Di masa pandemi yang terjadi di seluruh dunia saat ini, membuat banyak orang sudah merasa tingkat kejenuhan mereka di atas rata-rata. Hal ini bisa membuat orang yang biasanya berinteraksi dengan orang lain bisa kehilangan akal sehat dan melakukan hal diluar nalar.
Baca juga: Lima Tips Cegah Corona di Mobil, Nomor 5 Paling Sulit
Namun, meski begitu sebenarnya bisa dicegah dan diri pribadi mampu untuk melakukan hal tersebut agar kembali berpikir normal seperti sebelumnya meski di tengah pandemi. KabarPenumpang.com merangkum blogs.psychcentral.com (5/4/2020), nyatanya banyak orang juga yang merasa lebih baik saat ini dan sebagain besar mereka yang peduli, jikapun ada cenderung terlalu fokus pada kebutuhan orang lain. Nah, ada tujuh alasan beberapa orang merasa lebih baik dan bahagia selama pandemi berlangsung.
1. Orang dengan Fomo Kronis (Takut kehilangan)
Inilah orang-orang yang menjalani hidup mereka dengan perasaan seolah-olah mereka berada di luar hal-hal. Mereka melihat sekeliling dan melihat orang lain tertawa dan menikmati hidup. Bagi orang-orang ini, selalu tampak bahwa orang lain hidup lebih menyenangkan dan bahagia. Hingga akhirnya, sekarang, dengan hampir seluruh populasi terperangkap di rumah, lebih mudah untuk bersantai dalam pengetahuan bahwa mereka tidak kehilangan apa pun.
2. Mereka yang Selalu Merasa Sendirian di Dunia
Jika, sebagai seorang anak, Anda tidak menerima dukungan emosional yang cukup dari orang tua. Anda cenderung menjalani kehidupan dewasa dengan perasaan sendirian di dunia. Mungkin Anda sudah merasa sendirian begitu lama sehingga tidak nyaman. Sehingga, dalam krisis global ini, Anda benar-benar sendirian dan mungkin bisa mentolerir sendirian jauh lebih baik daripada yang lain. Mungkin, akhirnya, kehidupan nyata di luar mencerminkan apa yang selalu Anda rasakan di dalam dan itu, pada tingkat tertentu, memvalidasi.
3. Orang-Orang yang Tantangannya Masa Kecil Khususnya Disiapkan Mereka
Jika masa kecil Anda tidak dapat diprediksi seperti dipenuhi dengan ketidakpastian, atau mengharuskan untuk membuat keputusan yang tidak persiapkan atau bertindak di luar usia, maka mungkin masa kecil Anda mempersiapkan untuk saat ini. Ketika tumbuh dengan cara ini, Anda mengembangkan beberapa keterampilan khusus karena kebutuhan. Anda belajar bagaimana hiper-fokus dalam situasi yang ambigu dan bagaimana bertindak tegas dan percaya diri. Karena memiliki dasar yang kuat untuk keterampilan yang tepat yang dibutuhkan untuk pandemi, Anda mungkin merasa lebih fokus dan percaya diri sekarang daripada yang sudah dimiliki selama bertahun-tahun.
4. Orang-orang yang Merasakan Mati Rasa Kecuali Sesuatu yang Ekstrim sedang Terjadi
Jika Anda tidak akan menggambarkan diri sebagai orang yang emosional, atau mendapati diri tidak merasakan apa-apa, maka ketika tahu akan merasakan sesuatu, Anda mungkin mendapati diri memiliki emosi nyata karena COVID- 19 pandemi terbuka. Banyak orang membutuhkan novel atau situasi ekstrem untuk merasakan sesuatu. Beberapa terlibat dalam aktivitas yang berbahaya, tidak terduga, atau mencari sensasi untuk merasakan. Saat ini, bahaya, ketidakpastian, dan kesenangan telah datang kepada mereka. Akhirnya, mereka memiliki perasaan, dan perasaan apa pun, bahkan yang negatif, lebih baik daripada mati rasa.
5. Introvert Ekstrim
Bila Anda adalah orang yang lebih suka dirumah dan bergaul dengan orang lain tidak lebih nyaman, saat ini merupakan waktu istirahat yang tepat. Sehingga alih-alih harus menyesuaikan diri dengan orang lain dan mereka pun sebaliknya, inilah Anda. Bisa dikatakan, pada akhirnya saat ini adalah perasaan yang menyenangkan.
6. Mereka yang Sudah Berjuang dengan Tantangan Hidup yang Signifikan Sebelum Pandemi
Beberapa orang sudah menghadapi beberapa krisis atau tantangan besar dalam kehidupan sebelum epidemi ini melanda. Bagi mereka, situasi ini mungkin terasa agak melegakan. Tiba-tiba, dengan dunia ditutup, tidak mungkin untuk berjuang atau menyelesaikannya. Akibatnya, situasi ini mungkin menawarkan Anda sedikit istirahat dan juga melihat semua orang berjuang, yang mungkin terasa menghibur dengan cara tertentu. Bukannya Anda ingin orang lain mengalami masalah, hanya terasa menenangkan bahwa Anda tidak lagi sendirian. Semua orang juga mengalami masalah.
Baca juga: Tetap Ingin Bepergian di Tengah Ancaman Virus Corona? Berikut Tips dan Ulasannya7. Mereka yang Cemas Bertahun-tahun Mengantisipasi Bencana
Kecemasan dapat membuat orang-orang memiliki ketakutan besar akan pengabaian oleh pengalaman yang tak terduga dan menyakitkan. Jadi, beberapa orang terus-menerus mengantisipasi kesalahan apa yang mungkin terjadi sebagai cara untuk mencegah diri mereka sendiri dari kejutan yang tiba-tiba dan negatif. Sekarang, inilah kita. Peristiwa yang telah lama dinanti-nantikan itu telah terjadi. Orang-orang ini merasa lega bahwa apa yang telah mereka waspadai selama hidup mereka akhirnya ada di sini. Alih-alih merasa kaget, mereka merasa lega.
Jadi, apakah Anda termasuk satu dari tujuh alasan lebih bahagia saat pandemi terjadi?
Peperang mungkin dipandang sebagai petaka dengan banyaknya korban yang berjatuhan, baik dari sipil maupun militer, serta kerusakan yang ditimbulkan. Namun, bila melihat dari sisi lain, mungkin peperangan tak selamanya menjadi petaka. Ambil contoh pada Perang Dunia I. Di balik sengitnya peperangan, rupanya telah mendorong ilmuan mengembangkan teknologi tertentu untuk mendukung kekuatan perang, salah satunya telepon nirkabel di kokpit.
Baca juga: Boeing 377 Stratocruiser, Pesawat dengan Kabin Bertekanan Pertama di Dunia
Seperti dikutip dari laman spectrum.ieee.org, saat itu, ilmuan lain sebetulnya sudah memantik adanya telepon nirkabel dengan penemuan berupa telegraf, telepon, dan pesawat terbang. Tantangannya adalah, bagaimana ketiga temuan tersebut disatukan menjadi komunikasi singkat lewat media telepon nirkabel, baik dari darat-ke-udara maupun dari udara-ke-darat dengan perantara antara mesin-ke-mesin.
Pasalnya, teknologi telepon nirkabel di kokpit saat Perang Dunia I menjadi penting mengingat fungsinya yang vital. Dengan teknologi tersebut, pilot-pilot pesawat pengintai dapat langsung memberikan informasi mengenai apapun yang mereka lihat begitu mereka berada beberapa meter di belakang garis musuh. Singkatnya, negara peserta perang manapun yang lebih dahulu berhasil mengembangkan teknologi tersebut, kemungkinan besar mereka adalah pemenangnya.
Pada tahun 1911, Letnan Satu Benjamin D. Foulois, pilot pesawat tunggal Angkatan Darat AS, terbang di sepanjang perbatasan Meksiko dan melaporkan ke stasiun-stasiun Signal Corps di darat dengan kode Morse. Tiga tahun kemudian, di bawah naungan British Royal Flying Corps (RFC), pilot Letnan Donald Lewis dan Baron James mencoba radiotelegraphy udara-ke-udara dengan terbang 16 kilometer secara terpisah dan berkomunikasi dengan kode Morse selama penerbangan.
Tidak butuh waktu lama bagi sistem nirkabel RFC untuk melihat tindakan nyata pertamanya. Inggris memasuki Perang Dunia I pada tanggal 4 Agustus 1914. Pada tanggal 6 September ketika terbang selama Pertempuran Marne yang pertama di Perancis, Lewis melihat jarak 50 km di garis musuh. Ia dengan segera mengirim pesan nirkabel untuk melaporkan apa yang dilihat dan pasukan Inggris-Perancis langsung momentum dari informasi itu.
Pesawat telepon udara hasil pengembangan dari insinyur Marconi yang bertugas di British Royal Flying Corps. Foto: Science Museum/SSPL/Getty Images
Ini adalah pertama kalinya pesan nirkabel yang dikirim dari pesawat Inggris diterima dan ditindaklanjuti. Komandan tentara Inggris pun mendorong penggunaan teknologi nirkabel yang lebih luas dan menuntut lebih banyak peralatan serta pelatihan untuk kedua pilot dan dukungan darat.
Sejak saat itu, RFC, yang terbentuk pada tahun 1912 di bawah Kapten Herbert Musgrave, tumbuh dengan cepat. Awalnya, Musgrave ditugaskan menyelidiki daftar penyelidikan aktivitas terkait perang, seperti balon udara, layang-layang, fotografi, meteorologi, bom, senapan, dan komunikasi. Ia pun memutuskan untuk fokus pada yang terakhir, komunikasi. Pada awal perang, RFC mengambil alih Stasiun Marconi Eksperimental di Brooklands Aerodrome di Surrey, barat daya London.
Pada Oktober 1914, Inggris telah mengembangkan peta dengan referensi grid, yang berarti bahwa hanya dengan beberapa huruf dan angka, seperti “A5 B3,” seseorang dapat menunjukkan arah dan jarak. Bahkan dengan penyederhanaan itu, bagaimanapun, menggunakan radiotelegraphy masih rumit.
Kemudian, pada musim semi 1915, Charles Edmond Prince dari Perancis dikirim ke Brooklands untuk memimpin pengembangan sistem suara dua arah untuk pesawat. Pria keturunan aristokrat Perancis tersebut sebelumnya telah bekerja sebagai insinyur untuk Perusahaan Marconi sejak tahun 1907 bersama beberapa rekannya yang banyak di antaranya juga berasal dari Marconi. Dengan cepat, ia pun segera menjalankan sistem udara ke darat.
Sistem Prince sama sekali tidak seperti ponsel modern, atau bahkan tidak seperti telepon pada saat itu. Meskipun pilot dapat berbicara dengan stasiun darat, operator darat hanya dapat menjawab dalam kode Morse. Butuh satu tahun lagi untuk mengembangkan telepon nirkabel dari darat-ke-udara dan mesin-ke-mesin.
Baca juga: Perang Dunia 3 Nyaris Pecah! Begini Kesaksian Pilot Jet Tempur Uni Soviet Pada Tragedi KAL 007
Selama musim panas 1915, kelompok ilmuan Prince berhasil menguji komunikasi suara udara-ke-darat pertama menggunakan pemancar radio telepon pesawat. Tak lama kemudian, Kapten J.M. Furnival, salah satu asisten Prince, mendirikan Sekolah Pelatihan Nirkabel di Brooklands. Setiap minggu 36 pilot pesawat tempur melewati untuk mempelajari cara menggunakan peralatan nirkabel dan seni artikulasi yang tepat di udara. Sekolah juga melatih petugas cara merawat peralatan.
Pada akhir perang, Prince dan timnya telah mencapai transmisi suara nirkabel dari udara-ke-darat, darat-ke-udara, dan mesin-ke-mesin. Royal Air Force pun kala itu telah melengkapi 600 pesawat dengan radio suara gelombang kontinu dan menyiapkan 1.000 stasiun darat dengan 18.000 operator nirkabel. Ini sepertinya contoh yang jelas tentang bagaimana teknologi militer mendorong inovasi selama masa perang.
Wabah virus Cina benar-benar merepotkan. Social atau physical distancing, lockdown kota dan negara, hingga karantina mandiri telah benar-benar merenggut kebahagiaan masyarakat dunia. Belum lagi berbagai protokol kesehatan ketat, wajib pakai masker, selalu sedia hand sanitizer, rapid test, dan pemberlakuan jam malam yang semakin membuat masyarakat rindu saat-saat dalam situasi normal.
Baca juga: Aplikasi “Ambulans Jadi Taksi” Agar Terhindar dari Kemacetan Segera Diluncurkan, Setuju Kah?
Tak cukup sampai di situ, masyarakat juga kerap dibuat jadi lebih khawatir dengan maraknya pemberitaan terkait banyaknya korban jiwa, setiap hari, di seluruh dunia. Hal itu kemudian diperparah dengan pemberitaan terkait gonjang-ganjing ekonomi dimana telah terjadi PHK massal di banyak negara di seluruh dunia, serta ketidakpastian kapan pandemi Covid-19 akan berakhir. Masyarakat benar-benar dibuat stres karenanya.
Dengan berbagai kondisi tersebut, masyarakat pun coba mencari alternatif untuk memulihkan kondisi kejiwaan mereka. Salah satunya lewat aplikasi meditasi. Dikutip dari news.crunchbase.com, aplikasi meditasi yang berbasis di Los Angeles, Headspace, misalnya, menawarkan layanan dan panduan gratis untuk membantu orang-orang dan kelompok-kelompok tertentu mengatasi stres dengan berbagai kategori, mulai dari Headspace untuk profesional kesehatan, Headspace untuk para pekerja, dan Headspace untuk pendidik.
Headspace for professionals, fokusnya yakni memberi para pekerja berbagai informasi layanan kesehatan sesuai dengan protokol kesehatan masyarakat di AS serta akses gratis ke Headspace Plus sepanjang tahun. Untuk kontinuitas, pengguna juga bisa berlangganan dengan mendaftarkan alamat email dan nomor indentitas. Adapun kategori lainnya, yakni Headspace untuk pekerja dan Headspace untuk pendidik menawarkan akses gratis ke koleksi meditasi untuk para guru dan anggota lain seprofesi.
Singkatnya, aplikasi Headspace dapat membantu pengguna melakukan meditasi sederhana. Melalui aplikasi ini, pengguna dapat berlatih keterampilan kewaspadaan dan meditasi dengan menggunakan aplikasi ini hanya beberapa menit per hari. Terdapat dua layanan yang ditawarkan oleh Headspace, meditasi yang diarahkan dan meditasi yang tidak diarahkan. Selain itu, pengguna juga akan mendapatkan akses ke ratusan konten meditasi dalam segala hal mulai dari mengelola stres, meredakan kecemasan hingga membantu meningkatkan kualitas tidur dan fokus Anda dengan berbagai cara, lewat musik, pengetahuan sederhana, dan lain sebagainya.
Di Indonesia sendiri, aplikasi tersebut sudah banyak digemari masyarakat. Umumnya, mereka sangat merasakan manfaat dari layanan pada aplikasi tersebut. Hanya saja, pengguna di Indonesia masih mengeluhkan tidak adanya pilihan dalam bahasa Indonesia sehingga sedikit menyulitkan.
Selain Headspace, ada lagi dua aplikasi lainnya yang tak kalah menarik untuk dicoba, yakni Calm dan Simple Habit. Calm merupakan aplikasi yang dapat menenangkan penggunanya. Seri meditasi yang ditawarkan oleh aplikasi ini dapat diselesaikan dalam waktu 10-20 menit.
Aplikasi ini dapat membantu untuk mengembangkan seseorang dengan latihan yang dilakukan sehari-hari dan mereka yang bergabung dengan aplikasi Calm akan merasakan ketenangan serta kedamaian saat meresa stres dan depresi. Sebagian besar meditasi dari aplikasi ini bisa didapatkan secara gratis. Akan tetapi, terdapat pula beberapa sesi yang dikunci dan harus berlangganan terlebih dahulu untuk dapat mengaksesnya.
Senada dengan Calm, Simple Habit juga membantu pengguna untuk merasakan ketenangan dan kedamaian. Bahkan, pihak pengembang juga telah membuat tema khusus tentang corona, dimana pengguna dapat melatih diri untuk menghadapi virus Cina tersebut dengan meningkatkan perawatan diri, perhatian terhadap anak-anak di rumah, pola komunikasi dengan keluarga, dan meredakan kekhawatiran.
Baca juga: Gunakan Aplikasi di Ponsel, Warga Cina Hindari Lingkungan Terinfeksi Virus Corona
“Kami menyadari bahwa banyak orang sekarang diharuskan untuk tinggal di rumah, yang mengakibatkan hilangnya pendapatan dan ketidakpastian keuangan,” tulis CEO Simple Habit Yunha Kim dalam sebuah blog.
“Sebagai tanggapan terhadap perubahan besar ini, mulai hari ini (23 Maret) hingga akhir April 2020, kami akan menawarkan keanggotaan premium Simple Habit gratis kepada semua orang yang terkena dampak finansial saat masa-masa sulit ini dan tidak lagi mampu membayar. Jika Anda berjuang atau membutuhkan, kami akan membantu mengurus Anda,” tambahnya.
Otoritas Hong Kong tengah berupaya melakukan berbagai tindakan untuk mencegah meluasnya wabah virus Cina, salah satunya melalui teknologi gelang elektronik canggih. Nantinya, gelang tersebut akan diberikan kepada turis maupun masyarakat yang baru pulang bepergian dari luar negeri untuk memantau mereka selama fase karantina mandiri. Guna mendukung kesuksesan kebijakan tersebut, pemerintah Hong Kong mengklaim pihaknya telah memiliki lebih dari 60.000 gelang siap guna.
Baca juga: Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!
Dikutip dari laman CNBC Internasional, pemimpin eksekutif Hong Kong, Carrie Lam, mengatakan keputusan tersebut diambil akibat dari temuan maraknya kasus ‘impor’ corona. Data menunjukkan, setidaknya dari 57 kasus baru (Covid-19) dalam beberapa pekan terakhir, 50 di antaranya adalah berasal dari wisatawan asing.
Declan Chan, seorang stylist yang juga salah satu penduduk Hong Kong, baru saja kembali dari Zurich, Swiss, beberapa waktu lalu. Begitu sampai di bandara, ia pun terkejut ketika diberitahu bahwa ada langkah-langkah baru dari pemerintah dalam pencegahan meluasnya Covid-19 yang harus dipatuhi oleh siapapun ketika masuk ke Hong Kong, tak terkecuali dirinya.
“Saya kira hanya sebatas mengisi formulir saja. Saya tidak menduga akan ada gelang seperti ini,” katanya kepada wartawan melalui sambungan telepon dari rumahnya di Hong Kong, saat tengah menjalani karantina mandiri.
Saat itu, lanjut Chan, ketika dirinya sampai di bandara, ia disodorkan formulir kesehatan, lengkap dengan opsi agar ia berbagi lokasi ke pemerintah melalui berbagai platform, mulai dari WeChat dan WhatsApp atau sebatas menggunakan gelang elektronik. Namun, opsi tersebut rupanya semu. Nyatanya, ia dan wisawatan atau warga lokal lainnya yang baru tiba di bandara Hong Kong wajib menggunakan gelang elektronik. Alhasil, ia pun menyaksikan dengan jelas saat beberapa wisawatan menolak menggunakan gelang tersebut dan memilih kembali memesan tiket untuk hengkang dari Hong Kong.
Akan tetapi, gelang tersebut tidak serta merta langsung berfungsi bergitu saja. Teknisnya, mula-mula seluruh pengguna, termasuk Chan, harus terlebih dahulu berjalan di sudut-sudut rumahnya untuk memastikan teknologinya dapat dengan tepat melacak koordinat selama masa karantina. Namun, sebelum itu, pengguna terlebih dahulu harus terlebih dahulu mendownload aplikasi tertentu agar gelang tersebut dapat terhubung ke smartphone.
Baca juga: Dari Amerika, Inggris, Thailand Hingga Lebanon, Ini Cara Unik Masyarakat Terapkan Social Distancing
Berdasarkan koordinat tersebut, pemerintah akan membuat pemodelan ruang lingkup pengguna. Jadi, bila selangkah saja pengguna keluar dari rumah, maka pemerintah akan segera mengetahuinya. Oleh karena itu, selama karantina, Chan tak punya pilihan lain untuk memenuhi isi perutnya kecuali menggunakan aplikasi berbasins daring untuk memesan makanan dan bahan makanan.
“Seseorang yang melanggar atau secara sengaja memberikan informasi palsu kepada Departemen Kesehatan akan dikenakan hukuman denda $5.000 HKD ($644) dan penjara selama 6 bulan,” menurut selebaran yang diberikan kepada penumpang yang baru tiba di Hong Kong.
Para peneliti di berbagai penjuru dunia, setiap detik saling berlomba untuk menemukan berbagai solusi di dalam kehidupan. Caranya, tentu saja dengan berinovasi. Tak terkecuali di dalam bidang penerbangan. 1001 satu inovasi telah dan masih akan terus dilakukan sampai benar-benar tak ada masalah atau kesulitan apapun bagi manusia, dalam hal ini penumpang.
Baca juga: Bersiaplah, Ajang Crystal Cabin Awards Akan Hadirkan Desain Kabin Pesawat Masa Depan
Di dunia penerbangan, khususnya terkait interior di dalam pesawat, Crystal Cabin Award (CAA) mungkin bisa dibilang salah satu ajang yang paling nyentrik dengan memamerkan inovasi-inovasi mutakhir dari tahun ke tahun. Seperti dikutip dari runwaygirlnetwork.com, pada gelaran CAA 2016 silam, misalnya, ada banyak inovasi brilian yang dihadirkan pada ajang tersebut, salah satunya inovasi self-cleaning lavatory oleh Boeing. Inovasi tersebut menjadi sebuah jawaban dari banyaknya penelitian yang menyebut bahwa toilet menjadi salah satu sumber kuman dan bakteri terbesar di dalam kabin.
Setahun berselang, giliran UV-light Germ Falcon yang tampil nyentrik di CAA. Setidaknya hal itu terlihat dari keberhasilan inovasi tersebut mencapai fase final. Robot ini diklaim mampu membunuh segala virus, termasuk virus corona, dan kuman serta bakteri lainnya tak kasat mata di pesawat.
Kursi penumpang anti mikroba karya Boeing. Foto: Boeing
GermFalcon kurang lebih terlihat seperti troli makan yang biasa digunakan dalam penerbangan komersial. Bedanya, GermFalcon dilengkapi dengan semacam sayap yang melebar ke sisi kanan dan kiri pesawat. Alat tersebut kemudian memancarkan sinar UV (UltraViolet)-C yang bisa mensterilkan ruang sekitar.
Sinar UVC sendiri umumnya digunakan untuk mendesinfeksi udara, air, dan permukaan di fasilitas kesehatan. Sejauh ini, teknologi tersebut telah terbukti aman dan sangat efektif dalam menghilangkan kuman yang menyebabkan penyakit menular. GermFalcon adalah sistem UVC pertama yang dirancang khusus untuk mendisinfeksi permukaan interior pesawat antar penerbangan dengan cepat.
Terkait membunuh bakteri di dalam kabin, khususnya kursi penumpang, GermFalcon bukanlah satu-satunya. Belum lama ini Boeing berhasil mengembangkan kursi penumpang anti bakteri. Kursi tersebut dibuat dengan bahan polimer khusus. Bahkan, inovasi tersebut juga bisa bekerja di bahan lainnya, seperti kaca, logam, dan plastik. Cara kerjanya, saat bakteri menempel di lapisan tersebut, otomatis, sistem perlindungan akan menghancurkan bakteri dan mencegahnya datang kembali dengan membersihkan dirinya sendiri.
The Grey Water Reuse Unit karya Diehl Aviation. Foto: Diehl Aviation
Kompetitor sejati Boeing, Airbus, juga tak mau ketinggalan. Pabrikan pesawat asal Eropa ini menyodorkan inovasi yang dinamakan The Airbus Dry Floor system pada gelaran CCA tahun ini. Inovasi tersebut dinilai menjadi solusi dari problem klasik di toilet, yakni becek dan kotor setiap kali selesai digunakan oleh penumpang.
Dengan adanya The Airbus Dry Floor system, nantinya, setiap kali air yang keluar dari kran air di wastafel, aircraft vacuum system dan vacuum nozzle Airbus akan langsung menyedot air sehingga meminimalisir terbuangnya air ke lantai. Sistem tersebut dinamakan automated vacuum cleaning yang kemudian juga dilengkapi dengan sistem passive transpiration untuk menghisap uang air sehingga kelembaban di dalam toilet tetap terjaga. Namun, kalaupun tetap ada percikan air di lantai, awak kabin dapat dengan mudah menyekanya dengan bantuan kain pel yang mudah digunakan.
Baca juga: Diklaim Bisa Bikin Pramugari Jadi Lebih Nyaman, Inilah Konsep Zero G-Attendant Seat
Akan tetapi, inovasi teknologi dari Airbus rasanya kurang lengkap. Sebab, air yang sudah terbuang tak bisa dimanfaatkan untuk keperluan lainnya, semisal menyiram toilet atau flush. Celah itu kemudian coba diambil oleh Diehl Aviation. Perusahaan asal Jerman tersebut berhasil menjawab tantangan terbuangnya air di toilet dengan inovasi Grey Water Re-Use Unit. Nantinya, air bekas pakai dari wastafel bisa kembali digunakan untuk menyiram toilet. Dengan begitu, beban pesawat terhadap air bersih bisa dipangkas. Ujungnya, bisa membuat efisensi bahan bakar di setiap perjalanan pesawat.
Tak berhenti sampai di situ, perusahaan yang berbasis di Nuremberg, Jerman tersebut juga berhasil mengembangkan konsep Touchless Lavatory. Alhasil, kemungkinan menempelnya kuman dan bakteri di setiap kali penumpang menggunakan toilet bisa diminimalisir dengan mengurangi frekuensi sentuhan.
Bila ditanyakan secara acak apakah pandemi Covid-19 membuat kejenuhan pada masyarakat? Pastinya banyak yang akan menjawab ya. Hal ini karena banyak kota dan negara di seluruh dunia yang menutup diri untuk meminimalisir penyebaran Covid-19 tersebut.
Baca juga: Pandemi Masih Berlangsung, Makapai di Amerika Serikat Beroperasi Meski Penumpang Menurun
Meski begitu, ternyata di Rio de Janeiro, Brasil justru mengadakan konser khusus di tengah pandemi ini. KabarPenumpang.com melansir laman newlagoon.com (2/4/2020), konser ini dihadirkan untuk ratusan penghuni sebuah lingkungan di Rio de Janeiro yang dibatasi pergerakannya untuk meminimalisir penyebaran Covid-19.
https://youtu.be/sz5uXt5Pghw
Uniknya mungkin konser biasa dilakukan oleh grup band atau penyanyi, tapi di Rio de Janeiro para petugas pemadam kebakaranlah yang melakukan konser. Beragam repertoar musik Brasil dimainkan oleh pemadam kebakaran di ketinggian 50 meter.
Dalam sebuah video, terekam pada puncak salah satu eskalator yang digunakan untuk memadamkan api, letnan dua Elielson Silva dos Santos memainkan karya-karya komposer Brazilian terkenal seperti Samba do aviao Tom Jobim dan Aquerela, Arry Barroso dengan menggunakan terompet. Kehadiran konser unik ini membuat orang-orang mengelilingi alun-alun Largo do Machado yang terletak di lingkungan Laranjeiras melalui jendela mereka.
Orang-orang ini menikmati musik yang dibawakan oleh petugas pemadam kebakaran ke jendela mereka dan salah satu lagu yang dibawa adalah lagu kebangsaan. Para pemadam kebakaran ini ternyata terinspirasi oleh inisiatif Jerman selama kurungan oleh virus corona, brigade Api Rio de Janeiro memutuskan untuk membuat presentasi di titik-titik tertentu kota, seperti pantai Copacabana, lagoa Rodrigo de Freitas yang ikonik, lingkungan mewah Leblon dan Barra de Tijuca dan alun-alun Largo do Machado.
Mereka juga melakukan konser di Rocinha, favela terbesar di ibukota dan komunitas lain seperti Cross São Sebastião dan Vidigal. Idenya adalah orang-orang yang tidak bisa keluar ke jalan-jalan untuk menikmati pertunjukan musik, setinggi 50 meter, dari jendela-jendela bangunan di dekatnya.
“Tindakan ini bertujuan untuk menenangkan jiwa dan memompa semangat di masa-masa sulit dan, pada saat yang sama, ingat bahwa petugas pemadam kebakaran selalu dekat dengan warga. Selalu bersedia melayani masyarakat,” kata saran pers.
Baca juga: Peneliti: Virus Corona Bisa Bertahan Selama 7 Hari di Masker Bedah
Aksi para petugas pemadam kebakaran ini telah meluas ke kota-kota lain di negara bagian, seperti Nova Friburgo, di mana petugas pemadam kebakaran lain, kali ini seorang pemain saksofon, memberikan konser kepada penduduk kota itu. Menurut laporan terbaru dari Kementerian Kesehatan, setidaknya 240 orang meninggal oleh pandemi virus corona di Brasil, di mana sudah ada lebih dari 6836 yang terinfeksi.
Terus merosotnya trafik penumpang tentu harus disikapi secara bijaksana oleh pengelola bandara. Salah satu opsi yang dapat dilakukan adalah penyesuaian jam operasional yang dilakukan untuk menutupi tingkat kerugian. Seperti PT Angkasa Pura I yang telah mengumumkan penyesuaian operasional di 15 bandara. Peyesuaian dilakukan melalui optimalisasi penggunaan area, fasilitas, dan pengaturan shift dinas petugas bandara agar kebijakan physical distancing dan protokol kesehatan terkait pencegahan penyebaran Covid-19.
Baca juga: Laporan Q1 2020 – 15 Bandara PT Angkasa Pura I Alami Penurunan Trafik Penumpang 8,11 Persen
“Penyesuaian kegiatan operasional 15 bandara ini yang dimulai sejak 1 April, terutama bertujuan agar protokol kesehatan terkait pencegahan penyebaran Covid-19 di bandara dapat diterapkan secara optimal. Hal ini sesuai dengan arahan Pemerintah terkait kebijakan physical distancing yang kemudian diturunkan dalam bentuk Surat Edaran Direktur Keamanan Penerbangan Nomor SE.10 Tahun 2020 tanggal 23 Maret 2020 perihal Pencegahan Penyebaran Covid-19 dalam Penerbangan,” ujar Direktur Utama PT Angkasa Pura I Faik Fahmi dalam pesan tertulis (9/4/2020).
Penyesuaian operasional ini didasarkan atas penurunan trafik penumpang yang cukup tajam, sekitar 25 persen pada Maret 2020 dibanding Maret 2019. Adapun upaya efisiensi yang dilakukan yaitu pengurangan waktu operasional sebagian besar bandara dan pengurangan penggunaan utilitas.
Adapun penyesuaian operasional bandara disesuaikan berdasarkan kapasitas dan kondisi trafik aktual di masing-masing bandara. Misalnya di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, yang waktu operasinya dikurangi menjadi 12 jam (pukul 06.00 – 18.00) dari sebelumnya 17 jam (pukul 06.00 – 23.00). Untuk layanan check in di terminal keberangkatan dikonsentrasikan di area C dan D. Sedangkan area A dan B dinonaktifkan untuk sementara waktu. Untuk ruang tunggu terminal keberangkatan juga hanya dioperasikan sebagian, yaitu Gate 5 hingga Gate 11. Adapun terminal kedatangan di area timur akan ditutup sehingga kedatangan maskapai rute domestik seperti Garuda Indonesia dan Citilink dipindahkan ke area kedatangan barat menggunakan conveyor belt 5 sampai 8.
Begitu juga dengan Bandara Lombok Praya yang waktu operasinya dikurangi menjadi 16 jam (pukul 06.00 – 22.00) dari sebelumnya 24 jam. Selain itu, beberapa penyesuaian operasional Bandara Lombok adalah penutupan sementara terminal internasional karena tidak ada lagi penerbangan internasional, penataan ulang flow operasi pelayanan penumpang dan pengaturan parkir pesawat, serta pengurangan waktu shift dinas petugas bandara.
Adapun perubahan durasi dan jam operasional 15 bandara Angkasa Pura I yaitu:
1. Bandara Juanda Surabaya menjadi 17 jam (pukul 05.00 – 22.00) dari sebelumnya 24 jam.
2. Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali tetap beroperasi 24 jam.
3. Bandara Sultan Hasanuddin Makassar tetap beroperasi 24 jam.
4. Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan menjadi 12 jam (pukul 06.00 – 18.00) dari sebelumnya 17 jam (pukul 06.00 – 23.00)
5. Bandara Adisutjipto Yogyakarta tetap beroperasi 13 jam (pukul 05.00 – 18.00).
6. Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) menjadi 17,5 jam (pukul 05.00 – 22.30) dari sebelumnya beroperasi 24 jam.
7. Bandara Adi Soemarmo Solo menjadi 16 jam (pukul 06.00 – 22.00) dari sebelumnya 18 jam (06.00 – 00.00).
8. Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang menjadi 16 jam (pukul 06.00 – 22.00) dari sebelumnya 18 jam (06.00 – 00.00).
9. Bandara Lombok Praya menjadi 16 jam (pukul 06.00 – 22.00) dari sebelumnya 24 jam.
10. Bandara El Tari Kupang tetap beroperasi 16,5 jam (pukul 06.00 – 22.30).
11. Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin menjadi 12 jam (pukul 06.00 – 18.00) dari sebelumnya 17 jam (pukul 06.00 – 23.00).
12. Bandara Sam Ratulangi Manado menjadi 14 jam (pukul 06.00 – 20.00) dari sebelumnya 24 jam.
13. Bandara Pattimura Ambon menjadi 14 jam (pukul 06.00 – 20.00) dari sebelumnya 17 jam (pukul 06.00 – 23.00).
14. Bandara Frans Kaisiepo Biak menjadi 9 jam (pukul 06.00 – 15.00) dari sebelumnya 14 jam (pukul 06.00 – 20.00).
15. Bandara Sentani Jayapura menjadi 9 jam (pukul 06.00 – 15.00) khusus angkutan logistik dan tidak melayani angkutan penumpang, dari sebelumnya beroperasi 14 jam (pukul 06.00 – 20.00).
Pada Januari 2020 kemarin, Cina menutup semua moda transportasi ke dan dari kota Wuhan yang menjadi pusat penyebaran Covid-19. Setelah dua bulan berlalu, akhirnya pada 8 April 2020 kemarin, Cina mencabut semua pembatasan yang di berlakukan pada Wuhan setelah 76 hari terkurung.
Baca juga: Bandara Tianhe Wuhan, Semakin Dikenal Karena Wabah Virus Corona
Hal ini kemudian membuat Bandara Internasional Wuhan Tianhe di Hubei, Cina akhirnya kembali buka dan mulai mengoperasikan penerbangan. Namun sebelum dioperasikan kembali, bandara tersebut didesinfeksi oleh 161 profesional pada pekan lalu.
KabarPenumpang.com melansir laman airport-technology.com (8/4/2020), bandara yang terletak 26 km dari utara kota Wuhan tersebut, kini mengoperasikan penerbangan langsung ke New York, London, San Francisco, Paris, Roma dan Moskow. Penerbangan komersial pertama dari Bandara Wuhan Tianhe ini adalah dari maskapai Xiamen Air MF8095 sekitar pukul 07.45 pagi waktu setempat.
Meski sudah dibuka kembali untuk umum, bandara akan menerima pengurangan jumlah penerbangan dalam waktu dekat. Setelah bandara di buka, orang-orang banyak yang bergegas ke bandara untuk mengambil penerbangan pulang ke rumah mereka. Seperti diketahui, banyak orang yang datang ke Wuhan selama liburan Tahun Baru Imlek dan terjebak di sana ketika kota tersebut di kunci. Tak hanya melalu bandara, orang-orang juga memilih untuk bepergian dengan kereta api dan mobil.
Meski begitu, yang boleh meninggalkan Wuhan adalah mereka yang memiliki kode hijau yang diberikan oleh aplikasi dan diawasi oleh Alibaba Group dan Tencent. Aplikasi ini menggunakan riwayat perjalanan individu, informasi kesehatan dan kontak terdekat.
Manajer check in China Southern Airlines, He Yuqing mengatakan, bahwa mereka mengoperasikan 28 penerbangan yang berangkat dari Wuhan pada 8 April. Beberapa penerbangan charter juga dioperasikan untuk para medis kembali ke rumah mereka masing-masing.
Baca juga: Gegara Virus Corona, Puluhan Ribu Hewan Peliharaan Terancam Mati Kelaparan di Wuhan
Komisi Kesehatan Nasional China (NHC) melaporkan bahwa, pada 7 April, 62 kasus baru Covid-19 dikonfirmasi di Cina daratan, yang 59 di antaranya diimpor. NHC menambahkan bahwa ada dua kematian, satu di antaranya berasal dari Provinsi Hubei. Total kasus infeksi impor di negara ini saat ini mencapai 1042.
Meskipun pengerjaannya terus dikebut di tengah pandemi corona, 737 MAX yang sudah setahun lebih di-grounded dilaporkan kembali bermasalah. Dalam sebuah pernyataan, raksasa dirgantara dunia tersebut mengakui bahwa pihaknya menemukan sebuah masalah pada sistem software MAX. Meski demikian, masalah tersebut tidak akan mengurungkan niat untuk memulai kembali layanan MAX pada pertengahan tahun ini.
Baca juga: Masalah Lagi! Boeing Temukan Serpihan di Tangki Bahan Bakar 737 MAX
“Sebagai hasil dari tinjauan perangkat lunak kami yang ketat, Boeing membuat modifikasi tambahan pada software flight control computer 737 MAX setelah baru-baru ini kembali mengidentifikasi dua masalah. Modifikasi tidak terkait dengan Manuvering Characteristics Augmentation System (MCAS),” kata juru bicara Boeing, seperti dikutip dari barrons.com.
Lebih lanjut, Boeing menguraikan bahwa satu masalah terkait pada “kesalahan hipotesa” dalam mikroprosesor flight control computer yang berpotensi menyebabkan stabilizer tidak berfungsi dengan baik. Horizontal stabilizer di bagian ekor pesawat sejatinya dapat bergerak ke atas dan ke bawah sebagai peredam gerak aktif atau stabilisator. Bila fungsi tersebut hilang karena loss control, hal itu bisa saja berakibat fatal.
Adapun masalah kedua yang ditemukan Boeing baru-baru ini lebih mengarah pada fitur autopilot. Fitur ini ditemukan kerap aktif dengan sendirinya saat pilot sedang melakukan final approach. Tentu saja aktifnya fitur secara tiba-tiba dapat menggangu konsentrasi pilot dalam menguasai pesawat secara keseluruhan. Oleh karenanya, Boeing berjanji akan segera melakukan perbaikan pada sistem tersebut agar kejadian serupa tak terulang kembali.
Boeing sendiri saat ini dilaporkan masih terus menggenjot proses perbaikan, mulai dari menguji perubahan perangkat lunak terbaru dan menyempurnakannya hingga melakukan pengujian dalam simulator penerbangan yang dikenal sebagai e-cab di tengah pandemi corona, semata untuk menyesuaikan seluruh persyaratan dari regulator penerbangan sipil di Amerika Serikat (FAA).
Perusahaan tak gentar sekalipun sejauh ini dilaporkan sudah terdapat 88 kasus corona yang menimpa pekerjanya. Meskipun demikian, progres 737 MAX hanya dilakukan oleh tim kecil. Adapun sisanya, Boeing telah menghentikan proses produksi untuk sementara waktu.
Dengan begitu, Boeing tetap menargetkan bahwa 737 MAX dapat kembali terbang pertengahan tahun ini. Kabar baiknya, langkah tersebut juga didukung oleh FAA. Pasalnya, tidak selamanya tinjauan teknis diperlukan. Mereka bisa saja mengecek lewat dokumen, video conference, atau lewat telepon. FAA juga memuji Boeing bahwa mereka terus membuat kemajuan untuk 737 MAX dengan hampir memenuhi standar sertifikasi dan semua itu dilakukan di tengah pembatasan di AS.
“Tim kami mengelola melalui wabah Covid-19 seperti banyak orang lain dengan bekerja secara virtual di mana kita bisa, sambil mengambil tindakan pencegahan untuk memastikan lingkungan yang aman bagi kita semua,” kata Boeing dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari bloomberg.com.
Baca juga: Demi Kembali Terbang, Perbaikan Boeing 737 MAX Terus Dikebut di Tengah Corona
“Kami terus membuat kemajuan dalam upaya sertifikasi kami dan bekerjasama dengan regulator untuk memenuhi persyaratan mereka. Perkiraan kami masih merupakan pertengahan tahun untuk mengembalikan armada 737 MAX ke layanan,” tambahnya.
Produsen pesawat terbesar di dunia itu baru saja melewat ‘perayaan’ setahun grounded Boeing 737 MAX pada 14 Maret lalu. Dalam kurun waktu setahun tersebut, produsen pesawat asal Negeri Paman Sam tersebut mengaku telah menggelontorkan uang sebesar Rp268 triliun (Rp14.352). Jumlah tersebut diperkirakan akan membengkak menjadi sebesar Rp330 triliun sampai pesawat tersebut benar-benar kembali diizinkan terbang. Maka, tak heran bila Boeing terus ngotot untuk segera kembali menerbangkan 737 MAX.
Otoritas transportasi Berlin BVG atau Berliner Verkehrsbetriebe sudah menambahkan bus artikulasi (bus gandeng) listrik pertama ke armadanya sebagai bagian dari proyek penelitian. Di mana BVG baru-baru ini menambahkan listrik Solaris Urbino 18 yang merupakan bus listrik artikulasi pertama ke armadanya.
Baca juga: Implementasi Bus Listrik, Tak Hanya Berbicara Armada Tapi Juga Sistem Pendukung
Bus listrik tersebut berada di rute 200 yang akan menjadi bagian proyek penelitian dan pengembangan E-MetroBus. KabarPenumpang.com melansir dari laman electrive.com (5/4/2020), nantinya ada 16 kendaraan lagi yang akan menyusul dalam beberapa minggu mendatang.
Setelah uji coba singkat E-Schlenkis yang disebut oleh operator transportasi Berlin akan mengambil alih semua perjalanan pada rute 200 di musim panas. Rolf Erfurt yang bertanggung jawab untuk operasi BVG menggambarkan bus listrik yang diartikulasi sebagai terobosan untuk mobilitas listrik di Berlin.
Ini tidak berbeda dengan London, sebab armada bus Berlin mengandalkan armada-armada besar. Untuk mengisi daya bus Solaris, BVG memilih untuk pengisian cepat dengan pantograf di halte maupun terminal. Akan ada dua pengisi daya pantograf yakni yang pertama dari Siemens dan sudah di pasang di Kebun Binatang Bahnhof serta stasiun pusat bekas Berlin Barat.
Mitra lainnya di E-MetroBus adalah TU Berlin dan Reiner Lemoine Institute, mereka akan menguji kendaraan dan infrastruktur. Menurut BVG, volume proyek berjumlah total €16,74 juta dan yang akan menanggng sebagian besar biaya adalah operator transit hingga jumlah yang dikeluarkan oleh bus diesel yang sebanding.
Selain itu dana tambahan juga datang dari Kementerian Federal Transportasi dan Infrastruktur Digital dengan total €4,3 juta. Menurut makalah Tagesspiegel, pendanaan berfokus pada dua stasiun pengisian pantograf. Sedangkan sisa pendanaan untuk bus listrik akan ditanggung negara bagian Berlin.
Untuk diketahui, saat ini BVG telah memesan 90 bus elekrtik dari Solaris dan dimulai dari model Urbino 12 Electric yang sudah masuk layanan saat ini. BVG mengkonfirmasi laporan sebelumnya dan awalan pengiriman pada bulan Maret.
Pengiriman batch pertama dari 30 listrik akan selesai di Berlin bulan ini. Sedangkan 60 lainnya akan mengikuti dari awal Agustus hingga akhir tahun. Selain itu 15 bus Mercedes dan Solaris sudah dikirim tahun lalu dan satu kendaraan dari kampus riset Mobility2Grid.
Baca juga: Malaga, Kota Pertama di Eropa yang Operasikan Bus Listrik Otonom di Jalan Raya
Sehingga total armada BVG adalah 121 all electric single deckers. Bus elektrik baru ini nantinya akan melayani seluuh rute yakni 142, 259, 300, 347, 147, 155, 250, 294 dan N50. BVG juga menambah 83 titik pengisian ke 30 stasiun pengisian yang ada.