Kereta Maglev Pertama di Dunia Cuma 11 Tahun Beroperasi, Kenapa?

Bandara Birmingham, West Midlands, Inggris, berhasil mengukir sejarah pada tahun 1984. Ketika itu, kereta Maglev komersial pertama di dunia resmi beroperasi sebagai shuttle bandara atau sejenis Skytrain yang menghubungkan stasiun kereta api Internasional Birmingham dengan berbagai terminal bandara.

Baca juga: TransLink Perluas Platform Stasiun SkyTrain, Penuhi Pertumbuhan Penumpang di Masa Depan

Sayangnya, popularitas kereta Maglev Bandara Birmingham meredup setelah beberapa tahun beroperasi. Puncaknya, di tahun 1995 atau 11 tahun pasca pertama kali beroperasi, kereta Maglev bandara resmi menyudahi operasinya dan digantikan shuttle bus sebagai transportasi penumpang dari stasiun ke terminal. Mengapa demikian?

Dilansi Maglev.net, tak seperti Automated People Mover System (APMS) atau yang lebih dikenal dengan nama Skytrain Bandara Soekarno-Hatta, yang notabene stop operasi sejak pandemi virus Corona mewabah dan lebih ke masalah cost leadership atau penghematan biaya, kereta Maglev komersial pertama di dunia di Bandara Birmingham stop operasi setelah 11 karena alasan teknis.

Disebutkan, kereta yang bergerak melayang atau mengambang dengan jarak 1,5 cm dari rel berkat gaya tolak-menolak antara kereta, ini dioperasikan secara otomatis di sepanjang guide track sepanjang 600 meter, menghubungkan stasiun kereta api Internasional Birmingham dengan berbagai terminal bandara.

Kereta Maglev Bandara Birmingham itu beroperasi dengan kecepatan rata-rata 26 mph atau 42 km per jam.

Setelah beroperasi secara gratis dan otomatis, kereta Maglev Bandara Birmingham mulai mengalami kendala teknis. Tidak berbahaya dan mencelakakan penumpang memang, tetapi kegagalan listrik mengenai sistem transit magnetik ini frekuensinya begitu sering sehingga mobilitas penumpang jadi terhambat.

Tak jarang penumpang juga sempat dibuat deg-degan lantaran takut ketinggalan pesawat saat kereta Maglev tersebut ‘mogok’ di tengah perlintasan dari stasiun ke terminal. Sedangkan proses evakuasi membutuhkan waktu yang tak sebentar.

Berkali-kali diprotes penumpang lantaran kesalahan yang sama, kereta Maglev komersial pertama di dunia di Bandara Birmingham akhirnya resmi stop operasi, 11 tahun setelah diluncurkan. Sebagai gantinya, pengelola Bandara Birmingham meluncurkan shuttle bus. Ini bertahan selama delapan tahun sejak 18 Juni 1995.

Setelah itu, shuttle bus bandara digantikan dengan SkyRail atau sekarang dikenal dengan sebutan Air-Rail Link. Setiap tahun, Air-Rail Link tidak kurang melayani sekitar tiga juta penumpang secara gratis dan otomatis.

Sayangnya, sebagaimana Skytrain Bandara Soekarno-Hatta, yang stop operasi lantaran sepi penumpang, Skytrain Bandara Birmingham juga demikian. Namun, seiring meningkatnya jumlah penumpang, Air-Rail Link Bandara Birmingham sudah beroperasi normal kecuali di pukul 00.30 – 02.00. Di jam tersebut AIR-Rail Link tidak beropeasi dan digantikan dengan shuttle.

Baca juga: Tak Benar Akan Dioperasikan PT LRT Jakarta, Skytrain Bandara Soetta Stop Beroperasi Karena Alasan Penghematan Biaya

Berbeda dengan Air-Rail Link Bandara Internasional Birmingham yang sudah beroperasi rutin, Skytrain Bandara Soekarno-Hatta justru berbanding terbalik.

VP Corporate Communication PT Angkasa Pura II (Persero), Yado Yarismano, kepada wartawan menyebut belum tahu kapan pihaknya mengoperasikan kembali Skytrain mengingat traffic penumpang di bandara masih di bawah 50 persen. Bila sudah jauh di atas itu, bukan tak mungkin Skytrain bakal dioperasikan kembali.

Cegah Gajah Tertabrak Kereta, India Hadirkan Sensor Pengaktif Lampu di Sepanjang Rel

Akhir bulan lalu, tepatnya 26 November 2021, tiga ekor gajah ditabrak kereta api tujuan Chennai dekat Coimbatore, India. Tertabraknya gajah-gajah itu karena tidak ada sistem apa pun di jalur kereta, sehingga tidak ada yang bisa dilakukan untuk menghalau para gajah melintas di rel ketika malam hari.

Baca juga: Halau Rusa dan Hewan Liar Masuk ke Rel, JR East Pasang Shika Sonic

M Abraham Antony yang adalah fotografer konservasi yang bergegas di Coimbatore langsung ke lokasi setelah mendapat kabar kecelakaan. Dia bahkan bebicara pada orang-orang yang tinggal di sekitar lokasi kejadian untuk tahu apa yang terjadi sebenarnya.

“Anak gajah itu bermain-main dan memposisikan dirinya di trek. Kemudian induk jantan berdiri disebelahnya dan induk betina berusaha membuat bayi gajah bergerak,“ ujar Antony.

Insiden ini bukan sekali dua kali terjadi di saat malam hari. Untuk menghindarinya, M Ananda Kumar, ilmuwan di konservasi alam di MySore mengatakan, itu semua ada dalam kendali masinis. Dia menyebutkan, masinis harus peka dengan daerah yang dia lewati dan mengingat untuk memperlambat laju kereta di sepanjang habitat gajah.

Namun masalahnya adalah untuk mengurangi kecepatan lebih sulit dilakukan karena kereta meluntasi berbagai lanskap dan ketinggian. KabarPenumpang.com melansir laman thehindu.com (3/12/2021), solusi lainnya adalah dengan menggunakan sensor yang memicu lampu di sepanjang rel kereta api.

“Masinis merespons lampu tanpa sadar. Sebuah sistem di mana lampu memperingatkan mereka tentang pergerakan gajah akan membantu mereka memperlambat dan mungkin akan mengurangi kematian gajah di rel,” kata Ananda.

Tak hanya itu, Departemen Perkeretaapian dan Kehutanan harus bekerja dengan LSM lokal dan penduduk sekitar untuk mebuat langkah seperti itu. Ananda pun menyarankan agar lampu yang digunakan berwarna oranye. Sebab ketika menggunakan warna merah atau hijau bisa mengganggu sistem persinyalan kereta api.

“Kita bisa punya penyangga satu kilometer untuk masinis untuk mendapatkan isyarat. Kami memiliki insinyur yang bersedia bekerja sama untuk mengerjakan sistem pemantauan berbasis sensor ini yang berpotensi menyelamatkan nyawa,” kata Ananda.

“Kami tidak dapat mengusir gajah, tetapi kami dapat secara efektif menggunakan teknologi untuk mengurangi kematian di rel kereta api. Yang dibutuhkan hanyalah kerangka berpikir yang tepat untuk menemukan solusi atas masalah ini,” tambahnya.

Dua tahun lalu, proyek serupa dicoba di Taman Nasional Rajaji. “Institut Margasatwa India dan Organisasi Instrumen Ilmiah melakukan proyek percontohan yang menyebarkan sensor seismik untuk memperingatkan masinis tentang pergerakan gajah di rel kereta api. Proyek tahap selanjutnya, yaitu bagaimana mengirimkan sinyal ini ke masinis, belum dilakukan,” kata Bivash Pandav, Direktur, Masyarakat Sejarah Alam Bombay.

Idealnya, kata Bivash, jalan dan jalur kereta api tidak boleh memotong habitat gajah. Tetapi yang sudah ada tidak dapat dibatalkan, dan langkah-langkah untuk mengurangi konflik manusia-hewan adalah kebutuhan saat ini. Bersamaan dengan teknologi tersebut, dia merasa perlu ada tim yang kuat untuk memantau pergerakan gajah di area sensitif.

Baca juga: Halau Rusa di Jalur Kereta, Peneliti Jepang Pasang Klakson Suara Anjing Melolong di Lokomotif

Sementara itu di Coimbatore, pagar rel kini dibuat membentang di sepanjang jalur antara Kanjikode dan Madukkarai untuk mencegah penyeberangan gajah.






















Lebih Parah dari Siskaeee, Survei Membuktikan: 1 dari 10 Penumpang Berhubungan Seks di Bandara

Jagat media sosial belakangan heboh dengan video pamer payudara oleh akun Twitter Siskaeee di Bandara Internasional Yogyakarta atau YIA, Kulon Progo, Yogyakarta. Ternyata, itu bak fenomena gunung es.

Baca juga: Video Tersebar Saat Berhubungan Seksual di Toilet Pesawat, Awak Delta Airlines di Skorsing

Hasil survei mebuktikan bahwa 1 dari 10 orang atau penumpang pesawat berhubungan seks di bandara sebelum naik ke pesawat. Sementara itu delapan persen penumpang telah bergabung dengan Mile High Club atau dengan kata lain berhubungan seks di toilet pesawat saat tengah mengudara.

Secara bahasa Mile High Club adalah kelab yang berada tinggi di atas awan. Tetapi, secara istilah, Mile High Club adalah kumpulan orang-orang (penumpang) yang bebas melakukan apa saja di pesawat, termasuk berhubungan intim atau berhubungan seks di pesawat.

Dilansir Daily Mail, orang-orang yang berhubungan seks di bandara tersebut 42 persennya mengaku berbuat hal tersebut di toilet bandara. Sedangkan 28 persennya berhubungan seks di lemari bandara. Namun, tak disebutkan dengan jelas, lemari seperti apa.

Sebanyak 14 persen penumpang mengaku berhubungan seks di bandara dengan memanfaatkan mantel musim dingin yang panjang sebagai media menutupi aktivitas mereka. 12 persen lainnya mengaku melakukan hubungan seks di lounge bandara.

Celakanya, dari segitu banyaknya orang-orang yang sudah berhubungan seks di bandara sebelum penerbangan berlangsung, hanya 17 persen dari mereka yang ditangkap petugas keamanan.

Survei tentang perilaku penumpang, lebih spesifik lagi tentang penumpang yang berhubungan seks di bandara sebelum penerbangan, dilakukan oleh platform flight shopping US.Jetcost.com, dengan jumlah 4.915 responden di Amerika Serikat (AS) berusia 18 tahun atau lebih yang telah terbang setidaknya sekali selama dua tahun terakhir. Survei tersebut dirilis pada tahun 2017 lalu.

Sama parahnya dengan penumpang yang berhubungan seks di bandara sebelum memulai penerbangan, penumpang yang berhubungan seks di pesawat saat penerbangan berlangsung atau dikenal dengan istilah Mile High Club, juga cukup banyak. Bahkan lebih banyak dari yang diperkirakan.

Pada tahun 2010, sebuah survei menyebut bahwa tiga persen penumpang pesawat berhubungan mesra atau berhubungan seks selama penerbangan. Kalau ada tiga miliar penumpang terbang setiap tahun, itu artinya ada 10 juta orang yang berhubungan seks di pesawat setiap tahun.

Pramugari Norwegian Air, Grace, dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg, punya cerita terkait hal itu. Disebutkan, orang-orang yang bergabung dengan Mile High Club atau berhubungan seks di toilet pesawat selalu ada minimal satu kali setiap bulan dengan tingkat keberhasilan 30 persen.

Baca juga: Bukan Pramugari, “Hooters Girls” adalah Pelayan Restoran yang Diperbantukan di Kabin

Lebih lanjut, pramugari itu bahkan pernah menyaksikan ada penumpang yang baru saja bertemu di pesawat dan mereka pergi ke toilet bersama untuk melakukan hubungan seks di pesawat.

“Kami bahkan pernah melihat orang asing bertemu dalam penerbangan dan lari ke toilet bersama,” ungkapnya.

Airbus Luncurkan Kaca Elektrokromik Pertama di A350, Presiden Emirates: Ga Butuh

Airbus meluncurkan fitur kaca elektrokromik (dimmable windows) atau biasa juga disebut electronically dimmable windows (EDW) pertama di pesawat A350. Ini diharapkan dapat menjadi fitur andalan maskapai dalam meraih kepercayaan penumpang. Tetapi, fitur ini justru ditentang oleh Presiden Emirates, Tim Clark. Pihaknya menyebut itu tidak berguna dan mereka tak butuh itu.

Baca juga: Inilah Kaca Elektrokromik yang Bikin Jendela Pesawat Tak Perlu Tirai

Sebagai gantinya, ia lebih mengandalkan fitur serupa tapi tak sama, yaitu electric window shades atau tirai jendela pesawat lipat. Hal ini dinilai lebih mendapat respon positif dari pengunjung.

“Kami belum melihat jendela yang dapat diredupkan (dimmable windows) pada A350 tetapi untuk A350 kami, kami telah memesan tirai jendela elektrik lipat (electric window shades) ATG yang sama dengan yang kami miliki pada A380 dan Boeing 777,” katanya.

“Suasananya (kursi kelas premium yang dilengkapi dimmable windows atau kaca yang bisa redup tanpa tirai di jendela pesawat) melebihi apa yang saya bayangkan. Kami menerima sambutan hangat dari pelanggan kami,” tambahnya, seperti dikutip dari Airlinerating.com.

Saat ini, kaca elektrokromik di pesawat A350 Airbus sedang diuji coba di Toulouse, Perancis. Uji coba meliputi akselerasi kaca dari normal menjadi redup dan tak tembus sinar matahari serta tingkat keredupan kaca tersebut.

Cara mengoperasikan kaca elektrokromik (dimmable windows) ini bisa dibilang mudah. Penumpang cukup menyentuh tombol di bawah kursi dan mengatur tingkat keredupannya sesuai yang diinginkan.

Airbus bisa dibilang telat dalam menghadirkan kaca elektrokromik (dimmable windows). Sebelumnya, Boeing sudah lebih dahulu menghadirkan kaca, yang meski redup tetapi penumpang tetap bisa melihat pemandangan di luar, pada pesawat Boeing 787 Dreamliner.

Kendati sama-sama dipasok dari Gentex Corporation, namun keduanya berbeda. Disebutkan, kaca elektrokromik dari Airbus adalah versi baru dibanding versi lama yang digunakan pada pesawat Boeing 787 Dreamliner.

Gentex mengatakan bahwa EDW yang ditawarkan oleh Airbus ini memungkinkan penumpang untuk secara sefektif menggelapkan kaca sesuai yang diinginkan. Sekali lagi, kendati digelapkan, namun mereka masih bisa melihat pemandangan di luar pesawat.

Tidak seperti dimmable windows yang diperkenalkan oleh Boeing 787 Dreamliner, EDW milik Airbus ini mampu menghilangkan lebih dari 99,999 persen visible light secara efektif.

Baca juga: Gaet Gentex, Airbus Siap Tingkatkan Pengalaman Penumpang via Dimmable Windows

Bila tak ada aral melintang dan tetap mendapat respon positif dari maskapai, mengingat kaca model ini ditentang habis oleh Emirates, kaca elektrokromik Airbus bisa mulai dinikmati penumpang pada tahun 2022 mendatang.

Sayangnya, maskapai yang diklaim sudah memesan pesawat Airbus A350 dengan kaca elektrokromik ini masih dirahasiakan. Namun, clue-nya adalah, maskapai yang kelak mengoperasikan A350 yang sudah dilengkapi dimmable windows ini adalah maskapai yang juga sudah mengoperasikan pesawat Boeing 787 Dreamliner dengan dimmable windows. Itu berarti, maskapai tersebut adalah American Airlines.

Bagaimana Cara Mendirikan Maskapai Baru Sampai Berhasil? Ini Jawabannya

Sejak virus Corona diumumkan WHO menjadi pandemi global pada Maret 2020, tercatat sudah ada 9 maskapai baru yang lahir di berbagai negara. Menariknya, di saat yang bersamaan, ada kurang lebih 40 maskapai bangkrut lantaran permintaan penerbangan menurun.

Baca juga: 9 Maskapai Baru yang Lahir Selama Pandemi Covid-19, Dari Negara Mana Saja?

Sedang di masa normal saja mendirikan maskapai tidak mudah, apalagi di masa-masa seperti sekarang ini. Terlepas dari itu, sebetulnya, bagaimana langkah-langkah atau cara mendirikan maskapai baru agar sukses dan bertahan lama di pasar? Dilansir laman resmi Boeing, setidaknya ada enam langkah utama dalam memulai bisnis maskapai baru. Berikut ulasannya.

1. Analisis Pasar

Secara teori, mustahil mendirikan maskapai baru tanpa ada ceruk bisnis yang bisa diraup. Karenanya, sebelum memulai, pengusaha harus mengalisis pasar penerbangan komersial dan dalam negeri terlebih dahulu. Bila dirinci lebih jauh, analisis pasar di sini bisa berarti tiga; prospek pasar penerbangan komersial, prospek kargo udara, dan prospek pasar keuangan pesawat saat ini.

Oasis HongKong mungkin jadi salah satu contoh maskapai baru yang menganilisis pasar dengan sangat baik. Alhasil, maskapai ini hanya bertahan tiga tahun atau beroperasi tahun 2005 dan stop operasi pada tahun 2008.

2. Operating environment

Sebagai maskapai baru, penting untuk memulai segalanya dalam kerangka peraturan, standar, dan pedoman; termasuk informasi dasar tentang beberapa perjanjian dan program internasional yang pada akhirnya membentuk operating environment for commercial aviation.

3. Business plan

Setelah menganalisis pasar dan mempelajari operating environment, langkah mendirikan maskapai baru selanjutnya adalah membuat business plan. Ini mencakup banyak hal, mulai dari analisis pasar dan kompetisi, brand, peluang dan tantangan, detail operasi, membentuk manajemen, analisis risiko dan kendala, proyeksi keuangan, kapitalisasi plan, pengembangan brand, dan strategi implementasi.

Tak lupa, ditahap ini, calon maskapai baru juga sudah harus memiliki gambaran dari mana sumber keuangan mereka berasal dan seberapa besar jumlahnya.

JetBlue, misalnya, didirikan di saat yang tepat dengan modal yang sangat besar. Maskapai didirikan pada Agustus 1998 dengan sumber dana dari George Soros, elite global yang keuangan tak berseri. Sebelum diluncurkan pada tahun 2000, FAA setidaknya menyetujui berdirinya 17 maskapai baru meski dengan dana yang lebih sedikit.

4. Pemilihan pesawat

Setelah tiga di atas, calon maskapai baru seharusnya sudah memiliki target dan gambaran, pasar seperti apa yang akan dicoba dimaksimalkan. Ini pada akhirnya berpengaruh dengan pesawat jenis dan tipe mana yang akan dioperasikan. Selain itu, dalam memilih pesawat juga ada triknya.

Baca juga: Ini yang Dilakukan Maskapai Saat Terima Pesawat Baru

5. Sumber pesawat

Membeli pesawat baru sudah pasti sangat mahal. Andai calon maskapai baru memiliki dana terbatas, membeli atau menyewa pesawat dengan biaya sendiri pastinya akan menguras cost yang seharusnya bisa dimaksimalkan untuk memperkuat bisnis.

Karena itu, dalam memilih pesawat, perlu ada beberapa hal yang mesti diperhatikan, mulai dari pembiayaan, price list pesawat baru, sewa pesawat baru atau bekas, tarif sewa pesawat, sampai pesawat bekas yang disewa ke pihak ketiga.

6. Mengoperasikan maskapai baru

Dengan modal Air Operator Certificate (AOC) yang sudah dikantongi maskapai dan turunannya serta berbagai operatinf license lainnya, maskapai baru siap memulai debut.

7x Seminggu, Lion Air Buka Penerbangan ke Jayapura dari Makassar dan Biak Numfor

Ada kabar anyar dari Lion Air, yaitu per 5 Desember 2021 maskapai terbesar di Indonesia itu telah membuka dan melayani penerbangan berjadwal di rute dan destinasi baru dari Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar Sulawesi Selatan ke Kabupaten Biak Numfor melalui Bandar Udara Internasional Frans Kaisiepo, Papua. Penerbangan dilanjutkan menuju Bandar Udara Internasional Sentani, Jayapura, Papua.

Baca juga: Ikut Berikan Promo Tarif, Lion Air Punya Rute Penerbangan Langsung ke Jayapura dari Jakarta

Dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com, disebutkan untuk tahap awal, Lion Air berencana mengoperasikan layanan penerbangan regular harian, frekuensi 7 (tujuh) kali dalam sepekan, atau satu kali setiap hari. Pada penerbangan perdana, Lion Air mengoperasikan pesawat dengan jenis Boeing 737-800NG dengan kapasitas penumpang 189 kursi kelas ekonomi.

Pihak Lion menyebut, Boeing 737-800 telah dilengkapi kabin Boeing Sky Interior. Memiliki kesan lebih lapang dan dinamis dengan penataan lampu Light -Emitting Diode (LED) pada interior kabin dan lampu baca. Selain itu, pesawat jenis ini memiliki tingkat kebisingan yang rendah. Seluruh armada Lion Air dilengkapi High Efficiency Particulate Air (HEPA) filter atau penyaringan partikel yang kuat. HEPA filter membantu menjaga kebersihan udara di kabin dan menyaring lebih dari 99,9 persen jenis virus, kuman, serangga dan bakteri. Udara di dalam kabin pesawat diperbarui setiap 2-3 menit, sehingga lebih segar. Siklus udara dari toilet (lavatory) dan dapur (galley) langsung dialirkan ke luar pesawat.

Pada jadwal penerbangan perdana ini, setibanya Lion Air JT-3798 di Bandar Udara Internasional Frans Kaisepo, dilakukan tanda penda pendaratan dengan penyemprotan pada badan pesawat (water salute). Para penumpang disambut oleh Bupati Kabupaten Biak Numfor Herry Ario Naap berikut Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Baca juga: Setelah Batik Air, Giliran Lion Air Pastikan Semua Armadanya Telah HEPA Ready

Dari Biak, penerbangan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Bandar Udara Internasional Sentani (DJJ). Setibanya Lion Air JT-3798 di Bandar Udara Sentani, pada badan pesawat dilakukan penyemprotan sebagai bentuk simbolisasi rute perdana ini.






















Hari Ini, 64 Tahun Lalu, Lockheed L-188 Electra Sang ‘Maut’ Andalan Garuda Indonesia Terbang Perdana

Pada hari ini, 64 tahun lalu, bertepatan dengan 6 Desember 1957, Lockheed L-188 Electra sukses melakukan penerbangan perdana. Sayangnya, produksi pesawat turboprop sayap rendah yang dibuat oleh Lockheed Corporation ini harus dihentikan lantaran dua kecelakaan beruntun dalam tempo tujuh bulan. Hal itu pun menjadi sekaligus menjadi pertanda redupnya pesawat yang pernah menjadi andalan Garuda Indonesia itu.

Baca juga: Ada Convair 990 Garuda Indonesia (Juga) dalam Komik Tintin

Dikutip dari airliners.net, proses pengembangan pesawat paling populer di dunia ini dimulai sejak tahun 1951. Saat itu, Lockheed didatangi Capital Airlines untuk mengembangkan sebuah pesawat turboprop baru yang diberi nama YC-130. Namun, maskapai lain tidak berminat. Alhasil, proyek tersebut dibatalkan.

Hal serupa kemudian kembali terulang pada 1954 saat American Airlines datang dan meminta pengembangan pesawat twin jet dengan spesifikasi tertentu. Meski sempat bergairah, proyek itu kemudian redup dan digantikan dengan desain lain yang juga diminati oleh banyak maskapai.

Desain itu kemudian dikenal sebagai Model 188 yang pada akhirnya berhasil terbang perdana pada tanggal tersebut sebagai Model 188A. Di sini, disebutkan, Lockheed sudah berhasil mendapat 129 unit. Karenanya, Lockheed L-188 Electra sempat digadang bakal memiliki masa depan yang cerah.

Usai penerbangan perdana selesai, Lockheed baru bisa mendapat sertifikasi penerbangan oleh Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA) setahun setelahnya dan baru bisa mengirim pesawat ke maskapai Eastern Airlines pada 8 Oktober 1958.

Sejak pengiriman pertama ke maskapai, pesanan terus membanjiri Lockheed sampai akhirnya kecelakaan perdana terjadi pada 29 September 1959. Saat itu, Lockheed L-188 Electra Braniff Airways dengan nomor penerbangan 542, jatuh saat dalam perjalanan antara Houston dan Dallas.

Pasca kecelakaan yang menewaskan 34 orang itu, pesanan tetap datang namun dengan ritme agak slow. Petaka datang tujuh bulan kemudian, ketika Lockheed L-188 Electra Northwest Orient fligh 710 mengalami kecelakaan pada 17 Maret 1960 saat menempuh rute Chicago – Miami dan menewaskan seluruh penumpang serta kru (63 orang).

Sejak kecelakaan tersebut, Lockheed sama sekali tak mendapat pesanan pesawat Lockheed L-188 Electra. Saking sepinya pesanan, perusahaan akhirnya menyetop produksi pesawat diangka 170 unit setahun setelahnya atau pada 1961.

Meski sudah mendapat akar permasalahan atas dua kecelakaan itu, dimana, menurut ahli dari NASA, kecelakaan terjadi akibat kegagalan desain serta mesin, Lockheed L-188 Electra tetap tidak dilirik maskapai. Justru, enam tahun berikutnya, Lockheed L-188 Electra semakin membuat dunia takut dengan serangkaian kecelakaan yang melibatkan banyak maskapai di dunia, termasuk kecelakaan Garuda Indonesia Airways flight (penerbangan) 708 pada 16 Februari 1967.

Saat itu, Lockheed L-188 Electra Garuda Indonesia Airways kecelakaan saat melakukan pendaratan di Manado, Sulawesi Utara dan mengakibatkan 22 dari 84 penumpangnya tewas.

Lockheed L-188 Electra diproduksi dalam enam versi, yakni L-188A, L-188AF (All Freight version), L-188PF (Passenger-Freight version), L-188C versi jarak jauh, L-188CF versi tak resmi kargo, dan YP-3A Orion versi uji coba yang pada akhirnya gagal.

Baca juga: Convair 340, Pesawat Garuda Indonesia yang Terbangkan Jemaah Haji di Tahun 1956

Secara umum, spesifikasi pesawat punya kecepatan maksimal sampai 721 km per jam, jarak tempuh 3.450 km, serta kecepatan jelajah sampai 620 km per jam. Selain itu, pesawat dengan bentang sayap 30 m ini memakai empat mesin turboprop Allison T56.






















Seoul Luncurkan Layanan Taksi Otonom, Gratis Hingga Akhir Tahun Ini

Seoul di Korea Selatan baru saja meluncurkan layanan mobil komersial tanpa pengemudi pada Senin (29/11/2021). Ini adalah langkah pertama dalam rencana ambisius untuk membawa kendaraan otonom ke dalam kehidupan sehari-hari selama lima tahun ke depan. Peluncuran mobil otonom ini dilakukan walikota Seoul Oh Se-hoon di lingkungan barat Sangam-dong. Saat itu ada tiga sedan (taksi) otonom yang diluncurkan. Oh Se-hoon mengatakan, mengemudi secara otonom bukan lagi teknologi masa depan.

Baca juga: FedEx Gandeng Nuro, Kirim Paket dengan Kendaraan Otonom

“Itu sudah ada di sini bersama kami. Hari ini, kendaraan swakemudi umum sudah mulai melayani warga kami,” ujar Oh yang dikutip KabarPenumpang.com dari upi.com (29/11/2021).

Ketiga sedan tersebut akan membawa penumpang pada rute dengan luas sekitar 2,3 mil persegi, meliputi stasiun kereta bawah tanah yang sibuk, kompleks apartemen dan gedung perkantoran. Kota itu mengatakan akan menambah armada dengan tiga kendaraan lagi, termasuk bus, pada akhir Desember ini. Untuk mendapatkan kendaraan otonom ini, pengguna bisa menggunakan aplikasi khusus dan tidak akan dikenakan biaya selama bulan pertama layanan.

Nantinya pada Januari 2022, tarif akan mulai dikenakan, tetapi harga belum ditetapkan. Namun pejabat mengatakan biayanya tidak lebih dari $1 untuk bus dan $2,50 untuk naik mobil. Kendaraan tersebut dioperasikan oleh dua perusahaan swasta, 42dot dan SWM, di bawah lisensi dari pemerintah kota.

Pada tahun 2022, Pemerintah Seoul berencana untuk mulai memperluas layanan ke bagian lain kota, membawa taksi robot yang sepenuhnya otomatis ke Gangnam pada awal tahun dan menjalankan bus tanpa pengemudi di pusat kota pada bulan April. Kemudian tahun 2026, Seoul akan memiliki lebih dari 300 kendaraan otonom di jalan, dengan biaya $125 juta.

Walikota Oh menjadi penumpang pertama dari layanan self-driving baru pada hari Senin, menempuh perjalanan sejauh 1,8 mil melalui area di Sangam-dong yang dikenal sebagai Digital Media City, di mana beberapa penyiar dan perusahaan IT berada. Setelah itu, dia mengatakan kepada wartawan bahwa dia tidak melihat perbedaan besar dari perjalanan mobil biasa.

“Saya sedikit cemas pada awalnya. kendaraan mulai perlahan, dan ketika berhenti, saya merasa seperti berada di dalam mobil yang dikemudikan oleh pengemudi yang sangat terampil. Sangat menyenangkan untuk memulai eksperimen seperti itu di tengah kota Seoul,” kata Oh.

Penonton mengatakan mereka tertarik untuk mencoba kendaraan baru untuk diri mereka sendiri.

“Saya sangat ingin tahu. Saya ingin belajar lebih banyak tentang teknologinya terlebih dahulu, tetapi saya pikir saya akan mencobanya jika ada kesempatan,” kata Lee Kwang-su, 65 tahun.

Walikota mengatakan bahwa data dan pengalaman dari proyek percontohan ini akan sangat berharga karena Seoul ingin menjadi salah satu kota teratas dunia untuk mengemudi otonom. Untuk diketahui, Seoul bukanlah kota pertama yang mengkomersialkan layanan tanpa pengemudi, sebab sudah ada proyek yang sedang berlangsung di tempat lain termasuk layanan ride hailing Waymo One Google di pinggiran Phoenix dan layanan robotaxi Baidu di Beijing.

Tetapi Korea Selatan memiliki pandangan untuk menjadi pemimpin global di seluruh industri mobilitas masa depan, dari kendaraan bertenaga listrik dan hidrogen hingga mobil terbang hingga mengemudi secara otonom. Sektor swasta Korea Selatan juga menghabiskan banyak uang untuk mobilitas masa depan, dengan investasi sekitar $50 miliar untuk dekade berikutnya.

Baca juga: Korea Selatan Berencana Luncurkan Taksi Terbang di 2025

Pada hari Senin lalu, pembuat mobil Hyundai memamerkan beberapa kendaraan konsep otonomnya sendiri dan mensponsori kompetisi mengemudi sendiri untuk tim universitas Korea dengan pemerintah Seoul.






















Melbourne Kini Punya Restoran Trem Keliling

Paul O’Brien, adalah pemilik Colonial Tramcar Restaurant yang ingin menghidupkan kembali trem kelas W yang berusia 70 tahun di Melbourne, Australia. Untuk hal ini pun dirinya telah menyelesaikan tindakan yang diambil perusahaannya terhadap Yarra Trans.

Baca juga: Coastal Tram – Jalur Trem Terpanjang di Dunia Sepanjang 67 Km

Meski pada 2018 pihak berwenang telah menarik layanan terakhirnya karena tidak memenuhi standar keselamatan modern, tetapi O’Brien mengatakan telah mempertahankan kontraknya untuk tetap menjalankan restoran trem keliling. Di mana restoran ini telah membaw pengunjung melewati pinggiran Melbourne selama lebih dari 30 tahun.

Restoran trem ini bahkan telah melayani sekitar 70 ribu pelanggan per tahun yang mana 50 persen di antaranya adalah pelancong luar negeri. KabarPenumpang.com melansir theage.com.au (23/11/2021), tetapi trem yang digunakan untuk restoran miliknya, dibangun antara tahun 1947 dan 1950 dan sekarang sudah tidak terpakai serta tidak dapat digunakan kembali. Dia mengaku ini mengecewakan tetapi dia tetap membuka pintu untuk melanjutkan layanan.

“Kami harus membangun trem baru, dan itulah masalahnya karena harganya sangat mahal dan kelayakan finansialnya tampaknya tidak menumpuk. Tapi itu tidak bisa dibayangkan,” ungkap O’Brien.

Meski tersandung masalah trem tua, O’Brien mengatakan ada kemungkinan restoran dapat menggunakan trem Kelas W8 yang dimodernisasi namun terlihat vintage, seperti yang saat ini digunakan pada rute City Circle di sekitar Melbourne CBD.

Adanya hal ini, Yarra Trams menolak berkomentar tentang masa depan restoran keliling, tetapi mengatakan keselamatan karyawan dan penumpangnya adalah prioritas utamanya. Seorang juru bicara Departemen Transportasi mengatakan pemerintah negara bagian sebelumnya telah menawarkan untuk menyediakan satu trem, ditingkatkan untuk memenuhi standar keamanan modern, untuk restoran fitout, tetapi pemilik restoran tidak menerima tawaran itu.

Tetapi O’Brien mengatakan menjalankan hanya satu trem tidak akan layak dan layanan tersebut membutuhkan setidaknya dua. Dia mengatakan Restoran Trem Kolonial telah menyelesaikan masalah hukum dengan Trem Yarra. Tram Kolonial telah mengambil tindakan karena tidak dapat menjalankan bisnisnya setelah trem dipindahkan.

Felicia Mariani, CEO Dewan Industri Pariwisata Victoria, mengatakan bahwa dia akan senang jika trem restoran kembali ke Melbourne. Mariani meminta pemerintah negara bagian untuk mempertimbangkan membuat versi Melbourne dari dana investasi pariwisata regional yang baru-baru ini diumumkan.

Untuk diketahui, versi regional akan mendistribusikan hibah hingga $10 juta per proyek untuk mendukung proyek infrastruktur pariwisata yang baru dan inovatif. Di antara banyak proyek Melbourne lainnya, pendanaan semacam itu dapat membantu membiayai kebangkitan trem restoran. Mariani mengatakan trem restoran adalah institusi Melbourne, dan itu sangat memilukan dan pukulan yang menghancurkan ketika mereka dimatikan.

“Jelas mereka menarik bagi pengunjung karena itu adalah cara yang unik untuk memiliki pengalaman bersantap di kota,” katanya. Dia mengatakan khusus untuk turis internasional, “itu dilihat sebagai malam yang sangat istimewa”.

Baca juga: Arsitek Asal Milan Buat Desain Trem yang ‘Friendly’ di Masa Pandemi

Mariani mengatakan penting, muncul dari dua tahun pandemi, “untuk memiliki jenis pengalaman mendalam yang menarik pengunjung kembali ke kota kami,” kata Mariani.

British Airways Flight 9, Guratan Kelam Dunia Aviasi Akibat Abu Vulkanik

Sebagai bagian dari himpunan 129 gunung berapi di Indonesia, Gunung Galunggung pernah membuat maskapai British Airways Penerbangan 9 hampir mengalami kecelakaan. Pesawat yang bertolak dari Bandara Internasional Heathrow, London menuju Auckland tersebut mengalami kerusakan pada bagian mesinnya yang mengakibatkan keempat penggerak pesawat Boeing 747 mati total. Diketahui, pesawat tersebut menerobos awan abu letusan gunung Galunggung, 35 tahun silam.

Baca Juga: Abu Vulkanik, Musuh Besar Dalam Dunia Penerbangan

Setelah “tertidur” selama kurang lebih 63 tahun, Gunung di Tasikmalaya, Jawa Barat, itu mulai meletus kembali pada 5 Mei 1982. Letusan berupa dentuman, pijaran api, dan kilatan halilintar. Berlangsung selama 9 bulan dan berakhir pada 8 Januari 1983.

Kala itu, pilot Eric Moody yang tengah membawa 263 penumpang tidak mengetahui bahwa Gunung Galunggung baru saja meletus. Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman CNN (16/4/2010), Eric sontak kaget ketika mengetahui bahwa empat mesin pesawat yang tengah ia kendalikan tersebut tidak berfungsi, tepatnya ketika pesawat berada di atas Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Ketika mengetahui insiden tersebut, pesawat tengah berada di ketinggian 36.000 kaki atau setara dengan 11.000 meter.

Tanpa berpikir panjang, Eric dan asistennya kemudian mengambil keputusan untuk segera melandaskan pesawat di bandara terdekat. Anehnya lagi, kru darat tidak mengetahui bahwa mesin pesawat tersebut mati. Namun, masalah belumlah usai, mereka berdua tidak bisa melihat pemandangan di luar lewat kaca depan dan sebagian dari panel elektronik untuk membantu pendaratan darurat tidak jalan. Sebagai kapten penerbangan, Eric berusaha untuk tetap tenang dalam mengendalikan pesawat mati tersebut.

Eric Moody (tengah). Sumber: airlineratings.com

Untungnya, ketika pesawat dengan nomor registrasi G-BDXH tersebut menyentuh ketinggian 13.000 kaki, tiga dari empat mesin kembali menyala, sehingga pesawat tersebut bisa melakukan pendaratan darurat di Jakarta, karena Eric mengaku, kota terdekat dari posisi pesawat adalah Jakarta. Terbayang bagaimana mencekamnya suasana di kabin kala itu. Sebuah pengalaman yang amat sayang untuk dilupakan oleh seluruh penumpang serta awak kapal. Maka dari itu, para penumpang penerbangan tersebut membentuk Galunggung Gliding Club, agar mereka bisa terus berkomunikasi satu sama lain.

Secara geografis, Indonesia dikenal sebagai lokasi yang dikelilingi oleh gunung berapi, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ring of Fire. Ini tentu bukan kabar baik bagi dunia aviasi, bercermin pada kejadian yang menimpa British Airways pada tahun 1982 tersebut. Dilansir dari sumber lain, pada 9 November 2010 silam, Kementerian ESDM, Badan Geologi, Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menandatangani nota Kesepakatan Bersama Pelayanan Informasi Awan Abu Vulkanik (Volcanic Ash Cloud) untuk Kegiatan Penerbangan.

Baca Juga: Sejumlah Fakta dari Proses Emergency di Pesawat Terbang

Memorandum of Undestanding (MoU) ini merupakan upaya pemenuhan terhadap Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, serta rekomendasi International Civil Aviation Organization (ICAO), Universal Safety Oversight Audit Program (USOAP), serta implementasi dari Peraturan Menteri Nomor KM 52 Tahun 2010 tentang Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 174 tentang Pelayanan lnformasi Meteorologi Penerbangan yang telah ditandangani tanggal 14 September 2010.

Adapun tujuan lain dari MoU ini adalah sebagai bentuk kerjasama dalam pelayanan informasi awan abu vulkanik untuk kegiatan penerbangan guna mewujudkan keselamatan penerbangan dan untuk meminimalkan dampak awan abu vulkanik di atmosfer terhadap keselamatan penerbangan. Ruang lingkup Kesepakatan Bersama ini meliputi informasi perubahan aktivitas vulkanik sebelum letusan (pre-eruption) dan informasi kejadian letusan. Selanjutnya, alur pelayanan informasi awan abu vulkanik untuk kegiatan penerbangan ini dikirim oleh Badan Geologi.