Volvo Demonstrasikan Bus Otonom Bertenaga Listrik yang Bisa Keliling Depo!

Jika selama ini ide tentang pengadaan atau pengembangan dari kendaraan otonom masih berpacu di dalam dapur suatu perusahaan – walaupun sudah ada beberapa yang mulai melakukan uji coba, kali ini produsen otomotif kenamaan asal Swedia, Volvo hadir dengan prototip dari kendaraan yang digadang sebagai moda masa depan ini. Hebatnya lagi, prototip dari bus otonom ini bisa berkendara keliling pabrik juga lho! Keren, bukan? Baca Juga: Hadirkan Bus Otonom, DeNA Terbentur Regulasi Tentang Bangku Pengemudi Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman venturebeat.com (13/11), demonstrasi dari bus otonom bertenaga listrik ini menunjukkan kemajuan yang sangat pesat. Tidak hanya sekedar berkendara keliling pabrik saja ternyata, bus yang memiliki panjang kurang lebih 12 meter ini sendiri juga bisa melakukan beragam manuver lain, sebut saja atret di antara dua bus lain.
Sumber: venturebeat.com
Dalam sebuah video yang diunggah Volvo, tampak operator akan terlebih dahulu menentukan ‘aksi’ apa yang akan dilakukan oleh bus tersebut. Ketika si operator ini menekan pilihan “drive to wash station”, maka setir akan bergerak sendiri dan bus akan berjalan secara otonom menuju tempat cucian bus. Sebagai informasi tambahan, adapun uji coba ini dilakukan Volvo di depo Keolis – mitra dari Volvo dalam pengembangan bus otonom ini, di luar Gothenburg.
“Ini menandai langkah yang sangat penting dalam pengembangan moda otonom kami, karena kami sekarang telah berhasil menunjukkan manfaat komersial yang dapat diberikan oleh solusi otonom di sebuah depot bus,” ujar Presiden Volvo Buses, Håkan Agnevall. Begitu pula halnya dengan infrastruktur pengisian daya, dimana Volvo dan Keolis berupaya untuk melakukan prosesnya sehalus mungkin. Adalah OppCharge yang memungkinkan kendaraan seperti bus Volvo untuk bermanuver sendiri ke posisi pengisian tanpa harus menggunakan kabel. Baca Juga: Sukses Uji Bus Otonom, Singapura Siap Operasionalkan di 3 Distrik Tahun Depan Jika dilihat dari apa yang sudah didemonstrasikan oleh Volvo, definisi otonom atau nirawak di sini bukanlah berarti sebuah bus tidak dioperasikan oleh tenaga manusia, mengingat manusia masih harus melakukan input data tentang apa yang harus dilakukan oleh bus ini sendiri. Begitu pula halnya dengan keadaan darurat, dimana tenaga manusia masih dibutuhkan untuk menangani situasi tersebut.

Tingkatkan Keamanan Siber, Airbus Luncurkan Program Pendekatan Human-Centric

Guna meningkatkan efektivitas keamanan siber yang ada di tubuh perusahaan, manufaktur kedirgantaraan ternama asal Eropa, Airbus dikabarkan telah mengumumkan peluncuran program human-centric cybersecurity accelerator. Kelak, program ini akan berisikan tim yang terdiri dari para ahli human factor dan psikologi kognitif yang akan berkolaborasi dengan National Cyber Security Center (NCSC) dan berbagai mitra lainnya. Menurut Airbus, program ini akan melakukan pendekatan human-centric untuk meningkatkan efektivitas keamanan tersebut. Baca Juga: Hacker Cina Manfaatkan Airbus Guna Dapatkan Dokumen Beberapa Perusahaan Dirgantara Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman infosecurity-magazine.com (13/11), program ini akan menawarkan kesempatan bagi para mahasiswa yang memenuhi kualifikasi, dimana mereka nantinya memiliki peluang untuk berkolaborasi dengan tim peneliti dan bisnis untuk membantu menjadikan Inggris sebagai salah satu tempat teraman untuk melakukan bisnis di dunia maya. Peluncuran program human-centric cybersecurity accelerator ini merupakan rangkaian lanjutan dari pembukaan Airbus Cyber Innovation Hub yang dirilis pada April 2019 kemarin di Newport. Mungkin ini merupakan salah satu langkah preventif dari Airbus mengingat beberapa waktu yang lalu sistem internal mereka pernah mendapatkan serangan siber dari pihak anonim yang diduga merupakan oknum dari Tiongkok. “Dengan serangan yang semakin canggih yang dicoba setiap hari, tidak mungkin untuk melindungi setiap pengguna dari setiap serangan siber. Oleh karena itu kami perlu berpikir secara berbeda dan mengidentifikasi cara-cara keamanan untuk bekerja dengan orang-orang dan organisasi, untuk melindungi dengan lebih baik terhadap serangkaian ancaman tersebut,” ujar Dr. Kevin Jones, kepala petugas keamanan dan informasi Airbus. “Dengan alat dan pendekatan yang tepat, karyawan dapat menjadi penghubung terkuat dalam pertahanan siber milik perusahaan. Tugas kami bertujuan untuk menempatkan pendekatan human-centric di jantung keamanan perusahaan dan kami ingin mendengar dari para peneliti dan organisasi serupa yang tertarik untuk terlibat dengan Accelerator baru ini,” sambungnya. Baca Juga: Airbus Duga Cina Jadi Dalang di Balik Insiden Serangan Cyber Direktur teknis NCSC, Dr. Ian Levy mengatakan bahwa inisiatif baru ini disambut baik dan ia mengakui betapa pentingnya pendekatan multidisiplin dengan menempatkan orang-orang di pusat pengembangan keamanan siber. “Di NCSC, kami menyadari peran vital yang harus dimainkan karyawan dalam ketahanan dunia maya organisasi dan kami senang berkolaborasi dalam program ini,” ujar Dr. Ian.

Boeing ‘Buang’ Teknologi Robotika di Jalur Produksi Varian 777 dan 777X

Setelah empat tahun berada di masa coba-coba, akhirnya raksasa manufaktur kedirgantaraan asal Amerika, Boeing Co. ‘memberhentikan’ robot yang turut serta membangun dua bagian utama dari pesawat 777 dan model lanjutannya yang dikenal dengan 777X. Untuk menggantikan perannya, Boeing akan mempekerjakan tenaga mekanik terampil yang akan bekeja secara manual untuk memasukkan sekrup ke dalam lubangnya di sepanjang lingkar body pesawat. Guna mempermudah tugasnya, pihak Boeing akan memperkenalkan sistem otomatis flex tracks yang sejatinya dikembangkan untuk pesawat varian 787 Dreamliner. Baca Juga: Kolaborasikan Tenaga Manusia dan Robot, Boeing 777X Siap Mengudara di 2020 Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman bloomberg.com, juru bicara Boeing Paul Bergman mengatakan bahwa pergeseran sistem robotika ke tenaga manusia ini diperkirakan rampung pada akhir tahun, dan ia menambahkan, “Boeing tidak merencanakan perubahan dalam kepegawaian untuk varian 777 yang diproduksi di Everett, Washington,” “Solusi flex tracks terbukti lebih andal, karena membutuhkan lebih sedikit tenaga manusia dan pengerjaan ulang, tidak seperti robot,” sambungnya. Walaupun menjanjikan tenaga kerja mekanis yang tidak pernah sakit, lelah, atau lapar, namun sistem otomatisasi yang diusung Boeing ini nyatanya menimbulkan banyak kasus dimana teknologinya belum memenuhi ketangkasan dan ketepatan tangan dan mata manusia. Ambil contoh perusahaan Tesla Inc., dimana walaupun pabrik otomotifnya yang ada di Fremont, California itu sudah mengerahkan tenaga fully automatic, namun perusahaan ini tetap menyediakan workshop di luar pabrik dimana para pekerja dapat melakukan pengecekan keseluruhan terhadap mobil rakitannya secara manual. Baca Juga: Goyang Pasar Wide-Body, Boeing Siap Luncurkan 777X 13 Maret 2019 Mungkin penghilangan teknologi robotika dari jalur perakitan varian 777 dan 777X merupakan salah satu langkah Boeing untuk lebih memperhatikan detail yang diharapkan dapat meningkatkan keamanan pesawat secara keseluruhan – bahkan dari komponen terkecil sekalipun, seperti sekrup dan baut. Tidak menutup kemungkinan pula apabila Boeing akan mengalihkan teknologi robotikanya ini di jalur lainnya – perusahaan mana yang menginginkan kerugian akibat sebagian instrumen produksinya tidak difungsikan. Seperti yang sudah diketahui bersama, wakil presiden dan Chief Project Engineer untuk 777X di Boeing Commercial Airplanes, Terry Beezhold di penghujung tahun 2017 lalu sempat mengatakan bahwa proses produksi yang dikombinasikan dengan sistem robotika  dinilai lebih aman bagi orang-orang yang membangun pesawat tersebut. “Itu merupakan pekerjaan yang sangat sulit dilakukan, secara ergonomis,” ungkapnya kepada awak media setempat.

Bus Zhongtong – Lain di Indonesia, Lain di Cina

Beberapa waktu yang lalu, sempat beredar video tidak senonoh di videotron yang ada di salah satu bus TransJakarta. Dalam video berdurasi kurang dari satu menit yang berhasil diabadikan penumpang, tampak ada seorang wanita yang mengenakan baju minim dan melakukan beberapa liuk eksotis – sehingga video tersebut dinilai tidak pantas untuk dipertontonkan di hadapan publik. Terkait viralnya video ini, pihak PT TransJakarta meminta maaf dan mengatakan sudah menghapus video tersebut dari sistem videotronnya. Baca Juga: Bus TransJakarta Zhongtong Terbaru Diklaim Ramah Lingkungan “Video klip musik dengan artis luar negeri berbusana dengan belahan rendah. Transjakarta Meminta maaf atas keteledoran yang dilakukan oknum operator PPD (Perum Pengangkutan Penumpang Djakarta),” ungkap Kepala Divisi Sekertaris Korporasi dan Humas PT Transjakarta, Nadia Diposanjoyo, dikutip KabarPenumpang.com dari laman Liputan6.com (13/11). Sebagai informasi tambahan, adapun video tidak senonoh diputar di dalam bus bermerk Zhongtong. Kendati namanya sudah kadung buruk di mata masyarakat Jakarta, Zhongtong nyatanya merupakan salah satu merek pionir di tubuh TransJakarta – terlebih karena varian bus gandeng yang beroperasi di Ibukota. Berasal dari perusahaan Cina bernama Zhongtong Bus Holding Co., Ltd., sejatinya perusahaan ini merupakan manufaktur bus terdaftar paling awal di Cina. Tidak hanya itu, di negara asalnya, Zhongtong merupakan leading model di industri otomotif yang berdiri sejak tahun 1958 dan memulai produksi bus pada tahun 1971 dengan total aset mencapai RMB12 miliar atau yang setara Rp24,1 triliun. Untuk produksiannya sendiri, Zhongtong yang berkantor pusat di Liaocheng memasarkan beragam jenis bus, mulai dari city bus, luxury bus, stock bus, hingga electric bus. Senada dengan misi perusahaan, “membangun klaster industri bus hijau terdepan di dunia”, wajar adanya jika pihak Zhongtong akan terus mengembangkan teknologi yang ada di setiap bus-nya guna menjadi yang terkuat di setiap lininya. Tentu saja nama Zhongtong di Indonesia sendiri tidak bisa terlepas dari beragam kasus yang pernah menyeret namanya – satu yang paling lekang dalam ingatan adalah soal terbakarnya bus di era kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahja Purnama dulu, tepatnya pada 8 Maret 2015 di depan Gedung PMI, Jl. Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Belum lagi soal kasus korupsi yang menyelimuti namanya pada tahun 2013 silam. Baca Juga: Bus Listrik Untuk TransJakarta, Antara Harapan dan Realita Terlihat sebuah perbandingan yang sangat signifikan antara nama Zhongtong yang ada di Tiongkok dan di Indonesia. Kuat dugaan, faktor orang ketigalah yang menjadikan nama Zhongtong tidak seharum di negara asalnya.

Polri Tertibkan Penjualan Jaket Ojol, Kemenhub Usulkan Masuk Dalam Regulasi!

Jaket ojek online digunakan dalam aksi bom bunuh diri oleh terduga teroris Rabbial Muslim Nasution di kompleks Mapolrestabes Medan, Sumatera Utara pada Rabu (13/11/2019) kemarin. Hal ini kemudian membuat pihak kepolisian Republik Indonesia menertibkan penjualan jaket ojol ilegal dan Kementerian Pehubungan mengusulkan penggunaannya dimasukkan dalam regulasi untuk keselamatan serta memudahkan polisi melakukan pengungkapan kasus. Dirjen Perhubungan Darat, Budi Setiyadi mengatakan, saat ini jaket ojol bisa didapatkan dimana saja bahkan di Pasar Senen sudah ada. Baca juga: Grab Rail Express Mudahkan Bisnis Skala Kecil dan UMKM di Indonesia “Jadi saya mengusulkan ini akan kita masukkan regulasi apakah jaket itu sebagai identitas dan kewajiban untuk perlindungan aspek keselamatan. Tapi kalau ada penyimpangan demikian dan untuk memudahkan Polri melakukan identitas pengusutan,” ujar Budi yang dikutip KabarPenumpang.com dari detik.com (14/11/2019). Bahkan dia juga mengusulkan agar jaket ojol tidak menjadi milik perseorangan, sehingga saat pengemudi sudah tidak menjadi ojol maka jaket bisa dikembalikan. “Jaket bukan sebuah properti yang harus dimiliki pengemudi, sehingga bisa saja jaketnya punya nama, katakan saya Budi Setiyadi, atau ada nomornya, jadi kalau yang bersangkutan sudah bukan menjalani profesi sebagai mitra salah satu aplikator, ya sudah, jaketnya dikembalikan,” ujar Budi. Budi menambahkan, jika penggunaan jaket ojol tidak masuk dalam regulasi, ini akan membuat pihak perusahaan mengalami kerugian. Rencananya, usulan tersebut akan dibahas Budi bersama dengan pihak perusahaan startup ojek online. “Kalau jaket sudah nggak bagus, kewajiban kantor untuk mengganti, kalau tidak demikian kemana-mana aplikator bisa rugi, bisa nanti ada perampokan menggunakan jaket salah satu aplikator yang ada. Nah, jadi ide ini saya sampaikan aplikator akan saya bahas lebih lanjut, mohon jangan dikaitkan itu pengemudi ojol, karena yang sudah tidak menjadi profesi sebagai pengemudi ojol,” tambahnya. Hal ini pun serupa yang dikatakan oleh pihak kepolisian yang memastikan seluruh jaket yang tersebar memang benar-benar milik mitra driver terdaftar dan bisa dipertanggungjawabkan. “Pokoknya kita mendorong dari pihak penyedia itu dulu, yang harus betul-betul mengecek anggota-anggota yang tergabung di dalam ojek online tersebut. Kemudian tentunya juga melakukan pemantauan agar menggunakan atribut-atribut ojol itu dengan berhati-hati,” kata Karo Penmas Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo. Baca juga: GoJek Hadirkan Tiga Fitur Baru, Permudah Penjemputan Penumpang Untuk diketahui, sebuah ledakan diduga bom baru saja meledak di Mapolresta Medan, Sumatera Utara pada Rabu (13/11/2019) pukul 08.40 WIB. Ledakan itu diduga kuat merupakan bom bunuh diri. Akibat dari ledakan bom tersebut, 6 orang mengalami luka akibat ledakan. Enam orang tersebut terdiri dari 4 anggota Polri kemudian satu PHL atau pekerja harian lepas dan satu masyarakat. Selain menelan korban luka, ledakan bom itu juga merusak 4 kendaraan di mana 3 kendaraan milik dinas dan satu kendaraan milik pribadi.

122 Gerbong Tua Terbakar, Stasiun Cikaum Terkenal Sebagai “Kuburan Kereta”

Ratusan gerbong kereta api yang tertumpuk di lahan kosong dekat Stasiun Cikaum ludes terbakar padaa Kamis (14/11/2019) kemarin. Api yang membakar gerbong bekas tersebut telihat membesar sekitar pukul 17.00 WIB dan membuat asap tebal yang membuat langit Purwadadi, Subang menghitam. Baca juga: Empat Kuburan Kereta di Indonesia, Padukan Nilai Estetik Tanpa Kesampingkan Nuansa Mistik Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, kebakaran pada ratusan gerbong tua tersebut masih terus diselidiki oleh pihak kepolisian. Kebakaran ini membuat pemadam kebakaran Kabupaten Subang menurunkan tiga armada dan ketika diketahui luasnya kebakaran mereka menambah dua armada lainnya.
Stasiun Cikaum (wikipedia)
“Kami tambah dua armada lagi sehingga menjadi lima. Ini untuk mencegah jangan sampai merembet ke perumahan warga yang ada di sebelah utara,” ujar Kepala Bidang Kebakaran Satpoldam Subang Dede Rosmayandi yangdikutip dari rr.co.id. Dari keterangan pihak Stasiun Cikaum, jumlah gerbong yang terbakar mencapai 122 unit di sebelah timur dari stasiun dan yang di sebelah barat masih aman. Meski begitu, untuk mencegah gangguan perjalan kereta dari Jakarta-Cirebon dan sebaliknya, jalur yang dilalui diarahkan ke jalur selatan karena bila tetap ke utara khawatir akan dampak kebakaran tersebut. Diketahui, Stasiun Cikaum sendiri merupakan stasiun kereta api kelas III yang masuk dalam Daerah Operasional (Daop) III Cirebon. Stasiun ini bukan untuk perhentian kereta kecuali jika terjadi persusulan antarkereta api. Sebelum dibangunnya jalur ganda di lintas Cikampek–Haurgeulis, stasiun ini memiliki tiga jalur kereta api dengan jalur 2 merupakan sepur lurus. Dengan selesainya jalur ganda di lintas tersebut, ditandai dengan peresmian oleh Megawati Soekarnoputri pada 4 Desember 2003 lalu, tata letak jalur kereta api di stasiun ini diubah sehingga jalur 2 eksisting stasiun ini dijadikan sebagai sepur lurus arah Haurgeulis saja, sedangkan jalur 3 dijadikan sepur lurus baru arah Cikampek, serta jalur 4 sebagai sepur belok baru. Selain itu, stasiun ini juga menjadi salah satu kuburan kereta atau tempat pengafkiran KRL Eksekutif milik PT KCI dan PT KAI yakni KRL AC yang diimpor tahun 2009 ke atas dan ke bawah. Semua KRL tersebut disimpan di tanah lapang kosong yang letaknya sebelah utara stasiun. Stasiun tersebut juga dipakai sebagai tempat penumpukan kereta-kereta penumpang berusia tua yang dipensiunkan sejak PT KAI meremajakan armadanya. Baca juga: Kuburan Tak Selalu Seram, Stasiun Purwakarta Saksinya Setidaknya sudah ada sekitar 80 hingga 100 unit KRL AC yang dikirim ke stasiun ini. KRL-KRL itu disimpan di tanah lapang kosong yang letaknya di sebelah utara stasiun. KRL bekas kecelakaan di Cilebut dan Bintaro juga dikirim ke sini. Namun, KRL yang mangkrak akibat langkanya suku cadang dan gerbong sisa (hasil perubahan formasi 10 gerbong menjadi 8 gerbong) adalah yang paling banyak ditemui di sini.

Turunkan 21 Penumpang JetStar Tujuan Australia, Ini Penjelasan Pihak Bandara Ngurah Rai

Pada Minggu (3/11) kemarin, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Denpasar menjadi sorotan publik pasca adanya insiden penurunan penumpang dari anak perusahaan dari Qantas, Jetstar. Menurut pemberitaan yang tersiar, ada sebanyak 21 penumpang yang dikeluarkan dari JetStar JQ-36 yang hendak bertolak menuju Melbourne, Australia. Menurut pihak maskapai, adapun alasan penurunan penumpang ini karena alasan keselamatan dan keamanan. Baca Juga: Sejumlah Fakta dari Proses Emergency di Pesawat Terbang Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Communication and Legal Manager PT Angkasa Pura I (Persero) Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Arie Ahsanurrohim mengatakan bahwa insiden penurunan penumpang ini murni karena masalah unrully passengers. Arie menambahkan bahwa beredarnya isu tentang SARA terkait penurunan penumpang ini tidaklah benar adanya. “Penurunan 21 orang penumpang dari pesawat JG-36 tujuan Melbourne, Australia, di Bandara Ngurah Rai, Bali, adalah murni karena alasan unruly passenger, dan sangat tidak tepat jika diasosiasikan dengan alasan SARA seperti berita yang sempat beredar,” ujar Arie. Arie juga menjelaskan mengenai kronologi kejadian, dimana ketika JQ-36 tengah melakukan pushback, ada dua penumpang yang tidak mengindahkan instruksi awak kabin untuk duduk di bangku masing-masing dan mengenakan sabuk pengaman. Usut punya usut, dua penumpang ini mengeluhkan layar in-flight entertainment di depannya yang tidak berfungsi. Padahal, awak kabin mengatakan akan menyelesaikan permasalahan ini sesaat setelah pesawat berada di udara, namun dua penumpang ini malah semakin menjadi-jadi dan berdiri ketika pesawat sedang pushback. Merasa ini merupakan suatu kejadian yang serius, salah satu awak kabin dari penerbangan ini lalu melaporkan tentang kedua penumpang ini kepada pilot penerbangan. Setelah menimbang, akhirnya sang pilot memutuskan untuk kembali ke parking stand nomor 25 dan berniat untuk menurunkan keduanya. Baca Juga: Dianggap Mengancam, Dua Penumpang Easyjet Digeruduk Keluar dari Pesawat Arie menambahkan, selama proses penurunan kedua penumpang ini, ada 19 penumpang lainnya yang tergabung ke dalam satu rombongan dengan kedua penumpang ini juga melayangkan protes kepada pihak maskapai. “Pada saat kedua penumpang tersebut dalam proses penurunan, 19 penumpang lain turut melakukan protes, sehingga turut serta diturunkan dari pesawat. Dalam penerbangan, keamanan dan keselamatan adalah hal paling utama. Namun demikian, kejadian ini tidak mengganggu operasional penerbangan dan operasional bandar udara secara umum,” terang Arie.

Lalui Jalur dengan Beda Lebar Rel, Russian Railway Punya Kereta dengan “Variable Gauge System”

Perbedaan tipe lebar rel (track gauge) sejak beberapa dekade telah memisahkan konektivitas antara satu jalur dengan jalur kereta lainnya di beragam penjuru dunia. Namun Russian Railway telah membuat terobosan penting, yaitu dengan menyediakan roda di bogie pada kereta yang dapat menyesuaikan otomatis kala terjadi perbedaan track gauge, terutama pada kereta yang melayani jalur Moskow – Berlin. Baca juga: Bentang Rel 1.435mm, Ternyata Telah Jadi Standar Sejak Zaman Romawi! Pasalnya kereta yang dioperasikan oleh Russian Railways ini akan mengular dengan 18 gerbong dan membentang sejauh 3383 km untuk mengakomodasi penumpang dan layanan pengiriman. Kereta ini diberi nama burung Strizh yang diterjemahkan sebagai Swift dalam bahasa Inggris. Kereta yang diproduksi oleh Patentes Talgo S.L yakni perusahaan Spanyol yang mengkhususkan diri dalam desain, manufaktur, pemeliharaan rolling stock dan sistem untuk perubahan ukuran otomatis. Rolling stock mereka telah digunakan untuk kereta api berkecepatan tinggi terbaru Rusia pada 2015 yang beroperasi antara Moskow dan Nizhny Novgorod. Teknologi yang digunakan oleh Patentes Talgo yakni roda kereta yang melintas rel standar Rusia dengan lebar bentang 1520 mm bisa berubah dengan bogie menyesuaikan dengan lebar rel di Berlin 1435 mm atau ukuran median dari semua variasi rel dunia. Proses penyesuaian bogie pada lebar yang berbeda ini tak lain berkat adopsi teknologi variable gauge system.
KabarPenumpang.com merangkum laman smartrailworld.com, pada kereta konvensional, proses ini membutuhkan waktu satu jam untuk merubah ban, tetapi pada kereta berkecepatan tinggi waktunya bisa dimodifikasi menjadi 20 menit. Pengukur otomatis dipasang awal tahun lalu di stasiun Brest di Belarus yang terletak di dekat perbatasan Polandia. Gerbong Pelentes Talgo harus tahan uji TÜV SÜD Rail yang berbasis di Jerman ini dianalisis meliputi pengereman, laju kereta, aerodinamika, kompatibilitas elektromagnetik. Jalur kereta akan memasuki lima negara dengan melewati Smolensk, Orsha, Minsk, Brest, Terespol, Warsawa, Poznan, Rzepin, dan Frankfurt (Oder). Kereta baru ini membuat waktu perjalanan ke barat 20 jam dan 14 menit dari 24 jam 49 menit hingga sementara kereta ke timur akan menyelesaikan perjalanan dalam 20 jam 35 menit, dibandingkan dengan 25 jam 56 menit saat ini. Setiap kereta memiliki 20 Gerbong, termasuk campuran kelas dua, kelas satu dan VIP yang dilengkapi dengan shower pribadi (kamar mandi) dan fasilitas en-suite. Kereta juga menawarkan kereta bistro dan restoran. Baca juga: Lebar Bentang Rel Menjadi Ciri Khas Jalur KRL Jabodetabek Kalau di Indonesia lebar rel mengikuti Jepang yakni 1067 mm. Nah, jika metode ini ada di Indonesia mungkin tidak perlu lagi transit alias pindah kereta menuju satu tempat karena perbedaan lebar rel.

Berhenti di Bojonegoro, KA Sancaka Utara Punya Relasi Baru dari Surabaya Pasar Turi ke Yogyakarta

Pada 1 Desember 2019 mendatang, kereta api Sancaka akan berubah nama menjadi KA Sancaka Utara dengan relasi baru akan mulai beroperasi. Kereta ini akan mulai melintasi Surabaya Pasarturi-Lamongan-Bojonegoro-Gambirang-Solo hingga Yogyakarta dan sebaliknya. Baca juga: Hadirkan Empat Kereta Baru, KAI Berlakukan Gapeka 2019 Jalur ini adalah pertama kalinya kereta api Yogyakarta yang melewati Bojonegoro. Kepala Stasiun Bojonegoro, Rohman mengatakan, KA Sancaka Utara diproyeksikan akan terdiri dari dua kelas yakni bisnis dan eksekutif dengan total satu rangkaian sembilan gerbong. Pembagiannya adalah empat gerbong kelas eksekutif, empat gerbong kelas bisnis dan satu gerbong untuk restorasi dan KA Sancaka Utara ini menyediakan 440 kursi. Tiketnya pun untuk kelas eksekutif berkisar antara Rp230 ribu hingga Rp340 ribu dan kelas bisnis sekitar Rp150 ribu hingga Rp240 ribu. Tarif ini untuk keberangkatan dari Bojonegoro hingga tiba di Yogyakarta. Awalnya KA Sancaka sendiri merupakan kereta api penumpang kelas eksekutif dan ekonomi AC Premium yag dioperasikan oleh Daop VI Yogyakarta dan Daop VIII Surabaya yang melayani relasi Surabaya Gubeng – Yogyakarta dan sebaliknya. Perjalanan sejauh 311 km ditempuh dengan waktu sekitar lima jam yang melewati kawasan percandian di Prambanan, Sleman dan membelah Kota Solo dan Kota Madiun. Kereta api ini berhenti di Surabaya Gubeng, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Caruban (hanya jadwal sore arah Yogyakarta), Madiun, Barat (hanya jadwal sore arah Surabaya), Paron (hanya jadwal sore arah Surabaya), Solo Balapan, Klaten (hanya jadwal pagi), dan terakhir Yogyakarta Tugu. Nama Sancaka diambil dari nama sosok ular Sanca (bukan ular naga) yang pengayom dan dapat bertahan di segala keadaan. Baca juga: Setiap Nama Kereta Ternyata ada Filosofinya Awalnya KA Sancaka menggunakan rangkaian kereta campuran kelas eksekutif dan bisnis. Kemudian tanggal 16 Oktober 2016 rangkaian kereta kelas bisnis diganti menjadi rangkaian kereta kelas ekonomi AC plus. Terakhir sejak tanggal 8 April 2019 rangkaian KA ini diganti dengan rangkaian baru berbodi stainless steel dengan layanan kelas eksekutif dan ekonomi AC premium beserta kereta makan dan pembangkitnya yang juga baru.

Tak Lagi Terima Uang Tunai, Pengemis di Cina Gunakan QR Code untuk Terima Pemberian

Pengemis sepertinya menjadi salah satu pemandangan ketika melancong ke suatu daerah atau negara. Bahkan banyak pengemis yang dibiayai oleh pemerintah dan beberapa diantar lainnya harus membayar lisensi hanya untuk mengemis. Baca juga: Pengemis di Swedia Wajib Bayar Lisensi dan Punya Identitas Valid Namun bagaimana bila pengemis modern saat ini beradaptasi dengan kenyamanan metode pembarayan modern? Hal ini kemudian bisa menjadi sedikit rumit dan kini menjadi masalah yang dihadapi orang-orang di Cina. Pasalnya, baru-baru ini pengemis yang tersebar di jalan-jalan Cina telah membuang mangkuk atau kaleng untuk menerima uang mereka. Sebab kini pembayaran melalui online dengan sebuah QR Code. Para pengemis secara strategis memposisikan diri di daerah wisata yang ramai untuk mengumpukan uang. Dilansir KabarPenumpang.com dari financialexpress.com, di Cina siapa pun yang memiliki aplikasi seperti Alipay dan WeChat Pay atau aplikasi pembayaran seluler lainnya yang dapat membaca QR Code bisa melakukan pembayaran. Bahkan mereka kini menjadi pemandangan umum setelah teknologi berkembang pesat di Cina. Bisa dikatakan, kini Cina memiliki transisi ke ekonomi bebas tunai lebih cepat dibandingkan negara lain di dunia. Sehingga secara harafiah, ekonomi di Cina bergantung pada kode dua dimensi yang dapat dipindai. Bahkan dari sebuah laporan dikatakan, para pengemis yang menggunakan QR Code ini tak harus punya ponsel. Mereka hanya perlu perpustakaan di mana akun dapat dibuat dan dompet digital untuk digunakan,  tak hanya itu pencipta akun dompet bahkan tidak memerlukan rekening bank. Mereka juga menggunakan lembar QR Code yang sama untuk membeli barang-barang di toko setelah pedagang memindainya. Diketahui, penetrasi ponsel pintar yang mendominasi aplikasi pembayaran digital seperti dua perusahaan e-wallet terbesar Cina yakni Alipay dan WeChat Pay telah mendukung fenomena ini. Tak hanya Cina, di India ketersediaan Paytm dan ponsel pintar yang murah ditambah internet telah membawa kios-kios kecil seperti paanwallah ke pedagang kaki lima untuk menerima pembayaran digital. Dalam sebuah laporan juga dinyatakan bisnis dengan membayar pengemis melalui QR Code bisa dilakukan. Mereka kemudian memanen data pengguna dan bahkan menjual ID WeChat mereka. Data pengguna juga dapat dijual ke perusahaan yang kemudian menggunakannya untuk mengganggu pelanggan dengan iklan dan dorongan yang tidak perlu. Baca juga: Pelancong Asing Dibuat Bingung, Cina Gunakan QR Code untuk Mayoritas Transaksi via Alipay dan WeChat Selain itu, startup lokal juga menggunakan pemindaian ini untuk mempromosikan bisnis mereka dan pengemis dibayar untuk scan atas nama mereka. Menurut laporan media, pengemis mendapatkan yang setara dari Rs7-15 atau sekitar Rp1.300 – Rp15 ribu dari pemindaian ini. Mengingat seorang pengemis bekerja selama 45 jam, hal yang sama berarti pengemis yang setara dengan lebih dari Rs40 ribu atau sekitar Rp7,8 juta.