18 Juni, Kemenhub Tetapkan Tarif Baru Taksi Online

Tak hanya tarif ojek online (Ojol) saja yang ditetapkan peraturannya. Pasalnya Kementerian Perhubungan juga melakukan penerapan tarif baru untuk taksi online di Indonesia. Penetapan ini sendiri akan dilakukan setelah sosialisasi selesai dilaksanakan. Sayangnya sosialisasi ini tertunda karena libur Lebaran dan Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi mengatakan, hingga saat ini tidak ada komplain yang signifikan terkait tarif baru.

Baca juga: Tarif Baru Ojol Berlaku 1 Mei di Lima Kota, GoJek dan Grab Ikut Aturan Pemerintah

“Nanti setelah lebaran kita lakukan sosialisasi, kalau yang kemarin cocok yah sudah jalan. Sejauh ini tidak ada suatu komplain yang begitu signifikan,” jelas Budi Karya yang dikutip KabarPenumpang.com dari cnbc.com, (10/6/2019).

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi menambahkan, aturan taksi online sendiri sudah ditetapkan pada 2018 lalu melalui Peraturan Menteri Perhubungan No.1198/2018 tentang penyelenggaraan angkutan sewa khusus. Aturan ini mengganti aturan PM 108 yang sebelumnya di uji materi ke Mahkamah Agung dan beberapa pasal ada yang dianulir dan tidak bisa dimasukkan kembali.

“Kemudian untuk mengantisipasi resustensi dari para asosiasi di dalam peraturan yang baru. PM yang baru ini kita libatkan asosiasi. Ada tujuh tim yang dilibatkan dan sudah disosialisasikan ke daerah. Jadi yang ditetapkan di tahun 20187 dan 2018 akan diberlakukan minggu ini. Saya akan ketemu Kadishub provinsi, asosiasi dan dua aplikator. Kita akan sampaikan tanggal 18 Juni kita tetapkan dan saya minta mereka siap semua,” kata Budi Setiyadi.

Salah satu yang diatur dalam Permenhub tersebut adalah masalah tarif dimana akan dibagi dua yakni tarif langsung yang merupakan pendapatan para taksi online dan taksi tidak langsung yang ditentukan aplikator. Tarif langsung akan ditentukan oleh Kemenhub.

Kemenhub telah melakukan sosialiasi dengan melibatkan sejumlah stakeholder, yakni pengusaha taksi online, perwakilan driver serta aplikator taksi online. Selama ini, tarif taksi online diatur berdasarkan Peraturan Dirjen Perhubungan Darat Nomor: SK.3244/AJ.801/DJPD/2017 tentang tarif batas atas dan tarif batas bawah angkutan sewa khusus. Secara spesifik, ketentuan tarif tercantum pada Pasal 2.

Adapun besaran tarif angkutan sewa khusus di wilayah Sumatera, Jawa dan Bali adalah Rp6 ribu per km untuk batas atas Rp3.500 per km untuk batas bawah. Selanjutnya tarif di wilayah Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua Rp6.500 per km untuk batas atas dan tarif batas bawahnya sebesar Rp3.700 per km.

Dalam aturan itu juga dengan tegas diatur mengenai iuran asuransi. Disebutkan, tarif angkutan sewa khusus untuk masing-masing provinsi sudah termasuk iuran wajib penumpang umum asuransi Jasa Raharja sebesar Rp60 per orang dan asuransi tanggung gugat penumpang Jasa Raharja Putera sebesar Rp40 per orang.

Selain itu ternyata Kemenhub juga akan segera menerbitkan surat edaran yang melarang pemberian diskon atau potongan harga pada moda transportasi online baik taksi maupun ojek. Budi mengatakan, adanya diskon sendiri hanya memberikan keuntungan sesaat. Sedangkan untuk jangka panjang ini membunuh.

Menurutnya, diskon yang terjadi di transportasi online dibagi menjadi dua, yakni diskon yang langsung dari aplikator dan diskon yang tak langsung dari kerja sama dengan pihak lain.

“Tapi diskon yang langsung sudah relatif tidak ada. Yang Sekarang ini ada diskon yang tidak langsung yang diberikan oleh partner. Oleh karenanya kita sedang merancang suatu permen atau surat edaran yang melarang diskon,” jelasnya.

Sebelumnya, Budi menjelaskan aturan ini nantinya tidak memperbolehkan adanya diskon-diskon yang bersifat predatory pricing oleh satu pihak tertentu, supaya persaingan lebih setara.

Baca juga: Pasca Pemberlakuan Tarif Baru, Pengemudi Ojek Online Keluhkan Sepinya Order

“Logikanya kan kita ingin dua-duanya hidup supaya terjadi kompetisi. Untuk mencapai itu ada dua yang harus kita lakukan, yakni equality (kesetaraan), perlakuan sama terhadap dua (operator) ini dan equilibrium, harga sesuai keinginan aplikator, pengemudi dan pengguna. Makanya kita atur, tidak ada diskon-diskon yang bakar duit oleh satu pihak tertentu supaya dia tetap equal,” kata Budi Karya.

Belum Rampung Masalah 737 MAX, Boeing Diterpa Isu Cacat Komponen di Seri 737NG

Belum surut kesengsaraan yang menyelimuti produsen pesawat asal Amerika Serikat, Boeing pasca dua kecelakaan maut yang melibatkan Lion Air dan Ethiopian Airlines dalam rentang waktu lima bulan ini, kini Boeing harus kembali menelan pil pahit dimana Federal Aviation Administration (FAA) menyatakan bahwa ratusan pesawat 737 MAX dan seri-seri sebelumnya berisikan partikel atau bagian-bagian yang tidak diproduksi dengan benar, terutama di bagian sayap.

Baca Juga: Sebut Produk Buatannya Jelek, Karyawan Internal Bahkan Enggan Naik Pesawat Boeing

Tentu saja, pernyataan dari federasi penerbangan Amerika Serikat ini seolah mempertegas pernyataan salah seorang karyawan Boeing yang mengataka bahwa dirinya enggan untuk mengudara bersama 737 MAX karena ia menyadari bahwa pesawat tersebut tidak laik untuk mengudara karena dikerjakan secara asal-asalan – karyawan internal ini mengatakan pengerjaan 737 MAX yang asal-asalan ini diindikasikan oleh bayaran yang tidak setimpal yang mereka terima.

Kini pernyataan tersebut sudah terbukti benar keberadaannya, dan tentu saja akan mempengaruhi kinerja pesawat selama mengudara. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman samchui.com (3/6/2019), partisi yang mengalami masalah ini disinyalir akan memberikan pengaruh terhadap bagian sayap dan akan menurunkan kinerja pesawat ketika melakukan take off dan landing.

Pihak FAA meyakini ada 179 pesawat dengan tipe 737 MAX dan 133 pesawat lainnya dari tipe 737NG di seluruh dunia yang mengalami kendala semacam ini – bukan tidak mungkin apabila pesawat Lion Air dan Ethiopian Airlines yang jatuh tersebut juga mengidap jenis ‘penyakit’ yang sama. Selain itu, FAA juga membeberkan data bahwa 65 pesawat yang berbasis di Amerika masuk ke dalam daftar pesawat tidak laik terbang tersebut.

Menyikapi temuan ini, pihak Boeing langsung melakukan pengecekkan menyeluruh terhadap 41 pesawat hingga tangga 3 Juni 2019 kemarin, dan mereka menambahkan bahwa sebanyak 200 pesawat lainnya akan masuk daftar untuk diidentifikasi lebih lanjut.

Baca Juga: Kejar Sertifikasi, Boeing Justru Sepelekan Kualitas Keselamatan Pesawat

Seperti yang kita ketahui bersama, saat ini Boeing tengah menunggu sertifikasi dari pihak FAA setelah melakukan upgrade software yang diduga kuat menjadi penyebab jatuhnya dua pesawat nahas di atas dan menelan korban jiwa sebanyak 346 orang.

Banyak pihak yang sedikit tercengang dengan upgrade sistem navigasi di armada 737 MAX yang dilakukan oleh Boeing hanya dalam waktu beberapa bulan saja. Pasalnya, di sini terlihat pihak Boeing seolah terburu-buru dalam melakukan upgrade sistem tersebut. Bahkan, Presiden dari Emirates, Tim Clark mengaku kaget ketika mendengar kabar bahwa Boeing telah menyelesaikan upgrade dan dicanangkan akan kembali mengudara pada Natal tahun ini.

Untuk masalah keluarga Boeing 737NG sendiri, beberapa warganet sempat mempertanyakan soal Garuda Indonesia yang mengoperasikan sebanyak 81 unit pesawat jenis 737-800NG. Tidak hanya flag carrier Indonesia saja yang mengoperasikan pesawat jenis ini, pun dengan raksasa Low Cost Carrier (LCC) Tanah Air, Lion Air. Banyak yang mempertanyakan soal kelanjutan nasib dari jenis pesawat ini yang kebetulan dioperasikan oleh dua maskapai asal Indonesia.

Tidak ada yang bisa memastikan nasib dari Boeing 737-800NG yang dioperasikan oleh Garuda Indonesia dan Lion Air, kecuali Kementerian Perhubungan telah ‘mengetok palu’ yang menandakan kelanjutan nasib dari pesawat jenis ini.

 

MRT Singapura Larang Pengguna PMD untuk Gunakan Layanan!

Dalam waktu beberapa hari ke depan, para pengguna Personal Mobility Devices (PMD) akan ‘dipaksa’ turun di Woodlands MRT Station. Tapi jangan dulu berpikiran negatif, karena kebijakan ini ditempuh oleh pihak SMRT ditujukan untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan bagi para komuter di Negeri Singa. Ya, para pengguna PMD ini mencakup pesepeda dan pengguna e-scooter yang turut serta memboyong kendaraan pribadinya tersebut ke dalam kereta.

Baca Juga: Bukan SMRT, Ternyata Taipei Metro Lebih Andal dalam Sistem MRT di Dunia

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman pressreader.com (10/6/2019), operator kereta telah memasang metal barrier untuk mencegah para pengguna e-scooter dan pesepeda ‘meluncur’di area concourse – dimana kebijakan ini diberlakukan di bawah pengawasan langsung dari regulasi Land Transport Authority (LTA).

Para pengguna e-scooter dan pesepeda dilarang untuk menggunakan layanan SMRT, kecuali sepeda dan e-scooter yang mereka kendarai bisa dilipat. Alih-alih ada asap jika tidak ada api, kebijakan ini juga mulai diterapkan oleh pihak SMRT setelah adanya kejadian yang melibatkan pengguna PMD dan penumpang SMRT.

Masih mengutip dari lama sumber yang sama, tahun lalu seorang pengguna e-scooter terpaksa mendekam dibalik jeruji besi lantaran telah menabrak seorang penumpang SMRT berjenis kelamin wanita di Chinatown MRT Station – korban mengalami mengalami luka ringan pasca kejadian ini. Enggan kejadian yang sama atau lebih parah terulang kembali, maka dari itu pihak SMRT setuju untuk mengikuti regulasi LTA untuk mencegah para pengguna PMD seperti yang sudah dijelaskan di atas untuk menaiki layanan kereta komuter di Singapura ini.

Uji coba pemasangan metal barrier ini merupakan update yang paling baru dari SMRT untuk lebih meningkatkan keamanan dan kenyamanan para penggunanya. Adapun uji coba ini mulai diterapkan sejak minggu keempat bulan Mei yang diinisiasi dengan pemasangan barrier di sejumlah area, termasuk di area yang berdekatan dengan Causeway Point shopping centre.

Adapun barrier-barrier ini dipercaya dapat mencegah para pengguna PMD untuk bisa masuk ke area concourse, karena bentuknya yang berkelok dan akan menyulitkan – bahkan cenderung tidak mungkin untuk dilalui oleh pengguna PMD tersebut.

Baca Juga: Platform Screen Doors Alami Kendala, Penumpang MRT Singapura Terjebak Delay Dua Jam!

Dengan diterapkannya regulasi ini, bukan berarti pihak SMRT melarang pengguna PMD untuk menggunakan SMRT, namun lebih kepada untuk meningkatkan keamanan keamanan dan kenyamanan pbulik yang menggunakan layanan SMRT. Hal ini diungkapkan oleh pemerhati transportasi Singapura, Dr. Raymond Ong.

“Regulasi ini diciptakan bukan untuk menentang para pengguna PMD, melainkan untuk menghadirkan moda transportasi yang lebih mengedepankan keamanan dan kenyamanan.” ujarnya singkat.

Wadaw! Gara-Gara Pipis di Botol, Alat Kelamin Pria Ini Tersangkut

Kebelet buang air kecil atau pipis saat berada di dalam kendaraan umum dan ditengah perjalanan kerap kali terjadi pada setiap orang. Cara menahannya pun berbeda-beda setiap orangnya agar tidak ngompol atau pipis di celana karena tidak tahan lagi.

Baca juga: Sering Kebelet Pipis Dalam Angkutan? Simak Tips Untuk Menahannya

Bahkan ada beberapa orang yang memaksakan pipis di dalam botol demi memenuhi hasrat tersebut dan menghindari ngompol. Tapi apakah efektif pipis di botol? Ternyata untuk wanita hal ini tidak disarankan, tetapi untuk para pria mungkin ini bisa di coba bila tengah kebelet.

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman tribunnews.com, pipis di botol bagi pria juga harus hati-hati. Pasalnya beberapa waktu lalu seorang pria asal Malaysia yang tengah kebelet pipis akhirnya melepaskan hasratnya di dalam sebuah botol air mineral.

Tapi sayangnya karena ukuran botol yang kecil mau tak mau alat kelamin pria tersebut nyangkut di botol. Pria berusia 21 tahun kemudian ditolong oleh orang lain saat alat kelaminnya tersangkut. Dia mengklaim saat itu tengah malam dan ingin sekali buang air kecil.

Lalu ia memutuskan untuk membuang air seninya ke dalam botol tersebut karena ia saat itu tidak bisa mencapai kamar mandi dengan tepat. Saat ia mencoba mengeluarkan alat kelaminnya, alat kelaminnya tersebut malah tersangkut di lubang kecil dari mulut botol tersebut.

Asisten direktur Mohd Sani Harul, pria tersebut awalnya ingin memotong sendiri botol air mineral tersebut di rumahnya. Pemadam kebakaran dari stasiun pemadam Port Klang dan Andalas dipanggil ke tempat kejadian dan akhirnya bisa membuat alat kelamin pria tersebut terbebas.

Baca juga: Kebelet Pipis, Pengemudi Uber Terpaksa Buang Air Seni di Gelas

Korban tersebut langsung dilarikan ke Rumah Sakit Tengku Ampuan Rahimah untuk menjalani perawatan dimana ia saat ini sudah dalam kondisi stabil. Namun bila tidak bisa pipis di botol ada baiknya Anda menahannya dengan berbagai cara seperti tidak tertawa, melonggarkan pakaian yang terlalu ketat, tidak minum terlalu banyak dan beberapa hal lainnya.

H+4 Lebaran, 509.644 Pemudik telah Menyeberang Kembali ke Pulau Jawa

Sekitar 509.644 orang pemudik telah kembali menyeberang ke Pulau Jawa hingga Senin (10/6) pukul 15.00 WIB atau H+4 arus balik Angkutan Lebaran 2019. Diikuti 50.492 unit kendaraan roda dua, dan 61.380 unit roda empat ke atas/lebih. Untuk penumpang pejalan kaki pada arus balik dari hari kedua Lebaran Kamis (6/9) hingga H+4 atau Senin (10/6) sore sudah mencapai 62 persen, dan penumpang di dalam kendaraan mencapai 56 persen atau sebanyak 430.827 orang. Diikuti roda dua sebanyak 61 persen, sedangkan roda empat ke atas/lebih telah mencapai 56 persen.

Baca juga: Stasiun Merak, Pilihan Integrasi Lintas Moda Penumpang Kapal Ferry

Dari data Posko Bakauheni, trafik penumpang dan kendaraan terlihat kenaikan yang signifikan pada Sabtu (8/6) dan Minggu (9/6), yang diprediksikan sebagai masa puncak arus balik Lebaran dari Bakauheni menuju Merak. Adapun trafik penumpang mengalami kenaikan signifikan pada H+3 sebanyak 165.260 orang, dan pada H+2 sebanyak 156.934 orang. Khusus penumpang pejalan kaki saja mencapai 24.415 orang pada H+3.

“Trafik kendaraan roda empat secara total mencapai sebanyak 19.670 unit pada H+2, dan 18.067 unit pada H+3. Tren ini lebih tinggi dibandingkan dari Pelabuhan Merak saat arus mudik kemarin.

Dapat dikatakan, akhir pekan kemarin menjadi puncak arus balik untuk kendaraan roda empat dari Bakauheni menuju Merak,” kata Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry Imelda Alini dalam catatan tertulis yang diterima KabarPenumpang.com.

Diinformasikan bahwa pada akhir pekan kemarin terjadi kepadatan di Pelabuhan Bakauheni mengingat volume penumpang dan kendaraan pada arus balik mencapai puncaknya. “Dengan periode arus balik yang lebih pendek dibandingkan arus mudik, pergerakan penumpang dan kendaraan dengan volume tinggi dan waktu yang bersamaan memicu kepadatan. Tentu, kami bersama dengan stakeholder melakukan upaya maksimal untuk mengurai kepadatan tersebut” kata Imelda.

Selain itu, pemberlakuan diferensiasi tarif penyeberangan selama arus mudik dan balik Lebaran juga membuat pengguna jasa antusias untuk melakukan penyeberangan di siang hari.

“Memasuki H+4 ini, volume kendaraan dan penumpang kami prediksikan akan terdistribusi hingga akhir pekan ini mengingat masih ada sebagian pemudik yang mengambil cuti Lebaran maupun libur sekolah anak,” katanya lagi.

Baca juga: Susah Top Up E-Money Buat Pemudik yang Lewat Tol? Ini Solusinya

ASDP tetap mengimbau kepada seluruh pengguna jasa agar mempersiapkan dengan baik jadwal perjalanan kembali pada arus balik Lebaran ini. “Untuk mempercepat proses pembelian tiket di tollgate, pemudik diminta menyiapkan e-Ktp dan kartu elektronik dengan saldo yang cukup. Harga tiket telah kembali normal, seiring berakhirnya diferensiasi tarif pada 9 Juni 2019 kemarin,” tutur Imelda.

Libur Lebaran, MRT Jakarta Jadi “Wahana Hiburan” Favorit Keluarga

Masa libur lebaran tak hanya dimanfaatkan orang untuk mudik atau pulang ke kampung halaman masing-masing, tetapi banyak juga warga ibu kota atau daerah penyangga yang menikmati kelenggangan Jakarta. Tak hanya itu, masyarakat juga berbondong-bondong menikmati moda transportasi baru yakni MRT Jakarta yang mengular dari Bundaran Hotel Indonesia hingga ke Lebak Bulus.

Baca juga: Akomodasi Penumpang Pelajar, Pemprov DKI Kaji Tarif ‘Khusus’ di MRT Jakarta

Ternyata pada libur awal Lebaran jumlah penumpang yang tercatat oleh PT MRT Jakarta sebanyak 83 orang dalam sehari. Corporate Secretary Division Head MRT Jakarta Muhammad Kamaluddin mengatakan, pada 3 Juni tercatat ada sebanyak 62 ribu penumpang yang menggunakan MRT Jakarta. Pada 4 Juni 58 ribu penumpang dan 5 Juni 48 ribu penumpang, dimana Kamal mengatakan, saat hari Raya Idul Fitri ramai di sore hari.

“5 Juni di pagi harinya pnumpang masih jarang, karena masih shalat Idul Fitri, baru ramai siang dan sore hari. Tanggal 6 Juninya ada 83 ribu penumpang,” ujar Kamal yang dihubungi KabarPenumpang.com, Jumat (7/6/2019).

Bahkan Kamal mengatakan, pada 8 Juni 2019, penumpang yang menggunakan MRT Jakarta hingga 90 ribu orang dalam sehari. Namun dia mengatakan, ini bukanlah yang tertinggi tetapi pada tarif potongan 50 persen di 3 April lalu sebanyak 116 ribu penumpang.

“90 ribu penumpang cukup tinggi di masa 100 persen tarif ini. Selain itu tanggal 3 Mei dan 10 Mei kemarin juga pernah di atas 90 ribu penumpang dalam seharinya,” tambah Kamal.

Kereta MRT Jakarta tetap melayani masyarakat selama libur Lebaran, termasuk pada hari pertama dan kedua Lebaran. Lonjakan penumpang pada hari kedua Lebaran itu melampaui rata-rata jumlah penumpang di hari kerja dan libur pada bulan lalu.

“Rata-rata jumlah penumpang per hari pada akhir pekan bulan lalu sekitar 50 ribu orang per hari, sedangkan pada hari kerja sekitar 77 ribu penumpang per hari,” tutur dia.

Baca juga: Masa Promosi Berakhir, Mulai 13 Mei MRT Jakarta Terapkan Tarif Normal

Bisa dikatakan, meski dalam tarif penuh atau tidak ada diskon, moda transportasi baru ini diminati masyarakat yang tengah menikmati liburan di ibukota. Selain cepat, MRT Jakarta juga memiliki integrasi yang cukup dengan moda transportasi lainnya seperti TransJakarta atau Commuter Line.

LRT Palembang Diminati Pemudik Kala Libur Lebaran

Jakarta punya Mass Rapid Transit (MRT) yang mana masa libur Lebaran masyarakat banyak menggunakannya dan bagaimana dengan Palembang yang punya Light Rail Transit (LRT)? Apakah warga Sumatera Selatan juga antusias naik LRT di Palembang?

Baca juga: Load Factor Rendah, Akankah LRT Palembang Senasib dengan MRT Malaysia?

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, ternyata ada lonjakan juga terjadi pada penumpang LRT Palembang di hari kedua Lebaran yakni pada 6 Juni 2019. Tak hanya itu, jumlah penumpang tertinggi pun tercatat pada 7 Juni dimana mencapai 22.709 penumpang.

Bahkan arus balik pelancong yang datang ke Palembang pada musim Lebaran diprediksi akan meningkatkan penumpang hingga 9 Juni 2019 kemarin. Adapun pada 3 Juni penumpang LRT sebanyak 8375, 4 Juni 7150, 5 Juni ada 4516 dan 6 Juni 15.296.

Meningkatnya jumlah pengguna LRT membuat PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang mengoperasikannya mulai menambah jumlah operasional menjadi 58 perjalanan hingga pukul 20.32 WIB setiap harinya mulai 7 Juni 2019 kemarin. Penambahan jumlah operasional ini naik sebanyak enam perjalanan dari yang sebelumnya 52 perjalanan.

“Mulai 7 Juni 2019 LRT Sumsel ditambah 6 perjalanan sehingga waktu operasional LRT mulai jam 04.48 WIB sampai jam 20.32 WIB, dengan keberangkatan terakhir dari stasiun

Bandara pukul 19.30 WIB tiba di stasiun DJKA pukul 20.32 WIB,” ujar Manajer Humas PT KAI Divre III Palembang Aida Suryanti.

Diharapkan dengan penambahan jumlah perjalanan akan lebih meningkatkan minat masyarakat menggunakan LRT dan menjadikan LRT Sumsel sebagai bagian penting dalam sistem transportasi publik masa depan masyarakat kota Palembang. Adapun dengan penambahan jadwal perjalanan, waktu operasional LRT akan dimulai pukul 04.48 WIB.

Sementara itu, keberangkatan terakhir dari Stasiun Bandara Palembang ialah pukul 19.30. Kereta dijadwalkan tiba di stasiun DJKA pukul 20.32 WIB. Aida juga menjelaskan, penambahan jadwal tersebut merupakan suatu komitmen KAI dalam mengembangkan transportasi massal untuk mengurangi kemacetan. Selain itu, KAI juga berharap melalui hal tersebut juga mampu menigkatkan minat masyarakat dalam menggunakan LRT.

“Apalagi saat ini LRT Sumsel telah terintegrasi dengan bis Damri dan Trans Musi,” ujarnya.

Baca juga: Tahun 2019, LRT Palembang Alami Perbaikan Waktu Tempuh dan Tunggu

Secara total dari awal operasi 23 Juli 2018 sampai 1 Juni 2019, LRT Sumsel telah mengangkut sebanyak 1.683.318 penumpang. Stasiun Ampera, stasiun DJKA, stasiun Bandara, dan Bumi Sriwijaya menjadi yang paling ramai dikunjungi penumpang.

‘Impor’ Maskapai Asing untuk Turunkan Harga Tiket, Ini Kemungkinan Terburuknya!

Di penghujung bulan Suci Ramadhan 2019, sejumlah pemudik yang hendak pulang kampung sempat dibuat senewen lantaran harga tiket pesawat yang mengalami lonjakan cukup tinggi. Karena dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah harga minyak bumi yang sedang tinggi-tingginya, akhirnya para pemudik lebih memilih untuk tetap tinggal di Ibu kota atau bahkan menempuh jalur darat dan berbagai alternatif lainnya.

Menanggapi harga tiket pesawat yang sedang berada di puncak ini, Presiden Joko Widodo sempat mengutarakan wacana untuk ‘mengimpor’ maskapai asing untuk membuka rute domestik di dalam negeri. Hal ini ditujukan untuk mereduksi mahalnya harga tiket pesawat tersebut.

Baca Juga: Layakkah Full-Service Carrier Layani Penumpang dengan Standar LCC?

Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan bahwa pihaknya akan mempelajari lebih lanjut mengenai ide dari RI 01 ini.

“Ya ide Pak Presiden bagus sekali, kita akan mempelajari. Insya Allah itu bisa dilaksanakan,” ujar Menteri Budi, dikutip dari laman kompas.com (1/6/2019).

Kendati sependapat dengan ide Presiden Joko Widodo, namun Menteri Budi mengatakan maskapai asing yang ingin masuk dalam pasar dalam negeri harus memiliki kantor yang beroperasi di Indonesia. Selain itu, 51 persen saham dari perusahaan yang di bangun di Indonesia harus dimiliki oleh negara.

“Tentunya (perizinan operator penerbangan asing di dalam negeri) memperhatikan akses cabotage bahwa perusahaan asing itu harus memiliki perusahaan di sini di mana dimiliki oleh Indonesia 51 persen. Terus mengikuti syarat syarat yg lain,” lanjutnya.

Adapun syarat lain yang dimaksud Menteri Budi adalah perihal asas cabotage (rute domestik harus dilayani maskapai nasional) yang berlaku untuk layanan transportasi udara.

Alih-alih akan menghadirkan cibiran dari sejumlah kelompok terkait idenya ini, Presiden Joko Widodo pada dasarnya ingin memperkaya kompetisi pemain maskapai yang selama ini dikuasai oleh dua grup raksasa di sektor aviasi lokal, Garuda Indonesia Group dan Lion Air Group.

Dengan hadirnya kompetitor asing, maka lambat laun persoalan tingginya tarif akan dapat dientaskan. Ya, seperti yang sudah diketahui sejak lama, polemik tentang tingginya harga tiket pesawat ini memang sudah kadung menjalar sejak dulu kala.

Senada dengan Menteri Budi, Ketua umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Rosan Roeslani pun menyambut baik rencana tersebut.

“Negara manapun bisa, kita tidak memandang maskapai negara mana yang masuk, yang penting semuanya membawa asas manfaat ke kita,” ujar Rosan dikutip dari laman sumber terpisah.

Nampaknya tujuan dari Presiden Joko Widodo ini mampu ditangkap dengan baik oleh Rosan, “Ada kompetisi yang sehat, bukan untuk ditakuti. Jadi bisa lebih baik dan efisien,” jelas dia.

Namun pendapat berbeda disampaikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla yang mengatakan bahwa dengan masuknya maskapai asing ke Indonesia tidak akan banyak berpengaruh terhadap harga tiket, karena pada dasarnya biaya operasional yang mesti dikeluarkan oleh pihak maskapai relatif sama.

“Jadi saya kira maskapai asing pun tentu sama saja cost-nya. Cost airlines itu pesawat, avtur, pemeliharaan, ongkos personel, semua hampir sama semuanya. Mau maskapai dari mana sama,” pungkasnya.

Baca Juga: Long Haul Low Cost Carriers, Solusi Terbang Jarak Jauh Tanpa Harus Kuras Dompet!

Jika ditelisik lebih mendalam lagi, hadirnya maskapai asing ke dalam ranah aviasi domestik tidak menutup kemungkinan untuk ‘membunuh’ sejumlah maskapai lokal yang tidak mampu bersaing. Hal ini diutarakan oleh Direktur Utama Sriwijaya Air Joseph Adrian Saul yang menilai hadirnya maskapai asing mampu mengubah iklim pasar saat ini.

“Yang saya khawatirkan (dari masuknya maskapai asing untuk melayani rute penerbangan domestik) adalah bisa merusak pasar penerbangan domestik yang kemudian setelah itu ditinggalkan,” terang Joseph.

Susah Top Up E-Money Buat Pemudik yang Lewat Tol? Ini Solusinya

Libur Lebaran telah usai, pemudik kembali ke kota masing-masing untuk menjalankan aktivitas seperti semula. Kembalinya pemudik ini baik ke ibukota atau ke kota lainnya membuat beberapa jalur Tol macet parah yang diakibatkan berbagai hal.

Baca juga: Polemik Biaya Ekstra di Top Up Kartu Uang Elektronik, Setujukah Anda?

Salah satunya terjadi di Tol Trans Sumatera menuju Bakauheni yang terkena imbas dari padatnya pelabuhan. Namun ternyata masalah bukan hanya karena imbas padatnya pelabuhan saja, tetapi ada hal lain yang penting jadi catatan, yaitu penggunaan kartu uang elektronik untuk pembayaran gerbang Tol. Dimana para pemudik banyak kehabisan saldo pada kartu uang elektronik ataupun masalah lemotnya mesin pembaca kartu (card reader) tersebut.

Salah satu kartu yang banyak digunakan adalah e-toll atau e-money yang dikeluarkan oleh Bank Mandiri. Selain hanya bisa mengisi saldo hingga Rp1 juta saja, pengisiannya pun banyak yang berpikir hanya melalui minimarket, mesin ATM, gate Tol isi ulang ataupun smartphone yang sudah di dukung NFC atau pembaca kartu uang elektronik.

Tetapi hal ini ternyata bisa di lakukan oleh pemilik kartu e-money yang dikeluarkan oleh Bank Mandiri dengan mengunduh aplikasi Mandiri Online di smartphone Android atau iOS. Caranya pun mudah, hanya tinggal memasukkan nomor kartu e-money ke pilihan di aplikasi pengisian e-money, masukkan nominal yang akan diisikan ke kartunya.

Bila ponsel pintar pemudik dilengkapi dengan NFC, maka untuk mengecek saldo, kartu tersebut hanya di tempelkan pada bagian belakang ponsel. Tetapi jika ponsel tidak dilengkapi NFC, pengguna bisa menempelkan kartu di ATM Bank Mandiri atau mini market.

Baca juga: Jelang Operasional Penuh, MRT Jakarta Perkenalkan ‘Kartu Jelajah’ untuk Transaksi

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, saat ini pengguna kartu e-money sendiri mencapai 18 juta kartu, bahkan sebanyak 49 ruas Tol sepanjang Pelabuhan Merak samai ke Surabaya bisa menggunakannya. Tapi apakah semuanya memiliki tabungan atau rekening Mandiri? Ternyata tidak semua pemilik e-money adalah pemilik rekening Mandiri, pasalnya kartu ini terlepas dari tabungan dan bisa digunakan siapa saja baik itu untuk naik KRL, TransJakarta hingga MRT Jakarta yang baru-baru ini menjadi moda transportasi.

Wings Air Buka Penerbangan Tanjung Karang-Krui dan Tanjung Pinang-Letung Anambas

Kinerja keuangan Lion Air kini tengah menjadi sorotan, lantaran diduga tengah mengalami kesulitan, setelah grup maskapai terbesar di Indonesia ini mengajukan penundaan pembayaran jasa bandara kepada PT Angkasa Pura I. Namun rupanya itu tak menyurutkan niat maskapai dalam satu grup untuk melakukan ekspansi, seperti pada Minggu, 9 Juni 2019, Wings Air (Lion Air Group) meresmikan penerbangan perdana untuk dua destinasi terbaru intra-Lampung yang melayani Tanjung Karang, Lampung ke Krui, Pesisir Barat dan intra-Kepulauan Riau yakni Tanjung Pinang, Bintan tujuan Letung Anambas.

Baca juga: ATR-72 600 Wings Air Sukses Lakukan Proving Flight di Bandara Taufik Kiemas

Wings Air lepas landas dari Bandar Udara Internasional Radin Inten II (TKG) bernomor IW-1294 pada 09.05 WIB. Pesawat mendarat sempurna di Bandar Udara Muhammad Taufik Kiemas (TFY) pukul 09.50 WIB. Penerbangan sebaliknya, Wings Air berangkat dari Krui dengan nomor IW-1295 pukul 10.15 WIB, kemudian tiba di Tanjung Karang pada 11.00 WIB. Wings Air di rute Tanjung Karang – Krui – Tanjung Karang menawarkan traveling di saat musim liburan dengan frekuensi terbang satu kali setiap Senin, Jum’at dan Minggu. Pembukaan ini berdasarkan tingginya permintaan perjalanan udara kekinian (millennials traveling), terutama sektor pariwisata untuk “selancar atau surfing”.

Sementara rute baru Tanjung Pinang – Letung Anambas – Tanjung Pinang memiliki satu kali frekuensi terbang setiap hari. Wings Air nomor IW-1230 bertolak dari Bandar Udara Raja Haji Fisabilillah (RHF), Tanjung Pinang (TNJ) pukul 07.45 WIB, pesawat mendarat pada 08.15 WIB di Bandar Udara Letung, Jemaja (LMU). Untuk rute sebaliknya, tetap dilayani pada hari yang sama, Wings Air mengudara pukul 14.40 WIB dari Letung bernomor IW-1231 dan sudah tiba di RHF pukul 15.10 WIB.

Bagi travelers yang berasal dari berbagai kota menuju Kepulauan Anambas mempunyai opsi baru, yakni singgah terlebih dahulu di Bintan. Tanjung Pinang ke Letung dibuka untuk menyusul kesuksesan penerbangan Wings Air yang telah dilayanai dari Batam pada Agustus 2018.

Baca juga: Lion Air Group (Wings Air) Bersiap Terima ATR-72 600 Ke-80

Wings Air juga menambah frekuensi terbang Batam – Letung Anambas – Batam menjadi satu kali setiap hari, dari sebelumnya setiap Senin, Rabu dan Jumat. Wings Air menggunakan nomor IW-1229, bertolak dari Letung pada 08.40 WIB dan mendarat di Bandar Udara Internasional Hang Nadim, Batam Batu Besar (BTH) pukul 09.40 WIB. Sedangkan dari Batam, Wings Air mengudara pukul 13.20 WIB bernomor IW-1228 dan tiba di Letung pukul 14.20 WIB. Dalam melayani rute baru di atas, Wings Air mengoperasikan ATR 72-500 atau ATR 72-600 tipe turboprop.