Heboh Boeing Sebut Lion Air ‘Idiot’, Berikut Penyebabnya!

Di balik peristiwa kelam yang menewaskan 189 kru dan penumpang Lion Air JT610, tersiar kabar bahwa Boeing rupanya sempat menolak permintaan Lion Air. Tak hanya itu, atas permintaan tersebut, Boeing merespon dengan menyebut Lion Air ‘Idiot’. Baca juga: Belum Tuntas Soal Regulasi, Boeing Kembali Temukan Masalah di 737 MAX Peristiwa tersebut bermula ketika Boeing memproduksi seri terbaru dari 737, yakni 737 Max 8 pada tahun 2017. Lion Air, ketika itu menyatakan komitmennya untuk membeli pesawat dalam jumlah besar, setelah melakukan pertemuan dengan Boeing disela-sela ajang Paris Air Show. Tak main-main, beberapa sumber menyebut total pemesanan dari Lion Air Grup saat itu mencapai ratusan unit. Sebagai pesawat dengan model terbaru, tentu terdapat beberapa fitur yang tidak dimiliki seri sebelumnya. Keadaan tersebut kemudian membuat Lion Air mengajukan permintaan kepada Boeing agar para pilotnya belajar di simulator terlebih dahulu. Namun, Boeing menolaknya. Bahkan, menyebut Lion Air idiot. Kabar Boeing menyebut Lion Air ‘Idiot’ pertama kali beredar luas usai Bloomberg memuat pemberitaan mengenai hal itu. Seperti dikutip KabarPenumpang.com dari laman tersebut, sumber dalam yang dipercaya media asal AS tersebut mengungkap bagian komunikasi dan memo internal yang tidak biasa. Betapa tidak, Boeing dengan gamblang menyebut Lion Air ‘idiot’. “Sekarang Lion Air minta pelatihan simulator untuk penerbangan (Boeing 737) Max, mungkin lantaran kebodohan mereka sendiri. Saya kebingungan bingung bagaimana menolak ini sekarang, idiot,” tulis seorang pegawai Boeing dalam memo pada 2017 lalu. Bila melihat alasan yang dilontarkan, sebetulnya Boeing seolah berada dalam posisi yang benar, mengingat, mereka menolak dengan alasan cara pengoperasian 737 Max 8 sama dengan seri 737. Di samping itu, maskapai lain pada umumnya, Airbus, misalnya, juga melatih para pilot dengan menerbangkan Airbus Beluga ST sebelum menerbangkan versi barunya, yakni Airbus Beluga XL. Airbus melakukan itu karena dinilai Beluga XL serupa dengan Beluga ST, sekalipun terdapat beberapa pembaharuan. Di samping itu, permintaan Lion Air agar para pilotnya berlatih di simulator juga dinilai tak masuk akal. Pasalnya, maskapai yang tergabung dalam Lion Air Grup, Malindo Air, sebelumnya sudah menerbangkan pesawat 737 Max 8 tersebut. Setelah insiden jatuhanya pesawat Lion Air JT 610, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mulai melakukan investigasi. Alasan Boeing untuk menolak permintaan Lion Air pun akhirnya mentah setelah pada tahun 2019, KNKT mengungkap penyebab jatuhnya pesawat Lion Air JT 610. Menurut mereka, jatuhnya pesawat terjadi karena kerusakan Manuvering Characteristics Augmentation System (MCAS). Baca juga: Bingung dengan ‘Bahasa Teknis’ di Laporan Akhir KNKT Seputar JT-610? Ini Penjelasannya! KNKT membeberkan minimnya informasi yang seharusnya disampaikan pihak Boeing membuat pilot kesulitan dalam mengalami kerusakan MCAS saat pesawat di udara. Akibatnya, awak pesawat panik dan salah dalam mengambil langkah. Fakta terbaru tersebut telah membuat pihak Boeing enggan berkomentar lebih banyak. “Segala potensi kekurangan terkait keamanan yang telah teridentifikasi dalam dokumen telah diatasi,” tutupnya.

Saipan Jadi Kota Wisata Melahirkan, Pelancong Wanita Wajib Tes Kehamilan Sebelum Naik Pesawat!

Saipan, sebagai bagian dari pesemakmuran Amerika Serikat di Kepulauan Mariana Utara menjadi tujuan favorit pelancong melahirkan. Hal ini dilakukan para pelancong agar bayi mereka bisa menjadi warga negara Amerika. Baca juga: Catat Laba Spektakuler di 2018, Cathay Pacific Berencana Akuisisi Hong Kong Express Apalagi kebijakan imigrasi di Saipan berbeda dengan daratan Amerika yang mana memungkinkan pelancong seperti Cina tak perlu visa ketika berkunjung. Karena hal tersebut, dalam beberapa tahun terakhir, wisata kelahiran menjadi begitu merajalela di Saipan, sehingga lebih banyak bayi yang dilahirkan oleh pelancong daripada penduduk tetapnya. Karena hal inilah seorang wanita yang menuju ke Saipan dituntut untuk melakukan tes kehamilan sebelum bepergian padahal dirinya tidak hamil. KabarPenumpang.com melansir laman cnn.com (15/1/2020), wanita asal Jepang ini ketika di konter check in di Bandara Internasional Hong Kong diharuskan untuk melakukan penilaian fit to fly termasuk tes kehamilan. Wanita 25 tahun tersebut mengatakan staf maskapai mengantarnya ke kamar mandi dan menyerahkan alat tes kehamilan. Dia bahkan tidak boleh naik ke pesawat sampai tes tersebut menunjukkan hasil negatif. “Itu sangat memalukan dan membuat frustasi. Apalagi maskapai mengamati diriku memiliki ukuran atau bentuk tubuh seperti wanita hamil,” ujar pelancong asal Jepang tersebut. Karena hal ini, pihak Hong Kong Express menyatakan permintaan maaf kepada penumpang tersebut melalui sebuah pernyataan. “Kami ingin meminta maaf atas kesusahan yang ditimbulkan.” Pihak maskapai menyebut berada di bawah tekanan dari otoritas di Saipan untuk meningkatkan pemeriksaan pada penumpang. “Kami mengambil tindakan pada penerbangan ke Saipan dari Februari 2019 untuk membantu memastikan undang-undang imigrasi AS tidak disalahgunakan. Di bawah manajemen baru, kami menyadari keprihatinan yang disebabkan oleh praktik ini. Kami segera menangguhkan praktik tersebut saat kami meninjaunya,” ujar pernyataan tersebut. Diketahui, tahun 2018, para wisatawan melahirkan 582 bayi di pulau-pulau itu, sementara hanya 492 yang lahir dari penduduk tetap, menurut angka dari Kantor Statistik Kesehatan dan Vitalitas Mariana Utara. Pelancong Cina menyumbang sebagian besar kelahiran dari 582 tahun itu, 575 melibatkan warga Cina. Baca juga: Kisruh Tak Kunjung Reda, Bandara Hong Kong Kehilangan 16,2 Persen Penumpang Kepulauan Mariana Utara memiliki populasi lebih dari 50 ribu, menurut perkiraan Sensus AS pada tahun 2018. Popularitas wisata kelahiran di Saipan telah mendorong pihak berwenang untuk mengambil tindakan, seperti memberikan tekanan pada maskapai penerbangan untuk menyaring penumpang.

Sedih! Prototipe Pesawat Teranyar Rusia Ilyushin IL-96-400M Nyaris Rampung, Tapi Sepi Peminat

Pabrikan pesawat asal Rusia, Ilyushin (IL), mengumumkan bahwa prototipe pesawat terbarunya, Il-96-400M, hampir selesai. Pesawat yang dikembangkan dari seri sebelumnya tersebut (Il-96-300), saat ini tengah dalam tahap menempelkan sayap ke badan pesawat dan memulai pemasangan sistem kontrol penerbangan serta interior kabin. Perakitan akhir prototipe uji terbang dijadwalkan selesai sebelum akhir tahun ini, diikuti dengan serangkaian uji coba. Baca juga: Sergey Vladimirovich Ilyushin – Dari Keluarga Petani Sukses Sebagai Founder Pabrikan Pesawat Rusia Progres tersebut sebetulnya sangat molor dari target sebelumnya, yakni rampung pada akhir 2019. Dengan begitu, hampir dapat dipastikan, IL-96-400M belum akan mengudara pada akhir 2020 mendatang. Hal tersebut tentu sangat sejalan, mengingat, Ilyusin belum menerima satupun penawaran yang pasti untuk memboyong pesawat berbadan lebar tersebut. Dikutip dari rusaviainsider.com, sepinya peminat pesawat yang dijanjikan bakal dilengkapi dengan berbagai fitur modern tersebut disinyalir disebabkan oleh banyak hal, mulai dari ketatnya persaingan, kurangnya pemasaran, hingga intrik politik. Hal tersebut (intrik politik) tentu sangat wajar, mengingat saat ini, produsen pesawat terbang komersial dikuasai oleh dua pabrikan besar, Boeing dan Airbus. Keduanya juga disokong oleh kubunya masing-masing, dalam hal ini AS (Boeing) dan Eropa (Airbus). Meskipun demikian, direktur umum Ilyushin, Yury Grudinin, menampik kabar miring tersebut. Keterlambatan produksi pesawat dari jadwal yang sudah disepakati sebelumnya diakibatkan oleh peningkatan berbagai fitur canggih pesawat. Selain itu, jadwal padat VASO (Voronezh Aircraft Production Association) juga turut menyebabkan keterlambatan tersebut. “Pergeseran kecil dari penerbangan perdananya dapat terjadi karena pabrik Voronezh sedang sibuk dengan proyek-proyek lain. Ini terus dimuat hingga 2026,” ujarnya. Terlepas dari berbagai spekulasi dan keterangan atas keterlambatan tersebut, faktanya, pada tahun 2017, Ilyushin mengumumkan bahwa pengembangan pesawat IL-96-400M tersebut akan memerlukan suntikan finansial lebih dari 53 miliar rubel (US $ 0,85 miliar), termasuk 10 miliar rubel untuk penelitian dan pengembangan, 1,5 miliar rubel untuk meningkatkan fasilitas manufaktur VASO dan 42 miliar rubel untuk menambah modal perusahaan leasing milik negara, yang akan menjadi pelanggan pesawat. Pada tahun 2018, pemerintah Rusia pun kemudian mengalokasikan 1,32 miliar rubel ke induk perusahaan Ilyushin, United Aircraft Corporation (UAC) untuk program tersebut. Baca juga: Sama-sama Jatuh Dirudal, Inilah Persamaan dan Perbedaan Insiden Malaysia Airlines MH17 dan Ukraine International PS752 Dana sebesar itu tentu tak mengherankan, bila melihat dari kelengkapan fitur-fitur canggih pada pesawat tersebut. Salah satu yang terbaik adalah fitur sistem pertahanan udara untuk melawan rudal anti pesawat portabel atau man-portable air defence systems (MANPADS). Sistem tersebut sangatlah penting, mengingat, banyak insiden tertembaknya pesawat komersial di negara-negara yang tengah terlibat konflik akibat tidak dilengkapi oleh fitur tersebut. Selain itu, nantinya, pesawat IL-96-400M akan memiliki tiga opsi, yakni tata letak kabin kelas ekonomi tunggal untuk 402 penumpang, konfigurasi dua kelas dengan 350 kursi, dan 305 kursi dalam tata letak tiga kelas. Pesawat tersebut juga akan disokong oleh mesin terbaru, PS-90A1, buatan Rusia, yang dikembangkan dari mesin sebelumnya.

Berusaha Serang Kokpit, Penumpang ini Akibatkan Pramugari dan Polisi Luka-luka

Seorang penumpang didakwa setelah menyerbu kokpit, menyerang pramugari dan polisi dalam penerbangan ke New Jersey. Insiden itu terjadi pada Kamis (9/1/2020) malam dalam pesawat United Express yang dioperasikan oleh Commut Air yang berangkat dari Bandara Internasional Dulles di Virginia menuju ke Bandara Internasional Newark Liberty. Baca juga: Ngotot Merokok di Dalam Kabin, Penumpang Alaska Airlines Dibekuk Petugas Keamanan Menurut saksi mata, Matthew Dingley keluar dari kursi dan berlari menuju ke arah kokpit sebelum menggedor pintu. Saksi mata insiden itu, Mike Egbert mengatakan, karena ulah pelaku maka seorang pramugari yang akan menghentikannya justru menjadi fokus penyerangan. KabarPenumpang.com melansir laman cnn.com (13/1/2020), Egbert mengatakan, penumpang lain datang untuk membantu pramugari tersebut agar terlepas dari serangan Dingley. Pilot di kokpit yang merasa penerbangannya terganggu kemudian menghubungi bandara tujuan untuk meminta bantuan polisi menangani penumpang tersebut. Ketika pesawat mendarat dan pintu terbuka, seorang polisi diserang Dingley dan terjatuh dari tangga pesawat. Port Authority Police mengatakan, petugas itu mengalami patah tulang rusuk. Untungnya saat itu polisi yang lain datang untuk membantu dan Dingley kemudian di tahan. Scott Ladd, juru bicara Port Authority New York dan New Jersey mengatakan enam orang petugas dan pramugari langsung dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan. Chief Operating Officer CommutAir Joel Raymond mengatakan dalam sebuah pernyataan, penerbangan yang terganggu oleh penumpang tersebut mendarat dengan sempurna dan pihak kepolisian langsung menangani penumpang tersebut. “Perhatian utama kami adalah selalu untuk memastikan keselamatan semua pelanggan dan kru dan kami bekerja sama dengan pihak berwenang. Kami mengucapkan terima kasih atas reaksi cepat penumpang dan kru kami yang merespons selama insiden ini,” ujar pernyataan tersebut. Baca juga: Boeing 737 Biman Bangladesh Dibajak, Drama Berakhir dengan Tewasnya Pelaku Dingley kemudian dimasukkan ke penjara Essex County pada Jumat (110/1/2020) atas dakwaan penyerangan yang membuat luka, pelanggaran pidana, menentang penangkapan dan mengganggu perjalanan transportasi. Setelah dimasukkan dalam penjara, Dingley tidak mengatakan apapun.

Didera Sanksi Ekonomi, Pembangunan Bandara Tehran Sempat Mangkrak Hingga 25 Tahun

Bandara internasional Imam Khomeini atau Tehran Imam Khomeini International Airport (IKIA) belakangan banyak disebut oleh media internasional. Bukan karena inovasi atau teknologi kekinian yang membuatnya dibicarakan banyak orang, melainkan insiden jatuhnya pesawat komersil, Ukraine International Airlines PS752, tak jauh dari bandara akibat sistem pertahanan udara Iran. Baca juga: Sejak 1973, Iran, Rusia dan AS Ternyata Pernah Menghantam Pesawat Penumpang dengan Rudal Terlepas dari insiden tersebut, tak banyak yang tahu, bahwa ternyata bandara kedua di ibu kota Iran tersebut (setelah Bandara Internasional Mehrabad) sempat mangkrak selama 25 tahun akibat sanksi ekonomi AS yang bertubi-tubi. Dengan rentan waktu selama itu, bukan tak mungkin, Bandara Internasional Imam Khomeini bisa dinominasikan dalam daftar bandara dengan pembangunan terlama di dunia. Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, sanksi ekonomi terhadap Iran mulai dilakukan pada November 1979. Ketika itu, AS dituding melakukan intervensi terhadap politik dalam negeri Iran dengan memberikan suaka kepada pemimpin Iran yang tengah diasingkan, tak lama setelah revolusi Iran. Gelombang protes pun bermunculan hingga kantor kedutaan AS digeruduk dan menawan semua orang di dalamnya. Sanksi kemudian dihentikan pada tahun 1981 setelah Iran membebaskan warga AS yang ditawan. Selanjutnya, secara sporadis, AS terus-menerus memberikan sanksi kepada Iran. Tahun 1980, 1983, 1987, 1995, 1996, hingga 2005 menjadi tahun-tahun sulit bagi pemerintahan Iran. Bahkan, berbagai kesulitan tersebut (sanksi ekonomi oleh AS) akan terus berlangsung hingga kini. Beruntung, sebelum sanksi ekonomi jilid ke-7 diterapkan (2005), Iran terlebih dahulu mengumumkan bahwa bandara anyarnya akan mulai diresmikan pada 11 Februari 2004. Meskipun demikian, sisa-sisa sanksi ekonomi masih terus membekas hingga peresmian bandara yang memiliki luas 33.000 hektar tersebut molor. Kala itu, ada banyak masalah yang terjadi. Mulai dari pembangunan yang belum rampung, pasokan bahan bakar yang amburadul, hingga keterlambatan dalam menandatangani kesepakatan dengan kementerian perminyakan Iran. Pada akhirnya, 8 Mei 2004, bandara tersebut benar-benar bisa diresmikan oleh Presiden Iran kala itu, Mohammad Khatami. Menariknya, walaupun AS dan Iran tak henti-hentinya terlibat ketegangan, pembangunan bandara yang sempat menjadi satu-satunya akses keluar masuk Iran tersebut sempat diramaikan dengan campur tangan (AS). Pembangunan bandara dimulai sebelum revolusi Iran 1979. Ketika itu, desainer asli adalah Tippetts-Abbett-McCarthy-Stratton (TAMS), sebuah kemitraan konsultan teknik dan arsitektur Amerika. Campur tangan AS dalam pembangunan bandara kebanggaan publik Iran tersebut, mulai menemui titik terang ketika usaha patungan lokal dibentuk antara TAMS dan firma lokal Abdol Aziz Farmanfarmaian Associates yang disebut TAMS-AFFA, untuk melaksanakan desain penuh dan pengawasan konstruksi. Namun, setelah revolusi Iran, sentimen anti-AS pun menguat yang pada akhirnya mendorong proyek tersebut (TAMS-AFFA) ditinggalkan sampai pemerintah Iran akhirnya memutuskan untuk merancang dan membangun bandara menggunakan insinyur lokal. Baca juga: Imbas Konflik AS vs Iran, Garuda Indonesia Gunakan Rute Mesir-Yunani untuk Ke Eropa Hingga kini, walaupun terus menerus di embargo, bandara IKIA masih terus beroperasi seperti biasa. Bahkan sejak tahun 2013, Tehran Imam Khomeini International Airport (IKIA) terus-menerus mengalami peningkatan hingga mencapai angka 8,852,232 pengunjung pada 2017. Naik 13 persen dibanding tahun sebelumnya. Bahkan, pada tahun 2013 tersebut, IKIA yang melayani satu-satunya rute internasional di Iran (selain Bandara Internasional Mehrabad yang melayani rute dari dan ke Damaskus, Jeddah, dan Madinah) didaulat sebagai bandara tersibuk di Timur Tengah dengan kunjungan mencapai 4 juta lebih wisawatan. Wisatawan pada umumnya datang dari negeri-negeri di Timur Tengah, seperti Turki, Irak, Uni Emirat Arab, hingga Qatar.

Akhirnya! “Si Manis Paus Terbang” Airbus Beluga XL Resmi Mengudara

Setelah melalui serangkaian tes sejak pertengahan 2018, Airbus Beluga XL akhirnya resmi dioperasikan pada Januari 2020. Pesawat yang mirip dengan paus putih Beluga Arktik tersebut nantinya akan mendukung mobilitas distribusi komponen pesawat Airbus di 11 destinasi, antara lokasi produksi Eropa (Wales, Spanyol serta beberapa negara lainnya) dan jalur perakitan akhir di Toulouse, Prancis; Hamburg, Jerman; dan Tianjin, Cina. Baca juga: Libatkan 1.500 Perusahaan, Inilah Proses Perakitan Airbus A380 Yang Fenomenal Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, sebagai pesawat pendukung kebutuhan Airbus yang kini semakin membesar, mengingat kompetitornya (Boeing) sedang dalam kondisi terpuruk, tentu saja Airbus Beluga XL memiliki banyak keunggulan dibanding pendahulunya, Beluga ST . Beluga ST, yang telah beroperasi sejak 1994 silam, hanya mampu mengangkut 45 ton dengan menggunakan pesawat jenis A300-600ST. Sedangkan Beluga XL mampu mengangkut payload enam ton lebih banyak atau 51 ton. Selain itu, dimensinya yang enam meter lebih panjang (20 kaki atau sekitar 63,1 meter) dan satu kali lebih lebar dari pendahulunya, juga memungkinkan pesawat yang mampu terbang 2.500 mil atau 4.000 kilometer setiap kali perjalanan tersebut mengangkut dua sayap pesawat A350. Sedangkan Beluga ST hanya sanggup menampung satu. Kapasitas yang besar tersebut juga didukung oleh dua mesin Rolls-Royce Trent 700. Meskipun Airbus Beluga XL masih kalah jauh dari sisi dimensi dan muatan dibanding Boeing 747-8 yang mampu mengangkut 345 ton, desain Airbus Beluga XL yang unik membuat pesawat ini banyak dilirik oleh mitra bisnisnya (Airbus). Perjalanan Airbus Beluga XL hingga resmi beroperasi secara komersial pada beberapa waktu lalu tidaklah mudah. Setelah pertama kali mengudara di langit Kota Toulouse, Perancis, Juli 2018, serta diikuti serangkaian uji coba untuk mencapai minimal terbang 600 jam, desain Beluga yang kini beroperasi juga harus melewati proses yang alot. Desain Airbus Beluga XL pertama kali diumumkan pada 2014. Ketika itu, tak banyak perbedaan memang, dari segi dimensi. Namun, dari segi penampilan, desain Airbus Beluga XL jauh lebih mencolok dan menarik perhatian orang. Para insinyur pun akhirnya memberikan enam model desain sebagai pilihan. Dikutip dari partsolutions.com, setelah melalui tahap voting, desain paus Beluga Arktik yang didominasi warna biru akhirnya mendapat 40 persen atau 20.000 suara yang menjadi suara mayoritas. Meskipun Airbus belum secara resmi mengumumkan berbagai desainnya yang lain, beberapa pengamat menduga Beluga versi pink menempati posisi runner-up. Baca juga: Goyang Pasar Boeing, Airbus Bakal Bangun Dua Jalur Produksi di Amerika Utara Dibalik desain imut paus terbang Airbus Beluga, sebetulnya, secara kasat mata, membuat orang awam sempat bingung terkait posisi kokpit pesawat. Terlebih, ketika dahi pesawat terbuka untuk memuat keluar masuk barang. Sebab, posisi kokpit sedikit samar dengan warna hitam yang melintang bagaikan senyum paus putih Arktik. Hingga kini, Airbus Beluga XL sudah diproduksi sebanyak lima unit. Rencananya, hingga tahun 2023, Airbus akan memproduksi lima pesawat lainnya. Sebagai informasi, harga satu unit Airbus Beluga XL mencapai satu miliar dolar atau sekitar Rp 1,3 triliun.

Seorang Penumpang Tertidur, Bangun-Bangun Gerbong Terkunci

Seorang penumpang tertidur dalam gerbong kereta api dan terjebak selama semalaman karena pintu terkuci dan apesnya baterai ponsel habis. Kisah luar biasa unik ini terjadi pada Minggu (22/12/2019), di mana seorang penumpang naik kereta dari Stasiun Be’er Sheva Center di Jalur Negev Barat, Israel. Baca juga: Tertidur Sepanjang Perjalanan, Penumpang Air Canada Terbangun dalam Kabin Gelap dan Kosong Ketika kereta masuk ke Stasiun Ashdod penumpang tersebut tertidur. Ketika penumpang terbangun di tengah malam di stasiun kereta Ra’anana, mendapati dirinya berada di gerbong yang terkunci. Baterai teleponnya habis dan dia tidak dapat menghubungi keluarga atau layanan darurat untuk meminta bantuan. Dia baru bisa keluar dari gerbong kereta setelah stasiun mulai beroperasi pada pagi hari. Keluarnya penumpang dari gerbong setelah terkunci semalaman mebuat para pekerja kaget. KabarPenumpang.com melansir laman ynetnews.com (14/1/2020), padahal petugas Israel Railways selalu menyisir setiap gerbong sebelum mengunci dan mematikan lampu kereta. Penyisiran tersebut dilakukan untuk melihat apakah ada barang penumpang yang tertinggal atau penumpang yang salah stasiun. Namun dari laporan inspektur kereta, dirinya tidak menemukan penumpang pria tersebut saat melakukan penyisiran. Padahal dia sudah memeriksa keseluruhan termasuk toilet. Kasus yang janggal ini kemudian membuat adanya laporan yang menyatakan bahwa inspektur kereta tidak melakukan penyisiran secara penuh seperti protokol yang ada. Karena hal ini, Israel Railways meminta untuk memperbaharui dan mengganti inspektur tersebut dengan yang lainnya serta melakukan kolaborasi dengan keamanan stasiun. Hal tersebut dilakukan agar kasus unik seperti ini tak lagi terulang dan penyisiran setiap gerbong dilakukan dengan benar sebelum mengunci kereta. Israel Railways mengatakan bahwa kasus ini akan diselidiki dan prosedur pemindaian untuk semua kru kereta api telah dipertajam. Diketahui kereta tersebut tiba diperhentian terakhir pukul 00.57 waktu setempat dan inspektur langsung memindai. Baca juga: Dua Hari Meninggal di Toilet Baru Ditemukan Karena Salah Nomor Kereta Hal seperti ini juga pernah terjadi pada seorang penumpang wanita yang tertidur di pesawat Air Canada dan bangun dengan kabin dalam keadaan gelap serta kosong. Tiffani Adams, dalam penerbangan singkat 90 menit antara Kota Quebec dan Bandara Internasional Toronto Pearson (Kanada) ketika ia tertidur. Kemudian merasakan dirinya terbangun dalam pesawat yang sudah kosong tersebut. Saat bangun dirinya kedinginan dan tanpa sarana untuk menghubungi siapapun karena baterai ponsel yang habis. Kemudian Tiffani menuju kokpit dan menemukan sebuah senter dan mengarahkannya keluar. Untungnya ada seorang petugas kereta bagasi yang melihatnya dan berhasil membuka pintu untuk menolong Tiffani.

Gatlinburg Skybridge Punya Lantai Kaca di Bagian Tengahnya, Berani Melintas?

Pada Malam Natal 2019 kemarin, seorang pria melamar wanita pujaan hatinya di Gatlinburg Skybridge. Pasangan tersebut adalah Colbi dan Sarah yang ketika itu tengah melintasi Gatlinburg Skybridge yang dihiasi lampu Natal. Sebenarnya Gatlinburg Skybridge ini ada di mana dan kenapa begitu terkenal? Baca juga: Cavenagh Bridge, Jembatan Tertua di Singapura. Indonesia Punya Lebih Tua, Lho! Jembatan yang dibuka pada 17 Mei 2019 lalu ini merupakan jembatan gantung pejalan kaki terpanjang yang berada di Tennessee, Amerika Serikat. Gatlinburg Skybridge menjadi satu-satunya daya tarik di daerah pusat kota di mana bisa melihat tiga puncak tertinggi di Smokies yakni Clingsman’s Dome, Mount Le Conte dan Mount Guyot. Jembatan gantung ini membentang sepanjang 680 kaki dan melintasi lembah di Pegunungan Great Smoky. Terlihat seperti jembatan gantung biasa, tetapi ternyata Gatlinburg Skybridge punya panel lantai kaca di bagian tengahnya. Dari lantai kaca ini, pelancong bisa menikmati keindahan 140 kaki di bawah jembatan. Karena ada lantai kaca ini, kerap kali membuat pengunjung berpikir apakah menyeberang atau tidak. Namun untuk merasakan sensasinya, mereka melangkahkan kaki untuk tiba ke seberang dengan melintas di atas lantai kaca. Gatlinburg Skybridge sendiri merupakan bagian dari Skylift Park yang dilengkapi dengan kursi gantung yang membawa penumpang naik 500 kaki secara vertikal dari Gatlinburg ke puncak Gunung Crockett. Untuk kursi gantung ini bisa digunakan untuk naik dan turun dan dikenakan tarif untuk orang dewasa $15 dan anak-anak $12. Dari atas jembatan, pengunjung selain menikmati pemandangan juga bisa menjadikan setiap sudut jembatan tempat untuk berfoto dan mengunggahnya ke media sosial seperti Instragram dengan latar belakang Taman Nasional Pegunungan Great Smoky. Jembatan ini kokoh karena diperkuat dengan jutaan pound beton dan dapat menahan angin 100 MPH. Baca juga: Jembatan Ciherang, Lintasan Melengkung dan Spot Foto Favorit Para Railfans Sebenarnya untuk melintas di sepanjang jembatan dari ujung ke ujung yang satunya hanya memakan waktu selama tiga menit. Namun ketika melintasi lantai kaca, terkadang banyak yang berpikir untuk berhenti sejenak memberanikan diri atau berhenti di bagian tertentu untuk menikmati pemandangan dari atas atau berfoto ria.

Bus PO Sari Mustika Ugal-Ugalan, Pengemudi Teriak “Asu” ke Penumpang

Belum lama ini penumpang maskapai Garuda Indonesia di amankan AvSec Bandara Ngurah Rai karena mengumpat kekesalannya karena tak bisa mengantar anak ke toilet saat dipesawat. Padahal umpatan yang dikeluarkan tersebut saat berbicara kepada sang istri. Namun, bagaimana bila ini dilakukan seorang pilot, masinis atau pengemudi bus dan langsung kepada penumpangnya? Hal ini bisa saja terjadi dan pada awal tahun 2020 seorang penumpang bus harus merasakan umpatan dari pengemudi. Baca juga: Pilot Garuda ‘Baper,’ Dilaporkan ke Pejabat Lantas Ngeloyor Umpatan pengemudi tersebut terjadi di dalam bus milik PO Sari Mustika asal Yogyakarta. Saat itu seorang penumpang bernama Mina hendak turun di Cilameri tetapi pengemudi memaksakan untuk menurunkannya di bawah jembatan atau di Cikopo. Sayangnya adu mulut penumpang dan pengemudi bus tak lagi terelakkan karena hal ini. “Asu-asu ini,” ujar si pengemudi sembari bersikeras untuk menurunkan penumpang tersebut di bawah jembatan. Namun, karena keberatan di turunkan dibawah jembatan, Mina mengatakan, “Malam-malam begini mau diturunkan dibawah jembatan, ini kan tiketnya perjanjian di agen Cilameri, kenapa harus ke Cikopo atau dibawah jembatan.” Meski begitu pegemudi tetap menurunkan di Cilameri tetapi sikap emosional dan perlakuan awak bus akan dilaporkan kepada Kementerian Pehubungan. Bahkan seharusnya Direktorat Jenderal Perhubungan Darat menyeleksi ketat bus reguler dan tambahan di hari libur. Sebab hal ini bisa saja merugikan bahkan mencelakakan penumpang yang ada di dalam bus. Diketahui, bus yang ditumpangi Mina tersebut berangkat dari Yogyakarta menuju Bekasi, Jawa Barat. Sejak awal beberapa agen tiket menjual dengan harga Rp230 ribu dengan tujuan Cilameri pada dua orang calon penumpang dan diduga menjadi modus jika penumpang tak berhati-hati. Bahkan bisa saja ini akal-akalan agen dan calo yang mencari keuntungan. Mina saat itu mengakui, bus yng ditumpanginya bukan eksekutif, kursi berdempetan dan banyak yang rusak. “Celana penumpang ada yang sobek dan tiket harga selangit. Kapok deh beli di agen terminal. Penumpang asal naik dan tidak dipertanggungjawabkan mau kapan benar transportasi bus AKAP Indonesia?” ungkap Mina yang dikutip KabarPenumpang.com dari wartakini.co (2/1/2020). Dia juga mengaku, perjalanan bus Sari Mustika tersebut berkali-kali berulah seperti ugal-ugalan di jalan bahkan berangkat tidak tepat waktu yang seharusnya 14.30 menjadi 17.00 dan tidak berhenti sama sekali hingga pukul 00.00. Karena tak berhenti ini, semua penumpang tak bisa berhenti untuk makan dan sholat. “Kapok saya, ini gak berhenti, kasian anak-anak, didalam sumpek, dari awal bus ini sudah berulah, salah menempatkan penumpang hingga bertengkar di terminal Giwangan, karena di tiket tak ditulis nopol bus yang akan digunakan, sementara bus ada tiga dengan jurusan yang hampir sama,” ujar penumpang lainnya. Baca juga: Pemberian Kupon Makan oleh PO Bus, Bagaimana di Bulan Ramadhan? Sedihnya lagi saat di rest area pun belum sepuluh menit, bus sudah bersiap bergerak tanpa ada informasi dan membuat penumpang terburu-buru. Selain itu ternyata wiper depan terlepas dan diganti kain yang diikat, bus berhenti di bahu jalan berlama-lama. “Pokoknya bus Sari Mustika tidak profesional merusak citra PO bus,” ujar penumpang itu lagi.

Pan Am, Maskapai Pelopor Kelas Ekonomi Modern di Penerbangan Jarak Jauh

Terbang di kelas ekonomi awalnya identik dengan pelayanan yang serba ngepass, namun ternyata sejak 1927, Pan American (Pan Am) telah memberikan fasilitas dan pelayanan di kelas ekonomi seperti di first class. Saat itu, Pan Am melawan pusaran arus yang dilakukan maskapai pada umumnya, yakni memberikan layanan mewah dengan harga lebih murah dari kompetitornya di segmen full service. Baca juga: Neerja Bhanot – Mengenang Tameng Hidup Tragedi Pan Am Penerbangan 73 Dikutip dari cntraveler.com, ada banyak alasan mengapa Pan Am kerap disebut-sebut dalam buku-buku sejarah penerbangan, meskipun akhirnya harus bangkrut pada tahun 1991 lalu. Selain gaya jetnya dan akomodasi mewah kelas satu, Pan Am adalah salah satu maskapai penerbangan pertama yang membentuk kelas ekonomi modern dan membuka penerbangan internasional untuk pelancong di seluruh dunia – jauh sebelum maskapai berbiaya rendah saat ini ada. Tak heran bila di masa keemasannya, maskapai tersebut mnedominasi era Golden Age of travel atau masa keemasan bepergian. Gebrakan awal Pan Am dalam mewujudkan mimpinya, mengantarkan para pelancong dari seluruh dunia kemanapun tempat yang mereka sukai dengan harga terjangkau, dimulai pada Mei 1945. Ketika itu, bepergian dengan pesawat kemanapun masih terbatas pada kalangan atas saja. Sebagai gambaran, perjalanan dari New York ke London dipatok seharga $711. Cukup mahal untuk ukuran saat itu. Juan Trippe, pendiri Pan Am, pun datang bak pahlawan. Dengan niat baiknya untuk mengantarkan lebih banyak orang ke penjuru dunia, ia memberanikan diri untuk melanggar ketentuan harga yang diatur oleh International Air Transport Association (IATA). Caranya, ia memberikan harga murah untuk setiap rute-rute internasionalnya. Kala itu, tarif maskapai memang selama beberapa dekade diatur oleh organisasi tersebut. Meskipun sempat dijegal oleh IATA, ia tak patah arang. Sambil dibarengi dengan promosi yang gencar, ia terus melakukan inovasi untuk membangun jaringan rute internasionalnya. Menurutnya, semakin banyak orang yang ingin bepergian, semakin banyak pundi-pundi rupiah yang bisa diraupnya. Menyiasati animo luar biasa sambil terus mencari jalan keluar untuk menutupi biaya yang tinggi, Trippe memangkas ukuran kursi dan meningkatkan kapasitas tempat duduk sehingga rencana dapat membawa lebih banyak orang dengan harga lebih rendah dapat terwujud. Pesawat standar Boeing 707, salah satu pesawat paling populer saat itu, misalnya, terbang dalam konfigurasi dengan dua kursi di satu sisi lorong dan tiga di sisi lain. Trippe pun menyulapnya menjadi formasi tiga kali tiga untuk membantu menurunkan biaya. Namun, tetap tidak mengurangi kenyamanan penumpang. Di salah satu pesawat pertama Pan Am, pesawat DC-6B, leg room atau ruang kaki penumpang tercatat seluas 38 inci. Cukup luas dibandingkan dengan rata-rata maskapai penerbangan hari ini yang hanya sekitar 28 hingga 30 inci dari tempat duduk. Selain berinovasi pada kapasitas dengan menambah kursi pesawat dan mematok harga murah, Pan Am juga berinovasi pada layanannya. Penumpang disajikan dengan menu dan makanan khusus yang disesuaikan dengan tujuan. Dengan kata lain, setiap rute memiliki menu khas yang berbeda-beda, sesuai dengan tujuannya. Baca juga: Hari Ini 80 Tahun Lalu, Boeing 314 Pan Am Lakukan Penerbangan Berjadwal Perdana Trans-Atlantik Penerbangan Pan Am 811 dari Los Angeles ke Sydney, misalnya, akan menyiapkan menu untuk setiap segmen perjalanan (Los Angeles-Honolulu-Auckland-Sydney). Makanan tidak disajikan dalam stirofoan atau sejenisnya, seperti sekarang ini. Pramugari akan menyiapkan piring di setiap hidangan, seperti restoran, dan menyerahkannya secara langsung ke setiap pelanggan. Kemudian makanan pembuka dan lauk didistribusikan dengan troli di lorong. Tidak ada di baki atau stirofoam yang tersedia. Pan Am menggunakan piring dan gelas khusus untuk semua hidangan kelas ekonomi. Cukup bahkan sangat mewah untuk ukuran kelas ekonomi bukan? Setelah beberapa hampir tiga dekade sirna,beberapa maskapai berusaha menghidupkan kembali kejayaan dan kegembiraan serupa yang pernah diberikan Pan Am. Delta Air Lines Emirates, Qatar Airways, telah mencoba menghidupkannya kembali. Namun, seberapa besarpun mencoba, Talaat Captan, CEO and founder of Air Hollywood, studio film penerbangan terbesar di dunia, memprediksi, Pan Am tetap tak akan tergantikan.