John Travolta Punya Boeing Business Jet yang Bikin Mata Terbelalak

Siapa sih di antara Anda yang tidak mengenal John Travolta? Ya, artis kawakan yang juga terkenal sebagai aktor, produser, penyanyi dan penari ini sejatinya sudah sejak lama menghiasi layar televisi Anda semua. Terlahir dengan nama asli John Joseph Travolta pada 18 Februari 1954 ini, tidak banyak yang mengetahui bahwa pria yang kini berusia 65 tahun ini juga ternyata menyandang lisensi sebagai private pilot.

Baca Juga: Bruce Dickinson, Pentolan Iron Maiden yang Menyandang Lisensi Pilot Pesawat Komersial

Jika artis lain kebanyakan mengoleksi kendaraan roda dua atau roda empat dengan harga yang selangit, maka jalan lain ditempuh pengisi suara dari karakter Bolt, anjing berkekuatan super dalam film Bolt yang dirilis pada tahun 2008 ini. Diketahui, John Travolta memiliki lima pesawat, dimana satu di antaranya merupakan Boeing 707-138B yang dulu sempat dioperasikan oleh Qantas dengan kode registrasi VH-EBM. Nah, selain pesawat narrow body jarak jauh tersebut, John juga masih memiliki empat pesawat lain yang bernilai fantastis.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman aol.co.uk, John Travolta pernah mengajak salah satu pelawak asal Amerika Serikat yang juga terkenal sebagai pembawa acara The Tonight Show di channel BBC, Jay Leno untuk ‘menginspeksi’ salah satu pesawat Boeing Business Jet (BBJ) miliknya dalam acara Jay Leno’s Garage.

Dalam acara tersebut, John Travolta mengatakan bahwa harga pesawat BBJ berkisar US$57 juta atau sekitar Rp806,8 miliar dalam kondisi baru. Harga tersebut belum termasuk bea modifikasi interior dan pemasangan berbagai fasilitas tambahan yang katanya mencapai angka US$25 juta atau berkisar Rp353,9 miliar. Jadi, jika ditotal, harga dari satu unit pesawat BBJ milik John Travolta ini mencapai Rp1,160 triliun! Itu baru satu pesawat – belum empat lainnya yang mungkin dibanderol dengan harga di bawah BBJ tersebut.

“Sejatinya, ini merupakan pesawat yang mampu menampung hingga 150 orang, tapi saya modifikiasi supaya pesawat ini hanya menyediakan bangku untuk 15 orang saja,” ujar John Travolta dalam acara Jay Leno’s Garage.

Kaget mendengar kapasitas penumpang yang bisa diangkutnya, Jay Leno kemudia menanyakan, “jadi pesawat ini lebih baik daripada first class?”

“Ya, kurang lebih seperti itu,” sambung John sembari tertawa kecil.

Wow, tentu saja ini bukanlah suatu hal yang bisa dipandang sebelah mata dan tergolong sebagai salah satu bahan koleksian yang super super mahal.

Baca Juga: Boeing Tampilkan Konsep Kamar Mandi Mewah Pada Business Jet Class

Di dalamnya, Anda bisa menemukan sebuah tempat tidur berukuran cukup besar, 15 bangku laksana sofa mewah yang tertata tidak beraturan, kamar mandi, dan beberapa instrumen hiburan di dalamnya. Wah, sudah seperti rumah saja, ya!

Jika Anda bertanya-tanya, “dimana John Travolta memarkirkan pesawat-pesawatnya ini?”

Jawabannya sangatlah sederhana – di rumahnya.

Selain berfungsi sebagai tempat tinggal, rumah John Travolta juga seyogyanya berfungsi sebagai hanggar (Ya, John Travolta memarkirkan pesawatnya tepat di depan pintu masuk rumah) dan dilengkapi dengan landas pacu untuk menerbangkan ‘burung besi’ peliharaannya!

GoFood dan GoPay Kini Jadi Andalan GoJek Selain “Ride Hailing”

Hampir sepuluh tahun GoJek hadir di Indonesia dan kini mulai menerapkan strategi yang bersifat menyeluruh dalam pengembangan bisnis. Tak hanya melalui GoRide dan GoCar, kini GoJek berfokus pada layanan pesan-antar makanan (GoFood) dan pembayaran (GoPay). Baca juga: Beri Nama Anak “Gopay,” Keluarga ini Dapat Saldo Rp500 Ribu Per Bulan dari Gojek President GoJek Grup, Andre Soelistyo mengatakan, dua layanan ini cukup besar dan ukuran pasar GoFood hampir dua kali dari berbagi tumpangan. Tak hanya itu, Andre menambahkan layanan pembayaran juga merupakan lini bisnis terbesar bagi GoJek. “Itulah sebabnya pesan-antar makanan menjadi fokus utama kami. Dan saya pikir, kami sudah memecahkan model (bisnisnya) tetapi kami ingin lebih dalam membangun fitur atas produk yang lebih besar,” kata Andre yang dikutip KabarPenumpang.com dari dealstreetasia, (5/10/2019). Dia mengatakan, dari kajian internal GoJek, laba kotor pedagang bisa mencapai 50 persen sehingga daripada menyewa kios di mall dengan biaya tinggi, menurutnya, para penjual membutuhkan layanan seperti GoFood ini. Hal ini dikarenakan layanan tersebut mengurangi biaya operasional secara signifikan. Andre mengatakan, GoJek melihat ada peluang dari sisi pertumbuhan bisnis pedagang di industri kuliner dan perusahaanya membangun bisnis pesan-antar makanan dengan mengandalkan layanan berbagi tumpangan untuk menciptakan efisiensi. Tak hanya itu dengan mengembangkan bisnis lainnya yakni pembayaran digital melalui Gopay, Andre mengatakan, ini merupakan bisnis terbesar perusahaan. Sebab pembayaran digital saat ini memiliki pasar yang cukup besar, karena ada banyak penduduk dewasa di Asia Tenggara yang belum mendapat akses ke layanan keuangan (unbanked) atau belum terlayani (underserved). Diketahui, bisnis ride hailing kurang dari 30 persen dari nilai transaksi dalam paltform. Selain itu, GoJek mengklaim GoFood menguasai 75 persen pasar di Asia Tenggara. Hal inilah yang mendasari GoJek memfokuskan pada GoFood dan GoPay. Baca juga: GoJek ‘Disuntik’ Visa, Grab Jalin Kerja Sama dengan Mastercard “Kenapa kami berani sebut 75 persen? Itu berdasarkan jumlah order dan rerata nilai pesanan by basket size. Kalau dihitung berdasarkan jumlah yang dibayarkan konsumer sebelum promo, itu bukan angka real. Jadi, kami sebut 75 persen itu angkanya real,” kata Chief Food Officer Gojek Group Catherine Hindra Sutjahjo

Airbus Berdayakan Teknologi Robotika dalam Perakitan Seri A320

Perkembangan sektor aviasi global agaknya sudah semakin maju dewasa ini. Bukan melulu dari hasil produksiannya saja, melainkan dari proses produksinya juga turut berkembang maju. Baru-baru ini, tersiar kabar bahwa manufaktur kedirgantaraan asal Eropa, Airbus sudah menggunakan teknologi robotika dalam perakitan salah satu varian terlarisnya, keluarga narrowbody A320. Dengan menggunaan teknologi robotika ini, Airbus dapat menaruh fokus pada pembangunan tipe A321LR yang memiliki ukuran lebih panjang ketimbang varian lainnya. Baca Juga: Libatkan 1.500 Perusahaan, Inilah Proses Perakitan Airbus A380 Yang Fenomenal Adapun teknologi robotika yang terpasang di jalur perakitan ini dapat Anda lihat di fasilitas pabrik Airbus yang ada di Hamburg, Jerman. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman flightglobal.com (2/10), jajaran direksi dari Airbus menyebutkan bahwa hadirnya teknologi robotika semacam ini merupakan evolusi di dalam sistem produksinya – dimana sistem ini mampu melakukan pengukuran dengan menggunakan metode laser, menjalankan sistem akuisisi data digital, serta menyajikan konsep logistik yang diperbarui. “Lini perakitan struktur badan pesawat baru ini merupakan faktor penting untuk peningkatan (produksi dari) keluarga A320,” ujar Chief Operating Officer Airbus, Michael Schoellhorn. “Memaksimalkan teknologi otomatisasi dan robotika tingkat lanjut memungkinkan pembuatan yang lebih cepat dan lebih efisien dengan tetap menjaga fokus utama kami pada kualitas,” sambungnya. Masing-masing dari robot ini sendiri memiliki fungsi dan tugasnya tersendiri. Sebut saja 12 robot akan bekerja pada bagian tengah dan belakang pesawat, dimana robot ini akan melubangi beberapa bagian, merekatkannya, dan memasang sekitar 3.000 paku sumbat di sekeliling pesawat. Lalu sisa delapan robot lainnya akan menyelesaikan bagian sisanya. Baca Juga: Roger Béteille – Mantan Pilot Uji yang Dikenal Sebagai “Bapak” Pendiri Airbus Fasilitas perakitan struktur pesawat yang ada di Hamburg memegang tanggung jawab untuk menggabungkan badan pesawat dengan beberapa bagian lainnya. Fasilitas ini juga mampu melakukan perakitan tahap akhir untuk bagian tunggal dari fuselage pesawat. Dari sini, bagian-bagian tersebut akan dilengkapi dengan sistem kelistrikan dan mekanik sebelum pindah ke jalur perakitan akhir di Perancis, Jerman, Cina dan Amerika Serikat.

Promosi Layanan di Kabin, LCC Asal Perancis Sajikan Pengalaman Virtual Tour 3D di A350

Memperlihatkan desain interior kabin pesawat menjadi suatu hal penting dalam kampanye promosi maskapai. Selain tampilan interior lewat promosi di media cetak, media elektronik dan online, kini maskapai punya tools baru untuk memamerkan lebih detail interior dan suasana kabin, terlebih bagi maskapai yang melayani penerbangan jarak jauh, tidak peduli apakah itu LCC atau full services. Baca Juga: First Airlines, “Maskapai” Jepang dengan Penerbangan Virtual Reality Pertama Jika selama ini literasi tidak bisa membantu Anda untuk mendapatkan gambaran tentang betapa nyamannya ruang kabin yang ada di pesawat-pesawat yang biasa beroperasi di rute jarak jauh, maskapai berbiaya rendah asal Perancis, French Bee menawarkan sesuatu yang berbeda. Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman thepointsguy.co.uk (6/10), maskapai French Bee ini menawarkan “virtual tour” di dalam pesawat Airbus A350 yang biasanya mengoperasikan rute penerbangan jarak jauh. Patut diketahui, maskapai ini mengklaim bahwasanya mereka merupakan pionir yang menawarkan pengalaman unik semacam “virtual tour” ini. French Bee adalah Low Cost-Carrier (LCC) atau penerbangan berbiaya murah yang memiliki rute penerbangan jarak jauh dengan konfigurasi 411 bangku – sebuah angka yang cukup padat untuk sebuah penerbangan jarak jauh. Sebagai pembanding, maskapai Delta Airlines saja hanya memiliki konfigurasi 306 bangku penumpang di moda serupa dan di rute yang sama (penerbangan jarak jauh). “Kami memiliki 376 bangku di economy class dan 35 sisanya di premium class,” tutur pihak French Bee ketika menjelaskan tentang komposisi bangku yang ada di A350 untuk penerbangan jarak jauh tersebut. Menggaet Perusahaan Asal Negeri Paman Sam Dalam upayanya untuk menghadirkan pengalaman unik kepada para pelanggannya ini, pihak maskapai bekerja sama dengan spesialis “virtual tour” yang berbasis di California, Matterport. Perusahaan ini sejatinya memang sudah terkenal sebagai penyedia layanan “virtual tour” – mulai dari perjalanan virtual untuk real estate, hotel, hingga bagian permesinan yang kompleks. Kembali ke “virtual tour” milik French Bee, di sini, Matterport akan mengkonversi gambaran dari ruang kabin dari moda terkait ke dalam bentuk 3D dan para pelancong virtual akan mampu melihat keseluruhan isi kabin tanpa harus masuk ke pesawat yang masuk ke dalam kategori wide body ini. Baca Juga: Virtual dan Augmented Reality Ubah Pengalaman Penumpang di Udara “Penumpang akan mampu melihat konfigurasi 2-3-2 yang ada di premium class dan 3-4-3 yang ada di economy class hingga berjalanan di lorong kabin,” ujar pihak maskapai.

“Saya sangat bangga dengan kemitraan ini, dimana (kemitraan) ini akan sangat memperkaya cara kami dalam menyajikan dan mempromosikan penawaran kami kepada para pelancong,” sambung Direktur Komersial French Bee, Sophie Hocquez.

French Bee menawarkan rute penerbangan nonstop dari San Francisco (SFO) menuju ke Paris Charles de Gaulle (CDG) dan Bandara Papeete di wilayah Polinesia Perancis di Tahiti. Jika tidak meleset, musim panas mendatang pihak maskapai akan menambah rute penerbangan jarak jauh yang akan menghubungkan Newark Liberty (EWR) dengan Paris Charles de Gaulle.

Selain Menawarkan Sejumlah Keuntungan, Penerbangan Langsung Internasional dari Daerah Mengundang Kerawanan

Semangat otonomi daerah yang ditunjang infrastruktur penerbangan yang kian memadai membawa manfaat signifikan bagi perekenomian dan wisata di daerah yang bersangkutan. Ditambah gairah Pemerintah Daerah yang ingin mendongkrak pundi pendapatan dari sektor pajak, maka upaya membuka penerbangan langsung dari daerah ke luar negeri mulai gencar dijalankan. Baca juga: Mulai 27 September 2019, Garuda Indonesia Buka Rute Manada-Davao Bagi warga masyarakat di daerah yang bersangkutan, dibukanya akses penerbangan langsung ke negara tetangga jelas berita baik. Maklum, bila sebelumnya untuk menuju Singapura atau Kuala Lumpur, warga di Riau harus transit ke hub di Soekarno-Hatta, maka kini bisa dinikmati penerbangan langsung yang notabene punya jarak lebih dekat ke bandara tujuan. Seperti yang paling baru dibukanya penerbangan langsung Manado-Davao di Mindanao, Filipina. Selain aksesbilitas dan durasi perjalanan menjadi lebih cepat ke bandara tujuan, bagi warga daerah, langkah penerbangan langsung akan mengurangi beban tarif, lantaran ongkos terbesar di sektor dirgantara adalah biaya bahan bakar. Dengan rute yang dipersingkat, sudah barang tentu berimbas pada penawaran tiket yang lebih affordable bagi semua kalangan. Meski jelas membawa sejumlah faedah, penerbangan langsung dari daerah-daerah ke luar negeri juga punya implikasi tersendiri. Indra Setiawan, pengamat dirgantara yang pernah menjabat sebagai orang nomer satu di Garuda Indonesia memberikan tanggapannya kepada KabarPenumpang.com. Indra menyebut ada potensi ancaman pada keamanan nasional bila kebijakan penerbangan langsung dari daerah tidak diperhitungkan secara matang. Beberapa poin yang layak menjadi perhatian adalah: 1. Dibukanya banyak bandara di daerah yang punya akses penerbangan langsung, maka otomatis Indonesia membuka ‘gerbang’ perbatasan baru, ini artinya akan menjadi pekerjaan ekstra bagi otoritas keamanan untuk melakukan upaya penangkalan pada upaya penyelundupan, human trafficking dan terorisme. 2. Dengan dibukanya spot baru untuk penerbangan langsung ke daerah, ada potensi yang banyak menikmati keuntungan justru maskapai asing, dimana maskapai asing cenderung lebih siap dalam aspek armada dan layanan pendukungnya. 3. Melihat kecenderungan akan banyak penerbangan langsung dari daerah ke Singapura dan Kuala Lumpur, maka seolah bakal menjadikan kedua bandara di dua negara tersebut sebagai hub. Kondisi ini kelak dapat menyulitkan penyusunan sistem jaringan antar moda udara dan darat. Baca juga: Mantapkan Eksistensi Internasional, Citilink Buka Rute Banyuwangi – Kuala Lumpur Bla melihat tren pembangunan infrastuktur bandara yang pesat di hampir setiap provinsi, maka bertambahnya jalur penerbangan langsung internasional dari daerah-daerah bukan kenicayaan lagi. Semoga setiap langkah dan kebijakan strategis telah diperhitungkan secara cermat oleh regulator dan tentunya pemerintah daerah itu sendiri.

Rayakan HUT Ke-100, KLM Torehkan Penerbangan ‘Terlama’ Menuju Indonesia

7 Oktober 2019, tepat 100 tahun yang lalu, maskapai kenamaan asal Negeri Kincir Angin, Koninklijke Luchtvaart Maatschappij atau yang biasa disingkat KLM pertama kali merintis karir di sektor kedirgantaraan global. Tentu saja, ulang tahun ke satu abad ini tidak bisa dipandang sebelah mata – mengingat kondisi maskapai yang hingga saat ini bisa dibilang jarang diterpa isu miring seputar operasional maupun pelayanannya. Seperti yang sudah diberitakan pada artikel sebelumnya, KLM merupakan maskapai tertua di dunia yang hingga saat ini masih mengoperasikan penerbangannya. Baca Juga: Ternyata, Jakarta Merupakan Destinasi Penerbangan Antar Benua Perdana KLM! Guna merayakan ulang tahunnya ini, KLM Royal Dutch Airlines menggelar pameran bertajuk “KLM 100 Years-Celebrate the Future” yang berlangsung dua hari pada tanggal 5 & 7 Oktober 2019 di Eramus Huis, Pusat Kebudayaan Belanda, Jakarta Selatan. Dikutip KabarPenumpang.com dari laman wartaekonomi.co.id, Country Manager Air France KLM Indonesia, Wouter Gregorowitsch mengatakan bahwa acara ini tidak hanya sebagai perayaan ulang tahun ke-100 KLM saja, melainkan juga menandai 95 tahun penerbangan antara Belanda dan Indonesia. Ia juga menambahkan bahwa Indonesia merupakan tujuan penerbangan antar benua pertama yang dilayani oleh KLM – kala itu pesawat bertolak menuju Jakarta pada 24 November 1924. “KLM mencapai tonggak sejarah yang baik ini karena berkomitmen untuk memanfaatkan peluang, menerima tantangan, terhubung dengan mitra, dan merangkul teknologi,” ujar Wouter. “Pameran ini akan memberi pengunjung wawasan yang unik tentang sejarah dan masa depan KLM serta perannya menjadi pelopor dalam industri penerbangan. Saya harap pengunjung akan menikmati pengalaman mereka di pameran ini,” imbuhnya. Tidak bisa dilupakan begitu saja, pada 24 November 1924, sebuah pesawat keluaran Fokker dengan tipe F-VII tiba di Jakarta setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 55 hari. Jika ditelisik lagi, sejatinya penerbangan perdana KLM dari Belanda ke Indonesia memakan waktu yang amat sangat lama – hampir dua bulan perjalanan udara. Kala itu, penerbangan menuju Batavia ini dipiloti Van der Hoop. Diketahui, salah satu penerbangan terlama di sektor aviasi global ini melakukan 21 kali pemberhentian, dimana pertama kali pesawat berhenti di Praha, Ceko. Adapun 20 kota sisanya yang disinggahi Fokker F-VII selama perjalanan super panjang ini antara lain Konstantinopel, Angora, Baghdad, Bandar Abbas, Karachi, Ambala, Allahabad, Kalkuta, Akyab, Yangon, Bangkok, Singapura, dan Medan di Sumatera Utara. Baca juga: Anthony Fokker – Pria Kelahiran Blitar Yang Jadi Legenda di Dunia Dirgantara Sebagai informasi tambahan, kala itu, pesawat Fokker F-VII ini tidaklah memboyong penumpang. Hanya ada tiga orang di dalam penerbangan tersebut – dua pilot Jan Thomassen à Thuessink van der Hoop dan Van Weerden Poelman, serta satu teknisi pesawat bernama Van de Broeke. Ketiga orang ini membawa banyak surat dan lagi-lagi diklaim sebagai perjalanan surat via udara pertama kali atau yang kini disebut sebagai airmail. Bukan di Bandara Internasional Soekarno Hatta atau Bandara Kemayoran, melainkan pesawat ini mendarat di Bandara Tjililitan atau yang kini dikenal sebagai Bandara Halim Perdanakusuma. Selain masih terbatasnya teknologi yang dapat membuat pesawat terbang berpuluh-puluh jam lamanya, adapun faktor lain yang membuat perjalanan ini sangat lama adalah karena penerbang hanya bisa beroperasi pada siang hari, mengingat masih minimnya teknologi navigasi kala itu. Jika ditotal, lamanya pesawat berada di udara sebenarnya hanyalah 127 jam – namun itu tadi, karena keterbatasan teknologi, maka pesawat harus banyak transit.

Empat Dekade Tak Beroperasi, Stasiun Garut Akhirnya Direaktivasi

Menikmati kota Garut dari Jakarta dengan menggunakan kereta api sepertinya bukan mimpi lagi. Sebab setelah mati suri hampir empat dekade jalur kereta api terusan dari Cibatu menuju Garut kota tengah dalam reaktivasi. Baca juga: Stasiun Cibatu, Nuansa Vintage Yang Tak Lekang Ditelan Zaman Diketahui, reaktivasi jalur ini sudah mencapai 9,5 km dari 19,7 km target awal PT Kereta Api Indonesia (KAI). Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro mengatakan, pihaknya berharap reaktivasi jalur ini hingga akhir 2019 sudah mencapai Garut dan awal 2020 sudah bisa digunakan. Edi mengatakan, adanya pemanfaatan kembali jalur lama kereta api ini adalah upaya pemerintah untuk mengatasi kemacetan lalu lintas. Dia menambahkan, nantinya setelah jalur mulai beroperasi akan ada dua kelas keberangkatan yaitu kelas ekonomi dan bisnis. Namun tidak menutup kemungkinan menghadirkan kelas eksekutif jika dibutuhkan. Tetapi PT KAI belum menjelaskan secara rinci tarif tiket jalur ini dikarenakan masih merampungkan reaktivasi jalur. Selain itu untuk tahap pertama, kereta di jalur yang tengah direaktivasi tersebut akan mulai mengular dari Garut menuju ke Bandung, sedangkan dari Garut ke Jakarta masih diupayakan pihak KAI. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Stasiun Garut dibuka secara resmi tahun 1930 dan punya bangunan yang mirip dengan Stasiun Karawang dan Rambipuji. Bangunan ini didirikan setelah adanya pembangunan Jalan Rel Cilacap-Cicalengka via Cibatu yang dibangun tahun 1889 dan lintasan atau jalan Sampingan Garut-Cikajang tahun 1926 silam. Menjadi stasiun kereta api nonaktif kelas II, Stasiun Garut terletak di Pakuon, Garut Kota yang tepatnya di persinggungan Ujung Bank dan Jalan Veteran. Stasiun ini letaknya tertinggi di pulau jawa yakni 1200 meter di atas permukaan laut. Hal ini membuat lokomotif yang melewati jalur ini pada masa jayanya merupakan lokomotif kuat seperti CC50. Dahulu, saat masih aktif hingga tahun 1980-an, stasiun ini selalu ramai dikunjungi oleh pengguna jasa angkutan yang hendak bepergian dengan kereta api. Sayangnya Stasiun Garut tutup tahun 1983 silam dikarenakan sarana yang sudah tua dan kalah saing dengan mobil pribadi maupun transportasi umum lainnya. Selain itu PJKA juga mengalami kerugian karena penumpang yang coba-coba naik kereta secara gratis. Stasiun Garut pada masa penjajahan pernah diserang oleh Belanda tahun 1947 dan membuat infrastruktur jaur menjadi rusak dan harus direnovasi. Baca juga: Tragedi Garut Tegaskan Banyak Titik Rawan Longsor di Sepanjang Jalur Kereta di Tanah Pasundan Spot di jalur ini sebenarnya sangat indah, sehingga menarik perhatian para railfans dari luar negeri untuk menyaksikan aksi lokomotif uap di jalur ini. Selama masa-masa nonaktifnya, stasiun ini sempat dijadikan kantor sekretariat ormas dan emplasemennya berubah menjadi pasar. Kini setelah adanya reaktivasi untuk menghidupkan jalur Cibatu ke Garut, bangunan stasiun pun mengalami renovasi total. Bahkan emplasemennya mengalami perombakan besar-besaran.

Benarkah Boeing Gadaikan Faktor Keselamatan 737 MAX Demi Kas Perusahaan?

Nama Boeing kembali menjadi sorotan setelah seorang pengacara salah satu korban jatuhnya pesawat 737 MAX 8 mengatakan bahwa ada seorang insinyur yang mencoba memberikan rekomendasi kepada Boeing, namun pihak perusahaan memberikan jawaban yang di luar dugaan. Menurut pengacara tersebut, sang insinyur mengatakan bahwa pihak perusahaan enggan meningkatkan keselamatan penerbangan yang diusulkan untuk diaplikasikan ke varian 737 MAX karena dianggap terlalu mahal. Baca Juga: [Galeri] Sertifikasi Belum Rampung, Sejumlah 737 MAX ‘Numpuk’ di Boeing Field, Seattle Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, insinyur yang dimaksud oleh pengacara ini merujuk pada Curtis Ewbank. Diketahui, Curtis Ewbank mengajukan pengaduan melalui saluran internal Boeing setelah kecelakaan yang menimpa Ethiopian Airlines dengan nomor penerbangan ET302. Namun rekomendasi yang diberikan oleh Curtis Ewbank tersebut ditolak mentah-mentah oleh Boeing dengan dalih faktor ekonomi perusahaan. Mengutip dari laman cnbcindonesia,com (6/10), penasihat utama yang mewakili keluarga korban dari kecelakaan Ethiopian Airlines, Robert Clifford mengatakan bahwa pengaduan tersebut menimbulkan kekhawatiran tentang kebiasaan Boeing. Hal ini dikhawatirkan dapat memicu dugaan bahwa perusahaan terlalu menekankan soal biaya dan jadwal, tapi mengorbankan keselamatan penumpangnya kelak – semisal terjadi kecelakaan kembali. Menanggapi pemberitaan ini, seorang juru bicara Boeing mengatakan bahwa perusahaan membuka saluran pengaduan khusus bagi yang ingin menyampaikan rekomendasi, tapi proses tersebut terbilang cukup ketat – terlebih pihakperusahaan harus menimbang terlebih dahulu apakah rekomendasi tersebut dapat berterima dengan keadaan yang kini tengah dihadapi atau tidak. Selain itu, ketatnya proses pengaduan ini ditujukan untuk melindungi kerahasiaan karyawan yang terlibat. Kendati begitu, pernyataan Curtis Ewbank terkait pihak pabrikan pesawat yang seolah enggan kehilangan beberapa dollar untuk meningkatkan keselamatan penumpang ini sudah terlanjur menjadi buah bibir. Penggambaran Curtis Ewbank yang menyebutkan, “manajemen Boeing lebih mementingkan biaya dan jadwal daripada keamanan dan kualitas,” pun sudah kadung menyulut emosi pihak keluarga dan siapapun yang membacanya. Pernyataan Curtis Ewbank ini diamini oleh empat mantan karyawan Boeing yang bekerja pada 737 MAX. Mereka mengatakan bahwa mereka berulang kali diinstruksikan oleh manajemen untuk tidak menambah atau mengubah sistem pada 737 MAX supaya tidak memicu perlunya pelatihan pilot tambahan dalam simulator penerbangan, atau proses sertifikasi yang lebih panjang. Baca Juga: Akhirnya! Boeing Akui Adanya Kesalahan Sistem pada Boeing 737 MAX 8 Kembali lagi, pihak Boeing mengelak. Seorang pejabat senior di manufaktur pesawat asal Negeri Paman Sam mengatakan bahwa keputusan para mekanik Boieng “selalu seimbang antara kompleksitas dan ketersediaan fungsi. Semakin kompleks Anda membuat sesuatu, semakin besar kemungkinan tidak tersedia saat Anda membutuhkannya.” Jika sudah seperti ini apakah benar Boeing tega menggadaikan keselamatan penumpang hanya demi koceknya tidak semakin jebol?

Awas! Naikan Kaki ke Dashboard Mobil Bikin Penumpang Cedera Parah Jika Terjadi Kecelakaan

Duduk di kursi depan penumpang memang paling nyaman, selain duduk sendirian tanpa gangguan penumpang lain, tempat yang ada pun lebih luas. Hal ini membuat penumpang duduk di kursi depan tak jarang menaikan kaki mereka ke dashboard, padahal hal itu ternyata membahayakan. Baca juga: Tips Ini Bisa Bantu Hilangkan Udara Panas Dalam Kabin Mobil Nah, baru-baru ini polisi di komunitas Blenheim menemukan tren baru di Marlborough, Inggris di mana penumpang yang duduk di kursi depan mengangkat kaki ke dashboard. Hal ini ternyata tidak baik dan bisa membuat penumpang cedera ketika terjadi kecelakaan. “Tampaknya menjadi hal yang umum di antara kaum muda. Cara ini dipandang sebagai yang paling nyaman untuk duduk di kursi depan penumpang,” kata polisi komunitas Blenheim Russ Smith. Dia menambahkan, duduk dengan mengangkat kaki ke dashboard bisa memperburuk penumpang ketika kecelakaan terjadi. Sebab ada kemungkinan penumpang meluncur keluar dari bawah sabuk pengaman yang membuatnya mengalami cedera serius atau mungkin mengancam jiwa. “Komplikasi lain jika terjadi tabrakan mendadak, ketika penumpang terlempar ke depan, kaki di dashboard mobil akan terdorong ke belakang dan panggulnya akan mengalami cedera parah atau bisa dikatakan penumpang seperti terlipat menjadi dua. Ini menyebabkan banyak cedera di beberapa bagian tubuh seperti kaki, panggul, tulang belakang, dada dan kepala,” jelas Smith. Meski berisiko dan berbahaya, mengangkat kaki ke dashboard bukan masalah produktif, tetapi sesuatu yang harus disadari dan saran keselamatan baiknya didengar dan dijalankan. “Siapapun yang melakukan hal ini, baiknya menghentikannya untuk alasan keamanan mereka,” tambah Smith. Smith mengatakan gangguan pengemudi telah menjadi faktor kontribusi yang jelas dalam sekitar selusin kecelakaan di Marlborough. Pada Senin (30/9/2019), tepat sebelum jam 16.00 waktu setempat, ada tabrakan multi-kendaraan di Sinclair St Blenheim dekat persimpangan St Alfred. Baca juga: Benarkah Golongan Darah Menjadi Penyebab Kecelakaan? Sebuah mobil Nissan yang dikendarai oleh seorang pria lokal, bertabrakan dengan ujung belakang mobil Toyota yang berhenti di depannya dan pada gilirannya, ini didorong ke mobil van Toyota yang stasioner di depan dua kendaraan lainnya. Tidak ada cedera yang dilaporkan. “Gangguan pada bagian dari pengemudi Nissan adalah kontributor utama kecelakaan itu,” kata Smith.

Aplikasi “Access Houston Airports,” Bantu Penumpang dengan Anak Cacat dan Autisme

Membawa anak yang memiliki kekurangan atau cacat perkembangan dalam penerbangan jelas membutuhkan penanganan khusus. Hal tersebut kemudian mendasari pengelola Bandara Houston meluncurkan aplikasi seluler untuk anak-anak cacat perkembangan dan autisme. Baca juga: Aira, Aplikasi Pembantu Penyandang Tuna Netra di Bandara KabarPenumpang.com melansir dari laman internationalairportreview.com (3/10/2019), aplikasi ini dirancang untuk membantu dan memudahkan anak-anak cacat, autisme dan pengasuh mereka agar mempersiapkan diri dalam setiap tahap perjalanan bandara. Aplikasi ini juga dirancang dengan berbagai hal menarik dan menyenangkan di dalamnya serta menyediakan berbagai alat untuk transisi melalui semua fase pengalaman di bandara. Di dalam aplikasi pun tertanam strategi berbasis penelitian yang terbukti membantu individu dengan autisme dan cacat perkembangan lainnya. Fitur-fitur pelengkap aplikasi ini ada berbagai macam seperti Explorer Guides dengan cerita gambar pendek yang menggambarkan setiap ruang di bandara. Schedule function dimana anak bisa memeriksa daftar visual yang sudah disesuaikan. Communication Icon, ini dihadirkan untuk membantu anak-anak yang kurang verbal dalam berbicara atau meminta bantuan. Caregiver supports berisi peta terminal, tips dan lainnya untuk membantu dalam merencanakan kunjungan ke bandara. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC), 13 persen populasi Amerika Serikat memiliki cacat perkembangan yang tidak terlihat seperti Autism Spectrum Disorder. “Persentase ini setara dengan 20 ribu pengguna jasa harian di Bandara Houston. Bandara Houston memperkenalkan aplikasi ini untuk mengurangi kecemasan bagi keluarga dan memberikan informasi dan sumber daya yang akan membuat kunjungan mereka ke bandara menjadi pengalaman yang menarik dan bermakna,” kata Tim Joniec, Direktur Pelaksana Bandara Amerika Serikat. Baca juga: Too Good To Go – Aplikasi di Bandara Munich untuk Pesan Makanan dan Kurangi Limbah Bandara Houston, Bandara George Bush Intercontinental (IAH) dan Bandara William P. Hobby (HOU) ternyata telah bermitra dengan Infiniteach untuk memperkenalkan aplikasi gratis. Inisiatif ini merupakan bagian dari tujuan untuk membuat Bandara Houston lebih mudah diakses untuk semua. Aplikasi Access Houston Airports gratis untuk diunduh dan tersedia melalui App Store dan Google Play.