Waspada ‘Chikan dan Butsukariya’ – Masalah Sosial di Jaringan Kereta Komuter Jepang

Jepang terkenal dengan masyarakat transportasi yang maju, namun dibalik kemajuan tersebut terselip masalah sosial. Misalnya, di jaringan kereta api komuter Tokyo yang terkenal dengan kapadatannya, ada istilah Chikan dan Batsukariya.

Baca juga: Operator Kereta Komuter di Jepang Hadirkan Aplikasi Anti Pelecehan Seksual

Ada banyak hal yang disukai dari kereta api Jepang yang bersih, tepat waktu, dan terjangkau. Namun seperti semua hal di dunia ini, bepergian dengan kereta api di Jepang memiliki banyak elemen positif dan negatif.

Selain Chikan, muncul sosok lain yang tidak diinginkan bagi perumpuan wanita yang menggunakan jasa kereta komuter. Berbeda dengan Chikan, yang melakukan kejahatannya di dalam kereta, Butsukariya melakukan tindakan tercela di dalam stasiun, dengan sengaja dan paksa menabrak wanita saat mereka berjalan melewati melintasi lorong/peron stasiun.

Meskipun penumpang wanita sudah cukup lama mengeluh tentang Butsukariya, masalah ini hanya mendapat sedikit perhatian, sebagian karena fakta bahwa pusat-pusat kereta api utama di Jepang menjadi sangat ramai pada jam-jam sibuk sehingga sulit untuk menghindarinya tanpa sengaja.

Direkam oleh seorang pelajar yang sedang melakukan perjalanan melalui Stasiun Shinjuku dan disebarkan melalui organisasi berita FNN, video pendek yang diambil pada tanggal 25 Mei 2023 menunjukkan seorang pria dengan ransel berulang kali menabrak wanita. Kebanyakan dari mereka berjalan berlawanan arah dengan dirinya, namun ia juga memanggul seorang wanita dari belakang, sehingga wanita tersebut tidak mempunyai kesempatan untuk menghindari atau bahkan bersiap menghadapi dampaknya.

Baca juga: Lakukan Hal Ini Jika Mengalami Pelecehan Seksual di Kereta Api

Sama seperti Chikan, Butsukariya memanfaatkan kecenderungan masyarakat Jepang untuk mencoba meredakan kemarahan dan menghindari konfrontasi fisik. Yang lebih rumit lagi adalah sifat Butsukariya yang mudah berpindah-pindah berarti bahwa pada saat korban menyadari apa yang terjadi, dan bahwa mereka mempunyai alasan yang sah untuk marah, Butsukariya sering kali sudah pergi ke tengah kerumunan, atau bahkan melompat ke kereta untuk melarikan diri.

COMAC Luncurkan Varian C919 “Shortened/Plateau” untuk Beroperasi di Bandara Dataran Tinggi

Commercial Aircraft Corporation of China, Ltd. (COMAC) telah meluncurkan varian pesawat narrow body C919 yang diregangkan dan diperpendek, yang ditujukan untuk memenuhi berbagai kebutuhan operasional di dalam dan sekitar wilayah Cina.

Baca juga: Sebelum Resmi Angkut Penumpang, China Eastern Lakukan Penerbangan Verifikasi COMAC C919 Selama 100 Jam

Dinamakan C919 Stretched Variant dan C919 Shortened/Plateau Variant, kedua konsep tersebut terungkap di Shanghai International Commercial Aviation & Aerospace Industry Exhibition. Menaikkan dan menurunkan ukuran badan sempit standarnya untuk membuat keluarga pesawat dengan kebutuhan berbeda akan meniru variasi keluarga Airbus A320 dan keluarga Boeing 737 MAX.

C919 standar yang dikirimkan kepada pelanggan peluncuran China Eastern Airlines memiliki 164 kursi di kabin bisnis dan ekonomi. Comac mengatakan C919 Stretched Variant sesuai dengan tren perkembangan pasar pesawat lorong tunggal dalam skala besar dan dapat menampung 210 penumpang dalam tata letak dua kelas.

Varian yang lebih kecil dari C919 dirancang untuk menghubungkan bandara di dataran tinggi. Konfigurasi Shortened/Plateau memiliki kinerja lepas landas dan mendarat yang mencakup seluruh bandara dataran tinggi Cina dan dapat menampung 140 penumpang. Comac menambahkan pihaknya memiliki “potensi bagus” untuk turunannya lebih lanjut.

Baca juga: Gallop Air dari Brunei, Jadi Maskapai Internasional Kedua Pengguna COMAC ARJ21 Setelah TransNusa

Sementara itu, Cina menyebut Comac ARJ21 telah mengangkut lebih dari 10 juta penumpang. Jet regional tersebut melewati tonggak sejarah ketika China Southern Airlines ARJ21 baru-baru ini lepas landas pada rute Guangzhou-Jieyang. ARJ21 kini diperkirakan menerbangi 1.800 layanan mingguan di seluruh Cina dan Indonesia.

Airbus Uji Terbang Helikopter dengan Kendali Otomatis Lewat Tablet

Airbus berhasil menguji antarmuka mesin manusia atau human machine interface (HMI) baru yang disederhanakan bersama dengan fitur otonom canggih melalui proyek yang diberi nama kode Vertex. Teknologi yang dikembangkan oleh Airbus UpNext, dikendalikan oleh tablet layar sentuh dan bertujuan untuk menyederhanakan persiapan dan manajemen misi, mengurangi beban kerja pilot helikopter, dan lebih meningkatkan keselamatan.

Baca juga: Airbus Uji Coba Fitur Kendali Otonom pada Helikopter

FlightLab Helikopter Airbus terbang sepenuhnya otomatis mulai dari lepas landas, taksi, lepas landas, berlayar, mendekat, dan kemudian mendarat selama penerbangan uji satu jam dengan mengikuti rute yang telah ditentukan. Selama penerbangan ini, pilot memantau sistem yang mampu mendeteksi hambatan tak terduga dan secara otomatis menghitung ulang jalur penerbangan yang aman.

Kapanpun diperlukan, pilot dapat dengan mudah mengesampingkan kontrol melalui tablet dan melanjutkan misi setelahnya. Periode uji terbang berlangsung dari tanggal 27 Oktober hingga 22 November di fasilitas Helikopter Airbus di Marignane, Perancis.

“Demonstrasi sukses penerbangan otonom penuh mulai lepas landas hingga mendarat merupakan langkah besar menuju pengurangan beban kerja pilot dan penyederhanaan HMI yang ingin diterapkan oleh tim Airbus Urban Air Mobility pada CityAirbus NextGen. “Hal ini juga dapat diterapkan secara langsung pada helikopter dalam penerbangan tingkat rendah yang dekat dengan rintangan berkat informasi yang diberikan oleh sensor LIDAR (Light Detection and Ranging),” kata Michael Augello, CEO Airbus UpNext.

Baca juga: Airbus Helicopters Siapkan Suksesor Helikopter Terlaris H125, Bertenaga Listrik?

Helikopter Airbus akan terus mengembangkan berbagai teknologi yang terdiri dari Vertex: sensor dan algoritma berbasis penglihatan untuk kesadaran situasional dan deteksi rintangan; fly-by-wire untuk peningkatan auto-pilot; dan antarmuka manusia-mesin yang canggih – dalam bentuk layar sentuh dan tampilan yang dikenakan di kepala untuk pemantauan dan kontrol dalam penerbangan.

Kennington, Stasiun Bawah Tanah Unik dengan Fasilitas “U-Turn”

Terkenal dengan layanan kereta bawah tanahnya – Underground, Inggris memiliki cerita unik dari salah satu stasiun yang masuk ke dalam jaringan tersebut. Adalah Stasiun Kennington yang terletak di Kennington Park Road, Southwark, Selatan Inggris. Jika selama ini yang kita tahu adalah kereta akan langsir untuk berubah arah (biasanya kereta jarak jauh), atau menggunakan kereta dua kepala (biasanya dipakai oleh kereta komuter), maka lain cerita dengan di Kennington ini.

Baca Juga: Inilah 12 Stasiun Angker di Dunia!

Pembangunan stasiun ini dimulai pada tahun 1886 dan rampung pada tahun 1890 sebagai bagian dari kereta api listrik bawah tanah pertama di dunia. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman londonist.com, Stasiun Kennington ini terkenal dengan Kennington Loop-nya – dimana kereta yang Anda tumpangi akan melakukan U-Turn dan berjalan menuju arah sebaliknya tanpa harus langsir atau menggunakan kereta dua kepala.

Ya, skema U-Turn ini sangatlah unik terlebih ketika hal tersebut dilakukan di bawah tanah. Jadi semisal Anda tengah naik kereta yang mengarah ke Utara, setibanya Anda di Kennington Loop, kereta tersebut akan belok ke tube sebelah kiri dan melakukan U-Turn dimana itu akan membuat kereta berbalik arah dan melanjutkan perjalanan menuju Selatan.

Sumber: The Anonymous Widower

Salah satu lelucon yang kerap dilontarkan oleh warga Inggris soal stasiun ini adalah, “Sekarang Anda berada di Stasiun Kennington. Pemberhentian selanjutnya adalah Stasiun Kennington,”. Kelakar ini dilatarbelakangi oleh jalur U-Turn tadi. Selain kelakar, stasiun ini juga kerap diidentikkan dengan hal mistis – baik berupa lelucon atau kejadian nyata yang dialami oleh sejumlah komuter.

Untuk nuansa mistis yang berdasarkan lelucon, U-Turn tadilah yang menjadi inspirasinya, dimana para komuter akan dibuat bingung karena melewati Stasiun Kennington dua kali – padahal kereta hanya berputar di U-Turn. Sementara untuk nuansa mistis yang sesungguhnya, stasiun ini memang terkenal cukup angker karena sejumlah pengalaman zonk yang dirasakan langsung oleh para penumpang.

Berdasarkan cerita di laman sumber, beberapa penumpang kerap mendengar suara jeritan seorang perempuan, lampu kereta yang berkedip dengan sendirinya, suara pengumuman yang sering tidak terdengar, hingga papan penunjuk informasi yang mendadak error/rusak (glitch).

Baca Juga: Analisis Ilmiah Berbalut Nuansa Mistis Warnai Rentetan Kecelakaan di Stasiun Cipeundeuy

Bagi Anda para pecinta nuansa mistis yang kebetulan hendak atau tengah berkunjung ke Tanah Britania, nampaknya Stasiun Kennington menjadi satu tempat yang tidak boleh dilewatkan oleh Anda. Jika bingung mencari keberadaan dari stasiun ini, cukup buka aplikasi penunjuk arah dan Anda akan dituntun untuk tiba di Stasiun Kennington.

Yang Unik dari Monako, Satu-satunya Negara dengan Jaringan Kereta Seluruhnya di Bawah Tanah

Monako sebagai negara yang sangat kecil (luas total wilayah Monako hanya sekitar 2.02 km2) di pesisir Laut Tengah, terkenal dengan berbagai hal khas dan unik. Selain punya warna berdera yang sama dengan Indonesia, Monako sangat dikenal dunia sebagai lokasi kasino ternama di Monto Carlo dan ajang Formula 1 Grand Prix di sirkut jalanan. Lepas dari itu, Monako juga dikenal punya sistem transportasi kota yang unik.

Baca juga: Negara Mana Saja yang Tidak Punya Maskapai Nasional dan Tidak Punya Bandara?

Monako memiliki stasiun kereta bawah tanah dan sistem transportasi umum yang efisien dan nyaman, meskipun kota ini kecil, sehingga memudahkan penduduk dan pengunjung untuk bergerak di sekitar kota. Nah, tahukah Anda, bahwa Monako adalah satu-satunya negara di dunia yang tidak mempunyai jaringan rel kereta di permukaan, persisnya seluruh jaringan kereta di Monako berada di bawah tanah (underground).

Sifat jaringan kereta api yang seluruhnya di bawah tanah adalah akibat dari terbatasnya ruang di Monako dan topografi yang menantang. Membangun jalur kereta api di atas tanah yang luas akan menjadi tidak praktis mengingat keterbatasan geografis negara ini.

Jaringan kereta api di Monako sangat pendek dan terdiri dari jalur ganda standar. Kereta api ini menghubungkan Monako dengan kota-kota tetangganya di Perancis, dan jaringan tersebut sebagian besar terbatas pada terowongan.

Stasiun utama di Monako adalah Stasiun Monaco-Monte Carlo, juga dikenal sebagai Gare de Monaco, terletak di bawah tanah. Stasiun Monaco-Monte Carlo dibuka pada tanggal 7 Juli 1867, sebagai bagian dari jalur kereta api yang menghubungkan Nice di Perancis dengan Ventimiglia di Italia, melalui wilayah Monako.

Stasiun ini dirancang oleh arsitek Prancis, Gustave Eiffel, yang juga merancang Menara Eiffel di Paris. Stasiun ini terletak di bagian utara Monako dan menawarkan pemandangan indah Laut Tengah.

Baca juga: Inilah Andorra, Negara Terbesar Tanpa Bandara 

Stasiun Monaco-Monte Carlo berperan penting dalam sistem transportasi umum Monako dan membantu menghubungkan kota ini dengan kota-kota di sekitarnya. Stasiun ini juga merupakan titik masuk yang penting selama acara-acara besar, termasuk Formula 1 Grand Prix Monako yang terkenal.

Manufaktur Rudal dari Cina Buat Pemindai Tubuh di Bandara dengan Keakuratan 95 Persen

China Aerospace Science and Industry Corporation (CASIC) selama ini dikenal luas sebagai motor dalam indsutri rudal (peluru kendali) Cina. Dengan menguasai teknologi tinggi, CASIC belum lama ini mengumumkan baru saja meluncurkan alat pemindai tubuh dengan kecerdasan buatan untuk digunakan di bandara. Alat pemindai ini dapat mendeteksi 89 barang terlarang dalam waktu satu detik.

Baca juga: Jelang Pemeriksaan Keamanan di Bandara, Sebaiknya Tanggalkan Aksesoris Berikut Ini!

KabarPenumpang.com merangkum dari South China Morning Post, bahwa sistem yang ada di alat pemindai ini memiliki tingkat akurasi 95 persen. Sehingga diharapkan mampu membantu meningkatkan prosedur keamanan saat check ini di bandara yang tadinya hanya memindai secara manual dengan detektor logam.

“Menggunakan teknologi kedirgantaraan dalam keamanan seperti menggunakan mata rudal untuk memindai. Tidak ada yang bisa disembunyikan di bawah pakaian seseorang atau di atas kulit seseorang,” ujar kepala laboratorium AI, Zhao Yinghai.

Saat ini alat pemindai yang dilengkapi sistem terbaru sedang diuji coba di Bandara Beijing dan Urumqi ibu kota Xinjiang yang pernah mengalami kerusuhan karena masalah etnis pada 2009 lalu. Hadirnya produk keamanan ini ditengah upaya pemerintah Cina dalam mempromosikan inovasi komersial di bidang canggih dengan kepintaran buatan. Pada Juli lalu, Dewan Negara Cina menyusun agar negara tersebut menjadi pusat inovasi terkemuka di AI termasuk membangun industri AI dalam negeri senilai US$150 miliar.

Diketahui, lembaga penelitian yang berbasis di Beijing tersebut telah mengembangkan persenjataan dengan teknologi AI sejak 2015 lalu. Mereka mendirikan laboratorium penelitian AI khusus pada awal tahun 2017 lalu untuk mempercepat penelitian dan pengembangan yang terkait.

Salah satunya adalah pemindai tubuh yang didukung AI merupakan perkembangan terakhir yang keluar dari lab. Pemindai dapat membaca semua informasi antara pakaian dan kulit seseorang untuk mendeteksi item yang dilarang, termasuk zat korosif dan cairan yang mudah terbakar, yang sulit untuk menyaring menggunakan langkah-langkah keamanan tradisional.

Orang yang sedang akan masuk ke mesin harus menempelkan tangan mereka selama kurang dari dua detik untuk mengaktifkan pemindaian. Sistem ini bekerja dengan cara yang mirip dengan pemindai seluruh tubuh yang digunakan di bandara Amerika Serikat, dengan memantulkan gelombang elektromagnetik dari wisatawan dan secara otomatis menghasilkan gambar untuk menunjukkan di mana barang yang mencurigakan mungkin berada.

Baca juga: Hitachi Luncurkan EMIEW3, Robot Pintar di Bandara Dengan Artificial Intelligence

Meskipun kekhawatiran privasi meningkat, otoritas Cina telah banyak mengadopsi teknologi AI, khususnya sistem pengenalan wajah, untuk meningkatkan pengawasan keamanan publik. Kamera pengintai bertenaga AI telah dipasang di seluruh negeri untuk menemukan penjahat yang dicurigai.

Beberapa stasiun kereta bawah tanah yang paling sibuk di Beijing telah memasang kamera pengenal wajah untuk pengawasan kerumunan sementara polisi kereta api di provinsi Henan China tengah telah dilengkapi dengan kacamata pintar dengan teknologi pengenalan wajah built-in untuk menyaring penumpang.

Tiket Kereta Cepat Whoosh Naik, KAI Harap Penumpang KA Argo Parahyangan Meningkat

Mulai 1 Desember 2023, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) menaikkan tiket Kereta Cepat Whoosh menjadi Rp 200.000 – Rp 250.000 untuk tiket kelas ekonomi premium. Tarif itu sudah termasuk perjalanan KA Feeder gratis dari Stasiun Padalarang menuju Stasiun Bandung dan sebaliknya.

Baca juga: Ratusan Ribu Penumpang KA Argo Parahyangan Pindah ke Whoosh, KAI: Belum Ada Penurunan Signifikan

Kenaikan tarif tiket tersebut pun disambut baik PT Kereta Api Indonesia (Persero). PT KAI berharap kenaikan tarif Kereta Cepat Whoosh, menjadi Rp 200 ribu di hari Senin-Kamis dan Rp 250 ribu di hari  Jumat-Minggu untuk tiket Premium Economy, berdampak positif pada okupansi penumpang KA Argo Parahyangan.

Berdasarkan data hasil survei KCIC, ada sekitar ratusan ribu penumpang Kereta Cepat Whoosh yang sebelumnya menggunakan moda kereta konvensional atau dalam hal ini KA Argo Parahyangan. KAI pun mengakui hal tersebut sekalipun jumlah penurunan penumpangnya tidak terlalu signifikan.

“Harapan kami tentunya okupansi KA Gopar (KA Argo Parahyangan) akan semakin meningkat,” Vice President Public Relations, Joni Martinus, kepada KabarPenumpang.com, Senin (27/11/2023) melalui pesan singkat.

Kami melihat, lanjut Joni, bahwa kedua transportasi massal berbasis rel tersebut mempunyai keunggulan masing-masing dan saling melengkapi.

KA Argo Parahyangan ditujukan bagi penumpang yang memiliki waktu longgar dan ingin menikmati pemandangan sepanjang perjalanan, sehingga cocok untuk pariwisata, serta  KA Argo Parahyangan stasiunnya langsung berada jantung kota yg menghubungkan Stasiun Gambir (Jakarta Pusat) dan Stasiun Bandung.

Sedangkan Kereta Cepat Whoosh cocok bagi penumpang yang ingin perjalanan dalam waktu singkat, sehingga menjadikan Stasiun Halim (Jakarta Timur) – Stasiun Bandung – Stasiun Tegalluar (Kab.Bandung) sebagai kota komuter.

Adanya Kereta Cepat Whoosh yang merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) serta KA Argo Parahyangan yang sudah lama melayani pelanggan adalah pilihan bagi masyarakat untuk bepergian dari Jakarta ke Bandung atau sebaliknya. Kami berharap masyarakat tetap menggunakan transportasi berbasis kereta api dari Jakarta menuju Bandung, dan sebaliknya.

“Karena transportasi kereta api lebih ramah lingkungan, bebas macet, dan tepat waktu,” tutup Joni.

Tiket Kereta Cepat Whoosh untuk perjalanan Desember sudah dapat dipesan oleh masyarakat mulai 24 November 2023. Tarifnya naik dari semula Rp 150 ribu untuk kelas ekonomi premium, sudah termasuk KA Feeder, menjadi Rp 200 ribu – Rp 250 ribu.

Pada hari Senin hingga Kamis, untuk kelas Premium Economy tiket akan dijual seharga Rp 200.000  Adapun untuk akhir pekan Jumat hingga Minggu tiket premium ekonomi dijual seharga Rp 250.000.

Baca juga: Lagi, Penumpang Kereta Cepat Whoosh Ketinggalan Kereta Gegara KA Lokal Telat: Tiket Business Class Lenyap

Secara total sejak awal beroperasi pada 17 Oktober 2023 hingga 22 November 2023 lalu, Kereta Cepat Whoosh telah melayani penumpang sebanyak 491 ribu orang.

Rata-rata penumpang tertinggi mencapai 21 ribu per hari pada saat weekend dan 18 ribu per hari pada saat weekday. Adapun untuk okupansinya rata-rata mencapai 80 hingga 99 persen pada setiap rangkaian yang dioperasikan.

Mulai 10 Desember, Vietjet Buka Rute Penerbangan Ho Chi Minh – Perth – Adelaide

Vietjet baru-baru ini meluncurkan layanan penerbangan langsung perdana yang menghubungkan Ho Chi Minh City dengan Perth dan Adelaide dalam langkah untuk memperluas cakupan penerbangannya di Australia. Rute-rute penerbangan terbaru ini menempatkan Vietjet sebagai maskapai penerbangan Vietnam pertama yang melayani wilayah Australia Selatan dan Australia Barat.

Baca juga: “The Ghan” (Adelaide-Darwin) – Perjalanan Kereta Eksotis 3 Hari Melintasi Gurun dan Pedalaman Australia

Melalui upaya ekspansi ini, Vietjet akan meningkatkan frekuensi penerbangannya ke Australia menjadi 58 penerbangan per minggu, mencakup Adelaide dan Perth, mulai bulan Desember mendatang. Dengan demikian, Vietjet menjadi maskapai dengan kapasitas terbesar yang melayani rute penerbangan antara Vietnam dan Australia. Kurang dari satu tahun setelah memasuki pasar Australia pada April 2023, Vietjet kini telah melayani lima kota utama di Australia, yaitu Adelaide, Brisbane, Melbourne, Perth, dan Sydney.

Rute baru Vietjet yang menawarkan lima penerbangan pulang-pergi per minggu ini akan memfasilitasi perjalanan antara kota-kota metropolitan di Australia dengan kota paling besar di Vietnam. Tak hanya itu, rute ini juga memungkinkan wisatawan untuk melanjutkan perjalanan mereka ke berbagai destinasi wisata di Vietnam dan di seluruh Asia, termasuk India, Asia Tenggara, Asia Timur, dan lain-lain.

Baca juga: “Indian Pacific” (Sydney-Perth) – Kereta Mewah Lintas Benua yang ‘Menyapa’ Dua Samudra

Layanan penerbangan antara Ho Chi Minh menuju Perth dan Adelaide ini akan dimulai pada tanggal 10 Desember. Rute baru ini akan beroperasi empat kali pulang pergi setiap minggunya dan diharapkan akan membuat perjalanan antara ketiga kota tersebut menjadi lebih mudah dan terjangkau.

Lagi, Penumpang Kereta Cepat Whoosh Ketinggalan Kereta Gegara KA Lokal Telat: Tiket Business Class Lenyap

Viral seorang penumpang Kereta Cepat Whoosh, dengan nama akun X @finallyvalen, mengaku ketinggalan kereta. Hal itu terjadi lantaran KA lokal atau KA Commuter Line Garut (Commuter Line Bandung Raya) yang ditumpanginya terlambat datang. Alhasil, tiket business class Kereta Cepat Whoosh seharga Rp450 ribu pun lenyap.

Baca juga: Awas Ditinggal, KCIC Imbau Penumpang Kereta Cepat Whoosh Datang 30 Menit Sebelum Jadwal Keberangkatan

Penumpang tersebut diketahui naik KA lokal dari Stasiun Bandung, bukan naik KA Feeder Kereta Cepat Whoosh. Semula, KA lokal dijadwalkan tiba di Stasiun KAI Padalarang pada pukul 09.42 WIB. Namun, kereta sempat tertahan lama di Stasiun Cimahi dan baru tiba di Stasiun Padalarang pada pukul 10.07 WIB.

Kereta Cepat Whoosh, yang On Time Performance-nya (OTP) nyaris menyentuh 100 persen, dijadwalkan berangkat pukul 10.01 WIB dan diketahui tetap berangkat sesuai jadwal tanpa menunggu penumpang tersebut.

Sadar dirinya telah telat cukup jauh dari jam keberangkatan, ia pun tidak melanjutkan ke gate keberangkatan Whoosh untuk menjelaskan kronologi dirinya telat datang. Alih-alih melakukan hal itu dan berharap diberangkatkan dengan Kereta Cepat Whoosh berikutnya, ia memilih untuk berangkat dengan moda lain.

Enggak. Saya sama sekali gak ke gate KCIC karena sudah sangat terlambat. Karena perlu segera sampai Jakarta jadi naik kendaraan lain,” jelasnya melalui akun X @finallyvalen.

Menanggapi hal itu, Manajer Humas PT Kereta Commuter Indonesia (KCI), Leza Arlan, belum memberikan jawaban apapun meski sudah menanggapi pesan kami. Kami akan meng-update apabila PT KCI sudah memberikan tanggapan yang utuh terkait insiden di atas.

Redaksi juga sudah menghubungi General Manager Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa dan Manager Corporate Communication KCIC Emir Monti. Namun, keduanya belum menanggapi pesan kami.

Diketahui, Kereta Api (KA) Lokal Commuter Line Garut Cibatu merupakan kereta api lokal yang dikelola oleh PT KCI di wilayah DAOP 2 Bandung kelas ekonomi AC.

Baca juga: Klarifikasi KCIC Usai 31 Penumpang Ketinggalan Kereta Cepat Whoosh: KA Feeder Dioperasikan Daop 2 KAI

Waktu tempuh Kereta Commuter Line Garut rute Garut Purwakarta adalah 6 jam 36 menit perjalanan dengan perjalanan mulai dari Garut ke Cibatu sampai dengan Purwakarta dan sebaliknya.

Adapun waktu tempuh KA Commuter Line Garut rute Cibatu Purwakarta 5 jam 30 menit. Rangkaian menggunakan kereta ekonomi AC dengan sistem tempat duduk 2-3 saling berhadapan.

Tak Perlu Khawatir Terlambat, Beberapa Kereta Api yang Terpilih Sudah Ditambah Kecepatannya

“Lebih Cepat Lebih Baik.” Ya, mungkin itulah kalimat yang cocok untuk perjalanan Kereta Api Indonesia yang kini ditambah kecepatannya. Untuk kelas unggulan saja sudah diberi kenyamanan dan ketepatan waktu untuk perjalanan di berbagai kota di Pulau Jawa. PT Kereta Api Indonesia kini sudah menetapkan beberapa nama kereta api yang menjadi unggulan dalam perjalanan untuk menambah kecepatannya bahkan tiba di stasiun bisa sedikit lebih awal.

Baca juga: Stasiun Slawi, Kembali Hidup Setelah Melayani Kereta Api Kaligung

Kereta api yang kini menjadi yang tercepat adalah KA Argo Bromo Anggrek (Gambir – Surabaya Pasar Turi pp.), KA Taksaka (Gambir – Yogyakarta pp.), dan KA Argo Lawu (Gambir – Solo Balapan pp.). Ketiga kereta unggulan inilah yang perjalanannya lebih cepat dari jadwal yang sebelumnya. Ini karena penambahan kecepatan pada jalur tertentu khususnya di jalur utara antara Jatinegara – Cikampek – Cirebon. Jalur tersebut cenderung memiliki medan yang baik dan jarang adanya tikungan tajam apalagi medan yang menanjak maupun turunan. Hanya saja kecepatan dikurangi saat memasuki wilayah Jatibarang yang memiliki jalur lengkung sedikit lebih besar.

Selain ketiga kereta api yang disebutkan, ternyata ada kereta api lainnya yang kini menambah kecepatannya bahkan saat tiba di stasiun tujuan bisa mencapat setengah jam lebih awal dari jadwal terdahulu. KA Argo Sindoro dan KA Argo Muria (Gambir – Semarang Tawang pp.) yang merupakan perjalanan kereta api dengan waktu tempuh sekitar 5 jam. Saat ini kedua kereta api tersebut sudah bisa lebih cepat mencapai 20 menit lebih awal dari jadwal biasa.

KA Bima (Gambir – Surabaya Gubeng pp.) pun turut menjadi pilihan kereta api dengan waktu tempuh saat tiba lebih awal 25 – 30 menit lebih awal. KA yang digadang – gadang menjadi primadona sejak jaman PJKA karena memiliki rangkaian kelas tidur ini tetap menjadi favorit penumpang. KA Bima alias kepanjangan dari Biru Malam tentu saja masih bertahan dengan perjalanannya pada malam hari yang memberi kenyamanan kepada pengguna setianya. KA Bima ditempuh dalam waktu sekitar 10 – 12 jam perjalanan.

Menggunakan KA Sembrani juga tak luput dari perjalanan menempuh lebih awal 30 menit saat tiba di stasiun tujuan. Dengan rute Gambir – Surabaya Pasar Turi pp., tentunya berbeda dari perjalanan rangkaian KA Argo Bromo Anggrek. KA Sembrani hanya pada perjalanan di malam hari selama 9 jam. KA Sembrani masih tetap di minati warga apalagi saat menjelang weekend, mengingat jam keberangkatan dari Gambir maupun dari Surabaya Pasar Turi tetap pada malam hari.

Pilihan waktu tempuh lebih awal selanjutnya dipegang oleh KA Turangga (Bandung – Surabaya Gubeng pp.) yaitu 25 menit lebih awal saat tiba di stasiun tujuan. Berbeda dengan kereta api yang disebutkan tadi, semua perjalanan melalui lintas utara. Kini kereta api lintas selatan pun memiliki kecepatan yang cukup baik. Mengingat jalur selatan yang merupakan kebanyakan jalur ekstrim, ada beberapa wilayah yang memang masih membutuhkan kecepatan yang minim. Seperti pada lintas Cicalengka hingga Ciawi yang merupakan jalur bukit dan tikungan tajam.

Baca juga: Ngeri! Inilah Satu-satunya Jembatan Lengkung Kereta Api yang Ekstrim di Jalur Selatan Pulau Jawa

Namun selebihnya, kecepatan bisa dimaksimalkan bahkan hingga 100 km/jam. KA Turangga menempuh waktu perjalanan hingga sekitar 10 jam. KA Turangga pun hanya bisa dinikmati perjalanan pada malam hari, dan merupakan kereta api diminati oleh penumpang untuk menghabiskan waktunya untuk liburan saat weekend tiba.

PRAS – Cinta Kereta Api