Emirates Luncurkan Penerbangan Terpanjang di Dunia Pasca Lockdown

Maskapai Emirates dikabarkan akan segera membuka kembali rute Dubai-Auckland, salah satu dari daftar 10 penerbangan terpanjang (bisa juga disebut terlama) di dunia, pada Januari 2021 mendatang. Rute tersebut sebetulnya hanya menempati posisi ke-delapan dalam deretan 10 penerbangan terpanjang di dunia. Namun, pasca lockdown (pembatasan perjalanan) rute itu jadi yang terpanjang di dunia. Baca juga: Inilah 10 Penerbangan “Direct Flight” dengan Waktu Terlama di Dunia Dikutip dari Simple Flying, alih-alih menggunakan pesawat andalan mereka, Airbus A380, maskapai yang berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab, itu justru menggunakan pesawat 777-300ER. Tak ayal, menurut salah satu situs penerbangan terkemuka di dunia, Live And Lets Fly, penerbangan yang rencananya akan tersedia empat hari dalam sepekan itu berpeluang besar mencetak rekor penerbangan penumpang berjadwal reguler Boeing 777-300ER terpanjang di dunia. Selama masa pandemi Corona sendiri, Emirates sebetulnya sudah menggunakan pesawat tersebut untuk melahap rute Dubai-Auckland. Hanya saja, penerbangan itu khusus kargo, dengan menempuh perjalanan sejauh 14.201 km non-stop; sedikit di bawah jangkauan maksimum pesawat diangka 14.490 km. Oleh karenanya, tak mengherankan bila Emirates cukup percaya diri untuk menerbangkan Boeing 777-300ER untuk layanan penumpang berjadwal, sekalipun tingkat keterisian kursi ataupun kombinasi beban kargo dan penumpang harus dibatasi. Akan tetapi, rute yang mulai diluncurkan Emirates pada 2016 lalu itu sebetulnya disebut masih terbuka opsi transit di Australia untuk mengisi bahan bakar sebelum melanjutkan ke Auckland, Selandia Baru. Hal tersebut bukan tak mungkin mengingat bila kursi penumpang penuh dan kargo tak bisa dibatasi, maskapai tak punya pilihan lain kecuali mendaratkan pesawat di Australia. Baca juga: Terbang Lintas Benua! Inilah 10 Rute Terpanjang Penerbangan Non Stop Komersial Dari kacamata bisnis, mungkin maskapai akan kehilangan penumpang yang menginginkan penerbangan langsung, tetapi, hal itu bisa terbalas dengan banyaknya penumpang yang ingin berkunjung ke Australia ataupun Dubai serta tipe pengunjung yang di masa pandemi lebih menginginkan penerbangan transit untuk melepas lelah. Lagi pula, penerbangan transit di masa pandemi lebih aman dari kemungkinan tertular virus Corona. Belum lama ini, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) menerbitkan hasil studi mencengangkan. Dari analisis data penerbangan rute Hanoi-London pada bulan Maret lalu, ditemukan setidaknya 12 penumpang tertular Covid-19 dari seorang penumpang first class. Lewat data tersebut, CDC menduga bahwa penerbangan jarak jauh lebih berpotensi menularkan virus Corona melalui airborne, mengingat jarak antar kursi tak terlalu jauh.

Profesional Medis Gunakan Masker Scuba dan Snorkeling untuk Gantikan Masker Bedah

Peralatan scuba dan snorkeling digunakan oleh profesional medis sebagai pilihan lain pertahanan di masa pandemi Covid-19? Sepertinya ini menjadi pilihan yang cukup bisa diterima. Sebab bisnis lokal dan bioteknologi Universitas Stanford telah menemukan cara untuk menggunakan kembali masker scuba dan snorkeling. Baca juga: Bikin Heboh, Penumpang Bus Kota Gunakan Ular Hidup Sebagai Masker Bahkan masker ini akan segera dikirim ke rumah sakit di seluruh Bay Area dan Amerika Serikat tanpa biaya. Manu Prakash, seorang ahli biologi mengatakan, dia tengah menangani jenis masalah ini karena ada krisis kesehatan di seluruh dunia apapun yang terjadi dan Covid-19 hanya sebagian dari masalah yang telah ada. KabarPenumpang.com melansir abc7news.com (19/9/2020), Prakash pada bulan Maret lalu kembali dari perjalanan pekerjaan di Prancis dan mengkarantina dirinya sendiri di ruangan dengan perlengkapan snorkelingnya. Dia kemudian memikirkan cara untuk mengubah masker sluruh wajahnya menjadi opsi yang dapat digunakan kembali tanpa mengorbankan visibilitas. “Anda melepas snorkel di atasnya dan Anda meletakkan alat perangkai ini, lalu Anda memasang filter virus yang sudah menjadi perangkat medis yang telah disetujui sebelumnya yang memblokir virus,” jelasnya. Dalam hal ini, Prakash berkolaborasi dengan para muridnya untuk meneliti keefektifan dari apa yang saat ini dikenal sebagai Pneumask. Fokus pertama adalah dia memastikan tim bisa membuktikan secara klinis sesuatu seperti ini berhasil. “Jika Anda pergi ke rumah sakit dan melihat berapa kali orang membuang APD, Anda sadar bahwa ini akan menjadi kekurangan yang besar,” jelasnya. Bahkan dalam situs web proyek Pneumask ini ada misi di baliknya yang berbunyi “Misi kami untuk Pneumask adalah memberikan validasi klinis sebanyak mungkin pada solusi APD alternatif ini. Kami telah menguji sejumlah prototipe bersama dengan kolaborator kami dan telah membagikan hasil tersebut sebagai dokumen terbuka, sehingga orang lain yang menerapkan solusi serupa juga dapat memanfaatkan dari temuan tersebut. Kami juga bekerja dengan FDA untuk mendapatkan Pneumask yang sepenuhnya disetujui sebagai APD yang setara dengan N95. Tujuan kami untuk proyek ini adalah melibatkan koalisi mitra untuk membawa 50 ribu Pneumask ke petugas perawatan kesehatan garis depan dengan cara yang adil.” Food and Drug Administration (FDA) atau Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat telah menyetujui Pneumask sebagai pelindung wajah atau masker bedah tetapi bukan sebagai respirator. Sebab penelitian yang dipublikasikan di Google Doc terbuka dan gratis untuk dilihat dunia dan mengatakan hal ini menciptakan keterlibatan dari berbagai komunitas di seluruh dunia. “Solusinya melibatkan penggunaan masker snorkel. Komponen penting lainnya adalah memiliki kapasitas untuk menghubungkan filter virus yang telah disetujui FDA- yang sudah digunakan dalam mesin anestesi. Kami mengembangkan penggandeng yang memungkinkan kami menghubungkan ini ke scuba topeng,” katanya. Prakash juga menjangkau peneliti Prancis dan kolaborator serta mitra lainnya untuk memberikan pertahanan dengan kualitas tertinggi. Dia mengatakan, ini adalah waktu yang sangat istimewa dalam hal melakukan sains sekarang, bahwa orang-orang berkumpul dengan cara yang sangat terbuka. “Jika Anda benar-benar ingin merancang sesuatu yang akan melindungi petugas kesehatan, yang merupakan garis pertahanan pertama, kualitas suku cadang harus berkualitas tertinggi,” kata Prakash. Dia mengatakan langkah selanjutnya melibatkan persiapan untuk menyebarkan masker di area yang membutuhkan, dengan mengingat distribusi yang adil dari sumber daya yang terbatas ini. Prakash mengatakan 1600 telah disalurkan ke komunitas di seluruh Amerika Serikat, tetapi lebih banyak dana dibutuhkan agar unit tambahan dapat dikerahkan. Prakash mengatakan penyebaran masker tergantung pada dokter yang telah menghubungi tim tersebut. “Berdasarkan kebutuhan yang telah diwakili oleh orang-orang kepada kami, kami mulai membagikannya secara luas,” Prakash. Setiap topeng harganya sekitar $40 untuk membuatnya dan dalam rincian biaya oleh Prakash, dia menjelaskan harga eceran masker wajah penuh snorkeling adalah antara $30 hingga $35. Dia mengatakan bahwa harga perangkai antara $0,50 hingga $1, dan biaya filter antara $3 hingga $4. Upaya terpisah dengan toko ritel berperahu dan memancing, West Marine, sudah membuat gelombang di Bay Area. Yang mana perusahaan baru-baru ini menyumbangkan 200 masker scuba dengan adaptor filter yang sangat dibutuhkan ke Alta Bates Summit Medical Center di Oakland. “Kami tahu kami memiliki banyak produk yang digabungkan dengan keamanan. Jadi, coba sampaikan itu ke komunitas di mana mereka benar-benar bisa digunakan,” kata Lorene Frank dari West Marine. Dia menjelaskan Ocean Reef adalah pabrikan yang membuat adaptor yang dipasang di topeng, untuk digunakan sebagai filter. Kedua kelompok berharap dapat menjangkau petugas kesehatan yang membutuhkan alat pelindung diri di seluruh AS. Baca juga: Pesawat Pakai Masker Kini Jadi Kenyataan! “Beberapa filter, misalnya, bisa digunakan untuk beberapa hari. Yang lain bahkan bisa digunakan selama 15-20 hari mereka sudah digunakan pada pasien untuk waktu yang lama,” kata Prakash. Pemakaian ulang masker bawah air merupakan terobosan penting bagi pekerja paling esensial.

Keliling Bandara dan Pesawat Lebih Mudah dengan Virtual Reality Ocean3D

Virtual reality (VR) lambat laun makin populer di dunia penerbangan. Sebab, VR dinilai sangat memudahkan calon penumpang yang memiliki berbagai kekhawatiran karena satu dan lain hal saat berkunjung ke sebuah bandara. Studi menunjukkan, satu dari empat orang di Inggris berpeluang mengidap cacat, baik fisik maupun mental, yang membuatnya khawatir menemui berbagai hal sulit saat di bandara. Karenanya, VR hadir untuk memberikan gambaran sebelum mereka berkunjung. Baca juga: Selain Manjakan Penumpang, Layanan Virtual Reality Buka Peluang Peningkatan Laba Maskapai Ocean3D, salah satu startup pengembang teknologi VR yang sudah berpengalaman membuat VR Kementerian Kesehatan Inggris (NHS), stasiun, hotel, dan real estate, menyebut selain sangat bermanfaat bagi penumpang, layanan teknologi VR bandara dan pesawat juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lainnya, seperti city tour virtual bandara, hingga training karyawan. Perusahaan yang belum lama ini memenangkan kompetisi Innovation Gateway dalam acara New Civil Engineer Future of Airports ini, memanfaatkan digital twin technology (teknologi digital twin) sebagai salah satu instrumen utama VR. Teknologi tersebut membuat VR lebih realistis, entah itu di ruang pribadi maupun di ruang publik, yang dapat diakses di semua jenis perangkat elektronik kapan dan di manapun. Dalam prosesnya, platform VR Ocean3D juga memanfaatkan teknologi Matterport -sistem kamera dan layer yang mampu memindai sebuah area- untuk membuat model virtual reality dari sebuah lokasi. Proses ini umumnya bisa menyita waktu cukup singkat atau sebaliknya, tergantung dari luas area yang ingin dipindai atau discan. “Ini (VR Ocean3D) mirip dengan Google Earth tetapi pada tingkat yang lebih cepat. Itulah yang diinginkan traveller awam. Semua orang ingin tahu ke mana mereka akan pergi, berapa lama mereka akan sampai di sana dan seperti apa jadinya sebelum mereka benar-benar melakukannya,” jelas direktur Ocean3D, Chris Wood, seperti dikutip dari airport-technology.com. Setelah tayang, peta virtual Ocean3D dapat dimodifikasi dengan beberapa update terbaru dan disematkan beberapa tools seperti informasi lengkap berdasarkan lantai, video, menu, dan fitur chatting, yang pada dasarnya membuat panduan digital lengkap bandara. Tak hanya itu, untuk alasan keamanan, pengguna juga dapat mematikan kamera yang menampilkan dirinya. Baca juga: First Airlines, “Maskapai” Jepang dengan Penerbangan Virtual Reality Pertama Dengan berbagai kemudahan yang diberikan VR bandara dan pesawat, Ocean3D berharap penumpang jadi lebih antusias untuk bepergian, baik trip pertama maupun trip kesekian kalinya. Apalagi dalam situasi di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Sebab, keraguan yang selama ini dialami sudah bisa tertangani dengan baik melalui VR; terlebih bagi penumpang berkebutuhan khusus, baik fisik maupun mental. “Satu dari empat orang di Inggris akan memiliki beberapa bentuk kecacatan, apakah itu fisik atau mental dan kita perlu memperhatikan orang-orang itu, yang lebih dari 80 persen di antaranya akan memiliki kecacatan tak tampak (mental),” pungkas Wood.

Lockheed L-1011 TriStar, Pesawat dengan Kecanggihan Selangit yang Bikin Lockheed Nyaris Bangkrut

Pesawat trijet pernah mengalami masa kejayaan di dunia penerbangan global berkat aturan Extended-range Twin-engine Operational Performance Standards (ETOPS) pada dekade 60-an. Berbagai pesawat trijet pun sempat mencicipi manisnya masa kejayaan, seperti Boeing 727, Hawker Siddeley HS-121 Trident, dan Douglas DC-10. Namun, di balik ketiga pemain besar itu, jangan dulu lupakan Lockheed L-1011 TriStar saat membicarakan pesawat trijet. Baca juga: Mengenang DC-10: Pelopor Penerbangan Jarak Jauh Modern Sekaligus Berlabel Jebakan Maut Dilansir aerotime.aero, Lockheed L-1011 TriStar sebetulnya bisa dibilang bintang dari pesawat trijet. Hal itu tercermin dari berbagai teknologi canggih yang disematkan, sebagai jurang pemisah dengan pesawat trijet lainnya, terutama Douglas DC-10. Saking canggihnya, bahkan, Lockheed L-1011 TriStar disebut terlalu canggih untuk digunakan di zaman itu. Lockheed L-1011 TriStar pertama kali terbang perdana pada 16 November 1970. Pesawat dengan kecepatan maksimal mencapai 973 km per jam dan jarak tempuh sejauh 7.410 km ini bisa mengangkut lebih banyak penumpang, sekitar 400 penumpang (20 lebih banyak dari DC-10), namun jauh lebih efisien dari pesaing utamanya itu. Hal itu berkat fitur S-duct yang menyuplai udara lebih banyak ke mesin Rolls-Royce RB211. Namun, mesin tersebut pada prosesnya mengalami berbagai kegagalan mesin dan mempengaruhi desain pesawat secara keseluruhan. Dengan begitu, Lockheed mau tak mau harus mengeluarkan dana berlebih untuk pengembangan mesin, mengingat, Rolls-Royce kala itu sempat dinyatakan bangkrut sebelum diselamatkan oleh Pemerintah Inggris. Selain lebih efisien dan menampung penumpang lebih banyak, pesawat dengan panjang 54 meter ini juga memiliki sistem avionik canggih di zamannya. Kala itu, AFCS (Avionic Flight Control system) dari Lockheed L-1011 TriStar sudah mencakup autopilot, kontrol kecepatan, sistem kontrol penerbangan, sistem navigasi, sistem stabilitas, dan direct lift control system. Yang paling spesial dari AFCS pesawat itu tentu sistem CAT-IIIB Autoland. Salah satu fitur penjualan utama Lockheed ini diklaim mampu mendaratkan pesawat secara otomatis, bahkan dalam kondisi cuaca buruk sekalipun. Cukup canggih, bukan? Tak cukup sampai di situ, pada Mei 1972, Lockheed L-1011 TriStar juga dikabarkan berhasil menyelesaikan penerbangan yang sepenuhnya otomatis, teknologi yang bahkan masih cukup canggih bila diaplikasikan pada pesawat di zaman ini. Akan tetapi, tetap saja, maskapai tak terlalu butuh semua itu, sekalipun sebetulnya berbagai keunggulan tersebut sangat menguntungkan maskapai. Namun, maskapai pada umumnya sudah kadung jatuh cinta dengan Douglas DC-10 yang notabene lahir setahun lebih dahulu, di samping harganya juga lebih murah. Baca juga: Ternyata Boeing 777 Sempat Dirancang dengan Konsep “Trijet” Pada akhirnya, dari target 500 penjualan, Lockheed L-1011 TriStar hanya mampu terjual sekitar setengahnya. Sedangkan kompetitor sejati mereka, DC-10, berhasil terjual sekitar 400 unit. Nama besar Lockheed di produk-produk militer rupanya tak cukup mampu melambungkan L-1011 TriStar. Bahkan, layaknya pesawat sipil terdahulu mereka, L-188 Electra, L-1011 TriStar menyebabkan perusahaan mengalami kerugian besar akibat harga mahal pengembangan pesawat hanya dibalas dengan penjualan tak sampai 50 persen. Akibatnya, Lockheed diberitakan nyaris bangkrut karenanya, sebelum diselamatkan oleh pemerintah AS.

Ngeri! Inilah Video Detik-detik Boeing 767 Atlas Air Terbakar Saat di Udara

Sebuah penerbangan charter Atlas Air belum lama ini dikabarkan terbakar saat di udara. Dalam video yang beredar, sumber api diketahui berasal dari mesin sebelah kanan dan membuat kabin yang gelap gulita menjadi berwarna merah menyala akibat kobaran api. Baca juga: Tragis! Black Box Ungkap Pilot dan Penumpang Pesawat Ukraina Tewas Setelah Tembakan Rudal Kedua Dari laporan 6abc.com, pihak maskapai sendiri mengakui adanya kejadian tersebut. Melalui sebuah penyataan, salah satu raksasa kargo dan charter di dunia ini menyebut api berkobar akibat kerusakan di salah satu mesin pesawat. “Penerbangan penumpang Atlas Air mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Daniel K. Inouye di Honolulu menyusul masalah mekanis dengan satu mesin. Di Atlas, keselamatan selalu menjadi prioritas utama kami dan kami akan melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk menentukan penyebabnya,” bunyi penyataan maskapai. Insiden mesin terbakar bermula saat pesawat Boeing 767 milik maskapai penerbangan Atlas Air lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Hickman, Honolulu, Hawaii, menuju ke Guam, Barat Samudera Pasifik, Amerika Serikat(AS). Beberapa menit berselang, mesin pesawat widebody dengan lebar terkecil di dunia yang memuat anggota militer ini terbakar dan pesawat terpaksa melakukan pendaratan darurat di Honolulu. Beruntung, tak ada korban tewas atas insiden tersebut. https://www.youtube.com/watch?v=Ao1-NbJTC_g Peristiwa menegangkan ini terekam dalam video yang diambil salah satu dari 212 penumpang. Dalam rekaman video tersebut terlihat api yang menyala di bagian sayap kanan pesawat. Sementara suasana di dalam kabin sangat gelap gulita. Sementara itu, dalam video lain yang diambil oleh seseorang dari sebuah gedung bertingkat di Honolulu, menunjukkan nyala api dari pesawat Atlas Air sangat terang ketika terbang di langit sekitar Bandara Internasional Daniel K. Inouye. ” Ya Tuhan, apakah itu akan jatuh? Apakah kamu baru saja melihat api yang keluar darinya?” ungkap perekam itu panik. Beberapa saksi mata mengatakan bahwa mereka mendengar ledakan keras dan melihat kilatan cahaya yang mungkin merupakan api di langit. “Suaranya (ledakan) cukup keras,” Kevin Tynan. “ Saya cukup yakin saya mendengar tetangga saya di bawah membicarakannya,” ujar yang lain. “Saya gugup karena saat pertama kali melihatnya, jaraknya cukup dekat. Saya tak mampu berkat-kata banyak,” kata Kevin. Baca juga: Baru 13 Bulan Beroperasi, Airbus A321 Milik Maskapai Terbesar di Rusia Terbakar Berkaca pada kasus mesin pesawat Atlas Air yang terbakar di udara dan berhasil mendarat darurat, sebetulnya pesawat memang didesain untuk mampu terbang dengan satu mesin. Standar penerbangan pesawat dengan satu mesin itu dikenal sebagai Extended-range Twin-engine Operational Performance Standards atau yang biasa disingkat ETOPS setelah diterbitkan oleh Federal Aviation Association (FAA). ETOPS sendiri memiliki beberapa kelas, mulai dari ETOPS 75, 90, 120/138, 180/207, hingga 370. Angka yang tertera di akhir merupakan durasi yang diijinkan untuk pesawat mengudara hanya dengan satu mesin. Itu berarti, pesawat maksimal diizinkan terbang dengan satu mesin selama enam jam 10 menit.

Gegara 737 MAX, Regulator Penerbangan Sipil Cina Mulai Rusak Hegemoni FAA

Insiden kecelakaan Boeing 737 MAX yang menimpa Lion Air dan Ethiopian Airlines sudah pasti bakal merusak hegemoni Boeing dalam persaingan menjadi produsen pesawat nomor satu di dunia. Terbukti, kecelakaan yang diikuti grounded berkepanjangan 737 MAX membuat Airbus berhasil menyalip pesanan pesawat di tahun ini. Baca juga: Hacker Cina Manfaatkan Airbus Guna Dapatkan Dokumen Beberapa Perusahaan Dirgantara Akan tetapi, bila ditelusuri lebih dalam, insiden Boeing 737 MAX rupanya bukan hanya merusak hegemoni Boeing, melainkan juga merusak hegemoni regulator penerbangan sipil Amerika Serikat (FAA) dari segi pengaruh di tataran global. Selama ini, mengakui atau tidak, FAA merupakan kiblat regulator penerbangan sipil negara-negara di dunia dalam mengambil keputusan ataupun membuat kebijakan. Seperti diberitakan South China Morning Post, Regulator Penerbangan Sipil Cina (CAAC) memimpin grounded Boeing 737 MAX dan dengan cepat diikuti oleh banyak negara, mulai dari Ethiopia, Indonesia, Mongolia, Maroko, Singapura, flag carrier negara-negara Amerika Latin, dan Korea Selatan; termasuk Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA). Padahal, saat CAAC mulai melarang 737 MAX beredar di langit Negeri Tirai Bambu, FAA belum memutuskan apapun dan sebaliknya, malah mendukung kelaikan pesawat tersebut. Hal itu pun menjadi indikasi kuat melemahnya -bila tak ingin disebut rusak- pengaruh FAA di kancah industri penerbangan global. Tak hanya itu, dari pidato Deputi Direktur CAAC, Li Jian, indikasi bahwa Beijing sudah tak sabar ingin segera merengkuh posisi FAA di kancah penerbangan global jelas terlihat. Dihadapan wartawan, Li menjelaskan “Mereka (Boeing) mengalami kesulitan membuat keputusan, jadi kami yang memimpin.” CAAC sendiri mempunyai dasar kuat mengapa mereka memimpin dunia untuk melarang peredaran Boeing 737 MAX. Mereka berdalih, pilot-pilot maskapai Cina yang selama ini menerbangkan 737 MAX sudah mengendus adanya masalah pada fitur Sistem Augmentasi Karakteristik Manuver (MCAS) dan sensor angle-of-attack (AoA). Celakanya, masalah tersebut bukan sekali atau dua kali melainkan sudah cukup sering dialami. Permasalah tersebut (masalah pada MCAS dan AoA) membuat pesawat stall dan kemudian menukik tajam tanpa bisa dihentikan oleh pilot karena sistem salah membaca ketinggian dan kecepatan pesawat. Pada akhirnya, dalil yang dijadikan dasar CAAC memblokade Boeing 737 MAX terbukti dan sama persis dengan hasil penyelidikan FAA. Namun, di balik pernyataan logis CAAC, tetap saja, patut diduga bahwa Cina memang tengah berupaya melampaui AS dalam berbagai hal; termasuk pengaruh kebijakan pesawat sipil di dunia yang selama ini dikuasai FAA. Intinya, ada faktor politik -terlebih tensi AS-Cina memang tengah memanas akibat kebijakan perang dagang- dibalik keputusan CAAC memimpin blokade global Boeing 737 MAX. Setidaknya itulah yang dikatakan Neil Hansford, seorang konsultan penerbangan di Strategic Aviation Solutions, Sydney, Australia. Baca juga: Mengekor FAA, Qantas dan Virgin Australia Larang MacBook Pro 15-inch Masuk Kargo Ia juga mengungkap, FAA sebetulnya bisa saja bersikap tegas terhadap kasus serupa bila melibatkan produsen asal Eropa, Airbus. “Tidak sulit berada di depan FAA. Jika ini adalah pesawat Airbus, FAA akan mengatasinya,” jelasnya. Kendati demikian, Li menegaskan, bahwa perang dagang Amerika Serikat dan Cina merupakan hal lain serta tidak berkenaan langsung dengan keputusan CAAC. Jika sudah demikian, akankah Cina berhasil menggantikan peran FAA dikancah penerbangan sipil global? Menarik ditunggu.

Unik, Stasiun Metro di Moskow Terhubung dengan Tujuh Apartemen Peninggalan Uni Soviet

Stasiun pada jaringan kereta bawah tanah Metro di Moskow (Moscow Metro) sudah lama terkenal dengan keindahan arsitekturnya. Namun, keindahan bukanlah satu-satunya yang unik dan menarik dari Metro Rusia, melainkan desain penataan kota yang futuristik dan visioner sejak masa Uni Soviet dahulu; khususnya Metro di Kota Moskow. Dibangun pertama kali dibuka pada 1935 -tak lebih tua dibanding Metro Inggris (1890), Budapest (1896), Paris (1900), Berlin (1902), dan Madrid (1919)- Metro Moskow langsung memikat masyarakat untuk menggunakan sistem transportasi bawah tanah yang hanya memiliki 13 stasiun dan panjang 11 kilometer ini. Baca juga: ‘Macet’ Jadi Alasan Mengapa Kereta di Rusia Jadi yang Terlamban di Dunia Bukan karena menjadi salah satu moda transportasi tercanggih di zamannya, Metro Moskow juga diminati masyarakat karena terhubung langsung dengan banyak pusat pemukiman warga (apartemen). Penasaran? Dikutip dari rbth.com, berikut redaksi KabarPenumpang.com rangkum tujuh apartemen di Kota Moskow yang terhubung dengan statsiun kereta bawah tanah. 1. Stasiun Okhotny Ryad
Stasiun Metro Moksow Okhotny Ryad. Foto: rbth.com
Okhotny Ryad merupakan stasiun pertama di Metro Moskow. Tatkala arsitek melihat wilayah sekitar, ide untuk membangun stasiun dengan memanfaatkan lantai dasar salah satu bangunan tua abad ke-19 kemudian tercetus, mengingat, itu adalah pilihan terbaik ketimbang menutup salah satu jalan tersibuk di Kota Moskow ini atau merobohkan bangunan bersejarah. 2. Krasnye Vorota Square
Stasiun Metro Krasnye Vorota Square. Foto: rbth.com
Gedung yang termasuk ke dalam salah satu dari “Seven Sisters” atau bangunan tertinggi di Moskow ini dibangun dari tahun 1947-1957. Gedung bergaya Kerajaan Stalinis di Sadovoye Koltso ini awalnya memang menjadi target pertama sang arsitek, Alexey Dushkin, untuk menjadikan seluruh gedung pencakar langit sebagai stasiun Metro Moskow di bagian lantai dasar. Namun, pada akhirnya, hanya gedung pencakar langit ini saja yang terwujud. Meski demikian, gedung perkantoran sekaligus apartemen yang dihuni oleh puluhan ribu orang ini terbukti sangat memudahkan masyarakat dalam memanfaatkan Metro Moskow dalam kehidupan sehari-hari. 3. Apartemen di Prospekt Mira
Stasiun Metro The Prospekt Mira. Foto: rbth.com
Stasiun Prospekt Mira resmi beroperasi pada 1952 dengan menempatkan pintu keluar dan masuk stasiun di salah satu apartemen di sini. Apartemen dengan tiga tower setinggi 13 lantai dan dua lainnya delapan lantai ini awalnya dibangun untuk menjadi tempat peristirahatan sementara para pekerja konstruksi. Namun, kini apartemen tersebut dihuni oleh masyarakat sekaligus pengguna aktif Metro Moskow. 4. Apartemen Avtozavodskaya
Stasiun Metro Avtozavodskaya. Foto: rbth.com
Pintu keluar masuk Stasiun Metro Avtozavodskaya awalnya hendak dibangun di seberang gedung, atau tepat berada di jalur pedesterian pada 1943, seperti di stasiun Metro di dunia. Namun, setelah melalui berbagai pertimbangan, akses keluar masuk stasiun akhirnya ditempatkan di dalam gedung yang menjadi rumah bagi puluhan ribu warga Moskow itu. Meskipun dekat dengan pemukiman, penghuni apartemen tak merasa kebisingan sedikitpun. 5. Apartemen di Arbatsko-Pokrovskaya
Stasiun Metro Kurskaya. Foto: rbth.com
Stasiun Metro Kurskaya di Jalur Arbatsko-Pokrovskaya dibuka pada tahun 1938. Salah satu pintu keluar masuk stasiun ditempatkan di blok pemukiman yang telah didirikan untuk pekerja kereta api pada tahun 1932 tersebut. Baca juga: Prank Virus Corona di Kereta Bawah Tanah Rusia, Karomatullo Dzhaborov Didakwa 5 Tahun Penjara 6. Apartemen Smolensky Boulevard
Smolensky Boulevard. Foto: rbth.com
Pada tahun 1950-an, Smolensky Boulevard dibangun untuk jadi hunian para elite Uni Soviet. Apartemen karya arsitek Ivan Zholtovsky ini kemudian dilengkapi dengan pintu keluar masuk stasiun Metro Moskow untuk memudahkan mobilitas para elite. Pintu keluar masuk stasiun Metro Moskow sendiri ditandai dengan logo “M” berwarna merah di bagian atas pintu sehingga mudah dikenali. 7. Apartemen di Jalan Novokuznetskaya.
Stasiun Metro Paveletskaya. Foto: rbth.com
Stasiun Metro Paveletskaya pertama kali dibangun pada tahun 1950-an. Sebagaimana stasiun lainnya, pintu keluar masuk kereta bawah tanah Moskow juga ditempatkan di dalam lobby gedung.

Bikin Heboh, Penumpang Bus Kota Gunakan Ular Hidup Sebagai Masker

Era normal baru mengharuskan semua orang menggunakan masker ketika bepergian keluar rumah. Baik itu berjalan kaki maupun menggunakan angkutan umum. Penggunaan ini untuk membantu mencegah penyebaran virus corona yang tengah menjadi pandemi di seluruh dunia saat ini. Baca juga: Dorong Warga Pakai Masker, Jerman Larang Penggunaan Deodoran di Transportasi Umum Namum, meski sudah ada aturan menggunakan masker, tetap saja beberapa orang atau penumpang angkutan umum masih membandel tidak menggunakannya atau sengaja melepas. Seperti baru-baru ini yang dilakukan seorang penumpang bus di Manchaster, Inggris. Penumpang ini bukan menggunakan masker melainkan seekor ular hidup untuk menutupi mulutnya. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnn.com, penumpang pria ini melilitkan ularnya ke leher untuk menutupi mulutnya. Penumpang tersebut terlihat dalam bus dari Swinton menuju ke Manchester pada Senin kemarin. Penumpang lain yang menyaksikan hal tersebut mengatakan, ini adalah topeng yang sangat funky sampai ular merayap ke sekitar pergelangan tangan. Penumpang itu juga mengatakan, ini sangat lucu dan tidak mengganggu penumpang lainnya. “Itu benar-benar menghibur. Tidak ada yang menutup kelopak mata,” katanya. Foto-foto pria menggunakan masker dari ular hidup yang melilit leher dan mulutnya terpublikasi di dunia maya. Karena hal ini, pejabat transportasi Inggris telah memperingatkan penumpang untuk tidak menggunakan ular hidup sebagai penutup wajah yang valid. Hingga saat ini, menggunakan masker wajah di transportasi umum adalah hal yang wajib di Inggris kecuali mereka yang dibebaskan karena alasan usia, kesehatan dan anak dibawah usia 11 tahun serta disabilitas. Juru bicara Transport for Greater Manchester mengatakan bahwa penumpang diharapkan mengikuti panduan pemerintah tentang mengenakan penutup wajah di transportasi umum selama pandemi virus corona. Baca juga: Tak Perlu Beli, Yuk Bikin Face Shield Sendiri “Ini tidak perlu masker bedah … penumpang dapat membuat sendiri atau memakai sesuatu yang sesuai, seperti syal atau bandana,” kata perwakilan tersebut dalam sebuah pernyataan.

Penerbangan ‘Tanpa Tujuan’ Qantas Diserbu Traveller, 10 Menit Ludes Terjual

Kerinduan masyarakat mencicipi penerbangan semakin tak terbendung. Hal itu setidaknya bisa dilihat dari fenomena “flight to nowhere” atau penerbangan tanpa tujuan yang masih terus terjadi. Setelah EVA Air, China Airlines, All Nippon Airways (ANA), Singapore Airlines, dan Royal Brunei Airlines, kini giliran Qantas. Bahkan, tiket penerbangan tanpa tujuan maskapai nasional Australia itu habis terjual dalam tempo 10 menit. Baca juga: Traveller Serbu Penerbangan Tiga Jam ‘Tanpa Tujuan’ Royal Brunei Airlines “Ini mungkin penerbangan dan penjualan tercepat dalam sejarah Qantas,” kata CEO maskapai, Alan Joyce, dalam sebuah pernyataan. CNN International melaporkan, berbeda dengan konsep penerbangan tak kemana-mana maskapai di atas, penerbangan tanpa tujuan Qantas sendiri merupakan penerbangan mengelilingi Australia, dimana keberangkatan pertama akan dimulai pada 10 Oktober. Qantas menawarkan 134 kursi dengan harga yang variasi, mulai dari US$566 atau Rp 8 juta hingga US$ 2.734 atau Rp 40,3 juta (kurs 14.735), mengikuti kelas yang dipilih, first class ataupun economy class. Penerbangan Qantas keliling Australia sendiri meliputi berbagai ikon di Negeri Kanguru, seperti melihat Great Barrier Reef, pedalaman Australia, mengitari Sydney Harbour, dan Outback dari ketinggian 30 ribu kaki serta melakukan penerbangan rendah di atas Uluru dan Pantai Bondi selama kurang lebih tujuh jam. Penerbangan tersebut nantinya akan berangkat dari Bandara Internasional Sydney dan mendarat di bandara yang sama. Dalam penerbangan tanpa tujuan ini, Qantas akan mengerahkan armada Boeing 787 Dreamliner. Hal ini tentu spesial mengingat dalam kondisi normal, pesawat tersebut hanya digunakan pada penerbangan jarak jauh. Selain itu, penggunaan pesawat tersebut dalam flights nowhere Qantas terasa spesial berkat jendela besar pesawat untuk mendukung visibilitas penumpang dari dalam kabin selama penerbangan tersebut berlangsung. Semua itu juga bakal dilengkapi dengan hiburan spesial dari musisi papan atas serta dipandu oleh salah satu host ternama Australia; di samping hidangan spesial onboard khas maskapai. Saat ini penerbangan internasional di Australia belum dibuka karena pembatasan perjalanan. Menurut Departemen Kesehatan Pemerintah, perbatasan Australia masih tertutup untuk negara lain. Meski tak ada tiket perjalanan jarak jauh, kini penerbangan tak kemana-mana banyak diminati untuk menghilangkan dahaga traveller mencicipi penerbangan. Sebelum Qantas, maskapai EVA Air, China Airlines, dan All Nippon Airways (ANA) sudah lebih dahulu meluncurkan “flights to nowhere” atau terbang tanpa tujuan. Hanya saja, konsep yang ditawarkan berbeda. EVA Air menawarkan “flight to nowhere” dengan tetap memiliki negara tujuan, yakni ke Jepang. Hanya saja, maskapai tersebut tidak mendarat di Negeri Sakura dan kembali ke Taiwan untuk mendarat di bandara yang semula. Berbeda dengan EVA Air, maskapai Taiwan lainnya, China Airlines lebih ke ranah wisata edukasi. Konsep “flight to nowhere” salah satu maskapai terbesar di Taiwan itu mengajak penumpang masuk ke kabin pesawat tanpa terbang ke suatu destinasi. Di sini penumpang dapat mengenang pelayanan pramugari dan rasanya duduk di kursi pesawat. Selain itu, maskapai ini juga menawarkan pelajaran menjadi pramugari untuk anak-anak. Baca juga: Singapore Airlines Tawarkan Traveller Terbang Tiga Jam ‘Tanpa Tujuan’ Selain dapat belajar menjadi pramugari, melalui kegiatan ini para penumpang juga berakting seolah mereka akan liburan ke negara lain. Setiap penumpang tetap harus melakukan check-in, melakukan pemeriksaan paspor, dan bahkan ada petugas keamanan yang siap mengarahkan penumpang menuju pesawat. Adapun All Nippon Airways (ANA), konsep terbang ‘tanpa tujuan’ maskapai tersebut sedikit banyaknya hampir mirip dengan konsep yang akan ditawarkan Singapore Airlines, yakni terbang keliling langit sekitar bandara dan kemudian mendarat di bandara yang sama. Sedangkan penerbangan tanpa tujuan Royal Brunei Airlines bisa dibilang mirip dengan Qantas.

Bisa Dilipat Seperti Origami, Kayak CLR Tak Makan Tempat

Kayak merupakan perahu dayung yang biasanya digunakan satu orang atau pun dua orang. Ini adalah perahu yang menggunakan tenaga manusia sebagai penggeraknya dengan menggunakan dayung kepala tunggal atau ganda. Biasanya bentuk kayak ini bagian depan dan belakang tertutup sehingga menyisakan lubang untuk satu awak atau di desain khusus untuk dua orang. Baca juga: Day Limo, Perahu Amfibi Keluaran Iguana Yacht, Oke di Darat dan Lautan Kayak dibuat dari kayu dengan penutup berupa kulit hewan. Ketika seseorang akan membawa kayak milik pribadi harus diangkut dengan kendaraan baik di letakkan di atas mobil atau kendaraan terbuka. Namun bagaimana bila kayak ini bisa di lipat sehingga tidak perlu tempat luas untuk membawanya ke tepian pantai atau sungai? KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (9/9/2020), di Jerman ada sebuah kayak yang bisa dikatakan sebagai “Kayak Origami” dan hanya seberat enam kilogram serta dapat dilipat dan tidak memakan waktu banyak atau hanya beberapa menit dalam merakitnya. Kayak origami ini adalah desain Daniel Schult yang bisa dilipat dan dibawa seperti tas punggung. Kayak CLR menurut Daniel, memiliki bobot lebih ringan, bisa dilipat lebih kecil dan dipasang lebih cepat dibandingkan kayak buatan pabrikan Amerika yakni Oru. Daniel mengatakan, bahwa kayak yang didesain tersebut siap dalam satu hingga dua menit tergantung berapa kali pengguna telah melakukan proses sebelumnya. Dalam konfigurasi siap dayung, CLR berukuran panjang 340 cm dengan lebar 65 cm, dan dapat membawa beban hingga 118 kg. Pengguna duduk di kursi busa terintegrasi dengan sandaran. Setelah dilipat, kayak berukuran 70x50x6 cm, dan dapat dibawa menggunakan satu set tali pengikat yang disertakan. Semuanya berbobot enam kilogram yang diklaim dan sebaliknya, kapal Oru yang paling ringan memiliki berat sembilan kilogram meskipun mungkin saja kapal itu juga lebih kuat. Kayak CLR saat ini menjadi subjek kampanye Kickstarter. Harga untuk kayak CLR sekitar €529 atau Rp9,3 juta. Jika Anda menyukai ide kayak plastik lipat, Anda mungkin juga ingin melihat perahu Hypar dan Tucktec yang berhasil didanai oleh crowdfunding. Untuk diketahui, kayak sendiri semula banyak digunakan oleh suku Ainu, Inuit, Aleut dan Eskimo untuk berburu, memancing dan alat transportasi. Hewan buruan yang biasanya mereka dapatkan dengan mengayuh kayak antara lain adalah karibu, anjing laut, paus, dan mamalia laut lainnya. Kayak menjadi alat perburuan yang tepat karena berukuran kecil, lincah, mudah dikendalikan, dan cepat. Selain itu, kayak kuno juga berfungsi sebagai pengintai yang dapat digunakan untuk menyelinap di sekitar binatang yang berada di dalam air atau pun di garis pantai. Suku-suku tersebut saat ini sudah jarang menggunakan kayak untuk berburu, mereka umumnya telah beralih ke perahu motor. Namun demikian, kayak telah menjadi bagian penting dari sejarah dan peradaban mereka. Baca juga: Perahu Getek, Riwayatmu Kini Sekarang ini, kayak telah digunakan secara luas oleh masyarakat dan material yang digunakan pun semakin beragam disesuaikan dengan kegunaannya yang semakin bervariasi. Masyarakat modern menggunakan kayak untuk banyak keperluan, termasuk berolahraga dan kendaraan militer.