Penasaran Berapa Pendapatan Awak Kabin? Hitung Pakai “Indirect Cost” Yuk!

Menjadi awak kabin adalah pekerjaan yang banyak diidamkan oleh orang-orang di luaran sana. Selain karena mewajibkan memiliki penampilan yang sedap dipandang, soft skill serta tata krama dalam menghadapi penumpang juga patut dikuasai – terlepas dari pendapatan mereka yang ‘katanya’ berada di atas pegawai kantoran level basic.

Baca Juga: Lebih ke Seputar Armada, Inilah “Fleet Cost” di Sektor Penerbangan Komersial

Nah, menyinggung soal pendapatan dari seorang awak kabin, ternyata ini masuk ke dalam Indirect Cost yang harus dibayarkan oleh pihak maskapai. Seperti yang sudah disebutkan di artikel sebelumnya, Indirect Cost menjadi salah satu komponen pembentuk biaya pengoperasian penerbangan yang memegang presentase paling rendah, yaitu 3,64 persen. Jika dibandingkan dengan cost-cost lain, Indirect Cost ini lebih menitik-beratkan kepada service dari SDM di dalam sebuah penerbangan serta maintenance dari armada terkait.

Nah, bagi Anda yang masih penasaran dengan, “berapa sih gaji pokok seorang awak kabin?” atau “berapa sih gaji pokok seorang pilot?”, berikut  KabarPenumpang.com masih mengutip dari data rataan tahun 2017 salah satu maskapai kenamaan di Tanah Air yang didapatkan dari sumber terpercaya, akan mengulas soal rincian komponen yang ada di Indirect Cost.

Cockpit Crew Person: 2,56 persen
Cabin Crew Person: 0,86 persen
Aircraft Maintenance: 0,22 persen

Ya, Indirect Cost memang hanya terdiri dari tiga komponen saja – namun ini membawa dampak yang sangat besar pada implementasi pengoperasian sebuah rute penerbangan. Dari besaran presentase ini juga, dapat terlihat berapa besaran gaji pokok dari awak kabin dan awak kokpit.

Jika total cost dari maskapai tersebut berada di angka US$3,1 miliar, maka besaran Indirect Cost yang harus dibayarkan oleh pihak perusahaan adalah US$111,5 juta.

Baca Juga: Menilik Lebih Jauh “Direct Cost,” Komponen Pembentuk Biaya Operasi dalam Penerbangan

Memang, di dalam ketiga presentase tersebut masih ada penjabaran lebih detail lagi, seperti komponen pembangun dari presentasenya – mengingat apa yang diterima oleh para penerbang tidaklah melulu salary (gaji), masih ada keuntungan lain yang di dapat ketika mereka mengudara (tercantum di Direct Cost)

Jadi, semisal di maskapai tersebut mengoperasikan 100 awak kabin, berapa pendapatan dari masing-masing awak kabinnya? Anda hitung sendiri, ya!

Oneworld Alliance Luncurkan Premium Lounge Pertama di Terminal 1 Bandara Incheon

Oneworld, aliansi yang terdiri dari 13 maskapai internasional untuk pertama kalinya membuka lounge di Bandara Incheon Seoul, Korea Selatan. Saat ini, penumpang yang bepergian dengan maskapai penerbangan yang tergabung dalam aliansi Oneworld dari Bandara Internasional Incheon (ICN) Seoul memiliki ruang baru yang apik untuk bersantai sebelum keberangkatan.

Baca juga: Keluar dari SkyTeam, China Southern Airlines Selangkah Gabung Aliansi Maskapai Oneworld

Lounge milik Oneworld alliance ini terletak di Terminal 1, lounge eksklusif dengan brand Oneworld menawarkan tata letak yang luas dan penuh gaya yang dikembangkan bersama Swissport dan tim Aspire Lounge.

Lounge Oneworld awalnya diumumkan untuk Bandara Domodedovo (DME) di Moskow pada tahun 2019, yakni hub dari S7 Airlines yang sekarang keanggotannya ditangguhkan, karena sanksi yang sedang berlangsung terhadap Rusia. Hal tersebut membuat Oneworld mencari lokasi alternatif untuk ruang tunggu pertama di seluruh aliansi.

Pada bulan September, rumor mulai beredar bahwa Seoul dipilih untuk mengisi kekosongan tersebut, kemungkinan besar karena cakupan bandara oleh lebih dari separuh maskapai penerbangan aliansi Oneworld. American Airlines, Finnair, Cathay Pacific Airways, Malaysia Airlines, Qantas, Qatar Airways, dan SriLankan Airlines terhubung ke Seoul lebih dari 60 kali per minggu selama musim puncak.

Lounge baru ini terletak dekat dengan gerbang keberangkatan Oneworld, memberikan akses nyaman bagi penumpang premium, dan menawarkan ruang untuk hingga 148 pelanggan di ruang seluas 555 meter persegi. Fitur-fiturnya termasuk pencahayaan sesuai suasana hati, desain interior yang dipengaruhi budaya Korea, dan perpaduan zona tempat duduk untuk mengakomodasi kebutuhan penumpang.

Terbuka untuk anggota Emerald dan Sapphire serta penumpang kelas bisnis dan kelas satu pada penerbangan Oneworld, lounge ini dapat diakses dari Senin hingga Sabtu antara pukul 04:30 dan 23:45, dengan jam buka lebih lambat pukul 07:30 pada hari Minggu.

Delapan maskapai penerbangan anggota Oneworld saat ini menawarkan penerbangan dari Seoul; Cathay Pacific sejauh ini merupakan operator grup paling produktif di bandara ini, menawarkan lebih dari tiga keberangkatan setiap hari antara Seoul dan Bandara Internasional Hong Kong (HKG). Penerbangan harian disediakan oleh American Airlines ke Bandara Internasional Dallas-Fort Worth (DFW), Finnair ke Bandara Helsinki (HEL), Malaysia Airlines ke Bandara Internasional Kuala Lumpur (KUL), dan Qatar Airways ke Bandara Internasional Doha Hamad (DOH).

Yuk Kenali AREX – Kereta Ekspress yang Hubungkan Bandara Incheon dan Kota Seoul

British Airways sebelumnya menawarkan layanan langsung ke Seoul dari Bandara Heathrow London (LHR) hingga tahun 2020, dengan penerbangan dibatalkan karena pembatasan yang disebabkan oleh pandemi. Karena lambatnya pertumbuhan di segmen perjalanan bisnis, operator tampaknya tidak memiliki rencana untuk mengaktifkan kembali koneksinya sebelum tahun 2025, menurut The Telegraph.

OjO, Skuter Listrik Hasil Kolaborasi Austin Commuter Scooter

Perkembangan jaman yang semakin ‘menjadi’ dewasa ini secara tidak langsung akan berimbas pada perubahan gaya hidup para pelakunya. Sebut saja yang kini tengah marak diperbincangkan oleh banyak orang dan sudah mulai diimplementasikan ke dunia nyata adalah moda bertenaga listrik. Mulai dari bus, mobil pribadi, hingga skuter kini sudah tersedia kloningannya yang versi tenaga listrik. Nah, tidak mau ketinggalan euforia, Austin Commuter Scooter dan OjO meluncurkan skuter listrik yang diklaim berbeda dengan kebanyakan skuter listrik lain.

Baca Juga: Skuter Listrik Ini Bisa Dikendarai Sambil Duduk dan Berdiri Lho!

Skuter listrik dari OjO ini sedikit berbeda ketimbang layanan ride-sharing Lime dan Bird – yang sama-sama menggunakan skuter elektrik sebagai armadanya. Tidak terlepas dari peran aplikasi, para pengguna Lime dan Bird cukup memasukan destinasi tujuan dan skuter listrik ini akan mengantarkan Anda ke tujuan. Dengan cara seperti ini, maka masalah polusi dan kemacetan di sebuah wilayah dapat dientaskan secara perlahan.

Ternyata, perbedaan antara tiga skuter listrik ini hanya terletak pada desainnya saja, dimana skuter listrik OjO memiliki bentuk seperti sepeda motor Vespa – hanya saja OjO cuma dibekali dengan single seat. Penggunaan single seat di sini menandakan pengguna memiliki varian dalam mengemudikannya, bisa dengan cara duduk atau berdiri. Belum lagi ketersediaan dari keranjang pada bagian belakang yang akan memudahkan para pengguna untuk menyimpan barang bawaannya tanpa harus bersusah payah menggendongnya.

Penggunaan baterai Li-On 48Volt memungkinkan skuter listrik OjO ini menjangkau jarak sekira 50mil atau yang setara dengan 80km dalam sekali pengisian baterai. Sementara untuk penggunaan motor hub HyperGear membuat skuter listrik ini mampu menembus kecepatan maksimal di angka 32km/jam. Kelengkapan lain yang ada di skuter listrik ini adalah lampu LED, rem cakram, ban segala cuaca, hingga shock yang empuk.

Baca Juga: Strator Ride, Otoped Listrik Beroda Besar Siap Masuki Moda Alternatif Perkotaan

Kami sangat senang membantu membawa skuter inovatif OjO ke pasar dan menyediakan skuter yang dapat dikendarai oleh setiap orang,” tutur Elliott McFadden dari Bike Share of Austin, salah satu bagian dari Austin Commuter Scooter.

Satu lagi yang tidak boleh dilupakan dari skuter listrik OjO ini, yaitu fitur pengeras suara yang terintegrasi, dimana ini memungkinkan pengendara mendapatkan navigasi yang sesuai, peringatan seputar lalu lintas, hingga informasi perjalanan lainnya.

 

Kemana Pilot Kalau Tidak Ada Jadwal Terbang?

Pilot, seperti profesi lainnya, bekerja sesuai jadwal yang telah diatur dengan ketat. Mereka harus memenuhi kualifikasi jam terbang dalam memastikan keahlian dan kesiapan mereka. Ketika tidak sedang menjalankan tugas terbang, pilot dapat berada dalam berbagai kegiatan lainnya, seperti libur (day off), menjalani pengecekan kesehatan rutin (medical check-up), berada dalam posisi stand by untuk menggantikan pilot lainnya, atau yang tak kalah pentingnya menjalani pelatihan di simulator.

Baca juga: pakah Pilot Simulator Pesawat Boleh Melakukan Manuver Berbahaya?

Seperti pilot dalam armada Lion Group harus mengikuti pelatihan di simulator secara terjadwal, guna memenuhi kualifikasi jam terbang dan meningkatkan keterampilan. Pelatihan di simulator memberikan kesempatan bagi pilot berlatih mengemudikan pesawat, berkomunikasi dengan petugas lalu lintas udara dan prosedur yang sulit atau darurat.

Pelatihan di simulator menjadi aspek krusial dalam persiapan untuk menjadi seorang pilot yang tangguh (“resilent”). Simulator dapat meniru kondisi penerbangan yang nyata, termasuk cuaca, situasi darurat dan kondisi lainnya.

Mengapa pelatihan di simulator begitu penting?
Pelatihan di simulator sangat penting untuk menjaga kesiapan dan kecakapan seorang pilot. Simulator memberikan pengalaman yang mendekati situasi dunia nyata dan memungkinkan pilot untuk menghadapi berbagai skenario yang mungkin terjadi di udara. Ini termasuk mengatasi masalah teknis, menghadapi cuaca ekstrem, dan melatih respons dalam keadaan darurat. Pelatihan di simulator memungkinkan pilot untuk mengasah keterampilan mereka tanpa risiko nyata bagi keselamatan penerbangan.

Tujuan utama dari pelatihan di simulator adalah meningkatkan keahlian teknis, non-teknis dan pemahaman situasional pilot. Mereka mempraktikkan manuver, prosedur, dan respons yang diperlukan dalam lingkungan yang aman dan terkontrol. Hal ini tidak hanya meningkatkan keterampilan individual pilot, tetapi juga memastikan bahwa mereka siap menghadapi setiap tantangan yang mungkin terjadi dalam penerbangan komersial.

Berapa lama mengikuti training simulator?
Standar pelatihan di simulator dapat bervariasi tergantung pada jenis pesawat, kemampuan teknis dan non-teknis pilot tersebut dan jenis pelatihan yang dilakukan. Umumnya, pelatihan di simulator untuk seorang pilot bisa mencakup beberapa sesi dengan durasi yang bervariasi.

Jika seorang pilot baru akan terbang menggunakan jenis pesawat tertentu, akan mengikuti program “Type Rating.” Pelatihan ini biasanya melibatkan waktu yang signifikan di simulator, bisa mencapai puluhan jam, tergantung pada standar pelatihan pesawatnya dan kemampuan pilotnya.

Pelatihan Pemeliharaan Keterampilan (Recurrent Training). Pilot yang sudah beroperasi dengan jenis pesawat tertentu wajib mengikuti pelatihan berkala untuk memelihara keterampilan mereka. Pelatihan ini biasanya lebih singkat, dengan waktu di simulator yang lebih pendek, namun cukup untuk memperbarui dan mengasah kembali keterampilan.

Apa Itu Simulator Level D? Berikut Penjelasannya

Pelatihan Khusus dan Skenario Darurat, bertujuan memastikan bahwa pilot dapat mengatasi situasi yang jarang terjadi dengan tepat sesuai dengan manual standar operasional prosedur.

Sesi Pengembangan Keterampilan Pribadi (Personal Skill Development). Beberapa karakter pilot memilih melakukan sesi tambahan di simulator untuk pengembangan keterampilan pribadi atau latihan spesifik yang mereka rasa perlu ditingkatkan.

Catat! Ini Informasi Penting Proses Pengajuan Visa ke Uni Emirat Arab

Dubai di Uni Emirat Arab berhasil meraih peringkat pertama di Tripadvisor Travellers’ Choice Best of the Best Destinations Awards selama tiga tahun berturut-turut, dan mencetak sejarah sebagai kota pertama yang meraih pencapaian luar biasa ini. Penghargaan ini diperoleh secara eksklusif berdasarkan ulasan jutaan orang dalam komunitas Tripadvisor.

Baca juga: Dubai Jadi Kota Nomer Satu Paling Diminati, Jakarta Nomer Berapa?

Pencapaian ini bisa jadi pertanda untuk menjadikan Dubai sebagai destinasi liburan Anda berikutnya! Jika Anda berencana untuk menjelajahi kota yang indah ini, berikut panduan untuk pengajuan visa sebelum perjalanan Anda ke Dubai.

Informasi tentang Visa
Setelah mengamankan tiket pesawat, biasanya Anda akan langsung bergegas memilih hotel. Jangan lupakan langkah penting, yaitu mendapatkan visa. Ada berbagai pilihan visa tergantung dengan kebutuhan. Namun, secara umum, visa turis sekali masuk sudah cukup untuk Anda yang ingin berkunjung untuk berlibur.

Berikut adalah persyaratan utama untuk memudahkan proses pengajuan visa:
1. Paspor yang masih berlaku, pastikan paspor Anda masih berlaku setidaknya enam bulan sebelum kedatangan Anda di Dubai.

2. Tiket Perjalanan, tiket perjalanan yang menunjukkan perjalanan pergi dan pulang ke tempat tinggal pemegangnya saat ini.

3. Untuk visa transit, pastikan Anda tidak melebihi jangka waktu visa Anda

4. Menyertakan foto pribadi terbaru (foto visa dengan latar belakang putih berukuran 43mm x 55mm)

5. Asuransi kesehatan yang masih berlaku

5. Unggah salinan paspor Anda

Anda juga dapat menikmati kemudahan mengurus visa dengan bantuan layanan dari berbagai maskapai penerbangan, termasuk Emirates. Saat mengajukan visa UEA, Anda tidak perlu khawatir paspor Anda akan ditahan, karena negara ini menggunakan sistem e-visa. Sehingga Anda dapat bepergian sambil menunggu visa Anda disetujui.

Untuk sebagian besar perjalanan, Anda cukup mendaftar dengan visa sekali masuk yang berlaku selama 30 hari dengan biaya 300 AED atau sekitar Rp1,277,000. Namun, jika Anda berencana singgah dalam waktu yang lebih singkat, pertimbangkan untuk memilih visa transit 96 jam, dengan harga 50 AED atau sekitar Rp213,000.

Baca juga: Bandara Internasional Dubai Buka Tur Keliling Kota, Pemerintah Siapkan Visa Transit

Jika Anda memilih visa transit, jangan lupa sertakan bukti perjalanan lanjutan, termasuk tiket yang menunjukkan kedatangan dari negara lain dan keberangkatan ke tujuan yang berbeda. Visa ini dapat Anda pertimbangkan jika waktu singgah lebih dari 8 jam.

Ini Sebab, Kenapa Pramugari dan Pramugara Harus Bisa Berenang?

Tak sedikit anak muda pasti punya cita-cita menjadi pramugari atau pramugara, profesi yang menyenangkan dan menarik karena bisa menjelajahi tempat baru. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa profesi ini menuntut keterampilan khusus, salah satunya ialah berenang.

Baca juga: Inilah 20 Syarat ‘Tak Resmi’ untuk Jadi Pramugari, Nomor Dua Agak Aneh

Berenang merupakan bagian pelatihan yang diberikan oleh Lion Group Training Center (LGTC) kepada calon pramugari dan pramugara. LGTC adalah pusat pelatihan yang berada di bawah naungan Lion Group, dilengkapi dengan fasilitas belajar berstandar internasional, pengajar profesional dan lingkungan yang nyaman, aman dan terjamin.

Mengapa berenang menjadi keterampilan penting yang harus dimiliki pramugari dan pramugara?

· Dalam situasi darurat yang mengharuskan pesawat mendarat di air, pramugari dan pramugara harus bisa berenang untuk proses evakuasi. Mereka harus menguasai teknik bertahan hidup di air, seperti menggunakan pelampung, keluar dari pesawat, menyelamatkan penumpang, menggunakan perahu karet dan lainnya.

· Pramugari dan pramugara harus memiliki tubuh yang sehat dan bugar untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka di udara. Berenang adalah salah satu olahraga yang baik untuk melatih otot, paru-paru, jantung, dan sistem kekebalan tubuh. Berenang juga bisa mengurangi stres dan meningkatkan mood.

Pelatihan berenang yang komprehensif dan berkualitas kepada calon pramugari dan pramugara adalah sesuatu yang mutlak. Pelatihan ini meliputi teori dan praktek berenang. Pelatihan ini juga dilakukan dengan mengikuti protokol kesehatan dan keselamatan yang ketat. Di penerbangan, keterampilan berenang disebut Wet drill berarti latihan bertahan hidup di air yang diberikan kepada pramugari dan pramugara, sebagai salah satu syarat untuk menjadi awak kabin. Wet drill meliputi teori dan praktek berenang, menggunakan pelampung, keluar dari pesawat, menyelamatkan penumpang, dan menggunakan alat pemancar sinyal darurat.

LGTC memiliki fasilitas untuk wet drill seperti kolam renang berukuran besar serta peralatan pendukung untuk melakukan pelatihan penyelamatan di air seperti life raft, survival kit dan lifevest.

Mau Jadi Awak Kabin Emirates? Inilah 4 Standar Pelatihan yang Harus Dilalui

Sebelum praktek wett drill lakukan para instruktur akan memberikan materi di ruang kelas, memperlihatkan perlengkapan/ survival kit yang terdapat di life raft, posisi penyelamatan di air, dan cara cara bertahan hidup diair. Ruangan ganti dan bilas pun tersedia untuk kenyaman para peserta training. LGTC menjamin bahwa pelatihan wet drill yang diberikan kepada calon pramugari dan pramugara sebagai pelatihan berkualitas sesuai standar internasional.

Atasi Kekurangan Pengemudi, Seoul Akan Luncurkan Bus Tanpa Pengemudi di Waktu Subuh

Layanan bus tanpa pengemudi pada waktu subuh atau jam-jam menjelang pagi akan diluncurkan di Seoul pada paruh kedua tahun ini. Layanan ini diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan bagi penumpang di pagi hari, demikian pertanyaan dari Pemerintah Metropolitan Seoul, Minggu (21/1/2024), seperti dikutip The Korea Times.

Baca juga: Inggris Uji Coba Bus Komersial Tanpa Pengemudi, Tempuh Rute 22,5 Km 

Bus otonom ini akan mulai beroperasi pada pukul 03.30, 30 menit lebih awal dibandingkan bus konvensional pertama yang biasanya mulai beroperasi pada pukul 04.00. Mirip dengan bus tanpa pengemudi yang memulai layanan malam hari pada 5 Desember, bus ini akan beroperasi secara mandiri.

Satu atau dua bus tambahan ini akan dioperasikan sebelum jadwal bus pertama pada rute yang ada. Inisiatif ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan pekerja pagi hari, seperti pembersih jalan dan penjaga kantor, yang biasanya mengandalkan bus pertama pada hari itu untuk berangkat kerja.

Penumpang yang menaiki bus pertama pada hari itu biasanya menghabiskan lebih dari satu jam perjalanan. Oleh karena itu, menurut pemerintah kota, mereka menyatakan keinginannya untuk memulai pengoperasian bus lebih awal.

Selain meningkatnya permintaan, rute-rute utama dari daerah pinggiran Seoul ke daerah pusat kota, seperti Gangnam dan Yeouido, menghadapi banyak kemacetan dan masalah keselamatan karena penumpang berdiri di dalam bus yang penuh sesak.

Sementara pada dini hari, tantangan juga muncul karena kurangnya pengemudi, lantaran pengemudi bus umumnya enggan melakukan shift pagi. Meskipun ada kebutuhan untuk memperluas operasional bus, terbatasnya pasokan pengemudi merupakan kendala alami.

Sebagai respons strategis terhadap tantangan ini, pemerintah kota berencana untuk mengoperasikan bus pagi tanpa pengemudi, yang diharapkan dapat memenuhi permintaan penumpang dan memperluas layanan bus dengan lancar, sehingga mengurangi kendala yang disebabkan oleh kelangkaan pengemudi bus.

Awalnya, jalur bus 160 yang meliputi Stasiun Dobongsan hingga Stasiun Yeongdeungpo melalui Stasiun Jongro, Mapo dan Yeouido, dengan jarak kurang lebih 25.7 kilometer, akan menjadi jalur pertama pengoperasian bus otonom.

Bus Otonom Pertama di Jepang Meluncur di Prefektur Ibaraki

Rute ini dianggap paling padat di antara bus pagi hari, dengan lebih dari 50 penumpang menaiki masing-masing bus berjumlah 160 bus pada layanan fajar.

Selain itu, dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti keselamatan dan kondisi operasional bus tanpa pengemudi, rute tersebut dipilih sebagai prioritas utama, menurut pemerintah kota.

Untuk mempersiapkan peluncuran bus pagi tanpa pengemudi ini, pemerintah kota berencana membangun infrastruktur penting, seperti konfigurasi sinyal lalu lintas. Berkolaborasi dengan Kementerian Pertanahan, Infrastruktur dan Transportasi, tujuannya adalah untuk menetapkan zona kendaraan otonom percontohan pada bulan Juli.

Perihal Koper Bertenaga Baterai Masuk ke Kabin, Ini Respon dari Garuda Indonesia

Terkait pemberitaan yang berkembang terkait ketentuan bagasi dalam hal ini penggunaan smart luggage atau jenis koper bertenaga baterai di dalam penerbangan, Garuda Indonesia merespon bahwa ketentuan barang penumpang yang dapat dibawa sebagai bagasi kabin mengacu pada aturan keselamatan penerbangan yang ditentukan berdasarkan ukuran, berat maksimal dan kapasitas baterai lithium serta spesifikasi lainnya dari cabin baggage yang tertuang pada kebijakan International Air Transport Association (IATA) maupun regulasi terkait di dalam negeri.

Baca juga: Revolve Air, Kursi Roda Lipat yang Bisa Masuk ke dalam Bagasi Kabin

Sesuai dengan kebijakan tersebut maka standar bagasi yang diperbolehkan untuk naik ke dalam kabin (cabin baggage) termasuk smart luggage adalah bagasi dengan berat maksimal 7 (tujuh) kilogram, dimensi paling besar yaitu 56 x 36 x 23 cm (linear 115 cm), serta kapasitas baterai yang tidak lebih dari 100 Wh. Lebih lanjut, kondisi baterai pada smart luggage yang diperbolehkan dibawa ke pesawat adalah yang memiliki spesifikasi removable battery.

Lebih lanjut, apabila smart luggage memiliki berat dan atau dimensi dan atau kapasitas baterai melebihi standar tersebut maka bagasi tidak diperkenankan untuk naik ke dalam kabin. Sedangkan untuk smart luggage yang memiliki kapasitas baterai melebihi 100 Wh namun kurang dari 160 Wh maka dapat diangkut sebagai bagasi tercatat (checked baggage) dengan persyaratan mendapatkan persetujuan dari pihak maskapai. Adapun untuk smart luggage yang mempunyai kapasitas lithium baterai melebihi 160 Wh tidak diperkenankan diangkut baik sebagai bagasi kabin maupun bagasi tercatat.

“Kami akan terus mengkaji langkah prosedural yang dapat dimaksimalkan guna memastikan tatalaksana safety dalam kaitan penggunaan smart luggage penumpang sejalan dengan ketentuan keselamatan penerbangan yang berlaku, termasuk proses screening dalam proses pre-flight,” ujar Irfan Setiaputra, Direktur Utama Garuda Indonesia dalam siaran pers (18/1/2024).

Irfan mengimbau penumpang untuk melaporkan penggunaan smart luggage ketika melakukan prosedur pre flight guna memastikan ketentuan terhadap aturan keselamatan penerbangan dapat terjaga sejalan dengan komitmen kami mengedepankan kepentingan keselamatan dan kenyamanan penumpang selama penerbangan.

Hari Ini, 19 Tahun Lalu, Airbus A380 Resmi Diluncurkan dan Bikin Airbus Rugi Besar!

Pada hari ini, 19 tahun lalu, bertepatan dengan 18 Januari 2005, pesawat komersial terbesar di dunia Airbus A380 resmi diluncurkan ke publik untuk pertama kalinya di Toulouse, Perancis. Airbus total menghabiskan biaya sebesar Rp163 triliun untuk mengembangkan pesawat dengan lebar sayap 80 meter dan tinggi setara tujuh lantai tersebut.

Baca juga: Hari ini, 16 Tahun Lalu, Airbus A380 Sukses Terbang Perdana

Dilansir The Guardian, saat peluncuran Airbus A380, dihadapan sekitar 5.000 tamu, Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, memuji A380 sebagai pesawat yang paling menarik di dunia. Ia juga menyebut pesawat itu menandai “tingkat kerja sama antar negara yang belum pernah terjadi sebelumnya”, dan akan “mengubah cara kita bepergian”.

Tak lupa, ia juga memuji pesawat yang mampu menampung lebih dari 550 penumpang itu sebagai pesawat yang ramah lingkungan karena sejak awal pengembangannya sebisa mungkin meminimalisir dampaknya terhadap lingkungan.

Sementara itu, Presiden Perancis, Jacques Chirac, bahwa Airbus A380 adalah “Penerbangan yang sesungguhnya” dan debutnya di jagat penerbangan global didedikasikan untuk semua berikut seluruh perasaan dan kebanggan.

Disebutkan, komponen pesawat raksasa ini tidak berasal dari satu tempat saja, melainkan dari berbagai negara di dunia, walaupun Final Assembly Line (FAL) pesawat double deck ini dilakukan di pabrik Jean-Luc Lagardere, Toulouse, Perancis.

Sayap megajet ini dibuat di Broughton, Wales; Bagian badan pesawat (Fuselage Section) berasal dari Hamburg, Jerman dan Saint-Nazaire, Perancis; Horizontal Tail Plane dibuat di Cadiz, Spanyol; Dan Vertical Tail Fin juga diproduksi di Hamburg.

Baca juga: Airbus A380 Emirates Nyaris ‘Tabrak’ Pramugari di Atas Burj Khalifa

Setelah semua bagian selesai dibuat dan siap disatukan, partikel-partikel tersebut akan dikirimkan melalui tiga jalur, darat, laut, dan udara. Untuk menghindari kecurangan dan kerusakan yang terjadi selama masa pengiriman, proses loading menuju pabrik di Jean-Luc Lagardere diawasi dengan sangat ketat oleh Arnaud Cazeneuve, Oversize Surface Transportation Manager untuk Airbus.

Dari mulai komponen terkecil seperti baut, hingga bangku pesawat dan mesin, diperkirakan Airbus A380 terdiri dari empat juta komponen yang diproduksi oleh 1.500 perusahaan dari 30 negara di seluruh dunia.

Airbus mengaku menghabiskan biaya sebesar Rp163 triliun untuk mengembangkan pesawat A380. Karenanya, perusahaan memperkirakan bisa balik modal setelah mencapai 250 penjualan pesawat dalam tiga tahun pertama. Secara keseluruhan, CEO Airbus, Noel Forgeard, menargetkan penjualan sebanyak 750 pesawat.

Namun, pengamat pesimis dengan target penjualan Airbus. Sebab, dengan bobot dan bodinya yang superjumbo, tak semua bandara siap melayani A380. Karenanya, beberapa maskapai menahan pembelian pesawat tersebut, salah satunya seperti Virgin Atlantic, yang menunda pemesanan enam pesawat A380 sampai tahun 2008.

Setelah diluncurkan, Airbus A380 akan melakukan penerbangan perdana sebelum bulan Maret dan mulai memasuki layanan komersial bersama Singapore Airlines tahun depan.

Baca juga: Orang Berpengaruh di Airbus Sebut (Dibohongi Soal) Mesin Jadi Sebab Kegagalan A380

Belasan tahun berselang, tepatnya pada Februari 2019, Airbus mengumumkan menyetop produksi A380 dengan angka penjualan akhir diperkirakan mencapai 242 unit, sedikit dari target minimum penjualan untuk mencapai break even di angka 250 unit pesawat.

Selain itu, Airbus juga banyak mendapat hal-hal di luar ekspektasi terkait A380, seperti target penerbangan perdana pada bulan Februari menjadi 27 April 2005, tahun layanan komersial yang meleset dari semula di 2006 menjadi 25 Oktober 2007, dan angka penjualan akhir dari semula ditargetkan 750 unit menjadi hanya 242 unit, membuat Airbus mengalami kerugian besar.

 

Bandara Helsinki Hadirkan Toilet Khusus Hewan Peliharaan Penumpang

Tak hanya manusia yang membutuhkan toilet, tetapi hewan peliharaan pun juga sama. Bahkan baru-baru ini Bandara Internasional Helsinki-Vantaa di Finlandia meluncurkan fasilitas toilet untuk hewan peliharaan yang dibawa penumpang.

Baca juga: Kongres Bantu FAA Pertimbangkan Aturan Jarak Kursi, Hewan Peliharaan dan Jumlah Toilet di Pesawat

Peluncuran toilet hewan peliharaan tentu ada alasannya, dimana menurut data, di Bandara Helsinki lebih dari sepuluh ribu anjing bepergian dengan pemiliknya setiap tahun. Operator bandara Finavia mengatakan puluhan ribu anjing setiap tahunnya membuat mereka untuk merespon penumpang dengan memudahkan membuang kotoran hewan peliharaan di tempat yang disediakan.

“Toilet hewan peliharaan menjadi lebih umum di seluruh dunia. Kami ingin berada di garis depan di area ini,” kata Hanna Hämäläinen, direktur layanan perjalanan Finavia.

Menurut Hanna, kehadiran toilet khusus hewan peliharaan ini membuat para pejabat tertarik untuk memastikan bahwa fasilitas hewan peliharaan tetap higienis setiap saat. Dilansir KabarPenumpang.com  dari laman yle.fi, toilet dilengkapi dengan pegangan bidet sehingga pemilik bisa membasuh urin hewan peliharaan mereka.

Tak hanya itu, wadah terpisah juga disediakan untuk membuang feses. Toilet hewan di Bandara Helsinki salah satunya terletak di area penerbangan yang menuju ke luar wilayah Schengen Eropa di bagian terbaru bandara. Sedangkan toilet lainnya berada di luar area keberangkatan di Terminal 2.

“Kami ingin mengembangkan layanan untuk memastikan bahwa perjalanan berlangsung senyaman mungkin. Ketika hewan peliharaan dapat melakukan hal yang diperlukan, pemiliknya juga akan merasa santai,” jelasnya.

Sebagian besar maskapai menerima hewan peliharaan dan menuntun anjing ke kabin, asalkan pemiliknya membeli tempat duduk untuk mereka. Namun aturan dapat bervariasi antar maskapai. Anjing, kucing, dan musang harus memiliki paspor hewan UE sendiri, yang dapat dibeli dari dokter hewan.

Baca juga: Gara-Gara Ikan, Mahasiswi Ini Dikawal Bak Kriminal Saat Masuk Pesawat

Sementara itu, Hana mengatakan dia tidak bisa berjanji bahwa fasilitas hewan peliharaan tambahan akan dipasang. Dia mengatakan bahwa Finavia menganalisis rute dan kebiasaan penumpang termasuk hewan peliharaan mereka untuk memberikan pengalaman yang bebas gangguan.