Omnibus, Jenis Bus Awal Abad Ke-19 yang Ditarik Kuda

Menapaki sejarah transportasi dunia sepertinya tak akan habis. Sebab di dunia banyak transportasi yang bisa digunakan secara umum dengan mengangkut penumpang yang banyak atau massa. Kali ini yang akan dibahas adalah sejarah transportasi bus umum dunia.

Baca juga: Screecher, Moda Kayuh Roda Empat yang Unik nan Fleksibel

KabarPenumpang.com merangkum dari laman gogocharters.com, sejak 1820-an ternyata moda transportasi umum sudah hadir di seluruh dunia. Selain memberi dampak dalam perjalanan tetapi juga pada penataan kota secara umum.

(Gail Thornton)

Saat layanan bus pada awalnya mulai bermunculan di seluruh dunia, pengangkutan dari satu titik ke titik lainnya menjadi lebih mudah. Ini juga menyamakan kesenjangan antara pusat kota dengan daerah pinggiran.

Kali ini yang akan dibahas adalah Omnibus. Apasih itu? Ini adalah sebuah bus yang ditarik dengan kuda dan menjadi papan iklan berjalan karena di pasangi spanduk bagian atasnya. Omnibus hadir tahun 1826 silam dengan sebuah gerbong penumpang yang bisa ditarik oleh satu hingga tiga ekor kuda sekaligus tergantung ukurannya.

Omnibus terbesar yang pernah ada yakni mampu mengangkut 42 orang penumpang dan membutuhkan tiga ekor kuda untuk menariknya. Bahkan ada beberapa yang bisa ditumpangi hingga ke bagian atapnya atau istilah kerennya bus tingkat.

Awal adanya Omnibus sendiri di Perancis yang menguji konsep angkutan umum ini. Dimana para royalti dan rakyat jelata bisa naik berkeliling kota. Sayangnya gagasan ini tersendat dan pada tahun 1828, New York menetapkan Omnibusnya sendiri dan di ikuti oleh kota di Amerika Serikat lainnya serta Eropa.

Sementara seluruh ide “transportasi umum” secara umum dianggap sebagai hal yang positif, Omnibus menawarkan perjalanan yang sangat tidak nyaman. Sebab Omnibus hadir dengan kursi tanpa bantalan, dan penumpang bisa merasakan goyangan dan benturan di jalan berbatu yang tidak rata sehingga membuat pengalaman yang tidak menyenangkan.

Baca juga: Pownis, Mobil Kayu Berbahan Bakar Solar dan Bensin

Belum lagi, dengan harga 12 sen per perjalanan terlalu mahal bagi sebagian besar warga kota. Namun, pada akhirnya, Omnibus menemukan audiensnya di kelas menengah reguler dimana mereka menganggap terlalu mahal ketika bepergian dengan kereta kuda pribadi. Omnibus ini bertahan cukup lama bila dilihat dari banyaknya peningkatan di tahun-tahun berikut.

Pertahankan Ikon “Bikun,” TransJakarta Rilis Dua Opsi Desain untuk Universitas Indonesia

Jelang operasional bus kampus baru untuk Universitas Indonesia (UI) pada 1 Agustus 2019, pihak penyelenggara angkutan, yaitu PT TransJakarta telah merilis dua desain bus kampus khas UI – Bis Kuning (Bikun). Sebagai platform kendaraan tetap memgandalkan bus lower deck dari MetroTrans. Nantinya Bikun Next Generation ini akan melayani lebih dari 40 ribu mahasiswa UI.

Baca juga: Mulai Agustus 2019, MetroTrans Gantikan “Bikun” di Kampus UI Depok

Dikutip dari keterangan Humas PT TransJakarta, dua pilihan desain bis kuning dibuat khusus oleh TransJakarta agar tidak menghilangkan identitas ikon bus kuning legendaris yang sebelumnya telah melayani keseharian mahasiswa berpindah dari satu fakultas ke fakultas lain sejak UI didirikan.

Bus Kuning UI yang dilansir oleh TransJakarta nantinya akan menggunakan jenis MetroTrans yang memiliki karakteristik pijakan Rendah dan ramah disabilitas. Kapasitas satu bus terdiri dari 34 tempat duduk dan mampu menampung 20 orang tambahan pada posisi berdiri.

TransJakarta mengeluarkan dua opsi desain, opsi pertama adalah bus berwarna kuning di keseluruhan badannya dan disamping kiri kanan terdapat logo TransJakarta disertai simbol tanda contreng khas bermakna Lebih baik dan Logo Universitas Indonesia. Desain ini menggambarkan kerjasama kedua belah pihak dengan tidak menghilangkan ciri khas dari masing-masing instansi.

Opsi kedua berwarna kuning khas Universitas Indonesia dengan Aksen daun dan Contreng khas Transjakarta, daun yang ada pada desain tersebut menggambarkan kepedulian terhadap lingkungan hidup seperti yang sudah ada pada desain bus kuning UI sebelumnya, sedangkan contreng disamping logo transjakarta menggambarkan upaya pelayanan dan jangkauan semakin baik untuk seluruh kalangan warga DKI dan sekitarnya.

Desain yang sudah disiapkan oleh PT TransJakarta kini sedang dimusyawarahkan di dalam lingkungan Universitas Indonesia untuk dapat dipilih satu desain yang akan direalisasikan.
Keseluruhan Bus yang akan dipakai sudah dilengkapi dengan OBU (On Board Unit) suatu alat yang berfungsi untuk menginformasikan titik lokasi bus dan keadaan sekitar bus yang kemudian dikoordinasikan ke Ruang Control Command Center Transjakarta sehingga kedatangan dan jarak tempuh bus dapat diketahui dari ruang pusat kendali transjakarta. Alat ini juga memberikan informasi kepada pelanggan melalui PIS (Passanger Information Sistem) dan Aplikasi Resmi Transjakarta ‘TijeKu’.

Baca juga: “Bikun,” Bus Kampus Yang Kadung Jadi Legend

TransJakarta kini sedang melakukan ujicoba rute selama 7 (tujuh) hari guna mempelajari ritme perjalanan sebagai bahan evaluasi untuk Memastikan keseluruhan rute dapat dilayani dengan baik.

Tengah Dikaji Pemerintah, Apakah O-Bahn Bakal Mengular di Indonesia?

Kemacetan banyak dialami oleh kota-kota besar di Indonesia, karena hal ini membuat pemerintah mencari moda transportasi yang tepat untuk mengatasinya. Bahkan, belakangan nama O-Bahn sering disebut pihak pemerintah untuk membantu mengatasi masalah kemacetan khususnya di Jakarta padahal sudah ada TransJakarta, MRT dan LRT.

Baca juga: Skybridge MRT Jakarta Hubungkan Poins Square dan Halte TransJakarta

Namun, apasih O-Bahn yang tengah direncakan oleh pemerintah tersebut? O-Bahn, merupakan moda transportasi yang menggabungkan elemen-elemen dari sistem bus dan kereta api ini memiliki jalur yang dibangun secara khusus. Tak hanya melalui jalur khusus, O-Bahn juga bisa melaju di jalur biasa.

Kendaraan percampuran antara BRT dan LRT ini mampu mengangkut 20 persen lebih banyak dibandingkan TransJakarta. Kecepatan melaju O-Bahn pun bisa lebih tinggi karena memiliki jalur sendiri.

Sayangnya harga penyediaan O-Bhan ini lebih mahal dibandingkan BRT tetapi lebih murah daripada membangun LRT. Meski daya angkutnya sama dengan BRT O-Bahn yang melaju di jalan biasa atau rel bisa menempuh waktu lebih cepat. Sehinga dalam periode yang sama, bisa mengangkut penumpang lebih banyak.

Bus ini memiliki roda pandu yang berada di samping ban depan bus. Roda pandu ini menyatu dengan batang kemudi roda depan, sehingga ketika bus memasuki jalur O-Bahn, supir tak perlu lagi mengendalikan arah bus karena roda pandu akan mengarahkan bus sesuai dengan arah rel pandu serta mencegah bus terperosok ke celah yang ada di jalur.

Biasanya O-Bahn menggunakan bus gandeng dan bisa membantu mengurangi jeda antar bus yang bermanfaat di jam-jam sibuk. Dari sisi kecepatan tempuh, O-bahn bisa melesat lebih cepat ketimbang BRT. Bahkan sampai di atas 80 km per jam pada jalur khusus. Sedangkan kecepatan BRT rata-rata hanya 60 km per jam.

Sistem ini sendiri pertama kali digunakan di Kota Essen, Jerman dan tahun 1986 diperkenalkan di Adelaide untuk melayani pinggiran kota timur laut yang berkembang pesat menggantikan rencana sebelumnya untuk perluasan jalur trem. Selain itu juga sudah diterapkan di Nagoya, Jepang.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Zulfikri mengatakan, ide ini datang dari daerah-daerah yang tidak terakses angkutan kereta. Mengenai kota yang tepat untuk diterapkan angkutan moda anyar itu, Zulfikri berujar perlu kajian mendalam. Karena itu, ia pun belum bisa memastikan kapan O-Bahn bisa diterapkan di Indonesia.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan gagasan itu muncul sebagai jawaban dari permintaan Presiden Joko Widodo untuk mengatasi kemacetan di sejumlah kota besar di Indonesia. Kota yang disebut Budi antara lain Surabaya, Bandung, Makassar, Medan, Palembang, hingga Yogyakarta.

Baca juga: Dilengkapi 17 Stasiun, LRT Jabodebek Siap Mengular di 2021

Munculnya O-Bahn, kata Budi, bisa merevolusi transportasi umum di Indonesia dan bisa membuat perjalanan masyarakat lebih mudah.

“Dengan mengedepankan smart city. Kemenhub sedang melakukan kajian tentang transportasi ini untuk diterapkan di Indonesia,” kata Budi yang dikutip KabarPenumpang.com dari tempo.co (24/6/2019)

Mulai 15 Agustus, Ada Revitalisasi di Bandara Soekarno-Hatta, Citilink Rute Domestik Pindah Ke Terminal 2

Mulai 15 Agustus mendatang, maskapai berbiaya hemat (LCC) Citilink Indonesia untuk sementara waktu akan memindahkan seluruh operasional penerbangan rute domestiknya di Bandara Internasioanl Soekarno-Hatta ke Terminal 2 Domestik, dimana saat ini pelayanan Citilink rute domesktik ada di Terminal 1C. Perpindahan ini dilakukan menyusul dengan adanya revitalisasi Terminal 1C yang dilakukan oleh Angkasa Pura II (AP II).

Baca juga: Citilink Jadikan Banyuwangi Mini Hub, Agustus 2019 Buka Rute dari Denpasar

Direktur Utama Citilink Indonesia Juliandra mengatakan bahwa perpindahan sementara operasional penerbangan domestik ke Terminal 2 ini merupakan upaya Citilink Indonesia untuk meningkatkan kenyamanan penumpang.

“Dengan fasilitas dan infrastruktur memadai di terminal 2 Domestik, maka diharapkan mampu meningkatkan pre- maupun post-flight experience penumpang Citilink Indonesia yang melakukan perjalanan dari dan menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta” katanya di Cengkareng, yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers, Minggu (28/7/2019).

Adapun penumpang yang akan melakukan perjalanan dalam negeri dengan Citilink Indonesia dapat menuju ke Terminal 2 Domestik Bandara Soetta dan masuk ke check in konter melalui gate 3. Meski begitu untuk jadwal penerbangan Citilink tidak mengalami perubahan.

Namun demikian, penumpang diimbau untuk tiba di bandara tiga jam lebih awal sebelum jadwal keberangkatan serta melakukan check-in melalui aplikasi ataupun web di www.citilink.co.id. Citilink juga akan melakukan sosialisasi perpindahan terminal di Bandara Soetta ini baik melalui website, SMS, Call Center, ataupun media sosial sehingga calon penumpang terinformasikan dengan baik.

Juliandra menambahkan, bahwa Citilink akan kembali mengoperasikan seluruh penerbangan domestiknya di Terminal 1C Bandara Soetta setelah revitalisasi selesai dilakukan.

“Setelah revitalisasi dilakukan seluruh penerbangan domestik Citilink akan kembali beroperasi di Terminal 1C, dimana rencananya Terminal 1C juga akan menjadi dedicated terminal untuk penerbangan domestik Citilink,” ujarnya.

Senior Manager Of Branch Communication and Legal, Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Febri Toga Simpatupang menjelaskan, AP II telah memastikan kesiapannya dalam rencana perpindahan layanan operasional penerbangan rute domestik Citilink.

Perpindahan ini dilakukan menyusul dengan adanya revitalisasi Terminal 1C yang dilakukan oleh PT Angkasa Pura II (Persero) selaku pengelola Bandara Soetta. Meski begitu, adanya perpindahan operasional tentunya tak akan menurunkan pelayanan.

Baca juga: Citilink dan BIJB Kertajati Klarifikasi Video Viral Penumpang Seorang Diri di Penerbangan Surbaya

“Revitalisasi Terminal 1 dimaksudkan agar daya tampung terminal bertambah dan kami memang terus berinovasi untuk memenuhi kebutuhan seluruh pengguna jasa. Kedepan-nya kami dapat kembali menghadirkan inovasi baru layanan digital yang dapat dinikmati dan diterima dengan baik sebagai wujud komitmen pelayanan kami,” tutur Febri.

GoJek Punya Logo Baru, Ungkap Bentuk Universal dari Beragam Solusi

Pergantian logo sebuah perusahaan bukanlah hal yang aneh, melainkan ada semangat dan nuasa baru yang akan diperlihatkan. Seperti GoJek yang baru saja resmi mengubah logonya pada 22 Juli 2019 kemarin.

Baca juga: Sebelum Dijual, PCX Electric Milik Astra Akan Diuji Coba Mitra GoJek Jemput Penumpang

Logo awal GoJek adalah pengemudi motor bersinyal dan kini berganti menjadi sebuah cincin lingkaran bundar yang disebut Solv. Ternyata pergantian logo ini sudah dilakukan GoJek untuk yang ketiga kalinya. Bahkan Solv ini adalah logo GoJek yang dibuat semakin sederhana dari yang lalu.

Warna sub kategori dalam aplikasi GoJek

Dirangkum KabarPenumpang.com dari laman website GoJek, logo baru ini mengungkapkan bentuk universal dari beragam solusi. Upaya rebranding GoJek dilakukan untuk merefleksikan perjalanan mereka dari yang awalnya layanan transportasi roda dua hingga menjadi pengelola super-app Indonesia yang menyediakan 22 layanan.

Rebranding ini juga dibuat setelah mencatat pertumbuhan transaksi hingga 1100 persen selama tiga tahun terakhir. Pemilihan logo baru perusahaan memiliki alasan fleksibilitas dimana dengan logo GoJek terbaru ini lebih mudah dikenali meski di pasang dalam berbagai ukuran baik besar maupun kecil.

“Karakter logo lama yang didesain salah satu founder GoJek disebut-sebut mewakili sisi unik dari pembuatan sebuah logo. Namun, keberadaan logo lama itu justru memiliki kendala implementasi tersendiri di lapangan. Logo kami sulit dilihat pada ukuran kecil. Itu tidak cukup fleksibel, dan bentuknya yang rumit membuatnya sulit dibuat ulang pada bahan berbeda. Hasilnya, jadi sangat mudah menimbulkan kekeliruan,” tulis UX Lead GoJek, Fatema Raja pada blog engineering GoJek.

Tak hanya memudahkan penerapan dalam berbagai bahandan ukuran, logo terbaru GoJek juga membuka celah baru untuk mereka dalam merapikan layanan sesuai skema kategori warna yang telah ditentukan.

“Kami memiliki lebih dari dua puluh produk dan layanan. Begitu banyak, sehingga kami benar-benar kehabisan warna untuk dikaitkan dengan produk baru. Warna kami jelas membutuhkan pemikiran ulang,” tulis Raja.

Nadiem Makarim selaku CEO GoJek Indonesia, mengatakan bahwa perubahan logo melambangkan satu logo untuk semua. Lingkaran dalam logo baru Gojek mewakili ekosistem Gojek yang semakin solid memberikan manfaat untuk semua.

“Logo ini mewakili semangat kami untuk selalu menawarkan cara pintar dalam mengatasi tantangan yang dihadapi para pengguna untuk hidup yang lebih mudah bagi konsumen. Untuk akses pendapatan tambahan yang lebih luas dari mitra, untuk peluang pertumbuhan bisnis yang pesat bagi para merchant, dan masih banyak lagi. Dengan Gojek #PastiAdaJalan. Itu intinya,” jelas Nadiem.

Dalam rebranding ini, ada enam palet warna yang mewakili identitas dari enam sub kategori layanan yakni hijau untuk logistik dan transportasi. Merah untuk makanan, biru untuk layanan finansial dan pembayaran, merah muda untuk hiburan, oranye untuk belanja kebutuhan dan yang terakhir ungu gelap untuk bisnis.

Raja menambahkan, logo baru ini memiliki kemiripan dengan tombol daya yang menyiratkan pesan pemberdayaan. Selain itu, logo GoJek juga dimaknai lain sebagai ikon pencarian (search), pin pemetaan digital, roda di bagian logo pertama GoJek, dan lain-lain.

Baca juga: GoJek ‘Disuntik’ Visa, Grab Jalin Kerja Sama dengan Mastercard

Pengartian logo yang bermacam-macam ini dianggap sebagai poin tersendiri bagi branding terbaru GoJek. Namun di antara sekian alasan yang sudah dijelaskan sebelumnya, salah satu faktor utama yang mendorong upaya rebranding ini adalah penegasan visi GoJek untuk fokus ke dalam layanan super-app, konsep bisnis agnostic yang belakangan dibidik sejumlah pelaku perusahaan teknologi besar di Indonesia seperti Traveloka, Tokopedia, dan Bukalapak.

Ternyata, Kebiasaan Meludah di Angkutan Umum Sudah Ada Sejak Masa Kolonial Belanda

Jika membicarakan zaman kolonial belanda, tentu agak sulit untuk tidak menyinggung soal moda transportasi yang dikembangkann, pasalnya Belanda membawa pengaruh besar pada perkembangan jaringan kereta api di Indonesia. Walaupun berjasa terhadap hadirnya jaringan kereta api di Indonesia, namun kala itu Belanda menerapkan sejumlah peraturan baik tertulis maupun tidak yang unik kepada penumpang pribumi.

Baca Juga: Tak Terasa Sudah 150 Tahun Sistem Perkeretaapian Belanda di Indonesia

Sebagai pembukaan, yang namanya masa kolonialisme Belanda di Indonesia memang dipenuhi dengan ‘kecurangan’ yang merugikan Bangsa Indonesia – termasuk dengan peraturan-peraturan yang berlaku ketika warga pribumi menaiki angkutan umum (kereta api). Selain ketika menaiki kereta api, ‘kecurangan’ yang dilakukan Belanda ini bahkan sudah terlihat ketika ia memberlakukan sistem tanam paksa hingga pembangunan Jalan Raya Pos yang membentang dari Anyer hingga Panarukan.

Pemisahan Gerbong
Kembali ke poin peraturan yang diterapkan pihak Belanda kepada pribumi adalah mereka memisahkan pintu masuk antara penumpang berkebangsaan Belanda dan warga pribumi. Tidak hanya pintu masuknya saja yang dipisahkan oleh pihak Belanda, pun dengan penggunaan gerbongnya juga turut dipisah.

Dari pemisahan ini saja sudah tampak jelas bahwa Belanda tidak mau berada satu gerbong dengan orang Indonesia, dan bukan tidak mungkin apabila gerbong yang digunakannya pun berbeda – dimana gerbong yang digunakan oleh pihak Belanda jauh lebih bagus ketimbang yang digunakan oleh orang Indonesia sendiri.

Dilarang Meludah!
Mungkin bagi Anda yang menggunakan sarana transportasi massal seperti TransJakarta atau KRL Jabodetabek, budaya jorok seperti meludah di moda transportasi sudah tidak akan Anda temui lagi. Namun apa budaya ini berlaku di jaman dahulu kala? Kapan budaya ini mulai berkembang?

Jawaban untuk pertanyaan pertama, budaya jorok seperti meludah ini seolah sudah menjelma menjadi suatu ‘bumbu’ yang akan Anda lihat ketika menggunakan moda transportasi umum seperti Kopaja, MetroMini atau bahkan KRL jaman dulu. Namun seiring perkembangan jaman, budaya jorok seperti benar-benar sudah diminimalisir.

Baca Juga: Menapaki Sentuhan Belanda di 10 Stasiun Tua di Indonesia

Sedangkan untuk jawaban kedua, budaya jorok ini bahkan sudah berkembang sejak jaman masa kolonial Belanda, tidak percaya? Bisa Anda lihat pada headline artikel ini yang menunjukkan sebuah foto larangan meludah yang sempat dipasang di gerbong-gerbong kereta jaman dulu.

Sumber: mp-produktie.nl

Gambar yang dikutip dari laman mp-produktie.nl ini menujukkan bahwa perilaku jorok penumpang di moda transportasi berbasis massal memang sudah berkembang sejak jaman kolonial Belanda. Dalam gambar tersebut, dapat Anda lihat larangan ini ditulis dalam empat bahasa: Belanda, Indonesia (ejaan lama), Jawa, dan Cina.

Ini menujukkan bahwa pihak Belanda tidak suka dengan budaya jorok yang berkembang di Tanah Indonesia – budaya Eropa memang terkenal bersih, berbanding terbalik dengan kebiasaan jorok yang berkembang di Indonesia, tidak terkecuali orang-orang Cina yang tinggal di Indonesia.

 

Bombyx Mask, Masker ini Bisa untuk Penyembuhan TBC dan Relaksasi Sel Saraf

Masker tidak hanya digunakan oleh orang sakit TBC, flu ataupun pekerja bangunan, tetapi masker juga digunakan oleh pengendara kendaraan roda dua. Biasanya para pengendara motor menggunakan masker untuk mengurangi debu dan pencemaran udara di jalanan.

Baca juga: MRT Buat Video Tutorial Perilaku Penumpang, Kalau Mendengkur Jangan Lupa Pakai Masker!

Apalagi jalanan ibukota yang indeks udaranya dinyatakan tidak sehat. Adanya hal ini kemudian membuat anak muda yang tengah menjalani studi mereka di universitas berinisiatif membuat masker yang bisa membuat pengendara motor lebih nyaman dibanding dengan masker biasa.

Tak hanya menghindari debu atau partikel pembuat sakit pengendara, masker ini bahkan diberi essensial oil yang beraroma menenangkan seperti bunga mawar, melati atau jasmine, lavender, green tea, tea tree dan vanila. Masker yang diberi nama Bombyx Mask dan dilengkapi essensial oil ini selain menghalau debu juga diklaim bisa menyembuhkan penyakit Tuberkulosis atau TBC serta menghilangkan stress.

“Masker ini berbahan baku kokon ulat sutera (Bombyx Mori) dan minyatk atsiri (Essensial oil) yang dihasilkan melalui penerapan technology open top roller (OTR),” jelas Andika Harapan yang dikutip KabarPenumpang.com dari motorplus-online.com (23/6/2019)

Andika salah satu pembuat masker yang juga mahasiswa Universitas Brawijaya ini menjelaskan, dua bahan utama tersebut diracik dengan kain katun dan dijahit menjadi sebuah masker. Di dalam masker ini, Andika memasukkan kain filter yang terdiri dari kain PM 2,5; kokon ulat sutera dan minyat atsiri.

“Filter PM 2,5 berfungsi untuk memfilter partikel udara kotor berukuran PM 2,5 agar tidak masuk ke saluran pernafasan. PM 2,5 sendiri merupakan sumber penyakit yang bertebaran di udara,” jelas Andika.

Dia menambahkan, penggunaan kokon ulat sutera sebagai bahan baku utama karena terdapat kandungan 80 fiborin, aktivitas antimikroba, resistensi tethadap sinar UV dan menyerap kelembaban. Sedangkan minyak atsiri memiliki efek famakoligis yang unik sepert antibakteri, antivirus, diuretik, vasodilatator, penenang sel saraf dan perangsang adrenal.

“Sehingga sangat baik dijadikan sebagai media pengobatan untuk mengurangi penyakit TBC, Sinus hidung dan relaksasi sel saraf,” tambahnya.

Andika menuturkan setiap kemasan Bombyx Mask terdapat dua buah masker dan dua buah filter kokon ulat sutera.

Baca juga: Atasi Jetlag, LumosTech Hadirkan Masker Tidur Pintar

“Inovasi Bombyx Mask ini juga dapat menjadi solusi dari pencemaran lingkungan akibat masker sekali pakai serta mengatasi penyakit pernafasan,” ujarnya.

Unik, di Taiwan Ada Museum Taksi yang Dibuka Temporer

Jika di Malang ada yang namanya Museum Transportasi, maka berbeda dengan yang ada di Taiwan, dimana seorang penggemar segala sesuatu yang berkenaan dengan taksi dan memajang semua koleksiannya tersebut di dalam sebuah ‘museum pribadi’. Namun ini bukanlah permanen, melainkan hanya bersifat sementara saja. Dibuka sejak Sabtu (20/7) kemarin, rencananya museum taksi pribadi yang didirikan oleh Lee Chi-cheng ini akan dihelat sampai dengan tanggal 9 Agustus mendatang.

Baca Juga: Operator Taksi Jepang Buka Lowongan Jadi Pengemudi Asing, Tertarik?

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman taipeitimes.com (26/7), Lee mengumpulkan semua pernak-pernik yang berhubungan dengan taksi ini sejak dua dekade yang lalu. Adapun museum pribadi ini dapat Anda temukan di Suao Township di Yilan, Taiwan. Menurut Lee, ia mulai mengumpulkan barang koleksinya ini pada tahun 2000 silam, ketika Lee tengah mengujungi New York City.

Ketika berada di Big Apple – julukan New York City, Lee melihat ada sebuah mainan berbentuk taksi yang dilengkapi dengan tanggal ulang tahunnya pada bagian plat nomor. Lee berulang tahun pada tanggal 10 Oktober, dan mainan taksi tersebut menggunakan plat nomor NYC 1009. Sejak saat itu, Lee mulai giat mengumpulkan segala sesuatu yang berhubungan dengan taksi.

Hampir dua puluh tahun berlalu, Lee yang sudah memiliki segudang benda yang berbau taksi ini kemudian memutuskan untuk membuka museumnya sendiri. Awalnya, Lee hendak membuka museum di Okinawa, Jepang. Namun dengan segala pertimbangan, Lee lalu memutuskan untuk membeli sebuah gudang tua yang terletak di Suao dan mengkonversinya menjadi sebuah museum.

“Pembelian ini (gudang tua) merupakan hadiah ulang tahun saya yang ke-50,” ujarnya.

Adapun di antara sejumlah barang yang dipamerkan, Lee juga menampilkan lima buah taksi sungguhan – Mercedes Benz 180 keluaran tahun 1957, Datsun Bluebird 312 keluaran tahun 1962, Austin FX4 keluaran tahun 1967, Checker Marathon keluaran tahun 1972, dan Yue Loong Sunny 303 keluaran tahun 1988.

Baca Juga: Warna Warni Taksi di Bangkok Ternyata Merupakan ‘Kode’

Tidak hanya itu, ada juga beberapa becak mobil, seperti yang digunakan di Taiwan pada 1950-an, serta tiga generasi kendaraan Nissan Bluebird dari Jepang.

Bagaimana, apakah Anda tertarik untuk mengunjunginya?

 

Skybridge MRT Jakarta Hubungkan Poins Square dan Halte TransJakarta

Melihat sosok Moda Raya Terpadu (MRT) yang kini telah mengular di ibukota, rasanya seperti ada yang kurang bila tidak melihat TOD atau Transit Oriented Development. Dukuh Atas sudah terlihat TODnya, kini PT MRT Jakarta tengah menargetkan pembangunan TOD di kawasan Lebak Bulus.

Baca juga: Garap TOD di Stasiun Layang, MRT Jakarta Siap Bangun Transit Plaza di Lebak Bulus

TOD di Lebak Bulus sendiri akan ada perencanaan interkoneksi Poins Square Mall dengan Stasiun Lebak Bulus yang berupa skybridge atau jembatan penghubung. Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, skybridge tersebut kearah utara menuju ke Poins Square Mall sehingga penumpang bisa langsung mengunjungi pusat perbelanjaan.

“Nantinya, akan ada skybridge yang menghubungkan MRT Lebak Bulus dengan Poins Square Mall. Sehingga penumpang yang ingin menuju Poins Square tinggal melewati skybridge dari MRT Lebak Bulus dilengkapi dengan lift dan eskalator,” kata William.

Saat ini untuk proses dengan PT Intiland Development yakni pemilik Poins Square Mall sudah mencapai 90 persen dan tahap akhir tingal penandatanganan kerja sama. William memperkirakan skybridge bisa dibangun dalam enam bulan dan kini masih tahap pembicaraan dengan Poins Square.

“Hampir final untuk bagian kerja samanya. Dipikirkan juga nanti pembangunan seperti apa. Yang jelas skybridge-nya arah utara ke Poins Square Mall. Sehingga penumpang mudah untuk menuju Poins Square Mall,” ujar Corporate Secretary PT MRT Jakarta Muhammad Kamaluddin.

Dia menambahkan, Lebak Bulus akan menjadi perkotaan yang lengkap dengan bangunan properti karena akan ada pembangunan apartemen di belakanh Poins Square Mall. Sehingga skybridge tersebut juga akan terkoneksi dengan Stasiun MRT Lebak Bulus serta TransJakarta. Nanti dari transit plaza ada lift dan eskalatornya juga.

Bahkan pihak MRT Jakarta sudah menargetkan tahun 2020 depan kawasan TOD Lebak Bulus sudah punya transit plaza dan skybridge.

“Rencananya, awal tahun depan kita akan punya fasilitas skybridge dan transit plaza selesai,” jelas William.

Diketahui, saat ini PT MRT Jakarta sudah membangun sebuah transit plaza yang akan mulai dibuka bulan depan. Dimana transit plaza ini sendiri digunakan untuk titik drop off dan pick up kendaraan di kawasan Stasiun MRT Lebak Bulus sehingga nantinya tidak ada lagi kendaraan yang berhenti atau parkir di sepanjang jalan Lebak Bulus.

“Ini transit plaza pertama di Jakarta, nanti ini lokasinya di dekat Poins Square akan didedikasikan untuk poin drop off maupun pick up kendaraan yang mau ke MRT Lebak Bulus, jadi nanti bukan di pinggir Jalan Lebak Bulus, nanti masuk sini, mobil dan motor,” kata William.

Baca juga: Rayakan “Ulang Tahun Perak” Sister City Jakarta – Berlin, MRT Jakarta Tampilkan Mural di Terowongan Kendal

Kini, pihaknya tinggal melakukan finishing pada pembangunan fisik transit plaza ini. “Fisik sudah selesai, tinggal finishing, ada shelter khusus ojol juga,” kata William.

Lucu! Ada Keledai Nyasar ke Bandara Internasional Ben Gurion

Apa yang akan Anda lakukan jika melihat seekor hewan yang tidak biasa di dalam sebuah bandara? Bukan anjing atau kucing yang biasa dibawa oleh penumpang ke dalam kabin, melainkan seekor keledai yang dikabarkan kabur dari sebuah peternakan yang berada di dekat Bandara Internasional Ben Gurion, Israel. Keledai berukuran cukup besar ini berjalan tanpa arah di dalam terminal bandara tersebut dan sontak mengundang gelak tawa dari setiap orang yang melihatnya.

Baca Juga: Ben Gurion, Bandara Paling Aman dengan Standar Keamanan Tertinggi di Dunia

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (25/7), lucunya lagi, hewan ini tidak mengamuk atau menunjukkan gelagat yang mengindikasikan bahwa ia merasa tidak nyaman. Keledai ini hanya berjalan berkeliling terminal keberangkatan dan tampak kebingungan ketika melihat infrastruktur yang ada di sana, seperti conveyor belt, papan informasi, dan barang-barang lainnya.

Petugas keamanan yang tengah bertugas kala itu juga tidak langsung mengeluarkan keledai keluar dari bangunan terminal, melainkan menunggu petugas dari Kementerian Pertanian untuk mengeluarkannya – setidaknya orang-orang di kementerian tersebut memiliki caranya tersendiri untuk memperlakukan keledai yang tengah ‘tersesat’ ini.

“Ini merupakan kejadian paling absurd yang pernah saya alami ketika tengah menjalani shift,” ujar seorang petugas bandara.

Petugas yang enggan menyebutkan namanya ini juga mengatakan bahwa pada awalnya ia sempat mengira bahwa kejadian ini hanyalah sebuah mimpi belaka.

“Ya, keledai tersebut diperlakukan dengan sangat baik … diberi makan dan minum sebelum akhirnya digiring petugas keluar dari bangunan terminal,” tambahnya.

Untungnya, kondisi Temrinal 1 Bandara Internasional Ben Gurion ketika kejadian ini berlangsung, Rabu (24/7) berada dalam kondisi yang tidak terlalu ramai, karena keledai ini ‘nyasar’ ketika waktu menunjukkan dini hari. Karena lalu lintas penumpang di bandara kala itu juga tengah tidak ramai, maka kejadian nyasarnya si keledai tidak menimbulkan keterlambatan pemberangkatan sama sekali.

Baca Juga: Ikuti Langkah di Tepi Barat, Israel Siap Perluas Bandara Ben Gurion

Hingga berita ini diturunkan, tidak ada yang mengetahui secara persis bagaimana keledai tersebut bisa masuk ke dalam bangunana terminal. Untung si keledai nyasarnya ke terminal, ya! Kalau nyasarnya ke landas pacu, duh, bisa bahaya!