Tingkat Pelecehan Seksual Tinggi, Kepolisian Jepang Rilis Aplikasi yang Bisa Teriak!

Anda masih ingat dengan istilah “Chikan” yang berarti pelaku pelecehan seksual di ruang publik secara terus menerus. Nah kali ini pihak berwenang di Jepang tidak hanya sebatas menggolongkan pria hidung belang ini ke dalam suatu kelompok Chikan saja, melainkan telah mengembangkan aplikasi smartphone untuk menghindari tindak pelecehan seperti yang sudah disebutkan di atas kembali terulang. Wah, kira-kira bagaimana keunggulan dari aplikasi tersebut, ya?

Baca Juga: Istilah ‘Chikan’ Masuk Kamus Internasional Berkat Tingginya Angka Pelecehan Seksual di Kereta Jepang

Patut diketahui terlebih dahulu, tindak pelecehan seksual di kereta Jepang ini marak terjadi ketika jam-jam sibuk (peak hour) dengan sasaran utamanya adalah kaum hawa. Nah ketika menggunakan aplikasi yang dikembangkan oleh pihak kepolisian Tokyo ini, maka diharapkan dapat menekan angka pelecehan seksual yang terjadi di Jepang.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (21/5/2019), aplikasi yang sudah diunduh terlebih dahulu di gadget ini nantinya akan mengeluarkan suara nyaring yang berbunyi, “hentikan!” dengan volume yang sangat keras ketika seseorang telah dilecehkan. Ini bertujuan untuk menarik perhatian dari penumpang yang ada di sekeliling korban dan dapat diharapkan dapat dengan mudah menangkap pelaku.

Tidak hanya itu, aplikasi yang sudah diunduh lebih dari 237.000 kali ini juga akan mengeluarkan sebuah pesan yang bertuliskan, “Ada seorang pelaku tindak pelecehan seksual di sini, bisakah Anda membantu saya,”. Anda dapat menunjukkan pesan pengingat tersebut kepada penumpang lain sehingga Anda dapat perlindungan.

Lebih kerennya lagi, penggunaan aplikasi ini juga dapat mengirimkan tindak pelecehan terhadap operator layanan, karena ternyata hampir sama seperti di Indonesia, dimana korban enggan melaporkan tindakan yang sudah dialaminya kepada petugas kepolisian dengan dalih takut.

Baca Juga: Antisipasi Pelecehan Seksual di KRL, Ikuti Tips Berikut Ini

“Hal ini selayaknya sinyal SOS yang diberitahukan kepada penumpang lain namun dengan gerakan tubuh yang minim – selayaknya memainkan ponsel seperti biasa,” ujar pejabat kepolisian, Keiko Toyamine.

Menurut data yang dicatat oleh Departemen Kepolisian Tokyo, ada sekitar 900 kasus pelecehan seksual yang terjadi di jaringan kereta bawah tanah Jepang. Diharapkan dengan dikomersialkannya aplikasi bernama Digi Police ini, maka secara perlahan angka pelecehan seksual di kereta Jepang dapat menurun.

 

 

Miniatur “Grand Central Station” Dirusak, Rod Stewart Berikan Donasi 10 Ribu Poundsterling

Bagi pecinta transportasi yang juga penggemar miniatur, pasti senang melihat miniatur stasiun, terminal atau bandara. Tapi apa jadinya bila kesenangan tersebut dirusak oleh sekelompok orang dan ternyata pembuatan miniatur tersebut membutuhkan waktu puluhan tahun?

Finansial Loyo, Apa yang Sebabkan Garuda Indonesia Hentikan Sejumlah Rute ke Luar Negeri?

Sektor aviasi Indonesia belakangan tengah disoroti media, pasalnya sejumlah kejadian penting berkecamuk di dalamnya – mulai dari jatuhnya pesawat Boeing 737 MAX 8 milik Lion Air di perairan Tanjung Karawang pada akhir tahun 2018 silam, lalu ada lagi penetapan tarif bagasi berbayar, hingga yang paling anyar adalah penetapan tarif batas atas. Selain itu melonjaknyaharga tiket juga sedikit banyaknya mempengaruhi minat penumpang untuk melakukan perjalanan udara – apalagi dengan menggunakan layanan full service seperti Garuda Indonesia.

Baca Juga: Laba Kian Mengering, Garuda Indonesia Terpaksa Hentikan Sejumlah Rute

Gencarnya isu yang menyebutkan bahwa sang flag carrier Indonesia ini mulai tertatih untuk melanjutkan persaingan bisnis airlines di Tanah Air. Pada pemberitaan sebelumnya, disebutkan bahwa Garuda Indonesia akan menghentikan sejumlah penerbangan jarak jauhnya terkait dengan prinsip ekonomi yang tidak tecapai sempurna – cenderung nombok.

Terkenal sebagai layanan penerbangan paling bergengsi asli Tanah Air, sudah sewajarnya jika pasar dari Garuda Indonesia terbatas dari kalangan kocek menengah ke atas – berbanding terbalik dengan prinsip sebagian masyarakat Indonesia yang tidak terlalu mementingkan modanya, selama itu murah.

Tidak hanya karena stigma itu saja, menjamurnya maskapai low-cost carrier di Indonesia juga semakin membelenggu nafas dari sang maskapai plat merah. Otomatis, pasar low-cost carrier akan dengan mudah memenangkan persaingan dengan embel-embel tiket murah.

“Ya, ketimbang harus mengedepankan gengsi dengan naik maskapai full service, toh tidak ada bedanya dengan naik low-cost carrier? Toh sampainya juga sama, dan sama-sama cepat pula,”

Begitulah kurang lebih stigma yang terus berputar di masyarakat yang pada akhirnya semakin memutus udara ke tubuh Garuda Indonesia.

Selain itu, faktor pergantian manajemen yang bisa dibilang cukup sering dalam rentang waktu beberapa tahun terakhir juga sedikit banyaknya mempengaruhi kinerja maskapai, karena beda kepala yang memimpin, maka beda pula visi, misi, hingga strategi dalam mengembangkan bisnis yang terkenal ribet ini.

Baca Juga: Boeing 737 Garuda Indonesia Dipasangi Livery Mitsubishi Xpander! Ada Apa?

Amat di sayangkan sebenarnya ketika mendengar Garuda Indonesia harus menghentikan rute penerbangannya menuju Benua Biru – karena alih-alih menghentikan rute tersebut, bukankah lebih baik untuk terus memperbanyak rute sehingga konektivitasnya semakin bertambah pula?

Namun kembali lagi kepada prinsip ekonomi di atas, daripada menjalankan rute yang memiliki margin keuntungan tipis, alangkah lebih baiknya lagi untuk mengoperasikan rute yang potensial untuk mendatangkan laba terhadap perusahaan.

 

Sabotase Sistem Sinyal, Ribuan Penumpang Chennai Metro Rail Limited Terbengkalai

Gangguan persinyalan pada hari Senin dan Selasa di Chennai, India terjadi karena aksi pemokogan oleh staf, ribuan penumpang Chennai Metro Rail Limited (CMRL) harus merasakan penderitaan. Pasalnya selain mogok, dua karyawan membuat sistem persinyalan otomatis tidak berfungsi dan mengakibatkan gangguan perjalanan kereta.

Baca juga: Mesin Tiket Otomatis Tak Berfungsi, Penumpang Kereta di Chennai Harus Antre

Akibat sabotase sistem persinyalan ini, membawa unsur ketakutan yang berbeda ke pikiran penumpang pada hari Selasa. Memang sabotase tak sampai sore saat masalah terlihat karena CMRL kemudian mengatakan gangguan dalam sistem sebagai alasan persinyalan otomatis rusak.

“Dua dari staf non-eksekutif kami merusak sistem pensinyalan otomatis, yang menyebabkan kegagalan fungsi pada sore hari tanggal 29 April. CMRL menyampaikan permintaan maaf yang tulus kepada penumpang atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan,” ujar pernyataan CMRL yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman thehindu.com (1/5/2019).

CMRL pada Selasa sore mengatakan layanan langsung dari Chennai Central ke bandara, yang dihentikan, telah dipulihkan.

“Operasi kereta antar-koridor antara Pusat ke Bandara telah berhasil dipulihkan pada pukul 1.30 malam. hari ini (30 April). Semua layanan kereta Metro berjalan sesuai jadwal,” twit CMRL.

Kemudian di hari itu, pihak kereta Metro Chennai mengajukan pengaduan ke kantor polisi Koyambedu dimana General manager bersama Satheesh Prabhu, mengatakan 18 anggota staf menyerang dan melecehkannya ketika dia mencegah mereka memasuki area terbatas Pusat Pengendalian Operasi dari mana seluruh operasi Kereta Api Chennai dapat dipantau.

Mereka juga menyabotase peralatan pensinyalan, yang menyebabkan kegagalan operasi, menciptakan kepanikan dan ketidaknyamanan yang luar biasa bagi para penumpang.
Banyak penumpang mengeluh bahwa mereka tidak dapat menggunakan layanan pada hari Selasa sampai mereka dipulihkan pada pukul 01.30 malam waktu setempat.

Ramani Krishnan, seorang penduduk Vadpalani, mengatakan bahwa dia ketinggalan pesawat karena kereta ditunda dan harus membatalkan pertemuan karena kekacauan. Di akun Twitter, Suresh (@ji_Sriram) mengatakan CMRL seharusnya telah mengatur pengaturan perjalanan darurat dengan bus atau kendaraan lain, terutama pada rute bandara ke Central Chennai, untuk membantu para penumpang yang terdampar.

Banyak warganet lain di Twitter menyuarakan keluhan mereka, termasuk mengungkapkan kemarahan atas tindakan sabotase, tetapi juga mengeluhkan kereta berjalan lambat dan frekuensi yang berkurang di Bandara Chennai ke bentangan Washermanpet, terutama bahkan setelah CMRL mengklaim telah memulihkan layanan.

Baca juga: Chennai Mofussil, Terminal Bus Terbesar dengan Kapasitas 2.000 Bus

Tak hanya itu banyak yang mengeluh bahwa kartu mereka tidak diterima, dan di beberapa stasiun, penumpang mengeluh bahwa tidak ada yang tersedia untuk mengeluarkan token perjalanan. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh kekurangan staf di stasiun, karena CMRL mengklaim bahwa mereka menjalankan layanan pada hari Selasa dengan hanya staf outsourcing dan lima karyawan CMRL. Diketahui sebanyak 250 staf CMRL memboikot pekerjaan pada hari Selasa.

Belum Nambah Armada Lagi, Ini Kecepatan WiFi Dalam Pesawat Citilink

Citilink, maskapai berbiaya hemat (LCC) milik Indonesia ini telah meluncurkan fasilitas free WiFi onboard atau dalam penerbangan. Kuota yang diberikan pun terbatas hanya 50 MB, tetapi bila penumpang membutuhkan tambahan bisa langsung mengatakannya kepada awak kabin.

Baca juga: Airbus A320-214 PK-GQR: Sensasi Free WiFi Perdana di Armada Citilink

Meski begitu, bagaimana kecepatan WiFi dalam pesawat milik maskapai hijau tersebut? Koneksi WiFi gratis ini bisa digunakan setelah pesawat lepas landas dan tanda penggunaan sabuk pengaman dipadamkan. Dilansir KabarPenumpang.com dari detik.com yang mencoba menggunakan WiFi dalam penerbangan QG 686 dari Jakarta ke Denapasar.

Dari aplikasi speedtest, kecepatan internet dalam pesawat cukup baik dan kapasitas kecepatan untuk mengunduh mencapai 14,2 Mbps dan mengunggah 0,41 Mbps. Membuka berbagai laman website pun koneksinya cukup lancar dan konten tulisan serta gambar cukup mudah dibuka.

Sedangkan untuk berkirim pesan singkat melalui aplikasi WhatsApp berjalan dengan lancar. Tak hanya itu melakukan panggilan video pun lancar tanpa hambatan. Meskipun koneksi lancar, suara terdengar jelas, tetapi gambar di video sedikit tersendat pada waktu tertentu.

Dalam mengakses video melalui Youtube pun kualitas yang didapat lancar dengan akses 480p. Melakukan streaming pun dengan kualitas segitu hasil yang didapat lancar dan tanpa hambatan. Begitupun dengan layanan video Netflix yang berjalan mulus.

Beberapa platform media sosial lainnya pun juga berjalan setara dengan menggunakan jaringan 4G di darat. Penggunaan Instagram dengan mengunggah Instagram storie atau scrolling timeline pun terbilang cepat. Bahkan, main game online cukup lancar.

Perlu diperhatikan, bahwa kondisi koneksi internet ini berlangsung saat siang hari dengan cuaca cerah. Kapasitas penumpang juga hanya 50 persen dari total kursi pesawat. Tetapi, di saat-saat tertentu, seperti turbulensi koneksi akan hilang dengan sendirinya.

Terpenting adalah penggunaan WiFi hanya dapat dipakai saat pesawat sudah lepas landas dan tidak dalam kondisi take off atau landing. HIngga saat ini diketahui, esawat yang sudah dilengkapi WiFi onboar hanya ada satu yakni tujuan ke Denpasar, Bali.

Baca juga: Naik Citilink, Kini Bisa Nikmati WiFi Gratis di Ketinggian 35 Ribu Kaki

Padahal anak perusahaan Garuda Indonesia ini hingga akhir tahun 2019 akan menambahkan fasilitas free WiFi onboard di 20 armadanya. namun saat dihubungi KabarPenumpang.com terkait rencana penambahan WiFi onboard, pihak Citilink belum bisa menjawab untuk kelanjutannya.

Juni Mendatang, Grab Akan Hadirkan GrabCar Premium

Naik moda transportasi umum dan merasakan kelas eksekutif bisa menjadi salah satu pilihan menarik bagi penumpang. Kemudian karena ini, Grab mulai mempersiapkan layanan baru dari GrabCar-nya. Pasalnya taksi plat hitam berbasis online itu akan menghadirkan versi eksekutif.

Baca juga: Lagi di Uji Coba, Skuter Listrik Grab Bakal Meluncur di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta

Versi eksekutif GrabCar ini sendiri akan dinamakan GrabCar Premium. KabarPenumpang.com yang mengutip dari laman detik.com (23/5/2019), penyebutan eksekutif ini sendiri karena ada perbedaan keistimewaan baik dari kendaraan maupun pengemudinya.

Grab berencana akan meluncurkan GrabCar versi eksekutif tersebut pada awal Juni mendatang. Layanan ini sendiri memiliki sasaran yang mampu memberikan layanan transportasi terbaik kepada klien dan pelanggannya.

“Saya umumkan juga hari ini bahwa kita akan memperkenalkan layanan yang namanya GrabCar Premium yaitu dimulai pada tahun ini. Dan kita akan mulai dulu di beberapa perusahaan yang open, mencoba layanan tersebut,” ungkap Executive Director Grab Indonesia Ongki Kurniawan saat pengumuman layanan terbaru Grab for Business.

Dia menambahkan, kelas premium ini akan menggunakan mobil bejenis Innova atau Fortuner dan berangkat dari kebutuhan perusahaan tersebut di beberaoa situasi mereka apakah membutuhkan mobil yang kelas premium.

Selain jenis kendaraan yang menyasar kelas atas, GrabCar Premium juga menyediakan pengemudi yang punya keahlian khusus di bidang hospitality. Sementara soal tarif, akan ada penyesuaian dengan layanan yang diberikan.

“Kita ada itung-itungannya pastinya kalau dinamakan premium juga trarifnya juga sesuai. Jadi kita sesuaikan dengan layanannya,” lanjutnya.

Soal ketersediaan kendaraan, Grab akan menggandeng mitra usaha yang akan menyediakan kendaraan di segmen yang lebih premium seperti Innova atau Fortuner.

“Itu nanti punya strategi sendiri. Di awal kita bukan ke individual tapi kita akan ber-partner dengan sejumlah mitra,” jelas Ongki.

Baca juga: Grab Gandeng UI untuk Kembangkan Startup, Ternyata Keduluan GoJek

Untuk diketahui layanan GrabCar Premium ini merupakan bagian dari Grab for Business bersamaan dengan beberapa layanan lainnya yang juga diperkenalkan Grab seperti GrabGifts, Concierge, GrabExpress, serta katering.

Panik Saat Pesawat Mengudara, Pria Ini Coba Buka Pintu Darurat

Panik saat berada di dalam pesawat yang tengah mengudara? Hal ini bisa terjadi pada siapa saja bukan hanya anak-anak, orang dewasa maupun lansia pun bisa saja mengalami hal tersebut. Namun karena panik tersebut penumpang bisa melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya dan penumpang lain di dalam pesawat.

Baca juga: Bikin Panik! Pemuda Ini Berusaha Buka Pintu Darurat Yang Ia Kira Sebagai Pintu Toilet

KabarPenumpang.com melansir dari laman mirror.co.uk (23/5/2019), baru-baru ini seorang penumpang paruh baya meminta awak kabin untuk memanggilkan keluarganya. Dirinya saat itu tengah gelisah dan dalam penerbangan Fuzhou Airlines 6509 tujuan ke Kunming di barat daya Cina pada 20 Mei 2019 kemarin.

https://youtu.be/hp03PRJc1TQ

Petugas keamanan penerbangan bernama Zhao Wenhui mengatakan, pria berusia 50 tahun tersebut meminta bantuan awak kabin 40 menit sebelum mendarat. Dia meminta dipanggilkan keluarganya tetapi kemudian terlihat gelisah karena permintaannya tersebut ditolak oleh awak kabin.

Dalam sebuah rekaman video, pria itu berteriak dan membenturkan dirinya ke kursi serta sisi pesawat. Karena tindakannya ini, awak kabin yang dibantu penumpang pesawat lainnya mencoba menahan pria itu untuk tidak berulah.

Cao Xinyue, seorang awak kabin mengatakan, pria itu kemudian modar-mandir dan berkata, “Saya ingin parasut!”

“Dia terus mengatakan dia ingin memanggil keluarganya. Dia mencoba menelepon di teleponnya tetapi meminta kita melakukannya ketika teleponnya tidak berfungsi,” ujar Xinyue.

Penumpang yang ketakutan terdengar berteriak, “Apa yang terjadi?” ketika mereka mencoba menenangkan pria itu.

“Sepuluh menit sebelum mendarat ia diduga melompat dari kursinya dan mencoba membuka pintu darurat,” kata maskapai itu dalam sebuah pernyataan. Kelompok itu menahannya hingga pesawat mendarat dengan selamat, setelah itu ia diserahkan ke polisi bandara Kunming.

“Dia mencoba mencungkil mataku. Aku lebih tinggi darinya sehingga dia tidak bisa menjangkau, tetapi telinga dan hidungku terluka dan berdarah,” ujar pramugari Lu.

Petugas keamanan penerbangan Zhao, yang menghabiskan dua tahun dengan gugus tugas pasukan khusus Cina yang dikenal sebagai Snow Leopard Commando Unit, mengatakan ia memperhatikan penumpang bertindak tidak menentu saat ia naik ke pesawat. Untungnya dalam insiden ini maskapai mengkonfirmasi tidak ada penumpang lain yang terluka.

Baca juga: Akibat Kegerahan di Kabin, Pria Ini Tak Sengaja Membuka Pintu Darurat

Pria itu, yang menurut polisi tidak sehat, telah dibebaskan tanpa biaya kembali ke perawatan keluarganya, yang telah meminta maaf atas cobaan itu. Namun, tidak jelas apakah ia akan menerima larangan terbang seumur hidup oleh otoritas penerbangan Cina.

Selfie Menantang Maut, Kiwirail Tutup Gerbong Tanpa Pintu

Mempertaruhkan nyawa untuk mendapatkan hasil foto yang bagus dan menakjubkan kerap kali dilakukan oleh banyak orang. Seperti berselfi sembari bergelantungan di pintu kereta yang tengah melintasi rel menuju satu tempat wisata.

Baca juga: Priiit..! Dilarang Selfie di Tempat-Tempat Berikut Ini

Merespon tren yang terbilang membahayakan nyawa tersebut, otoritas kereta api di Selandia Baru menerapkan aturan baru untuk kereta wisatanya. Pasalnya banyak penumpang yang berselfie ria dan mengabaikan keselamatan diri mereka.

Dilansir KabarPenumpang.com dari stuff.co.nz (17/4/2019), Selandia Baru berencana menutup gerbong kereta yang terbuka yakni Great Journeys of New Zealand dengan Kiwirail-nya. Kiwirail sendiri merupakan kereta yang digunakan pelancong untuk menikmati beberapa tempat indah di Selandia Baru.

Pada pengumuman yang dirilis pada April kemarin, pihak Kiwirail akan menghilangkan gerbong-gerbong terbuka karena beberapa pelancong nyaris celaka. Manajer umum grup Kiwirail, Katie McMahon mengatakan, pelancong berselfie dengan menantang bahaya karena pemandangan laut yang membentang ke cakrawala di timur dan pegunungan Kaikoura di langit barat yang cukup menakjubkan.

Penutupan gerbong-gerbong ini juga mempengaruhi kereta Northern Explorer dan TranzAlpine Kiwirail. Bahkan Katie mengatakan, fenomena selfie menantang maut ini sendiri ternyata bukanlah hal baru, pasalnya pada Oktober 2011 hingga November 2017 sudah 259 korban meningal karena selfie maut tersebut.

“Terlepas dari sejumlah tanda dan pengumuman di kereta kami yang menunjukkan bahaya ini, kami telah melihat penumpang mencondongkan diri dengan tongkat selfie, iPad dan tubuh mereka, mereka sering tidak menyadari adanya terowongan yang mendekat yang dapat menyebabkan insiden tragis bagi diri mereka sendiri, dan orang lain di kereta. ”
KiwiRail akan meninjau desain platform dan membuat peningkatan dan perubahan yang diperlukan untuk memastikan keselamatan penumpang,” kata Katie.

Dia mengatakan, pihaknya harus menghentikan orang dewasa dan anak-anak untuk bersandar di gerbong atau Kiwirail sebagai operator tidak bisa melaksanakan tugasnya dengan aman.

“Kami berharap ada solusi di tempat segera yang akan memungkinkan kereta terbuka kembali dengan aman. Penumpang telah diberitahu tentang penutupan dan sementara beberapa KiwiRail mungkin kecewa tidak bisa mengambil risiko insiden keamanan yang serius,” katanya.

Great Journeys of New Zealand mengoperasikan empat rute kereta utama, yakni di Coastal Pacific yang membentang antara Christchurch ke Picton di South Island dan TranzAlpine yang melewati Canterbury Plains. KiwiRail berencana untuk mengubah gerbong agar lebih aman sambil tetap memberikan pemandangan indah ke penumpang.

Bukan hanya di Selandia Baru di mana selfie berisiko cedera atau kematian. Pemerintah memang harus mengambil tindakan untuk mencegah pengambilan foto yang berbahaya.
Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh All India Institute of Medical Sciences pada 2018, India memiliki jumlah kematian selfie tertinggi di dunia.

Baca juga: Rocky Mountaineer, Kereta Wisata yang Akan Bawa Anda Menempuh Perjalanan Romantis

Beberapa dari kematian itu mengakibatkan Kota Mumbai bikin ‘zona tanpa selfie’. Di Belanda, petani mengeluh bahwa selfie telah menginjak-injak tulip mereka yang berharga. Lalu, ada lagi yang selfie menghancurkan sebuah patung di museum Portugis ketika mencoba memanjatnya, akhirnya dia harus dipenjara.

Buntut “Grounded Berjamaah,” Tiga Maskapai Cina Getok Boeing dengan Minta Kompensasi

Tiga maskapai penerbangan terbesar di Cina, yaitu Air China, China Southern Airlines dan China Eastern Airlines dikabarkan telah meminta produsen pesawat asal Amerika Serikat, Boeing untuk memberikan kompensasi terkait hilangnya pendapatan mereka akibat “grounded berjamaah” atas pesawat jenis 737 MAX dan dan penundaan pengiriman pesawat jenis yang sama.

Baca Juga: Duh! Tidak Ada Pesanan yang Masuk ke Boeing Sepanjang April 2019

Tidak tanggung-tanggung, Cina meminta kompensasi tiga kali lipat terhadap salah satu manufaktur pesawat terbesar di dunia ini. Tentu saja, tekanan Cina terhadap Boeing ini menjadi bumbu baru diantara situasi Perang Dagang yang terjadi antara Cina dan Amerika Serikat.

Belakangan, Perang Dagang ini juga diwarnai oleh serangkaian tarif impor khusus yang dilancarkan oleh kedua belah pihak. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, kenaikan tarif impor terbaru pemerintah Amerika atas impor Cina menyentuh angka US$200 miliar – dimana angka tersebut menimbulkan kekhawatiran kepada sebagian kalangan bahwa Cina dapat memberikan balasan yang setimpal atau bahkan lebih besar kepada perusahaan asal AS.

Mengutip dari laman Reuters, di antara ketiga maskapai tersebut, Air China dan China Southern Airlines merupakan dua maskapai yang mengikut jejak dari China Eastern Airlines Corp untuk menggugat Boeing dengan cara mengajukan kompensasi.

“China telah mengandangkan 96 pesawat, yang merupakan sekitar 4 persen dari total pesawatnya. Pengandangan itu menyebabkan kerugian besar terhadap maskapai China,” ujar salah satu pakar aviasi Cina, Li Xiaojin.

Ya, diketahui Cina merupakan negara pertama yang meng-grounded Boeing 737 MAX pasca dua kecelakaan maut yang menimpa Lion Air dan Ethiopian Airlines. Mungkin, pihak Cina menganggap jatuhnya dua pesawat Boeing 737 MAX merupakan momentum berharga yang dapat mereka jadikan ujung tombak untuk menyerang pihak AS dan memenangkan Perang Dagang untuk sebagian waktu.

Menurut perhitungan Li Xiaojin, kerugian harian yang diderita pihak maskapai akibat mengandangkan pesawat Boeing mencapai angka 100 ribu yuan atau sekitar US$14.470 per pesawat.

Baca Juga: Borong 300 Pesawat dari Airbus, Inikah Strategi Cina Menangkan Perang Dagang dengan AS?

Mengutip dari laman sumber lain, pihak Beijing menyebut jumlah pesawat 737 MAX yang dioperasikan oleh tiga maskapai penerbangan terbesar Tiongkok sebanyak 53 pesawat. Di luar Cina, maskapai lain yang meminta kompensasi kepada Boeing termasuk Turkish Airlines, United Airlines, Ryanair dan Flydubai.

 

Laba Kian Mengering, Garuda Indonesia Terpaksa Hentikan Sejumlah Rute

Kabar kurang mengenakkan datang dari maskapai plat merah asal Tanah Air, Garuda Indonesia yang dikabarkan akan melakukan evaluasi penerbangan di rute domestik dan internasional. Hal ini ditempuh sebagai langkah tindak lanjut atar kondisi perekonomian perusahaan yang kian memburuk. Menurut Direktur Niaga Garuda Indonesia, Pikri Ilham, penutupan maupun pengurangan frkuensi penerbangan ini akan dilakukan agar perusahaan berstatus Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini masih bisa mendapatkan laba.

Baca Juga: Boeing 737 Garuda Indonesia Dipasangi Livery Mitsubishi Xpander! Ada Apa?

“Kita baru melakukan evaluasi, kita terpaksa melakukan itu (penutupan dan pengurangan penerbangan) agar kita tidak rugi sampai akhir tahun,” ujar Pikri, dikutip KabarPenumpang.com dari laman republika.co.id (22/5/2019).

Pikri menambahkan, penutupan rute ini akan dilakukan untuk penerbangan domestik yang memakan biaya mahal dengan tingkat keterisian penumpang (load factor) yang minim. Rute dengan karakteristik itu utamanya adalah tujuan ke daerah terpencil dan terluar – terutama kawasan Indonesia Timur.

Tercatat memiliki 80 rute penerbangan domestik, Pikri mengatakan bahwa perusahaan tidak akan sekonyong-konyong menutup rute-rute menuju Indonesia Timur tersebut, tanpa ada sebuah pertimbanga yang matang – karena pasalnya, daerah Indonesia Timur sangat minim aksesibilitas jalur darat, berbanding terbalik dengan di wilayah Indonesia Barat yang sudah saling tersambung dengan jalan-jalan nasional.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Ari Askhara menambahkan bahwa pihak maskapai akan mengurangi rute penerbangan menuju Belitung, Morotai, Maumere, hingga Bima. Ari mengatakan bahwa harga bahan bakar di daerah-daerah tersebut juga lebih mahal dan bisa mencapai 80 persen harga normal.

Untuk rute internasional sendiri, Pikri menambahkan bahwa rute yang kurang menguntungkan bagi flag carrier Indonesia ini adalah Jakarta – Amsterdam, salah satu rute terpanjang yang dilayani Garuda Indonesia. Terlepas dari kondisi load factor, rute penerbangan yang menelan biaya operasi seharga US$400 ribu (Rp5,8 miliar) ini beroperasi enam kali dalam seminggu. Dapat Anda bayangkan berapa yang harus dikeluarkan dari kocek perusahaan untuk melakoni satu rute penerbangan ini saja dalam satu minggu?

Baca Juga: 9 Kali Sehari, Garuda Indonesia Lakukan Codeshare dengan Singapore Airlines

Jika merunut ke akar masalahnya, salah satu faktor yang menyebabkan maskapai ini menutup sejumlah rutenya dalah karena kebijakan pemerintah yang meminta maskapai menurunkan tarif batas atas (TBA) harga tiket pesawat sebesar 15%.