Akibat Tekanan Biaya Bahan Bakar, Laba Singapore Airlines Anjlok Hingga 20,7 Persen

Singapore Airlines dikabarkan mengalami penurunan keuntungan pada kuartal pertama 2019  hingga 20,7 persen menjadi S$111 juta, sebagai perbandingan pada tahun lalu keuntungan maskapai terbaik di dunia ini mencapai S$140 juta. Anjloknya keuntungan Singapore Airlines bukan lantaran berkurangnya penumpang atau menurunnya load factor.

Baca juga: Sama-sama Cantik! Singapore Airlines Pernah Tugaskan Awak Kabin Kembar Identik Pada Penerbangan yang Sama

Dilansir KabarPenumpang.com dari channelnewsasia.com (31/7/2019), pendapatan sejatinya naik 6,7 persen menjadi S$4,1 miliar dari S$3,8 miliar dengan peningkatan kapasitas penumpang yang dipengaruhi oleh penurunan pendapatan udara. Dimana pendapatan ini menurun sebesar 8,4 persen atau S$45 juta karena menurunnya permintaan kargo di tengah ketidakpastian perdagangan.

Meski pendapatan penumpang yang diterbangkan naik S$271 juta atau 8,8 persen, tetapi pengeluarannya juga ternyata naik hampir 7 persen menjadi S$3,9 miliar dimana ini biaya bahan bakar yang naik 6,1 persen. Maskapai SIA mengatakan, biaya bahan bakar bersih sendiri diketahui naik 8,7 persen yang mana peningkatan volume naik pada ekspansi kapasitas dolar Amerika Serikat.

“Volatilitas harga bahan bakar diperkirakan akan bertahan dalam waktu dekat, tetapi posisi lindung nilai Grup yang kuat akan membantu mengurangi kenaikan harga,” kata SIA.

Sedangkan laba operasi perusahaan induk SIA saat diperiksa naik 28,2 persen menjadi S$232 juta. Tetapi SilkAir dan Scoot memiliki hasil yang lebih lemah. Hal ini terlihat dimana SilkAir mendapat kerugian operasi sebesar S$6 juta terhadap laba marjinal sebesar S$200 ribu di periode yang sama tahun lalu.

Masalah ini juga dikarenakan biaya dengan landasan enam pesawat Boeing 737 MAX 8. Sedangkan Scoot tergelincir dalam kerugian operasi sebesar S$37 juta serta pengangkutan anggaran melonjak 10,1 persen di belakang ekspansi armada dan operasinya dan termasuk pengeluaran yang lebih tinggi untuk bahan bakar.

Laba operasional untuk SIA Engineering naik menjadi S$18 juta, meningkat dari S$8 juta dari tahun ke tahun. SIA mengatakan, selama kuartal tersebut, peningkatan kinerja operator India Vistara diimbangi oleh estimasi kerugian yang lebih tinggi dari Virgin Australia.

“Pemesanan penumpang dalam bulan-bulan berikutnya mengikuti pertumbuhan kapasitas, sementara permintaan angkutan udara telah melunak di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung dan kondisi ekonomi global yang tidak menentu,” kata SIA.

“Headwind ini juga mengaburkan prospek permintaan penumpang dalam jangka panjang,” kata SIA.

SIA menambahakn, grup akan secara aktif menangkap peluang pendapatan dan menerapkan disiplin biaya untuk meningkatkan profitabilitas dalam lingkungan ekonomi makro yang menantang ini.

Baca juga: Boeing 757 Eks Singapore Airlines, Hanya Empat Tahun di Singapura dan Lanjut Keliling Dunia

Penundaan armada 737 MAX 8 telah mengganggu rencana ekspansi grup maskapai yang mana SilkAir terpengaruh. Untuk mengurangi gangguan dalam layanan, maskapai induk SIA telah mengoperasikan penerbangan tambahan ke tujuan SilkAir seperti Kuala Lumpur, Yangon dan Phuket. Maskapai ini berada di tahun terakhir dari rencana transformasi tiga tahun yang dirancang untuk memangkas biaya dan meningkatkan pendapatan.

Antisipasi Serangan dari Penumpang, Petugas Kereta di Jepang Dibekali Peralatan Anti Huru Hara

East Japan Railway Co. (JR East) melengkapi petugas kereta peluru mereka dengan perisai dan semprotan gas air mata yang dapat digunakan untuk menanggapi berbagai ancaman yang ditimbulkan oleh penumpang. Hal ini merupakan tanggapan atas serangan dari penumpang dengan menggunakan pisau yang terjadi di shinkansen pada bulan Juni tahun 2018 silam. Ya, kendati Jepang memiliki jaringan perkeretaapian yang sudah sangat modern, namun perilaku penumpangnya masih saja ada yang barbar seperti contoh kasus di atas.

Baca Juga: Di Luar Regulasi, Manipulasi Psikologi Turut Campur Tangan di Perkeretaapian Jepang

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman japantimes.co.jp, fitur keamanan tambahan ini ditempatkan di dalam setiap gerbong kereta peluru, dengan masinis dan konduktor yang juga dilengkapi dengan penyemprot dan senter sehingga mereka dapat menghalau para penyerang ini. Jaket anti-senjata tajam dan bident (semacam senjata tajam bercabang dua) untuk menangkap penjahat juga akan disiapkan di semua halte shinkansen dan stasiun kereta konvensional besar.

“Selain itu, operator kereta juga sudah mulai menambah jumlah pasokan alat medis seperti obat merah, perban, dan perlengkapan P3K lainnya di setiap kereta,” tutur salah satu juru bicara dari JR East.

Sumber: japantimes.co.jp

Penyerangan terhadap petugas kereta api di Jepang agaknya cukup sering terjadi, mengingat jumlah penumpang yang sangat membludak di kala peak hours – ketika jumlah penumpang semakin banyak, ‘gesekan’ penumpang dengan petugas pun akan semakin besar terjadi. Belum lagi ‘gesekan’ yang terjadi antar sesama penumpang yang juga diprediksi akan meningkat.

Kembali ke awal tahun 2019 kemarin, JR East juga meluncurkan peraturan baru yang diperuntukan bagi penumpang dimana mereka dilarang untuk meludahi petugas kereta. JR East menyebutkan bahwa tindakan meludah kepada petugas semacam ini memang masuk ke dalam kategori pelanggaran minor. Kendati begitu, ketidakpuasan penumpang terhadap keseluruhan sistem kereta api di Jepang kerap dilampiaskan kepada petugas.

Baca Juga: Dianggap Pelanggaran Minor, di Kereta Komuter Jepang Ada Marka “Dilarang Meludahi Petugas”

Tentu saja, ini merupakan tindakan yang tidak adil bagi petugas kereta yang sejatinya tidak mengetahui terlalu mendalam terkait kesalahan yang terjadi pada keseluruhan sistem kereta. Wah, jika melihat rangkaian berita ini, ternyata para pengguna kereta di Jepang masih bisa dikategorikan sebagai orang bar-bar juga ya!

 

Cina Canangkan Kereta Cepat Maglev dengan Kecepatan 800 Kilometer Per Jam!

Apabila Anda berpikiran bahwa Shinkansen merupakan kereta paling cepat yang ada sekarang ini, maka Anda salah besar karena kereta yang menyandang predikat tercepat saat ini adalah kereta magnetik levitasi atau yang biasa disingkat maglev. Kereta yang terkenal mengambang ketika beroperasi ini ternyata ditargetkan pihak Cina untuk sesegera mungkin diimplementasikan.

Baca Juga: Tercampur Politik dan Isu Kesenjangan Sosial, Akankah Kereta Maglev di Amerika Hanya Sekedar Wacana?

Kendati sudah ada kereta maglev Shanghai yang telah terlebih dahulu beroperasi (menghubungkan Bandara Internasional Pudong Shanghai dan Stasiun Longyang Road), namun kini pemerintah ingin menghubungkan dua kota penting di Negeri Tirai Bambu, Chengdu dan Chongqing yang terletak di Provinsi Sichuan.

Jika kereta maglev Shanghai hanya bisa menyentuh kecepatan maksimum 268 mph atau yang setara dengan 431 km per jam, lain ceritanya dengan kereta maglev yang tengah direncanakan untuk menghubungkan Chengdu dan Chongqing ini, dimana kecepatan maksimum dari kereta ini menyentuh angka 800 km per jam!

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman independent.co.uk (25/7), kendati bisa mencapai kecepatan 800 km per jam, namun rencananya kereta ini hanya akan ‘bermain’ di kecepatan 600 km per jam saja di awal pengoperasiannya. Tidak menutup kemungkinan jika kereta maglev baru ini juga bisa mencapai kecepatan 800 km per jam seiring dengan perkembangan di masa yang akan datang.

Guna merealisasikan pengaplikasian dari kereta maglev ini, salah satu universitas kenamaan yang berbasis di Chengdu saat ini diketahui tengah melakukan serangkaian uji coba. Namun hingga saat ini, masih belum diketahui kapan kereta maglev ini bakal dirilis.

Kembali ke awal tahun 2019 kemarin, dimana pihak Cina mengumumkan bahwa mereka akan meluncurkan kereta peluru otonom alias tanpa pengemudi yang akan menghubungkan Ibukota Beijing dengan kota Zhangjiakou yang ada di provinsi Hebei.

Baca Juga: Mengenal Moda Berbasis Levitasi Magnetik (Maglev)? Ini Dia Serba-Serbinya!

Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, kereta maglev ini memanfaatkan gaya magnet untuk mengangkat kereta sehingga mengambang. Dengan begitu, wahana kereta yang digunakan tidak menyentuh rel dan secara otomatis, gaya gesek antara wahana kereta dan rel dapat dikurangi.

Kereta maglev juga memanfaatkan magnet sebagai pendorong. Dengan kecilnya gaya gesek dan besarnya gaya dorong, kereta ini mampu melaju dengan kecepatan sampai 600 km per jam, jauh lebih cepat dari kereta cepat yang beredar saat ini.

 

Sambut Olimpiade Tokyo 2020, Japan Airlines Tampilkan Desain Seragam Baru

Olimpiade Tokyo akan dibuka pada 24 Juli 2020 dan Japan Airlines (JAL) akan meluncurkan seragam terbarunya untuk menyambut pekan olahraga dunia tersebut pada April 2020. Desain seragam baru tersebut masih termasuk komponen kunci dan nantinya akan meningkatkan fungsionalitas.

Baca juga: Lebih Cepat dan Ramah Lingkungan, Perkeretaapian Jepang Siap Operasikan N700S Pada Olimpiade Tokyo

Seragam ini menggunakan rancangan desainer lokal Yasuthosi Ezumi dengan dua konsep yang disebut Refined Hybrid Beauty dan Hybrid Modern Beauty. Dalam pembuatan seragam ini, Ezumi menggunakan teknik hibrida yang menggabungkan berbagai bahan dan juga logo perusahaan serta warna merah yang menonjolkan JAL.

(businesstraveller.com)

“Siluet seragam one piece memiliki ‘kurva derek’ dan lengan berbentuk balon. Gaya syal dan celemek yang berbeda untuk setiap maskapai JAL Group,” kata JAL.

Pilihan celana panjang untuk staf perempuan juga tersedia. Bagi staf yang berada di darat akan menggunakan gaun one piece dengan tambahan sebuah syal yang bisa dibentuk pita. Sedangkan seragam untuk staf lounge, akan ada jas berwarna merah muda-krem dan staf layanan menggunakan jas berwarna krem.

Bahkan seragam baru ini memiliki desain uniseks dengan beberapa perubahan untuk memudahkan gerak staf. Untuk pilot wanita, jas dengan tanpa dasi dan sebuah syal yang bisa menggantikan dasi. Selama musim panas, kru penerbangan, kru kabin, dan staf bandara yang bekerja dengan maskapai penerbangan domestik JAL serta berbasis di Okinawa Japan Transocean Air (JTA) dan Ryukyu Air Commuter (RAC) akan mengenakan seragam khusus yang menampilkan Kariyushi, pakaian tradisional yang dikenakan pada musim panas di Okinawa.

“Kariyushi, semuanya dibuat di Okinawa, menampilkan lima bunga Okinawa. JAL mengatakan desain menunjukkan omotenashi (keramahan) Okinawa. Seragam pilot baru juga menampilkan Kariyushi untuk pertama kalinya. Staf teknik dan staf penanganan darat akan mendapatkan seragam baru juga,” ujar JAL.

(businesstraveller.com)

Sementara itu, untuk Pertandingan Olimpiade Tokyo yang akan diadakan tahun depan, JAL sejauh ini telah memperkenalkan dua pesawat dengan corak khusus yang menampilkan maskot resmi Olimpiade Tokyo. Dua pesawat livery khusus akan digunakan pada rute domestik antara Tokyo (Haneda) dan Osaka, Sapporo, Fukuoka dan Okinawa dari sekarang hingga akhir Oktober tahun depan. Yang ketiga akan diperkenalkan pada musim semi 2020.

Pesawat pertama dengan corak khusus ini adalah Boeing 777-200 berkapasitas 375 tempat duduk dengan 14 kursi kelas satu, 82 kursi Kelas J (produk kelas bisnis domestik maskapai), dan 279 kursi di kelas ekonomi. Pesawat kedua, yang mulai beroperasi pada 10 Juli, adalah pesawat Boeing 767-300ER dengan 252 tempat duduk dengan lima kursi kelas satu, 42 kursi Kelas J, dan 205 kursi kelas ekonomi.

Sayangnya foto untuk pesawat JAL belum bisa diberikan secara publik. Seorang juru bicara JAL mengatakan, hal ini dikarenakan peraturan kontrak kontrak dengan Komite Olimpiade yang berbasis di Jepang. Namun demikian, Anda dapat melihat di foto livery pesawat pertama di sini dan livery pesawat kedua di sini di situs web JAL.

Penumpang yang bepergian dengan pesawat livery khusus dapat menggunakan penutup kepala yang dirancang khusus dan cangkir kertas yang menampilkan maskot Olimpiade Tokyo. Versi mainan mewah dari dua maskot, Miraitowa dan Someity, juga ditampilkan di kabin.

Baca juga: Jelang Olimpiade Musim Panas, WiFi Gratis Siap Hadir di Kereta Peluru Shinkansen

Diketahui, JAL, bersama dengan maskapai penerbangan Jepang lainnya All Nippon Airways (ANA), telah menjadi mitra pendukung Relay Obor Olimpiade Tokyo 2020. Pembawa anggaran anak perusahaan baru JAL, Zcuu7ipair Tokyo, juga meluncurkan seragam kapal baru dan seragam awak pada bulan April tahun ini.

Sama-sama Cantik! Singapore Airlines Pernah Tugaskan Awak Kabin Kembar Identik Pada Penerbangan yang Sama

Jika satu awak kabin cantik saja di dalam sebuah penerbangan sudah bisa mendebarkan hati, lalu bagaimana ceritanya jika ternyata awak kabin tersebut kembar identik dan tengah bertugas di dalam penerbangan yang sama. Wah, bisa-bisa incaran Anda tertukar! Nah, kejadian ini sempat terjadi pada bulan Desember 2018 silam, dimana awak kabin kembar identik dari maskapai Singapore Airlines tengah bertugas pada satu penerbangan yang sama.

Baca Juga: 50 Tahun Tak Berjumpa, Awak Kabin dan Pilot Malaysia-Singapore Airlines Reunian

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman silverkris.com (13/6), Liz dan Lynn Ng, 22 tahun, merupakan kembar identik yang sama-sama berprofesi sebagai awak kabin dari maskapai kenegaraan Singapura, Singapore Airlines. Selayaknya kembar identik lain, mereka selalu bersama dalam kondisi dan situasi apapun. Tidak jarang juga mereka berbagai satu sama lain, mengenakan baju yang sama, dan kebiasaan lain yang selalu dilakukan oleh kembar identik lainnya.

“Mulai dari bangku sekolah dasar hingga bangku perguruan tinggi, kami selalu bersama,” tutur Lynn.

Sampai di satu titik dimana mereka berdua melamar menjadi awak kabin dari Singapore Airlines dan mulai menjalani tugasnya masing-masing. Sejak mereka masuk Singapore Airlines, dua bersaudara ini mulai terpisah satu sama lain karena tuntutan pekerjaan. Hingga pada Desember 2018 silam, Liz dan Lynn ditugaskan untuk melayani penumpang pada perjalanan dari Singapura menuju Paris PP.

Dalam penerbangan Singapore Airlines SQ 334 dan SQ333, mereka berdua bertugas sebagaimana mestinya yang dilakukan oleh seorang awak kabin – melayani penumpang dengan sebaik-baiknya.

“Dalam perjalanan menuju Singapura, kami berada di lorong kabin yang sama untuk membagikan handuk kepada para penumpang, dan kala itu, reaksi penumpang sedikit kebingungan karena melihat ada dua orang yang sama yang melayani mereka – padahal kami berdua adalah kembar identik,” tandas Lynn.

“Penumpang yang menyadari bahwa ada awak kabin kembar identik di penerbangan tersebut langsung memberitahu penumpang lain. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengajak kami foto bersama,” imbuhnya.

Baca Juga: Mau Jadi Awak Kabin Singapore Airlines? Cek Dulu Pelatihan dan Syarat-Syaratnya Berikut Ini!

Namun seperti yang sudah disebutkan di atas, menjadi awak kabin di maskapai yang sama tidaklah selalu menyenangkan bagi mereka, dimana mereka lebih sering terpisah satu sama lain dalam kurun waktu yang cukup lama.

“Mungkin kami bertemu hanya dua atau tiga bulan sekali, karena tuntutan pekerjaan,” tegas Liz.

“Momen terbang ke Paris bersama Lynn pada Desember 2018 kemarin tidak akan bisa dilupakan begitu saja. Selain ini momen pertama kami terbang bersama, Paris merupakan tempat favorit kami berdua,” tambahnya.

 

Hapus Mesin EDC untuk Pembayaran, TransJakarta Tambah Reader TOB di Bus Pengumpan

Pembayaran moda transportasi umum seperti TransJakarta, KRL hingga MRT dimudahkan dengan hanya mentapping kartu uang elektronik dari berbagai bank atau yang dikeluarkan oleh perusahaan transportasi tersebut di gate. TransJakarta yang memiliki bus pengumpan atau yang non BRT juga melakukan pembayaran dengan kartu uang elektronik.

Baca juga: Pertahankan Ikon “Bikun,” TransJakarta Rilis Dua Opsi Desain untuk Universitas Indonesia

Awal-awal ada bus pengumpang seperti MetroTrans dan MiniTrans, penumpang membayar dengan tapping melalui mesin electronic data capture (EDC) ataupun tiket kertas. Namun, untuk EDC hanya bank-bank tertentu untuk melakukan pembayarannya padahal tidak semua penumpang menggunakan kartu uang elektronik dari bank tersebut.

Hal ini kemudian menjadi pemikiran PT Transportasi Jakarta untuk mengubah sistem yang memudahkan, seperti menambah alat tapping yang bisa digunakan oleh semua kartu uang elektronik yang dipakai di halte-halte TransJakarta di bus non BRT. Direktur PT Transportasi Jakarta Agung Wicaksono mengatakan, karena rute non BRT ini haltenya tidak berada di tengah koridor, penumpang bisa mentap kartu mereka di dalam bus.

Sehingga menurut Agung mekanisme yang palling memungkinkan untuk pelanggan TransJakarta non BRT adalah Tap on Bus (TOB). Ini agar tidak menggunakan mesin EDC yang terbatas untuk bank tertentu hingga menggunakan tiket kertas.

“Penggunaan EDC dan tiket kertas merupakan akibat Transjakarta tidak melakukan investasi sendiri untuk sistem pembayaran. Oleh sebab itu, sistem ini harus berhenti tahun ini,” jelas Agung.

Ini mengisyararatkan bahwa semua bus pengumpang akan dipasang reader untuk TOB dan perlahan TransJakarta akan terlepas dari ketergantungan dengan bank. Agung menambahkan, ini merupakan proses transformasi dan perubahan budaya sistem pembayaran yang masih berproses.

“Pengadaan sedang dilakukan, dan di akhir tahun ini semua reader Tap On Bus ditargetkan akan terpasang,” ungkapnya.

Apalagi setiap bulannya PT TransJakarta membuka rute non BRT yang nantinya juga dibarengi dengan pengadaan TOB.

“Sebenarnya sudah ada tap on bus, namun kami akan tambah lagi untuk pengadaannya,” ujar Kepala Hubungan Masyarakat PT TransJakarta, Wibowo

KabarPenumpang.com yang menggunakan non BRT pun telah melihat beberapa rute bus tersebut sudah dipasangi oleh TOB seperti Tanah Abang-Gondangdia, Pulo Gadung-Pinang Ranti dan beberapa lainnya. Dari pengamatan yang dilakukan, petugas bus non BRT akan menyampaikan kepada penumpang untuk mentapping kartu mereka di mesin bagian depan atau tengah bus.

“Silahkan penumpang yang naik bisa mentapping kartu di bagian depan,” ujar seorang petugas bus non BRT.

Petugas juga tak lupa menginformasikan bagi penumpang yang tidak punya kartu, bahwa pihak TransJakarta tak lagi menggunakan uang tunai dalam pembayaran dan disediakan kartu uang elektronik dari JakLingko di dalam bus dengan harga Rp30 ribu sudah berisi saldo Rp10 ribu.

Agung berharap perubahan dari EDC ke TOB ini akan memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan Transjakarta, serta membawa Transjakarta ke depan menjadi angkutan modern yang terus berkembang.

Baca juga: Kontroversi MetroTrans Melaju di Jalur ‘Sempit,’ Inilah Tanggapan PT TransJakarta

“Kita semua terus bersama-sama membuat layanan Transjakarta lebih baik. Dari yang dulunya selalu pakai tiket kertas dan EDC untuk non-BRT, kedepannya menjadi dengan Tap On Bus. Biar kayak orang-orang di angkutan modern kota-kota lain di dunia,” tutupnya.

Nantinya, ada 900 unit bus non-BRT yang akan terpasang fasilitas tersebut. Artinya, semua bus non-BRT dalam proses pemasangan reader untuk tap on bus.

Boeing 757 Eks Singapore Airlines, Hanya Empat Tahun di Singapura dan Lanjut Keliling Dunia

Penggemar maskapai kenegaraan asal Singapura, Singapore Airlines mungkin ingat masa dimana pihak maskapai mengoperasikan pesawat berbada kecil, Boeing 757. Namun momen tersebebut agaknya berlalu begitu cepat. Ya, varian Boeing 757 pertama datang ke Singapura pada tahun 1984 dan hanya membutuhkan waktu sekira empat tahun saja untuk bisa ‘menghilangkan’ armada ini sepenuhnya dari tubuh maskapai. Lalu sebenarnya, apa yang terjadi pada varian Boeing 757 ini?

Baca Juga: Terima Airbus A350-900ULR, Singapore Airlines Siap Terbang ke New Jersey Non-Stop

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (29/7), banyak orang-orang di luar sana yang bertanya-tanya mengenai usia pesawat yang hanya seumur jagung saja. Pada era 1984-an, Singapore Airlines mengoperasikan empat pesawat Boeing 757: 9V-SGK, 9V-SGL (datang pada bulan November 1984), 9V-SGM dan 9V-SGN (datang pada bulan Desember 1984).

Sepanjang tahun 1985 dan 1986, Singapore Airlines mengoperasikan Boeing 757 di rute-rute Asia saja – Jakarta, Bandar Sri Begawan, Kuala Lumpur, Kuantan, dan Penang. Namun karena Singapore Airlines ingin memperluas sayap bisnisnya – dimana mereka membutuhkan pesawat yang mampu mengangkut penumpang yang lebih besar dengan jarak tempuh yang lebih jauh, maka perusahaan mau tidak mau melepas keempat pesawat Boeing 757 dan menggantinya dengan armada baru.

Boeing 757 ini lalu dilepas kepada maskapai American Trans Air (ATA) pada rentang waktu November 1989 hingga Juni 1990. ATA merupakan maskapai berbiaya rendah yang berbasis di Indianapolis. Namun pada tahun 2008, maskapai ini mengalami kebangkrutan dan sertifikat serta aset dari ATA diambil alih oleh Southwest.

Sebelum bangkrut, tepatnya pada 1996, ATA harus melepaskan empat armada Boeing 757 ini ke pihak Delta karena satu dan lain hal. Ketika mengabdi bersama Delta Airlines, Boeing 757 beroperasi selama kurang lebih 20 tahun lamanya, sebelum pada tahun 2016 silam, pihak Delta memutuskan untuk berhenti mengoperasikan empat pesawat yang sudah melang-lang buana di angkasa luas ini.

Baca Juga: Singapore Airlines Terbangkan Perdana A350-900 ULR ke New York

Ya, itulah perjalanan panjang dari empat pesawat Boeing 757 yang mampu mengangkut hingga 295 penumpang dan mengarungi angkasa hingga 7.590 km ini. Sebagai informasi tambahan, varian ini diproduksi pada rentang tahun 1981 hingga 2004. Pertama kali mengudara pada 19 Februari 1982 dan pertama kali mengoperasikan penerbangan komersial bersama Eastern Air Lines di tanggal 1 Januari 1983.

 

 

Ada “Thomas & Friends” dalam Gerbong Khusus Keluarga di Kereta Bawah Tanah Tokyo

Ruang untuk lansia dan penyandang disabilitas sudah jamak ada di moda transportasi massal masa kini. Di Indonesia baik MRT, kereta rel listrik (KRL) hingga TransJakarta sudah melengkapi bagian khusus ini. Namun bagaimana dengan ruang khusus orang tua yang membawa anak-anak?

Baca juga: MRT Jakarta: Pemberlakuan Gerbong Khusus Wanita Hanya di Jam Tertentu

Pasalnya anak-anak cukup berisik dan tidak bisa diam alias duduk dengan tenang ketika menggunakan transportasi massal. Sebab naluri anak-anak mereka yang memiliki keingintahuan cukup besar hingga mondar-mandir dan bertanya kepada orang tuanya tentang segala hal yang mereka lihat dalam perjalanan.

Karena hal ini, kemudian kereta bawah tanah di Tokyo akhirnya menyediakan ruang khusus yang ramah anak. Gerbong kereta bawah tanah Tokyo ini dihiasi dengan karakter animasi asal Inggris yang populer yaitu Thomas & Friends.

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman japantoday.com (31/7/2019), gerbong ini sendiri diperlihatkan ke media pada Selasa (30/7/2019) atau satu hari sebelum mulai di uji coba yang tujuannya untuk akses yang memudahkan keluarga dengan membawa anak-anak. Ada enam gerbong di jalur Oedo Toei Subway yang menawarkan ruang dukungan pengasuhan anak atau penitipan anak ini yang dihiasi oleh karakter Inggris yang menggambarkan tokoh kereta tersebut.

Stiker-stiker tersebut tidak hanya dipasang di bagian luar gerbong untuk menandai ruang khusus, tetapi juga di bagian dalam gerbong. Ini agar penumpang yang membawa kereta bayi serta keluarga dengan anak-anak lebih merasa nyaman saat menggunakan kereta.

Tokyo sebagai pusat kota sebenarnya terkenal dengan kereta api yang penuh sesak di jam-jam sibuk. Penumpang dengan membawa anak-anak sering dianggap mengganggu dan tidak dianjurkan menggunakan layanan transportasi umum seperti kereta api.

“Lucu sekali,” kata Gubernur Tokyo Yuriko Koike ketika memasuki gerbong khusus tersebut.

Dia memeriksa ruang karena pemerintah metropolitan mengoperasikan layanan kereta bawah tanah.

Baca juga: Tujuan Hello Kitty Land, Kereta di Tokyo Dibalut Livery dan Interior Hello Kitty

“Ruang ini mengirimkan pesan bahwa tidak apa-apa ditemani oleh anak-anak. Aku ingin menjadikan Tokyo tempat yang nyaman untuk hidup bagi semua orang,” kata Koike.

Jadwal operasi kereta ramah anak akan dirilis di situs web Biro Transportasi pemerintah Tokyo setiap pagi. Pemerintah kota mengatakan akan mempelajari apakah akan memperluas layanan setelah mendengar pendapat pengguna.

Keren! Airbus A350 Bisa di “Restart” Guna Hindari Bug Pada Sistem Perangkat Lunak

Sudah bukan menjadi sebuah rahasia lagi apabila gadget yang Anda gunakan mengalami error, maka Anda akan memuat ulang gadget tersebut agar bisa kembali digunakan secara normal. Aksi ini kerap menjadi solusi bagi banyak orang di luar sana yang mengalami kendala pada gadgetnya. Namun apa jadinya jika fitur serupa diterapkan pada moda transportasi? Mungkinkah sebuah moda transportasi di restart ulang untuk mengembalikan performanya?

Baca Juga: Japan Airlines Terima Airbus A350-900, Tapi Justru Layani Penerbangan Domestik

Jawabannya adalah mungkin! Fitur semacam ini diterapkan oleh manufaktur aviasi asal Eropa, Airbus yang menyebutkan bahwa apabila pilot mengalami kendala sistem (bug) pada varian A350, mereka cukup mematikan ulang pesawat secara keseluruhan dan menghidupkannya kembali. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman mic.com (31/7), pihak Airbus mengatakan bahwa restart semacam ini juga dianjutkan untuk dilakukan pilot jika pesawat sudah mengudara selama 149 jam. Ini ditujukan untuk menghindari komplikasi pada sistem pesawat A350.

Fitur ini diterapkan Airbus sejak mendapatkan peringatan dari European Union Aviation Safety Agency (EUASA) pada tahun 2017 silam, yang menyebutkan bahwa usia maskapai yang lebih tua akan berpengaruh pada munculnya bug pada sistem perangkat lunaknya – dan ini akan berdampak pada pengoperasian pesawat terkait.

“Jika tidak lekas diperbaiki, maka dikhawatirkan penerbangan berada dalam kondisi yang tidak aman,” tutur pihak EUASA.

Tidak mau mengambil risiko dan terpuruk seperti rivalnya, Boeing, akhirnya pihak Airbus menambahkan fitur restart pada varian A350nya untuk terhindar dari masalah keselamatan ketika beroperasi. Untuk memastikan perangkat lunak terus beroperasi seperti yang diharapkan, pihak Airbus menyarankan kepada setiap maskapai untuk melakukan restart setiap 149 jam sekali (pada dasarnya sekitar enam hari sekali).

Baca Juga: Singapore AirShow 2018: Airbus Perkenalkan A350-1000 Untuk Pasar Trans-Pasifik

Ya, hadirnya fitur semacam ini pada sektor aviasi global seolah menjadi jawaban dari masalah kekurangan armada ketika salah satu dari mereka keluar dari layanan untuk perbaikan dan pemeliharaan – setidaknya armada Airbus A350 hanya akan memakan waktu yang lebih pendek untuk maintenance dan perbaikan karena sistem perangkat lunak sudah bisa di restart sendiri.

Pertanyaannya adalah, akankah teknologi semacam ini tersemat pada pesawat-pesawat jenis lain yang ada di luar sana?

Garuda Indonesia Rekrut 2 Pilot Perempuan Pertama asal Papua

Selain diramaikan dengan kabar seputar layanan, Garuda Indonesia hari ini (31/7) mewartakan telah merekrut 2 (dua) pilot perempuan pertama yang merupakan puteri daerah asal Papua. Rekrutmen tersebut menjadikan kedua pilot sebagai angkatan pertama rekrutmen pilot asal Papua yang bergabung dengan Garuda Indonesia Group.

Baca juga: Ellen Church, Pramugari Pertama di Dunia yang Juga Punya Lisensi Pilot

Adapun kedua pilot tersebut adalah Sdri Vanda Astri Korisano dan Sdri Martha Itaar dimana keduanya merupakan lulusan Nelson Aviation College, New Zealand. Dengan sebelumnya mengambil standarisasi Indonesia DGCA Licence atau Surat Ijin terbang dari Direktorat Jendral Perhubungan Udara di Ganesa Flight Academy, Jakarta.

Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara dalam pesan tertulis mengungkapkan, “Rekrutmen pilot yang merupakan putra daerah asal Papua ini merupakan wujud komitmen Garuda Indonesia dalam memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada putera daerah yang berprestasi dan berdaya unggul untuk dapat berkontribusi dan mengembangkan karir bersama Garuda Indonesia Group”

Ari mengungkapkan rasa bangganya dapat merekrut putri papua terbaik. Hal ini membuktikan bahwa siapapun bisa menjadi pilot asal berprestasi dan mampu. Ari berharap langkah yang dibuat Vanda dan Marta dapat menjadi lokomotif penarik putera/puteri Papua lainnya di Garuda Indonesia.

Adapun Martha nantinya akan menempuh pendidikan pilot untuk ditempatkan di Citilink Indonesia sedangkan Vanda akan menempuh pelatihan untuk kemudian ditempatkan di Garuda Indonesia Untuk selanjutnya, Vanda akan mengikuti pendidikan pilot di Garuda Indonesia Training Center (GITC) pada awal Agustus 2019 mendatang yang rencananya akan mengambil rating tipe pesawat Boeing 737-800 NG.

Pendidikan pilot yang akan dijalani oleh mereka kurang lebih selama 6 bulan, kemudian di lanjutkan dengan Flight Training. Sedangkan untuk Martha akan mengikuti proses training lebih lanjut di Citilink Indonesia.

Baca juga: Lakukan Go Around, Pilot Garuda Indonesia GA425 Selamatkan Penerbangan dari Petaka

Sejalan dengan komitmen pemberdayaan putera puteri daerah yang diinisiasikan perusahaan, Garuda Indonesia secara berkelanjutan memastikan pihaknya akan terus membuka kesempatan bagi putera puteri daerah berprestasi untuk bergabung menjadi bagian dari keluarga Garuda Indonesia Group tidak hanya sebagai pilot, melainkan awak kabin, hingga pegawai darat.