Terlepas dari Kasus Siskaeee, Ini Bahaya ‘Telanjang’ di Bandara untuk Kesehatan

Siskaeee akhirnya ditetapkan sebagai tersangka pamer payudara di Bandara Internasional Yogyakarta atau YIA, Kulon Progo, Yogyakarta. Sebelum Siskaeee, di belahan dunia lain, semisal Amerika Serikat (AS), kasus serupa dengan Siskaeee marak terjadi dan juga berurusan dengan petugas, meskipun tidak sampai ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka.

Baca juga: Lebih Parah dari Siskaeee, Survei Membuktikan: 1 dari 10 Penumpang Berhubungan Seks di Bandara

Terlepas dari sudut pandang secara hukum, berpakaian setengah telanjang, telanjang, atau berpakaian sangat terbuka di bandara dan di pesawat sadar atau tidak menimbulkan risiko kesehatan.

Di masa lalu, sekitar tahun 1945, bepergian dengan pesawat kemanapun masih terbatas pada kalangan atas saja dan harga tiketnya pun sangat mahal. Sebagai gambaran, perjalanan dari New York ke London dipatok seharga US$711. Cukup mahal untuk ukuran saat itu.

Di samping itu, bepergian dengan pesawat juga, secara tidak langsung, diharuskan mengenakan setelan yang rapi, seperti mengenakan jas, gaun, dan lain sebgainya, bak mau pergi ke pesta. Sangat prestisius. Ini berlaku di penerbangan manapun di seluruh dunia, bukan hanya di AS dan negara-negara maju saja.

Seiring berjalannya waktu, terlebih ketika Pan Am, maskapai legendaris AS, mempelopori kelas ekonomi modern jarak jauh dan membuat lebih banyak orang bepergian lintas benua dengan mudah dan murah. Gelombang wisawatan terus meningkat seiring banyaknya airlines global yang mengikuti jejak Pan Am.

Di tahun 1978, pemerintah AS menghapus aturan berbusana formal saat naik pesawat terbang. Traveler bisa memakai baju apa saja, dan akhirnya mulailah traveler memakai baju yang lebih terbuka di pesawat. Sejak saat itu, penumpang pesawat pun tak jarang yang memakai pakaian yang nyeleneh bahkan setengah telanjang.

Meski tidak dilarang petugas bandara, namun, maskapai penerbangan mempunyai standar busana tersendiri untuk penumpang.

Sekalipun alasannya karena norma kesopanan, namun, menurut beberapa pengamat, larangan berpakaian terbuka di bandara dan pesawat terkait dengan alasan kesehatan, seperti terkena penyakit kulit dan sebagainya.

“Pesawat-pesawat itu dibersihkan dua kali setahun. Mengapa Anda ingin kulit Anda menempel di kursi itu?” pakar perjalanan udara, George Hobica seperti dikutip dari nypost.com.

Senada dengan Hobica, profesor mikrobiologi dan patologi di NYU Grossman School of Medicine, Philip Tierno, Ph.D, mengatakan seluruh kuman penyebab pilek, flu, infeksi staph, dan norovirus, termasuk E. Coli penyebab infeksi serius, ditemukan bersembunyi di permukaan kabin pesawat, seperti kursi, meja, dinding, tirai, pintu toilet, dan lain sebagainya.

Celakanya, kursi pesawat tidak dibersihkan dengan sangat baik dan detail antar tiap penerbangan sehingga membuat kuman-kuman tersebut lebih bebar berkembang biak.

Baca juga: Diduga Gila, Wanita Telanjang Keluyuran di Bandara

Andai pun terhindar dari masalah kesehatan karena menggunakan pakaian you can see di pesawat dan di bandara, tetap saja, itu menjijikan, kata Hobica.

“Ribuan orang duduk di pesawat ini setiap minggu dan kemudian Anda duduk di dalamnya,” katanya

Disorot Gegara Rentetan Kecelakaan, TransJakarta Ternyata Punya Deretan Sopir Cantik

Enam kecelakaan bus dalam 40 hari membuat PT TransJakarta mendapat sorotan tajam dari berbagai kalangan, utamanya stakeholders.

Baca juga: Dianggap Terlalu Cantik Jadi Pengemudi Bus, Wanita Asal Inggris Tetap Pada Pendiriannya

Terlepas dari itu, bagi kalian penumpang aktif bus TransJakarta, utamanya perempuan yang berada bagian depan, pasti sudah akrab dengan pemandangan pramudi atau sopir cantik Tije. Profesi yang dahulu dilabeli sebagai pekerjaan kaum adam itu memang belakangan sudah tak berlaku lagi. Banyak perusahaan yang mulai menerima kehadiran wanita cantik sebagai sopir, termasuk TransJakarta.

Dari sederet sopir wanita cantik TransJakarta, tanpa mengesampingkan pramudi wanita lain, setidaknya ada enam yang menarik untuk dibahas.

1. Vidia

Dari kanal YouTube @Newbi55 Scania, Vidia adalah salah satu pramudi wanita cantik bus TransJakarta yang mengemudikan Steady Safe jenis Maxi. Sebelumnya, ia juga pernah mengemudikan bus Mercy Transjakarta.

2. Pusriadiatama

Hobi menyetir mengantarkannya mengambil profesi sebagai sopir. Dilihat dari kanal YouTube @ewbi55 Scania, sopir wanita cantik bus TransJakarta ini mulai bekerja dengan BUMD transportasi itu sejak tahun 2006. Namun pada tahun 2010, ia memutuskan hijrah ke operator PT Mayasari Bhakti. Selama mengemudikan bus Transjakarta, wanita asal Bogor ini beroperasi di Koridor 6 Ragunan-Dukuh Atas.

3. Lina

Paramudi cantik bus Transjakarta adalah Lina. Dilihat dari kanal YouTube @Brian sihombing, Lina adalah driver wanita busway Koridor 9 Pinang Ranti-Grogol.

4. Sarah

Sarah adalah paramudi Bus Transjakarta rute Cawang-Depok. Dikutip dari kanal YouTube @RUDE 11, driver wanita yang murah senyum ini sudah mengabdi di TransJakarta selama 15 tahun. Ia membawa unit Mercedes Benz 1526. Ia rela bangun pagi demi mengemban tanggung jawab dalam tugas untuk membahagiakan anak dan keluarga.

Baca juga: Guinness World Records Berduka Atas Wafatnya Pengemudi Bus Terpendek di Dunia

5. Mariyani

Berbeda dengan Pusriadiatama, sopir bus TransJakarta yang satu ini memutuskan bergabung menjadi pramudi lantaran merasa tertantang. “Laki-laki bisa kenapa saya enggak,” kata pramudi wanita cantik bus Transjakarta Koridor 1 Blok M-Kota, seperti dilihat dari kanal YouTube @Potretjurnalis.

6. Ira Puspita

Srikandi Busway yang satu ini bisa dibilang paling ekstrem. Bukan cara mengemudikannya, melainkan keputusannya menjadi pramudi wanita cantik bus Transjakarta. “Dulu rawat orang sakit, sekarang rawat mobil,” candanya dalam kanal YouTube @ewbi55 Scania. Ia memutuskan alih profesi menjadi pramudi karena bisa menghilangkan rasa bosan.

Di Rusia, Setiap Tahun Rata-rata ada 15 Insiden Terkait Push Back Car di Bandara

Fungsi dari aircraft towing atau push back car sudah lazim diketahui orang, yaitu untuk menarik atau mendorong pesawat dari apron ke area taxii. Namun, lantaran masih dioperasikan secara manual, maka acap kali penggunaan towing car berujung insiden. Meski bukan insiden maut, tapi akibat pengoperasian yang keliru pada push back car dapat menyebabkan kerugian besar pada maskapai dan pihak pengelola bandara.

Baca juga: Ban Towing Car di Bandara Internasional Hong Kong Meledak, Nyaris Hantam Petugas Ground Handling

Sebuah rangkuman menarik dirilis Rosaviatsiya – Agen Transportasi Udara Federal yang menjadi regulator penerbangan sipil di Rusia menyebutkan, bahwa setiap tahun terdapat rata-rata 15 insiden yang terkait pengoperasian push back car. Insiden yang dimaksud bukan karena masalah teknis dari kendaraan, melainkan lebih kepada humar error. Dikutip dari flightglobal.com (19/10/2021), 13 unit pesawat mengalami kerusakan selama sembilan bulan pertama di tahun 2021.

Rosaviatsiya menyebut pemicu insiden karena adanya pelanggaran prosedur, termasuk perintah ambigu (tidak jelas) yang diterima pengemudi, kemudian ada kegagalan untuk membersihkan rintangan pada rute, sampai kesalahan memberikan ruang manuver yang cukup di sekitar apron. Yang lainnya ada juga insiden yang disebabkan oleh kesalahan pilot atau awak pesawat.

“Aktivitas towing pesawat adalah salah satu jenis kegiatan ground handling yang punya risiko tinggi mengakibatkan kerusakan pada pesawat dan cidera pada personel jika terjadi penyimpangan prosedur,” ujar juru bicara Rosaviatsia dalam buletin Keselamatan Penerbangan Rusia yang dirilis 14 Oktober 2021.

Rosaviatsia menyatakan bahwa kegiatan penarikan pesawat membutuhkan peralatan, pelatihan, dan keterampilan yang benar. Rosaviatsia memberikan contoh insiden yang melibatkan Sukhoi Superjet 100 di Bandara Chelyabinsk pada November 2019. Pengemudi push back carr berusaha untuk bergerak tanpa menunggu perintah, pada saat yang sama, awak pesawat telah mengaktifkan rem parkir, yang mengakibatkan kerusakan serius pada nose gear. “Menurut penjelasan pengemudi push back car, Ia melihat isyarat tangan yang salah dari kru penarik sebagai perintah untuk mulai menarik,” kata Rosaviatsia.

Baca juga: Teknologi Aircraft Towing System Janjikan Penghematan Bahan Bakar dan Tekan Emisi C02!

Rosaviatsia mengatakan penyedia ground-handling – yang tidak selalu berhubungan langsung dengan operator pesawat – memiliki tanggung jawab untuk memastikan personelnya memiliki keterampilan yang diperlukan dan peralatan yang sesuai untuk memastikan keselamatan aktivitas penarik, dan berinteraksi dengan benar ke manajemen operator pesawat dan bandara.






















Hari Ini, 51 Tahun Lalu, Artem Mikoyan, Pencipta Jet Tempur “MiG-Series” Wafat

Pada hari ini, 51 tahun yang lalu, bertepatan dengan 9 Desember 1970, Artem Mikoyan, insinyur penerbangan Uni Soviet meninggal dunia. Meski namanya dikenal harum di negaranya dan negara-negara pecahan Uni Soviet berkat dedikasinya di bidang aviasi, tetapi, di negara barat, ia dituding mencuri desain mesin Rolls-Royce dan menerapkannya pada pesawat-pesawat buatannya.

Baca juga: Inilah Daftar Pesawat Buatan Uni Soviet dan Rusia Terlaris

Dilansir infofamouspeople.com, sebagaimana William Edward Boeing yang sukses mendirikan Boeing, Sergey Ilyushin yang sukses dirikan Ilyushin, Andrei Nikolayevich Tupolev yang juga sukses dirikan Tupolev, Pavel Sukhoi yang sukses dirikan Sukhoi, dan Oleg Antonov yang sukses dirikan Antonov, Artem Mikoyan juga merintis karir dari nol.

Sebelum sukses mendirikan Biro Desain Mikoyan-Gurevich dengan penamaan “MiG” seperti jet tempur MiG-15, MiG-17, MiG-19, MiG-21, MiG-23 sampai MiG-25 yang khas, Artem Mikoyan pernah bekerja di pabrik-pabrik sebagai operator peralatan mesin dan dinamo di Rostov sebelum akhirnya pindah ke Moskow untuk ikut wajib militer.

Pria pasangan dari Hovhannes Mikoyan dan Tamara Mikoyan ini diketahui lahir di Sanahin, Armenia. Kedua orang tuanya adalah rakyat biasa. Tak heran bila Artem Mikoyan hanya mencapai lulusan SD.

Usai ikut wajib militer, Mikoyan bergabung dengan Akademi Angkatan Udara Zhukovsky dan lulus pada tahun 1936 diikuti dengan keberhasilannya menciptakan pesawat pertama. Pasca lulus, karirnya terus meningkat. Ia bekerja di Polikarpov sebelum diangkat menjadi kepala biro desain pesawat baru di Moskow pada Desember 1939.

Bersama Mikhail Gurevich, Mikoyan membentuk biro desain Mikoyan-Gurevich, yang kemudian kondang memproduksi serangkaian pesawat tempur MiG.

Pada bulan Maret 1942, biro tersebut berganti nama menjadi OKB MiG (Osoboye Konstruktorskoye Büro), ANPK MiG (Aviatsionnyy nauchno-proizvodstvennyy kompleks), dan terakhir OKO MiG.

Di bawah biro desain tersebut, Artem Mikoyan dan Mikhail Gurevich terus berusaha mengembangkan pesawat tempur canggih pada zamannya, tetapi tidak ada yang memuaskan. Kendalanya diketahui ada pada mesin.

Setelah Perang Dunia II, dimana Uni Soviet dan sekutu keluar sebagai pemenang, Uni Soviet berusaha memanfaatkan teknologi Jerman.

Mereka mempunyai misi terselubung, mengumpulkan blue print desain mesin buatan Jerman, salah satunya BMW 109-003, untuk disadur dan dikembangkan sebagai mesin buatan sendiri. Ini membuahkan hasil dan mesin jet 003 diproduksi massal Uni Soviet mulai tahun 1947.

Akan tetapi, itu belum cukup. Akhirnya, Presiden Uni Soviet saat itu, Josep Stalin, disarankan untuk membeli mesin canggih dari Inggris. Namun, ia sempat pesimis karena tidak ada negara yang mau memberikan rahasia teknologinya ke mereka.

Singkatnya, Inggris justru setuju memberikan izin penjualan mesin Rolls-Royce Nene. Mesin ini akhirnya direkayasa ulang oleh Artem Mikoyan dan berhasil melahirkan mesin jet Soviet Klimov VK-1 dan dipasang di pesawat MiG-15, dan pengembangannya menjadi mesin dari pesawat generasi berikutnya, seperti MiG-17, -21, -23, dan -25.

Baca juga: Vickers VC10, Raja Udara yang Disadur Uni Soviet (Lagi) di Era Perang Dingin

Berkat dedikasinya itu, ia berhasil naik kelas sosial dan berandil besar terhadap istrinya, Anastas Ivanovich Mikoyan, menjadi seorang pejabat tinggi di Pemerintahan Uni Soviet. Mikoyan bahkan dua kali dianugerahi Pahlawan Buruh Sosialis, medali sipil tertinggi Uni Soviet.

Setelah melewati masa-masa sukses, ia wafat pada 9 Desember 1970 di Moskow pada usia 65 tahun (lahir pada 5 Agustus 1905).

Temukan Objek Misterius di Bulan, Ini Profil dan Sejarah Rover Yutu-2

Rover Cina, Yutu-2, berhasil menemukan objek misterius berbentuk kubus di cakrawalan utara bulan pada November 2021. Saat ini, rover Yutu-2 sedang bergerak ke lokasi ditemukannya objek tersebut untuk memverifikasi.

Baca juga: Wang Yaping, Astronot Wanita Cina Pertama Lakukan Spacewalk

Meski terlihat dekat, pada kenyataannya, waha Yutu-2 disebut membutuhkan waktu dua hingga tiga bulan atau dua hingga tiga hari lunar untuk bisa sampai ke objek misterius berbentuk kubus tersebut.

Yutu-2 sendiri adalah rover penjelajah yang dibawa oleh Chang’e 4 yang berhasil mendarat di bulan pada 3 Januari 2019 di kawah Von Karman.

Dilansir gktoday.in, Yutu-2 bisa berjalanan wara-wiri di bulan berkat bantuan tenaga surya untuk menggerakkan enam roda.

Pada tahun 2020, para ilmuwan melaporkan gambar resolusi tinggi dari Lunar Ejecta Sequence untuk pertama kalinya. Selain itu, Yutu-2 juga mengkonfirmasi beberapa temuan, seperti geologi bulan sebagai Selenology, bulan tidak memiliki atmosfer sejati, tidak memiliki tindakan tektonik lempeng yang diketahui, memiliki gravitasi yang lebih rendah, lebih cepat dingin.

Tim peneliti Yutu-2 juga berhasil menemukan fakta bahwa permukaan bulan dibentuk oleh vulkanisme dan kawah.

Sebagai misi eksplorasi luar angkasa China, Yutu-2 dilengkapi dengan berbagai perangkat teknologi canggih.

Dikutip dari planetary.org, setidaknya ada empat perangkat atau bisa juga disebut juga instrumen sains pada rover Yutu-2. Pertama adalah Panoramic Camera (PCAM). Dua kamera warna ini diletakkan pada tiang yang berputar untuk menangkap pemandangan 360 derajat. Kamera inilah yang berhasil menangkap objek misterius di bulan pada November lalu.

Instrumen sains kedua yang disematka pada rover Yutu-2 adalah Lunar Penetrating Radar (LPR). LPR adalah sebuah instrumen radar yang digunakan untuk melihat bawah permukaan hingga lebih dari 100 meter, dan ketebalan regolith.

Itu berfungsi untuk mencari tahu kandungan apa saja yang ada pada bawah permukaan bulan guna mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang tabrakan bulan kuno dan awal pembentukan tata surya dan bumi.

Instrumen sains ketiga adalah Visible and Near-Infrared Imaging Spectrometer (VNIS). Ini digunakan untuk mempelajari komposisi mineral permukaan bulan di sekitar rover.

Adapun yang terakhir ialah Advanced Small Analyzer for Neutrals (ASAN). Ini adalah eksperimen untuk menentukan bagaimana angin matahari berinteraksi dengan regolith bulan dengan mengamati partikel energik yang terlempar dari permukaan. ASAN ada pada Yutu-2 berkat kolaborasi dari Institut Fisika Luar Angkasa, Swedia.

Baca juga: Wahana Antariksa Cina Bawa Pulang 2 Kg Tanah dan Bebatuan dari Bulan ke Bumi

Selama berada di bulan, Yutu-2, termasuk Chang’e-4, relatif aman dan sesuai rencana, kecuali di momen-momen tertentu. Saat matahari tepat berada di atas rover, praktis ia tidak bisa beraktivitas untuk menghindari kepanasan. Ini juga dimaksudkan untuk memaksimalkan energi saat matahari sudah sirna.

Selain itu, selama 2 minggu malam bulan, ketika suhu turun ke -173 derajat Celcius (280 derajat Fahrenheit), Yutu-2 dan Chang’e-4, juga harus beristirahat untuk menghindari kerusakan instrumen.

“Jalan Kematian” di Bolivia Raih Predikat Karena Sebabkan Banyak Nyawa Melayang

“Jalan Kematian” atau “Death Road” di Bolivia sangat dikenal sebagai tempat aktivitas paling menantang dan menggembirakan. Di mana ketika melintasi “Jalan Kematian” ini memiliki sensasi sendiri bagi mereka dari seluruh dunia yang menyukai tantangan dengan bahaya sangat tinggi.

Baca juga: [Bagian 3] Jalur Kereta Jawa Pra Kemerdekaan – Lokomotif Mallet Jawara di Jalur Curam

Bahkan bersepeda di “Jalan Kematian” secara historis adalah olahraga yang paling ekstrem. Setelah 20 tahun modernisasi, ini kemudian diklaim menjadi lebih aman. Tapi apakah itu aman? Dilansir KabarPenumpang.com dari discovery.com, “Jalan Kematian” ini sebenarnya adalah Jalan Yunga Utara.

Ketika seseorang mengemudi ke atas atau ke bawah alias di jalur peralihan sepanjang 43 mil atau (69 km) sangat berbahaya karena kabut, tanah longsong, air terjun dan tebing yang turun 610 meter di setiap belokan.

Di jalur ini hampir 300 pengemudi tewas hingga tahun 1994. Dengan insiden sebanyak itu, maka tak heran jalur di Bolivia ini mendapat julukan “Jalan Kematian”. Pada 1930-an, para tahanan Paraguay memotong jalan selama pertempuran sengit mereka dengan Brasil selama Perang Chaco.

Jalan tersebut menghubungkan ibu kota Bolivia, La Paz, ke kota Coroico. Dari La Paz, jalan Yungas menanjak hingga sekitar 15.260 kaki (4.650 meter) sebelum naik ke ketinggian 3.900 kaki (1.190 meter). Dikelilingi oleh daerah pegunungan, jalan ini terbentang cukup jauh untuk menghubungkan hutan hujan Amazon dengan ibu kota.

Artinya, tidak jarang para pedagang masuk ke truk dan bus untuk mencoba menjual kayu dan hasil bumi mereka di kota. Namun, tikungan tajam tidak cukup besar untuk setiap kendaraan, dan banyak truk jatuh bersama orang-orang dan mata pencaharian mereka.

Sampai tahun 2006, jalan Yungas Utara adalah satu-satunya pilihan untuk bepergian dari Coroico ke La Paz. Jalan itu tidak lebih lebar dari satu lajur dan digunakan oleh kendaraan mana pun yang mau melakukan perjalanan. Akhirnya, pada tahun 2009, pemerintah membangun jalan baru di dekat pegunungan.

Jalan tol baru ini memiliki dua lajur dan telah terpelihara dengan baik. Yungas Utara sendiri kini memiliki dua jalur mengemudi, trotoar baru, sistem drainase dan pagar pembatas. Namun orang-orang terus memenuhi tujuan mereka di sini.

Saat ini, sebagian besar kematian berasal dari pekerja lokal dan backpacker yang masih menggunakan jalan yang terkenal itu. Operator tur juga memimpin perjalanan sepeda di sepanjang jalan, dan diyakini bahwa lebih dari selusin pengendara sepeda telah kehilangan nyawa mereka di sini dalam dekade terakhir.

Baca juga: Train to the Clouds, Lintasan Kereta Kelima Tertinggi di Dunia

Jadi, apakah ini jalan paling berbahaya di dunia? Itu pasti dulu, tapi untungnya ia kehilangan gelar itu. Ini adalah perjalanan yang indah, selama Anda tetap di sisi kiri jalan dan melanjutkan dengan hati-hati. Jika Anda seorang pengendara sepeda pencari sensasi yang ingin mencoba olahraga ekstrim ini, tidak merekomendasikannya, tetapi hal banyak yang akan tetap berdoa agar Anda dapat hidup untuk menceritakan kisahnya.






















Bandara Kualanamu Bakal Saingi Bandara Changi dan Kuala Lumpur, Begini Caranya

Usai dikelola oleh perusahaan asal India, GMR Airport, Bandara Internasional Kualanamu disebut bakal menyaingi Bandara Internasional Changi Singapura dan Bandara Internasional Kuala Lumpur sebagai hub regional, khususnya untuk tujuan dari dan ke Asia Selatan, Asia Utara, dan Australia.

Baca juga: Dikelola Perusahaan India Selama 25 Tahun, Bandara Kualanamu Bakal Jadi Hub Internasional Barat Indonesia

Di tangan GMR Airport, yang notabene memiliki reputasi tinggi sebagai bagian dari perusahaan operator jaringan bandara terkemuka asal perancis yaitu Aeroports De Paris (ADP), Bandara Kualanamu akan diperluas hingga menampung 54 juta penumpang dalam setahun, sedikit di bawah Changi yang melayani 62.2 juta penumpang pada tahun 2017.

Selain itu, dengan memperkuat konektivitas internasional dalam mewujudkan 3E yaitu Expansion the traffic, Expertise sharing dan Equity partnership, Bandara Kualanamu akan dipercaya penumpang dan maskapai serta bisa bersaing secara global.

Pengamat penerbangan nasional Suharto Abdul Majid menyebut, di tangan perusahaan India yang memiliki relasi dengan ADP, Bandara Kualanamu nantinya bukan hanya menjadi hub wilayah barat Indonesia dan bersaing dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, tetapi juga bersaing dengan Bandara Internasional Changi dan Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) sebagai salah satu pusat distribusi rantai pasok global di kawasan Asia.

Selama ini, hub di kawasan Asia Selatan menuju Asia Utara hanya tergantung pada dua bandara itu. Sedangkan, meski secara pelayanan dan kapasitas sudah mumpuni, Bandara Internasional Soekarno-Hatta tidak menguntungkan secara geografis, karena berada jauh di bawah dan ini bisa dimanfaatkan oleh Bandara Kualanamu untuk itu.

Dalam hematnya, dengan investasi sebesar 6 miliar dolar AS atau sekitar Rp85,5 triliun, termasuk investasi tambahan sedikitnya Rp15 triliun, ditambah pengalaman GMR Airport dalam mengelola bandara, Bandara Kualanamu baru benar-benar bisa bersaing secara global dengan Bandara Changi dan KLIA lima tahun mendatang.

“Ini menjadi hub yang strategis dan bisa menghubungkan penerbangan internasional. Melalui kerja sama dengan partner yang memiliki reputasi dan pengalaman pengelolaan bandara secara internasional serta jaringan bandara yang dikelola oleh GMR dan ADP maka bandara Kualanamu bisa dilirik maskapai lain artinya bisa menjadi hub strategis dan menyaingi Changi,” katanya.

“Saya optimistis dengan kerja sama ini maka dalam 5 tahun bandara Kualanamu akan bisa menyaingi bandara Changi,” tambahnya.

Lebih lanjut, kemitraan strategis ini maka Bandara Kualanamu akan mendapatkan best practise knowledge dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas pelayanan, juga fasililitas yang lebih baik, pilihan rute yang banyak dan pengelolaan yang lebih baik.

Baca juga: Demi Kejar Pesawat, Ibu Ini Nekat Kemudikan Minibus Paradep dari Siantar ke Bandara Kualanamu

Chairman GMR Group Energy and International Airports, Srinivas Bommidala, seolah mengamini hal itu. Dalam pernyataan resminya, ia menyebut, pasar penerbangan Indonesia sebagai yang terbesar di ASEAN.

“Proyek ini menandai masuknya GMR Airports di sektor Penerbangan Indonesia yang berkembang pesat, terbesar di ASEAN dan pasar yang potensial. Kemenangan tender juga memperkuat kredensial GMR Group sebagai salah satu pengembang dan operator bandara terbesar di dunia,” singkatnya.

iProov Uji Coba Teknologi Otentikasi Wajah Biometrik pada Penumpang Eurostar

iProov, pemimpin dunia dalam teknologi otentikasi wajah biometrik, dan Eurostar, layanan kereta api penumpang berkecepatan tinggi yang menghubungkan Inggris dengan daratan Eropa, telah mengumumkan bahwa uji coba layanan jalur cepat nirsentuh, SmartCheck.

Baca juga: Vision-Box Hadirkan Teknologi Identitas Digital dengan Biometrik Canggih di Bandara

SmartCheck memungkinkan penumpang untuk menyelesaikan verifikasi tiket yang aman dan pemeriksaan keluar wilayah Inggris di perangkat seluler mereka sebelum melakukan perjalanan lintas negara.

Sebagai bagian dari uji coba, pemegang tiket Business Premier dan Carte Blanche akan dapat memindai dokumentasi identitas menggunakan iPhone mereka sebelum tiba di stasiun Kemudian menyelesaikan pemindaian wajah biometrik singkat untuk memverifikasi bahwa mereka adalah pemegang asli dokumen identitas.

Melansir dari businesswire.com (6/11/2021), penumpang juga melakukan verifikasi wajah biometrik, yang menggunakan teknologi Genuine Presence Assurance iProov, kemudian ditautkan ke e-tiket mereka, dengan konfirmasi yang dikirim ke penumpang. Setibanya di stasiun Internasional St Pancras (London), penumpang melanjutkan melalui jalur SmartCheck khusus.

Pemindaian wajah singkat di gerbang tiket memverifikasi bahwa pelanggan telah menyelesaikan pemeriksaan tiket, tanpa perlu berbagi tiket kertas atau elektronik. Pemindaian wajah kedua di UK Exit Check memungkinkan Eurostar untuk memverifikasi bahwa penumpang telah melengkapi informasi paspor mereka, sekali lagi menggantikan kebutuhan lancongpe untuk menyerahkan dokumentasi.

SmartCheck bertujuan untuk merevolusi pengalaman perjalanan dengan membuatnya benar-benar mudah bagi penumpang, sekaligus memaksimalkan privasi dan meningkatkan jaminan melalui peningkatan keamanan. Tujuannya untuk menghilangkan antrian dan mempercepat proses boarding untuk lebih meningkatkan kepuasan pelanggan, terutama bagi yang sering bepergian.

Konsep tersebut dibawa ke perjalanan kereta api sebagai bagian dari kompetisi First of a Kind 2020 yang diselenggarakan oleh Innovate UK, didanai oleh Department for Transport (DfT). Inisiatif ini mendukung penelitian, pengembangan, dan inovasi di industri kereta api Inggris.

Saat ini, uji coba melibatkan sejumlah penumpang yang diundang dan difokuskan pada proses kontrol check-in dan exit yang dioperasikan oleh Eurostar di Stasiun St Pancras dan bukan kontrol Inggris atau Schengen Entry.

“Teknologi yang aman, nyaman, dan melindungi privasi ini akan membuat hidup lebih mudah dan lebih aman bagi para pelancong di seluruh dunia. Hari-hari mencari-cari di tas Anda untuk paspor Anda atau berharap baterai ponsel Anda tidak habis sebelum Anda menunjukkan tiket elektronik Anda di gerbang sudah berakhir. Sangat mudah dan nyaman sekaligus memberikan kepastian dan keamanan yang diharapkan para pelancong,” kata Andrew Bud, Pendiri dan CEO, iProov.

Gareth Williams, Direktur Strategi dan Sekretaris Perusahaan, Eurostar mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk bekerja sama dengan pemerintah dalam memperkenalkan alat dan teknologi baru yang menyederhanakan proses check in.

Baca juga: Fasilitas Pertumbuhan Penumpang, Bandara Global Bakal Terapkan Teknologi Biometrik

Teknologi Genuine Presence Assurance iProov memungkinkan organisasi untuk secara aman memverifikasi identitas individu yang menyetujui secara online dengan cara yang benar-benar mudah bagi pengguna. Pemindaian wajah biometrik multi-dimensi yang singkat menggabungkan cahaya, waktu, dan ruang untuk memverifikasi bahwa pengguna jarak jauh adalah orang yang tepat, orang yang nyata, dan bahwa mereka mengautentikasi secara real time.






















Menhub Jepang: “Saat Masuk Kereta Komuter, Cari Lokasi Tombol Darurat”

Beberapa bulan belakang, penumpang kereta komuter Tokyo mendapatakan perlakuan yang menyebabkan cidera serius dari penumpang lainnya. Hal ini kemudian membuat Menteri Perhubungan (Menhub) Jepang Tetsui Saito menyerukan agar penumpang mencari tombol darurat sesaat mereka memasuki kereta.

Baca juga: Terinspirasi Penumpang Berkostum Joker, Kakek Tua Nyalakan Api di Kereta Jalur Southwestern

Kemudian Saito menambahkan, agar penumpang menekan tombol tersebut jika sebuah insiden mengancam nyawa penumpang terjadi di dalam kereta. Dia mengeluarkan pernyataannya setelah tur inspeksi fasilitas pelatihan Tokyo Metro Company di Koto Ward pada 13 November lalu.

KabarPenumpang.com melansir asahi.com (14/11/2021), dalam kunjungannya tersebut, pejabat Tokyo Metro menjelaskan langkah-langkah keamanan perusahaan kepada dirinya. Dalam penjelasan itu juga termasuk memberitahukan di mana tombol berhenti darurat berada di dalam gerbong kereta. Kemudian mereka juga menjelaskan cara membuka pintu kasa di peron (platform screen door) secara manual.

“Penumpang harus menekan tombol meskipun sudah ada yang melakukannya. Jika tombol ditekan beberapa kali, itu akan memperingatkan staf kereta api untuk situasi darurat dalam sekejap,” katanya Saito.

Saito mengatakan kerja sama antara masyarakat yang bepergian sangat penting untuk memastikan keamanan sistem transportasi umum yang digunakan oleh jutaan orang setiap hari. Dalam serangan 31 Oktober, penumpang ketakutan melarikan diri melalui jendela karena pintu tidak terbuka setelah kereta berhenti darurat di sebuah stasiun di Jalur Keio.

Pelaku berusia 24 tahun mengatakan kepada polisi bahwa dia ingin membunuh orang sebanyak mungkin dan terinspirasi oleh penusukan serupa yang terjadi pada bulan Agustus di kereta Jalur Odakyu. Dia mengatakan bahwa dirinya menargetkan kereta ekspres terbatas karena “berhenti di lebih sedikit stasiun.”

Dalam insiden terbaru, staf Keio tidak membuka pintu kasa kereta dan peron karena masalah keamanan. Hal tersebut disebabkan karena tidak disejajarkan dengan benar di stasiun. Di mana kereta berhenti dengan jarak dua meter dari posisi kanannya untuk sejajar dengan pintu kasa peron.

Selama tur Saito, fasilitas Tokyo Metro merekonstruksi situasi mimpi buruk menggunakan stasiun kereta bawah tanah tiruan dan gerbong kereta bawah tanah untuk memastikan bagaimana penumpang dapat mengungsi dengan aman dalam keadaan seperti itu.

“Saya mendapat kesan bahwa penumpang bisa turun dari kereta dengan relatif aman jika pintu kasa peron terbuka,” kata Saito.

Tetapi dia menyadari bahwa segalanya bisa menjadi lebih rumit setelah dia mendengar penjelasan dari staf Keio tentang keputusan mereka untuk tidak membuka pintu kereta tepat setelah kereta berhenti di stasiun.

Baca juga: Imbas Gempa Tokyo, Bikin Perjalanan Kereta Terhenti dan Sepeda Sewaan Laris Dicari Penumpang

“Kapan harus membuka pintu kasa peron (platform screen door) adalah panggilan yang sulit dalam kasus kereta Keio karena beberapa penumpang mendarat di atas pintu kasa peron saat mereka mencoba melarikan diri (melalui jendela) kereta. Jika pintu kasa platform segera terbuka, mereka mungkin akan terluka karena jatuh,” kata Saito.






















Alasan Boeing Pesimis Hidrogen Sebagai Bahan Bakar: Tangki Bahan Bakar Lebih Besar dari Kabin

Boeing serius menyongsong masa depan penerbangan global menuju penggunaan bahan bakar berkelanjutan yang ramah lingkungan. Hal itu ditandai dengan ditunjuknya Chris Raymond sebagai Chief Sustainability Officer (CSO) pertama sepanjang sejarah perusahaan berdiri.

Baca juga: Boeing Tak Yakin Konsep Pesawat Bertenaga Hidrogen, Sindir Airbus?

Menariknya, meski hidrogen dipandang sebagai bahan bakar berkelanjutan terbaik dalam mewujudkan bebas emisi di sektor penerbangan tahun 2050 mendatang, Boeing tetap kukuh pada pendiriannya bahwa itu sebaliknya.

Entah ini hanya sebagai pembeda dengan sang kompetitor Eropa-nya (Airbus), yang notabene sudah menetapkan hidrogen hijau sebagai bahan bakar ramah lingkungan di masa depan, atau memang Boeing cukup visioner untuk meninggalkan hidrogen sebagai pengganti bahan bakar fosil. Yang jelas, sekali lagi, Boeing sangat yakin dengan pendiriannya.

Di sela-sela gelaran Dubai Air Show, CSO Chris Raymond membeberkan alasan Boeing tidak menjadikan hidrogen sebagai bahan bakar bebas emisi di masa depan.

Menurutnya, sekilas hidrogen memang sangat menarik untuk dijadikan bahan bakar pesawat, termasuk juga kendaraan darat dan laut, di masa depan. Sebab, hidrogen lebih ringan dari bahan bakar fosil dan tidak menghasilkan emisi karbon melainkan hanya berupa uap air sebagai sisa pembakaran. Tak hanya itu, energi hidrogen juga 2,5 kali lebih besar per kilogram dari minyak tanah.

Tantangannya adalah, hidrogen tidak bisa langsung digunakan ketika diproduksi. Ia harus didinginkan dan dikompresi sebelum bisa dijadikan bahan bakar.

Karenanya, lanjut Chris, bahan bakar hidrogen membutuhkan sistem pendingin dan tangi penyimpanan bahan bakar yang besar. Saking besarnya, bukan tak mungkin tangki bahan bakar pesawat hidrogen lebih besar dibanding kabin penumpang, sesuatu yang agaknya tidak cukup efisien dari segi desain dan pada akhirnya bisa saja itu tidak begitu menarik untuk maskapai.

“Hidrogen cair mungkin merupakan cara terbaik untuk menggunakannya sebagai bahan bakar, tetapi membutuhkan sistem pendingin yang besar dan sistem penyimpanan yang besar. Hidrogen membutuhkan sekitar empat kali volume untuk mendapatkan jumlah energi yang sama, sehingga Anda mendapatkan pesawat yang tangki bahan bakarnya lebih banyak daripada kapasitas penumpangnya – dan itu mempertaruhkan efisiensi secara keseluruhan,” jelasnya kepada Simple Flying.

Selain itu, Boeing juga belum yakin terhadap rantai pasokan hidrogen. Saat hidrogen diproduksi dalam jumlah besar, itu harus didukung oleh energi listrik yang juga tak kalah besar. Bila pembangkit listrik didukung oleh energi fosil, maka hasilnya sama saja, sama-sama meninggalkan emisi karbon.

Namun, ini sudah dibantah Airbus. Hidrogen hijau yang bakal digunakan Airbus diproduksi dari air, termasuk matahari dan angin. Hanya inilah jenis hidrogen yang bisa disebut berkelanjutan. Air diurai menjadi oksigen dan hidrogen, dengan bantuan listrik yang bersumber dari energi angin atau matahari. Sehingga proses dari awal sampai akhir bebas emisi karbon.

Baca juga: Produksi Hidrogen Hijau untuk Bahan Bakar Pesawat, Airbus-Philips 66 Gandeng Plug Power

Kendati pesimis terhadap hidrogen, namun, bukan berarti Boeing meninggalkan hidrogen sebagai bahan bakar. Faktanya, sejak tahun 2008 lalu, Boeing sudah lima kali menerbangkan pesawat berbahan bakar hidrogen.

Saat ini, Boeing hanya belum yakin dengan konsep hidrogen untuk massif digunakan. Bila berbagai ekosistem penggunaan hidrogen cair kelak terbentuk secara kuat, bukan tak mungkin Boeing ikut membuat pesawat berbahan bakar hidrogen.