Akibat Anak Tak Gunakan Masker, Satu Keluarga dan Penumpang Disebelah Dipaksa Keluar Pesawat

Kebijakan maskapai di setiap negara terhadap penggunaan masker pada anak-anak berbeda satu dengan lainnya. Ada yang menyebutkan anak dibawah lima tahun tidak diwajibkan menggunakan masker, ada pula yang mengatakan dibawah dua tahun tidak perlu menggunakan masker. Baca juga: Siap Lepas Landas, Delta Airlines Kembali ke Gerbang Lantaran Ada Penumpang Tak Mau Pakai Masker Namun karena perbedaan kebijakan ini membuat berbagai masalah timbul pada keluarga yang membawa anak kecil bersama mereka. Seperti yang terjadi pada Rachel Starr Davis yang tengah dalam perjalan pulang ke New Hampshire dari Florida bersama ibu dan anaknya yang berusia dua tahun. Mereka dikeluarkan dari penerbangan oleh maskapai American Airlines pada 17 September kemarin karena putranya tidak memakai masker wajah. Bahkan dalam penerbangan tersebut, Davis tetap memaksa sang anak untuk mengenakannya. “Sampai-sampai saya menangis begitu keras, saya histeris, bahkan tidak bisa menarik napas dalam-dalam karena topeng saya terus-menerus menghisap ke dalam mulut saya. Dan kemudian saya gemetar memegang selembar kain ini ke wajah anak saya sehingga kami bisa lepas landas dan mereka (awak pesawat) berdiri di dekat saya di lorong sambil mengatakan mereka harus melihat saya berulang kali mengenakan topeng padanya,” ungkap Davis yang dikutip KabarPenumpang.com dari cnn.com (23/9/2020) Pihak maskapai mengatakan, masker diperlukan bagi anak berusia dua tahun ke atas. Ketika dia menuju ke kursinya di bagaian belakang pesawat, seorang awak kabin bertanya apakah dia memiliki tiket untuk puteranya dan mengatakan harus menggunakan masker. Davis mengaku, dirinya tidak mengetahui kebijakan American Airlines yang mengharuskan puteranya menggunakan masker wajah saat di pesawat. Dia mengatakan, pada penerbangan sebelumnya, awak kabin tidak meminta putranya menggunakan masker. Dalam penerbangan itu, Davis mencoba agar putranya menggunakan masker dengan memberikannya berbagai macam gamabr berbeda, tetapi sang putra tidak memilih satupun. Hingga seorang pria yang duduk disebelah mereka mencoba anak berusia dua tahun tersebut untuk menggunakan tetapi tetap saja tidak mau. “Saya sangat ingin pulang, saya kelelahan. Ibuku dan aku tidak banyak tidur dan kami hanya perlu pulang, dan mereka memberitahuku jika kau tidak membuatnya menurut, kami akan membawamu turun dari pesawat,” jelasnya. Karena insiden itu, semua orang disuruh turun dari pesawat, Davis, ibu dan putranya tidak diizinkan kembali serta pria yang berusaha menolong mereka. Davis mengatakan, mereka dianggap maskapai tidak menaati peraturan kebijakan masker wajah. Menurut Davis, sebuah video beredar di media sosial yang menunjukkan adu mulut antara dia dan seorang manajer gerbang American Airlines membahas kebijakan masker dan diberi tahu bahwa maskapai akan memesannya pada penerbangan selanjutnya. Davis, ibu, dan putranya akan naik penerbangan American Airlines pada hari itu juga. Davis mengatakan putranya tidak diminta oleh awak pesawat untuk memakai masker selama perjalanan itu. “Untuk memastikan keselamatan pelanggan dan tim kami, American Airlines mewajibkan semua orang yang berusia 2 tahun ke atas untuk mengenakan penutup wajah yang sesuai sepanjang perjalanan mereka,” kata American Airlines dalam sebuah pernyataan. Baca juga: Pakai Masker Bisa Jadi Masalah Bagi Penderita Asma Kronis, Namun Awak Maskapai ini Tak Paham “Kebijakan ditegakkan dan penutup wajah yang disetujui tersedia di poin-poin penting selama perjalanan pelanggan. Kami telah menghubungi keluarga tersebut untuk mempelajari lebih lanjut tentang pengalaman perjalanan terbaru mereka dan untuk mengatasi masalah mereka.”

Menipu Kematian, Begini Kisah Horror Penumpang Selamat dari Dua Kecelakaan Pesawat Terburuk

Senin, 25 September 1978, kecelakaan pesawat Pacific Southwest Airlines (PSA) flight 182 vs Cessna 172 Skyhawk terjadi akibat pilot kedua pesawat dan Air Traffic Controller (ATC) Bandara Internasional San Diego ceroboh. Padahal, saat itu cuaca sangat cerah dengan visibilitas mencapai 16 km. Baca juga: Hari ini, 42 Tahun Lalu, Tabrakan PSA Flight 182 Vs Cessna 172 Terjadi Akibat Pilot dan ATC Ceroboh  Akibat kejadian itu, sedikitnya 153 orang tewas; terdiri dari 128 penumpang dan 7 kru PSA, 2 kru Cessna, dan tujuh orang di darat. Di antara korban pesawat rute Sacramento-San Diego via Los Angeles itu, seharusnya, E. Jack Ridout jadi salah satunya. Namun, ia lagi-lagi menipu kematian untuk kesekian kalinya; termasuk dua udara kecelakaan terburuk di dunia. Dilansir independent.co.uk, dalam kecelakaan pesawat terburuk di AS itu (tabrakan PSA flight 182 vs Cessna 172 Skyhawk), Jack Ridout adalah salah satu daftar penumpang tersebut untuk rute Los Angeles-San Diego. Hanya saja, tiket untuk flight 182 ia batalkan berhubung AC rumah tempatnya bermukim rusak dan membuat tak nyaman di tengah terjangan gelombang panas. Oleh karenanya, ia memutuskan untuk pulang lebih awal sehari sebelumnya. Alhasil, ia pun selamat. Begitu juga dengan 102 penumpang yang transit di Los Angeles. Akan tetapi, itu bukan kali pertama momen Jack Ridout menipu kematian (red: selamat dari kecelakaan). Sekitar 18 bulan sebelumnya, bertepatan dengan Minggu 27 Maret 1977, ia juga berhasil menipu kematian atau lolos dari maut dalam tabrakan dua pesawat Boeing 747 Pan Am Flight 1736 vs KLM Flight 4805 di Tenerife, Kepulauan Canaria (Canary Islands), Spanyol. Seperti diberitakan surat kabar harian AS, The Evening Tribune terbitan 14 April 1977, sebelum kecelakaan udara terburuk sepanjang masa dengan korban tewas sedikitnya 583 orang itu terjadi, seseorang meminta bertukar tempat sehingga ia berada di kursi 4B kelas bisnis di dek atas pesawat bersama rekannya, Joan Devereau Holt (Joan Holt). Tak lama berselang, dua pesawat bertabrakan dan orang tersebut tewas mengenaskan bersama pacarnya yang juga seorang mantan pramugari. Sedangkan Edgar Jack Ridout bersama rekannya itu berhasil selamat sekalipun menderita cedera cukup parah. Tak hanya selamat, dalam insiden tersebut Edgar Jack Ridout juga membantu penumpang lain, sekitar 17 orang, untuk keluar dari puing-puing pesawat dengan cara ekstrem, melompat dari dek atas di ketinggian sekitar 5 meter dalam kondisi luka parah. Sebelumnya lagi, ia juga nyaris dijemput maut untuk membela AS perang melawan Vietnam. Namun, ia tak jadi ikut wajib militer usai mengalami kecelakaan mobil. Cerita penumpang menipu kematian (korban selamat dari kecelakaan pesawat) juga pernah terjadi di Indonesia. Erwin Giasi, diketahui menjadi salah satu penumpang selamat dalam kecelakaan pesawat Casa 212-200 Merpati Nusantara Airlines (MNA) dengan nomor registrasi PK-NYC terjadi pada Rabu, 30 Januari 1991. Baca juga: Lima Kecelakaan Penerbangan Akibat ‘Bird Strike’ Terburuk di Dunia Menariknya, usai selamat dari kecelakaan, ia bersama beberapa korban selamat lainnya tidak lantas mendapat pertolongan dari tim SAR ataupun warga sekitar, mengingat pesawat jatuh di hutan perbatasan antara Atinggola dan Bolangmongondow, Kabupaten Bolmut, Gorontalo, Sulawesi Utara. Saat itu, teknologi informasi dan komunikasi pun belum secanggih sekarang. Lagi pula, sulitnya medan juga memperlambat proses evakuasi. Selagi menunggu tim SAR tiba, para penumpang selamat seperti sedang berpacu dengan maut. Setelah enam hari menunggu tanpa makanan, ia bersama yang lainnya pun akhirnya bisa benar-benar selamat setelah tim SAR berhasil mengjangkau lokasi.

Cegah Corona, Panasonic Avionics Luncurkan In-Flight Entertainment Tanpa Sentuhan

Panasonic Avionics telah meluncurkan berbagai solusi yang dirancang untuk mendukung maskapai penerbangan selama fase pemulihan pasca pandemi Covid-19. Berbagai produk berteknologi canggih dengan sebutan ‘Welcome Aboard’ Collection ini merupakan jawaban atas sejumlah masalah di kabin, seperti In Flight Entertainment (IFE), bau tak sedap, sederet hal lainnya yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan maskapai. Baca juga: Resmi Dapat Paten, Tongkat Ultraviolet Anti Corona Boeing Siap Diproduksi Massal Dilansir dari Simple Flying, hal itu dilakukan dalam upaya membangkitkan lagi kepercayaan penumpang terhadap transportasi udara di tengah atau pasca pandemi Covid-19. Untuk mencapai itu, Panasonic Avionics mengeluarkan beragam produk dengan konektivitas, elemen hiburan, dan beragam keamanan dan keselamatan penerbangan di dalam kabin sebagai ruhnya. Ken Sain, Chief Executive Officer Panasonic Avionics Corporation, dalam sebuah pernyataan mengungkapkan, “Ini adalah masa-masa yang penuh tantangan bagi industri penerbangan, dan kami telah memanfaatkan rekam jejak kami yang telah terbukti dalam inovasi digital di kabin pesawat untuk memberikan solusi yang dapat membantu membuat perjalanan menjadi pengalaman yang lebih aman bagi penumpang dan awak kabin.” ‘Welcome Aboard’ Collection atau Koleksi Welcome Aboard Panasonic Avionics bila diperas hanya ada dua fokus utama, touching less (tanpa sentuhan) dan menujukkan ke penumpang serta karyawan bahwa maskapai peduli semua hal tentang mereka di masa atau pasca pandemi, utamanya terkait kesehatan.
Wellness application membantu penumpang agar tak jetlag. Foto: Panasonic Avionics
Ada empat turunan dari touching less Panasonic Avionics, mulai dari mendigitalisasi publikasi, onboard reader, companion application, dan zerotouch. Mendigitalisasi publikasi berarti maskapai akan menghilangkan majalah dan bahan bacaan lainnya selama dalam penerbangan dan menggantinya dengan solusi onboard reader dimana majalah dihadirkan dalam bentuk digital. Tak hanya itu, majalah yang ditawarkan pun jadi lebih banyak dan variatif. Semua hal di atas juga bakal terhubung dengan smartphone melalui companion application atau aplikasi pendukung maskapai yang dapat diunduh secara gratis di apple store maupun playstore. Dengan begitu, seluruh penumpang dapat memanfaatkan IFE selama penerbangan tanpa sentuhan ke perangkat tersebut. Sehingga kemungkinan penularan virus Corona di pesawat dapat ditekan. Terakhir, zerotouch, maskapai dimungkinkan untuk melakukan pergerakan data dan informasi jarak jauh, dari dan ke pesawat, tanpa adanya sentuhan ataupun tatap muka. Software, media, dan konten apapun bisa dikirim dari jauh dengan cepat dan memungkinkan maskapai untuk memperbarui kesemua itu kapan pun mereka mau. Berbagai elemen di atas kemudian dilengkapi dengan elemen digital wellness solutions. Sebagaimana namanya, digital wellness termasuk menyatukan fitur-fitur kesehatan, seperti konten yang dikurasi untuk relaksasi dan mencegah jetlag. Baca juga: Kabar Baik! Inilah Invisibel AirShield, Inovasi Terbaru Cegah Corona di Kabin Pesawat Di samping itu, fitur active surfaces di kursi juga memudahkan penumpang untuk mengatur posisi senyaman mungkin. Sekalipun tetap ada sentuhan, setidaknya, area sentuhan tersebut tak sebesar biasanya. Setelah penerbangan selesai, petugas cukup memfokuskan area kebersihan pada bagian active surfaces saja, tentu tanpa melupakan bagian lain. Tak lupa, Panasonic Avionics juga menyisipkan fitur Nanoe Air Cleanser untuk meningkatkan kualitas udara dan menghambat pertumbuhan bakteri, virus, dan bau tak sedap. Bila penumpang masih tak cukup puas, fitur feedback atau kotak saran penumpang tersedia di masing-masing device untuk menyaring berbagai masukan solutif dari kacamata pengguna.

Harrison “Indiana Jones” Ford Akhirnya Lolos dari Hukuman FAA, Begini Kronologinya

Setelah dilakukan penyelidikan terbuka oleh Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA), aktor kenamaan Hollywood, Harrison Ford, akhirnya dinyatakan bebas dari hukuman. Pemeran pilot Han Solo di seri film Star Wars dan arkeolog Indiana Jones di Raiders of the Lost Ark dan sekuelnya ini lolos dari jerat FAA setelah menyelesaikan remedial kursus pelatihan runway incursion. Baca juga: Naik Kelas, Vokalis Iron Maiden Didapuk Jadi Kapten di AU Kerajaan Inggris Dilansir TMZ, aktor kawakan yang juga aktivis lingkungan ini dikabarkan menyelesaikan pelatihan tersebut dengan baik dan cukup memuaskan. Setelah menimbang, FAA memutuskan menutup buku atas kasus tersebut. Harrison Ford diketahui terlibat dalam insiden berbahaya di Bandara Hawthorne, Los Angeles pada April lalu. Saat itu, pesawat Cessna N28S-c/n 855 yang ia kemudikan hendak menuju hanggar dengan melintasi runway. Namun, dari rekaman percakapan, ATC sebetulnya sudah memintanya untuk menunggu sejenak di taxiway mengingat ada pesawat lain yang hendak melakukan touch-and-go landing berjarak 3.500 kaki. Tetapi, entah apa yang merasukinya, ia tetap melintasi runway dan mengancam keselamatan penerbangan. Beruntung, hal buruk tak sampai terjadi.
Ilustrasi insiden yang melibatkan Harrison Ford. Foto: TMZ Composite
Setelah diselidiki, aktor yang pernah berkunjung ke Indonesia dalam rangka pembuatan seri film mengenai perubahan iklim global yang berjudul “Years of Living Dangerously” (Tahun-tahun Hidup Berbahaya) ini mengaku salah mendengar instruksi ATC. “FAA tengah menyelidiki sebuah insiden pilot dari Aviat Husky meluncur di landasan. ketika pesawat lainnya tengah bersiap melakukan touch-and-go landing,” kata FAA dalam pernyataannya kepada AFP. “Maafkan saya pak, saya kira sebaliknya. Saya sungguh minta maaf,” kata Harrison Ford dalam rekaman suara. Aktor kondang yang namanya sempat mentereng di Indonesia akibat tudingan memarahi Menteri Perhutanan, Zulkifli Hasan, pada 2013 lalu terkait pembalakan liar di Tesso Nilo (taman nasional di Sumatera) bukan kali pertama berbuat ‘onar’ di bandara.
Harrison Ford saat sedang menerbangkan pesawat. Foto: Backgrid
Pada 2017, Harrison Ford terhindar dari hukuman atas insiden penerbangan yang nyaris terjadi di Bandara California Selatan. Kala itu, Ford secara tak sengaja ‘salah parkir’. Dia mendaratkan pesawat dengan model yang sama di taxiway alih-alih di runway, melewati Boeing 737 dengan 110 penumpang dan enam kru di dalamnya. Usai kejadian ini, ia pun menyebut dirinya sebagai ‘schmuck’ atau orang bodoh karena landing di taxiway. Baca juga: Kenapa Mikrofon Pilot Tidak Terdengar Jelas Dibanding Awak Kabin? Ini Dia Jawabannya Dua tahun sebelumnya lagi, Ford melakukan pendaratan darurat setelah pesawat peninggalan Perang Dunia II yang ia kemudikan mengalami kerusakan mesin. Ia menabrak pohon dan lapangan golf, juga di California. Dalam insiden tersebut, Ford mengalami sejumlah cedera, termasuk patah pergelangan dan rongga panggul. Harrison Ford pertama kali mengambil kursus penerbangan saat duduk di bangku kuliah, lalu berhenti karena masalah keuangan. Ia kemudian melanjutkan kembali kala sudah menjadi bintang besar. Kini dengan izin terbang bertahun-tahun yang telah ia kantongi, Ford memiliki sejumlah pesawat terbang, dari pesawat dengan dua bangku hingga corporate jet.

Samakan Brand di Semua Negara, GoJek Ubah Nama Get di Thailand

GoJek, Decacorn Indonesia ini mulai mengganti nama aplikasi Get di Thailand pada Kamis (17/9/2020). Penyedia layanan ride hailing ini menggunakan nama GoJek sebagai penggantinya dan menandakan integrasi satu merek antara aplikasi di Indonesia maupun Thailand. Baca juga: GoJek Luncurkan “GoGreener Carbon Offset” Guna Bantu Pelanggan Imbangi Emisi Perjalanan Penggantian nama ini dilakukan sekitar sepuluh minggu setelah GoJek mengumumkan rencana untuk menyatukan merek di Thailand dan Vietnam. Di mana pada Juli 2020 kemarin, Get juga mengatakan akan menyatukan aplikasi dan mereknya di bawah GoJek sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk membuat dampak positif dan mendorong inovasi bagi pelanggan di pasar Thailand. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, penyatuan merek ini membawa mereka ke dalam satu platform teknologi untuk menantang Grab yang sudah beroperasi lebih luas di wilayah tersebut. Selain itu, dengan penyatuan merek ini, pada aplikasi baru akan membantu pengguna mengakses pengiriman makanan, ojek motor, kurir dan e-wallet. “Setelah kami menjajal pasar dengan menggunakan merek lokal Get selama 18 bulan, inilah saatnya mengubah merek dan meluncurkan Gojek di bawah merek aplikasi tunggal,” kata General Manager Gojek Thailand, Pinya Nittayakasetwat. Tak hanya itu, Pinya mengatakan, penyatuan merek menghadirkan tampilan baru dengan beberapa peningkatan fitur dan memberi pengalaman pelanggan yang lebih baik serta keamanan yang ditingkatkan. “Strategi penyatuan merek akan meningkatkan pengalaman pengguna dan berusaha untuk membuat langkah besar dalam investasi dan ekspansi yang cepat,” ujarnya. GoJek menawarkan kupon diskon senilai 2500 baht ($80) kepada pengguna baru hingga akhir bulan ini untuk memperluas basis pelanggannya. GoJek sendiri beroperasi di Singapura, Filipina, Vietnam dan Thailand. GoJek memiliki lebih dari 50 ribu pengemudi dan 30 ribu pedagang makanan yang bekerja sama di Thailand, di mana pengiriman makanan sedang booming karena pandemi virus Corona. Tetapi persaingan di antara para pemain termasuk Grab, Line, dan Foodpanda juga semakin ketat. Pakar e-commerce Pawoot Pongvitayapanu mengatakan bersatunya brand di bawah Gojek di Thailand akan memudahkan investor melihat pertumbuhan semua pengguna Gojek. Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan investor untuk berinvestasi di putaran pendanaan berikutnya. Baca juga: Dukung Proses Pemesanan Bagi UMKM, GoJek Luncurkan Aplikasi Selly “Merek lokal mungkin terlalu lemah untuk menjadi menarik,seraya menambahkan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan gerakan seperti itu, karena pengguna dan restoran sudah terbiasa dengan layanan pesan-antar makanan setelah pandemi,” ujar Pawoot.

Hari ini, 42 Tahun Lalu, Tabrakan PSA Flight 182 Vs Cessna 172 Terjadi Akibat Pilot dan ATC Ceroboh

Hari ini, 42 tahun lalu, bertepatan dengan Senin, 25 September 1978, kecelakaan pesawat Pacific Southwest Airlines (PSA) flight 182 vs Cessna 172 Skyhawk terjadi akibat pilot kedua pesawat dan Air Traffic Controller (ATC) Bandara Internasional San Diego ceroboh. Baca juga: Hari Ini, 46 Tahun Lalu, Turkish Airlines Flight 452 Jatuh Gegara Pilot Mengira Jalan Raya Sebagai Runway Dilansir independent.co.uk, insiden bermula saat Boeing 727-200 PSA dengan nomor registrasi N533PS terbang dari Sacramento ke San Diego via Los Angeles, Amerika Serikat (AS). Cuaca sangat cerah saat itu, dengan visibilitas 16 km. Dalam perjalanan ke San Diego, kru kokpit PSA, yang terdiri dari flight engineer, Martin Wahne dengan 10.800 jam terbang, co-pilot, Robert E. Fox dengan 10.000 jam terbang, James E. McFeron dengan 14.000 jam terbang, dan off-duty captain, Spencer Nelson dengan 28.000 jam terbang, diberitahu oleh approach controller ATC Lindbergh Field (nama lain Bandara San Diego) terkait keberadaan Cessna 172 Skyhawk di dekatnya. Kala itu, Cessna 172 Skyhawk dengan nomor registrasi N7711G yang diawaki oleh instruktur, Martin Kazy Jr (32 tahun) dengan 5.137 jam terbang dan sersan Korps Marinir AS, David Boswell (35 tahun) yang tengah berlatih Instrument Landing System (ILS) dengan 400 jam terbang, terbang kembali setelah menyelesaikan ILS approach kedua menuju 070 Northeast, Minneapolis, Minnesota, AS, di bawah ketinggian 3.500 kaki dan jalur approach akhir vektor. Dari data cockpit voicer recorder (CVR), pilot PSA mengaku sempat melihat Cessna beberapa saat setelah diberitahu oleh ATC. Sayangnya, tak lama berselang, pilot kehilangan pesawat tersebut. Namun demikian, ATC sudah menginformasikan adanya traffic arah jam 12, tiga mil dari 1700. Sebelum mengakhiri kontak, ATC mengingatkan agar pilot me-maintain visual separation terhadap Skyhawk.
40 detik sebelum terjadinya tabrakan, keempat orang yang berada di kokpit pun terlibat percakapan santai. Di antara percakapan itu, pilot menyebut kemungkinan posisi Skyhawk berada di belakang PSA flight 182. Padahal, saat itu, pesawat tersebut tepat berada di depan. Pesawat terus melaju dan landing gear dalam posisi on setelah ATC memberi clearance untuk mendarat di runway 27 Bandara San Diego. Tak lama berselang, tabrakan pesawat PSA flight 182 vs Cessna 172 Skyhawk N7711G terjadi. Boeing 727-200 PSA berusia 10 tahun itu menghantam Skyhawk dengan sayap sebelah kanan pada pukul 09:01, beberapa saat setelah pilot berasumsi Cessna berada di belakang PSA. Pesawat kemudian oleng ke kanan dan jatuh di pemukiman warga. Akibat kejadian itu, 153 orang tewas; terdiri dari 128 penumpang dan 7 kru PSA, 2 kru Cessna, dan tujuh orang di darat. Pasca investigasi dilakukan, Dewan Keselamatan Transportasi Nasional AS (NTSB) menyimpulkan, pilot kedua pesawat dan ATC masing-masing ikut andil dalam kecelakaan tersebut. NTSB berpendapat bahwa kru PSA gagal mengikuti arahan ATC dengan baik, khususnya pada bagian me-maintain visual separation atau menjaga jarak visual terhadap Skyhawk. Sudah begitu, kru tak memberi info ke ATC bahwa mereka kehilang visual Skyhawk. ATC juga salah akibat penggunaan visual separation procedure saat radar clearances tersedia. Kru Cessna 172 Skyhawk pun demikian. Kru tanpa alasan jelas tidak patuh mempertahankan pos timur-timur laut 070 setelah latihan ILS approach. Selain itu, kru Cessna juga tak memberitahu ATC soal perubahan jalur penerbangan mereka. Baca juga: Hari Ini, 15 Tahun Lalu, Mandala Airlines Flight 091 Jatuh dan Menimpa Pemukiman Warga di Medan Sebuah studi visibilitas yang dikutip dalam laporan NTSB menyimpulkan bahwa Cessna seharusnya dapat terlihat oleh kru PSA dari 170 hingga 90 detik sebelum tabrakan. Studi tersebut juga mengatakan bahwa pilot Cessna akan melihat sekitar 10 detik Boeing dari jendela pintu kiri sekitar 90 detik sebelum tabrakan. Namun, banyak faktor mengapa hal itu tak terjadi, salah satunya ukuran dan warna Cessna yang menyerupai atap rumah di sekitar kejadian. Setelah sederet kecelakaan, termasuk kecelakaan ini, Traffic Collision Alert and Avoidance System (TCAS) akhirnya dipasang di semua pesawat penumpang dan sebagian pesawat kargo. TCAS berfungsi untuk memberikan peringatan visual dan suara kepada kru kokpit ketika dua pesawat saling mendekati satu sama lain dan mengarahkan kru untuk turun atau naik guna menghindari terjadinya tabrakan.

Hindari Tatap Muka, Bandara Incheon Korsel Kerahkan Robot Canggih Pengukur Suhu dengan Sederet Kemampuan

Main gateway Bandara Internasional Incheon Korea Selatan (Korsel) belum lama ini mulai dilengkapi robot pengecek suhu otomatis. Hal itu dilakukan untuk meminimalisir kemungkinan tatap muka saat proses pengecekan suhu tubuh di terminal keberangkatan untuk mengurangi risiko infeksi Covid-19. Baca juga: Antisipasi Peningkatan Trafik, Bandara Incheon Bangun Landas Pacu Keempat Incheon International Airport Corporation selaku pengelola bandara mengatakan layanan pengecekan suhu tubuh tanpa sentuh ini sudah di tempatkan di Terminal 1 dan 2 bandara. Meski masih dalam proses uji coba, hampir dapat dipastikan robot tersebut bakal tetap dipatenkan dalam upaya mencegah penularan virus Corona sampai beberapa waktu mendatang, melengkapi thermal scanner untuk mengecek suhu secara makro. Dilansir bangkokpost.com, pengelola bandara sejauh ini baru menempatkan tiga robot pengecek suhu tubuh otomatis tanpa sentuhan di Terminal 1 keberangkatan, tak jauh dari kiosk self check in. Adapun robot lainnya ditempatkan di Terminal 2 bandara dengan jumlah dan tata letak serupa (dengan di T1). Dalam prosesnya, robot tersebut mengukur suhu tubuh para pengunjung dengan menggunakan kamera thermal. Apabila penumpang terindikasi tidak sehat, ditandai dengan suhu tubuh tinggi sekitar 40 °C, maka robot akan segera menghubungkan pihak maskapai secara otomatis untuk dilakukan prosedur lanjutan, entah diswab, rapid, ataupun dilarang terbang. Sebaliknya, bila proses pengecekan berjalan normal, maka penumpang dapat melanjutkan aktivitas di bandara usai disemprotkan cairan hand sanitizer di tangan oleh robot tersebut secara otomatis, tanpa adanya kontak apapun. Selain robot tersebut, pengelola bandara juga mengerahkan beberapa kios pengecekan suhu tubuh dengan fungsi nyaris serupa dengan robot pengukur suhu tubuh. Bedanya, kios pengecekan bukan menghubungi maskapai bila penumpang terindikasi mengalami hipertermia, sebagaimana robot satunya lagi, melainkan bakal mengeluarkan suara peringatan sebelum akhirnya didatangi oleh petugas on duty. Dalam waktu dekat, pengelola Bandara Internasional Incheon Korsel juga bakal mengerahkan robot self-driving. Robot tersebut nantinya bakal keliling bandara untuk mengecek kepatuhan penumpang mengenakan masker. Hanya saja, tak disebutkan dengan jelas bagaimana teknisnya. Bandara Internasional Incheon memang sejak awal pandemi virus Corona sudah terkenal dengan inovasi dan kesungguhan pengelola, berkolaborasi dengan pemerintah, dalam mencegah penyebaran Covid-19. Upaya luar biasa bandara tersebut juga memancing datangnya pujian setinggi langit. Salah satunya datang dari Amerika Serikat (AS) melalui Dutabesar AS untuk Korea Selatan, Harry Harris. Baca juga: Bandara Seattle-Tacoma Kerahkan Robot Pembersih Lantai dan Teknologi Canggih Lawan Corona Harry Harris tak kuasa melontarkan pujian ketika mengunjungi Terminal 2 Bandara Internasional Incheon untuk mengamati bagaimana petugas bandara mengukur suhu badan penumpang pesawat Korean Air yang akan terbang ke Atlanta, AS, dan serangkaian proses pengecekan lainnya. Melalui akun twitternya, Harry menyebut, “Kunjungan hebat ke Bandara Incheon untuk melihat langkah-langkah ROK (Republic of Korea) untuk memerangi Covid-19 pelancong ke Amerika Serikat. Terkesan dengan upaya respons yang kuat dan komprehensif ROK untuk membatasi penyebaran virus. Terima kasih untuk semua atas kerja kerasnya,” cuitnya. Bahkan ia tak ragu untuk menyebut Bandara Incheon sebagai contoh baik penanganan corona di bandara.

Jepang Larang Penggunaan Ponsel Bagi Pejalan Kaki

Berjalan sembari menggunakan ponsel adalah hal yang cukup berbahaya karena pengguna tidak melihat jalanan di depannya dengan jelas. Bahkan ini bisa menyebabkan kecelakaan yang mengakibatkan kematian karena pejalan kaki lebih fokus pada ponsel mereka dibandingkan jalanan yang mereka lintasi. Baca juga: Tingkat Kecelakaan Trem Meningkat, Praha Gelar Kampanye Keselamatan di Jalan Karena hal ini pemerintah kota Yamato di Jepang mengambil inisiatif yakni larangan pejalan kaki menggunakan ponsel ketika berjalan. KabarPenumpang.com merangkum bbc.com (19/9/2020), pemerintah kota Yamato sebelum mengambil inisiatif ini sudah melakukan penelitian pada Januari di dua lokasi dan menemukan 12 persen dari 6000 pejalan kaki yang tercatat di kota itu menggunakan ponsel saat berjalan. “Ini sangat berbahaya,” kata Walikota Satoru Ohki, tokoh di balik kebijakan tersebut. Ohki awalnya melontarkan idenya dengan anggota parlemen lokal dan, setelah menjalankan konsultasi publik, menemukan bahwa delapan dari sepuluh orang mendukung gagasan tersebut, jadi pada bulan Juni larangan menggunakan ponsel cerdas saat berjalan diberlakukan melalui peraturan kota. Selama beberapa hari pertama pelarangan, kota mempekerjakan segelintir pekerja dengan rompi visibilitas tinggi untuk memegang tanda di depan Stasiun Yamato sebagai pesan terekam yang menjelaskan peraturan baru yang diputar dari CD. Karena Covid-19, Ohki mengatakan dia ragu-ragu untuk memiliki penegak hukum tambahan yang berpatroli di jalan untuk saat ini, jadi beberapa tanda kain di pintu keluar stasiun sekarang menjadi satu-satunya indikator perubahan yang jelas. “Saya yakin kami bisa mempercayai masyarakat Yamato untuk melakukan hal yang benar,” jelasnya. Dalam inisiatif yang di ambil pemerintah kota Yamato, tidak ada sanksi bagi pelanggar aturan, tetapi pihak berwenang berharap lebih banyak perubahan organik dalam perilaku. Apalagi Jepang sering digambarkan sebagai budaya kolektivitis di mana konsep harmoni dalam suatu kelompok dipandang lebih penting daripada ungkapan pendapat individu. Itu sebabnya, selama pandemi global, tidak ada yang terlihat di luar tanpa masker meskipun itu tidak wajib. Juga jelas bahwa warga Jepang sangat menyadari bahaya penggunaan ponsel cerdas bagi diri mereka sendiri dan orang lain saat berjalan. Dalam survei tahun 2019 terhadap 562 pengguna smartphone di Jepang, 96,6 persen responden menyatakan sadar akan bahayanya, 13,2 persen pernah mengalami tabrakan secara langsung, sementara 9,5 persen mengatakan mereka terluka akibat arukisumaho. Ohki percaya bahwa larangan tersebut akan membantu warga melihat perilaku ‘zombie smartphone’ sebagai meiwaku, atau menyebabkan masalah bagi orang lain, dan menyesuaikan tindakan mereka sesuai dengan norma sosial yang berkembang. Baca juga: Gunakan Ponsel Saat Bertugas, Masinis di Jepang Diganjar Sanksi Untuk diketahui, ini bukan pertama kalinya suatu negara mengambil tindakan untuk mencegah cedera semacam itu. Ilsan, sebuah kota di Korea Selatan, memasang lampu dan sinar laser yang berkedip-kedip di persimpangan jalan untuk memperingatkan pejalan kaki yang menggulir telepon, sementara pihak berwenang di kota Chongqing di Cina membuka “jalur telepon seluler” sepanjang 30 meter di jalur bagi pejalan kaki yang sibuk menggunakan ponsel mereka. Negara-negara di Barat juga mengambil langkah seperti di Honolulu, Hawaii, “Hukum Berjalan Terganggu” dapat membuat Anda didenda karena mengirim pesan teks saat berjalan di penyeberangan.

Dear ‘FA Wannabe,’ Thai Airways Bantu Wujudkan Mimpi Jadi Pramugari dengan Mahar Rp1,3 Jutaan

Thai Airways terus berinovasi untuk tetap bisa mencetak pendapatan. Setelah membuka restoran dengan menghidangkan menu-menu khas penerbangan (in flight meals) dan bisnis flight simulator melalui program THAI FlyEx, kini maskapai tersebut dikabarkan tengah memulai program unik khusus untuk para flight attendant (FA) wannabe dengan harga miring sebesar US$91 atau sekitar Rp1,3 jutaan (kurs Rp14.834). Baca juga: Dear Pilot, Usai Bangkrut Thai Airways Jajaki Bisnis Flight Simulator! Segini Harganya Dilansir dari sea.mashable.com, kocek sebesar itu nantinya akan digunakan maskapai untuk membantu mewujudkan mimpi siapapun menjadi pramugari selama sehari di pusat pelatihan dan penerbangan Thai Airways di Bangkok. Dalam tempo empat jam, FA wannabe akan diberi berbagai materi tentang kepramugarian, seperti dijelaskan soal prosedur keselamatan, mengenakan seragam resmi pramugari Thai Airways, standar make up pramugari, hingga pelatihan etiket.
Salah seorang peserta training program Thai Flight Training Academy tampak menikmati pose saat momen safety induction. Foto: Thai Aiways
Di samping itu, para FA wannabe program Thai Flight Training Academy juga diberikan kesempatan untuk mengabadikan momen menjadi pramugari dadakan selama empat jam tersebut. Adapun posenya disesuaikan dengan keinginan peserta program. Tentu tetap dalam koridor di seputaran kabin, entah itu saat sedang memasukkan bagasi di kabin, mengantar hidangan on board ke para penumpang kelas bisnis, hingga momen menjelaskan safety induction di mockup kabin pesawat superjumbo Airbus A380. Berbagai dokumentasi selama proses tersebut nantinya bakal diberikan ke peserta program sebagai kenang-kenangan ataupun untuk diposting di media sosial. Selain program tersebut, Thai Airways juga masih mempunyai tiga program lainnya di Thai Flight Training Academy, mulai dari kursus pilot training simulator, kursus emergency simulator training, dan pelatihan selama satu hari menjadi koki Thai Aiways. https://www.facebook.com/thaiflighttrainingacademy/posts/3567171460008770 Awal Juni lalu, Thai Airways tengah berjuang menghindari kebangkrutan melalui prosedur ‘anti bangkrut’ di Pengadilan Kepailitan Pusat Thailand. Sampai saat ini, prosesnya masih terus berjalan. Diperkirakan bakal menghabiskan 3-5 bulan ke depan. Sebetulnya, prosedur kebangkrutan lewat pengadilan di Thailand memungkinkan perusahaan terus beroperasi, di bawah pengawasan pengadilan atau orang yang ditugaskan pengadilan. Namun, perusahaan memilih untuk menunda operasi sampai seluruh proses selesai. Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-cha mengatakan kabinetnya menimbang beberapa opsi untuk maskapai Thai Airways yang terdampak covid-19, termasuk melakukan likuidasi. Namun, Prayut mengungkapkan pilihan itu tidak jadi diambil karena lebih dari 20 ribu pegawai akan kehilangan pekerjaan. Mengacu data akhir tahun lalu, maskapai Thai Airways memiliki 21 ribu karyawan. Baca juga: Usai Bangkrut, Thai Airways Kini Bisnis Restoran Khas Hidangan Pesawat! Pelayannya ‘Pramugari’ “Thailand dan seluruh dunia sedang menghadapi krisis. Penghasilan setiap orang menurun karena efek covid-19. Kita harus memprioritaskan anggaran untuk membantu orang-orang di masa depan,” kata Prayut. Sebenarnya, keuangan Thai Airways sudah berantakan sebelum pandemi virus Corona muncul pertama kali di Cina pada akhir 2019. Mengacu laporan tahun lalu, maskapai pelat merah ini mengalami kesulitan karena ekonomi global yang melambat, fluktuasi harga minyak, dan persaingan maskapai penerbangan berbiaya rendah yang kian ketat.

Lion Air Dukung Wacana Peningkatan Kapasitas Penumpang 100 Persen

Sesuai dengan protokol kesehatan yang ditetapkan, maskapai telah membatasi kuota penumpang per perjalanan maksimal 70 persen dari total kursi yang tersedia. Namun baru-baru ini maskapai penerbangan berbiaya hemat Lion Air mendukung wacana peningkatan kapasitas pesawat menjadi seratus persen di masa pandemi. Baca juga: Lion Air Digugat 9 Leasing Pesawat Rp189 Miliar, Pengamat: Tak Ada Iktikad Baik Bayar Utang Direktur Operasi Layanan Kebandarudaraan Lion Air Group Wisnu Wijayanto mengatakan, pihaknya siap bila diminta berkolaborasi dengan Badan Litbang Kementerian Perhubungan dan Kementerian Kesehatan jika harus ada penelitian yang menggunakan fasilitas yang dimiliki Lion Air terhadap kapasitas seratus persen. Usulan peninjauan kapasitas penumpang pesawat pertama kali dilontarkan oleh pakar penerbangan di Air Power Center Indonesi Chappy Hakim. Dia meminta kepada regulator untuk mengevaluasi kembali pembatasan muatan penumpang pesawat tanpa mengabaikan protokol kesehatan yang berlaku. Pendapat ini juga mengacu pada penggunaan teknologi filter high efficiency particular air atau HEPA dalam pesawat. Di mana teknologi tersebut diyakini mampu menyaring partikel hingga 99 persen dan menciptakan udara yang bersih. “Mengacu pada hasil survei Kementerian Pergubungan terhadap angkutan udara, 66 responden menyatakan enggan membayar lebih untuk kursi yang kosong akibat adanya pembatasan kapasitas,” jelas Wisnu yang dikutip KabarPenumpang.com dari tempo.co (23/9/2020). Wisnu menilai masyarakat sangat sensitif terhadap tarif yang dikeluarkan di masa pandemi. Dia mengatakan, selama ada cara untuk menekan biaya operasional, perusahaan akan menurunkan harga tiket pesawat sebagai bentuk stimulus bagi calon penumpang. Upaya ini diyakini dapat meningkatkan minat penumpang untuk mendongkrak okupansi. Sehingga, hal ini bakal berefek mempercepat pemulihan perekonomian. Wisnu mengatakan pemulihan industri penerbangan sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara nasional. Selain itu, dia juga meminta pemerintah segera mengambil kebijakan untuk mendukung keberlangsungan dunia penerbangan. Salah satunya lewat pemberian stimulus. Baca juga: Inilah Tiga Konsep Pesawat Bertenaga Hidrogen Airbus, Beroperasi Penuh Mulai 2035 “Kami juga berharap pemberian insentif dapat diwujudkan terkait biaya navigasi penerbangan dan potongan-potongan yang pernah dibahas bersama,” kata Wisnu. Sebelumnya diketahui, maskapai Batik Air dari Lion Air Group yang mengangkut penumpang dengan kapasitas hampir seratus persen. Corporate Communications Strategic of Lion Air Group Danang Mandala mengatakan, terkait dengan kapasitas angkut penumpang pesawat udara Batik Air yang diberikan batasan dalam jumlah yang diangkut, penumpang tertentu akan ada duduk berdampingan bersebelahan dan tidak ada jarak.