Cerita Bos PO SAN Ajak Karoseri Ternama Lakukan Test Crash: Cuma Garuk-garuk Kepala

Kecelakaan bus di Bukit Bego, Padukuhan Kedungbueng, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, yang menewaskan 13 orang seolah menampar wajah dunia bus Indonesia, dalam hal ini tentang kekuatan bodi dan rangka bus yang melayani masyarakat.

Baca juga: Uji Guling Pada Bus, Pastikan Kabin Aman Saat Terjadi Benturan

Faktanya, di Indonesia, bus-bus yang ada, kekuatannya -baik sasis, rangka, dan bodinya- belum melewati test crash. Test crash bus di Indonesia masih menjadi hal tabu. Padahal, bus, termasuk angkutan darat lainnya, menjadi nadi dari ekosistem transportasi publik.

Direktur Utama PT SAN Putera Sejahtera (PO SAN), Kurnia Lesani Adnan, bagaimana bus dan angkutan darat lainnya tidak menjadi urat nadi jika setiap penumpang moda transportasi lainnya pasti menggunakan angkutan darat dari rumah masing-masing untuk bisa sampai ke bandara, pelabuhan, dan stasiun. Karenanya, ia menilai, angkutan darat menjadi nadi dari transportasi.

Mengingat posisinya sebagai nadi, sudah seharusnya industri angkutan darat, dalam hal ini bus, memperbaiki kualitas keamanan dan keselamatan bagi penumpang dan pengemudi. Salah satu yang umum dilakukan untuk mengukur seberapa aman bus adalah dengan melakukan test crash. Sayangnya, hal ini masih jauh panggang dari api.

Dirut yang juga Ketua Bidang Angkutan Orang DPP Organisasi Angkutan Darat (Organda) mengungkapkan, saat ini kondisinya bak telur dan ayam. Masih saling lempar handuk antara produsen sasis dan karoseri.

“Sekarang begini, kata APM (agen pemegang merek) sasis mah tidak perlu diaduin yang perlu diaduin bodi. Body builder juga begitu. Nah, kan telor ayam kan,” katanya kepada KabarPenumpang.com.

Pria yang akrab disapa Sani itu pun bercerita, ia pernah mengajak salah satu karoseri ternama untuk melakukan test crash. Namun, responnya tidak seperti yang diharapkan.

“Saya pernah sekali waktu men-challenge salah satu body builder saya bilang saya beli sasis kamu bikin bodinya, kita aduin ke tembok kita lihat impact-nya setelah itu setelah semua dilakukan sudah beres kamu perbaiki bodi itu sempurnakan lagi saya akan bayar. Se-bodoh itulah seorang Sani. Tapi saya juga ingin tau. Yaa cuma garuk-garuk kepala itu karoseri,” jelasnya.

Baca juga: Berkaca dari Kecelakaan di Tol Cipali KM150, Perlukah Ada Sekat Pembatas di Ruang Kemudi Bus?

Meski begitu, tak tak patah arang. Sani, yang juga seorang Youtuber, mengungkapkan, ia bersama Anthony, pimpinan PO Sumber Alam, telah menyepakati untuk melakukan crash test menggunakan bus yang sudah purna tugas milik keduanya.

“Insha Allah kalau tidak ada halangan temen-temen penumpang bus akan ada konten di Perpalz TV crash test. Kita adu (bus PO SAN dan bus PO Sumber Alam) kita akan lihat impactnya kita akan ulas di situ,” tutupnya.

Gambar Permainan Masa Lalu Bantu Penderita Demensia Dapatkan Informasi Tentang Transportasi Umum

Banyak orang tua di Singapura yang masih bepergian menggunakan transportasi umum. Bahkan banyak dari mereka hidup dengan demensia, dan untuk membantu di stasiun MRT maupun persimpangan bus memberikan sentuhan nostalgia. Seperti apa bentuknya?

Baca juga: Dari Bekas Kuburuan Sampai Rawa, Inilah Fakta Unik Tentang Nama Stasiun MRT Singapura

Ini adalah gambar-gambar dari permainan masa kecil orang tua yang bisa membantu mereka untuk menavigasi dunia transportasi umum yang sangat sibuk. Gambar-gambar itu terpampang di dinding persimpangan bus Toa Payoh. Di mana ini sebagai bagian inisiatif baru yang diluncurkan pada Senin (7/2/2022) kemarin yang disebut Temukan Jalan Anda.

Gambar barang-barang nostalgia akan segera terpampang di dinding empat persimpangan bus dan lima stasiun MRT, di bawah inisiatif SBS Transit dan Dementia Singapore untuk membantu orang tua dan mereka yang hidup dengan demensia menemukan jalan mereka. Foto: CNA/Grace Yeo

Uniknya, pada persimpangan bus dibagi menjadi zona yang berbeda dengan dindingnya menampilkan gambar item nostalgia yang diberi kode warna. Dilansir KabarPenumpang.com dari channelnewsasia.com (7/2/2022), kode warna akan bertindak sebagai panduan visual. Kehadiran gambar-gambar ini rencananya akan diperluas ke lebih banyak persimpangan bus dan stasiun MRT.

Bagi mereka yang hidup dengan demensia, seperti Emily Ong yang berusia 54 tahun, persimpangan bus “biasanya sangat bising” sehingga mereka tidak dapat “menyaring petunjuk” ketika mereka menanyakan arah. Karena menderita demensia, maka masalah cenderung memiliki defisit sensorik.

“Aku harus menanyakan arah untuk berjuang untuk mendengarkan dan menyaring kebisingan di sekitarnya,” ujar Ong.

Dengan inisiatif ini, yang dikembangkan bersama oleh SBS Transit dan Dementia Singapore, harapannya adalah bahwa penderita demensia dapat “bergerak di dalam komunitas” daripada tetap terisolasi di rumah.

“Semakin mereka bergerak, semakin mereka berinteraksi dengan orang-orang, kondisi mereka tidak (memburuk) begitu cepat. Tetapi jika mereka berpindah-pindah dan mereka terus tersesat dan dimarahi, maka mereka tidak akan mau keluar rumah. Jadi kami pikir kami akan melakukan sesuatu untuk membantu mereka bergerak dan berinteraksi dengan orang lain dengan lebih baik,” kata Jason Foo, CEO Dementia Singapore.

Ong percaya gambar akan memungkinkan orang tua dan mereka yang hidup dengan demensia, seperti dirinya, untuk terus bepergian.

“Karena itu integrasi ke dalam masyarakat sangat penting. Jika Anda memiliki rasa takut bepergian, takut akan transportasi umum, maka Anda tidak akan pergi ke luar. Anda terpenjara oleh lingkungan Anda sendiri,” tambah Ong, yang juga pengurus. anggota organisasi nirlaba Dementia Alliance International.

Adapun mengapa gambar tersebut menggambarkan barang-barang nostalgia masa kanak-kanak, daripada barang-barang sehari-hari yang lebih umum, penelitian telah menunjukkan bahwa orang dengan demensia memiliki memori dan kognisi jangka panjang yang lebih baik.

“Untuk orang dengan demensia, ingatan baru-baru ini hilang. Jadi, jika Anda mengecat iPhone atau iPad, mereka mungkin tidak ingat karena ini adalah barang-barang terbaru yang mereka gunakan. Tapi ini adalah barang lama yang kami ingat,” kata Foo.

SBS Transit mengatakan, stiker lantai penunjuk arah dengan gambar berkode warna yang menunjukkan jalan ke masing-masing tempat berlabuh, gambar-gambar ini akan membuat perjalanan “jauh lebih mudah dan lebih aman.

“Ini akan memungkinkan (orang dengan demensia) benar-benar pergi ke berbagai ruang, sehingga mereka benar-benar dapat terus bertunangan, terus bergerak sendiri, tanpa harus merasa harus mendapatkan pendamping,” kata CEO SBS Transit Cheng Siak Kian.

Baca juga: Di Singapura, Gunakan Kartu Nirsentuh Saat Naik Transportasi Umum Penumpang Bisa Dapat Poin Hadiah

untuk diketahui, dementia atau demensia adalah penyakit yang mengakibatkan penurunan daya ingat dan cara berpikir. Kondisi ini berdampak pada gaya hidup, kemampuan bersosialisasi, hingga aktivitas sehari-hari penderitanya.

Pengemudi Taksi Kembalikan Dompet Penumpang yang Tertinggal

Jujur, menjadi salah satu kunci agar seseorang dipercaya oleh orang lainnya. Bahkan bukan hanya pujian, tetapi penghargaan dalam berbagai bentuk bisa diberikan oleh orang lain kepada Anda. Dan ini baru saja didapatkan seorang pengemudi taksi di Inggris.

Baca juga: Yakinkan Penumpang, Pengemudi Taksi Thailand Tampilkan Tulisan “Sudah Divaksin” di Lampu Atas Mobil

Saat itu pasangan suami istri, Mark Fairclough dan sang istri Lyndsey memesan taksi pada malam tanggal 5 Februari. Keduanya memesan untuk perjalanan dari Rainford Labor Club ke Billinge dan lanjut ke kota St Helens. Ketika pasangan itu masuk ke mobil, Lyndsey menemukan sebuah dompet di kursi belakang milik penumpang sebelumnya.

“Saya dan istri duduk di kursi belakang. Kami menemukan sebuah dompet dan mengatakannya kepada pengemudi,” ujar Mark yang dikutip KabarPenumpang.com dari liverpoolecho.co.uk (8/2/2022).

Dia mengatakan, saat itu pengemudi melihatnya dan mengenali pemilik dompet tersebut baru diturunkan di Rainford. Mark mengatakan bahwa pengemudi tersebut harus menurunkan mereka di tujuan dan menunggu penumpang itu datang agar bisa terhubung kembali.

Namun yang dilakukan pengemudi adalah hal kebalikannya dan membuat Mark bersama sang istri tercengang.

“Pemilik dompet itu adalah seorang wanita tua yang berada di dalam mobil taksi itu sebelum kami. Pengemudi saat itu mengatakan, dia ingin mengembalikan dompet tersebut kepada pemiliknya,” kata Mark setelah mendapat jawaban pengemudi.

Bahkan menurut Mark, pengemudi itu mengatakan jika dirinya bisa memutar mobil dan kembali ke rumah wanita tua yang dompetnya tertinggal itu, dia akan memberikan beberapa pound dari ongkos yang tertera.

“Saya merasa lebih baik. Pengemudi itu adalah orang yang keras, kejujurannya benar-benar bagus. Dia bisa dengan mudah mengembalikannya ke kantor taksi, tetapi memilih mengantar langsung ke pemilik dompet itu,” jelas Mark.

Cerita ini, Mark posting ke Facebook untuk memuji tindakan yang dilakukan pengemudi di grup komunitas lokal.

Baca juga: Wanita Bertubuh Tambun Dilecehkan Pengemudi Taksi, Disebut Tak Muat Duduk di Kursi

“Saya memasang posting di People of St Helens karena selalu ada banyak pers buruk dengan pengemudi taksi tetapi dia baik,” tambah Mark.

Berbagai Gangguan yang Dialami Penumpang KRL Solo – Yogya

Pagi yang sibuk saat penumpang KRL memadati Stasiun Solo Balapan yang hendak beraktivitas ke kawasan Klaten, Lempuyangan hingga Yogyakarta. Suasana terlihat tampak seperti biasanya para penumpang menunggu jam kedatangan KRL yang hendak masuk ke stasiun ini. Saat pengumuman KRL memasuki Stasiun Solo penumpang mulai bersiap untuk naik ke KRL yang akan mereka tuju yaitu Yogyakarta. Kebetulan KRL yang masuk merupakan KRL buatan PT INKA Madiun dengan seri KRL i9000 dengan nomor KA 7101. KRL tersebut keberangkatan Solo Balapan pada pukul 06.31 WIB.

Baca juga: Terkenal Karena Didi Kempot, Inilah Jejak Sejarah Stasiun Solo Balapan

Tepat pukul 06.31 KA 7101 pun diberangkatkan dan bertolak dari Stasiun Solo Balapan menuju stasiun berikutnya yaitu Stasiun Purwosari. Saat memasuki stasiun ini keadaan seperti biasa, ramainya penumpang yang menunggu kedatangan KRL tampak terlihat. Saat KRL masuk stasiun, penumpang mulai bersiap memasuki KRL tersebut. Setelah pintu semua tertutup seharusnya KRL bisa diberangkatkan. Tapi merasa heran tentunya pintu telah tertutup namun KRL tidak berjalan sama sekali.

Tak hanya itu, pintu telah tertutup namun KRL tak kunjung berjalan ditambah mendadak lampu dan pendingin ruangan (AC) pun padam. Keadaan semakin cukup tidak mengenakan yang dialami penumpang yang sedang menggunkan untuk beraktivitas saat itu.

Salah satu penumpang melaporkan kejadian tersebut dengan cuitan Twitter dari @andrik_sholihah: “haloo @InfoKRL solo jogja dg pemberangkatan jam 06.30 tetiba mati listrik dan error … kita sbg penumpang di dlm merasa pengap dan kurang info terkait kerusakan. ini dah berhenti skitaran 10mnt. dan kondisi gelap di dlm kereta.” Penumpang tersebut juga sempat memfoto nomor sarana kereta K3 1 11 30 untuk keberadaannya saat itu.

Cuitan tersebut pun di respon baik dari pihak @InfoKRL atas keluhan yang dialaminya untuk memberitahukan nomor rangkaian, nomor KA dan tujuannya. Setelah cuitan pemilik akun Twitter warga net tersebut selesai kemudia KRL kembali menyala bagian interiornya. Namun saat teejadi kerusakan, penumpang sempat diminta untuk peepindah rangkaian KRL. Beruntung hal tersebut tidak terjadi karena KRL sudah kembali normal.

Baca juga: Lempuyangan, Sejarah Panjang Stasiun KA Ekonomi di Yogyakarta

Setelah KRL mulai berangkat dari Stasiun Purwosari dengan jadwal sudah pasti terlambat, ada sesuatu hal kembali terjadi. Salah satu pintu KRL di sebelah kanan dari arah datangnya kereta tidak bisa menutup. Dengan penumpang yang berbeda mengirim sentilan kecil cuitan melalui akun Twitter dari @cherylmarlitta : “KRL Solo – Yogya 6.31 apakah ini merupakan inovasi untuk kereta memiliki sirkulasi yang cukup sehingga terhindar dari omicron min?”

Dengan menyadari ada yang membalas lalu mengirim cuitan tersebut di akun @andrik_sholihah, ia pun menanggapi dengan respon: “dan kemudian error mbak…keretanya…kita di kereta yg sama 😁” Seperti diketahui kejadian tersebut terjadi pada Senin (7/2). Dari kejadian ini penumpang KRL khususnya yang berdomisili Solo maupun Yogyakarta dan sekitarnya berharap untuk terus lakukan peningkatan terhadap pihak PT KAI Commuter terutama untuk rangkaian KRL saat perbaikan, agar sewaktu – waktu tak lagi terjadi hal serupa. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Mengapa Twin Otter Mendominasi di Kanada? Ini Jawabannya

Belum lama ini, viral tiga pesawat Susi Air dikeluarkan secara paksa oleh satpol PP dari hanggar Bandara Malinau, Kalimantan Utara. Tiga pesawat itu adalah dua Cessna 208B Grand Caravan PK-BVR dan PK-VVR serta satu Pilatus PC-6/B2-H4 PK-VVW. Susi Air pun belum lama ini mensomasi Pemkab dan DPRD Malinau serta menuntut ganti rugi Rp 8,9 miliar.

Baca juga: DHC-6 Twin Otter – Si Kecil Bandel Rajanya Daerah Pegunungan

Selain tiga pesawat itu, Susi Air diketahui juga pernah mempunyai salah satu pesawat perintis terpopuler, DHC-6 Twin Otter. Sayangnya, pesawat ini keluar dari barisan armada lantaran jatuh di Nabire, Papua, pada 23 November 2011 silam.

DHC-6 Twin Otter memang banyak digunakan di berbagai negara termasuk Indonesia. Selain Indonesia, negara di lingkar kutub utara, Kanada, juga banyak ditemukan pesawat ini. Bahkan, Kanada menjadi negara operator terbanyak yang mengoperasikan DHC-6 Twin Otter. Mengapa demikian?

Dari data ch-aviation.com, dari 450 pesawat DHC-6 Twin Otter di dunia, 52 di antaranya beroperasi di Kanada. Ini menjadi yang tertinggi di dunia.

52 pesawat itu dioperasikan oleh empat maskapai terkemuka, mulai dari Air Borealis, Air Inuit, Air Tindi, dan Kenn Borek Air.

Dari keempat itu, Kenn Borek Air menjadi operator DHC-6 Twin Otter terbanyak dengan total 15 unit atau total 45 unit sepanjang perusahaan berdiri selama 50 tahun.

Kedua terbanyak ada maskapai Air Borealis. Maskapai yang berbasis di Goose Bay, Newfoundland itu memiliki total 10 unit, disusul Air Inuit dan Air Tindi masing-masing dengan enam unit.

Tak hanya empat maskapai itu, di Kanada, Twin Otter juga dioperasikan oleh Royal Canadian Air Force, Royal Canadian Mounted Police, Kementerian Sumber Daya Alam dan Kehutanan, dan Dewan Riset Nasional.

Sama halnya dengan alasan kenapa Twin Otter banyak digunakan di Indonesia, khususnya di penerbangan perintis di wilayah Timur Indonesia, di Kanada juga demikian, itu karena pesawat memiliki kemampuan short take-off and landing (STOL) atau mendarat dan lepas landas di runway pendek.

Baca juga: Jajal Terbang dengan Twin Otter “Isles of Scilly Skybus” Berusia 40 Tahun

“Ini sangat mudah beradaptasi dan sangat cocok dengan iklim dan medan utara Kanada yang selalu berubah. Twin Otter adalah pesawat angkut utilitas yang dapat lepas landas dan mendarat (STOL). Pesawat ini dapat dilengkapi dengan roda atau ski untuk mendarat di tanah, salju, dan es,” kata juru bicara Royal Canadian Air Force ketika ditanya alasan mengoperasikan Twin Otter.

Selain alasan kemampuan STOL dan tangguh di segala medan, tentu alasan klasiknya adalah Twin Otter adalah buatan perusahaan dalam negeri, De Havilland Aircraft of Canada, yang berbasis di Toronto, Kanada.

Dibangun Masa Kolonial Belanda, Menara-menara Air Ini Masih Berdiri Kokoh

Di masa penjajahan Kolonial Belanda, kereta uap digunakan untuk mengangkut penumpang atau pun barang. Maka dari itu, biasanya di beberapa stasiun besar memiliki menara air yang fungsinya sebagai penampung air baik untuk keperluan lokomotif uap maupun stasiun itu sendiri.

Baca juga: Menara Air Kuno di Manggarai Kini Kondisinya Mengkhawatirkan

Menara air tersebut dibangun pada masa pemerintahan Kolonial Belanda dan memiliki bentuk bangunan menjulang tinggi. Saat ini ditemukan masih banyak menara air yang berdiri cukup koko.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari Instagram milik Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, menara air ini sayangnya hampir semua tidak lagi difungsikan sebagaimana mestinya. Meski begitu menara air ini tetap dijaga sebagai warisan sejarah Indonesia.


Beberapa waktu lalu, KabarPenumpang.com pernah mengulas tentang menara air Stasiun Manggarai. Nah, ternyata ada beberapa menara air di stasiun lainnya dan umurnya bahkan ada yang mencapai satu abad.

Menara air Stasiun Cirebon
Menara air tersebut dibangun antara tahun 1910 – 1912 bersamaan dengan pembangunan jalur kereta api dari Cikampek menuju ke Cirebon. Menara air tersebut mulai digunakan pada 3 Juni 1912 silam.

Menara air Balai Yasa Yogyakarta
Kalau yang lainnya ada di stasiun, lain dengan yang satu ini. Menara airnya berada di kawasan Balai Yasa Yogyakarta di Kecamaan Gondokusuma. Menara air di balai yasa ini pun sudah mengalami pemugaran sehingga terlihat seperti bangunan baru.

Menara air Stasiun Ketanggunan Brebes
Terletak di Stasiun Ketanggungan, Brebes, menara air ini masuk dalam daerah operasional atau Daop 3 Cirebon. Menara air itu dibangun tahun 1914 – 1915 bersamaan dengan pembangunan jalur kereta api Cirebon menuju ke Kroya. Menara air di Stasiun Ketanggungan sendiri mulai dioperasikan pada 1 Juli 1916.

Menara air Stasiun Sindanglaut
Menara air yang ada di stasiun ini mulai dibangun pada 1914 – 1915 dan waktu penggunaannya sama dengan menara air di Stasiun Ketanggungan yakni 1 Juli 1916. Menara air di Stasiun Sindanglaut memiliki ukuran yang cukup besar, ini karena waktu itu terdapat dua pabrik gula yang besar dekat stasiun tersebut. Tak sama dengan yang lainnya, menara air di Stasiun Sindanglaut masih berfungsi hingga saat ini untuk kebutuhan air bersih di stasiun.

Baca juga: Stasiun Krenceng, Kecil Namun Memiliki Keunikan

Menara air Semarang Pocol
Dibangun sejak tahun 1914, menara air ini berada dalam kawasan Staiun Semarang Poncol.

Menara air Stasiun Purwosari Surakarta
Menara air di Stasiun Purwosari – Layengan diperasikan tahun 1870 atau usianya sudah lebih dari satu setengah abad.

Ini Sepak Terjang Boeing 747 Pertama “RA001” Sampai Berakhir di Museum

Sejak terbang perdana pada 9 Februari 1969, Boeing 747 terus menarik perhatian maskapai global. Usai kemunculan Airbus A380 pun, Queen of the Skies masih tetap menjadi raja di kelas widebody quadjet.

Baca juga: Boeing 747 Ternyata Sempat Dibuat Konsep Trijet! Batal Gegara Hal Ini

Setelah 50 tahun lebih menghiasi angkasa, pengguna Boeing 747 di seluruh dunia lambat laun mulai berkurang. Bukan karena kualitasnya menurun, tetapi, lebih ke tren perubahan penerbangan global, dimana penumpang menginginkan penerbangan point-to-point dan maskapai lebih memilih ke widebody twinjet.

Dilansir museumofflight.org, perkembangan Boeing 747 sampai menjadi pesawat widebody quadjet terpopuler tidak terlepas dari Boeing 747 pertama atau model 747-121.

Pesawat ini selama bertahun-tahun amat diandalkan Boeing untuk berbagai uji coba pengembangan teknologi dan program mesin baru untuk jet komersial lainnya, termasuk mesin Pratt & Whitney PW4000 Boeing 777.

Boeing 747 bisa dibilang jadi salah satu pesawat paling suskes di dunia. Pesawat yang sudah merayakan 50 tahun sejak penerbangan pertama pada Februari 2019 ini, menurut catatan Planespotters.net, sudah terjual sekitar 1.561 unit di seluruh dunia, tertinggi di kelasnya.

Pan Am tercatat sebagai maskapai pertama di dunia yang mengoperasikan Boeing 747 pertama, yaitu tipe B747-100.

Maskapai yang dikenal sebagai pelopor kelas ekonomi internasional pertama di dunia ini menerima pesawat tersebut pada Januari 1970 dan disaksikan langsung oleh Ibu Negara Pat Nixon. Clipper Victor, begitulah nama yang diberikan Pan Am untuk pesawat ini.

Selang beberapa waktu, Boeing 747-200 dirilis dan KLM adalah operator pertama yang menerima dan mengoperasikannya. Demikian juga dengan Boeing 747-200F, ini mulai dioperasikan oleh Lufthansa pada tahun 1972.

Boeing 747-100SR (Short Range) tahun berikutnya dirilis dan Japan Airlines adalah maskapai pertama yang mengoperasikannya. Maskapai Jepang lainnya turut mengekor setelah ANA (All Nippon Airways) menerima pengiriman B747-100BSR pertama pada bulan Desember 1978.

Selanjutnya, ada Boeing 747SP pertama yang dioperasikan Pan Am. Sesuai tradisi, pesawat diberi nama khusus dan ketika itu diputuskan sebagai B747SP Clipper Freedom pada 5 Maret 1976.

Tujuh tahun berselang, Swissair menerima pengiriman pertama Boeing 747-300. Beberapa tahun setelahnya, pada 1985-1986, Japan Airlines menjadi maskapai pertama yang menerima pesawat Boeing 747-300SR.

Maskapai tersebut mengoperasikan varian SR untuk layanan domestik dengan traffic tinggi, salah satunya Okinawa–Tokyo. Sebelumnya, maskapai nasional Jepang itu sudah lebih dahulu mengoperasikan varian SR lainnya, Boeing 747-100SR.

Pada Februari 1989, Boeing 747-400 beroperasi untuk pertama kalinya bersama maskapai. Di tahun yang sama, varian kargo Boeing 747-400M Combi. Tahun 1993, Boeing 747-400F dirilis, diikuti B747-400ER dan Boeing 747-400ERF pada Oktober 2002, serta Boeing 747-400BCF pada Desember 2005.

Varian Boeing 747 ditutup dengan lahirnya varian Boeing 747-8 atau B747-8i untuk varian penumpang dan B747-8F. Masing-masing, dua varian itu dioperasikan untuk pertama kalinya oleh Cargolux pada Oktober 2011 dan Lufthansa pada Juni 2012.

Selain digunakan sebagai pesawat komersial, Boeing 747 juga digunakan untuk keperluan lainnya. Dua Boeing 747-100, misalnya, pernah digunakan NASA Space Shuttle Program untuk Shuttle Carrier Aircraft.

Ada juga pesawat Boeing 747 yang digunakan oleh Angkatan Udara AS, dimodifikasi sebagai VC-25A untuk pesawat kepresidenan, Dreamlifter, YAL-1A Airborne Laser Testbed, dan Stratospheric Observatory for Infrared Astronomy (SOFIA).

Baca juga: Ngeri! Boeing 747 Aerolíneas Argentinas Flight 386 Jadi Pusat Penyebaran Kolera

Semua seri Boeing 747 di atas mungkin tidak akan lahir tanpa adanya sumbangsih dari Boeing 747 pertama yang dikenal sebagai RA001.

Setelah uji sertifikasi, RA001 berkali-kali digunakan untuk uji coba pengembangan pesawat. Sepak terjang RA001 akhirnya terhenti setelah disumbangkan ke Museum of Flight di Seattle, AS, pada tahun 1980-an. Namun, pesawat masih terbang pada 6 April 1995 dan mengukir 5.300 jam terbang. Setelah itu, pesawat baru terbang lagi pada tahun 2013 dan 2014.

Tupolev Tu-334, Pesaing Fokker F28 Fellowship yang Tidak Pernah Beroperasi Komersial

8 Februari kemarin menandakan 23 tahun sejak pesawat Tupolev Tu-334 terbang perdana. Pesawat yang digadang-gadang bakal menjadi penerus kejayaan Tupolev Tu-134 sekaligus penantang Fokker F28 Fellowship dan saudara kandungnya Fokker F100 itu, pada akhirnya tidak pernah beroperasi secara komersial setelah Tupolev diakuisisi menjadi United Aircraft Corporation (UAC).

Baca juga: (Eksklusif) Inside Tupolev Tu-144: Pesawat Supersonik Pertama di Dunia Sebelum Concorde

Dilansir Simple Flying, rencana pengembangan pesawat Tupolev Tu-334 sudah digembar-gemborkan sejak awal tahun 1989, atau 10 tahun sebelum penerbangan perdana pesawat.

Awalnya, perusahaan ingin meraup cuan dalam waktu cepat, sehingga diputuskan membuat pesawat bermesin turbofan yang ketika itu mulai digandrungi maskapai. Bila tak ada aral melintang, tahun 1992 menjadi momentum dimana pesawat diperkenalkan ke publik. Sedangkan versi propfan direncanakan mulai diperkenalkan tiga tahun setelahnya.

Propfan dianggap memiliki beberapa keunggulan. Mesin gabungan dari turbofan dan turboprop itu lebih efisien dan bisa mengangkut lebih banyak penumpang. Namun, karena satu dan lain hal, Tupolev hanya mengembangkan pesawat Tu-334 turbofan, menggunakan mesin Progress D-436.

Sejak pengembangan dimulai, progres pembangunan pesawat itu cukup mulus, sampai momen terburuk tiba. Pada 26 Desember 1991, Uni Soviet runtuh dan Presidennya, Mikhail Gorbachev, mengundurkan diri. Pengembangan prototipe Tu-334 pun mangkrak dibuatnya.

Setelah beberapa tahun, pengembangan Tupolev Tu-334 dilanjutkan hingga pada 8 Februari 1999 pesawat itu berhasil melakukan penerbangan perdana.

Berbeda dengan konsep awal, prototipe Tupolev Tu-334 yang sukses terbang perdana didasari pada pesawat Tu-204 yang diperkecil di bagian badan dan sayapnya. Perbedaannya terletak pada mesin, Tu-334 memiliki mesin di ekor, sedangkan Tu-204 di sayap.

Versi standar dari Tu-334-100 direncanakan mampu mengangkut 102 penumpang dalam satu kelas. Dalam dua kelas, penumpang yang bisa diangkut mencapai 72 orang. Pesawat mampu melaju di kecepatan 820 km per jam dan jangkauan 3.150 km.

Pesawat dengan lebar sayap 29,77 meter, tinggi dari ground sampai ujung ekor mencapai 9,38 meter ini mulai menemui titik suram usai Tupolev kehabisan uang untuk menyelesaikan proses produksi dan turunannya.

Disebutkan, Tupolev Tu-334 gagal mendapat type certificate dari otoritas Rusia lima tahun setelah penerbangan perdana atau pada Desember 2003. Namun, perusahaan belum menyerah, terlebih pesanan dari sejumlah maskapai mulai masuk. Sampai Desember 2006, total sudah ada 24 maskapai yang menandatangani letter of intent dengan total 297 unit.

Baca juga: 61 Tahun Lalu, Tupolev Tu-114 Rossiya Jadi Pesawat Turboprop Tercepat, Terbesar, dan Jangkauan Terjauh di Dunia

Pada tahun 2008, angkanya meningkat menjadi 100 maskapai yang antre mendapatkan Tupolev Tu-334. Perusahaan pun merespon dan berniat memulai produksi massal setahun berikutnya.

Akan tetapi, rencana itu kandas setelah proses rasionalisasi besar-besaran terjadi oleh produsen pesawat Rusia hingga membentuk United Aircraft Corporation (UAC). Setelah bergabung menjadi UAC, Tupolev Tu-334 pun akhirnya diputuskan selesai atau tidak diteruskan.

Bus AKAP Bakal Terapkan Pola Komuter, Naik dan Turunkan Penumpang di Terminal Tengah Kota

Bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) nantinya bisa naik dan turunkan penumpang di terminal tengah kota. Hal itu diungkapkan oleh Direktur Utama PT SAN Putera Sejahtera (PO SAN), yang juga Ketua Bidang Angkutan Orang DPP Organisasi Angkutan Darat (Organda), Kurnia Lesani Adnan.

Baca juga: Bos PO SAN: Kami Ingin Seperti Pesawat dan Kereta Api, Trayek Bus Nempel di Perusahaan

Saat ini prosesnya sudah dalam tahap pembicaraan dan regulasinya tengah diproses oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Darat.

“Kami sudah berdiskusi dengan Pemerintah dengan Kementerian Perhubungan. Jakarta ini kan pekerja informalnya dari Jawa tengah dan Jawa Barat bagian utara. Jawa tengahnya juga lebih ke sini, ke Pemalang, Pekalongan sampai ke Brebes kan pekerja informalnya banyak sekali. Mulai dari pekerja bangunan, macam-macam,” katanya kepada KabarPenumpang.com.

“Kita minta pola komuter. Insha Allah kalau tidak ada halangan kita minta bus AKAP bisa naik dan turunkan penumpang di terminal tengah kota. Ini sedang dibahas, karena regulasinya banyak yang harus ditabrak, sobek, dan dijahit lagi,” lanjutnya.

Dengan pola komuter tersebut, sebagaimana kereta komuter atau KRL Jabodetabek, yang bisa naik dan turunkan penumpang di setiap stasiun, kecuali stasiun-stasiun tertentu, PO bus juga demikain. Bus trayek Jakarta-Blitar-Malang, misalnya, dimungkinkan naik dan turunkan penumpang di Terminal Wonosari dan terminal lainnya yang dilalui, selama itu memungkinkan secara bisnis.

Selama ini, secara aturan, bus AKAP memang hanya melayani naik dan turunkan penumpang di terminal sesuai trayek. Sekalipun melewati terminal, jika bukan trayeknya, bus AKAP tidak diizinkan naik dan turunkan penumpang. Hal ini tak lepas dari adanya enam jenis angkutan umum dalam trayek.

Dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 15 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dalam Kendaraan Bermotor Umum Dalam Trayek, disebutkan, enam angkutan umum dalam trayek salah satunya AKAP.

Secara definitif, AKAP sendiri adalah angkutan dari satu kota ke kota lain yang melalui antar daerah kabupaten/kota dalam satu daerah provinsi dengan menggunakan mobil bus umum yang terikat dalam trayek.

Sedangkan trayek adalah lintasan kendaraan bermotor umum untuk pelayanan jasa angkutan orang dengan mobil penumpang atau mobil bus yang mempunyai asal dan tujuan perjalanan tetap, lintasan tetap, dan jenis kendaraan tetap serta berjadwal atau tidak berjadwal.

Khusus pada trayek AKAP, itu diatur agar asal dan tujuan setiap trayeknya merupakan ibukota provinsi, kota, wilayah strategis nasional, dan wilayah lainnya yang memiliki potensi besar bangkitkan perjalanan angkutan AKAP. Sampai di sini, jelas, bahwa bus AKAP belum diizinkan naik dan turunkan penumpang di terminal tengah kota dengan pola komuter.

Baca juga: Bus Lintas Medan – Aceh, “Naik Haji Bagi Para Penggemar Bus”

Selain AKAP, lima angkutan umum dalam trayek lainnya adalah Angkutan Lintas Batas Negara, Angkutan Antarkota Dalam Provinsi (AKAD), Angkutan Perkotaan, Angkutan Pedesaan, dan Angkutan Massal.

Dari keenam jenis angkutan umum dalam trayek di PM tersebut, dijelaskan, masing-masing sudah mempunyai porsinya sendiri. Dalam hal naik dan turunkan di terminal perkotaan, ini sudah menjadi porsi dari PO bus AKAD.

Susi Air, Maskapai Eks Menteri Susi yang Meroket Pasca Tsunami Aceh dan ‘Tenggelam’ Gegara Virus Corona

Jagat pemberitaan sedang diramaikan dengan insiden pengusiran pesawat Susi Air dari hanggarnya di Bandara Malinau, Kalimantan Utara pada 2 Februari lalu. Peristiwa itu pun berujung polemik dengan dilayangkannya somasi dari pihak Susi Air kepada Pemkab Malinau, dimana ada tuntutan permohonan maaf dan ganti rugi sebesar Rp8,9 miliar.

Baca juga: Piaggio P180 Avanti – Mampu Tandingi Jet Bisnis Dengan Bentuknya Yang Unik!

Terlepas dari polemik yang masih terus bergulir, menarik untuk melihat sepak terjang Susi Air, dan setiap yang terkait Susi Air tentu akan terindeks pada keyword “Bu Susi,” yakni pemiliknya adalah Susi Pudjiastuti, eks Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) yang punya citra kerja positif di masa pemerintahan pertama Jokowi.

Berbicara terkait Susi Pudjiastuti memang tidak ada habisnya. Selain sepak terjangnya sebagai menteri yang dikenal garang dengan jargon “Tenggelamkan!” ini, sepak terjang Susi dari pengusaha laut ke udara tentu juga menarik dibahas. Betapa tidak, bermodal hanya dua unit pesawat, maskapai charter dan berjadwal miliknya, Susi Air, berkembang dengan cepat ke seluruh penjuru Indonesia dan meraup sekitar Rp300 miliar sekitar tahun 2012 lalu.

Disarikan dari laman resmi perusahaan dan sumber lainnya, PT. ASI Pudjiastuti Aviation (Susi Air) resmi berdiri sekitar bulan November 2004. Bermodal dua unit pesawat Cessna Caravan ,Susi Air awalnya didirikan untuk mengangkut lobster dan ikan segar tangkapan nelayan di Pangandaran ke Jakarta. Dengan menggunakan pesawat, lobster yang dikirim lebih segar dan tingkat kematiannya pun jadi lebih rendah.

Keberhasilannya mempersingkat waktu pengiriman produk perikanan hingga berkembang menjadi bisnis aviasi tak lepas dari peran sang suami, Christian von Strombeck, yang merupakan seorang pilot asal Jerman.

Pada saat itu, hanya berselang sebulan sejak Susi membeli pesawat untuk mengangkut ikan, gempa dan tsunami menerjang Aceh. Ribuan orang meninggal dunia dan hampir semua akses transportasi yang masuk ke Aceh terputus. Atas inisiatifnya sendiri, Susi meminjamkan pesawatnya untuk mengangkut bantuan selama dua pekan.

Namun, ketika Susi akan menarik kembali pesawatnya banyak organisasi kemanusiaan yang ingin tetap memakai pesawatnya. Mereka bersedia menyewa pesawat Susi untuk mengirim bantuan ke Aceh. Dari sini, Susi kemudian terpikir untuk secara serius terjun ke bisnis penerbangan dengan memfokuskan Susi Air sebagai maskapai charter.

Sejak saat itu, sebagai maskapai charter, Susi Air bisa dibilang memanen untung besar berkat demand tinggi. Terbukti, dua tahun setelahnya, maskapai itu mulai merambah penerbangan atau rute berjadwal yang berbasis di Medan dan terus berkembang di luar medan, mencakup Banda Aceh, Padang, Dabo, Bengkulu, Jakarta, Pangandaran, Palangkaraya, Samarinda, Tarakan, Malinau, Kupang, Masamba, Manokwari, Biak, Nabire, Timika, Jayapura, Wamena, dan Merauke, dengan melayani total 200 penerbangan perintis.

Basis operasional dan penerbangan sebanyak itu didukung setidaknya oleh total lebih dari 140 pilot, 75 insinyur dan mekanik pesawat dan 650 staf darat, dan pendukung lainnya, dengan mengoperasikan 49 armada pesawat, terdiri dari 32 Cessna Grand Caravan C208B, 9 Pilatus PC-6 Turbo Porter, 3 Piaggio P180 Avanti II, 1 Air Tractor AT802 “Fuel Hauler”, 1 Piper Archer PA-28, dan 1 LET 410 untuk pesawat sayap tetap. Susi Air juga melengkapi armadanya dengan helikopter sejak akhir 2009 dengan 1 Agusta Westland Grand A109S dan 1 Agusta Westland Koala A119.

Akan tetapi, eksistensi Susi Air di jagat penerbangan perintis charter dan berjadwal mulai terancam usai virus Corona masuk ke Indonesia. Dalam sebuah wawancara eksklusif di Indonesia Lawyers Club (ILC) Tv One besutan Karni Ilyas, sekitar akhir April lalu, Susi Pudjiastuti mengaku usaha penerbangannya (Susi Air) mengalami situasi yang sulit akibat wabah virus corona atau Covid-19. Ia memperkirakan, Susi Air mungkin masih bisa bertahan dua sampai enam bulan ke depan lagi.

Baca juga: Mengenal Jasa Penerbangan Charter di Indonesia

“Dua sampai enam bulan, tergantung kita lihat situasi belakangan. Tapi, dengan catatan enggak bayar kewajiban, bisa bertahan sampai sana,” ujarnya.

“Karyawan sebagian ada yang kita rumahkan, kita kurangi salary. Tutup beberapa cabang. Ada (PHK), harus, mau tidak mau,” tambahnya.