Gara-Gara Ikan, Mahasiswi Ini Dikawal Bak Kriminal Saat Masuk Pesawat

Seorang mahasiswi Universitas Colorado dipaksa untuk meninggalkan ikan peliharannya di Bandara Internasional Denver oleh petugas yang mengaku dari Southwest Airlines. Lanice Powless yang akan terbang ke California pergi bersama ikan peliharannya yang berwarna merah muda bernama Cassie.

Baca juga: Lagi Enak Makan Cemilan, Tiba-Tiba Seekor Anjing ‘Nimbrung’ di Celah Kursi Pesawat

Dilansir KabarPenumpang.com dari foxnews.com (17/12/2018), bahwa dirinya mendapatkan ikan tersebut saat tahun pertama perkuliahan untuk menemaninya. Powless mengatakan, dirinya membawa Cassie pada penerbangan sebelumnya dan tidak pernah khawatir akan masalah apapun.

“Aku membawanya kemana-mana bersamaku. Aku bepergian dengannya dan menyimpannya dalam wadah,” kata dia.

Dari situs web TSA, ternyata ikan hidup diperbolehkan dibawa dalam penerbangan asal menggunakan tempat penyimpanan. Dalam situs tertulis, bahwa ikan hidup dalam air dan wadah transparan yang jelas diizinkan setelah diperiksa oleh petugas TSA. Namun ternyata, kebijakan Southwest Airlines hanya mengizinkan kucing dan anjing kecil untuk dibawa dan diletakkan di bawah kursi penumpang.

Karena putus asa, dia meminta kepada petugas untuk meninggalkan ikan peliharannya di konter dan menghubungi temannya agar menjemput dalam waktu setengahnya. Sayangnya, petugas tersebut diduga membantah dan meninggalkan Powless dan mencari penumpang acak maskapai lain jika mereka akan merawat ikan tersebut. Powless yang putus asa kemudian menemukan seorang penumpang yang memungkinkan membawa Cassie bersamanya, tetapi justru petugas bandara meragukannya.

“Mereka tidak mengizinkan kami untuk berbicara sama sekali karena mereka berpikir kami akan melakukan pertukaran rahasia di area bandara. Bahkan setelah saya tidak lagi memiliki ikan, mereka masih terus mengawasi kami, dan mengikuti kami melalui bandara dan mengantar ke pesawat kami, seolah-olah kami membawa sesuatu yang buruk ke bandara,” kata Powless.

“Semua orang menertawakanku. Ya, ini ikan. Aku tahu. Tapi sial, itu hewan peliharaanku. Dan hanya karena itu bukan kucing atau anjing, itu tidak sepenting itu?” Kata Powless.

Baca juga: Kongres Bantu FAA Pertimbangkan Aturan Jarak Kursi, Hewan Peliharaan dan Jumlah Toilet di Pesawat

Southwest Airlines mengkonfirmasi insiden itu dan mengklaim bahwa mereka menawarkan untuk mengubah perjalanan Powless sehingga dia bisa membuat akomodasi untuk ikannya, yang dia sangkal ditolak.

“Tim kami menawarkan untuk memesan kembali untuk penerbangan selanjutnya agar mereka dapat membuat pengaturan hewan peliharaan, tetapi justru pelanggan menolak opsi tersebut. Pelanggan akhirnya melakukan perjalanan pada jadwal penerbangan awalnya,” kata juru bicara maskapai penerbangan.

ARJ Holding, Investor Eksternal Pertama Untuk Proyek Terowongan Kereta Bawah Laut Terpanjang di Dunia

Perusahaan konstruksi yang berbasis di Dubai, ARJ Holding, menginvestasikan €100 juta atau yang setara dengan Rp1,6 triliun di terowongan kereta bawah laut terpanjang di dunia yang menghubungkan Finlandia ke Estonia. Diketahui, ARJ Holding menjadi pemodal eksternal pertama pada proyek ambisius yang rencananya mulai dikerjakan pada tahun 2020 mendatang. Jika tidak meleset, pembangunan terowongan kereta bawah laut ini akan rampung pada 24 Desember 2024.

Baca Juga: Uni Emirat Arab Canangkan Proyek Kereta Peluru Bawah Laut Menuju India

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman thenational.ae (3/12/2018), adapun pembangunan terowongan kereta bawah laut yang menghubungkan dua ibu kota Helsinki dan Tallinn ini menelan dana total sekira €15 miliar atau yang setara dengan Rp247,1 triliun.

“Pendanaan ini akan digunakan misalnya untuk desain terowongan, desain struktural dan perencanaan lingkungan,” ujar Kustaa Valtonen, selaku mitra dari FinEst Bay Area Development Oy, pemimpin proyek ini.

“Ini akan memiliki dampak yang besar,” tandasnya.

Secara geografis, Finlandia dan Estona dipisahkan oleh Teluk Finlandia, dimana setiap tahunnya, ada delapan juta penumpang dan 1,2 juta mobil yang melakukan penyebrangan di antara dua negara ini. Puluhan ribu orang Estonia bekerja di Helsinki dan pulang-pergi dengan menggunakan feri – sementara Tallinn merupakan salah satu destinisi wisata populer bagi Finns (julukan masyarakat Finlandia).

Sumber: Euronews

Terowongan yang direncanakan memiliki panjang mencapai 103 km ini kelak akan menyandang status sebagai terowongan bawah laut terpanjang di dunia.

Kendati belum mulai pembangunan, namun beberapa waktu yang lalu, sebuah toko online mulai menjajakan tiket perjalanan di terowongan kereta bawah tanah ini dengan harga €50 (Rp824.000) untuk sekali perjalanan. Tindakan ini, menurut Kustaa Valtonen, dinilai untuk melihat minat dari masyakarat akan terowongan ini.

Pada kesempatan terpisah, ARJ Holding sangat yakin dapat menyelesaikan proyek tepat waktu, meskipun minimnya dukungan dari pemerintah atau Uni Eropa.

Baca Juga: Serba-Serbi Channel Tunnel, Terowongan Rel Terpanjang Kedua di Dunia

Dikutip dari laman sumber lain, Pemerintah Finlandia dan Estonia mengatakan bahwa mereka akan bekerja keras untuk mendapatkan pendanaan Uni Eropa, yang hanya dapat mencapai 40 persen dari total biaya. Itu berarti, dukungan dari pihak swasta dalam hal pendanaan sangatlah vital.

Hadirnya terowongan kereta bawah laut ini kelak sudah jelas akan memotong estimasi perjalanan antara dua negara ini – semula 2 jam dengan menggunakan feri, namun bisa dipangkas menjadi 30 menit saja dengan menggunakan kereta.

 

Aplikasi ‘e-hailing’ Bantu Pengemudi Taksi Dapatkan Penumpang di Bandara Kuala Lumpur

Dalam meningkatkan daya saing pengemudi taksi di Malaysia, sebuah aplikasi bernama e-hailing hadir dan secara resmi diluncurkan di Bandara Internasional Kuala Lumpur. Kehadiran e-hailing ‘caLLme’ tersebut setelah adanya demostrasi yang dilakukan para pengemudi taksi agar aplikasi tersebut dihapuskan.

Baca juga: Hadir dengan Aplikasi Pemesanan, Akankah Bisnis Taksi Helikopter Naik Daun?

Menteri Transportasi Malaysia, Anthony Loke yang meluncurkan aplikasi tersebut pada Sabtu (15/12/2018) kemarin, juga ikut mencoba memesan melalui aplikasi tersebut. Dia mengatakan, kehadiran e-hailing sendiri agar lebih produktif untuk fokus dan meluangkan waktu dalam meningkatkan daya saing industri taksi dibandingkan demonstrasi.

“Bukan berarti Anda tidak dapat melakukan demo, itu adalah hak Anda untuk menyuarakan ketidakbahagiaan Anda dengan kebijakan pemerintah,” kata Loke yang dikutip KabarPenumpang.com melalui laman thestar.com.my (15/12/2018).

“Tapi kita perlu menghadapi kenyataan, bahwa jika kita ingin meningkatkan industri taksi, kita perlu meningkatkan dengan penggunaan teknologi modern,” tambahnya.

Loke yang memberikan dukungan untuk pengembangan aplikasi oleh Angkasa mengatakan, agar caLLme berhasil, diperlukan banyak strategi upaya pemasaran dan yang lebih penting lagi untuk pengemudi. Loke mengaku bahwa e-hailing telah menjadi tantangan utama untuk bisnis taksi tradisional dimana saat ini sudah ada 70 ribu pengemudi taksi terdaftar dengan 60 persen dari mereka ada di bawah perusahaan.

Ketua Petekma Mohd Syahrir Abd Aziz mengatakan, aplikasi e-hailing ini akan diperluas ke KLIA2 secepatnya, sebelum di luncurkan di kota-kota besar lainnya serta Pulau Langkawi. Presiden Angkasa, Datuk Abdul Fattah Abdullah mengatakan, caLLme hadir dengan tujuan untuk membantu operator taksi dan koperasi di Malaysia.

Dia menambahkan, bahwa gerakan koperasi juga akan bekerja untuk memberi pelatihan bagi pengemudi dalam membantu mereka mendapatkan manfaat dari teknologi baru tersebut. Abdullah mengatakan, saat ini konsumen membutuhkan layanan dengan sentuhan ujung jari, sehingga koperasi harus beradaptasi dengan kebutuhan ini untuk memastikan kelangsungan bisnis mereka.

Baca juga: ‘Ganti Persneling’, Uber Coba Peruntungan Jajal Bisnis Taksi di Jepang

Diketahui, e-hailing sendiri berkolaborasi dengan Gerakan Koperasi Nasional (Angkasa) dan Pengemudi Taksi Malaysia, Limousine dan Asosiasi Operator Sewa Mobil (Petekma). Aplikassi ini telah digunakan lebih dari 1600 pengemudi di KLIA.

Tak Perlu Repot Bawa Kabel, Penumpang South Western Railway Bisa Nikmati Charger Nirkabel

Penumpang kereta api South Western Railway (SWR) di Inggris tidak perlu lagi repot membawa kabel untuk mencharger ponsel pintarnya. Pasalnya SWR yang bermitra dengan Aircharger dan Baker Bellfield telah menghadirkan sistem pengisian nirkabel pertamanya untuk penumpang kelas satu.

Baca juga: Layani Kendaraan Listrik, Momentum Dynamics Rilis Halte Berdaya 200 Kilowatt Nirkabel

Ini adalah pengisian nirkabel ponsel pintar pertama untuk perjalanan SWR dengan rute London Waterloo menuju ke Bournemouth dan Weymouth. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman businesswire.com (21/11/2018), kehadirannya ini di SWR menjadi teman perjalanan terbaik bagi para penumpang kelas satu untuk keperluan bisnis atau pribadi termasuk penggunaan aplikasi check in dan pemabayaran melalui ponsel.

Fitur baru ini nantinya akan memungkinkan penumpang mengisi baterai ponsel pintarnya yang sudah memiliki kemampuan pengisian daya nirkabel Qi. Pengisi daya nirkabel tersebut akan kompatibel dengan lebih dari 130 perangkat ponsel termasuk Samsung dan Apple terbaru.

(Business Wire)

Tak hanya itu Aircharge dan Baker Bellfield adalah nirkabel pengisian unit yang pertama diproduksi khusus untuk kereta api sesuai dengan semua aplikasi dan standar kereta api wajib. Mereka juga memberi IP55 yang menawarkan perlindungan air dan debu. Lebih dari 170 kereta api perusahaan akan menampilkan kemampuan pengisian daya induktif setelah menyelesaikan rencana perbaikannya.

“Pengisian daya nirkabel mewakili masa depan pengisian perangkat seluler dan kemitraan dengan Aircharge akan memungkinkan kami untuk membuat standar baru untuk sektor rolling stock kereta api dan seterusnya,” kata Robert Wilkin, Business Development Manager di Baker Bellfield.

Instalasi kereta api adalah bagian dari rencana pertumbuhan Aircharge untuk memperluas lebih lanjut ekosistem pengisian nirkabelnya menjadi transportasi umum, di samping kehadirannya yang sudah mapan di tempat-tempat umum.

“Hingga saat ini kami telah menerapkan solusi kami untuk bus dan di sejumlah bandara dan stasiun kereta api di seluruh jaringan kereta api Inggris, di Eropa, Amerika Serikat dan Timur Tengah, dan ekspansi ke kereta mengkonsolidasikan posisi kami sebagai penyedia terkemuka untuk sektor transportasi, meningkatkan proposisi ruang publik kami dan menawarkan solusi yang tepat kepada pengguna ketika mereka sangat membutuhkan penyimpanan ponsel mereka,” ujar CEO dan Founder of Aircharge, Steve Liquorish.

Baca juga: Entrupy, Solusi Canggih Identifikasi Barang Palsu via Smartphone

Aircharge sudah menyediakan ekosistem pengisian nirkabel paling luas yang ditempatkan di tempat-tempat umum secara global, termasuk hub transportasi, restoran dan jaringan makanan cepat saji, kafe, hotel, toko ritel dan instalasi kantor.

Singgah di Bandara Perth? Jangan Lupa Rasakan Sensasi Pod Tidur di Terminal 1

Bandara Perth mulai menguji pod tidur di Terminal 1 untuk penumpang internasional. Kehadiran pod ini menjadikan Bandara Perth yang pertama menggunakannya di Australia dan menawarkan layanan tersebut pada pelancong. Pod tidur tersebut ada delapan dan bermitra dengan Smarte Carte serta perusahaan Finlandia GoSleep.

Baca juga: Ada Peluang, Penyedia Layanan Kapsul Tidur Rajai Pasar Bandara Internasional

Dilansir KabarPenumpang.com dari perthairport.com.au (12/12/2018), CEO Perth Airport Kevin Brown mengatakan, kehadiran pod tidur akan cocok untuk penumpang yang datang lebih awal atau melakukan transit untuk melanjutkan penerbangan berikutnya.

“Sebagai Hub Barat Australia, penumpang menghubungkan penerbangan mereka dalam berbagai cara, banyak dari mereka yang memiliki persinggahan singkat. Pod tidur ini menyediakan mereka dan masyarakat umum yang lebih luas dengan tempat untuk bersantai dengan nyaman,” kata Brown.

Dia menambahkan, bahwa kehadiran pod tidur merupakan salah satu komitmen mereka untuk memberikan bandara yang efisien dan modern dengan menyediakan tingkat layanan dan fasilitas yang pantas diterima Western Australia.

GoSleep Pod adalah inovasi Finlandia dan merupakan kursi ramping yang dirancang khusus mirip dengan flatbed kelas bisnis. Tas tangan dapat disimpan dengan aman di bawah kursi saat digunakan, dan tempat bernafas yang dapat dipindahkan menawarkan tempat yang tenang dan pribadi untuk beristirahat.

Kursi memiliki colokan USB dan GPO untuk laptop atau pengisian daya ponsel di dalam pod. Pelancong bisa memesan pod ini secara online di www.perthairport.com.au/sleepingpods atau secara langsung saat berada di bandara tergantung ketersediaannya karena terbatas. Untuk menikmati pod tidur ini akan dikenakan tarif $12 per jam atau tarif khusus untuk menginap lebih lama.

Untuk kenyamanan Penumpang, bantal, selimut dan solusi penyimpanan koper juga akan tersedia dengan menginap pod. CEO GoSleep Jussi Piispanen mengatakan Bandara Perth memimpin bangsa dalam menyediakan solusi tidur bagi para pelancong.

“Pod Tidur kami berada di 15 bandara internasional di seluruh dunia dan sekarang akhirnya juga di bawah. The Go Sleep sleeping pod akan menjadi manfaat besar bagi penumpang yang lelah. Kami sangat senang berada di Australia dan kami berharap dapat menjadi bagian dari banyak perjalanan yang dimulai dan berakhir di Bandara Perth, “kata Piispanen.

Baca juga: Hadirkan The Sleep ‘n Fly Lounge, Bandara Dubai Penuhi Kebutuhan Tidur Pelancong

Manajer Umum Smarte Carte, Sam Khalil mengatakan, pod tidur akan menawarkan kenyamanan dan kemudahan bagi penumpang.

“Gosleep adalah penyedia terkemuka di polong tidur bandara dipesan lebih dahulu sehingga kami senang bermitra dengan mereka. Kami yakin produk ini akan semakin meningkatkan pengalaman penumpang di Bandara Perth dengan menyediakan fasilitas istirahat yang nyaman dengan biaya yang efektif,” kata Khalil.

PT KAI Gandeng Perum Damri, Mudahkan Perjalanan dari Palembang ke Stasiun Gambir

Perjalanan masyarakat dari Palembang, Sumatera Selatan yang hendak ke Stasiun Gambir di Jakarta Pusat, akan dimudahkan dengan kehadiran bus Damri seri eksekutif. Kehadiran pelayanan ini karena PT Kereta Api Indonesia (KAI) menggandeng Perum Damri untuk menintegrasikan kedua moda transportasi darat tersebut.

Baca juga: Tingkatkan Kenyamanan Penumpang, PT KAI Usulkan KRL Kelas Premium

Dikutip KabarPenumpang.com dari kai.id (14/12/2018), kerja sama kedua BUMN ini memungkinkan penumpang yang menggunakan kereta api dari Stasiun Kertapati, Palembang menuju Stasiun Tanjung Karang, Lampung. Kemudian dari Stasiun Tanjung Karang, penumpang kereta akan melanjutkan perjalanan ke Stasiun Gambir dengan bus hanya dengan satu tiket atau single ticketing yang bisa dipesan melalui aplikasi KAI Access.

Tak hanya itu, selain melalui KAI Access pembelian tiket terusan bisa dilakukan di loket Damri Tanjung Karang, loket Stasiun Tanjung Karang maupun melalui aplikasi penjualan tiket kereta api lainnya.

(Instagram @kai121_)

“Kerja sama ini memungkinkan masyarakat menggunakan moda transportasi kereta api dari Stasiun Kertapati, Palembang menuju Stasiun Tanjungkarang, Bandar Lampung, dan dilanjurkan dengan moda transportasi bus hanya dengan satu tiket atau single ticketing,” kata VP Humas PT KAI Agus Komarudin yang dihubungi KabarPenumpang.com, Selasa (18/12/2018).

Adapun pola perjalanan moda transportasi terusan ini dimulai dari KA Sriwijaya yang berangkat dari Stasiun Kertapati pukul 21.00 WIB dan sampai di Stasiun Tanjungkarang pukul 06.10 WIB. Kemudian dilanjutkan dengan angkutan Bus Damri kelas eksekutif dengan keberangkatan pukul 08.00 WIB. Diperkirakan, armada bus sampai di Stasiun Gambir pada pukul 15.00 WIB.

Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan oleh calon penumpang dengan tiket terusan ini adalah setelah penumpang KA Sriwijaya turun di stasiun Tanjung Karang, diharapkan datang di pool Damri Tanjung Karang 30 menit sebelum jadwal keberangkatan armada. Tiket angkutan terusan tersebut dapat diubah jadwal dan dibatalkan.

Dalam hal keterlambatan kedatangan KA Sriwijaya sehingga penumpang angkutan terusan tidak dapat melanjutkan perjalanan menggunakan Bus Damri keberangkatan pukul 08.00 WIB, maka penumpang dialihkan dengan keberangkatan angkutan terusan berikutnya pukul 10.00 WIB. Atau apabila penumpang tidak mau dialihkan, maka bea angkutan Bus Damri akan dikembalikan oleh pihak Damri kepada penumpang angkutan terusan sebesar 100 persen. Pengembalian bea secara tunai atas tarif Bus Damri tersebut dilakukan di counter Damri dengan menyerahkan boarding pass.

Baca juga: Perluas Jangkauan, LRT dan Trans Musi Terapkan Tiket Terusan

“Program Angkutan terusan KAI-Damri ini untuk meningkatkan layanan tambahan bagi para pelanggan KAI, dimana dengan adanya layanan angkutan interkonektivitas antara Kereta Api dan Bus Damri, diharapkan dapat memudahkan para pengguna jasa transportasi dalam melakukan perjalanan dengan aman, nyaman, dan dengan tarif terjangkau menuju kota-kota lain yang terintegrasi dalam satu tiket,” kata EVP Divre IV Tanjungkarang, Sulthon Hasanudin.

Saingi Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Kulon Progo Kelak Juga Bisa Tampung Airbus A380

Jika tidak meleset, Bandara Kulon Progo (New Yogyakarta International Airport/NYIA) akan dapat mulai beroperasi pada awal 2019 mendatang. Tidak hanya sepak terjangnya saja yang dinantikan oleh banyak kalangan, melainkan juga kabar tentang bandara yang mampu menampung armada super besar sekelas Airbus A380 dan Boeing 777. Hal ini diutarakan oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Polana B. Pramesti dalam kunjungannya ke proyek pembangunan Bandara Kulon Progo beberapa waktu yang lalu.

Baca Juga: Ditargetkan Rampung 2019, Ground Breaking Bandara Kulon Progo Dimulai Akhir Bulan Ini

“Bandara baru ini akan mempunyai runway yang lebih panjang dan kapasitas terminal penumpang dan kargo yang jauh lebih besar dari bandara lama di Yogyakarta,” ujar Polana, dikutip KabarPenumpang.com dari laman cnbcindonesia.com (15/12/2018).

“Dengan demikian bisa melayani pesawat besar seperti Boeing B777, Airbus A380, A330 dan lainnya yang mampu terbang jarak jauh dan membawa banyak penumpang,” tandasnya.

Lebih lanjut, Polana menjelaskan bahwa Bandara Kulon Progo yang bersanding dengan Bandara Adi Sutjipto di Yogyakarta dan Bandara Adi Sumarmo di Solo ini dikembangkan dengan konsep sebagai bandara pengumpul untuk melayani penerbangan domestik jarak jauh dan internasional dengan jarak tempuh penerbangan lebih dari 1 jam.

Ke depannya, Bandara Adi Sutjipto akan tetap digunakan untuk penerbangan jarak dekat dan penerbangan general aviation, sedangkan Bandara Adi Soemarmo juga akan tetap dikembangkan untuk rute domestik dan internasional. Adapun beberapa rute internasional yang ditargetkan bisa dilayani dari Bandara Kulon Progo ini misalnya dari Jepang, Cina dan Korea serta Arab Saudi untuk penerbangan umroh.

Hingga saat ini, perkembangan pembangunan keseluruhan infrastruktur di Bandara Kulon Progo sudah mencapai angka 19 persen. Namun untuk pembangunan terminal penumpang sendiri sudah mencapai angka 40 persen dan diperkirakan, terminal internasional tahap 1 sudah dapat dioperasikan pada bulan April 2019 mendatang. Berbeda dengan sektor penunjang pengoperasian lainnya seperti landas pacu, taxiway, hingga apron yang ditargetkan rampung 100 persen pada April tahun depan.

Baca Juga: Meski Didera Isu Penolakan, Pembangunan Bandara Kulon Progo Terus Berlanjut

Bandara yang terletak di Kabupaten Kulon Progo ini kelak akan memiliki landas pacu beralaskan beton dengan panjang 3.250m dan terminal seluas 106.500 meter persegi dengan kapasitas 10 juta penumpang per tahun.

Bandara yang juga akan menjadi suksesor dari Bandara Adi Sutjipto yang dianggap sudah tidak mampu lagi untuk menampung penumpang dan pesawat ini diperkirakan bakal memiliki hanggar seluas 371.125 meter persegi yang mampu menampung hingga 28 unit pesawat.

Prediksi Potensi Turbulensi Secara Real-Time, IATA Luncurkan “Turbulence Aware”

International Air Transport Association atau yang kerap disingkat IATA baru-baru ini meluncurkan sebuah sumber data bernama Turbulence Aware yang dipercaya mampu membantu setiap maskapai untuk menghindari daerah dengan tingkat turbulensi yang cukup tinggi. Turbulence Aware ini dapat di-input oleh setiap pilot ketika tengah merencanakan rute penerbangan secara taktis. Sederhananya, Turbulence Aware akan menampilkan daerah dengan tingkat turbulensi yang cukup tinggi secara real-time berdasarkan laporan dari maskapai yang turut menggunakan fitur ini.

Baca Juga: Peneliti Buktikan Bahwa Guncangan Akibat Turbulensi Bisa Diredam!

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman internationalairportreview.com (13/12/2018), maskapai penerbangan saat ini mengandalkan laporan pilot dan penasehat cuaca untuk mengurangi dampak turbulensi pada operasi mereka. Kendati efektif, namun instrumen ini masih memiliki keterbatasan karena adanya fragmentasi sumber data, inkonsistensi dalam tingkat dan kualitas informasi yang tersedia, hingga ketidaktepatan lokasi dan subjektivitas pengamatan.

Contohnya, tidak ada skala standar untuk tingkat keparahan turbulensi yang dapat dilaporkan seorang pilot selain skala ringan, sedang atau berat, yang menjadi sangat subyektif karena adanya perbedaan ukuran pesawat dan pengalaman pilot. Dengan adanya Turbulence Aware ini, maka diharapkan dapat meningkatkan kemapuan industri penerbangan dengan mengumpulkan data dari berbagai maskapai penerbangan yang berkontribusi, diikuti oleh kontrol kualitas yang ketat.

Kemudian data dikonsolidasikan ke dalam database sumber tunggal, anonim, dan obyektif yang dapat diakses oleh peserta. Data dari Turbulence Aware nantinya akan dikonversi menjadi informasi yang dapat ditindaklanjuti saat di-input ke sistem pengiriman atau penyingkapan udara dari setiap maskapai penerbangan. Hasilnya adalah informasi global, real-time, rinci dan obyektif pertama bagi para pilot untuk mengelola turbulensi.

“Turbulence Aware merupakan salah satu contoh mutakhir dalam potensi transformasi digital di dunia penerbangan yang selalu mengedepankan aspek keselamatan,” ujar Alexandre de Juniac, Direktur Jenderal dan CEO IATA.

“Dalam kasus Turbulence Aware, prediksi turbulensi yang lebih tepat akan memberikan peningkatan nyata bagi penumpang – dimana perjalanannya akan lebih aman dan lebih nyaman,” tandasnya.

Baca Juga: Turbulensi, Guncangan Saat Mengudara Yang Tak Perlu Ditakuti

Tidak bisa dipungkiri, tantangan utama dalam mengelola turbulensi ini diperkirakan akan terus mengalami peningkatan seiring dengan perubahan iklim yang akan berdampak pada pola cuaca. Ini memiliki implikasi untuk keselamatan dan efisiensi penerbangan.

Menurut Federal Aviation Administration (FAA), turbulensi merupakan penyebab utama cedera penumpang dan awak penerbang dalam kecelakaan non-fatal.

 

Dinilai Cocok Untuk Hadapi Penumpang ‘Rese’, Beberapa Maskapai Jepang ini Pekerjakan Pramugara

Ketika mendengar kata awak kabin, tentu yang langsung terlintas di benak Anda adalah seorang wanita berparas cantik, lengkap dengan postur tubuh yang ideal dan berbalutkan seragam dari masing-masing maskapai. Tren ini sudah berlangsung cukup lama, namun kini jaman sudah berubah dan saatnya pramugara yang mengambil alih job desk pendamping penerbangan tersebut. Sebut saja beberapa maskapai asal Negeri Sakura yang mulai ‘memamerkan’ pramugara sebagai awak kabin yang bertugas di dalam sebuah penerbangan.

Baca Juga: Adakah Yang Berbeda Antara Pramugari dan Awak Kabin?

Alasan pengadaan pramugara yang meningkat dalam beberapa waktu ke belakang bukanlah tanpa alasan. Semakin banyaknya jumlah penumpang yang kurang santun dan mabuk selama penerbangan menjadi alasan paling mendasar yang melatarbelakangi meningkatnya jumlah soradan (pramugara) ini. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman scmp.com (16/12/2018), ternyata kebutuhan tersebut sejalan dengan keinginan sebagian pemuda Jepang yang ingin menjadi pramugara.

Sebut saja Koichi Ito, seorang pramugara dari maskapai Star Flyer yang semasa kecilnya, ia pernah berangan-angan untuk menjadi seorang pramugara.

“Mereka (pramugara) keren,” ujar Koichi.

“Suatu saat, saya bertanya-tanya mengapa maskapai penerbangan Jepang hanya mempekerjakan awak kabin perempuan,” katanya.

Dalam beberapa aspek, mungkin pramugara akan unggul ketimbang pramugari – terutama dengan hal-hal yang berkaitan dengan otot seperti mengangkut hand-luggage penumpang ke kompartemen atas dan menangani penumpang yang tidak bersahabat tersebut.

“Di beberapa aspek, pramugara dan pramugari memiliki perbedaan dalam melayani penumpang. Namun ketika digabungkan, sudah jelas itu akan meningkatkan pelayanan terhadap penumpang,” lanjut Koichi.

Bahkan, seorang penulis asal Jepang, Issei Itokawa pernah melakukan penelitian terhadap pramugara yang jumlahnya hingga saat ini masih berada jauh di bawah pramugari. “Ketika saya melakukan penelitian, saya belajar bahwa seorang pramugara lebih memegang peranan untuk segala hal yang berkaitan dengan otot, semisal menangani penumpang yang mabuk dan suka berkelahi,” ujar Issei.

Baca Juga: 10 Seragam Pramugari Paling Ikonik di Dunia

Tercatat, Star Flyer mempekerjakan 160 awak kabin, dimana delapan di antaranya berjenis kelamin laki-laki. Menurut sumber dari Star Flyer, pihak maskapai berencana untuk menambah enam pramugara lagi pada musim panas mendatang.

“Dengan mempekerjakan pramugara, maka ini adalah salah satu cara yang efektif untuk menarik impresi penumpang bahwa kami menawarkan pelayanan yang berbeda dari maskapai-maskapai besar lainnya,” ujar sallah satu juru bicara dari Star Flyer.

Sementara itu untuk maskapai Jetstar Japan, mereka mempekerjakan sekira 15 persen pramugara dari keseluruhan awak kabin – berbanding terbalik dengan dua maskapai raksasa Jepang, Japan Airlines dan All Nippon Airlines yang hanya mempekerjakan sekitar 1 persen pramugara dari keseluruhan awak kabin.

 

Terus Kembangkan Shinkansen, JR East Uji Coba ALFA-X

Jepang memang terkenal sebagai negara yang memiliki kekuatan sangat besar di sektor perkeretaapiannya. Tidak bisa dipungkiri, negara berjuluk Negeri Sakura ini selalu berupaya untuk menelurkan satu inovasi baru bagi si ular besi – salah satunya yang baru-baru ini terjadi adalah East Japan Railway Co. (JR East) yang merilis test version dari kereta shinkansennya. Di mata dunia, shinkansen seolah sudah menjadi lambang supremasi di sektor perkeretaapian dunia, tapi Jepang tidak lantas puas dengan predikat tersebut.

Baca Juga: Mendapat Tentangan dari Oposan, Beginilah Sejarah Singkat Kereta Cepat Shinkansen

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman japantimes.co.jp (12/12/2018), JR East meluncurkan ALFA-X, sebuah kereta peluru yang digadang-gadang mampu meluncur hingga kecepatan 360km/jam pada hari Rabu (12/12/2018) kemarin di Kobe. Sebenarnya, ALFA-X ini merupakan singkatan dari Advanced Labs for Frontline Activity in rail eXperimentation.

Kereta 10 rangkaian yang didominasi oleh warna silver dan mamiliki garis hijau melintang ini merupakan mahakarya dari Kawasaki Heavy Industries Ltd. yang di rakit di Prefektur Hyogo. Menurut pihak Kawasaki sendiri, kereta ini akan rampung pada bulan Mei 2019 mendatang. Dijadwalkan, kereta ini akan melakukan uji coba berkecepatan tinggi di jalur Tohoku Shinkansen untuk mengumpulkan sejumlah data – salah satunya adalah data reduksi suara.

Kereta nomor 1 atau lokomotif yang diuji coba pada hari Rabu kemarin ini memiliki panjang hidung sekira 16m. Sedangkan lokomotif pada bagian belakangnya, menurut Kawasaki Heavy Industries Ltd., akan memiliki ukuran hidung yang lebih panjang, “kurang lebih 22m,” ujar salah satu sumber dari Kawasaki Heavy Industries Ltd.

Adapun fokus dari uji coba ini adalah JR East ingin mempelajari perbedaan tekanan dan suara di antara dua hidung kereta ketika memasuki terowongan. Jika dibandingkan dengan kereta yang ada sekarang ini, hidung dari ALFA-X lebih panjang sekira 1m – sebut saja shinkansen seri E-5 Hayabusa yang memiliki panjang hidung 15m.

Baca Juga: Hokkaido Shinkansen, Bisa Tetap Kebut Walau di Bawah Laut

Selain daripada itu, pihak operator juga akan menguji beberapa sistem pengopersian lainnya, seperti rem darurat, fungsi anti-anjlok jika terjadi gempa bumi, hingga beberapa fitur baru yang ditambahkan pihak Kawasaki Heavy Industries Ltd. untuk mereduksi getaran.