Anjing digunakan dalam mendeteksi virus corona atau Covid-19? Ya, ini sudah dilakukan oleh Bandara Helsinki (HEL), Finlandia, di mana mereka menurunkan sebanyak 16 ekor anjing untuk mengidentifikasi penumpang yang terinfeksi virus itu.
Baca juga: Bandara Itami Buka Toilet Eksklusif Untuk Anjing
Anjing-anjing ini memiliki hidung sensitif yang dapat mempercepat proses identifikasi mereka yang terinfeksi Covid-19. Bisa dikatakan Kota Vantaa di mana Bandara Helsinki ini ada percaya bahwa anjing menjadi salah satu metode yang efisien untuk memastikan kesehatan dan keselamatan bandara.
“Rencana ini akan dimulai pada 22 September 2020 dan pertama di dunia. Tidak ada bandara lain yang mencoba menggunakan deteksi bau anjing dalam skala besar terhadap Covid-19. Kami senang dengan inisiatif kota Vantaa. Ini mungkin merupakan langkah maju tambahan untuk mengalahkan COVID-19,” kata Direktur Bandara Helsinki Ulla Lettijeff yang dikutip KabarPenumpang.com dari internationalairportreview.com (21/9/2020).
Namun apakah penggunaan penciuman anjing untuk mendeteksi virus ini efektif? Menurut tes yang dilakukan oleh kelompok peneliti di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Helsinki, anjing dapat mencium virus dengan hampir seratus persen kepastian.
Bahkan anjing juga dapat mengidentifikasi virus beberapa hari sebelum gejalanya dimulai. Di mana ini adalah sesuatu yang gagal dilakukan oleh tes laboratorium. Anjing juga ternyata dapat mengidentifikasi Covid-19 dari sampel yang jauh lebih kecil daripada tes PCR yang digunakan oleh profesional kesehatan.
Perbedaannya sangat besar, karena seekor anjing hanya membutuhkan 10-100 molekul untuk mengidentifikasi virus, sedangkan peralatan uji membutuhkan 18 juta. Anjing Helsinki Airport Covid-19 dilatih oleh Wise Nose. Nose Academy, perusahaan startup grup riset, menjalankan operasi di bandara.
Di masa depan, anjing bea cukai mungkin menggantikan operator saat ini. Pengujian Covid-19 resmi dengan anjing terlatih hanya dapat dimulai setelah amandemen legislatif yang sesuai telah disahkan. Melakukan tes anjing Covid-19 di Bandara Helsinki tidak termasuk kontak langsung dengan anjing tersebut.
Sebaliknya, anjing akan melakukan tugasnya di bilik terpisah. Mereka yang mengikuti tes akan mengusap kulit mereka dengan tes lap dan menjatuhkannya ke dalam cangkir, yang kemudian diberikan kepada anjing. Ini juga melindungi pawang anjing dari infeksi.
Semua tes diproses secara anonim dan jika hasil tes positif, penumpang akan diarahkan ke titik informasi kesehatan yang dikelola oleh kota Vantaa yang terletak di bandara. Ke depan, empat anjing akan bekerja di bandara selama shift dan durasi setiap shift tergantung pada anjingnya.
Baca juga: Swiss Uji Coba Aplikasi Pendeteksi Covid-19
Hampir semua anjing pernah melakukan deteksi bau. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk belajar mengidentifikasi Covid-19 bergantung pada latar belakang anjing tersebut. Salah satu anjing yang akan segera bekerja di Bandara Helsinki adalah anjing greyhound berusia delapan tahun bernama Kössi, yang belajar mengenali baunya hanya dalam tujuh menit.
Terkenal fleksibel, lantaran bisa diubah-ubah fungsinya, dari mulai pelindung leher, masker setengah wajah (half mask), headband sampai pelindung kepala (sahariane), adalah keunggulan dari Buff, atau yang kondang disebut sebagai masker Buff. Selain masif digunakan oleh pemotor, tak sedikit Buff dipakai oleh penumpang kereta komuter.
Baca juga: Profesional Medis Gunakan Masker Scuba dan Snorkeling untuk Gantikan Masker Bedah
Namun, karena disebut hanya menggunakan satu lapis kain saja, masker Buff dipandang tak aman untuk mencegah penularan Covid-19. Kementerian Kesehatan (Kemendes) RI misalnya, telah mengeluarkan himbauan bagi warga untuk tak lagi menggunakan Buff. Malahahan sebelumnya, operator KRL Jabodetabek, PT KCI telah melarang penumpang yang memakai Buff untuk menggunakan jasa kereta komuter.
Selain punya keunggulan fleksibel dalam penggunaan, masker Buff juga mudah diperoleh dan punya harga yang terbilang murah, biasanya masker dengan bahan kain stocking ini dilego pedagang kaki lima seharga Rp15.000 untuk dua piece.
Namun, perlu diketahui, Buff sejatinya adalah sebuah merek produk pelindung leher yang dipegang oleh Original Buff, SA, perusahaan asal Spanyol. Dan masker Buff yang kebanyakan di jual di kaki lima, jelas merupakan barang palsu dengan kualitas di bawah standar kesehatan.
Namun perlu dipahami, bahwa pelindung leher ini tidak akan menawarkan perlindungan yang sama seperti respirator N95. Di mana masker N95 bisa melindungi dengan tingkatan yang lebih tinggi. Sebab pelindung leher dirancang untuk olahraga musim dingin atau pelindung dari matahari.
Nah, menanggapi pelarangan dan pembatsan penggunaan masker Buff, bagaimana tanggapan dari pihak prinsipal? Begini petikan pihak Buff dalam situs resminya, “Pelindung leher kami melindungi dari banyak elemen alam. Namun meskipun produk aksesori kepala multi fungsi kami menutupi seluruh bagian depan wajah seperti hidung, mulut, dagu dan leher, tetapi secara ilmiah dan dibuktikan oleh Center for Disease Control (CDC) dan Orgasnisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa tidak untuk mencegah Anda dari tertular virus atau pun penyakit. Kemudian tidak bisa menjamin Anda untuk tidak menularkan virus atau penyakit ke orang lain,”tulis Buff.
CDC sendiri merekomendasikan untuk mengenakan penutup wajah dari kain di tempat umum di mana jika protokol kesehatan seperti jarak sosial sulit dipertahankan. “Kami mendorong pengguna untuk tidak menghindari protokol keamanan yang tepat dari jarak sosial, karantina dan lainnya,” kata CDC.
Baca juga: Bikin Heboh, Penumpang Bus Kota Gunakan Ular Hidup Sebagai Masker
CDC menambahkan, setiap orang baiknya tetap ikuti protokol kesehatan seperti menjaga jarak fisik yang aman setidaknya enam kaki atau sekitar dua meter. Selain itu jika berekreasi di pegunungan baiknya tidak menumpang mobil atau memberi tumpangan pada orang yang bukan tinggal satu rumah.
Setelah melakukan pengembangan selama enam bulan, Boeing akhirnya berhasil menemukan alat disinfeksi baru yang dinilai jauh lebih efektif dan efisien berupa tongkat sanitasi portabel ultraviolet (UV).
Baca juga: Inilah GermFalcon, Robot Pembasmi Virus Corona di Kabin Pesawat dengan Teknologi UV
Rencananya, alat yang sudah mendapat lisensi atau hak paten itu akan diproduksi secara massal oleh Boeing dengan menggandeng Healthe Inc , perusahaan pengembang produk sanitasi UV berteknologi tinggi, untuk penggunaan lebih luas di masyarakat, seperti sekolah, rumah sakit, gedung perkantoran, dan lain sebagainya.
“Tongkat pembersih dengan teknologi UV dirancang agar lebih efektif daripada perangkat serupa. Alat ini dengan cepat mendisinfeksi permukaan pesawat dan selanjutnya memperkuat lapisan perlindungan lain bagi penumpang dan awak,” kata Mike Delaney, kepala program Confident Travel Initiative (CTI) Boeing, sebagaimana dikutip dari Simple Flying.
“Boeing menghabiskan enam bulan untuk mengubah ide tongkat ajaib menjadi mode kerja, dan Healthe sekarang akan mengambil prototipe itu dan membuatnya tersedia untuk dunia luas,” tambahnya.
Sebagaimana namanya, tongkat UV Boeing menggunakan sinar UVC dengan panjang gelombang 222 nanometer (Far-UVC). Hasil penelitian menunjukkan, 222 nanometer UVC mampu menonaktifkan patogen secara efektif.
Teknologi sinar UV untuk mendisfeksi permukaan dinilai jauh lebih efektif, efisien, dan aman dibanding cairan disinfektan yang biasa digunakan saat ini mengingat hal itu dapat merusak peralatan elektronik semisal panel kontrol di kokpit. Foto: Boeing via Simple Flying
Konsep alat disinfeksi portabel Boeing juga ada yang menyerupai koper jinjing. Dengan begitu, kru cukup membawa alat tersebut berjalan di lorong ataupun sudut lain pesawat. Otomatis, seluruh permukaan yang mampu dijangkau sinar UV akan membunuh patogen berbahaya sejenis Corona (Covid-19) dengan cepat. Tak hanya itu, sinar UV juga mampu membentuk lapisan perlindungan selama 30 hari. Tongkat UV sangat efektif di ruang yang padat dan membersihkan kabin utama dan kokpit dalam waktu kurang dari 15 menit.
Dengan efektivitas dan efisiensi tinggi, tongkat UV portabel Boeing tersebut dipercaya bakal memperkecil penggunaan alkohol atau disinfektan lain untuk mendisinfeksi pesawat (maupun non pesawat) yang notabene dapat merusak peralatan elektronik yang sensitif.
Saat ini, sudah ada sekitar 13 maskapai yang mengujicoba alat tersebut bersama Boeing. Dari jumlah tersebut, Etihad Airways merupakan maskapai pertama yang menjalani uji coba, sebagai bagian dari program ecoDemonstrator dalam kemitraan bersama Boeing. Oleh keduanya, alat tersebut didemonstrasikan di pesawat ecoDemonstrator Etihad 787-10 akhir bulan lalu.
Baca juga: “Confident Travel Initiative” Jadi Strategi Boeing Pastikan Penumpang Terbang Tanpa Ragu Selama dan Pasca Corona
Tongkat UV anti Corona Boeing sendiri merupakan bagian dari program Confident Travel Initiative perusahaan. Program tersebut merupakan sebuah inisiatif yang dipimpin langsung oleh wakil presiden Boeing bidang Transformasi Digital, Mike Delaney.
Nantinya, inisiatif tersebut akan menawarkan solusi baru untuk membantu meminimalkan risiko kesehatan di setiap perjalanan udara selama wabah Covid-19. Tak hanya itu, strategi tersebut juga akan mendorong kesadaran penumpang terhadap berbagai perlindungan kesehatan yang sudah ada, di samping perlindungan penumpang dengan penggunaan teknologi canggih semisal tongkat ultraviolet anti corona ini.
Berbagai macam desain kendaraan kini hadir untuk membantu orang di masa pandemi dan mencegah penularan Covid-19. Salah satunya adalah dari pelajar Singapura berusia 23 tahun. Dia merupakan bagian dari tim beranggotakan empat orang yang telah memenangkan kompetisi desain internasional dengan bus anti pandemi.
Baca juga: Arsitek Asal Milan Buat Desain Trem yang ‘Friendly’ di Masa Pandemi
Ryan Teo bersama dengan tiga mahasiswa asing lain yang baru ditemu di Zoom menciptakan apa yang disebut Futurebus dalam waktu 24 jam. Adapun fitur bus tersebut yakni pintu geser yang didesain sepanjang bus, teknologi pembayaran jarak jauh untuk menggantikan pembaca kartu fisik dan pegangan tangan berputar yang disterilkan oleh strip UV.
desain yang memenangkan lomba (straitstimes.com)
Dilansir KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (22/9/2020), Teo mengatakan, desain ini dapat membuat transportasi umum lebih aman tanpa menurunkan kapasitas bus karena jarak sosial yang harus dilakukan di masa pandemi. Teo bekerja bersama Yang Shunli dari Universitas Politeknik Hong Kong, William Ma dari Universitas Harvard dan Li Xin dari Universitas Shanghai Jiao Tong.
“Saya selalu merasa jelas bahwa Singapura memiliki salah satu sistem transportasi umum terbaik di dunia. Meski begitu, tidak ada sistem di dunia yang cocok untuk situasi pandemi,” kata mahasiswa tahun terakhir di Northwestern University di Amerika Serikat itu.
“Konsep Futurebus kami dirancang dengan pemikiran ini saat kami bertanya pada diri sendiri, bagaimana kami bisa menjaga transportasi umum tetap aman tanpa menurunkan kapasitas kendaraan?” tambah pria muda itu.
Tantangan FourC ini sendiri dilakukan pada bulan Juni tersebut diselenggarakan oleh Shanghai Jiao Tong University yang diikuti oleh lebih dari 200 mahasiswa dari 52 universitas bersaing dalam “sprint desain” 24 jam. Setiap tim ini dibentuk secara acak oleh penyelenggara dan kolaborasi berlangsung dari jarak jauh.
Kemenangan yang dibuat oleh Teo dan tim mendapatkan hadiah utama S$10 ribu atau sekitar 50 ribu yuan. Bahkan kemenangannya ini menarik perhatian media yang tidak terduga dari berbagai negara termasuk Amerika, Cina dan Spanyol.
Teo mengatakan, idenya inventif dan diadaptasi dari teknologi yang ada. Meski ini lebih merupakan eksperimen dari pikiran, tetapi keempatnya mencoba memastikan Futurebus menjadi proposal yang layak baik dari segi biaya dan terlihat lebih masuk akal.
Untuk diketahui, pengadopsian pegangan berputar, mereka terinspirasi dari dudukan toilet yang terdapat di Bandara O’Hare Chicago yang mana penutupnya berputar setelah digunakan. Sehingga nantinya pegangan Futurebus juga akan berputar 360 derajat setiap bus berhenti di halte dan dibersihkan agar penumpang tak perlu menyesuaikan pegangan mereka.
Sedangkan sistem pembayaran jarak jauh tersebut sudah lama ada dan Teo terinspirasi dari sisem yang dikembangkan oleh ST Engineering, di mana penumpang hanya membawa gelang Identifikasi Frekuensi Radio jarak jauh, kartu atau tag kunci. Mereka kemudian dapat berjalan melalui bingkai bebas penghalang dan tarif mereka secara otomatis dipotong tanpa harus mengetuk kartu atau menunggu gerbang dibuka.
Baca juga: Mobil Otonom May Mobility Mengular dengan Proteksi Anti Covid-19
Bersama dengan pintu geser Futurebus yang panjang, penumpang tidak lagi harus berkerumun di sekitar pintu sempit tempat pembaca kartu berada di bus saat ini.
“Kami mendesain ulang denah lantai bus untuk meminimalkan penyeberangan jalur penumpang. Dengan cara ini, penumpang bisa langsung turun dari bus daripada harus berjalan melalui bus untuk sampai ke pintu keluar,” kata dia.
Tiga konsep pesawat hidrogen akhirnya resmi dirilis Airbus. Hal tersebut merupakan bagian dari komitmen produsen pesawat asal Eropa itu untuk memproduksi pesawat komersial ramah lingkungan (bebas emisi) bertenaga hidrogen pertama di dunia pada 2035 mendatang.
Baca juga: Kejar Target Produksi Pesawat Tanpa Emisi di 2035, Airbus Pertimbangkan Penggunaan Hidrogen
Dalam laman Twitter resmi perusahaan, ketiga konsep – semua diberi kode nama ZEROe – tersebut antara lain, pertama, desain turboprop (kapasitas hingga 100 penumpang) menggunakan mesin turboprop sebagai pengganti turbofan, dan juga didukung oleh pembakaran hidrogen dalam mesin turbin gas yang telah dimodifikasi dan mampu melakukan perjalanan lebih dari 1.852 km lebih. Hal ini menjadikannya pilihan untuk penerbangan jarak pendek.
Konsep kedua pesawat hidrogen Airbus ialah turbofan (kapasitas 120-200 penumpang) dengan jangkauan 3.704 km lebih, mampu beroperasi lintas benua dan didukung oleh mesin turbin gas yang telah dimodifikasi dan mendapatkan energi dari pembakaran tenaga hidrogen, bukan bahan bakar jet. Hidrogen cair akan disimpan dan didistribusikan melalui tangki yang terletak di bagian ekor pesawat.
Adapun konsep pesawat Airbus bertenaga hidrogen yang terakhir yakni desain sayap-lebur atau blended-wing body (kapasitas hingga 100 penumpang), dengan jarak tempuh yang mirip dengan konsep turbofan. Badan pesawat yang sangat lebar memberikan banyak opsi untuk penyimpanan dan distribusi gas hidrogen, serta untuk tata letak kabin.
So excited to have shared our #zeroe concept aircraft with you! Missed it? We’ve got you covered. Check this out 👇
CEO Airbus Guillaume Faury berujar masing-masing konsep tersebut mewakili pendekatan yang berbeda menuju penerbangan bebas emisi, mengeksplorasi berbagai jalur teknologi, dan konfigurasi aerodinamis untuk mendukung ambisi Airbus dalam memimpin dekarbonisasi industri penerbangan secara menyeluruh.
“Semua konsep ini mengandalkan hidrogen sebagai sumber tenaga utama – opsi yang menurut Airbus menjanjikan sebagai bahan bakar penerbangan yang bersih. Hidrogen kemungkinan akan menjadi solusi untuk industri kedirgantaraan dan juga industri lainnya dalam mencapai target emisi netral,” kata Faury, seperti dikutip dari Euronews.
“Ini adalah momen bersejarah bagi sektor penerbangan komersial secara keseluruhan dan kami bermaksud untuk memainkan peran utama dalam transisi terpenting di industri ini yang pernah ada,” lanjut Faury.
Untuk mewujudkan target pesawat hidrogen Airbus mengudara tahun 2035, Faury melanjutkan, dibutuhkan dukungan dari pemerintah, perusahaan terkait, serta ekosistem industri penerbangan seluruh dunia. Aliansi Hidrogen Bersih Eropa (ECHA) sendiri dikabarkan bakal menggelontorkan dana sebesar €430 miliar atau setara Rp7.451 triliun (kurs 17.270) untuk membantu meningkatkan rantai pasokan hidrogen di seluruh dunia.
Baca juga: Intip Paten Airbus untuk Konsep Donat Terbang, Pesawat Andalan di Masa Depan?
Bila tak ada aral melintang, target Airbus tersebut 15 tahun lebih cepat dari prediksi Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), dimana industri penerbangan global baru bisa mewujudkan 100 persen penerbangan ramah lingkungan pada 2050 mendatang. Bila hal itu terjadi, emisi yang dihasilkan transportasi udara bakal turun sebesar 63 persen.
Saat ini, perjalanan udara disinyalir menyumbang antara 2-3 persen dari emisi karbon dunia, tetapi persentase untuk itu setara dengan 4,5 miliar perjalanan penumpang, pergerakan 64 juta metrik ton kargo dan sepertiga dari perdagangan global dunia. Di samping itu, penerbangan juga menopang 65 juta pekerjaan.
Bandara-bandara di Eropa dilaporkan bakal menggelar tes corona supercepat buatan Israel. Alat tes virus Corona (Covid-19) dengan memakai sampel air liur dipastikan bakal menjadi andalan baru bandara setelah ICTS Europe, raksasa keamanan bandara yang memegang kendali di 120 bandara di 23 negara.
Baca juga: Canggih! Italia Jadi yang Pertama Gunakan Helm Thermal Scanning di Bandara
Dilansir timesofisrael.com, untuk tahap awal, alat tes Corona supercepat dari Israel dengan memakai sampel air liur ini bakal diujicoba di dua bandara Eropa -tak disebutkan dengan jelas bandara mana saja- sebagai proyek percontohan selama beberapa hari atau pekan.
Dalam proses uji coba, setiap penumpang diharuskan untuk berkumur 10 ml dengan obat khusus dan meludah ke dalam vial (benda penampung cairan, bubuk, atau tablet farmasi). Hasilnya kemudian diperiksa dengan perangkat spektral kecil yang secara sederhana, menyinari spesimen dan menganalisis reaksinya untuk melihat apakah konsisten dengan virus Corona Covid-19. Hanya dalam tempo satu detik, hasil tes sudah bisa didapat.
Dalam proses uji coba alat tes Corona supercepat Israel, bila hasilnya positif penumpang akan menjalankan tes swab.
(kiri ke kanan) Eli Assoolin, CEO of Newsight, Professor Eli Schwartz of Sheba Medical Center, dan Eyal Yatskan, co-founder of Newsight, saat sedang berpose dengan alat tes supercepat Israel, SpectraLIT. Foto: Timesofisrael
Alat tes corona yang dikembangkan bersama Assoolin Newsight dengan Sheba Medical Center lewat perusahaan patungan Virusight Diagnostic ini, diklaim menunjukkan tingkat keberhasilan 95 persen, jauh lebih akurat dibanding alat rapid test buatan Cina yang hanya diangka 30-an persen. Hal itu dimungkinkan mengingat alat deteksi virus corona bernama SpectraLIT ini diciptakan berbasis kecerdasan buatan atau AI.
Menariknya, berbeda dengan tes swab atau PCR yang membutuhkan waktu agak lama dan melibatkan profesional medis, alat tes corona supercepat Israel tak membutuhkan itu (keterlibatan profesional medis).
Sebab, teknologi AI sudah otomatis mendeteksi keberadaan virus Corona dari air liur tadi melalui sebuah sensor. Dengan begitu, siapapun dapat mengoperasikan alat tes ini. Selain itu, harga per satu alat tes Corona buatan Israel itu juga terbilang murah, mencapai di bawah Rp4.000. Adapun keseluruhan perangkat peralatan ditaksir kurang dari US$200 atau sekitar Rp2.968.000.
Baca juga: Berkat Check-in Tanpa Sentuhan, Changi Dinobatkan Jadi Bandara Teraman di Dunia
Oren Sapir, presiden sekaligus CEO ICTS Europe, mengatakan, “Karena pembatasan perjalanan secara bertahap dicabut, inovasi dan teknologi akan terus menjadi pusat pemulihan industri, dan karenanya kami bangga dan sangat senang dapat bekerja sama dengan Virusight untuk memaksimalkan SpectraLIT.”
Sementara itu, ketua tim pengembangan alat tes corona supercepat SpectraLIT, Eli Assoolin, optimis dalam beberapa bulan ke depan alat tes Covid-19 bakal digunakan oleh banyak orang. “Kami pikir solusi kami akan menjadi solusi de facto untuk perjalanan udara,” jelasnya.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Bahkan kekayaan laut dengan beragam biota sehingga menampilkan pemandangan yang cukup diminati oleh para pelancong internasional.
Baca juga: Sistem Monitoring Jadi Hambatan Terbesar Implementasi Tol Laut
Hal ini bahkan diperlengkap karena berada di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Kemudian, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia sebagai langkah yang tepat.
Sebab bisa dikatakan, sektor maritim di Indonesia cukup lama tak digarap dengan serius dan maksimal. Sehingga belum benar-benar membantu Indonesia baik dalam industri pariwisata atau pangan yang dihasilkan dari laut.
Karena Jokowi ingin Indonesia menjadi Poros Maritim Dunia, berbagai strategi digunakan untuk hal ini baik untuk menjaga keamanan maupun kemajuan pengembangan industri kelautan. Untuk keamanan diperlukan pembangunan sistem sensor dasar laut menggunakan eknologi coastal acoustic tomography (CAT) dengan konsep operasi seabed sonar atau sonar tanam.
Hal ini penting karena beberapa perairan Indonesia sangat rawan terhadap perlintasan kapal selam asing. Sedangkan untuk kemajuan maritim nasional, adanya pembanguan jalur pelayaran tol laut.
Tol laut sendiri merupakan jalur pelayaran yang bebas hambatan dengan menghubungkan pelabuhan-pelabuhan di seluruh Indonesia. Sayangnya pembangunannya tak mudah terealisasi karena banyak kendala yang mana salah satunya adalah anggaran pengembangan atau pertahanan laut yang tak lebih dari satu persen.
Tak hanya itu, banyak juga pelabuhan di Indonesia yang belum siap atau belum memungkinkan untuk menjadi rute tol laut. Meski begitu beberapa pelabuhan besar sudah siap untuk menjadi sandaran tol laut Indonesia.
Salah satu rute tol laut yang sudah mulai berjalan adalah dari Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta menuju ke Pelabuhan Panjang di Lampung. Rute tol laut yang satu ini sudah beroperasi sejak 22 Juni 2016 lalu.
Baca juga: Rute Tol laut Tanjung Priok-Panjang, Akankah Berdampak Pada Lintasan Merak-Bakauheni?
Tol laut ini juga menarik perhatian masyarakat dan disambut dengan baik. tol laut juga nantinya diharapkan membantu pengiriman barang dari satu pulau ke pulau lainnya, sehingga tidak terjadi kelangkaan bahan-bahan pokok baik itu sembako, BBM hingga semen. Nantinya, dengan adanya tol laut ini diharapkan, harga barang bisa lebih murah dari pengiriman menggunakan moda transportasi lainnya.
Didi Chuxing, raksasa ride hailing di Negeri Tirai Bambu mulai melebarkan sayapnya dan bermitra dengan BYD. Kerja sama ini untuk membuat electric vehicle (EV) atau kendaraan listrik khusus untuk bisnis transportasi.
Baca juga: Platform Didi Turunkan Usia Penumpang Taksinya Menjadi 16 Tahun
Orang-orang yang mengetahui masalah tersebut mengatakan dua perusahaan ini telah memproduksi batch untuk uji coba kendaraan listrik yang disesuaikan tersebut. Mereka mengatakan, jumlah kendaraan yang diproduksi masih harus ditentukan saat menjalani uji coba.
KabarPenumpang.com melansir dari laman bloomberg.com (21/9/2020), sayangnya beredaranya kabar baik ini tidak ada jawaban apa pun dari perwakilan Didi dan BYD. Didi sendiri menandai niatnya untuk bekerja sama dengan produsen mobil dalam memproduksi EV di awal 2018 kemarin.
Kendaraan listrik ini disesuaikan untuk layanan ride hailing yang mendominasi di Cina dan menganggap Uber Technologies Inc. sebagai investor. Untuk diketahui saat ini lebih dari 969 ribu kendaraan listrik telah terdaftar dengan layanan transportasi penumpang.
Jumlah ini sendiri mewakili sekitar sepertiga dari total pemilik kendaraan listrik di seluruh Cina. Jumlah tersebut didapat dari buku putih yang diterbitkan oleh perusahaan pada bulan April lalu.
Didi sendiri berencana untuk merilis batch pertama kendaraan listrik yang disesuaikan dengan mitra armada secara nasional pada akhir tahun 2020. Dengan membuat dan menggunakan mobil sendiri, Didi dapat mengatur kualitas kendaraan yang ditawarkannya dengan lebih baik.
Itu juga akan memberinya kendali yang lebih besar atas armada pengemudinya. Saat ini, masyarakat bisa menyewa mobil dari perusahaan leasing pihak ketiga dan kemudian menggunakan mobil tersebut untuk mengantar Didi.
Sehingga dengan memiliki dan mengelola mobil itu sendiri, Didi juga dapat mengawasi pengemudi dengan lebih baik Langkah ini juga dapat mempersiapkan Didi untuk beralih ke kendaraan yang bisa mengemudi sendiri di beberapa titik di jalan, ketika kemungkinan besar perlu mengambil kendali penuh atas armadanya.
Baca juga: Lampaui AS, Cina Mulai Operasikan Taksi Otonom Level Tertinggi, Apollo RoboTaxi
BYD, adalah salah satu pemain EV terbesar dan paling mapan di Cina, telah menjual 451 ribu mobil tahun lalu. Warren Buffett’s Berkshire Hathaway Inc. adalah pemegang saham terbesar di saham yang diperdagangkan di Hong Kong, dengan 24,6 persen saham. Investor miliarder itu mengambil taruhan pada BYD dua tahun sebelum Tesla Inc. terdaftar di New York.
Kabar mengejutkan datang dari Lion Air. Maskapai dengan market share terbesar di Indonesia ini digugat leasing pesawat, Goshawak Aviation Ltd di Pengadilan London. Gugatan dimaksudkan untuk menagih biaya sewa tujuh unit pesawat Boeing 737 senilai €10 juta atau setara Rp189 miliar (kurs Rp17.270) yang dilanggar oleh Lion Air.
Baca juga: Penerbangan Komersial Dilarang Beroperasi, Maskapai Penerbangan Indonesia ‘Dihantui’ Tuntutan Lessor
Menanggapi hal itu, praktisi hukum leasing dan keuangan pesawat, Hendra Ong, menyebut ada beberapa kemungkinan mengapa Lion Air bisa sampai digugat miliaran rupiah oleh perusahaan penyewaan pesawat.
Menurutnya, kejadian tersebut bisa saja buntut dari kebuntuan negosiasi restrukturisasi utang. Poinnya, kedua belah pihak sudah berusaha membicarakan perkara pembayaran kewajiban utang dan tak menemukan jalan tengah. Kemungkinan lain, Lion Air bisa saja sudah diingatkan untuk membayar kewajiban utang secara baik-baik. Namun, perusahaan tak bergeming -jika tak ingin dibilang mangkir- akibat kesulitan keuangan.
“Untuk menunjukkan iktikad baik, harusnya maskapai mau bernegosiasi. Mau duduk bersama, kemudian melakukan negosiasi, oke, bisa tidak Anda bayar 100 ribu dulu. Biasanya, kalau ada iktikad baik untuk melakukan pembayaran cicilan, biasanya bisa diterima (tak perlu menempuh jalur hukum),” jelas Hendra saat dihubungi KabarPenumpang.com, Rabu (23/9).
Berhubung sudah kadung digugat, Hendra mengungkapkan biasanya perusahaan leasing pesawat sudah mengeluarkan notice of default and grounding. Artinya, tujuh pesawat Boeing 737 yang pembayaran sewanya macet sementara waktu tak lagi boleh dioperasikan oleh Lion Air. Para penggugat sudah memiliki hak untuk menyita pesawat.
Hanya saja, hal itu bergantung pada kesepakatan masing-masing. Bilapun tetap dioperasikan, lessor mungkin saja akan memberi lampu hijau, sebab lease rental akan tetap berjalan selagi belum determinate.
Akan tetapi, ia menggarisbawahi, seandainya Goshawak Aviation Ltd di Pengadilan London memenangi gugatan tersebut, putusan pengadilan tak serta merta dapat diadopsi di Indonesia.
Singkatnya, Lion Air bisa saja mangkir dari putusan tersebut dan tetap melenggang dari kewajiban pembayaran utang. Namun, lain cerita bila lessor memenangi gugatan di arbitrase internasional. Putusan tersebut bisa saja diadopsi di Indonesia dan menyita asset maskapai, mengingat Indonesia merupakan peserta dari New York Convention.
Baca juga: Praktisi Hukum Leasing Pesawat: Maskapai Dalam Negeri Sudah ‘Macet’ Bayar Tagihan Sejak Maret 2020
Sebelumnya, sebagaimana diberitakan Law360, maskapai Lion Air digugat perusahaan penyewaan pesawat, Goshawak Aviation Ltd di Pengadilan London. Gugatan dimasukkan untuk menagih biaya sewa tujuh unit pesawat Boeing 737 senilai USD12,8 juta (10 juta euro) atau setara Rp189 miliar yang dilanggar oleh Lion Air. perjanjian sewa tujuh pesawat Boeing 737 dilakukan secara terpisah dalam rentang tahun 2015 hingga 2020. Saat perjanjian, Lion Air membayar deposit setara 5,5 juta euro.
Goshwaks dan delapan perusahaan terafiliasi mengaku Lion Air memiliki tunggakan pembayaran berkisar USD1,76 juta – 2,5 juta euro per perusahaan. Para penggugat berharap bisa memenangkan gugatan dan memperoleh kompensasi akibat kontrak yang dilanggar oleh Lion Air sekitar 10 juta euro.
Keterbatasan lahan jadi tantangan pelaku industri penerbangan global dalam menambah jumlah bandara, mengingat, di masa mendatang penerbangan akan semakin diminati warga. Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) telah memprediksi bahwa jumlah penumpang yang bepergian melalui udara akan mencapai 8,2 miliar pada tahun 2037.
Baca juga: Konsep Bandara Terapung, Mungkinkah Terlaksana?
Sejalan dengan itu, jumlah penerbangan juga akan meningkat sekitar 3,5 persen per tahun. Bila saat ini saja ada 40,3 juta penerbangan, akan ada berapa banyak penerbangan pada tahun 2037 serta tahun-tahun selanjutnya? Saat hal itu terjadi, tentu bandara yang ada tak lagi mampu menampung lalu lintas pesawat.
Oleh karenanya, dibutuhkan inovasi untuk membangun bandara baru di tengah keterbatasan lahan. Pada tahun 1995, Asosiasi Riset Teknologi Jepang coba menjawab tantangan tersebut dengan merilis konsep Mega Float, sebuah bandara terapung pertama di dunia. Bandara apung tersebut pun akhirnya benar-benar terealisasi dengan panjang runway mencapai 1.000 meter serta lebar 60 meter. Namun, karena satu dan lain hal, akhirnya operasional bandara terapung pertama di dunia itu harus dihentikan.
Saat ini, setidaknya ada lima bandara terapung di dunia, mulai dari Bandara Internasional Kai Tak di Hong Kong, Bandara Osaka-Kansai, Bandara Nagoya-Centrair, Bandara terapung Khyusu, dan Bandara Apung Kobe di Jepang, Bandara Apung London Brittania Airport di Inggris, dan Bandara Ahmad Yani, Semarang, yang juga jadi bandara terapung pertama di Indonesia.
Selain menjadi jawaban atas keterbatasan lahan, bandara apung juga memiliki banyak keunggulan. Agar lebih jelas, berikut KabarPenumpang.com rangkum dari laman wonderfulengineering.com empat keunggulan bandara apung.
1. Pusat penelitian
Selain menjadi pusat kegiatan ekonomi, bandara terapung dinilai bakal menjadi pusat penelitian energi terbarukan serta akuakultur (pusat penangkaran hewan laut). Tak hanya itu, bandara apung juga mendorong penggunaan kapal pesiar dan pesawat amfibi lebih banyak dari biasanya.
2. Pusat penelitian oseanografi
Oseanografi (biasa juga disebut oseanologi atau ilmu kelautan) adalah cabang ilmu bumi yang mempelajari samudera atau lautan. Bandara terapung dinilai bakal jadi wadah yang cocok untuk menjadi pusat penelitian terkait hal itu.
Baca juga: Bandara Terapung, Dari Sebuah Konsep Hingga Terwujud di Jepang dan Hong Kong3. Pilihan energi alternatif lengkap
Di daratan, energi alternatif besar kemungkinan hanya datang dari panas matahari. Namun, di bandara apung, pilhan energi alternatif untuk mendukung operasional bandara lebih beragam, mulai dari energi gelombang, energi matahari, serta koversi energi panas laut (yakni listrik yang dihasilkan dengan memanfaatkan perbedaan suhu antara kedalaman air) di bandara terapung ini.
4. Multiguna
Bandara apung dinilai bisa juga berfungsi sebagai pelabuhan, tentu dengan didukung infrastruktur tambahan. Selain itu, bandara apung juga hampir dapat dipastikan bakal menjadi salah satu tujuan rekreasi baru. Tak hanya itu, bila proses pembuatan bandara apung dilakukan secara disiplin, potensi masalah lingkungan, masalah keamanan, dan biaya juga dapat lebih efisien.