Pengemis ternyata tak hanya di Indonesia, sebab beberapa negara Asia lainnya serta di Eropa dan Amerika juga punya pengemis. Nah ketika pergi melancong ke suatu negara sesekali melintas pasti Anda juga akan menemukan pengemis di pinggir jalan dan mungkin bukan suatu pemandangan yang asing lagi bagi para pelancong.
Baca juga: Pelancong Asing Dibuat Bingung, Cina Gunakan QR Code untuk Mayoritas Transaksi via Alipay dan WeChat
Tapi tahukah Anda bahwa ada negara yang menarik biaya izin mengemis dan para mereka harus memiliki identitas yang valid? Ya, salah satunya adalah kota Eskilstuna sebelah barat Stockholm, Swedia, sudah memperkenalkan biaya lisensi untuk pengemis sejak 1 Agustus 2019 kemarin.
Dilansir KabarPenumpang.com dari thelocal.se, Dewan kota Eskilstuna pertama kali membuat keputusan untuk memperkenalkan persyaratan izin pada Mei 2018 lalu. Tetapi dewan administrasi kabupaten membatalkan hal tersebut yang kemudian berbuntut kasus itu dibawa ke pengadilan administratif yang akhirnya memberikan hasil bahwa aturan itu mulai berlaku pada Agustus lalu.
Adapun pengenaan biaya lisensi pengemis ini mengartikan bahwa siapa pun yang ingin meminta uang kepada orang-orang di jalan harus membayar izin. Biaya lisensi yang dikenakan pun tidak murah yakni sebesar 250 Kronor atau sekitar Rp361 ribu serta para pengemis harus punya identitas yang valid.
Politisi lokal mengatakan, tujuan mengenakan biaya lisensi ini agar membuat pengemis lebih sulit dan memudahkan otoritas serta layanan untuk berhubungan dengan orang-orang yang rentan dan menawarkan mereka bantuan.
“Kami melakukan birokratisasi dan membuatnya lebih sulit, dan kami bisa melihat bagaimana kelanjutannya. Saya harap polisi akan dapat mengimplementasikannya sehingga diperlukan izin baru untuk setiap hari,” kata anggota dewan kota Jimmy Jansson.
Bahkan menurut surat kabar lokal di Eskilstuna, pengemis yang ada di bagian tengah kota justru menjual buah beri. Jansson mengaku hal ini sama sekali tidak terduga.
“Ini tentu saja merupakan reaksi yang masuk akal terhadap perubahan aturan, tetapi jika Anda duduk dan menjual barang di luar toko, pemilik toko akan segera marah,” ujarnya.
Diketahui sejak Desember 2018, beberapa kota di Swedia telah melarang pengemis di daerah-daerah tertentu setelah putusan Mahkamah Administratif Tertinggi menetapkan presenden dengan menegakkan larangan yang berlaku di Vellinge sebuah kota di Skane. Bahkan ada beberapa kritik terhadap undang-undang yang digambarkan Jansson sebagai hal yang ‘munafik’.
Baca juga: Alipay Siap Ganti Sistem Pembayaran MTR Hong Kong dengan Scan QR Code
“Sejujurnya, bayangkan jika ini berkaitan dengan pertanyaan tentang betapa buruknya orang yang harus mengemis, sama besarnya pada tindakan melawan peraturan. [Pertanyaannya] berakar pada kenyataan bahwa orang-orang berada dalam situasi yang sangat rentan dan sulit. Anda memiliki keadaan yang menekan Anda, tidak bertanggung jawab atas Anda dan kadang-kadang pada dasarnya menganiaya Anda, Anda hidup dalam kemiskinan ekstrem. Anda harus membedakan antara mengemis dan orang yang membutuhkan, dan menemukan cara lain untuk membantu mereka,” katanya.
Nah, kalau di Indonesia di terapkan seperti ini, mungkin pengemis akan berkurang dan pelancong yang mampir pun tak perlu melihat hal tersebut.
Ribuan pengendara sepeda motor pada Selasa (12/11) kemarin memblokir jalan-jalan di ibukota Kamerun. Aksi ini dilakukan pasca pejabat kota melarang pengendara sepeda motor untuk mengakses area komersial dan perumahan tertentu. Para pejabat setempat mengatakan bahwa pembatasan semacam ini diperlukan untuk alasan keamanan. Sementara itu, di sisi lainnya, para pengendara motor mengatakan bahwa penerapan regulasi ini dapat mempersempit ‘mata pencaharian’ mereka.
Baca Juga: Ini Dia Alasan Ojek Online Belum “Naik Kelas”
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman voanews.com (12/11), aksi massa ini sontak membuat polisi anti huru-hara untuk melakukan tugas ekstra – yaitu dengan memblokir jalan guna membatasi ruang gerak massa. Selain itu, aksi ini juga berdampak pada tutupnya sejumlah pusat perbisnisan.
Presiden Yaounde Bikers Association (YABA), Dieudonne Monono mengatakan bahwa para pengendara sepeda motor ini memprotes keputusan pemerintah yagn memberlakukan regulasi tersebut sehingga ruang gerak para bikers ini terbatas. Bagi Anda yang belum tahu, sepeda motor di Kamerun ini dijadikan moda transportasi seperti layaknya ojek.
“Sebagian besar dari mereka (para pengendara sepeda motor) merupakan lulusan universitas yang tidak beruntung karena tidak mendapatkan pekerjaan. Mereka semua telah sepakat untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri agar bisa mendapatkan penghasilan dan bertahan hidup,” ujar Dieudonne.
“Maka ketika pemerintah menerapkan regulasi ini, menurut saya itu adalah suatu langkah yang sangat buruk,” tukasnya.
Jika peraturan ini berlaku kelak, maka wilayah-wilayah yang tidak boleh dilalui oleh sepeda motor mencakup: area di depan kedutaan besar, pusat kota, dan perumahaan tempat pejabat senior tinggal.
Gubernur Wilayah Pusat, Nasseri Paul Bea mengatakan, “diharapkan dengan diberlakukannya regulasi ini, maka kota akan menjadi semakin aman dan tertib, dimana ini akan berimplikasi terhadap facelift Yaounde bagi pelancong internasional,”
Baca Juga: Populasi Ojek Online Meroket, Apakah ini Pertanda Bagus Untuk Ibu Kota?
Dewan Kota Yaounde melaporkan setidaknya ada 30.000 pengendara motor di Yaounde dan sebagian besar dari mereka mengangkut penumpang dari wilayah yang tidak dilintasi oleh taksi mobil, mengingat masih buruknya kondisi menuju pusat kota.
Jika pengendara sepeda motor ini tidak bisa lagi mengangkut penumpang menuju pusat kota, akankah regulasi anyar ini mengubah tatanan transportasi di Yaounde?
Sebagai maskapai yang hanya mengoperasikan dua jenis pesawat saja, Boeing 777 dan Airbus A380, wajar adanya jika Emirates ingin memberikan layanan terbaik tidak hanya kepada penumpangnya, melainkan juga kepada awak kabin yang bekerja di dalamnya – salah satunya adalah kehadiran dari shower suite yang ada di pesawat Airbus A380 milik mereka. Namun, kabarnya ada pihak yang melarang penggunaan shower suite tersebut. Kira-kira, siapa ya?
Baca Juga: Layanan First Class Emirates Undang Decak Kagum Youtuber!
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman onemileatatime.com (4/11), adalah pihak Inggris yang melarang penggunaan dari shower suite pada penerabangan Emirates tujuan Inggris. Hal ini terjadi bukan melulu lantaran fungsinya yang akan menyegarkan penumpang setelah melakukan perjalanan sekian lama, namun lebih kepada petugas shower suite (shower suite attendant) yang dinilai bukan bagian dari awak kabin atau pramugari.
Menurut otoritas Inggris, shower suite attendant tidaklah memiliki pelatihan layaknya seorang pramugari. Shower suite attendant sejatinya harus duduk ketika tanda sabuk pengaman menyala, hingga mereka mendapatkan gaji yang lebih rendah ketimbang awak kabin. Pada intinya, pihak Inggris menilai shower suite attendant bukanlah bagian dari awak kabin.
Mungkin beberapa dari Anda akan bertanya-tanya, “mengapa Inggris ikut-ikutan menentukan layanan dari Emirates? Bukankah Emirates merupakan maskapai asal Uni Emirat Arab?”
Jawabannya sederhana: Karena Emirates membuka rute penerbangan menuju Inggris – yaitu ke London, Manchester, dan Glasgow.
Pihak Emirates sendiri sudah membuka rute penerbangan menuju Inggris kurang lebih sudah 10 tahun lamanya, namun mengapa negara Kerajaan ini baru mempermasalahkan soal shower suite baru-baru ini? Alih-alih memperpanjang soal ‘saran’ dari pihak Inggris, Emirates dikabarkan tengah mencari jalan tengah dari kemelut ini.
Baca Juga: Memukau, ‘Sosok’ Airbus A380 Emirates Jadi Ladang Bunga Terbesar di Dubai
Emirates sendiri masih belum bisa menentukan kapan keputusan soal polemik ini bisa dirilis ke publik. Padahal, bisa saja pihak Emirates tidak menugaskan shower suite attendant untuk bisa memenuhi permintaan dari Inggris, atau malah mempekerjakan satu awak kabin untuk menjaga suite tersebut. Atau mungkin meningkatkan ‘derajat’ dari shower suite attendant, mengingat tugas dari shower suite attendant tidaklah hanya sekedar menjaga saja, melainkan juga membersihkannya.
Naik kereta dengan lokomotif uap di Indonesia ternyata tidak hanya ada di Pulau Jawa saja melainkan di Pulau Kalimantan juga ada. Kereta ini melintasi dua negara yakni Indonesia (Kalimantan Utara) dan Malaysia (Sabah).
Baca juga: Lokomotif Uap D1410, Kembali Beroperasi Jadi Kereta Wisata di Solo
Ini menjadi kereta uap tertua di Kalimantan dan ketika menaikinya penumpang serasa kembali ke pesona kolonial British North Borneo. Ketika kereta ini akan berangkat, di stasiun akan memperdengarkan lagu-lagu klasik dari era swing sebelum menembus kehijauan Borneo.
Gerbong kereta ini dirancang pada abad ke-19 dengan kayu oak yang unik, kursi kain dan lampu panel seperti kembali ke seratus tahun lalu. Diketahui, kereta uap ini diproduksi oleh Vulcan Foundry di Lancashire, Inggris dan menjadi armada lokomotif terakhir yang melakukan perjalanan melintasi Kalimantan sejak tahun 1880-an.
Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Kereta Api Borneo Utara merupakan proyek bersama antara Sutera Harbour Resort dan Departemen Kereta Api Negara Sabah. Kereta ini kembali mengular pada tahun 2000 untuk memperingati hari jadi Kota Kinabalu dan satu-satunya kereta yang melayani pulau Kalimantan.
Kereta tersebut beroperasi dua minggu sekali dari Tanjung Aru ke negara bagian Sabah dan Papar. Namun dalam gerbongnya tidak dilengkapi pendingin udara karena ingin pelancong menikmati udara segar ketika bepergian melalui hutan hujan Kalimantan. Chief operating officer dari Sutera Harbour Resort, Gerard Tan mengatakan, untuk menjaga kereta uap ini tetap berjalan, metode pengisian bahan bakar kuno telah digunakan.
“Kereta ini hanya menggunakan bahan bakar kayu yang sangat unik yang disebut bakau. Untuk mendapatkan kayu bakau itu tidak mudah. Anda harus memotong dan kemudian Anda harus mengeringkannya dan itu sangat mahal,” ungkap Tan.
Untungnya dan secara kebetulan Sabah memiliki area bakau terbesar di negara bagian mana pun di Malaysia memiliki lebih dari 232 ribu hektar. Namun, sebagian besar wilayah ini dilindungi oleh undang-undang konservasi karena hutan bakau adalah rumah bagi beragam flora dan fauna.
Kereta ini selain melintasi hutan Borneo juga akan melewati sawah, desa, kuil dan gunung dengan kecepatan yang sangat lambat seperti kembali ke 123 tahun lalu. Penumpang di peron sebelum naik pun akan bertemu pramugari kereta api yang mengenakan seragam era kolonial lengkap dengan kancing kuning dan helm empulur.
Baca juga: Sepur Kluthuk Jaladara, Kereta Uap Kuno Yang Lintasi Jalur Kota Solo
Nantinya penumpang akan dimintakan paspor dan boarding pass sebelum melanjutkan perjalanan menikmati alam Kalimantan. Penumpang duduk dua orang per meja sehingga semua penumpang bisa melihat keluar pemandangan melalui jendela. Kereta ini sendiri melintasi 12 stasiun dari Stasiun Tanjung Aru hingga
Biasa beli tiket Damri melalui loket atau didalam bus ketika berangkat? Kini ada cara lebih mudah lagi bagi penumpang bus Damri yang akan pergi ke Bandara, Antar Kota ataupun ke kawasan pariwisata yakni dengan menggunakan Damri Apps.
Baca juga: Damri JA Connection Buka Rute Pondok Cabe – Bandara Soekarno-Hatta
Bisa dikatakan Damri Apps, seperti KAI Access milik PT KAI yang juga melayani pembelian kereta lokal dan bandara. Aplikasi ini dikatakan Direktur Utama Perum Damri Setia N Milatia Moemin, merupakan salah satu penunjang kemudahan masyarakat untuk perjalanan bisnis atau melancong.
“Untuk metode pembayarannya pun penumpang dimudahkan dengan kartu kredit dan debit, transfer bank, GoPay dan Link Aja. Bahkan penumpang yang melakukan pembayaran dengan GoPay dan Link Aja bisa mendapat diskon khusus,” kata Setia yang dikutip KabarPenumpang.com dari damri.co.id (7/11/2019).
Kehadiran aplikasi ini sendiri merupakan terobosan baru Damri bagi masyarakat millenial dan Setia mengklaim Damri Apps sudah diunduh lebih dari 50 ribu pengguna. Setia menambahkan, memesan tiket melalui aplikasi selain memangkas waktu ke loket juga penumpang bisa membeli tiket dengan menentukan jadwal perjalanan mereka sendiri.
Setia mengatakan, saat ini Damri Apps baru tersedia untuk pengguna Android dan masyarakat dapat mengunduh aplikasinya melalui Play Store. Ia berjanji aplikasi tersebut akan berkembang ke depannya.
“Kita sedang ingin terus mengembangkan Damri Apps, segera aplikasi ini akan hadir di App Store untuk pengguna iOS,” tambah Setia.
Untuk pembelian tiket Damri tujuan Bandara pun tak hanya satu bandara seperti Soekarno-Hatta, tapi semua bandara di seluruh Indonesia penumpang yang memesan tiket Damri ini bisa langsung mengklik pilihan keberangkatan dan tujuannya. Tak hanya Damri Apps, sejak setahun lalu Damri sudah memudahkan penumpangnya dengan sistem tiket elektronik.
Sistem tersebut atas kerja sama Perum Damri dengan PT Telkom Indonesia. Saat ini sistem tersebut sudah ada di hampir semua bandara yang menggunakan Damri sebagai moda angkutannya di seluruh Indonesia.
Baca juga: PT KAI Gandeng Perum Damri, Mudahkan Perjalanan dari Palembang ke Stasiun Gambir
Bahkan nantinya sistem pembayaran Damri akan sama seperti TransJakarta yang menggunakan uang elektronik terbitan bank seperti Flazz, Brizzi, eMoney dan melalui dompet elektrnik seperti TCash yang dibuat oleh Telkomsel.
Seorang penumpang yang tengah naik kereta api kelas bisnis Gumarang bersama temannya harus menelan kekecewaan. Pasalnya kursi yang mereka duduki sangatlah tidak nyaman karena tanpa space atau ruang kaki. Bahkan tidak ada juga soket listrik seperti kursi pada umumnya.
Baca juga: Hadirkan Empat Kereta Baru, KAI Berlakukan Gapeka 2019
Hal ini baru saja dirasakan seorang penumpang bernama Elisabeth Glory pada 11 Oktober lalu yang duduk di bangku 16A dan 16B KA Gumarang. Selain tak dapat space kaki, kursi mereka pun langsung berhadapan dengan tembok dan kalaupun memutar ke sisi berlawanan konsekuensinya harus berhadapan langsung dengan penumpang lain.
Glory yang menuliskan di akun Twitter-nya mengaku bahwa ketika membeli tiket tidak ada informasi yang jelas terkait kursi mereka. Sehingga pada keberangkatan mereka bisa dikatakan mendapatkan kursi mini yang seharusnya tidak ada lagi di kereta baru.
Nah, terkait hal ini KabarPenumpang.com langsung menghubungi Senior Manager Humas Daop 1 PT KAI Eva Cahirunisa. Eva mengatakan, terkait kondisi ruang gerak yang dilaporkan pengguna terlalu sempit tersebut menjadi evaluasi pihak KAI.
Dia mengatakan, kereta tersebut merupakan desain lama yang kini pun bertahap dalam penggantian dengan desain baru. Pihaknya pun akan mengupayakan agar penumpang yang menggunakan desain lama tak lagi mendapat kursi mini seperti yang dirasakan Glory.
“Kami tidak memberikan kompensasi tetapi memberikan harga yang lebih rendah dan memang rencana akan di close saja,” ujar Eva kepada KabarPenumpang.com, Rabu (13/11/2019).
Eva menambahkan, pihaknya tengah melakukan peremajaan kereta dengan desain lebih baik dan sudah mulai dioperasikan untuk seluruh relasi yang ada. Terkait fasilitas yang dipermasalahkan penumpang, dia menjelaskan bahwa fasilitas umum yang ada pada kereta memang tidak tercantum pada tiket.
“Kami sampaikan fasilitas untuk power supply tersedia pada seluruh area tempat duduk di semua kelas, namun memang karena kereta tersebut merupakan kereta dengan design lama, hanya pada seat 16 B dan 16 A saja yang tidak terdapat power supply secara langsung diarea kursi dengan posisi menghadap tembok langsung. Untuk seat lainnya pada kereta tersebut tersedia power supply,” jelasnya.
Baca juga: Serba-Serbi Pilih Kursi ‘Panas’ di Kereta Ekonomi Premium
Eva menegaskan, bila terjadi hal serupa, penumpang bisa meminta bantuan pada petugas atau kondektur yang bertugas. Seluruh petugas yang ada di dalam kereta sangat terbuka untuk membantu kebutuhan para pengguna, sehingga jika memerlukan informasi atau bantuan para pengguna dapat secara proaktif bertanya ke petugas bisa menyampaikan secara langsung atau menghubungi nomor HP Kondektur yg tertera di dinding kereta.
Selain dapat lebih proaktif di kereta, pelancong pun disarankan untuk membeli tiket dari jauh-jauh hari demi mengantisipasi. Namun bila terkait masalah kelas bisnis dan kursi mini
Setelah pada akhir Maret kemarin situasi di Hong Kong sempat memanas akibat rencana pemerintah untuk memberlakukan Rancangan Undang-Undang (RUU) Ekstradisi, kini situasi di sana dikabarkan masih ada ketegangan yang diakibatkan oleh ribuan orang yang menolak kehadiran dari RUU tersebut – walaupun beberapa media mengabarkan sudah ada indikasi bahwa Hong Kong sudah mulai mengalami pemulihan. Sebagai dampak dari kerusuhan masif tersebut, sejumlah maskapai dari berbagai wilayah mengaku mengalami penurunan permintaan penerbangan.
Baca Juga: Diterjang Badai “RUU Ekstradisi,” Sampai Kapan Cathay Pacific dapat Bertahan?
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (6/11), sebut saja maskapai papan atas Singapore Airlines yang kabarnya mengalami penurunan jumlah penumpang menuju Hong Kong. Menurut pihak perusahaan, permintaan tiket untuk penerbangan tersebut masih tergolong sangat rendah – sayangnya mereka enggan membocorkan angka terkait penurunan minat penumpang untuk terbang ke negara yang menjadi bagian dari Tiongkok itu.
CEO dari Singapore Airlines, Goh Choon Phong mengatakan bahwa ‘rasa tidak enak’ sebagai dampak dari kerusuhan Hong Kong diharapkan tidak semakin memburuk, “meskipun masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa permintaan perjalanan dari Hong Kong kini tengah dalam upaya pemulihan, namun kini kondisinya sudah mulai stabil,”
Di sisi lain, nasib yang dialami oleh The Flying Kangaroo Qantas terbilang lebih nestapa ketimbang Singapore Airlines – mengingat tersiar kabar yang menyebutkan bahwa pihak Qantas mengalami kerugian hingga melebihi angka US$17 juta. Pada akhir bulan Oktober saja, pihak Qantas membukukan kerugian hingga mencapai angka US$25 juta.
Konflik yang terjadi antara pengunjuk rasa dan pemerintah Cina telah membuat pemelahan dari sektor pariwisata dan juga berdampak pada pelemahan ekonomi. Menurut laman Forbes, jumlah pelancong yang bertandang ke Hong Kong mengalami penurunan hingga 40% dibandingkan dengan tahun lalu – sedangkan untuk pemesanan tiket penerbangan juga mengalami pelemahan sebesar 10%.
Baca Juga: Dampak Kerusuhan RUU Ekstradisi, Bandara Hong Kong Batalkan Lebih dari 200 Penerbangan
Jika ditanya maskapai mana yang paling terdampak dari kerusuhan ini, maka jawabannya adalah flag carrier Hong Kong, Cathay Pacific. Dimana jika dibandingkan dengan tahun lalu di rentang waktu yang sama, maskapai ini mengalami penurunan 7,2% dari segi load factor dan turun 38% dari segi lalu lintas penumpang masuk (inbound passenger traffic).
Guna mengurangi emisi karbon, di DKI Jakarta sejak beberapa saat lalu telah dioperasikan bus listrik secara terbatas. Tapi bus listrik yang dioperasikan TransJakarta wujudnya tak beda dengan bus konvensional, lantaran mengusung jenis electric buses yang membutuhkan proses charging lama alias isi ulang di depo.
Baca juga: Frankfurt Autobahn A5, Jalan Tol Pertama dengan Kabel Listrik Aliran Atas
Namun, di sebagian negara Eropa model bus listrik ada yang sedikit berbeda, mirip dengan KRL (Kereta Rel Listrik), dikenal bus listrik yang beroperasi menggunakan pantograf. Seperti saat kunjungan tim KabarPenumpang.com di Oslo dan Munich beberapa saat lalu, terlihat model bus listrik dengan pantograf telah mengular di beberapa rute.
Sumber: venturebeat.com
Terkait dengan bus listrik dengan model pantograf, dinilai punya beberapa keunggulan, seperti proses pengisian atau charging listrik dilakukan sembari bus berlajan, sehingga efektif dari sisi operasional. Sebagai perbandingan, bila dengan model bus listrik berbaterai, maka harus berhenti menunggu penuh dan tidak bisa beroperasi dan mengangkut penumpang saat proses charging.Baca juga: City of Bryan Siap Rilis Moda Otonom Bertenaga Listrik Pada Pertengahan Oktober Mendatang!Pantograf Tanpa Kabel LAA
Model bus listrik berpantograf awalnya dikembangkan dengan terhubung ke kabel LAA (Listrik Aliran Atas). Namun itu sudah terbilang kuno, lantaran dianggap punya investasi besar. Umumnya model ini populer di kawasan Eropa Timur.
Bila merujuk yang diterapkan di Jerman dan Norwegia, bus listrik berpantograf tidak membutuhkan kabel LAA di sepanjang lintasan. Pantograf hanya difungsikan (diaktifkan) saat bus kembali ke depo atau berhenti di shelter (halte), yaitu pada proses menaikan dan menurunkan penumpang, bus melakukan isi ulang listrik. Model pantograf seperti ini jadi tidak membutuhkan investasi yang besar. Model bus ini membutuhkan kapasitas baterai yang tidak terlalu besar.
Pada dasarnya bus listrik terdiri dari dua kategori, yakni otonom dan non otonom, dimana bus otonom menyimpan energi di dalam kendaraan, sementara bus non otonom menjaga pasokan energi listrik terus menerus dari luar kendaraan.
Nah, melihat pada model yang ada di Oslo dan Munich, rasanya ideal bila bus listrik dengan pantograf hadir di Jakarta. Dengan teknologi ini, kami berharap laju operasional bus listrik dapat lebih efektif dan efisien.
Dalam lawatan tim KabarPenumpang.com beberapa waktu yang lalu ke Jerman, terdapat satu pemandangan yang sedikit mengganjal di hati. Bukan di destinasi tujuan, melainkan dalam perjalanan menuju titik transit Abu Dhabi sebelum melanjutkan penerbangan menuju Jerman. Menggunakan pesawat Boeing 787-900 Dreamliner milik maskapai asal Uni Emirat Arab, Etihad, terlihat ada “Investigator Ridge” terpampang di menu maps pada layar In-Flight Entertainment (IFE) E-Box.
Baca Juga: Etihad dan Air Arabia Kerjasama Hadirkan Low Cost Carrier Baru!
Tampilan layar maps umumnya menyajikan ikon kota-kota yang tengah dilewati atau akan dituju dalam sebuah rute penerbangan. Namun adanya label Investigator Ridge pada sisi sisi barat laut Pulau Sumatera menjadi tanda tanya tersendiri. Yang terbesik pertama adalah itu merupakan jalur atau rute hilangnya pesawat Boeing 777-200 Malaysia Airlines MH370.
Investigator Ridge sedikit banyaknya mengusik hati kecil dari siapa pun yang mengamati perkembangan sektor aviasi global dari hari ke hari. Mencoba menelaah dari beragam literasi, ternyara Investigator Ridge merupakan punggung bukit bawah laut yang berada di Samudera Hindia, tepatnya di sebelah barat daya Pulau Sumatera. Lalu, mengapa Investigator Ridge ini bisa mengusik siapa pun yang mengikuti berita seputar aviasi?
Ya, karena salah satu misteri terbesar di jagad aviasi, hilangnya Malaysian Airlines MH370, diperkirakan hilang kontak ketika pesawat berada di area Investigator Ridge tersebut. Jika di lihat di peta, Investigator Ridge ini berada bersebelahan dengan Ninetyeast Ridge (90E Ridge atau 90 ° E Ridge). Secara kasat mata, Anda semua tidak akan bisa melihat punggung bukit ini, baik Investigator maupun Ninetyeast Ridge – bahkan ketika Anda berada di permukaan laut sekalipun.
Baca Juga: (Lagi) Hipotesa Baru Misteri MH370: Pesawat Diduga Kehilangan Tekanan Kabin
Sayangnya, tidak ada banyak informasi yang dapat digali dari Investigator Ridge ini dan apa latar belakang dari Etihad untuk memunculkan nama Investigator Ridge di dalam in-flight entertainment-nya.
Kuat dugaan, pihak Etihad hanya ingin menginformasikan kepada para penumpang bahwa di sisi barat dari penerbangannya dari Jakarta menuju Abu Dhabi itu melintasi suatu daerah yang menjadi titik dimana Malaysian Airlines MH370 hilang kontak dengan menara pengawas.
Sulit rasanya memang jika ada dua kota besar di suatu negara memiliki maskapai unggulannya masing-masing. Beda cerita jika kedua maskapai satu negara ini terbagi ke dalam dua kasta yang berbeda (Full Service dan Low Cost Carrier), namun sayangnya, kedua maskapai ini menyandang predikat sebagai maskapai bintang lima yang memiliki rute operasional hampir ke seluruh penjuru dunia.
Baca Juga: Etihad Airways Buka Lowongan Global di 19 Kota Dunia
Di negara kaya minyak, Uni Emirat Arab, skema di atas nyatanya benar-benar terjadi. Adalah Emirates dan Etihad, dua maskapai kelas wahid yang menjadi kebanggaan Uni Emirat Arab di sektor aviasinya. Pertanyaannya adalah, “mana yang lebih baik? Emirates atau Etihad?”
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman eturbonews.com (28/10), bagi Negara Paman Sam, maskapai penerbangan Etihad agaknya akan menang satu poin ketimbang Emirates – mengingat basis dari maskapai ini ada di Abu Dhabi, sedangkan Emirates di Dubai. Kendati begitu, kedua maskapai ini sejatinya membuka rute penerbangan menuju Amerika Serikat.
Tidak melulu menghubungkan Negara Teluk dengan wilayah-wilayah yang ada di Negara Adikuasa, kedua maskapai ini juga membuka rute penerbangan ke seluruh dunia dan keduanya saling bersaing dalam urusan hub transit penerbangan jarak jauh. Alih-alih persaingan dalam makna pada umumnya, baik Emirates maupun Etihad seyogyanya sama-sama berupaya untuk menjadikan wilayah Uni Emirat Arab sebagai tempat transit yang diproyeksikan akan meningkatkan bea dari sektor pariwisata negara tersebut.
Pun halnya dalam urusan layanan kepada penumpang, dimana kedua maskapai ini sama-sama berusaha untuk menyajikan layanan kelas satu yang didambakan oleh setiap penumpang – dimana ini akan berimplikasi pada persaingan bisnis dan finansial. Salah satu faktor penting yang menunjang kenyamanan penumpang dalam melakukan perjalanan adalah in-flight entertainment.
Tidak perlu diragukan lagi, kedua maskapai ini juga menyajikan gacoannya masing-masing. Jika Etihad memiliki E-box, maka lain halnya dengan Emirates yang memiliki ICE.
Baca Juga: Etihad dan Emirates, Jadi Maskapai Paling Ramah Bagi Keluarga
Jika harus menentukan mana maskapai terbaik di antara kedua pilihan di atas, tentu saja jawabannya tidak bisa disama-ratakan. Dari persepsi penumpang, semuanya bergantung pada rute mana yang hendak Anda tempuh, kapan, dan apa saja yang Anda butuhkan di dalam penerbangan tersebut (in-flight meal, in-flight entertainment, dll). Terlepas dari itu, kedua maskapai ini sama-sama memberikan pelayanan yang maksimal kepada para penumpangnya.