Terus Kembangkan Shinkansen, JR East Uji Coba ALFA-X

Jepang memang terkenal sebagai negara yang memiliki kekuatan sangat besar di sektor perkeretaapiannya. Tidak bisa dipungkiri, negara berjuluk Negeri Sakura ini selalu berupaya untuk menelurkan satu inovasi baru bagi si ular besi – salah satunya yang baru-baru ini terjadi adalah East Japan Railway Co. (JR East) yang merilis test version dari kereta shinkansennya. Di mata dunia, shinkansen seolah sudah menjadi lambang supremasi di sektor perkeretaapian dunia, tapi Jepang tidak lantas puas dengan predikat tersebut.

Baca Juga: Mendapat Tentangan dari Oposan, Beginilah Sejarah Singkat Kereta Cepat Shinkansen

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman japantimes.co.jp (12/12/2018), JR East meluncurkan ALFA-X, sebuah kereta peluru yang digadang-gadang mampu meluncur hingga kecepatan 360km/jam pada hari Rabu (12/12/2018) kemarin di Kobe. Sebenarnya, ALFA-X ini merupakan singkatan dari Advanced Labs for Frontline Activity in rail eXperimentation.

Kereta 10 rangkaian yang didominasi oleh warna silver dan mamiliki garis hijau melintang ini merupakan mahakarya dari Kawasaki Heavy Industries Ltd. yang di rakit di Prefektur Hyogo. Menurut pihak Kawasaki sendiri, kereta ini akan rampung pada bulan Mei 2019 mendatang. Dijadwalkan, kereta ini akan melakukan uji coba berkecepatan tinggi di jalur Tohoku Shinkansen untuk mengumpulkan sejumlah data – salah satunya adalah data reduksi suara.

Kereta nomor 1 atau lokomotif yang diuji coba pada hari Rabu kemarin ini memiliki panjang hidung sekira 16m. Sedangkan lokomotif pada bagian belakangnya, menurut Kawasaki Heavy Industries Ltd., akan memiliki ukuran hidung yang lebih panjang, “kurang lebih 22m,” ujar salah satu sumber dari Kawasaki Heavy Industries Ltd.

Adapun fokus dari uji coba ini adalah JR East ingin mempelajari perbedaan tekanan dan suara di antara dua hidung kereta ketika memasuki terowongan. Jika dibandingkan dengan kereta yang ada sekarang ini, hidung dari ALFA-X lebih panjang sekira 1m – sebut saja shinkansen seri E-5 Hayabusa yang memiliki panjang hidung 15m.

Baca Juga: Hokkaido Shinkansen, Bisa Tetap Kebut Walau di Bawah Laut

Selain daripada itu, pihak operator juga akan menguji beberapa sistem pengopersian lainnya, seperti rem darurat, fungsi anti-anjlok jika terjadi gempa bumi, hingga beberapa fitur baru yang ditambahkan pihak Kawasaki Heavy Industries Ltd. untuk mereduksi getaran.

 

 

Pesawat Rusak Sebelum Take-Off, Penumpang Diminta Patungan Untuk Tutupi Bea Reparasi

Para penumpang flag carrier Polandia, LOT Polish Airlines dibuat terkejut setelah setiap dari mereka ditagih bea tambahan untuk memperbaiki pesawat rusak yang mereka tumpangi. Nominal yang tujukan oleh pihak maskapai juga tidaklah sedikit – US$350 atau yang setara dengan Rp5,1 juta. Tentu hampir semua penumpang LOT Polish Airlines yang kala itu hendak mengudara dari Beijing menuju Warsawa dibuat tercengang dan tidak percaya dengan apa yang mereka dengar pada awal November 2018 silam.

Baca Juga: Ternyata 9 Jenis Barang Ini Sering Tertinggal di Bandara Lho!

Seperti yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, kejadian ini berawal dari delay yang melanda LOT Polish Airlines. Menurut pihak maskapai, delay tersebut dilatarbelakangi oleh masalah pada bagian hidrolik – dimana pesawat membutuhkan sebuah pompa baru agar pesawat tersebut bisa terbang.

Setelah menunggu sekian lama, akhirnya proses pemasangan pompa baru tersebut rampung dan pihak maskapai mulai meminta bantuan dari para penumpang untuk membayar bill dari pihak Boeing – selaku penyedia pompa anyar tersebut.

Menanggapi kejadian yang mencoreng nama baik perusahaan ini, juru bicara dari LOT Polish Airlines Adrian Kubicki mengatakan bahwa kala itu pihak Boeing enggan menerima pembayaran dalam bentuk transfer.

“Seorang karyawan di gudang pengadaan Boeing di Beijing menolak untuk menerima transfer bank dan bersikeras untuk melakukan pembayaran dengan uang tunai,” ujar Adrian.

“… Tidak ada keadaan yang membenarkan bahwa pihak maskapai meminta uang dari penumpang,” tandasnya membela diri.

Adrian melanjutkan bahwa jika ada petugas yang meminta uang kepada penumpang, “akan dikenakan sanksi atas tindakan indisipliner,”

Namun pernyataan yang dilontarkan oleh Adrian tersebut seolah berbanding terbalik dengan apa yang diutarakan oleh Daniel Golebiowski, seorang penumpang yang menjadi saksi dari kejadian kontroversial ini.

Baca Juga: Koper Anda Hilang atau Tertukar? Baggage Claim Jadi Solusinya

“Kami berada di bandara internasional. Saya tidak percaya bahwa transaksi dilakukan dengan uang tunai dengan mekanik yang berdiri di samping pesawat. Luar biasa,” ujar Daniel, dikutip dari laman khaleejtimes.com (22/11/2018).

Terlepas dari fakta yang terjadi di lapangan, para penumpang yang sudah menyisihkan sebagian uangnya untuk proses reparasi tersebut mendapatkan biaya ganti rugi yang setimpal dengan nominal yang sudah mereka keluarkan plus sejumlah voucher sebagai bentuk kompensasi terhadap delay sekira 10 jam yang sudah mereka lewati.

 

Ada Logo Garuda Indonesia di Sriwijaya Air, Gabung Seutuhnya Atau Tetap KSO?

Baru-baru ini beredar foto logo Garuda Indonesia terpasang di badan pesawat milik maskapai Sriwijaya Air. Apakah ini menjadi pertanda Sriwijaya Air akan bergabung secara penuh dengan Garuda Indonesia atau hanya kerja sama operasi (KSO) seperti yang sebelumnya ramai dibicarakan?

Baca juga: Garuda Indonesia Pilih Mitsubishi Xpander untuk Kendaraan Awak Kabin

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, adanya lambang Garuda Indonesia ini kemudian ditegaskan oleh pihak Sriwijaya Air bahwa hal tersebut hanya sebatas KSO saja. Direktur Utama Sriwijaya Air Joseph Adrian Saul mengatakan, pada perjanjian KSO ini lebih terarah ke kerja sama dalam bidang marketing dan manajemen perusahaan.

Joseph mengatakan, tidak ada akuisisi terhadap Sriwijaya Air dan pihak Garuda Indonesia Group full membantu bukan mengambil alih. Dia menjelaskan, dimana manajemen akan diganti dengan orang-orang Garuda.

“Manajemennya kita ganti dulu dengan orang Garuda, tapi tidak ada yang namanya penggantian saham, pengambilan saham. Kita sama sekali tidak beli saham,” ujar Joseph.

Dia menambahkan, laporan keuangan maskapai tersebut akan terpisah dengan maskapai berplat merah itu. Joseph mengaku, dirinya datang ke Sriwijaya setelah diangkat oleh CEO Sriwijaya Air Chandra Lie.

“Saya datang ke situ untuk bantu managemen, diangkat pak Lie sebagai Dirut untuk membantu Sriwijaya. Tak ada perubahan signifikan. KSO seperti itu, kita manage marketing dan operasional Sriwijaya supaya lebih baik lagi,” kata Joseph.

KSO yang akan berlangsung diketahui akan berlaku selama tiga tahun mendatang, dimana Garuda Indonesia Group akan terdiri dari empat maskapai yakni Garuda Indonesia, Citilink, Sriwijaya Air dan NAM Air. VP Corporate Secretary Garuda Indonesia Ikhsan Rosan menambahkan, perubahan sedikit pada tampilan pesawat Sriwijaya akan sama dengan Citilink yang akan menggunakan logo ‘Member of Garuda Indonesia’.

Baca juga: Sriwijaya “Travel Pass” Memang Memikat, Tapi Jangan Lupa Ada Syarat dan Ketentuan Berlaku

“Sama seperti Citilink kan ada logo Member of Garuda Indonesia. Nah pemasangan logo di Sriwijaya ini sebagai bagian dari sinergi operasi bersama,” kata Ikshan.

Dia mengatakan semua pesawat yang dioperasikan Sriwijaya akan menggunakan logo tersebut mulai 16 Desember 2018. Seragam yang akan dikenakan awak kabin maskapai asal Kota Pempek ini juga sama dengan Garuda Indonesia. Diketahui, Garuda Indonesia Group beberapa waktu lalu mengumumkan pengambilalihan operasional dan keuangan Sriwijaya Air Group. Operasional termasuk finansial akan ditangani oleh anak usaha Garuda Indonesia yakni Citilink yang merupakan maskapai berbiaya rendah atau low cost carrier (LCC).

Lanjutkan Pencarian Korban dan CVR JT-610, Lion Air Kucurkan Rp38 Miliar untuk Sewa MPV Everest

Sebelum komponen black box berupa Cockpit Voice Recorder (CVR) dapat ditemukan, maka investigasi tentang sebab musabab jatuhnya pesawat Boeing 737 Max 8 Lion Air JT-610 pada 29 Okober 2018, belum dapat dituntaskan. Selama ini Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) baru menggunakan parameter data yang terbaca di dalam Flight Data Recorder (FDR) sebagai invesitigasi awal.

Baca juga: Pencarian CVR Lion Air JT-610 – Sedot Lumpur di Perairan Tanjung Karawang Akan Dilakukan dalam Waktu Dekat

KNKT dan pihak-pihak terkait masih berupaya keras untuk bisa menemukan VCR. Selain kapal dengan kemampuan sedot lumpur, dari pihak Lion Air dikabarkan telah mendatangkan kapal canggih dari perusaan asal Belanda, dan yang diturunkan untuk misi pencarian dan evakuasi di Tanjung Karawang adalah MPV Everest yang ber-homebase di Johor Bahru, Malaysia.

Dikutip dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (16/12), Upaya pencarian lanjutan tersebut merupakan bentuk komitmen Lion Air dan berdasarkan permintaan dari pihak keluarga.

Presiden Direktur Lion Air Group, Edward Sirait (keempat dari kiri) bersama tim melakukan kunjungan dan koordinasi dalam persiapan pengoperasian MPV Everest di Johor Bahru, Malaysia.

Untuk lebih komprehensif Lion Air mendatangkan kapal canggih dalam proses pencarian jenazah penumpang maupun kru penerbangan JT-610. Dalam hal ini apabila ditemukan maka akan diambil dan diserahkan kepada Badan SAR Nasional (BASARNAS) guna tindakan selanjutnya sesuai prosedur. Proses pencarian juga dilakukan terhadap kotak hitam, CVR.

Lion Air menganggarkan dana sendiri untuk pencarian kembali senilai Rp38 miliar. Proses pencarian akan difokuskan berdasarkan pemetaan terakhir area koordinat jatuhnya penerbangan waktu operasional 10 hari berturut-turut, pada Desember 2018.

Informasi terkini, bahwa kapal mengalami keterlambatan yang rencananya akan tiba di perairan Karawang pada (17/12). Kondisi terakhir malam hari (15/ 12) disebabkan cuaca buruk serta hujan deras di Johor Bahru yang mengganggu proses mobilisasi peralatan dan kru selama tiga hari terakhir.

Baca juga: Makin Dekat ke Pembatalan Pesanan, Mungkinkah SJ100 Masuk ke Dalam Daftar Belanja Lion Air?

Direncanakan kapal akan berlayar (17/12), dengan pagi hari dimulai proses imigrasi dan kepabeanan (customs). Hal ini dikarenakan kapal berkapasitas sebesar MPV Everest tidak diberikan izin untuk keluar dari pelabuhan pada malam hari. Perkiraan waktu tempuh perjalanan dari Johor Bahru menuju perairan Karawang adalah 2 hari dan 5 jam. Sehingga kapal akan tiba di Karawang sekitar (19/ 12).

Jari Terjepit di Sandaran Bangku, Penumpang ini Gugat American Airlines dan SkyWest Airlines

Seorang penumpang pria melayangkan gugatan kepada pihak maskapai asal Amerika, American Airlines Inc. dan SkyWest Airlines Inc. beberapa waktu yang lalu. Gugatan tersebut dilayangkan pasca pria ini mengaku jari kelingkingnya terjerat di dalam mekanisme sandaran tangan selama hampir satu jam lamanya. Adalah Stephen Keys, si penggugat yang mengajukan gugatannya ini di Pengadilan Tinggi Los Angeles.

Baca Juga: Cidera Otak, Penumpang Ini Gugat American Airlines Senilai US$10 Juta

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman nbcbayarea.com (11/12/2018), entah bagaimana caranya kelingking Stephen bisa terjerat dan berujung pada luka memar yang dideritanya, namun ia mengaku tidak bisa menjalani rutinitasnya secara normal dengan kondisi jarinya yang terluka.

Ketika dimintai keterangan, pihak SkyWest Airlines mengatakan, “kenyamanan dan keamanan penumpang adalah prioritas utama kami,”

Jari Stephen Setelah Terjepit. Sumber: istimewa

“Kami bekerja sama dengan mitra kami untuk menghubungi korban (Stephen Keys) dan menanyakan bagaimana kondisi terkini dari lukanya itu. Besar harapan kami dapat menyelesaikan masalah ini dengan cepat,” tulis pihak SkyWest Airlines dalam sebuah keterangan tertulis.

“Dikarenakan proses litigasi yang masih berlangsung, kami tidak bisa berkomentar lebih jauh,” tandasnya.

Menurut gugatan yang diajukan tertanggal 5 Desember kemarin, kejadian ini sendiri terjadi pada tanggal 9 September lalu, dimana Stephen berada di dalam penerbangan 3095 yang dijadwalkan bertolak dari Reno, Nevada menuju Los Angeles pada pukul 12.40 waktu setempat.

Kala itu, Stephen tengah berupaya untuk menangkat sandaran tangan untuk mengambil sabuk pengaman, namun sial, jari kelingking tangan kanannya malah terjepit di dalam lubang kecil yang terletak di bawah sandaran tangan tersebut.

“Mekanisme pegas yang tertanam di dalam lubang inilah yang akhirnya menjerat jari kelingking dari Stephen,” ujar pihak penggugat.

Ketika sadar jarinya ‘terperangkap’, Stephen mencoba untuk tenang dan terus mencoba untuk melepaskan jarinya tersebut.

“Pada saat itu, penumpang lain mulai sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan Stephen dan tak pelak ia menjadi sorotan seisi kabin – ia menjadi tontonan,” lanjut si penggugat.

Setelah lebih kurang satu jam berada di kondisi jari terjepit, pesawat akhirnya mendarat dan pihak maskapai lalu memanggil petugas pemadam kebakaran untuk membantu Stephen melepaskan jarinya ini.

Baca Juga: Kisruh Pemesanan Kursi, Swiss Airlines Hadapi Gugatan dari Penumpang

Namun sial (lagi), petugas pemadam tidak berhasil membuat Stephen bernapas lega. Segala cara coba dilakukan agar jari kelingking Stephen bisa bebas, sampai-sampai pihak maskapai mendatangkan mekanik untuk membongkar sandaran tangan tersebut.

Pasca kejadian, Stephen mengalami rasa sakit yang amat sangat pada bagian jarinya dan ia mengaku menjadi pribadi yang sangat tempramen.

Duh, ada-ada saja ya!

 

Lupa Nyalakan Airplane Mode, Penumpang Aer Lingus Kena Denda Jutaan Rupiah!

Sebagai penumpang pesawat, satu hal yang tidak boleh dilupakan sebelum pesawat lepas landas adalah mematikan perangkat elektronik yang menancarkan sinyal, atau menghidupkan airplane mode pada ponsel. Namun karena alasan terburu-buru dan lupa, kadang beberapa penumpang kerap terlupa untuk menambahkan logo pesawat pada bagian notification bar di ponselnya. Memang, tidak ada hukuman yang berat jika Anda melupakan hal yang satu ini, namun apa jadinya jika Anda mendapatkan tagihan tambahan dari provider ponsel karena Anda lupa menghidupkan airplane mode?

Baca Juga: Ini Lho Fungsi Lain dari Airplane Mode!

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman geek.com (4/12/2018), seorang penumpang maskapai Aer Lingus dikenakan bea sebesar US$300 atau yang setara dengan Rp4,3 juta dari provider ponselnya, AT&T setelah dirinya kedapatan lupa menghidupkan airplane mode di dalam penerbangannya menuju Amerika. Sebenarnya, ini merupakan sebuah kecelakaan dimana si penumpang lupa menghidupkan airplane mode karena ponselnya disimpan di kompartemen atas dan ia tidak menyadari hal tersebut.

Menurut laman sumber, penumpang apes ini terpaksa menanggung biaya karena ponselnya terhubung ke jaringan roaming penerbangan. Lalu, bagaimana pihak AT&T bisa melacak jaringan si penumpang yang tengah berada di dalam sebuah penerbangan?

“Melalui antena yang dipasang di pesawat yang beroperasi di luar unlimited international roaming plan,” ujar salah seorang juru bicara dari AT&T.

“Antena ini dapat tersambung secara otomatis dengan ponsel yang tidak menghidupkan airplane mode dan denda akan mulai dikenakan sepanjang perjalanan walaupun ponsel tersebut tidak dipakai oleh si pengguna” tandasnya.

Senada dengan juru bicara AT&T, seorang eksekutif di maskapai Aer Lingus juga mengutarakan hal yang hampir sama.

“Jika airplane mode penumpang mati, maka ponsel penumpang akan terhubung ke in-flight roaming network dan penumpang tersebut akan mendapatkan tagihan tambahan dari provider ponsel masing-masing,” ujarnya.

Baca Juga: Meski Tak Signifikan, Dengan Airplane Mode Waktu Pengisiaan Baterai Smartphone Jadi Lebih Cepat

Agar penumpang yang terkena bea tambahan ini tidak kebingungan dengan apa yang baru saja ia terima, biasannya pihak provider akan mengirimkan sebuah pesan yang berisikan informasi mengenai rincian dari bea tersebut – namun tidak sedikit juga provider yang tidak menginformasikan ini.

Jadi, pastikan Anda sudah mengaktifkan airplane mode sebelum mengudara ya!

Mei 2019, ANA Hadirkan Airbus A380 dengan Motif Unik Kura-Kura

Biasanya, mendekati Hari Raya Natal seperti sekarang ini, ada beberapa maskapai yang mendatangkan armada dengan livery khusus – yang tentu saja berhubungan dengan Santa Claus atau hal-hal lain yang berkaitan dengannya. Tapi jalan lain malah ditempuh oleh maskapai asal Jepang, All Nippon Airways (ANA), dimana maskapai ini diketahui baru saja mendatangkan Airbus A380 dengan livery bermotif kura-kura.

Baca Juga: EVA Air – Anak Perusahaan Evergreen Group, Pernah Memasang Livery Terlucu dalam Sejarah

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman flightglobal.com (13/12/2018), pihak ANA membagikan foto dari armada berlivery unik ini langsung dari Hamburg setelah kurang lebih 21 hari berada di sana untuk dihias. Menurut pihak manufaktur, Airbus, adapun satu dari tiga armada A380 yang dipesan oleh ANA ini akan menjalani finishing pada bagian kabin dan menjalani beberapa uji coba di darat dan uji coba penerbangan.

Sumber: flightglobal.com

Rencananya, armada Airbus A380 ini akan beroperasi di rute penerbangan dari Narita menuju Honolulu mulai bulan Mei 2019 mendatang. Sebenarnya, livery unik ini merupakan pemenang dari kontes yang diadakan pada tahun 2016 silam.

Sumber: flightglobal.com

“Flying Honu, ini merujuk pada kura-kura asli Hawaii,” ujar pihak ANA sembari menceritakan secara singkat sejarah dari livery ini.

Baca Juga: Sambut Pesanan Airbus A380 Ke-100, Emirates Pasang Livery Presiden Pertama Uni Emirat Arab

Terlepas dari pesanan ANA ini, Airbus A380 sendiri memiliki beberapa livery yang berkaitan dengan Hawaii. Nantinya, akan ada emerald green yang merujuk pada pantai Hawaii, oranye yang merujuk pada sunset di Hawaii, hingga biru yang merujuk pada langit Hawaii.

Garuda Indonesia Pilih Mitsubishi Xpander untuk Kendaraan Awak Kabin

Selain kondang dengan armada pesawatnya, hal lain yang khas dari Garuda Indonesia adalah kendaraan awak kabin (air crew) yang kerap terrlihat wara wiri di jalan raya. Dengan tugas menjemput dan mengantar penerbang dan awak kabin dari dan ke bandara, mobil minibus dengan livery dan logo maskapai ini begitu lekat di mata warga.

Dan setelah belakangan ini menggunakan Honda Mobilio untuk air crew, kini Garuda Indonesia merubah pilihannya kepada Mitsubishi. Hal ini dikatakan Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara, karena sebagai maskapai plat merah yang memiliki standar tinggi, pemilihan terhadap kendaraan operasionalnya pun harus aman dan nyaman.

Baca juga: Garuda Indonesia Buka Rute Kertajati–Tanjung Karang– Palembang dan Kertajati–Balikpapan-Tarakan

Ari mengatakan, pemilihan Mitsubishi Xpander sendiri memberikan kenyamanan bagi awak kabin Garuda. Sebelumnya, awak kabin Garuda Indonesia sendiri menggunakan kendaraan operasional dari Toyota atau Honda yang baru saja ditinggalkan.

“Jadi faktor pertama itu keamanan, tentunya kendaraan harus aman. Kedua harga, ketiga kenyamanan,” kata Air yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber.

Ari mengatakan, pihaknya saat ini sudah memesan 401 unit Mitsubishi Xpander sebagai kendaraan operasional awak kabin. Tetapi angka tersebut baru mencapai setengah dari kebutuhan total Garuda Indonesia terkait operasionalnya di seluruh Indonesia.

Dia mengatakan, untuk operasional Garuda Indonesia di seluruh Indonesia sendiri membutuhkan kurang lebih 800 unit. Menurutnya, jika pihak Mitsubishi mampu menghadirkan lebih, Garuda Indonesia akan memesannya lagi.

Ari menambahkan, jika nantinya Citilink dan Sriwijaya Air digabung, maka potensi Mitsubishi menjual kendaraan penumpang akan semakin besar. “Kalau tahun depan Citilink dan Sriwijaya digabung pasti lebih dari 1.000 unit. Ini kesempatan buat Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) menawarkan keselamatan pada kami.”

Penyerahan pertama Mitsubishi Xpander sebanyak 119 unit pada Oktober 2018 kemarin dan sudah beroperasi. Penyerahan kedua yakni pada Selasa (11/12/2018) sebanyak 282 unit. Xpander yang dipesan maskapai penerbangan Garuda Indonesia merupakan varian GLS transmisi manual lima percepatan warna Sterling Silver Metallic. Tidak ada tambahan fitur lain kecuali stiker Garuda Indonesia di eksterior.

Harga Mitsubishi Xpander yang dijual di Indonesia mulai dari Rp201,1 juta sampai Rp225,9 juta. Xpander yang disewa pihak Garuda Indonesia adalah varian GLS M/T dengan warna Sterling Silver Metallic, yang telah dipasang stiker/decal branding sesuai dengan karakter Garuda Indonesia.

Baca juga: Sebelum Buka Rute Ke AS, Garuda Indonesia Bersiap Buka Penerbangan Langsung Ke Istanbul

Khusus GLS M/T yang dipakai Garuda Indonesia harganya Rp217,6 juta on the road Jabodetabek. Bicara spesifikasi Xpander, di balik kapnya terdapat mesin jenis 4A91 1.5 L MIVEC DOHC 16 katup. Mesin itu berkapasitas bulat 1.499 cc. Mesin mampu menyemburkan tenaga hingga 77 PS pada 6.000 rpm dengan torsi maksimal 141 Nm pada 4.000 rpm.

Soal fitur safety, Mitsubishi Xpander sudah memiliki fitur ABS dan EBD. Semua tipe Xpander dilengkapi dengan SRS airbag, seatbelt tiga titik dengan force limiter dan seatbelt reminder buzzer, ISOFIX serta Child Proof Lock. Bahkan di Xpander tipe Ultimate A/T, dan tipe Sport sudah ada Hill Start Assist dan Active Stability Traction Control.

Diduga Menabrak Drone, Hidung Boeing 737-800 Aeromexico Penyok Parah!

Area di sekitar landas pacu haruslah steril dari apapun. Jika tidak, nasibnya akan berakhir seperti maskapai Aeromexico yang dikabarkan mengalami benturan dengan sebuah drone sesaat sebelum pesawat landing di Tijuana, Rabu (12/12/2018) kemarin. Adapun imbas dari kejadian ini adalah bagian hidung pesawat Boeing 737-800 penyok parah dan harus diperbaiki secepat mungkin agar armada Aeromexico ini bisa kembali mengudara.

Baca Juga: Audi Pop.Up Next – Terhambat Regulasi, Baru Akan Dirilis 10 Tahun Lagi

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman bloomberg.com (14/12/2018), Perusahaan induk Meksiko terutama bergerak dalam penyediaan layanan transportasi kargo penumpang dan udara, Grupo Aeromexico SAB kini tengah melakukan investigasi mendalam terkait insiden ini.

Sebelumnya, armada Aeromexico dengan nomor penerbangan 773 ini bertolak dari Guadalajara. Dalam rekaman kabin, terdengar seperti sebuah ledakan yang cukup keras sesaat sebelum pesawat touchdown di Tijuana.

“Penyebab pastinya masih diselidiki,” tutur pihak Aeromexico dalam sebuah pernyataan tertulis. “Pesawat mendarat dengan normal dan keseluruhan penumpang dan awak kabin tidak mengalami cidera,” tandasnya.

Setelah sebelumnya bird strike menjadi momok menakutkan bagi para pilot, kini dengan menjamurnya drone, maka hal ini menjadi kekhawatiran baru bagi para penerbang. Dapat Anda bayangkan bagaimana jadinya jika sebuah drone yang notabene dikendalikan oleh orang dari darat dapat mengakibatkan satu pesawat yang berisi penumpang penuh mengalami kecelakaan. Sangat mengerikan, bukan?

Kekhawatiran sektor aviasi global akan teknologi drone ini berbuntut pada pelarangan penggunaan drone di jalur penerbangan di sejumlah negara. Hal ini nantinya akan didukung oleh regulasi yang mengatur tentang drone, sehingga jutaan drone yang sudah dibeli di seluruh dunia dapat dikontrol penggunaannya. Terlepas dari ini semua, masih banyak orang di luar sana yang tidak paham dan tidak mau mencari tahu tentang bahayanya menerbangkan drone sembarangan.

Baca Juga: Bird Strike! Masih Jadi Momok Menakutkan dalam Dunia Penerbangan

Kembali pada kasus Aeromexico ini, dapat di lihat pada foto di atas, dimana bagian hidung dari armada ini mengalami kerusakan yang cukup parah. Tidak diketahui berapa lama proses reparasi yang dibutuhkan untuk membetulkan kerusakan semacam ini, namun dengan mengedepankan alasan keselamatan, pihak Aeromexico tidak akan mengoperasikan pesawat ini terlebih dahulu sampai kondisinya sudah laik terbang.

MRT Jakarta Pertimbangkan Kehadiran ‘Gerbong’ Khusus Penumpang Wanita

Pelecehan seksual terhadap wanita kerap kali terjadi di angkutan umum seperti kereta, bus dan lainnya. Untuk mengatasi hal tersebut PT TransJakarta dan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) sudah memberikan ruang khusus terhadap penumpang wanita supaya lebih merasa aman dan nyaman selama perjalanan mereka.

Baca juga: Tingkat Pelecehan Seksual di Udara Meningkat, Dua Maskapai India Perkenalkan “Pink Rows”

Untuk Commuter Line sendiri khusus untuk wanita ada di gerbong pertama dan terakhir. Sedangkan TransJakarta berada di bagian depan bus hingga sekat pertama untuk bus model biasa, sedangkan untuk bus gandeng, bagian bus pertama untuk penumpang wanita. Bagaimana dengan Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta yang akan mengular di jalanan ibukota pada Maret 2019 mendatang?

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, pihak PT MRT Jakarta saat ini masih melakukan pertimbangan untuk menghadirkan mobil (gerbong) penumpang khusus untuk wanita dalam layanannya. Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, pihaknya akan mengumpulkan masukan publik terkait kemungkinan penyediaan mobil penumpang khusus wanita.

“Kami masih mendiskusikannya. Kami juga mencari masukan dari masyarakat, ”kata William.

William mengatakan alternatif untuk MRT Jakarta dalam memberikan mobil penumpang khusus wanita akan ada pada jam-jam sibuk seperti pagi hari dan sore hari. Dia mengatakan akan ada kesempatan untuk mobil penumpang khusus wanita adalah 50-50.

“Kami mungkin memberikan layanan selama jam sibuk. Skenarionya adalah kami menyediakan mobil khusus untuk wanita saja,” jelas William.

Diketahui saat ini proyek pengerjaan MRT mencapai 97,5 persen. Untuk fase pertama ini, PT MRT Jakarta dari Lebak Bulus menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI) atau sebaliknya akan dilayani 14 kereta dengan jarak sepanjang 16 km. Sedangkan untuk dua kereta lainnya akan menjadi kereta cadangan dan disimpan di Depo Lebak Bulus.

Baca juga: Jadi Korban Pelecehan Seksual di LRT, Wanita ini Malah Kena Bully Warganet

Tak hanya itu, fase kedua MRT Jakarta dari Bundaran HI menuju ke Stasiun Kampung Bandan di Jakarta Utara akan segera mulai ground breaking dan pembangunannya. Rencananya MRT Jakarta fase dua sendiri akan diteruskan hingga ke Ancol. Diketahui, tarif yang akan dikenakan sekali jalan dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI sekitar Rp13 ribu untuk jarak terjauh dan Rp8500 untuk jarak 10 km.