Kunjungan wisatawan mancanegara ke Hong Kong menyentuh angka terburuk sejak 16 tahun terakhir atau menurun sebesar 55,9 persen. Di samping itu, intervensi dari pemerintah Cina, serta boikot yang dilancarkan kelompok pro-Cina kepada seluruh produk Hong Kong membuat hampir seluruh bisnis memburuk di wilayah eks koloni Inggris tersebut. Tak terkecuali Cathay Pacific.
Baca juga: (Masih) Terdampak RUU Ekstradisi, Cathay Pacific Bakal Turunkan Kapasitas Bangku di 2020
Setelah melakukan berbagai langkah penyelamatan, maskapai pelat merah Hong Kong tersebut dalam waktu dekat dikabarkan akan merumahkan karyawannya selama sebulan. Saat ini aturannya sedang dipersiapkan. Bila terjadi, nantinya aturan tersebut akan berimbas pada 27 ribu karyawan. Singkatnya, selama sebulan, karyawan akan digilir untuk ‘dipaksa’ cuti tanpa dibayar.
Seperti dilansir South China Morning Post dalam bangkokpost.com, analisis ekuitas Morningstar, Ivan Su, menilai kebijakan tersebut akan sangat membantu Cathay dalam menyelamatkan keuangan perusahaan. Selain itu, Su percaya bahwa Cathay akan mampu bertahan lebih lama dengan kebijakan tersebut.
“Saya percaya penawaran cuti tak berbayar yang secara sukarela harus diambil para karyawan akan membantu Cathay mengelola sumber dayanya (keuangannya) dengan lebih baik, sambil mengurangi beberapa biaya operasional di saat permintaan lemah,” katanya.
Menurut Luya You, analis transportasi di pialang Bocom International, kebijakan tersebut justru harus dilakukan. Hal itu dikarekan rencana Cathay Pacific di 2020 untuk mengurangi kapasitas penumpang atau operasional yang berimbas pada menurunnya target pendapatan. Dengan begitu, menurutnya, sangat wajar bila Cathay melakukan pengurangan. Jika tidak, akan terjadi ketidakefektifan dalam bekerja.
Kebijakan cuti tanpa dibayar tersebut merupakan yang pertama kalinya sejak terakhir kali Cathay Pacific melakukannya pada 2008 silam. Kala itu, setelah krisis keuangan global, maskapai tersebut juga melakukan hal serupa. Demikian juga pada tahun 2003, selama wabah sindrom pernafasan akut (SAR) yang parah, dan setelah penurunan perjalanan udara yang disebabkan oleh peristiwa 11 September 2001.
Baca juga: Hapus Penggunaan Kertas di Kokpit, Cathay Pacific Targetkan Hemat 1 Juta Liter Bahan Bakar per Tahun
Masih dalam sengkarut dari masalah RUU Ekstradisi, maskapai ini memang terus mengalami penurunan dari segi finansial – baik dari revenue maupun saham. Belum lagi mundurnya CEO dari maskapai tersebut, membuat kondisi perusahaan menjadi terombang ambing di ambang ‘kehancuran’.
Sebelum memulai langkah untuk merumahkan karyawan, Cathay Pacific terlebih dahulu telah melakukan berbagai penghematan. Mulai dari penangguhan penjualan tiket, pengurangan kapasitas, hingga menghapus penggunaan kertas di kokpit, yang diprediksi dapat menghemat sebesar satu juta liter per tahun.
Grab di Vietnam kini punya bos baru yakni Nguyen Thai Hai Van. Nguyen akan menduduki posisi direktur pelaksana Grab Vietnam. Sebelumnya Nguyen pernah bekerja di Unilever selama 17 tahun dan karir terakhirnya adalah wakil presiden divisi perawatan kecantikan dan pribadi.
Baca juga: Aplikasi Transportasi Online Asal Vietnam Siap Rebut Pasar GoJek dan Grab!
Menjadi direktur pelaksana Grab di Vietnam, Nguyen punya tugas untuk menangani strategi media perusahaan baik bisnis maupun operasi di semua bisnis Grab ketika perusahaan berupaya memperkuat proposisi super aplikasinya di negara tersebut. Penunjukan Nguyen sendiri menandai restrukturisasi besar-besaran untuk Grab Vietnam, saat memasuki fase pertumbuhan berikutnya.
Sebelumnya ada Jerry Lim, Kepala bagian yang menangani Vietnam kini kembali ke perannya yang berbasis di Singapura setelah Nguyen hadir. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman techinasia.com (14/1/2020), Lim akan memimpin tim pengalaman pelanggan Grab di delapan negara Asia Tenggara termasuk Vietnam untuk fokus yang lebih besar pada layanan mandiri pelanggan, otomatisasi dan AI.
Saat bertugas di Vietnam selama tiga tahun, Lim mendorong ekspansi Grab di Hanoi dan Ho Chi Minh pada 2014. Bahkan kini jejak operasionalnya sudah mencakup 43 kota dan dirinya juga mengawasi peluncuran GrabFood di Vietnam, pada tahun 2018.
Diketahui, ternyata perusahaan itu terjerat dalah guatan hukum selama 18 bulan dengan Vinasun yang merupakan salah satu perusahaan taksi terbesar di Vietnam. Ini juga pusat oposisi konstan dari industri taksi yang ada di negara tersebut.
Pada bulan Agustus, Grab mengumumkan investasi tambahan US$500 juta untuk Vietnam selama lima tahun ke depan. Grab telah berkembang secara agresif di seluruh vertikal di negara ini dan telah mengembangkan ikatan dengan pemangku kepentingan pemerintah melalui berbagai proyek transportasi dan sosial.
Baca juga: Tunjang Keselamatan Pengemudi, Vietnam Legalkan Pemasangan Sekat Pelindung di Taksi
Diketahui, para pemangku kepentingan di industri ride hailing di Vietnam kini tengah menunggu pemerintah untuk mengeluarkan keputusan tentang bisnis transportasi setelah tiga tahun perdebatan tentang peraturan baru. Hal ini bisa membuat perusahaan-perusahaan seperti itu beroperasi di negara tesebut untuk memenuhi persyaratan yang lebih ketat.
Satu orang jamaah Umrah yang akan kembali dari Jeddah ke Surabaya meninggal di pesawat dan satu lagi meninggal ketika dibawa ke rumah sakit saat tiba di bandara. Keduanya tengah dalam perjalanan dengan pesawat Lion Air JT085 dari Bandara Internasional King Abdul Aziz Jeddah, Arab Saudi ke Bandara Internasional Juanda, Surabaya.
Baca juga: Saat Ada Penumpang Meninggal di Kabin Pesawat? Inilah Prosedur Penanganannya
Saat itu penerbangan berangkat pukul 18.20 waktu Jeddah dan harusnya tiba di Surabaya pukul 08.30 pagi hari Senin (13/1/2020) waktu Indonesia. Namun, pesawat Airbus A330-300CEO dengan nomor registrasi PK-LEG yang mengangkut 13 kru dan 257 penumpang itu harus mendarat darurat di Bandara Internasional Bandaranaike, Katunayake, 35 km Utara dari Kolombo, Sri Lanka.
Pendaratan darurat ini karena alasan medis yang mana seorang penumpang bernama Saringa Albadiah segera membutuhkan pertolongan. Dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers yang diterima, awalnya dalam penerbangan tersebut awak kabin sudah menjalankan tindakan dengan bertanya apakah ada dokter atau petugas medis dalam penerbangan tersebut.
Kemudian dari pengumuman tersebut dokter menghampiri dan membantu awak kabin melakukan pertolongan pertama. Namun sayang, Saringa Albadiah dinyatakan meninggal dunia ketika pesawat akan mendarat di Bandaranaike.
Karena hal ini, petugas layanan di Bandaranaike bersama pusat kesehatan bandara juga mempersiapkan pertolongan. Ketika tiba di Bandaranaike pukul 01.45 waktu setempat ternyata ada dua penumpang laki-laki lain yakni Suwadi dan Amadulah yang membutuhkan pertolongan medis.
Keduanya langsung dibawa ke rumah sakit terdekat dan Suwadi dinyatakan meninggal dunia oleh tim medis. Sedangkan Amadulah menjadi perawatan di rumah sakit dan setelah proses penanganan medis selesai, Lion Air JT085 kembali melanjutkan penerbangan dari Bandaranaike pukul 09.45 waktu setempat dan tiba di Bandara Juanda pukul 16.30 WIB.
Baca juga: Layani Jamaah Umrah, Lion Air Buka Penerbangan Perdana Lombok-Jeddah
Diketahui, sebelum penerbangan dari Bandara Internasional King Abdul Aziz menuju ke Bandara Internasional Juanda, semua penumpang memiliki izin medis sebelum melakukan penerbangan. Mereka juga menunjukkan dan melampirkan surat keterangan kelaikan terbang.
Ketegangan Iran dengan AS baru-baru ini dikhawatirkan banyak pihak akan menyulut Perang Dunia Ketiga. Iran, bersama kompatriotnya yang juga berseberangan dengan AS, yakni China, Rusia, dan Korea Utara diprediksi akan berada dalam satu barisan. Sementara Inggris dan negara-negara NATO akan bergabung dalam barisan AS. Namun, jauh sebelum ini, yaitu pada medio 80-an, Perang Dunia Ketiga juga nyaris meletus. Kala itu, Uni Soviet dan AS yang menjadi aktornya.
Baca juga: Sejak 1973, Iran, Rusia dan AS Ternyata Pernah Menghantam Pesawat Penumpang dengan Rudal
Ketegangan tercipta ketika Soviet dengan sengaja menembak jatuh pesawat komersial Boeing 747 milik Korean Airlines (KAL) Flight 007 di dekat Pulau Moneron, sebelah barat Sakhalin di Laut Jepang. Atas insiden itu, sebanyak 269 penumpang dan awak kabin dilaporkan tewas; termasuk Larry McDonald, seorang perwakilan AS dari Georgia.
Dalam sebuah wawancara dengan CNN, sebagaimana dikutip dari express.co.uk, pilot jet tempur Soviet yang ditugaskan kala itu, Kolonel Gennadi Osipovich mengenang saat-saat yang mengejutkan ketika ia dikirim untuk mencegat sebuah pesawat yang melintas secara ilegal. Sebelum pesawat nahas itu ditembak, ia mengaku sudah mengirimkan sinyal dengan memberikan kode kalau pesawat tersebut telah melanggar kedaulatan udara Soviet.
“Saya mulai memberi sinyal kepada [pilot] dalam kode internasional, saya memberi tahu dia bahwa dia telah melanggar wilayah udara kita, tetapi dia tidak menanggapi,” ungkapnya.
Setelah pilot maskapai Korean Air tersebut tidak menggubris, lanjutnya, ia tidak begitu saja langsung menembak jatuh. Ia beberapa kali sempat memberikan tembakan peringatan. Di samping itu, ia juga tidak mempunyai opsi lain untuk langsung bertindak kecuali pimpinannya telah memberikan tugas untuk menembakkan rudal ke pesawat tersebut.
Di samping itu, ia juga sempat ragu ketiga melihat pesawat yang dianggap pemerintahan Soviet telah melanggar kedaulatan udara tersebut. “Saya bisa melihat dua baris jendela, yang menyala, saya bertanya-tanya apakah itu pesawat sipil, pesawat kargo militer tidak memiliki jendela seperti itu,” tambahnya.
Dalam keadaan genting tersebut, ia mengaku tidak mempunyai pilihan lain. Ia juga tak punya cukup waktu untuk berpikir jernih. Saat itu, yang ada dibenaknya adalah, ia memiliki misi yang harus diselesaikan dan misi tersebut adalah menghancurkan pesawat penyusup, yang notabene adalah pesawat sipil.
Tepat pada 1 September 1983, Uni Soviet akhirnya menembak jatuh penerbangan Korean Air rute New York-Seoul via Alaska. Akibat insiden tersebut, tentu saja menambah ketegangan yang memang sebelumnya sudah terjadi, bahkan terancam akan masuk ke dalam jurang perang nuklir.
Baca juga: Mengacu Data Intelijen, AS dan Kanada Yakin Boeing 737 Ukraine International Ditembak Rudal
Merespon kejadian itu, Presiden AS Ronald Reagan dalam sebuah kesempatan menyebut serangan itu sebagai pembantaian dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang sama sekali tidak ada pembenaran, hukum atau moral.
Sebaliknya, pemimpin Soviet, Yuri Andropov, justru menuduh balik Washington melakukan konspirasi busuk, mengklaim semuanya adalah provokasi halus yang didalangi oleh layanan khusus AS dengan memanfaatkan Korea Selatan. Walaupun terus bersitegang, beruntung Perang Dunia Ketiga tidak jadi membara akibat runtuhnya Soviet, 10 tahun berselang.
Di tengah ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS), pesawat Boeing 737-800 yang dioperasikan oleh Ukraine International Airlines dilaporkan jatuh. Tak lama setelah kejadian, beredar luas di dunia maya, video yang memperlihatkan rudal menghantam benda di angkasa hingga membuatnya terbakar di udara dan kemudian jatuh ke daratan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa benda di angkasa tersebut adalah pesawat Ukraine International Airlines yang terkena rudal hanud Iran.
Baca juga: Sama-sama Jatuh Dirudal, Inilah Persamaan dan Perbedaan Insiden Malaysia Airlines MH17 dan Ukraine International PS752
Walaupun sempat membantah tuduhan tersebut, pada hari Sabtu (11/01) waktu setempat, Iran mengumumkan bahwa militernya “secara tidak sengaja” menembak jatuh sebuah pesawat nahas tersebut hingga menewaskan 176 orang di dalamnya. Ketika itu, pesawat dijadwalkan akan melawat ke ibukota Ukraina Kyiv, dengan rincian membawa 167 penumpang dan sembilan anggota awak dari beberapa negara, termasuk 82 Iran, 57 Kanada dan 11 Ukraina, ketika ditembak jatuh.
Dalam sebuah pernyataan yang diposting di media sosial, Presiden Iran Hassan Rouhani menulis bahwa negara itu “sangat menyesali kesalahan yang menghancurkan ini”. Selain itu, Kanada, yang warganya banyak menjadi korban, juga mengutuk dan menuntut Iran untuk bertanggungjawab atas kejadian tersebut.
Di tempat terpisah, blunder Iran coba dimanfaatkan oleh Presiden AS Donald Trump dengan memprovokasi warga Iran untuk melakukan aksi protes terhadap pemerintah atas insiden jatuhnya pesawat Ukraina tersebut. Padahal, terhitung sejak tahun 1973 rupanya AS juga pernah menghantam pesawat komersial dengan rudal. Bahkan, memakan lebih banyak korban.
Dikutip dari Aljazeera.com, berikut daftar insiden pesawat yang ditembak jatuh oleh rudal berdasarkan lokasi kejadian.
Ukraina: 298 tewas17 Juli 2014: Penerbangan Malaysia Airlines MH17 ditembak jatuh di Ukraina timur yang dikuasai pemberontak dalam perjalanan ke Kuala Lumpur dari Amsterdam. Sebanyak 298 orang di dalam pesawat tersebut tewas, termasuk 193 warga negara Belanda.
Pemerintah Kyiv dan pemberontak separatis pro-Rusia, yang berjuang untuk menguasai Ukraina timur, saling tuduh atas kejadian yang terjadi di tengah konflik tersebut.
Pada 2019, jaksa penuntut umum Belanda menetapkan empat tersangka dalam serangan itu, termasuk tiga mantan anggota angkatan bersenjata Rusia.
Somalia: 11 tewas23 Maret 2007: Sebuah pesawat kargo Ilyushin II-76 milik maskapai Belarusia ditembak jatuh oleh roket tak lama setelah lepas landas dari ibukota Somalia, Mogadishu. Insiden tersebut sedikitnya menewaskan 11 orang.
Parahnya, pesawat itu mengangkut para insinyur dan teknisi Belarusia yang telah melakukan perjalanan ke negara itu untuk memperbaiki pesawat lain yang juga terkena rudal dua minggu sebelumnya.
Laut Hitam: 78 tewas4 Oktober 2001: Tujuh puluh delapan orang, sebagian besar warga Israel, terbunuh ketika Siberia Airlines milik Rusia Tupolev-154, yang terbang dari Tel Aviv ke Novosibirsk, meledak di tengah penerbangan di atas Laut Hitam.
Kecelakaan itu terjadi kurang dari 300 kilometer (186 mil) dari pantai Krimea.
Seminggu kemudian Kyiv mengakui bahwa bencana itu disebabkan oleh penembakan rudal Ukraina secara tidak sengaja.
Iran: 290 tewas3 Juli 1988: Sebuah Airbus A-300 milik Iran Air, terbang dari Bandar Abbas di Iran ke Dubai di Uni Emirat Arab, ditembak jatuh di perairan teritorial Iran di Teluk Persia tak lama setelah lepas landas oleh dua rudal yang ditembakkan dari kapal perang milik angkatan bersenjata AS, USS Vincennes. Ketika itu, kapal yang tengah melakukan patroli rutin di Selat Hormuz tersebut, tampaknya mengira pesawat tersebut sebagai pesawat tempur. 290 penumpang di dalamnya tewas seketika, termasuk 66 anak-anak.
Atas kejadian itu, Amerika Serikat membayar Iran $101,8 juta sebagai kompensasi bagi para korban setelah keputusan dari Pengadilan Internasional berlaku.
Sebagai bagian dari perjanjian, AS sebetulnya tidak mengakui tuntutan hukum atau secara resmi meminta maaf kepada Iran atas tragedi itu. Sebaliknya, AS kemudian menganugerahi kapten USS Vincennes, Will C Rogers, Legiun Merit atas jasanya sebagai komandan.
Sakhalin, Rusia: 269 tewas1 September 1983: Pesawat Boeing 747 Korea Selatan milik Korean Air ditembak jatuh oleh jet-jet tempur Soviet di Pulau Sakhalin, setelah berbelok keluar jalur. Sekitar 269 penumpang dan anggota kru dilaporkan tewas.
Lima hari berselang, pejabat Soviet mengakui bahwa mereka telah menembak jatuh pesawat Korea Selatan. Insiden tersebut terjadi akibat ketidaksengajaan karena mengira pesawat komersial tersebut telah melalui daerah terlarang milik Rusia.
Baca juga: Tragedi 11 September, Mengenang Momen Keberanian Penumpang Melawan Teroris di United Airlines Flight 93Gurun Sinai: 108 tewas21 Februari 1973: Pesawat Arab Saudi Boeing 727 yang terbang dari Tripoli ke Kairo ditembak jatuh oleh pesawat tempur Israel di atas gurun Sinai. Semua penumpang kecuali empat dari 112 orang di dalamnya tewas.
Angkatan Udara Israel melakukan intervensi setelah Boeing menerbangkan fasilitas militer di Sinai, yang kemudian diduduki oleh Israel. Pihak berwenang Israel mengatakan para pejuang terpaksa melepaskan tembakan ketika pesawat menolak untuk mendarat.
Sejak tahun 1973, tercatat ada sekitar enam pesawat komersial yang jatuh ditembak rudal. Alasannya pun beragam, mulai dari ketidaksengajaan hingga keadaan genting yang mengharuskan operator pertahanan udara menembakkan rudal sekalipun dengan berbagai pertimbangan. Umumnya, titik tertembaknya pesawat-pesawat nahas tersebut berada di wilayah konflik.
Beberapa waktu lalu, peristiwa kelam di dunia penerbangan kembali terulang. Konflik berkepanjangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) sejak dekade 80-an kembali memakan korban. Kali ini korbannya justru berasal dari kalangan sipil yang tak berdosa.
Baca juga: Mengacu Data Intelijen, AS dan Kanada Yakin Boeing 737 Ukraine International Ditembak Rudal
Genderang perang Iran-AS dimulai ketika serangan drone MQ-9 Reaper milik AS menewaskan pemimpin Garda Revolusi Iran Jenderal Qasem Soleimani. Tak tinggal diam, Iran pun membalas dan menghujani pangkalan militer AS di Irak dengan rudal. Namun nahas, beberapa jam setelah serangan rudal tersebut sebuah pesawat Boeing 737-800 yang diduga terkena sistem anti rudal buatan Rusia milik Iran, Tor M-1, jatuh dan menewaskan seluruh penumpang dan awak kabin.
Disebut nahas, selain karena menewaskan seluruh penumpang dan awak kabin sebanyak 176 orang, di saat yang bersamaan, tak jauh dari lokasi tertembaknya pesawat Ukraine International PS752 tersebut ada beberapa pesawat lain yang juga tengah melintas. Beruntung pesawat-pesawat tersebut tidak mengalami nasib serupa.
Beberapa tahun sebelumnya, tepatnya pada 17 Juli 2014 silam, sistem rudal buatan Rusia juga pernah menjatuhkan sebuah pesawat komersil. Kali ini korbannya adalah Malaysian Airlines MH17. Dalam insiden tersebut, sedikitnya 298 orang tewas. Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, berikut rangkuman persamaan dan perbedaan insiden jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17 dengan Ukraine International PS752.
Boeing 737-800 milik Ukraine International Airlines. Sumber: Airline RatingsBoeing
Walaupun berbeda secara waktu, insiden rudal yang menjatuhkan Malaysia Airlines MH17 dengan Ukraine International PS752 sama-sama menggunakan pesawat buatan Boeing. Bedanya, jika Malaysia Airlines MH17 menggunakan jenis Boeing 777-200ER, maka Ukraine International PS752 menggunakan jenis 737-800.
Selain menjadi pukulan telak bagi kedua maskapai, jatuhnya kedua pesawat nahas tersebut juga menjadi pukulan telak bagi Boeing. Betapa tidak, selama beberapa dekade terakhir, puluhan armadanya berkali-kali harus kandas. Bahkan, yang paling menyeramkan dan menjadi misteri terbesar di dunia penerbangan adalah ketika pesawat Boeing jenis 777-200ER milik maskapai Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH370 hilang bak ditelan bumi. Meskipun hingga kini berbagai upaya masih terus dilakukan, namun, hal tersebut tetap tidak menggeser insiden tersebut sebagai sebuah misteri besar di era penerbangan modern.
Terlepas dari semua hal di atas, pesawat-pesawat Boeing tersebut, khususnya Boeing 777-200ER dan jenis 737-800 sama-sama tidak memiliki fitur sistem pertahanan. Peneliti di Middlebury Intitute of International Studies Michael Duitsman menyebut mustahil awak pesawat punya waktu untuk bereaksi terhadap rudal apapun.
(Pamper.My)Sistem Pertahanan Udara Buatan Rusia
Sistem anti pesawat atau biasa disebut juga rudal sistem pertahanan udara buatan Rusia lagi-lagi menjadi biang keladi dari jatuhnya pesawat komersial. Dalam kasus jatuhnya pesawat Ukraina International PS752, sistem rudal Tor M-1 diduga digunakan untuk menembak jatuh pesawat pabrikan Boeing tersebut. Adapun pesawat Malaysia Airlines MH17 ditembak jatuh diduga menggunakan sistem rudal BUK yang juga buatan Rusia.
Baik sistem rudal Tor-M1 maupun sistem rudal BUK keduanya sama-sama memiliki kemampuan yang mengerikan. Dikutip dari laman The Moscow Times, Federasi Ilmuan Amerika pernah meneliti serta menganalisis ancaman yang dihasilkan dari sistem rudal tersebut. Hasilnya, sistem rudal Tor M-1 diprediksi dapat mematikan target pada ketinggian hingga 6.000 meter dan jarak 12 kilometer.
Sedangkan sistem rudak BUK, yang notabene lebih dahulu hadir yakni sejak 1979, juga memiliki kemampuan yang tak kalah mengerikan. Bahkan dari sisi jangkauan, lebih unggul dibanding sistem rudal Tor M-1. Disebutkan, rudal tersebut mampu menjatuhkan sasaran dengan tepat pada radius 20 kilometer. Selain itu juga memiliki daya jelajah hingga 500 kilometer dari lokasi peluncuran. Jarak tersebut masuk dalam kategori menengah sehingga biasa digunakan untuk pertempuran darat. Tiap satu kendaraan Buk memiliki empat rudal yang siap diluncurkan. Tiap rudal itu memiliki hulu ledak seberat 180 kilogram dan dapat menembakkan hingga 24 target sekaligus.
sumber: wikipediaWilayah Konflik
Dari serangkaian kasus tertembaknya pesawat komersial, baik kargo maupun pesawat penumpang, pada umumnya terjadi di wilayah-wilayah yang sedang berseteru. Tak terkecuali dengan Malaysia Airlines MH17 dan Ukraine International PS752.
Beberapa jam sebelum pesawat Ukraine International PS752 melintas, langit ibu kota Irak, Baghdad, memang sedang dihiasi oleh rudal-rudal kiriman Iran. Namun, siapa nyana, Iran yang pada umumnya aman dari serangan milliter justru menjadi negara terakhir yang disinggahi. Sejak hubungan antara Iran dan AS menagang, otoritas militer Iran memang tengah mengaktifkan sistem pertahanan udara mereka.
Setelah kejadian tersebut, berbagai maskapai dari berbagai penjuru dunia menyatakan bahwa pihak mereka akan mengalihkan rute penerbangan mereka agar tidak melewati langit Iran dan Irak. Salah satu maskapai tanah air yang menyatakan tersebut adalah Garuda Indonesia.
Baca juga: Imbas Konflik AS vs Iran, Garuda Indonesia Gunakan Rute Mesir-Yunani untuk Ke Eropa
Senada dengan Ukraine International PS752, Malaysia Airlines MH17 tujuan Kuala Lumpur – Amsterdam juga melintas di tengah ketegangan yang terjadi antara Rusia dan Ukraina. Kala itu, gelombang separatisme pro-Rusia tengah melancarkan berbagai serangan terhadap pemerintah Ukraina yang tujuan akhirnya adalah menyatukan kembali imperium Uni Soviet yang telah lama runtuh.
Meskipun sempat saling tuduh, penyidik internasional yang terdiri dari Belanda, Australia, Belgia, Malaysia dan Ukraina melaporkan bahwa banyak temuan yang mengarah pada rudal buatan Rusia. Selain itu, sadapan telepon juga menunjukkan bahwa Rusia mengarahkan separatis pro-Rusia.
Di akhir 2019, aktivis lingkungan berusia 16 tahun membuat isu lingkungan kembali hangat diperbincangkan. Lewat pidato kerasnya di markas PBB dalam sidang KTT Perubahan Iklim, Greta Thunberg mengecam para pebisnis dan pemerintah yang gagal bertindak lebih atas perubahan iklim. Aksi tersebut pun menuai pujian dari warga internasional. Salah satunya artis Hollywood yang juga aktivis lingkungan, Leonardo DiCaprio.
Baca juga: Di India, Suzuki Ertiga Hadir Dalam ‘Setelan’ Taksi Lho!
Terlepas dari pidato viral Greta Thunberg, beberapa tahun belakangan berbagai negara memang sedang berlomba-lomba untuk menerapkan energi hijau (red: ramah lingkungan) terbarukan. Langkah tersebut kemudian juga didukung dengan diterapkannya undang-undang emisi guna menciptakan udara bersih dan sehat. Salah satunya di India.
Sebagai bagian dari langkah sadar lingkungan untuk memerangi polusi, pada tahun 2008, pemerintah di Mumbai, Maharashtra, India, melarang semua taksi berusia 25 tahun ke atas. Pada 2013, peraturan tersebut diubah menjadi 20 tahun. Dalam setiap putusannya, ribuan taksi Premier Padmini, sebuah mobil ikonik yang mengangkut orang-orang Mumbai selama beberapa dekade, telah menghilang dari sudut-sudut jalan.
Pada akhir tahun 2019, diperkirakan sekitar 50 Padminis masih bisa beroperasi, dan pada Juni 2020, taksi ikonik India yang telah menghiasi jalan-jalan selama beberapa dekade dipastikan akan berakhir.
“Aku rindu Padmini. Dia mobil yang tangguh,” kata Maurya, supir taksi Ram Vilas, seperti dilansir npr.org, Senin (13/01). Ia pun kemudian membandingkan, bahwa mobil modern yang dia kendarai saat ini mengalami penyok bahkan pada tabrakan sekecil apa pun. Menurutnya, Padmini tidak seperti itu.
Asal-usul Premier Padmini sendiri dimulai pada tahun 60-an dalam bentuk Fiat 1100D, yang juga dikenal sebagai Delight 1100. Model Fiat mulanya berfungsi sebagai ikon dari Premier Automobiles. Kemudian berganti nama menjadi Premier Padmini setelah mobil asal Italia tersebut dibuat di India.
Baca juga: Tingkatkan Keselamatan, Otoritas Transportasi India Siap Sodorkan QR Code untuk Penumpang
Mobil menjadi sangat populer dan penjualan melonjak karena menjadi taksi pilihan. Otoritas setempat memperkirakan sekitar 60.000 Padminis berada di Mumbai pada puncak keemasannya. Sayangnya, pasar terbuka dan masuknya mobil modern di tahun 90-an menghancurkan taksi dengan warna khas hitam dan kuning tersebut hingga akhirnya produksi dihentikan pada tahun 2000.
Semua penumpang MRT dalam kereta yang tengah berhenti di Stasiun Raffles Place harus turun untuk dievakuasi. Pasalnya kereta yang mereka tumpangi mengeluarkan asap putih karena kompresor pendinging udara (AC) bocor. Insiden ini terjadi pada Jumat (10/1/2020) sekitar pukul 12.45 waktu setempat di platform timur stasiun.
Baca juga: Manajer Stasiun SMRT Baik Hati, Penumpang Diberi $100KabarPenumpang.com melansir dari laman straitstimes.com (10/1/2020), kepala komunikasi SMRT Margaret Teo mengatakan pihaknya telah mengkonformasi bahwa asap itu disebabkan oleh kompresor pendingin udara yang bocor dan melepaskan gas freon.
“Sebagai tindakan pencegahan keselamatan, semua penumpang di dalam kereta yang terkena dampak diminta untuk turun dan naik kereta berikutnya,” kata Margaret.
Dia menambahkan kereta yang bermasalah tersebut ditarik dari layanan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Untungnya insiden ini tidak menyebabkan kebakaran dan cedera pada penumpang. “Kami minta maaf karena insiden ini memengaruhi perjalanan Anda,” ujar Margaret.
Seorang penumpang yang juga saksi dari kejadian mengatakan dirinya berada di kereta dan menuju Stasiun Raffles Place dari Staisun Tanjong Pagar ketika melihat asap di kabin dan merasakan bau terbakar.
“Baunya sangat kuat dan penumpang turun setelah kereta mencapai Raffles Place. Pengumuman yang ada dalam kereta pun mengatakan, kereta akan berhenti di stasiun untuk sementara waktu. Tidak ada kekacauan, hanya beberapa kecemasan di antara penumpang,” ujar Benny Ong.
Tak hanya itu, Pearly Hoon yang naik dari Staisun Outram Park mengatakan, kereta mulai dipenuhi asap di antara Stasiun Tanjong Pagar dan Raffles Place. Dia mengatakan, asap tersebut memiliki bau yang sangat kuat mirip dengan asap fumigasi dan menyebabkan sedikit keributan.
Baca juga: MRT Singapura Larang Pengguna PMD untuk Gunakan Layanan!
“Seorang wanita di sampingku mengeluarkan masker dan mengenakannya. Beberapa orang di gerbong lain berjongkok dan yang lainnya mulai menutupi hidung dan mulut serta mulai batuk,” ujar Hoon.
Sebelumnya pada Juni 2018, kebocoran gas freon di kereta menuju ke timur memaksa para penumpang untuk turun di stasiun MRT Tanjong Pagar.
Perjalanan wisata perdana SpaceX ke bulan direncanakan tahun 2023 dan misi tersebut menjadi perjalanan bulan pertama oleh manusia setelah tahun 1972 lalu. Dalam perjalanan ini, Yusaku Maezawa terpilih menjadi penumpang sipil pertama yang terbang di sekitar bulan dengan roket Starship.
Baca juga: SpaceX Sebut Pemilik Situs Belanja Online Terbesar di Jepang Jadi Orang Pertama Kunjungi Bulan di 2023
Sebagai orang yang terpilih untuk menikmati perjalanan wisata perdana SpaceX ke bulan, membuat Maezawa mencari pendamping hidup. Dia bahkan mengatakan ingin berbagi pengalaman terbang ke bulan ini bersama dengan wanita spesial tersebut.
“Ketika perasaan kesepian dan kekosongan perlahan mulai menggelora pada saya, ada satu hal yang saya pikirkan yaitu terus mencintai seorang wanita,” tulis Maezawa dalam website yang dikutip KabarPenumpang.com dari bbc.com (13/1/2020).
Dia mengatakan, ingin menemukan pasangan hidup dan mau meneriakkan cinta dan kedamaian dunia dari luar angkasa. Dalam situs web tersebut, ada daftar dan jadwal aplikasi pencarian pasangan hidup yang akan diproses selama tiga bulan. Kriteria yang diinginkan pria 44 tahun itu adalah pelamar harus wanita lajang dengan usia diatas 20 tahun. Selalu positif dan juga punya minat untuk pergi ke luar angkasa.
Batas pendaftaran pencarian calon pasangan hidup ini hingga 17 Januari 2020 mendatang dan keputusan akhirnya akan diumumkan pada akhir Maret. Pendiri situs belanja online Jepang Zozo Inc ini, bahkan berjanji membagikan 100 juta Yen pada 100 orang yang dipilih secara acak bila berbagi salah satu tweet miliknya.
“Untuk berpartisipasi, yang harus Anda lakukan adalah mengikuti saya dan re-tweet pesan saya ini,” jelasnya.
Maezawa diperkirakan memiliki kekayaan pribadi hampir US$3 miliar dan banyak dihabiskan untuk seni. Dia menjadi terkenal di luar negeri pada akhir tahun lalu setelah dinobatkan sebagai penumpang pribadi pertama yang akan terbang ke bulan bersama SpaceX.
Baca juga: WARR Hyperloop Pertahankan Gelar Juara di Kompetisi Besutan SpaceX Hyperloop
SpaceX sendiri diketahui milik miliander terkenal Elon Musk. Untuk terbang ke bulan ini, belum diketahui berapa banyak uang yang akan dikeluarkan oleh Maezawa. Tak hanya dengan pendamping hidup, Maezawa juga berencana membawa sekelompok seniman dalam pejelajahannya ke bulan.
PT Angkasa Pura I (AP I) menggandeng Incheon International Airport Corporation (IIAC) dan PT Wijaya Kary Tbk (WIKA). untuk mengikuti seleksi pengelolaan Bandara Hang Nadim Batam melalui mekanisme Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Hal tersebut ditandai dengan pendatanganan perjanjian konsorsium yang dilakukan oleh Direktur Utama Angkasa Pura I Faik Fahmi, Presiden & CEO IIAC Koo Bon Hwan, serta Direktur Utama Wijaya Karya Tumiyana, Senin (13/1/2020) malam di Jakarta.
Baca juga: Kelola Bandara-bandara Potensial di Dalam dan Luar Negeri, Angkasa Pura I Gandeng Incheon
Sebagai pemimpin konsorsium, Angkasa Pura I akan bertanggung jawab dalam hal manajemen operasional dan komersial secara umum. Sementara IIAC memiliki kewajiban dan tanggung jawab dalam hal pemasaran dan strategi pengembangan bandara secara umum. Sedangkan Wijaya Karya selaku BUMN bidang konstruksi yang terintegrasi dengan industri pendukungnya bertanggung jawab dalam hal manajemen infrastruktur bandara.
“Kerja sama ini merupakan salah satu strategi perusahaan dalam mengembangkan bisnisnya sekaligus menegaskan komitmen Angkasa Pura I untuk memperluas jaringan pengelolaan bandara di Indonesia. Kami optimistis berpeluang lebih besar untuk mendapatkan kontrak kerja sama pengelolaan Bandara Hang Nadim Batam dengan menggandeng Incheon dan Wijaya Karya sebagai mitra strategis, mengingat kemampuan dan pengalaman global di sektor kebandarudaraan dan konstruksi bandar udara yang konsorsium ini miliki,” kata Direktur Utama PT Angkasa Pura I Faik Fahmi yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers.
Sebelumnya, pada 14 Agustus 2019 lalu Angkasa Pura I telah menandatangani nota kesepakatan dengan IIAC untuk menjajaki peluang kerja sama pengelolaan bandara-bandara potensial di dalam negeri maupun luar negeri. Salah satunya adalah peluang pengelolaan Bandara Hang Nadim Batam ini. Selain itu sebagai bentuk pengakuan atas kualitas pengelolaan operasional yang dimiliki Angkasa Pura I di mata internasional, IIAC secara resmi juga menggandeng Angkasa Pura I dalam rencana pengelolaan Terminal 4 Bandara Internasional Kuwait.
Angkasa Pura I akan mengirimkan tenaga ahli yang dimilikinya pada periode 2021-2023. Kemudian dilanjutkan dengan keikutsertaan Angkasa Pura I – IIAC dalam seleksi pengelolaan Terminal 2 Kuwait Bandara Internasional Kuwait dan Bandara Internasional Jeddah di Arab Saudi pada masa yang akan datang.
Baca juga: Liburan Nataru 2020, Angkasa Pura I Akui Adanya Penurunan Jumlah Penumpang
Sebagai informasi, saat ini Angkasa Pura I mengelola 15 bandara komersial di Indonesia dengan total penumpang yang dilayani sebanyak 96,7 juta penumpang di tahun 2018 atau meningkat sebesar 7,8 persen dari 89,7 juta penumpang yang dilayani di tahun sebelumnya. Di bawah pengelolaan Angkasa Pura I, tiga belas bandara berhasil memperoleh sejumlah pengukuran terbaik Airport Service Quality dari Airport Council International (ACI) dengan rata-rata skor 4,6 pada tahun 2018.