Berkat Teknologi Biometrik, Bandara Hong Kong Sabet Gelar Inovasi Terbaik di Ajang ACI Innovation Awards

Bandara Internasional Hong Kong (HKIA) berhasil meraih penghargaan bandara dengan inovasi terbaik dalam Airport Passenger-Related Processes di gelaran Amadeus dan ACI World Technology Innovation Awards 2021 berkat teknologi Flight Token biometrik.

Baca juga: Vision-Box Hadirkan Teknologi Identitas Digital dengan Biometrik Canggih di Bandara

Flight Token biometrik ini diluncurkan Bandara Hong Kong pasca peluncuran e-security gates and e-boarding gates di Terminal 1 pada tahun 2018 dan 2020.

Dengan teknologi biometrik ini, penumpang dapat dengan mudah check-in sampai boarding sendiri tanpa bantuan petugas. Spesial di masa pandemi virus Corona seperti sekarang, solusi biometrik ini tentu membuat penumpang lebih nyaman karena minim kontak.

Disebutkan, mula-mula penumpang memindai paspor dan self check-in di KiosK yang sudah dilengkapi dengan kamera biometrik tanpa sentuh tanpa adanya kontak dengan petugas.

Dari situ, flight token biometrik penumpang, yang berisi dokumen perjalanan dan informasi boarding pass, memungkinkan mereka untuk melakukan self-bag-drop. Di sini, penumpang akan divalidasi juga dengan kamera biometrik.

Setelahnya, penumpang hanya perlu men-scan wajah di e-security gate dan e-boarding gate tanpa harus menunjukkan dokumen perjalanan dan boarding pass lagi.

Dengan begitu, solusi flight token biometrik atau teknologi biometrik Bandara Hong Kong dinilai dapat mempercepat mobilitas penumpang, sehingga mereka bisa menggunakan waktu yang ada selama menunggu pesawat untuk hal-hal yang lebih produktif.

Vivian Cheung, direktur eksekutif operasi bandara HKIA, mengatakan, “Merupakan kehormatan bagi kami untuk menerima penghargaan bergengsi, yang mengakui upaya kami dalam meningkatkan pengalaman penumpang melalui penerapan inovasi teknologi untuk memberikan penumpang perjalanan bandara yang mulus.”

“Flight Token (Token Penerbangan) tidak hanya mempercepat proses keberangkatan penumpang tetapi juga secara efektif meningkatkan akurasi pemeriksaan dokumen dan identitas dibandingkan dengan pemeriksaan manual,” tambahnya.

Ini juga memungkinkan interaksi orang yang minimal, yang menguntungkan untuk menciptakan lingkungan tanpa sentuhan bagi pelancong udara mengingat latar belakang pandemi Covid-19,” jelasnya, seperti dikutip dari passengerterminaltoday.com.

Teknologi biometrik di bandara sebetulnya bukan barang baru. Selain HKIA, bandara lain sudah menerapkannya.

Baca juga: Inilah CLEAR, Teknologi Baru di Bandara: Penumpang Tak Perlu Keluarkan KTP atau Paspor!

Pada musim panas tahun 2019, Bandara Heathrow, Inggris, resmi mengimplementasikan teknologi biometrik, yang mencakup face recognizing dan penyimpanan barang kargo di counter check-in, gerbang pemeriksaan bandara, dan boarding gates, dalam skala besar.

Bandara lainnya, seperti Bandara Schiphol Amsterdam, Bandara Changi, Bandara Dubai, Bandara Gatwick, Bandara Bangalore, Bandara Los Angeles, dan seluruh bandara besar juga demikian, sekalipun teknis pengoperasian teknologi biometrik oleh penumpang berbeda-beda karena dikerjakan juga oleh vendor yang berbeda-beda.

Kepanasan, Cat Pesawat Airbus A350 Qatar Airways Meleleh! Maskapai Lain Senasib

Qatar Airways terpaksa meng-grounded seluruh armada Airbus A350 miliknya. Keputusan itu datang setelah ditemukan masalah pada badan pesawat di bawah permukaan cat, saat salah satu armada menjalani proses pengecatan livery World Cup 2022 (Piala Dunia 2022) di Irlandia, awal tahun ini.

Baca juga: Bermasalah, Qatar Airways Kandangkan 13 Unit Airbus A350, Al Baker Murka!

Pada Agustus lalu, Qatar Airways dilaporkan meng-grounded 13 pesawat A350 lantaran masalah itu. Namun belakangan angkanya naik menjadi 20 dari total 53 pesawat. Selain itu, maskapai nasional Qatar tersebut juga menolak pengiriman pesawat A350 baru sebelum masalah pada permukaan di bawah cat selesai.

Awalnya, masalah ini dianggap Airbus sebagai sesuatu yang tak serius. Airbus juga mengklaim bahwa masalah pada logam di bawah permukaan cat pesawat A350 Qatar Airways lebih disebabkan suhu ekstrem. Suhu ekstrem menyebabkan sesuatu di bawah permukaan cat itu melebar atau seperti meleleh atau merekah lebih dari satu meter persegi.

Hal ini mungkin masuk akal, mengingat Qatar Airways adalah maskapai pertama pengguna A350. Semakin lama digrounded di bawah suhu ekstrem, permukaannya jadi bermasalah.

Akan tetapi, ternyata, maskapai lain pengguna A350 juga mengalami masalah yang sama meski suhunya tak se-ekstrem di Qatar. Sebut saja Cathay Pacific di Hong Kong yang suhunya relatif hangat dan Finnair di Finlandia yang justru kebalikan dari Qatar, sangat dingin.

Dilansir mentourpilot.com, pesawat Airbus A350, sebagaimana pesawat modern lainnya, menggunakan serat karbon atau komposit lainnya sebagai bahan baku utama pesawat. Tetapi, komposit tidak konduktor dalam menangkal petir sehingga dibutuhkan logam di bawah permukaan cat. Di sela antara dua itulah masalah A350 berada.

Airbus sendiri sudah menginformasikan ke para pengguna A350 bahwa masalah terjadi pada Expanded Copper Foil” (ECF) dan saat ini manufaktur Eropa itu tengah memperbaikinya dengan sebutan Perforated Copper Foil.

Lebih lanjut, Airbus menyebut bahwa masalah pada permukaan di bawah cat pesawat A350 semacam early surface wear atau keausan permukaan awal. Mereka juga mengklaim sudah menemukan akar masalahnya, sesuatu yang sebelumnya tidak begitu jelas karena Airbus cenderung tertutup dalam menanganinya.

Sikap Airbus bahkan membuat CEO Qatar Airways, Akbar Al Baker, geram bukan kepalang. Dalam keterangan resminya Agustus lalu, ia mengatakan, “Dengan perkembangan terakhir ini, kami sangat berharap bahwa Airbus menangani masalah ini dengan penuh perhatian.”

Baca juga: Airbus Luncurkan Kaca Elektrokromik Pertama di A350, Presiden Emirates: Ga Butuh

“Qatar Airways mengharapkan Airbus telah menetapkan akar permasalahan dan secara permanen memperbaiki kondisi yang mendasarinya demi kepuasan Qatar Airways dan regulator kami sebelum kami melakukan pengiriman lebih lanjut Pesawat A350,” lanjutnya.

“Sayangnya saya tidak bisa menjelaskan detailnya. (Airbus) mengabaikan fakta bahwa ada masalah serius dengan yang kami hadapi dengan (A350). Mereka hanya mencoba bermalas-malasan dan menyeret kaki mereka alih-alih bekerja nyata dan memecahkan masalah yang dimiliki pesawat mereka,” jelasnya.

Garuda Indonesia dan BNI Gelar Hybrid Travel Fair, Tawarkan Diskon Tiket Domestik Hingga 80 Persen

Meski terus-menerus diterpa isu negatif, rupanya tak menjadikan Garuda Indonesia mati langkah untuk menggenjot pasar penerbangan, khususnya penerbangan domestik yang akan menjadi fokus bisnisnya di masa depan. Ini dibuktikan dengan langkah Garuda Indonesia bersama PT Bank Negara Indonesia (BNI) yang menggelar Garuda Indonesia Travel Fair (GATF) yang akan diselenggarakan secara hybrid.

Baca juga: Sambut VTL 29 November, Garuda Indonesia dan Singapore Airlines Perkuat Kerjasama

Adapun gelaran offline akan dilaksanakan di The Hall Mall Lantai 8 Senayan City selama periode 10-12 Desember 2021. Sedangkan gelaran secara online akan dilaksanakan selama priode 10-16 Desember 2021 melalui website www.gatf2021.com. GATF 2021 ini merupakan gelaran yang diselenggarakan secara berkala sejak pertama kali digelar pada tahun 2008, dimana melalui program promosi khusus ini, Garuda memberikan ragam pilihan tiket penerbangan dan paket perjalanan wisata domestik dan internasional, dengan penawaran menarik, yang salah satunya melalui penawaran diskon tiket penerbangan hingga 80 persen di sejumlah rute pilihan serta berbagai added value lainnya.

Dalam pesan tertulis, Direktur Layanan & Niaga Garuda Indonesia, Ade R. Susardi mengatakan bahwa pelaksanaan GATF kali ini merupakan salah satu wujud komitmen Garuda Indonesia untuk terus berpartisipasi aktif dalam mendukung pemulihan perekonomian nasional, terutama dari sektor pariwisata, dengan memberikan berbagai penawaran khusus dan menarik bagi seluruh masyarakat Indonesia yang akan melaksanakan penerbangan ke berbagai destinasi wisata unggulan nasional.

Melalui program “Best Deal”, Garuda Indonesia menawarkan diskon tiket hingga 80 persen untuk penerbangan dari Jakarta menuju 11 destinasi domestik yaitu :

– Jakarta – Manado PP Rp. 1,9 Jutaan
– Jakarta – Sorong PP Rp. 1,9 Jutaan
– Jakarta – Labuan Bajo PP 1,3 Jutaan
– Jakarta – Medan PP Rp. 1,3 Jutaan
– Jakarta – Denpasar PP Rp 1 Jutaan
– Jakarta – Surabaya PP Rp. 1 Jutaan
– Jakarta – Yogyakarta PP Rp. 900 Ribuan
– Jakarta – Lombok PP RP. 900 Ribuan
– Jakarta – Tanjung Pinang PP Rp 900 Ribuan
– Jakarta – Solo PP Rp 900 Ribuan
– Jakarta – Semarang PP Rp 800 Ribuan

Baca juga: Pacu Jalur Penerbangan Domestik, Garuda Indonesia Lakukan Codeshare dengan 14 Maskapai Global

Selain itu, pada gelaran GATF kali ini melalui Garuda Indonesia turut memberikan discount tiket untuk rute domestic lainnya hingga 45 persen dan discount 18 persen untuk rute internasional. Selain itu juga terdapat berbagai penawaran lainnya bagi Anggota GarudaMiles yaitu redemption 50 persen untuk award tiket penerbangan dan upgrade level keanggotaan selama 6 hingga 12 bulan juga full redemption untuk mendapatkan free room untuk menginap di berbagai hotel pilihan.






















Teknologi ini Bantu Sopir Bus Sekolah Antar Jemput Siswa dengan Aman dan Mudah

Tyler Drive adalah sistem navigasi yang membantu distrik sekolah mengatasi kekurangan pengemudi bus dan mempertahankan karyawan. Perusahaan pembuatnya adalah Tyler Technologies dan berbasis di Plano di Texas, AS. Sistem ini bahkan sudah digunakan di 300 distrik di seluruh negara.

Baca juga: Gillig Transit Coach, Inilah Bus Sekolah dengan Kapasitas Terbesar yang Pernah Dibuat

Laporan pada 1 November, di School Transportation News, Mellisa dan Tyler ISD di Texas termasuk distrik yang sudah menggunakan sistem itu. Cara kerja sistem tersebut yakni tablet pelacak data yang menyala dipasang ke dasbor pengemudi. Nanti akan memberikan informasi rinci tentang semua rute dan siswa serta transisi yang lebih cepat untuk pengemudi.

Jerad Castor, direktur transportasi Melissa ISD mengatakan, layar tablet akan membantu pengemudi karena mereka tidak perlu mencoba memilah-milah petunjuk rute kertas yang sudah ketinggalan zaman.

“Pengemudi kami mulai bekerja sangat awal. Mereka masuk jam 6 pagi. Bahkan sebelum waktu berubah, masih gelap. Layar yang menyala memberi mereka petunjuk belokan demi belokan dan pengemudi tidak harus melihat selembar kertas dalam kegelapan,” kata Castor yang dikutip KabarPenumpang.com dari dallasnews.com (29/11/2021).

Dia mengatakan, Tyler Drive juga membantu meningkatkan efisiensi melalui navigasi GPS yang dapat memberikan panduan audio dan visual. Sistem ini memiliki teknologi pelacakan yang memberikan pembaruan secara real time dan menunjukkan lokasi yang tepat dari halte bus pelajar. Itu bisa membuat transisi yang lebih mudah untuk driver baru atau pengganti.

Kemungkinan seorang siswa tersesat atau ketinggalan pemberhentian juga sangat berkurang dengan sistem. Kartu ID siswa melacak ketika siswa masuk dan keluar dari bus. Tyler Drive juga menunjukkan berapa banyak siswa yang ada di bus, bersama dengan nama, tingkat kelas dan pemberhentian bus mereka.

Sistem akan memperingatkan pengemudi jika seorang siswa keluar di perhentian yang belum ditentukan. Selain itu, pengemudi memiliki akses ke informasi kontak darurat. Melissa ISD secara bertahap membawa sistem online dan sekarang sepenuhnya aktif dan berjalan. Sekitar setengah atau sekitar 2.000 siswa Melissa ISD mengandalkan transportasi bus untuk pergi dan pulang sekolah.

Tyler Drive adalah salah satu alat yang digunakan distrik untuk mengatur rute bus dan melatih pengemudi dengan cepat. Sebuah studi Agustus 2021 oleh Asosiasi Nasional untuk Transportasi Murid dan kelompok lain mencatat bahwa pandemi telah memperburuk kekurangan pengemudi bus nasional, tetapi masalahnya bukanlah hal baru, juga tidak mudah untuk dipecahkan.

Di Texas Utara, ISD Plano, Carroll dan Garland termasuk di antara distrik yang mengalami kekurangan sopir bus selama beberapa bulan terakhir. Pada bulan September, Plano ISD melaporkan penundaan setengah jam atau lebih karena kurangnya pengemudi. Banyak distrik sekolah daerah sekarang menawarkan upah yang lebih tinggi untuk mendapatkan dan mempertahankan sopir bus.

Baca juga: Tarik Bus Sekolah 9 Ton, Pria Asal New York Ikut Kompetisi Ultimate Strongman

Gaji sopir bus di Plano ISD, dinaikkan menjadi $21 per jam dan departemen transportasi distrik telah mengadakan beberapa bursa kerja untuk mengisi posisi. Plano, Melissa, dan distrik lainnya juga memberikan pelatihan bagi pengemudi sebagai insentif untuk menjangkau calon karyawan. Bayaran sopir bus Melissa ISD mulai dari $17,25 per jam dan bisa naik dari sana berdasarkan pengalaman.






















Dari Kecerdasan Buatan-Tinggalkan Botol dan Gelas Plastik di Pesawat, Ini Sederet Inovasi Maskapai AS

Sepinya penumpang selama pandemi Covid-19 mendorong beberapa maskapai di Amerika Serikat (AS) berinovasi. Itu dilakukan semata demiki kesiapan maskapai saat industri penerbangan sudah kembali ke titik normal pra pandemi.

Baca juga: Singapore Airlines Luncurkan Tempat dan Alat Makan Ramah Lingkungan dari Kertas dan Bambu

Di antara mereka ada yang menerbangkan pesawat komersial pertama berpenumpang menggunakan 100 persen bahan bakar berkelanjutan yang terbuat dari air gula dan jagung, mengganti botol dan gelas plastik dengan yang terbuat dari kertas dan bambu, sampai melakukan pendekatan teknologi melalui kecerdasan buatan (AI).

Dilansir ABC News, Alaska Airlines mengklaim berhasil membuat armada Boeing 737 dan Airbus A320-nya lebih ringan. Bukan datang dari perubahan besar-besaran terhadap pesawat, karena itu mahal, melainkan mengganti botol, gelas, dan wadah plastik di pesawat dengan bahan-bahan daur ulang.

Selain berkontribusi mengurangi produksi sampah plastik, maskapai juga berkontribusi mengurangi emisi karbon. Bobot pesawat yang lebih ringan berarti mesin juga demikian dan membakar bahan bakar lebih sedikit dari biasanya.

Alaska Airlines diketahui menggandeng Boxed Water, yang terkenal eksis memproduksi gelas dan wadah dari kertas daur ulang, menjadikannya sebagai yang pertama di AS.

Pada prosesnya, itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Maskapai melakukan penelitian panjang terkait rasa, ketahanan makanan, dan tentu saja dari sisi kesehatan serta disempurnakan dengan feed back dari penumpang.

“Masalah terbesar yang kami alami adalah plastik sekali pakai. Bahkan jika Anda memiliki program daur ulang terbaik, persentase dari plastik itu akan berakhir di tempat pembuangan sampah dan bahkan ke laut. Berbasis di Pantai Barat, kehidupan laut dan keberlanjutan sangat penting bagi kami,” kata manager of guest products Alaska Airlines, Todd Traynor-Corey.

Tak berhenti sampai di situ, maskapai yang sudah berkomitmen mencapai netral karbon atau bebas emisi pada tahun 2040 tersebut juga berinovasi dengan menggunakan kecerdasan buatan (AI). Teknologi itu disebut sebagai Flyways, berfungsi untuk menyarankan rute yang lebih cepat, lebih lancar, dan ebih sedikit menghabiskan bahan bakar ke lokasi tujuan.

“Flyways mungkin adalah hal paling menarik yang pernah saya temui dalam teknologi penerbangan sejak saya bergelut di bidang ini,” kata Pasha Saleh, head of corporate development Alaska Airlines.

Tak ingin tertinggal dengan Alaska Airlines, United Airlines juga melakukan beberapa inovasi selama pandemi virus Corona.

Baca juga: Wujudkan Bandara Ramah Lingkungan, Bandara Dubai Kurangi Penggunaan Plastik Sekali Pakai 

Disebutkan, belum lama ini maskapai itu berhasil menerbangkan pesawat komersial pertama berpenumpang menggunakan 100 persen bahan bakar berkelanjutan yang terbuat dari air gula dan jagung.

Meski harga bahan bakar berkelanjutan itu jauh lebih mahal, tetapi United Airlines tetap berkomitmen melakoni penerbangan itu sebagai bagian dari upaya bebas karbon pada 2050 mendatang, 10 tahun lebih lambat dibanding Alaska Airlines.

Gegara Pandemi, Perusahaan Bus di Jepang Ubah Armadanya Jadi Tempat Sauna

Sauna biasa dilakukan disebuah tempat khusus. Namun bagaimana jika ini dilakukan di dalam sebuah bus? Mungkin Anda tidak akan percaya, tetapi seperti biasa, Jepang punya hal unik. Di mana sebuah perusahaan bus di Negeri Sakura itu mengubah armadanya menjadi tempat sauna bergerak.

Baca juga: 20 Unit Bus SMRT Singapura Dikonversi Jadi Ambulans

Perusahaan bus tersebut adalah Shinki Bus yang melayani kota Himeji dan sekitarnya. Shinki Bus sudah menjadi perusahaan transportasi bergengsi selama bertahun-tahun. Bahkan mereka memiliki maskot yakni Nikopa-chan dan ini menjadi finalis Kejuaraan Karakter Bus Nasional 2017 dan 2019.

Ruang bagian bus yang dibuat sauna.

Sayangnya, kontes tersebut sedang dalam jeda waktu yang tidak terbatas. Ini karena seluruh industri transportasi telah menerima pukulan besar dari pandemi. Meski menghadapi masa sulit dan adanya perubahan gaya hidup karena pembatasan pariwisata selama dua tahun terakhir Shinki Bus berencana untuk beradaptasi dengan melakukan diversifikasi ke pasar sauna yang belum ada sampai saat ini.

Dilansir KabarPenumpang.com dari japantoday.com (10/11/2021), layanan baru ini akan disebut dengan sabus yang adalah gabungan dari sauna dan bus. Daripada membiarkan ruang berharganya terbuang sia-sia, Shinki saat ini mengubah bus kota yang dinonaktifkan menjadi ruang uap penuh di atas roda.

Untuk mencapai hal ini perusahaan juga telah menciptakan anak perusahaan yang disebut “Ribahsu” yang dalam bahasa Jepang homonim dengan “kelahiran kembali” dan “re-bus.” Sebagian besar interior bus direnovasi dengan desain kayu yang menawan, dan beberapa tombol yang biasanya digunakan untuk meminta pemberhentian akan diubah fungsinya untuk menghasilkan uap.

Sabus nantinya akan diparkir di area yang luas untuk acara-acara khusus, tetapi kehadiran tali dan pegangan di kursi mungkin menunjukkan bahwa sauna bergerak yang sebenarnya mungkin ada. Rincian lebih lanjut tentang bagaimana Sabus akan berfungsi kemungkinan akan terungkap karena tanggal penyelesaian Februari 2022 yang diharapkan semakin dekat.

Baca juga: Pabrik Toyota di Tokyo Ubah Hiace Jadi Ambulans

Ini juga satu-satunya layanan bus repurposed pertama yang direncanakan Ribahsu seperti ruang penitipan anak atau stasiun pancuran dan bak mandi bergerak yang dapat memberikan dukungan yang berguna di daerah yang terkena bencana.






















IATA: Industri Penerbangan Global Mulai Membaik, Varian Omicron Datang dan Merusaknya

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya terhadap jenis baru Covid-19 varian Omicron yang notabene disebut WHO lebih menular. Pasalnya, industri penerbangan global baru saja perlahanan membaik dan varian Omicron berpotensi merusak segalanya.

Baca juga: Heboh Jadi Episenter Omicron, Afrika Selatan Ternyata Punya Hotel Unik dari Boeing 737

Meski begitu, IATA telah meminta pemerintah tidak gegabah menutup perbatasan dan melarang wisatawan masuk. Sebagai gantinya, pemerintah bisa menerapkan protokol kesehatan super ketat dan perjalanan internasinoal hanya berlaku untuk mereka yang sudah divaksin dua dosis.

Dalam pernyataan resminya, IATA membeberkan bahwa traffic penumpang yang diukur dalam revenue passenger kilometers (RPK) pada Oktober tahun 2021 turun kurang dari 50 persen dibanding periode yang sama tahun 2019.

Itu secara global. Secara spesifik, perjalanan domestik di seluruh dunia pada Oktober tahun ini turun 21,6 persen dibanding bulan yang sama tahun 2019.

Sedangkan demand penerbangan internasional dunia pada Oktober tahun ini turun 65,5 persen dibanding bulan yang sama tahun 2019.

Menariknya, IATA memberikan penekanan bahwa persentase di atas besar kemungkinan meleset. Fakta di lapangan, traffic penumpang bisa jauh lebih meningkat.

“Kinerja lalu lintas bulan Oktober memperkuat bahwa orang akan bepergian ketika mereka diizinkan. Sayangnya, tanggapan pemerintah terhadap kemunculan varian Omicron membahayakan konektivitas global yang telah lama dibangun kembali,” kata Direktur Jenderal IATA, Willie Walsh.

“Pencabutan pembatasan perjalanan AS dari sekitar 33 negara bulan lalu meningkatkan harapan bahwa lonjakan permintaan perjalanan yang terpendam akan meningkatkan lalu lintas selama musim dingin Belahan Bumi Utara yang akan datang,” tambahnya.

“Tetapi munculnya varian Omicron membuat panik banyak pemerintah untuk sekali lagi membatasi atau sepenuhnya menghapus kebebasan untuk bepergian — meskipun WHO dengan jelas menyarankan bahwa ‘larangan perjalanan selimut tidak akan mencegah penyebaran internasional, dan mereka menempatkan beban berat pada kehidupan dan mata pencaharian,” lanjut, bos IATA yang juga matan bos British Airways itu.

“Logika dari saran WHO terbukti dalam beberapa hari setelah identifikasi Omicron di Afrika Selatan, dengan kehadirannya sudah dikonfirmasi di semua benua. Larangan perjalanan yang keliru sama tidak efektifnya dengan menutup pintu gudang setelah kuda itu melesat,” tutupnya.

Baca juga: Cirium Lihat Industri Penerbangan Indonesia Kembali Bergairah, IATA Pesimis

Bila di-breakdown, Eropa menjadi kawasan yang paling rendah persentase penurunan penerbangan internasional dibanding yang lain, dimana periode Oktober 2021 dibanding Oktober 2019 hanya turun 50,6 persen.

Berbanding terbalik dengan Eropa, kawasan Asia-Pasifik menjadi yang paling terpukul di sektor penerbangan internasional dengan penurunan 92,8 persen pada periode Oktober 2021 dibanding Oktober 2019.

Startup Singapura Luncurkan Aplikasi Sewa Minibus untuk Pekerja Migran

Sebuah startup di Singapura meluncurkan aplikasi pemesanan yang terbilang unik, yaitu pemesanan untuk penumpang, tapi ini bukan penumpang biasa, melainkan pemesana  minibus untuk mengangkut pekerja migran.

Baca juga: Kejar Efisiensi, Startup Asal Israel Kembangkan Pengelolaan Bus Berbasis “On-demand”

Kehadiran aplikasi ini diharapkan dapat memberikan alternatif minibus yang masih digunakan banyak perusahaan untuk mengangkut pekerja. Dilansir KabarPenumpang.com dari channelnewsasia.com (19/11/2021), aplikasi pemesanan minibus untuk angkutan pekerja imigran hadir karena awal tahun ini, kecelakaan yang melibatkan truk pengangkut kerja migran kembali menghadirkan perdebatan terkait keamanan transportasi itu. Namun perusahaan lokal, terutama usaha kecil dan menengah (UKM), telah berulang kali mengatakan bahwa biaya menyewa bus untuk pekerja itu mahal.

Jean Christophe Li, pendiri Aespada, mengatakan bahwa layanan minibus aplikasi bertujuan untuk melayani perusahaan tersebut.

“Ini telah menjadi masalah selama satu dekade, dimana  banyak para pekerja yang bepergian dengan truk seperti ternak. Terutama, dalam beberapa minggu terakhir, hujan turun hampir setiap hari, Anda dapat melihat para pekerja mencoba berlindung di bawah kantong sampah. Apa yang kami tawarkan adalah opsi alternatif langsung bagi perusahaan di luar sana yang ingin menyediakan transportasi yang lebih baik dan lebih aman bagi pekerja mereka,” ujar Li.

Sementara perusahaan besar dengan lusinan atau ratusan pekerja mampu menyewa bus yang menampung sekitar 45 penumpang, ini tidak praktis bagi banyak kontraktor dan subkontraktor, yang melakukan perjalanan ad hoc dengan hanya selusin atau lebih sedikit pekerja setiap kali. Aplikasi Aespada yang diluncurkan tahun lalu, awalnya menghubungkan perusahaan ke jaringan kendaraan berat termasuk truk dan derek truk.

Bulan ini, ia menambahkan armada minibus ke platformnya, aplikasi ini dapat diakses 24/7 untuk memesan perjalanan ad hoc atau terjadwal untuk mengangkut pekerja mereka di sekitar wilayah Singapura. Bus dapat membawa 7 hingga 13 pekerja dan setiap perjalanan dihargai S$55 hingga S$65, tergantung pada jumlah pekerja.

Li mengatakan sekitar 25 perusahaan telah mendaftar sejauh ini, dan ada pertanyaan untuk perjalanan reguler jangka panjang serta untuk layanan ad hoc “sesuai permintaan”.

Saat ini ada 235 unit bus yang berkomitmen untuk bergabung dengan platform Aespeda dan onboarding akan berlangsung selama tiga bulan ke depan karena permintaan meningkat. Meskipun perusahaan tidak memiliki kendaraan, ia “mengkonsolidasikan” penyedia transportasi ukuran kecil dan menengah di platformnya untuk pemesanan, mirip dengan apa yang dilakukan Grab pada mobil sewaan pribadi.

Baca juga: IATA Kembangkan Aplikasi Seluler untuk Bantu Perjalanan di Masa Pandemi

Terence Lum, direktur eksekutif di Loh & Sons Paint Co, telah terdaftar di platform dan berharap dapat mengatasi beberapa masalah keamanan yang dimiliki perusahaan.
Dia pikir aplikasi itu akan berguna secara ad hoc ketika perusahaan perlu mengangkut pekerja ke lokasi kerja yang berbeda.

“Layanan seperti itu mungkin dapat menawarkan sarana transportasi yang lebih aman dan pada saat yang sama dapat menjaga biaya operasional tetap terkalibrasi,” katanya.






















Anti-Kecelakaan, Begini Teknologi ‘Kokpit’ Mobil di Masa Depan

Safety menjadi kata kunci dalam setiap pengembangan teknologi di dunia otomotif. Meski perubahan begitu cepat, namun, tak ada yang bisa memastikan seperti apa wujud interior atau kokpit mobil di masa depan.

Baca juga: Hindari Mabuk, Volvo Kembangkan Teknologi “Soundtrack” Agar Penumpang Mobil Otonom Nyaman

Akan tetapi, sebagaimana di awal, pengembangan teknologi dan inovasi di kokpit mobil tidak jauh-jauh dari safety.

Benar saja, dalam gelaran Automotive Tech Week focusing on vehicle cockpits in 2030, kokpit mobil di masa depan akan dilengkapi dengan berbagai fitur seperti pencahayaan inframerah, LED inframerah, laser, dan sensor ams OSRAM yang menjadi satu kesatuan fitur keselamatan dalam Advanced Driver Assistance Systems (ADAS).

Teknologi ADAS akan memainkan peran vital dalam pemantauan pengemudi, eye tracking, dan hands-on detection.

Dilansir wardsauto.com, didorongnya ADAS sebagai teknologi yang harus ada di mobil merupakan tindak lanjut dari laporan pengemudi dari tahun ke tahun.

Disebutkan, pengemudi telah menjajal berbagai teknologi keamanan di mobil dari mulai autopilot, keterlibatan pengemudi, kemudahan penggunaan, pemberitahuan saat aman digunakan, dan pemberitahuan pengemudi yang tidak responsif.

Hasilnya, sistem pemantauan pengemudi secara langsung, mendorong keterlibatan pengemudi, dan mengetahui keadaan pengemudi setiap saat mendapat ranking tertinggi.

Tak heran bila tekonologi ADAS dan sistem pemantauan pengemudi dalam mengurangi kecelakaan diwajibkan di Uni Eropa pada kendaraan tertentu mulai tahun 2022.

Amerika Serikat (AS) juga tak mau ketinggalan, tetapi tidak juga mau gegabah menghadirkan sistem keselamatan dan keamanan di mobil.

Undang-undang infrastruktur baru mencakup langkah-langkah untuk meningkatkan keselamatan di jalan raya. RUU tersebut membutuhkan penelitian tentang cara untuk mengurangi gangguan pengemudi dan penerapan sistem mitigasi gangguan, seperti pemantauan pengemudi, dalam tiga tahun ke depan.

Sistem pemantauan pengemudi menggunakan cahaya invisible infrared untuk menerangi wajah pengemudi tanpa sedikitpun mengganggunya. Ini dilengkapi dengan kamera high speed untuk merekam sekitar 30-60 gembar per detik.

Baca juga: Tak Hanya Mobil, Motor pun Dilengkapi HUD yang Terintegrasi dengan Helm!

Gambar ini kemudian akan dianalisis oleh sistem akhir, mulai dari frekuensi kedipan driver sampai arah pandangan mata, untuk menentukan apakah pengemudi tetap fokus dan tidak ngantuk, kelelahan, dan sebagainya.

Dengan begitu, otoritas (bila itu kendaraan pribadi) ataupun manajemen (bila itu kendaraan perusahaan, seperti jasa logistik, transportasi, taksi, dan lain sebagainya) dapat memberikan penilaian langsung, berupa reward and punnishment, dengan berdasarkan data kinerja driver dengan akurat dan faktual.

Genjot Teknologi Ramah Lingkungan, Mesir Operasikan Bus Bertenaga Gas Alam di 2022

Perkembangan transportasi dunia, kini semakin modern. Bus yang dihadirkan bukan hanya bertenaga listrik, tetapi bertenaga surya atau bahan lainnya seperti gas alam pun mulai dilirik oleh beberapa negara. Hal ini pun dilakukan di Mesir yang juga ikut andil dalam penggunaan bahan bakar yang bukan dari minyak bumi tetapi dengan gas alam.

Baca juga: Toyota Motor Europe dan CaetanoBus Siap Luncurkan Bus Bertenaga Hidrogen

Hal ini dikatakan oleh Menteri Perusahaan Umum Hisham Tawfik. Dia menyebutkan bahwa Mesir akan meluncurkan armada bus pertama yang menggunakan tenaga alam tahun depan.

Tawfiq menjelaskan bahwa, sekitar 70 persen dari komponen yang digunakan dalam pembuatan bus akan dipasok secara lokal. Tawfiq menambahkan, pembuatannya pun bekerja sama dengan beberapa perusahaan di negara Mesir.

“Kami sudah mencapai tingkat konstruksi 60 persen, dan kami akan mulai memasang mesin mulai April mendatang,” kata dia yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman  arabnews.com (5/12/2021).

Tawfiq mengatakan bahwa armada akan mencakup bus yang dapat menampung 14 hingga 50 penumpang sekali jalan baik berdiri maupun duduk. Adapun tujuan dari proyek ini adalah untuk melokalisasi teknologi dan produksi transportasi.

“Strategi kami adalah menggarap produksi kendaraan ramah lingkungan, baik yang berbahan bakar gas alam maupun listrik,” tambahnya.

Delegasi dari Pabrik Otomotif Minsk Belarusia menandatangani kontrak untuk memasok bahan produksi untuk proyek tersebut. Produksi diharapkan dimulai pada pertengahan 2022, dengan target 250 bus selesai per tahun.

Baca juga: Dari London, Telah Meluncur Bus Tingkat Bertenaga Listrik Pertama di Dunia

Tawfiq menyambut baik kerjasama dengan pihak Belarusia, terutama mengingat hubungan istimewa antara kedua negara, yang telah berkembang secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.