Dinilai Kurang Efisien, Akankah Airbus A380 Berjaya 20 Tahun Mendatang?

Terbang non-stop antar benua nampaknya sudah menjadi hal yang biasa di dunia aviasi belakangan ini. Pertimbangan demi pertimbangan terus dipikirkan matang-matang oleh para penyedia jasa layanan transportasi udara – termasuk produsen pesawat, salah satu poin yang muncul di urutan paling atas adalah soal efisiensi. Ketika sekira lebih dari satu dasawarsa yang lalu Airbus A380 digadang-gadang menjadi salah satu armada yang mampu melakukan penerbangan jarak jauh non-stop, lalu apa kabarnya sekarang?

Baca Juga: Ternyata, Emirates Hanya Menggunakan Dua Jenis Pesawat!

Perkembangan di sektor aviasi global merupakan suatu hal yang sangat dinamis. Jika dulu hanya ada beberapa armada berbadan super besar (salah satunya adalah Airbus A380) yang mampu mengudara ribuan kilometer non-stop, namun kini sudah banyak pesawat kembangan berbadan sedang yang mampu melakoni tugas layaknya Airbus A380. Akankah ini menjadi akhir dari kedigdayaan armada berjuluk superjumbo jet?

Tentu ini semua bersinggungan dengan poin efisiensi seperti yang sudah disebutkan di atas. Seperti yang kita ketahui bersama, Airbus A380 merupakan pesawat dengan four-engine yang memiliki radius operasi hingga 15.100km dan mampu menangkut hingga 850 penumpang dengan konfigurasi satu kelas.

Dengan daya angkut yang segitu besar, sudah bukan jadi rahasia lagi jika pihak maskapai harus memutar otak agar si superjumbo jet ini dapat mengudara dengan kapasitas penumpang penuh. Karena jika tidak, maka penerbangan tersebut akan menjadi tidak efisien atau bahkan lebih parahnya lagi pihak maskapai akan mengalami kerugian (penumpang sedikit, namun jumlah bahan bakar yang digunakan sama) – tidak menutupi biaya operasional.

Sementara itu, munculah armada twin engine seperti Boeing 787 Dreamliner dan Airbus A350-900ULR (Ultra-Long Range) yang notabene memiliki ukuran body lebih kecil namun mampu mengemban tugas yang sama beratnya seperti Airbus A380. Diketahui, Airbus A350-900ULR ini mampu mengudara hingga 18.000km atau yang setara dengan 19 jam penerbangan non-stop.

Dari perbandingan di atas saja, sudah sedikit terlihat bahwa para pegiat bisnis perjalanan udara akan lebih memilih Airbus A350-900ULR sebagai armada yang melakoni penerbangan jarak jauh non-stop ketimbang Airbus A380 – karena faktor efisiensi tadi.

Namun sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman forbes.com, International Air Transport Association (IATA) memprediksi akan ada 7,8 miliar penumpang yang melakukan perjalanan udara pada tahun 2036 mendatang. Angka tersebut hampir setara dengan dua kali lipat penumpang yang mengudara pada tahun 2017 (empat miliar penumpang). Prediksi IATA tersebut mengacu pada rataan pertumbuhan penumpang sebesar 3,6 persen setiap tahunnya.

Baca Juga: Efisiensi Biaya Operasional Jadi Alasan Utama Anjloknya Permintaan Terhadap Airbus A380

“Sektor aviasi harus mempersiapkan pertumbuhan penumpang sebanyak dua kali lipat pada 20 tahun ke depan,” ujar CEO IATA, Alexandre de Juniac.

Melihat statistik data dari IATA tersebut, mungkin beberapa dari Anda sudah bisa menyimpulkan hipotesa sementara: Apakah Airbus A380 sengaja diproduksi untuk memenuhi tuntutan penerbangan dalam 20 tahun ke depan?

EgyptAir Minta Maaf Terkait “Wawancara Palsu” Drew Barrymore di Majalah Penerbangan

Masakapai EgyptAir dari Mesir, baru-baru ini meminta maaf terkait artikel Drew Barrymore yang menjadi viral pekan lalu. Hal ini dikarenakan seperti wawancara palsu setelah seorang penumpang melihat keganjilan di majalah penerbangan maskapai tersebut.

Baca juga: Fotonya Viral di Twitter Karena Keusilan, Perempuan Ini Buat Pelaku Jera

KabarPenumpang.com melansir dari laman stepfeed.com (10/10/2018), penumpang tersebut melihat artikel feature di majalah Horus dan berbagi foto tersebut di akun Twitter miliknya. Hingga akhirnya foto tersebut di re-tweet oleh dua ribu pengunjung.

Karena masalah ini viral, seorang juru bicara Barrymore mengatakan bahwa dia tidak berpartisipasi dalam wawancara dan timnya bekerja dengan tim public relation maskapai. Hal ini kemudian membuat pihak maskapai EgyptAir pada Senin (8/10/2018) mengeluarkan pernyataan permintaan maaf atas artikel tersebut.

Pihak EgyptAir juga mengatakan, ini adalah tanggung jawab agensi iklan terkait potongan-potongan gambar yang diterbutkan di Horus. Bahkan Horus sendiri memiliki perjanjian dengan agen periklanan Al-Ahram yang mengedit artikel dan wawacara untuk maskapai penerbangan Mesir tersebut.

Permasalahannya sebenarnya dengan tulisan “tidak stabil dalam hubungan sebagian besar hidupnya”, Barrymore “memutuskan untuk mengambil liburan sementara yang tanpa batas untuk kembali berperan sebagai seorang ibu untuk anak-anaknya”. Kutipan ini kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris yang tidak sempurna.

Pemimpin redaksi majalah Horus dan Kepala agensi iklan Al-Ahram yang menerbitkannya menulis sebuah surat pada hari Selasa (9/10/2018) yang menunjukkan masalah itu terletak saat menerjemahkan Bahasa Inggris ke Bahasa Arab.

“Kami mohon maaf atas kesalahpahaman yang mungkin ditafsirkan sebagai pelanggaran terhadap artis populer,” tulis mereka.

Baca juga: Tak Sadar Injak Tisu Saat Naiki Air Force One, Video Donald Trump Menjadi Viral

Wartawan bernama Aida Takla pada tweetnya di 3 Oktober bahwa majalah mungkin telah mengedit bagiannya. Tetapi ini tidak meniadakan fakta bahwa wawancara dengan Drew Berrymore yang berlangsung dari New York adalah asli dan jauh dari palsu.

Editor dan penerbit tidak secara langsung menjawab klaim wawancara telah dibuat tetapi mengatakan semua materi yang dikirim dalam bahasa asing diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan kemudian ke bahasa Inggris Adapun bagian dari artikel, yang mengatakan Barrymore “telah secara tidak sadar mencari perhatian dan perhatian dari seorang tokoh pria”, mereka mengatakan setiap pengantar seperti itu bisa menjadi “produk kreativitas editor pada kondisi yang tidak mengandung informasi yang bertentangan untuk kebenaran.”

“Kami akan menyelidiki ini dengan memeriksa secara menyeluruh sumber-sumber penerjemah yang bergantung untuk menulis wawancara,” kata mereka.

Viral Video Anak Autis Masturbasi di Kereta, Ini Tanggapan Ahli!

Di zaman yang sudah serba mobile seperti sekarang ini, memviralkan sebuah kejadian dalam bentuk foto atau video bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Hanya membutuhkan pasar yang tepat, maka sebuah kejadian dapat dengan mudah diviralkan. Sama seperti kejadian yang sempat viral pada 16 September kemarin, dimana seorang pengguna sosial media Facebook mengunggah video seorang anak autis di Singapura yang melakukan masturbasi di salah satu layanan SMRT.

Baca Juga: Ternyata, Tidak Semua Anak Autis Benci Naik Kereta

Bagi sebagian orang, mungkin video ini dianggap lucu – namun apa jadinya jika Anda merupakan salah satu anggota keluarga dari si objek tertawaan tersebut? Tentu sedih dan rasa kecewa terhadap perlakuan orang-orang yang memviralkan video tersebut merupakan hal wajar yang akan menimpa Anda, bukan?

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman todayonline.com (22/9/2018), salah seorang anggota keluarga dari anak autis tersebut pun angkat bicara soal dilema yang ia alami. “Anda baru saja menyakiti hati seorang Ibu … Masyarakat ini akan menjadi … tempat yang lebih baik jika kita bisa berhenti menilai dan mulai peduli, berhenti mencari untuk dipahami dan mulai mencoba untuk memahami,” tulis Bibi dari korban di laman Facebook.

Menurutnya, pihak keluarga sangat terpukul atas video yang sudah dibagikan sebanyak 850 kali ini di media sosial Facebook – sebelum akhirnya pada 21 Septermber, video tersebut dihapus secara permanen. “Kami sangat sedih dan kecewa terhadap orang yang sudah mengabadikan dan menyebarkan tingkah dari keponakan kami ini,” tandas sang bibi yang ingin tetap anonim.

Menurut salah satu konsultan kesehatan dari Autism Resource Center, Dr Lam Chee Meng, ada hal yang lebih baik untuk dilakukan jika bertemu dengan penyandang autis semacam ini – terlebih jika penyandang autis ini melakukan tindakan yang ‘cukup unik’.

“Yang terbaik adalah melaporkan kepada staf transportasi umum, terutama jika Anda tidak yakin apakah orang itu memiliki kebutuhan khusus,” katanya.

“Jika ada seseorang yang merekam kasus seperti ini, seharusnya rekaman tersebut bukan untuk disebarluaskan di media sosial, melainkan untuk diserahkan ke petugas penjaga agar mereka (petugas penjaga) bisa mendampinginya hingga akhir perjalanan,” tandas Dr Lam.

Selain itu, edukasi seputar urusan seksual juga harus sedini mungkin diberikan kepada anak-anak – terutama kepada anak penyandang autis seperti dalam kasus ini.

Baca Juga: Bawa Anak Autis Dalam Penerbangan? Ini Dia Tipsnya!

“Tujuannya adalah untuk mengajari mereka untuk mengambil tanggung jawab pribadi terhadap kesehatan dan kesejahteraan mereka, dan bagian dari pelatihan mengajarkan mereka perbedaan antara perilaku yang boleh dilakukan di publik dan mana yang tidak,”

Sebelumnya, telah beredar video di media sosial Facebook yang menunjukkan seorang pemuda berusia sekitar 20 tahunan tengah masturbasi di kereta MRT sambil memandangi seorang wanita yang berada di depannya.

 

Jaringan Kereta Api Jepang; Modern Tapi Sistem Tiketnya Ribet!

Tidak ada yang bisa memungkiri bahwa Jepang merupakan negara dengan jaringan perkeretaapian terbaik di dunia. Selain kehadiran si kereta peluru Shinkansen yang mendunia, kereta api di Negeri Sakura ini juga terkenal akan ketepatan waktunya yang sangat akurat. Sampai-sampai, jaringan kereta api di Jepang sudah dianggap seperti tulang punggung di sektor transportasi. Tapi tahukah Anda bahwa ternyata Jepang memiliki sistem tiket kereta yang sangat-sangat rumit?

Baca Juga: Istilah ‘Chikan’ Masuk Kamus Internasional Berkat Tingginya Angka Pelecehan Seksual di Kereta Jepang

Ya, banyaknya operator yang berkecimpung di dalamnya membuat Anda harus ‘mempelajari’ terlebih dahulu rute yang sekiranya hendak Anda lalui. Pada dasarnya seperti ini, masing-masing operator kereta di Jepang memiliki dua komponen tarif, yaitu tarif dasar dan surcharge.

Dikutip KabarPenumpang.com dari laman kaorinusantara.or.id, tarif dasar sendiri merupakan bea yang harus kita bayar sebelum menggunakan jasa layanan kereta apapun di Jepang – mulai dari komuter, kereta jarak jauh, hingga Shinkansen.

Ambil contoh Tokyo Metro yang punya tarif dasar senilai 170 yen atau yang kurang lebih setara dengan Rp23.000 untuk 1 sampai 6km pertama. Masing-masing operator punya perhitungan tarif dasar yang berbeda-beda dan biaya progresifnya pun tidak sama.

Lalu komponen kedua yang harus dibayar oleh penumpang adalah surcharge atau biaya tambahan. Namun bea ini hanya terdapat di kereta-kereta dengan kelas tinggi (ekspres) dan tidak banyak berhenti seperti kereta komuter. Nah, lagi-lagi tiap operator punya besaran surcharge yang berbeda-beda.

Dari sini, tarif kembali di pecah – ada tiket bernomor, tiket tanpa nomor alias berdiri, dan tiket green car atau yang akrab disebut kelas bisnis. Berbeda dengan di Indonesia, di Shinkansen Jepang hampir tidak ada bedanya antara tiket bernomor dan tiket tidka bernomor. Jika Anda melihat ada bangku kosong sedangkan Anda memegang tiket tanpa nomor, Anda diperkenankan duduk. Semisal penuh, Anda dipersilakan untuk berdiri di bordes – satu hal yang sudah hilang dari budaya kereta api Indonesia.

Baca Juga: Bukan Toko Serba Ada, Tapi Stasiun di Jepang ini Memenuhi Semua Kebutuhan Anda!

Melihat penjelasan di atas, Anda jangan langsung panik dan akhirnya mengurungkan niat untuk menggunakan kereta api selama di Jepang. Bagi Anda yang pertama kali ke Jepang dan ingin menjajal si ular besi khas Negeri Para Samurai ini, ada baiknya Anda mengunduh aplikasi Navitime di platform Android dan iOS.

Cara kerjanya cukup sederhana, cukup masukan destinasi awal dan akhir, lalu semua informasi terkait perjalanan tersebut akan tersaji untuk Anda – lengkap dengan besaran harga yang harus Anda bayarkan. Khusus bagi para Gaijin (pelancong), fitur dalam bahasa Inggris juga tersedia di dalam aplikasi ini.

Tiga Kali Dibatalkan MA, Kemenhub Lakukan Studi Banding untuk Revisi Aturan Taksi Online

Tiga kali sudah aturan taksi online dibatalkan oleh pihak Mahkamah Agung (MA). Ini lantaran peraturan yang diserahkan, belakangan mendapatkan respon negatif dan berbagai pihak termasuk dengan pengemudi taksi online. Sehingga pemerintah saat ini melakukan pengkajian soal taksi online yang baru agar tidak lagi dibatalkan oleh MA.

Baca juga: Ruas Ganjil Genap Bakal Diperluas di Jabodetabek, Taksi Online Bisa Dapat Pengecualian, Asalkan…

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman detik.com (5/10/2018), menurut Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi, pada dasarnya aturan baru harus dikeluarkan dalam tenggat waktu tiga bulan setelah putusan MA. Sebab, bila lebih dari waktu yang ditentukan maka aturan tersebut tidak akan berlaku.

Sedangkan Kepala Sub Direktorat Angkutan Orang, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Syafrin Liputo mengatakan putusan MA keluar pada 20 September dan tenggat waktu yang ditetapkan adalah 21 Desember 2018. Sehingga aturan tersebut saat ini sedang diracik oleh Kementerian Perhubungan dan rencananya akan kembali didiskusikan dengan perwakilan pengemudi taksi online.

Setelah itu, pada Desember awal atau pertengahan aturan tersebut bisa diselelsaikan agar diundangkan dan disosialisasikan. “Kita targetkan kemarin, jadi pada awal Desember atau paling lambat pertengahan Desember itu sudah ditetapkan dan diundangkan sehingga batas waktu 20 Desember tidak terlewati,” ujar Syafrin.

Bahkan untuk membuat peraturan baru Kemenhub melakukan studi banding ke beberapa negara lain yang juga memiliki taksi online. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, adanya studi banding untuk melihat implementasi taksi online di beberapa negara seperti Singapura dan Korea Selatan.

“Pada dasarnya di Singapura itu segala persyaratannya lebih ketat ya. Dia harus tunduk pada peraturan dalam pemerintahannya. Dia harus punya lisensi, harus di KIR jumlahnya tertentu. Umur kendaraan ditertibkan, kalau Singapura itu luar biasa ketat. Sehingga membuat konsumen itu diuntungkan,” ujar Budi Karya.

Dia menambahkan, aturan dan sistem taksi online di Korea Selatan tak kalah ketatnya. Sebab aturan dan sistem taksi online Korea Selatan dan Singapura hampir sama. Korea Selatan saat ini memiliki perusahaan startup yang mengelola taksi taksi online yang diambil pemerintah sehingga ada persaingan secara sehat baik swasta maupun pemerintah Korea Selatan.

“Jadi kalau di Korea itu ada satu aplikator yang cukup legitimate akhirnya diakuisisi oleh pemerintah. Nah jadi saya pikir bagus untuk persaingan antara Grab nah di sini kan di dalam negeri Gojek dan Grab sudah bersaing,” jelas Budi Karya.

Budi Karya menjelaskan, setelah melihat kondisi di beberapa negara seperti Singapura, Korea Selatan, pihaknya menyimpulkan harus segera memberikan peraturan untuk memayungi dan mengatur taksi online.

“Kalau Korea itu lebih dulu ya dan dia memberanikan diri untuk meng-hire satu sisi itu yang di-endorse oleh pemerintah. Sehingga ada Grab dan transportasi punya pemerintah itu ada satu kompetisi. Sebenarnya di sini nggak perlu kompetisi karena ini kan mereka dua kan,” kata dia.

Kemudian ia melanjutkan, di Singapura para operator begitu taat pada peraturan yang dibuat pemerintah. Termasuk untuk standar keamanan dan kualitas kendaraan yang tinggi. Bahkan dia menambahkan, Korea hampir sama dengan Singapura dimana pada dasarnya taksi online harus mengikuti aturan bisnis dan safety diperlukan.

Baca juga: Optimalkan Keselamatan di Jalan Raya, Uji KIR Wajib Bagi Kendaraan Umum

Budi Karya lebih lanjut menjelaskan mengenai kualitas dari kendaraan yang diatur di Negara Korea Selatan dan Singapura. Meski taksi online di beberapa negara tersebut menggunakan mobil pribadi dan ikut dalam uji kir. Namun, ketika peraturan mengenai uji kir diajukan ke MA ada beberapa pihak yang kurang setuju.

“Nah ini kan, mau berusaha tapi mengklaim mobilnya punya sendiri, Ini nggak boleh. Sekarang yang bicara adalah satu hukum pasar, silahkan dia nggak pernah KIR, silahkan dia nggak perah cuci mobil, nanti masyarakat yang menilai bahwa mereka itu nggak layak,” tuturnya.

Wujudkan Smart Airport, Angkasa Pura I Gandeng SITA di Bandara Ngurah Rai

Peningkatan teknologi kelas dunia baru saja dilakukan PT Angkasa Pura I (AP I) melalui kerja sama dengan perusahaan penyedia produk teknologi informasi dunia SITA (Société Internationale de Télécommunications Aéronautiques) untuk pengelolaan bandara yang memiliki pertumbuhan trafik penumpang cukup signifikan tiap tahunnya. Peningkatan ini sendiri merupakan komitmen AP I di bidang kebandarudaraan melalui penandatanganan kerja sama antara anak perusahaan AP I yakni PT Angkasa Pura Suports dengan SITA di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai pada Kamis (11/10/2018) kemarin.

Baca juga: Sambut IMF-World Bank 2018, Angkasa Pura I Hadirkan Fasilitas Baru di Bandara Ngurah Rai

Adanya peningkatan teknologi ini sendiri karena Indonesia merupakan pasar penerbangan terbesar di Asia Tenggara dengan 110 juta trafik penunpang pada 2017 dan terus bertumbuh tiap tahunnya. Bahkan tahun 2036 mendatang, Indonesia diprediksi akan masuk dalam empat besar pasar penerbangan dunia dengan prediksi 355 juta trafik

“SITA menjadi mitra terpercaya bagi Angkasa Pura I untuk berkontribusi terhadap transformasi dari sisi teknologi di dua bandara kami yaitu Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali dan Bandara Juanda Surabaya yang juga berkontribusi terhadap peraihan berbagai penghargaan nasional dan internasional bagi dua bandara ini. Mengikuti keberhasilan ini, bersama anak perusahaan kami PT Angkasa Pura Suports, saat ini kami siap bekerja sama dengan SITA dan memperkenalkan berbagai teknologi smart airport yang inovatif di mana hal ini memungkinkan kami untuk menerapkan operasional bandara kelas dunia dan meningkatkan kapasitas bandara-bandara kami,” kata Direktur Pengembangan Usaha AP I Sardjono Jhony Tjitrokusumo yang kutip KabarPenumpang.com dari siaran pers, Kamis (11/10/2018).

Sebenarnya SITA sendiri telah mendukung AP I dengan teknologi AirportConnect Open yang merupakan platform umum yang memungkinkan maskapai beroperasi secara lancar di 13 bandaranya sejak 2014 lalu. Platform ini juga memungkinkan untuk pengenalan terhadap teknologo SITA lainnya seperti self-service check in kiosk, bag-drop dan boarding gates dan SITA ControlBridge yang mengintegrasikan secara mulus kapabilitas pengaturan bandara untuk melakukan kegiatan operasional yang efektif.

“Indonesia merupakan salah satu pasar industri transportasi udara yang paling menyenangkan, dengan pertumbuhan trafik yang cukup cukup signifikan dan juga peningkatan investasi pada pesawat, bandara, serta infrastruktur. SITA telah menjadi pemain utama di Indonesia selama lebih dari 10 tahun dan kami berharap untuk melanjutkan kemitraan strategis dengan Angkasa Pura I untuk selalu dapat memutakhirkan bandara-bandara Angkasa Pura I ke depannya,” jelas President SITA Asia Pasifik Sumesh Patel.

Baca juga: Angkasa Pura I Bangun Base Ops dan Safe House di Lanud I Gusti Ngurah Rai

Adapun salah satu inovasi teknologi smart airport yang dimiliki SITA akan di pamerkan pada area kedatangan dan keberangkatan terminal internasional Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali selama kegiatan Pertemuan Tahunan IMF-World Bank 8-14 Oktober 2018. Selama 2017, AP I mencatat total trafik penumpang sebesar 89,7 juta penumpang, di mana 21 juta penumpang dikontribusikan oleh Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, diikuti oleh Bandara Juanda Surabaya dengan total trafik sebesar 20 jutaan penumpang.

Dimulai Besok! PT KAI Gelar Online Travel Fair 2018, Cek Syarat dan Ketentuannya Disini

Setelah akhir pekan lalu warga Indonesia telah dibuat mengantri berjam-jam di perhelatan Garuda Indonesia Travel Fair 2018 Phase 2, sebentar lagi salah satu BUMN yang namanya tengah naik daun, PT KAI juga siap untuk membuat gerbakan. Ya, perusahaan yang ditunggangi oleh Edi Sukomoro cs. ini akan menggelar KAI Online Travel Fair 2018 pada 13 hingga 17 Oktober mendatang. Di sini, Anda bisa mendapatkan tiket mulai dari harga Rp50.000 untuk kelas ekonomi, dan Rp100.000 untuk kelas eksekutif!

Baca Juga: Garuda Indonesia Travel Fair 2018 Phase 2 Bertaburan Promo, Cek Jadwalnya di Sini!

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, rencananya PT KAI akan menjual sekitar 173.655 tiket kereta komersial dengan 67 destinasi untuk periode keberangkatan 13 Oktober hingga 15 Januari 2019.

“Tiket KA dengan harga promo ini dapat dipesan masyarakat di KAI Online Travel Fair melalui aplikasi KAI Access dan website kai.id,” ujar Corporate Deputy Director of Passenger Transport Marketing and Sales PT KAI, Mukti Jauhari, dikutip dari laman merdeka.com (10/10/2018).

Ia juga menambahkan bahwa setiap harinya, akan ada sekitar 2.400 tiket promo yang ‘dilempar’ ke masyarakat selama periode perhelatan tersebut.

“Kami prediksikan (penjualan) di angka Rp9 miliar,” tandasnya.

Selain menyuguhkan beragam tiket dengan harga di bawah rata-rata, PT KAI juga rencananya akan mengadakan flash sale selama perhelatan ini berlangsung. Flash sale ini sendiri akan dibuka setiap pukul 09.00 – 09.30 WIB dan pukul 19.00 – 19.30 WIB.

“KAI Online Travel Fair ini digelar sebagai salah satu upaya PT KAI mengikuti perkembangan zaman sekaligus juga sebagai salah satu bentuk apresiasi kepada pengguna jasa KA, khususnya mereka yang telah memilih untuk menggunakan aplikasi KAI Access dan website kai.id ketika melakukan pemesanan tiket KA,” ujar Mukti.

Jika dilihat, ada sedikit perbedaan pada travel fair yang diadakan oleh PT KAI – dilakukan secara online. Ternyata alasan dibalik perubahan konsep ini adalah untuk menghindari kegaduhan seperti yang terjadi pada tahun lalu di JCC.

“Insya Allah tidak ada kegaduhan lagi seperti tahun lalu di JCC. Ini antisipasi kami agar tidak terjadi kegaduhan,” terangnya.

Baca Juga: Untuk Pertama Kali, PT KAI Gelar Online Travel Fair Lewat Web dan Aplikasi KAI Access

“KAI Online Travel Fair ini digelar sebagai salah satu upaya PT KAI mengikuti perkembangan zaman sekaligus juga sebagai salah satu bentuk apresiasi kepada pengguna jasa KA,” tandasnya.

Tapi, Anda tidak sembarangan beli tiket di event ini. Ada beberapa syarat yang diterapkan oleh PT KAI dala perhelatan ini, yaitu:

1. Tiket promo pada KAI Online Travel Fair ini tidak dapat dibatalkan dan tidak dapat diubah jadwal.

2. Tidak berlaku reduksi dan tarif parsial.

3. Tidak dapat digabung dengan tarif reduksi atau diskon lainnya.

4. Tiket promo tidak berlaku pada masa angkutan Natal 2018 dan Tahun Baru 2019 (high season).

Anies Baswedan Ganti ‘Nama’ OK Otrip Menjadi Jak Lingko

OK Otrip atau One Karcis One Trip merupakan program integrasi yang masa uji cobanya berakhir pada September 2018 kemarin. Program ini merupakan program untuk memudahkan pengguna angkot atau angkutan kota dengan integrasi ke TransJakarta. Selesainya uji coba tersebut, 1 Oktober 2018 kemarin, program ini resmi diterapkan dan nama OK Otrip sendiri kemudian diubah. Pengubahan nama ini dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan nama Jak Lingko.

Baca juga: TransJakarta Terintegrasi KWK dengan Kartu seharga Rp15 ribu di Jam Sibuk

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber bahwa, kata Jak Lingko dipilih karena lebih tepat dengan program tersebut dan dinilai lebih sesuai dengan maknanya. Anies mengatakan, Lingko sendiri memilik arti tersambungkan dan diambil dari jenis pengelolaaan pengairan sawah di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

“Hari ini kita luncurkan penamaan untuk sistem transportasi yang terintegrasi. Penamaannya Jak Lingko. OK OCE memang ada maknanya. Itu adalah One Kecamatan One Center for Entrepreneurship. Tapi kalau OK OTrip tidak ada, ya kemudahan ngomong saja. Karena itu, saya sampaikan, kita cari nama. Dan pilihannya setelah riset sana-sini, pada ‘lingko’,” kata Anies.

Anies mengatakan, Lingko sendiri merupakan kosakata baru dalam bahasa indonesia yang diserap dari bahasa Manggarai, NTT. Kata ini sendiri muncul di Kamus Besar Bahasa Indonesia pada akhir Oktober 2018. Pemilihan kata Lingko untuk mencerminkan jejaring rute integrasi transportasi antarmoda di Jakarta.

“Kami ingin gunakan kata lingko ini menjadi sistem transportasi terintegrasi. Bayangannya seperti jaring laba-laba. Jaring laba-laba itu bisa nyambung, dari rute mana pun bisa, dari titik mana pun ke titik mana pun dalam jaringan ini,” ujarnya.

Dia menambahkan, pemilihan Lingko sendiri dipilih juga untuk mempopulerkan kosakata tersebut dan Pemprov DKI bersama dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk meluncurkan nama Lingko bersama ratusan kosakata lain. Pemprov DKI saat ini ingin membuka sayembara kepada masyrakat untuk merancang logo dari Jak Lingko.

“Kami ingin membuka sayembara kepada masyarakat untuk merancang logo Jak Lingko. Logonya tidak ditentukan oleh pemprov, kami mengundang warga Jakarta, mari rancang desain untuk Jak Lingko ini,” tutur Anies.

Baca juga: Naik Kelas, Kartu Multi Trip Siap Berevolusi Jadi E-Money

Sehingga logo Jak Lingko bisa diluncurkan pada akhir Oktober. Mekanisme dan ketentuan sayembara ini akan diumumkan melalui akun media sosial Pemprov DKI Jakarta dan TransJakarta. Meski berubah nama, sistem pembayaran tetap menggunakan kartu OK Otrip dan program ini dipastikan Anies sama serta tidak ada perubahan.

Diketahui, selain kartu, tarifnya pun tidak berubah. Masyarakat tetap gratis menggunakan bus kecil atau angkot yang sudah bekerja sama dengan PT Transjakarta. Saldo di kartu OK Otrip penumpang mulai terpotong ketika mereka melanjutkan perjalanan dengan bus transjakarta. Biaya perjalanan yang dibebankan kepada warga maksimal Rp 5.000 dalam waktu 3 jam. Namun, tarifnya bisa lebih rendah dari itu jika penumpang hanya menggunakan satu kendaraan dalam sekali perjalanan.

Gandeng Google Cloud, AirAsia Siap ‘Bertransformasi’

Dalam upayanya untuk mengintegrasikan teknologi Machine Learning dan Artificial Intelligent, maskapai swasta terbesar di Malaysia, AirAsia menggandeng Google Cloud. Kerja sama yang terjalin di antara AirAsia dan Google Cloud nantinya akan diaplikasikan ke dalam seluruh lini bisnis dari maskapai berslogan “Now Everyone Can Fly” ini. Diketahui, AirAsia telah mengadopsi teknologi digital sejak perusahaan ini didirikan pada tahun 2001 silam.

Baca Juga: Untuk Efisiensi dan Efektivitas Operasional, AirAsia Akhiri Sewa Menyewa Pesawat

“Sekarang kami berada dalam fase lanjutan untuk mengembangkan bisnis perusahaan menjadi lebih dari sekedar perusahaan transportasi yaitu dengan mendigitalisasi operasional dan proses sehingga menjadi lebih efisien,” ujar CEO AirAsia, Tony Fernandes, dikutip KabarPenumpang.com dari laman Kompas.com (11/10/2018).

Dengan menggunakan Machine Learning dan Artificial Intelligent hasil kerja samanya dengan Google Cloud, AirAsia dapat memaksimalkan penggunaan data yang dimiliki guna membuka kesempatan baru dan tidak menutup kemungkinan juga jika AirAsia membangun unit bisnis anyar.

“Kami membangun dua platform utama, yaitu airasia.com yang akan menjadi platform berbasis teknologi untuk memesan segala produk perjalanan mulai dari tiket penerbangan, akomodasi, tur, transportasi darat hingga hiburan,” tutur Tony.

“Kemudian, BigLife yakni portal gaya hidup yang menggabungkan fitur-fitur seperti yang terdapat pada Kayak, TripAdvisor, Groupon dan eBay dalam satu situs,” tandasnya.

Menurut pihak Google Cloud sendiri, AirAsia sebelumnya telah melakukan transformasi yang dinilai telah merubah cara kerja dari perusahaan yang berbasis di Kuala Lumpur tersebut.

“Proses transformasi AirAsia sudah dimulai sebelumnya dengan penggunaan G Suite yang telah mengubah cara kerja organisasinya,” ujar CEO Google Cloud Diane Greene.

Baca Juga: AirAsia X Genap Berusia 10 Tahun, Mantapkan Identitas Sebagai LCC Jarak Jauh

“Hasil kerja sama dengan kami adalah AirAsia dapat mendigitalisasi semua ranah bisnisnya,” pungkas Diane.

Selain itu semua, kerja sama yang terjalin antara AirAsia dan Google Cloud ini juga ternyata berdampak ke banyak aspek – membangun sistem prediksi permintaan yang lebih baik, pemasaran yang lebih tepat sasaran, meningkatkan pengalaman dan loyalitas pelanggan dengan menyediakan layanan yang lebih personal, memaksimalkan efisiensi operasional dan mengurangi risiko melalui sistem prediksi perawatan pesawat yang lebih baik, ramalan cuaca secara real-time, hingga optimalisasi penugasan awak pesawat dan awak kabin.

Asem! Petugas Keamanan Bandara di India Bakal Kurangi ‘Senyuman’ Pada Penumpang

Ada yang bilang ‘senyum adalah ibadah,’ maka orang berlomba-lomba untuk memberikan senyuman dan sapaan kepada sesama. Terlebih bagi petugas keamanan bandara, meski dipahami jika mereka tak terlalu murah senyum demi menjaga wibawa, tapi ada yang unik di India. Pasalnya petugas keamanan bandara di India harus mengurangi bahkan tidak diperbolehkan senyum kepada orang-orang yang mereka temui.

Baca juga: Bandara Pakyong di Timur Laut India, Tawarkan Eksotisme Himalaya

Pastinya ini akan membuat masyarakat semakin segan untuk bercengkrama dengan para petugas keamanan. Baru-baru ini, petugas keamanan India diperintahkan untuk mengurangi senyuman mereka kepada penumpang di bandara. Alasannya pun cukup aneh dimana karena sebuah senyuman terjadi serangan teroris di Amerika Serikat pada 9 September 2001 lalu.

KabarPenumpang.com melansir dari laman theweek.co.uk (9/10/2018), Kepada Central Industrial Security Force (CISF) Rajesh Ranjan yang bertanggung jawab atas keselamatan penerbangan di India mengatakan, staf keamanan harus berhati-hati dan waspada dibandingkan harus ramah kepada publik atau penumpang. Di masa lalu, CISF bertanggung jawab atas keamanan di 60 bandara komersial utama di negara tersebut dan selalu menekankan perlunya meningkatkan softskill untuk membuat pemeriksaan keamanan ramah penumpang.

Sayangnya kekhawatiran tersebut berkembang setelah pertumbuhan sektor penerbangan komersial India dan kerentanannya terhadap terorisme membuat CISF berpikir ulang untuk keramah tamahan tersebut. Bahkan pejabat mengatakan, keramahan berlebihan menempatkan bandara pada risiko serangan teroris. Hal ini akhirnya membuat petugas CISF harus mengurangi senyuman mereka.

Baca juga: “Kempa,” Robot Humanoid Khas India Hadir di Bandara Bengaluru

“Kami tidak bisa terlalu ramah dengan penumpang karena salah satu alasan yang disebutkan mengapa 9/11 terjadi … adalah ketergantungan yang berlebihan pada fitur-fitur yang ramah-penumpang,” ujar Rajesh.

Direktur Jenderal CISF, MA Ganapathy mengatakan bahwa dalam upaya untuk membuat keamanan menjadi prioritas, pendekatan dari memberikan senyum lebar mereka dengan menjadi senyum seadanya saja. Nantinya personil juga akan menerima pelatihan dalam analisis perilaku untuk membantu mereka melihat penumpang yang mencurigakan.

Menteri Dalam Negeri India, Rajnath Singh, memperingatkan bahwa teroris secara terus-menerus mencara cara untuk membahayakan keamanan penerbangan dan menyerukan upaya tidak kenal lelah. Selain mengurangi senyuman mereka, serangkaian teknologi baru termasuk scanner dan peralatan CCTV canggih juga sedang diperkenalkan untuk meningkatkan keamanan.

Bandara India kini tengah berjuang untuk mengatasi kemanan karena melihat peningkatan enam kali lipat jumlah penumpang selama beberapa dekade terakhir. Pengaamat juga telah memperingatkan bahwa pemerintah perlu menghabiskan miliaran dolar untuk meningkatkan kapasitas dan keselamatan di bandara.