Dampak Krisis Politik, Sektor Pariwisata Hong Kong Kondusif Meski Ada Pelemahan

Krisis politik hebat yang terjadi di Hong Kong dalam rentang waktu beberapa hari ke belakang ternyata menarik perhatian banyak kalangan. Tidak hanya itu, kondisi yang dilatarbelakangi oleh rencana pemberlakuan Rancangan Undang-Undang (RUU) Ekstradisi ini juga dampaknya semakin meluas dan sejumlah pihak mengkhawatirkan soal industri parisiwata yang menjadi salah satu daya tarik Hong Kong selama ini.

Baca Juga: Alipay Siap Ganti Sistem Pembayaran MTR Hong Kong dengan Scan QR Code

Kerusuhan yang ditimbulkan oleh lebih dari satu juta penduduk demonstran ini mulai merambat ke berbagai fasilitas publik – salah satunya adalah bandara. Sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari laman cnn.com (26/7), pengunjuk rasa berkumpul di terminal kedatangan Hong Kong International Airport untuk menginformasikan kepada wisatawan mancanegara yang datang terkait krisis politik yang tengah terjadi di sana.

Tidak terkecuali rakyat Indonesia yang ada di Hong Kong sana, dimana Konsulat Jenderal RI (KJRI) menghimbau, “untuk menghindari penggunaan baju/kaos berawarna hitam atau pun putih serta payung kuning,” tulis pihak KJRI di laman Facebook-nya.

Terkait demonstrasi besar-besaran yang terjadi, ternyata sektor pariwisata di Hong Kong benar-benar mengalami pelemahan – kendati tidak signifikan. CEO Langham Hospitality Group., Stefan Leser mengatakan bahwa terjadi pelemahan pada sisi perhotelan yang ada di Hong Kong.

“Segmen-segmen tertentu di hotel-hotel Hong Kong kami telah mengalami penurunan,” tuturnya.

“Kendati begitu, menurut pantauan kami, perjalanan liburan tetap stabil,” tandasnya.

Ya, ternyata krisis politik yang terjadi di Hong Kong tidak terlalu berdampak signifikan terhadap perkembangan sektor pariwisata di sana – walaupun ada beberapa wisatawan yang lebih memilih untuk membatalkan semua rencana mereka untuk berlibur atau mengembangkan bisnis di Hong Kong.

Namun kondisi pariwisata yang sudah dijabarkan di atas hanyalah bersifat temporer, dimana situasi bisa berubah drastis tergantung pada tindakan yang dilakukan oleh para demonstran. Apabila mereka semakin ‘menggila’ menolak RUU ekstradisi ini, maka bukan tidka mungkin apabila sektor pariwisata di Hong Kong akan mengalami penurunan dari segi kuantitas.

Begitu juga kebalikannya, apabila kondisinya berangsur kondusif, maka sektor pariwisata di sana juga bisa kembali normal seperti sedia kala.

Baca Juga: Di Tengah Lesunya Pasar, Mulai Juni Citilink Buka Penerbangan Langsung ke Phnom Penh

Dilansir dari laman skift.com (29/7), kondisi Hong Kong saat ini tidaklah seperti yang Anda bayangkan. Ledakan demonstran hanya terjadi di beberapa titik saja, dan kiranya bagi para pelancong untuk menghindari titik-titik tersebut.

“Tidak ada alasan untuk tidak mengunjungi Hong Kong, di sini masih aman,” ujar Direktur Eksekutif dari Abercrombie & Kent Luxury Travel, Gerald Hatherly.

Sementara itu, flag carrier Garuda Indonesia yang juga membuka rute penerbangan menuju Hong Kong mengaku tidak terpengaruh apapun terkait krisis politik tersebut.

“Semua (penerbangan menuju Hong Kong) tetap berjalan normal,” ujar Humas Garuda Indonesia, Dicky Irchamsyah.

Operasional Bus Listrik di Jakarta Masih Menanti Regulasi

Udara ibukota Jakarta semakin hari semakin buruk kualitasnya. Salah satu penyebabnya adalah polusi yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor yakni emisi atau gas pembuangannya. Karena masalah ini, beberapa perusahaan transportasi kemudian memikirkan hal baru untuk armada mereka seperti bus listrik.

Baca juga: Adopsi Bus Listrik, Antara Harapan dan Tantangan yang Menghadang

Namun, bagaimana regulasi untuk bus listrik ini sendiri? Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, ada beberapa perusahaan yang sudah mulai ekspansi dari bus berbahan bakar minyak ke listrik. Bahkan perusahaan bus ini pun menyetujui adanya tren pergeseran ke bus listrik.

PT Ekasari Lorena Transport Tbk yang diwakili Managing Directornya yakni Dwi Ryanta Soerbakti mengatakan dirinya akan menjadi pendukung utama dari pihak swasta untuk mencoba alternatif lain seperti bus listrik. Adapun syarat yang perlu untuk mendukung infrastruktur menurutnya yakni tempat pengisian baterai, peizinan dari pemerintah hingga PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk mendorong program ini.

Bahkan Perum Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia (DAMRI) saat ini masih menantikan pengesahan beleid terkait kendaraan listrik dan kesiapan mitra untuk memulai investasi. Sebab secara prinsip DAMRI siap mendukung dan menjadi pionir dalam penggunaan bus listrik di Indonesia. Alasannya, DAMRI tidak mempersoalkan penggunaan bus listrik tetapi lebih ke waktu permulaan, kata Pelaksana Tugas Khusus Program Bus Listrik Perum Damri Dipo Wirawan.

“Sektor transportasi publik mempunyai peran yang besar untuk mengurangi emisi gas buang kendaraan. Rasionya, jika satu bus diesel diubah menjadi bus listrik, sama dengan meng-elektrifikasi 30 mobil pribadi,” ujarnya.

Terkait mitra, dia siap mendukung rencana penggunaan bus listrik oleh PT Transportasi Jakarta. Dia mengklaim terus berkoordinasi dengan TransJakarta untuk memformulasikan model bisnis yang saling menguntungkan.

“Mengingat biaya investasi bus listrik yang cukup tinggi bisa mencapai 2-3 kali lipat bus diesel, maka perencanaan yang dilakukan harus benar-benar matang,” katanya.

Diketahui, DAMRI tengah bekerja sama dengan Asian Development Bank (ADB) dalam menyusun kajian terhadap kelayakan investasi bus listrik serta mitigasi risiko yang dibutuhkan.

“Selain dengan TransJakarta, DAMRI pun siap jika seandainya beberapa layanan di kawasan Bandara Soekarno Hatta secara bertahap harus menggunakan Bus Listrik seiring dengan kebijakan PT Angkasa Pura II terkait sustainable atau green airport,” tegasnya.

Sedangkan TransJakarta kini sudah selesai menguji coba bus listrik yang mereka miliki. Salah satu diantaranya adalah buatan PT Mobil Anak Bangsa (MAB) yang sudah mendapat sertifika uji tipe (SUP) dari Kementerian Perhubungan.

Direktur Utama PT TRansportasi Jakarta Agung Wicaksono mengatakan, sedangkan yang dua lainnya dri BYD tengah menjalani sertifikasi dan nantinya jika semuanya lulus akan ada proses dari kepolisian untuk mengeluarkan STNK, nilai jual kendaraan bermotor dan lainnya.

“Untuk peraturan terkait bus listrik masih proses lintas kementrian. Kalau bisa ada Perpres atau ada peraturan di tingkat pusat yang akan membuat berbagai kementerian ini bisa saling sinergi atau lebih konfidence izin-izin yang dibutuhkan,” ujarnya.

Agung juga mengatakan, saat ini peraturan masih dibahas dengan Pemprov DKI untuk peraturan gubernur dan tingkat nasional masih menunggu peraturan presiden. Saat ini juga diketahui, PT MAB sudah digandeng oleh Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPJT) dalam pengadaan bus listrik yang akan digunakan sebagai armadanya.

Baca juga: Kontroversi MetroTrans Melaju di Jalur ‘Sempit,’ Inilah Tanggapan PT TransJakarta

BPTJ sendiri menargetkan memiliki seribu armada bus listrik tahun 2020 mendatang.Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi Tahun 2018-2029, dalam jangka menengah sudah harus tersedia 5.000 kendaraan angkutan massal bertenaga listrik.

Tiga Rute Citilink Tutup Sementara, Ada Apalagi dengan Bandara Kertajati?

Tiga rute penerbangan Citilink dihentikan sementara dari Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB), Kertajati sejak 26 Juli 2019. Penghentian sementara operasi tiga rute itu dikarenakan tingkat keterisian atau load factor dalam penerbangan relatif rendah.

Baca juga: Mulai Hari Ini, Penerbangan Domestik dari Bandara Husein Sastranegara Pindah ke Kertajati

Corporate Communications Citilink Fariza Astriny, menyebutkan tiga rute yang ditutup sementara adalah Kertajati-Medan, Kertajati-Denpasar, dan Kertajati-Palembang. “Itu karena load seat factor yang rendah dan memang sedang low season, sehingga untuk commercial reason kita berhentikan dahulu,” ujarnya.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Fariza mengatakan jumlah load factor Kertajati tidak sampai 50 persen dan ini menguras biaya operasional serta margin pendapatan pun jauh dari yang ditargetkan. Fariza juga mengaku belum mengetahui kapan ketiga rute tersebut akan kembali dibuka.

Selain hengkang sementara, ada beberapa rute Citilink yang sampai saat ini belum terlaksana. Saat itu Garuda Indonesia mengatakan akan membuka layanan penerbangan Umroh mereka dari Bandara Kertajati, tetapi hingga kini pun belum terealisasikan dengan baik.

Hengky Heriandono yang saat itu menjabat sebagai VP Corporate Secretary Garuda Indonesia mengatakan, penerbangan Haji tersebut terbang ke Bandara Internasional Soerkarno-Hatta dari Kertajati untuk faktor teknis seperti pengisian bahan bakar. Dia mengatakan akan ada lima kloter Haji yang akan berangkat dari Kertajati dan mengambil slot milik Saudi Airlines.

Kemudian belum lama ini seorang penumpang yang berangkat dari Kertajati menuju ke Juanda dengan pesawat Citilink merekam dirinya menjadi satu-satunya penumpang dalam penerbangan tersebut. Video pria tersebut sempat viral dan pada 1 Juli 2019 penerbangan maskapai berbiaya hemat tersebut hanya mengangkut sepuluh penumpang menuju ke Surabaya yang sebelumnya sempat akan dibatalkan.

Diketahui, selain Citilink ada empat maskapai lainnya yang diminta regulator untuk memindahkan penerbangan mereka dari Bandara Husein Sastranegara ke Bandara Kertajati yakni Garuda Indonesia, Lion Air, AiraAsia Indonesia dan Xpress Air. Tantangan lain pun menjadi cerita tersendiri bagi Perum Damri yang mengoperasikan armadanya menuju ke Bandara Kertajati.

Dari Terminal Harjamukti bus Damri tujuan ke Kertajati awalnya hanya mengangkut 3-5 orang dan kemudian beranjak sehari rata-rata 15 orang. Mereka juga mengaku memberangkatkan bus meski dalam kondisi kosong tak berpenumpang.

Baca juga: Citilink dan BIJB Kertajati Klarifikasi Video Viral Penumpang Seorang Diri di Penerbangan Surbaya

Menurut pihak Damri, sedikitnya penumpang dikarenakan banyak yang menaiki kendaraan pribadi ataupun shuttle, tetapi bila dari Bandara Kertajati sendiri lebih banyak karena yang menggunakan armada tersebut tidak hanya dari wilayah Cirebon tetapi dari Kuningan, Brebes dan Tegal.

Lain dari itu, faktor sepinya Bandara Kertajati bisa juga dikarenakan jarak tempuh dari Bandung yang cukup jauh, yakni 179,4 km, dibandingkan dari Bandung ke Bandara Halim Perdanakusuma yang hanya 143,5 km.

Kedapatan Bawa Peluncur Rudal, Penumpang Veteran Bikin Geger Bandara Baltimore

Petugas Transport Security Administration (TSA) di Baltimore/Washington International Thurgood Marshall Airport mengamankan seorang penumpang yang kedapatan membawa missile launcher (peluncur rudal) di dalam tas yang dibawanya. Kejadian ini terjadi pada Senin (29/7) kemarin dan penumpang ini langsung ditahan oleh otoritas keamanan bandara guna mendapatkan pemeriksaan lanjutan dan mengetahui motif di balik pembawaan missile launcher tersebut.

Baca Juga: Bandara di AS Kian Ketat, TSA Wajibkan Pemeriksaan Terpisah Pada Perangkat Elektronik

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, petugas keamanan bandara langsung memberhentikan penumpang terkait ketika melihat ada sesuatu yang aneh dari barang yang di bawanya di dalam tas. Di dalam keterangan yang diberikan petugas, pria yang tidak disebutkan namanya tersebut merupakan seorang veteran militer yang membawa pulang missile launcher tersebut sebagai souvenir.

Kala itu, pria ini tengah berada di dalam perjalannya dari Kuwait menuju Texas. Kendati missile launcher tersebut sudah tidak aktif, namun petugas tetap menyita barang tersebut dan menyerahkannya kepada petugas pemadam kebakaran negara untuk kemudian dimusnahkan.

“Untuk kepentingan apapun, senjata militer tidak bisa masuk ke dalam bagasi atau bagasi kabin,” ujar petugas TSA.

Setelah diintegorasi dan mendapatkan kepastian tentang missile launcher yang dibawanya ini, penumpang yang diidentifikasi berasal dari Jacksonville, Texas ini lalu diperbolehkan untuk mengejar penerbangannya kembali.

Kejadian ini lalu menjadi ramai diperbincangkan setelah juru bicara TSA, Lisa Farbstein mencuitkan perihal temuan rekan kerjanya tersebut di jejaring sosial Twitter.

“Petugas @TSA yang ada di @BWI_Airport mendeteksi missile launcher ini yang ada pada sebuah tas penumpang pagi tadi. Penumpang pria ini mengatakan bahwa missile launcher tersebut merupakan souvenir dari Kuwait. Mungkin ada baiknya jika ia membawa gantungan kunci saja!”

Baca Juga: Bisa Dibuka Langsung Oleh Petugas Keamanan Bandara, Inilah Gembok Koper TSA

Tentu saja, semua petugas keamanan di bandara harus menyisir setiap barang bawaan penumpang yang hendak naik ke dalam pesawat. Hal ini ditujukan agar menjaga kenyamanan dan keamanan penumpang lain yang ada di dalam penerbangan yang sama. Dapatkah Anda membayangkan apabila penumpang lain di dalam penerbangan Anda membawa missile launcher? Mungkin sepanjang perjalanan tersebut, Anda akan komat-kamit baca doa agar kejadian yang tidak diinginkan tidak terjadi, ya!

 

 

 

Masih Bingung Bedakan Boeing 737 dan Airbus A320? Simak Ini

Boleh dikata saat ini tumpuan layanan penerbangan domestik dan regional di banyak negara, termasuk Indonesia akan mengerucut pada dua keluarga pesawat kelas narrow body, tak lain Boeing 737 dan Airbus A320. Mungkinsebagian orang tak peduli dengan apa beda diantara kedua jenis pesawat tersebut, tapi sebagian lain cukup antusias untuk mengenali jenis pesawat yang ingin ditumpangi.

Baca juga: Ada di Jepang, Kamar Hotel dengan Simulator Kokpit Boeing 737-800!

Beberapa yang belum paham akan karakter pesawat, dapat melihat tipe pesawat yang mereka tumpangi melalui label tulisan di bodi pesawat. Namun yang lainnya dan sudah paham tentang perbedaan pesawat tahu dari berbagai bentuk luar dan dalamnya.

Kali ini KabarPenumpang.com yang merangkum dari laman simpleflying.com (27/7/2019), akan menjelaskan perbedaan antara Boeing 737 dengan Airbus A320. Nah, apa saja sih perbedaannya?

Kapasitas penumpang
Airbus A320 memiliki kapasitas 135-236 penumpang sekali angkut tergantung modelnya. Sedangkan Boeing 737 mampu menampung dan mengangkut dengan kapasitas 108-177 penumpang.

Bentuk hidung
Menarik ketika membahas tentang hidung, seperti manusia memiliki hidung mancung atau pesek, ternyata Airbus A320 dan Boeing 737 juga bisa dibedakan melalui hidung mereka. Airbus A320 berbentuk bulat dan Boeing 737 berbentuk runcing.

Jendela kokpit
Jendela pada kokpit Boeing 737 lebih sudut dengan potongan ke bawah tepat setelah hidung. Sedangkan Airbus A320 lebih membulat.

Melihat dari gerbang keberangkatan
Penumpang yang berada di gerbang keberangkatan biasanya melihat setiap pesawat bentuk bodi dan hidungnya terlihat mirip bahkan sulit untuk dibedakan. Jika Anda penumpang yang memiliki mata tajam, Airbus A320 memiliki ground clearance dan mesin bulat yang lebih tinggi. Sedangkan Boeing 737 mesin lebih rendah dan tidak bulat sempurna bentuknya.

Di dalam kabin
Di kelas ekonomi, kedua pesawat dilengkapi dalam konfigurasi 3-3. Kecuali Anda memeriksa dengan cermat kartu pengaman atau mencari penanda Boeing Sky Interior, tidaklah mudah untuk mengetahui pesawat mana yang Anda gunakan dengan konfigurasi tempat duduk. Ketika datang ke kelas bisnis, konfigurasi tergantung pada maskapai. Sebagian besar operator di luar Eropa mengoperasikan kelas bisnis sebagai kabin terpisah dengan kursi berbeda. Ini biasanya dalam konfigurasi 2-2. Namun, di Eropa, konfigurasi 3-3 tetap dipertahankan tetapi kursi tengah diblokir untuk tujuan kenyamanan.

Baca juga: Makin Strong! Batik Air Terima Kedatangan Airbus A320-200CEO Ke-44

Keseluruhan
Saat Anda memesan penerbangan, jenis pesawat biasanya ditunjukkan saat pemesanan. Meskipun pertukaran pesawat menit terakhir dapat terjadi, Anda lebih cenderung tidak tetap berada di pesawat yang sama seperti yang ditunjukkan selama pemesanan. Selain itu, tidak semua maskapai mengoperasikan keluarga pesawat Boeing 737 dan Airbus A320.

Setelah 2 Tahun Berlalu, Bagaimana Nasib Pembangunan Bandara Bali Utara?

Ketika berbicara Singaraja di Bali, yang terpikir pertama adalah terkait pembangunan Bandara Bali Utara. Gaung pertamanya dua tahun lalu dan Agustus 2017 akan ada peletakan batu pertama. Namun kabar ini tiba-tiba saja menghilang dan tak jelas apakah akan berlanjut atau berhenti.

Baca juga: 28 Agustus 2017, Jadwal Ground Breaking Bandara Internasional Bali Utara

Jika tidak berlanjut sepertinya sangat disayangkan, pasalnya daerah Bali Utara juga terkenal dengan tempat-tempat wisatanya meski jarang terjamah wisatawan. Tetapi bila berlanjut, daerah Bali Utara juga bisa sama terkenalnya dengan Bali Selatan seperti Denpasar.

Ternyata dilansir KabarPenumpang.com dari airport-technology.com (29/7/2019), Bandara internasional ini akan dibangun di desa utara Kubutambahan. Usulan rencanya adalah akan mengakomodasi semua maskapai berbiaya hemat (LCC).

Selain itu, kehadiran bandara ini juga untuk mengurangi beban Bandar Internasional I Gusti Ngurah Rai di Denpasar yang penumpangnya semakin melonjak dari hari ke hari. Tak hanya itu, kehadiran bandara baru di Bali Utara juga memangkas jalan dari Denpasar ke Singaraja yang memakan waktu dua setengah jam menjadi satu setengah jam.

Adapun konstruksi pembangunan dijadwalkan mulai tahun depan.  Berdasarkan rencana tersebut, hampir 70 persen penerbangan yang dioperasikan oleh maskapai berbiaya rendah Jetstar, Air Asia, dan Lion Air akan mendarat di Bali utara.

Untuk menenangkan wisatawan, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi juga telah menyarankan kemungkinan membangun kereta api pertama di Bali untuk mengangkut penumpang ke selatan secara gratis.

Seperti diberitakan sebelumnya, pembangunan bandara di wilayah Buleleng nampaknya belum dapat diwujudkan dalam kurun lima tahun ke depan. Pemerintah Pusat tak kunjung mengeluarkan izin penetapan lokasi (penlok), sebab Pemerintah Provinsi Bali dinilai harus mengembangkan infrastruktur jalan menuju ke Buleleng terlebih dahulu.

Budi Karya mengatakan, pihaknya sudah membahas dalam rapat koordinasi terkait prosedur pembangunan tergantung infrastruktur akses dari dan menuju ke Bali Utara. Akses itu bisa berupa jalan tol, kereta api atau highway.

“Tidak mungkin kita membangun Bandara Bali Utara tanpa ada infrastruktur akses jalan. Karena untuk membangun satu bandara kan maksimal tiga tahun baru selesai, dan lokasi tidak berubah tetap di sana nanti,” kata Budi Karya.

Gubernur Bali, Wayan Koster menyebutkan, terkait pembangunan bandara di wilayah Bali Utara hanya masalah waktu. Pembangunan shortcut atau jalan baru batas kota Singaraja-Mengwitani dinilai Koster belum cukup.

Baca juga: Moda Transportasi di Bandara Ngurah Rai dan Hasanuddin, Antara Fakta dan Harapan

Untuk itu pihaknya telah menyiapkan beberapa alternatif berupa membangun rel kereta api, atau bypass berkombinasi dengan tol. Kedua alternatif itu diakui Koster, masih dalam tahap kajian.

“Kereta api atau bypass kombinasi dengan tol itu akan dilakukan studi lebih dulu. Makanya penlok belum turun. Jangan sampai seperti Bandara di Kertajati (Jawa Barat). Bandaranya ada, tapi aksesnya belum cukup. Akhirnya lumutan Bandaranya,” kata Koster.

Didorong dari Peron, Bocah 8 Tahun Tewas Tergilas Kerera Cepat di Frankfurt

Seorang bocah laki-laki berusia 8 tahun tewas setelah didorong oleh seorang pria berusia 40 tahun ketika kereta cepat melintas di stasiun. Tak hanya sang bocah, ibunya pun sempat di dorong dan untungnya selamat dari insiden itu.

Baca juga: Terpleset diantara Peron dan Kereta Api, Kaki Seorang Wanita Harus Diamputasi

Polisi setempat mengatakan, tewasnya bocah ini terjadi di Stasiun Frankfurt di Jerman. Pihak kepolisian mengatakan, dari laporan saksi mata di tempat kejadian, seorang laki-laki 40 tahun mendorong bocah itu dan ibunya ke lintasan tepat ketika ICE (InterCity Express) atau kereta kecepatan tinggi tiba di stasiun tersebut.

“Sang ibu bersyukur dirinya bisa selamat dari insiden itu. Tetapi bocah 8 tahun tersebut tertabrak ICE dan menderita cedera fatal dan dinyatakan tewas saat dalam perjalanan ke rumah sakit,” ujar juru bicara kepolisian Isabell Neumann yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman japantimes.co.jp (30/7/2019).

Dia mengatakan, pelaku melarikan diri setelah melakukan kejahatannya, namun ditahan oleh penumpang lain yang melihatnya dekat stasiun. Neumann menambahkan, tersangka kemudian diperiksa dan ibu bocah laki-laki tersebut di bawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.

“Tersangka adalah warga negara Eritrea,” tulis polisi Frankfurt di akun Twitter mereka.

Menteri Dalam Negeri Horst Seehofer sangat mengutuk “tindakan mengerikan” dan memperingatkan agar tidak mengambil kesimpulan apa pun karena polisi masih menyelidiki. Seehofer mengatakan dia akan memotong liburannya untuk membahas situasi keamanan dengan para pejabat senior pada hari Selasa dan menginformasikan kepada publik sesudahnya.

Ya, terkait banyaknya kecelakaan penumpang pada peron apakah screen door dibutuhkan? Ternyata penggunaan screen door di peron kereta sangat dibutuhkan untuk keamanan penumpang. Karena bisa mengamankan penumpang baik saat bercanda dengan teman ketika berada dekat peron, menghalangi penumpang mabuk jatuh ke jalur.

Baca juga: Merusak Screen Door di Stasiun Orchard, Pria Muda Didakwa Pengadilan Singapura

Bahkan seringkali ada penumpang yang terpeleset di peron hingga membuatnya jatuh ke jalur kereta.  Seperti baru-baru ini, seorang penumpang tergelincir dan jatuh diantara peron dan kereta Bandara gatwick, Inggris. Akibat insiden itu, kaki perempuan tersebut harus diamputasi karena insiden tersebut. Namun sayangnya hinga kini pun belum banyak stasiun di dunia yang memasang screen door di stasiun.

Gara-gara Monitor Hiburan Rusak, Garuda Indonesia Dituntut Rp100

Tuntutan imateril unik kembali dilayangkan seorang pelanggan pada maskapai Garuda Indonesia. Maskapai milik Indonesia ini dituntut harus memberi ganti rugi sebesar Rp100. Tuntutan tersebut dilayangkan oleh Ketua Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) David Tobing.

Baca juga: Soal Kompensasi Akibat Delay, Garuda Indonesia dan David Tobing Sepakat Berdamai

Pasalnya pada Kamis (25/7/2019) kemarin, dirinya sebagai penumpang Garuda Indonesia rute Pontianak menuju ke Jakarta merasa dirugikan akibat monitor di kursi tempat duduknya tidak bisa dinyalakan. Gugatan tersebut disampaikan David melalui pengacaranya Muhamad Ali Hasan SH di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan No.433/PDT.G/2019/PN.JKT.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, menurutnya ini sebagai maskapai dengan pelayanan full service pihak Garuda tidak boleh menjual tiket untuk bangku yang monitornya tidak bisa dihidupkan atau rusak. Hal ini melanggar ketentuan Pasal 30 ayat (1) Permenhub 185 Tahun 2015 yang mewajibkan maskapai dengan pelayanan full services untuk menyediakan fasilitas diantaranya berupa media hiburan.

Selain menuntut ganti rugi imateril, David dalam gugatannya juga menuntut diberi ganti rugi materil kepada penggugat berupa satu tiket pesawat kelas ekonomi untuk rute penerbangan dari Pontianak menuju ke Jakarta dan dilengkapai media hiburan yang berfungsi dengan baik. Adanya gugatan ini, apakah pihak Garuda Indonesia menanggapinya?

Ternyata PT Garuda Indonesia mengaku sudah membaca isi laporan yang disampaikan oleh penggugat tetapi belum menerima panggilan pengadilan terkait isi dari gugatan itu. VP Corporate Secretary Garuda Indonesia Ikhsan Rosan mengatakan, Garuda Indonesia sendiri siap memenuhi panggilan apabila dilayangkan surat resmi dari pengadilan.

“Jadi terkait dengan laporan itu kita baca. Terus panggilan mungkin belum kita terima tidak tau apakah senin ini atau kapan keluarnya. Kami akan ikuti semua proses di dalam pengadilan termasuk ganti rugi yang diberikan oleh pihak penggugat,” kata Ikhsan yang dikutip dari merdeka.com (27/7/2019).

Atas ketidaknyamanan tersebut, pihak Garuda Indonesia juga tengah meminta maaf kepada pihak penggugat. Ke depan, Garuda ke depan berjanji akan melakukan perbaikan apabila ada hal-hal yang dirasa kurang terkait dengan pelayanan maskapai.

Baca juga: Dalam Wujud Gelang Pintar, Garuda Indonesia dan Indosat Luncurkan “Hajj Tracker”

“Kita mohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami,” tuturnya.

Sebelumnya David Tobing juga pernah menuntut Garuda Indonesia karena tidak memberikan snack saat keterlambatan dari Jakarta menuju ke Batam selama 60 menit atau satu jam.

Kereta Api Ternyata Juga Punya ‘Rahasia’ yang Tidak Diketahui Penumpang

Kereta di Indonesia masih menjadi pilihan moda transportasi yang digunakan oleh masyarakat baik untuk pergi dan pulang kerja ataupun keluar kota. Tapi tahukah Anda bahwa kereta dan isinya memiliki rahasia yang tak diketahui para penumpangnya.

Baca juga: [Tips] Kehabisan Tiket Kereta Lebaran? Jangan Keburu Loyo

Berikut ini ada beberapa rahasia yang mungkin belum diketahui penumpang yang dirangkum KabarPenumpang.com dari thetravel.com (24/7/2019).

1. Masinis tak bisa ubah kecepatan seenaknya
Bila satu dan lain hal yang membuat kereta terlambat maka penumpang kurang beruntung. Karena hal ini, masinis tidak bisa mengganti waktu yang hilang tersebut dan berjalan mengikuti waktu selanjutnya dengan kecepatan kereta yang sudah ditentukan. Perubahan kecepatan laju kereta akan berdampak pada rangkaian kereta lainnya dan dapat beresiko pada keselamatan perjalanan, seperti tabrakan misalnya.

2. Punya istilah khusus
Di kabin pesawat, setiap awak kabin dan pilot punya istilah khusus. Ini juga ada di dalam gerbong kereta. Biasanya untuk mempersingkat perintah dan bila ada penumpang yang mendengar percakapan tersebut tidak akan mengerti dan mungkin bingung.

3. Masinis menutupi sesuatu agar penumpang tenang
Bila ada sebuah kecelakaan atau sesuatu yang tidak beres di jalur atau kereta, masinis tidak akan secara blak-blakan memberitahunya. Mereka akan memberitahukan apa yang terjadi secara singkat. Ini untuk membuat penumpang tenang dan tidak panik.

4. Jangan tarik rem darurat bila lihat penumpang sakit
Tak perlu terburu-buru untuk menarik rem atau memencet tombol darurat di kereta saat melihat penumpang yang sakit. Beritahu petugas keamanan yang ada di dalam kereta agar ada penanganan pertama. Bahkan kalau bisa, tunggu tiba di stasiun selanjutnya agar penumpang sakit tersebut bisa mendapatkan perawatan atau dibawa ke rumah sakit terdekat.

5. Masinis banyak melihat kecelakaan
Sebagai yang mengemudikan kereta, masinis akan menjadi orang pertama di gerbong yang melihat kecelakaan. Mungkin bukan sekali atau dua kali masinis tersebut melihat kecelakaan yang menyebabkan kematian.

6. Berada di tengah
Pilih bagian tengah kereta baik untuk duduk atau berdiri. Bila berdiri selain tidak menggangu penumpang yang akan naik dan turun dari pintu, di bagian rasanya lebih aman. Karena banyak penumpang yang memaksa berdiri di dekat pintu dan ketika terbuka terjatuh hingga membuat cedera.

Baca juga: Perkenalkan Oshiya, “Tukang Dorong” Penumpang Kereta Komuter di Jepang

7. Banyak kuman
Tak hanya pesawat yang memiliki kuman atau bakteri, kereta pun sama, seperti tiang pegangan ataupun kursinya. Meski di bersihkan tetapi untuk menjaga kesehatan, penumpang baiknya membawa handsanitizer ataupun tisu basah untuk meminimalisir kuman yang terpegang ketika memegang tiang.

Menghilangkan Kopilot dari Dunia Penerbangan Sipil, Mungkinkah?

Evolusi yang terjadi pada sektor transportasi memang tidak akan pernah berhenti. Mungkin Anda ssemua masih ingat tentang pemberdayaan autonomous land vehicle seperti mobil dan bus listrik, ada juga kereta api nirawak yang sudah mulai beroperasi di berbagai penjuru dunia. Namun dari sejumlah moda transportasi tersebut, muncul pesawat yang hingga kini masih saja dikemudikan oleh dua orang (pilot dan kopilot).

Baca Juga: Serba Otomatis dan Komputerisasi Turunkan ‘Kemampuan’ Pilot Ketika Mengudara

Kendati berbagai perusahaan dirgantara di luar sana tengah mengembangkan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau yang biasa disebut drone untuk mengangkut penumpang, mungkinkah peran kopilot yang ada di pesawat ditiadakan? Setidaknya, jalan pemikiran ini merupakan ‘jembatan’ menuju pengoperasian pesawat tanpa awak, maklum tekanan dunia akan efisiensi biaya operasional tengah mengemuka di segala sektor transportasi.

Dan dari sekian banyak evolusi yang sudah terjadi pada sektor transportasi, tampaknya nilai utama dari evolusi ini adalah pengurangan pengoperasian kendaraan oleh manusia. Dan apabila nilai tersebut diadopsi pada moda udara, jawabannya adalah tidak mungkin – setidaknya dalam waktu dekat ini. Air Line Pilots Association (ALPA) menyebutkan bahwa teknologi otomatisasi yang ada saat ini belum mampu mengalahkan kinerja manusia – dalam hal ini adalah seorang pilot atau kopilot.

“Sampai teknologi otomatis dapat memberikan tingkat kesadaran situasional, komunikasi, dan penilaian yang sama dengan manusia, dua pilot di dalam kokpit akan tetap menjadi kebutuhan utama dalam dunia penerbangan untuk mencapat keselamatan yang maksimal,” tulis ALPA, dikutip KabarPenumpang.com dari laman thepointsguy.co.uk (21/7).

Namun jika lebih peka lagi terhadap pemberitaan terkait sektor aviasi, keberadaan dua pilot ini bisa dibilang sudah paling ideal untuk mengoperasikan jalur udara – mengingat tugas ko-pilot yang didaulat sebagai ‘cadangan’ ketika sang pilot mengalami kesulitan atau kejadian di luar dugaan (sakit, hilang kesadaran, dll).

Itu baru dari segi teknis, belum lagi dari segi kenyamanan penumpang yang mungkin akan sedikit was-was ketika mendengar pesawat yang ditumpanginya itu hanya dioperasikan oleh satu pilot saja. Bukan tidak mungkin apabila stigma, “Nanti kalau pilotnya mengalami kendala, siapa yang akan mengendalikan pesawat?” seperti ini akan muncul di benak masing-masing penumpang.

Baca Juga: Kembangkan Teknologi Autopilot, Boeing Tawarkan Self Flying Plane

Maka dati itu, peran teknologi otomatisasi memang benar-benar harus dipatenkan agar dapat menghasilkan trust di setiap lini – baik dari pihak maskapai yang tidak perlu ragu lagi untuk mengoperasikan pesawat dengan satu pilot, hingga penumpang yang akan merasa nyaman ketika pesawat yang ditumpanginya dioperasikan hanya oleh satu orang saja.

Mungkin saja pesawat dengan kemudi satu orang beroperasi, namun dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengembangkan sistem otomatis yang lebih andal dari seorang ko-pilot.