Pelancong Asing Dibuat Bingung, Cina Gunakan QR Code untuk Mayoritas Transaksi via Alipay dan WeChat

Pembayaran non tunai melalui aplikasi dengan hanya memidai QR code pada mesin pembayaran sudah mulai dilakukan oleh Cina dan membuat pelancong yang akan berwisata kesulitan karena hal tersebut. Bahkan, uang tunai dan kartu kredit pun seakan tidak laku untuk membayar taksi atau sebotol air mineral. Baca juga: Lihat Barcode atau QR Code di Tiket Anda? Inilah Maknanya! Tak hanya untuk membayar makanan dan taksi, tetapi kini QR code sudah digunakan untuk membayar rumah sakit, dan pemesanan penerbangan. Bahkan pengemis pun kini meminta uang melalui QR code. Hal ini kemudian membuat kehidupan 1,4 miliar orang di Cina dimudahkan tanpa harus membawa dompet. Dilansir KabarPenumpang.com dari wsj.com (10/11/2019), tapi ini tidak bagi 140 juta pelancong dan dapat membuat mereka yang tiba di Cina kesulitan setiap tahunnya tanpa daya. Apalagi mereka tidak bisa mengandalkan aplikasi yang sudah dikenal seperti Google yang di blokir dan Uber yang menyerahkan sistem ride hailing ke Didi. Pembayaran dengan QR code pun melalui platform WeChat Pay dan Alipay dari grup jasa keuangan Tencent Holding dan hampir tidak mungkin digunakan tanpa rekening bank Cina. Seorang pelancong yang melakukan perjalanan perdana ke Negeri Tirai Bambu,yakni Courtney Newnham mengaku dirinya sangat antusias ketika menemukan salah satu makanan. Namun dirinya kemudian tersadar bahwa pembeli tidak membayar dengan uang tunai kepada pedagang. “Semua orang hanya memindai dan berjalan pergi. Aki seperti, ‘Tunggu, apa?’ dan pergi dengan tangan kosong,” ujarnya, Selain itu, Alex Lee yang membawa ayah dan saudara laki-lakinya pijat di spa Hangzhou pun melakukan pembayaran dengan kartu kredit. Kemudian kasir mengeluarkan alat pembaca kartu dari tempat penyimpanan dan melihat benda itu seperti asing. Ternyata bukan hanya pelancong, seorang pensiunan asal Cina bernama Gong Cheng pun terpaksa meminta tolong orang lain membayar pesanan mie-nya karena menggunakan QR code, sementara dirinya hanya mempunyai uang tunai. Diketahui, Bank Rakyat Tiongkok telah menyatakan ilegal bagi pebisnis untuk menolak uang tunai. Cabang Shanghai bank baru-baru ini mengatakan sedang memeriksa hambatan pembayaran untuk orang asing. Meski begitu untungnya Tencent pekan lalu mengumumkan program percontohan untuk membuka WeChat Pay bagi warga asing. Long UnTour, seorang warga negara Amerika, awalnya bersemangat tentang program ini. Dia tidak berhasil membuat Visa atau Mastercard-nya berfungsi. Tencent, yang menyebut kurangnya akses ke pembayaran mobile sebagai “titik sakit utama” bagi orang asing, mengatakan peluncuran itu awalnya terbatas pada situasi tertentu, seperti memesan tiket kereta di situs perjalanan. Baca juga: Alipay Siap Ganti Sistem Pembayaran MTR Hong Kong dengan Scan QR Code Sayangnya, situs ini hanya tersedia dalam bahasa Cina. Pelancong memiliki lebih banyak keberuntungan di Alipay, yang memperkenalkan proses tujuh langkah minggu lalu yang mengharuskan pengunjung untuk menyerahkan paspor dan informasi visa ke Alipay, sebelum memuat uang menggunakan kartu luar negeri ke kartu prabayar.

[Opini] Bandara Internasional Kertajati, Untuk Siapa?

Sejak dibuka pada 24 Mei 2018, hingga kini hanya dua maskapai yang beroperasi dari Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, yaitu Lion Air dan AirAsia. Namun jumlah penerbangan sejak Juli 2019 telah mengalami beberapa kali pembatalan penerbangan, hal tersebut disinyalir karena berkurangnya demand penumpang yang berangkat dari Kertajati, sehingga beberapa penerbangan melakukan pembatalan setelah beberapa kali beroperasi. Baca juga: Tiga Rute Citilink Tutup Sementara, Ada Apalagi dengan Bandara Kertajati? Dengan kian sepinya Bandara Kertajati, ditambah keputusan Kementerian Perhubungan untuk mengalihkan semua penerbangan (kecuali Wings Air) dari Bandara Husein Sastranegara di Bandung, mendorong Muhammad Elky Fahriza, seorang Mahasiswa Sampoerna University Jakarta untuk mengutarakan opininya dalam sebuah artikel yang berjudul “Bandara Internasional Kertajati, Untuk Siapa?” yang dituturkan pada paragraf di bawah ini. Pemindahan sebagian penerbangan komersial dari bandara Hussein Sastranegara Bandung ke bandara Internasional Kertajati Majalengka terus menuai kontroversi. Kontroversi mencuatlantaran sulitnya akses kendaraan dari Bandung menuju Majalengka akibat belum selesainya jalan tol Cisumdawu. Untuk saat ini penduduk Bandung harus memutar jauh ke Cikampek apabila menggunakan tol. Namun sebelum itu pembangunan bandara ini sudah menuai polemik di masyarakat. Lokasi yang cukup jauh dari ibukota provinsi dan juga akses yang sulit bahkan sampai bandara tersebut beroperasi. Selain itu, kapasitas bandara Hussein Sastranegara sebenarnya masih cukup memadai, namun entah kenapa pemindahan penerbangan komersial dari dan ke luar jawa dipindah begitu saja ke bandara Kertajati yang berkapasitas 30 juta penumpang per tahun. Satu diantara alasan pemindahan tersebut karena bandara Hussein Sastranegara berada di dekat pemukiman penduduk. Padahal secara teknis hal tersebut masih dapat dimaklumi dan tentu tidak membahayakan penerbangan. Kembali ke pembangunan awal bandara Kertajati, idealnya hanya dibangun dalam ukuran bandara menengah saja atau berkapasitas 5-10 juta penumpang per tahun. Peruntukannya hanya untuk penduduk Majalengka, Cirebon, Indramayu, dan sekitarnya agar dapat memecah kepadatan bandara Hussein Sastranegara. Ketika pangsa pasarnya tumbuh, maka bandara tersebut dapat diperbesar dengan syarat menyiapkan lahan yang cukup untuk pengembangan. Begitulah kira-kira seharusnya prinsip dasar pembangunan suatu bandara di setiap daerah diterapkan. Membangun bandara dengan kapasitas 30 juta penumpang per tahun juga berpotensi mematikan moda transportasi lainnya seperti bus dan kereta api. Apalagi di daerah sekitar bandara Kertajati masyarakat terbiasa menggunakan transportasi darat bila bepergian antar provinsi di pulau Jawa. Jelas perlu pertimbangan yang matang dalam menentukan pangsa pasar di daerah tersebut. Kajian yang menentukan bahwa bandara Kertajati harus dibuat sebesar dan semegah mungkin tentu berbanding terbalik dengan fakta yang ada di lapangan. Sebagai contoh, jika ada sekitar 4 juta pengguna bandara Hussein dalam setahun, maka jika setengahnya yang harus menderita bolak-balik ke bandara Kertajati, maka akan menghabiskan 200.000 untuk ongkos dari Bandung, setara dengan 400 milyar. Belum lagi waktu, bahan bakar, dan tenaga yang terbuang sia-sia. Memang diawal pengoperasiannya ramai dan sukses, namun hanya masalah waktu saja bandara Kertajati akan kembali sepi. Apalagi era digitalisasi seperti sekarang ini, tidak sulit untuk membandingkan biaya yang harus dikeluarkan jika ingin bepergian. Penumpang dari Bandung bahkan lebih memilih untuk terbang dari bandara Soekarno-Hatta dengan alasan akses yang beragam, konektivitas penerbangan, dan pilihan jadwal yang beragam. Itulah yang terjadi sekarang, jumlah penumpang di bandara Kertajati menurun dan bahkan beberapa maskapai menutup beberapa rute yang hanya beroperasi hitungan bulan. Alasan penutupan adalah karena low season padahal penerbangan di bandara Hussein baik-baik saja. Baca juga: Trayek Tak Tutup, Pengusaha Transportasi di Bandara Kertajati Hanya Merugi Lantas bagaimana sekarang?langkah pertama dan yang paling utama ialah mengembalikan penerbangan ke bandara Hussein seperti sedia kala. Biarkan maskapai membuka rute dari bandara Kertajati tanpa paksaan dan tekanan. Selesaikan dulu akses tol langsung ke bandara dan fokus kepada penumpang di daerah sekitar bandara Kertajati. Dengan demikian pangsa pasar yang ada terhadap Bandara Kertajati akan tumbuh seiring waktu. (Muhammad Elky Fahriza)

Agar Anda Tidak Tertipu, Kenali “Downgrade” Kelas dalam Penerbangan

Mengudara dengan segala sesuatunya yang sesuai dengan rencana – termasuk mendapatkan tempat duduk yang sesuai dengan apa yang tertera di dalam tiket tentu menjadi idaman bagi setiap pelancong. Bayangan nyamannya duduk di business class atau first class, sembari menyantap in-flight meal dan menikmati penerbangan agaknya sulit lepas dari angan. Namun apa jadinya jika bangku yang sudah Anda pesan untuk mengudara malah di downgrade ke kelas yang lebih rendah? Baca Juga: Inilah Dampak Jika Anda Pindah Bangku dari Economy Class ke Business Class Secara Ilegal! Ya, skema seperti ini memang lumrah terjadi di sektor aviasi global – yang tentu dipengaruhi oleh sejumlah faktor pendukung. Sebagaimana yang dialami langsung oleh KabarPenumpang.com ketika melakukan lawatan ke Eropa beberapa waktu kemarin, pesawat Etihad yang kami tumpangi terpaksa harus ditukar jenis pesawatnya karena satu dan lain hal. Mengingat konfigurasi dan kapasitas kursi di setiap pesawat berbeda, maka tidak heran apabila downgrade kelas terpaksa dilakukan oleh pihak maskapai. Ketika pihak maskapai melakukan downgrade, tentu ada sejumlah opsi yang ditawarkan kepada penumpang guna menunjang perjalanannya – mulai dari melakukan perjalanan tetap di kelas awal namun pada penerbangan selanjutnya, fasilitas penunjang lain (seperti makan dan lain sebagainya), hingga refund dana. Hal ini dilakukan pihak maskapai guna mempertahankan citra baiknya, kendati mereka baru saja melakukan suatu tindakan yang bisa mencoreng nama mereka. Pengalaman di atas senada dengan penjelasan yang ada di laman traveller.com.au, dimana downgrade kelas penerbangan ini lazimnya terjadi ketika pesawat yang semestinya mengoperasikan satu rute, diganti dengan pesawat lain yang kapasitasnya lebih kecil atau memiliki konfigurasi bangku yang berbeda. Menurut laman tersebut, pihak maskapai yang melakukan downgrade kepada penumpangnya akan menggantikan selisih harga dari bangku kedua kelas ini. Namun tidak dengan regulasi yang diberlakukan di negara-negara Uni eropa, dimana pihak maskapai diwajibkan untuk mengganti 30 hingga 75 persen dari harga tiket penumpang terkait, tergantung dari jarak penerbangannya. Semakin jauh penerbangannya, maka semakin besar pula persenan yang didapat oleh si penumpang tersebut. Seperti yang sudah disinggung di atas, bagi Anda yang menjadi korban dari downgrade kelas ini, Anda akan mendapatkan beberapa ‘keuntungan’. Baca Juga: Kreatif! Beginilah Cara Emirates Rangkul Penumpang yang Hendak ‘Seat Upgrade’ Jika Anda memilih untuk tetap duduk di kelas awal dan rela menunggu penerbangan selanjutnya, maka bukan tidak mungkin apabila Anda mendapat kompensasi berupa tiket menginap (jika jadwal penerbangan selanjutnya jatuh pada keesokan harinya) hingga voucher makan. Lalu jika Anda tetap memilih terbang pada jadwal yang sama (berarti Anda duduk di kelas ekonomi atau bisnis), maka Anda akan mendapatkan refund alias kompensasi atas penurunan kelas tadi.

Setelah Sempat Rujuk, Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air Resmi Pecah Kongsi

Setelah pada pemberitaan sebelumnya disebutkan bahwa pihak Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air telah sepakat untuk rujuk selama tiga bulan ke depan, kini pemberitaan terbaru menyebutkan yang sebaliknya. Menteri Koordinator Bidang Maritim dan investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan bahwa hubungan kedua maskapai ini sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Tentu saja pernyataan dari Menteri Luhut ini sempat membuat publik tercengang, pasalnya Luhut pula yang menjadi mediator dari kedua maskapai ketika minggu lalu pihak Sriwijaya Air tidak melayani operasi penerbangan. Baca Juga: Damai! Sriwijaya Rujuk Dengan Garuda Untuk Tiga Bulan ke Depan Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman kumparan.com (11/11), Menteri Luhut bilang mengatakan bahwa dengan berakhirnya kerja sama bisnis kedua perusahaan ini maka persoalan masing-masing maskapai akan diurus secara internal masing-masing perusahaan. Seperti persoalan Sriwijaya Air misalnya yang memiliki utang di beberapa perusahaan BUMN. “Udah pisah sekarang. Udah my understanding ya,” ujar Luhut, Senin (11/11). “Sriwijaya (Air Group) dia split ya sudah enggak apa-apa ya nanti Sriwijaya Air Group punya utang-utang segala macam ya dia settle aja,” tandasnya. Terkait mengenai kelanjutan audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) kepada Garuda Indonesia Group dan Sriwijaya Air Group, Menteri Luhut belum mendapat laporan terakhir. Artinya belum ada kepastian apakah audit akan terus berjalan ataukah sudah secara otomatis berhenti. Pada kesempatan sebelumnya, tepatnya pada Jumat (8/11), VP Corporate Secretary Garuda Indonesia mengatakan bahwa Sriwijaya Air Group sudah dikeluarkan dari member Garuda Indonesia Group. Padahal, sehari sebelumnya (7/11), kedua maskapai telah menyepakati perpanjangan Kerja Sama Manajemen (KSM) selama tiga bulan ke depan. Pada mulanya, Ikhsan menambahkan, masuknya Garuda Indonesia Group dalam KSM dengan pihak Sriwijaya Air ini dilakukan untuk mengamankan aset dan piutang negara pada Sriwijaya Air. Namun niatan Garuda Indonesia Group ini dinilai terlalu berlebihan oleh pihak Sriwijaya Air. Melalui salah satu pemegang saham di tubuh Sriwijaya Air, Yusril Izha Mahendra mengatakan, “Pihak Sriwijaya merasa dominasi Garuda terlalu jauh intervensinya kepada Sriwijaya sehingga menurut persepsi Sriwijaya, maksud kerja sama ini sebenarnya untuk meningkatkan kapabilitas Sriwijaya untuk bisa membayar utangnya kepada beberapa BUMN dan di sini jadi dispute sebenarnya,” Baca Juga: (Kembali) Pecah Kongsi Dengan Garuda Indonesia, Ratusan Penumpang Sriwijaya Air Terlantar di Bandara Internasional Soekarno-Hatta “Menurut kalangan Sriwijaya ini malah tidak efisien. Mereka me-manage Sriwijaya ini misalnya yang dulu, maintenance dikerjakan sendiri oleh Sriwijaya sekarang malah ditangani oleh GMF. Dan itu dengan cost yang jauh lebih mahal,” sambung Yusril. Ya, menurut Yusril, KSM yang terjalin antara pihak Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air ini malah semakin membengkakkan hutang Sriwijaya Air karena biaya maintenance yang dilakukan oleh Garuda Indonesia di Garuda Maintenance Facility Aeroasia (GMF) dinilai terlalu mahal.

Ginger Ale Bisa Gantikan Diet Coke untuk Minuman Dalam Penerbangan

Diet Coke menjadi salah satu minuman terburuk yang dipesan selama penerbangan dan menjadi minuman yang paling ‘dibenci’ oleh pramugari. Hal ini dikarenakan pramugari membutuhkan waktu lama untuk menuangkan Diet Coke, tekanan pada kabin dipercaya membuat Diet Coke lebih rentan berbusa lebih banyak. Baca juga: Diet Coke, Inilah Minuman Yang Dibenci Pramugari Selain itu, semua jenis minuman bersoda adalah minuman terburuk sebab bisa memperlambat pelayanan minuman pada penumpang. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, ternyata ada minuman terbaik yang bisa dipesan dalam penerbangan. Minuman tersebut adalah ginger ale atau bir jahe. Minuman ini tidak hanya rasa jahenya tetapi juga membuat kondisi terbang jarak jauh lebih dapat ditoleransi. Meski minuman jahe terasa kurang manis di udara, rasa jahe yang lebih tajam menjadi satu dari sedikit hal yang benar-benar terasa lebih enak di ketinggian lebih dari sepuluh ribu kaki. Bahkan ginger ale juga bermanfaat untuk sejumlah alasan medis seperti ketika penumpang terserang penyakit dalam perjalanan seperti mengurangi rasa mual dan gangguan pencernaan. Jahe memiliki sifat anti inflamasi dan dapat mengurangi pembengkakan yang menjadi masalah penumpang dalam penerbangan jarak jauh yang disebabkan duduk terlalu lama. Selain alasan ilmiah atau medis yang mungkin ingin Anda capai untuk Schweppes atau Canada Dry di pesawat, minum bir jahe terasa enak pada tingkat emosional. Ginger ale sendiri pernah menjadi salah satu minuman ringan paling populer di Amerika Utara. Pertama kali minuman ini dikembangkan di Irlandia dan Inggris pada tahun 1840-an. Diketahui John J McLaughlin dari Enniskillen, Ontario perama kali menciptakan Canada Dry yang merupakan salah satu merek ginger ale paling terkenal hingga saat ini sejak tahun 1890. Penemuannya yang begitu tajam dan bergelembung sehingga memasarkannya sebagai Champagne of jahe ales karena rasa dan warnanya. Baca juga: Teh dan Kopi Panas Tak Baik Dipesan Dalam Penerbangan? Ini Alasannya! Sherry Ross, M.D., dari Providence Saint John’s Health Center mengatakan bahwa minuman berkarbonasi yang bukan jahe sebagian besar yang membuat perut tidak nyaman selama penerbangan. Tetapi jika maskapai membagikan merek ginger ale dengan kandungan jahe asli akan lebih baik karena tidak ada gelembung ketika menuangkan dalam gelas.

Cirrus Aviation Perkenalkan Fitur Keselamatan yang Siap ‘Daratkan’ Penumpang dengan Aman

Apa yang ada di dalam benak Anda jika mendengar sebuah penerbangan otonom mengalami kondisi darurat? Apakah pesawat akan jatuh begitu saja? Atau mereka memiliki instrumen tersendiri yang akan menyelematkan nyawa para penumpangnya? Pertanyaan ini terjawab beberapa waktu ke belakang, dimana salah satu ‘pemain’ di sektor pesawat otonom, Cirrus Aviation mengumumkan tentang salah satu fitur keselamatan terbarunya, Safe Return Autoland untuk pesawat jet G2 Vision kembangannya. Dari namanya saja, tentu Anda sudah bisa menebak, dimana ketika keadaan darurat melanda, maka pesawat akan bisa melakukan pendaratan dengan aman. Baca Juga: Mengenal Ditching, Pendaratan Darurat Pesawat di Atas Permukaan Air Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (30/10), G2 Vision merupakan pesawat kembangan Cirrus Aviation yang bertenagakan jet dan mampu memboyong tujuh penumpang dalam sekali perjalanan. Jika diklasifikasikan ke dalam kelompok drone, agaknya G2 Vision tidaklah termasuk ke sana, mengingat pesawat ini mampu menjelajahi udara di ketinggian 31.000 kaki dengan kecepatan 300 knot. CEO dari Cirrus Aviation, Zean Nielsen sampai-sampai mempromosikan G2 Vision sebagai breaktrough dalam sektor penerbangan di masa yang akan datang. Dalam pengembangan fitur keselamatan yagn bertajuk Safe Return Autonomous Autoland, Cirrus Aviation tidaklah berjalan sendiri, melainkan menggandeng Garmin, sebuah perusahaan teknologi multinasional asal Amerika Serikat. Cara kerjanya sederhana, tombol Safe Return Autonomous Autoland akan ada di bagian pengemudi (pilot) dan penumpang. Semisal ada keadaan darurat dimana penerbangan tidak mungkin dilanjutkan, maka Anda sebagai penumpang tinggal memencet tombol Safe Return Autonomous Autoland dan pesawat akan mendarat dengan aman. Pada saat ditekan, maka sistem informasi yang ditampilkan akan lebih relevan dengan keselamatan penumpang. Sistem kontrol penerbangan akan menggunakan autopilot, dimana sistem akan memindai medan sekitar, kondisi cuaca, dan landasan udara terdekat untuk menemukan tempat aman untuk pesawat mendarat. Baca Juga: 10 Pendaratan Dramatis Sepanjang Sejarah Penerbangan Di dalam kabin, penumpang akan mendapatkan informasi terkait pendaratan darurat ini, mulai dari seberapa cepat pendaratan akan berlangsung, dan informasi relevan lainnya. Setidaknya, hadirnya fitur seperti ini kelak bisa menjadi pionir bagi sektor aviasi global dalam urusan peningkatan keamanan penerbangannya.

Sebelum “Mengudara”, Kenali Dulu Yuk Kode Penerbangannya!

Pernahkah Anda berhenti sejenak di depan sebuah flight board yang ada di bandara dan memperhatikan kombinasi huruf serta angka yang tertera di sana? Kombinasi tersebut juga dapat Anda temukan di tiket penerbangan Anda. Ya, memang terdapat arti tersendiri dibalik kode penerbangan seperti yang sudah dijabarkan di atas, dan itu bukanlah deretan huruf dan angka yang tidak memiliki makna, karena dari situ, seseorang dapat membaca maskapai apa yang Ia naiki lengkap dengan destinasinya. Baca Juga: Kode Bandara Mudahkan Penumpang dan Pekerja Penerbangan Setiap nomor penerbangan memiliki rute penerbangannya sendiri. Hal ini bertujuan agar memudahkan bagian administrasi maskapai dalam mendata pesawat-pesawat mana saja yang telah take-off atau yang akan landing. Selain itu, nomor penerbangan juga memiliki unsur fungsi perencanaan dan biasanya dikelompokkan secara geografis. Seorang pilot dan juga penulis buku berjudul “Cockpit Confidential”, Patrick Smith mengatakan, sebagian besar maskapai penerbangan memberikan nomor genap untuk penerbangan menuju ke timur, sedangkan penerbangan arah barat mendapatkan nomor ganjil. Lalu, bagaimana cara membacanya? Kode penerbangan biasanya diawali dengan dua huruf yang merupakan kode International Air Transport Association (IATA), sebuah asosiasi angkutan udara internasional. Huruf-huruf tersebut merupakan inisial dari maskapai yang bersangkutan, sebagai contoh, apabila Anda menemukan kode penerbangan dengan huruf awal GA, maka kode tersebut milik maskapai Garuda Indonesia. Contoh lainnya adalah SQ, menandakan kode tersebut milik pesawat asal negeri tetangga, Singapore Airlines. Setelah dua huruf di awal kode penerbangan, muncul beberapa deret angka yang juga memiliki arti tersembunyi. Sebagai aturan umum, nomor penerbangan dengan empat angka yang dimulai dengan angka “3” atau di atasnya, misalnya “3493”, menunjukan bahwa penerbangan tersebut merupakan penerbangan codeshare yang dioperasikan oleh aliansi maskapai tersebut. Maksud dari penerbangan codeshare adalah penerbangan yang dilakukan dua atau lebih maskapai berlatar belakang kerja sama yang mereka jalin. Ambil contoh Garuda Indonesia bekerja sama dengan maskapai bonafit asal Tiimur Tengah, Etihad. Garuda menjual tiket penerbangan menuju Manchester, walaupun Garuda tidak melayani penerbangan menuju Manchester. Berbekal bekerja sama yang dibangun oleh Garuda dengan Etihad, maka penumpang yang membeli tiket Jakarta – Manchester akan terbang menggunakan maskapai Etihad. Ringkasnya, kode penerbangan adalah gabungan dari kode maskapai, xx (diisi dengan abjad), dan nomor penerbangan numerik, n(diisi dengan angka), ditambah opsional satu huruf “akhiran operasional” x(diisi dengan abjad). Jadi, format penuh dari sebuah kode penerbangan adalah xx.nnn.x. Setiap maskapai memiliki kode penerbangannya masing-masing, sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Ambil contoh sebuah maskapai asal negeri kangguru, Qantas. Maskapai ini memiliki 2 kode penerbangan, yang membatasi antara penerbangan internasional dengan penerbangan domestik. Angka 1 sampai 399 digunakan maskapai asal Australia untuk melayani penerbangan internasional termasuk penerbangan codeshare, sedangkan 400 ke atas digunakan Qantas sebagai kode penerbangan domestik. Baca Juga: Mengenal Arti Kode “PK” di Badan Pesawat Penumpang Kebanyakan, pihak maskapai menghindari penggunaan angka-angka yang dinilai membawa kesialan, seperti angka 13 dan 666. Walaupun tidak ada teori pasti mengenai pengguna angka tersebut dapat mengalami kesialan, namun kebanyakan pihak maskapai tetap menolak untuk menggunakannya. Lain halnya dengan American Airlines yang lebih memilih untuk “memuseumkan” nomor penerbangan 11 pada rute penerbangan Boston – Los Angeles. Bukan tanpa alasan, ini merupakan sebuah penghormatan terhadap tragedi pada 11 September 2001 silam, dimana sebuah pesawat boeing 707 milik maskapai tersebut dibajak sebelum akhirnya ditabrakkan ke gedung World Trade Center.

Haneda, Bandara Terbersih di Dunia Cerminan Budaya Jepang

Traveller mana yang tidak senang apabila sesampainya di destinasi tujuan, tempat yang pertama kali ia singgahi berada dalam kondisi bersih, baik bandara, stasiun, maupun terminal. Kebersihan yang tercipta ini merupakan peranan semua orang, bukan hanya dari petugas kebersihan. Dengan kita tidak membuang sampah sembarangan saja, kita sudah turut membantu terciptanya lingkungan yang bersih. Baca Juga: Melancong ke Tokyo, Pilih Turun Dimana? Bandara Haneda atau Narita? Tidak jarang, para traveller kerap kali menghabiskan waktu lama di bandara karena pesawat yang mereka tumpangi mengalami delay atau jeda transit. Tentu, apabila bandara dalam kondisi kotor, para traveller akan merasa tidak nyaman. Berdasarkan kasus di atas, Skytrax mengadakan World Airlines Award pada tahun 2016 silam, dan salah satu kategori yang diperebutkan oleh pada nominasi adalah bandara terbersih. Selain bandara terbersih, nominasi lain yang diperebutkan oleh para nominasi yang bergerak di bidang aviasi antara lain maskapai terbaik, bandara terbaik, dan aspek-aspek penunjang lainnya yang berhubungan dengan dunia aviasi. Dan keluarlah nama bandara Haneda di Jepang sebagai peraih penghargaan bandara terbesih di dunia. Penilaian yang dilakukan oleh pihak penyelenggara dilakukan berdasarkan survei kepada para pengunjung bandara yang dilakukan dari Juni 2015 hingga Februari 2016. Tercatat, sebanyak 13,25 juta survei “terbang” menuju 106 negara yang berbeda. Ada banyak aspek yang menjadi poin penilaian Skytrax dalam survei yang dilakukan, seperti dari mulai check in, kedatangan, transit, imigrasi, belanja, dan tentu saja aspek kebersihan. Untuk penghargaan bandara terbersih, poin penilaian dilihat dari kebersihan seluruh sudut bandara, dari mulai lorong, hingga toilet bandara. Tahun lalu, Bandara Haneda berada di posisi keempat, di bawah Bandara Internasional Changi, Singapura yang tahun lalu menduduki posisi wahid, namun pada tahun 2016, posisi tersebut berbalik. Apabila ditelusuri lebih dalam, ternyata kebersihan yang tercipta ini bukan karena teknologi yang canggih sehingga dapat membersihkan sampah secara otomatis, tapi karena etos orang Jepang sendiri yang amat cinta akan kebersihan. Bahkan, budaya cinta lingkungan seperti ini sudah dipupuk sejak kecil, menjadikannya insan yang sadar akan kebersihan. Selain kesadaran akan pentingnya kebersihan dari masing-masing pribadi, pemerintah Jepang juga menyediakan fasilitas penunjang seperti tersedianya banyak bak sampah dan tidak segan untuk memberikan sanksi berupa denda terhadap orang yang mengotori lingkungannya. Maka tidak heran apabila bandara Haneda berhasil “menyabet” gelar sebagai bandara terbersih di dunia.
terminal 2 Bandara Haneda. Sumber: mhs.co.jp
terminal 2 Bandara Haneda. Sumber: mhs.co.jp
Satu-satunya bandara yang berada di prefektur Tokyo ini terletak bersebrangan dengan teluk Tokyo ini menjadi bandara tersibuk di Tokyo dengan 3 terminal: terminal 1, terminal 2, dan terminal internasional. Bandara ini juga dilengkapi dengan kereta bandara yang memudahkan para penumpang menjangkau Bandara Haneda ini.
Penampakan Kios Bergaya Rumah Jepang. Sumber: airlinereporter.com
Penampakan Kios Bergaya Rumah Jepang. Sumber: airlinereporter.com
Baca Juga: Layani 85,6 Juta Penumpang Per Tahun, Haneda Masih Jadi Bandara Tersibuk di Jepang Kebersihan di tempat ini bisa terlihat sejak kita menuruni kereta bandara, hampir tidak ada sampah yang tersebar di sini. Dipadukan dengan pencahayaan yang terang, menjadikan bandara ini lebih terlihat “hidup”. Selain bersih, bandara ini juga bisa dibilang unik, karena terdapat rumah-rumahan bergaya Jepang yang tersusun rapi di dalamnya. Setelah di telisik lebih dalam, ternyata itu adalah kios-kios yang menjajakan beragam kebutuhan, dari mulai kios jajanan hingga body shop. Tentu saja, ini menarik banyak minat pengunjung yang penasaran akan barang apa saja yang dijajakan di sana.
antrian penumpang di bandara Haneda. sumber: media.gettyimages.com
antrian penumpang di bandara Haneda. sumber: media.gettyimages.com
Bandara modern ini mulai beroperasi pada tahun 1931, dan terus bertumbuh dari masa sebelum perang dunia II hingga kini. Dengan melayani lebih dari 75 juta penumpang setiap tahunnya, ditambah lagi dengan keberadaan internasional yang mulai beroperasi sejak 2010 lalu, tidak heran kalau bandara ini menjadi satu dari lima bandara tersibuk di dunia.

Bilik Kerja Kedap Suara di Stasiun Mudahkan Pebisnis yang Butuh Tempat Bekerja

Ketika tengah dinas diluar kantor, seseorang terkadang butuh tempat untuk menyelesaikan tugas tersebut sehingga membutuhkan sebuah tempat yang nyaman dan tak diganggu orang lain. Belum lama ini stasiun kereta di Tokyo kehadiran gerai pribadi yang kedap suara. Baca juga: Ekinaka, Booth Working Space untuk Pekerja Mobile di Stasiun Kereta Jepang Gerai atau bilik ini sendiri dihadirkan operator kereta api dan vendor lainnya untuk memudahkan pekerja perusahaan yang mengerjakan pekerjaan mereka di luar kantor. Pada 1 Oktober 2019 kemarin, dua bilik kedap suara ini hadir di belakang gerbang tiket di Stasiun Kyodo d Jalur Odakyu di Bangsal Setagaya, Tokyo. Dengan ukuran 1,2 meter x 1,2 meter x 2,3 meter, bilik ini dilengkapi dengan meja, sofa, soket dan pengisian daya USB. Karena bagian atasnya tertutup, bilik ini dilengkapi dengan dinding kedap suara sehingga pengguna dapat berbicara dengan klien dan orang lain melalui telepon tanpa khawatir terdengar orang sekitar. KabarPenumpang.com melansir laman asahi.com (4/11/2019), bagi yang akan menggunakan bilik ini, bisa mendaftar di layanan situs web khusus dan memesannya serta menscan kode QR di pintu melalui ponsel pintar untuk membuka pintu. Harga sewa bilik ini per 15 menit yakni sekitar 250 Yen atau sekitar $2,30 atau setara dengan Rp32 ribu. Layanan ini bahkan sudah dimulai di Stasiun Machida di Tokyo pada 28 Oktober kemarin dan program tersebut menguntungkan Odakyu Electric Railway Co selaku operator Odakyu Line. Sebab mereka bisa menerima sewa dari Telecube Service CO yang berbasis di Tokyo yang menawarkan kantor bergerak. Tak hanya itu, September lalu, Seibu Railway Co mendirikan stan kerja di Stasiun Tokorozawa di Prefektur Saitama di luar Tokyo dan Stasiun Takadanobaba di Bangsal Shinjuku. V-Cube Inc., perusahaan induk Telecube Services yang berbasis di Tokyo, telah menyediakan sistem pertemuan online jarak jauh untuk pelanggan korporat. Ketika Presiden Naoaki Mashita merasa ada beberapa ruang pribadi di mana seseorang dapat mengadakan pembicaraan rahasia melalui telepon atau melalui Internet tanpa masalah privasi, V-Cube menghabiskan satu tahun bersama-sama mengembangkan stan khusus dengan pembuat perabot kantor Okamura Corp di Yokohama. Tanggapan yang lebih besar dari yang diharapkan datang ketika V-Cube dan East Japan Railway Co. (JR East) memulai layanan uji coba gratis dari gagasannya di stasiun Tokyo, Shinjuku dan Shinagawa pada bulan November tahun lalu. Baca juga: Wujud Emansipasi? Ada Ruang Ganti Popok di Toilet Pria di Bandara India Tingkat waktu yang dihabiskan adalah lebih dari 50 persen dari semua jam operasional selama periode uji delapan bulan, sementara ruang pribadi juga digunakan dengan cara yang tidak terduga, seperti siswa sekolah menengah yang sedang belajar, seorang wanita memperbaiki make-up dan pengguna mengambil pelajaran percakapan bahasa Inggris dengan smartphone. Popularitas stan tetap tinggi setelah layanan mulai mengumpulkan biaya penggunaan pada bulan Agustus. Sebanyak 47 stan kerja V-Cube telah diperkenalkan di 16 lokasi di stasiun, gedung perkantoran dan di tempat lain di wilayah metropolitan Tokyo.

[Galeri Foto] Harley-Davidson Rilis Sepeda Listrik Premium Dengan Harga Selangit!

Jika selama ini nama Harley-Davidson terkenal sebagai motor gede (moge) berkelas yang memiliki karismanya tersendiri, maka ketika Anda membaca artikel ini, siap-siap untuk mengernyitkan dahi, ya! Pasalnya produsen sepeda motor kenamaan asal Negeri Paman Sam ini dikabarkan siap untuk merilis sepeda listrik rakitannya, dimana proyek ambisius Harley-Davidson ini merupakan bagian dari kampanye More Roads to Harley-Davidson yang tengah digalakkan pihak perusahaan. Baca Juga: Harley Davidson Luncurkan “The Iron,” Sepeda Keseimbangan Buat Anak 3 Tahun! Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman electrek.co (5/11), rasa penasaran publik dengan sepeda ini sedikitnya sudah mulai terobati ketika pihak Harley-Davidson memamerkan tiga prototipe di pagelaran EICMA 2019 Milan Motorcycle Show. Pada kesempatan yang berbeda, pihak Harley-Davidson mengatakan bahwa sepeda listrik ini akan dibanderol dengan harga US$2.500 hingga US$5.000 atau berada di kisaran harga Rp 35 juta hingga Rp70 juta. Melihat dari harganya saja, tentu sepeda ini tergolong ke dalam sepeda listrik premium, ya!
Sumber: electrek.com
Ketiga sepeda listrik Harley-Davidson juga dilengkapi rem cakram hidrolik kelas atas yang menjepit rotor berukuran 203 mm. Poin unik lain yang akan Anda dapatkan dari sepeda listrik premium ini adalah lampu rem belakang yang tertanam di dalam rangka sepeda – membuatnya seperti sepeda motor kebanyakan.
Sumber: electrek.com
Pada bagian depannya, Anda akan melihat logo Harley-Davidson yang dimana tidak hanya berperan sebagai logo saja, melainkan sebagai lampu LED yang selama ini kerap menjadi permasalahan bagi sepeda konvensional. Untuk masalah baterai, agaknya pihak produsen sengaja membuatnya bisa dilepas-pasang, dimana Anda bisa menemukannya di bagian pengayuh. Baca Juga: Himo C16, Sepeda Listrik Xiaomi Meluncur 19 September 2019 Secara penampakan, sepeda listrik Harley-Davidson ini terlihat seperti sepeda gunung biasa – namun ketika melihat fitur yang diusungnya, tentu saja pikiran Anda semua akan 180 derajat berubah.