KA Bima Ternyata Gunakan Rangkaian “Sleeper Train” Buatan Jerman Timur

Jauh sebelum era kebangkitan sleeper train yang kini digaungi oleh PT KAI, maka kilas balik ke dekade 60-an, saat PT KAI bernama PNKA (Perusahaan Negara Kereta Api), pun sudah mengular armada kereta tidur yang dipelopori operasionalnya oleh KA Bima jurusan Jakarta – Surabaya. Berbeda dengan sleeper train yang ada saat ini, dahulu sleeper train diwujudkan dalam fasilitas kamar. Dan tahukah Anda, ternyata kereta tidur KA Bima ternyata berasal dari Eropa Timur.

Baca juga: Mengenal Eksotisme Layanan Kereta Tidur di Indonesia

Meski di akhir dekade 60-an, hubungan diplomatik Indonesia memburuk dengan Uni Soviet dan Eropa Timur, namun rupanya tak terlalu berdampak pada kerja sama di sektor transportasi. Sebagai buktinya adalah rangkaian gerbong kereta tidur di KA Bima berasal dari Jerman Timur.

Dari akun Facebook Komunitas Sejarah Perkeretaapian Indonesia, disebutkan kereta tidur dengan cat biru mudah tersebut didatangkan dari VEB Waggonbau Görlitz. Sebelum melayani rute jarak jauh Jakarta – Surabaya, rangkaian gerbong sleeper train terlebih dahulu diuji coba penggunaanya pada tahun 1967 dengan rute Jakarta – Bandung. Setelah hasilnya memuaskan baru kemudian kereta-kereta tersebut diserahkan ke PNKA.

Konfigurasi tempat tidur lipat di KA Bima.

Pesanan khusus dari PNKA tersebut seluruhnya berjumlah 28 kereta yang terdiri dari 7 kereta tidur kelas satu, 10 kereta tidur kelas dua, 4 kereta makan dan 7 kereta barang pembangkit. Dari 28 kereta tersebut dibentuklah 3 rangkaian kereta tidur malam yang dinamakan Bima (Biru Malam). Kereta tidur kelas satu memiliki 13 kompartemen yang masing-masing memiliki 2 tempat tidur.

Kereta makan KA Bima.

Sedangkan kereta kelas dua terdiri dari 12 kompartemen tidur dengan kapasitas masing-masing 3 tempat tidur di dalam kompartemen. Kereta kelas dua memiliki 2 toilet dengan gang di bagian samping. Kereta makannya dapat menampung 48 penumpang sekaligus, jadi bila saatnya makan malam tiba para penumpang diatur secara bergiliran untuk makan.

Baca juga: Hadirkan Sleeper Train, Siapkah PT KAI Hapus Bayangan “Masalah” Sosial KA Bima?

Kereta-kereta dari Jerman Timur tersebut dikirim dari pelabuahan Rostock dan Wismar. Transport dari Görlitz ke pelabuhan dilakukan melalui jalan rel normal. Karena lebar bentang rel (gauge) di Jerman adalah 1435 mm, sedangkan kereta PNKA memiliki bogie 1067 mm, maka pada setiap bogie-bogie kereta dipasang “konsol atau adapter 1435 mm, sehingga kereta bisa berjalan di sepur 1435 mm. Tujuan didatangkannnya rangkaian spleer train adalah untuk memodernisir armada kereta tidur zaman Belanda (De Nacht Expres).

Mengenal Bakauheni, Pelabuhan Utama Penghubung Transportasi ke Sumatera

Bakauheni, pelabuhan yang terletak di ujung selatan Pulau Sumatera ini menjadi salah satu jalur penyeberangan teramai di Indonesia. Adanya pelabuhan Bakauheni mendekatkan jalur penyeberangan laut dari Pualu Jawa di Merak menuju ke Pulau Sumatera, begitu pun sebaliknya.

Baca juga: Mengenal Pelabuhan Merak, Gerbang Penyeberangan Tersibuk di Indonesia

Merujuk ke asal muasalnya, Pelabuhan Bakauheni dibangun pada 1970 oleh Dinas Perhubungan. Sebelum pelabuhan Bakauheni rampung pembangunannya, pelabuhan Srengsem digunakan sebagai pelabuhan bayangan. Pada 1980, Bakauheni mulai beroperasi yang dikhususkan untuk penyeberangan ferry. Pelabuhan ini adalah pasangan Pelabuhan Merak di Pulau Jawa melalui Selat Sunda.

rev-3

Pelabuhan yang memiliki 6 dermaga ini tak jauh berbeda dengan Merak. Di Bakauheni ada 3 dermaga yang memiliki gang way atau jembatan yang digunakan penumpang menuju ke kapal. Sedangkan dermaga 4 digunakan oleh perusahaan swasta, namun saat ini sudah tidak aktif lagi. Untuk dermaga 5 dan 6 digunakan untuk mobil dan angkutan berat. Di kedua dermaga ini, saat masuk gate ada timbangan yang belum lama di copot oleh pihak pengelola PT ASDP Indonesia Ferry dan saat ini sedang dalam proses pemasangan kembali.

Memang banyak perbedaan dengan pasangannya di Merak, di Bakauheni pelabuhan ini lebih luas dibandingkan Merak. Ruang tunggu penumpangnya lebih luas dan hanya memiliki satu lantai. Gate masuk penumpang yang lebih banyak dan memiliki fasilitas yang sama dengan Merak. Tak hanya itu, terminal juga berada di dalam kawasan pelabuhan, sayangnya di Bakauheni tidak ada jalur untuk kereta seperti di Merak.

pelaburan-merak-kapal-feri-bakauheni-nih2

Baca juga: Tak Perlu ke Pulau Sentosa di Singapura, Indonesia Mau Punya Bakauheni Harbour City

Tak hanya itu, Bakauheni memiliki keunikan yang sangat menonjol dibandingkan Merak. Di Bakauheni ada Sea Port, yakni pos perkumpulan polisi Sumatera khususnya Lampung untuk menangani penggeledahan terhadap barang bawaan, terkhusus narkotika dan penyelundupan hewan-hewan langka. Dan sampai saat ini terbukti sudah banyak penumpang yang ditangkap karena perbuatan yang dilakukan dengan membawa barang-barang terlarang tersebut.

Biasanya barang-barang terlarang itu akan dikirim dari Sumatera atau dari negara lain yang masuk ke Sumatera untuk di kirim ke Pulau Jawa. Hal ini bisa terjadi karena, pelabuhan Bakauheni-Merak berada di jalur pelayaran internasional. Ada kemungkinan di tahun-tahun mendatang Bakauheni yang sudah berkembang pesat sejak dibangun akan menjadi pelabuhan internasional.

Gerbong Restorasi, Sajian Khas Restoran Yang Bergoyang

Perjalanan jauh dengan menggunakan kereta api merupakan salah satu cerita yang sulit untuk dilupakan, baik sendiri maupun bersama orang-orang terdekat kita. Tidak sedikit orang yang membawa persediaan makanan untuk mengisi kekosongan perut saat perjalanan. Namun, bagaimana apabila Anda tidak membawa bekal makanan atau minuman? Bagaimana jika di tengah perjalanan perut anda keroncongan?

Baca juga: Lokomotif B2207 (NIS 312) Berusia 124 Tahun ‘Terlahir’ Kembali Usai Direstorasi, Siap Jadi Sarana Edukasi Baru di Buperta

Semua itu bukanlah masalah karena PT KAI menyediakan gerbong restorasi. Apabila diartikan secara harfiyah, gerbong restorasi artinya salah satu tempat dalam rangkaian kereta yang menyediakan berbagai penganan kepada para penumpang. Gerbong ini bukanlah “barang baru” dalam dunia perkereta-apian. Biasanya, gerbong ini berada di tengah-tengah rangkaian, dengan maksud lebih fleksibel untuk menjangkau penumpang baik yang berada di gerbong sebelah depan, maupun gerbong belakangnya.

Gerbong restorasi ini sengaja di desain menyerupai café lengkap dengan meja dan bangkunya. Selain itu, gerbong restorasi tentu saja menyediakan beraneka pilihan menu makanan dan juga minuman. Dari mulai makanan ringan hingga makanan berat tersedia di sini, minumannya pun bisa dibilang beragam, dari mulai minuman ringan, air mineral, teh hangat, hingga kopi siap disajikan kepada para penumpang. Harga yang ditawarkan di sini memang sedikit lebih mahal daripada kita beli di supermarket atau toko pada umumnya, tapi semua itu bukanlah menjadi suatu permasalahan dibandingkan kita harus menahan lapar atau haus selama perjalanan.

Apabila kita makan atau hanya sekedar “ngopi” di gerbong restorasi dan dipadukan dengan melihat keindahan “lukisan” Sang Pencipta, maka hal tersebut akan menjadi cerita tersendiri bagi para pelakunya, walaupun kita dapat melihat hiruk pikuk pegawai gerbong restorasi bersama sang juru masak, karena memang tempatnya berdampingan.

Tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, dining car yaitu sebutan untuk gerbong restorasi di luar negeri pun memiliki fungsi dan tata ruang yang hampir sama, bedanya hanyalah pada letak kitchen yang terpisah dengan tempat makan dan makanan yang lebih elegan. Dengan variasi menu yang cukup banyak, gerbong restorasi ala bule ini menawarkan menu makanan berat maupun ringan yang menggugah selera seperti Braised Duck Cumberland, Hungarian Beef Goulash with Potato Dumplings, dan Lobster Americain, menu yang biasa kita jumpai di resto kenamaan di Ibu Kota.

Apabila kita melihat dari sisi sejarahnya, pada jaman dahulu tenyata tidak ada yang namanya gerbong restorasi. Para penumpang dalam suatu perjalanan kereta hanya bisa membeli makanan apabila kereta berhenti di toko kecil dekat stasiun, namun tidak semua kereta melakukannya. Pada pertengahan tahun 1880, barulah gerbong restorasi dibuka untuk umum dalam rute perjalanan Chicago menuju daerah Barat, setelah sebelumnya beberapa armada kereta api mulai menjajakan penganan selama perjalanan.

dining car. sumber: yourfirstvisit.net
dining car. sumber: yourfirstvisit.net

Baca juga: KA Kuda Putih, Menapaki Jejak Kereta Rel Diesel Pertama di Indonesia

Untuk masalah fasilitas yang ditawarkan, gerbong restorasi di luar negeri lebih menarik, terlihat dari meja yang tersusun rapi, meja yang dilapisi oleh taplak meja, dan kursi yang nyaman layaknya Anda sedang makan di restoran berjalan.

Di dalam negeri sendiri gerbong restorasi yang ditawarkan PT. KAI bisa dibilang cukup nyaman, terlihat dari meja dan kursi yang tertata rapi, makanan atau minuman yang dilapisi oleh plastic foil guna menghindari tumpah, serta satu lagi yang paling menakjubkan adalah makan dengan pemandangan yang selalu berubah-ubah. Apabila Anda melakukan perjalanan menggunakan kereta api, silakan sambangi gerbong restorasi yang selalu buka selama perjalanan berlangsung.

JANET, Maskapai Penerbangan yang Serba Rahasia, Terkait Area 51?

Setiap penumpang pesawat biasanya memiliki maskapai pilihannya sendiri baik itu untuk mendapatkan poin tambahan, kenyamanan, kebiasaan atau hal lainnya. Seperti menikmati Garuda Indonesia, Delta, United atau maskapai lainnya mungkin adalah pilihan karena memiliki reputasi baik dalam dunia penerbangan.

Baca juga: Ada ‘Misi Rahasia’ di Balik Pembangunan Terminal T4 di Kuwait International Airport

Tetapi apa jadinya jika di dunia ini yang memiliki lebih dari 400 maskapai penerbangan yang beroperasi dan salah satunya merupakan maskapai rahasia? Ya, maskapai ini milik Amerika yang belum terdengar namanya oleh banyak orang.

KabarPenumpang.com melansir dari laman researchsnipers.com, nama maskapai tersebut adalah JANET yang mungkin merupakan singkatan dari Joint Air Network for Employee Transportation atau Just Another Non-Existent Terminal. Maskapai ini merupakan layanan pesawat rahasia pemerintah milik Amerika Serikat.

Diketahui, JANET memiliki sebelas pesawat yang berbasis di Bandara Internasional McCarran Las Vegas, dimana enam pesawatnya adalah Boeing 737-600 yang banyak digunakan untuk perjalanan udara komersial. Sedangkan lima lainnya merupakan pesawat eksekutif yang lebih kecil yakni  dua Beechcraft 1900 dan tiga Beechcraft 200C.

Tujuan maskapai JANET pun berbeda dengan yang lainnya yakni mengangkut para pegawai pemerintahan ke pangkalan militer misterius di Area 51 yang terletak 15 mil atau sekitar 24,14 km sebelah utara The Strip. Maskapai JANET ini lepas landas dari Terminal Gold Coast yang merupakan bagian terisolasi yang dirancang khusus dan tempat penyimpanan maskapai tersebut.

Penerbangan JANET ini sendiri beroperasi dengan nomor penerbangan tiga digit dengan awalan WWW. Memiliki cat berwarna putih dengan garis merah yang menandakan kesederhanaan pada enam pesawat besarnya sedangkan lima pesawat kecil bercat putih dengan garis biru.

Baca juga: Saat Terjadi Pembajakan, Inilah Sinyal Rahasia Yang Dapat Dikirimkan Oleh Pilot

Pesawat JANET sendiri digunakan untuk perjalanan ke Area 51 dan Las Vegas, tetapi ada kabar bahwa pesawat ini juga terbang ke area lain seperti Pangkalan Angkatan Udara Wright Patterson di Ohio dan Pangkalan Angkatan Udara Edwards di California. JANET merupakan maskapai rahasia yang tidak pernah diakui oleh Amerika Serikat.

Dengan terkuaknya sedikit misteri penerbangan rahasia ini, membuat pertanyaan baru apakah JANET satu-satunya penerbangan rahasia yang beroperasi di dunia, atau ada lagi?

BEHA_M1H, Pesawat Paling Ramah Lingkungan yang Gunakan Model Sayap Unik!

Ketika sektor kedirgantaraan dunia kini tengah berbondong-bondong untuk menghadirkan moda yang irit bahan bakar dan ramah lingkungan, sebenarnya ide semacam ini sudah terlintas dulu di perusahaan Faradair. Kembali ke tahun 2014 silam, dimana Faradair pertama kali mengusulkan sebuah Bio-electric-Hybrid-Aircraft (BEHA). Kala itu, perusahaan mengklaim bahwa pesawat ini merupakan yang paling ramah lingkungan di dunia. Kini perusahaan asal Britania Raya tersebut tengah berjibaku dengan waktu agar tahun 2025 mendatang, pesawat kreasi mereka bisa beroperasi.

Baca Juga: Virgin Atlantic Sukses Terbangkan Boeing 747 dengan Bahan Bakar Ramah Lingkungan

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com, pesawat paling irit di dunia ini sendiri memiliki desain yang sangat berbeda dengan kebanyakan ‘burung besi’ di luar sana. BEHA_M1H memiliki bentuk sayap bertingkat tiga, dengan winglet yang memanjang ke arah atas. Bukan tanpa fungsi khusus, sayap bertingkat ini sendiri dikabarkan akan membuat pesawat lebih mudah untuk lepas landas. Faradair sendiri mengatakan bahwa pesawat ini mampu lepas landas dari runway yang memiliki panjanng kurang dari 300 meter.

Pesawat yang mampu mengangkut 18 penumpang ini juga didesain sedemikian rupa sehingga memiliki tingkat kebisingan yang jauh lebih rendah ketimbang pesawat jet komersial. BEHA_M1H memiliki tingkat kebisingan di bawah 60 dba (Desibel berbobot A – mendekati suara yang biasa didengar oleh telinga manusia), sedangkan kisaran tingkat kebisingan dari pesawat jet komersial berada di angka 140 dba.

Sesuai dengan jargon yang diusungnya – pesawat paling ramah lingkungan di dunia, BEHA_M1H menggunakan tenaga kombinasi baterai dan bio-diesel. Lebih khusus lagi, baterai akan digunakan pada bagian motor listrik saat lepas landas dan mendarat. Sedangkan bio-diesel sendiri akan ‘bekerja’ untuk menggerakkan mesin turboprop yang berkekuatan 1.600 hp saat pesawat tengah melaju di udara.

Saat pesawat tengah mengudara, baterai yang tadi disebutkan secara berbarengan dayanya akan terisi berkat adanya panel surya yang ditempatkan Faradair pada bagian atap pesawat.

Satu lagi yang tidak boleh dilupakan, kelak para operator juga dapat mengganti fungsi dari BEHA_M1H ini dari pesawat penumpang komersial menjadi pesawat kargo hanya dalam waktu 15 menit saja! Jika tengah menjadi pesawat kargo, BEHA_M1H mampu menangkut beban seberat lima ton.

Baca Juga: “Double Bubble,” Konsep Pesawat Unik Berbahan Bakar Ramah Lingkungan

“Pesawat multi peran ini memungkinkan operator untuk menyediakan layanan perjalanan udara yang layak termasuk; penerbangan komuter terjadwal, pelatihan penerbangan, penerbangan charter, hingga pesawat kargo sekalipun. Salah satu karakteristik dari pesawat ini adalah perjalanannya yang sangat tenang,” ujar Direktur Pelaksana Faradair, Neil Cloughley.

“Kami sudah mulai membuka pesanan untuk maskapai dan bandara dari berbagai penjuru dunia. Rencananya pada tahun 2022 mendatang BEHA_M1H akan diuji coba,” tandasnya.

 

Masuk Pasar Cina, PT Dirgantara Indonesia dan Linkfield Technologies Kerja Sama Penjualan 25 Unit Pesawat N-219

Di ajang The Aero Asia 2023 yang berlangsung di Zhuhai International Airshow Center (23 – 26 November 2023), PT Dirgantara Indonesia (PT DI) menyepakati kerja sama dengan Linkfield Technologies untuk penjualan sebanyak 25 unit pesawat turboprop N219 yang akan dilengkapi dengan konfigurasi tertentu disesuaikan dengan kebutuhan operasional end user, dimana sebanyak 5 unit untuk end user Bandung Airlines Co. Ltd. – perusahaan penerbangan di Cina dan 20 unit untuk leasing company di Cina.

Baca juga: Prototipe Pesawat N-219 Hadir di Belitung dalam Side Event G20

Kesepakatan ini ditandai dengan penandatanganan Letter of Intent (LoI) yang ditandatangani oleh Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PT DI, Moh. Arif Faisal dan Direktur Linkfield Technologies, Patrick Goh, disaksikan oleh Wakil Komisaris Utama PT DI, Bonar Halomoan Hutagaol di booth PT DI.

Sebagaimana yang disampaikan Patrick Goh, bahwa The Aero Asia 2023 merupakan sebuah kesempatan yang luar biasa untuk kedua pihak, dimana akan dipamerkan berbagai produk pesawat kebanggaan Indonesia, terutama N-219, “karena selama 50 tahun terakhir semua orang mencoba membangun pesawat besar untuk rute dari kota-kota besar maupun internasional, namun mereka lupa bahwa kita masih punya permasalahan konektivitas bagi penduduk yang tinggal di wilayah pedesaan, belum berkembang dan ada masalah akses, tidak ada kereta api, jalan raya, kecuali Anda memiliki pesawat seperti N-219, yang kemudian dapat meningkatkan pembangunan ekonomi di pedesaan,” jelas Patrick Goh saat kunjungannya ke Bandung, Indonesia pada bulan Oktober 2023.

PT DI dan Linkfield Technologies sebelumnya telah menyepakati kerja sama pada tanggal 19 Oktober 2023, dimana Linkfield Technologies akan bertindak sebagai reseller untuk melakukan kegiatan pemasaran dan penjualan pesawat produksi PT DI, seperti CN235-220, NC212i dan N-219, untuk memenuhi kebutuhan pesawat militer dan komersial di wilayah Cina. Kerja sama ini merupakan wujud komitmen PTDI yang tidak hanya menghadirkan sosok industri penerbangan di tingkat global, tapi juga mendatangkan devisa dan multiplier economic effect.

Baca juga: N-219 Nurtanio, Digadang Sebagai Jawara Penerbangan Perintis di Papua

“Merupakan hal yang luar biasa bagi PT DI untuk dapat bekerja sama dengan Linkfield Technologies dan menyepakati rencana penjualan 25 unit N219 di pasar ekspor, yang tentunya akan mendorong kekuatan dan kehadiran produk kami di pasar Cina. N-219 merupakan pesawat yang dirancang dan dikembangkan sepenuhnya oleh para engineer Indonesia dan saya yakin kita semua bangga mengatakan bahwa acara ini menandai tonggak penting bagi N-219 memasuki pasar global,” kata Moh. Arif Faisal, Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PT DI.

Ini Dia Jawaban Kenapa Pesawat Dilarang Melintas di Atas Ka’bah!

Sebagai Tanah Suci umat Muslim di seluruh penjuru dunia, sudah bukan menjadi rahasia umum lagi jikalau Mekkah mendapatkan ‘perlakuan khusus’. Ditambah dengan posisi dari Ka’bah yang terletak di tengah-tengah masjid paling suci dalam agama Islam, Masjidil Haram. Nah, bagi Anda yang sudah pernah menunaikan ibadah haji atau umroh ke Mekkah dan kota-kota lainnya, pernahkah Anda melihat sebuah pesawat terbang melintas di atas Ka’bah?

Baca Juga: Mulai Alergi Kacang Hingga Abu Jenazah, Inilah Deretan Peraturan Unik di Maskapai

Ya, pasti semua sepakat untuk menjawab tidak pernah melihat pesawat terbang mengudara di atas Ka’bah. Beberapa spekulasi mulai bermunculan seiring dengan semakin banyaknya orang yang skeptis akan pertanyaan ini. Salah satu dari jawaban yang sering kita dengar terkait pertanyaan tersebut adalah karena Ka’bah memiliki gelombang magnet yang sangat besar sehingga pesawat tidak diperkenankan untuk mengudara di atasnya.

Selain jawaban tersebut, ada juga teori lain yang menyebutkan bahwa terdapat ruang hampa yang sangat misterius di atas Ka’bah. Namun jawaban tersebut tidaklah benar. Lalu, kenapa pesawat tidak pernah melintas di atas Ka’bah?

Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, seorang pilot kenamaan berkebangsaan Arab Saudi, Hasan Al Ghamidi mengatakan bahwa spekulasi yang berkembang di publik itu tidaklah benar adanya.

“Kabar dan informasi yang selama ini beredar di media sosial salah dan menyesatkan,” ujar Hasan dikutip dari laman orient-news.net.

Hasan yang juga berprofesi sebagai pemerhati penerbangan sipil ini juga menampik pernyataan tentang eksistensi ruang hampa dan medan magnet yang sangat kuat di atas Ka’bah. Hasan menyebut, bahwa pelarangan sebuah pesawat mengudara di atas Ka’bah itu semata-mata untuk menjaga kenyamanan dan keselamatan para jemaah haji dan umroh.

Baca Juga: 10 Peraturan Lalu Lintas Unik Ini Siap Membuat Anda Kernyitkan Dahi

“Karena posisi Kota Mekah berada di wilayah pegunungan, ketika ada pesawat yang melintas maka suara pesawat akan memantul dan menimbulkan efek buruk bagi para jamaah haji atau umroh,” terang Hasan.

Jadi, sudah terjawab ya kenapa pesawat dilarang melintas di atas Ka’bah!

Seoul Cabut Zona Larangan Terbang di Perbatasan, Ketegangan dengan Pyongyang Bisa Berdampak pada Penerbangan Komersial

Hanya berstatus gencatan senjata sejak tahun 1953, antara Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut) sejatinya masih berperang. Dengen kesepakatan gencatan senjata setelahnya, maka kedua negara bersaudara itu bisa tetap eksisis meski dalam status siaga untuk berperang. Namun belum lama ada perkembangan yang harus dicermati terkait ‘kondisi udara’ di wilayah Semenanjung Korea.

Baca juga: Air Koryo, Flag Carrier Korea Utara dengan Predikat Bintang 1 Versi Skytrax

Dikutip New York Times – nytimes.com (22/11/2023), dilaporkan bahwa otoritas penerbangan Korea Selatan telah menghapus Zona Larangan Terbang (No Fly Zone) di dekat perbatasan dengan Korea Utara, tepatnya hal itu dilakukan sehari setelah Pyongyang menempatkan satelit mata-mata militer ke orbit untuk pertama kalinya, Seoul mengatakan pihaknya tidak akan lagi mematuhi larangan penerbangan di kawasan perbatasan.

Korea Selatan menangguhkan zona larangan terbang di perbatasan dengan Korea Utara pada hari Rabu, membuka jalan bagi negara tersebut untuk melanjutkan penerbangan pengintaian di sana sehari setelah Korea Utara berhasil menempatkan satelit mata-mata militer pertamanya ke orbit.

Sebagai tanggapan, Korea Utara juga mengatakan bahwa mereka tidak akan lagi menghormati zona larangan terbang. Perjanjian ini juga menyatakan diakhirinya seluruh perjanjian yang ditandatangani dengan Korea Selatan pada tahun 2018 untuk menghentikan permusuhan.

Perjanjian militer antar-Korea, yang ditandatangani dalam periode singkat pemulihan hubungan di Semenanjung Korea, mencakup zona larangan terbang dan perjanjian larangan latihan militer dengan peluru tajam di dekat perbatasan. Dalam beberapa tahun terakhir, kedua Korea saling menuduh satu sama lain melanggar perjanjian karena hubungan mereka memburuk.

“Kami akan menarik langkah-langkah militer, yang diambil untuk mencegah ketegangan dan konflik militer di semua bidang termasuk darat, laut dan udara, dan mengerahkan angkatan bersenjata yang lebih kuat dan perangkat keras militer tipe baru” di sepanjang perbatasan, kata Kementerian Pertahanan Nasional Korea Utara dalam pernyataannya. sebuah pernyataan.

Korea Utara mengatakan pada hari Rabu bahwa roket yang lepas landas sehari sebelumnya dari stasiun peluncuran luar angkasa Tongchang-ri “secara akurat” menempatkan satelit tersebut di orbit. Media pemerintah Korea Utara memuat liputan penuh di halaman depan mengenai peluncuran tersebut, yang terjadi setelah dua peluncuran satelit sebelumnya, yang dilakukan pada bulan Mei dan Agustus, gagal karena kegagalan fungsi roket.

Terkait dengan penerbangan sipil, Bandara Internasional Incheon (ICN) terletak di Incheon, Korea Selatan, berada di sebelah barat daya Seoul. Secara umum, Bandara Incheon terletak di sebelah selatan garis perbatasan antara Korea Selatan dan Korea Utara. Jaraknya bisa mencapai puluhan kilometer atau lebih, Pusat kota Seoul sendiri hanya berjarak sekitar 40-50 kilometer dari garis perbatasan dengan Korea Utara.

Baca juga: Anti Mainstream, Bandara Pyongyang Diklaim AS Terhubung dengan Fasilitas Nuklir Terbesar Korea Utara

Perbatasan antara Korea Selatan dan Korea Utara berada di Zona Demiliterisasi (DMZ), yang merupakan area demiliterisasi yang luas dan penuh ketegangan. Dengan kondisi tersebut, jika eskalasi ketenganan antara Korsel dan Korut meningkat, maka besar kemungkinan akan lansung berpengaruh pada penerbangan komersial internasional yang melewati Bandara Incheon.

Hari Ini, 64 Tahun Lalu, Boeing 720 (717) Sang Petarung Jarak Pendek Empat Mesin Terbang Perdana

Pada hari ini, 64 tahun lalu, bertepatan dengan Senin, 23 November 1959, Boeing 720 terbang perdana. Pesawat yang merupakan versi jarak pendek dari Boeing 707 ini pun selama beberapa tahun menjadi andalan Boeing untuk merajai penerbangan jarak pendek, sebelum akhirnya Boeing meluncurkan Boeing 727 dan 737 untuk pangsa pasar tersebut.

Baca juga: Inilah Alasan Kenapa Boeing Tak Buat Seri 777-100

Dilansir laman resmi Boeing, Boeing 720 awalnya tak begitu diharapkan ketika permintaan akan pesawat dengan kemampuan mendarat di bandara yang lebih kecil mengalir deras dari maskapai seluruh dunia, tak lama pasca Boeing 707 terbang perdana pada 20 Desember 1957. Sebab, di tahun yang sama dengan penerbangan perdana Boeing 720, proses pengembangan Boeing 727 -yang pada akhirnya menggantikan 720- sedang dilakukan.

Akan tetapi, usai pergolakan di internal Boeing, pabrikan itu akhirnya melanjutkan program Boeing 720 dan resmi terbang perdana, dua tahun first flight setelah Boeing 707.

Sebagaimana permintaan pasar, Boeing 720 didesain khusus untuk rute jarak pendek hingga menengah dan memiliki kemampuan beroperasi di landasan pacu yang lebih pendek. Para insinyur Boeing mengurangi panjang badan pesawat hingga 9 kaki (2,7 meter), mengubah leading edge flaps, dan memasang mesin turbofan Pratt & Whitney JT3C-7.

Meski terus dibayang-bayangi dengan kehadiran Boeing 727 yang pada akhirnya berhasil terbang perdana pada 9 Februari 1963, tercatat, ada sekitar 154 unit 720 yang diproduksi Boeing antara tahun 1959 dan 1967. Peran jarak pendek hingga menengahnya kemudian diisi oleh Boeing 727 dan Boeing 737, yang terus eksis sampai saat ini melalui varian terbarunya, Boeing 737 MAX.

Spesifikasi Boeing 720 dan Boeing 720B. Foto: Tangkapan layar

Dikutip dari aerotime.aero, Boeing 720 sebetulnya bisa dibilang aneh karena melawan formula penamaan 7×7 oleh departemen pemasaran Boeing untuk pesawat komersial. Sebagaimana disebutkan di awal, Boeing 720 merupakan versi pengembangan dari Boeing 707. Karenanya, 720 dinamakan sebagai Boeing 707-020, kemudian berubah menjadi Boeing 717 hingga akhirnya menjadi Boieng 720.

Dalam sebuah iklan di majalah Flight, pesawat jarak pendek dan menengah dengan empat mesin ini dikalim sebagai “Pesawat jet tercepat di kelasnya, dengan kecepatan jelajah maksimum mencapai 615 mil atau 989 km per jam.”

“Seri 720 yang serba guna akan memberikan keuntungan kepada maskapai penerbangan dengan keuntungan yang luar biasa, penggunaan awal yang sangat tinggi, dan daya tarik penumpang yang belum pernah terjadi sebelumnya – seperti yang ditunjukkan oleh kesuksesan brilian jet Boeing yang sudah beroperasi,” bunyi lain iklan Boeing di majalah Flight.

Baca juga: Berapa Banyak Pesawat Boeing 737 All Series yang Masih Terbang dan dalam Pesanan?

Beberapa bulan setelah penerbangan komersial perdana oleh United Airlines pada 5 Juli 1960, Boeing memperkenalkan versi 720B yang dengan menyematkan mesin terbaru Pratt & Whitney JT3D. Mesin tersebut dianggap jauh lebih efektif dan efisien. Versi ini pada akhirnya menjadi yang terlaris dengan total penjualan 89 unit dan sisanya Boeing 720 sebanyak 65 unit.

Jumlah tersebut setidaknya dioperasikan oleh puluhan maskapai di dunia, di antaranya Aer Lingus, Air Malta, American Airlines, Braniff International Airways, Continental Airlines, Eastern Air Lines, Northwest Airlines, Lufthansa , Pan American World Airways (Pan Am), dan United Airlines.

Jet Bisnis Diganjar Sanksi Terbang, Begini Cara ‘Sultan’ Moskow Bisa Tetap Menikmati Eropa Barat

Sebelum Operasi Khusus (invasi) Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, Eropa adalah ‘taman bermain’ bagi orang-orang super kaya di Moskow. Dengan banyaknya uang yang tersedia, terdapat banyak pesawat pribadi juga, cukup untuk menempatkan Rusia di posisi ke-11 di dunia untuk keberangkatan jet bisnis terbanyak pada tahun 2022.

Baca juga: Dassault Falcon 50 “Suzanna” – Jet Bisnis yang Disulap Jadi Peluncur Rudal Anti Kapal Exocet

Daftar tujuan teratas untuk menerbangkan jet pribadi dari Rusia adalah tempat-tempat stategis di Eropa. Analisis menarik yang dilakukan New York Times menunjukkan Perancis, Swiss, Inggris, dan Jerman merupakan rute yang paling banyak dilalui para taipan dari Rusia. Tapi itu terjadi sebelum segalanya berubah.

Dikutip dari Simple Flying, setelah invasi Rusia ke Ukraina, maka Eropa Barat melakukan pembatasan terhadap Rusia, seperti menjatuhkan sanksi dan menyita aset oligarki Rusia yang terkait dengan Kremlin. Termasuk memaksa Roman Abramovich menjual Chelsea, klub sepak bola (sepak bola) Eropa yang dimilikinya selama 19 tahun, dan menyita dua jet pribadinya.

Takut kehilangan ‘mainan’ mahal mereka, orang-orang kaya Rusia lainnya mulai mengangkut kapal pesiar super dan jet bisnis mereka ke negara-negara di mana mainan tersebut tidak dapat disita. Dengan pembatasan yang membatasi penerbangan jet pribadi milik Rusia, beberapa oligarki Rusia yang inovatif telah menemukan cara untuk mengabaikan aturan tersebut.

Jika Uni Eropa tidak memberikan sanksi secara pribadi, mereka bisa masuk. Namun, mereka tidak dapat tiba dari Rusia atau berada di pesawat yang terdaftar di Rusia. Dalam hal ini, orang-orang kaya Rusia dapat terbang ke negara ketiga dan kemudian menyewa jet pribadi yang terdaftar secara lokal untuk terbang ke Eropa.

Dua contoh negara yang memfasilitasi Rusia adalah Turki dan Uni Emirat Arab (UEA). Menurut euronews, mengutip sumber terpercaya, kedatangan orang Rusia dengan jet pribadi sewaan melalui negara ketiga adalah kejadian mingguan.

Baca juga: Bombardier Global 8000 – Pesawat Jet Bisnis dengan Kecepatan Supersonik, Pertama Sejak era Condorde Berakhir

Laporan New York Times selanjutnya menunjukkan bahwa penerbangan ke negara lain telah meningkat secara signifikan sejak sanksi dimulai. UEA, yang sudah menjadi tujuan populer, mengalami peningkatan dari hanya 4% dari seluruh penerbangan jet pribadi menjadi 6,1% pada tahun lalu. Turki hanya memiliki 1% pra-sanksi, namun kini menjadi titik akhir untuk 3,6% penerbangan, sementara Azerbaijan hampir tidak memiliki penerbangan sama sekali, dan kini menyumbang 2,3%.