Hanoi Punya Jalur Kereta Aktif yang Instagramable Bagi Pelancong

Jantung kota Old Quarter Hanoi yang sibuk, ternyata memiliki jalur kereta api yang dibangun oleh Perancis pada masa kolonial. Kini jalur kereta itu bahkan dijadikan salah satu spot foto terbaik untuk di pamerkan di Instagram. Dekat jalur kereta ini pun terdapat kedai dengan menyajikan kopi panas atau segelas bir dingin yang bisa dinikmati pelancong dan penikmat selfie.

Baca juga: Alishan Forest Railway, Kereta Gunung Tertinggi di Asia

Meski menjadi salah satu incaran spot foto untuk Instagram, jalur kereta ini cukup berbahaya. Pasalnya jalur kereta ini masih aktif beroperasi dan bila kereta datang, pengunjung harus mencari tempat untuk mengamankan diri mereka masing-masing.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman channelnewsasia.com (29/10/2018), tempat untuk para pengunjung pun tidaklah lebar, karena dari foto-foto terlihat jalur kereta api ini berada di dalam gang dengan kanan kirinya adalah perumahan warga, kedai kopi hingga butik pakaian. Meski begitu, para pengunjung ini sepertinya menikmati sensasi saat berfoto harus berlari untuk mengindari kereta.

“Itu luar biasa tapi menakutkan dalam arti yang sama, sedikit luar biasa karena begitu dekat dengan kereta,” ujar pelancong asal Australia Michelle Richards.

Jalur ini diketahui pertama kali dibangun oleh mantan penguasa kolonial Perancis yang menggunakan kereta api untuk mengangkut barang dan orang di seluruh Vietnam yang kemudian menjadi bagian dari Indocina, bersama dengan Laos dan Kamboja. Selama Perang Vietnam, bagian-bagian kereta api rusak parah akibat bom Amerika yang menghujani utara yang dikuasai komunis.

Kereta di Hanoi ini bagi pelancong dan masyarakat yang mencari moda transportasi murah adalah yang paling tepat. Apalagi beberapa tahun terakhir pelancong yang mengunjungi Hanoi menggunakan kesempatan mereka saat berfoto di spot ini. Tak hanya pelancong yang menikmati, para pebisnis rumahan dengan kedai dan beberapa toko lainnya menjadi peluang penghasilan tersendiri.

“Ini memiliki pesona yang benar-benar aneh. Anda mendapat bunga dari balkon yang turun, Anda punya bangunan yang sangat tua dan dekat satu sama lain. Anda melihat orang-orang di sini tinggal dekat dengan rel kereta api,” ujar pelancong asal Hong Kong Edward Tsim.

Baca juga: Empat Kuburan Kereta di Indonesia, Padukan Nilai Estetik Tanpa Kesampingkan Nuansa Mistik

Saat kereta melintas, semua orang mengosongkan lintasan dan menarik ponsel mereka untuk menangkap pemandangan.

“Rasanya seperti menunggu Natal … dan ketika tiba, wow, itu adalah sesuatu yang lain. Layak ditunggu,” kata pelancong Inggris, Paul Hardiman.

Boeing 738 China Airlines Pecah Ban, Bandara Kaohsiung Terdampak 5 Jam Delay

Momen take-off dan landing menjadi salah satu bagian paling krusial di dunia aviasi, salah perhitungan sedikit saja maka akan dampaknya akan meluas hingga ke bandara terkait. Sama seperti yang terjadi pada pertengahan Oktober silam, dimana salah satu armada dari maskapai China Airlines mengalami pecah ban ketika pesawat tersebut baru saja mendarat di Bandara Internasional Kaohsiung, Taiwan. Beruntung, semua penumpang dan awak penerbang dinyatakan selamat dalam insiden mengerikan ini.

Baca Juga: Per 1 Juli 2018, China Airlines Buka Rute Kaohsiung-Jakarta

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (16/10/2018), pesawat Boeing 737-800 yang digunakan oleh China Airlines mendarat di runway 09 Bandara Internasional Kaohsiung setelah bertolak dari Manila, Filipina pada Selasa (16/10/2018). Pesawat dengan nomor penerbangan CI-712 tengah mengangkut 98 orang, termasuk penumpang dan awak penerbang. Semuanya berjalan normal hingga pada saat pesawat menyentuh tarmak Bandara Internasional Kaohsiung sekira pukul 11.38 waktu setempat, ban utama sebelah kiri pesawat pecah.

Gesekan yang terjadi menghasilkan api dan merusak runway bandara tersebut. Dalam salah satu momen yang berhasil diabadikan oleh salah seorang saksi mata, terlihat kobaran api menyala sepanjang pesawat meluncur di runway. Tak pelak, asap yang cukup pekat mengikuti arah laju dari pesawat malang ini. Dikabarkan, pesawat ini bertolak dari Manila, Filipina pada pukul 10.00 waktu setempat.

Menurut penuturan salah satu penumpang, ia dan beberapa penumpang lainnya sempat mendengar suara ledakan yang cukup keras dari dalam kabin sesaat setelah pesawat landing, namun dirinya tidak menyadari bahwa ledakan tersebut berasal dari ban sebelah kiri pesawat yang pecah. Sekira satu jam lamanya terperangkap di dalam pesawat pasca insiden, pada pukul 12.20 waktu setempat, para penumpang dan awak penerbang dengan dibantu oleh tim penyelamat dievakuasi menuju gedung terminal.

Baca Juga: Minimalisir Kecelakaan di Perlintasan Sebidang, Kaohsiung Luncurkan Layanan Kereta Bawah Tanah

Adapun insiden ini berdampak pada ‘bekunya’ pengoperasian Bandara Internasional Kaohsiung selama kurang lebih lima jam – sekitar 66 penerbangan delay, dan lebih dari 7.000 penumpang ‘terbengkalai’.

 

Kini Tersedia Layanan Baggage Wrapping di Terminal 1A Bandara Soekarno-Hatta

Ada pemandangan baru di Terminal 1A Bandara Internasional Soekarno-Hatta, tepatnya di dekat check-in counter. Ya, tertanggal 1 November 2018, sebuah layanan baggage wrapping hadir menyapa terminal yang biasa didatangi oleh para penumpang maskapai Lion Air dengan rute Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan Nusa Tenggara. Itu berarti, para penumpang setia Lion Air tidak perlu lagi khawatir kargonya akan ketumpahan cairan atau dibongkar oleh oknum tidak bertanggung jawab.

Baca Juga: Luggage Wrapping di Bandara, Seberapa Besarkah Perannya Untuk Melindungi Koper Anda?

Berdasarkan pantauan langsung KabarPenumpang.com di lapangan, pengelola layanan baggage wrapping di Terminal 1A tersebut adalah Diva Sinergi. Bagi Anda yang belum tahu, baggage wrapping merupakan layanan untuk membungkus barang bawaan Anda yang  hendak masuk ke dalam kargo atau bagasi pesawat.

Bermodalkan plastik khusus, diharapkan pembungkusan ini akan melindungi barang bawaan Anda dari tetesan cairan selama berada di dalam kargo, hingga risiko pembongkaran tas yang beberapa waktu kebelakang sempat menjadi topik hangat perbincangan di sejumlah media.

Sumber: KabarPenumpang.com

Operation Manager dari Diva Sinergi, Rendy Mardiansyah mengatakan barang-barang yang diijinkan untuk dibungkus meliputi koper, tas, hingga dus. “Kecuali yang lembek, tidak boleh,” papar Rendy.

“Tadi ada penumpang yang ingin membungkus tape singkong, tapi tidak kami ijinkan karena takut merusak tekstur dari makanan itu sendiri. Karena pada dasarnya kan itu (pembungkusan) di press, jadi takut rusak,” tandasnnya.

Rendy menambahkan bahwa semua barang kecuali yang lembek bisa dibungkus, selama sesuai ketentuan keamanan barang dalam penerbangan. “Pada dasarnya semua barang boleh, asal tidak melebihi lilitan. Vertikal lima lilitan, horizontal lima lilitan,”

Lalu untuk jam operasionalnya,  baggage wrapping di Terminal 1A beroperasi selama satu hari penuh alias 24 jam. Hal ini dilatarbelakangi jadwal penerbangan Lion Air yang bisa dibilang cukup padat. “Makanya kami menyesuaikan dengan jadwal Lion Air sendiri,” tambah Rendy.

Baca Juga: Ini Alasan Pentingnya Plastik Wrap Untuk Barang Bawaan

Nah untuk harganya, ternyata cukup bersahabat dengan dompet. “Tarifnya kami pukul rata Rp50.000,” jawab Rendy. Harga yang cukup murah untuk menjamin keselamatan dan keamanan barang bawaan Anda, bukan?

 

Pesawat Secanggih Boeing 737 Max 8, Mungkinkah Mengalami Stall?

Tragedi jatuhnya pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610 di perairan Tanjung Karawang pada Senin (29/10/2018) kemarin masih meninggalkan misteri besar yang hingga kini masih berbentuk hipotesa. Berbagai spekulasi dan pertanyaan terkait faktor yang melatarbelakangi jatuhnya pesawat ini masih abu-abu. Namun, satu kemungkinan yang kini tengah ramai diperbincangkan oleh sejulah otoritas adalah pesawat mengalami stall.

Baca Juga: Pesawat Canggih Boeing 737 Max 8 Lion Air Jatuh Perairan Tanjung Karawang, Ini Dia Spesifikasinya!

Stall merupakan suatu keadaan dimana gaya angkat sayap tiba-tiba turun secara drastis dan drag meningkat secara drastis. Dalam dunia aviasi, stall terjadi ketika bagian depan pesawat terlalu mendongak (nose up) dengan sudut yang melampaui batas kritis yang dianjurkan (angle of attack) – 15 derajat.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnnindonesia.com, Dosen Penerbangan Institut Teknologi Bandung dan Ahli Aerodinamika, Djoko Sarjadi mengatakan ada faktor lain yang juga dapat mengakibatkan sebuah pesawat mengalami stall. “Stall juga dipengaruhi oleh kecepatan angin dan arah pesawat terbang bergerak,” ujar Djoko.

Dalam dunia penerbangan, batas 15 derajat nose up dikenal dengan sudut kritis. Ketika pesawat bergerak pada sudut kemiringan ini, gaya tekan ke bawah pesawat berubah menjadi lebih besar dari pada gaya angkatnya.

Dikutip dari laman sumber lain, stall yang terjadi karena tingginya angle of attack tersebut dikarenakan efek separasi aliran udara yang halus menjadi turbulen dan menghasilkan daerah bertekanan rendah, yang mana menurunkan lift, meningkatkan drag dan menurunkan efektifitas control surface (aileron, ruder, elevator, dan lain-lain). Dalam posisi angle of attack besar, pesawat masuk dalam kondisi upset (susah dikendalikan), dan memicu stall

Sederhananya seperti ini, ketika pesawat yang bergerak normal, biasanya sudut dongak yang dihasilkan hanya berkisar di angka dua hingga lima derajat saja. Namun ketika pesawat bergerak dengan sudut dongak lebih dari 15 persen dalam waktu yang cukup lama, maka lama kelamaan pesawat ini akan kehilangan daya angkat dan faktor inilah yang membuat pesawat menjadi jatuh.

Definisi dasar dari stall ini juga diamini oleh salah seorang pilot senior bernama Shadrach M Nababan. “Pesawat konvensional bisa stall kalau keadaan angle (sudut dongak) melebihi gaya dorong dan sayap bergetar hingga stall,” pungkasnya.

Baca Juga: Bird Strike! Masih Jadi Momok Menakutkan dalam Dunia Penerbangan

Namun ia menambahkan, walaupun fenomena stall ini terkesan menyeramkan, kemajuan teknologi di sektor aviasi memungkinkan komputer untuk mengambil alih kondisi pesawat yang sekiranya melampaui batas dongak tersebut.

“Pesawat generasi sekarang nggak bisa stall. Jadi seandainya ada kekeliruan itu akan di-overwrite komputer yang langsung overtake mengatur sudut sehingga pesawat tidak bisa stall,” tutupnya.

 

DJI Kembangkan Teknologi Geofencing Lanjutan untuk Keamanan Navigasi Drone

Perusahaan drone dan teknologi pencitraan udara, DJI baru-baru ini memperkenalkan reknologi geofencing yang mereka kembangkan dari seri sebelumnya. Peningkatan ini ditujukan untuk meningkatkan keterbatasan ruang udara untuk penerbangan pesawat nirawak. Adapun uji coba yang dilakukan oleh perusahaan ini bertempat ini dekat salah satu bandara di Amerika Serikat.

Dalam sebuah kesempatan, DJI menyampaikan bahwa peningkatan teknologi geofencing ini akan memberikan perlindungan yang lebih cerdas terhadap pesawat nirawak di daerah-daerah tertentu.

Baca Juga: Di Kanada, Penyaringan Calon Penumpang Bakal Melibatkan Peran Maskapai

Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (25/10/2018), adalah Geospatial Environment Online (GEO) Versi 2.0 yang menurut rencana akan mulai dirilis ke publik pada bulan November 2018 mendatang ketika zona revisi mulai berlaku untuk wilayah udara di sekitar bandara di Amerika.

“Tidak menutup kemungkinan penawaran penggunaan teknologi ini akan dipasarkan di negara lain yang sekiranya berminat,” ujar salah satu juru bicara dari DJI.

“Kami sangat bangga karena bisa memimpin industri dalam mengembangkan solusi proaktif untuk masalah keselamatan dan keamanan pesawat nirawak,” tambah Vice-President bagian Kebijakan dan Hukum DJI, Brendan Schulman.

Brendan menambahkan bahwa peningkatan teknologi keselamatan dan keamanan untuk drone ini merupakan suatu langkah besar untuk mengintegrasikan pesawat nirawak ke wilayah udara berdasatkan evaluasi risiko – berkaitan dengan pesawat yang hendak take-off dan landing di berbagai bandara.

Menurut pihak DJI, sistem baru ini memungkinkan GEO untuk menciptakan zona keselamatan yang berbentuk dasi kupu-kupu tiga dimensi yang terperinci di sekitar jalur penerbangan landasan pacu. GEO juga dapat menggunakan bentuk poligon yang kompleks untuk zona-zona sensitif lainnya.

Pemetaan baru DJI ini juga mencakup prinsip-prinsip Bagian 384 dari Undang-Undang Reauthorization US Federal Aviation Administration (FAA) yang baru-baru ini disahkan, yang mengamanatkan bahwa koridor pendekatan akhir untuk landasan pacu aktif di bandara-bandara utama harus memiliki ‘zona pengecualian’ untuk drone yang tidak sah.

Baca Juga: AirMap, Platform Pengatur Lalu Lintas Drone di Udara

Selain itu, DJI juga diketahui telah memilih PrecisionHawk sebagai penyedia datanya, yang akan menawarkan data akurat seperti lokasi pasti landasan pacu bandara dan batas-batas fasilitas untuk memperoleh informasi geospasial untuk bentuk yang disempurnakan dalam GEO 2.0.

 

Emirates Airlines Siap Hadirkan Teknologi Biometric Path di Bandara Internasional Dubai

Salah satu maskapai terbaik di dunia saat ini, Emirates Airlines dikabarkan akan meluncurkan layanan ‘biometric path’ di hub-nya, Bandara Internasional Dubai. Tujuan dari peluncuran layanan ini adalah untuk memproses penumpang dengan lebih cepat menggunakan teknologi biometrik seperti facial dan eye recognition. Nantinya teknologi biometik ini akan berwujud seperti sebuah terowongan yang disebut Smart Tunnel.

Baca Juga: Identifikasi Biometrik di Bandara Canberra Mencapai Akurasi 94 Persen

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (30/10/2018), sistem biometrik terbaru ini rencananya akan diuji coba dalam waktu dekat di Terminal 3 Bandara Internasional Dubai. Sebagai implementasinya, kelak penumpang hanya perlu berjalan menuju Smart Tunnel untuk mengurus segala keperluan pra penerbangan, seperti check-in hingga bagian keimigrasian.

Semua data biometrik yang berhasil ditangkap oleh teknologi ini akan disimpan bersama General Directorate of Residence and Foreigners Affairs (GDRFA), dan penumpang yang turut berpartisipasi dalam uji coba ini sebelumnya akan dimintai persetujuan.

“Inisiatif inovatif ini adalah hasil kerja sama dengan para pemangku kepentingan kami – terutama GDRFA yang telah berperan aktif dalam pengembangan program ini, membawa teknologi biometrik menuju kenyataan,” ujar Executive Vice-President dan Chief Operations Officer Emirates, Adel Al Redha.

“Peluncuran uji coba Smart Tunnel baru-baru ini oleh GDRFA adalah pencapaian besar dan jelas menunjukkan sifat unik dan kolaboratif dari inovasi di bandara Dubai. Semua sistem pada akhirnya akan dihubungkan satu sama lain sehingga menghasilkan layanan yang lebih baik bagi pelanggan kami dan perjalanan yang lebih bahagia baik ketika tiba, berangkat atau transit di Dubai,” tandasnya.

Baca Juga: Bandara Heathrow Siap Adopsi Teknologi Biometrik Pada Musim Panas 2019

Adel juga menambahkan bahwa realisasi teknologi biometrik ini sejalan dengan slogan perusahaan “Fly Better” yang diusung oleh Emirates. Lebih lanjut, setiap penumpang yang bersedia untuk turut serta dalam uji coba teknologi ini akan dimintai tanggapan oleh pihak Emirates guna mengetahui respon dari para penggunanya. “Kami menantikan tanggapan mereka,” kata Adel.

Kelak setelah uji coba internal yang kini tengah dilakukan oleh pihak Emirates dan GDRFA rampung, maka mereka siap untuk membawa teknologi ini langsung ke hadapan para penumpang.

 

Pengamat India: Kenapa Kecelakaan Pesawat Marak Terjadi di Indonesia?

Insiden hilangnya Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610 pada Senin (29/10/2018) kemarin mendapat sorotan luar biasa dari publik. Pukulan keras dirasakan bukan hanya oleh pihak keluarga yang ditinggalkan para korban, melainkan dunia aviasi nasional pun mendapatkan pukulan telak sama rata. Alih-alih berduka atas insiden ini, sejumlah pertanyaan skeptis mulai muncul dari benak para pemerhati – kenapa banyak terjadi kecelakaan pesawat di Indonesia?

Baca Juga: Pesawat Canggih Boeing 737 Max 8 Lion Air Jatuh Perairan Tanjung Karawang, Ini Dia Spesifikasinya!

Mungkin masih lekat di ingatan Anda ketika Air Asia dengan nomor penerbangan QZ8501 yang tenggelam di Laut Jawa, tepatnya di dekat Selat Karimata pada 28 Desember 2014 silam. Pesawat ini terbang dari Surabaya menuju Singapura dan menewaskan 162 orang, yang terdiri dari 7 awak pesawat dan 155 penumpang. Ini hanya salah satu contoh dari sekian banyak kecelakaan yang terjadi di Indonesia – sebagai salah satu contoh pendukung pernyataan banyaknya kecelakaan di Indonesia.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, KabarPenumpang.com mengutip analisa yang dirilis dalam media indiatoday.in (30/10/2018). Tidak dapat dipungkiri, sektor aviasi di Indonesia sangatlah berkembang pesat belakangan ini, dimana banyaknya maskapai berlabel Low Cost Carriers (LCC) menyajikan tiket harga miring yang memungkinkan setiap orang untuk mengudara. Semakin banyak permintaan mengudara, maka semakin banyak pula layanan yang tersedia.

Peningkatan frekuensi penerbangan ini berkorelasi dengan meningkatnya jam terbang dari para pilot – mengingat masih kurangnya jumlah pilot profesional yang mumpuni untuk melakukan penerbangan berjadwal. Stamina pilot yang secara stimultan tergerus menjadi salah satu faktor dari banyaknya kecelakaan pesawat di Indonesia.

Terlepas dari masalah human error tersebut, media asal India ini juga mengindikasikan kurangnya supervisi dari Pemerintah yang berdampak pada pemeliharaan di bawah standar. Akibatnya, beragam kerusakan minor kerap kali menghiasi log pilot pasca mendaratkan si burung besi. Sikap acuh tak acuh dari pihak yang terkait membuat kondisi ini semakin menjadi dan kecelakaan pesawat yang dilandaskan oleh kerusakan mesin semakin memanjangkan daftar kelam sektor aviasi nasional.

Baca Juga: ICAO: Aspek Keamanan Membaik, Indonesia Naik Ke Peringkat 55 Untuk Keselamatan Penerbangan

Namun satu yang patut digarisbawahi agar kejadian seperti ini tidak mengguratkan memori buruk bagi Anda yang sekiranya hendak mengudara dalam waktu dekat ini – pesawat terbang merupakan moda paling aman hingga saat ini. Sebagaimana studi yang dilakukan oleh Universitas Northwestern pada tahun 2001 silam, mereka membandingkan kecelakaan mobil dan pesawat.

Untuk setiap 1 miliar mil perjalanan dengan menggunakan mobil, ada 7,2 orang meninggal. Sementara dengan pembanding yang sama, pesawat hanya menetaskan angka 0,07 orang. Kendati kecelakaan Lion Air JT610 menorehkan trauma bagi sebagian orang, namun perjalanan via udara bukanlah satu hal yang ditakuti berlarut-larut.

 

 

Capai Okupasi 60 Persen, Luxury Sleeper Train PT KAI Terbukti Diminati Penumpang

Luxury Sleeper Train meluncur di rel pada 12 Juni 2018 kemarin saat musim mudik Lebaran 2018. Kehadiran sleeper train ini sendiri pertama kali dirangkaikan bersama KA Argo Bromo Anggrek dengan relasi Gambi-Surabaya Pasar Turi (PP).

Baca juga: Siap-Siap! PT KAI Akan Jual Tiket Sleepers Train 10 Juni Mendatang

Menjadi kelas tertinggi di kereta api yang dimiliki PT Kereta Api Indonesia (KAI), bagaimana dengan perkembangan luxury sleeper train? KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa respon pelanggan KAI diklaim cukup bagus.

“Okupansi sleeper untuk sekarang sekitar 60 persen. Memang di kelas ini kita berikan penawaran luxury jadi memang butuh terus promosi,” ujar Vice President of Passenger Marketing PT Kereta Api Indonesia, R. Agus Dwinanto Budiadji.

Dia mengatakan, pengguna kereta kelas luxury sleeper train sendiri berasal dari kalangan tertentu. Ini dikarenakan harga yang ditawarkan yakni Rp900 ribu saat masih promo dan kenaikannya pun tidak terlalu dan juga sebanding dengan fasilitas yang diterima penumpang. Saat ini, Agus Dwinanto terus mempromosikan luxury sleeper train hanya saja pada KAI Expo 2018 pihaknya tidak memasukkan kelas ini dalam program promo.

Tidak dimasukkannya dalam program promo, Agus Dwinanto menambahkan, agar pihaknya bisa menjaga luxurynya. Untuk rangkaian luxury sleeper train saat ini selain di Argo Bromo Angger juga sudah mulai dalam rangkaian KA Gajayana yang beroperasi mulai September dan Oktober kemarin.

“Relasi Gambir ke Malang setiap hari Jumat dan Malang ke Gambir setiap hari Minggu dan ini masih uji coba pasar,” ujar VP Humas PT KAI Agus Komarudin kepada KabarPenumpang.com, Rabu (31/10/2018).

Baca juga: Kereta Sleeper Berada di Rangakaian KA Argo Bromo Anggrek, Ini Fasilitas Mewahnya

Agus menambahkan, saat ini masih menggunakan empat sleeper train dengan kapasitas 18 orang per keretanya. Tak hanya itu, pihaknya juga berharap agar awal tahun 2019 mendatang ada penambahan enam sleeper train lagi.

“KAI pesan enam slepeer train dengan kapasitas penumpang 26 orang yang akan dikirim dari PT INKA jika sudah rampung. Untuk pengoperasiannya sendiri karena hanya baru ada empat kereta, kita atur operasionalnya,” jelasnya.

Kerap Hilang, Jaket Pelampung di Kabin Harus Rutin Diperiksa Keberadaannya

Biasanya sebelum memulai penerbangan, awak kabin akan memeragakan penggunaan alat-alat keselamatan bagi penumpang dari seat belt, masker oksigen, jaket pelampung atau life vest, hingga pintu darurat. Kali ini yang akan dibahas ialah jaket pelampung keselamatan.

Baca juga: Meski Membosankan, Demo Keselamatan Penerbangan Jangan Dilupakan!

KabarPenumpang.com melansir dari laman express.co.uk (21/10/2018), seorang pilot yang tidak ingin disebutkan namanya mengungkapkan seberapa sering awak kabin memeriksa jaket pelampung yang ada di bawah kursi. Dia mengatakan, sebenarnya untuk pemeriksaan tersebut haruslah dilakukan secara rutin.

“Mereka diperiksa bahwa mereka berada di tempat setiap penerbangan. Pasti ada satu untuk setiap penumpang,” ujar pilot itu.

Hal ini dikarenakan pada tahun 2015 lalu, ada cerita yang cukup mengejutkan dimana jaket pelampung tersebut diambil oleh penumpang untuk dijadikan oleh-oleh. Wanita berusia 64 tahun tersebut dianggap mencuri jaket pelampung di penerbangan Cathay Pacific Airways dan dikenakan denda besar atas pelanggarannya.

Di pengadilan nenek itu mengklaim dirinya tidak tahu tindakan yang dilakukannya ilegal dan menginginkan sebuah suvenir. Diketahui, sebenarnya jaket pelampung sendiri merupakan alat keselamatan yang andal sehingga tidak rentan terhadap kesalahan. Jaket pelampung sebenarnya digunakan untuk pendaratan darurat di atas air.

Tetapi dalam kenyataannya, tabrakan mendadak membuat sebagian besar penumpang tidak punya waktu untuk mengenakan rompi keselamat itu. Setelah Keajaiban di Hudson, Dewan Keselamatan Transportasi Nasional menulis kepada Federal Aviation Administration pada tahun 2014. Laporan itu mengatakan: “Rompi pelampung tidak dapat diberikan dengan benar oleh mayoritas penumpang dalam keadaan darurat yang sebenarnya ketika rompi diperlukan.”

Tes laboratorium dan keadaan darurat dalam kehidupan nyata telah membuktikan bahwa penumpang jauh lebih mungkin mencoba melarikan diri daripada menemukan jaket pelampung di bawah tempat duduk mereka. Namun, jika ada peringatan terlebih dahulu adanya pendaratan air maka penumpang akan punya waktu.

Baca juga: Peragaan Alat Keselamatan Penerbangan, Masih Efektifkah?

Penumpang harus ingat untuk tidak mengembang jaket mereka di dalam kabin, seperti yang diperintahkan oleh awak kabin dalam demonstrasi keamanan. Salah satu alasannya adalah bahwa jaket yang digelembungkan akan membuat lebih sulit bagi penumpang untuk keluar melalui pintu dan menghalangi wisatawan lain.

Jaket pelampung bisa juga robek saat pelarian yang akan membuat jaketnya sia-sia. Alasan lain yang kurang diketahui adalah bahwa jaket itu bisa menyebabkan penumpang tenggelam jika pesawat terendam. Jika pesawat terisi dengan air, penumpang yang mengembang rompi mereka tidak akan dapat keluar dari pintu karena akan mengapung ke atas pesawat.

Masih Misterius, Penyidik Perancis Curigai Adanya Peran Entitas Ketiga di Insiden Hilangnya MH370

Masih misterius. Itulah frasa yang tepat untuk menggambarkan situasi terkini dari hilangnya pesawat Malaysia Airlines Flight MH370. Ya, pesawat yang dikabarkan hilang kontak sejak 8 Maret 2014 ini tengah berada dalam perjalanan dari Kuala Lumpur International Airport menuju Beijing Capital International Airport. Banyak spekulasi terkait hilangnya maskapai ini, namun satu hipotesa yang kini tengah ramai diperbincangkan oleh banyak pihak adalah hadirnya entitas ketiga yang berperan serta dalam hilangnya MH370.

Baca Juga: Penyidik Asal Australia Temukan Puing yang Dianggap Sebagai Serpihan Malaysia Airlines MH370!

Setelah pada pemberitaan sebelumnya yang berisikan pengakuan salah seorang penyidik asal Australia yang melihat ‘dugaan’ serpihan body dari Boeing 777-200ER yang digunakan oleh MH370, kini spekulasi hadirnya entitas ketiga sebagai peretas maskapai ini tengah ramai digunjingkan. Para peneliti yang berasal dari Perancislah yang pertama menelurkan spekulasi ini.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman express.co.uk (24/10/2018), salah satu anggota keluarga korban tragedi MH370, Ghyslain Wattrelos mengaku telah diberitahu tentang teori sensasional oleh salah satu penyidik, Gendarmerie Air Transport (GTA) – teori tentang entitas ketiga. Ghyslain mengaku GTA telah mengidentifikasi suspect yang disinyalir memiliki informasi dan/atau data yang berkenaan dengan manuver terakhir pesawat sebelum menghilang.

“GTA telah menyoroti ‘ketidakkonsistenan’ dalam penyelidikan resmi yang dilakukan oleh pihak berwenang Malaysia, serta keberadaan penumpang ‘ganjil’ yang latar belakangnya perlu diperiksa dengan cermat,” ujar Ghyslain.

“Kami kecewa dan sedikit marah ketika mendengar pernyataan tentang pemberhentian penyelidikan MH370, dan saya rasa sudah saatnya Amerika benar-benar bekerja sama dalam mengusut tuntas insiden ini,” tandasnya.

Ghyslain menambahkan, tim GTA kini tengah berusaha untuk menentukan apakah entitas ketiga ini telah menjual perangkat lunak yang mampu memprogram ulang atau bahkan meretas Satcom, yang berkomunikasi dengan satelit Inmarsat dari pesawat atau tidak. Sekira hipotesa ini terbukti (hilangnya MH370 karena diretas oleh entitas ketiga), maka semua pertanyaan terkait insiden ini akan terjawab sudah.

Baca Juga: Empat Tahun Pasca Hilangnya MH370, Malaysian Airlines Rilis Laporan Investigasi

“Entah mereka yang salah atau diretas, namun jejak penting insiden ini terletak pada data yang dipegang oleh Inmarsat,” kata Ghyslain.

Hingga saat ini, salah satu pihak yang masih aktif menyelidiki insiden hilangnya MH370 ini adalah Perancis.