Food District Changi – Inilah Food Court Bandara Terbesar di Dunia

Eksistensi bandara internasional tak bisa dilepaskan dari beragam layanan pendukungnya. Salah satu yang tak bisa dilepaskan adalah ketersediaan fasilitas food court bagi para pelancong. Dan bicara tentang food court di bandara, maka yang terbesar di dunia ternyata ada di Bandara Changi Singapura.

Baca juga: Sajikan Hidangan Hangat dan Bersih, Stasiun Central Mumbai Hadirkan Mesin Penjual Makanan Otomatis

Food District di Bandara Changi Singapura merupakan food court airport terbesar saat ini dengan area seluas 9.000 meter persegi dengan dihuni lebih dari 80 tenant makanan dan minuman yang berbeda-beda.

Food District terletak di Terminal 4 Bandara Changi Singapura dan menawarkan berbagai macam pilihan kuliner lokal dan internasional, mulai dari hidangan Asia, Barat, Timur Tengah, hingga hidangan vegetarian dan makanan sehat.

Food District dilengkapi dengan fasilitas modern seperti kios self-checkout dan teknologi augmented reality yang membuat pengalaman kuliner di sana semakin menarik. Selain itu, Food District juga menawarkan suasana yang nyaman dan modern dengan dekorasi yang menarik dan pencahayaan yang canggih.

Food District dulunya dikenal sebagai Terminal 4 Food Hall, dibuka pada tanggal 31 Oktober 2017. Food District merupakan hasil kerjasama antara Changi Airport Group dan operator makanan dan minuman, dengan tujuan untuk memberikan pengalaman kuliner yang lebih baik bagi para penumpang.

Sejak dibuka, Food District menjadi salah satu tujuan kuliner terpopuler di Bandara Changi. Berbagai macam pilihan kuliner lokal dan internasional yang tersedia di sana membuat Food District menjadi tempat yang menarik bagi para penumpang yang sedang transit atau menunggu penerbangan.

Baca juga: Seru! Ada Perosotan Menuju Boarding Room di Terminal 4 Bandara Changi 

Dengan berbagai inovasi dan fasilitas yang disediakan, Food District di Bandara Changi Singapura berhasil menjadi food court airport terbesar dan terpopuler di dunia.

Tranvía de la Costa – Trem dengan Jalur Terpanjang di Dunia, Ikon Transportasi di Valencia

Meski debut trem terasa terpinggirkan, namun, wahana transportasi khas masyarakat urban ini tetap punya tempat tersendiri. Mengular di tengah jalanan kota dengan kecepatan yang rendah, menjadi ciri khas dari trem. Bicara tentang trem, menjadi pertanyaan, dimanakah jalur trem terpanjang di dunia?

Baca juga: Yang Dikenang dari Kiev, Punya Jalur Trem Pertama di Bekas Kekaisaran Rusia

Jalur trem terpanjang di dunia adalah jalur trem Spanyol V3 atau Tranvía de la Costa, yang beroperasi di kota Valencia, Spanyol. Jalur ini memiliki panjang sekitar 19,6 km dan menghubungkan kota Valencia dengan beberapa kota kecil di sekitarnya seperti Alboraya, Macheria, dan Tavernes Blanques.

Jalur trem ini memiliki 27 stasiun dan dioperasikan oleh perusahaan transportasi umum Ferrocarrils de la Generalitat Valenciana (FGV). Jalur trem V3 ini mulai beroperasi pada tahun 1994 dan sejak itu telah menjadi salah satu alat transportasi publik utama di Valencia.

Sebelumnya, Valencia memiliki jaringan trem yang lebih luas pada awal abad ke-20, tetapi jaringan tersebut kemudian ditutup pada tahun 1960-an dan digantikan oleh bus. Namun, pada tahun 1980-an, pemerintah daerah Valencia memutuskan untuk membangun kembali jalur trem di sekitar Valencia dan sekitarnya sebagai bagian dari rencana pengembangan transportasi kota yang lebih ramah lingkungan.

Konstruksi Tranvía de la Costa dimulai pada tahun 1992 dan selesai dua tahun kemudian. Jalur ini memiliki panjang sekitar 19,6 km dan dioperasikan oleh FGV menggunakan trem modern yang didesain khusus untuk jaringan Valencia.

Jalur trem ini menjadi salah satu alat transportasi publik utama di Valencia dan menghubungkan pusat kota Valencia dengan beberapa kota kecil di sekitarnya, serta area pantai yang populer di pantai timur Spanyol. Saat ini, jalur trem V3 menjadi bagian penting dari sistem transportasi kota Valencia.

Tarif Tranvía de la Costa bervariasi tergantung pada jarak perjalanan dan metode pembayaran. Berikut adalah beberapa informasi tarif yang dapat membantu Anda:

1. Tarif tunggal
Tarif tunggal (single ticket) di jalur trem V3 biasanya berkisar antara €1,50 hingga €3,90 tergantung pada jarak perjalanan. Tarif ini berlaku untuk satu kali perjalanan dan memiliki masa berlaku 1 jam setelah pembelian.

2. Kartu multi-perjalanan (multi trip)
FGV menawarkan kartu multi-perjalanan (bonometro) yang memungkinkan perjalanan lebih hemat jika dibandingkan dengan tarif tunggal. Kartu multi-perjalanan juga memiliki masa berlaku yang lebih lama daripada tiket tunggal.

Baca juga: Dari Proyek Jalur MRT Glodok ke Kota, Ditemukan Rel Trem Masa Kolonial Hindia Belanda

3. Kartu harian
FGV juga menawarkan kartu harian (daily ticket) yang memungkinkan perjalanan tak terbatas di semua jalur trem dan bus di Valencia selama satu hari kalender. Harga kartu harian biasanya sekitar €7 hingga €8.

Gelar Referendum, Warga Paris Putuskan Larang Penyewaan Skuter Listrik

Paris berbeda dengan kota-kota besar lainnya di dunia, ketika penyewaan skuter listrik tengah digandrungi oleh kaum urban, maka mayoritas warga Paris, Perancis, justru memilih untuk melarang layanan penyewaan skuter listrik. Hal tersebut tertuang dalam hasil referendum yang digelar oleh warga kota mode tersebut.

Baca juga: Skuter Listrik Tiup Poimo Kini Hadir dalam Versi Custom-Fit, Skuter Bisa Menyesuaikan Badan

Dilansir dari BBC.com (3/4/2023), Warga Paris telah memilih untuk melarang persewaan skuter listrik di kota mereka, yang sekaligus memberikan pukulan bagi operator skuter dan kemenangan bagi juru kampanye keselamatan jalan. Hampir 90 persen suara yang diberikan pada hari Minggu mendukung pelarangan perangkat bertenaga baterai, demikian hasil resmi referendum menunjukkan.

Referendum itu dilakukan sebagai tanggapan atas meningkatnya jumlah orang yang terluka dan terbunuh di e-skuter di ibu kota Perancis. Dari 1,38 juta orang dalam daftar pemilih kota, lebih dari 103.000 orang ikut serta, menurut angka resmi. Dari jumlah tersebut, lebih dari 91.300 memilih menentang skuter.

Paris adalah salah satu kota pertama yang mengadopsi kendaraan listrik – tetapi para kritikus berpendapat bahwa mereka lebih berbahaya daripada menghasilkan kebaikan. Ada kekhawatiran yang berkembang dengan cara beberapa orang mengendarai skuter – berkelok-kelok melewati lalu lintas, menghindari pejalan kaki di trotoar, dan mencapai kecepatan 27 km per jam.

Pengendara sering tidak memakai helm dan anak-anak berusia 12 tahun dapat secara legal menyewa e-skuter. Ada juga kritik bahwa kelompok e-skuter yang diparkir mengotori trotoar.

Pada tahun 2021, seorang wanita Italia berusia 31 tahun tewas setelah ditabrak oleh e-skuter yang membawa dua orang. Dia jatuh dan kepalanya membentur trotoar, dan menderita serangan jantung.

Tetapi operator e-skuter berpendapat bahwa kendaraan tersebut merupakan bagian kecil dari keseluruhan kecelakaan lalu lintas di kota. Walikota Paris Anne Hidalgo menyerukan referendum, di mana para pemilih dapat mengatakan apakah mereka mendukung atau menentang e-skuter mengambang bebas. Kendaraan milik pribadi tidak termasuk dalam pemungutan suara.

Baca juga: Mercedes-Benz Luncurkan Skuter Listrik dengan Bandrol Rp19,8 Juta

Sementara itu, skuter yang dibuang juga menjadi masalah yang signifikan di Paris, dengan banyak ditemukan di taman dan alun-alun kota. Larangan memarkir skuter tanpa dok di trotoar sebagian besar tidak diindahkan meskipun ada ancaman denda €35.

Optimalkan Tingkat Keterisian Kursi, Garuda Indonesia Tawarkan “Lebaran ke Jakarta”

Penerbangan di era musim Lebaran terbilang unik, meski maskapai menuai untung dengan peningkatan trafik penumpang yang diikuti penyesuain tarik pada tiket. Namun, penerbangan balik ke bandara asal kerap mengalami kekurangan peminat. Alhasil bila pesawat berangkat dengan jumlah penumpang penuh, maka saat balik bisa sebaliknya. Untuk itu perlu dilakukan strategi dari pihak maskapai.

Baca juga: Sambut Lebaran 2023, Garuda Indonesia dan Citilink Siapkan 1,2 Juta Kursi Penerbangan

Salah satunya dilakukan oleh Garuda Indonesia yang menggelar program “Lebaran ke Jakarta”, yang mana maskapai plat merah itu menghadirkan diskon tiket hingga 55 persen bagi masyarakat yang akan berlebaran ke Jakarta.

Selain menawarkan harga khusus dengan diskon tiket hingga 55 persen, program “Lebaran ke Jakarta” turut menghadirkan berbagai added value layanan penerbangan lainnya seperti diskon 50 Persen untuk penukaran Garuda Miles menjadi tiket penerbangan serta promo excess baggage dengan potongan harga hingga 80 persen.

“Lebaran ke Jakarta” diselenggarakan sejak 3 Maret 2023 hingga 1 Mei 2023 mendatang. Adapun sejumlah harga spesial mulai dari Rp700 ribuan untuk satu kali penerbangan ke Jakarta yang ditawarkan pada program ini antara lain adalah :

• Semarang – Jakarta : mulai dari Rp700 ribuan
• Bali – Jakarta : mulai dari Rp1,4 jutaan
• Medan – Jakarta : mulai dari Rp1,7 jutaan
• Padang – Jakarta : mulai dari Rp1,5 jutaan
• Surabaya – Jakarta : mulai dari Rp1,1 jutaan
• Lombok – Jakarta : mulai dari Rp1,4 jutaan
• Palu – Jakarta : mulai dari Rp1,7 jutaan
• Yogyakarta – Jakarta : mulai dari Rp900 ribuan
• Makassar – Jakarta : mulai dari Rp1,6 jutaan

Yutong, Manufaktur Bus Terbesar di Dunia, Pernah Melayani TransJakarta

Bagi pengguna layanan TransJakarta, dahulu mungkin mengenal merek bus Yutong. Hadir dalam model bus gandeng, bus produksi Cina ini telah memberi warna pada transportasi massal di ibu kota, sebelum akhirnya digantikan merek Zhongtong. Namun, tahukah Anda, bahwa pihak manufaktur, China Bus Corporation atau Yutong Group, adalah manufaktur bus terbesar di dunia.

Baca juga: Yutong dan WeRide Kembangkan Bus Tanpa Pengemudi

Yutong Group didirikan pada tahun 1993 oleh pengusaha asal Cina, Tang Yuxiang, dengan nama Henan Yutong Bus Co., Ltd. Perusahaan ini memulai produksi bus pertamanya pada tahun yang sama, dengan kapasitas produksi sekitar 200 unit per tahun.

Pada awalnya, Yutong Group hanya memproduksi bus untuk pasar domestik. Namun, pada tahun 2004, perusahaan ini mulai memperluas bisnisnya ke pasar internasional dengan memasuki pasar Amerika Selatan. Pada tahun 2012, Yutong Group membuka pabrik pertamanya di luar Cina, yaitu di Skopje, Makedonia Utara.

Yutong Group berkantor pusat di Zhengzhou dan selama ini memproduksi berbagai jenis kendaraan, termasuk bus, truk, dan kendaraan listrik, dan memiliki pabrik di beberapa negara. Pada tahun 2020, Yutong Group mencatatkan penjualan sekitar 68.000 unit bus, menjadikannya sebagai perusahaan bus terbesar di dunia dari segi volume penjualan.

bus otonom kerja sama antara WeRide dan Yutong (kr-asia.com)

Yutong Group kini memiliki pabrik di beberapa negara di seluruh dunia, termasuk:

Cina
Yutong Group memiliki beberapa pabrik di Tiongkok, termasuk di kota Zhengzhou, Luoyang, dan Datong.

Makedonia Utara
Pada tahun 2012, Yutong Group membuka pabrik pertamanya di luar Tiongkok di kota Skopje, Makedonia Utara.

Rusia
Yutong Group membuka pabrik di Rusia pada tahun 2015, yang terletak di kota Shuchi, wilayah Moskow.

Iran
Yutong Group memiliki pabrik di Iran, yang terletak di kota Kashan.

Venezuela
Pada tahun 2008, Yutong Group membuka pabrik di Venezuela, yang terletak di kota Yaritagua.

Laos
Yutong Group membuka pabrik di Laos pada tahun 2018, yang terletak di kota Vientiane.

Tanzania
Yutong Group membuka pabrik di Tanzania pada tahun 2016, yang terletak di kota Dar es Salaam.

Baca juga: Bus Zhongtong – Lain di Indonesia, Lain di Cina

Selain itu, Yutong Group juga memiliki kantor cabang dan pusat penelitian dan pengembangan di beberapa negara di seluruh dunia, termasuk di Amerika Serikat, Jerman, Prancis, dan Afrika Selatan.

“Joint Use Airport” Bukan Hanya di Indonesia, Inilah Bandara Internasional dengan Fungsi Sipil dan Militer

Mungkin banyak yang tidak menyadari, bahwa lumayan banyak bandara di Indonesia yang mengemban dua fungsi, yakni sebagai bandara sipil dan bandara militer (disebut pangkalan udara/lanud). Sebut saja Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur. Dengan landas pacu yang sama, antara penerbangan sipil dan militer harus saling berbagai dalam koordinasi yang baik.

Baca juga: Dibalik Rencana ‘Gantikan’ Bandara Halim, Jangan Lupa Bandara Pondok Cabe Juga Home Base Satuan Militer dan Polisi Udara

Lantaran ada fungsi yang berbeda dengan dua otoritas, maka bandara dengan model seperti Halim Perdanakusuma kerap disebut secara berbeda, yakni sebagai Bandara Halim Perdanakusuma untuk penerbangan sipil komersial dan Lanud Halim Perdanakusuma untuk penerbangan militer. Begitu juga dengan Bandara Ngurah Rai dan Lanud Ngurah Rai, dan masih banyak lainnya.

Nah, model bandara dengan dua fungsi, yakni sipil dan militer, disebut sebagai bandara bersama (joint-use airport). Bandara bersama biasanya dikelola oleh otoritas sipil dan militer yang bekerja sama untuk mengoperasikan bandara dan memastikan keselamatan operasi penerbangan sipil dan militer.

Selain di Indonesia, berikut beberapa bandara di luar negeri yang mengemban fungsi penerbangan sipil dan militer.

1. Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan
Bandara ini dikelola oleh Otoritas Bandara Incheon (sipil) dan Angkatan Udara Korea Selatan (militer).

2. Bandara Internasional Haneda, Jepang
Bandara ini dikelola oleh Otoritas Bandara Tokyo (sipil) dan Angkatan Udara Bela Diri Jepang (militer).

3. Bandara Internasional Changi, Singapura
Bandara ini dikelola oleh Otoritas Bandara Changi (sipil) dan Angkatan Udara Singapura (militer).

4. Bandara Internasional Indira Gandhi, India
Bandara ini dikelola oleh Otoritas Bandara Indira Gandhi Delhi (sipil) dan Angkatan Udara India (militer).

5. Bandara Internasional San Diego, Amerika Serikat
Bandara ini dikelola oleh Otoritas Bandara San Diego (sipil) dan Pangkalan Marinir Miramar (militer).

Baca juga: Bandara Wiriadinata, Sebelumnya Bernama Lanud Cibeureum Tasikmalaya

Bandara bersama memberikan banyak manfaat karena menggabungkan sumber daya dan infrastruktur, sehingga meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya operasi. Namun, koordinasi yang ketat antara pihak sipil dan militer diperlukan untuk menjaga keselamatan dan efisiensi operasi penerbangan.

Ada Layanan Kereta, Tapi Empat Negara ini Justru Tidak Punya Perusahaan Kereta Api

Tidak seperti lazimnya di kebanyakan negara, ada beberapa negara yang mempunyai layanan kereta api, tetapi tidak memiliki perusahaan kereta api sendiri dan mengandalkan perusahaan kereta api dari negara tetangga atau perusahaan kereta api swasta untuk mengoperasikan layanan kereta api mereka.

Baca juga: Baker Street – Beroperasi Sejak 1863, Inilah Stasiun Kereta Bawah Tertua di Dunia 

Dan setelah kami sarikan, ada empat negara yang kebetulan berada di Eropa dan masuk kategori tersebut.

1. Andorra
Negara kecil di Pegunungan Pyrenees antara Perancis dan Spanyol tidak memiliki perusahaan kereta api sendiri. Namun, kereta api dari perusahaan Prancis SNCF dan perusahaan kereta api Spanyol RENFE beroperasi di negara ini.

2. San Marino
Negara kecil di Italia ini juga tidak memiliki perusahaan kereta api sendiri. Namun, kereta api dari perusahaan kereta api Italia Trenitalia beroperasi di dekat wilayah San Marino.

3. Liechtenstein
Negara kecil di Eropa ini tidak memiliki perusahaan kereta api sendiri, namun kereta api dari perusahaan kereta api Swiss SBB (Schweizerische Bundesbahnen) beroperasi di negara ini.

4. Monaco
Negara kecil di pantai Mediterania ini tidak memiliki perusahaan kereta api sendiri, namun kereta api dari perusahaan kereta api Perancis SNCF beroperasi di dekat wilayah Monaco.

Baca juga: Manfaatkan Runway dan Apron, Tiga Bandara ini Gelar Balapan Mobil: Ada Balap Formula E

Namun, perusahaan kereta api di negara tetangga atau swasta seringkali dapat memberikan layanan kereta api yang memadai bagi negara-negara kecil atau negara yang memiliki permintaan kereta api yang rendah.

Selain Keterbatasan Wilayah, Inilah Alasan Mengapa Vatikan Tidak Memiliki Bandara

Andorra yang terletak di antara Perancis dan Spanyol, dikenal sebagai negara terbesar yang tidak memiliki fasilitas bandar udara (bandara). Sementara Vatikan adalah kebalikannya, yakni negara terkecil yang juga tidak memiliki bandara. Dengan peran Vatikan yang strategis sebagai pusat Gereja Katolik dunia dan tempat kediaman Paus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik.

Baca juga: Inilah Andorra, Negara Terbesar Tanpa Bandara

Vatikan memang unik, karena dari aspek geografi berada di dalam Italia, lebih tepatnya di Roma. Berikut ini beberapa alasan mengapa Vatikan tidak memiliki bandara:

1. Ukuran Wilayah
Vatikan hanya memiliki wilayah seluas sekitar 44 hektar, sehingga tidak cukup luas untuk membangun sebuah bandara.

2. Lokasi
Vatikan terletak di tengah kota Roma, yang memiliki beberapa bandara internasional yang dapat digunakan untuk memasuki atau meninggalkan wilayah tersebut.

3. Keterbatasan Infrastruktur
Vatikan terletak di dalam kota Roma yang sudah sangat padat, sehingga membangun sebuah bandara akan membutuhkan pengorbanan wilayah dan keterbatasan infrastruktur lainnya seperti lahan dan fasilitas penunjang.

4. Kebijakan Udara
Ada kebijakan udara yang mencegah pendirian bandara baru di kawasan pusat kota seperti di Roma, hal ini mungkin juga memengaruhi keputusan Vatikan untuk tidak membangun bandara.

Baca juga: Negara Mana Saja yang Tidak Punya Maskapai Nasional dan Tidak Punya Bandara?

Meskipun Vatikan tidak memiliki bandara, ada beberapa bandara internasional di dekatnya seperti Bandara Internasional Leonardo da Vinci-Fiumicino dan Bandara Internasional Ciampino yang dapat digunakan oleh peziarah atau tamu Vatikan.

Hari Ini, 36 Tahun Lalu, Garuda Indonesia GA035 Jatuh di Medan Gegara Tabrak Antena TV

Pada hari ini, 36 tahun lalu, bertepatan dengan 4 April 1987, pesawat McDonnell Douglas DC-9 Garuda Indonesia, dengan nomor penerbangan GA035, jatuh di Bandara Polonia, Medan, usai menabrak antena televisi. Dari total 45 kru dan penumpang, 23 di antaranya tewas.

Baca juga: Hari Ini, 39 Tahun Lalu, Fokker F-28 Garuda Cetak ‘Hattrick’ Kecelakaan Usai Tergelincir dan Terbakar

Dilansir baaa-acro.com, pesawat dengan nomor registrasi PK-GNQ ini diketahui terbang dari Bandara Blang Bintang, Banda Aceh, menuju Bandara Polonia, Medan. Saat berangkat dari Banda Aceh sampai seperempat perjalanan, penerbangan berjalan lancar tanpa kendala apapun.

Sampai kemudian menjelang landing, pesawat dihadapi dengan cuaca buruk. Disebutkan, ketika itu terjadi badai petir, hujan lebat dengan intensitas tinggi, dan menyebabkan turbulensi tepat saat pesawat mulai melakukan landing approach menggunakan Instrumen Landing System (ILS).

ILS sebetulnya teknologi yang cukup mumpuni untuk membuat pilot mendarat di tengah visibilitas rendah, termasuk di tengah cuaca buruk.

ILS diketahui menggunakan beragam sinyal radio yang dipancarkan oleh peralatan pada instalasi berbasis darat, serta penyertaan peralatan on-board yang sesuai sehingga dapat menerima sinyal tersebut dan mengubahnya menjadi informasi yang relevan bagi para pilot.

Data penyelarasan sumbu landas pacu dipancarkan oleh radio dari antena yang disebut localiser, yang kerap kali ditemui di ujung landasan.

Dari sinyal yang dipancarkan, pilot dapat menghitung orientasi sinyal kiri dan kanan yang diterima, dan mensejajarkan posisi pesawat dengan landas pacu. Instrumen on-board juga memungkinkan pilot mengetahui posisi pesawat terhadap landas pacu dari perbedaan intensitas sinyal yang diterima.

Data yang dikirim oleh ILS akan muncul di layar yang berada di dalam kokpit, bahkan beberapa model ILS mampu mengirimkan perintah pendaratan langsung ke sistem auto-pilot.

Meski begitu, nasib berkata lain. Cuaca buruk membuat pesawat tidak stabil dan kehilangan ketinggian. Pilot disebut sempat berusaha meningkatkan ketinggian sebelum akhirnya menabrak antena di sekitaran Bandara Polonia, jatuh, dan terbakar.

Dari total 45 kru dan penumpang, 23 di antaranya tewas (4 kru dan 19 penumpang). Sebagian besar korban tewas bukan karena jatuhnya pesawat atau terbentur dengan daratan, mengingat itu tidak terlalu tinggi dan membuat hancur bekeping-keping, melainkan karena terbakar.

Baca juga: Selain Mandala Airlines dan Hercules TNI AU, Inilah Daftar Kecelakaan yang Terkait Bandara Polonia Medan

Justru sebaliknya, 11 korban di antaranya selamat lantaran terhempas ke daratan saat pesawat membentur antena dan daratan.

Meski tak ada laporan pasti penyebab kecelakaan, namun, besar kemungkinan itu disebabkan oleh loss of control atau hilang kendali saat final approach akibat windshear dan microburst.

Honda MH02 – Jet Bisnis dengan Desain Mesin Tak Lazim, Terlahir Bukan Untuk Diproduksi Massal

Dengan dudukan mesin di atas sayap, Honda MH02 menjadi prototipe jet (eksperimental) yang hadir dengan bentuk tidak lazim. Diproduksi oleh Honda dengan dukungan dari Mississippi State University, MH02 tak sebatas prototipe yang tidak sempat terbang, pasalnya Honda MH02 berhasil terbang perdana pada tahun 1993.

Baca juga: HondaJet Elite II Jadi Pesawat Bisnis Paling Canggih di Dunia, Ini Sederet Keunggulannya

Honda MH02 sejatinya adalah pesawat jet bisnis dengan enam penumpang. Debut pesawat eksperimen ini berakhir pada tahun 1996. Namun, Honda MH02 tidak berakhir dengan insiden, selama tiga tahun diuji coba, MH02 telah mencatat waktu 170 jam terbang.

Apa yang membedakan MH02 dari hampir semua jet bisnis lain adalah konfigurasinya yang aneh secara keseluruhan. Hampir setiap bagian pesawat, mulai dari mesin hingga sayapnya, berada di tempat yang berbeda dari yang Anda temukan pada jet pribadi standar seperti Gulfstream, Learjet, atau Embraer.

Mesinnya, dua turbofan Pratt and Whitney, dipasang di bagian atas sayap, membuat MH02 lebih mirip pesawat amfibi daripada jet bisnis kelas atas. Sayapnya sendiri disapu ke depan 12 derajat dan dipasang di atas badan pesawat. Honda mengklaim desain sayap tersebut memungkinkan pesawat untuk terbang stabil pada kecepatan rendah. Kedua mesin turbofan tersebut memompa daya dorong gabungan sebesar 2.464 pon, memungkinkannya mencapai kecepatan 353 knot (atau 653 km per jam).

Tidak seperti sebagian besar pesawat yang terbuat dari kombinasi aluminium dan fiberglass, maka MH02 adalah jet semua material komposit, yang berarti bahwa semua komponen struktural jet dibuat dari bahan resin serat karbon epoksi.

Baca juga: Ada Sentuhan Mobil Mewah Honda, Ini Sederet Fitur Baru All-New HondaJet Elite S

Terlepas dari desain yang tidak konvensional, Honda sejatinya tidak pernah menginginkan MH02 terbang ke langit sebagai jet yang diproduksi massal. Satu-satunya tujuan Honda adalah untuk bertindak sebagai test bed untuk proyek terkait penerbangan Honda. MH02 tidak akan memenangkan banyak penghargaan di bidang penampilan, tetapi data yang dikumpulkan selama penerbangan terbukti sangat berharga bagi pengembangan HondaJet di masa depan.