisa lolos dengan mudah. Sejauh ini penyebab pasti insiden itu masih belum jelas. Spekulasi kecelakaan muncul akibat aksi pembajakan oleh oknum prajurit yang kecewa lantaran pangkatnya diturunkan itu. Spekulasi terkait permintaan Tan agar diterbangkan menuju Hanoi, Vietnam Utara, juga masih menjadi pertanyaan. Baca juga: Timeline Teknologi Body Scanner di Bandara, dari Isu Gender Hingga Cegah Corona Ada yang menyebut bahwa Tan ingin pesawat dijadikan rudal atau drone Kamikaze untuk ditabrakkan ke basis pertahanan musuh yang kala itu dikuasai oleh rezim Vietnam pro komunis di bawah dukungan Uni Soviet. Sebagai informasi, saat kecelakaan terjadi, Vietnam memang tengah menjalani perang panjang atau yang sekarang dikenal sebagai Perang Vietnam, mulai 1 November 1955 – 30 April 1975. Pembajakan Air Vietnam Flight 706 oleh oknum tentara Le Duc Tan bukanlah yang pertama kalinya terjadi di Vietnam. Sebelumnya, pada 20 Februari di tahun yang sama, seorang warga Vietnam berusia 19 tahun, tercatat pernah melakukan percobaan pembajakan DC-4 Air Vietnam dari Da Lat. Pembajak itu akhirnya tewas bunuh diri setelah membunuh dua tentara. Pada tahun 1972, seorang aktivis anti perang Vietnam Selatan, Nguyen Thai Binh, ditembak mati dalam percobaan pembajakan pesawat jumbo Boeing 747 Pan American setelah mendarat di Tan Son Nhut.

Dear Pilot, Usai Bangkrut Thai Airways Jajaki Bisnis Flight Simulator! Segini Harganya

Awal Juni lalu, Thai Airways tengah berjuang menghindari kebangkrutan melalui prosedur ‘anti bangkrut’ di Pengadilan Kepailitan Pusat Thailand. Sampai saat ini, prosesnya masih terus berjalan. Sebetulnya, prosedur kebangkrutan lewat pengadilan di Thailand memungkinkan perusahaan terus beroperasi, di bawah pengawasan pengadilan atau orang yang ditugaskan pengadilan. Namun, perusahaan memilih untuk menunda operasi sampai seluruh proses selesai. Baca juga: Usai Bangkrut, Thai Airways Kini Bisnis Restoran Khas Hidangan Pesawat! Pelayannya ‘Pramugari’ Akan tetapi, manajemen Thai Airways tak lantas berpangku tangan dan menanti prosedur ‘anti bangkrut’ bekerja menyelamatkan perusahaan. Setelah membuat terobosan dengan memulai bisnis restoran yang menyajikan makanan khas penerbangan (in flight meals), kini Thai Airways dilaporkan telah memulai bisnis flight simulator melalui program THAI FlyEx. Seperti dilaporkan asiaone.com, maskapai penerbangan nasional Thailand itu menawarkan tiga paket flight simulator, yakni untuk kategori basic, deluxe, dan ultimate. Pesawat yang ditawarkan flight simulator Thai Airways juga cukup beragam, seperti Boeing B734, B777ER, B744, dan Airbus A380. Harga yang ditawarkan pun juga bisa dibilang terjangkau. Untuk kelas basic Boeing 734 dan Boeing 744 double seater, pengguna dipatok harga ฿12 ribu atau sekitar Rp5,7 juta (kurs Rp475) selama 30 menit. Adapun kategori deluxe, flight simulator pesawat yang sama dipatok seharga ฿16 ribu atau sekitar Rp7,6 juta (kurs Rp475) dengan durasi 60 menit. Sedangkan kategori ultimate dengan triple seater, pengguna dipatok harga ฿24 ribu atau sekitar Rp11,4 juta (kurs Rp475) selama 90 menit. https://www.facebook.com/ThaiFlyEx/posts/123483766147227 Sedangkan untuk flight simulator Thai Airways Airbus A380 dan Boeing 777ER, kategori basic double seater dipatok harga sebesar ฿13,5 ribu atau sekitar Rp6,4 juta (kurs Rp475) selama 30 menit. Kategori deluxe double seater dikenai tarif sebesar ฿17,5 ribu atau sekira 8,3 juta (kurs Rp475) selama 60 menit dan kategori yang terakhir, ultimate, dengan triple seater, pengguna dikenai biaya ฿25,5 ribu atau sekitar Rp12,1 juta (kurs Rp475) selama 90 menit. Harga di berbagai kategori tersebut, baik flight simulator Boeing maupun Airbus, sudah termasuk pilot brief and operate, take off, air work, auto pilot, ILS approach, auto landing, manual landing, serta berbagai benefit lainnya. Baca juga: Tak Hanya Diserbu Pilot, Microsoft Flight Simulator 2020 Juga Diserbu Traveller yang Kangen Liburan Pemimpin skuadron yang juga wakil presiden eksekutif operasional Thai Airways, Soradech Namruangsri, mengatakan dimulainya bisnis jasa flight simulator dilakukan agar perusahaan tetap menghasilkan uang sambil menunggu maskapai tersebut kembali mengudara. Biasanya, flight simulator tersebut digunakan oleh para pilot Thai Airways. Karenanya, flight simulator yang meraka tawarkan sudah berstandar internasional dan jadi flight simulator paling realistis di Thailand. Selain membuka pintu selebar-lebarnya bagi para penerbang untuk mengasah kemampuan mereka di tengah sedikitnya jam terbang, flight simulator Thai Airways juga ditawarkan untuk para pengguna non-pilot yang sekedar ingin melihat keindahan dunia dari ruang kokpit.

Jumlah Penumpang Turun, JR East Kirim Produk Hasil Laut dari Miyagi ke Tokyo dengan Kereta Shinkansen

Jumlah penumpang kereta peluru shinkansen selama pandemi virus corona baru atau Covid-19 ini telah turun secara signifikan. Salah satunya adalah penumpang di Tohoku Shinkansen yang turun drastis jumlahnya. Hal ini kemudian membuat East Japan Railway (JR East) memulai eksperimen di mana kereta shinkansen sebagai kendaraan pengangkut makanan laut segar dari prefektur Miyagi ke Tokyo. Baca juga: Kereta Shinkansen Jepang Hadirkan Tiket Kereta Elektronik Pada hari Rabu (26/8//2020), JR East mengangkut produk laut khas lokal Miyagi ini menggunakan kursi kosong kereta shinkansen. Produk laut khas tersebut yakni cumi dan tiram yang berangkat dengan kereta Tohoku shinkansen dari Stasiun Sendai pukul 10.41 waktu setempat. KabarPenumpang.com melansir laman nhk.or.jp (26/8//2020), pada gerbong pertama yang digunakan untuk transportasi, dua baris kursi yang saling berhadapan diletakkan box khusus tempat seafood disimpan. Karena menggunakan kereta shinkansen, produk seafood ini tiba di Stasiun Tokyo sekitar dua jam setelah keberangkatan atau sekitar pukul 12.48 waktu setempat. Kemudian seafood segar ini disajikan sebagai makanan sashimi yang dilengkapi cuka di restoran seafood di tempat itu setelah jam dua siang. Menurut para nelayan yang ikut serta dalam inisatif tersebut, dalam hal transportasi kereta shinkansen menjadi yang tecepat karena bila menggunakan truk makanan seringkali seafood ini sampai ke Tokyo esok harinya. “Karena shinkansen kuat dalam kecepatan dan ketepatan waktu, kami ingin berkontribusi kepada masyarakat dengan membawa produk lokal,” kata Tsuyoshi Hamada dari proyek manajemen rantai pasokan JR East. Penumpang Tohoku Shinkansen telah turun secara signifikan di mana jumlah penumpang di bulan Mei ketika keadaan darurat di umumkan turun menjadi sepuluh persen dari periode yang sama di tahun lalu. Namun, keadaan penumpang berangsur pulih, tetapi di minggu sebelumnya penurunan hingga 30 persen dari periode yang sama tahun lalu. Bahkan situasi ini diperkirakan akan berlanjut untuk waktu yang lama. Inilah yang kemudian menjadi alasan JR East dengan mempertimbangkan langkah-langkah untuk mengkompensasi penurunan pendapatan dari bisnis kereta api, dan sebagai salah satunya, telah memulai eksperimen untuk mengangkut produk-produk khas lokal ke Tokyo dengan Shinkansen. JR akan terus memverifikasi waktu yang dibutuhkan untuk transportasi dari area produksi dan bertujuan untuk menerapkannya secara praktis sambil juga mengamati reaksi penumpang di kereta. “Karena kesegaran adalah kunci produk kelautan, saya pikir ini adalah hal yang membuat zaman yang akan merevolusi logistik,” kata Hiromitsu Ito, presiden industri perikanan Kaiyu. Baca juga: Tahan Gempa, Ini Kereta Berkecepatan Tinggi yang Baru di Jepang Untuk diketahui, ini bukan kasus pertama bahan makanan yang diangkut oleh jaringan rel kecepatan tinggi, karena ikan segar, buah, dan sayuran telah dipindahkan dengan kereta Joetsu shinkansen antara Niigata dan Tokyo sejak 17 Januari. Kereta berangkat dari Niigata pukul 10.17 setiap hari Jumat, dengan membawa ikan mencapai toko Hoodison di stasiun Shinjuku sekitar pukul 14.30. Layanan ini tidak menggunakan akomodasi penumpang, tidak seperti program uji coba terbaru JR East di mana gerbong Nomor 1 ditutup untuk penumpang sehingga joknya dapat digunakan untuk mengangkut kontainer ikan.

Legenda Pembalap Motor “Tercepat” Ralph Hudson Meninggal di Usia 69 Tahun

Seorang pengendara motor legendaris, Ralph Hudson menghembuskan nafas terakhirnya pada 6 September kemarin. Meninggalnya legenda pembalap berusia 69 tahun tersebut karena pada 14 Agustus 2020 lalu kehilangan kendali atas sepeda motor yang dikendarainnya dan terjatuh di Utah saat mencatatkan kecepatan 252 mph atau 405 km per jam. Baca juga: Misteri Kecelakaan Air India Tahun 1966 yang Tewaskan Tokoh Penting Mulai Terkuak, Ada Campur Tangan CIA Dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (11/9/2020), pada insiden tiga minggu lalu itu saat balapan di Bonneville Salt Flats di Wendover Hudson terluka parah. Di mana saat itu keadaan lintasan pendek dan hembusan angin menerpa sepeda motornya sehingga membuat goyang yang kemudian akhirnya terjatuh dalam kecepatan tinggi. Hudson langsung dibawa ke ICU Rumah Sakit Intermountain Medical Center di Salt Lake City dan mendapat perawatan selama sekitar tiga minggu namun akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pada 6 September lalu. Hudson meninggalkan seorang putra yakni David serta reputasi sebagai pembalap yang tak kenal takut, mekanik yang teliti dan anggota komunitas balap kecepatan darat yang rendah hati, ramah serta murah hati. “Dengan hati yang hancur saya harus memberi tahu komunitas balap kami bahwa Ralph Hudson meninggal tadi malam karena cedera yang dideritanya di Bonneville pada 14 Agustus,” SCTA mengumumkan di media sosial. “Dia dikelilingi oleh putranya David, saya dan sahabatnya selama 30 tahun, Linda. Informasi tentang perayaan kehidupan dan beasiswa peringatan atas nama Hudson akan menyusul jika tersedia. Kami dengan tulus berterima kasih kepada semua orang atas kata-kata, doa, dan dukungan mereka yang baik selama masa yang sangat sulit ini,” tambah SCTA. Pada 2017, Hudson memecahkan rekor dengan mencatatkan kecepatan rata-rata 284 mph atau 457 km per jam dalam tiga kali melaju lebih dari satu mil. Hudson bahkan berhasil mencapai 300 mph atau 482 km per jam selama berlari di dataran garam terbesar di dunia di Bolivia. Baca juga: Archer Kembangkan Taksi Udara eVTOL dengan Baling-baling ‘Tersembunyi’ Dari tahun 1971 hingga 1976, Hudson berkompetisi dalam balap motor di Bonneville, tetapi berhenti selama tiga dekade untuk menghidupi keluarganya. Namun, setelah putranya lulus kuliah pada tahun 2006, ia kembali ke dunia balap.

Kisah Douglas A-20 Havoc, Petarung Malam Terbaik Amerika Sekaligus Pesawat Pertama yang Berhasil Tembus Badai

Pesawat tempur tercanggih di era Perang Dunia II bisa dibilang ada pada Jerman dengan Focke-Wulf FW-190 dan Inggris lewat Supermarine MKs 24 Spitfire. Namun, keduanya tak memiliki kemampuan khusus untuk pertempuran malam hari, sebaik pesawat legendaris Amerika Serikat (AS), Douglas A-20 Havoc. Baca juga: Hari ini, 76 Tahun Lalu, Tiga Kru Douglas A-20 Havoc Berhasil Tembus Badai untuk Pertama Kalinya di Dunia Disebut legendaris, sebab, bersama tiga orang kru pesawat tersebut jadi penerbangan pertama yang berhasil menembus badai dengan hembusan angin mencapai 230 km per jam, terbesar di zamannya. Bukan hanya itu, keberhasilan tersebut juga dilengkapi dengan sejumlah data-data ilmiah untuk modal pengembangan pesawat selajutnya. Terlepas dari misi penelitian, kesuksesan Douglas A-20 Havoc melewati Badai Atlantik juga menunjukkan ketangguhan pesawat. Saking tangguhnya, pesawat yang juga disebut sebagai DB-7 ini ditugaskan untuk berbagai tugas penting selama masa Perang Dunia II, mulai misi pemboman, pesawat serang, penyusup malam, pesawat tempur malam, dan pesawat pengintai.
Douglas A-20 Havoc. Foto: Pinterest
Dilansir militaryfactory.com, pesawat ini pertama kali dikembangkan pada Maret 1936. Pesawat yang dirancang untuk untuk memenuhi kebutuhan perang AS (khususnya untuk misi pemboman dan pertempuran malam hari) ini dibekali dengan sepasang mesin radial Pratt & Whitney R-985 Wasp Junior bertenaga 450 tenaga kuda. Namun, kemampuan tersebut dirasa masih kurang. Karenanya, Douglas merilis DB-7B, versi pengembangan dari jenis sebelumnya, atas permintaan dari Korps Udara Angkatan Darat Amerika Serikat (USAAC) pada tahun 1937. Pesawat DB-7B dibekali juga dengan mesin Pratt & Whitney R-1830-S3C3-G, namun dengan kemampuan 2x lipat mencapai 1.100 tenaga kuda. Kemampun terbang cepat kemudian juga didukung dengan kapasitas bom yang mampu diangkut sebesar 910 kg, cukup untuk menghancurkan satu markas musuh. Pesawat yang mampu terbang sejauh 1,521 km di kecepatan 450 km per jam ini kemudian disempurnakan dengan keberadaan senapan mesin tunggal 7,5 mm MAC di punggung pesawat, serta enam senapan serupa di bagian depan. Belum lagi kemampuan terbang tinggi mencapai 3,000 m – 7,200 m (cukup tinggi untuk ukuran kala itu) serta kapasitas bahan bakar mencapai 2,560 liter, makin menambah keperkasaan pesawat dengan panjang 14 m serta tinggi 5 m dengan tiga kru ini.
Senapan mesin Douglas A-20 Havoc. Foto: World War Wings
Dengan sederet keistimewaan, Douglas A-20 Havoc juga dimanfaatkan oleh berbagai negara sekutu, termasuk Inggris, Uni Soviet, Perancis, Belanda, Australia, Kanda, dan Brazil. Banyaknya negara yang memakai jasa pesawat itu juga mendorong pengembangan demi pengembangan. Hingga dinyatakan pensiun pada 1949, Douglas A-20 Havoc mempunyai setidaknya 23 varian, dengan masing-masing varian terdapat sedikit perubahan pada mesin, bentang sayap, senapan, bom, daya jelajah, kecepatan jelajah dan kecepatan maksimum, serta kemampuan mengangkut bom dan kapasitas bahan bakar yang lebih besar. Baca juga: Hari Ini, 81 Tahun Lalu, Heinkel He 178 Nazi Jerman Pelopori Era Penerbangan Turbojet di Dunia Dalam sebuah laporan kepada British Airplane and Armament Experimental Establishment (AAEE) di RAF Boscombe Down (fasilitas pengujian militer Inggris), pilot uji mengambil kesimpulan bahwa Douglas A-20 Havoc, “Tidak memiliki kelemahan dan sangat mudah lepas landas serta mendarat. Pesawat mewakili keunggulan yang pasti dalam desain kontrol terbang. Sangat menyenangkan untuk terbang dan bermanuver dengan pesawat ini.” Di samping itu, pesawat juga digambarkan sebagai “Armada favorit para pilot karena kemampuan menjatuhkan bom dalam jumlah besar, pertempuran malam, serta tangguh di segala medan.”

Usai Bangkrut, Thai Airways Kini Bisnis Restoran Khas Hidangan Pesawat! Pelayannya ‘Pramugari’

Sambil menunggu sidang kebangkrutan atau pailit, Thai Airways dikabarkan tengah fokus berbisnis restoran dengan menghidangkan menu-menu khas penerbangan (in flight meals). Maskapai nasional Thailand itu mengaku, bisnis restoran yang dijajaki merupakan upaya untuk membantu para staf agar tetap bisa berpenghasilan sekalipun hanya sebagian kecil dari jumlah karyawan yang ada. Mengacu data akhir tahun lalu, maskapai Thai Airways memiliki 21 ribu karyawan. Baca juga: Proses ‘Anti Bangkrut’ Masih Berjalan, Thai Airways Tunda Refund Dilansir metro.co.uk, restoran Thai Airways benar-benar coba untuk mengambil ceruk pasar masyarakat yang kangen terbang; termasuk sajian di dalam penerbangan itu sendiri. Untuk sampai ke restoran yang dahulu merupakan kantin kantor pusat Thai Aiways itu, para pengunjung terlebih dahulu melewati airstair (tangga untuk naik ke pesawat) yang dibuat semirip mungkin dengan airstair yang ada di bandara. Setelah masuk ke restoran, boarding pass pengunjung yang sudah didapat setelah melakukan reservasi online, akan discan oleh pramusaji yang berbusana mirip pramugari. Namun, pramusaji ini tak disebutkan dengan detail apakah pramugari sungguhan atau bukan.
Airstair Thai Airways. Foto: Getty Images
Usai di-scan, pramusaji berlagak pramugari tadi akan mengantarkan pengunjung ke masing-masing tempat duduk yang sudah ditentukan, untuk kemudian menyantap hidangan khas penerbangan. Restoran buka mulai pukul 7 pagi waktu setempat. Sebelum pukul sembilan, pengunjung hanya bisa memesan berbagai hidangan roti khas penerbangan Thai Airways. Barulah setelah jam sembilan, pengunjung bisa mencicipi berbagai menu internasional yang biasa disuguhkan, seperti Caesar Salad, Japanese yakisoba, dan shwarma kebabs dengan harga cukup terjangkau mulai £2 atau Rp38 ribuan (kurs Rp 19.044). Tak hanya menyuguhkan sajian khas penerbangan, restoran Thai Airways juga menghadirkan nuansa persis layaknya di pesawat, seperti kursi pesawat berwarna-warni khas Thai Aiways, meja yang dibuat dari suku cadang pesawat, hingga desain interior restoran itu sendiri. Menariknya, pengunjung juga dapat menikmati pilihan kursi first class ataupun economy class dengan berbagai layanan unggulan yang ditawarkan. Sebelum memulai bisnis restoran dengan konsep seperti disebutkan di atas, Thai Aiways sebetulnya sudah mulai menjual sajian khas penerbangan. Hanya saja, layanan tersebut terbatas pada layanan take away, bukan untuk disajikan langsung di restoran seperti yang sekarang dihadirkan.
Suasana di dalam restoran. Foto: Allison Joyce
Untuk model seperti itu (menjual sajian khas pesawat khusus take away), Thai Aiways bukanlah satu-satunya. Di Israel, sebuah perusahaan katering maskapai, Tamam Kitchen, juga dikabarkan menjual berbagai sajian di pesawat (in flight meals). Bukan hanya rasa, perusahaan tersebut juga menggunakan wadah makanan yang menyerupai persis seperti sajian saat dalam penerbangan. Baca juga: Tak Harus Terbang untuk Nikmati Sajian di Pesawat, Harga Mulai Puluhan Ribu! Tertarik Mencoba? Ide bisnis tersebut tercatat mulai dijajaki perusahaan sejak 21 Juli lalu. Awalnya, perusahaan mengaku tak banyak mendapat pesanan. Tetapi kini, Taman Kitchen berhasil menjual setidaknya 100 menu penerbangan setiap hari tanpa harus membuat pembeli terbang terlebih dahulu untuk menikmatinya. Menu yang ditawarkan juga cukup beragam dan tentu saja sesuai dengan sajian khas di penerbangan, mulai dari menu dengan irisan ikan dicampur saus tomat, kacang hijau, ubi, couscous , dan lentil hitam, hingga daging sapi dicampur saus tiram, nasi serta kacang hitam. Selain itu juga ada menu khusus anak-anak. Harganya juga tergolong murah, mulai dari $3 sampai yang paling mahal sekitar $70 per menu.

Singapore Airlines Tawarkan Traveller Terbang Tiga Jam ‘Tanpa Tujuan’

Singapura menerapkan kebijakan ketat terkait upaya menekan wabah virus corona. Dari sisi kesehatan, kebaijakan tersebut tentu akan sangat mempengaruhi kurva penyebaran Covid-19 di negara kecil itu. Namun, dari sisi ekonomi, kebijakan ketat hanya akan mempersulit perusahaan; tak terkecuali Singapore Airlines. Baca juga: Tak Punya Penerbangan Domestik, Cathay Pacific dan Singapore Airlines Ditaksir Bakal Lebih Lama Pulih Maskapai nasional Singapura itu lama dikenal sebagai salah satu maskapai terbaik dan terbesar dengan jaringan rute ke seluruh dunia. Namun, menurunnya traffic penerbangan internasional tentu menjadi pukulan telak Singapore Airlines. Sebab, maskapai itu umumnya memang sangat bergantung pada rute internasional dikarenakan tidak mempunyai rute domestik. Alhasil, kebijakan ketat terhadap turis hampir pasti mematikan bisnis maskapai. Akan tetapi, Singapore Airlines tak mau tinggal diam. Belakangan, santer dikabarkan maskapai yang mendapat suntikan dana sebesar sebesar 19 miliar dolar Singapura atau Rp218 triliun (kurs Rp 11.292) pada akhir Maret lalu, ditambah kredit pariwisata sebesar US$320 juta atau sekitar Rp5 triliun (kurs Rp 14.900) beberapa waktu lalu ini bakal meluncurkan program “flights to nowhere” atau terbang tanpa tujuan. Program tersebut umumnya ditujukan ke masyarakat Singapura, mengingat turis dinilai hampir mustahil masuk negara itu. Namun, kalaupun bisa (masuk ke Singapura) tak menutup kemungkinan turis atau traveller juga bisa menikmati penerbangan tanpa tujuan Singapore Airlines. Laporan The Straits Times, sebagaimana dikutip dari onemileatatime.com, Singapore Airlines saat ini masih terus mencari formula terbaik terbang tiga jam ‘tanpa tujuan’. Diperkirakan, “flights to nowhere” Singapore Airlines baru akan dilaunching pada Oktober mendatang. Penerbangan tanpa tujuan maskapai tersebut nantinya dimulai atau lepas landas dari Bandara Changi, keliling di langit sekitar bandara, dan kemudian mendarat kembali di bandara yang sama. Sampai saat ini, belum diketahui akan seperti apa layanan on board yang ditawarkan; termasuk pesawat yang akan digunakan serta harga tiket penerbangan tanpa tujuan itu. Sebelum Singapore Airlines, maskapai EVA Air, China Airlines, dan All Nippon Airways (ANA) sudah lebih dahulu meluncurkan “flights to nowhere” atau terbang tanpa tujuan. Hanya saja, konsep yang ditawarkan berbeda. EVA Air menawarkan “flights to nowhere” dengan tetap memiliki negara tujuan, yakni ke Jepang. Hanya saja, maskapai tersebut tidak mendarat di Negeri Sakura dan kembali ke Taiwan untuk mendarat di bandara yang semula. Berbeda dengan EVA Air, maskapai Taiwan lainnya, China Airlines lebih ke ranah wisata edukasi. Konsep “flights to nowhere” salah satu maskapai terbesar di Taiwan itu mengajak penumpang masuk ke kabin pesawat tanpa terbang ke suatu destinasi. Di sini penumpang dapat mengenang pelayanan pramugari dan rasanya duduk di kursi pesawat. Selain itu, maskapai ini juga menawarkan pelajaran menjadi pramugari untuk anak-anak. Baca juga: Maskapai Jepang Tawarkan Terbang Keliling Dunia Hanya Rp800 Ribuan, Masih Belum Minat? Selain dapat belajar menjadi pramugari, melalui kegiatan ini para penumpang juga berakting seolah mereka akan liburan ke negara lain. Setiap penumpang tetap harus melakukan check-in, melakukan pemeriksaan paspor, dan bahkan ada petugas keamanan yang siap mengarahkan penumpang menuju pesawat. Adapun All Nippon Airways (ANA), konsep terbang ‘tanpa tujuan’ maskapai tersebut sedikit banyaknya hampir mirip dengan konsep yang akan ditawarkan Singapore Airlines, yakni terbang keliling langit sekitar bandara dan kemudian mendarat di bandara yang sama.

Percantik Kota dan Menyenangkan Anak-anak, Halte Bus di Ontario Tampil dengan Corak Pastel

Setiap kota memiliki ciri khas untuk menampilkan dirinya agar terlihat ramah dan ceria. Berbagai macam di rubah dan menampilkan hal baru yang menyegarkan mata penduduk atau pelancong yang tengah berkunjung. Seperti kelompok Triton di Newfoundland, Ontario di Kanada yang menunjukkan kebanggaan dan semangat komunitas mereka dalam memperbaharui halte bus. Baca juga: Wow, Halte Bus di Inggris Tawarkan Sensasi Bak ‘Rumah Nenek’, Aneh atau Keren? Di mana halte bus di desain dan diwarnai dengan cat yang digerakkan oleh Gloria Scott. Awal Scott bisa mengubah halte di Newfoundland dengan mendekati dewan kota dan memberikan ide serta meminta bantuan siapapun yang tertarik dengan pemikirannya.
Halte bus yang sudah didesain dan diwarnai (thetelegram.com)
Apalagi sekarang banyak halte yang sudah selesai dibangun dan sudah ada orang yang ingin terlibat. Scott mengaku tanggapan tersebut mengejutkan, sebab ketika tersiar kabarnya, dia memiliki lusinan ekspresi minat untuk membantu proyek termasuk dari kota yang menyumbangkan persediaan. “Ini benar-benar upaya komunitas,” katanya yang dikutip KabarPenumpang.com dari thetelegram.com (9/9/2020). Para relawan mulai melukis pada awal Juli dan proyek mulai mendefinisikan kembali lanskap di Triton. Scott mengatakan, dirinya ingin melakukan sesuatu untuk mempercantik kota dan melakukan sesuatu untuk anak-anak. Dan inilah yang membawanya ke halte bus. Ada sebelas halte di kawasan Triton dan belum semua di cat tetapi sudah memiliki desain yang berbeda. Relawan mengirimkan idenya kepada Scott dan dia secara bergiliran menandatanganinya. Dia bahkan belum meminta desain dari seorang seniman. Desain yang didapatnya menyentuh berbagai aspek kehidupan di Triton dan provinsi tersebut. Ada penghormatan untuk perikanan dan rumah deretan jelly bean yang terkenal di provinsi itu. Tak hanya itu, ada pula desain Seasame Street dan gambar anak membaca buku. Bahkan ada satu desain yang menyentuh hati Scott yakni halte bus di dekat Cenopath tempat kota tersebut mengadakan upacara Memorial Day dan Remembrance Day tengah dilukis sebagai peringatan bagi anggota militer. Nantinya setelah selesai akan menampilkan seribu bunga poppy dan nama orang-orang dari daerah yang bertugas di masa perang. “Saya benar-benar ingin melakukan peringatan itu. Ini menyentuh rumah bagi saya,” kata Scott, yang ayahnya bertugas di militer. Setelah beberapa halte bus di cat, ini menjadi populer dan buah bibir di kalangan warga kota serta pelancong. Pengunjung staycation sering mampir ketika para artis bekerja untuk berfoto dan mengomentari pekerjaan yang tengah dikerjakan. Ini juga dilakukan oleh para warga setempat. Selain itu di media sosial juga sudah banyak foto-foto halte bus dengan desain ini dan banyak komentar positif didapat. “Tidak ada yang seperti ini di kota kami. Ini pertama kalinya kami melakukan sesuatu untuk menarik perhatian orang,” kata Amber White, salah satu sukarelawan. Relawan dengan cepat membantu pekerjaan orang lain jika mereka dibutuhkan. Ini telah memungkinkan orang untuk bertemu orang lain di komunitas mereka yang memiliki minat yang sama seperti mereka. “Senang bertemu orang baru,” kata White. Baca juga: Tangkal Penyebaran Covid-19, Seoul Hadirkan Halte Bus dengan Teknologi Sinar Ultraviolet Terry Lee Roberts adalah salah satu relawan yang telah menyumbangkan bakat seninya untuk mendekorasi halte bus. Dia berkata dia akan senang jika ada lebih banyak tempat berlindung untuk dicat dan didekorasi. Dia dan putrinya telah bekerja bersama di beberapa halte bus. Roberts merancang tempat penampungan Sesame Street, sementara putrinya membuat desain yang penuh dengan kutipan inspiratif, bersama dengan nomor Telepon Bantuan Anak-anak dan kelompok advokasi kesehatan mental setempat. “Itu merupakan pengalaman yang luar biasa,” kata Roberts. Kami bersenang-senang.

Tahukan Anda, Aspal Runway 10 Kali Lipat Lebih Kuat Dibanding Aspal Jalan Raya!

Seberapa tebal aspal landasan pacu (runway) bandara? Pertanyaan tersebut mungkin pernah terlintas dalam benak kita ketika terlibat dalam penerbangan. Atau, mungkin pertanyaan tersebut juga terbesit tatkala menunggu penerbangan dan melihat langsung bagaimana proses take off serta landing pesawat. Baca juga: Lampu Runway di Bandara Mati, Pesawat Berhasil Mendarat Berkat Panduan Lampu Mobil Sekilas, bentuk, warna, dan ketebalannya hampir terlihat sama dengan aspal yang biasa kita lihat di jalan raya. Karenanya, mungkin sebagian dari kita akan menduga bahwa kekuatan aspal runway sama atau bahkan tak lebih kuat dibanding aspal jalan raya; terlebih dengan pertimbangan jalan raya dilalui oleh ribuan bahkan ratusan ribu kendaraan setiap harinya. Namun, tahukah Anda, bahwa aspal runway bandara rupanya hampir 10 kali lipat lebih kuat? Disarikan KabarPenumpang.com dari Analisa Tebal dan Perpanjangan Landasan Pacu oleh Hastha Yuda Pratama, sebagaimana dimuat media.neliti.com, sebelum terbuat dari beton dan aspal, awalnya, permukaan landasan pacu adalah rumput ataupun tanah yang dipadatkan. Akan tetapi, ketika badan pesawat bertambah besar maka yang lazim digunakan saat ini adalah aspal dan beton. Panjang dan lebarnya pun bervariasi mulai dari 1.000 m hingga 5.000 m lebih. Sementara ukuran landasan pacu di Indonesia sendiri kurang lebih 3.200 m x 45 m. Dengan ukuran seperti itu, tidaklah cukup untuk didarati pesawat berbadan lebar (widebody) seperti Boeing B747 ataupun Airbus A380. Selain karena faktor panjang, tebal dan kekuatan runway juga menjadi faktor penentu jenis pesawat seperti apa saja yang bisa mendarat. Saat membangun runway, setidaknya ada tiga model perencanaan yang digunakan untuk menetukan tebal tipis perkerasan, mulai dari metode US Army Corps Enginer, Asphalt Institute, dan Federal Aviation Administration (FAA). Dari ketiga model tersebut, nanti akan diketahui, seberapa tebal perkerasan runway yang dibutuhkan. Sebagai contoh, sebagaimana dikutip dari sith.itb.ac.id, dari proses pendesainan diketahui Bandara Internasional Kertajati, Majalengka memiliki total tebal perkerasan untuk runway mencapai 127 cm (US Army Corps Enginner). Total tebal runway sendiri berbeda dengan ketebalan taxiway dan apron. Tebal taxiway dan apron bandara tersebut, yakni cross taxiway adalah 70 cm, parallel taxiway adalah 127 cm, dan apron adalah 81,68 cm. Runway setidaknya dibangun dengan empat pondasi, mulai dari tanah dasar (sub grade), lapisan pondasi bawah (sub base course), lapisan pondasi atas (base course), lapisan permukaan (surface course). Di bagian atas atau permukaan, aspal runway harus berkualitas tinggi, seperti tak bisa ditembus air serta mampu memperbesar daya dukung lapisan terhadap beban roda pendaratan. Konsep dasar perencanaan perkerasan runway sebetulnya sama dengan perencanaan perkerasan pada jalan raya, dimana perencanaan berdasarkan beban yang bekerja dan kekuatan bahan yang digunakan untuk mendukung beban yang bekerja. Namun, pada aplikasi sesungguhnya, tentu terdapat perbedaan pada perencanaan perkerasan runway dan jalan raya. Ada empat hal yang membedakan perkerasan runway dan jalan raya. Pertama, Jalan raya dirancang untuk kendaraan yang berbobot sekitar 9000 lbs, sedangkan runway dirancang untuk memikul beban pesawat yang rata-rata berbobot jauh lebih besar yaitu sekitar 100.000 lbs. Kedua, jalan raya direncanakan mampu melayani perulangan beban (repetisi) 1.000-2.000 truk per harinya. Sedangkan ruway direncanakan untuk melayani repetisi beban 20.000 sampai 40.000 kali selama umur rencana. Baca juga: Unik! Qamdo Bangda Airport Punya Runway Terpanjang di Dunia dengan Cuaca Ekstrem Hampir Sepanjang Tahun Ketiga, tekanan ban pada kendaran yang bekerja kira-kira 80-90 psi. Sedangkan pada runway tekanan ban yang bekerja diatasnya adalah mencapai 400 psi. Dari perbedaan pertama, kedua, dan ketiga, bisa dibilang, runway lebih kuat 10 kali lipat dibanding jalan raya. Terakhir, perkerasan jalan raya mengalami distress yang lebih besar karena beban bekerja lebih dekat ke tepi lapisan, berbeda pada runway dimana beban bekerja pada bagian tengah perkerasan.

Pakai Masker Bisa Jadi Masalah Bagi Penderita Asma Kronis, Namun Awak Maskapai ini Tak Paham

Penggunaan masker di masa pandemi ini menjadi satu keharusan pada semua orang. Selain untuk menjaga diri sendiri, juga untuk mencegah penularan virus corona atau Covid-19. Namun, penggunaan masker ini pun dikecualikan untuk beberapa orang seperti lansia, anak-anak maupun dengan alasan kesehatan seperti asma. Baca juga: Menolak Pakai Masker Selama Penerbangan, Siap-siap Pramugari Akan ‘Catat’ Nama Penumpang! Baru-baru ini, seorang penumpang dengan asma kronis dan membawa kartu pengecualian resmi yang dicetak dari situs web pemerintah sebelum melakukan penerbangan ditolak menaiki pesawat EasyJet karena tidak menggunakan masker. Dia ditolak oleh pilot dan awak kabin maskapai ketika dalam perjalanan dari Jersey ke Gatwick. Dilansir KabarPenumpang.com dari bbc.com (9/9/2020), penumpang yang disebutkan bernama Nick tersebut mengatakan, dia tidak bisa mengenakan apapun di sekitar wajah atau leher karena menderita asna kronis. Dia mengaku bahkan tidak bisa menggunakan scraf yang melingkari wajahnya karena sensasinya menyesakkan dan merasa sulit bernapas. “Ini seperti sabuk baja yang melingkari dadaku,” ungkap Nick. Diketahui insiden ini ketika Nick akan kembali dari Pulau Jersey setelah mengunjungi keluarganya pada Agustus kemarin. Kemudian dalam perjalanan kembali menuju ke Gatwick, awak kabin mengatakan kartu tersebut tidak valid dan dia tetap harus menggunakan masker. “Staf datang untuk berbicara dengan saya sekitar enam kali. Penundaan selama 30 menit dianggap sebagai kesalahan saya dan setiap kunjungan menimbulkan lebih banyak permusuhan di antara para penumpang. Saya dihina, diteriaki, ditertawakan. Rasanya seperti semua orang menentang saya,” ujar Nick. Dia saat itu sangat putus asa sehingga mulai merekam dengan teleponnya. Rekaman menunjukkan bahwa pilot menolak untuk menerima kartu pengecualian tersebut dan mengatakan jika Nick tidak memakai masker dia pergi. Karena hal ini, Nick mau tak mau harus setuju dan mengaku mengalami hiperventilasi selama penerbangan satu jam. “Saya akan melakukan apa saja untuk menghindari mengenakan apa pun yang membatasi pernapasan saya. Itu lebih menakutkan daripada dihina oleh 100 penumpang, tapi akhirnya saya merasa seperti saya tidak punya pilihan,” aku Nick. EasyJet mengatakan semua pelanggan diharuskan memakai penutup wajah tetapi beberapa penumpang mungkin tidak dapat melakukannya. “Kami baru-baru ini memperbarui kebijakan kami sejalan dengan panduan pemerintah Inggris baru-baru ini sehingga selain sertifikat medis, pelanggan dapat memberikan dokumen yang relevan dari situs web atau tali pengikat pemerintah. Kami mohon maaf karena kebijakan baru ini tidak dikenali oleh kru pada kesempatan ini,” ujar pernyataan dari EasyJet. Maskapai tersebut menggambarkan perilaku Nick sebagai “mengganggu”, tetapi seorang penumpang, yang tidak ingin disebutkan namanya, mengatakan ia berperilaku “dengan tenang” dalam “situasi yang penuh tekanan”. “Tidak ada yang peduli dengan kondisinya. Staf seharusnya membawanya menjauh dari penumpang lain untuk melakukan percakapan secara pribadi,” kata penumpang tersebut. Asma Inggris dan British Lung Foundation menyebut cerita Nick sebagai kasus yang menyedihkan, tetapi mengatakan ada orang lain yang seperti dia. Baca juga: Tegur Penumpang yang Tak Pakai Masker dengan Benar, Pria Tua ini Justru Kena Gigitan di Dada “Pemerintah benar-benar jelas ada pengecualian dari memakai topeng. Sebagian besar orang dengan kondisi paru-paru baik-baik saja jika memakai masker, tetapi untuk sebagian kecil tidak mungkin bagi mereka untuk bernapas. Itulah mengapa pengecualian ini diberlakukan, sehingga mereka masih bisa keluar dan menjalani hidup mereka,” jelas Head of Policy, Sarah MacFadyen.